• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN. Dunia Perpajakan di Indonesia sedang mengalami suatu proses transformasi format

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN. Dunia Perpajakan di Indonesia sedang mengalami suatu proses transformasi format"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang

Dunia Perpajakan di Indonesia sedang mengalami suatu proses transformasi format kelembagaan dari format konvesional yang langsung berada dibawah naungan Kementerian Keuangan, berkeinginan untuk bertransformasi menjadi suatu lembaga yang lebih otonom dan lebih efisiensi dengan mengusulkan berdiri sendiri atau bisa dikatakan memisahkan dari Kementerian Keuangan. Hal ini didukung oleh statement yang disampaikan oleh William Crandall (dalam Kritiaji & Poesoro 2013:27) menyatakan bahwa dengan adanya transformasi lembaga otoritas pajak menjadi lebih otonom, maka suatu lembaga atau badan pemerintahan mampu beroperasi secara independen dari kerangka pemerintah secara umum.

Menurut Saputra (2014:1) realisasi penerimaan pajak tahun 2014 sebesar 91, 75 % terendah dalam dua puluh lima tahun terakhir dari target yang ditetapakan. Menurut Kristiaji & Poesoro (2013:1) hal utama alasan DJP ingin memisahkan diri dari Kementerian Keuangan yaitu karena kebutuhan akan penerimaan yang berkelanjutan dan meningkatan tata kelola pemerintah serta pelayanan utamanya bagi sektor pajak.

Tentunya harapan yang diinginkan oleh DJP yaitu bagaimana meningkatkan efesiensi admintrasi perpajakan, kemudian penerimaan perpajakan dengan cara bagaimana peningkatan sebuah sistem perpajakan dan memberikan keamanan serta perlindungan dari adanya unsur politik pada fungsi administrasi perpajakan.

(2)

2

Menurut Kaldor (dalam Kristiaji dan Klise 2013:1), sistem pajak dapat bekerja secara efesien dan efektif tidak hanya dipengaruhi oleh ketentuan perpajakan yang berlaku saja, akan tetapi harus dilihat juga dari sisi fungsi admnistrasi pajak.

Namun di beberapa negara berkembang mengalami hambatan untuk mencapai sebuah pembangunan ekonomi dari peningkatan penerimaan pajak dengan cara pemungutan pajak. Hal ini disebabkan karena faktor yang tidak mendukung dari segi Sumber daya manusia serta infrastruktur. Selain itu masih kuatnya unsur politik di Negara tersebut sehingga masih banyak yang melakukan tindak korupsi dan juga lembaga perpajakan tidak memiliki kekuatan dalam sebuah otoritas.

Hal ini berdampak pada timbulnya sebuah tax gap. Menurut Asrul Hidayat (dalam pajak.go.id 2014), tax gap timbul dikarenakan adanya selisih antara pontesi penerimaan pajak dengan realisasi penerimaan pajaknya. Di beberapa negara, pemerintah berusaha untuk mengurangi tingkat tax gap yang timbul dengan melakukan sebuah reformasi perpajakan. Namun sayangnya hal ini bukan memberikan dampak yang positif. Dikarenakan di beberapa negara tersebut melakukan reformasi perpajakan namun tanpa adanya reorganisasi adminstrasi perpajakan.

Seharusnya dalam melakukan sebuah reformasi perpajakan diperlukannya sebuah perubahan yang memang maksimal dalam artian yaitu melakukan sebuah perubahan besar-besar dari segi managemen internal otoritas perpajakan. Oleh karena itu kelembagaan hadir dalam sebuah reformasi perpajakan. Administrasi perpajakan dikatakan baik apabila sebauh kebijakan pajak yang berperan pun memiliki fungsi yang baik pula (Kristiaji dan klise, 2013:7)

(3)

3

Menurut Wahyu Ardiansyah (2014:4) menjelaskan bahwa,tahun pertama terjadinya tax reform (reformasi perpajakan) dari tahun 1983 hingga 2009 dan terjadi selama lima kali reformasi perpajakan. Tujuan dari reformasi perpajakan adalah dapat menjadi fasilitator untuk mencapai tujuan sebagai bangsa yang mandiri dan dapat melakukan pembiayaan pembanguan nasional dan pengoptimalan di sektor pajak dengan harapan akan memberikan keadilan yang lebih pasti.

Menurut Hakim Simanjuntak (dalam ardiansyah 2014:5), hal utama yang melandaskan mengapa terjadinya sebuah reformasi pajak (tax reform) ialah akibat harga ekspor minyak bumi pada masa pasca Oil Boom mengalami kemerosotan. Dalam analisisnya dijelaskan bahwa penurunan harga tersebut sebesar US$ 2,47 per barrel dari harga US$ 35.00 per barrel menjadi US$ 29,53 per barrel pada tahun 1981/ 1982.

Sektor kelembagaan menjadi sebuah aspek yang mengatur dan menjadi kerangka dalam antar interaksi dalam sebuah lembaga. Hal lain disebutkan bahwa kelembagaan menjadi sebuah satu kesatuan sistem yang mengatur bagaiamana sebuah organisasi dapat bekerja secara optimal serta sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan dan tidak jauh dari sistem yang telah ditetapkan. (Bawono Kristiaji dan Hiyashinta klise, 2013:7)

(4)

4

Tabel 1.1 Kesenjangan Empiris, Kesenjangan Kebijakan, & Kesenjangan Teoritis

Kesejangan Empiris Kesenjangan Kebijakan Kesejangan Teoritis Dalam lima tahun terakhir

ini, krisis penerimaan perpajakan terus dialami oleh pemerintah.

Pemerintah berupaya melakukan upaya taktis sekaligus strategis, mengingat potensi penerimaan pajak masih sangat besar. Dalam rasio penerimaan pajak terhadap produk domestic bruto saat ini berkisar 12 % hingga 13%.

Dibandingkan dengan rata-rata emerging market rasio penerimaan pajak berkisaran 16 % hingga 18% dari PDB (Pendapat

Domestik Bruto).

Adanya beberapa

kekhawatiran dari kalangan pengusaha akan UU. No 28/2007. Dalam hal ini dijelaskan bahwa UU.No 28 / 2007 apabila

dilaksanakan yang tujuan utamanya adalah

melakukan penggenjotan penerimaan pajak justru akan membebani dunia usaha dan mengurangi peluang untuk

mendapatkan insentif.

Penelitan sebelumnya pernah dilakukan dengan sample data di Negara berkembang dan Negara maju yang menganalisis sejuah mana pengaruh dari kelembagaan SARA bagi suatu keputusan pemerintah dalam hal mengambil sebuah kebijakan.

(5)

5 Berdasarkan pada Badan

Pusat Statistika, PDB Indonesia pada tahun 2014 mencapai Rp. 10.542,7 Triliun. Penambahan rasio penerimaan pajak sebesar 3 %-4 % diharapkan nantinya menaikan penerimaan pajak hingga Rp. 400 Triliun.

Hal lain yang membuat kekhawatiran oleh para pengusaha adalah perbedaannya yang di terapkan oleh UU. No 28 / 2007 dengan UU. No 16 / 2000, dimana dalam UU. No 28/2007 menjelaskan bahwa bagi wajib pajak tidak diharuskan membayar terutang apabila hendak mengajukan banding atau keberatan membayar pajak.

Penambahan penerimaan pajak merupakan prioritas pemerintah dalam kebijakan fiskal setelah berhasil melakukan konsolidiasi belanja dengan melakukan pemotongan subsidi BBM

(6)

6

Menurut Taufik Achmad (2014), penerimaan pajak menjadi faktor penentu dalam menunjang anggaran negara. Peningkatan jumlah yang dibutuhkan belanja publik dan kinerja DJP yang belum optimal, mengharuskan pemerintah memberikan perhatian khusus untuk membentuk sebuah badan otonom penerimaan negara.

Beberapa alasan yang bisa dijadikan acuan mengenai mengapa rendahnya sebuah realisasi peneriman pajak setiap tahun. Pertama dikarenakan oleh kapasitas dari kelembagaan otoritas penerimaan negara yang begitu lemah. Kedua yaitu belum optimalnya sebuah regulasi perpajakan dalam hal menyentuh sumber-sumber ekonomi yang memiliki “nilai lebih“menjadi basis objek pajak.

Ketiga adalah belum berjalannya dengan baik reformasi perpajakan yang hingga saat ini terjadi. Keempat adalah penghindaraan pajak (tax avoidance) dan pengelakan pajak (tax evasion) yang bisa dikatakan semakin besar potensinya terjadi, dan yang terakhir ialah Sumber Daya Manusia di dalam otoritas perpajakan masih dikatakan dari segi kualitas, kuantitas serta integritasnya yang masih rendah.

(7)

7

Gambar 1.1

Penerimaan Pajak di Indonesia Tahun 2007 – 2012

Sumber : World Bank 2015

Dalam gambar 1.1 menjelaskan mengenai pergerakan penerimaan pajak dari tahun 2007 hingga 2012. Pergerakan penerimaan pajak dari tahun 2007 ke 2008 mengalami peningkatan yang bisa dikatakan lambat, karena pergerakan peningkatannya hanya 0,61 % dari nilai penerimaan pajak sebesar 13,04 % di tahun 2008. Namun menuju tahun 2009 sempat mengalami penurunan sebesar 1, 61 % dan hingga tahun 2012 tingkat penerimaan pajak berada pada posisi 15,80 %.

0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00 18.00 2007 2008 2009 2010 2011 2012 % Tahun

(8)

8

Gambar 1.2

Perbandingan Penerimaan Pajak Indonsia dengan Negara Peers Tahun 2007-2012

Sumber : World Bank 2015

Kemudian dalam gambar1.2, menjelaskan mengenai perbandingan penerimaan pajak yang dihasilkan oleh beberapa Negara yang memiliki penerimaan pajak hampir sama dengan Negara Indonesia bedasarkan range penerimaan dari 11-16 %.

Terlihat bahwa Negara Brazil memiliki penerimaan pajak yang lebih unggul dibandingkan Negara lainnya utamanya Indonesia pada tahun 2007 hingga 2012. Negara yang hampir pergerakan penerimaan pajak dari tahun 2007 – 2012 yaitu Negara Nicaragua, Malaysia, El Savador, Laos’s dan Senegal.

Negara yang pergerakan penerimaan pajaknya lambat dari tahun 2007 hingga 2012 yaitu Negara Philiphies yang hanya bergerak dari angka 12 – 13 %.

0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00 18.00 2007 2008 2009 2010 2011 2012 % Tahun

(9)

9

Gambar 1.3

Perbandingan Peneriman Pajak Indonesia dengan Pajak Malaysia Tahun 2007 – 2012

Sumber : World Bank 2015

Dalam Gambar 1.3, dapat kita analisis pergerakan penerimaan pajak dua buah negara yang saling berdekatan dari segi Geografi dan masuk kedalam bagian dari group Negara Asean yaitu Indonesia dan Malaysia. Terlihat jelas, bahwa Indonesia kalah bersaing dalam hal penerimaan pajak oleh Malaysia. Pada tahun 2007 hingga 2009 Indonesia hanya bergerak pada tingkat nilai penerimaan pajak sebesar 12–13%. Sementara Negara Malaysia mampu bergerak pada tingkat penerimaan pajak sebesar 14 hingga hampir menuju angka 15 %. Pada tahun 2009 Indonesai mengalami penurunan tingkat penerimaan pajak hingga pada tingkat 11,43 % dan berusaha kembali bangkit hingga tahun 2012 berada pada tingkat penerimaan pajak sebesar 15,80 %.

0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00 18.00 2007 2008 2009 2010 2011 2012 % Tahun IDN MYS

(10)

10

Disisi lain Malaysia hanya mengalami penurunan tingkat penerimaan pajak yang tidak begitu signifikan pada tahun 2010 sebesar 1,2 % yang awal mulanya pada tahun 2009 berada pada posisi 14,94 %. Hingga posisi terakhir pergerakan peningkatna pajak Negara Malaysia pada angka 16,10 %..

1.2Rumusan Masalah

Adanya wacana mengenai pemisahan Direktorat Jendral Pajak dari Kementerian Keuangan yang akan diterapkan pada tahun 2016. Hal ini didasarkan pada keinginan Dirjen Pajak yang dilandaskan oleh otoritas pajak di Indonesia saat ini belum memiliki kewenangan yang begitu besar. Menurut Kristiaji dan Poesoro (2014:27) alasannya dikarenakan oleh model otoritas pajak di Indonesia saat ini masih berada di bawah naungan Kementerian Keuangan apabila dilihat dari garis struktural tradisional. Selain itu ditambah oleh keinginan untuk melakukan perubahan dalam hal otoritas yang lebih otonom yang tujuan akhirnya adalah membuat sebuah perubahan dalam hal memenuhi kebutuhan baik intern pajak (pelayanan dan perbaikan tata kelola) maupun kebutuhan yang bersinggungan tentang penerimaan pajak.

Hal yang paling utama adalah melihat Negara berkembang lainnya yang mampu berdiri sendiri tanpa di bawah naugan Kementerian Keuangan untuk mengatur dan memiliki otonom yang lebih besar. Perubahan lembaga otoritas pajak yang berdiri sendiri dan tidak berada di dalam garis struktural Kementerian Keuangan dapat disebut SARA (Semi Autonomous Revenue Authority).

(11)

11 1.3Tujuan Penelitian

 Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi apakah negara-negara berkembang yang memiliki Direktorat Jendral Pajak terpisah dari Kementerian Keuangan itu memiliki tax ratio yang lebih tinggi?

 Melihat signifikansi dari segi kelembagaan sebagai salah satu variabel independen dan variabel pendukung lainnya dalam permodelan yang mempengaruhi suatu kebijakan dalam memisahkan diri dari Kementerian Keuangan?

 Mengamati dan menganalisis dari variabel-variabel Efektivitas Pemerintah , Rule of Law ,dan tingkah demokrasi di 51 Negara berkembang dengan menggunakan Probit & Logit dalam hal memberikan refrensi kepada Negara Indonesia untuk memutuskan kebijakan memisahkan diri dari Kementerian Keuangan?

1.4Batasan Masalah

Peneliti melakukan penelitian pada periode 2007 – 2012, waktu tersebut disesuaikan dengan data yang tersedia. Penulis memilih 51 negara berkembang terpilih sebagai sample penelitian karena disesuaikan dengan kelengkapan data untuk melengkapi variabel-variabel independent pilihan penulis. Penelitian ini hanya memfokuskan pada beberapa variabel yang menurut penulis sangat berpengaruh untuk menentukan kebijakan pemisahan atau tidaknya Direktorat Jendral Pajak dari Kementerian Keuangan untuk memperoleh otoritas yang lebih otonom ataupun sebaliknya.

(12)

12 1.5Manfaat Penelitian

Dalam hal ini kita dapat memberikan masukan kepada pemerintah Indonesia dan melihat sejauh mana model SARA dan Non-SARA dari 51 negara berkembang dalam mempengaruhi sebuah kelembagaan perpajakan.

1.6Sistematika Penulisan

Penulisan pada skripsi ini memiliki empat bagian. Bagian pertama berupa uraian latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, batasan masalah, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan yang terangkum dalam Bab 1.

Kemudian bagian kedua berisikan uraian teori dan penelitian-penelitian terlebih dahulu mengenai model kelembagaan, jumlah konsumsi ( % PDB) ,jumlah FDI yang masuk ,nilai tambah sektor industri, openness (Keterbukaan International / PDB) , pertumbuhan populasi serta age dependency ratio yang terangkum dalam Bab 2. Bagian ketiga berupa pembahasan dari data dan hasil regresi bedasarkan metode yang digunakan dijelaskan dalam Bab 3. Bagian terakhir ialah berupa bagian penutup yang menjelaskan kesimpulan dan saran dari hasil penelitian didalam Bab 4.

Referensi

Dokumen terkait

Pada penelitian ini perbedaan pengetahuan gizi sebelum perlakuan rata- rata nilai pengetahuan sebelum pemberian komik (Pre-Test) adalah 50,37 dengan standar deviasi 9,1

Pada kegiatan inti, guru menjelaskan materi awal dengan menggunakan power point pada layar LCD, setelah itu guru membuat peta konsep di papan tulis yang berisi

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas senyawa tanin dalam kulit buah pisang dibuat menjadi sediaan krim untuk mengobati luka bakar.. Oleh

Sebelum menenerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001 perusahaan belum memiliki suatu standar yang memadai, lengkap, dan memenuhi standar internasional, yang dapat digunakan

Homogenis sampel dilakukan dengan memipet 25 ml larutan sampel, kemudian dimasukkan kedalam erlemeyer 300 ml yang telah berisi 225 ml larutan pengencer (garam fisiologis)

Penetapan Baku Mutu Lingkungan adalah tidak layak dikonsumsi secara langsung maupun tidak langsung khusus untuk kebutuhan manusia namun apabila digunakan untuk hewan dan

a) Maaf dan pengampunan (forgiveness). Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri sendiri seperti marah, mengingkari, rasa bersalah, malu,

Terminator DFD menggambar arus data yang mengalir dari suatu aktivitas ke aktivitas lainnya, baik dari luar sistem maupun ke luar sistem sebagai penerima hasil olahan, bisa berupa:..