BAB I BAB I
PENDAHULUAN PENDAHULUAN A.
A. LaLatatar r BeBelalakankangg Pil
Pilihaihan n OtoOtonomnomi i daedaerah rah bagbagi i negnegara ara berberdaudaulat lat (Li(Lipsopson n !"!"# # soesoemarmarno$ no$ %&%&&'&' d
dikikatatakakan an teterkrkaiait t ddenenggan an bbebebererapapa a pertpertimimbabangnganan$ $ anantatara ra lalainin) ) kekedudududukakann ke*arganegaraan$ kekuasaan negara terbatas atau tidak terbatas$ ke*enangan di tangan ke*arganegaraan$ kekuasaan negara terbatas atau tidak terbatas$ ke*enangan di tangan rak+at atau ditentukan negara$ pemerintahan sentralistik atau desentralistik$ dan hubungan rak+at atau ditentukan negara$ pemerintahan sentralistik atau desentralistik$ dan hubungan lua
luar r negnegeri diteneri ditentuktukan an oleoleh h pempemerinerintah atau tah atau kepkeputuutusan rak+asan rak+at t tententantang g kebkebutuutuhanhan hubungan tersebut. Indonesia dalam hal ini memilih desentralisasi pemerintahan +ang hubungan tersebut. Indonesia dalam hal ini memilih desentralisasi pemerintahan +ang dilandasi konstitusi$ +aitu) UUD !,- Pasal a+at ($ dan pasal "# dibarengi dengan dilandasi konstitusi$ +aitu) UUD !,- Pasal a+at ($ dan pasal "# dibarengi dengan pelaksanaan otonomi daerah.
pelaksanaan otonomi daerah. Pi
Pililihahan n ititu u didilalakukukakan n dedengngan an bebebeberarapa pa alalasasanan. . ee/a/ara ra popolilititis s dedesesentntraralilisasasisi pemerintahan
pemerintahan men/egah men/egah penumpukan penumpukan kekuasaan kekuasaan pada pada sekelompok sekelompok orang orang dengandengan mendidik rak+at untuk ikut serta se/ara akti0 dengan menggunakan hak dan ke*a1ibann+a mendidik rak+at untuk ikut serta se/ara akti0 dengan menggunakan hak dan ke*a1ibann+a dalam pemerintahan. e/ara organisatoris desentralisasi menu1u pada pemerintahan +ang dalam pemerintahan. e/ara organisatoris desentralisasi menu1u pada pemerintahan +ang e0i
e0isiensien2e02e0ektekti0# i0# uruurusan san daedaerah rah dikdiker1aer1akan kan pempemerinerintah tah daedaerah rah dan dan uruurusan3san3kepkepententinginganan nasional ditangani pemerintah pusat# karenan+a pengambilan keputusan (politik dapat nasional ditangani pemerintah pusat# karenan+a pengambilan keputusan (politik dapat dilakukan dengan /epat dan tepat$ sehingga permasalahan dan hambatan +ang timbul dilakukan dengan /epat dan tepat$ sehingga permasalahan dan hambatan +ang timbul karena perbedaan 0aktor geogra0i$ demogra0i$ sosial ekonomi$ kebuda+aan$ hukum dan karena perbedaan 0aktor geogra0i$ demogra0i$ sosial ekonomi$ kebuda+aan$ hukum dan sebagain+a dapat lebih mudah diperkirakan dan diatasi. e/ara kultural pemerintah dapat sebagain+a dapat lebih mudah diperkirakan dan diatasi. e/ara kultural pemerintah dapat men/urahkan pembangunan di daerah$ karena lebih memahami aspirasi dan kebutuhan men/urahkan pembangunan di daerah$ karena lebih memahami aspirasi dan kebutuhan mas+
mas+arakarakat at sertserta a mammampu pu menmen1ang1angkau kau pelpela+aa+anan nan padpada a rakrak+at +at (4h(4he e LiaLiang ng 5ie5ie$ $ !6!6"#"# soemanto$ %&&'.
soemanto$ %&&'. Ot
Otononomomi i DaDaeraerah h mememimililiki ki keke*e*enanangngan an memengngatatur ur dadan n memengngururus us kekepepentntiningagann mas+
mas+arakarakat. Prakarat. Prakarsa sa daedaerah +ang rah +ang dildilakuakukan kan berdasberdasarkaarkan n aspaspirasirasi i dan kebutdan kebutuhauhann mas+arakat adalah satu rumusan ideal# sekalipun begitu isi dan bentuk +ang dibutuhkan mas+arakat adalah satu rumusan ideal# sekalipun begitu isi dan bentuk +ang dibutuhkan unt
untuk uk pelpelaksaksanaaanaann+nn+a a /uk/ukup up rumrumit. it. Hal Hal ini ini dapdapat at dildilihat ihat dardari i isi isi (su(substbstansansi$ i$ strustruktuktur r kelembagaan$ keragaman 1enis lembaga pelaksana (atuan 7er1a Pemerintah Daerah2 kelembagaan$ keragaman 1enis lembaga pelaksana (atuan 7er1a Pemerintah Daerah2 7PD$ aspirasi dan kepentingan mas+arakat +ang terus meningkat dan harus dipenuhi$ 7PD$ aspirasi dan kepentingan mas+arakat +ang terus meningkat dan harus dipenuhi$ serta kebutuhan regulasi +ang mengatur dan melindungi kepentingan dengan pasti dan adil serta kebutuhan regulasi +ang mengatur dan melindungi kepentingan dengan pasti dan adil dan sebagain+a. emua itu me*a1ibkan dan mendorong pemerintah daerah maupun semua dan sebagain+a. emua itu me*a1ibkan dan mendorong pemerintah daerah maupun semua pihak untuk terus mengusahakan
7e*enangan otonomi daerah di*u1udkan dengan memperhatikan tiga hal$ +aitu) ruang lingkup (luas$ ken+ataan dan tanggung 1a*ab. 7e*enangan +ang luas menun1ukkan keleluasaan pen+elenggaraan pemerintahan men/akup ke*enangan bidang8 bidang pemerintahan +ang harus diren/anakan$ dilaksanakan$ dia*asi$ dimonitor dan die9aluasi. 7e*enangan menurut ken+ataan menun1uk pada keleluasaan daerah dalam men+elenggarakan pemerintahan berdasarkan realitas sosial$ kebutuhan dan bahkan permasalahan +ang dihadapi rak+at. Dan otonomi daerah +ang bertanggung 1a*ab
merupakan konsekuensi dari penerimaan hak dan ke*enangan untuk mengatur daerah sendiri serta men1aga keutuhan Negara 7esatuan :epublik Indonesia (edarmi+ati$ %&&&# oemanto$ %&&'.
B. :umusan ;asalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan maslahn+a adalah sebagai brikut) . Bagaimana pelaksanaan otonomi daerah saat ini
%. Bagaimana 4antangan otonomi daerah dari segi Hukum dan osial Buda+a <. Bagaimana Penanggulangan tantangan otonomi daerah
=. 4u1uan penulisan
. Untuk mengetahui pelaksanaan otonomi daerah saat ini
%. Untuk mengetahui 4antangan otonomi daerah dari segi Hukum dan osial Buda+a <. Untuk mengetahui Penanggulangan tantangan otonomi daerah
BAB II PE;BAHAAN A. Pelaksanaan Otonomi Daerah
Pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia sudah diselenggarakan lebih dari satu dasa*arsa Perubahan sistem pemerintahan dari sentralistik ke desentralistik berpengaruh dan berdampak luas pada sendi8sendi kehidupan sosial buda+a$ ekonomi$ politik dan hukum di mas+arakat Desentralisasi Pemerintahan sebagai dasar pelaksanaan otonomi daerah memiliki tiga tu1uan pokok bersi0at politik$ administrati0 dan sosial ekonomi. 4u1uan politik men/akup demokratisasi in0rastruktur (instrumen politik melalui partai politik (Parpol dan De*an Per*akilan :ak+at Daerah (DP:D. 4u1uan administrati0
meliputi pembagian urusan pemerintahan$ sumber keuangan$ penguatan dan pembaruan mene1emen pemerintahan$ dan pembangunan sumberda+a manusia (D; aparatur pemerintah le*at pemilihan kepala daerah (Pilkada. Dan tu1uan sosial ekonomi berusaha
meningkatkan indek pembangunan manusia (IP;$ kerukunan dan ketahanan sosial. 7etiga tu1uan +ang di/apai oleh desentralisasi pemerintahan memberi penguatan pada pelaksanaan otonomi daerah. Pemilihan kepala daerah +ang demokratis$ didukung oleh 0ungsi dan peran partai politik dan lembaga legislati0 +ang kuat dengan membela dan men+uarakan aspirasi rak+at$ kondisi pemerintahan +ang baik dan bersih serta didukung oleh kualitas D;$ kerukunan dan ketahanan sosial +ang kokoh$ men1adikan pelaksanaan otonomi daerah memberi dan meningkatkan kese1ahteraan rak+at +ang optimal (utopo >7.$ %&&'. ebab good go9ernan/e merupakan 0aktor pendukung keberhasilan otonomi daerah. Pemerintahan +ang memenuhi kriteria good go9ernan/e adalah +ang ( pilihan dan penun1ukan pe1abatn+a kompeten$ (% menerapkan prinsip transparansi dalam melaksanakan aspek dan 0ungsi pemerintahan di daerah$ (< melakukan akuntabilitas se/ara +uridis terhadap setiap tindakan dam keputusann+a kepada publik$ (, mampu mendorong partisipasi mas+arakat dalam men1alankan pemerintahan$ (- harus memiliki kepastian dan penegakan hukum (rule o0 la* +ang 1elas$ (6 men1un1ung prinsip kesetaraan dan keadilan bagi seluruh rak+at (B. ?udho+ono dkk.$ %&&<. Pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah memposisikan daerah dan mas+arakat men1adi pelaku me*u1udkan kese1ahteraan sosial dengan melaksanakan kebi1akan publik melalui pela+anan prima$ penegakan aturan hukum dan pemberda+aan mas+arakat. Pela+anan publik harus ter1angkau$ tepat kebutuhan dan sasaran serta berlangsung e0isien2e0ekti0
Artin+a pela+anan publik harus dilakukan dengan teren/ana$ terukur sasaran dan hasiln+a$ dilakukan oleh aparatur +ang kompeten melalui /ara$ prosedur dan aturan hukum +ang tegas$ dan pasti. @aktor80aktor penting berlangsungn+a otonomi daerah ditentukan oleh manusia$ seperti 7epala Daerah dan anggota eksekuti0 lain serta 1a1aran legislati0# dan tidak kalah penting adalah partisipasi mas+arakat$ +aitu keterlibatan seluruh mas+arakat sebagai sistem terhadap masalah8masalah +ang dihadapi dan men/ari serta mengusahakan peme/ahann+a. 7emudian 0aktor bia+a (keuangan daerah sangat dibutuhkan dalam mendukung pelaksanaan kebi1akan dan program8programn+a. Bia+a ini digali dari pa1ak daerah$ retribusi daerah$ perusahaan daerah$ dinas dan dana alokasi umum maupun khusus +ang harus diraih dari pemerintah pusat. @aktor peralatan 2 instrumen berupa perangkat keras (teknologi dan lunak. Dan sistem$ organisasi$ mene1emen serta struktur organisasi tata laksana (O4 +ang /o/ok dengan kebutuhan pela+anan mas+arakat dan pengelolaan pengembangan daerah (:i*u 7aho$ !"". Dengan demikian desentralisasi dan pelaksanaan otonomi daerah sangat di*arnai oleh keragaman O4$ potensi dan latar belakang sosial buda+a dan ekonomi masing8masing kabupaten dan kota
Lalu bagaimana dengan kebi1akan publik berikut pen1abaran program8program +ang dilaksanakan Pelaksanaan otonomi daerah$ terlebih dulu di1amin adan+a beberapa kondisi +ang harus ada. Pertama$ rumusan dan penetapan 9isi8misi$ karena isin+a men+angkut gambaran masa depan (ber1angka tertentu kabupaten dan kota +ang dirumuskan berdasarkan harapan$ kebutuhan mas+arakat serta semua stakeholders. Penetapan 9isi8misi daerah harus berlangsung demokratis$ dan di1abarkan singkat oleh 7PD ke dalam indikator untuk dilaksanakan. 7edua$ ke*enangan dengan pertimbangan orientasi usaha bisnis$ misi a*al untuk pengembangan sumberda+a lokal. men1alankan pemerintahan daerah dengan melaksanakan urusan$ dan men1alin 1e1aring dan ker1asama dengan kabupaten3kota lain$ serta pihak8pihak lain. Dan ketiga$ adan+a kelembagaan +ang ditata menurut ruang lingkup pela+anan$ realitas sosial dan tanggung 1a*ab# serta dukungan anggaran bia+a. Pelaksanaan otonomi daerah adalah peristi*a perubahan sosial besar +ang diren/anakan. Pengalaman serupa tapi tidak sama di Amerika erikat pada masa Bill =linton melahirkan prinsip8prinsip 5ores =ommision tentang pembaharuan pela+anan publik.
Hal +ang perlu di/atat disini bah*a prinsip prinsip tersebut mengunggulkan pela+anan prima$ antara lain) keramah tamahan pada pelanggan (mas+arakat$ kemitraan dengan publik dan s*asta$ penggunaan hasil se/ara terukur$ pemberda+aan dan partisipasi mas+arakat dan perlun+a peren/anaan strategis (Osborn et al.$ !!!$ soemantom %&&'. emua itu dikaitkan dengan pertimbangan orientasi usaha bisnis$ misi a*al untuk pengembangan sumberda+a lokal.
B. 4antangan Otonomi Daerah dari segi Hukum dan osial Buda+a
Pembahasan mengenai otonomi daerah +ang bersi0at ideal normati0 dapat dimengerti dan men+e1ukkan hati. Namun rasan+a hal itu semua sangat berbeda dengan realitas +ang ada di mas+arakat. 4entu masih segar dalam ingatan kita bah*a otonomi daerah +ang dilaksanakan di *ila+ah N7:I ini merupakan momentum dari keberhasilan gerakan re0ormasi sosial politik. UU Nomor %% 4ahun !!! tentang Pemerintahan Daerah +ang mengiring dan mendukung per1alanan seorang anak ibaratn+a$ +aitu otonomi daerah +ang kemudian menapaki 1alan ter1al dan berliku. 7ita tahu$ keputusann+a diambil di tengah situasi hiruk8pikuk dan e0oria keberhasilan re0ormasi dan kuatn+a tuntutan demokratisasi. 7egembiraan +ang berlebih itu seolah melupakan petaka krisis moneter dan ekonomi +ang 1uga tengah melanda kehidupan bangsa. Di dalam situasi paradok seperti itu lahir
keputusan besar pemberlakuan dan pelaksanaan otonomi daerah# se/ara pemikiran positi0is keadaan tersebut baik dan sah sa1a$ dan tidak menuding siapa +ang berdosa di antara kita. :e0ormasi +ang diartikan sebagai pembaharuan bertu1uan mengoreksi beker1an+a berbagai institusi dan berusaha menghilangkan berbagai borok sebagai sumber
mal0un/tion insitusi dalam tata sosial (Ciradi$ %&&6# kemudian dipahami se/ara berbeda8 beda dalam praktek. 7ata sebagai simbol tidak bisa digunakan netral$ dimengerti dan digunakan menurut kepentingan dan *a/ana politik dan hukum (oetand+o$ %&&%. Oleh sebab itu pemahaman tersebut bisa men+impangkan tindakan men/apai tu1uan. >ika suatu *aktu kita melakukan re0leksi keadaan tersebut$ kita tersentuh oleh keari0an lokal dan disadarkan oleh ke/erdasan spiritual) kaduk *ani kurang deduga$ dan ungkapan lain +ang memberi *a*asan ari0 dalam situasi seperti di atas ) +en madu ka*oran *isa$ limbangen$ 1upuken madune. ?en emas ka*oran rereged$ 1upuken emase ban1ur kumbahen. 5olekana lan tuladhanen kautaman lan pi*ulang be/ik$ sana1an dumunung ana *ong asor 8 /ilik (Pur*adi$ %&&<.
UU Nomor %% 4ahun !!! sebagai landasan hukum untuk melaksanakan desentralisasi dan otonomi daerah +ang berlaku < tahun se1ak diundangkan$ dire9isi substansin+a dan mun/ul perberlakuan UU Nomor <% 4ahun %&&,. UU baru inipun konon masih dinilai belum aspirati0 dan memun/ulkan komentar pemerintah pusat dan kabupaten3kota# sehingga bisa di+akini bakal tidak men1amin melahirkan tindakan8 tindakan +ang mengarah pen/apaian tu1uan. ?udi/ial re9ie* (re9ie* produk hukum dalam hal ini UU Nomor %% 4ahun !!! men1adi UU Nomor <% 4ahun %&&, dilakukan dengan membahasn+a berdasarkan logika hukum$ realitas hukum di mas+arakat tidak diperhatikan$ hasiln+a tidak merupakan representasi kepentingan rak+at. ;ahkamah Agung (;A +ang memiliki otoritas mere9ie*$ dalam hal ini masih bisa dikatakan belum memiliki /ons/ien/e o0 the /ourt (hati nurani pengadilan (at1ipto :ahard1o$ %&&'. 4antangan mengenai bagaimana aparatur pemerintah memahami peraturan perundang8 undangan +ang telah dire9ie*$ diamandemen sebagai tuntutan mas+arakat. >ika tanpa pemahaman +ang baik dari aparatur pelakun+a$ maka sulit diba+angkan mempun+ai makna dan tindakan di mas+arakat. 7eadaan ini merupakan masalah hukum se/ara umum di Indonesia. Ban+ak peraturan perundang8undangan han+a memiliki makna simbolis karena tidak dipahami makna sosialn+a$ maka tidak bisa3mudah dilaksanakan oleh aparatur pemerintah (Hikmahanto ?u*ono$ Harian 7O;PA$ %&&%.
7utipan di atas bukan bermaksud sarkastik$ pesimistik dan apatis terhadap apa +ang telah diputuskan dan dilaksanakan men/apai hampir se*indu (" tahun. Hal ini lebih sebagai tantangan +ang harus dihadapi untuk diteruskan ke arah tu1uan. 7ita semua membutuhkan re0leksi atas apa +ang telah diker1akan dan di/apai$ agar tidak mengulang kesalahan +ang sama namun lebih mengarah pada peningkatan hasil. Perhatian terhadap hidup hari ini men1adi penting$ apa +ang diker1akan$ mengapa$ bagaimana dan dengan siapa3pihak mana# bagaimana man0aat hasil dan untuk siapa. :e0leksi malam atas pengalaman hidup hari ini menga1arkan pada kita tentang keari0an$ mengasah ke/erdasan spiritual$ emosional dan intelektual. Dan pemikiran hari ini +ang sub+ekti0$ kiran+a bisa dilakukan 1uga pada skala +ang lebih besar$ seperti untuk pelaksanaan otonomi daerah.
emua kekuasaan hukum seharusn+a berperan sebagai alat penguatan pelaksanaan pembangunan serta untuk pemberantasan pen+impangann+a$ seperti tindak korupsi$ namun tern+ata sedikit3ke/il hasiln+a. Dan kekuasaan +ang paling imperati0 itu pun tak berda+a 1ika dihadapkan dengan kekuatan +ang lebih besar$ +aitu kolusi. Dalam pembi/araan mengenai 0ungsi hukum tersebut selalu timbul keluh kesah akan lemahn+a la* en0or/ement. Dengan demikian$ penerapan UU untuk pelaksanaan otonomi daerah
perlu mengambil posisi dan peran dengan menggunakan sudut pandang perubahan sosial buda+a dalam mendaratkan 0ungsi hukum men1adi realitas kehidupan mas+arakat. 7arena otonomi daerah dilaksanakan dengan aturan perundangan +ang dibuat sendiri untuk melan/arkan pelaksanaan kebi1akan daerah sendiri$ maka semestin+a 0ungsi hukum tersebut e0ekti0.
Otonomi daerah ban+ak mendorong ter1adin+a perubahan$ seperti struktur organisasi tatalaksana (O4$ namun belum mengindikasikan perubahan berpikir dan perilaku aparatur dalam mela+ani mas+arakat. 7emudian sebagian *arga mas+arakat berpikir dan berperilaku bebas$ menggunakan hak8hak kebebasann+a namun meninggalkan norma hukum dan tatanan +ang ada. 4antangan otonomi daerah 1uga bersumber pada lingkungan internal birokrasi pemerintah. 5e1ala ego sektoralisme dan lemahn+a koordinasi$ pelaksanakan tugas kurang berorientasi pen/apaian prestasi# /enderung *aton ker1a$ tidak beker1a dengan *aton$ perilaku nrabas 2 potong kompas untuk men/apai tu1uan$ posisi personal +ang kurang mendasarkan prinsip merit s+stem$ diterminisme administrasi dan pela+anan +ang kaku# semuan+a /enderung meluas. 7eadaan ini menimbulkan dampak pada tidak ter/apain+a tu1uan$ ine0isiensi$ dan rendahn+a mutu hasil +ang di/apai.
7etidakadilan makin membesar dan kese1ahteraan rak+at makin terabaikan. Primordialisme daerah (daerahisme menguat didorong oleh semangat meningkatkan pendapatan asli daerah PAD$ ia seakan tu1uan utama otonomi daerah. 7erangka ker1asama antar daerah dibentuk dalam *u1ud 0orum bersama$ namun 1alann+a masih terseok# tu1uann+a masih 1auh dari harapan. Benturan kepentingan antar daerah +ang pernah ter1adi di masa lalu belum mampu mendorong menguatkan 1aringan ker1asama. @ungsi hukum untuk mengatur peran pelaku (stakeholders dan melindungi kepentingann+a mandul. :ealitas hubungan eksekuti0 dan legislati0 dengan rak+at nampak tidak bergairah dan sen1ang. Bahan dasar untuk kebi1akan dan peren/anaan program di daerah belum mendasarkan data base baku$ seperti penduduk$ penduduk miskin$ ketenagaker1aan$ pendidikan$ kesehatan$ 1enis dan kelompok usaha serta lahan produkti0 dan sebagain+a. 7elangkaan data tersebut tidak bisa menggambarkan /apaian kema1uan pelaksanaan otonomi daerah. 4antangan pelaksanaan otonomi daerah tersebut men1adi perhatian semua pihak$ eksekuti0$ legislati0$ mas+arakat dan s*asta. Oleh sebab itu$ dengan melihat tantangan$ pertan+aann+a bagaimana menanggulanginn+a. Akar permasalahann+a dapat ditemukan pada tantangan. umbern+a bersi0at internal$ +aitu dari
mas+arakat$ s*asta$ eksekuti0$ dan legislati0# maupun eksternal +aitu 0aktor3pihak +ang berasal dari luar semua pihak itu.
=. Penanggulangan masalah hukum dan sosialdari pelaksanaan otonomi daerah.
Perubahan dalam organisasi dibutuhkan bagi kelangsungan dan peningkatan otonomi daerah. Organisasi birokrasi pemerintah kabupaten3kota menghadapi tantangan dalam meningkatkan pela+anan publi/. Pembangunan aspek8aspek organisasi men/akup) struktur$ ruang lingkup dan 1enis kegiatan$ hubungan internal dan eksternal# dan sasaran pembangunann+a. Pembangunan struktur organisasi tersebut meliputi pengelompokan dan pembagian tugas$ *e*enang$ tanggung 1a*ab$ pengaturan posisi dan hubungan8hubungan 0ormaln+a. Dasarn+a adalah respon terhadap tuntutan kebutuhan mas+arakat +ang meningkat. :uang lingkup dan 1enis kegiatan dalam sistem pela+anan publi/ harus memenuhi pers+aratan baku$ kesepakatan tata/ara dalam mengembangkan in0ormasi$ komunikasi dan pembuatan keputusan8keputusan$ serta mengembangkan sistem aliran dana$ dan barang. Pengembangan hubungan internal +ang e0isien dan e0ekti0 harus terkait dengan akuntabilitas pen+elesaian tugas$ proses pembela1aran +ang memadukan ma/am8 ma/am pendapat indi9idu$ nilai dan norma +ang dihormati mas+arakat. edangkan hubungan eksternal dilakukan le*at pengembangan 1aringan ker1asama$ lobi$ dan men+esuaikan peranan dengan tuntutan perubahan. Usaha menepatkan arah sasaran pela+anan publi/ harus ditempuh dengan pengembangan strategi berdasarkan kebutuhan +ang dila+ani dan kesiapan +ang mela+ani. Penentuan arah$ sasaran dan ke/epatan perubahan organisasi birokrasi perlu memperhatikan se1arah dan pengalaman$ /ita8/ita dan tu1uan +ang pernah ditetapkan# hubungan 0ungsional antar lembaga$ dan buda+a organisasi# serta dinamika hubungan struktural (9erti/al dalam organisasi. ;as+arakat$ s*asta$ legislati0 dan eksekuti0 harus memiliki persepsi$ bahasa$ pemikiran +ang sama tentang hasil di atas. ebab kalau ter1adi perbedaan$ tindakan berupa program kegiatan +ang tidak sinkron$ terpadu$ 1alan sendiri8sendiri# menghasilkan hal +ang kontraprodukti0. Dalam ken+ataan terdapat perbedaan dan keragaman intensitas 0ungsional organisasi birokrasi pemerintah. umbern+a adalah tingkat kemampuan organisasi menangani perbedaan dalam dirin+a$ perbedaan hirarkhi kekuasaan$ kesempatan dan kemampuan aparat# dan kondisi lain adalah keragaman etnik$ gender$ kelompok sosial$ pendapatan dan sebagin+a. >ika keragaman ini dilihat pada organisasi mas+arakat$ maka perbedaan tersebut ter1adi karena hiteroginitas peker1aan$ kelas sosial$ tingkat perlakuan kelompok$ pengaturan dan perlindungan$ serta tingkat peluang dan sebagain+a. 4ingkat perbedaan
ker1asama$ in9estasi dan seterusn+a +ang u1ung8u1ungn+a merugikan seluruh komponen (pelaku otonomi daerah.
Bagaimana mengelola perubahan sosial di mas+arakat dengan pelaksanaan program pemberda+aan Dalam hal pengelolaan ini menun1uk peranan pemerintah$ dinas3lembaga +ang akti0 terlibat$ /ara melibatkan diri$ dan akhirn+a hasil +ang di/apai. etiap peranan dan keterlibatan tersebut harus mendasarkan prinsip untuk menetapkan tindakan3praktek +ang diambil. Peranan pemerintah dalam melaksanakan program didasarkan prinsip tanggung 1a*ab moral dan publi/$ regulasi dan perlindungan hukum$ men1aga pro0esionalitas$ kebi1akan publi/ dan pen/apaian tu1uan. Dinas3instansi (7PD +ang terlibat akti0 mendasarkan prinsip pela+anan publi/$ sasaran program$ pendekatan mas+arakat3s*asta. Bentuk dan /ara melibatkan diri mendasarkan prinsip pen/apaian kebi1akan$ prinsip mene1emen$ regulasi dan kemitraan. Dan hasil +ang di/apai harus mendasarkan prinsip pemenuhan kebutuhan publi/3mas+arakat$ e0isien8e0ekti0$ perlindungan lingkungan dan mas+arakat. Usaha pemerintah melakukan perubahan tersebut men1adi tugas dan ke*a1iban serta melekat dalam tanggung 1a*ab. Pela+anan pemerintah pada rak+at adalah *u1ud dari pengabdian pada mas+arakat. ekalipun demikian pela+anan tersebut tidak selalu berlangsung e0isien dan e0ekti0. Apatisme dan penolakan rak+at terhadap pela+anan timbul sebagai satu bentuk reaksi +ang kemudian
dinilai sebagai kendala program
trategi dan pengelolaan perubahan perlu ditin1au ulang untuk diubah sesuai dengan harapan mas+arakat. alah satu alasan utama mengapa mas+arakat menolak perubahan adalah karena ia dipandang sebagai an/aman terhadap pemikiran dan pola tingkah laku +ang mapan. Dalam usaha mengatasi masalah tersebut Amstrong (%&&% dalam soemanto (%&&' menga1ukan strategi perubahan dengan mengemukakan langkahlangkah) ( melakukan analisis dampak utama +ang timbul karena perubahan dengan mempertimbangkan kondisi sosial$ ekonomi dan buda+a mas+arakat$ dan mengidenti0ikasi aspek perubahan +ang diusulkan dengan mengeliminir penolakan mas+arakat. (% memahami detail penolakan mas+arakat terhadap perubahan$ termasuk memahami rasa takut$ ka*atir$ ambisi$ dan si0at ambi9alen mas+arakat lebih me ndalam. (< >ika tanggapan positi0 mas+arakat sudah timbul$ diberikan peluang dan peranan untuk membahas$ mengangkat dan meme/ahkan masalah serta men+usun saran tentang bentuk perubahan +ang dikehendaki. 7emudian bangunan pengembangan komunikasi dan in0ormasi tentang perubahan +ang diusulkan harus dilakukan hati8hati untuk menghindarkan keka*atiran
dan meningkatkan respon positi0. a+a sadar dan +akin bah*a pelaksanaan otonomi daerah adalah *u1ud dari pengha+atan hidup bermas+arakat$ berbangsa dan bernegara.
BAB III 7EI;PULAN
ebagai bentuk pelaksanaan UUD !,-$ tepatn+a pada masa Orde Baru dibentuklah aturan Pemerintah Daerah +ang diatur dalam UU No. - tahun !',$ +ang menetapkan bah*a Fdaerah +ang dibentuk berdasarkan asal desentralisasi disebut daerah otonom$
adapun *ila+ah +ang dibentuk berdasarkan asas dekonsentralisasi disebut *ila+ah administrati0. Dalan UU No. - tahun !',$ otonomi daerah se/ara tegas menganut prinsip +ang n+ata dan bertanggung1a*ab$ bukan otonomi seluas8luasn+a. :ealita Otonomi Daerah tern+ata pemerintah lebih mengarah ke sentralisasi dengan memberi aturan dan batasan8batasan tegas kepada daerah dalam men1alankan praktek UU No. - tahun !', untuk sebuah alasan demi keutuhan bangsa$ akhirn+a daerah8daerah tetap dalam penga*asan dan kontrol +ang ketat dari pusat.
UU No. %% dan %- tahun !!! men1adi tonggak pembenahan otonomi di era pemerintahan Habibi menggantikan UU No. - tahun !',. Lahirn+a undang8undang ini merupakan respon atas tuntutan daerah +ang menginginkan hak8hak mereka +ang selama ini tersedot sepenuhn+a ke pusat untuk kembali dikelola daerah. Pemerintah Habibi +ang mengeluarkan kabi1akan otonomi daerah di ba*ah menteri otonomi baru ini tern+ata masih menun1ukkan keran/uan dan kesetengah hatian pemerintah pusat dalam memberikan hak otonomi kepada daerah. Hal ini disebabkan 0aktor ketidak1elasan aturan8 aturan +ang termuat dalan UU No. %% dan %- tahun !!! +ang men+atakan bah*a masih ban+akn+a penge/ualian bidang8bidang +ang tetap dikelola dan diatur oleh pusat.
UU No. %% dan %- tahun !!! ban+ak memberi prospek dan peluang bagi daerah8 daerah agar bisa memberikan mengembangkan potensi *ila+ahn+a$ mengelola aset8aset +ang dimiliki sekaligus bisa memperoleh hasil keka+aan se/ara penuh tanpa /ampur tangan pusat. Namun demikian prospek ekonomi tidak han+a men1an1ikan peluang dan prospek /erah$ keluarn+a UU No. %% dan %- tahun !!! disaat keperpurukan ekonomi dan stabilitas politik men1adi hambatan terbesar untuk penerapan otonomi bagi seluruh daerah$ terutama daerah8daerah +ang +ang kurang memiliki kelebihan potensi sumber da+a alam dan kesiapan8kesiapan lainn+a untuk bisa lepas dan mandiri. Dari permasalahan tersebut$ maka akan timbul masalah kesen1angan +ang sangat men/olok antar daerah sehingga memun/ulkan gep8gep baru dan 0anatisme kedaerahan +ang berlebihan.
:ealita lain +ang ter1adi$ ban+ak daerah8daerah +ang memiliki sumber da+a alam berlimpah$ namun tidak memiliki penanganan +ang baik dan pro0esioanl$ maka untuk
merealisasikan ter*u1udn+a otonomi daerah hendaklah terlebih dahulu mengamati keadaan sosio kultur dan geogra0is suatu daerah$ pengelolaan alam +ang baik dan pro0esional$ untuk me*u1udkan itu perlu tenaga +ang ahli pada bidangn+a untuk
menghasilkan daeah8daerah +ang siap men+ongsong otonomi seluas8luasn+a demi ter*u1udn+a asas desentralisasi.
DA@4A: PU4A7A
oemanto$ P:O@. D:. :.B. ;.A. ) 4antangan Pelaksanaan Otonomi Daerah ) perspekti0 hukum dan perubahan sosial dalam Pidato Pengukuhan 5uru Besar osiologi Hukum pada @IIP Uni9ersitas ebelas ;aret disampaikan dalam sidang senat terbuka uni9ersitas sebelas maret pada %! desember %&&'.
bkd.di+.go.id diakses tanggal 6 desember %&6 artikel (%<3&,3%&- Perkembangan Otonomi Daerah aat Ini.
Himmaba./om diakses tanggal 6 desember %&6 tulisan @ahliatun Nis a (Pimred Buletin Lensa dan peraih >uara I L74I HI;;ABA %&&%.