1
ANALISIS KESULITAN MAHASISWA ANGKATAN 2013 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA STKIP PGRI PASURUAN PADA
POKOK BAHASAN TEKNIK PENGINTEGRALAN
Andika Setyo Budi Lestari
Program Studi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Pasuruan
ABSTRAK: Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam suatu negara.
Dengan kualitas pendidikan yang baik, diharapkan dapat menghasilkan generasi penerus bangsa yang berkuaitas. Hal yang paling menentukan untuk tercapainya pendidikan yang berkualitas adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan. Kemampuan ini membutuhkan pemikiran yang sistematis, logis dan ktitis yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika. Kalkulus II merupakan mata kuliah dasar sebagai mata kuliah prasyarat. Dari tahun ketahun banyak mahasiswa yang tidak lulus, hal ini dimungkinkan kalkulus II merupakan mata kuliah yang sulit sehingga perlu dilakukan analisis kesulitan untuk mahasiswa STKIP PGRI Pasuruan agar di tahun-tahun berikutnya ada perbaikan. Instrumen yang digunakan berupa tes dan angket. Teknik statistik yang digunakan dalam analisis hubungan lebih dari dua variabel meliputi koefisien korelasi berganda, Koefisien penentu berganda, dan regresi linear berganda. Untuk angketnya kemudian dianalisis dan dideskrpsikan. Mahasiswa mengalami kesulitan belajar dalam hal penguasaan konsep, keterampilan dan pemecahan masalah sebesar 52%. Sebesar 5,18% faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar siswa dalam menyelesaikan persoalan lingkaran adalah faktor intern yang meliputi: 1. Intelegensi,hal ini dilihat dari kecakapan mahasiswa dalam menyelesaikan persoalan teknik pengintegralan. 2. Minat, hal ini dilihat dari ketertarikan mahasiswa terhadap pembelajaran. 3.motivasi, hal ini dilihat dari perhatian mahasiswa terhadap pembelajaran. faktor ekstern yang meliputi:keluarga, kampus (Perguruan Tinggi).
Kata Kunci: Analisis kesulitan Mahamahasiswa, Teknik Pengintegralan, Prodi Pendidikan Matematika
PENDAHULUAN
Hal yang paling menentukan untuk tercapainya pendidikan yang berkualitas adalah proses pembelajaran yang
dilaksanakan. Kemampuan ini
membutuhkan pemikiran yang
sistematis, logis dan ktitis yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika. Oleh kerena itu peningkatan prestasi belajar matematika merupakan dambaan setiap mahasiswa.
Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam suatu negara. Dengan kualitas pendidikan yang baik, diharapkan dapat menghasilkan generasi penerus bangsa yang berkuaitas. Hal yang paling menentukan untuk tercapainya pendidikan yang berkualitas adalah proses pembelajaran yang
dilaksanakan. Kemampuan ini
membutuhkan pemikiran yang
2
dikembangkan melalui pembelajaran matematika.
Untuk menciptakan proses
pembelajaran matematika yang
berkualitas, dosen terkadang
menemukan kesulitan dalam
menyampaikan materi pembelajaran, terutama dalam memberikan gambaran konkrit dari materi yang disampaikan sehingga hal tersebut berakibat langsung pada rendahnya prestasi belajar mahamahasiswa. Dosen yang berkualitas memang tidak diragukan, namun dosen yang dapat membuat mahamahasiswa
untuk cepat memahami materi
pembelajaran jarang ditemukan. Padahal pemahaman terhadap materi sangatlah penting daripada dosen hanya melaksanakan pembelajaran dengan berbagai macam metode yang kadang membuat mahaasiswa merasa jenuh dan kurang berminat dalam proses pembelajaran.
Salah satu gejala sebagai indikator adanya kesulitan belajar adalah Mahasiswa menunjukkan hasil belajar yang rendah, di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompok mahasiswa lain di kelas (Djamarah, 2008:246). Kesulitan belajar adalah kondisi dalam suatu proses belajar yang ditandai adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar (Mulyadi, 2010:6). Sedangkan menurut Djamarah (2008:235) kesulitan belajar adalah suatu kondisi dimana mahasiswa tidak dapat belajar secara wajar, disebabkan adanya ancaman, hambatan ataupun gangguan dalam belajar. Kesulitan belajar juga dapat diartikan suatu kelainan yang membuat individu yang bersangkutan sulit untuk melakukan kegiatan belajar secara efektif (Jamaris, 2013:184). Djaali (2009:101-132) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
belajar sebagai berikut:Motivasi; Sikap; Minat; dan Kebiasaan belajar. Sedangkan menurut Muhibbin Syah (2011:170) mengatakan bahwa secara garis besar, faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri atas dua macam yaitu faktor intrn dan faktor ekstern. Berdasarkan uraian di atas faktor penyebab kesulitan belajar siswa baik dari dalam diri siswa maupun dari luar diri siswa dapat dikelompokkan menjadi:faktor intern meliputi intelgensi, minat dan motivasi. Kemudian faktor yang kedua adalah faktor ekstern yaitu: keluarga dan lingkungan kampus atau perguruan tinggi.
Berbagai metode pembelajaran telah disajikan untuk mengatasi problematika pembelajaran, namun hal ini menjadi sia-sia karena sebelum dosen menerapkan metode mengajar, dosen harus mengetahui kesulitan belajar yang dialami mahamahasiswanya. Disamping itu, pembelajaran akan berhasil apabila dosen juga menguasai materi yang akan diajarkan. Jika dosen telah mengetahui kesulitan belajar yang dialami mahamahasiswa, kemudian dosen mencari solusi untuk mengatasi dengan cara mencari metode mengajar yang sesuai, setelah itu dalam pelaksanaanya dosen mampu menguasai materi yang diajarkan, niscaya kesulitan belajar mahamahasiswa akan dapat dihindari.
Kesulitan belajar adalah kondisi dalam suatu proses belajar yang ditandai adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar (Mulyadi, 2010:6). Sedangkan menurut Djamarah (2008:235) kesulitan belajar adalah suatu kondisi dimana siswa tidak dapat belajar secara wajar, disebabkan adanya ancaman, hambatan ataupun gangguan dalam belajar. Kesulitan belajar juga dapat diartikan suatu kelainan yang
3
membuat individu yang bersangkutan sulit untuk melakukan kegiatan belajar secara efektif (Jamaris, 2013:184).
Muhibbin Syah (2011:170) mengatakan bahwa secara garis besar, faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri atas dua macam. 1. Faktor intern siswa, yakni hal-hal
atau keadaan yang datang dari dalam diri siswa sendiri. Meliputi gangguan atau kekurangmampuan psikofisik siswa yakni:
a. Yang bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti
rendahnya kapasitas
intelektual/intelegensi siswa; b. Yang bersifat afektif (ranah
rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap;
c. Yang bersifat psikomotor (ranah karsa) antara lain seperti terganggunya alat-alat indera penglihat dan pendengar.
2. Faktor ekstern siswa, yakni hal-hal atau keadaan yang datang dari luar diri siswa sendiri. Meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktifitas belajar siswa. Faktor ini dibagi menjadi tiga macam yaitu:
a. Lingkungan keluarga,
contohnya: ketidakharmonisan hubungan antara ayah dengan ibu dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga;
b. Lingkungan
perkampungan/masyarakat,
contohnya: wilayah
perkampungan kumuh (slum
area), dan teman sepermainan
(peer group) yang nakal;
Lingkungan sekolah, contohnya: kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru,
serta alat-alat belajar yang berkualitas rendah.
Berdasarkan pendapat pakar di atas dapat disimpulkan bahwa kesulitan belajar adalah suatu kondisi dimana kompetensi atau hasil belajar yang dicapai tidak sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.
Salah satu gejala sebagai indikator adanya kesulitan belajar adalah mahasiswa menunjukkan hasil belajar yang rendah, di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompok mahasiswa lain di kelas (Djamarah, 2008:246). Senada dengan pendapat Djamarah tersebut maka kesulitan belajar mahasiswa dapat dilihat dari hasil pekerjaan mahasiswa, kemudian mahasiswa yang mendapat nilai di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) dinyatakan tidak tuntas dan mengalami kesulitan belajar.
Nilai ketuntasan individu dari hasil pekerjaan mahasiswa dapat dihitung dengan rumus:
Nilai (%) =
∑ skor yang diperoleh mahasiswa
∑ skor maksimal × 100%
Hal ini berarti jika skor maksimal yang di harapkan 40. Misalnya seorang siswa meperoleh skor 24 dari hasil pekerjaannya, maka: Nilai = 24
40 × 100% = 60%
nilai dari mahasiswa adalah 60 (di bawah nilai KKM), ini berarti mahasiswa tersebut hanya mencapai ketuntasan sebesar 60% dari tujuan pembelajaran. Sehingga mahasiswa dapat dikategorikan
sebagai mahasiswa yang
4
Menurut Abdurrahman (Mulyadi, 2010:30) faktor-faktor penyebab kesulitan belajar dikelompokkan menjadi dua yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern yaitu kemungkinan adanya disfungsi neurologis, sedangkan faktor ekstern antara lain berupa strategi pembelajaran yang keliru dan pengolahan kegiatan belajar yang tidak membangkitkan motivasi belajar anak. Pada penelitian ini, untuk faktor intern diantaranya adalah intelgensi, minat dan motivasi. Sedangkan untuk faktor ekstern adalah keluarga dan kampus. Untuk mengetahui faktor-faktor kesulitan belajar mahasiswa dalam uraian di atas, dapat digunakan angket tertutup.
Teknik statistik yang digunakan dalam analisis hubungan lebih dari dua variabel meliputi koefisien korelasi berganda, Koefisien penentu berganda, dan regresi linear berganda. Hasan (2010:43) mengatakan bahwa koefisien korelasi (𝑟) adalah bilangan yang digunakan untuk mengukur derajad hubungan, meliputi keeratan hubungan dan bentuk/arah hubungan. Untuk mengetahui kekuatan hubungan, nilai koefisien korelasi berada diantara -1 dan +1. Untuk bentuk/arah hubungan, nilai koefisien korelasi dinyatakan dalam positif (+) dan negatif (-), atau (−1 < 𝑟 < +1).
Mata kuliah kalkulus, khususnya kalkulus II merupakan mata kuliah dasar yang merupakan salah satu mata kuliah prasyarat untuk menempuh mata kuliah lain. Sehingga tidak hanya segi pencapaian nilai yang maksimal yang
diinginkan namun diperlukan
pemahaman agar tidak terjadi kesulitan pada saat menempuh mata kuliah yang lain. Yang terdi pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika
STKIP PGRI dari tahun ketahun, tingkat ketidak lulusan mahasiswa untuk mata kuliah kalkulus khususnya kalkulus II masih tinggi. Dari beberapa materi yang ada, teknik-teknik pengintegralan adalah materi yang dianggap perlu untuk benar-benar dipahami sebagai materi dasar.
Melihat kondisi di atas, maka peneliti merasa perlu untuk melakukan suatu pengkajian tentang kesulitan
belajar mahamahasiswa dalam
mempelajari teknik pengintegralan. Hal ini dilakukan agar dosen dapat
mengetahui letak kesulitan
mahamahasiswa dalam penguasaan
materi sehingga dosen dapat
meminimalisir kesalahan-kesalahan mahamahasiswa dalam menyelesaikan teknik pengintegralan, selain itu dosen juga dapat mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan mahamahasiswa mengalami kesulitan dalam mempelajari
teknik-teknik pengintegralan.
Berdasarkan uraian tersebut, sebagai upaya untuk mengurangi permasalahan, penulis mengadakan penelitian mengenai
“Analisis Kesulitan Mahamahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Pasuruan Pada Pokok Bahasan Teknik Pengintegralan”.
Berdasarkan permasalahan di atas, dapat dirumuskan tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apa saja kesulitan belajar
mahamahasiswa dalam
menyelesaikan persoalan teknik pengintegralan?
2. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kesulitan belajar
mahamahasiswa dalam
menyelesaikan teknik
pengintegralan?
5 1. Mendiskripsikan kesulitan belajar mahamahasiswa dalam menyelesaikan persoalan teknik pengintegralan. 2. Mendiskripsikan faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar mahamahasiswa dalam
menyelesaikan teknik
pengintegralan.
Batasan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Teknik pengintegralan dalam penelitian ini adalah teknik subtitusi.
2. Kesulitan belajar
mahamahasiswa dilihat dari hasil pekerjaan mahamahasiswa dalam menyelesaikan persoalan teknik pengintegralan.
3. Faktor-faktor kesulitan belajar
mahamahasiswa dengan
menggunakan analisis korelasi dan regresi linear berganda.
METODE
Penelitian ini menggunakan analisis kualitatif untuk mendapatkan gambaran mengenai apa saja kesulitan belajar yang dialami mahasiswa dalam menyelesaikan persoalan lingkaran serta analisis kuantitatif untuk mengetahui
faktor-faktor apa saja yang
menyebabkan kesulitan belajar mahasiswa dalam menyelesaikan persoalan lingkaran, dalam hal ini peneliti beranggapan bahwa gejala yang diamati pada faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar dapat diukur dan dinyatakan dalam bentuk angka.
Peneliti menggunakan paradigma ganda tiga variabel dengan hasil belajar bertindak sebagai variabel dependen (Y), faktor intern bertindak sebagai variabel independen satu (X1) serta faktor ekstern bertindak sebagai variabel independen dua (X2). Data yang dihasilkan dalam penelitian ini berupa rangkaian kata yang mengarah pada pendeskripsian mengenai kondisi tentang apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Populasi dalam penelitian ini adalah mahamahasiswa Program Studi Pendidikan Matemayika STKIP PGRI Pasuruan angkatan tahun 2013 A, 2013 B, 2013 C, 2013 D. Sedangkan sampel pada penelitian ini diambil dengan teknik purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel untuk tujuan tertentu (Munawaroh, 2013:67). Sampel diambil hanya berdasarkan hasil tes yang disusun peneliti, kemudian mahasiswa yang nilai tesnya dibawah 65 dipilih sebagai sampel penelitian.
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan tes, angket. Tes merupakan instrumen pengumpul data dalam bentuk latihan yang digunakan
untuk mengukur keterampilan,
pengetahuan, atau intelegensi yang dimiliki individu atau kelompok (Riduwan, 2010:57). Tes ini dirancang untuk mengukur pencapaian mahasiswa
setelah mempelajari teknik
pengintegralan. Angket digunakan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab kesulitan belajar mahasiswa dalam mempelajari teknik pengintegralan.
1. Pengumpulan data merupakan bagian terpenting dalam proses penelitian. Dalam penelitian ini
6
teknik pengumpulan datanya yaitu tes dan angket. Pemberian tes
dilakukan setelah proses
pembelajaran berlangsung.
Berdasarkan hasil tes tersebut dapat diidentifikasi kesulitan mahasiswa berupa kesalahan-kesalahan mahasiswa dalam menjawab soal. Angket diberikan setelah mahasiswa menyelesaikan tes, dalam mengisi angket mahasiswa hanya diminta untuk memilih salah satu jawaban mengiyakan pernyataan yang sesuai
dengan keadaan mahasiswa
sebenarnya ataupun sebaliknya. Angket bersifat tertutup sehingga mahasiswa tinggal memberikan tanda cheklist (√) di sebelah kanan pertanyaan yang telah disediakan. 2. Pengolahan dan analisis data ini
dilakukan setelah perolehan data dari sampel penelitian. Data penelitian yang dianalisis adalah data tes hasil belajar dan data angket. Untuk analisis data tes hasil belajar, peneliti menggunakan kriteria ketuntasan minimal untuk mengetahui kesulitan belajar mahasiswa. Data yang diperoleh dikumpulkan kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis
deskriptif. Yaitu dengan
mendeskripsikan hasil jawaban mahasiswa berupa
kesalahan-kesalahan mereka dalam
menyelesaikan tes dengan kriteria kesulitan belajar konse (pemilihan teknik yang sesuai) , keterampilan (operasi aljabar), pemecahan masalah. Sedangkan untuk angket dilakukan analisis demngan membuat rekapitulasi data dari angket faktor-faktor kesulitan belajar yang menyebabkan kesulitan
belajar. Selanjutnya mencari koefisien korelasi variabel Y dan X1 dengan menggunakan rumus rY1 = n ∑ X1Y− ∑ Y ∑ X1 n ∑ Y2− ∑ Y 2 n ∑ X 1 2 − ∑ X 1 2
, mencari koefisien korelasi variabel Y dan X2 dengan menggunakan rumus rY2 = n ∑ X2Y− ∑ Y ∑ X2 n ∑ Y2− ∑ Y 2 n ∑ X 2 2 − ∑ X 2 2 ,
mencari koefisien korelasi variabel X1 dan X2 dengan menggunakan rumus
r12 =
n ∑ X1X2− ∑ X1 ∑ X2
n ∑ X12− ∑ X1 2 n ∑ X22 − ∑ X2 2 ,
mencari koefisien korelasi linear berganda tiga variabel dengan menggunakan rumus RY1.2 =
rY 12 +rY 22 −2rY 1rY 2r12
1−r122
. Kemudian kriteria nilai koefisien korelasi linear berganda tiga variabel tersebut dapat dilihat pada tabel berikut
No. Interval Nilai Kekuatan Hubungan 1. 0,00 < 𝑟 ≤ 0,20 Sangat rendah
atau lemah
sekali
2. 0,20 < 𝑟 ≤ 0,40 Rendah atau lemah tapi pasti 3. 0,40 < 𝑟 ≤ 0,70 Cukup berarti
atau sedang 4. 0,70 < 𝑟 ≤ 0,90 Tinggi atau kuat 5. 0,90 < 𝑟 < 1,00 Sangat tinggi atau kuat sekali, dapat
diandalkan Interval Nilai Koefisien Korelasi Dan Kekuatan Hubungan
Untuk menentukan kekuatan hubungannya. pada tahap selanjutnya nilai koefisien korelasi linear berganda
7
tiga variabel digunakan untuk menentukan koefisien penentu dengan menggunakan rumus: KPB = R2Y1.2×
100%. Menentukan persamaan regresi linear berganda tiga variabel dengan menggunakan rumus: Y = a + b1X1+ b2X2. Untuk membuat persamaan tersebut, terlebih dahulu menentukan nilai-nilai a, b1 , dan b2 dengan rumus: b1 =
∑ X22 ∑ X1y − ∑ X2y ∑ X1X2
∑ X12 ∑ X22 − ∑ X1∑ X2 2 , b2 = ∑ X12 ∑ X2y − ∑ X1y ∑ X1X2
∑ X12 ∑ X22 − ∑ X1∑ X2 2 , dan
dengan ketentuan rumus a =
∑ Y−b1∑ X1−b2∑ X2 n , ∑ = ∑ − ∑ 𝑋1 2 𝑛 2 1 2 1 , ∑ = ∑ − ∑ 𝑋2 2 𝑛 2 2 2 2 , ∑ 𝑋1𝑋2 = − ∑ 𝑋1 ∑ 𝑋2 𝑛 , ∑𝑋1𝑌 = ∑ 𝑋1𝑌 − ∑ 𝑋1 𝑌 𝑛 , ∑𝑋2𝑌 = ∑ 𝑋1𝑌 − ∑ 𝑋2 𝑌 𝑛 dan ∑𝑌 2 = ∑ 𝑌2 − ∑ 𝑌 2 𝑛 . Membuat kesimpulan
dengan cara memaparkan nilai-nilai yang telah didapatkan dalam bentuk deskripsi mengenai faktor-faktor kesulitan belajar.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsi kesulitan siswa dalam menyelesaikan persoalan lingkaran dengan cara memberikan tes yang dilakasanakan pada tanggal 27 April 2015 dandiikuti oleh 108 mahasiswa. Yang terdiri dari 35 mahasiswa kelas 2014 A , 36 mahasiswa kelas 2014 B, dan 37 mahasiswa kelas 2014 C. Dari 108 mahasiswa yang mengikuti tes terdapat 44 mahasiswa yang mendapat nilai lebih dari 65 dan sisanya 64 mahasiswa yang mendapat nilai kurang dari 65. Hal ini berarti sekitar 40,7% tidak berkesulitan belajar dan sisanya
59,3% mahasiswa dikatakan mengalami kesulitan belajar.
Untuk mengetahui letak kesulitan belajar mahasiswa dapat dilihat dari kesalahan-kesalahan siswa dalam menuliskan setiap langkah pekerjaannya dari butir soal nomor 1, 2, 3, 4 dan 5 yang berkaitan dengan penguasaan konsep, keterampilan dan pemecahan masalah.
Butir soal
Jenis Kesulitan Prosentase kesulitan 1 Konsep 4% 2 konsep, keterampilan dan pemecahan masalah 23% 3 konsep, keterampilan dan pemecahan masalah 32% 4 konsep, keterampilan dan pemecahan masalah 14% 5 konsep, keterampilan dan pemecahan masalah 98%
Tabel Rekapitulasi Kesulitan Siswa Dalam Menyelesaikan Persoalan teknik pengintegralan.
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan terhadap seluruh jawaban mahasiswa, terpilih 2 mahasiswa dari kelompok Atas (A), 2 mahasiswa dari kelompok Tengah (T), dan 2 mahasiswa dari kelompok Bawah (B) yang mengalami kesulitan belajar yang terdiri dari:
1. Soal nomer 1
Dalam menyelesaikan soal nomer 1 dari tiga kelompok kemapuan mahasiswa (atas, tengah dan bawah), mengalami kesulitan dalam penguasaan konsep. Hal ini ditunjukkan jawaban dari ketiga mahasiswa tidak menggunakan
8
teknik yang diminta untuk menyelesaikan soal.
2. Soal nomer 2
Dalam menyelesaikan soal nomer 2, dari ketiga kelompok mahasiswa mengalami kesulitan belajar dalam keterampilan dan pemecahan masalah. Hal ini terbukti dari jawaban yang tidak dapat menyelesaikan pekerjaann sampai akhir.
3. Soal nomer 3
Dalam menyelesaikan soal nomer 3, dari ketiga kolompok mahasiswa mengalami kesulitan belajar dalam penguasan konsep. Hal ini
ditunjukkan oleh jawaban
mahasiswa tidak bisa memilih
teknik yang tepat dalam
menyelesaikan soal yang diberikan. 4. Soal nomer 4
Kesulitan belajar yang dialami oleh tiga kelompok mahasiswa dalam hal keterampilan. Hal ini terbukti dari jawaban mahasiswa tidak dapat menggunakan operasi hitung dengan baik.
5. Soal nomer 5
Kesulitan belajar yang dialami mahasiswa dalam menyelesaikan soal nomer 5 adalah dalam hal penguasaan konsep. Dimana mahasiswa tidak dapat memberikan jawaban sesuai dengan soal yang ditanyakan. Kemampuan membaca mahasiswa masih rendah, hal ini dimungkinkan penyebab dari kesalahan mahasiswa dalam menyelesaikan soal. Sehingga kurang paham dengan perintah soal yang diberikan.
Faktor-Faktor Yang Menyebabkan
Kesulitan Mahasiswa Dalam
Menyelesaikan Persoalan Teknik Pengintegralan.
Dari hasil perhitungan didapat nilai koefisien korelasi linear berganda tiga variabel yaitu 0,23 nilai ini memberikan arti bahwa antara faktor intern dan ekstern memiliki hubungan yang rendah atau lemah tapi pasti dengan kesulitan mahasiswa dalam menyelesaikan persoalan teknik pengintegralan.
Juga telah didapat nilai koefisien penentu bergandanya sebesar 5,18% hal ini berarti hanya 5,18% saja kesulitan belajar mahasiswa di pengaruhi oleh faktor intern yang meliputi intelegensi, minat, serta motivasi mahasiswa dan ekstern yang meliputi keluarga dan sekolah ,sedangkan 94,82% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti hambatan persepsi mahasiswa, ada bagian-bagian dalam urutan belajar yang belum dipahami mahasiswa, kondisi siswa yang lelah, serta lingkungan tempat tinggal mahasiswa.
Untuk persamaan regresi diperoleh Y = 48,70 + 0,16X1− 0,16X2, hal ini berarti tanpa adanya
faktor intern dan ekstern maka nilai tes mahasiswa adalah 48,70. Variabel X1 bernilai “+” sehingga hubungan nilai tes antara faktor intern dan ekstern adalah “positif” atau setiap kenaikan faktor intern dan ekstern sebesar 1 poin akan meningkatkan nilai tes sebesar 0,16 atau setiap kenaikan faktor intern dan ekstern sebesar 1% akan meningkatkan nilai tes sebesar 0,16%. Sedangkan untuk Variabel X2 bernilai “-” sehingga hubungan nilai tes antara faktor intern dan ekstern adalah “negatif” atau setiap kenaikan faktor intern dan ekstern sebesar 1 poin maka nilai tes akan turun sebesar 0,16 atau setiap kenaikan faktor
9
intern dan ekstern sebesar 1% akan menurunkan nilai tes sebesar 0,16%.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai analisis kesulitan belajar pada mahasiswa STKIP PGRI Pasuruan dalam menyelesaikan teknik integral dapat disimpulkan bahwa: 1. Mahasiswa mengalami kesulitan
belajar dalam hal penguasaan konsep, keterampilan dan pemecahan masalah sebesar 52%. Dalam hal ini, indikator penguasaan konsep, keterampilan dan pemecahan masalah adalah sebagai berikut:
a. Konsep
Indikatornya adalah:
1) Mahasiswa tidak dapat menentukan teknik integral yang tepat untuk menyelesaikan suatu masalah;
2) Mahasiswa tidak dapat menggunakan teorema atau rumus tidak sesuai dengan kondisi prasyarat berlakunya rumus atau teknik tersebut atau tidak menuliskan teorema. b. Keterampilan
Indikatornya adalah:
Mahasiswa tidak dapat menggunakan operasi dasar
dalam penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, perhitungan
akar dan kuadrat.
e. Pemecahan masalah
Indikatornya adalah:
Mahasiswa tidak dapat
melanjutkan pekerjaannya dalam menyelesaikan soal.
2. Sebesar 5,18% faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar siswa dalam menyelesaikan persoalan lingkaran adalah faktor intern yang meliputi:
a. intelegensi
Hal ini dilihat dari kecakapan mahasiswa dalam menyelesaikan persoalan teknik
pengintegralan. b. minat
Hal ini dilihat dari ketertarikan mahasiswa terhadap pembelajaran. c. motivasi
Hal ini dilihat dari perhatian mahasiswa terhadap pembelajaran. Serta faktor ekstern yang meliputi: a. keluarga
Kurangnya kelengkapan alat-alat belajar bagi mahasiswa di
rumah, sehingga
menghambat kemajuan belajar mahasiswa.
b. kampus (Perguruan Tinggi)
Cara dosen mengajar yang
kurang baik, dalam
pengambilan metode yang digunakan maupun dalam penguasaan materi.
Alat atau media yang kurang memadai, sehingga membuat
pembelajaran menjadi
kurang efektif.
Fasilitas fisik kampus yang tidak memenuhi syarat
kesehatan dan tidak
terpelihara dengan baik. Sedangkan 94,82% dipengaruhi oleh faktor faktor lain seperti, hambatan persepsi mahasiswa, ada bagian-bagian dalam urutan belajar yang belum dipahami mahasiswa,
10
kondisi mahasiswa yang lelah, serta lingkungan tempat tinggal mahasiswa.
Saran
Penulis berharap hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran demi meningkatkan mutu
pendidikan, khususnya pada
pembelajaran di STKIP PGRI Pasuruan. Untuk itu dari hasil penelitian yang diperoleh maka saran-saran yang dapat penulis sampaikan sebagai berikut:
1. Bagi Mahasiswa
a. Mahasiswa hendaknya lebih giat belajar dan serius pada saat pembelajaran dan lebih sering mengerjakan latihan soal khususnya pada pokok bahasan teknik pengintegralan.
b. Mahasiswa hendaknya lebih jujur dalam mengakui kekurangannya terutama dalam hal pemahaman materi.
2. Bagi Dosen
a. Dosen diharapkan mampu membentuk pola pengajaran yang
tidak hanya memberikan
kesenangan namun juga
pemahaman terhadap materi yang disampaikan, oleh karena itu seorang dosen haruslah dapat menguasai metode mengajar serta menguasai materi pembelajaran
agar mahasiswa mampu
memahami serta menguasai konsep-konsep yang ada dengan baik, sehingga mahasiswa tidak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan berbagai persoalan. b. Dosen diharapkan dapat
menggunakan metode dan
pendekatan belajar yang
melibatkan mahasiswa secara aktif untuk menemukan rumus sendiri,
sehingga mahasiswa akan
mengingat rumus tersebut lebih lama dibanding dengan mengingat dengan cara menghafal.
3. Bagi Kampus (Perguruan Tinggi)
Kampus diharapkan mampu
memberikan tempat dan fasilitas belajar yang nyaman agar proses belajar dan pembelajaran dapat terlaksana dengan baik.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan agar penelitian ini dapat ditindaklanjuti dengan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar lainnya. Serta jika penelitian
selanjutnya menggunakan
instrumen angket agar lebih menekankan kejujuran kepada mahasiswa agar hasil angket yang didapat lebih sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.
DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi. 2012. Dasar-dasar
Evaluasi Pendidikan Edisi Kedua.
Jakarta: Bumi Aksara.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2008.
Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka
Cipta
Djaali, H. 2009. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Jamaris, Martini. 2013. Orientasi Baru
dalam Psikologi Pendidikan.
Bogor: Ghalia Indonesia.
Mulyadi, H. 2010. Diagnosis Kesulitan
Belajar dan Bimbingan Terhadap
Kesulitan Belajar Khusus.
Jogjakarta: Nuha Litera.
Muhibbin Syah. 2011. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan
Baru. Bandung: PT Remaja
11
Munawaroh. 2013. Panduan Memahami
Metodologi Penelitian. Malang:
Intimedia.
Hasan, Iqbal. 2010. Analisis Data
Penelitian Dengan Statistik.
Jakarta: PT Bumi Aksara.
Riduwan. 2010. Dasar-dasar Statistika