• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

5   

2.1. Manajemen Sumber Daya Manusia

2.1.1. Definisi

Menurut Stoner (1996), manajemen sumber daya manusia adalah fungsi manajemen yang berhubungan dengan rekrutmen, penempatan, pelatihan, dan pengembangan anggota organisasi atau dapat dikatakan sebagai fungsi manajemen yang dilakukan oleh manajer untuk merekrut, menyeleksi, melatih, dan mengembangkan anggota organisasi.

 

2.1.2. Fungsi yang dimiliki Departemen Sumber Daya

Manusia

1. Perencanaan sumber daya manusia

Didesain untuk memastikan bahwa personel yang diperlukan akan selalu terpenuhi secara memadai.

Hal tersebut dapat dicapai dengan analisis dua faktor, yaitu : faktor internal seperti kebutuhan keterampilan yang ada sekarang dan yang diharapkan, lowongan, dan perluasan departemen seperti

(2)

pengurangan. Faktor eksternal (dilingkungan) seperti pasar tenaga kerja.

2. Rekrutmen

Berkaitan dengan mengembangkan cadangan calon karyawan sejalan dengan rencana sumber daya manusia. Calon karyawan biasanya diperoleh lewat iklan disurat kabar dan jurnal professional, agen tenaga kerja, berita lisan yang tersebar, dan kunjungan kekampus berbagai perguruan tinggi

3. Seleksi

Termasuk menggunakan formulir lamaran, daftar riwayat hidup, wawancara, pengujian keterampilan, dan mencocokkan informasi dari referensi untuk mengevaluasi dan menyaring calon karyawan bagi manajer, yang akhirnya akan memilih dan menerima calon. 4. Sosialisasi (orientasi)

Didesain untuk membantu orang yang terpilih menyesuaikan diri dengan mulus kedalam organisasi. Pendatang baru diperkenalkan kepada para rekan sekerja, terbiasa dengan tanggung jawabnya, dan diberi tahu mengenai budaya organisasi, kebijakan, dan harapan yang bersangkutan dengan tingkah laku karyawan.

5. Pelatihan dan pengembangan

Keduanya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan karyawan dalam memberikan kontribusi pada efektivitas organisasi. Pelatihan didesain untuk meningkatkan keterampilan dalam pekerjaan yang

(3)

sekarang; program pengembangan didesain untuk menyiapkan karyawan sebelum dipromosikan.

6. Penilaian prestasi kerja

Membandingkan prestasi kerja seseorang dengan standar atau tujuan yang dikembangkan untuk posisi orang tersebut. Prestasi yang rendah mungkin menandakan perlunya tindakan korektif, seperti pelatihan tambahan, demosi, atau PHK, bonus, atau promosi. Walaupun supervisor langsung seorang karyawan melakukan penilaian prestasi, departemen manajemen SDM bertanggung jawab untuk bekerja dengan manajemen tingkat atas untuk menetapkan kebijakan yang menajdi pedoman semua penilaian prestasi.

7. Promosi, transfer, demosi, dan PHK

Mencerminkan nilai seorang karyawan bagi organisasi. Karyawan berprestasi tinggi dapat dipromosikan atau ditransfer untuk membantu mengembangkan keterampilan mereka, sedangkan karyawan berprestasi rendah mungkin didemosikan, ditransfer ke posisi yang ke posisi yang kurang penting, atau bahkan PHK. Pilihan apapun pasti akan mempengaruhi perencanaan sumber daya manusia.

(4)

2.2. Motivasi

2.2.1. Definisi

Menurut Kanfer (1990), motivasi adalah suatu (hypothetical construct), kita tidak dapat melihatnya ataupun merasakannya. Kita dapat melakukan observasi dampak atau berdasarkan produk bahwa ada indikasi adanya tingkatan dari motivasi.

Berdasarkan Finder (1998), motivasi melukiskan dalam bentuk (form), arah (direction), intensitas (intensity) dan durasi (duration) dari bekerja yang berkaitan dengan perilaku.

2.2.2. Teori Motivasi

Motivasi dapat dibagi menjadi 4 kategori umum : 1. Need based Theories

Yang menjelaskan motivasi bekerja dalam suatu waktu tertentu yang membuat seorang pekerja itu merasa puas merupakan kebutuhan yang penting dalam tempat bekerja.

(5)

Gambar 2.1. Hirarki kebutuhan Maslow’s

Maslow (1943) mengatakan bahwa hirarki kebutuhannya yang cukup dikenal itu sebagai suatu penjelasan atas dorongan dari perilaku manusia. Berikut ini merupakan penjelasan dari masing-masing tingkatan pada hirarki kebutuhan Maslow :

a. Physiological Needs mewakili kebutuhan yang mendasar dan memang dibutuhkan untuk bertahan hidup.

b. Safety Needs merupakan kebutuhan yang dapat membuat seseorang merasa terlindungi.

c. Love Needs mewakili kebutuhan seseorang dalam bersosialisasi dengan sesama dan merupakan keinginan untuk merasa memiliki. d. Esteem Needs berhubungan dengan keinginan untuk merasakan

(6)

e. Self Actualization Needs adalah untuk menyadari suatu potensi dan menjadi mampu untuk mengaktualisasi diri.

2. Job Based Theories

Dimana menempatkan sumber motivasi yang utama di dalam suatu pekerjaan yang mana ada keterlibatan dari seorang pekerja.

Berdasarkan teori motivasi higienis (Motivation-Hygiene) Herzberg (1968) dibagi menjadi dua bagian yang memiliki beberapa faktor di dalamnya dan dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.2. Teori Motivasi-Higienis (Motivation-Hygiene)

3. Cognitive Based Theories

Pada teori melukiskan keputusan dan pilihan yang diambil oleh seorang  karyawan ketika mereka meng‐alokasikan usaha mereka.

(7)

2

2.3. Dec

2.3.1.

D dilakuka maksud

2.3.2.

S memilik berpikir kebutuh 1. I A

cision Ma

Definis

Decision ma an dalam m d memindahk

Ration

Suatu gamba ki dan mela r menggun han. Gamba dentifikasi m Ada 5 masala

aking

si

aking dapat membuat pilih kan beberapa

nal Choice

aran yang sa akukan dala nakan semu ar 2.3. Rational masalah atau ah yang pali diartikan se han di antar a keinginan

e Decisio

angat menda am mengam ua informas l Choice Decis u kesempatan ing diakui se ebagai prose ra satu atau dari suatu ke

on Making

alam bagaim mbil keputus si yang p sion Making Pr n/peluang ecara luas ole

es yang den lebih alterna eadaan peke

g Process

mana orang san atas da penting/sesua rocess eh suatu peru ngan sadar atif dengan erjaan.

s

seharusnya asar logika ai dengan usahaan :

(8)

• Pemegang saham (Stakeholder farming)

Perceptual defense

• Model mental (Mental models)

• Kepemimpinan yang tegas (Decisive leadership)

• Fokus problem solusi (Solution-focused problems)

2. Memilih proses keputusan yang terbaik 3. Membentuk alternatif solusi

4. Memilih alternatif solusi

5. Mengimplementasikan alternatif yang telah dipilih 6. Mengevaluasi hasil dari keputusan

2.4. Reward

Management

2.4.1. Definisi

Reward Managemen lebih ditekankan pada formulasi dan implementasi dari strategi dan kebijakan yang tujuannya untuk memberikan imbalan kepada orang secara wajar, dengan pantas dan secara konsisten sesuai dengan nilai mereka kepada perusahaan.

2.4.2. Tujuan dari Reward Management

Strategis tujuan Reward Management adalah untuk membangun dan melaksanakan kebijakan dalam memberikan imbalan, proses-proses dan latihan-latihan sebagai syarat untuk mendukung prestasi dari tujuan bisnis perusahaan. Secara spesifik adalah untuk :

(9)

• Membuat total imbalan yang atas dasar dari kepercayaan tentang apa nilai dari perusahaan dan ingin dicapai.

• Memberikan orang suatu imbalan untuk nilai yang mereka ciptakan.

• Meluruskan praktek dari suatu imbalan dengan kedua hal yaitu tujuan bisnis dan nilai dari seorang karyawan.

• Memberikan imbalan atas hal yang tepat untuk menyampaikan pesan pada pesan yang tepat.

• Menfasilitasi daya tarik dan hal tetap memiliki keahlian dan orang yang mampu/berkompeten yang dibutuhkan oleh perusahaan.

• Membantu dalam proses memotivasi orang dan memperoleh komitmen dan perjanjian mereka dalam pekerjaan

• Mendukung pengembangan dari budaya kinerja .

• Membangun hubungan positif pekerjaan dan kontrak secara kejiwaan.  

2.4.3. Pendukung utuk konsep dari Reward

Management

Banyak  dukungan  untuk  pengembangan  dari  konsep  Reward Management dari para penulis di United States, di antaranya : 

Strategic pay (Lawler) 

Lawler mengatakan bahwa ketika membangun kebijakan imbalan sangat  perlu untuk berpikir  dan bertindak secara strategis mengenai imbalan  tersebut. Kebijakan imbalan seharusnya mengambil bagian dari tujuan, nilai  dan  budaya  perusahaan  dan  tantangan  untuk lebih kompetitif  secara  ekonomi global. 

(10)

Bayaran  upah  yang  baru  akan  membantu  untuk  membentuk  perilaku individu dan organisasi yang dibutuhkan perusahaan jika tujuan dari  bisnis akan bertemu. Kebijakan bayar upah dan latihan harus berjalan dari  strategi secara keseluruhan dan mereka akan membantu untuk menekankan  apa yang menjadi objek penting seperti kepuasan pelanggan dan bertahan  dan kualitas produk atau servis. 

In Treat People Right Ed Lawler menekankan bahwa pentingnya  menciptakan kemenangan untuk keterkaitan satu sama lain atau “Virtuous  Spiral” di dalam kedua bagian antara pemberi kerja dan pekerja itu sendiri.  • The new pay (Schuster dan Zingheim) 

Konsep upah yang baru dari Lawler dikembangkan oleh Schuster and  Zingheim yang mendeskripsikan dasar prinsip  tersebut sebagai berikut:  

ƒ Program total kompensasi seharusnya didesain untuk hasil dari  imbalan dan perilaku yang konsisten dengan kunci yaitu tujuan dari  perusahaan. 

ƒ Upah dapat menjadi dorongan positif untuk perubahan organisasi. 

ƒ Kepercayaan  yang  utama  dari  upah  yang  baru  adalah  suatu  pengenalan variabel upah itu sendiri (pada risiko) 

ƒ upah yang baru menekankan pada imbalan dalam suatu tim yang  sama  dengan imbalan  secara  individual, dengan  para  pekerja  berbagi secara finansial dalam kesuksesan suatu organisasi. 

ƒ Upah  adalah  masalah  hubungan dari  pekerja  –  para  pekerja  memiliki hak untuk mengambarkan apakah itu nilai, budaya dan  sistem imbalan dari perusahaan yang sesuai dengan yang ada. 

(11)

Dynamic Pay (Hofrichter dan Platten) 

Flannery,  Hofrichter dan Platten menguraikan secara rinci konsep dari  upah yang dinamik dan menyarankan 9 dari prinsip yang mendukung  strategi upah yang sukses antara lain : 

1. Sejalan dengan antara kompensasi dengan budaya organisasi, nilai  dan tujuan strategis bisnis. 

2. Berhubungan antara kompensasi dengan perubahan yang lain  dalam organisasi. 

3. Program waktu kompensasi untuk dukungan yang terbaik dari  perubahan inisiatif yang lain. 

4. Integritas upah dengan proses orang yang lainnya.  5. Demokratis proses pembayaran upah. 

6. Kompensasi yang lebih transparan.   7. Mengukur hasilnya. 

8. Menyaring, menyaring lagi dan menyaring beberapa kali lagi.  9. Lebih selektif. Jangan mengambil hati apapun yang kamu dengar 

atau baca mengenai upah.   

(12)

 

Gambar 2.4. Total Reward and Engaged Performance

Konsep dari total reward menekankan pada pentingnya untuk mempertimbangkan semua aspek dari reward sebagai suatu yang semuanya digabungkan dan masuk akal. Masing-masing dari elemen dari total reward tersebut adalah sebagai berikut: base pay, pay contingent on performance, competence or contribution, employee benefits dan non financial rewards, yang mana termasuk di dalamnya intrinsic rewards dari lingkungan para karyawan dan pekerjaan itu sendiri adalah berhubungan satu sama lain.

(13)

Pendekatan pada total reward bersifat holistic; reliance tidak berada pada satu atau dua mekanisme reward saja atau membawa prosedur operasional secara terpisah. Menurut Sandra O’Neil bahwa Total reward menjangkau segala hal yang adalah nilai dari seorang karyawan didalam hubungannya dengan pekerjaan.

 

2.4.5. Strategic Reward

Strategic Reward adalah proses melihat ke depan tentang apa yang dibutuhkan oleh suatu organisasi untuk merangkai kebijakan suatu reward dan dipergunakan disaat sekarang atau secara relatif untuk dipergunakan pada masa yang akan datang.

Strategi imbalan diklarifikasikan sebagai apa yang diinginkan perusahaan dalam jangka waktu panjang untuk membangun dan implementasi kebijakan suatu imbalan, prakteknya dan proses yang akan lebih jauh dalam mencapai tujuan dari perusahaan.

 

2.4.5.1. The Purpose of Reward Strategy

Tujuan dari strategi imbalan adalah untuk mendukung perusahaan dan sumber daya manusia secara strategis dan sejalan dengan kebijakan imbalan dan proses dari seluruh perusahaan juga kebutuhan pribadi para pekerja.

Ada 4 pendapat yang sangat kuat untuk mengembangkan stratgis imbalan :

(14)

1. Kita harus memiliki beberapa ide di mana sesuai dengan yang kita inginkan atau bagaimana anda tahu bagaimana mendapatkannya dan bagaimana anda tahu bahwa anda dapat mencapainya (jika anda pernah melakukannya) ?

2. Membayar biaya di dalam kebanyakan perusahaan dari biaya yang terhitung besar, jadi sangat tidak masuk akal dipikirkan tentang bagaimana mereka seharusnya diatur dan invetasikan dalam jangka panjang.

3. Dimungkinkan adanya hubungan yang positif antar imbalan yang ada, dengan pengertian yang lebih luas dan kinerja, jadi tidak seharusnya kita berpikir tentang bagaimana kita dapat memperkuat hubungan tersebut.

4. Seperti Cox dan Purcell menulis bahwa manfaat yang sebenarnya dalam strategi imbalan dalam hubungan yang kompleks dengan kebijakan manajemen sumber daya manusia and prakteknya.

 

2.4.5.2. Features of Reward Strategy

Mintzberg, Quinn dan James menyarankan bahwa strategi dapat memiliki nilai yang berarti lain dari yang direncanakan atau sesuatu yang sesuai dengan arahan, panduan, bagian dari aksi. Strategi dapat juga merupakan :

(15)

• Pola, yang secara konsisten dalam perilaku di luar waktu yang

ada.

• Perspektif, suatu perusahaan merupakan jalan yang mendasar

dalam melakukan beberapa hal.

• Cara, spesifik manuver bermaksud untuk memperdayakan lawan

atau pesaing.

Berdasarkan saran dari Mintzberg, Quinn and James, fitur-fitur dari strategi imbalan adalah sebagai berikut :

The Reality of reward strategy

Retorik yang dikandung dalam prinsip-prinsip yang menuntun tidak dapat membawanya ke dalam realitas/kenyataan.

The Characteristics of reward strategy

Murlis mengatakan bahwa strategi imbalan akan memiliki karakterisitik dengan perbedaan dan kondisi keduanya oleh peninggalan strategi yang lalu dan realitas dari masa depan. • Reward strategy and business strastegy

Satu dari fitur yang ada pada strategi imbalan adalah strategi penghargaaan itu seharusnya sejalan dan sesuai dengan strategi bisnis. Berdasarkan konsep ini, strategi imbalan sebagai suatu aspek dari strategi sumber daya manusia yang ada untuk memuaskan kebutuhan dari bisnis dan mendukung untuk mencapai tujuan dari perusahaan.

(16)

Reward strategy and HR strategy

Strategi imbalan hanya merupakan bagian (malaupun bagian terpenting) dari strategi sumber daya manusia dalam suatu perusahaan. Sangat penting untuk memastikan bahwa strategi imbalan diikat dengan sumber daya manusia yang lain sehingga mereka melengkapi dan memperkuat yang lain.

Reward strategy and line management capability

Sumber daya manusia dapat berinisiatif memberikan kebijkan yang baru dan praktek-praktek tetapi merupakan suatu barisan yang memiliki tanggung-jawab yang utama untuk mengimplementasikannya. Dengan kata lain, sumber daya manusia diusulkan tetapi barisan ini menentukan.

Reward strategy and employees

Semua karyawan, termasuk di dalamnya manajer aturan (line manager) adalah pemegang saham (stakeholder) dalam strategi imbalan. Itu dapat berdampak atas keinginan mereka dan untuk lebih besar atau tingkat yang lebih kurang, sesuai dengan kebutuhan mereka. Hubungan dengan pekerjaan dapat berupa :

ƒ Berbasis transaksi – para karyawan memiliki keahlian dan usaha untuk pemberi pekerjaan yang akan dikembalikan di mana oleh pemberi pekerjaan akan disediakan untuk para karyawan yaitu gaji atau upah, yang merupakan konsep ekonomis tradisional atas usaha untuk pertukaran.

(17)

ƒ Berbasis hubungan–hubungan yang tidak berwujud

dikembangkan yang akan mengambil tempat dalam lingkungan pekerjaan dan berakibat dengan proses kepemimpinan, komunikasi dan memberikan para karyawan mengeluarkan pendapatnya dan bagaimana suatu pekerjaan didesain dan bagaimana ekspektasi dari perilaku dan kinerja disetujui.

ƒ Kontrak psikologis – hubungan yang saling menguntungkan dan sering merupakan kepercayaan yang bersifat implisit dari karyawan dan pemberi pekerjaan atas apa yang mereka inginkan satu sama lain. Yang akan berdampak kuat terhadap hubungan pekerjaan dan memiliki keduanya antara karakteristik transaksi dan berhubungan.

2.4.5.3. Struktur dari Reward Strategy

Struktur dari strategi imbalan dapat dibentuk berdasarkan ke 4 hal berikut ini : A definiton of guiding principles, nilai-nilai yang dipercaya seharusnya dapat diambil dalam membuat formula dan mengimplementasikan strategi tersebut.

A statement of intentions, inisiatif imbalan yang seharusnya dimaksud untuk dipergunakan.

Relational, alasan-alasan mengapa proposal itu dibuat. Pemikiran seharusnya dibuat sesuai dengan kebutuhan

(18)

perusahaan yang akan dijadikan proposal, yang mengindikasikan bagaimana mereka akan mempertemukan kebutuhan bisnis dengan tata cara dari biaya dan manfaat yang juga disesuaikan dengan kebutuhan para karyawan.

• Perencanaan (a plan) adalah bagaimana, kapan dan oleh siapa inisiatif dari imbalan itu akan diimplementasikan. Perencanaan seharusnya dibuat berdasarkan sumber daya secara terbatas dan sesuai kebutuhan untuk komunikasi, keterlibatan dan pelatihan.

2.4.6. Kriteria untuk Reward Strategy yang efektif

Berdasarkan Brown, efektif strategi imbalan memiliki 3 komponen : 1. Strategi harus secara jelas mendefinisikan tujuannya dan dengan baik

didefinisikan hubungannya dengan objek dari suatu bisnis.

2. Harus didesain dengan baik untuk program upah dan imbalan, disesuaikan dengan kebutuhan dari perusahaan dan karyawannya, dan konsisten dan terhubung satu dengan yang lainnya.

3. Diharapkan yang paling terpenting dan paling terabaikan, kebutuhannya untuk menjadi lebih efektif dan mendukung sumber daya manusia dan proses imbalan diperusahaan.

2.4.7. The Pyschological Contract

Dua tipe kontrak yang mendefinisikan hubungan dengan karyawan adalah sebagai berikut :

(19)

Transactional contracts

Yang dideskripsikan dengan jelas masa dari suatu perubahan. Hal ini memiliki dasar hukum dan biasanya diungkapkan dalam masa finansial dengan persyaratan kinerja yang spesifik. Atau disebut juga dengan kontrak secara ekonomis /Economic contracts.

Relational contracts

Yang kurang jelas didefinisikan atau tidak dapat didefinisikan secara keseluruhan. Hal ini memiliki masa yang abstrak dan ditujukan kepada keanggotaan perusahaan yang tujuannya terbuka. Dimana persyaratan dari suatu kinerja dapat menjadi tidak lengkap atau membingungkan.

2.4.7.1. Transactional contracts

Berdasarkan riset dari David Guest didefinisikan sebagai

expresses the combination of beliefs held by an individual and his or her employer about what they expect of one another. Meskipun bukan ide yang baru, sebelumnya ide ini telah didefinisikan oleh Ed Schein pada tahun 1965, sebagai berikut : The notion of a psychological contract implies that there is an unwritten set of expectation operating at all the times between every member of an organization and the various managers and others in that organization.

Definisi diatas dijelaskan oleh Rousseau dan Wade Benonzi baru-baru ini. Mereka menyatakan bahwa : Psychological contracts

(20)

refer to beliefs that individual hold regarding promises made, accepted and relied upon between themselves and another. Because psychological contracts represent how people interpret promises and commitments, both parties in the same employment relationship (employer and employee) can have different views regarding specific terms.

Dengan lebih ringkas kontrak secara psikologi didefiniskan oleh Sims pada tahun 1994 sebagai berikut :

The set of expectations held by the individual employee that specify what the individual and organization expect to give and receive from one another in the course of their working relationship.

2.4.7.2. Karakteristik dari Pyschological Contract

Kontrak secara psikologis merupakan sistem kepercayaan yang tidak memiliki batasan, di sisi lain, aksi dari para pekerja percaya apa yang mereka harapkan dan apa respon yang mereka inginkan dari pemilik pekerjaan dan di sisi lain, perilaku dari pemilik pekerjaan mengharapkan sesuatu dari para pekerjanya. Kontrak secara psikologis itu bersifat implisit/harus dipatuhi juga bersifat dinamis dan dibangun diluar waktu.

Aspek-aspek dalam hubungan pekerjaan yang termasuk oleh kontrak secara psikologis di dalamnya. Padangan dari sisi pekerja sebagai berikut :

(21)

• Bagaimana dia diperlakukan dalam suatu masa yang wajar,

keadilan dan konsistensi. • Keamanan dari pekerjaan.

• Ruang lingkup untuk mempertunjukkan

kemampuan/kompetensi.

• Karir yang diharapkan dan kesempatan untuk mengembangkan

keahlian.

• Keterlibatan dan pengaruh.

• Kepercayaan dalam perusahaan untuk menjaga apa yang telah

dijanjikan.

• Pengharapan yang akan dia (pekerja) atur secara baik.

Dari sisi pemberi pekerjaan, kontrak secara psikologis di dalamnya termasuk seperti aspek-aspek dari hubungan pekerjaan seperti : • Kompetensi • Usaha • Pemenuhan • Tanggung jawab • kesetiaan

2.4.7.3. Mengembangkan dan memelihara kontrak

(22)

Dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : ™ Pendekatan secara umum

Secara umum, langkah-langkah di bawah ini dapat dipergunakan untuk membentuk dan mendefinisikan kontrak secara psikologis, menghasilkan hubungan pekerjaan yang produktif dan meningkatkan tanggung-jawab dari para pekerja. Sebagai berikut : • Selama interview dalam pengerahan tenaga kerja, memberikan

gambaran buruk dalam pekerjaan seperti halnya hal-hal yang menyenangkan dalam suatu pekerjaan pada situasi yang ditunjukkan dalam situasi pekerjaan yang nyata.

• Pada program pelantikan dikomunikasikan kepada para pekerja

baru mengenai kebijakan perorangan, prosedur pekerjaan dan inti dari suatu pekerjaan yang bernilai yang akan mengindikasikan bagaimana suatu kinerja standar yang diharapkan dalam suatu pekerjaan.

• Mengeluarkan dan memperbaharui buku pedoman bagi karyawan

dan lingkungan dalam perusahaan.

• Mengembangkan manajemen proses kinerja.

• Menganjurkan penggunaan dari rencana pengembangan diri.

• Menggunakan pelatihan dan program manajemen perkembangan

untuk mencapai nilai inti dan mengartikan kinerja yang diharapkan. • Memastikan bahwa manajer dan pemimpin pelatihan suatu tim

(23)

• Mendorong hubungan yang kuat antara manajer dan pemimpin tim

berikut para anggotanya, agar dapat mencapai tujuan yang saling menguntungkan dan sesuai dengan yang diharapkan.

• Mengadaptasikan kebijkan umum yang transparan.

• Mengembangkan prosedur kerja perorangan yang termasuk di

dalamnya menangani keluhan, disiplin yang sama dengan kesempatan, promosi dan redundansi juga memastikan bahwa mereka melaksanakannya secara wajar dan konsisten.

™ Implikasi untuk Reward Management

Kebijakan dan proses manajemen imbalan dapat digunakan untuk mengembangkan dan mendukung kontrak secara psikologis yang produktif, dengan cara sebagai berikut :

• Membayar pekerja atas dasar kontribusi mereka kepada

perusahaan, daripada mempercayakan pada promosi yang menarik sebagai imbalan untuk kesetiaan dan jasa yang dilakukannya.

• Memberikan imbalan pekerja berdasarkan atas pengembangan

kompetensi dan keahlian, selama dipergunakan untuk tujuan yang baik.

• Memberikan upah yang sesuai kontrak (contigent) lebih sebagai arti dari pesan yang disampaikan tentang nilai perusahaan, faktor kesuksesan yang kritikal dan menjadi prioritas dan bagaimana

(24)

seseorang diharapkan berkontribusi pada area pekerjaan yang spesifik daripada motivator secara langsung.

• Termasuk keduanya antara input (kompetensi) dan output (objek tujuan yang akan dicapai)

• Mengembangkan tim sistem imbalan yang menegaskan pentingnya

kerja tim, fleksibilitas dan banyak keahlian.

• Mengenalkan pola berbagi keuntungan yang akan menekankan

rencana bahwa kita semua adalah satu kesatuan dan melibatkan pekerja dalam analisa kinerja dan mengusulkan kemajuan.

• Mengkomunikasikan dengan para pekerja alasan untuk inovasi

imbalan dan bagaimana mereka dapat menghasilkan sesuatu untuk dirinya sendiri.

• Melibatkan para pekerja dalam pembangunan proses imbalan yang

baru dan terstruktur.

• Memberikan pelatihan untuk semua karyawan (manajer dan para

pekerja yang sejajar) dalam kegiatan operasional dan implikasi dari kebijakan imbalan dan prakteknya.

2.4.8. Financial Rewards

Imbalan secara finansial perlu benar-benar dipertimbangkan dari 3 sudut pandang:

(25)

2. Alasan mengapa pekerja merasa puas atau tidak puas dengan imbalan yang mereka raih.

3. Kriteria yang seharusnya dipergunakan ketika membangun sistem imbalan secara finansial.

Berdasarkan teori motivasi dapat menghasilkan penjelasan berikut ini mengenai hubungan antara uang dan motivasi, sebagai berikut :

The ‘economic man‘ approach

Berdasarkan atas teori penguatan, orang akan termotivasi terutama oleh imbalan berupa sesuatu yang bersifat ekonomis. Yang diasumsikan bahwa mereka akan termotivasi untuk bekerja jika imbalan dan hukuman akan dikaitkan langsung kepada hasil dari apa yang mereka capai.

Instrumental theory

Teori ini mengatakan bahwa uang dapat menyediakan arti dari mencapai suatu tujuan, yang merupakan alat untuk memiliki hasrat agar dapat memperoleh hasil dan hal tersebut dapat dipaksakan dan akan bergantung pada 2 hal, yaitu :

1. Kekuatan atas kebutuhan

2. Tingkat kepada orang-orang yang memiliki kepercayaan diri bahwa perilaku mereka dapat menghasilkan uang yang mereka inginkan untuk memenuhi kebutuhan.

(26)

Pada teori pengharapan dikatakan bahwa motivasi akan jadi kuat jika individu mendapat harapan yang beralasan bahwa usaha mereka dan kontribusinya akan menghasilkan imbalan yang bermanfaat. Teori ini diikembangkan oleh Porter dab Lawler menjadi model pengharapan yang menyarankan bahwa ada 2 faktor yang menjelaskan usaha orang-orang yang dikaitkan pada pekerjaannya :

1. Nilai dari suatu imbalan kepada individu sejauh ini sebagaimana mereka puas akan kebutuhan mereka untuk sisi keamanan, imbalan secara sosial, otonomi dan aktualisasi diri.

2. Kemungkinan bahwa imbalan tergantung pada usaha, seperti yang dirasakan oleh individu dengan kata lain harapannya tentang hubungan antara usaha dan imbalan.

Berikut ini dua hal tambahan sebagai usaha yang bisa mempengaruhi tugas dalam mencapai suatu imbalan adalah sebagai berikut :

1. Kemampuan – karakteristik individu seperti kecerdasan, keahlian tangan dan mengetahui bagaimana dalam bekerja.

2. Peranan dari persepsi – apa yang diinginkan individu untuk dilakukan atau berpikir dia (pekerja) berkewajiban untuk melakukannya suatu pekerjaan.

(27)

2.4.9. Non Financial Rewards

Imbalan tidak secara finansial lebih terfokus pada kebutuhan kebanyakan orang, meskipun dari tingkat yang berbeda, untuk hal-hal berikut : • Imbalan • Pengakuan • Tanggung-jawab • Pengaruh • Perkembangan diri.

2.4.10. Faktor-faktor

yang

mempengaruhi

tingkatan dari upah

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkatan dari upah untuk tiap individu tingkatan upah pemegang kerja individu akan dipengaruhi oleh 3 faktor sebagai tambahan untuk tarif dari pekerjaan mereka (pekerja) :

1. Harga pasar para pekerja seperti dijelaskan di atas.

2. Tingkat keahlian atau kompetensi yang mereka miliki sebagai masukan untuk mereka.

3. Tingkatan kinerja mereka dalam pekerjaan sebagai keluaran dari mereka dan kontribusi secara keseluruhan yang mereka buat untuk kesuksesan dari perusahaan.

(28)

Gambar 2.5. Faktor-faktor yang mempengaruhi upah tiap individu

2.4.11.

Developing reward process

Disain dan pengembangan dari proses manajemen imbalan adalah masalah memilih secara optimum campuran dari imbalan dan manfaat dari struktur yang paling tepat dan meyakinkan bermacam-macam proses yang cocok atau membantu untuk merubah suatu budaya. Sangat tidak diinginkan untuk menghilangkan satu set desain prinsip yang absolut.

Tetapi itu sangat mungkin untuk menyarankan cara untuk program pengembangan agar dapat dikendalikan sebagai berikut :

• Analisa konteks yang ada seperti budaya kerja, keadaan dan

lingkungan perusahaan, tingkatan untuk mengatur imbalan dan hubungan juga keefektifan dari praktek imbalan yang ada.

(29)

• Perrkiraan perubahan apa yang perlu dilakukan dari keterangan

analisis.

• Daftar dan evaluasi pilihan dan membuat pilihan sesuai dengan hasil

analisis.

• Kemudian faktor utama yang perlu dilakukan untuk melepaskan

analisis adalah

ƒ Budaya kerja dari suatu perusahaan dan karakterristiknya seperti ;

tipe, struktur, ukuran, lingkungan dalam, lingkungan luar, strategi bisnis dan praktek manajemen.

ƒ Kerja dan karakteristik yang berhubungan dengan pekerjaan

seperti : kebutuhan pekerja dan pengharapan yang diekspresikan dalam kontrak secara psikologis.

ƒ Faktor internal lainnya, ketidakmampuan dalam menjalankan

sistem imbalan yang ada diperusahaan.

(30)

Gambar 2.6. Developing reward process

Keterangan gambar adalah sebagai berikut :

Context

• Analisa budaya suatu perusahaan, struktur, lingkungan dalam dan

luar, rencana bisnis.

• Perkiraan rencana/kebutuhan untuk berubah.

• Mengadakan tinjauan diagnostik susunan imbalan saat ini untuk

menggambarkan kekuatan dan kelemahan dan area untuk berubah.

Issues

Identifikasi persoalan-persoalan untuk dialamatkan sesuai dengan analisis yang berhubungan dengan konteks dan tinjauan diagnostik.

(31)

Plan

Rencana program pengembangan yang di dalamnya adalah : ƒ Tempat untuk pembangunan

ƒ Objektif/tujuan untuk dicapai

ƒ Sumber daya untuk digunakan : konsultan dari dalam/luar

perusahaan, tim proyek dan anggaran financial. ƒ Beban dan manfaat analisis

ƒ Daftar jam/waktu

ƒ Pengaturan untuk komunikasi, konsultasi dan pelatihan yang dibutuhkan untuk mebangun kemampuan untuk memberikan yang perubahan diperlukan secara efektif.

Options

Daftar dan evaluasi pilihan-pilihan dan menentukan yang satu paling tepat di dalam konteks dan objektif.

Development process

Membangun alternatif yang lebih disukai,melibatkan para pekerja dan menjaga mereka tetap diinformasikan.

Test the process

Dimana mungkin dan diinginkan sekali, pilot tes proses tersebut dan memodifikasi seperti yang diperlukan seperti posisi dari pembangunan yang di dalamnya ada konteks pembelajaran suatu perusahaan untuk menegaskan nilai dari pembelajaran bersama.

(32)

Membangun dan eksekusi dari pelaksanaan rencana termasuk pelatihan dan membangun kemampuan.

Monitor

Mengawasi pelaksanaan dan menyetel dengan baik seperti yang diinginkan.

Evaluate

Evaluasi dampak dari proses baru dan membentuk kembali dan menyesuaikan dengan baik seperti yang diperlukan.

Communicate and involve

Komukasi dan keterlibatan seluruhnya untuk menyakinkan secara transparan dan kredibilitas.

2.5. Developing

Reward Strategy

Formulasi dari strategi perusahaan dapat dideskripsikan sebagai suatu proses untuk mengembangkan dan mendefinisikan pengertian dari petunjuk suatu strategi yang baik dalam menerapkan reward strategy pada departemen sumber daya manusia. Dimana model of the reward strategy development process yang dapat digambarkan sebagai berikut :

(33)

  Gambar 2.7. A Model of the reward strategy development process 

Pada prakteknya reward strategy jarang menjadi logis dan segaris dengan proses yang digambarkan diatas. Gagasan ini dikembangkan oleh Mintsberg, orang yang percaya bahwa formulasi strategi tidak perlu rasional dan terus menerus. Dalam teorinya, dikatakan strategi adalah proses secara sistematis : pertama kita berpikir, lalu kita memutuskan; kita formulasikan lalu kita terapkan.

(34)

2.6. Uraian pekerjaan (Job description)

2.6.1. Definisi

Deskripsi pekerjaan disesuaikan dengan tujuan dari pekerjaan, dimana dapat dicocokkan dalam struktur organisasi, konteks yang tidak lebih dari yang merupakan fungsi pemberi pekerjaan dan keadaan yang utama yang dapat dipertanggung jawabkan terhadap pemberi pekerjaan.

2.6.2. Tujuan

Pernyataan singkat, kenapa pekerjaan itu ada. Kapan mendefinisikan tujuan dari pekerjaan dengan mempertimbangkan : • Bagian mana dalam perusahaan tujuan totalnya dapat

diselesaikan oleh pekerjaan ini ?

• Apa yang menjadi kontribusi yang unik dari pekerjaan ini yang

dapat melihat dengan jelas suatu pekerjaan dari pekerjaan yang lain ?

• Bagaimana dapat kita meringkaskan tanggung jawab secara

keseluruhan dari pemberi pekerjaan ?

2.6.3. Principal accountabilities

Principal accountabilities (juga dikenal sebagai kunci area hasil, tugas utama, kewajiban utama, aktivitas utama, kunci

(35)

tanggung jawab dan sebagainya) adalah pernyataan untuk melanjutkan hasil akhir atau hasil yang diperlukan dari suatu pekerjaan. Karakteristik utama dari Principal accountabilities

adalah :

• Menggunakan bersama, mereka mewakili semua hasil utama

yang diharapkan dari suatu pekerjaan.

• Mereka focus pada apa yang diperlukan (hasil) bukan

bagaimana suatu pekerjaan selesai dilakukan (detil usaha dan tugas)

• Masing-masing pekerjaan jelas dari pekerjaan yang lain dan

mendeskripsikan spesifik area untuk hasil yang mana dapat dicapai.

• Mereka menyarankan (tetapi perlu untuk tidak dinyatakan

secara tegas) ukuran atau tes-tes yang mana dapat menentukan memperpanjang untuk tanggung jawab yang mana dapat dipenuhi.

2.6.4. Konteks

Bagian konteks yang juga disebut ‘nature and scope’ didesain untuk menambahkan rasa kedalam daftar nyata dari principal accountabilities dengan mendeskripsikan aspek-aspek dari suatu pekerjaan dan peranan dari suatu pekerjaan didalam konteks pada suatu perusahaan. Konteks ini biasanya diekspresikan dalam

(36)

struktur cerita yang man mengikuti pertanyaan ditingkatkan pada tingkat analisis, diantaranya :

• Dimana pekerjaan sesuai dengan aspek kunci yang lain dari

pekerjaan dalam suatu perusahaan atau unit bisnis. • Otoritas pembuat keputusan.

• Bagaimana pekerjaan dibuat, diperiksa dan disetujui.

• Pengetahuan khusus, keahlian dan pengalaman yang

diperlukan.

• Tingkatan fleksibilitas diperlukan untuk mengambil alih tugas

yang berbeda atau menggunakan keahlian yang berbeda. • Permintaan khusus dari suatu pekerjaan pada suatu area sebagai

kualitas total manajemen, kepemimpinan, pekerjaan tim, keahlian perseorangan, perencanaan, manajemen krisis dan sebagainya.

• Masalah utama bagi pemberi pekerjaan kemungkinan besar

adalah untuk menjaga pekerjaan mereka. • Kondisi fisik.

• Pabrik, perlengkapan atau peralatan yang dipergunakan.

2.7. Grade

structures

2.7.1. Definisi

Struktur grade terdiri atas rangkaian atau hirarki dari

(37)

yang dibandingkan secara luas dalam ukuran yang disediakan. Yang mungkin saja berupa struktur tunggal dengan rangkaian dari

narrow grades (biasanya 8 sampai 12), atau secara relatif sedikit

broad bands (biasanya 4 sampai 5).

Grades, bands atau levels dapat didefinisikan dalam satu atau lebih dari cara-cara berikut ini atau kombinasi dari cara tersebut :

• Dengan arti, jarak dari nilai evaluasi suatu pekerjaan (job

evaluation points) – pekerjaan dialokasikan untuk grade, band

atau level jika nilai evaluasi pekerjaan mereka jatuh kedalam batasan penilaian yang ada.

• Mendeskripsikan karakteristik dari kerja yang dimiliki dalam

suatu pekerjaan yang diposisikan dalam masing-masing grade

atau level. Definisi grade, band atau level dapat dibuat berdasarkan aktivitas penting dan kompentensi atau pengetahuan dan keahlian yang diperlukan pada nilai yang berbeda dalam hirarki.

• Dengan referensi untuk mengukur pekerjaan atau peranan

bahwa telah ditempatkan dalam grade, band or job family level.

2.7.2. Kriteria untuk struktur grade

(38)

• Menjadi tepat/sesuai untuk budaya, karakteristik dan kebutuhan

dari perusahaan dan karyawannya.

• Menfasilitasi manajemen relativitas dan pencapaian dari modal,

keadilan, konsistensi dan transparansi dalam mengatur

gradings.

• Menjadi mampu untuk adaptasi untuk memberi tekanan untuk

peningkatkan dari perubahan tarif pasar dan kekurangan keahlian.

• Menfasilitasi flexibilitas operasional dan melanjutkan

pengembangan.

• Menyediakan jangkauan seperti yang diperlukan untuk kinerja

yang bermanfaat, kontribusi dan peningkatkan keahlian dan kompetensi.

• Menjelaskan imbalan, pengembangan samping dan kesempatan

berkarir.

• Membangun secara logika dan secara jelas sehingga dasarnya

bergantung kepada apa yang mereka operasikan dapat dibaca dan dikomunikasikan kepada karyawan.

• Memungkinkan perusahaan untuk melatih kendali diluar dari

implementasi kebijakan pembayaran upah dan anggaran belanja.

(39)

2.7.3. Tipe-tipe struktur grade and pay

Berikut ini tipe-tipe dalam struktur grade dan pay dengan penjelasannya :

Narrow graded structures

Sampai hampir baru-baru ini hampir semua tipe struktur didalam sektor pribadi adalah struktur graded pay yang biasa, seperti dilukiskan dibawah ini :

Broadbanded pay structures

Struktur broadbanded adalah menggantikan struktur narrow graded dalam beberapa organisasi. ‘Broadbanding’ artinya bahwa nomor-nomor grades ditekan menjadi nomor kecil yang secara relative jadi lebih lebar ‘bands’ didalam upah mana yang akan diatur lebih flexible dari struktur graded yang biasa dan meningkatkan perhatian kepada pasar relativitas. Dapat dilukiskan sebagai berikut :

Career family structures

Career family terdiri dari pekerjaan dalam fungsi atau jabatan seperti pemasaran, operasional dan keuangan, yang mana berhubungan dengan aktivitas dan pengetahuan dasar dan keahlian yang diperlukan tetapi didalam tingkatan tanggung jawab, pengetahuan, keahlian atau kompetensi yang dibutuhkan. Dapat dilukiskan sebagai berikut :

(40)

Struktur a job family terdiri atas struktur grade dan upah yang terpisah untuk pekerjaan atau karir keluarga yang beda. Dapat dilukiskan sebagaai berikut :

2.8. Performance management

Pada dasarnya untuk mengukur kinerja seorang buruh atas upah yang akan diraihnya berdasarkan teori peformance management dibagi atas 4 komponen :

1. Planning/contracting against agreed measures/outcomes. 2. Managing/coaching for performance management 3. Feedback and review

4. Reward and recognition

Dan bagaimana suatu imbalan diperoleh oleh seorang buruh akan dapat diukur lewat model Performance Management sebagai berikut:

(41)

Gambar 2.8. A Model of Performance Management

Performance management di awal tahun 1990 seringkali hanya dianggap sebagai suatu cara lain untuk mengambarkan a more sophisticated performance appraisal system.

2.9. Kompensasi

Sistem kompensasi dalam organisasi harus dihubungkan dengan tujuan dan strategi organisasi. Akan tetapi kompensasi juga menuntut

(42)

keseimbangan antara keuntungan dan biaya pengusaha dengan harapan dari karyawan. Program kompensasi dalam organisasi harus memiliki empat tujuan :

• Terpenuhinya sisi legal, dengan segala peraturan dan hukum yang

sesuai.

• Efektivitas biaya untuk organisasi.

• Keseimbangan individual, internal, eksternal untuk seluruh

karyawan.

• Peningkatan keberhasilan kinerja organisasi.

2.9.1. Jenis-jenis kompensasi

Imbalan dapat berbentuk intrinsik (internal) dan ekstrinsik (eksternal). Imbalan intrinsik antara lain termasuk pujian yang didapatkan untuk penyelesaian suatu proyek atau berhasil memenuhi beberapa tujuan kinerja. Efek psikologis dan sosial yang lain dari kompensasi juga merupakan gambaran dari jenis imbalan intrinsik. Imbalan ekstrinsik bersifat terukur, memiliki bentuk imbalan moneter maupun non-moneter. Kompnenan terukur dari program kompensasi terdapat pada kedua jenis umum kompensasi (Gambar 2.10).  

(43)

De diberikan  langsung  ƒ Gaji kary men dide dari ƒ Gaji dim kine ada   Gaji Po - Upah - Gaji Gaji Va - Bonus - Insenti - Kempe Gambar engan jenis k oleh  pengu berupa :   i  pokok  mer yawan,  baisa nggunakan d efinisikan ber i pekerjaanny i   variabel m mana kompen erja.  Jenis pa lah program  LANGSUN okok ariabel if emilikan Saham r 2.9. Kompon kompensasi  usaha.  Bent rupakan  kom anya sebagai dua kategori  rdasarkan ca ya.  merupakan je nsasi berhubu aling umum  pembayaran 

KOMP

NG m nen program ko bersifat lang uk  paling  u mpensasi  das i  gaji  dan  u gaji pokok,  ra pemberian

enis lain dar ungan langsu dari gaji je bonus dan in

PENSASI

TID Tunjanga - Asuransi - Libur pe - Dana pen - Kompen   ompensasi gsung, imbala umum  dari 

sar  yang  dit upah.  Banyak harian atau  n gaji terseb

i gaji bersifa ung dengan 

nis  ini untuk nsentif.   DAK LANGSU an i kesehatan engganti nsiun nsasi pekerja     an moneter  kompensasi  terima  oleh  k  organisasi  tetap, yang  ut dan sifat  at langsung,  pencapaian  k karyawan  UNG

(44)

Kompensasi bersifat tidak langsung biasanya terdiri dari tunjangan  karyawan.

2.9.2. Gaji variabel : insentif atas kinerja

Gaji variabel adalah kompensasi yang dikaitkan dengan kinerja individu, kelompok ataupun kinerja organisasi. Dulunya dikenal sebagai insentif, rencana gaji variabel merupakan upaya untuk mengaitkan imbalan yang nyata yang diberikan karyawan untuk kinerja yang melampaui harapan. Dasar filosofi dari gaji variabel adalah berdasarkan beberapa asumsi dasar :

ƒ Beberapa pekerjaan memberikan kontribusi kepada

keberhasilan perusahaan dibandingkan yang lainnya.

ƒ Beberapa orang berkinerja lebih baik dibandingkan yang

lainnya.

ƒ Karyawan yang melaksanakan pekerjaannya dengan lebih

baik harus menerima kompensasi yang lebih juga.

ƒ Bagian dari total kompensasi karyawan harus diberikan untuk

memberikan imbalan bagi kinerja yang berada di atas memuaskan.

2.9.3. Jenis-jenis Gaji Variabel (insentif)

Rencana gaji variabel dapat ditetapkan dengan memfokuskan pada kinerja individual, kelompok ataupun kinerja organisasi.

(45)

Bentuk yang penting dari rencana gaji variabel adalah bahwa insentif menaikkan tingkat kerja sama di dalam kelompok, sedangkan insentif individual tidak demikian. Dibawah ini 3 jenis gaji variabel (insentif) yang dijabarkan sebagai berikut :

™ Insentif individual

Sistem insentif individual berusaha menghubungkan usaha individu dengan gaji. Kondisi yang dibutuhkan untuk digunakan dalam rencana insentif ini adalah sebagai berikut :

• Mengidentifikasikan kinerja individual : Kinerja untuk

masing-masing individu dapat diukur dan diidentifikasikan karena setiap karyawan memiliki tanggung jawab pekerjaan dan tugas yang dapat dikategorikan secara terpisah dari karyawan lainnya.

• Pekerjaan yang independen : Kontribusi individual yang

dihasilkan dari pekerjaan dan usaha individual diberikan oleh pengusaha secara individu.

• Tingkat kompetisi individual yang diharapkan: Oleh karena

itu, individu pada umumnya mengejar insentif individual untuk diri mereka sendiri, kompetisi antar karyawanpun akan terjadi. Dengan demikian, kompetisi individual di mana beberapa individu menang dan beberapa kalah, haruslah diharapkan terjadi.

(46)

• Penekanan individu di dalam budaya organisasi : Budaya

organisasi haruslah yang memberi penekanan pada perkembangan individu, kinerja, dan imbalan individu. Jika perusahaan menekankan pada kerja kelompok dan kerja sama, maka insentif individual akan bersifat kontra produktif.

Penghitungan sistem insentif individual dibagi menjadi 2 yaitu : • Sistem tarif-bagian

Sistem individual yang paling dasar adalah sistem tarif bagian, baik jenis yang lurus maupun yang berbeda.

ƒ Sistem bagian yang lurus, upah ditetapkan dengan mengalikan jumlah unit yang dihasilkan (seperti hasil jahitan garmen dan jumlah konsumen yang dikontrak) dengan tarif bagian untuk setiap unit tadi.

ƒ Sistem tarif bagian yang berbeda adalah menggaji karyawan dengan gaji dengan satu tarif bagian untuk unit-unit yang diproduksi sesuai dengan standar. Disusun oleh Frederick W. Taylor, pada akhir tahun 1800, sistem ini dirancang untuk menstimulasi karyawan agar mencapai atau melebihi standar produksi yang ditetapkan.

(47)

Kary komp pemb gaji p imba baru, mend ™ Insen S dalam pe dan an perusaha dan tamp perusaha Gambar

VA

KE

yawan indi pensasi ta bayaran seca pokok karyw alan kepada , mengem dapatkan ser ntif kelompo emakin ber erusahaan me ggota-anggo an menetapk paknya tuju an. (Gambar 2.10. Mengap

GAJI

ARIABEL

ELOMPOK

ividual mu ambahan d

ara satu kal wan. Bonus j pekerja untu mbangkan rtifikasi prof ok rkembangny emiliki damp otanya. Ad kan program uan-tujuan i r 2.11) pa Perusahaan

K

- M - M kin - M - M mem - M ungkin me dalam ben li yang tidak juga digunak uk memberi keterampil fesional. ya penggun mpak terhadap da beberap m gaji variab ini berhasil menetapkan Pr Meningkatkan p Menghubungkan erja kelompok Meningkatkan k Membantu untuk mpertahankan Meningkatkan s enerima p ntuk bonus k menjadi b kan untuk m ikan kontrib lan merek naan kerja p kompensa pa alasan bel kelompok dicapai di rogram Gaji V produktivitas n pendapatan d k. kualitas. k merekrut dan karyawan. emangat karya embayaran s, berupa bagiand ari memberikan busi ide-ide ka, atau kelompok si kelompk mengapa k atau tim, i sejumlah Variabel dengan n awan.

(48)

Dua pendekatan utama dalam distribusi imbalan kelompok adalah sebagai berikut :

• Imbalan yang sama besar untuk setiap anggota kelompok :

Dalam pendekatan ini, seluruh anggota kelompok menerima hasil yang sama, meskipun tingkat jabatan, gaji saat ini atau senioritasnya berbeda.

• Ukuran imbalan yang berbeda untuk setiap anggota

kelompok: Dengan menggunakan pendekatan ini, imbalan individual bisa berbeda berdasarkan faktor-faktor seperti kontribusi terhadap hasil kelompok, gaji sekarang, lama pengalaman, dan tingkat keterampilan dari pekerjaan yang dilakukan.

Insentif kelompok terlihat paling berhasil jika kriteria-kriteria berikut ini diikuti :

• Ada ketergantungan yang signifikan di antara

pekerjaan-pekerjaan dari beberapa individu di dalamnya, dan kerja kelompok dan kerja sama merupakan hal yang inti.

• Adanya kesulitan dalam mengidentifikasikan secara tepat

siapa yang bertanggung jawab untuk tingkatan kinerja yang berbeda-beda.

• Manajemen ingin menciptakan atau mendorong terbentuknya

(49)

• Imbalan dianggap telah dialokasikan secara adil dan merata. • Input karyawan dikumpulkan juga dalam mendesain sebuah

rencana insetif kelompok.

™ Insentif organisasi

Konsep dasar di balik program insentif perusahaan ini bahwa efisiensi keseluruhan tergantung kerja sama yang ada di dalam perusahaan atau di seluruh pabrik. Tujuan program ini adalah untuk menghasilkan kerja sama.

• Hasil kerja adalah pembagian dengan karyawan dari hasil

keuntungan atau produktivitas yang ternyata jauh lebih besar dari yang ditargetkan.

• Pembagian keuntungan mendistribusikan sebagian

keuntungan perusahaan kepada karyawan. Tujuan program pembagian keuntungan :

ƒ Meningkatkan produktivitas.

ƒ Merekrut atau melatih kembali para karyawan. ƒ Meningkatkan kualitas produk/jasa.

ƒ Meningkatkan semangat karyawan.

• Program kepemilikan saham oleh karyawan, jenis pembagian

keuntungan yang umum adalah program kepemilikan oleh saham karyawan (employee stock ownership plan – ESOP). ESOPs dirancang untuk memberikan kepemilikan saham

(50)

kepada karyawan dari perusahaan di mana mereka bekerja, dengan demikian akan meningkatkan loyalitas, komitmen, dan usaha mereka.

2.9.4. Sifat dasar insentif agar berhasil

Menurut Heidjrachman Ranupandojo dkk. Menjelaskan, berapa sifat dasar dari insentif yang harus dipenuhi agar sistem upah insentif tersebut dapat berhasil, yaitu :

• Pembayarannya hendaknya sederhana, sehingga dapat

dimengerti dan dihitung oleh karyawan sendiri.

• Penghasilan yang diterima pekerja hendaknya langsung

menaikkan output dan efisiensi.

• Pembayarannya hendaknya dilakukan secepatnya mungkin. • Standar kerja hendaknya ditentukan dengan hati-hati. Standar

kerja yang terlalu tinggi atau terlalu rendah sama tidak baiknya.

• Besarnya upah normal dengan standar kerja per jam

hendaknya cukup merangsang pekerjaan untuk bekerja lebih giat.

2.10. E-HRM

E-HRM didefinisikan sebagai suatu cara untuk meng-implementasikan Sumber daya manusia secara strategis,

(51)

kebijakan-kebijakan, dan latihan-latihan dalam organisasi melalui dukungan yang jelas dan langsung dengan penggunaan secara penuh dari teknologi berbasis web. Dimana E-HRM ini dapat dipergunakan bukan hanya oleh departemen sumber daya manusia namun dapat pula dipergunakan oleh seluruh karyawan diluar departemen sumber daya manusia.

Tujuan dari e-HRM menurut Lepak dan Snell (1998) ada 4, sebagai berikut :

1) Departemen sumber daya manusia diharapkan untuk fokus pada pertanyaan-pertanyaan strategis.

2) Departemen ini dapat fleksibel pada saat pembuatan kebijakan dan pelatihan-pelatihan.

3) Departemen sumber daya manusia seharusnya bekerja secara efisien dan sadar akan biaya yang ada.

4) Departemen sumber daya manusia seharusnya berorientasi jasa terhadap manajemen dan para pekerja.

4 hal diatas dapat dikatakan sebagai suatu awal yang baik, namun dapat dijadikan 3 tujuan utama yaitu:

1. Meningkatkan orientasi strategis dari Manajemen sumber daya manusia.

2. Mengurangi biaya/meng-efisiensi pendapatan.

Gambar

Gambar 2.1. Hirarki kebutuhan Maslow’s
Gambar 2.2. Teori Motivasi-Higienis (Motivation-Hygiene)
Gambar 2.4. Total Reward and Engaged Performance
Gambar 2.5. Faktor-faktor yang mempengaruhi upah tiap individu
+3

Referensi

Dokumen terkait

J.L Thompson dalam Manurung(2015:2) mendefinisikan strategi sebagai cara untuk mencapai sebuah hasil akhir: Hasil akhir menyangkut tujuan dan sasaran organisasi.Public adalah

Jika laporan keuangan dibuat sesuai dengan kerangka penyajian yang wajar, tidak mencapai penyajian yang wajar, auditor wajib membahas hal ini dengan manajemen dan, tergantung

Menurut Rosa A.S (2015:44) menjelaskan bahwa “Database Management System atau dalam bahasa indonesia sering disebut Sistem Managemen Basis Data adalah suatu sistem aplikasi yang

Sedangkan untuk pengukuran pendapatan, perusahaan melakukan pengukuran berdasarkan nilai wajar dari imbalan yang diterima atau yang dapat diterima dalam bentuk kas

Merupakan karya musik untuk instrumen solo dengan menggunakan iringan orkestra dan virtuositas pemain sangat ditekankan.. Pola permainan yang rumit dan bersifat

Menganalisis dan mengevaluasi pemikiran matematis (mathematical thinking) dan strategi yang dipakai orang lain. Menggunakan bahasa matematika untuk mengekspresikan

Komunikasi antar organisasi dan aktivitas pelaksana, merupakan mekanisme yang ampuh dalam implementasi kebijakan publik Dalam menilai kinerja keberhasilan implementasi

Jika nilai wajar dari barang atau jasa tidak dapat diukur secara andal, maka pendapatan tersebut diukur pada nilai wajar dari barang atau jasa yang diserahkan,