CVP
PT. CLADTEK INTERNATIONAL Laporan Laba Rugi Kontribusi Per 2006
Perhitungan rasio margin kontribusi adalah sebagai berikut:
Anggaran Biaya Variabel Soal 1 :
Biaya pemeliharaan yang telah dikeluarkan selama semester 1 tahun 2001 sebagai berikut :
Tabel 10.6
Biaya Pemeliharaan Tahun 2001
Bulan Produksi (Unit) Biaya Pemeliharaan (Rp)
Januari 1.000 1.000.000 Februari 1.500 1.350.000 Maret 1.200 1.120.000 April 1.650 1.600.000 Mei 1.550 1.425.000 Total
Per Unit Persentase Penjualan Penjualan (400 unit) Rp 100.000 Rp 250 100% Beban variable 60.000 150 60% Margin kontribusi 40.000 Rp 100 40% Beban tetap 35.000
Juni 2.000 1.900.000
Diminta :
1) Menentukan berapa unsur biaya tetap dan biaya variabel dari biaya pemeliharaan tersebut dengan metode titik tertinggi dan terendah.
2) Berapa biaya pemeliharaan semester I tahun 2002 bila anggaran produksi sebesar 6.000 unit.
Jawab
1). Menentukan besarnya unsur biaya tetap dan biaya variabel dari sebuah biaya semivariabel
Biaya variabel per unit = Biaya pada produksi tertinggi Biaya pada produksi terendah Produksi tertinggi-produksi terendah
= 1.900.000 – 1.000.000 = 900 2.000-1.000
Besarnya biaya tetap ditentukan sebagai berikut :
Biaya pemeliharaan pada produksi 1.000 unit = Rp 1.000.000,00 Biaya variabel = 1.000 x 900 = Rp 900.000,00 Biaya tetap = Rp 100.000,00 Atau
Biaya pemeliharaan pada produksi 2.000 unit = Rp 1.900.000,00 Biaya variabel = 2.000 x 900 = Rp 1.800.000,00 Biaya tetap = Rp 100.000,00
Sehingga formula biaya pemeliharaan terebut adalah : Y = 100.000 + 900.000X
Relevan Cost
Cara menentukan apakah biaya tersebut relevan =
Faktor peranan biaya yang berbeda dari berbagai alternative. Keputusan yang diambil dari berbagai alternative tersebut menghasilkan dampak yang berbeda maka biaya tersebut dikategorikan sebagai biaya relevan.
Biaya yang dapat dihindarkan dengan memilih satu alternative pilihan
Ilustrasi:
Salah satu konsep biaya relevan yang diangkat pada posting kali ini adalah special order atau pesanan khusus.
Sepeda dimodifikasi sebanyak 100 unit dengan harga Rp. 179.000 per unit, sedangkan harga normal sepeda sebesar Rp. 249.000 dengan biaya
produksinya sebesar Rp. 182.000 per unit dengan perincian :
Bahan langsung======== Rp. 86.000 per unit Tenaga kerja langsung=== Rp. 45.000 per unit Overhead pabrik======= Rp. 51.000 per unit Biaya produksi sebesar=== Rp. 182.000 per unit
Bagaimana keputusannya apakah pesanan khusus tersebut diterima ?
Jawaban:
Ternyata setelah kita cek kapasitas masih memungkinkan untuk memproduksi 100 sepeda lagi dan dampaknya ke biaya adalah:
Overhead pabrik sebesar Rp. 51.000 per unit tersebut, overhead pabrik variabel per unit adalah sebesar Rp. 6.000 dan ada tambahan biaya variabel sebesar Rp. 17.000 per unit serta tambahan biaya tetap sebesar Rp.
1.200.000.
Pesanan khusus tersebut ternyata menguntungkan karena ada total tambahan laba neto sebesar Rp. 1.300.000 dengan perhitungan sebagai berikut :
Penjualan=======================Rp. 17.900.000 Tambahan biaya:
Biaya variabel:
Bahan langsung========= Rp. 8.600.000 Tenaga kerja langsung==== Rp. 4.500.000 Overhead pabrik variabel== Rp. 600.000 Modifikasi khusus========Rp. 1.700.000+ Biaya variabel==========Rp. 15.400.000
Biaya Tetap=========== Rp. 1.200.000 +
total tambahan biaya================ Rp. 16.600.000 -Penambahan laba bersih==============Rp. 1.300.000
Penentuan Harga Jual
1. COST-PLUS PRICING
CONTOH:
Manajer pemasaran PT X sedang mempertimbangkan penentuan harga jual produk A untuk tahun anggaran yang akan datang. Perusahaan menggunakan pendekatan Full
Costing dalam penentuan biaya penuh. Menurut anggaran,perusahaan direncanakan
akan beroperasi pada kapasitas normal sebanyak 1.000.000 kg dengan taksiran biaya penuh untuk tahun anggaran yang akan datang sebagai berikut:
Biaya Produksi Rp 3.000.000.000 Biaya Administrasi dan umum 200.000.000 Biaya Pemasaran 300.000.000 Total biaya penuh Rp 3.500.000.000
Total aktiva yang diperkirakan pada awal tahun anggaran adalah sebesar Rp
4.000.000.000 dan laba yang diharapkan yang dinyakan dalam tingkat pengembalian investasi (rate of return on investment) adalah sebesar 25%.
Tentukan harga jual per kg dengan menggunakan metode Cost-Plus
Pricing berdasarkan Pendekatan Full Costing
JAWAB:
FULL COSTING
Perhitungan Markup:
Biaya Administrasi dan umum 200.000.000 Biaya Pemasaran 300.000.000
Laba yang diharapkan
(25% x Rp 4.000.000.000) 1.000.000.000 + Jumlah (a) 1.500.000.000 Biaya Produksi (b) 3.000.000.000
% Markup = (a:b) = (1.5000.000.000 : 3.000.000.000) * 100% = 50%
Perhitungan Harga Jual:
Biaya produksi Rp 3.000.000.000 % Markup = 50% x 3.000.000.000 1.500.000.000 + Jumlah harga jual 4.500.000.000 Volume produk 1.000.000 :
VARIABLE COSTING
Dari data di atas, taksiran biaya penuh berdasarkan perhitungan variable costing Biaya Variabel:
Biaya produksi variabel Rp2.000.000.000 Biaya administrasi dan umum variabel 50.000.000 Biaya pemasaran variabel 50.000.000
Total Biaya variabel 2.100.000.000
Biaya Tetap:
Biaya produksi tetap Rp1.000.000.000 Biaya administrasi dan umum tetap 150.000.000 Biaya pemasaran tetap 250.000.000
Total Biaya Tetap 1.400.000.000 Total Biaya Penuh 3.500.000.000
Perhitungan Persentase markup:
Biaya Tetap 1.400.000.000
Laba yang diharapkan (25% x 4.000.000.000) 1.000.000.000
Jumlah (a) 2.400.000.000 Biaya Variabel (b) 2.100.000.000
% Markup (a:b) 114,29%
Perhitungan Harga Jual
Biaya variabel 2.100.000.000 Rp 3.000.000.000
% Markup = 114,29% x 2.100.000.000 2.400.090.000
Jumlah harga jual 4.500.090.000
4.500.000.000 Volume produk 1.000.000 :
Harga Jual per kg Rp 4.500
Biaya tidak langsung:
Taksiran biaya tidak langsung selama tahun anggaran:
Gaji pengawas dan biaya tenaga kerja tidak langsung lain Rp xx
Biaya depresiasi aktiva tetap xx
Biaya asuransi xx
Biaya listrik xx
Biaya air xx
Biaya reparasi aktiva tetap xx
Biaya umum xx + Jumlah biaya tidak langsung Rp xx
Perhitungan laba yang diharapkan
Taksiran jumlah aktiva pada awal tahun anggaran Rp xx Tarif kembalian investasi (ROI) yang diharapkan (dalam %) xx (x) Laba yang diharapkan per tahun Rp xx
Perhitungan markup
Biaya tidak langsung Rp xx Laba yang diharapkan xx +
Jumlah Rp xx Jam tenaga kerja langsung atau biaya tenaga kerja langsung
dalam tahun anggaran xx (:)
Markup (dalam rupiah per jam TKL) atau % markup xx
CONTOH PENENTUAN HARGA JUAL WAKTU DAN BAHAN:
PT X berusaha dalam usaha bengkel mobil. Manajer pemasaran PT X sedang
mempertimbangkan penentuan harga jual jasa reparasi untuk tahun anggaran yang akan datang. Perusahaan memiliki 2 departemen: Bengkel dan Toko Suku Cadang. Perusahaan mempekerjakan 6 mekanik dan 4 ahli listrik dalam Departemen Bengkel. Menurut anggaran, perusahaan direncanakan akan beroperasi pada kapasitas normal sebanyak 300 hari @ 7 jam kerja per hari. Jumlah aktiva yang digunakan di
ditanamkan dalam Departemen Toko Suku Cadang adalah sebesar Rp 28.000.00,- Taksiran harga beli bahan dan suku cadang sebesar Rp 23.800.000,- Tarif kembalian investasi (ROI) yang diharapkan dalam tahun anggaran adalah 25%.
Taksiran jam kerja tenaga kerja langsung untuk tahun anggaran yang akan datang adalah sebagai berikut:
Upah tenaga kerja langsung:
(10 x 300 hari x 7 jam) @ Rp 1.500 per jam Rp31.500.000 Biaya kesejahteraan TKL: Tunjangan kesehatan 10 orang x 12 bulan x Rp50.000,- Rp 6.000.000 Tunjangan kesejahteraan: 10 orang x 12 bulan x Rp25.000,- Rp 3.000.000 + Jumlah biaya TKL Rp40.500.000 Jam TKL:
10 orang x 300 hari kerja x 7 jam kerja 21.000 jam : Biaya TKL per jam Rp 1.929 Biaya Tidak Langsung Bengkel dianggarkan sebagai berikut: Gaji pengawas dan TKTL lainnya Rp11.600.000 Biaya depresiasi aktiva tetap 2.200.000 Biaya asuransi 650.000 Biaya listrik 800.000 Biaya air 400.000
Biaya reparasi aktiva tetap 350.000 Biaya umum 500.000 Jumlah biaya tidak langsung Rp16.500.000 Biaya Tidak Langsung Toko Suku Cadang:
Gaji tenaga kerja toko Rp 9.000.000 Biaya listrik 700.000 Biaya kantor 300.000 Jumlah biaya tidak langsung toko Rp10.000.000
Dalam memutuskan harga jual jenis jasa standar tertentu yang disediakan bagi pelanggan, manajer pemasaran PT X memperhitungkan harga jual sebagai berikut: Misalkan untuk jenis jasa servis mesin yang terdiri dari pekerjaan ganti oli dan
tune-upmesin memerlukan 2 orang mekanik dan 1 orang ahli listrik,yang masing-masing
bekerja sebagai berikut:
Mekanik 1,0 jam orang* Ahli listrik 1,5 jam orang
(*jam orang adalah hasil kali jam kerja dengan jumlah orang. Jam mekanik 1 jam orang berarti untuk pekerjaan servis mesin diperlukan 2 orang mekanik dengan jam kerja masing-masing ½ jam)
Tentukan:
1. Persentase markup dari biaya tenaga kerja langsung
2. Persentase markup dari harga beli bahan dan suku cadang
3. Harga jual jasa servis mesin
JAWAB:
1. Menghitung persentase markup dari BTKL:
Biaya tidak langsung bengkel Rp 16.500.000 Laba yang diharapkan:
(25% x Rp60.000.000) 15.000.000 + Jumlah Rp 31.500.000 Biaya TKL 40.500.000 : Persentase markup dari BTKL 78%
1. Menghitung persentase markup dari harga beli bahan dan suku cadang
Biaya tidak langsung toko suku cadang:
Gaji tenaga kerja toko Rp 9.000.000 Biaya listrik 700.000 Biaya kantor 300.000 Jumlah biaya tidak langsung toko Rp10.000.000 Laba yang diharapkan (25% x 28.000.000) 7.000.000 Jumlah Rp17.000.000
Taksiran harga beli bahan dan suku cadang Rp 23.800.000 : Persentase Markup dari harga beli bahan dan suku cadang71%
1. Perhitungan harga jual jasa servis mesin
2,5 jam @ Rp 1.929 Rp 4.823
Markup : 78% x Rp4.823 3.726
Harga jual jasa servis mesin Rp 8.585
1. Perhitungan harga jual bahan dan suku cadang
Jika seorang pelanggan memerlukan jasa servis mesin dan memerlukan 1 kaleng oli mesin yang harga fakturnya Rp10.000,- dan saringan oli (oil filter) yang harga
fakturnya Rp8.000,- maka kepada pelanggan tersebut perusahaan akan membebankan harga jual jasa, bahan dan suku cadang sebesar:
Harga jual jasa servis mesin Rp 8.585 Harga bahan dan suku cadang Rp18.000
Markup dari harga bahan dan suku cadang
(71% x Rp18.000) Rp12.780
Harga jual bahan dan suku cadang Rp30.780
Jumlah hasil penjualan jasa servis mesin,