BAB III
PERAN BANK INDONESIA TERHADAP KEGIATAN USAHA PENUKARAN VALUTA ASING BUKAN BANK BERDASARKAN
PERATURAN BANK INDONESIA NO.18/20/PBI/2016
A.Pengertian Transaksi Valuta Asing
Adapun yang dimaksud dengan transaksi dalam kamus istilah
ekonomi, adalah suatu perjanjian antara dua pihak atau lebih yang
menimbulkan hak atau kewajiban menurut hukum, misalnya transaksi
jual-beli, sewa-menyewa, dan sebagainya.36
Dalam Ensiklopedia Umum, valuta diambil dari bahasa Italia yang
berarti nilai uang, kurs wesel, devisa atau alat-alat pembayaran luar
negeri.37
Dalam kamus besar bahasa Indonesia pengertian valas adalah nilai
uang, alat pembayaran yang dijamin oleh cadangan emas atau perak yang
ada di bank pemerintah.38
Sedangkan dalam Kamus Ekonomi Bisnis dan Perbankan, valuta
asing adalah mata uang (currency) negara lain atau kertas dagang
(commercial paper) yang dibayarkan dengan mata uang lain atau valuta
asing disebut juga Foreign Exchange, yaitu suatu pertukaran (exchange)
36
Wien’s Anorga, Kamus Istilah Ekonomi, Ed.Pertama, (Bandung: M2S Bandung, 2004), hlm. 516.
37
Yayasan Kanisius, Valuta, (Yogyakarta: Ensiklopedia Umum, 1997),hlm. 146.
38
mata uang dan atau kertas dagang suatu negara dengan mata uang negara
lain.39
Adapun transaksi valuta asing dapat diartikan sebagai kesepakatan
atau perjanjian antara dua pihak untuk mempertukarkan (jual/beli) mata
uang yang dimilikinya. Istilah yang lebih umum dalam pertukaran dalam
valuta tersebut adalah jual-beli valuta asing.40
Nilai tukar (exchange rate) atau kurs valuta asing itu sendiri adalah
harga relative mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain.41
Perbandingan nilai mata uang antar negara terkumpul dalam suatu
bursa atau pasar yang bersifat internasional dan terikat dalam suatu
kesepakatan bersama yang saling menguntungkan. Nilai mata uang suatu
negara dengan negara lainnya ini berubah (berfluktuasi) setiap saat sesuai
volume permintaan dan penawarannya. Adanya permintaan dan Forex kependekan dari Foreign Exchange, atau pertukaran dari
nilai mata uang yang berbeda, kegiatan forex tanpa disadari maupun sadar,
sering dilaksanakan oleh semua orang didunia, bila seseorang bepergian
keluar negeri pasti ia menukarkan mata uangnya dengan mata uang negara
yang ia tuju. Atau contoh lain akiibat dari kegiatan ekspor-impor,
kebutuhan pasar serta institusi bank, pasti melakukan kegiatan
tukar-menukar mata uang.
39
Gurtno, Kamus Ekonomi Bisnis dan Perbankan, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2004), hlm, 161.
40
Heli Charisma Berlianta, Mengenal Valuta Asing, Cet. I, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2004), hlm, 37.
41
penawaran inilah yang menimbulkan transaksi mata uang. Yang secara
nyata hanyalah tukar-menukar mata uang yang berbeda nilai.
Yang dimaksud dengan valuta asing adalah mata uang luar negeri
seperti dolar Amerika, poundsterling Inggris, ringgit Malaysia dan
sebagainya. Apabila antara negara terjadi perdagangan internasional maka
tiap negara membutuhkan valuta asing untuk alat bayar luar negeri yang
dalam dunia perdagangan disebut devisa. Misalnya eksportir Indonesia
akan memperoleh devisa dari hasil ekspornya, sebaliknya importir
Indonesia memerlukan devisa untuk mengimpor dari luar negeri.42
Maka kenaikan 1 $ USA selama 20 hari adalah Rp.
150,-Adapun yang dimaksud dengan Risiko valuta asing adalah risiko
yang disebabkan oleh perubahan kurs valuta asing di pasaran yang tidak
sesuai lagi dengan yang diharapkan, terutama pada saat dikonversikan
dengan mata uang domestic.
Contoh :
Misalkan pada tanggal 10 Maret 2006; 1 $ USA = Rp. 9.400,-
Pada tanggal 30 Maret 2006 ; 1 $ USA =Rp. 9.550,-
43
42
A.W.J. Tupanno, et. al. Ekonomi dan Koperasi, (Jakarta: Depdikbud, 1982), hlm, 76.
43
B. Mengenal Transaksi Valuta Asing
1. Tujuan dan Fungsi Transaksi Valuta Asing
Tujuan transaksi valuta asing terbagi dua, yaitu:
1. Tujuan transaksi valuta asing bagi bank adalah sebagai berikut:
a. Memberikan alternatif (kemungkinan-kemungkinan) yang paling baik
kepada nasabah sehubungan dengan adanya penyeberangan suatu mata
uang kepada mata uang yang lain, misalnya memberikan rate yang
kompetitif, bersedia melakukan transaksi dalam jumlah dan jatuh
tempo yang diinginkan nasabah.44
b. Untuk memelihara posisi bank terhadap atas mata uang asing.
c. Menghasilkan laba bagi bank.
2. Sedangkan tujuan dari transaksi valuta asing bagi nasabah atau investor
adalah untuk mencari keamanan dan likuiditas disamping peluang untuk
memperoleh pendapatan bunga. Hal tersebut karena dana yang
diinvestasikan adalah kelebihan dana sementara dan biasanya dibutuhkan
dalam waktu singkat untuk membayar pajak, gaji, dividen, dan sebagainya.
Dengan alasan ini, maka investor pasar uang sangat sensitive terhadap
risiko.45
Adapun fungsi transaksi valas adalah sebagai berikut:
44
Jopie Jusuf, Panduan Dasar Untuk Account Officer, Cetakan Pertama, (Jakarta: Intermedia Jakarta, 1992), hlm. 80.
45
1. Transfer daya beli
Transfer daya beli (transfer of purchasing power) sangat
diperlukan terutama dalam perdagangan internasional dan transaksi modal
yang biasanya melibatkan pihak-pihak yang tinggal di negara yang
memiliki mata uang yang berbeda.
2. Penyediaan Kredit
Pengiriman barang antar negara dalam perdagangan internasional
membutuhkan waktu. Oleh karena itu, harus ada suatu cara untuk
membiayai barang-barang dalam perjalanan pengiriman tersebut termasuk
setelah barang sampai ketempat tujuan yang biasanya memerlukan
beberapa waktu untuk kemudian dijual kepada pembeli.
Salah satu contoh sumber alternative yang pertama dalam
penyediaan kredit adalah dalam hal transaksi mobil Toyota, eksportir
Jepang memberikan kredit kepada importer Australia dengan atau tanpa
dikenakan bunga. Sumber yang kedua adalah importir Australia membayar
tunai biaya pengapalan dari Jepang dan membiayai mobil-mobil importer
tersebut dengan perpanjangan pembayaran yang normal. Sumber yang
ketiga adalah pasar valas menyediakan sumber kredit ketiga seperti
banker’s acceptance dan L/C untuk membiayai perdagangan.
3. Mengurangi risiko valas
Importir Australia dan eksportir Jepang dala transaksi tersebut
tidak akan bersedia mengambil risiko terhadap fluktuasi kurs.
Kedua-duanya mengharapkan memperoleh keuntungan dalam usaha perdagangan
diperkirakan, misalnya terjadi perubahan kurs yang tiba-tiba sehingga
mempengaruhi besarnya keuntungan yang telah diperkirakan.46
1. Ekspor lebih besar daripada impor
Menurut Haryajid dan Anjar, adapun Faktor yang dapat mempengaruhi
menguatnya Kurs Valuta Asing dalam suatu Negara yaitu :
2. Neraca pembayaran surplus
3. Neraca pertumbuhan surplus
4. Pertumbuhan ekonomi meningkat
5. Tingkat inflasi yang rendah dan lain-lain.
Disamping lima faktor ini sebenarnya ada faktor lain yang harus ikut
dimiliki oleh suatu negara, yaitu :
a. Cadangan valas yang mencukupi. Cadangan valas ini mencakup dalam
berbagai bentuk mata uang asing, termasuk mata uang asing yang dominan
seperti dollar Amerika Serikat. Disamping cadangan valas juga memiliki
ketersediaan emas (gold) dalam jumlah yang representatif.
b. Kualitas konstruksi manajemen keuangan internasional yang memiliki daya
tahan secara jangka panjang.
c. Kualitas Sumber Daya Manusia ( SDM ) yang siap bangkit kembali jika
suatu saat terjadi krisis moneter internasional. Terutama SDM para pebisnis
yang selama ini dianggap sebagai pelaku ekonomi.
46
d. Dewan moneter nasional yang dibentuk oleh pemerintah yang suatu negara
diisi oleh mereka-mereka yang memiliki reputasi internasional dan jauh
dari intervensi para politisi serta para pebisnis. Sehingga mereka bisa
bekerja secara independent.
e. Jumlah utang dalam bentuk foreign currency baik oleh pemerintah maupun
swasta adalah kecil. Dalam artian masuk dalam jumlah yang terkendali
secara jangka panjang.47
2 . Prinsip Transaksi Valuta Asing
Prinsip pokok dalam transaksi valas adalah sebagai berikut:
a. Pengertian kurs jual dan kurs beli selalu dilihat dari kepentingan atau
kepentingan pihak bank atau Money Changer atau pedagang valas.
b. Kurs jual selalu lebih tinggi daripada kurs beli atau sebaliknya, kurs beli
selalu lebih rendah dari kurs jual.
c. Kurs jual/kurs beli suatu mata uang (valas) adalah sama dengan kurs
beli/kurs jual mata uang (valas) lawannya. Dengan kata lain,kurs jual/kurs
beli USD sama dengan kurs beli/kurs jual Rupiah.48
The Fei Ming menjelaskan tentang model penentuan nilai tukar yang
dipakai, yaitu:
a. Traditional Theories
Traditional Theories terdiri dari Teori Purchasing Power Parity dan Teori
Elastisitas :
47
Irham Fahmi, Op.cit., hlm. 283-284.
48
1.Teori Purchasing Power Parity
Teori ini merupakan teori tertua dan merupakan teori terpopuler. Teori ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1556 oleh Martin de Azpilcueta
Navarro. Teori ini berbunyi sebagai berikut:
“The price of a good in one country should equal the price of the same
good in another country, exchanged at the current rater”.
Menurut The Fei Ming teori ini menyatakan bahwa harga barang di suatu
negara harus sama dengan harga barang serupa di negara lain sesuai dengan
tingkat nilai tukar yang berlaku antar kedua negara tersebut. Terdapat dalam
dua versi dalam Teori Purchasing Power Parity :
a)Versi Absolut
“The exchange rate simply equals the ratio of the two countries
general price level, which is the weighted average of all goods produced in a
coutry.”
Menurut The Fei Ming dalam versi absolut, nilai tukar sama
dengan perbandingan antara tingkat harga umum yang berlaku di dua negara,
yang merupakan rata-rata tertimbang (weighted average) dari seluruh produk
yang dihasilkan kedua negara.
Versi Relatif
“Under the relative version, the percentage change in the exchange
rate from a given based period must equal the difference between the
percentage change in the domestic price level and the percentage change in
foreign price level”.
Menurut The Fei Ming dalam versi relatif, persentase perubahan
nilai tukar pada waktu yang ditentukan sebagai periode dasar harus sama
dengan perbedaan antara persentase perubahan harga (tingkat inflasi)
domestic dengan persentase perubahan harga (tingkat inflasi) di luar negeri
pada periode tersebut.
2.Teori Elastisitas
“Exchange rate is simly the price of foreign exchange which maintains the balance payments in equilibrium”.
Menurut The Fei Ming, teori elastisitas mengatakan bahwa nilai tukar adalah
harga dari valuta asing untuk mempertahankan neraca pembayaran
internasional suatu negara agar tetap berada pada tingkat ekuilibrium.
b. Modern Monetary Theories on Short Term Exchange Rate Volatility
“Modern Monetary Theories on Short Term Exchange Rate Volatility take
into consideration the short term capital markets roles and the long term
impact of commodity markets on foreign exchange”. The Fei Ming
jangka pendek dan peran bursa komoditi dalam jangka panjang terhadap
fluktuasi nilai tukar.
c. Synthesis of Traditional and Modern Monetary Views
“Since the financial markets adjust faster than the commodities markets,
the exchange rate tends to be affected in the short term by the capital market
changes, and by the commodities changes in the long term”. The Fei Ming
menjelaskan menurut teori ini, dinamika perubahan yang terjadi di pasar keuangan
(pasar modal dan pasar uang) lebih cepat jika dibandingkan dengan perubahan di
pasar barang/komoditi.49
Contoh: bila kontrak ditutup pada tanggal 18 Desember
1991 maka penyerahan dana dilakukan pada tanggal 20 Desember1991.
Bila dua hari setelah tanggal kontrak jatuh pada hari libur, maka tanggal
penyerahan diundurkan sampai hari pertama kerja setelah hari libur
tersebut. Misalnya kontrak tanggal 7 Maret 1991 (kamis), tanggal
penyerahan adalah 11 Maret 1991 (Selasa), karena tanggal 9 Maret adalah 3. Jenis-jenis Transaksi Valuta Asing
a.Transaksi Spot
Transaksi spot (spot transaction) adalah jual/beli valuta
untuk penyerahan yang dilakukan dua hari kerja setelah tanggal kontrak
(persetujuan).
49
hari Sabtu dimana pasar valuta tidak beroperasi, dan tanggal 10 Maret 1991
merupakan hari Minggu.50
a. Hedging/covering, adalah suatu usaha untuk menghindari risiko yang
ditimbulkan dari fluktuasi nilai tukar valuta (hedging risk). Contoh: PT.
X memiliki kewajiban dalam mata uang USD 90 hari yang akan datang
(katakanlah untuk keperluan negosiasi L/C impor). Saat ini terjadi
kecenderungan nilai tukar USD makin kuat (Rupiah makin melemah).
Untuk itu, PT. X dapat melakukan pembelian USD forward 90 hari.
Misalnya harga spot sekarang adalah 1797 dan kurs forward-nya adalah
1837. Dengan menutup forward contract saat ini, PT. X tidak perlu
khawatir terhadap kenaikan USD yang terus-menerus, karena pada saat
tanggal penyerahan tiba, PT. X tetap hanya membayar kurs 1837 untuk
mendapatkan USD-nya. Walaupun disebut “menghindari risiko”,
tindakan hedging ini belum tentu menguntungkan. Misalnya PT. X b. Transaksi Forward
Transaksi forward (forward transaction/transaksi berjangka) adalah
jual beli valuta untuk penyerahan beberapa saat di masa yang akan datang
di mana harga untuk penyerahan di masa yang akan datang tersebut telah
ditemukan pada saat kontrak dibuat.
Tujuan dilakukannya forward transaction antara lain untuk :
50
telah menutup transaksi forward USD 90 hari dengan kurs 1837. Bila
pada saat jatuh tempo ternyata USD adalah 1900 maka PT. X untung
sebesar 63 point per USD (sebab PT. X tetap membayar 1837), tetapi
bila ternyata kurs USD pada saat itu adalah 1800, maka PT. X
sebenarnya rugi sebesar 37 point karena ia tetap harus membayar 1837
setiap USD yang dibeli.
b. Spekulasi, yaitu untuk memperoleh keuntungan dari kenaikan nilai
tukar dua mata uang. Contoh: Tuan A memperkirakan bahwa akan
terjadi devaluasi (penurunan nilai tukar satu mata uang domestik
terhadap mata uang asing tertentu yang disebabkan oleh kebijakan
pemerintah yang berlaku dalam sistem nilai tukar tetap) dalam waktu 90
hari lagi. Ia dapat mengambil untung dari hal tersebut jika perkiraannya
memang menjadi kenyataan dengan membeli USD forward selama 90
hari. Misalnya ia menutup forward contractdengan kurs 1850, bila
benar-benar terjadi devaluasidan kurs menjadi 2000, tuan A akan
memperoleh laba sebesar 150 (2000-1850) per USD.51
c. Transaksi Swap
Transaksi swap diartikan sebagai pertukaran dua valuta dalam satu
periode tertentu melalui mekanisme pembelian dengan tanggal valuta spot
sekaligus penjualan kembali valuta tersebut di waktu yang akan datang
(tanggal valuta forward) atau penjualan valuta di tanggal valuta spot
51
sekaligus pembelian kembali valuta tersebut di waktu yang akan datang
(tanggal valuta forward).52
a. Transaksi Swap Jual/Beli atau transaksi Swap Sell/Buy, Adalah
transaksi swap dimana transaksi spotnya berupa transaksi spot jual dan
transaksi forwardnya berupa transaksi forward beli. Transaksi swap ini
dapat juga disebut dengan transaksi Swap S/B.
Hal yang terpenting dalam transaksi swap adalah posisi transaksi
spot harus berlawanan dengan posisi transaksi forwardnya.Sebagai contoh
dalam transaksi swap, apabila transaksi spotnya berupa transaksi spot beli
maka posisi transaksi forwardnya haruslah transaksi forward jual.
Sebaliknya apabila posisi transaksi spotnya adalah berupa transaksi spot
jual, maka posisi transaksi forwardnya harus berupa transaksi forward beli.
Dilihat dari posisi transaksi spot dan posisi transaksi forward maka
transaksi swap ada dua macam:
b. Transaksi Swap Beli/ Jual atau transaksi Swap Buy/Sell, adalah
transaksi swap dimana transaksi spotnya berupa transaksi spot beli dan
transaksi forwardnya berupa transaksi forward jual. Transaksi swap ini
dapat juga disebut dengan transaksi Swap B/S.53
Kegunaan transaksi swap antara lain :
a. Hedging/lindung nilai merupakan kegiatan untuk melindungi kekayaan
perusahaan dari gejolak harga yang terjadi di pasar. Misal PT. Titan
52
Heli Charisma Berlianta, Op.cit, hlm. 138.
53
Internasional mendapat utang luar negeri sebesar USD 1.000.000,-
jangka waktu utang tersebut adalah satu tahun. Jadi tahun depan PT.
Titan Internasional harus mengembalikan utang tersebut dalam bentuk
USD tentunya. Utang tersebut rencana digunakan untuk memperkuat
modal kerja PT. Titan Internasional. Modal kerja yang diperlukan adalah
dalam valuta Rupiah, maka PT. Titan Internasional harus menukar dana
pinjaman yang diterimanya dalam bentuk USD ke dana Rupiah. PT.
Titan Internasional dapat menjual USD yang diterima sekarang dan
digunakan untuk modal kerja, satu tahun kemudian saat PT. Titan
Internasional harus membayar utangnya, dia bisa membeli USD untuk
membayar utangnya. Jika cara ini digunakan oleh PT. Titan
Internasional, maka dia akan menghadapi risiko kenaikan kurs USD/IDR
pada saat membeli kembali valuta USD satu tahun yang akan datang.
Pada saat itu kurs USD/IDR dapat naik sehingga mengakibatkan PT.
Titan Internasional dapat menanggung kerugian karena selisih kurs pada
saat dia menjual USD-nya dengan kurs pada saat dia membeli kembali
USD tersebut untuk membayar utang.
Untuk menghindari hal tersebut, PT. Titan Internasional dapat
melakukan transaksi swap. Pada saat PT. Titan Internasional menerima
utang tersebut dia melakukan transaksi swap sell/buy dengan jangka
satu tahun. Dengan melakukan transaksi swap sell/buy berarti PT.
Titan Internasional menjual USD yang diterimanya sekarang sehingga
dapat digunakan sebagai tambahan modal kerja sekaligus dia membeli
ditentukan sekarang. Karena kurs sudah ditentukan sekarang maka
apabila kemudian satu tahun yang akan datang ternyata kurs USD/IDR
naik tinggi maka hal ini tidak merugikan PT. Titan Internasional
melakukan transaksi swap ini dapat dikategorikan sebagai tindakan
hedging atau lindung nilai yaitu tindakan melindungi posisinya yang
muncul dari utang dari kemungkinan kerugian akibat pergerakan kurs
di pasar valuta asing.
b. Trading atau mencari keuntungan, dimana transaksi swap dapat juga
digunakan sebagai salah satu sarana dalam mencari keuntungan karena
pergerakan kurs di pasar valuta asing.
c. Alat penyediaan dana dalam valuta tertentu, contohnya PT. Titan
Internasional saat ini kelebihan dana USD yang didapat dari hasil ekspor
barang. Dana USD ini sebulan yang akan datang digunakan untuk
melunasi impor mesin produksi baru dari luar negeri. Saat ini pula PT.
Titan Internasional memerlukan dana Rupiah untuk membeli salah satu
bahan baku dari dalam negeri. Diperkirakan dana rupiah ini akan
kembali ke kas PT. Titan Internasional pada satu bulan yang akan
datang. Dengan melihat kondisinya tersebut. PT. Titan Internasional
dapat melakukan transaksi swap sell/buyuntuk mendapatkan dana rupiah
dan memanfaatkan kelebihan dana USD yang ada padanya.
d. Transaksi Option
Option secara umum dapat diartikan sebagai suatu instrument
keuangan yang memberi pemegangnya hak untuk membeli atau menjual
suatu waktu tertentu di masa yang akan datang dan atau sebelumnya
(exercise date) dengan harga yang sudah ditentukan (exercise price/strike
price).54
a. Option memberi pemegangnya hak bukan kewajiban untuk membeli
atau menjual sesuatu. Pemegang option tidak bisa dipaksa untuk
membeli atau menjual satu barang yang diperjanjikan tersebut. Beberapa point penting yang menggambarkan transaksi option yaitu:
b. Hak untuk membeli atau menjual satu barang tersebut hanya bisa
dilaksanakan pada satu waktu tertentu di masa yang akan datang atau
sebelumnya. Tergantung dari jenis option yang dipegang, ada option
yang mengatur bahwa hak untuk membeli atau menjual satu barang bisa
dilaksanakan pada satu waktu tertentu di masa yang akan datang tidak
dapat dilaksanakan sebelum waktu yang ditentukan tersebut. Ada pula
jenis option yang hak untuk membeli tau menjualnya dapat
dilaksanakan sebelumnya.
c. Apabila pemegang option melaksanakan haknya untuk membeli atau
menjual satu barang tertentu maka barang yang dibeli atau dijual
tersebut sudah ditentukan sebelumnya (biasanya ditentukan pada saat
transaksi option dilakukan) tidak peduli berapa harga pasar barang
tersebut saat pelaksanaan hak. Jadi harga yang dipakai saat pelaksanaan
hak sudah ditentukan sebelumnya dan bukan harga pasar barang
tersebut saat itu.
54
Contoh 1: Bank A mengeluarkan option yang memberikan
pemegangnya hak untuk membeli (Call Option) USD/IDR sebesar USD
1.000.000,- dengan kurs 10.000,- pada satu tahun yang akan datang.
Dengan memegang option yang dikeluarkan oleh Bank A tersebut maka
satu tahun yang akan datang orang yang memegang option tersebut
berhak (bukan keharusan) membeli USD 1.000.000,- ke Bank A dengan
harga atau kurs 10.000,- tidak perduli harga atau kurs USD/IDR yang
berlaku di pasar saat itu. Contoh 2 : Bank B mengeluarkan option yang
memberikan pemegangnya hak untuk menjual (Put Option) USD/IDR
sebesar USD 1.000.000,- dengan kurs 10.000,- pada satu tahun yang
akan datang. Dengan memegang option yang dikeluarkan oleh Bank B
tersebut maka satu tahun yang akan datang orang yang memegang
option tersebut berhak (bukan keharusan) menjual USD 1.000.000,- ke
Bank B dengan harga atau kurs 10.000,- tidak perduli harga atau kurs
USD/IDR yang berlaku di pasar saat itu.55
Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB), atau sering disebut juga dengan money changer, merupakan kegiatan usaha yang
meliputi kegiatan penukaran yang dilakukan dengan mekanisme jual dan beli
Uang Kertas Asing (UKA) serta pembelian Cek Pelawat. KUPVA BB
merupakan tempat alternative selain Bank untuk menukarkan valuta asing. C.Peran Bank Indonesia terhadap Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing
Bukan Bank yang tidak Berbadan Hukum
55
Dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai KUPVA BB, salah satu kewajiban
KUPVA BB adalah adanya badan hukum Perseroan Terbatas yang seluruh
sahamnya dimiliki oleh WNI.
Bank Indonesia menegaskan adanya kewajiban bagi penyelenggara
Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB) untuk
memperoleh izin beroperasi. Berdasarkan peraturan Bank Indonesia, KUPVA
BB yang saat ini belum memperoleh izin dari Bank Indonesia memiliki
kesempatan untuk segera mengajukan izin paling lambat tanggal 7 April 2017.
Setelah berakhirnya batas waktu tersebut, Bank Indonesia akan mendukung dan
bekerja sama dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Pusat Pelaporan
dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Badan Narkotika Nasional (BNN),
dalam operasi penerbitan. Ketentuan perizinan tersebut tercantum dalam PBI
no. 18/20/PBI/2016 dan SE No. 18/42/DKSP perihal Kegiatan Usaha
Penukaran Valuta Asing Bukan Bank.56
Pengaturan perizinan bagi KUPVA BB menjadi sangat penting untuk
memudahkan pengawasan. Selain untuk pengembangan industry yang sehat
dan efisien, fungsi pengaturan dan pengawasan sangat diperlukan dalam
mencegah dimanfaatkannya KUPVA BB untuk pencucian uang, pendanaan
terorisme, atau kejahatan lainnya, (extraordinary crime). Untuk itulah,
penerbitan KUPVA BB dilakukan bersama oleh Bank Indonesia, PPATK,
BNN, dan Polri khususnya apabila terdapat indikasi Tindak Pidana Pencucian
Uang (TPPU) baik yang berasal dari kejahatan maupun narkoba
BAB IV
ASPEK HUKUM KEGIATAN USAHA PENUKARAN VALUTA ASING BUKAN BANK YANG TIDAK BERBADAN HUKUM
A. Pengaturan Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No 18/20/PBI/2016
Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/20/PBI/ DKSP tanggal 7
Oktober 2016 perihal Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank,
selanjutnya disebut PBI KUPVA BB, diterbitkan dalam rangka
penyempurnaan pengaturan PBI No. 16/15/PBI/2014 tentang Kegiatan Usaha
Penukaran Valuta Asing Bukan Bank dan harmonisasi dengan beberapa
peraturan lain yang diterbitkan Bank Indonesia.
Tujuan penerbitan PBI ini adalah untuk memberikan panduan yang
lebih jelas dalam penyelenggaraan kegiatan usaha penukaran valuta asing
oleh lembaga bukan bank. Penyempurnaan ketentuan ini diharapkan dapat
meningkatkan tata kelola yang baik serta mendorong perkembangan industry
KUPVA BB menjadi lebih sehat dan efisien. Penyempurnaan yang dilakukan
antara lain terhadap :
1. cakupan kegiatan usaha
2. underlying transaksi
4. tata kelolaa dan perlindungan konsumen, dan
5. kegiatan jual beli UKA di wilayah perbatasan dan kerjasama dengan hotel.
Peraturan Bank Indonesia No. 18/20/PBI/2016 tentang Kegiatan
Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank dalam pertimbangannya pada
huruf a menyatakan bahwa dalam rangka mencapai dan memelihara
kestabilan nilai Rupiah serta menjaga kelangsungan ekonomi nasional,
dibutuhkan dukungan pasar keuangan termasuk pasar valuta asing
domestik yang sehat.57
1. Uang Kertas Asing yang selanjutnya disingkat UKA atau dapat disebut
Banknotes adalah uang kertas dalam valuta asing yang resmi
diterbitkan oleh suatu negara di luar Indonesia yang diakui sebagai alat
pembayaran yang sah negara yang bersangkutan (legal tender).
Untuk itu perlu dilakukan pemurnian kegiatan
penukaran valuta asing. Pemurnian kegiatan tersebut nantinya dapat
menciptakan iklim usaha yang sehat dalam mendukung pertumbuhan
industry penukaran valuta asing dan meningkatkan efektivitas pengawasan
sistem pembayaran yang dilakukan oleh BI.
Menurut Pasal 1 Peraturan BI No. 18/20/PBI/2016 yang dimaksud
dengan :
2. Cek Pelawat atau dapat disebut Traveller’s Cheque adalah cek
perjalanan dalam valuta asing yang dapat digunakan sebagai alat
pembayaran.
57
3. Perseoran Terbatas adalah badan hukum sebagaimana dimaksud dalam
undang-undang yang mengatur mengenai perseroan terbatas.
4. Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing yang selanjutnya disingkat
KUPVA adalah kegiatan jual dan beli UKA, serta pembelian Cek
Pelawat.
5. Penyelenggara KUPVA Bukan Bank atau dapat disebut Money
Changer adalah badan usaha bukan bank berbadan hukum Perseroan
Terbatas yang melakukan KUPVA.
6. Nasabah adalah pihak yang menggunakan jasa Penyelenggara KUPVA
Bukan Bank.
7. Direksi adalah Direksi sebagaimana dimaksud dalam undang-undang
yang mengatur mengenai perseroan terbatas.
8. Dewan Komisaris adalah Dewan Komisaris sebagaimana dimaksud
dalam undang-undang yang mengatur mengenai perseroan terbatas.
9. Pemegang Saham adalah badan hukum dan/atau orang perseorangan
yang memiliki saham Penyelenggara KUPVA Bukan Bank.
10.Underlying Transaksi atau dapat disebut Underlying Transaction
adalah kegiatan yang mendasari pembelian UKA oleh Nasabah.58
Adapun perizinan dalam Penyelenggara Kegiatan Usaha Penukaran
Valuta Asing Bukan Bank sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11
Peraturan Bank Indonesia No. 18/20/PBI/2016 tentang Kegiatan Usaha
Penukaran Valuta Asing Bukan Bank bahwa :
(1) Badan Usaha Bukan Bank yang akan melakukan kegiatan usaha
sebagai Penyelenggara KUPVA Bukan Bank wajib terlebih dahulu
memperoleh izin dari Bank Indonesia.
(2) Direksi, Dewan Komisaris, dan pemegang saham dari badan usaha
bukan bank sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib terlebih dahulu
memperoleh persetujuan dari Bank Indonesia.
(3) Untuk memperoleh izin dari Bank Indonesia sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) badan usaha bukan bank harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut :
a. Berbadan hukum Perseroan Terbatas yang seluruh sahamnya
dimiliki oleh:
1. Warga negara Indonesia; dan/atau
2. Badan usaha yang seluruh sahamnya dimiliki oleh warga
negara Indonesia;
b. Mencantumkan dalam anggaran dasar perseroan bahwa maksud
dan tujuan perseroan adalah melakukan kegiatan jual beli UKA dan
pembelian Cek Pelawat;
c. Memenuhi jumah modal disetor yang ditetapkan oleh Bank
Indonesia; dan
d. Modal disetor tidak berasal dari dan/atau untuk tujuan pencucian
uang (money laundering).
(4) Permohonan izin sebagai Penyelenggara KUPVA Bukan Bank
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertulis oleh
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara permohonan
izin sebagai Penyelenggara KUPVA Bukan Bank diatur dalam Surat
Edaran Bank Indonesia.59
Jumlah modal disetor yang ditetapkan oleh Bank Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 ayat (3) huruf c dalam Peraturan
Bank Indonesia No. 18/20/PBI/2016 tentang Kegiatan Usaha Penukaran
Valuta Asing Bukan Bank adalah paling sedikit sebesar:
a. Rp. 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta Rupiah), bagi calon
Penyelenggara yang akan melakukan kegiatan usaha diwilayah Kota
Administrasi Jakarta Timur, Kota Administrasi Jakarta Barat,Kota
Administrasi Jakarta Pusat, Kota Administrasi Jakarta Utara, Kota
Administrasi Jakarta Selatan, Kota Batam, Kota Denpasar, dan
Kabupaten Bandung; atau
b. Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah), bagi calon penyelenggara
yang akan melakukan kegiatan usaha di luar wilayah sebagaimana
dimaksud dalam huruf a;
Dalam hal perizinan Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing
Bukan Bank yang dilakukan oleh Penyelenggara, maka didalam Pasal 12
Peraturan Bank Indonesia no. 18/20/PBI/2016 izin sebagai Penyelenggara
KUPVA Bukan Bank sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1)
diberikan oleh Bank Indonesia melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :
a. Penelitian pemenuhan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
11 ayat (3);
1. Bank Indonesia melakukan penelitian terhadap kesesuain dan
kebenaran dokumen pendirian dan pengesahan badan hukum,
kecukupan dan kesiapan organisasi, kecukupan modal disetor, serta
kondisi dan kesiapan keuangan perusahaan sesuai persyaratan.
2. Apabila berdasarkan hasil penelitian sebagaimana dimaksud dalam
poin 1 terdapat dokumen yang tidak benar atau tidak sesuai, Bank
Indonesia menginformasikan secara tertulis kepada calon
Penyelenggara untuk memperbaiki dokumen dimaksud.
3. Calon Penyelenggara harus menyampaikan kembali kepada Bank
Indonesia dokumen yang telah diperbaiki dalam jangka waktu
paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal surat
pemberitahuan disampaikan oleh Bank Indonesia.
4. Dalam hal sampai dengan jangka waktu sebagaimana dimaksud
dalam poin 3 calon penyelenggara belum menyampaikan dokumen
yang telah diperbaiki maka calon Penyelenggara dinyatakan telah
membatalkan permohonannya.
b. Penelitian pemenuhan persyaratan sebagai anggota Direksi, anggota
Dewan Komisaris, dan pemegang saham sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 19 dan Pasal 21;
1. Bank Indonesia melakukan penelitian terhadap pemenuhan
persyaratan anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris, dan
2. Dalam hal berdasarkan hasil penelitian sebagaimana dimaksud
dalam poin 1 calon anggota Direksi, calon anggota Dewan
Komisaris, dan calon pemegang saham yang diajukan dinilai tidak
memenuhi persyaratan, calon Penyelenggara harus melengkapi
atau menambah dokumen, menyelesaikan permasalahan terkait
dengan pemenuhan persyaratan, dan/atau melakukan penggantian
calon anggota Direksi, calon anggota Dewan Komisaris, dan calon
pemegang saham yang diajukan, paling lama 45 (empat puluh
lima) hari kerja setelah tanggal surat pemberitahuan.
c. Pemeriksaan lokasi tempat usaha calon Penyelenggara KUPVA Bukan
Bank;
1. Bank Indonesia melakukan pemeriksaan lokasi dalam rangka
memastikan kesiapan operasional calon Penyelenggara sesuai
persyaratan sebagaimana dimaksud dalam butir C.1.b.3 antara lain
kesiapan sarana dan prasarana serta mekanisme dan prosedur
dalam melakukan kegiatan usaha.
2. Dalam hal berdasarkan pemeriksaan lokasi sebagaimana dimaksud
dalam poin 1, calon Penyelenggara dinilai tidak memenuhi
kesiapan operasional, calon Penyelenggara harus melengkapi
persyaratan kesiapan operasional paling lama 20 (dua puluh) hari
kerja setelah tanggal surat pemberitahuan.
3. Dalam hal calon Penyelenggara tidak melengkapi persyaratan
dalam batas waktu sebagaimana dimaksud dalam poin 2, calon
d. Penyuluhan ketentuan kepada anggota Direksi, anggota Dewan
Komisaris, dan pemegang saham calon Penyelenggara KUPVA Bukan
Bank ;
1. Bank Indonesia menyelenggarakan penyuluhan dalam rangka
menginformasikan ketentuan terkait dengan penyelenggara
kegiatan usaha penukaran valuta asing bukan bank dan
meningkatkan pemahaman calon Penyelenggara dalam
menerapkan ketentuan dan menjalankan kegiatan usaha.
2. Bank Indonesia akan menentukan tanggal pelaksanaan penyuluhan
sebagaimana dimaksud dalam poin 1.
3. Dalam hal anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris, dan
pemegang saham tidak menghadiri penyuluhan ketentuan pada
tanggal yang telah ditentukan oleh Bank Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam poin 2 maka pelaksanaan penyuluhan ketentuan
dapat dijadwalkan ulang paling lama 20 (dua puluh) juta hari kerja
setelah tanggal yang telah ditentukan tersebut.
4. Penjadwalan ulang sebagaimana dimaksud dalam poin 3 hanya
dilakukan dalam hal Bank Indonesia menyetujui alasan
ketidakhadiran anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris,
dan/atau pemegang saham yang disampaikan secara tertulis.
5. Dalam hal anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris, dan/atau
pemegang saham tidak menghadiri penyuluhan ketentuan yang
telah dijadwalkan ulang sebagaimana dimaksud dalam poin 3 atau
sebagaimana dimaksud dalam poin 4, calon Penyelenggara
dinyatakan telah membatalkan permohonannya.
Kegiatan usaha yang dilakukan oleh Penyelenggara KUPVA
Bukan Bank meliputi :
1. Kegiatan penukaran yang dilakukan dengan mekanisme jual
dan beli UKA, mekanisme sebagai berikut :
a. Penyerahan UKA wajib dilakukan secara fisik, baik
penyerahan UKA dari Penyelenggara kepada Nasabah,
maupun penyerahan UKA dari Nasabah kepada
Penyelenggara,
b. Penyerahan Rupiah dari Nasabah kepada Penyelenggara
dan penyerahan Rupiah dari Penyelenggara kepada
Nasabah dapat dilakukan secara fisik atau transfer intrabank
dan antarbank, dan
c. Dalam hal penyerahan Rupiah, baik dalam rangka jual
maupun beli UKA, dilakukan melalui transfer sebagaimana
dimaksud dalam huruf b maka transfer harus ditujukan
kepada atau berasal dari rekening atas nama :
1) Penyelenggara, dan
2) Nasabah.
Kegiatan usaha yang dilakukan oleh Penyelenggara KUPVA
Bukan Bank selain dari yang disebutkan diatas sebagaimana diatur dalam
Pasal 2 ayat (2) Peraturan Bank Indonesia No. 18/20/PBI/2016 adalah
penyelengara KUPVA Bukan Bank dapat pula melakukan kegiatan usaha
lain yang memiliki keterkaitan dengan penyelenggaraan KUPVA
sepanjang telah diatur dalam ketentuan Bank Indonesia.
Sebagaimana yang diatur dalam Pasal 2 ayat (6) juga mengatakan
dalam hal melaksanakan kegiatan usaha KUPVA Bukan Bank,
Penyelenggara KUPVA Bukan Bank harus menerapkan ketentuan yang
mengatur mengenai anti pencucian uang dan pencegahan pendanaan
terorisme serta mengenai kewajiban penggunaan Rupiah di wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/20/PBI2016 tentang Kegiatan
Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank mengatur pula prinsip
perlindungan atas konsumen/nasabah KUPVA Bukan Bank (diatur dalam
pasal 10). Dalam melakukan kegiatan usaha KUPVA Bukan Bank,
Penyelenggara KUPVA Bukan Bank memastikan penerapan prinsip
perlindungan konsumen yang memenuhi prinsip keadilan dan keandalan,
prinsip transparansi, prinsip perlindungan data dan/atau informasi
konsumen, serta prinsip penanganan dan penyelesaian pengaduan
konsumen secara efektif. Dalam rangka melakukan jual dan beli UKA,
Penerapan prinsip perlindungan konsumen sebagaimana yang
dimaksud dalam Pasal 10 , paling sedikit meliputi :
1. Penyampaian informasi kurs kepada Nasabah secara Transparan,
dalam rangka transparansi penyampaian informasi mengenai jenis
mata uang dan kurs jual dan kurs beli kepada Nasabah, berlaku
ketentuan sebagai berikut :
a. Penyelenggara harus menyediakan informasi tertulis mengenai
jenis mata uang yang tersedia, dengan ketentuan :
1) informasi disampaikan secara lengkap, jelas, dan mudah
dimengerti oleh Nasabah dengan menggunakan bahasa
Indonesia yang dapat disertai dengan bahasa asing,
2) informasi disampaikan antara lain dalam bentuk papan
pengumuman, website, e-mail, atau bentuk lainnya, dan
3) informasi disampaikan secara akurat, terkini, dan
sebenar-benarnya.
b. Penyelenggara harus menyampaikan informasi secara lengkap dan
jelas apabila terdapat perbedaan kurs :
1) UKA dengan Cek Pelawat,
2) UKA dalam pecahan tertentu, dan/atau
c. Penyelenggara harus menampilkan informasi mengenai kurs
dengan bentuk dan/atau letak yang mudah terlihat, mudah dibaca,
dan mudah dimengerti.
d. Penyelenggara dilarang memberikan informasi yang menyesatkan
(mislead) dan/atau tidak etis (misconduct), antara lain :
1) pemberian informasi dianggap menyesatkan (mislead) apabila
Penyelenggara memberikan informasi yang tidak sesuai dengan
fakta, misalnya menyatakan kurs yang lebih rendah dari yang
sebenarnya dikenakan kepada Nasabah, dan
2) pemberian informasi dianggap tidak etis (misconduct) apabila
Penyelenggara memberikan informasi yang tidak sesuai dengan
etika atau asas perilaku secara umum, misalnya memberikan
penilaian negative terhadap Penyelenggara lainnya/kompetitor,
e. Penyelenggara harus memberikan informasi secara lengkap dan
jelas apabila Nasabah melakukan pemesanan melalui telepon atau
secara online, dan memastikan kurs yang digunakan pada saat
penyelesaian transaksi adalah kurs yang telah disepakati pada saat
pemesanan.
2. Dalam rangka perlindungan data dan/atau informasi Nasabah, berlaku
ketentuan sebagai berikut :
a. Penyelenggara dilarang dengan cara apapun, memberikan data
dan/atau informasi pribadi mengenai Nasabah kepada pihak lain,
1) Nasabah memberikan persetujuan tertulis, dan
2) diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan,
b. Dalam rangka meminta persetujuan sebagaimana dimaksud dalam
huruf a, Penyelenggara harus terlebih dahulu menjelaskan
mengenai maksud dan tujuan pemberian dan/atau penyebarluasan
data pribadi Nasabah kepada pihak lain,
3. Dalam rangka melakukan penanganan dan penyelesaian pengaduan
Nasabah, berlaku ketentuan sebagai berikut :
a. Penyelanggara harus menerima, menangani, dan menyelesaikan
sikap pengaduan yang disampaikan oleh Nasabah dan/atau
perwakilan Nasabah yang terkait dengan kegiatan usaha penukaran
valuta asing,
b. Penyelenggara harus memiliki mekanisme dan prosedur dalam
bentuk tertulis yang ditetapkan oleh Direksi, antara lain dalam
bentuk pedoman, petunjuk pelaksanaan, atau Standard Operating
Procedure (SOP), untuk menangani dan menyelesaikan pengaduan
Nasabah,
c. Penyelesaian harus menatausahakan seluruh dokumen yang terkait
dengan penerimaan, penanganan, dan penyelesaian pengaduan
Nasabah,
d. Penyelenggara harus menunjuk pegawai yang menangani
e. Penyelenggara harus memasang pengumuman atau informasi
dengan kalimat yang jelas dan mudah dipahami di gedung kantor
dan/atau website Penyelenggara mengenai tata cara pengaduan
Nasabah, termasuk jika terdapat call center yang dapat dihubungi,
dan
f. Penyelenggara dilarang mengenakan biaya kepada Nasabah atas
pengajuan pengaduan yang dilakukan oleh Nasabah.
4. Dalam rangka penerapan perlindungan konsumen pada penyelenggara
kegiatan usaha penukaran valutas asing, Penyelenggara harus :
a. Memberikan bukti transaksi, tanda terima, atau slip transaksi
kepada Nasabah yang paling sedikit memuat informasi :
1) nama dan alamat Penyelenggara,
2) tanggaal transaksi,
3) nomor serial bukti transaksi,
4) jumlah nominal dan jenis mata uang yang dibayarkan oleh
Nasabah,
1) jumlah nominal dan jenis mata uang yang dibayarkan
kepada Nasabah,
2) kurs atau nilai tukar,
b. Menyediakan uang kepada Nasabah, dengan ketentuan sebagai
berikut :
1) menyediakan uang dalam kondisi yang layak dan jenis pecahan
sesuai kebutuhan Nasabah sepanjang Penyelenggara masih
memiliki persediaan jenis jenis pecahan yang dibutuhkan
Nasabah,
2) menyediakan uang yang asli, masih berlaku sebagai alat
pembayaran yang sah, dan dalam jumlah nominal sesuai
dengan transaksi yang dilakukan dengan Nasabah, dan
3) memberikan informasi mengenai ciri-ciri keaslian uang kepada
Nasabah antara lain dalam bentuk berupa pengumuman, brosur,
dan/atau leaflet.
Jenis Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank adalah
kegiatan jual dan beli UKA dan pembelian Cek Pelawat. KUPVA BB
dilarang melakukan kegiatan usaha lain diluar kegiatan usaha sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 7 Peraturan Bank Indonesia No.
18/20/PBI/2016 tentang Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan
Bank bahwa :
Pasal 6
Penyelenggara KUPVA Bukan Bank dilarang :
b. Melakukan kegiatan margin trading, spot, forward, swap, dan transaksi
derivative lainnya baik untuk kepentingan Nasabah maupun
kepentingan Penyelenggara KUPVA Bukan Bank;
c. Melakukan transaksi jual dan beli UKA serta pembelian Cek Pelawat
dengan Penyelenggara KUPVA Bukan Bank yang tidak memiliki izin
dari Bank Indonesia;
d. Melakukan kegiatan penyelenggaraan transfer dana; dan
e. Melakukan kegiatan usaha lainnya diluar kegiatan usaha sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2).
Pasal 7
(1) Selain larangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 6, Penyelenggara
KUPVA Bukan Bank dilarang :
a. Menjadi pemilik penyelenggara KUPVA tidak berizin;
b. Melakukan kerja sama dengan penyelenggara KUPVA tidak
berizin; dan
c. Melakukan kegiatan usaha melalui penyelenggara KUPVA tidak
berizin.
(2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku untuk
Direksi, Dewan Komisaris, dan/atau Pemegang Saham Penyelenggara
KUPVA Bukan Bank.60
Adapun Pengawasan yang dilakukan oleh Bank Indonesia dalam
Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank terhadap
Penyelenggara KUPVA Bukan Bank sebagaimana diatur dalam pasal 33
Peraturan Bank Indonesia No. 18/20/PBI/2016. Bank Indonesia
melakukan pengawasan terhadap Penyelenggara KUPVA Bukan Bank
secara langsung dan tidak langsung.
Pengawasan langsung dilakukan dengan cara pemeriksaan atas
kegiatan usaha Penyelenggara untuk meneliti dan mengevaluasi tingkat
kepatuhan Penyelenggara terhadap ketentuan. Dalam rangka pelaksanaan
pengawasan langsung, setiap Penyelenggara wajib memberikan kepada
Pengawas atau pihak lain yang ditugaskan oleh Bank Indonesia antara lain
:
a. Dokumen, data, informasi, dan/atau laporan yang diminta,
b. Keterangan dan/atau penjelasan baik lisan maupun tertulis, dan/atau,
c. Akses terhadap sistem informasi, antara lain akses terhadap aplikasi,
database, dan sistem pelaporan yang diperlukan dalam pengawasan
langsung.
Penyelenggara wajib bertanggung jawab atas kebenaran dokumen,
data, informasi, laporan, keterangan, dan/atau penjelasan yang diberikan.
Dalam hal melakukan pengawasan, Bank Indonesia dapat menugaskan
pihak lain untuk melakukan pengawasan langsung yang wajib bisa
menjaga kerahasiaan dokumen, data, informasi, laporan, keterangan,
dan/atau penjelasan yang diperoleh dari hasil pengawasan langsung. Dan
Penyelenggara wajib melakukan langkah perbaikan dan/atau
penyempurnaan atas temuan hasil pemeriksaan serta melaporkan tindakan
Pengawasan tidak langsung merupakan tindakan pemantauan yang
dilakukan dalam bentuk analisis terhadap laporan yang disampaikan
Penyelenggara atau informasi dari pihak lain. Dalam rangka pelaksanaan
pengawasan tidak langsung, Penyelenggara wajib menyampaikan
dokumen, data, informasi, laporan, keterangan, dan/atau penjelasan kepada
Bank Indonesia yang dapat disampaikan melalui laporan, pertemuan
langsung, dan/atau secara komunikasi lain yang ditetapkan Bank
Indonesia.
Berdasarkan hasil pengawasan secara langsung dan tidak langsung,
adapun tindak lanjut pengawasan dari Bank Indonesia terhadap
Penyelenggara KUPVA Bukan Bank,yaitu dapat :
1. Melakukan pembinaan terhadap Penyelenggara,
2. Mengenakan sanksi admisnitratif,
3. Melakukan evaluasi terhadap izin usaha yang telah diberikan,
4. Meminta penyelenggara untuk melakukan atau tidak melakukan
sesuatu,
5. Menghentikan sementara sebagian atau seluruh kegiatan usaha,
membatalkan atau mencabut izin atau persetujuan yang telah diberikan
kepada Penyelenggara, dan/atau
6. Meminta penghentian sementara terhadap Direksi dan/atau Dewan
Komisaris.
Selain Pengawasan yang dilakukan oleh Bank Indonesia terhadap
Penyelenggara KUPVA Bukan Bank, Bank Indonesia juga memberikan
yang melanggar ketentuan dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor
18/20/PBI/2016 tentang Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan
Bank dan ketentuan dalam Surat Edaran Bank Indonesia ini dikenakan
sanksi Adminisratif berupa :
1. Teguran tertulis,
2. Kewajiban membayar,
3. Pengehentian kegiatan usaha, dan/atau
4. Pencabutan izin.
Dalam hal menerapkan sanksi administratif ini, Bank Indonesia
mempertimbangkan :
1. Tingkat pelanggaran,
2. Akibat yang ditimbulkan terhadap :
a. Aspek perlindungan konsumen, dan/atau
b. Aspek anti pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme,
dan/atau
c. Faktor lainnya.
Dalam hal Bank Indonesia mengenakan sanksi administratif berupa
kewajiban membayar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 Peraturan
Bank Indonesia Nomor 18/20/PBI/2016 tentang Kegiatan Usaha
Penukaran Valuta Asing Bukan Bank maka perhitungan dilakukan dengan
contoh sebagai berikut :
Pada tanggal 5 September 2016 Nasabah melakukan pembelian
Amerika Serikat). Kemudian pada tanggal 15 September 2016 Nasabah
yang sama melakukan pembelian UKA terhadap Rupiah sebesar USD
15.000,00 (lima belas ribu dolar Amerika Serikat). Total pembelian UKA
terhadap Rupiah Nasabah pada bulan September 2016 adalah USD
30.000,00 (tiga puluh ribu dolar Amerika Serikat). Pembelian UKA
terhadap Rupiah tanggal 15 September 2016, tidak didukung dokumen
Underlying Transaksi, sehingga terdapat pelanggaran yang melebihi
threshold sebesar USD 5.000,00 (lima ribu dolar Amerika Serikat). Kurs
JISDOR tanggal 15 September 2016 adalah Rp.10.000,00 (sepuluh ribu
rupiah) per dolar Amerika Serikat. Perhitungan atas pelanggaran yang
dilakukan Penyelenggara yaitu sebagai berikut :
USD5.000,00 x 1% x Rp.10.000 = Rp.500.000,00
Namun mengingat sanksi kewajiban membayar paling sedikit
Rp.10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) maka Penyelenggara dikenakan
sanksi sebesar Rp.10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) meskipun nilai
pelanggaran berdasarkan perhitungan diatas sebesar Rp.500.000,00 (lima
ratus ribu rupiah).
Dalam hal Bank Indonesia mengenakan sanksi administratif berupa
penghentian kegiatan usaha, maka berlaku ketentuan sebagai berikut :
1. Sanksi penghentian kegiatan usaha diberlakukan terhadap :
a. Kegiatan jual dan beli UKA,
c. Kegiatan usaha lainnya yang memiliki keterkaitan dengan
penyelenggaraan kegiatan usaha penukaran valuta asing.
2. Sanksi penghentian kegiatan usaha disertai dengan jangka waktu
berlakunya dan dapat diperpanjang,
3. Penyelenggara yang dikenakan sanksi penghentian kegiatan usaha
harus mengumumkan penghentian kegiatan usaha kepada masyarakat
pada tanggal yang sama dengan tanggal surat pemberitahuan dari Bank
Indonesia mengenai penghentian kegiatan usaha Penyelenggara yang
paling kurang diumumkan di kantor Penyelenggara dengan letak
dan/atau yang mudah terlihat dan mudah dibaca.
Dalam hal Bank Indonesia mengenakan sanksi administratif berupa
pencabutan izin, berlaku ketentuan sebagai berikut :
1. Penyelenggara wajib mengembalikan Surat Keputusan Pemberian Izin
Usaha (KPmIU), logo Penyelenggara KUPVA Bukan Bank Berizin
yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia dan sertifikat izin usaha yang
diterbitkan Bank Indonesia,
2. Bank Indonesia melakukan pengkinian daftar Penyelenggara
berdasarkan pencabutan izin usaha Penyelenggara.
Penyelenggara yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 7 Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/20/PBI/2016 tentang
Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank dikenakan sanksi
berupa pencabutan izin. Contoh Penyelenggara KUPVA tidak berizin
tanpa izin Bank Indonesia, dengan indikasi antara lain melakukan
transaksi jula beli valas dengan frekuensi yang cukup sering dengan tujuan
untuk menjual atau membeli valas kepada atau dari pihak lain, dan
memiliki usaha yang tidak dikecualikan dari ketentuan kewajiban
penggunaan Rupiah termasuk Penyelenggara yang telah dicabut izinnya
oleh Bank Indonesia.
Anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris, dan/atau Pemegang
Saham Penyelenggara yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 7 Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/20/PBI/2016 tentang
Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank, dilarang untuk
menjadi Direksi, Dewan Komisaris, dan/atau pemegang saham
Penyelenggara untuk jangka waktu 5 (lima) tahun.
B. Pengaturan Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank yang tidak Berbadan Hukum
Saat ini perkembangan perekonomian dan dunia usaha semakin
bertumbuh pesat. Menurut peneliti terbukti dengan sangat banyaknya
ditemukan pelaku-pelaku usaha baik yang berbadan hukum maupun yang
tidak berbadan hukum.
Pelaku usaha yang berbadan hukum adalah Perseroan Terbatas
berbadan hukum adalah Perseroan Komanditer (CV), firma, perusahaan
perorangan (UD).61
Bank Indonesia (BI) mencatat ada 783 kegiatan usaha penukaran
valuta asing bukan bank (KUPVA BB) atau money changer yang belum
berizin atau ilegal. Jumlah ini meningkat dari data sebelumnya pada
Januari lalu sekitar 621 money changer diseluruh Indonesia.
Seperti yang diketahui bahwa didalam Kegiatan Usaha Penukaran
Valuta Asing Bukan Bank ini terdapat pelaku usaha yang Berbadan
Hukum dan maupun pelaku usaha yang tidak Berbadan Hukum. Dalam
melakukan usaha KUPVA Bukan Bank haruslah berbadan hukum yang
pengaturan perizinannya diatur dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor
18/20/PBI/2016 .
62
Seperti diketahui bahwa Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing
Bukan Bank haruslah Berbadan Hukum berbentuk Perseroan Terbatas
(PT) didalam Peraturan Bank Indonesia No. 18/20/PBI/2016 sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 1 ayat (5) bahwa Penyelenggara KUPVA Bukan
Bank atau dapat disebut Money Changer adalah badan usaha bukan bank
berbadan hukum Perseroan Terbatas yang melakukan KUPVA. Selain
KUPVA Bukan Bank yang berbadan Hukum, ada pula KUPVA Bukan
Bank yang tidak Berbadan Hukum, dimana dalam Kegiatan Usaha
Penukaran Valuta Asing yang tidak berbadan hukum ini adalah berbentuk
61
Ahmad Yani & Gunawan Widjaja, Perseroan Terbatas, (Jakarta: PT. Raja Grafindo persada,1999), hal 1.
CV (comanditer venotschaap) atau Firma63
, disini akan dibahas
pengaturan-pengaturan KUPVA Bukan Bank yang tidak berbadan hukum
yang meliputi pengaturan dari :
a. Kitab Undang – undang Hukum Dagang ( Wetboek van Koophandel voor Indonesie) S. 1847-23
Pasal 18
Dalam Perseroan firma tiap-tiap persero bertanggung jawab secara
tanggung renteng untuk seluruhnya atas perikatan-perikatan
perseroannya.
Pasal 19
Perseroan yang berbentuk dengan cara meminjamkan uang atau
disebut juga perseroan komanditer, didirikan antara seseorang atau
antara beberapa orang persero yang betanggung jawab secara tanggung
– renteng untuk keseluruhannya, dan satu orang atau lebih sebagai
pemberi pinjaman uang.
Pasal 20
Dengan tidak mengurangi kekecualian yang terdapat dalam pasal 30
alinea kedua, maka nama persero komanditer tidak boleh digunakan
dalam firma.
Persero ini tidak boleh melakukan tindakan pengurusan atau bekerja
dalam perusahaan perseron tersebut, biar berdasarkan pemberian kuasa
sekalipun.
Ia tidak ikut memikul kerugian lebih daripada jumlah uang yang telah
dimasukkannya dalam perseroan atau yang harus dimasukkannya,
tanpa diwajibkan untuk mengembalikan keuntungan yang telah
dinikmatinya.
Pasal 21
Perseroan komanditer yang melanggar ketentuan-ketentuan alinea
pertama atau alinea kedua dari pasal yang lain, bertanggung jawab
secara tanggung renteng untuk seluruhnya terhadap semua utang dan
perikatan perseroan itu.
Pasal 22
Perseroan-perseroan firma harus didirikan dengan akta otentik, tanpa
adanya kemungkinan untuk disangkalkan terhadap pihak ketiga, bila
akta itu tidak ada.
Pasal 23
Para persero firma diwajibkan untuk mendaftarkan akta itu dalam
register yang disediakan untuk itu pada kepaniteraan raad van justitie
Pasal 24
Akan tetapi para persero firma diperkenankan untuk hanya
mendaftarkan petikannya saja dari akta itu dalam bentuk otentik.
Pasal 26
Petikan yang disebut dalam pasal 24 harus memuat :
1. Nama, nama kecil, pekerjaan dan tempat tinggal para persero
firma;
2. Pernyataan firmanya dengan menunjukkan apakah perseroan itu
umum, ataukah terbatas pada suatu cabang khusus dari perusahaan
tertentu, dan dalam hal terakhir, dengan menunjukkan cabang
khusus itu;
3. Penunjukan para persero, yang tidak diperkenankan bertandangan
atas nama firma;
4. Saat mulai berlakunya perseroan dan saat berakhirnya;
5. Dan selanjutnya, pada umumnya, bagian-bagian dari perjanjiannya
yang harus dipakai untuk menentukan hak-hak pihak ketiga
terhadap para persero. 64
Dalam hal Pengaturan Persekutuan Komaditer (CV), KUHD tidak
mengatur secara khusus mengenai cara mendirikan CV, tetapi dalam
praktik dibuat secara autentik (akta notaris). CV didirikan dengan
64
pembuatan anggaran dasar yang dituangkan dalam akta pendirian yang
dimuat dimuka notaris65
1. Nama pemilik/perusahaan .
b. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI No. 408/MPP/Kep/10/1997
Adapun ketentuan dalam melakukan Kegiatan Usaha Penukaran
Valuta Asing harus mendapatkan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP),
yaitu diatur Keputusan Menperindag No. 408 Tahun 1997.
Berdasarkan ketentuan Pasal 9 Kepmenperindag No. 408 Tahun
1997, permintaan TDUP bagi perusahaan yang mempunyai nilai investasi
sampai dengan Rp. 200.000.000,00 di ajukan kepada kepala Kantor
Deperindag setempat. Permintaan TDUP tersebut di lakukan dengan
menyampaikan surat permintaan TDUP kepada Kakandep yang
ditandatangani oleh pemilik/penanggung jawab perusahaan yang isinya :
2. Alamat pemilik/perusahaan
3. Nama dan alamat penanggung jawab perusahaan
4. Nomor pokok wajib pajak (NPWP)
5. Bidang usaha barang/jasa
6. Nilai investasi tidak termasuk tanah dan bangunan
7. Jenis kegiatan usaha
8. Jenis barang/jasa dengan utama
9. Merek
dilihat pada
Dalam Pasal 11 Kepmenperindag No. 408 tahun 1997 ditentukan
bahwa Permintaan TDUP atau SIUP wajib melampirkan
dokumen-dokumen dengan ketentuan :
1. Perusahaan badan hukum dan Koperasi
1. Salinan/kopi akta pendirian yang telah disahkan oleh Departemen
Kehakiman bagi Perseroan Terbatas dan instansi yang berwenang
bagi Koperasi
2. Kopi KTP pemilik/penanggung jawab perusahaan
3. Kopi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) perusahaan
4. Kopi Surat Izin Tempat Usaha dari Pemda setempat
2. Perusahaan persekutuan bukan badan hukum
1. Salinan akta pendirian
2. Kopi KTP pemilik/penanggung jawab
3. Kopi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) perusahaan
4. Kopi Surat Izin Tempat Usaha dari Pemda setempat
3. Perusahaan Perorangan
1. Kopi KTP pemilik
2. Kopi NPWP pemilik
3. Kopi Surat Izin Tempat Usaha dari Pemda setempat.66
66
c.Peraturan Daerah
Dalam suatu daerah pasti memiliki industri pariwisata yang
menjadikan daerah tersebut menjadi tempat destinasi oleh para wisatawan.
Maka dalam pengembangan industri pariwisata harus menawarkan
berbagai kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai fasilitas serta
layanan yang disediakan, seperti hal nya dengan menyediakan tempat
Valuta Asing/money changer. Dengan adanya Valuta Asing/money
changer ini maka sangat memudahkan parawisatawan untuk dapat
menukarkan uangnya. Dalam hal ini pemerintah daerah sangat antusias
dalam menyediakan Valuta Asing/money changeruntuk dapat menunjang
perkembangan industri pariwisata di daerah tersebut. Untuk itu pemerintah
daerah membuat suatu peraturan daerah dalam hal perizinan valuta
asing/money changer, Peraturan Daerah juga mengatur izin dari setiap
badan usaha yang tidak berbadan hukum seperti KUPVA BB, misalnya
seperti Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 9 tahun 2014 tentang
Penyelenggaraan Usaha Perindustrian dan Perdagangan, sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 19 bahwa :
(1) Setiap orang atau Badan Usaha yang akan memperoleh SIUP wajib
mengajukan permohonan kepada Walikota.
(2) Syarat-syarat untuk mengajukan permohonan SIUP bagi perorangan :
a. Fotokopi KTP pemilik/penanggung jawab usaha;
b. Surat pernyataan dari pemohon tentang lokasi usaha; dan
c. Pas photo terbaru pemilik/penanggung jawab usaha ukuran 3 x 4
(3) Syarat-syarat untuk mengajukan permohonan SIUP bagi Persekutuan
Komanditer (CV) dan Firma (Fa);
a. Fotokopi KTP pemilik/penanggung jawab usaha;
b. Surat pernyataan dari permohonan tentang lokasi usaha;
c. Pas photo terbaru pemilik/penanggung jawab usaha ukuran 3 x 4
cm sebanyak 2 (dua) lembar; dan
d. Fotokopi akte notaris pendirian perusahaan yang telah didaftarkan
pada Pengadilan Negeri.67
67
BAB V
PENUTUP
A.Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan tentang Aspek Hukum Kegiatan Usaha
Penukaran Valuta Asing Bukan Bank yang Tidak Berbadan Hukum, maka dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Didalam sistem keuangan Indonesia, kedudukan Bank Indonesia
sebagai Bank Sentral yang sifatnya Independendimulai ketika sebuah
undang-undang baru, yaitu Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999
tentang Bank Indonesia, dinyatakan berlaku pada tanggal 17 Mei 1999.
Undang-undang ini memberikan status dan kedudukan sebagai suatu
lembaga negara independen dalam melaksanakan tugas dan
wewenangnya, bebas dari campur tangan pemerintah ataupun pihak
lainnya. Bank Indonesia mempunyai otonomi penuh dalam
merumuskan dan melaksanakan setiap tugas dan wewenangnya
sebagaimana ditentukan dalam undang-undang tersebut. Pihak luar
tidak dibenarkan mencampuri pelaksanaan tugas Bank Indonesia dan
Bank Indonesia juga berkewajiban untuk menolak atau mengabaikan
intervensi dalam bentuk apapun dari pihak manapun juga. Fungsi dari
Bank Indonesia secara umum adalah mengawasi penambahan atau
ekspansi dan pengurangan atau kontraksi jumlah uang yang beredar di
masyarakat, baik uang kartal maupun uang giral dan juga berfungsi
masalah transaksi keuangan pemerintah. Tujuan dari Bank Indonesia
sebagai Bank Sentral adalah, sesuai dengan Pasal 7 Undang-undang
Nomor 3 Tahun 2004 Tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor
23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia, yaitu mencapai dan
memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah yaitu
kestabilan nilai rupiah terhadap barang dan jasa diukur dengan atau
tercermin dari perkembangan nilai tukar rupiah terhadap mata uang
negara lain. Tujuan kestabilan nilai rupiah ini, yaitu untuk mendukung
pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan meningkatkan
kesejahteraan rakyat. Dalam rangka mencapai tujuan dari Bank
Indonesia tersebut, maka dilaksanakan dengan bentuk kebijakan
moneter secara berkelanjutan, konsisten, transparan, dan
mempertimbangkan kebijakan umum pemerintah bidang
perekonomian.
2. Peran Bank Indonesia terhadap Kegiatan Usaha Penukaran Valuta
Asing Bukan Bank adalah
a. Dimana Bank Indonesia menegaskan adanya kewajiban bagi
penyelenggara Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan
Bank (KUPVA BB) untuk memperoleh izin beroperasi. Ketentuan
perizinan tersebut tercantum dalam PBI no. 18/20/PBI/2016 dan
SE No. 18/42/DKSP perihal Kegiatan Usaha Penukaran Valuta
Asing Bukan Bank.
b. Pengaturan perizinan bagi KUPVA BB menjadi sangat penting
industri yang sehat dan efisien, fungsi pengaturan dan pengawasan
sangat diperlukan dalam mencegah dimanfaatkannya KUPVA BB
untuk pencucian uang, pendanaan terorisme, atau kejahatan
lainnya. Untuk itulah, penerbitan KUPVA BB dilakukan bersama
oleh Bank Indonesia, PPATK, BNN, dan Polri khususnya apabila
terdapat indikasi Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) baik yang
berasal dari kejahatan maupun narkoba.
3. Pelaku usaha yang berbadan hukum adalah Perseroan Terbatas (PT),
yayasan, koperasi, BUMN. Sedangkan pelaku usaha yang bukan
berbadan hukum adalah CV, firma, perusahaan perorangan (UD).
Untuk itu KUPVA Bukan Bank yang berbadan Hukum PT yang
pengaturannya berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No.
18/20/PBI/2016, ada pun KUPVA Bukan Bank yang tidak Berbadan
Hukum PT, yang mana dalam Kegiatan Usaha Penukaran Valuta
Asing yang tidak berbadan hukum PT ini adalah berbentuk CV
(comanditer venotschaap) atau Firma yang pengaturannya tidaklah
dari Peraturan Bank Indonesia, maka Aspek Hukum Kegiatan Usaha
Penukaran Valuta Asing Bukan Bank yang Tidak Berbadan Hukum
dalam hal perizinan mendirikan usaha diatur dari beberapa
Undang-undang atau keputusan seperti Kitab Undang – Undang-undang Hukum Dagang
( Wetboek van Koophandel voor Indonesie) S. 1847-23 yang mengatur
bahwa perseroan komanditer didirikan antara seseorang atau beberapa
orang persero yang bertanggung jawab secara tanggung-renteng dan
dalam akta pendirian yang dimuat dimuka notaris. Keputusan
Menperindag No. 408 Tahun 1997 mengatur perizinan KUPVA BB
dengan mendapatkan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dengan
menyampaikan surat permintaan TDUP kepada Kakandep yang
ditandatangani oleh pemilik/penanggung jawab perusahaan tersebut,
Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 9 tahun 2014 tentang
Penyelenggaraan Usaha Perindustrian dan Perdagangan mengatur
perizinan KUPVA BB dengan ketentuan mengajukan permohonan
kepada Walikota untuk memperoleh SIUP yang berisikan beberapa
syarat seperti fotocopy akte notaris pendirian perusahaan yang telah
didaftarkan pada Pengadilan Negeri.
B.SARAN
1. Bagi Pejabat Bank Indonesia agar lebih mempertimbangkan kembali
untuk dapat merevisi Pasal 11 ayat (3) huruf c Peraturan Bank
Indonesia No. 18/20/PBI/2016. Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11
ayat (3) huruf c bahwa untuk memperoleh izin dari Bank Indonesia
harus memenuhi jumlah modal disetor yang ditetapkan oleh Bank
Indonesia. Dalam Surat Edaran no 18/42/DKSP, jumlah nominal
modal yang disetor oleh Penyelenggara KUPVA BB sebesar Rp.
250.000.000,00 bagi calon Penyelenggara yang melakukan Kegiatan
Usaha di wilayah Kota Jakarta, Kota Batam, Kota Denpasar, dan
Bandung. Dan bagi Penyelenggara yang melakukan usaha diluar dari
wilayah seperti diatas jumlah nominalnya Rp. 100.000.000. Mungkin
tidak mengurus izin kepada Bank, karena nilai nominal modal yang
disetor terlalu besar bagi sebagian Penyelenggara KUPVA BB dan
juga nilai nominal tersebut tidak seimbang dengan hasil pendapatan
dari kegiatan usaha nya. Untuk itu kepada Pejabat Bank Indonesia agar
meringankan nilai nominal modal disetor tersebut. Supaya
Penyelenggara KUPVA BB dapat mengurus surat izinnya kepada
Bank Indonesia.
2. Bagi Penyelenggara KUPVA BB yang sanggup memenuhi nilai
Nominal Modal disetor tersebut dan ingin melanjutkan usahanya,
maka Penyelenggara KUPVA BB agar secepatnya juga memohon
surat perizinan kepada Bank Indonesia. Supaya Bank Indonesia lebih
mudah melakukan pengawasan dalam mencegah memanfaatkan
KUPVA BB dari pencucian uang, pendanaan terorisme atau kejahatan