41 BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam BAB ini penulis akan memaparkan peran Ombudsman RI sebagai lembaga pelayanan publik dalam melakukan pengawasan dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)
5.1 Peran Ombudsman RI dalam Melakukan Pengawasan Maladministrasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)
Pelayanan publik merupakan segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan maupun pelaksanaan ketentuan perundang-undangan. Ombudsman merupakan salah satu lembaga pelayanan publik yang berfungsi mengawasi suatu pelayanan publik yang dilakukan oleh pemerintah untuk masyarakatnya.
Dalam kasus PPDB Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengeluarkan peraturan tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dimana Sekolah-Sekolah harus memberlakukan peraturan yang sudah dilayangkan oleh Kemendikbud. Sistem zonasi merupakan salah satu peraturan baru yang di buat oleh Kemendikbud, dengan adanya sistem zonasi pemerintah menginginkan adanya pemerataan sekolah di Indonesia, tidak adanya sekolah favorit. Pemerintahan menginginkan sekolah-sekolah dapat mensosialisasikan peraturan tersebut kepada masyarakat. Tetapi pada faktanya saat implementasi PPDB permasalahan di dalam masyarakat banyak bermunculan. Pelayanan pubik dalam bidang pendidikan khususnya PPDB mengalami masalah. Masyarakat dapat melaporkan permasalahan tentang pelaksanaan PPDB kepada pemerintah langsung atau sekolah-sekolah. Tetapi di Indonesia, masyarakat dapat melaporkan segala bentuk Pelayanan Publik seperti permasalahan yang ada di dalam pelaksanaan PPDB ke Lembaga pelayanan publik yaitu Ombudsman. Dimana fungsi Ombudsman adalah mencegah adanya maladministrasi dan mengawasi pelayanan publik yang ada di Indonesia ini.
42
Peran Ombudsman adalah melakukan pengawasan dalam pelaksanaan PPDB, pengawasan yang seperti apa yang dilakukan oleh Ombudsman?
5.1.1Fungsi Pengawasan
Fungsi pengawasan Ombudsman adalah Ombudsman menindaklanjuti laporan yang tercakup dalam ruang lingkup kewenangan Ombudsman, seperti dalam Fungsi Ombudsman RI dalam Pasal 6 No.37 Tahun 2008 tentang Ombudsman RI2. Ombudsman berwenang :
a. Meminta keterangan secara lisan dan/atau tertulis dari pelapor, terlapor, atau pihak lain yang terkait mengenai laporan yang disampaikan kepada Ombudsman; b. Memeriksa keputusan, surat-menyurat, atau dokumen lain yang ada pada pelapor
ataupun terlapor untuk mendapatkan kebenaran suat laporan;
c. Meminta klarifikasi dan / atau salinan atau fotokopi dokumen yang diperlukan dari instansi manapun untuk pemeriksaan laporan dari instansi terlapor;
d. Melakukan pemanggilan terhadap pelapor, terlapor, dan pihak lain yang terkait dengan laporan;
e. Menyelesaikan laporan melalui mediasi dan konsiliasi atas permintaan para pihak; f. Membuat rekomendasi mengenain penyelesaian laporan, termasuk rekomendasi untuk pembayaran gantu rugi dan / atau rehabilitasi kepada pihak yang di rugikan; g. Demi kepentingan umum mengumumkan hasil temuan, kesimpulan dan
rekomendasi;
5.2 Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)
Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) adalah pintu awal dimulainya sebuah proses pendidikan, hal tersebut merupakan salah satu bentuk bukti pelayanan publik yang diselenggrakan pemerintah untuk mencerdaskan negaranya.
Tahun 2017 Pemerintahan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan kebudayaan Nomor 17 Tahun 2017 tentang Penerimaan Peserta Didik baru (PPDB) pada Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama(SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajatnya.
2 Pasal 6 fungsi Ombudsman adalah mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik yang di selenggarakan :penyelenggara negara/ pemerintah pusat maupun di daerah, BUMN/D, BHMD dan badan swasta atau perorangan yang diberi tugas menyelenggarakan pelayanan publik tertentu.
43
Tujuan dari Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) adalah untuk menjamin penerimaan penerimaan peserta didik baru berjalan secara objektif, akuntabel, transparan dan tanpa diskriminasi sehingga mendorong peningkatan akses layanan pendidikan.3
Pada tahun 2017 Kemendikbud memberlakukan sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). “Diberlakukannya sistem zonasi karena pemerintah ingin melakukan reformasi sekolah secara menyeluruh, pemerataan akses pada pelayanan pendidikan, pemerataan kualitas pendidikan. Zonasi juga merupakan salah satu strategi percepatan pemerataan pendidikan yang berkualitas, menurut Mendikbud kebijakan zonasi diambil sebagai respon atas terjadinya “kasta” dalam sistem pendidikan yang selama ini ada karena dilakukannya seleksi kualitas calon peserta didik dalam penerimaan peserta didik baru. Tidak boleh ada favoritisme. Pola pikir “kastanisasi dan favoritisme” dalam pendidikan harus di ubah”.4
Tentunya dalam proses PPDB sudah di berlakukannya aturan atau prosedur untuk calon peserta didik baru .
5.2.1 Maladministrasi Dalam Peneriman Pesert Didik Baru (PPDB)
Maladministrasi merupakan perilaku atau sebuah perbuatan yang menyimpang, melampaui wewenang, melanggar peraturan, melawan hukum, menggunakan wewenang untuk tujuan pribadi, dll yang dapat menimbulkan kerugian bagi masyarakat atau orang lain.
Pada saat pemantauan PPDB Ombudsman menemukan maladministrasi, berikut jenis maladministrasi yang terjadi dilapangan :
3 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 17 Tahun 2017 Tentang PPDB Passal 2 4 Muhadjir Effendy (Menteri Pendidikan dan Budaya) dalam Kompas.com selasa, 05 Juni 2018 22.04.
44
TABEL MALADMINISTRASI
No Jenis Maladministasi Bentuk Tindakan Maladministrasi
1 Penyalahgunaan
wewenang
Menyisakan sejumlah kuota sehingga terjadi pengalihan kuota jalur tertentu Memberikan perlakuan khusus berupa penyederhanaan persyaratan bagi calon peserta didik tertentu
Terjadi penyalahgunaan dalam
penggunaan MoU kepada instansi atau kelompok masyarakat tertentu
2 Penyimpangan
prosedur
Adanya persyaratan lain yang tidak diatur dalam Juknis PPDB setempat
Tidak memberlakukan aturan zonasi Menerima siswa jalur MoU tanpa disertai MoU secara tertulis
Terjadi penahanan KK pada proses PPDB Menyediakan jumlah Rombel di luar ketentuan Permendikbud No. 17 Tahun 2017
Tidak menyediakan pos pengaduan Tidak melaksanakan sertifikasi guru pada PPDB jalur UU
3 Permintaan Uang,
Barang, dan Jasa
Terjadi permintaan sejumlah uang untuk biaya administrasi selama proses PPDB
4 Tidak Kompeten
Kurang memahami PPDB jalur MoU/UU sehingga banyak calon siswa yang masuk
dengan surat rekomendari dari
pihak/instansi tertentu (Kejaksaan, Kepolisian, DPRD)
Tidak melaksanakan sosialisasi secara maksimal (melalui media tertentu) kepada masyarakat terkait mekanisme PPDB
Penyalahgunaan SKTM dalam
pelaksanaan PPDB yang dilakukan oleh orang tua calon siswa
Sekolah tidak melakukan verifikasi / melakukan pengabaian terhadap tindakan penyalahgunaan SKTMyang dilakukan oleh Orang Tua Calon Siswa
Sistem online (server) yang bermasalah sehingga mengganggu proses pendaftaran, verifikasi, seleksi, dan pengumuman kelulusan
5 Tidak Patut
Tidak menerima calon siswa berkebutuhan khusus (difabel)
Tidak menerima calon siswa prestasi tertentu karena tidak tersedianya guru pembimbing dengan keahlian tersebut
45
Sumber Tebel 1 : Dokumen hasil pengawasan Ombudsman RI
Tabel diatas merupakan hasil temuan Ombudsman dalam pengawasan pelaksanaan PPDB yang dilakukan di lapangan, menjelaskan bahwa adanya maladministrasi dalam pelaksaannya.
5.3. Proses Pengawasan
Peneliti menggambarkan bagaimana proses pengawasan Ombudsman RI sebagai lembaga pelayanan publik dalam melakukan pengawasan maladministrasi PPDB. Ombudsman RI membuka pengaduan tentang PPDB baik secara langsung, maupun via telephone, email setiap tahunnya dan laporan masyarakat yang masuk akan mendapatkan respon langsung berupa saran dan masukan terlebih dahulu dan setelahnya akan di tindak lanjuti oleh Ombudsman. Adanya laporan masyarakat tentang PPDB yang datang secara langsung. Berawal dari banyaknya laporan masyarakat dan PPDB merupakan isu strategis Ombudsman melakukan pengawasan PPDB. Laporan-laporan masyarakat ini sangat penting untuk memperkuat bahwa isu tersebut harus mendapatkan perhatian penting dari pemerintah. Sebelum dilakukannya pengawasan PPDB, Ombudsman membuat indikator-indikator, indikator yang dimaksudkan oleh Ombudsman adalah hal-hal apa saja yang di duga akan menjadikan adanya maladministrasi seperti contohnya peraturan yang berada di dalam permendikbud, dalam permendikbud banyak poin-poin yang dapat menilmbulkan adanya maladministrasi, dari poin-poin-poin-poin tersebut yang akan dijadikan indikator-indikator Ombudsman dalam pengawasan PPDB.
Hal itu dilakukan oleh anggota Ombudsman tepatnya berada di tim7, dimana bidang pendidikan berada di bawah tugas tim7. Dalam sistemnya ada 9 anggota dalam Ombudsman, anggota tersebut meliputi Ketua dan Wakil ketua Ombudsman dan ada 7 tim yang di bagi dalam bidangnya masing-masing:
a. Tim 1 Hukum dan Peradilan (peradilan, komisi/ lembaga negara, kejaksaan dll);
46
c. Tim 3 Ekonomi1 (perijinan, kesehatan, ekonomi keuangan perbankan, asuransi, investasi, perdagangan dll);
d. Tim 4 Ekonomi 2 (Agraria, pertanian, perkebunan, properti, perumahan/ permukiman, beras dll);
e. Tim 5 SDA dan SDM (energi, Sumberdaya Mineral, kehutanan, sumberdaya kelautan, ketenagakerjaan dan kepegawaian dll);
f. Tim 6 Perhubungan dan Infrastruktur (transportasi/ perhubungan, informatika, telekomunikasi, infrastruktur, lingkungan hidup dll);
g. Tim 7 Sosial Budaya (pendidikan, administrasi kependudukan, agama, kesejahteraan sosial, BPJS, tenaga kerja dll);
Pengawasan yang dilakukan oleh Ombudsman di beberapa daerah seperti Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Pusat, dan Jakarta Barat. Wilayah tersebut yang menjadi pangawasan pelaksanaan PPDB oleh Ombudsman Pusat.
Dari laporan masyarakat yang masuk ke Ombudsman dan melihat dari sisi regulasinya sendiri anggota Ombudsman khususnya tim 7 melakukan dugaan-dugaan akan adanya maladministrasi dalam proses PPDB dan membuat indikator-indikator untuk proses pengawasan. Ombudsman melakukan investigasi langsung atas prakarsanya sendiri. Seperti dalam pernyataan bang James selaku anggota Ombudsman dalam Tim 7.
”Nahh jadi dari laporan masyarakat masuk ke Ombudsman, terus PPDB juga merupakan pelayanan dasar, dan dari sisi regulasi nya juga. Hal itu cha, kita berangkat dari itu, nah di pasal 75 itu mengatakan kita dapat melakukan investigasi atas prakarsa sendiri. Itu awalnya cha kita melakukan pengawasan”.
Ombudsman melakukan pengawasan langsung kepada masyarakat, dan sekolah-sekolah, dalam pengawasannya Ombudsman melakukan wawancara kepada pihak terkait, bagaimana jalannya pelaksanaan PPDB, apakah sudah memenuhi SOP yang ada, dan apakah sudah mengikuti Permendikbud?. Seperti pernyataan dalam wawancara yang dilakukan peneliti terhadap anggota Ombudsman yang berada di tim 7
5 Undang-undang RI No. 37 tahun 2008 tentang Ombudsman RI, Pasal 7 pasal ayat D bahwa Ombudsman melakukan investigasi atas prakarasa sendiri dalam dugaan maladministrasi dalam pelayanan publik
47 Fauzi6
“Kita melihat dari SOP nya sudah sesuai atau belom? papan informasi, terus petugas teknis input data peserta sama petugas penerima pengaduan ada apa ngga”
Bang James7
“Kita melakukan wawancara ke pihak sekolah seperti contohnya ya cha? Bahwa tingkat kuota SMA adalah 4 rombel (rombongan belajar) misalnya, 1 rombel ada 30 siswa misalnya. Itu kita sudah menemukan 1 indikator tingkat rombel di SMA , tapi ternyata pada saat kita melakukan wawancara di sekolah kepada kepala sekolah “pak / bu kalian melakukan atau merekrud dalam pelaksanaan PPDB berapa siswa untuk berapa rombel, saaat mereka jawab 5 rombel, kita jawab kenapa 5 rombel di peraturan ada 4 rombel. Nah berapa siswa perombel misalnya di jawab 40 siswa” berarti hal tersebut melanggar peraturan. Nahh itu kita dapet 1 penyalahgunaanaturan dari segi rombel”.
Setelah dilakukannya wawancara kepada pihak sekolah, Ombudsman tidak lepas dengan peran masyarakat. Dimana masyarakat juga menjadi peran penting dalam pelaksanaan PPDB dan pengawasan Ombudsman. Ombudsman melakukan wawancara kepada masyarakat, Ombudsman akan menggali infomasi dari masyarakatnya. Jika dalam proses pengawasan pelaksanaan PPDB ditemukannya maladministrasi di tingkat SD sederajat dan SMP sederajat maka tindak lanjut Ombudsman adalah meminta pertanggung jawaban dan klarifikasi kepada sekolah terkait dan Pemerintah Daerah, Walikota, Bupati. Jika maladministrasi dilakukan oleh sekolah tingkat SMA/ SMK maka Ombudsman akan meminta pertanggung dan mengklarifikasi kepada sekolah terkait dan Kemendikbud, hal tersebut sudah di atur pada Undang-Undang No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Temuan-temuan yang dilakukan oleh Ombudsman akan di tindaklanjuti dan di analisis oleh Tim7. Dalam implementasinya semua tingkah lakunya masyarakat selalu dimonitor
6Wawancara dilakukan pada 23 Agustus 2018 pukul 09.57
48
agar cocok dengan norma dan kaidah. Tetapi tidak semua tingkah laku tersebut harus disadari sepenuhnya. Dalam teori Giddens membedakan tiga dimensi internal pelaku, yaitu :
1. Motivasi tak sadar (unconscious motives) dimana dalam ilustrasinya masyarakat berkeingnan untuk anaknya masuk di sekolah A tetapi dalam peraturarannya siswa tersebut tidak dapat masuk ke sekolah terebut di karenakan tidak sesuai dengan aturan yang sudah berlaku tetapi, masyarakat atau otang tua siswa tersebut melakukan manipulasi SKTM agar anaknya masuk ke sekolah tersebut. Mereka tidak sadar bahwa apa yang di lakukan sangat merugikan.
2. Kesadaran praktis (practical consciousness) dalam ilustrasinya masyarakat melakukan orang dalam untuk membatu proses jalannya PPDB.
3. Kesadaran diskursif (discursive consciousness) dalam paraktiknya masyarakat yang melakukan maladministrasi akan menjelaskan alasan secara rinci dan eksplisit dan melakukan tindakan untuk keberlangsungannya keinginan atau tujuannya.
5.4 Hasil pengawasan Ombudsman dalam pelaksanaan PPDB
Dari hasil pengawasan yang sudah dilakukan oleh Ombudsman di lapangan, Ombudsman menemukan temuan-temuan maladministrasi saat pelaksanaan PPDB tahun 2017/2018 di wilayah DKI Jakarta seperti :
1. Berdasarkan pemantauan di lapangan terkait penyelenggaran PPDB di Provinsi DKI Jakarta:
a. Tidak efektifnya pelaksanaan sosialisasi kepada masyarakat terkait Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Prov. DKI Jakarta mengenai petunjuk teknis PPDB yang berubah hingga 3 (tiga) kali, mengakibatkan peserta didik baru tidak mendapatkan kepastian dan keadilan untuk mendaftar;
b. Tidak kompetennya Dinas Pendidikan Prov. DKI Jakarta dalam mengeluarkan Surat Keputusan terkait PPDB tahun 2017 yang terjadi
49
hingga 3 (tiga) kali perubahan dalam waktu berdekatan sehingga tidak efektif dalam pelaksanaannya. Tiga perubahan tersebut adalah:
1) Keputusan No. 373 Tahun 2017 diterbitkan tanggal 21 Maret 2017.
2) Keputusan No. 498 Tahun 2017 diterbitkan tanggal 28 April 2017 (Perubahan Pertama).
3) Keputusan No. 604 Tahun 2017 diterbitkan tanggal 29 Mei 2017 (Perubahan Kedua).
4) Keputusan No. 680 Tahun 2017 diterbitkan tanggal 16 Juni 2017 (Perubahan Ketiga).
c. Tidak kompetennya Dinas Pendidikan Prov. DKI Jakarta dalam mengeluarkan keputusan terkait PPDB yang tidak sesuai dengan regulasi diatasnya, yakni Permendikbud 17 Tahun 2017 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru Pada Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan, atau Bentuk Lain Yang Sederajat. Hal itu mengakibatkan hak calon peserta didik baru dilanggar hak-haknya dan diduga menyebabkan terjadinya manipulasi data peserta didik yang diterima;
d. Tidak adanya pengaturan secara jelas dalam keputusan Kepala Dinas Pendidikan Prov. DKI Jakarta terkait peralihan kuota inklusi dan prestasi ke kuota umum yang mengakibatkan ketidapastian bagi calon peserta untuk mendaftar;
e. Tidak terfasilitasinya calon peserta didik yang memiliki prestasi di bidang olahraga karena tidak tersedianya guru dan atau tenaga pendidik sehingga calon peserta didik tidak diterima oleh pihak sekolah mengakibatkan terlantarnya calon peserta didik yang memiliki potensi untuk mendapatkan bangku pendidikan yang layak;
f. Tidak efektifnya mekanisme penanganan pengaduan masyarakat dalam merespon laporan masyarakat terkait PPDB di Jakarta mengakibatkan
50
pelayanan ketidakpastian layanan dalam memberikan respon terkait aduan dari orangtua calon peserta didik.
g. Tidak efektivnya tim verifikator dalam memeriksa dokumen persyaratan calon peserta kuota inklusi dan prestasi dengan dokumen yang sesuai aturan.
1. Berdasarkan telaah Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta:
a. Aturan mengenai jumlah peserta didik tiap kelas (rombongan belajar) dalam Keputusan No. 373 Tahun 2017 tidak sesuai dengan aturan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 17 Tahun 2017; b. Perubahan jadwal pelaksanaan yang diatur dalam Petunjuk Teknis PPDB
Tahun Pelajaran 2017/2018 yang berubah sebanyak 3 (tiga) kali, yakni Keputusan No. 498 Tahun 2017 diterbitkan tanggal 28 April 2017, Keputusan No. 604 Tahun 2017 dan Keputusan No. 680 Tahun 2017 diterbitkan tanggal 16 Juni 2017 berdampak pada terganggunya kesiapan calon peserta didik baru untuk mendaftar;
c. Tidak adanya keterangan ataupun penjelasan lebih lanjut mengenai ketentuan dalam Keputusan No. 604 Tahun 2017 pada poin 6c tentang jalur prestasi lainnya yang memiliki kuota maksimum sebanyak 25% dari prosentase 5% dalam PPDB Jalur Prestasi.
Analisis peneliti berkaitan dengan metode dan hasil pengawasan pelaksanaan PPDB berupa temuan-temuan di lapangan selama pemantauan dan berapa laporan masyarakat yang masuk ke Ombudsman tentang PPDB. dari hal tersebut Ombudsman akan membuat saran/ rekomendasi untuk perbaikan Permendikbud di tahun berikutnya. Setelah selesainya saran / rekomendasi Ombudsman akan melakukan rapat Pleno8.
8 Rapat pleno adalah suatu sikap atau keputusan yang akan di ambil ketika kita akan mengeluarkan suatu prodak atau hasil investigasi dalam pantauan yang dilakukan oleh tim.
51
Rapat pleno sudah dilakukan oleh anggota Ombudsman, kemudian Ombudsman akan melakukan mediasi. Dalam proses mediasi ini Ombudsman akan mengundang pihak terkait, seperti Kemendikbud, kemendagri dan Media. Wakil dari anggota Ombudsman akan melakukan pemaparan hasil temuan-temuan atau maladministrasi yang sudah dilakukan tim 7 saat dilapangan dan pada proses mediasi, akan adanya diskusi antar pihak yang terkait. Dan hasil rekomendasi/ saran Ombudsman tentang PPDB akan di serahkan ke Kemendikbud guna perbaikan permendikbud di tahun depan.
Berikut adalah rekomendasi/saran Ombudsman dalam perbaikan permendikbud di tahun 2018/ 2019 seperti berikut:
1. Merencanakan dan menerbitkan aturan PPDB lebih awal untuk memberikan rentang waktu yang cukup kepada Pemda dan Sekolah menyesuaikan dengan aturan baru;
2. Untuk memudahkan evaluasi dan penyeragaman aturan, maka PPDB dilaksanakan dengan serentak secara nasional;
3. Demi pemerataan perlu penegasan kembali sistem zonasi tahun ajaran berikutnya dengan membuat pedoman yang memuat indikator zonasi lebih rinci dengan mempertimbangkan karakteristik wilayah tertentu;
4. Segera melakukan pemerataan fasilitas sekolah di seluruh wilayah dengan kualitas sepadan yang terpusat di daerah tertentu;
5. Menindak tegas terhadap praktek jual beli kursi dan pungutan yang tidak resmi;
6. Meningkatkan efektifitas kerjasama dengan Kemenag dan Kemendagri dalam hal pengawasan untuk menghindari maladministasi yang lebih meluas serta merugikan masyarakat;
7. Mencegah perlakuan istimewa kepada kelompok tertentu karena jabatan atau profesi;
8. Membatalkan penerimaan calon peserta didik baru yang melanggar aturan PPDB;
52
9. Membentuk aturan dalam proses verifikasi data terkait pendaftaran melalui jalur non akademik agar mencegah adanya penyalahgunaan SKTM. Selain itu, pada jalur afirmasi bagi keluarga yang kurang mampu dan menggunakan SKTM agar diintegrasikan ke data KIP.
10.Dalam proses seleksi calon peserta didik baru jalur akademik, sebaiknya menggunakan mekanisme ujian tertulis sedangkan ujian kompetensi untuk jalur non akademik melalui Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) di setiap Provinsi/Kabupaten/Kota.
Ombudsman tidak berhenti dalam mediasi saja Ombudsman akan selalu memantau perkembangan perbaikan Permendikbud, seperti dalam pernyataan bang James selaku anggota Ombudsman yang berada di tim7
“kita akan terus memantau perkembangan perbaikan Permendikbud. Bilamana ada beberapa poin rekomendasi/ saran Ombudsman tidak dilakukan oleh Kemendikbud, kita bakal melakukan tindak lanjut ke kemendikbud, kenapa point point itu nggak dilaksanakan ? setelah kemendikbud menjelaskan alasan-alasanya, lalu kita akan melakukan kroscek apakah alasan-alasan yang diberikan kemendikbud itu masuk akal, apakah alasan-alasannya sesuai dengan apa yang ada dilapangan. Jadi kita akan turun lagi apakah benar alasan permendikbud tidak melakukan perbaikan di point itu karena ini ni ni. Jadi kita selalu melakukan kroscek terlebih dahulu”
A. Hambatan-Hambatan dalam Pengawasan PPDB
Hambatan yang dialami oleh Ombudsam saat pengawasan PPDB adalah kurang nya SDM dan anggaran seperti yang di ungkapkan Bang James
“Jadi hambatan nya tu kita kekurangan SDM nya, kita belum bisa melakukan pengawasan ke pelosok-pelosok cha, karena ya itu kekurangan anggota, dan kita juga keterbatasan anggaran kalau daerah yang terpencil itu kan kita harus perjalanan melewati darat, udara, bahkan laut, itu kita memerlukan anggaran yang besar. Makannya hambatannya kita nggak bisa ambil sample dan melakukan pengawasan secara merata, kita baru bisa mengambi sama mengawasi sample di sekolah-sekolah yang dapat di janghkau. Dan laporan masyarakat yang masuk ke kita itu sangat banyak jadi kita belum bisa menyelesaikan, tapi kita selalu berusaha buat secepatnya menyelesaian laporan itu”.
53
Peneliti melihat bahwa kurangnya SDM dari anggota Ombudsman menjadi salah satu hambatan dalam pelaksanaan PPDB karena akses untuk melakukan pengawasan ke pelosok-pelosok daerah cukup sulit untuk di jangkau, dan keterbatasannya anggaran.
5.5 Refleksi
Tim 7 yang menjadi peran dalam pengawasan pelaksanaan PPDB, tidak akan lepas dari masyarakat begitu juga sebaliknya karena mereka akan saling berkaitan. Ombudsman merupakan sebuah struktur dimana Ombudsman melakukan fungsi dan wewenangnya sesuai dengan aturan-aturan yang sudah berlaku. Rekomendasi atau saran yang sudah dikeluarkan oleh Ombudsman untuk kemendikbud sudah dilaksanakan dengan baik dan dilaksanakan oleh masyarakat (agen), hal tersebut merupakan perubahan agensi dimana agensi mengacu pada kemampuan dalam melakukan sebuah perubahan. Dan struktur tidak akan lepas dengan agen, agen yang digambarkan disini adalah masyarakat dimana hubungan antara keduanya bersifat dialektik, dalam arti struktur dan agensi saling mempengaruhi dan hal ini berlangsung terus menerus, tanpa henti. Dalam praktiknya ombudsman (secara sosial) merupakan hubungan relasional yakni struktur objek dan representasi subjektif, agen dan pelaku terjalin secara dialektika. Dalam pelaksanaan PPDB masyarakat melakukan 3 dimensi internal pelaku yaitu motivasi tak sadar (unconscious motives), kesadaran praktik (practical consciousness) dan kesadaran diskursif (discursive consciousness).