1 1.1 LATAR BELAKANG
Hubungan kekerabatan merupakan hubungan antara tiap entitas yang memiliki asal-usul silsilah yang sama, baik melalui keturunan biologis, sosial, maupun budaya. Dalam antropologi, sistem kekerabatan termasuk didalamnya keturunan dan pernikahan. Hubungan kekerabatan manusia melalui pernikahan umumnya disebut sebagai hubungan dekat.
Hubungan kekerabatan adalah salah satu prinsip mendasar untuk mengelompokkan tiap orang ke dalam kelompok sosial, peran, kategori, dan silsilah. Hubungan kerabat dapat dihadirkan secara nyata seperti ibu, saudara, kakek atau secara abstrak menurut tingkatan kekerabatan. Sebuah hubungan dapat memiliki syarat relatif, misal ayah adalah seseorang yang memiliki anak, atau mewakili secara absolut, misal perbedaan status antara seorang ibu dengan wanita tanpa anak. Tingkatan kekerabatan tidak identik dengan pewarisan maupun suksesi legal. Banyak kode etik yang menganggap bahwa ikatan kekerabatan menciptakan kewajiban di antara orang-orang terkait yang lebih kuat daripada di antara orang asing.
Di Indonesia dikenal beberapa sistem kekerabatan atau sistem susunan keluarga, yaitu unilateral dan double unilateral. Unilateral merupakan bentuk susunan kekerabatan yang terdiri dari patrilineal dan matrilineal. Patrilineal
adalah susunan kekerabatan yang menarik garis keturunan hanya dari pihak ayah atau pihak laki-laki, dalam sistem ini anak-anak yang dilahirkan masuk dalam keluarga pihak ayah. Sebaliknya, matrilineal adalah susunan kekerabatan yang hanya menarik garis keturunan dari pihak ibu, kaum wanita memperoleh penghargaan dan kedudukan yang lebih tinggi daripada kaum laki-laki. Sedangkan double unilateral yaitu susunan kekerabatan yang menarik garis keturunan dari ayah dan ibu sekaligus, tidak seperti susunan kekerabatan sepihak (unilateral), pada umumnya penduduk pulau Jawa lebih
banyak menganut susunan kekerabatan double unilateral ini (Dhohiri, 2007 : 51).
Kondisi serupa juga terjadi kota Semarang, lebih tepatnya berada di kampung Bustaman Semarang.
Gambar 1.1 Peta Kampung Bustaman
Kampung yang terletak di jalan MT. Haryono ini memiliki hubungan kekerabatan yang sangat kental dibanding kampung Pekojan yang berada dekat dengan kampung Bustaman karena hubungan kekerabatan warga kampung Pekojan kurang begitu menonjol. Warga kampung Bustaman tidak hanya menganut susunan kekerabatan double unilateral saja yang hanya akrab dengan garis keturunan ayah maupun ibu, bahkan mereka akrab dengan siapapun yang berada di sekitar mereka termasuk tetangga. Menurut data yang diperoleh dari kelurahan Purwodinatan yang menaungi wilayah kampung Bustaman, sebanyak 300 warga yang menghuni wilayah kampung Bustaman. Dari 300 warga kampung Bustaman tersebut dihuni oleh warga yang beragama islam, kristen dan katolik, hingga warga yang memiliki agama hindu. Namun, kebanyakan warga kampung Bustaman didominasi oleh warga yang beragama islam. Dari data yang diperoleh sebanyak 276 jiwa merupakan warga yang beragama islam, 18 jiwa merupakan warga beragama kristen dan katolik, sedangkan 6 jiwa ialah warga beragama hindu. Bagi warga kampung
Bustaman, semua tetangga meski berbeda agama merupakan saudara walaupun tidak dari keturunan keluarga ayah maupun ibu. Dilihat dari kampung yang luasnya hanya 5 hektare dibanding kampung pada umumnya dengan ukuran 1,5 hektare ini hanya memiliki 2 RT dan 80 kepala keluarga, padahal seharusnya suatu kampung pada umumnya memiliki 10 RT dan lebih dari 100 kepala keluarga. Rumah yang saling berhimpitan membuat tidak adanya perbedaan diantara mereka, oleh karena itu tidak heran jika salah seorang warga kampung Bustaman menikah dengan warga kampung Bustaman juga yang diketahui merupakan tetangga sendiri. Inilah kejadian yang memang terjadi di kampung Bustaman Semarang karena mereka percaya bahwa menikah dengan sesama tetangga akan melestarikan hubungan kekerabatan yang ada di kampung Bustaman.
Dari data yang dimiliki oleh RT setempat, sebanyak 90% warga kampung Bustaman menikah dengan warga kampung Bustaman yang tidak lain merupakan saudara sedarah. Padahal dalam ajaran agama islam tidak dianjurkan bahkan haram hukumnya untuk menikah dengan saudara yang memiliki aliran darah yang sama. Tetapi hal ini tidak lantas membuat warga kampung Bustaman untuk tidak melakukan pernikahan tersebut. Mereka justru meyakini bahwa itulah jodoh yang diberikan Tuhan untuk mereka.
Dalam sejarahnya, pada abad ke-18 kampung Bustaman diambil dari nama Kyai Bustam yang tidak lain adalah kakek buyut dari pelukis legendaris Raden Saleh. Kyai Bustam adalah seorang tokoh yang cukup terkenal dalam sejarah tanah Jawa. Namanya disebut sebagai seorang juru bahasa yang turut memegang peranan yang cukup penting dalam Babad Giyanti. Kyai Bustam memang seorang juru bahasa. Karirnya dimulai ketika dia berhasil mengabdi pada kompeni Belanda sebagai seorang penterjemah dan "interpretator" dengan pangkat "ngabehi" di Surabaya. Sebagai seorang pejabat Kyai Bustam ternyata sangat setia kepada tuannya. Kesetiaan nampak jelas ketika di Jawa pecah pemberontakan Tionghoa. Sementara para pejabat pribumi pada waktu itu telah beramai-ramai menyebrang pada Kanjeng Sunan di Kartasura atau ikut bergabung pada para pemberontak Tionghoa, Kyai Bustam tetap setia
kepada kompeni Belanda. Kyai Bustam merupakan satu-satunya pejabat pribumi yang pada waktu itu tetap menjaga kesetiaannya kepada Belanda. Tidak heran jika karena hal itu setelah kompeni Belanda berhasil menumpas pemberontakan Tionghoa tersebut, Kyai Bustam kemudian diberi hadiah sebidang tanah yang luas yang pada waktu itu berada di dekat kota
Semarang(http://semarang-tempo-doeloe.blogspot.co.id/2015/02/kyai-bustam-dan-kelenteng-tan.html/ diakses tanggal 24 Maret 2016 pukul 10.00). Kampung Bustaman yang memiliki arti lain tembus tapi aman ini menghubungkan antara jalan Pekojan dan kampung Arab di Semarang. Kampung ini tidak pernah sepi dari aktifitas warga setiap harinya, karena sebagian besar warga kampung Bustaman memproduksi berbagai olahan kambing seperti gule dan sate, selama 24 jam penuh warga sibuk dengan pemotongan kambing yang dilakukan di kampung Bustaman. Kegiatan pemotongan kambing bermula saat juragan kambing yang dahulu menetap di kampung Bustaman dan juga keturunan Tionghoa ini selalu melakukan penjagalan kambing di kampung Bustaman, setelah itu kegiatan ini diteruskan oleh warga Bustaman sebagai mata pencaharian mereka. Tidak heran kampung ini juga sering disebut kampung kambing.
Kerukunan warga kampung Bustaman nampak terlihat jelas ketika mereka melakukan tradisi gebyuran yang tidak lain adalah tradisi turun-temurun dari Kyai Bustam. Tradisi gebyuran yang dilakukan menjelang bulan suci Ramadhan ini selain guna membersihkan diri dari dosa dan sifat jelek sebelum memasuki bulan puasa, juga sebagai sarana berkumpulnya warga kampung Bustaman yang tidak lain merupakan para saudara hasil dari pernikahan antar saudara di kampung Bustaman. Keharmonisan di kampung Bustaman Semarang merupakan suatu aset yang tidak ternilai. hal ini telah membentuk budaya yang sangat unik khususnya di kota Semarang.
Dalam hal ini Kyai Bustam telah mengajarkan kehidupan yang rukun antar sesama semenjak Kyai Bustam masih hidup, maka tidak heran jika di kampung Bustaman memiliki fenomena yang sangat unik, yaitu menikah
dengan sesama tetangga atau saudara dimana kejadian ini sangat langka terjadi di era modern saat ini. Pernikahan mereka atas dasar rasa cinta yang tumbuh dalam diri mereka masing-masing akibat seringnya bertemu pada saat melakukan pemotongan kambing di kampung Bustaman. Fenomena ini sudah ada sejak dahulu pada zaman Kyai Bustam masih berada di kampung Bustaman. Karena warga kampung Bustaman dominan adalah orang jawa, maka mereka lebih menganut hubungan kekerabatan double unilateral.
Gambar 1.2 Kampung Bustaman
Dengan ini penulis hendak membuat sebuah karya film dokumenter yang berjudul “Telisik Bustaman”. Film dokumenter ini berisi tentang hubungan kekerabatan yang berada di kampung Bustaman sehingga mampu memberikan edukasi kepada masyarakat dan menjadikannya contoh terhadap hubungan antar sesama manusia yang tentram, aman dan damai yang ada di kampung ini. Dengan mengambil judul “Telisik Bustaman”, film ini bertujuan agar masyarakat dapat mengetahui kekentalan hubungan kekerabatan antar sesama yang ada di kampung Bustaman serta menjaga warisan budaya Indonesia khususnya kampung Bustaman. Di film dokumenter ini akan disajikan dengan tampilan yang dapat dimengerti, sehingga masyarakat dapat mengetahui jalan cerita dari film dokumenter “Telisik Bustaman”.
1.2 PERUMUSAN MASALAH
Dari penjabaran diatas, ditemukan beberapa permasalahan:
1. Bagaimana menginformasikan dan mengulas lebih dalam mengenai apa itu hubungan kekerabatan di kampung Bustaman melalui media yang mudah dipahami oleh masyarakat ?
2. Bagaimana merangkai video dan audio menjadi suatu tayangan agar pesan yang ada dalam naskah dapat tersampaikan kepada penonton ?
1.3 TUJUAN
Pemecahan dari semua permasalahan diatas yaitu dengan :
1. Menciptakan sebuah karya berformat dokumenter tentang hubungan
kekerabatan dalam masyarakat, dimana dalam karya tersebut
menginformasikan dan mengulas hubungan kekerabatan yang ada di kampung Bustaman dan menjadi edukasi bagi masyarakat pada umumnya. 2. Menjadi seorang editor dibutuhkan kejelian dan memilikiide kreatif dalam
merangkai video dan audio sesuai naskah yang telah dibuat agar menjadi suatu tayangan yang bisa menambah wawasan kepada masyarakat pada umumnya.
1.4 BATASAN MASALAH
Sesuai dengan judul “Telisik Bustaman” maka disini penulis memiliki batasan-batasan yang digunakan untuk memfokuskan arah film dokumenter ini, baik dari segi tema, konsep, maupun job description yang akan lebih ditekankan, yaitu sebagai berikut:
Dalam judul film dokumenter “Telisik Bustaman” ini penulis akan membahas mengenai hubungan kekerabatan yang berada di kampung Bustaman, Semarang.
Penulis menitikberatkan job description selaku editor dalam film dokumenter “Telisik Bustaman” sebagai kompetensi pilihan yang dikuatkan dalam berkarya. Pemilihan kompetensi ini dirasa sesuai, karena untuk menghasilkan sebuah karya, dibutuhkan kejelian untuk menyusun dan merangkai gambar dan audio sehingga menghasilkan suatu karya yang bisa ditonton.
1.5 MANFAAT
1. Manfaat Akademis
Dari karya ini diharapkan dapat menjadi kajian untuk penelitian berikutnya yang bertema mengenai kekerabatan kampung Bustaman di Kota Semarang.
2. Manfaat Praktis
Dari hasil riset ini semoga menjadi karya audio visual dengan berbentuk alur maju, sehingga dapat mudah dimengerti oleh masyarakat.
3. Manfaat Sosial
Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menambah pengetahuan serta wawasan masyarakat terhadap hubungan kekerabatan kampung bustaman yang dinilai bagus untuk edukasi.
1.6 METODE PENGUMPULAN DATA 1.6.1. Metode-Metode Yang Digunakan
Metode penelitian yang digunakan penulis dalam menyusun penulisan ini untuk mempereoleh data ditempuh dengan jalan melakukan observasi langsung ke kampung Bustaman selama beberapa periode, sehingga didapatkan narasumber yang kami anggap cukup kompeten.
Selain itu penulis juga melakukan studi kepustakaan dimana suatu penelitian dan pengumpulan data dengan cara mempelajari dan membaca buku yang ada kaitannya dengan obyek penulisan, serta dari berita-berita sejarah yang berhubungan dengan kampung Bustaman di Kota Semarang. 1.6.2. Pemilihan Narasumber
Narasumber yang dipilih adalah orang yang memiliki kompetensi yang berhubungan dengan film dokumenter “Telisik Kampung Bustaman”, diantaranya:
1. Pak Mugiono
Seorang anggota instansi yang menangani langsung kampung Bustaman 2. Bu Rika
3. Pak Hari
Beliau adalah sesepuh kampung Bustaman, ia akan memberikan informasi kongkrit mengenai sejarah dari kampung bustaman yang ia tinggali semenjak masih kecil.
1.6.3. Pemilihan Lokasi
Lokasi yang dipilih dalam proses pencarian data adalah kampung Bustaman yang berada di wilayah Kota Semarang di jalan MT. Haryono, dimana lokasi ini adalah objek utama yang akan diangkat dalam film dokumenter yang berjudul “Telisik Bustaman”.
9
2.1 DOKUMENTER “TELISIK BUSTAMAN”
Dalam tugas akhir ini penulis akan menjelaskan sejarah dan pengertian mengenai film maupun film dokumenter secara rinci. 2.1.1 Sejarah dan Perkembangan Film
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, film dapat diartikan dalam dua pengertian. Yang pertama, film merupakan sebuah selaput tipis berbahan seluloid yang digunakan untuk menyimpan gambar negative dari dalam konteks khusus, film diartikan sebagai lakon hidup atau gambar gerak yang biasanya juga disimpan dalam media seluloid tipis dan bentuk gambar negative. Meskipun kini film bukan hanya dapat disimpan dalam media selaput seluloid saja,film dapat juga disimpan dan di putar kembali dalam media digital (http://kbbi.web.id/film, diakses tangal 8 Desember 2015 jam 23.00 WIB).
Sejarah film tidak lepas dari sejarah fotografi dan sejarah tersebut tidak bisa lepas dari peralatan pendukungnya, seperti kamera. Kamera pertama di dunia ditemukan oleh seorang ilmuwan muslim Ibnu Haitham.
Fisikawan menggunakan bantuan energi cahaya matahari.
Mengembangkan ide kamera sederhana tersebut, mulai ditemukan kamera- kamera yang lebih praktis, bahkan inovasinya demikian pesat berkembang sehingga kamera mulai bisa digunakan untuk merekam gambar gerak (http://dsi.unissula.ac.id/artikel/ibnu-al-haitham-ilmuwan-islam-di-masa-lampau, diakses tanggal 8 desember 2015 jam 23.00 WIB).
Ide dasar sebuah film sendiri, terpikir secara tidak sengaja pada tahun 1878 ketika beberapa orang pria Amerika berkumpul dan dari perbincangan ringan menimbulkan sebuah pertanyaan: “Apakah keempat kaki kuda berada pada posisi melayang pada saat bersamaan ketika kuda berlari ?” Pertanyaan itu terjawab ketika Eadweard Mubridge membuat 16 frame gambar kuda yang sedang berlari. Dari 16 frame gambar kuda
sedang berlari tersebut, dibuat rangkaian gerakan secara urut sehingga gambar kuda terkesan sedang berlari. Setelah itu, terbuktilah bahwa ada satu momen dimana kaki kuda tidak menyentuh tanah ketika kuda tengah berlari kencang. Konsepnya hampir sama dengan konsep film kartun. Gambar gerak kuda tersebut menjadi gambar gerak pertama di dunia. Dimana pada masa itu belum diciptakan kamera yang bisa merekam gerakan dinamis. Setelah penemuan gambar bergerak Muybridge pertama kalinya, inovasi kamera mulai berkembang ketika Thomas Alfa Edison mengembangkan fungsi kamera gambar biasa menjadi kamera yang mampu merekam gambar gerak pada tahun 1988, sehingga kamera mulai bisa merekam objek yang bergerak dinamis. Maka dimulailah era baru
sinematography yang ditandai dengan diciptakannya sejenis film dokumenter singkat oleh Lumiere besaudara (Prasetyo, 2014: 5).
Film yang diakui sebagai sinema pertama di dunia tersebut diputar di Boulevard des capucines, Paris, Perancis dengan judul: “workers Leaving The Lumiere’s factory“ pada tanggal 28 desember 1895 yang kemudian sebagai hari lahirnya sinematography. Film inaudible yang hanya berdurasi beberapa detik itu menggambarkan bagaimana pekerja pabrik meninggalkan tempat kerja mereka disaat waktu pulang. Pada awal lahirnya film memang tampak belum ada tujuan dan alur cerita yang jelas. Namun ketika ide pembuatan film mulai tersentuh oleh ranah industri, mulailah film dibuat lebih terkonsep, memiliki alur dan cerita yang jelas. Meskipun pada era baru dunia film, gambarnya masih tidak berwarna alias hitam putih dan belum didukung oleh efek audio. Ketika itu, saat orang-orang tengah menyaksikan pemutaran sebuah film, akan ada pemain musik yang mengiringi secara langsung gambar gerak yang ditampilkan di layar
sebagai efek suara
(http://www.earlycinema.com/pioneers/lumiere_bio.html, diakses tanggal 8 desember 2015 jam 23.00 WIB).
Seiring berkembangnya dunia perfilman, semakin banyak film yang diproduksi dengan corak yang berbeda beda. Secara garis besar, film
dapat diklasifikasikan berdasarkan cerita, orientasi pembuatan dan berdasarkan genre.
Berdasarkan cerita, film dapat dibedakan antara film fiksi dan non fiksi. Fiksi merupakan film yang dibuat berdasarkan imajinasi manusia, dengan kata lain film ini tidak didasarkan pada kejadian nyata. Kemudian film non fiksi yang pembuatannya diilhami oleh suatu kejadian yang
benar-benar terjadi yang kemudian dimasukkan unsur-unsur
sinematography dengan penambahan efek efek tertentu seperti efek suara, musik, cahaya, komputerisasi, skenario atau naskah yang memikat dan lain sebagainya untuk mendukung daya Tarik film non fiksi tersebut. Contoh film non fiksi misalnya The Iron Lady yang di ilhami dari kehidupan
Margaret Thatcher (http://www.idseducation.com/articles/mengenal-genre-film-dari-isinya/, diakses tanggal 8 desember 2015 jam 23.00 WIB). Kemudian berdasarkan orientasi pembuatannya, film dapat digolongkan dalam film komersial dan non komersial. Film komesial, orientasi pembuatannya adalah bisnis dan mengejar keuntungan. Dalan klasifikasi ini, film memang dijadikan sebagai komoditas industrialisasi, sehingga film dibuat sedemikian rupa agar memiliki nilai jual dan menarik untuk disimak oleh berbagai lapisan khalayak. Film komersial biasanya lebih ringan, atraktif, dan mudah dimengerti agar lebih banyak orang yang berminat untuk menyaksikannya. Berbeda dengan film non komersial yang bukan berorientasi bisnis. Dengan kata lain, film non komersial ini dibuat bukan dalam rangka mengejar target keuntungan dan azasnya bukan untuk menjadikan film sebagai komoditas, melainkan murni sebagai seni dalam menyampaikan suatu pesan dan syarat akan tujuan. Karena bukan dibuat atas dasar kepentingan bisnis dan keuntungan, maka biasanya segmentasi penonton film non komersial juga terbatas. Contoh film non komersial misalnya berupa film propaganda yang dibuat dengan tujuan mempengaruhi pola pikir massal agar sesuai dengan pesan yang berusaha disampaikan. Di Indonesia sendiri contoh film propaganda yang cukup melegenda adalah film G30S/PKI atau film dokumenter yang mengangkat
suatu tema khusus, misalnya dokumentasi kehidupan flora fauna atau dokumentasi yang mengangkat kehidupan anak jalanan dan lain sebagainya. Selain itu, dibuat beberapa film yang memang dibuat bukan untuk tujuan bisnis, justru dibuat dengan tujuan untuk meraih penghargaan tertentu dibidang perfilman dan sinematography. Film seperti ini biasanya memiliki pesan moral yang sangat dalam. Estetika yang diperhatikan detail detailnya, dengan skenario yang disusun sedemikian rupa agar setiap gerakan dan perkataannya dapat mengandung makna yang begitu kaya. Film seperti ini biasanya tidak mudah di cerna oleh banyak orang, karena memang sasaran pembuatannya bukan berdasarkan tuntutan pasar. Seni estetika dan makna merupakan tolak ukur pembuatan film seperti ini. Contohnya di Indonesia seperti film pasir berbisik yang di produksi oleh
Christine Hakim dan Daun diatas bantal yang berkisah mengenai kehidupan anak jalanan (Pramesti, 2014: 26).
2.1.2 Sejarah Film Dokumenter
John Grierson adalah orang pertama yang menyatakan istilah dokumenter di sebuah forum film karya Robert Flaherty, Moana (1925), yang mengacu pada kemampuan sebuah media untuk menghasilkan dokumen visual suatu kejadian tertentu. Grierson sangat percaya bahwa sinema bukanlah seni atau hiburan, melainkan suatu bentuk publikasi dan dapat dipublikasikan dengan seratus cara berbeda untuk seratus penonton yang berbeda pula. Oleh karena itu dokumenter pun termasuk didalamnya sebagai suatu metode publikasi sinematik, yang dalam istilahnya disebut:
“creative treatment of actuality” (perlakuan kreatif atas keaktualitasan) (http://www.thecanadianencyclopedia.ca/en/article/john-grierson/ diakses tanggal 8 desember 2015 jam 23.00 WIB).
Karena ada perlakuan kreatif, sama seperti dalam film fiksi lainnya, dokumenter dibangun dan bisa dilihat bukan sebagai suatu rekaman realitas, tetapi sebagai jenis representasi lain dari realitas itu sendiri. Kebanyakan penonton dokumenter di layar kaca sudah begitu terbiasa dengan kode dan bentuk yang dominan sehingga mereka tidak lagi
mempertanyakan lebih jauh tentang isi dari dokumenter tersebut. Misalnya penonton sering menyaksikan dokumenter yang dipandu oleh voiceover, wawancara dari para ahli, saksi dan pendapat anggota masyarakat, set lokasi terlihat nyata, potongan-potongan kejadian langsung dan materi yang berasal dari arsip yang ditemukan. Semua elemen khas tersebut memiliki sejarah dan tempat tertentu dalam perkembangan dan perluasan dokumenter bagi sebuah bentuk sinematik.
Ini penting ditekankan, karena dalam berbagai hal, bentuk dokumenter sering diabaikan dan kurang dianggap di kalangan film seni, bukti-bukti menunjukkan bahwa, bagaimanapun dengan pesatnya perkembangan dokumenter dalam bentuk pemberitaan, terdapat perubahan kembali kearah pendekatan yang lebih sinematik oleh para pembuat film dokumenter akhir-akhir ini. Kini perdebatannya berpindah pada segi estetik dokumenter karena ide kebenaran dan keaslian suatu dokumenter mulai dipertanyakan, diputarbalikkan dan diubah sehubungan dengan pendekatan segi estetik dokumenter dan film-film lainnya.
2.1.3 Pengertian Film Dokumenter
Video dokumenter merupakan satu bentuk produk audio visual yang menceritakan suatu fenomena keseharian. Fenomena tersebut cukup pantas diangkat menjadi perenungan bagi penonton. Materi dokumenter dapat berupa cerita tentang keprihatinan sosial, pengalaman dan pergaulatan hidup yang memberikan inspirasi dan semangat hidup bagi penonton, atau kilas balik dan kupasan tentang peristiwa yang pernah terjadi dan ada kaitanya dengan masa sekarang (Brata, 2007: 57)
Video dokumenter tak pernah lepas dari tujuan penyebaran informasi pendidikan, dan propaganda bagi orang atau kelompok tertentu. Intinya, video dokumenter tetap berpijak pada hal-hal senyata mungkin” (Javandalasta, 2011:2).
Kunci utama dalam video dokumenter merupakan penyajian fakta. Video dokumenter berhubungan dengan tokoh, peristiwa dan lokasi yang
nyata. Video dokumenter merupakan merekam peristiwa yang sungguh – sungguh terjadi tidak menciptakan suatu kejadian.
Dalam membuat video dokumenter terdapat kriteria dimana video tersebut bagus atau tidak. berikut ini kriteria video dokumenter yang bisa dikatakan bagus:
1. Merupakan para pelaku yang sesungguhnya. 2. Tidak memiliki tokoh protagonis dan antagonis. 3. Struktur film sederhana
4. Film berisi kenyataan atau fakta bukan rekayasa
Di dalam video dokumenter terdapat dua unsur utama, yaitu : 1. Gambar (Visual)
Penggambaran dari cerita dihadirkan langsung orang yang bersangkutan.
2. Kata – kata (Verbal)
Narasi dari statement narasumber langsung atau dari narrator untuk memperjelas gambar dari karya documenter.
2.1.4 Jenis Dokumenter
Melalui pengertian dokumenter dari beberapa ahli, Gerzon R. Ayawaila membagi film dokumenter menjadi 12 jenis, yaitu :
1. Dokumenter Laporan Perjalanan
Dokumenter yang menceritakan tentang dokumentasi kegiatan dari yang serius hingga yang remeh. Istilah yag biasa dipakai adalah travelpgue, travel film, dan adventures film.
2. Dokumenter Sejarah
Karya yang berdasarkan hasil riset yang kompeten mengenai peristiwa penting. Dalam karya ini data sangat penting dan tak boleh salah.
3. Dokumenter Potret Biografi
Karya yang mengangkat tentang seseorang (human interest)
yang memiliki keunikan atau prestasi hingga hal menarik lainnya.
4. Dokumenter Nostalgia
Hampis sama dengan tipe sejarah tapi yang berbeda adalah isinya ditambahkan kilas balik dari objek karya tersebut.
5. Dokumenter Rekonstruksi
Karya yang diciptakan untuk reka adegan suatu peristiwa yang biasanya dilakukan oleh seorang model. Peristiwa yang sering di film kan seperti criminal hingga bencana dan lainnya. 6. Dokumenter Investigasi
Dalam karya ini biasanya mengangkat satu peristiwa dan mengulasnya hingga mendalam.
7. Dokumenter Perbandingan dan Kontradiksi
Biasanya berisi tentang perbandingan dari dua objek yang memiliki perbedaan signifikan.
8. Dokumenter Ilmu Pengetahuan
Film dokumenter genre ini sebenarnya yang paling dekat dengan masyarakat Indonesia. Jenis ini bisa terbagi menjadi dua
sub-genre :
a. Film Dokumenter Sains
Karya yang berisi tentang pengetahuan umum seperti teknologi, budaya, dan lainnya.
b. Film Instruksional
Film yang berisi tentang pengajaran suatu hal seperti main gitar, membuat karya tangan dan lainnya.
9. Dokumenter Buku Harian (diary)
Film yang menceritakan tentang kisah suatu tokoh dan sering kali mencantumkan ruang dan waktu kejadian yang cukup detil.
10. Dokumenter Musik
Genre musik memang tidak setua genre yang lain, namun pada masa 1980 hingga sekarang. Dokumenter jenis ini sangat banyak diproduksi, namun dalam membuat jenis dokumenter ini
Video Compositing Special Effect
Recording Audio
Mixing Video
dan Audio Final
tidak semuanya merupakan dokumentasi konser musik ataupun perjalanan tour keliling untuk mempromosikan sebuah album. 11. Dokumenter Association Picture Story
Jenis dokumenter ini dipengaruhi oleh film eksperimental. Sesuai dengan namanya, film ini mengandalkan gambar-gambar yang tidak berhubungan namun ketika disatukan dengan editing, maka makna yang muncul dapat ditangkap penonton melalui asosiasi yang terbentuk di benak mereka.
12. Dokumenter Dokudrama
Film yang memvisualisasikan dari kisah nyata sehingga hampir semua aspek direkonstruksikan. (Fauzan, 2014: 10). 2.2 Editor
Peran utama seorang editor adalah melakukan editing, compositing serta memberi efek-efek yang diperluan untuk menjadikan hasil syuting yang telah dilakukan menjadi suatu format audio visual yang baik dan menarik untuk ditonton.
Tahapan yang dilakukan
Gambar 2.1 Skema Kerja Editor
Tugas editor tidak sekedar berada di pasca produksi namun peran editor juga dibutuhkan pada pra produksi dan produksi.
2.2.1 Pra Produksi
Dalam proses pra produksi, editor melakukan beberapa tugas, diantaranya:
a) Merencanakan alur dan rencana editing
c) Mempersiapkan perangkat keras dan perangkat lunak sebagai penunjang proses editing.
2.2.2 Produksi
Pada proses produksi, editor tidak terlibat dalam pengambilan gambar secara langsung. Namun turut hadir untuk membantu proses produksi walaupun itu tidak diwajibkan.
2.2.3 Pasca Produksi
Pada proses pasca produksi, editor melakukan kewajiban utama. Berikut tugas editor pada proses pasca produksi:
a) Logging and capturing
Proses pemilihan gambar sesuai dengan editing script dan memindahkan ke dalam peralatan editing
b) Editing
Proses pengolahan gambar dengan cara memotong dan menyambung gambar sesuai dengan cerita.
c) Scoring dan sound effect
Penambahan musik dan sound effect khusus untuk memberikan penguatan audio pada hasil gambar.
d) Desain Grafis dan ilustrasi
Membuat desain grafis opening, transisi, closing serta bagian lain yang membutuhkan ilustrasi dan grafis.
e) Mixing
Proses memadukan antara gambar dan suara menjadi satu kesatuan yang saling mendukung.
f) Color Grading dan Color Correction
Proses pemberian warna dan koreksi warna pada gambar agar sesuai dengan perencanaan awal.
g) Titling
Proses membuat tulisan pada judul, nama narasumber, credit title da sebagainya.
h) Preview
Proses mengevaluasi hasil editing yang dibuat oleh editor sebelum dinyatakan layak tayang.
i) Mastering
Proses transfer hasil editing kedalam pita kaset, keping VCD/DVD, atau kedalam media lain.
2.3 LANDASAN ESTETIKA
Sebagai landasan untuk membentuk estetika dalam program film dokumenter “Telisik Bustaman” ini, terdapat beberapa tahap, antara lain:
1. Editing
Ketika proses shooting selesai, maka tahap selanjutnya yakni editing sebagai bagian dari proses paska produksi, merupakan tahapan yang sangat menarik dalam pembuatan dokumenter. Seperti halnya dalam editing feature film, editing dokumenter melalui berbagai tahapan.
2. Preview Hasil Shooting
Ratusan bahkan ribuan shoot/footage yang dihasilkan pada tahap produksi belum mewakili cerita dari dokumenter itu sendiri. Proses editing sangat dibutuhkan untuk membangun cerita dari dokumenter tersebut. Sebelum memasuki tahap penyusunan gambar/logging, diperlukan preview hasil shooting.
3. Logging
Logging secara sederhana berarti pencatatan time code dari seluruh shoot yang dihasilkan. Logging juga dapat diartikan sebagai management file, yang berfungsi untuk mempermudah ketika melakukan penyuntingan gambar. Catatan Logging tersebut dibuat logging list atau logging sheet. Logging sheet merupakan panduan untuk capture atau pemindahan materi tape atau footage kedalam
4. Paper atau Editing Script
Terdapat dua tipe naskah dalam dokumenter, yang pertama adalah pre-shoot script yang dibuat oleh penulis naskah yang berfungsi sebagai panduan film maker di lapangan. Yang ke dua dinamakan Post-shoot script atau biasa dinamakan Paper atau Editing script. Editing script diperlukan oleh editor dokumenter, ini salah satu yang membedakan antara feature film dengan dokumenter. Editing script mempermudah pekerjaan editor dokumenter. Editing script
dibuat melalui transcript wawancara dengan tujuan membuat struktur cerita yang direkonstruksi. Tidak ada aturan baku dalam format
Editing script, karena sistem kerja editor berbeda satu dengan yang
lain, namun yang terpenting adalah editor dapat
mempertanggungjawabkan hasil kerjanya.
5. Editing Assembly
Tahap ini dilakukan untuk melihat gambaran umum dokumenter yang telah diproduksi. Untuk dokumenter berdurasi 1 Jam, biasanya memerlukan assembly edit sekitar 140 menit, atau 40% lebih banyak. Rumus tersebut bukanlah rumusan baku karena pengalaman editor dalam editing film dokumenter juga berbeda-beda.
Dalam editing assembly, belum ada backsound, music background, voice over, serta efek, yang terutama dalam tahap ini adalah alur cerita sudah sedikit terlihat dan dapat melihat gambaran umum dari dokumenter.
6. Rough Cut
Rough Cut atau potongan kasar merupakan tahap sebenarnya dalam editing. Editor sudah membuat konstruksi cerita sesuai dengan
Post-Script yang sudah dibuat sebelumnya. Penambahan draft narasi atau voice over sudah bisa dilakukan. Durasi hasil Roughcut biasanya tidak lebih dari sepuluh persen dari durasi film dokumenter yang sudah jadi nantinya.
7. Final Cut
Final cut merupakan proses editing akhir sebelum film dokumenter tersebut benar-benar akan release. Pada tahapan ini, editor sudah membuat struktur final dengan durasi hampir persis pada durasi sebenarnya, menambahkan musik ilustrasi, serta efek. Pada tahap ini hasil editing final cut sudah bisa di presentasikan kembali.
8. Picture Locked
Dalam tahapan ini, gambar yang telah disusun dikunci dan penambahan grafis serta musik dilakukan dan tentunya mastering dan pembuatan copy release.
2.4 HARDWARE DAN SOFTWARE
Spesifikasi hardware dan software menentukan kualitas dan efisiensi waktu dalam editing film dokumenter “Telisik Bustaman”.
2.4.1 Deskripsi Hardware
Dalam tahapan editing film dokumenter “Telisik Bustaman”
memerlukan spesifikasi PC (Personal Computer) yang mumpuni. Berikut spesifikasi PC yang penulis gunakan dalam editing film dokumenter “Telisik Bustaman”:
a)Proccessor : Intel Core I5 Haswell Refresh 4460 3.2GHz up to 4.0GHz
b) Mainboard : Msi H97M
c) RAM : 16GB Kit Avexir Core
d) SSD : Adata SP900 128GB
e) HDD : WD Blue 1TB SATA III
f) VGA : NVidia GTX960 2GB GDDR5 128bit
g) PSu : Thermaltake 530W
h) CPU Cooling : Thermaltake Water 3.0 Performer C 2.4.2 Deskripsi Software
a) Adobe Premiere CC 2015 9.0.2 Version
Adobe Premiere CC 2015 adalah produk terbaru yang dikeluarkan oleh Adobe Creative Cloud yang ditujukan untuk
editing video. Adobe Premiere Pro CC 2015 bisa dikategorikan unik dan kuat karena software tersebut mendukung video dengan ukuran mencapai 10K (10240 pixel x 8192 pixel), mendukung sistem warna 32-bits per channel color dalam RGB maupun YUV, mendukung format audio VST audio plug-in dan 5.1 Surround sound mixing, mendukung berbagai macam format video dari kategori home use hingga profesional, mendukung sistem multicam hingga lebih dari 32 kamera, mendukung sistem
color grading serta color correction, mendukung sinkronisasi audio dan video yang terpisah, dan dapat terintegrasi dengan program Adobe yang lain (Adobe After Effects, Photoshop, Audition, Illustrator) menggunakan workflow integration.
b) Adobe After Effects CC 2015
Fungsi utama Adobe After Effects adalah untuk membuat grafik bergerak dan efek visual. Adobe After Effects memungkinkan penggunanya untuk menggerakkan, mengubah, dan mengkombinasi media di ruang 2D dan 3D dengan berbagai
built-in tools dan 3rd party plug-ins.
Adobe After Effects dan beberapa sistem editing non-linear lain adalah bersifat layer-oriented, yang berarti bahwa setiap individu objek media menempati jalur sendiri. Berbeda dengan sistem linear di mana setiap individu objek media dapat menempati jalur yang sama. Sistem layer-oriented lebih cocok untuk mengedit dan dapat menyimpan file project yang lebih ringkas.
Sama halnya dengan Adobe Premiere Pro CC 2015, Adobe After Effects juga dapat terintegrasi dengan program Adobe yang lain.
c) Adobe Audition CC 2015
Adobe Audition CC 2015 merupakan software editing untuk suara dengan menggunakan tingkat kepadatan gelombang.
Adobe Audition CC 2015 memiliki fitur editing suara yang lebih cepat dan mumpuni dari versi Adobe Audition yang sebelumnya karena sudah mendukung sistem realtime editing.
d) Adobe Photoshop CC 2015
Adobe Photoshop CC 2015 merupakan software untuk editing grafis dan foto. Software ini cukup poluler karena fitur-fitur yang banyak dan tampilan yang menarik dan mudah dimengerti oleh masyarakat awam. Selain editing foto, Photoshop juga mampu menciptakan grafis yang diperlukan dan dapat digunakan secara bersamaan dengan Adobe Premiere Pro dan Adobe After Effects. (www.adobe.com/products/about). e) Windows 10 Pro 64 bit
Windows 10 Pro 64 bit merupakan OS (Operating System) terbaru besutan Microsoft. Sistem operasi ini lebih ringan dan 4x lebih cepat dibandingkan dengan versi windows pendahulunya sehingga proses editing dapat berjalan jauh lebih cepat.
23 3.1. Deskripsi Karya
Penulis memilih format film dokumenter dengan mengangkat tema kekerabatan warga kampung Bustaman. Film dokumenter dengan judul “Telisik Bustaman” ini memiliki bentuk dokumenter berdasarkan stock shot, karena memang pembuatan film dokumenter ini sudah direncanakan sebelumnya dan pengambilan gambar berdasarkan treatment yang sudah dibuat oleh penulis.
1. Nama acara : Telisik Bustaman
2. Tema : Kekerabatan Warga Kampung Bustaman
3. Media : Film
4. Kategori program : Education
5. Format program :Dokumenter
6. Format produksi : Outdoor
7. Sifat produksi : Taping
8. Unsur produksi : Video
9. Sasaran / segmentasi : Semua Umur
10. Durasi : 10 menit
3.2. Obyek Karya dan Analisis Obyek
Obyek penciptaan dari Film Dokumenter ini berjudul “Telisik Bustaman”. Film Dokumenter ini menceritakan tentang hubungan kekerabatan yang terjadi di kampung Bustaman Semarang. Kampung yang terkenal dengan kampung kambing ini juga memiliki hal yang unik dan istimewa untuk diketahui oleh masyarakat, yaitu dengan adanya hubungan persaudaraan yang erat antar warga di kampung Bustaman. Jadi, bisa dikatakan dalam satu lingkup wilayah kampung Bustaman semuanya merupakan saudara. Dalam kondisi perkampungan yang cukup padat, seringnya bertemu dan seringnya melakukan aktivitas bersama maka tidak jarang dari warga kampung Bustaman yang akhirnya memilih untuk menikah dengan sesama tetangga yang tidak lain merupakan saudara sendiri.
menikah dengan sesama tetangga merupakan hal yang sangat jarang dilakukan oleh masyarakat pada umumnya khususnya warga kota Semarang. Dari film dokumenter ini semoga dapat memberikan pelajaran kepada masyarakat kota Semarang agar selalu menjaga tali persaudaraan dengan siapapun tanpa memilih-milih.
3.1. Komparasi Program
3.3.1. Eagle Documentary Series episode “Merajut Desa Harapan” Eagle documentary series adalah acara yang tayang di stasiun TV metro tv setiap hari jumat pukul 21.00 WIB, Dalam acara ini menampilkan film dokumenter pilihan karya anak bangsa yang mengangkat tema tentang masalah sehari hari. Kekuatan dari karya documenter ini terdapat pada pengemasan karya, dengan adanya
time laps dan menggunakan slowmotion di beberapa video menambah dramatis karya ini juga di dukung backsound yang dirasa cocok menambah epic karya tersebut, namun penempatan
titling dan warna yang kurang salah membuat nama narasumber dan beberapa data yang tertera tidak bisa terbaca.
3.3.2. Eagle Award Documentary Competition “Nikah Muda Akibat Hamil Duluan”
Karya dokumenter yang memenangkan kompetisi dokumenter yang diadakan oleh stasiun tv metro tv merupakan hasil karya anak muda dari Padang. Dalam karya ini menjelaskan tentang kasus yang marak terjadi di kalangan anak muda jaman sekarang. Dalam karya ini narasi lebih kuat dan gambar hanya menjelaskan apa yang dijelaskan dalam narasi. Dan untuk pengemasan karya terkesan sederhana dengan memakai efek dissolve, cut to cut dan pengambilan gambar yang terkesan kaku warna yang tidak rata.
Dari dua komparasi tersebut, penulis mencoba
untuk menguatkan karya sebagai penguat data saat narasi. 3.2. Perencanaan Konsep Kreatif dan Konsep Teknis
3.4.1. Konsep Kreatif
1. Perencanaan konsep
Menyajikan sebuah film dokumenter yang menarik, editor akan memberikan gambar yang epic serta efek-efek seperti efek suara pada film dokumenter “Telisik Bustaman”, agar penonton lebih terkesan saat menonton film dokumenter yang bertemakan kekerabatan warga kampung Bustaman Semarang. Sebagai seorang editor, akan memberikan arahan mengenai alur cerita sesuai dengan treatment yang telah dibuat, sehingga penonton dapat mengerti jalan cerita dari film dokumenter yang berjudul Telisik Kampung Bustaman ini benar-benar tersampaikan kepada penonton. Dari penggabungan hasil yang dilakukan oleh editor, sutradara dan penulis naskah inilah yang nantinya akan membentuk sebuah cerita yang menarik untuk di tonton.
2. Sinopsis
Program acara film dokumenter yang berjudul “Telisik Bustaman” yang berdurasi kurang lebih 10 menit menceritakan tentang hubungan kekerabatan yang ada di kampung Bustaman Semarang. Kampung peninggalan kyai Bustam ini selain memiliki cerita sejarah juga memiliki hubungan kekerabatan yang sangat erat antar warga di kampung Bustaman tersebut, ini terbukti ketika hampir 90 persen warga kampung Bustaman memilih menikah dengan tetangga sendiri yang tidak lain merupakan saudara, karena memang seluruh warga di kampung Bustaman mempunyai ikatan saudara. Di era modern seperti saat ini jarang sekali orang mau menikah dengan tetangga sendiri, apalagi itu merupakan saudara, walaupun
justru menikmati adanya fenomena seperti ini. Jarak rumah yang berdekatan, seringnya bertemu saat melakukan aktivitas inilah alasan yang membuat kebanyakan warga kampung Bustaman jatuh cinta dan akhirnya melakukan sebuah pernikahan. Dari penelitian yang dilakukann, kampung Bustaman ternyata mempunyai susunan kekerabatan double unilateral, dimana double unilateral ini merupakan susunan kekerabatan yang menarik garis keturunan patrilineal dan
matrilineal dengan kata lain anak-anak yang lahir menjadi hak ayah dan ibu, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Anak mereka mempunyai hak waris dari kedua orang tuanya.
Selain itu di kampung yang sering disebut kampung kambing ini juga terdapat tradisi yang hingga kini masih dilestarikan, yaitu tradisi gebyuran. Tradisi selalu yang dilakukan menjelang bulan suci Ramadhan ini merupakan bukti nyata lain mengenai kentalnya kekerabatan yang ada di kampung Bustaman. Kegiatan saling melempar air guna membersihkan diri sebelum bulan puasa tiba ini tidak pandang usia, dari anak kecil, remaja, hingga orang dewasapun turut dalam tradisi ini. Setelah tradisi gebyuran selesai, seluruh warga kampung Bustaman berkumpul di suatu tempat guna menyantap hidangan bersama yang telah disediakan oleh masing-masing warga. Inilah potret kekerabatan yang ada di kampung Bustaman Semarang, dalam film dokumenter ini semoga dapat menjadi inspirasi khususnya masyarakat kota Semarang agar selalu menjaga kerukunan dengan siapapun dan dalam kondisi apapun.
NO GAMBAR AUDIO/NARASI DURASI
1. IDENTITAS KARYA
2. FOOTAGE KOTA SEMARANG,
GEDUNG PENCAKAR LANGIT, KAMPUNG SEKAYU ...NARASI... 3. OPENING TUNE DOKUMENTER (TELISIK BUSTAMAN) 4. FOOTAGE SUASANA KAMPUNG, ARTIKEL
TENTANG KAMPUNG YANG HILANG
...NARASI...
5. FOOTAGE GAPURA KAMPUNG
BUSTAMAN
...NARASI...
6. FOOTAGE GAMBAR PETA,
GAMBAR KAMPUNG
BUSTAMAN
...NARASI...
7. WAWANCARA PAK HARI
BUSTAMAN MENJELASKAN SEJARAH AWAL KAMPUNG BUSTAMAN 8. FOOTAGE GAMBAR KAMPUNG BUSTAMAN ...NARASI... 9. FOOTAGE KAMPUNG PEKOJAN ...NARASI... 10. FOOTAGE JALAN PETUDUNGAN ...NARASI... 11. FOOTAGE KAMPUNG BUSTAMAN, GAMBAR ...NARASI...
12. FOOTAGE KEGIATAN WARGA MEMOTONG DAGING KAMBING ...NARASI... 13. FOOTAGE WARGA BERJUALAN MAKANAN ...NARASI...
14. WAWANCARA PAK HARI
BUSTAMAN MENJELASKAN TENTANG SIKLUS EKONOMI DI KAMPUNG BUSTAMAN 15. FOOTAGE KAMPUNG BUSTAMAN, GAMBAR WARGA KAMPUNG BUSTAMAN ...NARASI...
16. WAWANCARA PAK HARI BUSTAMAN
MENJELASKAN PERNIKAHAN
ANTAR TETANGGA
17. FOOTAGE KEGIATAN WARGA ...NARASI...
18. WAWANCARA BU RIKA ALASAN NIKAH
DENGAN TETANGGA 19. GRAFIS JUMLAH WARGA,
GAMBAR WARGA KAMPUNG BUSTAMAN
...NARASI...
20. WAWANCARA PAK MUGIONO MENJELASKAN
JUMLAH WARGA YANG NIKAH
TETANGGA 21. GRAFIS TENTANG SILSILAH
KETURUNAN
...NARASI...
22. FOOTAGE TRADISI
GEBYURAN
...NARASI...
23. WAWANCARA PAK HARI
BUSTAMAN MENJELASKAN TRADISI GEBYURAN 24. FOOTAGE SUASANA GEBYURAN ...NARASI...
25. WAWANCARA PAK HARI
BUSTAMAN MENJELASKAN EFEK DARI TRADISI GEBYURAN BAGI WARGA 26. VIDEO COURTESY YOUTUBE
TRADISI SONGKRAN DI
THAILAND, FOOTAGE
SUASANA TRADISI
GEBYURAN
...NARASI...
27. FOOTAGE GAMBAR WARGA BERKUMPUL USAI TRADISI GEBYURAN
...NARASI...
NO VISUAL AUDIO 1. FOOTAGE KOTA SEMARANG, GEDUNG PENCAKAR LANGIT, KAMPUNG SEKAYU
Semarang yang tidak lain merupakan ibukota Provinsi Jawa Tengah dari tahun ke tahun semakin terlihat berkembang/ dilihat dari banyaknya investor yang membangun gedung-gedung pencakar langit seperti mall/ hotel/ dan masih banyak gedung-gedung lainnya di kota ini// banyaknya gedung–gedung pencakar langit inilah yang kini berimbas pada perkampungan penuh cerita dan sejarah di kota Semarang/ yang lambat laun kini mulai memudar bahkan menghilang// 2. OBB 3. FOOTAGE SUASANA KAMPUNG, ARTIKEL TENTANG KAMPUNG YANG HILANG
Pada umumnya/ kampung merupakan tempat hunian kelompok warga yang terdiri dari beberapa kepala keluarga dan terdapat beberapa rumah didalamnya / lingkungan khas Indonesia ini ditandai dengan adanya kehidupan yang selalu terjalin dalam ikatan kekerabatan yang erat// Namun siapa sangka?/ sejak lima belas tahun silam/ atau sekitar tahun dua ribu satu/ beberapa perkampungan di kota Semarang mulai perlahan hilang dari peta kota// Kejadian ini merupakan fenomena yang sangat serius untuk ditanggapi oleh pihak instansi terkait/ mengingat masih banyaknya kampung-kampung bersejarah yang ada di kota Semarang yang patut untuk dipertahankan keberadaannya//
4. FOOTAGE
GAPURA KAMPUNG BUSTAMAN
Salah satu kampung di kota Semarang yang masih eksis patut untuk tetap dilestarikan di
tengah-tengah laju perkembangan kota
GAMBAR PETA, GAMBAR
KAMPUNG BUSTAMAN
Mataram ini masih mampu menjaga keberadaan/ ciri khas/ tradisi/ serta jalinan hubungan kekerabatan yang ada//
6. WAWANCARA PAK HARI BUSTAMAN 7. FOOTAGE GAMBAR KAMPUNG BUSTAMAN
Tidak seperti kampung pada umumnya/
kampung Bustaman yang memiliki luas lima hektar ini hanya memiliki dua RT dan dihuni oleh delapan puluh kepala keluarga/ sehingga boleh dikatakan wilayah kampung Bustaman ini cukup padat penghuni// Kepadatan inilah yang menjadi awal jalinan hubungan kekerabatan antar warga di kampung ini// Kampung Bustaman sering disebut oleh warga sekitar dengan sebutan tembus tapi aman/ Bustaman// karena memang kampung ini menghubungkan kampung Pekojan dan daerah Petudungan/ walaupun tembus tetapi kampung Bustaman selalu terlihat aman//
8. FOOTAGE
KAMPUNG PEKOJAN
Sangat berbeda sekali ketika melihat kampung
Pekojan dan daerah Petudungan dengan
kampung Bustaman// Kampung Pekojan atau yang sering disebut sebagai kampung arab ini sungguh terlihat jauh berbeda dengan kampung Bustaman/ ketika melihat jalinan hubungan kekerabatan antar warga di kampung ini tidak begitu menonjol dibanding dengan kampung Bustaman// Sosialisasi antar warga kurang terasa saat melihat kampung Pekojan/ tidak ada aktifitas apapun yang menonjol di sepanjang jalan kampung Pekojan/ mereka lebih cenderung melakukan aktifitas dirumah mereka masing-masing//
dihuni oleh orang-orang Tionghoa ini sama sekali tidak menunjukan hubungan kekerabatan yang terjalin di daerah Petudungan/ cenderung tertutup/ sesekali terlihat berkumpul pada saat acara-acara tertentu saja/ seperti adanya sanak saudara yang menikah atau bahkan pada saat adanya saudara yang meninggal//
10. FOOTAGE KAMPUNG BUSTAMAN, GAMBAR KANDANG KAMBING
Saat memasuki kampung Bustaman/ keunikan dari kampung inipun sangat terlihat/ bau dari hewan kambing yang khas sangat terasa/ karena memang sebagian besar warga kampung Bustaman bermata pencaharian sebagai penjagal kambing/ tidak heran kampung Bustaman sering dijuluki pula dengan kampung kambing//
11. FOOTAGE KEGIATAN WARGA MEMOTONG DAGING KAMBING
Keakraban antar warga di kampung Bustaman ini sangat terlihat ketika warga bersama-sama melakukan pekerjaannya/ seperti memotong hewan kambing/ menusuk daging kambing hingga menjadi sate/ membuat bumbu-bumbu gulai/ semuanya dilakukan secara bersama-sama//
12. FOOTAGE WARGA
BERJUALAN MAKANAN
Di kampung Bustaman inilah disulap warga untuk dijadikan tempat berjualan makanan untuk warga kampung Bustaman sendiri// Uniknya/ mereka sama sekali tidak menyediakan makanan berbau kambing di kampungnya sendiri//
13. WAWANCARA PAK HARI BUSTAMAN 14. FOOTAGE KAMPUNG BUSTAMAN, GAMBAR WARGA
Keakraban yang tercipta di kampung Bustaman ini memang alami terbentuk/ karena memang selain faktor rumah antar warga yang saling berdekatan/ membuat komunikasi antar warga menjadi lebih sering dilakukan/ juga adanya
BUSTAMAN kekerabatan di kampung Bustaman ini semakin erat/ yaitu pernikahan antar tetangga //
15. WAWANCARA PAK HARI BUSTAMAN 16. FOOTAGE KEGIATAN WARGA
Melihat di era modern seperti saat ini/ menikah antar tetangga jarang sekali dilakukan oleh
masyarakat/ terutama masyarakat kota
Semarang// Fenomena ini bisa terjadi akibat seringnya bertemu antara salah satu warga dengan warga lainnya pada saat mengikuti kegiatan yang ada di kampung Bustaman//
17. WAWANCARA BU RIKA 18. GRAFIS JUMLAH WARGA, GAMBAR WARGA KAMPUNG BUSTAMAN
Dari tiga ratus warga kampung Bustaman/ sebanyak sembilan puluh persen atau sekitar tujuh puluh dua kepala keluarga menikah dengan tetangga sendiri// Uniknya/ tetangga tersebut tidak lain merupakan saudara sendiri// Pernikahan antar tetangga terus dilakukan oleh warga kampung Bustaman/ hingga seluruhnya warga kampung Bustaman bisa dikatakan saudara// Kekerabatan yang dijalin sedemikian rupa dapat juga disebut sebagai simbol pelestarian persaudaraan yang ada di kampung Bustaman// 19. WAWANCARA PAK MUGIONO 20. GRAFIS TENTANG SILSILAH KETURUNAN
Yang dimaksud dari sebutan bahwa tetangga di kampung Bustaman merupakan saudara sendiri ini ialah bukan saudara sedarah/ melainkan saudara dari kerabat jauh berbeda keturunan kakek dan nenek yang memang berdomisili di kampung Bustaman dan saling bertetangga//
21. FOOTAGE TRADISI
GEBYURAN
Hubungan kekerabatan yang ada di kampung Bustaman sangat terasa ketika sanak saudara kampung Bustaman mengikuti tradisi yang
tradisi gebyuran// 22. WAWANCARA PAK HARI BUSTAMAN 23. FOOTAGE SUASANA GEBYURAN
Tradisi ini menjadi tempat berkumpulnya warga kampung Bustaman dalam rangka menjelang bulan suci Ramadhan// keakraban/ kerukunan/ kekompakan semua melebur menjadi satu dalam tradisi ini// 24. WAWANCARA PAK HARI BUSTAMAN 25. VIDEO COURTESY YOUTUBE TRADISI SONGKRAN DI THAILAND, FOOTAGE SUASANA TRADISI GEBYURAN
Tidak hanya di kampung Bustaman saja/ tradisi serupa juga dilakukan di negara Thailand/ yaitu tradisi songkran// serupa dengan tradisi gebyuran yang ada di kampung Bustaman/ tetapi tradisi songkran ini dikemas dengan lebih
modern// Namun/ tradisi gebyuran yang
dilakukan di kampung Bustaman tidak kalah menarik/ memakai dengan cara tradisional/ gebyuran yang dilakukan menggunakan plastik yang berisikan air warna-warni//
26. FOOTAGE
GAMBAR WARGA BERKUMPUL USAI TRADISI
GEBYURAN
Gambaran kebersamaan yang terjalin pada tradisi ini seyogyanya bisa menjadi inspirasi kepada masyarakat luas untuk bisa lebih menyayangi antar sesama manusia// Hubungan kekerabatan bisa dijalin dengan siapa saja/ entah tua maupun muda semua merupakan saudara/ saudara bukan berarti selalu sedarah// cintailah saudara negri kita sendiri/ Indonesia//
27. CREDIT TITLE
3.4.2. Konsep Teknis
1. Pemilihan Alat dan Bahan (Software)
Untuk memproduksi sebuah program acara harus
bahan-di list terlebih dahulu, agar nantinya produksi dapat berjalan dengan baik dan lancar.
Sama halnya memproduksi sebuah acara dalam membuat tugas akhir juga sangat penting membuat list-list peralatan yang diperlukan. Alat-alat dan bahan-bahan yang diperlukan dalam membuat tugas akhir adalah sebagai berikut:
Tabel 3.3 Pemilihan Alat dan Software
JENIS PERALATAN
NO NAMA ALAT TIPE/MERK JUMLAH
1. Kamera DSLR Canon 60D 2
2. Kamera GO PRO Hero 4 1
3. Lensa KIT 18-55 WIDE 17-40 FIX 24mm FIX 50mm 1 1 1 1 4. Tripod Libec 2
5. Perekam Audio 1. Clip on
2. Recorder Tascam DR-07 MK II 3. Rode 1 1 1 5 Lampu LED 1 6 Komputer Editing 1. PC 2. Laptop 1 1 7 Software 1. Adobe Premier CC 2015 2. Adobe 1
2015 3. Adobe After effect CC 2015 4. Adobe Photoshop CC 2015 5. Plural eye 3.0 6. Windows 10 2. Sistem Kerja atau Produksi
Saat pelaksanaan produksi karya, penulis menggunakan sistem kerja sebagai berikut:
a. Membuat Storyline atau Sinopsis untuk mempermudah saat produksi, karena jalannya cerita sudah tersusun rapi.
b. Membuat Shooting list akan mempermudah saat mengambil gambar, dan mengikuti jadwal kegiatan yang sudah ada.
c. Membuat treatment karena dalam pengambilan gambar
berpegang pada treatment, walaupun pada akhirnya saat pengambilan gambar ada pengembangan gambar.
d. Merangkai naskah untuk mempermudah proses produksi dan editing nantinya.
e. Menggunakan sistem multicam (menggunakan lebih dari satu
kamera), pengambilan statement narasumber yang
berkompeten, pengambilan insert-insert gambar yaitu dengan kamera DSLR 60D.
f. Dokumentasi, dalam proses pencarian data (riset) penulis terjun langsung ke lapangan dan menggunakan kamera DSLR, kamera sebagai sebagai sumber data yang nantinya dapat
wawancara.
g. Mencari narasumber yang bernar-benar terlibat dengan kampung Bustaman, agar statemnet yang disampaikan nyata. 3.3. Proses Berkarya
Untuk memproduksi sebuah film dokumenter diperlukan tahap pelaksanaan atau proses produksi yang tersusun rapi. Proses produksi ini sendiri meliputi:
1. Pra Produksi
a. Mengumpulkan semua data-data yang diperlukan (riset) untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang kampung Bustaman Semarang.
b. Membuat sinopsis, treatment dan perencanaan naskah sebagai landasan saat produksi nanti. Kemudian dianalisa dan dipahami. c. Menyusun team work beserta job desk, agar setiap orang fokus
pada masing-masing tanggung jawabnya. Berikut job desk yang sudah tersusun:
Tabel 3.4 Job Description
NO NAMA JOBDESK
1. Bella Sani Hastuti
Mochamad Makfut Saputra Suryadi Saputra
Produser
2. Bella Sani Hastuti Sutradara
3. Bella Sani Hastuti Suryadi Saputra
Kameraman
4. Mochamad Makfut Saputra Penulis Naskah
5. Suryadi Saputra Peralatan/ TD (Teknik
Director)
6. Suryadi Saputra Editor
e. Mengatur semua jadwal kegiatan
Tabel 3.5 Time Scedhule
No Tahap Aktifitas
Target Per Minggu
Maret April Mei Juni 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1. P ra prod uksi Penemuan Ide √ 2. Pengembangan Gagasan, Sinopsis dan Shooting list √ 3. Penulisan Naskah dan Treatment √ 4. P roduk si Shooting √ √ √ 5. Dailly Production Report √ 6. Evaluasi Produksi √ 7. P asc a P roduk si Capturing √ 8. Logging √ 9. Offline Editing √ 10. Dubbing √ 11. Online Editing √
Untuk memproduksi sebuah film dokumenter, hal yang sangat perlu diperhatikan adalah merencanakan budget agar nantinya pengeluaran dapat diperkirakan. Sehingga dana untuk memproduksi suatu film dokumenter tidak membengkak.
Tabel 3.6 Perencanaan Budget
No Alokasi Jumlah Harga
1. Perlengkapan Produksi: 1. Lensa 24-70 2. Lensa Tele 11-22 3. Recorder 1 x 1 hari 1 x 1 hari 1 x 3 hari Rp. 100.000,00 Rp. 100.000,00 Rp. 150.000,00 2. Biaya Lain-lain Rp. 150.000,00 Total Pengeluaran Rp. 500.000,00
g. Perencanaan Jadwal Shooting
Perencanaan jadwal shooting sangat diperlukan saat produksi, agar nantinya saat produksi tidak membuang banyak waktu.
Tabel 3.7 Jadwal Shooting
Tanggal Lokasi Kegiatan
14 April 2016 Kp. Bustaman Wawancara narasumber
18 April 2016 Kp. Bustaman Wawancara narasumber
19 April 2016 Kel. Puwodinatan Wawanacara pegawai
kelurahan
20 April 2016 Kp. Bustaman Insert gambar
27 April 2016 Kp. Bustaman Insert gambar
22 Mei 2016 Kp. Bustaman,
Kp. Petudungan, Kp. Pekojan Tengah
Insert gambar
Dalam memproduksi film dokumenter ini penulis melakukan 3 kali rapat atau diskusi. Pertemuan pertama menentukan konsep acara seperti menentukan konsep program apa yang akan dibuat, membuat sinopsis, shooting list, treatment
dan lain-lain. Pertemuan kedua menentukan penyusunan job desk, agar setiap orang memiliki tanggung jawab masing-masing saat produksi. Pertemuan ketiga adalah perencanaan budget, untuk mengatur pemasukan dan keperluan saat produksi serta menyiapkan alat-alat yang diperlukan saat melakukan produksi nantinya.
2. Produksi
Proses pengambilan gambar dalam pembuatan
dokumenter tugas akhir ini dilakukan beberapa kali yang meliputi pengambilan suasana kampung Bustaman dan wawancara narasumber. Pengambilan gambar dilakukan sesuai dengan treatment yang telah dibuat walaupun ada pengembangan saat produksi. Berikut proses pengambilan gambar film dokumenter “Telisik Kampung Bustaman”
Tabel 3.8 Proses Shooting
Tanggal Shooting Ke- Kegiatan
14 April
2016
1 Pengambilan statement Pak Hari
Bustaman dan Pak Ashar
18 April
2016
2 Pengambilan statement Pak
Sugiyono, Pak Aziz, Bu Rika
merupakan seseorang yang
melakukan pernikahan antar
tetangga
19 April
2016
3 Pengambilan statement Pegawai
2016 Bustaman
27 April
2016
5 Pengambilan gambar Kp. Sekayu
dan establist “Semarang Hebat” di Semarang Barat
22 Mei 2016 6 Pengambilan gambar Kp. Pekojan
Tengah dan daerah Petudungan
29 Mei 2016 7 Pengambilan gambar acara
Tradisi Gebyuran di Kp.
Bustaman. 3. Pasca Produksi
Proses pasca produksi sama saja dengan proses akhir dalam memproduksi film dokumenter yaitu editing. Semua gambar yang telah diambil disatukan supaya menjadi sebuah komposisi yang menarik untuk ditonton, dan yang sangat berperan penting dalam proses editing adalah editor. Meski begitu, penulis naskah juga berperan saat proses editing, penulis naskah tetap mendampingi editor saat mengedit karya, karena penulis naskah yang paham mengenai jalan cerita dalam film dokumenter “Telisik Bustaman”. Adapun proses pasca produksi sebagai berikut:
a. Logging
Sebelum pelaksanaan editing, terlebih dahulu melakukan pendataan dengan logging untuk membuat editing list. Logging
ini merupakan pendataan timecode yaitu dengan melihat hasil gambar yang telah diambil dan mencatat mana saja yang dipakai maupun yang tidak dipakai.
Gambar 3.1 Logging
b. Dubbing
Sebelum video diedit, terlebih dahulu melakukan proses
dubbing. Ini dilakukan agar dalam proses edit nanti memudahkan editor untuk menyelaraskan gambar dengan narasi. Narasi dibacakan oleh seorang dubber, untuk menjelaskan gambar.
Gambar 3.2 Dubbing
c. Offline Editing
Proses menyatukan beberapa gambar yang sudah dipastikan akan dipakai. Proses ini hanya sekedar mengurutkan gambar, namun sudah mulai terlihat runtutan cerita dari awal hingga akhir.
Gambar 3.3 Offline Editing
d. Transisi
Pemberian transisi antar gambar baik itu cut, dissolve, dip to white maupun dip to black agar lebih sistematis dan dinamis.
Gambar 3.4 Transisi
e. Online Editing
Yang meliputi pemberian efek warna, efek suara, dan efek gambar serta memberikan title seperti judul, nama pemain, nama
crew. Selain itu diberikan tambahan grafis pada gambar.
Gambar 3.5 Online Editing
f. Preview
Melihat hasil editing dan melakukan koreksi-koreksi yang diperlukan untuk menambah sempurna hasil gambar dan suara.
Gambar 3.6 Preview
g. Rendering
Proses menyatukan hasil editing ke dalam sebuah video yang benar-benar untuh.
Gambar 3.7 Rendering
3.6. Job Description Editor 1. Pra Produksi
Dalam tahap ini seorang editor tidak terlalu berperan, seorang editor harus mempersiapkan hal hal yang dibutuhkan untuh bahan editing nantinya, seperti mempersiapkan konsep video dan grafis jika diperlukan.
2. Produksi
Segala hal yang dibutuhkan saat produksi tentu saja sesuai dengan jobdesk yaitu sinopsis, treatment dan naskah yang sudah di setujui oleh crew. Namun walaupun sudah ada naskah bukan berarti semua sudah paten, karena penulis juga selaku editor bisa
saat proses editing. 3. Pasca Produksi
Pada proses pasca produksi penulis berkoordinasi dengan tim untuk membicarakan naskah yang telah tersusun, apakah akan diadakan revisi atau tidak setelah diadakan offline editing. Jika sutradara sudah menyetujui naskah, maka naskah tersebut akan menjadi dasar seorang editor untuk mengedit gambar secara online. Setelah itu penulis merapikan hasil vido dan memberikan grafis, backsound, narasi dan seterunya sehingga mejadi sebuah karya yang nantinya bisa ditonton dan memberikan manfaat bagi semua orang.
46
BAB IV
IMPLEMENTASI DAN ANALISA KARYA
4.1 Implementasi Karya
Dalam produksi film dokumenter ini, penulis bertindak sebagai editor, dimana tugas utama seorang editor adalah merangkai gambar atau video menjadi satu kesatuan utuh dan menghasilkan sebuah video yang mempunyai alur. Berikut print out karya serta penjabarannya :
Tabel 4.1 Lay Out Karya :
No Print out gambar Keterangan
Transisi Uraian
1
Gambar 4.1 Colour Bar 2
Gambar 4.2 Identitas Karya 3
Gambar 4.3 Narasi Pembuka
Long shot
Transisi video awal
dissolve, sebagai transisi peralihan dari identitas karya
Transisi dissolve dipilih untuk peralihan dari identitas karya
4
Gambar 4.4 Obb 5
Gambar 4.5 Narasi tentang eksistensi kampung
Medium Shot
Transisi video: cut to cut
Transisi cut to cut dipilih
karna ingin
menampilkan keadaan
warga bustaman saat itu.
6
Gambar 4.6 Artikel tentang kampung yang hilang
Menggunakan
animasi yang
dibuat dengan after effect,
Grafis ini dibuat untuk
menampilkan artikel
tentang kampung kota yang telah hilang.
7
Gambar 4.7 Narasi tentang
kampung bustaman Full shot Transisi video dissolve Transisi dissolve digunakan untuk
peralihan dari grafis agar tidak terlalu kasar saat peralihannya.
8 Group shoot
Transisi video cut to cut
Transisis ini digunakan
untuk menampilkan
keunikan yang ada di bustaman
Gambar 4.8 Narasi tentang lokasi dan keunikan kampung bustaman 9
Gambar 4.9 Narasumber
memaparkan tentang asal ususl kampung
Medium shoot
Text, transisi
dissolve
10
Gambar 4.10 Suasana kampung bustaman
Full shot
Transisi video cut to cut
Transisi cut to cut
digunakan untuk
menampilkan
perpindahan yang cepat, mengikuti alur narasi.
11
Gambar 4.11 Perbandingan
dengan kampung pekojan
full shot Transisi video dissolve Transisi dissolve digunakan untuk memperhalus saat perpindahan gambar. 12 medium Shot Transisi dip to white
Transisi ini memberikan effect perpindahan warna putih, mengikuti footage saat siang hari.
Gambar 4.12 Perbandingan
dengan kampung di jalan
petudungan 13
Gambar 4.13 Pernikahan china
Courtesy of
youtube : Tittle -> New tittle -> default still
14
Gambar 4.14 Gelar kampung kambing
Long Shot
Transisi video: cut to cut
Dalam narasi ini
menampilkan keunikan
kampung, sehingga
menggunakan effect cut
to cut agar bisa
mengikuti narasi.
15
Gambar 4.15 Kegiatan warga kampung Bustaman
Full shot
Transisi video: cut to cut
Transisi cut to cut
digunakan untuk
menampilkan kesan
gambar yang beragam mengikuti narasi yang ada.
16
Gambar 4.16 Suasana jual beli di kampung Bustaman
Full shot
Transisi video
dissolve
Menampilkan suasana
kampung yang ramai
dengan jual beli, maka digunakan effect dissolve
untuk memperhalus saat perpindahan gambar.
17 Gambar 4.17 Penjelasan pertumbuhan ekonomi di kampung Bustaman Medium shot Transisi text : dissolve 18
Gambar 4.18 Kekerabatan antar warga kampung Bustaman
full Shot
Transisi video: cut to cut
Cut to cut digunakan untuk pergantian cepat,
agar menampilakan
kesan gambar yang
beragam.
19
Gambar 4.19 Penjelasan tentang pernikahan antar tetangga
Medium Shot Transisi text : dissolve 20 Gambar 4.20 Penjelasan kebersamaan Medium Shot
Transisi video: cut to cut
Agar menggambarkan
suasana kampung
bustaman yang rukun, digunakan transisi cut to cut
21
Gambar 4.21 Warga yang menikah dengan tetangga
Medium Shot
Transisi text :
dissolve
22
Gambar 4.22 Penjelasan jumlah warga yang menikah dengan
tetangga
Grafis animasi
Transisi text
dissolve
Agar terlihat halus saat
peralihan digunakan
transisi dissolve,
sehingga enak saat
ditonton
23
Gambar 4.243 Penjelasan jumlah warga
Medium Shot
Transisi text : dissolve
24
Gambar 4.24 Grafis silsilah keluarga Grafis Video animasi Transisi dissolve Transisi dissolve digunakan untuk
peralihan dari footage sebelumnya agar terlihat halus