• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. Tinjauan Pustaka

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2. Tinjauan Pustaka"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

7

Tinjauan Pustaka

2.1 . Definisi Tipe Kepribadian A

Tipe kepribadian A memiliki hubungan dengan bagaimana orang-orang biasanya menghadapi tantangan dalam hidup mereka serta bagaimana orang tersebut dalam merespon stress (Aronson, Wilson, & Akert, 2007). Pola perilaku kepribadian A, merupakan kombinasi dari tindakan emosional dengan "upaya ekstrim" untuk mencapai nilai yang tinggi dalam hidup dalam waktu sesingkat mungkin. (Motalebi, Sattari, & Naemi, 2012). Tipe A dikatakan memiliki sifat tergesa-gesa, tidak sabar, impulsif, waspada berlebihan, memiliki potensi untuk bersikap bermusuhan, dan sangat tegang (Friedman & Schustack, 2006).

Tipe Kepribadian A didefinisikan sebagai suatu pola sikap meliputi ketidaksabaran, kompetitif, bermusuhan dan kecenderungan untuk mencari tantangan dengan level tinggi dalam suatu pekerjaan (Baron & Greenberg, 1990)

2.1.1 Ciri- Ciri Tipe Kepribadian A

Menurut Friedman dan Roseman karakteristik dari individu dengan Kepribadian A yaitu (Kalengka, 2007) ;

1. Merasa bahwa waktu yang ada tidak mencukupi untuk menyelesaikan semua pekerjaan, sehingga harus berlomba-lomba dengan waktu dan bahkan seringkali tidak perduli jika terpaksa menyinggung orang lain.

2. Memiliki agresifitas yang tinggi yang seringkali menyebaka permusuhan, mudah kehilangan kesabaran, memiliki rasa kompetisi yang tinggi sehingga seringkali menganggap sesuaatu sebagai perlombaan, tidak dapat bersantai dan menikmati waktu.

3. Memiliki kebutuhan yang tinggi akan prestasi yang meyebakan individu dengan kecenderungan tipe kepribadian A menciptakn tujuan yang tinggi dan seringkali tidak realistik.

4. Memiliki bentuk perilaku polifisik yang melibatkan beberapa pekerjaan berbeda

(2)

2.1.2. Kakteristik Tipe Kepribadian A

Karakteristik Tipe Kepribadian A adalah cenderung mempunyai semangat bersaing yang tinggi dan ambisius, berbicara dengan cepat, suka menyela pembicaraan orang lain dan sering terperangkap dalam kemarahan yang luar biasa, orang yang kompetitif dan agresif. karakteristik lain dari Tipe Kepribadian A adalah, keinginan untuk bekerja sendiri , ambisi dan perfeksionisme ekstrim, tidak sabar dan mudah marah (Motalebi, Sattari, & Naemi, 2012).

2.1.3. Dampak Tipe Kepribadian A

Berikut ini adalah dampak dari kecenderungan Tipe Kepribadian A (Baron & Greenberg, 1990);

1. Dampak Bagi Kesehatan

Penelitian menemukan indikasi bahwa individu dengan kecenderungan tipe kepribadian A lebih dari dua kali kemungkinan mengalami serangan jantung serius.

2. Dampak Bagi Hubungan Interpersonal

Pertama, individu dengan Tipe Kepribadian A slalu merasa dikejar-kejar waktu sehingga cenderung menjadi tidak sabar terhadap orang lain. Kedua, saat dihadapkan pada pilihan, individu dengan Tipe Kepribadian A lebih memilih untuk bekerja secara individual dibandingkan dalam tim. Ketiga, individu dengan Tipe Kepribadian A lebih mudah marah dan agresif. Selain itu, Tipe Kepribadian A sangat kompetitif dan memiliki gaya hidup yang tidak bisa santai.

3. Dampak Bagi Performa

Dengan sikap kerja kompetitif dan sangat aktif yang ditunjukan oleh individu dengan Tipe Kepribadian A, maka beralasan untuk menerima bahwa individu tersebut biasanya bekerja lebih keras untuk mencapai keberhasilan.

(3)

Saat menghadapi kondisi yang menekan, indvidu dengan Tipe Kepribadian A menunjukan pertambahan yang besar pada physiological arousal (misalnya, tekanan darah, detak jantung). Selain itu, individu dengan kecenderungan Tipe Kepribadian A lebih mudah meyerah dan merasa tidak tertolong ketika dikonfontasi dengan situasi stres tertentu yang tidak dapat dikontrolnya.

2.2. Teori Preferensi untuk Konsistensi

Preference for Consistency (PFC) adalah mengenai perbedaan indivdu dalam preferensi untuk konsisten. Penulis berasumsi bahwa preferensi untuk konsistensi akan mendorong individu untuk mempertahankan posisi asli mereka dan menghalangi untuk dapat terpengaruh oleh hal lain. Secara khusus, jika seseorang individu ingin menganggap diri mereka dapat diprediksi dan stabil, disebut preferensi untuk konsistensi. Jika mereka bertindak membantu pada satu waktu, mereka akan merasa bahwa mereka akan bertindak membantu di lain waktu (Guadagno, Asher, Demaine, & Cialdini, 2001).

2.2.1. Tiga bentuk preferensi untuk konsistensi

Tiga bentuk preferensi untuk konsistensi dibedakan menjadi (Cialdini, Trost, & Newsom, 1995).;

1. Internal consistency

Internal consistency mengacu pada kebutuhan untuk memastikan bahwa nilai-nilai pribadi, sikap, dan keyakinan yang konsisten satu sama lain.

2. Public consistency

Public consistecy mengacu pada keinginan untuk tampil konsisten untuk orang lain.

3. Other Consistency

Other Consistency menggambarkan kebutuhan untuk melihat orang lain yang konsisten juga.

(4)

2.2.2. Hal yang mendasari terjadinya

Terdapat beberapa hal-hal yang mendasari terjadinya Preference for Consistency (PFC). Yaitu dapat dijelaskan sebagai berikut;

1. Motivasi untuk mengatur keadaan negatif

Preferensi untuk konsistensi sebagian mencerminkan kebutuhan untuk mengatur atau menghindari keadaan yang tidak menyenangkan (Brown, Asher, & Cialdini, 2005). Artinya, inkonsistensi tampaknya untuk meningkatkan gairah (Elkin & Leippe, 1986), dan gairah ini tidak menyenangkan (Losch & Cacioppo, 1990). Dengan demikian, preferensi untuk konsistensi mungkin mewakili keinginan untuk meminimalkan keadaan yang tidak menyenangkan.

2. Pengalaman dalam keadaan negatif

Pengalaman terhadap keadaan negatif juga dapat meningkatkan preferensi untuk konsistensi. Artinya, ketika individu mengalami keadaan negatif, mereka termotivasi untuk mengatur perasaan buruk ini. Sebuah preferensi untuk konsistensi mungkin menimbulkan perilaku yang memancing emosi tidak menyenangkan. Dengan demikian, pengalaman emosi negatif mungkin sering menimbulkan preferensi untuk konsistensi (Brown,Asher,&Cialdini,2005).

3. Umur

Preferensi untuk konsistensi juga tampaknya meningkat dengan usia. Brown, Asyer, dan Cialdini (2005) menunjukkan terdapat korelasi antara preferensi untuk konsistensi dan berdasarkan temuan adalah usia 23 tahun.

Hubungan antara preferensi untuk konsistensi dan usia dapat berasal teori selektivitas sosioemosional (Carstensen, 1993). Menurut teori ini, sebagai individu tumbuh dewasa, mereka menjadi lebih sadar bahwa waktu terbatas. Motivasi utama mereka adalah untuk meningkatkan keadaan dan hubungan emosional mereka daripada mencari pengetahuan dan pertumbuhan. Regulasi emosional menjadi tujuan yang lebih menonjol.

(5)

konsistensi, karena kontradiksi dalam kognisi mereka menghalangi tujuan ini untuk mempertahankan keadaan emosional yang positif. Atau, orang yang lebih tua juga mungkin mengalami lebih menjengkelkan atau menyedihkan peristiwa, karena kendala fisik (Heckhausen & Schulz, 1995), penurunan kognitif (Salthouse, 1991), atau kematian keluarga dekat dan teman-teman (Carstensen, 1995). Peristiwa negatif mungkin memunculkan kebutuhan untuk mengekang emosi yang tidak menyenangkan. Preferensi untuk konsistensi mungkin mewakili upaya untuk memenuhi kebutuhan ini (Brown, Asher, & Cialdini, 2005).

2.3. Rasa Bersalah

Berdasarkan pandangan perilaku diri (self-behavior) oleh Tracy dan Robins (Cohen, Wolf, Panter, & Insko, 2011). Rasa Bersalah (Guilt) muncul ketika seseorang membuat atribusi internal mengenai perlilaku spesifik yang tidak sesuai dengan perilakunya sehingga merujuk pada munculnya perasaan negatif mengenai perilaku yang dilakukan. Pandangan lain yang turut mengulas Rasa Bersalah (Guilt) adalah pandangan umum-pribadi (public-private) yang ditemukan oleh Combs, Campbell, Jackson dan Smith (dalam Cohen et al., 2011). Pandangan ini melandaskan pandangan antropologi dalam pembahasannya. Menurut pandangan ini, perasaan bersalah diasosiasikan dengan keyakinan pribadi bahwa telah melakukan kesalahan atau telah berperilaku melanggar norma dan bertenangan dengan hati nuraninya.

Guilt, memberikan pernyataan seperti, “seburuk apa setelah melakukan pelanggaran?”. Guilt akan menimbulkan penyesalan dan negative behavioral evaluation. Dilanjutkan dengan repair action (Cohen, Wolf, Panter, & Insko, 2011). 2.3.1. Faktor yang Menentukan Kecenderungan Rasa Bersalah.

Tangney dan Dearing (dalam Cohen et al., 2011), memaparkan kepribadian merupakan salah satu aspek yang berpengaruh terhadap kecenderungan munculnya rasa Bersalah.

(6)

2.3.2. Dampak Dari Kecenderungan Rasa Bersalah

Kecenderungan rasa bersalah merupakan bagian dari emosi moral. Emosi moral merupakan emosi yang mendorong individu untuk menampilkan perilaku melanggar norma dan aturan yang berlaku. Munculnya perasaan bersalah lebih dimanifestasikan berasal dari diri sendiri. Kecenderungan rasa bersalah dapat muncul ketika individu melakukan kesalahan, walupun kesalahan ini belum terungkap oleh pihak luar. Berti, Garattoni, dan Ventruini (dalam Eyre, 2004) berpendapat bahwa bentuk dari munculnya perasaan bersalah dapat terlihat dari permohonan maaf setelah melakukan perbuatan yang dianggap melanggar norma dan aturan, dengan melakukan tindakan perbaikan untuk menyeimbangkan keadaan dan mengatasi kesalahan yang telah dilakukan, menawarkan bantuan bagi yang membutuhkan, mengakui kesalahan, seta berkomitmen untuk memperbaharui diri dan tidak mengulang kesalahan yang sama.

2.3.3. Sub Skala Rasa Bersalah

1. Negative behavioral evaluation (NBE)

NBE mengukur disposisi emosi moral. NBE menggambarkan perasaan buruk tentang bagaimana seseorang bertindak. Contohnya ketika menolak permintaan seorang teman yang ingin meminjam uang, individu merasa bersalah karena tidak membantu temannya yang ingin meminjam uang.

2. Repair action (REP)

REP mengukur orientasi erilaku moral. REP berfokus pada memperbaiki atau mengatasi pelanggaran tersebut. Contohnya setelah menolak memberikan pinjaman uang kemudian memperbaikinya dengan membantu mencariakan alternatif yang dapat memberikan pinjaman uang.

2.4. Kerangka Berpikir

Peneliti menduga bahwa tipe kepribadian A dan preferensi dalam konsistensi merupakan variabel yang mampu memperdiksi rasa bersalah pada dewasa muda di Wilayah DKI Jakarta. Emosi Moral merupakan faktor yang dapat memprediksi kecenderungan pada dewasa muda untuk melakukan perbuatan yang tidak etis.

(7)

rasa bersalah itu akan sangat cocok untuk dapat memprediksi pengambilan keputusan etis dalam melakukan perbuatan tidak etis.

Terdapat hubungan yang antara tipe kepribadian A dan perilaku tidak etis. Individu dengan tipe kepribadian A memiliki ekstra kebanggan pada dirinya, individu mengaggap pandangan dari orang lain merupakan hal yang sangat penting bagi dirinya (psychwiki, 2014). Dengan hal itu individu yang memiliki motivasi untuk berprestasi yang tsangat kuat, menjunjung tinggi kebanggannya dan berusaha menjadi orang yang baik dengan tidak melakukan hal-hal yang dianggap melanggar norma. Apabila individu melakukan pelanggaran norma akan membuat dirinya menjadi melakukan evalusi ngatif tentang tindakannya, serta merasakan rasa bersalah atas perbuatannya. Sehingga kemungkinan individu untuk menilai buruk perilakunya semakin tinggi.

Dengan memiliki semangat kompetisi yang tinggi, memiliki banyak keinginan dan impian serta senantiasa berusaha untuk sukses individu melakukan tindakan perbaikan setelah melakukan pelanggaran tidak etis yang membuat dirinya merasa bersalah. Dengan demikian individu dapat memiliki lagi semangat dalam berkompetisi untuk menjadi individu yang sukses.

Secara khusus, individu yang menganggap diri mereka sebagai individu yang konsisten, teratur, memiliki komitmen tinggi dan stabil sepanjang waktu, memiliki skor yang tinggi pada preference for consistency (PFC) (Cialdini, Trost, & Newsom, 1995). PFC adalah dapat mengukur perbedaan individu dalam preferensi untuk konsisten. PFC mampu memprediksi perlaku menyimpang (Guadagno & Cialdini, 2009).

Terdapat suatu ilustrasi yang dapat menggambarkan mengenai PFC. Dalam sebuah diskusi terbuka, moderator memberikan informasi yang bias mengenaipenggundulan hutan. Seseorang yang memiliki pandangan yang buruk mengenai pentingnya mempertahankan hutan pada awal diskusi, jika mengacu pada penelitian Matz and Hinsz (2003) akan tetap mempertahankan pendapat awalnya, walaupun moderator maupun pembicara lainnya memberikan informasi baru. Adanya ketidakkonsistenan dapat membuat individu berpikir bahwa perilaku yang dilakukannya menimbulkan rasa bersalah karena telah merasa melakukan perbuatan

(8)

yang negatif, dengan tidak adanya konsistensi dari pendapatnya mengenai suatu informasi.

Individu melakukan tindakan perbaikan untuk dapat menjadikan keyakinan atau pandangan menganai nilai-nilai menjadi lebih konsisten, dengan membuat pandangannya terbuka melalui menerima adanya kognisi yang baru agar dapat menimalisir ketidakkonsistenan.

2.1. Gambar Kerangka Berfikir

Terdapat 3 faktor yang mempengaruhi dua dimensi rasa bersalah (negative behavioral evaluation dan repair action) yaitu, Tipe Kepribadian A dan Preference for consistency (PFC).

1. Apabila Tipe kepribadian A tinggi maka negative behavioral evaluation (NBE) rendah

2. Apabila PFC tinggi maka negative behavioral evaluation (NBE) tinggi

3. Apabila Tipe kepribadian A rendah maka negative behavioral evaluation (NBE) tinggi

4. Apabila PFC rendah maka negative behavioral evaluation (NBE) rendah 5. Apabila Tipe kepribadian A tinggi maka Repair Action (REP)rendah 6. Apabila PFC tinggi maka Repair Action (REP) tinggi

7. Apabila Tipe kepribadian A rendah maka Repair Action (REP) tinggi 8. Apabila PFC rendah maka Repair Action (REP) rendah

Referensi

Dokumen terkait

Upaya-upaya yang dilakukan untuk menanggulangi hambatan dalam pengembangan model pembiasaan pada pembelajaran agama Hindu di SLB/C Kemala Bhayangkari Tabanan dalam

Akan tetapi jika ketahanan rotan tersebut dinilai berdasarkan persentase jumlah bubuk yang hidup (Lampiran 3), maka dari 16 jenis rotan yang diamati, sebanyak 4 jenis (25%),

Logo dapat membedakan perusahaan yang satu dengan yang lain, produk yang satu dengan yang lain...

Pola motif awal pada birama 24-26 adalah melodi unison yang dimainkan oleh vibraphone dan kolintang sopran, sedangkan gitar bas memainkan harmoni dengan progresi

Subjek dalam penelitian ini adalah guru dan siswa kelas IV Sekolah Dasar Muhammadiyah 036 Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar tahun ajaran 2014-2015 dengan jumlah siswa

Berikut data hasil penentuan waktu optimum pencacahan dari aktivitas 14 C yang terkandung dalam sampel dapat dilihat pada Tabel 2.. Data Hasil Pencacahan untuk Penentuan

Beban meliputi : furnace induksi bertegangan 380-382 Volt arus 4-4,1 Amper, pompa vakum bertegangan 223 Volt arus 0,5 Amper, pompa scraber bertegangan 223 Volt arus 4 Amper,

Kepuasan masyarakat terhadap website KPU (Komisi Pemilihan Umum) Jatim merupakan hal penting demi terwujudnya E-Government yang baik Penelitian ini bertujuan untuk