• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBUTUHAN DAN USAHA PENGELOLAAN PEMBERIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KEBUTUHAN DAN USAHA PENGELOLAAN PEMBERIA"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH PENGELOLAAN AIR UNTUK PERTANIAN

KEBUTUHAN DAN USAHA PENGELOLAAN PEMBERIAN AIR UNTUK TANAMAN PADI SAWAH (Oryza sativa L.)

Oleh: Nurlana Rahayu

A1L113009

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO

(2)

PRAKATA

Assalamualaikum Wr.Wb.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang atas izin-Nya penulis

akhirnya dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Kebutuhan dan Usaha

Pengelolaan Pemberian Air Untuk Tanaman Padi Sawah (Oryza Sativa L.)”.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas salah satu mata kuliah Pengelolaan

Air untuk Pertanian. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada

Bapak, Drs.Suwardi, M.Si. selaku dosen pengampu Pengelolaan Air untuk

Pertanian yang telah mendukung dalam penyusunan makalah ini .

Akhirnya, penulis berharap agar makalah ini dapat berguna bagi penulis

khususnya dan pembaca umumnya, serta penulis mengharapkan kritik dan saran

yang sifatnya membangun guna kebaikan penulisan di masa yang akan datang.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Purwokerto, 17 Juni 2015

(3)

DAFTAR ISI

B. Kebutuhan Air Pada Tanaman Padi...5

C. Komponen Kebutuhan Air Irigasi...6

D. Kebutuhan Air Untuk Padi Sawah Secara Umum...7

E. Metode Kebutuhan Air Tingkat Usaha Tani dan Perhitungan Kebutuhan Air Irigasi... ...7

F. Lama dan Interval Pemberian air...9

G. Kebutuhan Air Sesuai Tahap Pertumbuhannya...10

H. Pemberian Air Pengairan Pada Petak-Petak Persawahan...11

I. Cara Pembagian Air Irigasi...13

III. PENUTUP... ...14

A. Kesimpulan... ...14

B. Saran... ...15

(4)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Air adalah semua air yang terdapat di dalam dan atau berasal dari

sumber-sumber air, baik yang terdapat di atas maupun dibawah permukaan tanah. Air

memiliki peranan yang sangat penting bagi pertanian utamanya bagi usaha tani

padi sawah. Tanaman padi merupakan tanaman yang banyak membutuhkan air,

khususnya pada saat tumbuh mereka harus selalu tergenangi air. Agar

produktivitas padi dapat efektif dalam satu satuan luas lahan, maka dibutuhkan

suplay air yang cukup melalui irigasi. Irigasi merupakan prasarana untuk

meningkatkan produktifitas lahan dan meningkatkan intensitas panen pertahun.

Tersedianya air irigasi yang cukup terkontrol merupakan input untuk

meningkatkan produksi padi.

Mengingat begitu pentingnya irigasi maka kebijaksanaan pemerintah dalam

pembangunan pengairan harus diikuti dengan perluasan jaringan irigasi.

Pembangunan dan rehabilitas jaringan irigasi perlu ditingkatkan untuk

memelihara tetap berfungsinya sumber air dan jaringan irigasi bagi pertanian.

Dalam rangka usaha meningkatkan pembangunan di sektor pertanian untuk

mencukupi kebutuhan pangan khususnya beras, salah satu upaya pemerintah

Indonesia adalah menempatkan pembangunan di sektor irigasi. Oleh karena itu,

untuk menunjang ketersediaan air bagi usaha tani padi haruslah dilakukan

pengelolaan air secara kontinyu baik dari segi kuantitas maupun kualitas

sehinggga menjamin padi agar tidak mengalami kekurangan air yang akan

(5)

B. Tujuan

Tujuan dari makalah ini yaitu agar pembaca, khususnya penulis dapat

(6)

II. PEMBAHASAN

A. Pengelolaan pengairan

Keberhasilan pembangunan bendungan serta sarana-sarana pelengkapnya,

jaringan atau saluran salurannya, harus dibarengi dengan keberhasilan maksud

atau tujuan pembangunannya, yaitu penyaluran air pengairan ke lahan-lahan

pertanian yang lancar, teratur dan memuaskan semua pihak yang berkepentingan

dengan air pengairan tersebut. Untuk itu maka diperlukan pengelolaan yang baik

(Kartasapoetra, 1994).

Pengelolaan pengairan adalah pelaksanaan semua kegiatan yang

berangkaian dan terus-menerus secara terpadu yang dilakukan pada jaringan

pengairan sejak kegiatan pengambilan dilanjutkan oleh pengaturan, pengukuran,

penyaluran, pembagian, pemberian air pengairan yang aman sampai kepada

pemakai air pengairan tersebut di tingkat usaha tani serta kegiatan pembuangan

dan pengaliran air dari petak-petak pertanaman ke saluran pembuangan dimana

terjadi kejenuhan, sehingga dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara

mantap dan tepat waktu, pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang

dibudidayakan dapat terjamin (Kartasapoetra, 1994).

Pembagian air pengairan yaitu mengalirkan air pengairan ke

saluran-salauran primer, sekunder sesuai dengan peraturan dan atau ketentuan yang

berlaku, yang dalam pelaksanaanya di bawah pengawasan pihak Dinas Pengairan.

Sedang pemberian air pengairan yaitu penyaluran air pengairan dari jaringan

utama ke saluran tersier di dalam petak tersier dan selanjutnya memberikan air ke

(7)

ulu-ulu atau pembantu ulu-ulu sebagai pelaksana teknis dalam hal pengaturan air

pengairan. Setelah terbentuknya Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), ulu-ulu

pembantu ulu-ulu tetap diperhatikan sebagai pelaksana teknis dalam pengaturan

pemberian air pengairan di pedesaan (Kartasapoetra, 1994).

Kegiatan-kegiatan untuk mencapai terlaksananya pemeliharaan jaringan

pengairan, pembagian dan pemberian air pengairaan dalam lingkup rangkaian

irigasi teknis dan setengah teknis sederhana yang dikelola secara berangkai dalam

keterpaduan petugas-petugas Dinas Pengairan dan desa/P3A, yang kesemuanya

memperhatikan peraturan yang berlaku, maka air pengairan dapat dibagi dan

diberikan dari sumbernya ke petak-petak usaha tani dengan baik (Kartasapoetra,

1994).

Menurut Kartasapoetra (1994) dalam hal Pengelolaan, pembagian dan

pemberian air pengairan dalam suatu daerah, pengairan dengan jangkauan

pembagian dan pemberian air pengairannya harus diperhatikan dan ditetapkan

agar satu sama lainnya sesuai dengan aspek-aspek teknis pengairan/irigasi.

Indonesia yang memiliki 2 musim yakni musim penghujan dan musim kemarau

maka pemanfaatan air pengairan selayaknya ditentukan sebagai yang telah berlaku

di Jawa Timur, dimana pemanfaatan air pengairan untuk lahan-lahan pertanaman

dibagi dalam 2 periode :

a. Pada pengairan musim penghujan dengan tanaman utama padi, sehingga

memperoleh prioritas pertama yaitu:

1. Pembibitan padi persawahan beserta persiapan penanaman sampai

(8)

2. Petak-petak peikanan milik penduduk yang telah mendapat

perizinan.

3. Petak-petak pertanaman tebu untuk pembibitan sepanjang masih

memerlukan air pengairan.

b. Pada pengairan musim kemarau dengan tanaman utama palawija, sehingga

yang memperoleh prioritas pertama yaitu:

1. Pembibitan padi gadu beserta persiapannya

2. Pembibitan padi rendeng dengan persiapannya, yang dimajukan

jadwal pertanamannya.

3. Petak-petak pertanaman palawija.

4. Petak-petak pertanaman tanaman perusahaan sepanjang masih

memerlukan air pengairan.

Ketentuan pengairan berdasarkan musim harus disesuaikan dengan kondisi

daerah pebutuh air pengairan, oleh pihak Dinas Pengairan dengan sebijaksana

mungkin (Kartasapoetra, 1994).

B. Kebutuhan Air Pada Tanaman Padi

Kebutuhan air untuk tanaman padi sawah mencakup perhitungan air yang

masuk dan keluar dari lahan sawah. Air di sawah dapat bertambah karena turun

hujan, sengaja diairi dari saluran irigasi, dan perembesan dari sawah yang lebih

tinggi letaknya. Air di sawah akan berkurang karena terjadinya transpirasi,

evaporasi, infiltrasi, perkolasi, bocoran di tanah sawah dan pematang sawah, dan

drainase. Berdasarkan kecukupan pasokan air, ada tiga sistem pembagian air, yaitu

(9)

Kebutuhan air untuk tanaman adalah jumlah air yang dibutuhkan oleh

tanaman untuk proses pertumbuhannya, sehingga diperoleh tambahan berat kering

tanam-an. Kebutuhan air tanaman dapat diukur dari perbandingan berat air yang

dibu-tuhkan untuk setiap pertambahan berat kering tanaman. Dari sudut pandang

irigasi, kebutuhan air untuk tanaman ditentukan oleh dua proses kehilangan air

selama pertumbuhan tanaman, yaitu evaporasi dan transpirasi. Evaporasi adalah

kehilangan air karena penguapan dari permukaan tanah dan badan air atau

permu-kaan tanaman tanpa memasuki sistem tanaman. Air yang berasal dari embun,

hujan atau irigasi siraman yang kemudian menguap tanpa memasuki tubuh

tanaman termasuk dalam air yang hilang karena evaporasi ini. Transpirasi adalah

kehilangan air karena penguapan melalui bagian dalam tubuh tanaman, yaitu air

yang diserap oleh akar-akar tanaman, dipergunakan untuk membentuk jaringan

tanam-an dan kemudian dilepaskan melalui daun ke atmosfir. Kedua proses

kehilangan air tersebut kemudian sering disebut sebagai evapotranspirasi (Purba,

2011).

Kebutuhan air tanaman perlu diketahui agar air irigasi dapat diberikan

sesuai dengan kebutuhannya. Jumlah air yang diberikan secara tepat, di samping

akan merangsang pertumbuhan tanaman, juga akan meningkatkan efisiensi

penggunaan air sehingga dapat meningkatkan luas areal tanaman yang bisa diairi.

Kebutuhan air untuk tanaman merupakan salah satu komponen kebutuhan air

yang diperhi-tungkan dalam perancangan sistem irigasi (Purba, 2011).

Berbagai metode telah dikembangkan guna mengukur kebutuhan air untuk

tanaman. Dalam perancangan sistem irigasi, kebutuhan air untuk tanaman

(10)

Tanaman padi sawah adalah satu-satunya komoditi pertanian yang relatif banyak

dan lama membutuhkan air bagi kehidupannya dibanding dengan

tanaman/komoditi lain. Mulai dari mengolah tanah, persemaian masa

pertumbuhan dan masa ber-bunganya, rata-rata membutuhkan air 1,2 liter/detik/ha

(Badan Litbang Pertanian, 2007 dalam Purba, 2011).

C. Komponen Kebutuhan Air Irigasi

Komponen kebutuhan air irigasi yang utama adalah kebutuhan air tanaman

ditambah dengan komponen lain yaitu: perkolasi atau rembesan ke bawah dan ke

samping; penguapan muka air bebas; dan bocoran-bocoran di sepanjang saluran.

Karena cara pemberian air antara tanaman satu dengan lainnya berbeda-beda,

maka kebutuhan air irigasi juga tidak sama. Oleh karena itu, kebutuhan air irigasi

harus dihitung secara teliti (Purba, 2011).

D. Kebutuhan Air Untuk Padi Sawah Secara Umum

Tanaman padi yang ditanam pada daerah iklim yang panas dan kering serta

banyak angin akan mengeluarkan lebih banyak air daripada tanaman di tempat

sejuk, lembab dan angin yang kurang. Karena itu akan membutuhkan lebih

banyak air. Banyaknya air yang diperlukan pertanaman padi dan lingkungannya

ditunjukkan oleh jumlah transpirasi dan evaporasi, atau disebut evapotranspirasi

(Purba, 2011).

E. Metode kebutuhan air tingkat usaha tani dan perhitungan Kebutuhan Air Irigasi

Kebutuhan air tingkat usaha tani terdiri atas pendekatan agrohidrologi dan

pendekatan agronomi.

(11)

Pendekatan secara agrohidrologi adalah suatu perhitungan yang didasarkan

atas data-data agroklimatik, yakni data kebutuhan tanaman akan air dalam

hubungannya dengan lingkungan iklim dan tanah. Satuan yang digunakan

adalah mm/hari. Adapun rumus yang digunakan yaitu:

Q1 = H x A/T X 10.000

Q1 = kebutuhan air irigasi (lt/dt/ha)

H = ketebalan air/tinggi genangan (m/hari)

A = luas areal (ha)

T = lama pemberian air (hari atau detik)

2) Pendekatan Agronomi

Pendekatan secara agronomi merupakan suatu perhitungan yg didasarkan

atas kebutuhan air pada setiap tahapan kegiatan usaha tani dan tingkat

pertumbuhan tanaman. Tahapan kegiatan agronomi meliputi pengolahan

tanah, pembibitan, pertumbuhan dan pemeliharaan tanaman. Jumlah air

yang dibutuhkan berbeda tiap tahapan, tergantuung lama waktu tiap

tahapan.

Air irigasi yang dibutukan dihitung dengan menggunakan rumus sebagai

berikut: IN = ET crop + SAT + PERC + WL - Pe

Keterangan:

IN = Irigation Water need (air irigasi yang dibutuhkan)

ET crop = Crop Evapotranpirations (evapotranpirasi tanaman) \

SAT = Saturation (penjenuhan)

WL = Water Layer

(12)

PERC = Percolation (perkolasi)

F. Lama dan Interval Pemberian air

Misalkan jumlah air yang hilang karena evapotranspirasi 0,6 cm sehari dan

membutuhkan pemasukan air setinggi 5 cm, maka pengaliran air untuk mencapai

tambahan 5 cm tersebut dilakukan 5/0,6 x 1 hari = 8 hari sekali. Waktu atau

(13)

Bila sepetak sawah, panjang 30 m, lebar 20 m dan dibutuhkan tinggi air 2

cm, dan kecepatan air 1,2 liter/detik, maka lamanya pemberian air adalah:

20 x 30 x 0,02 = 2000 x 3000 x 2 = 12.000.000 = 1,2 1,2 1,2 = 12.000 liter =

10.000 detik = 2,78 jam 1,2 ltr/detik

 Kebutuhan air irigasi ke dalam petak sawah untuk mengolah tanah.

Contoh: Lama waktu pengolahan tanah 1 ha adalah 3 hari. Pelumpuran

sawah memer-lukan air 100 mm, penggenangan 50 mm. Pergantian

Evapotranspirasi = 180 mm/30 hr. Maka jumlah kebutuhan air = 100 mm + 50

mm + 180 mm = 330 mm dalam 30 hari atau 11,00 mm setiap hari (Ditjen

Pengairan PU, 1986).

G. Kebutuhan Air Sesuai Tahap Pertumbuhannya

Ada 2 (dua) varietas padi yang umumnya ditanam di Indonesia yaitu

varietas lokal dan varietas unggul. Varietas lokal umurnya relatif lebih panjang

dan ke-butuhan airnya juga lebih besar dibanding dengan varietas unggul, namun

dari segi rasa, masyarakat menilai bahwa varietas lokal lebih enak dibanding

dengan varietas unggul. Perbandingan kebutuhan air 2 varietas tersebut disajikan

(14)

Tabel 1. Tabel kebutuhan air tanaman padi sesuai tahap pertumbuhannya

Tahap Pertumbuhan Varietas lokal Varietas Unggul

Mm/hari 1/det/ha Periode (hari) Mm/hari 1/det/ha Periode (hari) Pengolahan Tanah 12,7 1,5 - 12,7 1,5

-Pembibitan 3,0 0,4 20 3,0 0,4 20

Tanam s/d Primordial 7,5 0,9 40 6,4 0,75 35 Bunga 10% s/d penuh 8,8 1,0 20 9,0 1,0 2,0 Bunga penuh s/d pemasakan 8,4 1,0 20 7,8 0,9 20

Pemasakan s/d panen 0 0 15 0 0 15

(Purba, 2011)

H. Pemberian Air Pengairan Pada Petak-Petak Persawahan

Mengenai pemberian air pengairan terhadap petak-petak persawahan telah

dikemukaan secara panjang lebar. Dalam hal ini, harus diperhatikan, yaitu:

1) Pada daerah/ lahan pertanian dengan jaringan pengairan yang sumber dan

keadaan airnya kurang mencukupi, hendaknya perencanaan luasnya

persawahan dibatasi, disesuaikan dengan tersedianya air pengairan

tersebut

2) Dengan air pengairan yang tersedia dan luas lahan persawahan dibatasi,

petak-petak persawahan padi gadu izin dipenuhi kebutuhannya agar

pertumbuhan dan perkembangan tanamannya terjamin, sedang petak-petak

persawahan padi gadu tanpa izin cukup diberi air pengairan seperempat

bagian air pengairan yang diperuntukkan petak persawahan padi gadu izin,

kesemua pemberian air pengairan bagi lahan petak pertanaman palawija.

3) Pemberian air pengairan terhadap petak-petak persawahan hendaknya

diperhatikan agar tetap terjamin sejak pembuatan persemaian, pengolahan

tanah, penanaman, dan kegiatan-kegiatan usaha bersawah lainnya sampai

pertumbuhan/perkembangan tanaman terjamin dengan baik, penghentian

(15)

Dalam bersawah, jika pemberian air pengairan hendaknya meliputi daerah

yang luas, dalam musim kemarau tanpa hujan, ada baiknya

memperhatikan/menggunakan Peraturan Pemali, sebagai contoh dapat

dikemukakan penerapannya di petak-petak persawahan di daerah Madiun

(Kartasapoetra, 1994). Secara tekniknya, disebutkan oleh Purba (2011) mengenai

cara pemberian air irigasi untuk tanaman padi ada 3 (tiga) macam, yaitu

penggenangan air terus-menerus, pengaliran air terus-menerus dan pengaliran air

terputus-putus.

1) Pemberian Air Untuk Menjaga Tinggi Genangan

Penggenangan air irigasi dapat dilakukan secara terus-menerus dengan

keting-gian yang sama sepanjang pertumbuhan tanaman. Keadaan ini bisa

dilakukan apabila jumlah air yang tersedia dalam kondisi yang cukup. Dengan

tinggi genang-an kurang dari 5 cm maka diperoleh produksi yang tinggi dan air

lebih efisien (hemat).

2) Pemberian Air Secara Pengaliran Terus-Menerus

Cara pemberian ini dilakukan bila air terdapat dalam jumlah yang

melimpah. Air dialirkan dari petak sawah ke petak lainnya melalui batang bambu

atau lubang di pematang sepanjang masa pertumbuhan tanaman. Cara ini dinilai

boros air serta pemakaian pupuk maupun pestisida tidak efisien.

3) Pemberian Air Secara Terputus-putus

Pemberian air secara terputus-putus adalah cara memberikan dengan

pengge-nangan yang diselingi dengan pengeringan (pengaturan) pada jangka

waktu ter-tentu, yaitu saat pemupukan dan penyiangan. Cara ini disarankan karena

(16)

Irrigation Sector Project, 2001 dalam Purba, 2011). Pemberian air secara

terputus-putus ini, dijelaskan pada budidaya padi dengan metode tanam padi sebatang, dan

SRI .

I. Cara Pembagian Air Irigasi

Pembagian air irigasi terdiri dari 3 (tiga) cara yaitu: sistem serentak, sistem

golongan dan sistem rotasi. Penerapan ketiga cara tersebut tergantung pada jumlah

air yang tersedia.

1) Pembagian Air Irigasi Secara Serentak

Air dibagikan ke seluruh areal yang ditanami pada waktu bersamaan secara

me-rata. Jumlah air yang dibagikan disesuaikan fase perkembangan padi dan

kebu-tuhan air yang diperlukan secara maksimal. Cara ini dapat dilakukan apabila

jumlah air yang tersedia cukup banyak, atau jika nilai k lebih besar atau sama

dengan 1.

2) Cara Golongan

Cara ini dilakukan bila jumlah air yang tersedia sangat terbatas, sementara

ke-butuhan air (terutama saat pengolahan tanah) sangat besar. Maka saat tanam

dilakukan secara bertahap dari satu petak tersier ke petak lainnya.

Kelompok-kelompok dalam petak tersier ini disebut sebagai golongan. Idealnya satu daerah

irigasi dibagi dalam 3-5 (tiga sampai lima) golongan dengan jarak waktu tanam

biasanya 2-3 (dua sampai tiga) minggu.

3) Cara Rotasi/Giliran

Jika kebutuhan air irigasinya besar sementara air yang tersedia kurang, maka

perlu dilakukan pemberian air secara giliran antar petak tersier, atau antar petak

(17)

lebih dari 1 (satu) minggu karena akan berpengaruh terhadap pertumbuhan

(18)

III. PENUTUP

A. Kesimpulan

Pengelolaan pengairan adalah pelaksanaan semua kegiatan yang

berangkaian dan terus-menerus secara terpadu yang dilakukan pada jaringan

pengairan sejak kegiatan pengambilan dilanjutkan oleh pengaturan, pengukuran,

penyaluran, pembagian, pemberian air pengairan yang aman sampai kepada

pemakai air pengairan tersebut di tingkat usaha tani serta kegiatan pembuangan

dan pengaliran air dari petak-petak pertanaman ke saluran pembuangan dimana

terjadi kejenuhan, sehingga dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara

mantap dan tepat waktu, pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang

dibudidayakan dapat terjamin. Pengelolaan air dimaksudkan untuk memenuhi

kebutuhan air pada tanaman padi.

Kebutuhan air tanaman padi tingkat usaha tani diukur dapat dengan metode

agrohidrologi maupun pendekatan agronomi. Kebutuhan air irigasi untuk

pertanian pula dapat dihitung dari jumlah kehilangan air lewat evaporasi,

perkolasi dan lain sebagainya. Usaha dalam pengelolaan air untuk tanaman padi

yaitu beberapa tindakan yang harus diterapkan antara lain pembagian air

berdasarkan kelompok pengumpul air/P3A yang disalurkan secara merata pada

lahan yang membutuhkan air. Selain itu, menerapkan dan mengusahakan

(19)

B. Saran

Saran yang penulis sampaikan pada makalah ini yaitu petani maupun

penyelenggara pengairan tertib dalam memerhatikan dan menerapkan kapasitas

pengairan pada lahannya agar kebutuhan air untuk padi tercukupi dan tidak

(20)

DAFTAR PUSTAKA

Kartasapoetra,Mul. Mulyani Sutedjo dan E. Pollein.1994. Teknologi Pengairan Pertanian (Irigasi). Bumi Aksara:Jakarta.

Gambar

Tabel 1. Tabel kebutuhan air tanaman padi sesuai tahap pertumbuhannya

Referensi

Dokumen terkait

EVALUASI KESESUAIAN LAHAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF TANAMAN PADI SAWAH TADAH HUJAN ( Oryza sativa L. ) PADA.. LAHAN KELOMPOK TANI RUKUN TANI DESA BUMISARI KECAMATAN

Pupuk NPK Terhadap pH, KTK, KB Serta Hasil GKG Tanaman Padi Sawah ( Oryza sativa L.) Pada Fluvaquentic Epiaquepts ”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu

EFIKASI KOMBINASI HERBISIDA PENOXSULAM DAN BUTACHLOR TERHADAP GULMA PADA BUDIDAYA PADI SAWAH (Oryza sativa L.)..

Komposisi Kandungan Fosfor pada Tanaman Padi Sawah (Oryza Sativa L.) Berasal Dari Pupuk Fosfor (P) dan Bahan Organik.. Bionatura-Jurnal Ilmu-ilmu Hayati

Respon Pertumbuhan Dan Produksi Empat Varietas Unggul Padi Sawah (Oryza Sativa L) Terhadap Berbagai Tingkat Genangan Air Pada Berbagai Jarak Tanam.. Dibimbing Oleh

Hasil analisis statistik perlakuan interaksi pemangkasan dan pemberian pupuk NPK walet terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi ( Oryza sativa L.) berpeng-

PENGARUH PENGAPLIKASIAN BERBAGAI AMELIORAN TERHADAP PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TANAMAN PADI (Oryza sativa L.) VARIETAS CIHERANG PADA LAHAN SAWAH SALIN.. DI

Rehabilitasi Sawah Rawa Pasang Surut Sulfat Masam Aktual Dengan Pemberian Amelioran, Saluran Cacing dan Empat Varietas Padi (Oryza sativa, L.).. Dibawah bimbingan