• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Penelitian Sejenis yang Relevan

Penelitian atau analisis mengenai karya sastra telah banyak dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Berikut ini dikaji hasil penelitian terdahulu yang relevan atau yang berkisar pada objek penelitian yang sejenis dengan penelitian ini. Peneliti mengambil penelitian yang relevan sebagai acuan diadakannya penelitian ini, yakni penelitian dari Tukirno.

Penelitian itu berjudul “Kajian Nilai-nilai Religius dalam kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi karya A. Mustofa Bisri”. Penelitian tersebut dilakukan tahun 2006 pada Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Tujuannya untuk mengetahui tentang nilai-nilai religius yang terkandung dalam cerpen tersebut. Berdasarkan hasil analisis terhadap delapan cerpen dalam kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi karya A. Mustofa Bisri dapat diperoleh gambaran bahwa nilai-nilai religius yang terdapat dalam kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi adalah nilai-nilai religius Islam. Adapun nilai-nilai tersebut adalah takwa, ikhlas, khauf dan raja, tawakal, syukur, dan taubat.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, terdapat perbedaan dengan penelitian yang peneliti lakukan. Perbedaannya terdapat pada objek penelitian dan pendekatan yang digunakan. Penelitian Tukirno objeknya adalah nilai-nilai religius yang terdapat dalam kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi karya A. Mustofa Bisri. Pada penelitian ini objeknya adalah kritik sosial keagamaan dalam kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi

(2)

karya A. Mustofa Bisri. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian Tukirno adalah pendekatan moral, sedangkan penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Dengan adanya perbedaan-perbedaan tersebut, maka telah membuktikan bahwa penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya.

Peneliti menyimpulkan penelitian ini perlu diadakan karena dalam penelitian sebelumnya belum ada yang meneliti. Di samping itu, peneliti juga mencoba menghubungkannya dengan kehidupan nyata. Jadi, penelitian dengan judul “Kritik Sosial Keagamaan dalam Kumpulan Cerpen Lukisan Kaligrafi Karya A. Mustofa Bisri”, layak diteliti karena belum ada yang meneliti dan penelitian ini murni hasil penelitian sendiri.

B. Sosiologi Agama dalam Karya Sastra

Menurut Abercrombie (dalam Kurniawan, 2012: 4) sosiologi mempunyai dua akar kata: socius (dari bahasa latin) yang berarti “teman” dan logos (dari bahasa Yunani) yang berarti ”ilmu tentang”. Secara harfiah sosiologi berarti “ilmu tentang pertemanan”. Dalam sudut pandang ini, sosiologi bisa didefinisikan sebagai “studi tentang dasar-dasar keanggotaan sosial (masyarakat)”. Secara lebih teknis sosiologi adalah analisis mengenai struktur hubungan sosial yang terbentuk melalui interaksi sosial. Sosiologi adalah telaah yang objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat, telaah tentang lembaga dan proses sosial. Sosiologi mencoba mencari tahu bagaimana masyarakat dimungkinkan, bagaimana ia berlangsung dan bagaimana tetap ada (Damono, 2002: 8).

Ritzer (dalam Faruk, 2010 : 2-3) menganggap sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang multiparadigma. Tiga paradigma dasar dalam sosiologi, yaitu

(3)

paradigma fakta sosial, paradigma definisi sosial, dan paradigma perilaku sosial. Analisis sosiologi adalah analisis terhadap ideologi, kelas sosial, dan pandangan dunia yang terepresentasikan dalam karya sastra (Kurniawan, 2012: 7). Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang multiparadigma, mempelajari hubungan sosial manusia dalam masyarakat terhadap ideologi, kelas sosial dan pandangan dunia manusia terhadap kehidupan bermasyarakat.

Menurut Faruk (2010: 17), manusia yang dipelajari oleh sosiologi bukanlah manusia sebagai makhluk biologis yang dibangun dan diproses oleh kekuatan-kekuatan mekanisme-mekanisme fisik kimiawi, tetapi mempelajari manusia sebagai individu yang terkait dengan individu lain, manusia yang hidup dalam lingkungan dan berbeda diantara manusia-manusia lain, manusia sebagai kolektivitas, baik yang disebut dengan komunitas maupun sosietas. Manusia dalam kehidupan bermasyarakat memiliki keterkaitan dengan keagamaan. Agama adalah sistem yang menyatu mengenai berbagai kepercayaan dan peribadatan yang berkaitan dengan benda-benda sakral (Scharf, 1995: 30).

Dalam kehidupan beragama manusia merupakan faktor penting sebagai subjek untuk melakukan praktik-praktik agama. Menurut O’dea (1992: 1) dalam masyarakat yang sudah mapan, agama merupakan salah satu struktur institusional penting yang melengkapi keseluruhan sistem sosial. Ishomuddin (2002: 29) mengatakan bahwa agama adalah suatu ciri kehidupan sosial manusia yang universal dalam arti bahwa semua masyarakat mempunyai cara-cara berpikir dengan pola-pola perilaku yang memenuhi syarat untuk disebut agama (religious).

(4)

Dengan demikian, agama adalah suatu ciri kehidupan masyarakat yaitu tentang kepercayaan terhadap sesuatu hal yang di dalamnya terdapat aturan-aturan mengenai dibolehkan atau dilarangannya suatu perbuatan yang harus dijalani oleh seseorang, berupa praktik-praktik atau tata cara berpikir dengan pola perilaku yang memenuhi syarat.

Agama adalah risalah yang disampaikan Tuhan kepada nabi sebagai petunjuk bagi manusia dan hukum-hukum sempurna untuk dipergunakan manusia dalam menyelenggarakan tata cara hidup yang nyata serta mengatur hubungan dan tanggungjawab kepada Allah, kepada masyarakat, serta alam sekitar (Ahmadi dan Noor Salimi, 2004: 4). Dalam kehidupan bermasyarakat agama merupakan ajaran yang disampaikan oleh seorang pemuka agama, pembelajaran yang diajarkan mengenai hubungan antara manusia dengan manusia sebagai makhluk sosial dan kehidupan sosial masyarakat itu sendiri. Ajaran mengenai hubungan manusia dengan Tuhan sebagai sang pencipta alam semesta ini.

Dari pernyataan tersebut sosiologi agama merupakan hubungan sosial antara manusia dengan manusia (hablum minannas) dan hubungan manusia dengan Tuhannya (hablum minallah), sehingga terciptanya kepercayaan terhadap suatu hal yang pada dasarnya mengenai tata cara dalam beragama. Menurut O’dea (1992: 217) sosiologi agama adalah studi hubungan yang signifikan dan kadang-kadang subtil antaragama dengan struktur sosial, dan antara agama dengan proses sosial. Sosiologi agama tidak mengkhususkan dirinya pada kebenaran atau keyakinan supra empiris dimana agama bertumpu. Ia hanya berhubungan dengan efeknya dalam pengalaman historis manusia dan dalam perkembangan masyarakat (O’dea, 1992: 224). Dengan demikian, sosiologi agama merupakan sarana untuk mempelajari peran masyarakat

(5)

dalam kehidupan beragama yang di dalamnya mempelajari praktik, latar, sejarah, dan perkembangan dalam kehidupan beragama.

Hubungan agama dengan masyarakat menyajikan sebuah dilema fundamental yang bisa dikedepankan dalam tiga aspek. Pertama dan yang terpenting, agama melibatkan manusia pada situasi akhir di titik mana lahir kesadaran akan hal tertinggi. Kedua, agama menyangkut hal-hal yang suci karena itu agama berkenaan dengan pemahaman dan tanggapan khusus yang membutuhkan keluhuran pandangan atas objeknya. Ketiga agama dilandaskan pada keyakinan karena itu objeknya adalah supraempiris dan ajarannya tidak mungkin diperagakan atau dibuktikan secara empiris (O’dea, 1992: 217-218). Menurut Qodir (2011: 246) dalam hubungan agama dengan masyarakat, hal yang tidak kalah pentingnya adalah negara juga memposisikan agama dan keyakinan sebagai hak dasar yang paling fundamental, sebagai sebuah kebebasan tanpa paksaan, yang dibutuhkan adalah saling menghargai, menghormati dan memahami.

Dengan demikian, agama dengan masyarakat sangat erat kaitannya. Keduanya saling berkaitan antara satu sama lain karena di dalam agama terdapat aturan-aturan dan yang akan menjalaninya adalah masyarakat untuk memperoleh kesejahteraan dalam kehidupan, adanya keyakinan yang melandasi agama itu sendiri. Bahkan negara memposisikan agama sebagai unsur penting untuk mewujudkan negara yang berkeadilan.

C. Kritik Sosial Keagamaan dalam Karya Sastra

Kata kritik berasal dari bahasa Yunani kuna krites untuk menyebut hakim. Kata benda krites itu berasal dari kata kerja krinein ysng berarti menghakimi. Kata

(6)

krinein merupakan pangkal dari kata benda kriterion yang berarti dasar penghakiman. Kemudian timbul kata kritikos yang diartikan sebagai hakim karya sastra. Pengertian demikian itu sudah ada pada abad IV sebelum masehi. Selanjutnya kata kritik mengalami perkembangan, baik bentuk maupun arti (Suyitno, 2009: 1).

Kritik yang terdapat dalam karya sastra biasanya berupa kritik sosial, yang biasanya diungkapkan pengarang karena melihat fenomena yang terjadi pada lingkungan hidup sekitar pengarang. Bahkan Pradopo (2002: 16) menyatakan kritik sastra tidak dapat dilepaskan dari perkembangan kemasyarakatan, dalam arti gagasan-gagasan masyarakat pun turut berbicara dalam persoalan sastra pada khususnya, kebudayaan pada umumnya. Permasalahan sosial yang dihadapi oleh manusia, di dalamnya menceritakan tentang permasalahan sosial yang ditunjukkan kepada pemerintah atau kalangan atas negeri ini. Seorang pengarang biasanya berada di kelas ekonomi bawah yang mengkritisi kehidupan sosial di kalangan atas, tetapi sekarang pengarang tidak hanya menyelipkan kritik sosial dalam menciptakan karyanya.

Dalam bidang penciptaan karya sastra, tidak jarang pengarang menyelipkan pesan-pesan sosial keagamaan yang hendak disampaikan oleh pembaca. Menurut Hidayat dalam Qodir (2011: 28) agama sebagai kritik sebenarnya menghadirkan agama dengan suara nurani kerakyatan dan rakyat jelata, sehingga agama-agama dengan pesan profetik terus berjalan dan bisa dianut oleh siapa saja. Di dalamnya dapat berupa kritik sosial keagaman yang dihadirkan oleh pengarang untuk menyampaikan pesan kepada pembaca. Kritik sosial keagaman yang diungkapkan

(7)

pengarang menjadi penting peranannya, ketika seseorang pengarang dalam menciptakan karyanya memiliki tujuan atau misi yang akan disampaikan pembaca secara tidak langsung.

Qodir (2011: 17) menyatakan bahwa agama hadir sebagai salah satu penantang paling kuat dan terdepan atas fenomena yang banyak merugikan kaum mustadafin dan kere, sehingga agama benar-benar tampak dimensi revolusionernya atau dalam bahasa yang tidak provokatif dan dibenci orang bisa hadir sebagai kritik atau kecurangan-kecurangan sosial yang muncul di tengah kita. Dalam globalisme, agama diharapkan menjadi sebuah sarana untuk mengkritisi kehidupan masyarakat yang semakin hari kesadaran beragamanya berkurang. Mereka hanya Islam KTP yang mengaku Islam apabila ditanya tentang status agamanya. Melihat kejadian kehidupan beragama seperti sekarang ini pengarang bersamaan dengan karya sastranya ia dengan tidak sengaja akan menyampaikan kritik melalui karya sastra yang diciptakannya. Kritik sosial keagamaan merupakan sarana yang digunakan pengarang sebagai dakwah untuk memberikan informasi mengenai cara beragama, pernikahan, bersahabat dan berkeluarga yang baik dalam agama Islam.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan kritik sosial keagamaan dalam karya sastra merupakan upaya yang dilakukan seorang pengarang dengan memberikan tanggapan-tanggapan yang ia lihat pada masyarakat kemudian dituangkan ke dalam tulisan berupa karya sastra.

Menurut Ishomuddin (2002: 31) agama mengandung empat unsur penting yaitu:

(8)

(a) pengakuan bahwa ada kekuatan gaib yang menguasai atau mempengaruhi kehidupan manusia, (b) keyakinan bahwa keselamatan hidup manusia tergantung pada adanya hubungan baik antara manusia dengan kekuatan gaib itu, (c) sikap emosional pada hati manusia terhadap kekuatan gaib itu, seperti sikap takut, hormat, cinta, penuh harap, pasrah, dan lain-lain, dan (d) tingkah laku tertentu yang dapat diamati, seperti shalat (sembahyang), doa, puasa, suka menolong, tidak korupsi, dan lain-lain, sebagai buah dari tiga unsur pertama. Dengan demikian, semua agama memiliki ajaran yang berbeda-beda sesuai dengan keyakinan yang dimiliki oleh masing-masing individu dalam kehidupan bermasyarakat.

Pedoman dalam kehidupan dapat dimiliki oleh pribadi beragama dan nonagama. Oleh karena itu, penulis perlu menggarisbawahi bahwa penelitian ini berkaitan dengan kritik sosial keagamaan yaitu agama Islam. Keberagaman dalam Islam tidak hanya diwujudkan dengan ibadah dan ritual agama saja, tetapi dengan aktivitas manusia yang menganutnya.

Kritik sosial keagamaan ini menurut Basyir (2002: 65-72) dikelompokkan dalam empat hal yaitu aspek akidah (keyakinan), ibadah (praktik agama, ritual formal), akhlak (pengamalan dari akidah dan syariah), dan muamalat (kemasyarakatan). Adapun penjelasan dari akidah, ibadah, akhlak, dan muamalat tersebut adalah sebagai berikut.

1. Akidah

Bidang akidah berpokok pada ajaran tentang keyakinan kepada Allah, keyakinan kepada malaikat, keyakinan kepada kitab Allah, keyakinan kepada rasul Allah, keyakinan kepada hari akhir (kiamat) dan kepada takdir Allah. Ajaran tentang

(9)

akidah Islam terutama bersumber pada Al-Quran dan sunah Rasul yang para perwiranya cukup meyakinkan bahwa ajaran tersebut benar-benar datang dari Nabi.

Dalam bidang akidah, akal tidak diberi kesempatan untuk menambah hal yang telah termaktub dalam Al-Quran dan sunah Rasul sebab bila dalam bidang ini akal diberi kesempatan menambah hal yang baru, pasti akan terjadi penyelewengan dari yang telah digariskan Al-Quran dan sunah Rasul (Basyir, 2002: 65-72).

2. Ibadah

Yang dimaksud dengan ibadah di sini bukan pengertian ibadah sebagai pengabdian menyeluruh dalam kehidupan manusia kepada Allah, tetapi ibadah yang khusus merupakan upacara pengabdian yang bersifat ritual yang telah diperintahkan dan diatur cara pelaksanaan dalam Al-Quran atau sunnah Rasul, seperti salat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya (rukun Islam).

Dalam bidang ibadah yang bersifat ritual ini, dicukupkan dalam hal yang dicantumkan di dalam Al-Quran dan sunah Rasul saja. Akal tidak diberi kesempatan untuk menambah, mengurangi, atau mengubah ketentuan yang telah dinyatakan di dalam Al-Quran dan sunah Rasul, kecuali dalam ibadah yang aspek sosialnya amat menonjol (Basyir, 2002: 65-72).

3. Akhlak

Bidang akhlak merupakan aspek ajaran Islam yang sangat penting. Masalah akhlak mempunyai peranan dalam perjalanan hidup manusia sebab akhlak memberi

(10)

norma baik dan buruk, dan untuk menentukan apakah sesuatu itu baik atau buruk tidak selalu tercapai persesuaian antara seseorang dengan orang lain, antara satu kelompok dengan kelompok lain.

Dalam akhlak Islam, norma baik dan buruk telah ditentukan dalam Al-Quran dan sunah Rasul. Islam tidak memberi wewenang kepada manusia untuk menentukan sendiri norma akhlak yang asasi sebab norma akhlak harus objektif, sedangkan objektivitas tidak selalu terjamin dapat dilaksanakan oleh manusia (Basyir, 2002: 65-72).

4. Muamalat (Kemasyarakatan)

Bidang muamalat mencakup pengaturan pergaulan hidup manusia di atas bumi. Misalnya bagaimana pengaturan tentang benda, tentang perjanjian, tentang ketatanegaraan, dan sebagainya.

Bidang muamalat ini pada umumnya Al-Quran memberikan pedoman secara garis besar, sunah Rasul memberikan penjelasannya, baik berupa pedoman umum ataupun khusus yang diperlukan pada masa itu. Untuk selanjutnya, menghadapi perkembangan kehidupan umat manusia, yang tidak pernah berhenti itu, Islam memberikan kesempatan kepada manusia mengenai ketentuan terkandung dalam Al-Quran dan sunah Rasul (Basyir, 2002: 65-72).

D. Relasi Sastra dengan Masyarakat

Menurut Teeuw kata “sastra” dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta: akar katanya adalah ”sas-”, dalam kata kerja turunan yang berarti “mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk atau intruksi”. Pada akhiran “-tra”, biasanya menunjukan pada “alat atau sarana”. Oleh karena itu sastra dapat berarti

(11)

“alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran”, misalnya, silpasastra yang berarti “buku arsitektur” atau kamasastra yang berarti “buku petunjuk mengenai seni bercinta”. Awalan “su-“dalam bahasa Sansekerta berarti”alat untuk mengerjakan yang indah” (Kurniawan, 2012: 2). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sastra merupakan ilmu yang mempelajari tentang keindahan.

Menurut Faruk (2010: 46) karya sastra sebenarnya dapat dibawa ke dalam keterkaitan yang kuat dengan dunia sosial tertentu yang nyata yaitu lingkungan sosial tempat dan waktu bahasa yang digunakan oleh karya sastra itu hidup dan berlaku. Dalam pengertian Simmel dalam Faruk (2010: 54) sastra tentu saja dapat ditempatkan sebagai salah satu bentuk interaksi sosial yang mikro yang sekaligus merepresentasikan struktur sosial yang makro. Damono (2002: 9) menyatakan bahwa sastra berurusan dengan manusia dalam masyarakat. Usaha manusia untuk menyesuaikan diri dan usahanya untuk mengubah masyarakat itu. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa sebuah karya sastra dapat dihubungkan dengan kehidupan sosial manusia. Bahwasanya, karya sastra menceritakan kehidupan manusia yang sebenarnya dan dituangkan dalam imajinatif pengarang, kemudian dikembangkan menjadi sebuah karya sastra yang dapat dinikmati oleh pembaca.

Sebagaimana diungkapkan oleh Ratna (2011: 332) hal yang harus dipertimbangkan mengapa sastra memiliki kaitan erat dengan masyarakat dan dengan demikian harus diteliti dalam kaitannya dengan masyarakat, sebagai berikut.

1. Karya sastra ditulis oleh pengarang, diceritakan oleh tukang cerita, disalin oleh penyalin, sedangkan ketiga subjek tersebut adalah anggota masyarakat.

(12)

2. Karya sastra hidup dalam masyarakat, menyerap aspek-aspek kehidupan yang terjadi dalam masyarakat, yang pada gilirannya juga difungsikan oleh masyarakat.

3. Medium karya sastra, baik lisan maupun tulisan dipinjam melalui kompetensi masyarakat, yang dengan sendirinya telah mengandung masalah-masalah kemasyarakatan.

4. Berbeda dengan ilmu pengetahuan, agama, adat-istiadat, dan tradisi yang lain, dalam karya sastra terkandung estetika, etika, bahkan juga logika. Masyarakat jelas akan sangat berkepentingan terhadap ketiga aspek tersebut.

5. Sama dengan masyarakat, karya sastra adalah hakikat intersubjektivitas, masyarakat menemukan citra dirinya dalam suatu karya.

Pradopo (2002: 23) menyatakan bahwa sosiologi sastra ini erat hubungannya dengan kritik mimetik, yaitu karya sastra itu merupakan cermin atau tiruan masyarakat.

Ian Watt dalam Kurniawan (2012: 11) menyebutkan tiga paradigma dalam sosiologi sastra yaitu:

(a) konteks sosial pengarang yang berhubungan dengan analisis posisi pengarang dalam suatu masyarakat dan kaitannnya dengan pembaca, (b) sastra sebagai cermin masyarakat berkaitan dengan sampai sejauh mana sastra dapat dianggap mencerminkan keadaan masyarakat. (c) fungsi sosial sastra ini berkaitan dengan sampai sejauh mana nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial dan sampai sejauh mana nilai saatra dipengaruhi oleh nilai sosial.

Hubungan karya sastra dengan masyarakat, baik sebagai negasi dan inovasi, maupun afirmasi, jelas merupakan hubungan yang hakiki (Ratna, 2011: 334). Menurut Abrams dalam Pradopo (2002: 22) istilah sosiologi sastra dikenakan pada tulisan-tulisan para kritikus dalam ahli sejarah sastra yang perhatian utamanya ditunjukkan pada cara-cara seorang pengarang dipengaruhi oleh status kelasnya, ideologi masyarakat, keadaan-keadaan ekonomi yang berhubungan dengan

(13)

pekerjaannya, dan jenis pembaca yang dituju. Dengan demikian, karya sastra sangat erat hubungannya dengan manusia karena karya sastra diciptakan oleh pengarang, diceritakan oleh tukang cerita dan dibaca oleh manusia, yakni semuanya merupakan anggota masyarakat. Di dalam karya sastra isinya mengenai kehidupan manusia itu sendiri, dan terdapat pesan-pesan yang dapat dipelajari untuk menjalani kehidupan bermasyarakat.

Damono (2002: 1) menegaskan bahwa sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dihayati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Sastrawan itu sendiri adalah anggota masyarakat. Ia terikat oleh status sosial tertentu. Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium, bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial.

Suyitno (2009: 5) menyatakan masyarakat sastra yang dimaksudkan adalah semua orang yang terlibat di dalam hal kesusastraan, yaitu orang-orang yang terlibat di dalam pengembangan kesusastraan, memanfaatkan kesusastraan, dan menikmati kesusastraan. Jadi masyarakat sastra ialah orang-orang yang berhubungan dengan tiga bidang tersebut yakni :

1. Para ahli sastra yang bergerak di dalam ilmu sastra. 2. Para pencipta sastra, yaitu para sastrawan

3. Para penikmat sastra, yaitu para pembaca yang menikmati serta menghayati karya sastra.

(14)

Dengan demikian, sastra mencakup kehidupan masyarakat, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dikehidupan nyata. Permasalahan yang diangkat dalam sebuah karya sastra isinya mengenai kehidupan masyarakat dan pencipta karya sastra merupakan manusia sebagai bagian dari masyarakat yaitu seorang pengarang.

Referensi

Dokumen terkait

peserta harus sesuai dengan persyaratan dan standarnya, jadi tidak sembarangan dan benar- benar orang yang terpilih. Adapun cadangan peserta itu juga sudah diuji, soalnya

Perilaku yang berhubungan dengan harga diri rendah meliputi: mengkritik diri sendiri atau orang lain, penurunan produktivitas, destruktif yang diarahkan pada orang lain,

pelaksanaan yaitu saat ini sudah dalam proses pembayaran ganti rugi pemilik lahan tidak pernah melibatkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, hal ini sesuai ayat 3 pasal 7

kekurangannya.pendapatan dari sumber-sumber lain yang berkaitan dengan proyek atau pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini peningkatan tarif atau juga

#erdasarkan hasil pengukuran awal yang telah kami lakukan dil!kasi pekerjaan maka dengan ini kami mengusulkan agar dilakukan addendum 102.1 9 pekerjaan tambah kurang ;

PC digunakan untuk membuat dan mengirimkan file Gcode yang berisi titik koordinat pengeboran, mikrokontroler arduino uno akan menginstruksikan pada driver motor IC

Selain dari staff, kami juga meminta bantuan dari para pengajar LTC untuk menjadi pembawa acara sekaligus juga ada yang menjadi pembuka dalam berdoa dan juga ada

Warna batuan berkaitan erat dengan komposisi mineral penyusunnya.mineral penyusun batuan tersebut sangat dipengaruhi oleh komposisi magma asalnya sehingga dari warna dapat diketahui