• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aspek Hukum Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank yang tidak Berbadan Hukum

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Aspek Hukum Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank yang tidak Berbadan Hukum"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KEDUDUKAN BANK INDONESIA DALAM SISTEM KEUANGAN NEGARA

A. Pengertian Bank Indonesia

Menurut Undang-Undang Pokok Perbankan Nomor 10 Tahun 1998

tanggal 10 November 1998, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari

masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat

dalam bentuk kredit atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup

rakyat banyak.17

b. Bank Sekunder yaitu bank yang hanya bertugas sebagai perantara dalam

pemberian pinjaman, contohnya bank tabungan dan bank lain yang tidak

menciptakan uang giral.

A.Hahn dalam bukunya membedakan bank atas dua jenis yakni :

a. Bank Primer yaitu bank yang bertugas dalam peminda bukuan alat-alat

pembayaran yang dipercayakan oleh pihak ketiga, contohnya banl sentral dan

bank umum.

18

Bank Sentral (central bank) merupakan bank pusat. Ditinjau dari

fungsinya, Bank Sentral Merupakan salah satu jenis perbankan yang paling utama

dan paling penting. Bank ini mengatur berbagai kegiatan yang berkaitan dengan

17

Frianto Pandia, Elly Santi Ompusunggu, Lembaga Keuangan, Ed. Pertama, (Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2009), hlm,. 10.

18

(2)

dunia perbankan dan dunia keuangan di suatu negara. Oleh karena itu, disetiap

negara hanya ada 1 bank sentral yang dibantu oleh cabang-cabangnya.

Undang- undang yang mengatur mengenai bank sentral dikeluarkan tahun

1968 dan kemudian disempurnakan menjadi Undang - Undang No. 23 Tahun

1999 tanggal 17 Mei 1999. Dalam undang-undang ini yang menjadi Bank Sentral

adalah Bank Indonesia yang dipimpin dewan gubernur yang terdiri dari seorang

gubernur, seorang deputi gubernur senior dan sekurang-kurangnya empat orang

dan sebanyak - banyaknya tujuh orang deputi gubernur dengan gubernur sebagai

pemimpin.19

Fungsi utama Bank Sentral adalah mengatur masalah-masalah yang

berhubungan dengan keuangan di suatu negara secara luas.20

Bank Indonesia (BI, dulu disebut De Javasche Bank) adalah Bank Sentral

Republik Indonesia. Sebagai bank sentral, Bank Indonesia mempunyai satu tujuan

tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai Di Indonesia, fungsi

Bank Sentral dipegang oleh Bank Indonesia. Fungsi Bank Indonesia di samping

sebagai Bank Sentral adalah sebagai bank sirkulation, bank to bank, dan lender of

the last resort.

Bank Indonesia juga disebut sebagai king of bank yang berupaya

mengawasi setiap bank yang beroperasi di Indonesia. Adapun bank yang berada di

bawah pengawasan Bank Indonesia terdiri dari Bank Konvensional dan Bank

Syariah,Bank Umum, dan Bank Perkreditan Rakyat serta Bank Campuran dan

Bank asing yang beroperasi di Indonesia.

19

Ibid,. hlm, 12. 20

(3)

rupiah ini mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap

barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain.21

Kata Bank berasal dari bahasa Italia banque atau Italia banca yang berarti

bangku. Para bankir Florence pada masa Renaissans melakukan transaksi mereka

dengan duduk di belakang meja penukaran uang, berbeda dengan pekerjaan

kebanyakan orang yang tidak memungkinkan mereka untuk duduk sambil

bekerja.22

c. Bank Indonesia adalah badan hukum berdasarkan undang-undang ini.

Dalam Pasal 4 ayat (1),(2), dan (3) Undang-undang Nomor 3 Tahun 2004

Tentang Perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun

1999 Bank Indonesia, yaitu :

a. Bank Indonesia adalah Bank Sentral Republik Indonesia.

b. Bank Indonesia adalah lembaga Negara yang Independen dalam melaksanakan

tugas dan wewenangnya, bebas dari campur tangan Pemerintah dan/atau pihak

lain, kecuali utuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam Undang-undang ini.

23

“Barang siapa melakukan campur tangan terhadap pelaksanaan tugas Bank

Indonesia diancam dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 2 tahun dan paling

lama 5 tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp. 2.000.000.000 dan paling Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia

dikatakan :

22

Ibid.

23

(4)

bnyak Rp. 5.000.000.000, sedangkan anggota Dewan Gubernur dan atau pejabat

Bank Indonesia yang melanggar ketentuan di atas diancam dengan pidana penjara

sekurang-kurangnya 2 tahun penjara dan paling lama 5 tahun serta denda

sekurang-kurangnya Rp. 2.000.000.000 dan paling banyak Rp. 5.000.000.000”.24

Bank Indonesia berkedudukan di ibu kota Negara Republik Indonesia dan

dapat mempunyai kantor-kantor di dalam dan di luar wilayah Negara Republik

Indonesia. Modal Bank Indonesia ditetapkan berjumlah sekurang-kurangnya Rp.

2.000.000.000 (dua triliun rupiah) dan harus ditambah sehingga menjadi paling

banyak 10% dari seluruh kewajiban moneter, yang dananya berasal dari cadangan

umum atau dari hasil revaluasi asset. Tata cara penambahan modal dari cadangan

umum atau dari hasil revaluasi aset ditetapkan dengan Peraturan Dewan

Gubernur. Dewan Gubernur merupakan pimpinan Bank Indonesia, sedangkan

yang dimaksud dengan cadangan umum adalah dana yang berasal dari sebagian

surplus Bank Indonesia yang dapat digunakan untuk menghadapi resiko yang

mungkin timbul dari pelaksanaan tugas dan wewenang Bank Indonesia.25

Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1989 Tentang Perbankan,

dapat disimpulkan bahwa usaha perbankan meliputi tiga kegiatan, yaitu

menghimpun dana, menyalurkan dana, dan memberikan jasa bank lainnya.

Kegiatan menghimpun dan menyalurkan dana merupakan kegiatan pokok bank

sedangkan memberikan jasa bank lainnya hanya kegiatan pendukung. Kegiatan

menghimpun dana, berupa mengumpulkan dana dari masyarakat dalam bentuk

simpanan giro, tabungan, dan deposito. Biasanya sambil diberikan balas jasa yang

24

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia, Pasal 67. 25

(5)

menarik seperti, bunga dan hadiah sebagai rangsangan bagi masyarakat. Kegiatan

menyalurkan dana, berupa pemberian pinjaman kepada masyarakat.

B. Tujuan dan Tugas Bank Indonesia

Bank Sentral adalah lembaga negara yang mempunyai wewenang untuk

mengeluarkan alat pembayaran yang sah dari suatu negara, merumuskan dan

melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem

pembayaran , mengatur dan mengawasi perbankan, serta menjalankan fungsi

sebagai lender of the last resort. Bank yang berfungsi dan menjalankan

kewenangan sebagai bank sentral di Indonesia, yaitu Bank Indonesia.

Undang-undang yang kini berlaku yang mengatur kedudukan Bank

Indonesia sebagai bank sentral, yaitu Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999

Tentang Bank Indonesia, serta undang-undang perubahannya, yaitu

Undang-undang Nomor 3 Tahun 2004 Tentang Perubahan atas Undang-Undang-undang Nomor 23

Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia. Undang-undang tersebut merupakan

peraturan pengganti dari Undang-undang Nomor 13 Tahun 1968 Tentang Bank

Sentral.

Ketentuan Pasal 7 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 Tentang Bank

Indonesia sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor 3

Tahun 2004 mengatur bahwa tujuan Bank Indonesia adalah mencapai dan

memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah sangat penting untuk

mendukung pembangunan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Di

(6)

Indonesia dapat melakukan aktivitas perbankan yang dianggap perlu, tetapi tidak

melakukan kegiatan intermediasi seperti bank umum.

Tujuan dari Bank Indonesia tersebut, sesuai dengan Pasal 7

Undang-undang Nomor 3 Tahun 2004 Tentang Perubahan atas Undang-Undang-undang Nomor 23

Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan

nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah, yaitu kestabilan nilai rupiah terhadap barang

dan jasa diukur dengan atau tercermin dari perkembangan nilai tukar rupiah

terhadap mata uang negara lain. Tujuan kestabilan nilai rupiah ini, yaitu untuk

mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan meningkatkan

kesejahteraan rakyat. Dalam rangka mencapai tujuan dari Bank Indonesia

tersebut, maka dilaksanakan dengan bentuk kebijakan moneter secara

berkelanjutan, konsisten, transparan, dan mempertimbangkan kebijakan umum

pemerintah bidang perekonomian.26

c. Mengatur dan mengawasi bank.

Konsekuensi sebagai lembaga yang bertujuan

untuk menjaga dan memelihara kestabilan nilai rupiah, maka Bank Indonesia

mempunyai tugas untuk:

a. Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter.

b. Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran.

27

Dari tugas utama tersebut bila dilihat secara operasional, maka terdapat

peran dan fungsi Bank Indonesia sebagai bank sentral. Peran dan fungsi Bank

Indonesia sebagai bank sentral adalah:

26

Muhammad Djumhana, Hukum Perbankan di Indonesia, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2006), hlm. 118.

27

(7)

1. Bank Indonesia sebagai badan pembuat kebijakan moneter. Dalam hal ini

Bank Indonesia menetapkan sasaran-sasaran moneter dan melakukan

pengendalian moneter baik berdasarkan sistem perbankan konvensional

maupun berdasarkan sistem syariah. Oleh sebab itu Bank Indonesia

melaksanakan fungsinya tersebut dengan menggunakan cara-cara yang diatur

dalam Pasal 10 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 sebagaimana yang

telah diubah dengan Undang-undang Nomor 3 Tahun 2004, yaitu:

a. Operasi pasar terbuka;

b. Penetapan tingkat diskonto;

c. Penetapan cadangan wajib minimum; dan

d. Pengaturan kredit atau pembiayaan.

Bank Indonesia sebagai pengontrol kredit kepada bank-bank (credit

control). Termasuk di dalamnya bank yang berdasarkan prinsip syariah. Ini

diatur dalam Pasal 11 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 sebagaimana

yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004.

2. Bank Indonesia bertindak sebagai penerbit mata uang Rupiah. Bank Indonesia

merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang untuk mengeluarkan dan

mengedarkan uang Rupiah dalam bentuk uang kertas dan logam. Bank

Indonesia juga berwenang untuk menarik dan memusnahkan uang Rupiah

yang telah dikeluarkannya. Ini diatur dalam Pasal 20 jo Pasal 23 ayat (1)

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 sebagaimana yang telah diubah

(8)

3. Bank Indonesia sebagaimana pengatur dan pengawas bank. Oleh sebab itu

Bank Indonesia berwenang untuk menetapkan ketentuan-ketentuan perbankan

yang memuat prinsip kehati-hatian. Sehubungan dengan hal ini, maka Bank

Indonesia mempunyai wewenang untuk :

a. Menetapkan peraturan-peraturan di bidang perbankan (Pasal 25

Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 sebagaimana yang telah diubah dengan

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004);

b. Memberikan dan mencabut izin atas kelembagaan dan kegiatan usaha

tertentu dari bank (Pasal 26 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999

sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 3 Tahun 2004);

c. Melaksanakan pengawasan bank (Pasal 27 Undang-Undang No. 23 Tahun

1999 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3

Tahun 2004); dan

d. Mengenakan sanksi terhadap bank sesuai dengan peraturan yang berlaku

(Pasal 31 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 sebagaimana yang telah

diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004).

4. Bank Indonesia bertindak sebagai lender of the last resort, yaitu Bank

Indonesia sebagai pemberi pinjaman kepada bank dalam keadaan yang

memaksa untuk menjaga likuiditas dari bank tersebut. Dalam hal ini Bank

Indonesia melakukan penilaian terhadap suatu bank. Keadaan memaksa

tersebut dapat berupa:

(9)

b. Hal-hal yang membahayakan sistem perbankan; dan

c. Terjadi kesulitan perbankan yang membahayakan perekonomian nasional.

5. Bank Indonesia sebagai bank negara (The banker of the state). Bank Indonesia

bertindak sebagai bank dari dan untuk pemerintah Indonesia. Dengan

demikian berdasarkan fungsinya tersebut, Bank Indonesia berwenang:

a. Sebagai pemegang kas pemerintah (Pasal 52 Undang-Undang Nomor 23

Tahun 1999 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang

Nomor 3 Tahun 2004);

b. Menerima pinjaman luar negeri, menatausahakan, serta menyelesaikan

tagihan dan kewajiban keuangan pemerintah terhadap pihak luar negeri

(Pasal 53 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 sebagaimana yang telah

diubah dengn Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004); dan

c. Membantu pemerintah dalam penerbitan surat-surat hutang negara (Pasal 55

ayat (3) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 sebagaimana yang telah

diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004).28

Babak baru dalam sejarah Bank Indonesia sebagai Bank Sentral yang

Independendimulai ketika sebuah undang-undang baru, yaitu Undang-Undang

C. Status dan Kedudukan Bank Indonesia Sebagai Lembaga Negara Yang Independen

28

(10)

Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, dinyatakan berlaku pada tanggal

17 Mei 1999. Undang-undang ini memberikan status dan kedudukan sebagai

suatu lembaga negara independen dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya,

bebas dari campur tangan pemerintah ataupun pihak lainnya, kecuali untuk hal-hal

yang secara tegas diatur dalam undang-undang ini.29

Bank Indonesia mempunyai otonomi penuh dalam merumuskan dan

melaksanakan setiap tugas dan wewenangnya sebagaimana ditentukan dalam

undang-undang tersebut. Pihak luar tidak dibenarkan mencampuri pelaksanaan

tugas Bank Indonesia dan Bank Indonesia juga berkewajiban untuk menolak atau

mengabaikan intervensi dalam bentuk apapun dari pihak manapun juga.30

Untuk lebih menjamin independensi tersebut, undang-undang ini telah

memberikan kedudukan khusus kepada Bank Indonesia dalam struktur

ketatanegaraan Republik Indonesia. Sebagai Lembaga negara yang independen

kedudukan Bank Indonesia tidak sejajar dengan Lembaga Tinggi Negara.

Disamping itu, kedudukan Bank Indonesia juga tidak sama dengan Departemen,

karena kedudukan Bank Indonesia berada diluar Pemerintah. Status dan

kedudukan yang khusus tersebut diperlukan agar Bank Indonesia dapat

melaksanakan peran dan fungsinya sebagai otoritas moneter secara lebih efektif

dan efisien.31

Independensi kelembagaan ini bukan berarti bahwa Bank Indonesia adalah

suatu negara karena independensi dimaksud hanya terbatas pada tugas dan

(11)

wewenang yang ditetapkan dalam undang-undang. Bank Indonesia tetap tunduk

pada segala ketentuan hukum di Indonesia atas hal-hal yang bukan merupakan

cakupan tugas dan wewenang yang diatur dalam Undang-Undang Bank Indonesia.

D. Status dan Kedudukan Bank Indonesia Sebagai Bank Sentral

Kedudukan dan fungsi Bank Indonesia dicantumkan dalam penjelasan

Pasal 23 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945. Penjelasan Pasal 23

Undang-Undang Dasar tersebut yaitu:

“ Juga tentang hal macam dan harga mata uang ditetapkan dengan

undang-undang. Ini penting karena kedudukan uang itu besar pengaruhnya atas

masyarakat. Uang terutama adalah alat penukar dan pengukur harga. Sebagai alat

penukar untuk memudahkan pertukaran dan jual-beli dalam masyarakat.

Berhubung dengan itu, perlu ada macam dan rupa uang yang diperlukan oleh

rakyat sebagai pengukur harga dipertukarkan. Barang yang menjadi pengukur

harga itu, mestilah tetap harganya, jangan naik turun karena keadaan uang yang

tidak teratur. Oleh karena itu, keadaan uang itu harus ditetapkan dengan

undang-undang. Berhubung karena itu, kedudukan Bank Indonesia yang akan

mengeluarkan dan mengatur peredaran uang kertas, ditetapkan dengan

undang-undang”.32

Berdasarkan penjelasan diatas, sudah jelas bahwa Bank Indonesia adalah

satu-satunya lembaga yang diberi hak monopoli oleh Negara, dimana Bank

Indonesia berwenang untuk menerbitkan,mengeluarkan, dan mengatur peredaran

macam dan harga mata uang.

32

(12)

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2004 Bank

Indonesia adalah Bank Sentral Republik Indonesia, dengan tujuan mencapai dan

memelihara kestabilan nilai rupiah, yang akan dicapai melalui pelaksanaan

kebijakan moneter secara berkelanjutan, konsisten, transparan, dan harus

mempertimbangkan kebijakan umum pemerintah di bidang perekonomian.

Bank Indonesia berasal dari De Javasche Bank yang merupakan salah satu

milik pemerintah Belanda. De Javasche Bank didirikan pada zaman penjajahan

Belanda, tepatnya pada tanggal 10 Oktober 1827. Pendirian bank ini dimaksudkan

untuk membantu pemerintah Belanda dan untuk mengurus keuangannya di Hindia

Belanda pada waktu itu. Kemudian, De Javasche Bank dinasionalisir pemerintah

Repubik Indonesia tanggal 6 Desember 1951 dengan Undang-Undang Nomor 24

Tahun 1951 Tentang Nasionalisasi De Javasche Bank menjadi bank milik

pemerintah Republik Indonesia.

Selanjutnya berdasarkan Penetapan Presiden Nomor 17 Tahun 1965, Bank

Indonesia bersama bank-bank lainnya seperti Bank Koperasi Tani dan Nelayan,

Bank Negara Indonesia dan Bank Tabungan Negara dilebur ke dalam Bank

Tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia (BNI). Bank Negara Indonesia ini

terdiri dari BNI unit I, BNI unit II, BNI unit III, BNI unit IV dan BNI unit V.

Bank Negara Indonesia unit I kemudian berfungsi sebagai Bank Sirkulasi, Bank

Sentral dan Bank Umum. Dan Bank Sentral dijadikan di Indonesia dengan

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1968. Kemudian ditegaskan lagi dengan

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999.33

33

(13)

Disamping Status dan Kedudukan Bank Indonesia sebagai Bank Sentral,

Bank Indonesia juga memiliki Hubungan dengan Pemerintah seperti yang

dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 adalah sebagai berikut

:

1. Bertindak sebagai pemegang kas pemerintah.

2. Untuk dan atas nama pemerintah Bank Indonesia dapat menerima pinjaman

luar negeri, menatausahakan serta menyelesaian tagihan dan kewajiban

keuangan pemerintah terhadap pihak luar negeri.

3. Pemerintah wajib meminta pendapat Bank Indonesia dan/atau mengundang

Bank Indonesia dalam sidang kabinet yang membahas masalah ekonomi,

perbankan, dan keuangan yang berkaitan dengan tugas Bank Indonesia atau

kewenangan Bank Indonesia.

4. Memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah mengenai

Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara serta kebijakan lainyang

berkaitan dengan tugas dan wewenang Bank Indonesia.

5. Dalam hal pemerintah menerbitkan surat-surat utang negara, pemerintah wajib

terlebih dulu berkonsultasi dengan Bank Indonesia dan pemerintah juga wajib

terlebih dulu berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat.

6. Bank Indonesia dapat membantu penerbitan surat-surat utang negara yang

(14)

7. Bank Indonesia dilarang memberikan kredit kepada pemerintah.34

2. Dalam hal dipersyaratkan bahwa anggota internasional dan/atau lembaga

Multilateral adalah negara, maka Bank Indonesia dapat bertindak untuk dan

atas nama negara Republik Indonesia sebagai anggota.

Adapun Hubungan Bank Indonesia dengan Dunia Internasional, dalam hal

hubungan Bank Indonesia dengan Dunia Internasional, maka Bank Indonesia:

1. Dapat melakukan kerja sama dengan :

a. Bank Sentral negara lain

b. Organisasi dan Lembaga Internasional

35

34

Kasmir, Dasar-Dasar Perbankan, Ed. Revisi 2014, PT, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2016), hlm. 239-240.

35

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hal tersebut maka permasalahan yang diteliti adalah : Bagaimana pelaksanaan Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 16/15/PBI/2014 tentang Kegiatan Usaha

Bank Indonesia melakukan penyertaan pada Bank for International Settlements (BIS) berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia

Bank Indonesia melakukan penyertaan pada Bank for International Settlements (BIS) berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia

Dengan berlakunya Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia,. Kredit Likuiditas Bank Indonesia tidak dapat menjadi sumber pembiayaan

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank

Dengan undang-undang yang baru tentang Bank Indonesia (UU No.23 Tahun 1999, yang berlaku sejak 17 Mei 1999), Bank Indonesia adalah bank sentral Republik Indonesia yang mempunyai

Pada dasarnya, Indonesia melarang transaksi penggunaan Bitcoin dengan dasar hukum Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Undang-Undang Nomor 11

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor