1 1
BAB 1 KETENTUAN UMUM BAB 1 KETENTUAN UMUM
Pasal 1 Perencanaan Konstruksi Jalan Rel Pasal 1 Perencanaan Konstruksi Jalan Rel
Lintas kereta api direncanakan untuk melewatkan berbagai jumlah angkutan barang dan/ Lintas kereta api direncanakan untuk melewatkan berbagai jumlah angkutan barang dan/ atau penumpang dalam suatu jangka waktu tertentu.
atau penumpang dalam suatu jangka waktu tertentu.
Perencanaan konstruksi jalan rel harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dapat Perencanaan konstruksi jalan rel harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara teknis dan ekonomis.
dipertanggungjawabkan secara teknis dan ekonomis.
Secara teknis diartikan konstruksi jalan rel tersebut harus dapat dilalui oleh kendaraan rel Secara teknis diartikan konstruksi jalan rel tersebut harus dapat dilalui oleh kendaraan rel dengan aman dengan tingkat kenyamanan tertentu selama umur konstruksinya.
dengan aman dengan tingkat kenyamanan tertentu selama umur konstruksinya.
Secara eknomis diharapkan agar pembangunan dan pemeliharaan konstruksi tersebut Secara eknomis diharapkan agar pembangunan dan pemeliharaan konstruksi tersebut dapat diselenggarakan dengan biaya yang sekecil mungkin dimana masih memungkinkan dapat diselenggarakan dengan biaya yang sekecil mungkin dimana masih memungkinkan terjaminnya keamanan dan tingkat kenyamanan.
terjaminnya keamanan dan tingkat kenyamanan.
Perencanaan konstruksi jalan rel diperngaruhi oleh jumlah beban, kecepatan maksimum, Perencanaan konstruksi jalan rel diperngaruhi oleh jumlah beban, kecepatan maksimum, beban gandar dan pola operasi. Atas dasar ini diadakan klasifikasi jalan rel, sehingga beban gandar dan pola operasi. Atas dasar ini diadakan klasifikasi jalan rel, sehingga perencanaan dapat dibuat secara tepat guna.
perencanaan dapat dibuat secara tepat guna.
Pasal 2 Kecepatan dan Beban Gandar Pasal 2 Kecepatan dan Beban Gandar a.
a. Kecepatan.Kecepatan. 1)
1) Kecepatan Rencana.Kecepatan Rencana.
Kecepatan rencana adalah kecepatan yang digunakan untuk merencanakan Kecepatan rencana adalah kecepatan yang digunakan untuk merencanakan konstruksi jalan rel.
konstruksi jalan rel. a)
a) Untuk perencanaan struktur jalan rel.Untuk perencanaan struktur jalan rel. V rencana = 1,25 x V maks.
V rencana = 1,25 x V maks. b)
b) Untuk perencanaan peninggianUntuk perencanaan peninggian
Ni Ni Vi Vi Ni Ni x x cc rencana rencana V V .. c c = = 1,251,25 Ni
Ni = Jumlah = Jumlah Kereta api Kereta api yang lewat.yang lewat. Vi
Vi = = Kecepatan Kecepatan OperasiOperasi c)
c) Untuk perencanaan jari-jari lengkung lingkaran dan lengkung peralihanUntuk perencanaan jari-jari lengkung lingkaran dan lengkung peralihan Vrencana = Vmaks
Vrencana = Vmaks 2)
2) Kecepatan MaksimumKecepatan Maksimum
Kecepatan maksimum adalah kecepatan tertinggi yang diijinkan untuk operasi Kecepatan maksimum adalah kecepatan tertinggi yang diijinkan untuk operasi suatu rangkaian kereta pada lintas tertentu.
suatu rangkaian kereta pada lintas tertentu. 3)
2 2
Kecepatan operasi adalah kecepatan rata-rata kereta api pada petak jalan tertentu. Kecepatan operasi adalah kecepatan rata-rata kereta api pada petak jalan tertentu. 4)
4) Kecepatan KomersilKecepatan Komersil
Kecepatan komersil kecepatan rata-rata kereta api sebagai hasil pembagian jarak Kecepatan komersil kecepatan rata-rata kereta api sebagai hasil pembagian jarak tempuh dengan waktu tempuh.
tempuh dengan waktu tempuh. b.
b. Beban Gandar.Beban Gandar.
Beban gandar adalah beban yang diterima oleh jalan rel dari satu gandar. Untuk Beban gandar adalah beban yang diterima oleh jalan rel dari satu gandar. Untuk semua kelas, beban gandar maksimum adalah 18 ton.
semua kelas, beban gandar maksimum adalah 18 ton.
Pasal 3 Peraturan Dinas yang Berhubungan dengan Peraturan Dinas No. 10 Pasal 3 Peraturan Dinas yang Berhubungan dengan Peraturan Dinas No. 10 a.
a. Peraturan Dinas No. 10 A yaitu Peraturan Perawatan Jalan Rel Indonesia (PPJRI).Peraturan Dinas No. 10 A yaitu Peraturan Perawatan Jalan Rel Indonesia (PPJRI). b.
b. Peraturan Dinas No.10 B, yaitu Peraturan Pelaksanaan Pembangunan Jalan RelPeraturan Dinas No.10 B, yaitu Peraturan Pelaksanaan Pembangunan Jalan Rel Indonesia (PPPJRI).
Indonesia (PPPJRI). c.
c. Peraturan Dinas No.10 C, yaitu Peraturan Bahan Jalan Rel Indonesia (PBJRI).Peraturan Dinas No.10 C, yaitu Peraturan Bahan Jalan Rel Indonesia (PBJRI).
Pasal 4. Standar Jalan Rel. Pasal 4. Standar Jalan Rel. a.
a. Klasifikasi.Klasifikasi.
Daya angkut lintas, kecepatan maksimum, beban gandar dan ketentuan-ketentuan lain Daya angkut lintas, kecepatan maksimum, beban gandar dan ketentuan-ketentuan lain untuk setiap kelas jalan, tercantum pada table 1.1.
untuk setiap kelas jalan, tercantum pada table 1.1.
Tabel 1.1 Kelas Jalan Rel Tabel 1.1 Kelas Jalan Rel
ET
ET = = Elastik Elastik Tunggal Tunggal ; ; EG EG = = Elastik Elastik GandaGanda Klasifik Klasifik asi Jalan asi Jalan KA KA Pasing Pasing Ton Ton Tahunan Tahunan (Juta Ton) (Juta Ton) Perencanaan Perencanaan Kecepatan KA Kecepatan KA Maksimum Maksimum V
Vmaxmax(km/jam)(km/jam)
Tekanan Tekanan Gandar Gandar P max P max (ton) (ton) Tipe Rel
Tipe Rel Tipe dari BantalanTipe dari Bantalan Jarak Bantalan (mm) Jarak Bantalan (mm) Tipe Tipe Alat Alat Penam Penam bat bat Tebal balas Tebal balas dibawah dibawah Bantalan Bantalan (cm) (cm) Lebar Lebar Bahu Bahu Balas Balas (cm) (cm) 1 1 2 2 3 3 4 4 4 4 > 20 > 20 10 10 – – 2020 5 5 – – 1010 2,5 2,5 – – 55 < 2,5 < 2,5 120 120 110 110 100 100 90 90 80 80 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 R60 / R54 R60 / R54 R54 / R50 R54 / R50 R54/ R50/ R42 R54/ R50/ R42 R54/ R50/ R42 R54/ R50/ R42 R42 R42 600 600 Beton Beton 600 600 Beton/Kayu Beton/Kayu 600 600 /Baja /Baja Beton/Kayu Beton/Kayu 600 600 /Baja /Baja Beton/Kayu Beton/Kayu 600 600 Kayu/Baja Kayu/Baja EG EG EG EG EG EG EG/ET EG/ET ET ET 30 30 30 30 30 30 25 25 25 25 50 50 50 50 40 40 40 40 35 35
3 3 b.
b. Daya Angkut Lintas.Daya Angkut Lintas.
Daya angkut lintas adalah jumlah angkutan anggapan yang melewati suatu lintas Daya angkut lintas adalah jumlah angkutan anggapan yang melewati suatu lintas dalam jangka waktu satu tahun. Daya angkut lintas mencerminkan jenis serta jumlah dalam jangka waktu satu tahun. Daya angkut lintas mencerminkan jenis serta jumlah beban total dan kecepatan kereta api yang lewat di lintas yang bersangkutan.
beban total dan kecepatan kereta api yang lewat di lintas yang bersangkutan. Daya angkut disebut daya angkut T dengan satuan ton/ tahun.
Daya angkut disebut daya angkut T dengan satuan ton/ tahun.
Pasal 5 Ruang Bebas dan Ruang Bangun. Pasal 5 Ruang Bebas dan Ruang Bangun.
Ruang bebas adalah ruang diatas sepur yang senantiasa harus bebas dari segala rintangan Ruang bebas adalah ruang diatas sepur yang senantiasa harus bebas dari segala rintangan dan benda penghalang; ruang ini disediakan untuk lalu lintas rangkaian kereta api. dan benda penghalang; ruang ini disediakan untuk lalu lintas rangkaian kereta api. Ukuran ruang bebas untuk jalur tunggal dan jalur ganda, baik pada bagian lintas yang Ukuran ruang bebas untuk jalur tunggal dan jalur ganda, baik pada bagian lintas yang lurus maupun yang melengkung, untuk lintas elektrifikasi dan non elektrifikasi, adalah lurus maupun yang melengkung, untuk lintas elektrifikasi dan non elektrifikasi, adalah seperti yang tertera pada gambar 1.1, gambar 1.2, gambar 1.3 dan gambar 1.4.
seperti yang tertera pada gambar 1.1, gambar 1.2, gambar 1.3 dan gambar 1.4.
Ukuran-ukuran tersebut telah memperhatikan dipergunakannya gerbong kontener/ peti Ukuran-ukuran tersebut telah memperhatikan dipergunakannya gerbong kontener/ peti kemas ISO (Iso Container Size) tipe “Standard Height”.
kemas ISO (Iso Container Size) tipe “Standard Height”.
Ruang bangun adalah ruang disisi sepur yang senantiasa harus bebas dari segala Ruang bangun adalah ruang disisi sepur yang senantiasa harus bebas dari segala bangunan tetap seperti antara lain tiang semboyan, tiang listrik dan pagar.
bangunan tetap seperti antara lain tiang semboyan, tiang listrik dan pagar.
Batas ruang bangun diukur dari sumbu sepur pada tinggi 1 meter sampai 3,55 meter. Batas ruang bangun diukur dari sumbu sepur pada tinggi 1 meter sampai 3,55 meter. Jarak ruang bangun tersebut ditetapkan sebagai berikut :
Jarak ruang bangun tersebut ditetapkan sebagai berikut : a.
a. Pada Pada lintas lintas bebas :bebas :
2,35 sampai 2,53 m di kiri kanan sumbu sepur. 2,35 sampai 2,53 m di kiri kanan sumbu sepur. b.
b. Pada Pada emplasemen :emplasemen :
1,95 m sampai 2,35 di kiri kanan sumbu sepur 1,95 m sampai 2,35 di kiri kanan sumbu sepur c.
c. Pada Pada jembatan :jembatan :
2,15 m di kiri kanan sumbu sepur. 2,15 m di kiri kanan sumbu sepur.
Pasal 6 Perlintasan Sebidang Pasal 6 Perlintasan Sebidang a.
a. UmumUmum
Pada perlintasan sebidang antara jalan rel dan jalan raya harus tersedia jarak Pada perlintasan sebidang antara jalan rel dan jalan raya harus tersedia jarak pandangan yang memadai bagi kedua belah pihak, terutama bagi pengendara pandangan yang memadai bagi kedua belah pihak, terutama bagi pengendara kendaraan.
kendaraan.
Daerah pandangan pada perlintasan merupakan daerah pandangan segitiga di mana Daerah pandangan pada perlintasan merupakan daerah pandangan segitiga di mana jarak-jaraknya ditentukan berdasarkan pada kecepatan rencana kedua belah pihak. jarak-jaraknya ditentukan berdasarkan pada kecepatan rencana kedua belah pihak.
Jarak-jarak minimum untuk berbagai kombinasi kecepatan adalah seperti yang Jarak-jarak minimum untuk berbagai kombinasi kecepatan adalah seperti yang tercantum dalam table 2, dan dijelaskan dalam gambar 1.5.
4 4 Kecepatan KA Kecepatan KA (km/jam) (km/jam)
Kecepatan kendaraan di jalan raya (km/jam) Kecepatan kendaraan di jalan raya (km/jam) Mulai
Mulai bergerak
bergerak Sedangbergerak Sedangbergerak 0
0 20 20 40 40 60 60 80 80 100 100 120120 Panjang pada pihak jalan rel (meter) (A)
Panjang pada pihak jalan rel (meter) (A) 40 40 60 60 80 80 90 90 100 100 110 110 120 120 185 185 273 273 363 363 409 409 454 454 500 500 545 545 97 97 145 145 193 193 217 217 241 241 266 266 290 290 75 75 112 112 150 150 168 168 187 187 206 206 224 224 78 78 116 116 155 155 174 174 194 194 213 213 233 233 85 85 127 127 170 170 191 191 212 212 233 233 255 255 94 94 141 141 188 188 212 212 235 235 259 259 282 282 105 105 158 158 210 210 237 237 263 263 289 289 316 316 Panjang pada pihak jalan rel (meter) (B)
Panjang pada pihak jalan rel (meter) (B) 28
28 57 57 102 102 162 162 233 233 322322 Table 2.
Table 2. Panjang minimum jarak Panjang minimum jarak pandangan untuk kombinasi pandangan untuk kombinasi kecepatankecepatan
Gambar 1.5
Gambar 1.5 Perlintasan sebidang jalan rel Perlintasan sebidang jalan rel dan jalan rayadan jalan raya
Daerah pandangan segitiga harus bebas dari benda-benda penghalang setinggi 1,00 Daerah pandangan segitiga harus bebas dari benda-benda penghalang setinggi 1,00 meter ke atas.
meter ke atas.
Sudut perpotongan perlintasan sebidang diusahakan sebesar 90
Sudut perpotongan perlintasan sebidang diusahakan sebesar 90oo dan bila tidak dan bila tidak memungkinkan sudut perpotongan harus lebih besar dari pada 30
memungkinkan sudut perpotongan harus lebih besar dari pada 30 oo. Kalau akan. Kalau akan membuat perlintasan baru, jarak antara perlintasan baru dengan yang sudah ada tidak membuat perlintasan baru, jarak antara perlintasan baru dengan yang sudah ada tidak boleh kurang dari 800 meter.
boleh kurang dari 800 meter.
B B A
5 5 b.
b. Konstruksi Perlintasan Sebidang.Konstruksi Perlintasan Sebidang.
Lebar perlintasan sebidang bagi jalan raya dalam keadaan pintu terbuka atau tanpa Lebar perlintasan sebidang bagi jalan raya dalam keadaan pintu terbuka atau tanpa pintu, harus sama dengan lebar perkerasan jalan raya yang bersangkutan.
pintu, harus sama dengan lebar perkerasan jalan raya yang bersangkutan.
Perlintasan sebidang yang dijaga dilengkapi dengan rel-rel lawan untuk menjamin Perlintasan sebidang yang dijaga dilengkapi dengan rel-rel lawan untuk menjamin tetap adanya alur untuk flens roda kecuali untuk konstruksi lain yang tidak tetap adanya alur untuk flens roda kecuali untuk konstruksi lain yang tidak memerlukan rel lawan.
memerlukan rel lawan.
Lebar alur adalah sebesar 40 mm dan harus selalu bersih benda-benda penghalang. Lebar alur adalah sebesar 40 mm dan harus selalu bersih benda-benda penghalang. Panjang rel lawan adalah sampai 0,8 meter di luar lebar perlintasan dan dibengkokan Panjang rel lawan adalah sampai 0,8 meter di luar lebar perlintasan dan dibengkokan ke dalam agar tidak terjadi tumbukan dengan roda dari rangkaian. Sambungan rel di ke dalam agar tidak terjadi tumbukan dengan roda dari rangkaian. Sambungan rel di dalam perlintasan harus dihindari.
dalam perlintasan harus dihindari.
Konstruksi perlintasan sebidang dapat dibuat dari bahan beton semen, aspal dan kayu Konstruksi perlintasan sebidang dapat dibuat dari bahan beton semen, aspal dan kayu seperti ditunjukan dalam gambar-gambar 1.6 sampai dengan gambar 1.10.
seperti ditunjukan dalam gambar-gambar 1.6 sampai dengan gambar 1.10.
Pasal 7. Lain-lain. Pasal 7. Lain-lain. a.
a. Peraturan ini disebut Peraturan Konstruksi Jalan Rel di Indonesia, disingkat PKJRI.Peraturan ini disebut Peraturan Konstruksi Jalan Rel di Indonesia, disingkat PKJRI. b.
b. Dalam membuat perencanaan, selain memperhatikan segi-segi teknis, keamanan danDalam membuat perencanaan, selain memperhatikan segi-segi teknis, keamanan dan biaya, juga harus mempertimbangkan masalah lingkungan.
biaya, juga harus mempertimbangkan masalah lingkungan. c.
c. Peraturan ini berlaku untuk perencanaan jalan rel di Indonesia, baik untuk Peraturan ini berlaku untuk perencanaan jalan rel di Indonesia, baik untuk perencanaan jalan baru maupun perencanaan penyesuian jalan rel lama.
perencanaan jalan baru maupun perencanaan penyesuian jalan rel lama. d.
d. Selain ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam peraturan ini, untuk hal-hal khusus,Selain ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam peraturan ini, untuk hal-hal khusus, juga harus mengikuti ketentuan-ketentuan lain yang bertalian dengan hal itu.
juga harus mengikuti ketentuan-ketentuan lain yang bertalian dengan hal itu. 1)
1) Peraturan Beton Indonesia (PBI)Peraturan Beton Indonesia (PBI) 2)
2) Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI).Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI). 3)
3) Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI).Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI). 4)
4) Peraturan Umum Bahan Bangunan Indonesia (PUBBI).Peraturan Umum Bahan Bangunan Indonesia (PUBBI). 5)
6 6 Keterangan :
Keterangan : Batas
Batas I I = = Untuk Untuk jembatan jembatan dengan dengan kecepatan kecepatan sampai sampai 60 60 km/jamkm/jam Batas
Batas II II ==Untuk „Viaduk‟ dan terowongan dengan keUntuk „Viaduk‟ dan terowongan dengan kecepatan sampaicepatan sampai 60km/jam dan untuk jembatan tanpa pembatasan kecepatan. 60km/jam dan untuk jembatan tanpa pembatasan kecepatan. Batas III
Batas III = Untuk „viaduk‟ baru dan bangunan lama kecuali terowongan dan= Untuk „viaduk‟ baru dan bangunan lama kecuali terowongan dan jembatan
jembatan Batas
Batas IV IV = = Untuk Untuk lintas lintas kereta kereta listrik listrik Gambar.
7 7 Keterangan :
Keterangan :
Batas ruang bebas pada lintas lurus dan pada bagian lengkungan Batas ruang bebas pada lintas lurus dan pada bagian lengkungan dengan jari-jari > 3000 m.
dengan jari-jari > 3000 m. Batas ruang
Batas ruang bebas pada bebas pada lengkungan dengan jari-jari lengkungan dengan jari-jari 300 sampai300 sampai dengan 3000 m.
dengan 3000 m. Batas ruang
Batas ruang bebas pada lengkungan bebas pada lengkungan dengan jari-jari dengan jari-jari < 300 < 300 m.m.
Gambar.
8 8
Gambar. 1.3 Gambar. 1.3
Ruang bebas pada jalur lurus untuk jalan ganda Ruang bebas pada jalur lurus untuk jalan ganda
9 9
Gambar. 1.4 Gambar. 1.4
Ruang bebas pada jalur lengkung untuk jalan ganda Ruang bebas pada jalur lengkung untuk jalan ganda
10 10 batu
batu stamplinstamplingg
pipa besar pipa besar 3 3 0 0 0 0 plat beton
plat beton bertulanbertulangg plat beton bertulang
plat beton bertulang
300
300 bbaannttaallaan n kkaayyuu bbaannttaallaan n kkaayyuu 300300 5 500 5500 5500 5500 pipa drainase pipa drainase pipa drainase pipa drainase Gambar 1.6 Gambar 1.6 Potongan melintang perlintasan sebidang
Potongan melintang perlintasan sebidang dengan dengan plat betonplat beton
comp comp aspal aspal kerikil kerikil C C 140.60.7 140.60.7 L L 40.40.4 40.40.4 beton kayu beton kayu pendrol pendrol base plate base plate 750 s/d 300
750 s/d 300 papan kayupapan kayu 3
comp comp aspal aspal kerikil kerikil C C 140.60.7 140.60.7 L L 40.40.4 40.40.4 beton kayu beton kayu pendrol pendrol base plate base plate 750 s/d 300 750 s/d 300
balas batu pecah balas batu pecah
balas pasir balas pasir pipa drain Ø 200 (paralon tebal)
pipa drain Ø 200 (paralon tebal) 200200
papan kayu papan kayu 3 300 226688 113300 6688 113300 880077 113300 6688 131300 226688 3300 Gambar 1.7 Gambar 1.7 Potongan melintang
Potongan melintang perlintasan seperlintasan sebidang dengabidang dengan n plat bajaplat baja (memakai penambat Pandrol)
(memakai penambat Pandrol)
3
388 331155 883355 6688 993355 888800 993355 6688 838355 331155 3838
L 40.40.4
L 40.40.4 camp aspal kecamp aspal ke rikilrikil PLAT BAJA SIRIPPLAT BAJA SIRIP C 140.60.7C 140.60.7
beton kayu
beton kayu balas batu pecahbalas batu pecah
balas pasir balas pasir
200 200 pipa drain Ø 200 (paralon tebal)
pipa drain Ø 200 (paralon tebal)
750 s/d 300 750 s/d 300 Rel R.14A
Rel R.14A Plat landas ok
Plat landas ok Plat jepit KKPlat jepit KK
Gambar 1.8 Gambar 1.8 Potongan melintang
Potongan melintang perlintasan sebperlintasan sebidang dengan idang dengan plat bajaplat baja (memakai penambat Kaku)
6
60000mmmm 4400mmmm 4400mmmm 1067 mm
1067 mm
Balok kayu pingisi Balok kayu pingisi Balok kayu Balok kayu Bantalan Bantalan Gambar 1.9 Gambar 1.9 Potongan melintang
Potongan melintang perlintasan seperlintasan sebidang dengabidang dengan n Balok kayuBalok kayu
klos
klos klosklos Bantalan
Bantalan
Bantalan Aspal Bantalan Aspal
Bantalan pasir dipadatkan Bantalan pasir dipadatkan
Balas Balas 40 mm 40 mm 40 mm 40 mm 1067 mm 1067 mm pipa drainase pipa drainase lapisan kerikil lapisan kerikil Gambar 1.10 Gambar 1.10 Potongan melintang pe
BAB 2 GEOMETRI JALAN REL BAB 2 GEOMETRI JALAN REL
Pasal 1 Umum Pasal 1 Umum Geomtri jalan rel
Geomtri jalan rel direncanakan berdasadirencanakan berdasar pada r pada kecepatan rencana serta ukuran-ukurankecepatan rencana serta ukuran-ukuran kereta yang melewatinya
kereta yang melewatinya dengan memperhatikan faktor dengan memperhatikan faktor keamanan, kenyamanakeamanan, kenyamanan,n, ekonomi dan kesertaan dengan
ekonomi dan kesertaan dengan lingkungan sekitarnya.lingkungan sekitarnya.
Pasal 2 Lebar Sepur Pasal 2 Lebar Sepur
Untuk seluruh kelas jalan rel lebar
Untuk seluruh kelas jalan rel lebar sepur adalah 1067 mm yang merupakan jarak sepur adalah 1067 mm yang merupakan jarak terkecil antara kedua sisi kepala rel, diukur
terkecil antara kedua sisi kepala rel, diukur pada daerah 0-14 mm di pada daerah 0-14 mm di bawahbawah permukaan teratas kepala rel.
permukaan teratas kepala rel.
Pasal 3 Lengkung Horizontal Pasal 3 Lengkung Horizontal
Alinemen horizontal adalah proyeksi sumbu jalan rel pada bidang horizontal, Alinemen horizontal adalah proyeksi sumbu jalan rel pada bidang horizontal, alinemen horizontal terdiri dari garis lurus
alinemen horizontal terdiri dari garis lurus dan lengkungan.dan lengkungan. a.
a. Lengkung LingkaranLengkung Lingkaran Dua bagian lurus, yang
Dua bagian lurus, yang perpanjangnya saling membentuk sudut harusperpanjangnya saling membentuk sudut harus
dihubungkan dengan lengkung yang berbentuk lingkaran, dengan atau tanpa dihubungkan dengan lengkung yang berbentuk lingkaran, dengan atau tanpa lengkung-lengk
lengkung-lengkung peralihan. Untuk berbagai ung peralihan. Untuk berbagai kecepatan rencana, besar jari-jarikecepatan rencana, besar jari-jari minimum yang diijinkan adalah seperti yang tercantum dalam Tabel 2.1.
minimum yang diijinkan adalah seperti yang tercantum dalam Tabel 2.1.
Kecepatan
Kecepatan
rencana
rencana
(km/jam).
(km/jam).
Jari-jari minimum
Jari-jari minimum
lengkung lingkaran tanpa
lengkung lingkaran tanpa
lengkung peralihan (m).
lengkung peralihan (m).
Jari-jari minimum lengkung
Jari-jari minimum lengkung
lingkaran yang diijinkan
lingkaran yang diijinkan
dengan lengkung
dengan lengkung peralihan
peralihan
(m).
(m).
120
120
110
110
100
100
90
90
80
80
70
70
60
60
2370
2370
1990
1990
1650
1650
1330
1330
1050
1050
810
810
600
600
780
780
660
660
550
550
440
440
350
350
270
270
200
200
Tabel 2.1. PersyaratanTabel 2.1. Persyaratan perencanaaperencanaan lengkungann lengkungan b.
Lengkung peralihan adalah suatu lengkung dengan jari-jari yang berubah Lengkung peralihan adalah suatu lengkung dengan jari-jari yang berubah beraturan. Lengkung peralihan dipakai sebagai peralihan antara bagian yang lurus beraturan. Lengkung peralihan dipakai sebagai peralihan antara bagian yang lurus dan bagian lingkaran dan sebagai peralihan antara dua jari-jari lingkaran yang dan bagian lingkaran dan sebagai peralihan antara dua jari-jari lingkaran yang berbeda. Lengkung peralihan dipergunakan pada jari-jari lengkung yang relative berbeda. Lengkung peralihan dipergunakan pada jari-jari lengkung yang relative kecil, lihat Tabel 2.1.
kecil, lihat Tabel 2.1.
Panjang minimum dari lengkung peralihan ditetapkan dengan rumus berikut : Panjang minimum dari lengkung peralihan ditetapkan dengan rumus berikut :
L
Lhh= 0,01 hv ………(2.1)= 0,01 hv ………(2.1) Dimana L
Dimana Lhh= panjang minimal = panjang minimal lengkung peralihan.lengkung peralihan. h
h = perting= pertinggian relative gian relative antara antara dua bagian dua bagian yang dihubuyang dihubungkan (mm).ngkan (mm). v
v = ke= kecepatan cepatan rencana rencana untuk lenguntuk lengkungan kungan peralihan peralihan (km/jam).(km/jam). c.
c. Lengkung SLengkung S
Lengkung S terjadi bila dua lengkung dari suatu lintas yang berbeda arah Lengkung S terjadi bila dua lengkung dari suatu lintas yang berbeda arah lengkungnya terletak b
lengkungnya terletak bersambunganersambungan..
Antara kedua lengkung yang berbeda arah ini harus ada bagian lurus sepanjang Antara kedua lengkung yang berbeda arah ini harus ada bagian lurus sepanjang paling sedikit 20 meter di
paling sedikit 20 meter di luar lengkung peralihan.luar lengkung peralihan. d.
d. Perlebaran SepurPerlebaran Sepur
Perlebaran sepur dilakukan agar roda kendaraan rel dapat melewati lengkung Perlebaran sepur dilakukan agar roda kendaraan rel dapat melewati lengkung tanpa mengalami hambatan. Perlebaran sepur dicapai dengan menggeser rel
tanpa mengalami hambatan. Perlebaran sepur dicapai dengan menggeser rel dalamdalam kearah dalam.
kearah dalam.
Besar perlebaran sepur untuk berbagai jari-jari tikungan adalah seperti yang Besar perlebaran sepur untuk berbagai jari-jari tikungan adalah seperti yang tercantum dalam Tabel 2.2.
tercantum dalam Tabel 2.2.
Pelebaran
Pelebaran sepur sepur ( ( mm) mm) Jari-jari Jari-jari tikungan tikungan (meter)(meter) 0 0 5 5 10 10 15 15 20 20 R > 600 R > 600 550 < R < 600 550 < R < 600 400 < R < 550 400 < R < 550 350 < R < 400 350 < R < 400 100 < R < 350 100 < R < 350 Tabel 2.2 Pelebaran sepur
Tabel 2.2 Pelebaran sepur Perlebaran sepur maksimum yang diijinkan adalah 20 mm. Perlebaran sepur maksimum yang diijinkan adalah 20 mm.
Perlebaran sepur dicapai dan dihilangkan secara berangsur sepanjang lengkung Perlebaran sepur dicapai dan dihilangkan secara berangsur sepanjang lengkung peralihan.
peralihan. e.
e. Peninggian Rel.Peninggian Rel.
Pada lengkungan, elevasi rel luar dibuat lebih tinggi dari pada rel dalam untuk Pada lengkungan, elevasi rel luar dibuat lebih tinggi dari pada rel dalam untuk mengimbangi gaya sentrifugal yang dialami oleh
mengimbangi gaya sentrifugal yang dialami oleh rangkaian kereta.rangkaian kereta.
Peninggian rel dicapai dengan menepatkan rel dalam pada tinggi semestinya dan Peninggian rel dicapai dengan menepatkan rel dalam pada tinggi semestinya dan rel luar lebih tinggi lihat gambar 2.1 dan 2.2.
rel luar lebih tinggi lihat gambar 2.1 dan 2.2.
Besar peninggian untuk berbagai kecepatan rencana tercantum pada table 2.3 Besar peninggian untuk berbagai kecepatan rencana tercantum pada table 2.3
Jari-jari Jari-jari (m) (m) Peninggian (mm) pas (km/hr) Peninggian (mm) pas (km/hr) 120 120 110 110 100 100 90 90 80 80 70 70 6060 100 100 150 ----150 ----200 110 200 110 250 250 ---- ---- 9090 300 300 ---- ---- 100 100 7575 350 350 110 110 85 85 6565 400 400 ---- ---- 100 100 75 75 5555 450 450 110 110 85 85 65 65 5050 500 500 ---- ---- 100 100 80 80 60 60 4545 550 550 110 110 90 90 70 70 55 55 4040 600 600 100 100 85 85 65 65 50 50 4040 650 650 ---- ---- 95 95 75 75 60 60 50 50 3535 700 700 105 105 85 85 70 70 55 55 45 45 3535 750 750 ---- ---- 100 100 80 80 65 65 55 55 40 40 3030 800 800 110 110 90 90 75 75 65 65 50 50 40 40 3030 850 850 105 105 85 85 70 70 60 60 45 45 35 35 3030 900 900 100 100 80 80 70 70 55 55 45 45 35 35 2525 950 95 80 65 55 45 35 25 950 95 80 65 55 45 35 25 1000 1000 90 90 75 75 50 50 50 50 40 40 330 0 2525 1100 1100 80 80 70 70 55 55 45 45 35 35 330 0 2020 1200 1200 75 75 60 60 55 55 45 45 35 35 225 5 2020 1300 1300 70 70 60 60 50 50 40 40 30 30 225 5 2020 1400 1400 65 65 55 55 45 45 35 35 30 30 225 5 2020 1500 1500 60 60 50 50 40 40 35 35 30 30 220 0 1515 1600 1600 55 55 45 45 40 40 35 35 25 25 220 0 1515 1700 1700 55 55 45 45 35 35 30 30 25 25 220 0 1515 1800 1800 50 50 40 40 35 35 30 30 25 25 220 0 1515 1900 1900 50 50 40 40 35 35 30 30 25 25 220 0 1515 2000 2000 45 45 40 40 30 30 25 25 20 20 115 5 1515 2500 2500 35 35 30 30 25 25 20 20 20 20 115 5 1010 3000 3000 30 30 25 25 20 20 20 20 15 15 110 0 1010 3500 3500 25 25 25 25 20 20 15 15 15 15 110 0 1010 4000 4000 25 25 20 20 15 15 15 15 10 10 110 0 1010 Table
Table 2.3 2.3 Rail ElevRail Elevation at ation at Curves Curves with the with the FormulaFormula
h h normalnormal= 5.95= 5.95 radius radius V V planned planned )) (( 22
Peninggian rel dicapai dan dihilangkan secara berangsur sepanjang lengkung Peninggian rel dicapai dan dihilangkan secara berangsur sepanjang lengkung peralihan. Untuk tikungan tanpa lengkung peralihan peninggian rel dicapai secara peralihan. Untuk tikungan tanpa lengkung peralihan peninggian rel dicapai secara berangsur tepat di luar lengkung lingkaran sepanjang suatu panjang peralihan, berangsur tepat di luar lengkung lingkaran sepanjang suatu panjang peralihan, panjang minimum peralihan ini dihitung dari
panjang minimum peralihan ini dihitung dari rumus 2.1.rumus 2.1.
Pasal
Pasal 4 4 LandaiLandai a.
a. Pengelompokan LintasPengelompokan Lintas
Berdasar pada kelandaian dari sumbu jalan rel dapat dibedakan atas 4 (Empat) Berdasar pada kelandaian dari sumbu jalan rel dapat dibedakan atas 4 (Empat) kelompok seperti yang tercantum dalam Tabel 2.4.
kelompok seperti yang tercantum dalam Tabel 2.4.
Kelompok Kelandaian Kelompok Kelandaian Emplasemen Emplasemen Lintas datar Lintas datar Lintas pegunungan Lintas pegunungan Lintas dengan rel gigi Lintas dengan rel gigi
0 sampai 1,5 ‰ 0 sampai 1,5 ‰ 0 sampai 10 ‰ 0 sampai 10 ‰ 10 ‰ sampai 40 ‰ 10 ‰ sampai 40 ‰ 40 ‰ sampai 80 ‰ 40 ‰ sampai 80 ‰ Tabel 2.4 Pengelompokan lintas berdasar pada kelandaian Tabel 2.4 Pengelompokan lintas berdasar pada kelandaian
Tabel 2.4 Pengelompokan lintas berdasar pada kelandaian. Untuk emplasemen Tabel 2.4 Pengelompokan lintas berdasar pada kelandaian. Untuk emplasemen kelandaiannya adalah 0 sampai 1,5 ‰
kelandaiannya adalah 0 sampai 1,5 ‰ b.
b. Landai PenentuLandai Penentu
Landai penentu adalah suatu kelandaian (Pendakian) yang terbesar yang ada pada Landai penentu adalah suatu kelandaian (Pendakian) yang terbesar yang ada pada suatu lintas lurus. Besar landai penentu terutama berpengaruh pada kombinasi suatu lintas lurus. Besar landai penentu terutama berpengaruh pada kombinasi daya tarik lok dan rangkaian yang dioperasikan. Untuk masing-masing kelas jalan daya tarik lok dan rangkaian yang dioperasikan. Untuk masing-masing kelas jalan rel, besar landai penentu adalah seperti yang tercantum dalam Tabel 2.5.
rel, besar landai penentu adalah seperti yang tercantum dalam Tabel 2.5.
Kelas
Kelas jalan jalan rel rel Landai Landai penentu penentu maksimummaksimum 1 1 2 2 3 3 4 4 5 5 10 ‰ 10 ‰ 10 ‰ 10 ‰ 20 ‰ 20 ‰ 25 ‰ 25 ‰ 25 ‰ 25 ‰
Tabel 2.5 Landai penentu maksimum Tabel 2.5 Landai penentu maksimum
c.
c. Landai CuramLandai Curam
Dalam keadaan yang memaksa kelandaian (Pendakian) dari lintas lurus dapat Dalam keadaan yang memaksa kelandaian (Pendakian) dari lintas lurus dapat melebihi landai penentu.
Kelandaian ini disebut landai curam; panjang maksimum landai curam dapat Kelandaian ini disebut landai curam; panjang maksimum landai curam dapat ditentukan melalui rumus pendekatan sebaga
ditentukan melalui rumus pendekatan sebagai berikut i berikut ::
2 2 .. 2 2 ... ... ... ... 2 2 2 2 2 2 m m k k SS S S g g vb vb va va Dimana: Dimana: ℓ
ℓ = = Panjang maPanjang maximum landaximum landai curam i curam (m).(m). V
Vaa = = Kecepatan minKecepatan minimum yang diijinkan dikimum yang diijinkan dikaki landai curaaki landai curam m/detik.m m/detik.
V
Vbb = = Kecepatan minimum dipuncak Kecepatan minimum dipuncak landai curam (m/detik) vb ≥ landai curam (m/detik) vb ≥ ½ va.½ va.
g
g = = Percepatan Percepatan gravitasi.gravitasi. S
Sk k = = Besar landai Besar landai curam ( curam ( ‰ ).‰ ).
S
Smm = = Besar landai Besar landai penentu ( penentu ( ‰ ).‰ ).
Pasal 5 Landai Pada Lengkung atau
Pasal 5 Landai Pada Lengkung atau TerowonganTerowongan
Apabila di suatu kelandaian terdapat lengkung atau terowongan, maka kelandaian di Apabila di suatu kelandaian terdapat lengkung atau terowongan, maka kelandaian di lengkung atau terowongan itu harus dikurangi sehingga jumlah tahanannya tetap. lengkung atau terowongan itu harus dikurangi sehingga jumlah tahanannya tetap.
Pasal 6 Lengkung Vertikal Pasal 6 Lengkung Vertikal
Alinemen vertikal adalah proyeksi sumbu jalan rel pada bidang vertikal yang melalui Alinemen vertikal adalah proyeksi sumbu jalan rel pada bidang vertikal yang melalui sumbu jalan rel tersebut; alinemen vertikal terdiri dari garis lurus, dengan atau tanpa sumbu jalan rel tersebut; alinemen vertikal terdiri dari garis lurus, dengan atau tanpa kelandaian, dan lengkung vertikal yang berupa busur
kelandaian, dan lengkung vertikal yang berupa busur lingkaran.lingkaran.
Besar jari-jari minimum dari lengkung vertikal bergantung pada besar kecepatan Besar jari-jari minimum dari lengkung vertikal bergantung pada besar kecepatan rencana dan adalah seperti yang tercantum dalam Tabel 2.6.
rencana dan adalah seperti yang tercantum dalam Tabel 2.6.
Kecepatan Rencana Kecepatan Rencana
(Km/Jam) (Km/Jam)
Jari-Jari Minimum Lengkung Vertikal Jari-Jari Minimum Lengkung Vertikal
(Meter) (Meter) Lebih besar dari 100
Lebih besar dari 100 Sampai 100 Sampai 100 8000 8000 6000 6000 Tabel 2-6 Jari-jari min.
Tabel 2-6 Jari-jari min. lengkung vertikal.lengkung vertikal.
Letak lengkung vertikal diusahakan tidak berimpit atau bertumpangan dengan Letak lengkung vertikal diusahakan tidak berimpit atau bertumpangan dengan lengkung horizontal.
lengkung horizontal.
Pasal 7 Penampang Melintang Pasal 7 Penampang Melintang
Penampang melintang jalan rel adalah potongan pada jalan rel, dengan arah tegak Penampang melintang jalan rel adalah potongan pada jalan rel, dengan arah tegak lurus sumbu jalan rel, di mana terlihat bagian-bagian dan ukuran-ukuran jalan rel lurus sumbu jalan rel, di mana terlihat bagian-bagian dan ukuran-ukuran jalan rel dalam arah melintang.
Ukuran-ukuran penampang melintang jalan rel berjalur tunggal dan berjalur ganda Ukuran-ukuran penampang melintang jalan rel berjalur tunggal dan berjalur ganda tercantum pada table 2.7 untuk lintas lurus maupun di lintas lengkung dan dijelaskan tercantum pada table 2.7 untuk lintas lurus maupun di lintas lengkung dan dijelaskan dengan gambar 2.3, gambar 2.4, gambar 2.5 dan gambar 2.6.
dengan gambar 2.3, gambar 2.4, gambar 2.5 dan gambar 2.6.
Pada tempat-tempat khusus, seperti di perlintasan, penampang melintang dapat Pada tempat-tempat khusus, seperti di perlintasan, penampang melintang dapat disesuaikan dengan keadaan setempat.
disesuaikan dengan keadaan setempat.
h h konstan konstan Gambar 2.1 Gambar 2.1
Peninggian Elevasi Rel (h) pada lengkungan jalur tunggal Peninggian Elevasi Rel (h) pada lengkungan jalur tunggal
hh hh
kkoonnssttaann kkoonnssttaann
Gambar 2.2 Gambar 2.2
Peninggian Elevasi Rel (h) pada lengkungan Jalur Ganda Peninggian Elevasi Rel (h) pada lengkungan Jalur Ganda
d1 d1 d2 d2 aa bb cc k1 k1 k2 k2 ee aa bb cc k1 k1 k2 k2 max 1 : 2 max 1 : 2 Ballast Ballast Sub-ballast Sub-ballast max 1 : 1.5 max 1 : 1.5 3300 5500 3300 5500 4400 C CLL 11 dd 1:1 1/3 1:1 1/3
Picture
constant constant d1 d1 d2 d2 cc k1 k1 k2 k2 ee cc k1 k1 k2 k2 C CLL b b bb d1 d1 e1 e1
Picture
Picture 2.4
2.4 Railroad
Railroad cross
cross section
section at
at curves
curves -
- Single
Single Track
Track
b b cc k1 k1 40040000 2000 2000 2000 2000 1067 1067 1 : 2 1 : 2
Picture
Picture 2.5
2.5 Railroad
Railroad Cross
Cross section
section at
at Straight
Straight Sections
Sections of
of Double
Double Tracks
Tracks
2 2000000 b b 4000 4000 k1 k1 1 : 2 1 : 2 Picture
Picture 2.6 2.6 Railroad Railroad cross cross section section at at curves curves of of Double Double TracksTracks
Gambar 2.3 Gambar 2.3
Penampang Melintang Jalan Rel Penampang Melintang Jalan Rel
Pada Bagian Lurus Pada Bagian Lurus
Gambar 2.4 Gambar 2.4
Penampang Melintang Jalan Rel Penampang Melintang Jalan Rel
Pada Lengkung
Pada Lengkung – – Jalur tunggalJalur tunggal
Gambar 2.5 Gambar 2.5
Penampang Melintang Jalan Rel Penampang Melintang Jalan Rel Pada Bagian Lurus Jalur Ganda Pada Bagian Lurus Jalur Ganda
Penampang Melintang Jalan Rel Penampang Melintang Jalan Rel
Pada Lengkung Jalur Ganda Pada Lengkung Jalur Ganda
Tabel 2.7 Tabel 2.7
Penampang Melintang Jalan Rel Penampang Melintang Jalan Rel
Kelas Kelas Jalan Jalan Rel Rel V Vmaxmax (km/jam) (km/jam) d d11 (cm) (cm) b b (cm) (cm) cc (cm) (cm) k k 11 (cm) (cm) d d22 (cm) (cm) ee (cm) (cm) k k 22 (cm) (cm) aa (cm) (cm) 1 1stst 120 120 30 30 150 150 235235 265-315 265-315 15-50 15-50 25 25 375 375 185-237185-237 2 2ndnd 110 110 30 30 150 150 254 254 265-315 265-315 15-50 15-50 25 25 375 375 185-237185-237 3 3rdrd 100 100 30 30 140 140 244 244 240-270 240-270 15-50 15-50 22 22 325 325 170-200170-200 4 4thth 90 90 25 25 140 140 234 234 240-250 240-250 15-35 15-35 20 20 300 300 170-190170-190 4 4thths s 80 80 25 25 135 135 211 211 240-250 240-250 15-35 15-35 20 20 300 300 170-190170-190
BAB 3 SUSUNAN JALAN REL BAB 3 SUSUNAN JALAN REL
Pasal 1. Rel Pasal 1. Rel a.
a. UmumUmum
Rel yang dimaksud dalam peraturan ini adalah rel berat untuk jalan rel. Rel yang dimaksud dalam peraturan ini adalah rel berat untuk jalan rel. b.
b. Tipe dan Karakteristik Penampang.Tipe dan Karakteristik Penampang. 1)
1) Tipe rel untuk masing-masing kelas jalan tercantum Tipe rel untuk masing-masing kelas jalan tercantum pada table 3.1.pada table 3.1. KELAS
KELAS JALAN JALAN TIPE TIPE RELREL
I I R R 60 60 / / R R 5454 II II R R 54 54 / / R R 5050 III III R R 54 54 / / R R 50 50 / / R R 4242 IV IV R R 54 54 / / R R 50 50 / / R R 4242 V V R R 4242
Tabel 3.1 Kelas jalan dan ti
Tabel 3.1 Kelas jalan dan tipe relnya.pe relnya. 2). Karekteristik penampang rel tercantum pada Tabel 3.2. 2). Karekteristik penampang rel tercantum pada Tabel 3.2. c.
c. Jenis, Komposisi Kimia, Kekuatan dan KekerasanJenis, Komposisi Kimia, Kekuatan dan Kekerasan.. 1)
1) Jenis.Jenis.
Jenis rel yang dipakai adalah rel
Jenis rel yang dipakai adalah rel tahan aus yang sejenis dengan rel UIC-WRA.tahan aus yang sejenis dengan rel UIC-WRA. 2)
2) Komposisi kimia.Komposisi kimia.
Komposisi kima rel tercantum pada table 3.3. Komposisi kima rel tercantum pada table 3.3.
C C Si Si Ma Ma P P S S 0,60% - 0,80 % 0,60% - 0,80 % 0,15% - 0,35% 0,15% - 0,35% 0,90% - 1,10% 0,90% - 1,10% Max. 0,035% Max. 0,035% Max. 0,025% Max. 0,025%
Tabel 3.3 Komposisi kimia rel. Tabel 3.3 Komposisi kimia rel.
B B R R G G y y y y y y F F R R x x y y x x y y y y b b Besaran Geometri Rel
Besaran Geometri Rel Tipe RelTipe Rel R.42 R.42 R.50 R.50 R. R. 54 54 R.60R.60 H H (mm) (mm) 138,00 138,00 153,00 153,00 159,00 159,00 172,00172,00 B B (mm) (mm) 110,00 110,00 127,00 127,00 140,00 140,00 150,00150,00 C C (mm) (mm) 68,50 68,50 65,00 65,00 72,20 72,20 74,3074,30 D D (mm) (mm) 13,50 13,50 15,00 15,00 16,00 16,00 16,5016,50 E E (mm) (mm) 40,50 40,50 49,00 49,00 49,40 49,40 51,0051,00 F F (mm) (mm) 23,50 23,50 30,00 30,00 30,20 30,20 31,5031,50 G G (mm) (mm) 72,00 72,00 76,00 76,00 74,97 74,97 80,9580,95 R R (mm) (mm) 320,00 320,00 500,00 500,00 508,00 508,00 120,00120,00 A (cm A (cm22) ) 54,26 54,26 64,20 64,20 69,34 69,34 76,8676,86 W W (kg/m) (kg/m) 42,59 42,59 50,40 50,40 54,43 54,43 60,3460,34 Y Ybb(mm) (mm) 68,50 68,50 71,60 71,60 76,20 76,20 80,9580,95 IIxx (cm(cm44) ) 1,263 1,263 1,860 1,860 2,345 2,345 3,0663,066 A
A : : Luas Luas PenampangPenampang W
W : : Berat Berat rel rel per per metermeter Y
Ybb : Momen inersia terhadap sumbu X.: Momen inersia terhadap sumbu X.
IIxx : Jarak tepi bawah rel ke garis netral: Jarak tepi bawah rel ke garis netral
Tabel 3.2 Karakteristik Penampang Rel. Tabel 3.2 Karakteristik Penampang Rel.
celah rel celah rel 7 7 1166 77 1 133 5656 1133 52 52 30 30 (satuan sentimeter) (satuan sentimeter)
Kuat tarik minimum rel adalah 90 kg/mm
Kuat tarik minimum rel adalah 90 kg/mm22 dengan perpanjangan minimumdengan perpanjangan minimum
10%. 10%. 4)
4) Kekerasan rel.Kekerasan rel.
Kekerasan kepala rel tidak boleh kurang dari pada 240
Kekerasan kepala rel tidak boleh kurang dari pada 240 Brinell.Brinell.
d.
d. Jenis Rel Menurut Panjangnya.Jenis Rel Menurut Panjangnya.
Menurut panjangnya dibedak
Menurut panjangnya dibedakan tiga jenis ran tiga jenis rel, yaitu :el, yaitu :
1)
1) Rel standar adalah rel yang Rel standar adalah rel yang panjangnya 25 meter.panjangnya 25 meter.
2)
2) Rel pendek adalah rel yang panjangnya maksimal 100 m.Rel pendek adalah rel yang panjangnya maksimal 100 m.
3)
3) Rel panjang adalah rel yang panjang tercantum minimumnya pada Tabel 3.4.Rel panjang adalah rel yang panjang tercantum minimumnya pada Tabel 3.4.
Jenis
Jenis bantalan bantalan Tipe Tipe RelRel
R R 42 42 R. 50 R. 50 R.54 R.54 R. R. 6060 Bantalan kayu Bantalan kayu Bantalan beton Bantalan beton 325 m 325 m 200 m 200 m 375 m 375 m 225 m 225 m 400 m 400 m 250 m 250 m 450 m 450 m 275 m 275 m
Tabel 3.4 Panjang minimum rel panjang. Tabel 3.4 Panjang minimum rel panjang.
e.
e. Sambungan Rel.Sambungan Rel.
1)
1) Umum.Umum.
Sambungan rel adalah konstruksi yang mengikat dua ujung rel sedemikian Sambungan rel adalah konstruksi yang mengikat dua ujung rel sedemikian rupa sehingga operasi kereta api tetap aman dan nyaman.
rupa sehingga operasi kereta api tetap aman dan nyaman.
Yang dimaksud dengan sambungan rel dalam pasal, ini adalah sambungan Yang dimaksud dengan sambungan rel dalam pasal, ini adalah sambungan yang menggunakan pelat penyambung dan baut-mur.
yang menggunakan pelat penyambung dan baut-mur. 2)
2) Macam sambungan.Macam sambungan.
Dari kedudukkan terhadap bantalan dibedakan dua macam sambungan rel, Dari kedudukkan terhadap bantalan dibedakan dua macam sambungan rel, yaitu :
yaitu : a)
a) Sambungan melayang (Gambar 3.1)Sambungan melayang (Gambar 3.1)
b)
35 35 15 15 (satuan sentimeter) (satuan sentimeter) sambungan sambungan sambungan sambungan sambungan sambungan sambungan sambungan sambungan sambungan sambungan sambungan sambungan sambungan
Gambar 3.1 Sambungan melayang Gambar 3.1 Sambungan melayang
Antara kedua bantalan ujung berjarak 30 cm Antara kedua bantalan ujung berjarak 30 cm Jarak sumbu ke sumbu bantalan ujung 52 cm Jarak sumbu ke sumbu bantalan ujung 52 cm
Gambar 3.2 Sambungan menumpu Gambar 3.2 Sambungan menumpu
3)
3) Penempatan sambungan di sepur.Penempatan sambungan di sepur. Penempatan sambun
Penempatan sambungan di sepur ada dua gan di sepur ada dua macam yaitu :macam yaitu :
a)
a) Penempatan secara siku (gambar 3.3), dimana kedua sambungan beradaPenempatan secara siku (gambar 3.3), dimana kedua sambungan berada pada satu garis yang tegak lurus terhadap sumbu sepur.
pada satu garis yang tegak lurus terhadap sumbu sepur. b)
b) Penempatan secara berselang-seling (Gambar 3.4), dimana keduaPenempatan secara berselang-seling (Gambar 3.4), dimana kedua sambungan rel tidak berada pada satu garis yang tegak lurus terhadap sambungan rel tidak berada pada satu garis yang tegak lurus terhadap sumbu sepur.
sumbu sepur.
Gambar 3.3 Sambungan Siku Gambar 3.3 Sambungan Siku
Gambar 3.4 Sambungan berselang-seling. Gambar 3.4 Sambungan berselang-seling.
4)
4) Sambungan rel di jembatan.Sambungan rel di jembatan. a)
a) Didalam daerah bentang jembatan harus diusahakan agar tidak adaDidalam daerah bentang jembatan harus diusahakan agar tidak ada sambungan rel.
b)
b) Rel dengan bantalan sebagai suatu kesatuan harus dapat bergeser terhadapRel dengan bantalan sebagai suatu kesatuan harus dapat bergeser terhadap gelegar pemikulnya.
gelegar pemikulnya.
Yang dimaksud dengan gelegar pemikul adalah bagian dari konstruksi Yang dimaksud dengan gelegar pemikul adalah bagian dari konstruksi jembatan dimana bantalan menumpu secara langsung.
jembatan dimana bantalan menumpu secara langsung. c)
c) Jika digunakan rel standar atau rel pendek, letak sambungan rel harusJika digunakan rel standar atau rel pendek, letak sambungan rel harus berada di luar pangkal jembatan.
berada di luar pangkal jembatan. d)
d) Jika digunakan rel panjang, jarak antara ujung jembatan daerah muai relJika digunakan rel panjang, jarak antara ujung jembatan daerah muai rel itu (Gambar 3.5).
itu (Gambar 3.5).
Panjang daerah muai untuk bermacam-macam rel tercantum pada table Panjang daerah muai untuk bermacam-macam rel tercantum pada table 3.5.
3.5.
Jenis bantalan
Jenis bantalan Tipe RelTipe Rel R R 42 42 R. 50 R. 50 R.54 R.54 R. R. 6060 Bantalan kayu Bantalan kayu Bantalan beton Bantalan beton 165 m 165 m 100 m 100 m 190 m 190 m 115 m 115 m 200 m 200 m 125 m 125 m 225 m 225 m 140 m 140 m
Tabel 3.5 Panjang daerah muai. Tabel 3.5 Panjang daerah muai.
ssaammbbuunnggaann ssaammbbuunnggaann
> > LL
dm
dm > > LLdmdm
Gambar 3.5 Penempatan sambungan rel panjang
Gambar 3.5 Penempatan sambungan rel panjang yang melintasi jembatan.yang melintasi jembatan. L
Ldmdm= Panjang daerah muai rel= Panjang daerah muai rel
f.
f. Celah.Celah.
Di sambungan rel harus ada celah untuk menampung timbulnya perubahan Di sambungan rel harus ada celah untuk menampung timbulnya perubahan panjang rel akibat perubahan suhu.
panjang rel akibat perubahan suhu. Besar celah ditentukan sebagai berikut : Besar celah ditentukan sebagai berikut : 1)
1) Untuk semua tipe rel, besar Untuk semua tipe rel, besar celah pada sambungan rel standard dan rel pendek celah pada sambungan rel standard dan rel pendek tercantum pada table 3.6.
tercantum pada table 3.6. 2)
2) Pada sambungan rel panjang, besar celah dipengaruhi juga oleh tipe rel danPada sambungan rel panjang, besar celah dipengaruhi juga oleh tipe rel dan jenis bantalan.
jenis bantalan. a)
a) Untuk sambungan rel panjang pada bantalan kayu, besar celah tercantumUntuk sambungan rel panjang pada bantalan kayu, besar celah tercantum pada Tabel 3.7.
pada Tabel 3.7. b)
b) Untuk sambungan rel panjang pada bantalan beton, besar celah tercantumUntuk sambungan rel panjang pada bantalan beton, besar celah tercantum pada Tabel 3.8.
Suhu Suhu Pemasangan Pemasangan ((ooC)C) Panjang Rel (m) Panjang Rel (m) 25 25 50 50 75 75 100100 ≤ ≤ 2020 22 22 24 24 26 26 28 28 30 30 32 32 34 34 36 36 38 38 40 40 42 42 44 44 ≥ ≥ 4646 8 8 7 7 6 6 6 6 5 5 4 4 4 4 3 3 3 3 2 2 2 2 1 1 0 0 0 0 14 14 13 13 12 12 10 10 9 9 8 8 7 7 6 6 4 4 3 3 2 2 1 1 0 0 0 0 16 16 16 16 16 16 15 15 13 13 11 11 9 9 7 7 6 6 4 4 2 2 0 0 0 0 0 0 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 14 14 12 12 9 9 7 7 4 4 2 2 0 0 0 0 0 0 Tabel
Tabel 3.6 3.6 Besar celah Besar celah untuk semua tipe untuk semua tipe rel pada sarel pada sambungan rel stambungan rel standard danndard dan rel pendek.
rel pendek.
g.
g. Suhu pemasangan.Suhu pemasangan.
1)
1) Yang dimaksud dengan suhu pemasangan adalah suhu rel Yang dimaksud dengan suhu pemasangan adalah suhu rel waktu pemasangan.waktu pemasangan. 2)
2) Batas suhu pemasangan rel standard dan rel pendek tercantum pada Tabel 3.9.Batas suhu pemasangan rel standard dan rel pendek tercantum pada Tabel 3.9. 3)
3) Batas suhu pemasangan rel panjang pada bantalan kayu tercantum dalam tableBatas suhu pemasangan rel panjang pada bantalan kayu tercantum dalam table 3.10.
3.10. 4)
4) Batas suhu pemasangan rel panjang pada bantalan beton tercantum pada tableBatas suhu pemasangan rel panjang pada bantalan beton tercantum pada table 3.11. 3.11. Suhu Suhu Pemasangan Pemasangan ((OOC)C) Panjang Rel (m) Panjang Rel (m) R.42 R.42 R.50 R.50 R.54 R.54 R.60R.60 ≤ ≤ 2828 30 30 32 32 34 34 36 36 38 38 40 40 16 16 14 14 12 12 10 10 8 8 6 6 5 5 16 16 16 16 14 14 11 11 9 9 6 6 4 4 16 16 16 16 15 15 12 12 10 10 8 8 6 6 16 16 16 16 16 16 13 13 10 10 8 8 6 6
44 44 46 46 ≥ ≥ 4848 3 3 2 2 2 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 2 4 4 3 3 2 2 Tabel 3.7
Tabel 3.7 Besar celah untuk sambBesar celah untuk sambungan rel panjang paungan rel panjang pada bantalan kayu.da bantalan kayu.
Suhu Suhu Pemasangan Pemasangan ((OOC)C) Panjang Rel (m) Panjang Rel (m) R.42 R.42 R.50 R.50 R.54 R.54 R.60R.60 ≤ ≤ 2222 24 24 26 26 28 28 30 30 32 32 34 34 36 36 38 38 40 40 42 42 44 44 ≥ ≥ 4646 16 16 14 14 13 13 13 13 10 10 8 8 7 7 6 6 5 5 4 4 3 3 3 3 2 2 16 16 16 16 14 14 12 12 11 11 9 9 8 8 6 6 5 5 4 4 3 3 3 3 2 2 16 16 16 16 15 15 13 13 11 11 10 10 8 8 7 7 5 5 4 4 3 3 3 3 2 2 16 16 16 16 16 16 14 14 12 12 10 10 9 9 7 7 6 6 5 5 4 4 3 3 2 2
Tabel 3.8 Besar celah untuk sambungan rel panjang pada bantalan beton. Tabel 3.8 Besar celah untuk sambungan rel panjang pada bantalan beton.
Panjang Rel (m)
Panjang Rel (m) Suhu (Suhu (
o o C) C) Min. Max. Min. Max. 25 25 50 50 75 75 100 100 20 20 20 20 26 26 30 30 44 44 42 42 40 40 40 40
Tabel 3.9 Batas suhu pemasangan rel standard dan rel pendek. Tabel 3.9 Batas suhu pemasangan rel standard dan rel pendek.
Rel
Rel Suhu (Suhu (
o o C) C) Min. Max. Min. Max. R.42 R.42 R.50 R.50 R.54 R.54 R.60 R.60 28 28 30 30 30 30 32 32 46 46 48 48 48 48 48 48 Tabel 3.11 Batas suhu
X X X X Y Y ga
garis nris netraletral
Y Y
Kecuali pada wesel dan di emplasemen dengan kecepatan kereta lambat, rel Kecuali pada wesel dan di emplasemen dengan kecepatan kereta lambat, rel dipasang miring ke dalam dengan kemiringan 1:40 (Gambar 3.6).
dipasang miring ke dalam dengan kemiringan 1:40 (Gambar 3.6).
Gambar
Gambar 3.6 3.6 Rel Rel dipasang dipasang miring miring ke ke dalam dalam kemiringan kemiringan (tg (tg ) 1 ) 1 : 4: 400
i.
i. Pelat penyambung.Pelat penyambung.
1)
1) Sepasang pelat penyambung harus sama panjang dan Sepasang pelat penyambung harus sama panjang dan mempunyai ukuran yangmempunyai ukuran yang
sama. sama. 2)
2) Bidang singgung antara pelat penyambung dengan sisi bawah kepala rel danBidang singgung antara pelat penyambung dengan sisi bawah kepala rel dan sisi atas kaki rel harus sesuai kemiringannya, agar didapat bidang geser yang sisi atas kaki rel harus sesuai kemiringannya, agar didapat bidang geser yang cukup.
cukup.
Kemiringan tepi bawah kepala rel dan t
Kemiringan tepi bawah kepala rel dan tepi atas rel epi atas rel tercantum pada table 3.12.tercantum pada table 3.12.
Tepi
Tepi bawah bawah kepala kepala rel rel Tepi atas Tepi atas kaki kaki relrel R.42 R.42 R.50 R.50 R.54 R.54 R.60 R.60 1 1 : : 44 1 : 2,75 1 : 2,75 1 : 2,75 1 : 2,75 1 : 2,93 1 : 2,93 1 1 : : 44 1 1 : : 2,752,75 1 1 : : 2,752,75 1 1 : : 2,752,75 Tabel 3.12 Kemiringan tepi bawah kepala rel dan
Tabel 3.12 Kemiringan tepi bawah kepala rel dan tepi atas kaki rel.tepi atas kaki rel.
3)
3) Ukuran-ukuran standar pelat penyambung untuk rel R.42, R.50, dan R.54Ukuran-ukuran standar pelat penyambung untuk rel R.42, R.50, dan R.54 tercantum pada Gambar 3.7.
tercantum pada Gambar 3.7. 4)
4) Ukuran-ukuran standar pelat penyambung ukuran rel R. 60 tercantum padaUkuran-ukuran standar pelat penyambung ukuran rel R. 60 tercantum pada gambar 3.8.
7 700 116600 7700 1 13300 113300 560 560 ( satuan
( satuan milimetmilimeter)er)
( satuan milimeter) ( satuan milimeter) 70 70 130 130 130 130 160 160 820 820 130 130 130 130 70 70
Gambar 3.7 Pelat penyambung untuk rel R.42, R.50 dan R.54. Ø lubang 24 Gambar 3.7 Pelat penyambung untuk rel R.42, R.50 dan R.54. Ø lubang 24
mm Tebal pelat 20 mm. mm Tebal pelat 20 mm.
Tinggi disesuaikan dengan masing-masing rel. Tinggi disesuaikan dengan masing-masing rel.
Gambar 3.8 Pelat penyambung untuk rel R.60. Ø
Gambar 3.8 Pelat penyambung untuk rel R.60. Ø lubang 25 mm.lubang 25 mm.
Tebal pelat 20 mm. Tebal pelat 20 mm.
5)
5) Kuat tarik bahan penyambung tidak boleh kurang dari pada 58 Kuat tarik bahan penyambung tidak boleh kurang dari pada 58 kg/mmkg/mm22 dengandengan
perpanjangan minimum 15%. perpanjangan minimum 15%. 6)
6) Komposisi kimia bahan pelat Komposisi kimia bahan pelat penyambung tercantum pada table 3.13penyambung tercantum pada table 3.13
C Si
C Si Mn Mn P P SS
0,40-0,55
0,40-0,55 Max. Max. 0,40 0,40 0,55-1,00 0,55-1,00 Max. Max. 0,40 0,40 Max. Max. 0,400,40
Table 3.13 Komposisi kimia bahan pelat penyambung (%). Table 3.13 Komposisi kimia bahan pelat penyambung (%). 7)
7) Sebuah pelat penyambung harus kuat menahan momen sebesar :Sebuah pelat penyambung harus kuat menahan momen sebesar :
M = M
M = M11+ M+ M22= Q x a + m x Q x h ………..(3.1)= Q x a + m x Q x h ………..(3.1)
Dimana : Dimana : Q
20 20 Rel Rel PP T" T" T"T" P P Rel Rel b b cc d d aa T T T" T" C CLL Roda Roda Q Q QQ R R aa R R Q Q QQ Roda Roda R R11 RR22 R R11 RR22 b b aa h h m
m = = koefisien koefisien geser geser maks maks = = 0,030,03 h
h = = jarak jarak vertikal vertikal garis garis gaya gaya geser.geser.
Gambar 3.9 Gaya-gaya pada pelat
Gambar 3.9 Gaya-gaya pada pelat penyambungpenyambung
8)
8) Baut pelat penyambung harus kuat Baut pelat penyambung harus kuat menahan gaya sebagai berikut:menahan gaya sebagai berikut: H H = T = T + T+ T‟‟‟‟ M M = H ( = H ( a + b + a + b + c ) = Mc ) = M‟‟+ M+ M‟‟‟‟ M‟ = H ( a + b) = M‟ = H ( a + b) = T‟ x b ………T‟ x b ………...………...……..…….. (3.2)(3.2) M‟‟= T” (a + b) + T” x M‟‟= T” (a + b) + T” x cc Dimana
Dimana : : H H = = gaya lateral gaya lateral yang bekerja yang bekerja di di tengah-tengah pelattengah-tengah pelat penyambung
penyambung T‟ T‟‟
T‟ T‟‟ = = gaya tarik bagaya tarik baut sebelah luar daut sebelah luar dan dalam.n dalam. M
M‟ M‟‟‟ M‟‟ = momen = momen peralihan peralihan sebelah sebelah dalam dalam dan dan luar luar pelat pelat sambungsambung antara pusat tekanan rel
antara pusat tekanan rel yang akan disambung.yang akan disambung. M
Gambar
Gambar 3.10 3.10 Gaya-gaya Gaya-gaya pada pada baut baut pelat ppelat penyambungenyambung
Pasal 2. Wesel Pasal 2. Wesel a.
a.Fungsi Wesel .Fungsi Wesel .
Fungsi we
Fungsi wesel adsel adalah alah untuk menguntuk mengalihkan alihkan kereta kereta dari dari satu satu sepur sepur ke sepuke sepur yang r yang lain.lain.
b.
b.Jenis Wesel.Jenis Wesel.
1)
1) Wesel biasa.Wesel biasa. (a).
(a). Wesel Biasa.Wesel Biasa. (1)
(1) Wesel biasa kiri (gambar 3.11)Wesel biasa kiri (gambar 3.11) (2)
(2) Wesel Wesel biasa kanbiasa kanan (gambar an (gambar 3.12)3.12) (b).
(b). Wesel dalam lengkung.Wesel dalam lengkung. (1)
(1) Wesel Wesel serah serah lengkung lengkung (gambar (gambar 3.13)3.13) (2)
(2) Wesel berlawanan arah lengkung (gambar 3.14)Wesel berlawanan arah lengkung (gambar 3.14) (3)
(3) Wesel Wesel simetris simetris (gambar (gambar 3.15)3.15) 2)
2) Wesel tiga jalanWesel tiga jalan (a).
(a). Wesel Biasa.Wesel Biasa. (1)
(1) Wesel biasa searah (gambar 3.16)Wesel biasa searah (gambar 3.16) (2)
(2) Wesel biasWesel biasa berlawanaa berlawanan arah n arah (gambar 3.17)(gambar 3.17) (b).
(b). Wesel dalam lengkung.Wesel dalam lengkung. (1)
(1) Wesel Wesel serah serah tergeser tergeser (gambar (gambar 3.16)3.16) (2)
(2) Wesel berlawanan arah tergeser (gambar 3.19)Wesel berlawanan arah tergeser (gambar 3.19) 3)
3) Wesel Inggris.Wesel Inggris. Wesel In
Wesel Inggris adalah ggris adalah wesel wesel yang dilenyang dilengkapi degkapi dengan gengan gerakan-gerakan rakan-gerakan lidahlidah serta sepur-sepur bengkok.
serta sepur-sepur bengkok.
gambar
gambar 3.12 3.12 gambar gambar 3.113.11
wesel biasa wesel biasa wesel kanan wesel kanan wesel biasa wesel biasa wesel kiri wesel kiri
rel jentak rel jentak rel lidah
rel lidah rel paksarel paksa rel sayaprel sayap sepur lurus sepur lurus
s s e e p p u u r
r b b e e n n g g k k o o k k a
a bb cc
r
r e e l l l l i i d d a a h h r
r e e l l j j a a n n t t a a k k
jarum jarum
Gambar 3.22 wesel dan bagannya Gambar 3.22 wesel dan bagannya gambar
gambar 3.13 3.13 gambar 3.14 gambar 3.14 gambar gambar 3.153.15
Gambar
Gambar 3.16 3.16 Gambar Gambar 3.17 3.17 Gambar Gambar 3.183.18
Gambar
Gambar 3.19 3.19 Gambar Gambar 3.20 3.20 Gambar Gambar 3.123.12
(a).
(a). Wesel InggWesel Inggris ris lengkap (galengkap (gambar 3.20mbar 3.20)) (b).
(b).Wesel Wesel Inggris tak Inggris tak lengkap (galengkap (gambar 3.21).mbar 3.21). c.
c. Komponen Wesel.Komponen Wesel. Wesel
Wesel terdiri ataterdiri atas s komponen-kompokomponen-komponen nen sebagai sebagai berikut:berikut: 1)
1) LidahLidah 2)
2) Jarum beserta Jarum beserta sayap-sayapnsayap-sayapnyaya 3)
3) Rel lantak Rel lantak 4)
4) Rel paksaRel paksa 5)
5) Sistem penggerak Sistem penggerak
Gambar 3.22 Wesel dan bagannya Gambar 3.22 Wesel dan bagannya
searah
searah berlawananberlawananaraharah searahsearah
tergeser tergeser berlawanan berlawanan arah tergeser arah tergeser wesel Inggris wesel Inggris tak lengkap tak lengkap wesel Inggris lengkap
23 23 1)
1) LidahLidah a)
a) Lidah Lidah adalah adalah bagian bagian dari dari wesel wesel yang yang dapat dapat bergerak bergerak pangkal pangkal lidah lidah disebutdisebut akar.
akar.
b)
b) Jenis LidahJenis Lidah (1)
(1) Lidah berputar adalaLidah berputar adalah lidah yang mempunyai h lidah yang mempunyai engsel diakarnyaengsel diakarnya.. (2)
(2) Lidah berpegas adalah lidah yang Lidah berpegas adalah lidah yang akarnya dijepit sehingga melenturakarnya dijepit sehingga melentur c)
c) SSuudduut t TTuummppu u (( )) Sudut
Sudut tumpu tumpu adalah adalah sudut sudut antara antara lidah lidah dengan dengan rel lanrel lantak, stak, sudut udut tumputumpu dinyatakan
dinyatakan dengan dengan tangennya, tangennya, yakni yakni tg tg = = 1 1 : m, : m, dimana dimana harga harga mm berkisar
berkisar antara 2antara 25 sampai 5 sampai 100.100. 2)
2) Jarum Jarum dan dan sayap-sayapnyasayap-sayapnya a)
a) Jarum Jarum adalah adalah bagian bagian wesel wesel yang yang memberi memberi kemungkinan kemungkinan kepada kepada flensflens roda melalui perpotongan bidang-bidang jalan yang terputus antara dua rel. roda melalui perpotongan bidang-bidang jalan yang terputus antara dua rel. b)
b) SudSudut kut kelaelancincipan pan jarjarum (um ( ) di) disesebut but sudsudut sut sampamping ing araarah.h. c)
c) Jenis jarum.Jenis jarum. (1)
(1) Jarum-kaku dibaut (bolted rigid frogs) terbuat dari Jarum-kaku dibaut (bolted rigid frogs) terbuat dari potongan-potongapotongan-potongann rel standa
rel standar yang r yang dibuat (gambdibuat (gambar ar 3.23).3.23). (2)
(2) JarumJarum – – relrel – – pegas pegas (spring (spring rail frograil frogs)s) (3)
(3) Jarum-bajaJarum-baja – – manganmangan – – cor cor (cast (cast manganese manganese steel steel frogs). Dfrogs). Dipakai ipakai untuk untuk lintas
lintas dengan dengan tonase tonase beban beban yang yang berat berat atau atau lintas lintas yang yang frekuensifrekuensi keretanya tinggi.
keretanya tinggi. (4)
(4) JarumJarum – – keraskeras – – terpusat (hard centered frogs).terpusat (hard centered frogs). 3)
3) Rel lantak Rel lantak Suatu
Suatu rel yang diperel yang diperkuat badannyrkuat badannya yang berga yang berguna untuk una untuk bersandarnya bersandarnya lidah- lidah-lidah wesel.
lidah wesel. 4)
4) Rel paksaRel paksa
Dibuat dari rel biasa yang kedua ujungnya dibengok ke dalam. Rel paksa luar Dibuat dari rel biasa yang kedua ujungnya dibengok ke dalam. Rel paksa luar biasanya dibuat pada rel lantak dengan menempatkan blok pemisah biasanya dibuat pada rel lantak dengan menempatkan blok pemisah diantaranya.
diantaranya. 5)
5) Sistem penggerak atau pembalik weselSistem penggerak atau pembalik wesel Pembalik
Pembalik wesel wesel adalah adalah mekanisme mekanisme untuk untuk menggerakkmenggerakkan an ujung ujung lidah.lidah. d.
d.Nomor daNomor dan kecepatan n kecepatan ijin pada ijin pada weselwesel
1)
1) Nomor wesel, n, menyatakan tangeNomor wesel, n, menyatakan tangent sudut simpang yakni : tg = 1: nt sudut simpang yakni : tg = 1: n.n. 2)
2) Kecepatan ijin pada wesel tercantum pada tabel 3.14.Kecepatan ijin pada wesel tercantum pada tabel 3.14. tg
tg 1: 1: 8 8 1: 1: 10 10 1: 1: 12 12 1: 1: 14 14 1: 16 1: 16 1: 1: 2020 No.
No. wesel wesel W W 8 8 W W 10 10 W W 12 12 W W 14 14 W W 16 16 W W 22 Kecepatan
Kecepatan ijin (km/j)
ijin (km/j) 25 25 35 35 45 45 50 50 60 60 7070 Tabel 3.14 Nomor wesel dan kecepatan ijinnya.
a a LL A A b b M M 1 : n 1 : n Gambar
Gambar 3. 3. 23 23 (a) (a) JarumJarum – – kakukaku – – dibaut dibaut (bolted (bolted rigid rigid frog)frog) (b) Jarum
(b) Jarum – – relrel – – pegas (spring rail frog).pegas (spring rail frog). (c) Jarum
(c) Jarum – – bajabaja – – mangan dengan rel (Rail boundmangan dengan rel (Rail bound manganese steel frog)
manganese steel frog)
e.
e. Bagan weselBagan wesel
Dalam
Dalam gambar-gambar regambar-gambar rencana uncana untuk pelaksantuk pelaksanaan pemnaan pembangunan, bangunan, wesel-weselwesel-wesel
biasanya
biasanya digambar hanya digambar hanya menurut menurut bagannya.bagannya.
1)
1) Bagan ukuran (gambar 3.24)Bagan ukuran (gambar 3.24)
Bagan
Bagan ukuran ukuran menjelaskan menjelaskan ukuran-ukuran ukuran-ukuran wesel wesel dan dan dapat dapat digunakandigunakan
untuk menggambar bagan emplasemen secara
untuk menggambar bagan emplasemen secara berskala.berskala.
Gambar 3
Gambar 3.24 Bagan .24 Bagan ukuran weukuran wesel.sel.
M = Titik tengah wesel = titik potong antara sumbu sepur lurus dengan M = Titik tengah wesel = titik potong antara sumbu sepur lurus dengan
sumbu sepur belok. sumbu sepur belok. A
A = = Permulaan Permulaan wesel wesel = = tempat tempat sambungan sambungan rel rel lantak lantak dengan dengan rel rel biasa.biasa.
Jarak
Jarak dari A dari A ke ke ujung lidah ujung lidah biasanya biasanya kira-kira 1000 kira-kira 1000 mm.mm. B
B = Akhir = Akhir wesel wesel = = sisi sisi belakang belakang jarum.jarum. n
n = = Nomor Nomor wesel.wesel.
Gambar
l'l' a' a' b'b' d' d' aa bb ll d d Gambar
Gambar 3.27 3.27 memperlihatkan memperlihatkan bagan bagan ukuran ukuran wesel wesel InggrisInggris
Gambar 3.25
Gambar 3.25 Bagan ukuran Bagan ukuran wesel wesel Biasa.Biasa.
Gambar 3.26
Gambar 3.2
Gambar 3.27 Bagan u7 Bagan ukuran wesekuran wesel l InggrisInggris 2)
2) Bagan pelayananBagan pelayanan
Dalam gambar emplasemen, bagan pelayanan menjelaskan kedudukan luar Dalam gambar emplasemen, bagan pelayanan menjelaskan kedudukan luar biasa lidah-lidah wesel dan
biasa lidah-lidah wesel dan cara pelayanannya.cara pelayanannya. f.
f. Pemilihan weselPemilihan wesel
Pemilihan wesel didasarkan pada kebutuhan pelayanan dengan memperlihatkan Pemilihan wesel didasarkan pada kebutuhan pelayanan dengan memperlihatkan ketidaksedia
ketidaksediaan lahan, an lahan, kecepatan, biaya pembangunan serta pemeliharaan.kecepatan, biaya pembangunan serta pemeliharaan. g.
g. Syarat-syarat BahanSyarat-syarat Bahan
Syarat-syarat bahan untuk wesel ditentukan dalam peraturan Bahan jalan Rel Syarat-syarat bahan untuk wesel ditentukan dalam peraturan Bahan jalan Rel Indonesia (PBJRI) atau Peraturan Dinas No. 10 C
Indonesia (PBJRI) atau Peraturan Dinas No. 10 C h.
h. Bantalan weselBantalan wesel
Wesel dipasang pada bantalan kayu. Ukuran penampang sama dengan batalan Wesel dipasang pada bantalan kayu. Ukuran penampang sama dengan batalan biasa.
biasa. Ukuran Ukuran panjang panjang bantalan bantalan disesuaikan disesuaikan dengan dengan kebutuhan kebutuhan setempat.setempat. Kekuatan bantalan harus diperiksa
Kekuatan bantalan harus diperiksa i.
i. Perhitungan weselPerhitungan wesel 1)
1) PerhituPerhitungan ngan wesel wesel harus harus didasarkan didasarkan pada pada keadaan keadaan lapangan, lapangan, kecepatan,kecepatan, nomor
nomor wesel wesel dan dan jenis jenis lidah.lidah. 2)
2) BeBesasar r susududut t tutumpmpu u (( ) ) dadan n susududut t sisimpmpanang g ararah ah (( ) ) didihihitutungng/ / diditetentntukukanan dari
dari nomor nomor wesel wesel dan dan jenis jenis lidah lidah yang yang dipilih.dipilih. 3)
3) Panjang Panjang jarum jarum (gambar (gambar 3.28).3.28). Panja
Panjang ng jarum jarum ditenditentukatukan n oleh oleh sudusudut t simpasimpang ng arah arah (( ), ), lebalebar r kepakepala la relrel (B),
(B), lebar lebar kaki kaki rel rel (C) (C) dan dan jarak jarak siar siar (d) (d) berdasarkan berdasarkan hubungan hubungan :: P= P= ... ((33..33)) )) 2 2 / / (( 2 2 )) (( d d tg tg C C B B Gambar 3.28 Gambar 3.28 P P E E FF d d B B CC f f 1/2 1/2
4)
4) Panjang Panjang lidah lidah (gambar (gambar 3.29)3.29) Pada
Pada lidah lidah berpuberputar, tar, panjapanjang ng lidah lidah ditenditentukatukan n oleh oleh besbesar ar sudusudut t tumpu tumpu (( ) ) ,, labar
labar kepala kepala rel rel (B) (B) dan dan jarak jarak dari dari akar akar lidah lidah ke ke rel rel lantak lantak (Y).(Y). Panjang
Panjang lidah lidah (t) (t) ditentukan ditentukan oelh oelh persamaan persamaan (3.4)(3.4)
)) 4 4 .. 3 3 (( ... ... ... ... ... ... sin sin Y Y B B t t
Untuk lidah berpegas (gambar 3.30) panjang lidah ditentukan oleh persamaan Untuk lidah berpegas (gambar 3.30) panjang lidah ditentukan oleh persamaan (3.5).
(3.5). T
T > > B B cotg cotg ... ... (3.5)(3.5)
5)
5) Jari-jari Jari-jari lengkung lengkung luar (gambar luar (gambar 3.31)3.31) Jari
Jari – – jari jari lengkung lengkung luar luar (R(Ruu) dihitung ) dihitung dengan dengan persamaan persamaan (3.6)(3.6)
Dimana : Dimana : R
Ruu = Panjang jari-jari lengkung luar.= Panjang jari-jari lengkung luar.
W
W = = Lebar Lebar sepursepur t
t = = Panjang Panjang lidahlidah p
p = = Panjang Panjang jarumjarum
tt Gambar 3.29 Gambar 3.29 Gambar 3.30 Gambar 3.30 R R UU tt
Panjang jari-jari
Panjang jari-jari lengkung luar yalengkung luar yang dihitung dengang dihitung dengan persamaan n persamaan (3.6) tidak (3.6) tidak boleh lebih kecil dari pada:
boleh lebih kecil dari pada:
)) 7 7 .. 3 3 (( ... ... ... ... ... ... 8 8 ,, 7 7 2 2 V V R R 6)
6) Jari-jari Jari-jari lengkung lengkung dalam (R) dalam (R) dihitung dadihitung dari jari-jari ri jari-jari lengkung lengkung luar denluar dengangan memperhatikan masalah pelebaran sepur.
memperhatikan masalah pelebaran sepur.
Pasal
Pasal 3 3 Penambat Penambat RelRel a.
a. UmumUmum
Penambat rel adalah suatu komponen yang menambatkan rel pada bantalan Penambat rel adalah suatu komponen yang menambatkan rel pada bantalan sedemikian rupa sehingga kedudukan rel adalah tetap,
sedemikian rupa sehingga kedudukan rel adalah tetap, kokoh dan tidak bergeser.kokoh dan tidak bergeser.
b.
b. Jenis PenambatJenis Penambat
L L A A W W C C D D '' C C '' C C tt A A D D D D '' E E GG G G '' E E '' R R R R Gambar 3.31 Gambar 3.31 U U U U