• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aspek Hukum Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank yang tidak Berbadan Hukum Chapter III V

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Aspek Hukum Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank yang tidak Berbadan Hukum Chapter III V"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

PERAN BANK INDONESIA TERHADAP KEGIATAN USAHA PENUKARAN VALUTA ASING BUKAN BANK BERDASARKAN

PERATURAN BANK INDONESIA NO.18/20/PBI/2016

A.Pengertian Transaksi Valuta Asing

Adapun yang dimaksud dengan transaksi dalam kamus istilah

ekonomi, adalah suatu perjanjian antara dua pihak atau lebih yang

menimbulkan hak atau kewajiban menurut hukum, misalnya transaksi

jual-beli, sewa-menyewa, dan sebagainya.36

Dalam Ensiklopedia Umum, valuta diambil dari bahasa Italia yang

berarti nilai uang, kurs wesel, devisa atau alat-alat pembayaran luar

negeri.37

Dalam kamus besar bahasa Indonesia pengertian valas adalah nilai

uang, alat pembayaran yang dijamin oleh cadangan emas atau perak yang

ada di bank pemerintah.38

Sedangkan dalam Kamus Ekonomi Bisnis dan Perbankan, valuta

asing adalah mata uang (currency) negara lain atau kertas dagang

(commercial paper) yang dibayarkan dengan mata uang lain atau valuta

asing disebut juga Foreign Exchange, yaitu suatu pertukaran (exchange)

36

Wien’s Anorga, Kamus Istilah Ekonomi, Ed.Pertama, (Bandung: M2S Bandung, 2004), hlm. 516.

37

Yayasan Kanisius, Valuta, (Yogyakarta: Ensiklopedia Umum, 1997),hlm. 146.

38

(2)

mata uang dan atau kertas dagang suatu negara dengan mata uang negara

lain.39

Adapun transaksi valuta asing dapat diartikan sebagai kesepakatan

atau perjanjian antara dua pihak untuk mempertukarkan (jual/beli) mata

uang yang dimilikinya. Istilah yang lebih umum dalam pertukaran dalam

valuta tersebut adalah jual-beli valuta asing.40

Nilai tukar (exchange rate) atau kurs valuta asing itu sendiri adalah

harga relative mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain.41

Perbandingan nilai mata uang antar negara terkumpul dalam suatu

bursa atau pasar yang bersifat internasional dan terikat dalam suatu

kesepakatan bersama yang saling menguntungkan. Nilai mata uang suatu

negara dengan negara lainnya ini berubah (berfluktuasi) setiap saat sesuai

volume permintaan dan penawarannya. Adanya permintaan dan Forex kependekan dari Foreign Exchange, atau pertukaran dari

nilai mata uang yang berbeda, kegiatan forex tanpa disadari maupun sadar,

sering dilaksanakan oleh semua orang didunia, bila seseorang bepergian

keluar negeri pasti ia menukarkan mata uangnya dengan mata uang negara

yang ia tuju. Atau contoh lain akiibat dari kegiatan ekspor-impor,

kebutuhan pasar serta institusi bank, pasti melakukan kegiatan

tukar-menukar mata uang.

39

Gurtno, Kamus Ekonomi Bisnis dan Perbankan, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2004), hlm, 161.

40

Heli Charisma Berlianta, Mengenal Valuta Asing, Cet. I, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2004), hlm, 37.

41

(3)

penawaran inilah yang menimbulkan transaksi mata uang. Yang secara

nyata hanyalah tukar-menukar mata uang yang berbeda nilai.

Yang dimaksud dengan valuta asing adalah mata uang luar negeri

seperti dolar Amerika, poundsterling Inggris, ringgit Malaysia dan

sebagainya. Apabila antara negara terjadi perdagangan internasional maka

tiap negara membutuhkan valuta asing untuk alat bayar luar negeri yang

dalam dunia perdagangan disebut devisa. Misalnya eksportir Indonesia

akan memperoleh devisa dari hasil ekspornya, sebaliknya importir

Indonesia memerlukan devisa untuk mengimpor dari luar negeri.42

Maka kenaikan 1 $ USA selama 20 hari adalah Rp.

150,-Adapun yang dimaksud dengan Risiko valuta asing adalah risiko

yang disebabkan oleh perubahan kurs valuta asing di pasaran yang tidak

sesuai lagi dengan yang diharapkan, terutama pada saat dikonversikan

dengan mata uang domestic.

Contoh :

Misalkan pada tanggal 10 Maret 2006; 1 $ USA = Rp. 9.400,-

Pada tanggal 30 Maret 2006 ; 1 $ USA =Rp. 9.550,-

43

42

A.W.J. Tupanno, et. al. Ekonomi dan Koperasi, (Jakarta: Depdikbud, 1982), hlm, 76.

43

(4)

B. Mengenal Transaksi Valuta Asing

1. Tujuan dan Fungsi Transaksi Valuta Asing

Tujuan transaksi valuta asing terbagi dua, yaitu:

1. Tujuan transaksi valuta asing bagi bank adalah sebagai berikut:

a. Memberikan alternatif (kemungkinan-kemungkinan) yang paling baik

kepada nasabah sehubungan dengan adanya penyeberangan suatu mata

uang kepada mata uang yang lain, misalnya memberikan rate yang

kompetitif, bersedia melakukan transaksi dalam jumlah dan jatuh

tempo yang diinginkan nasabah.44

b. Untuk memelihara posisi bank terhadap atas mata uang asing.

c. Menghasilkan laba bagi bank.

2. Sedangkan tujuan dari transaksi valuta asing bagi nasabah atau investor

adalah untuk mencari keamanan dan likuiditas disamping peluang untuk

memperoleh pendapatan bunga. Hal tersebut karena dana yang

diinvestasikan adalah kelebihan dana sementara dan biasanya dibutuhkan

dalam waktu singkat untuk membayar pajak, gaji, dividen, dan sebagainya.

Dengan alasan ini, maka investor pasar uang sangat sensitive terhadap

risiko.45

Adapun fungsi transaksi valas adalah sebagai berikut:

44

Jopie Jusuf, Panduan Dasar Untuk Account Officer, Cetakan Pertama, (Jakarta: Intermedia Jakarta, 1992), hlm. 80.

45

(5)

1. Transfer daya beli

Transfer daya beli (transfer of purchasing power) sangat

diperlukan terutama dalam perdagangan internasional dan transaksi modal

yang biasanya melibatkan pihak-pihak yang tinggal di negara yang

memiliki mata uang yang berbeda.

2. Penyediaan Kredit

Pengiriman barang antar negara dalam perdagangan internasional

membutuhkan waktu. Oleh karena itu, harus ada suatu cara untuk

membiayai barang-barang dalam perjalanan pengiriman tersebut termasuk

setelah barang sampai ketempat tujuan yang biasanya memerlukan

beberapa waktu untuk kemudian dijual kepada pembeli.

Salah satu contoh sumber alternative yang pertama dalam

penyediaan kredit adalah dalam hal transaksi mobil Toyota, eksportir

Jepang memberikan kredit kepada importer Australia dengan atau tanpa

dikenakan bunga. Sumber yang kedua adalah importir Australia membayar

tunai biaya pengapalan dari Jepang dan membiayai mobil-mobil importer

tersebut dengan perpanjangan pembayaran yang normal. Sumber yang

ketiga adalah pasar valas menyediakan sumber kredit ketiga seperti

banker’s acceptance dan L/C untuk membiayai perdagangan.

3. Mengurangi risiko valas

Importir Australia dan eksportir Jepang dala transaksi tersebut

tidak akan bersedia mengambil risiko terhadap fluktuasi kurs.

Kedua-duanya mengharapkan memperoleh keuntungan dalam usaha perdagangan

(6)

diperkirakan, misalnya terjadi perubahan kurs yang tiba-tiba sehingga

mempengaruhi besarnya keuntungan yang telah diperkirakan.46

1. Ekspor lebih besar daripada impor

Menurut Haryajid dan Anjar, adapun Faktor yang dapat mempengaruhi

menguatnya Kurs Valuta Asing dalam suatu Negara yaitu :

2. Neraca pembayaran surplus

3. Neraca pertumbuhan surplus

4. Pertumbuhan ekonomi meningkat

5. Tingkat inflasi yang rendah dan lain-lain.

Disamping lima faktor ini sebenarnya ada faktor lain yang harus ikut

dimiliki oleh suatu negara, yaitu :

a. Cadangan valas yang mencukupi. Cadangan valas ini mencakup dalam

berbagai bentuk mata uang asing, termasuk mata uang asing yang dominan

seperti dollar Amerika Serikat. Disamping cadangan valas juga memiliki

ketersediaan emas (gold) dalam jumlah yang representatif.

b. Kualitas konstruksi manajemen keuangan internasional yang memiliki daya

tahan secara jangka panjang.

c. Kualitas Sumber Daya Manusia ( SDM ) yang siap bangkit kembali jika

suatu saat terjadi krisis moneter internasional. Terutama SDM para pebisnis

yang selama ini dianggap sebagai pelaku ekonomi.

46

(7)

d. Dewan moneter nasional yang dibentuk oleh pemerintah yang suatu negara

diisi oleh mereka-mereka yang memiliki reputasi internasional dan jauh

dari intervensi para politisi serta para pebisnis. Sehingga mereka bisa

bekerja secara independent.

e. Jumlah utang dalam bentuk foreign currency baik oleh pemerintah maupun

swasta adalah kecil. Dalam artian masuk dalam jumlah yang terkendali

secara jangka panjang.47

2 . Prinsip Transaksi Valuta Asing

Prinsip pokok dalam transaksi valas adalah sebagai berikut:

a. Pengertian kurs jual dan kurs beli selalu dilihat dari kepentingan atau

kepentingan pihak bank atau Money Changer atau pedagang valas.

b. Kurs jual selalu lebih tinggi daripada kurs beli atau sebaliknya, kurs beli

selalu lebih rendah dari kurs jual.

c. Kurs jual/kurs beli suatu mata uang (valas) adalah sama dengan kurs

beli/kurs jual mata uang (valas) lawannya. Dengan kata lain,kurs jual/kurs

beli USD sama dengan kurs beli/kurs jual Rupiah.48

The Fei Ming menjelaskan tentang model penentuan nilai tukar yang

dipakai, yaitu:

a. Traditional Theories

Traditional Theories terdiri dari Teori Purchasing Power Parity dan Teori

Elastisitas :

47

Irham Fahmi, Op.cit., hlm. 283-284.

48

(8)

1.Teori Purchasing Power Parity

Teori ini merupakan teori tertua dan merupakan teori terpopuler. Teori ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1556 oleh Martin de Azpilcueta

Navarro. Teori ini berbunyi sebagai berikut:

“The price of a good in one country should equal the price of the same

good in another country, exchanged at the current rater”.

Menurut The Fei Ming teori ini menyatakan bahwa harga barang di suatu

negara harus sama dengan harga barang serupa di negara lain sesuai dengan

tingkat nilai tukar yang berlaku antar kedua negara tersebut. Terdapat dalam

dua versi dalam Teori Purchasing Power Parity :

a)Versi Absolut

“The exchange rate simply equals the ratio of the two countries

general price level, which is the weighted average of all goods produced in a

coutry.”

Menurut The Fei Ming dalam versi absolut, nilai tukar sama

dengan perbandingan antara tingkat harga umum yang berlaku di dua negara,

yang merupakan rata-rata tertimbang (weighted average) dari seluruh produk

yang dihasilkan kedua negara.

(9)

Versi Relatif

Under the relative version, the percentage change in the exchange

rate from a given based period must equal the difference between the

percentage change in the domestic price level and the percentage change in

foreign price level”.

Menurut The Fei Ming dalam versi relatif, persentase perubahan

nilai tukar pada waktu yang ditentukan sebagai periode dasar harus sama

dengan perbedaan antara persentase perubahan harga (tingkat inflasi)

domestic dengan persentase perubahan harga (tingkat inflasi) di luar negeri

pada periode tersebut.

2.Teori Elastisitas

“Exchange rate is simly the price of foreign exchange which maintains the balance payments in equilibrium”.

Menurut The Fei Ming, teori elastisitas mengatakan bahwa nilai tukar adalah

harga dari valuta asing untuk mempertahankan neraca pembayaran

internasional suatu negara agar tetap berada pada tingkat ekuilibrium.

b. Modern Monetary Theories on Short Term Exchange Rate Volatility

“Modern Monetary Theories on Short Term Exchange Rate Volatility take

into consideration the short term capital markets roles and the long term

impact of commodity markets on foreign exchange”. The Fei Ming

(10)

jangka pendek dan peran bursa komoditi dalam jangka panjang terhadap

fluktuasi nilai tukar.

c. Synthesis of Traditional and Modern Monetary Views

Since the financial markets adjust faster than the commodities markets,

the exchange rate tends to be affected in the short term by the capital market

changes, and by the commodities changes in the long term”. The Fei Ming

menjelaskan menurut teori ini, dinamika perubahan yang terjadi di pasar keuangan

(pasar modal dan pasar uang) lebih cepat jika dibandingkan dengan perubahan di

pasar barang/komoditi.49

Contoh: bila kontrak ditutup pada tanggal 18 Desember

1991 maka penyerahan dana dilakukan pada tanggal 20 Desember1991.

Bila dua hari setelah tanggal kontrak jatuh pada hari libur, maka tanggal

penyerahan diundurkan sampai hari pertama kerja setelah hari libur

tersebut. Misalnya kontrak tanggal 7 Maret 1991 (kamis), tanggal

penyerahan adalah 11 Maret 1991 (Selasa), karena tanggal 9 Maret adalah 3. Jenis-jenis Transaksi Valuta Asing

a.Transaksi Spot

Transaksi spot (spot transaction) adalah jual/beli valuta

untuk penyerahan yang dilakukan dua hari kerja setelah tanggal kontrak

(persetujuan).

49

(11)

hari Sabtu dimana pasar valuta tidak beroperasi, dan tanggal 10 Maret 1991

merupakan hari Minggu.50

a. Hedging/covering, adalah suatu usaha untuk menghindari risiko yang

ditimbulkan dari fluktuasi nilai tukar valuta (hedging risk). Contoh: PT.

X memiliki kewajiban dalam mata uang USD 90 hari yang akan datang

(katakanlah untuk keperluan negosiasi L/C impor). Saat ini terjadi

kecenderungan nilai tukar USD makin kuat (Rupiah makin melemah).

Untuk itu, PT. X dapat melakukan pembelian USD forward 90 hari.

Misalnya harga spot sekarang adalah 1797 dan kurs forward-nya adalah

1837. Dengan menutup forward contract saat ini, PT. X tidak perlu

khawatir terhadap kenaikan USD yang terus-menerus, karena pada saat

tanggal penyerahan tiba, PT. X tetap hanya membayar kurs 1837 untuk

mendapatkan USD-nya. Walaupun disebut “menghindari risiko”,

tindakan hedging ini belum tentu menguntungkan. Misalnya PT. X b. Transaksi Forward

Transaksi forward (forward transaction/transaksi berjangka) adalah

jual beli valuta untuk penyerahan beberapa saat di masa yang akan datang

di mana harga untuk penyerahan di masa yang akan datang tersebut telah

ditemukan pada saat kontrak dibuat.

Tujuan dilakukannya forward transaction antara lain untuk :

50

(12)

telah menutup transaksi forward USD 90 hari dengan kurs 1837. Bila

pada saat jatuh tempo ternyata USD adalah 1900 maka PT. X untung

sebesar 63 point per USD (sebab PT. X tetap membayar 1837), tetapi

bila ternyata kurs USD pada saat itu adalah 1800, maka PT. X

sebenarnya rugi sebesar 37 point karena ia tetap harus membayar 1837

setiap USD yang dibeli.

b. Spekulasi, yaitu untuk memperoleh keuntungan dari kenaikan nilai

tukar dua mata uang. Contoh: Tuan A memperkirakan bahwa akan

terjadi devaluasi (penurunan nilai tukar satu mata uang domestik

terhadap mata uang asing tertentu yang disebabkan oleh kebijakan

pemerintah yang berlaku dalam sistem nilai tukar tetap) dalam waktu 90

hari lagi. Ia dapat mengambil untung dari hal tersebut jika perkiraannya

memang menjadi kenyataan dengan membeli USD forward selama 90

hari. Misalnya ia menutup forward contractdengan kurs 1850, bila

benar-benar terjadi devaluasidan kurs menjadi 2000, tuan A akan

memperoleh laba sebesar 150 (2000-1850) per USD.51

c. Transaksi Swap

Transaksi swap diartikan sebagai pertukaran dua valuta dalam satu

periode tertentu melalui mekanisme pembelian dengan tanggal valuta spot

sekaligus penjualan kembali valuta tersebut di waktu yang akan datang

(tanggal valuta forward) atau penjualan valuta di tanggal valuta spot

51

(13)

sekaligus pembelian kembali valuta tersebut di waktu yang akan datang

(tanggal valuta forward).52

a. Transaksi Swap Jual/Beli atau transaksi Swap Sell/Buy, Adalah

transaksi swap dimana transaksi spotnya berupa transaksi spot jual dan

transaksi forwardnya berupa transaksi forward beli. Transaksi swap ini

dapat juga disebut dengan transaksi Swap S/B.

Hal yang terpenting dalam transaksi swap adalah posisi transaksi

spot harus berlawanan dengan posisi transaksi forwardnya.Sebagai contoh

dalam transaksi swap, apabila transaksi spotnya berupa transaksi spot beli

maka posisi transaksi forwardnya haruslah transaksi forward jual.

Sebaliknya apabila posisi transaksi spotnya adalah berupa transaksi spot

jual, maka posisi transaksi forwardnya harus berupa transaksi forward beli.

Dilihat dari posisi transaksi spot dan posisi transaksi forward maka

transaksi swap ada dua macam:

b. Transaksi Swap Beli/ Jual atau transaksi Swap Buy/Sell, adalah

transaksi swap dimana transaksi spotnya berupa transaksi spot beli dan

transaksi forwardnya berupa transaksi forward jual. Transaksi swap ini

dapat juga disebut dengan transaksi Swap B/S.53

Kegunaan transaksi swap antara lain :

a. Hedging/lindung nilai merupakan kegiatan untuk melindungi kekayaan

perusahaan dari gejolak harga yang terjadi di pasar. Misal PT. Titan

52

Heli Charisma Berlianta, Op.cit, hlm. 138.

53

(14)

Internasional mendapat utang luar negeri sebesar USD 1.000.000,-

jangka waktu utang tersebut adalah satu tahun. Jadi tahun depan PT.

Titan Internasional harus mengembalikan utang tersebut dalam bentuk

USD tentunya. Utang tersebut rencana digunakan untuk memperkuat

modal kerja PT. Titan Internasional. Modal kerja yang diperlukan adalah

dalam valuta Rupiah, maka PT. Titan Internasional harus menukar dana

pinjaman yang diterimanya dalam bentuk USD ke dana Rupiah. PT.

Titan Internasional dapat menjual USD yang diterima sekarang dan

digunakan untuk modal kerja, satu tahun kemudian saat PT. Titan

Internasional harus membayar utangnya, dia bisa membeli USD untuk

membayar utangnya. Jika cara ini digunakan oleh PT. Titan

Internasional, maka dia akan menghadapi risiko kenaikan kurs USD/IDR

pada saat membeli kembali valuta USD satu tahun yang akan datang.

Pada saat itu kurs USD/IDR dapat naik sehingga mengakibatkan PT.

Titan Internasional dapat menanggung kerugian karena selisih kurs pada

saat dia menjual USD-nya dengan kurs pada saat dia membeli kembali

USD tersebut untuk membayar utang.

Untuk menghindari hal tersebut, PT. Titan Internasional dapat

melakukan transaksi swap. Pada saat PT. Titan Internasional menerima

utang tersebut dia melakukan transaksi swap sell/buy dengan jangka

satu tahun. Dengan melakukan transaksi swap sell/buy berarti PT.

Titan Internasional menjual USD yang diterimanya sekarang sehingga

dapat digunakan sebagai tambahan modal kerja sekaligus dia membeli

(15)

ditentukan sekarang. Karena kurs sudah ditentukan sekarang maka

apabila kemudian satu tahun yang akan datang ternyata kurs USD/IDR

naik tinggi maka hal ini tidak merugikan PT. Titan Internasional

melakukan transaksi swap ini dapat dikategorikan sebagai tindakan

hedging atau lindung nilai yaitu tindakan melindungi posisinya yang

muncul dari utang dari kemungkinan kerugian akibat pergerakan kurs

di pasar valuta asing.

b. Trading atau mencari keuntungan, dimana transaksi swap dapat juga

digunakan sebagai salah satu sarana dalam mencari keuntungan karena

pergerakan kurs di pasar valuta asing.

c. Alat penyediaan dana dalam valuta tertentu, contohnya PT. Titan

Internasional saat ini kelebihan dana USD yang didapat dari hasil ekspor

barang. Dana USD ini sebulan yang akan datang digunakan untuk

melunasi impor mesin produksi baru dari luar negeri. Saat ini pula PT.

Titan Internasional memerlukan dana Rupiah untuk membeli salah satu

bahan baku dari dalam negeri. Diperkirakan dana rupiah ini akan

kembali ke kas PT. Titan Internasional pada satu bulan yang akan

datang. Dengan melihat kondisinya tersebut. PT. Titan Internasional

dapat melakukan transaksi swap sell/buyuntuk mendapatkan dana rupiah

dan memanfaatkan kelebihan dana USD yang ada padanya.

d. Transaksi Option

Option secara umum dapat diartikan sebagai suatu instrument

keuangan yang memberi pemegangnya hak untuk membeli atau menjual

(16)

suatu waktu tertentu di masa yang akan datang dan atau sebelumnya

(exercise date) dengan harga yang sudah ditentukan (exercise price/strike

price).54

a. Option memberi pemegangnya hak bukan kewajiban untuk membeli

atau menjual sesuatu. Pemegang option tidak bisa dipaksa untuk

membeli atau menjual satu barang yang diperjanjikan tersebut. Beberapa point penting yang menggambarkan transaksi option yaitu:

b. Hak untuk membeli atau menjual satu barang tersebut hanya bisa

dilaksanakan pada satu waktu tertentu di masa yang akan datang atau

sebelumnya. Tergantung dari jenis option yang dipegang, ada option

yang mengatur bahwa hak untuk membeli atau menjual satu barang bisa

dilaksanakan pada satu waktu tertentu di masa yang akan datang tidak

dapat dilaksanakan sebelum waktu yang ditentukan tersebut. Ada pula

jenis option yang hak untuk membeli tau menjualnya dapat

dilaksanakan sebelumnya.

c. Apabila pemegang option melaksanakan haknya untuk membeli atau

menjual satu barang tertentu maka barang yang dibeli atau dijual

tersebut sudah ditentukan sebelumnya (biasanya ditentukan pada saat

transaksi option dilakukan) tidak peduli berapa harga pasar barang

tersebut saat pelaksanaan hak. Jadi harga yang dipakai saat pelaksanaan

hak sudah ditentukan sebelumnya dan bukan harga pasar barang

tersebut saat itu.

54

(17)

Contoh 1: Bank A mengeluarkan option yang memberikan

pemegangnya hak untuk membeli (Call Option) USD/IDR sebesar USD

1.000.000,- dengan kurs 10.000,- pada satu tahun yang akan datang.

Dengan memegang option yang dikeluarkan oleh Bank A tersebut maka

satu tahun yang akan datang orang yang memegang option tersebut

berhak (bukan keharusan) membeli USD 1.000.000,- ke Bank A dengan

harga atau kurs 10.000,- tidak perduli harga atau kurs USD/IDR yang

berlaku di pasar saat itu. Contoh 2 : Bank B mengeluarkan option yang

memberikan pemegangnya hak untuk menjual (Put Option) USD/IDR

sebesar USD 1.000.000,- dengan kurs 10.000,- pada satu tahun yang

akan datang. Dengan memegang option yang dikeluarkan oleh Bank B

tersebut maka satu tahun yang akan datang orang yang memegang

option tersebut berhak (bukan keharusan) menjual USD 1.000.000,- ke

Bank B dengan harga atau kurs 10.000,- tidak perduli harga atau kurs

USD/IDR yang berlaku di pasar saat itu.55

Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB), atau sering disebut juga dengan money changer, merupakan kegiatan usaha yang

meliputi kegiatan penukaran yang dilakukan dengan mekanisme jual dan beli

Uang Kertas Asing (UKA) serta pembelian Cek Pelawat. KUPVA BB

merupakan tempat alternative selain Bank untuk menukarkan valuta asing. C.Peran Bank Indonesia terhadap Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing

Bukan Bank yang tidak Berbadan Hukum

55

(18)

Dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai KUPVA BB, salah satu kewajiban

KUPVA BB adalah adanya badan hukum Perseroan Terbatas yang seluruh

sahamnya dimiliki oleh WNI.

Bank Indonesia menegaskan adanya kewajiban bagi penyelenggara

Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB) untuk

memperoleh izin beroperasi. Berdasarkan peraturan Bank Indonesia, KUPVA

BB yang saat ini belum memperoleh izin dari Bank Indonesia memiliki

kesempatan untuk segera mengajukan izin paling lambat tanggal 7 April 2017.

Setelah berakhirnya batas waktu tersebut, Bank Indonesia akan mendukung dan

bekerja sama dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Pusat Pelaporan

dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Badan Narkotika Nasional (BNN),

dalam operasi penerbitan. Ketentuan perizinan tersebut tercantum dalam PBI

no. 18/20/PBI/2016 dan SE No. 18/42/DKSP perihal Kegiatan Usaha

Penukaran Valuta Asing Bukan Bank.56

Pengaturan perizinan bagi KUPVA BB menjadi sangat penting untuk

memudahkan pengawasan. Selain untuk pengembangan industry yang sehat

dan efisien, fungsi pengaturan dan pengawasan sangat diperlukan dalam

mencegah dimanfaatkannya KUPVA BB untuk pencucian uang, pendanaan

terorisme, atau kejahatan lainnya, (extraordinary crime). Untuk itulah,

penerbitan KUPVA BB dilakukan bersama oleh Bank Indonesia, PPATK,

BNN, dan Polri khususnya apabila terdapat indikasi Tindak Pidana Pencucian

Uang (TPPU) baik yang berasal dari kejahatan maupun narkoba

(19)

BAB IV

ASPEK HUKUM KEGIATAN USAHA PENUKARAN VALUTA ASING BUKAN BANK YANG TIDAK BERBADAN HUKUM

A. Pengaturan Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No 18/20/PBI/2016

Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/20/PBI/ DKSP tanggal 7

Oktober 2016 perihal Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank,

selanjutnya disebut PBI KUPVA BB, diterbitkan dalam rangka

penyempurnaan pengaturan PBI No. 16/15/PBI/2014 tentang Kegiatan Usaha

Penukaran Valuta Asing Bukan Bank dan harmonisasi dengan beberapa

peraturan lain yang diterbitkan Bank Indonesia.

Tujuan penerbitan PBI ini adalah untuk memberikan panduan yang

lebih jelas dalam penyelenggaraan kegiatan usaha penukaran valuta asing

oleh lembaga bukan bank. Penyempurnaan ketentuan ini diharapkan dapat

meningkatkan tata kelola yang baik serta mendorong perkembangan industry

KUPVA BB menjadi lebih sehat dan efisien. Penyempurnaan yang dilakukan

antara lain terhadap :

1. cakupan kegiatan usaha

2. underlying transaksi

(20)

4. tata kelolaa dan perlindungan konsumen, dan

5. kegiatan jual beli UKA di wilayah perbatasan dan kerjasama dengan hotel.

Peraturan Bank Indonesia No. 18/20/PBI/2016 tentang Kegiatan

Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank dalam pertimbangannya pada

huruf a menyatakan bahwa dalam rangka mencapai dan memelihara

kestabilan nilai Rupiah serta menjaga kelangsungan ekonomi nasional,

dibutuhkan dukungan pasar keuangan termasuk pasar valuta asing

domestik yang sehat.57

1. Uang Kertas Asing yang selanjutnya disingkat UKA atau dapat disebut

Banknotes adalah uang kertas dalam valuta asing yang resmi

diterbitkan oleh suatu negara di luar Indonesia yang diakui sebagai alat

pembayaran yang sah negara yang bersangkutan (legal tender).

Untuk itu perlu dilakukan pemurnian kegiatan

penukaran valuta asing. Pemurnian kegiatan tersebut nantinya dapat

menciptakan iklim usaha yang sehat dalam mendukung pertumbuhan

industry penukaran valuta asing dan meningkatkan efektivitas pengawasan

sistem pembayaran yang dilakukan oleh BI.

Menurut Pasal 1 Peraturan BI No. 18/20/PBI/2016 yang dimaksud

dengan :

2. Cek Pelawat atau dapat disebut Traveller’s Cheque adalah cek

perjalanan dalam valuta asing yang dapat digunakan sebagai alat

pembayaran.

57

(21)

3. Perseoran Terbatas adalah badan hukum sebagaimana dimaksud dalam

undang-undang yang mengatur mengenai perseroan terbatas.

4. Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing yang selanjutnya disingkat

KUPVA adalah kegiatan jual dan beli UKA, serta pembelian Cek

Pelawat.

5. Penyelenggara KUPVA Bukan Bank atau dapat disebut Money

Changer adalah badan usaha bukan bank berbadan hukum Perseroan

Terbatas yang melakukan KUPVA.

6. Nasabah adalah pihak yang menggunakan jasa Penyelenggara KUPVA

Bukan Bank.

7. Direksi adalah Direksi sebagaimana dimaksud dalam undang-undang

yang mengatur mengenai perseroan terbatas.

8. Dewan Komisaris adalah Dewan Komisaris sebagaimana dimaksud

dalam undang-undang yang mengatur mengenai perseroan terbatas.

9. Pemegang Saham adalah badan hukum dan/atau orang perseorangan

yang memiliki saham Penyelenggara KUPVA Bukan Bank.

10.Underlying Transaksi atau dapat disebut Underlying Transaction

adalah kegiatan yang mendasari pembelian UKA oleh Nasabah.58

Adapun perizinan dalam Penyelenggara Kegiatan Usaha Penukaran

Valuta Asing Bukan Bank sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11

Peraturan Bank Indonesia No. 18/20/PBI/2016 tentang Kegiatan Usaha

Penukaran Valuta Asing Bukan Bank bahwa :

(22)

(1) Badan Usaha Bukan Bank yang akan melakukan kegiatan usaha

sebagai Penyelenggara KUPVA Bukan Bank wajib terlebih dahulu

memperoleh izin dari Bank Indonesia.

(2) Direksi, Dewan Komisaris, dan pemegang saham dari badan usaha

bukan bank sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib terlebih dahulu

memperoleh persetujuan dari Bank Indonesia.

(3) Untuk memperoleh izin dari Bank Indonesia sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) badan usaha bukan bank harus memenuhi persyaratan

sebagai berikut :

a. Berbadan hukum Perseroan Terbatas yang seluruh sahamnya

dimiliki oleh:

1. Warga negara Indonesia; dan/atau

2. Badan usaha yang seluruh sahamnya dimiliki oleh warga

negara Indonesia;

b. Mencantumkan dalam anggaran dasar perseroan bahwa maksud

dan tujuan perseroan adalah melakukan kegiatan jual beli UKA dan

pembelian Cek Pelawat;

c. Memenuhi jumah modal disetor yang ditetapkan oleh Bank

Indonesia; dan

d. Modal disetor tidak berasal dari dan/atau untuk tujuan pencucian

uang (money laundering).

(4) Permohonan izin sebagai Penyelenggara KUPVA Bukan Bank

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertulis oleh

(23)

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara permohonan

izin sebagai Penyelenggara KUPVA Bukan Bank diatur dalam Surat

Edaran Bank Indonesia.59

Jumlah modal disetor yang ditetapkan oleh Bank Indonesia

sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 ayat (3) huruf c dalam Peraturan

Bank Indonesia No. 18/20/PBI/2016 tentang Kegiatan Usaha Penukaran

Valuta Asing Bukan Bank adalah paling sedikit sebesar:

a. Rp. 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta Rupiah), bagi calon

Penyelenggara yang akan melakukan kegiatan usaha diwilayah Kota

Administrasi Jakarta Timur, Kota Administrasi Jakarta Barat,Kota

Administrasi Jakarta Pusat, Kota Administrasi Jakarta Utara, Kota

Administrasi Jakarta Selatan, Kota Batam, Kota Denpasar, dan

Kabupaten Bandung; atau

b. Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah), bagi calon penyelenggara

yang akan melakukan kegiatan usaha di luar wilayah sebagaimana

dimaksud dalam huruf a;

Dalam hal perizinan Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing

Bukan Bank yang dilakukan oleh Penyelenggara, maka didalam Pasal 12

Peraturan Bank Indonesia no. 18/20/PBI/2016 izin sebagai Penyelenggara

KUPVA Bukan Bank sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1)

diberikan oleh Bank Indonesia melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :

(24)

a. Penelitian pemenuhan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal

11 ayat (3);

1. Bank Indonesia melakukan penelitian terhadap kesesuain dan

kebenaran dokumen pendirian dan pengesahan badan hukum,

kecukupan dan kesiapan organisasi, kecukupan modal disetor, serta

kondisi dan kesiapan keuangan perusahaan sesuai persyaratan.

2. Apabila berdasarkan hasil penelitian sebagaimana dimaksud dalam

poin 1 terdapat dokumen yang tidak benar atau tidak sesuai, Bank

Indonesia menginformasikan secara tertulis kepada calon

Penyelenggara untuk memperbaiki dokumen dimaksud.

3. Calon Penyelenggara harus menyampaikan kembali kepada Bank

Indonesia dokumen yang telah diperbaiki dalam jangka waktu

paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal surat

pemberitahuan disampaikan oleh Bank Indonesia.

4. Dalam hal sampai dengan jangka waktu sebagaimana dimaksud

dalam poin 3 calon penyelenggara belum menyampaikan dokumen

yang telah diperbaiki maka calon Penyelenggara dinyatakan telah

membatalkan permohonannya.

b. Penelitian pemenuhan persyaratan sebagai anggota Direksi, anggota

Dewan Komisaris, dan pemegang saham sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 19 dan Pasal 21;

1. Bank Indonesia melakukan penelitian terhadap pemenuhan

persyaratan anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris, dan

(25)

2. Dalam hal berdasarkan hasil penelitian sebagaimana dimaksud

dalam poin 1 calon anggota Direksi, calon anggota Dewan

Komisaris, dan calon pemegang saham yang diajukan dinilai tidak

memenuhi persyaratan, calon Penyelenggara harus melengkapi

atau menambah dokumen, menyelesaikan permasalahan terkait

dengan pemenuhan persyaratan, dan/atau melakukan penggantian

calon anggota Direksi, calon anggota Dewan Komisaris, dan calon

pemegang saham yang diajukan, paling lama 45 (empat puluh

lima) hari kerja setelah tanggal surat pemberitahuan.

c. Pemeriksaan lokasi tempat usaha calon Penyelenggara KUPVA Bukan

Bank;

1. Bank Indonesia melakukan pemeriksaan lokasi dalam rangka

memastikan kesiapan operasional calon Penyelenggara sesuai

persyaratan sebagaimana dimaksud dalam butir C.1.b.3 antara lain

kesiapan sarana dan prasarana serta mekanisme dan prosedur

dalam melakukan kegiatan usaha.

2. Dalam hal berdasarkan pemeriksaan lokasi sebagaimana dimaksud

dalam poin 1, calon Penyelenggara dinilai tidak memenuhi

kesiapan operasional, calon Penyelenggara harus melengkapi

persyaratan kesiapan operasional paling lama 20 (dua puluh) hari

kerja setelah tanggal surat pemberitahuan.

3. Dalam hal calon Penyelenggara tidak melengkapi persyaratan

dalam batas waktu sebagaimana dimaksud dalam poin 2, calon

(26)

d. Penyuluhan ketentuan kepada anggota Direksi, anggota Dewan

Komisaris, dan pemegang saham calon Penyelenggara KUPVA Bukan

Bank ;

1. Bank Indonesia menyelenggarakan penyuluhan dalam rangka

menginformasikan ketentuan terkait dengan penyelenggara

kegiatan usaha penukaran valuta asing bukan bank dan

meningkatkan pemahaman calon Penyelenggara dalam

menerapkan ketentuan dan menjalankan kegiatan usaha.

2. Bank Indonesia akan menentukan tanggal pelaksanaan penyuluhan

sebagaimana dimaksud dalam poin 1.

3. Dalam hal anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris, dan

pemegang saham tidak menghadiri penyuluhan ketentuan pada

tanggal yang telah ditentukan oleh Bank Indonesia sebagaimana

dimaksud dalam poin 2 maka pelaksanaan penyuluhan ketentuan

dapat dijadwalkan ulang paling lama 20 (dua puluh) juta hari kerja

setelah tanggal yang telah ditentukan tersebut.

4. Penjadwalan ulang sebagaimana dimaksud dalam poin 3 hanya

dilakukan dalam hal Bank Indonesia menyetujui alasan

ketidakhadiran anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris,

dan/atau pemegang saham yang disampaikan secara tertulis.

5. Dalam hal anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris, dan/atau

pemegang saham tidak menghadiri penyuluhan ketentuan yang

telah dijadwalkan ulang sebagaimana dimaksud dalam poin 3 atau

(27)

sebagaimana dimaksud dalam poin 4, calon Penyelenggara

dinyatakan telah membatalkan permohonannya.

Kegiatan usaha yang dilakukan oleh Penyelenggara KUPVA

Bukan Bank meliputi :

1. Kegiatan penukaran yang dilakukan dengan mekanisme jual

dan beli UKA, mekanisme sebagai berikut :

a. Penyerahan UKA wajib dilakukan secara fisik, baik

penyerahan UKA dari Penyelenggara kepada Nasabah,

maupun penyerahan UKA dari Nasabah kepada

Penyelenggara,

b. Penyerahan Rupiah dari Nasabah kepada Penyelenggara

dan penyerahan Rupiah dari Penyelenggara kepada

Nasabah dapat dilakukan secara fisik atau transfer intrabank

dan antarbank, dan

c. Dalam hal penyerahan Rupiah, baik dalam rangka jual

maupun beli UKA, dilakukan melalui transfer sebagaimana

dimaksud dalam huruf b maka transfer harus ditujukan

kepada atau berasal dari rekening atas nama :

1) Penyelenggara, dan

2) Nasabah.

(28)

Kegiatan usaha yang dilakukan oleh Penyelenggara KUPVA

Bukan Bank selain dari yang disebutkan diatas sebagaimana diatur dalam

Pasal 2 ayat (2) Peraturan Bank Indonesia No. 18/20/PBI/2016 adalah

penyelengara KUPVA Bukan Bank dapat pula melakukan kegiatan usaha

lain yang memiliki keterkaitan dengan penyelenggaraan KUPVA

sepanjang telah diatur dalam ketentuan Bank Indonesia.

Sebagaimana yang diatur dalam Pasal 2 ayat (6) juga mengatakan

dalam hal melaksanakan kegiatan usaha KUPVA Bukan Bank,

Penyelenggara KUPVA Bukan Bank harus menerapkan ketentuan yang

mengatur mengenai anti pencucian uang dan pencegahan pendanaan

terorisme serta mengenai kewajiban penggunaan Rupiah di wilayah

Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/20/PBI2016 tentang Kegiatan

Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank mengatur pula prinsip

perlindungan atas konsumen/nasabah KUPVA Bukan Bank (diatur dalam

pasal 10). Dalam melakukan kegiatan usaha KUPVA Bukan Bank,

Penyelenggara KUPVA Bukan Bank memastikan penerapan prinsip

perlindungan konsumen yang memenuhi prinsip keadilan dan keandalan,

prinsip transparansi, prinsip perlindungan data dan/atau informasi

konsumen, serta prinsip penanganan dan penyelesaian pengaduan

konsumen secara efektif. Dalam rangka melakukan jual dan beli UKA,

(29)

Penerapan prinsip perlindungan konsumen sebagaimana yang

dimaksud dalam Pasal 10 , paling sedikit meliputi :

1. Penyampaian informasi kurs kepada Nasabah secara Transparan,

dalam rangka transparansi penyampaian informasi mengenai jenis

mata uang dan kurs jual dan kurs beli kepada Nasabah, berlaku

ketentuan sebagai berikut :

a. Penyelenggara harus menyediakan informasi tertulis mengenai

jenis mata uang yang tersedia, dengan ketentuan :

1) informasi disampaikan secara lengkap, jelas, dan mudah

dimengerti oleh Nasabah dengan menggunakan bahasa

Indonesia yang dapat disertai dengan bahasa asing,

2) informasi disampaikan antara lain dalam bentuk papan

pengumuman, website, e-mail, atau bentuk lainnya, dan

3) informasi disampaikan secara akurat, terkini, dan

sebenar-benarnya.

b. Penyelenggara harus menyampaikan informasi secara lengkap dan

jelas apabila terdapat perbedaan kurs :

1) UKA dengan Cek Pelawat,

2) UKA dalam pecahan tertentu, dan/atau

(30)

c. Penyelenggara harus menampilkan informasi mengenai kurs

dengan bentuk dan/atau letak yang mudah terlihat, mudah dibaca,

dan mudah dimengerti.

d. Penyelenggara dilarang memberikan informasi yang menyesatkan

(mislead) dan/atau tidak etis (misconduct), antara lain :

1) pemberian informasi dianggap menyesatkan (mislead) apabila

Penyelenggara memberikan informasi yang tidak sesuai dengan

fakta, misalnya menyatakan kurs yang lebih rendah dari yang

sebenarnya dikenakan kepada Nasabah, dan

2) pemberian informasi dianggap tidak etis (misconduct) apabila

Penyelenggara memberikan informasi yang tidak sesuai dengan

etika atau asas perilaku secara umum, misalnya memberikan

penilaian negative terhadap Penyelenggara lainnya/kompetitor,

e. Penyelenggara harus memberikan informasi secara lengkap dan

jelas apabila Nasabah melakukan pemesanan melalui telepon atau

secara online, dan memastikan kurs yang digunakan pada saat

penyelesaian transaksi adalah kurs yang telah disepakati pada saat

pemesanan.

2. Dalam rangka perlindungan data dan/atau informasi Nasabah, berlaku

ketentuan sebagai berikut :

a. Penyelenggara dilarang dengan cara apapun, memberikan data

dan/atau informasi pribadi mengenai Nasabah kepada pihak lain,

(31)

1) Nasabah memberikan persetujuan tertulis, dan

2) diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan,

b. Dalam rangka meminta persetujuan sebagaimana dimaksud dalam

huruf a, Penyelenggara harus terlebih dahulu menjelaskan

mengenai maksud dan tujuan pemberian dan/atau penyebarluasan

data pribadi Nasabah kepada pihak lain,

3. Dalam rangka melakukan penanganan dan penyelesaian pengaduan

Nasabah, berlaku ketentuan sebagai berikut :

a. Penyelanggara harus menerima, menangani, dan menyelesaikan

sikap pengaduan yang disampaikan oleh Nasabah dan/atau

perwakilan Nasabah yang terkait dengan kegiatan usaha penukaran

valuta asing,

b. Penyelenggara harus memiliki mekanisme dan prosedur dalam

bentuk tertulis yang ditetapkan oleh Direksi, antara lain dalam

bentuk pedoman, petunjuk pelaksanaan, atau Standard Operating

Procedure (SOP), untuk menangani dan menyelesaikan pengaduan

Nasabah,

c. Penyelesaian harus menatausahakan seluruh dokumen yang terkait

dengan penerimaan, penanganan, dan penyelesaian pengaduan

Nasabah,

d. Penyelenggara harus menunjuk pegawai yang menangani

(32)

e. Penyelenggara harus memasang pengumuman atau informasi

dengan kalimat yang jelas dan mudah dipahami di gedung kantor

dan/atau website Penyelenggara mengenai tata cara pengaduan

Nasabah, termasuk jika terdapat call center yang dapat dihubungi,

dan

f. Penyelenggara dilarang mengenakan biaya kepada Nasabah atas

pengajuan pengaduan yang dilakukan oleh Nasabah.

4. Dalam rangka penerapan perlindungan konsumen pada penyelenggara

kegiatan usaha penukaran valutas asing, Penyelenggara harus :

a. Memberikan bukti transaksi, tanda terima, atau slip transaksi

kepada Nasabah yang paling sedikit memuat informasi :

1) nama dan alamat Penyelenggara,

2) tanggaal transaksi,

3) nomor serial bukti transaksi,

4) jumlah nominal dan jenis mata uang yang dibayarkan oleh

Nasabah,

1) jumlah nominal dan jenis mata uang yang dibayarkan

kepada Nasabah,

2) kurs atau nilai tukar,

(33)

b. Menyediakan uang kepada Nasabah, dengan ketentuan sebagai

berikut :

1) menyediakan uang dalam kondisi yang layak dan jenis pecahan

sesuai kebutuhan Nasabah sepanjang Penyelenggara masih

memiliki persediaan jenis jenis pecahan yang dibutuhkan

Nasabah,

2) menyediakan uang yang asli, masih berlaku sebagai alat

pembayaran yang sah, dan dalam jumlah nominal sesuai

dengan transaksi yang dilakukan dengan Nasabah, dan

3) memberikan informasi mengenai ciri-ciri keaslian uang kepada

Nasabah antara lain dalam bentuk berupa pengumuman, brosur,

dan/atau leaflet.

Jenis Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank adalah

kegiatan jual dan beli UKA dan pembelian Cek Pelawat. KUPVA BB

dilarang melakukan kegiatan usaha lain diluar kegiatan usaha sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 7 Peraturan Bank Indonesia No.

18/20/PBI/2016 tentang Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan

Bank bahwa :

Pasal 6

Penyelenggara KUPVA Bukan Bank dilarang :

(34)

b. Melakukan kegiatan margin trading, spot, forward, swap, dan transaksi

derivative lainnya baik untuk kepentingan Nasabah maupun

kepentingan Penyelenggara KUPVA Bukan Bank;

c. Melakukan transaksi jual dan beli UKA serta pembelian Cek Pelawat

dengan Penyelenggara KUPVA Bukan Bank yang tidak memiliki izin

dari Bank Indonesia;

d. Melakukan kegiatan penyelenggaraan transfer dana; dan

e. Melakukan kegiatan usaha lainnya diluar kegiatan usaha sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2).

Pasal 7

(1) Selain larangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 6, Penyelenggara

KUPVA Bukan Bank dilarang :

a. Menjadi pemilik penyelenggara KUPVA tidak berizin;

b. Melakukan kerja sama dengan penyelenggara KUPVA tidak

berizin; dan

c. Melakukan kegiatan usaha melalui penyelenggara KUPVA tidak

berizin.

(2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku untuk

Direksi, Dewan Komisaris, dan/atau Pemegang Saham Penyelenggara

KUPVA Bukan Bank.60

Adapun Pengawasan yang dilakukan oleh Bank Indonesia dalam

Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank terhadap

Penyelenggara KUPVA Bukan Bank sebagaimana diatur dalam pasal 33

(35)

Peraturan Bank Indonesia No. 18/20/PBI/2016. Bank Indonesia

melakukan pengawasan terhadap Penyelenggara KUPVA Bukan Bank

secara langsung dan tidak langsung.

Pengawasan langsung dilakukan dengan cara pemeriksaan atas

kegiatan usaha Penyelenggara untuk meneliti dan mengevaluasi tingkat

kepatuhan Penyelenggara terhadap ketentuan. Dalam rangka pelaksanaan

pengawasan langsung, setiap Penyelenggara wajib memberikan kepada

Pengawas atau pihak lain yang ditugaskan oleh Bank Indonesia antara lain

:

a. Dokumen, data, informasi, dan/atau laporan yang diminta,

b. Keterangan dan/atau penjelasan baik lisan maupun tertulis, dan/atau,

c. Akses terhadap sistem informasi, antara lain akses terhadap aplikasi,

database, dan sistem pelaporan yang diperlukan dalam pengawasan

langsung.

Penyelenggara wajib bertanggung jawab atas kebenaran dokumen,

data, informasi, laporan, keterangan, dan/atau penjelasan yang diberikan.

Dalam hal melakukan pengawasan, Bank Indonesia dapat menugaskan

pihak lain untuk melakukan pengawasan langsung yang wajib bisa

menjaga kerahasiaan dokumen, data, informasi, laporan, keterangan,

dan/atau penjelasan yang diperoleh dari hasil pengawasan langsung. Dan

Penyelenggara wajib melakukan langkah perbaikan dan/atau

penyempurnaan atas temuan hasil pemeriksaan serta melaporkan tindakan

(36)

Pengawasan tidak langsung merupakan tindakan pemantauan yang

dilakukan dalam bentuk analisis terhadap laporan yang disampaikan

Penyelenggara atau informasi dari pihak lain. Dalam rangka pelaksanaan

pengawasan tidak langsung, Penyelenggara wajib menyampaikan

dokumen, data, informasi, laporan, keterangan, dan/atau penjelasan kepada

Bank Indonesia yang dapat disampaikan melalui laporan, pertemuan

langsung, dan/atau secara komunikasi lain yang ditetapkan Bank

Indonesia.

Berdasarkan hasil pengawasan secara langsung dan tidak langsung,

adapun tindak lanjut pengawasan dari Bank Indonesia terhadap

Penyelenggara KUPVA Bukan Bank,yaitu dapat :

1. Melakukan pembinaan terhadap Penyelenggara,

2. Mengenakan sanksi admisnitratif,

3. Melakukan evaluasi terhadap izin usaha yang telah diberikan,

4. Meminta penyelenggara untuk melakukan atau tidak melakukan

sesuatu,

5. Menghentikan sementara sebagian atau seluruh kegiatan usaha,

membatalkan atau mencabut izin atau persetujuan yang telah diberikan

kepada Penyelenggara, dan/atau

6. Meminta penghentian sementara terhadap Direksi dan/atau Dewan

Komisaris.

Selain Pengawasan yang dilakukan oleh Bank Indonesia terhadap

Penyelenggara KUPVA Bukan Bank, Bank Indonesia juga memberikan

(37)

yang melanggar ketentuan dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor

18/20/PBI/2016 tentang Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan

Bank dan ketentuan dalam Surat Edaran Bank Indonesia ini dikenakan

sanksi Adminisratif berupa :

1. Teguran tertulis,

2. Kewajiban membayar,

3. Pengehentian kegiatan usaha, dan/atau

4. Pencabutan izin.

Dalam hal menerapkan sanksi administratif ini, Bank Indonesia

mempertimbangkan :

1. Tingkat pelanggaran,

2. Akibat yang ditimbulkan terhadap :

a. Aspek perlindungan konsumen, dan/atau

b. Aspek anti pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme,

dan/atau

c. Faktor lainnya.

Dalam hal Bank Indonesia mengenakan sanksi administratif berupa

kewajiban membayar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 Peraturan

Bank Indonesia Nomor 18/20/PBI/2016 tentang Kegiatan Usaha

Penukaran Valuta Asing Bukan Bank maka perhitungan dilakukan dengan

contoh sebagai berikut :

Pada tanggal 5 September 2016 Nasabah melakukan pembelian

(38)

Amerika Serikat). Kemudian pada tanggal 15 September 2016 Nasabah

yang sama melakukan pembelian UKA terhadap Rupiah sebesar USD

15.000,00 (lima belas ribu dolar Amerika Serikat). Total pembelian UKA

terhadap Rupiah Nasabah pada bulan September 2016 adalah USD

30.000,00 (tiga puluh ribu dolar Amerika Serikat). Pembelian UKA

terhadap Rupiah tanggal 15 September 2016, tidak didukung dokumen

Underlying Transaksi, sehingga terdapat pelanggaran yang melebihi

threshold sebesar USD 5.000,00 (lima ribu dolar Amerika Serikat). Kurs

JISDOR tanggal 15 September 2016 adalah Rp.10.000,00 (sepuluh ribu

rupiah) per dolar Amerika Serikat. Perhitungan atas pelanggaran yang

dilakukan Penyelenggara yaitu sebagai berikut :

USD5.000,00 x 1% x Rp.10.000 = Rp.500.000,00

Namun mengingat sanksi kewajiban membayar paling sedikit

Rp.10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) maka Penyelenggara dikenakan

sanksi sebesar Rp.10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) meskipun nilai

pelanggaran berdasarkan perhitungan diatas sebesar Rp.500.000,00 (lima

ratus ribu rupiah).

Dalam hal Bank Indonesia mengenakan sanksi administratif berupa

penghentian kegiatan usaha, maka berlaku ketentuan sebagai berikut :

1. Sanksi penghentian kegiatan usaha diberlakukan terhadap :

a. Kegiatan jual dan beli UKA,

(39)

c. Kegiatan usaha lainnya yang memiliki keterkaitan dengan

penyelenggaraan kegiatan usaha penukaran valuta asing.

2. Sanksi penghentian kegiatan usaha disertai dengan jangka waktu

berlakunya dan dapat diperpanjang,

3. Penyelenggara yang dikenakan sanksi penghentian kegiatan usaha

harus mengumumkan penghentian kegiatan usaha kepada masyarakat

pada tanggal yang sama dengan tanggal surat pemberitahuan dari Bank

Indonesia mengenai penghentian kegiatan usaha Penyelenggara yang

paling kurang diumumkan di kantor Penyelenggara dengan letak

dan/atau yang mudah terlihat dan mudah dibaca.

Dalam hal Bank Indonesia mengenakan sanksi administratif berupa

pencabutan izin, berlaku ketentuan sebagai berikut :

1. Penyelenggara wajib mengembalikan Surat Keputusan Pemberian Izin

Usaha (KPmIU), logo Penyelenggara KUPVA Bukan Bank Berizin

yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia dan sertifikat izin usaha yang

diterbitkan Bank Indonesia,

2. Bank Indonesia melakukan pengkinian daftar Penyelenggara

berdasarkan pencabutan izin usaha Penyelenggara.

Penyelenggara yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 7 Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/20/PBI/2016 tentang

Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank dikenakan sanksi

berupa pencabutan izin. Contoh Penyelenggara KUPVA tidak berizin

(40)

tanpa izin Bank Indonesia, dengan indikasi antara lain melakukan

transaksi jula beli valas dengan frekuensi yang cukup sering dengan tujuan

untuk menjual atau membeli valas kepada atau dari pihak lain, dan

memiliki usaha yang tidak dikecualikan dari ketentuan kewajiban

penggunaan Rupiah termasuk Penyelenggara yang telah dicabut izinnya

oleh Bank Indonesia.

Anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris, dan/atau Pemegang

Saham Penyelenggara yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 7 Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/20/PBI/2016 tentang

Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank, dilarang untuk

menjadi Direksi, Dewan Komisaris, dan/atau pemegang saham

Penyelenggara untuk jangka waktu 5 (lima) tahun.

B. Pengaturan Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank yang tidak Berbadan Hukum

Saat ini perkembangan perekonomian dan dunia usaha semakin

bertumbuh pesat. Menurut peneliti terbukti dengan sangat banyaknya

ditemukan pelaku-pelaku usaha baik yang berbadan hukum maupun yang

tidak berbadan hukum.

Pelaku usaha yang berbadan hukum adalah Perseroan Terbatas

(41)

berbadan hukum adalah Perseroan Komanditer (CV), firma, perusahaan

perorangan (UD).61

Bank Indonesia (BI) mencatat ada 783 kegiatan usaha penukaran

valuta asing bukan bank (KUPVA BB) atau money changer yang belum

berizin atau ilegal. Jumlah ini meningkat dari data sebelumnya pada

Januari lalu sekitar 621 money changer diseluruh Indonesia.

Seperti yang diketahui bahwa didalam Kegiatan Usaha Penukaran

Valuta Asing Bukan Bank ini terdapat pelaku usaha yang Berbadan

Hukum dan maupun pelaku usaha yang tidak Berbadan Hukum. Dalam

melakukan usaha KUPVA Bukan Bank haruslah berbadan hukum yang

pengaturan perizinannya diatur dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor

18/20/PBI/2016 .

62

Seperti diketahui bahwa Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing

Bukan Bank haruslah Berbadan Hukum berbentuk Perseroan Terbatas

(PT) didalam Peraturan Bank Indonesia No. 18/20/PBI/2016 sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 1 ayat (5) bahwa Penyelenggara KUPVA Bukan

Bank atau dapat disebut Money Changer adalah badan usaha bukan bank

berbadan hukum Perseroan Terbatas yang melakukan KUPVA. Selain

KUPVA Bukan Bank yang berbadan Hukum, ada pula KUPVA Bukan

Bank yang tidak Berbadan Hukum, dimana dalam Kegiatan Usaha

Penukaran Valuta Asing yang tidak berbadan hukum ini adalah berbentuk

61

Ahmad Yani & Gunawan Widjaja, Perseroan Terbatas, (Jakarta: PT. Raja Grafindo persada,1999), hal 1.

(42)

CV (comanditer venotschaap) atau Firma63

, disini akan dibahas

pengaturan-pengaturan KUPVA Bukan Bank yang tidak berbadan hukum

yang meliputi pengaturan dari :

a. Kitab Undang – undang Hukum Dagang ( Wetboek van Koophandel voor Indonesie) S. 1847-23

Pasal 18

Dalam Perseroan firma tiap-tiap persero bertanggung jawab secara

tanggung renteng untuk seluruhnya atas perikatan-perikatan

perseroannya.

Pasal 19

Perseroan yang berbentuk dengan cara meminjamkan uang atau

disebut juga perseroan komanditer, didirikan antara seseorang atau

antara beberapa orang persero yang betanggung jawab secara tanggung

– renteng untuk keseluruhannya, dan satu orang atau lebih sebagai

pemberi pinjaman uang.

Pasal 20

Dengan tidak mengurangi kekecualian yang terdapat dalam pasal 30

alinea kedua, maka nama persero komanditer tidak boleh digunakan

dalam firma.

(43)

Persero ini tidak boleh melakukan tindakan pengurusan atau bekerja

dalam perusahaan perseron tersebut, biar berdasarkan pemberian kuasa

sekalipun.

Ia tidak ikut memikul kerugian lebih daripada jumlah uang yang telah

dimasukkannya dalam perseroan atau yang harus dimasukkannya,

tanpa diwajibkan untuk mengembalikan keuntungan yang telah

dinikmatinya.

Pasal 21

Perseroan komanditer yang melanggar ketentuan-ketentuan alinea

pertama atau alinea kedua dari pasal yang lain, bertanggung jawab

secara tanggung renteng untuk seluruhnya terhadap semua utang dan

perikatan perseroan itu.

Pasal 22

Perseroan-perseroan firma harus didirikan dengan akta otentik, tanpa

adanya kemungkinan untuk disangkalkan terhadap pihak ketiga, bila

akta itu tidak ada.

Pasal 23

Para persero firma diwajibkan untuk mendaftarkan akta itu dalam

register yang disediakan untuk itu pada kepaniteraan raad van justitie

(44)

Pasal 24

Akan tetapi para persero firma diperkenankan untuk hanya

mendaftarkan petikannya saja dari akta itu dalam bentuk otentik.

Pasal 26

Petikan yang disebut dalam pasal 24 harus memuat :

1. Nama, nama kecil, pekerjaan dan tempat tinggal para persero

firma;

2. Pernyataan firmanya dengan menunjukkan apakah perseroan itu

umum, ataukah terbatas pada suatu cabang khusus dari perusahaan

tertentu, dan dalam hal terakhir, dengan menunjukkan cabang

khusus itu;

3. Penunjukan para persero, yang tidak diperkenankan bertandangan

atas nama firma;

4. Saat mulai berlakunya perseroan dan saat berakhirnya;

5. Dan selanjutnya, pada umumnya, bagian-bagian dari perjanjiannya

yang harus dipakai untuk menentukan hak-hak pihak ketiga

terhadap para persero. 64

Dalam hal Pengaturan Persekutuan Komaditer (CV), KUHD tidak

mengatur secara khusus mengenai cara mendirikan CV, tetapi dalam

praktik dibuat secara autentik (akta notaris). CV didirikan dengan

64

(45)

pembuatan anggaran dasar yang dituangkan dalam akta pendirian yang

dimuat dimuka notaris65

1. Nama pemilik/perusahaan .

b. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI No. 408/MPP/Kep/10/1997

Adapun ketentuan dalam melakukan Kegiatan Usaha Penukaran

Valuta Asing harus mendapatkan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP),

yaitu diatur Keputusan Menperindag No. 408 Tahun 1997.

Berdasarkan ketentuan Pasal 9 Kepmenperindag No. 408 Tahun

1997, permintaan TDUP bagi perusahaan yang mempunyai nilai investasi

sampai dengan Rp. 200.000.000,00 di ajukan kepada kepala Kantor

Deperindag setempat. Permintaan TDUP tersebut di lakukan dengan

menyampaikan surat permintaan TDUP kepada Kakandep yang

ditandatangani oleh pemilik/penanggung jawab perusahaan yang isinya :

2. Alamat pemilik/perusahaan

3. Nama dan alamat penanggung jawab perusahaan

4. Nomor pokok wajib pajak (NPWP)

5. Bidang usaha barang/jasa

6. Nilai investasi tidak termasuk tanah dan bangunan

7. Jenis kegiatan usaha

8. Jenis barang/jasa dengan utama

9. Merek

dilihat pada

(46)

Dalam Pasal 11 Kepmenperindag No. 408 tahun 1997 ditentukan

bahwa Permintaan TDUP atau SIUP wajib melampirkan

dokumen-dokumen dengan ketentuan :

1. Perusahaan badan hukum dan Koperasi

1. Salinan/kopi akta pendirian yang telah disahkan oleh Departemen

Kehakiman bagi Perseroan Terbatas dan instansi yang berwenang

bagi Koperasi

2. Kopi KTP pemilik/penanggung jawab perusahaan

3. Kopi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) perusahaan

4. Kopi Surat Izin Tempat Usaha dari Pemda setempat

2. Perusahaan persekutuan bukan badan hukum

1. Salinan akta pendirian

2. Kopi KTP pemilik/penanggung jawab

3. Kopi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) perusahaan

4. Kopi Surat Izin Tempat Usaha dari Pemda setempat

3. Perusahaan Perorangan

1. Kopi KTP pemilik

2. Kopi NPWP pemilik

3. Kopi Surat Izin Tempat Usaha dari Pemda setempat.66

66

(47)

c.Peraturan Daerah

Dalam suatu daerah pasti memiliki industri pariwisata yang

menjadikan daerah tersebut menjadi tempat destinasi oleh para wisatawan.

Maka dalam pengembangan industri pariwisata harus menawarkan

berbagai kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai fasilitas serta

layanan yang disediakan, seperti hal nya dengan menyediakan tempat

Valuta Asing/money changer. Dengan adanya Valuta Asing/money

changer ini maka sangat memudahkan parawisatawan untuk dapat

menukarkan uangnya. Dalam hal ini pemerintah daerah sangat antusias

dalam menyediakan Valuta Asing/money changeruntuk dapat menunjang

perkembangan industri pariwisata di daerah tersebut. Untuk itu pemerintah

daerah membuat suatu peraturan daerah dalam hal perizinan valuta

asing/money changer, Peraturan Daerah juga mengatur izin dari setiap

badan usaha yang tidak berbadan hukum seperti KUPVA BB, misalnya

seperti Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 9 tahun 2014 tentang

Penyelenggaraan Usaha Perindustrian dan Perdagangan, sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 19 bahwa :

(1) Setiap orang atau Badan Usaha yang akan memperoleh SIUP wajib

mengajukan permohonan kepada Walikota.

(2) Syarat-syarat untuk mengajukan permohonan SIUP bagi perorangan :

a. Fotokopi KTP pemilik/penanggung jawab usaha;

b. Surat pernyataan dari pemohon tentang lokasi usaha; dan

c. Pas photo terbaru pemilik/penanggung jawab usaha ukuran 3 x 4

(48)

(3) Syarat-syarat untuk mengajukan permohonan SIUP bagi Persekutuan

Komanditer (CV) dan Firma (Fa);

a. Fotokopi KTP pemilik/penanggung jawab usaha;

b. Surat pernyataan dari permohonan tentang lokasi usaha;

c. Pas photo terbaru pemilik/penanggung jawab usaha ukuran 3 x 4

cm sebanyak 2 (dua) lembar; dan

d. Fotokopi akte notaris pendirian perusahaan yang telah didaftarkan

pada Pengadilan Negeri.67

67

(49)

BAB V

PENUTUP

A.Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan tentang Aspek Hukum Kegiatan Usaha

Penukaran Valuta Asing Bukan Bank yang Tidak Berbadan Hukum, maka dapat

ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Didalam sistem keuangan Indonesia, kedudukan Bank Indonesia

sebagai Bank Sentral yang sifatnya Independendimulai ketika sebuah

undang-undang baru, yaitu Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999

tentang Bank Indonesia, dinyatakan berlaku pada tanggal 17 Mei 1999.

Undang-undang ini memberikan status dan kedudukan sebagai suatu

lembaga negara independen dalam melaksanakan tugas dan

wewenangnya, bebas dari campur tangan pemerintah ataupun pihak

lainnya. Bank Indonesia mempunyai otonomi penuh dalam

merumuskan dan melaksanakan setiap tugas dan wewenangnya

sebagaimana ditentukan dalam undang-undang tersebut. Pihak luar

tidak dibenarkan mencampuri pelaksanaan tugas Bank Indonesia dan

Bank Indonesia juga berkewajiban untuk menolak atau mengabaikan

intervensi dalam bentuk apapun dari pihak manapun juga. Fungsi dari

Bank Indonesia secara umum adalah mengawasi penambahan atau

ekspansi dan pengurangan atau kontraksi jumlah uang yang beredar di

masyarakat, baik uang kartal maupun uang giral dan juga berfungsi

(50)

masalah transaksi keuangan pemerintah. Tujuan dari Bank Indonesia

sebagai Bank Sentral adalah, sesuai dengan Pasal 7 Undang-undang

Nomor 3 Tahun 2004 Tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor

23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia, yaitu mencapai dan

memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah yaitu

kestabilan nilai rupiah terhadap barang dan jasa diukur dengan atau

tercermin dari perkembangan nilai tukar rupiah terhadap mata uang

negara lain. Tujuan kestabilan nilai rupiah ini, yaitu untuk mendukung

pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan meningkatkan

kesejahteraan rakyat. Dalam rangka mencapai tujuan dari Bank

Indonesia tersebut, maka dilaksanakan dengan bentuk kebijakan

moneter secara berkelanjutan, konsisten, transparan, dan

mempertimbangkan kebijakan umum pemerintah bidang

perekonomian.

2. Peran Bank Indonesia terhadap Kegiatan Usaha Penukaran Valuta

Asing Bukan Bank adalah

a. Dimana Bank Indonesia menegaskan adanya kewajiban bagi

penyelenggara Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan

Bank (KUPVA BB) untuk memperoleh izin beroperasi. Ketentuan

perizinan tersebut tercantum dalam PBI no. 18/20/PBI/2016 dan

SE No. 18/42/DKSP perihal Kegiatan Usaha Penukaran Valuta

Asing Bukan Bank.

b. Pengaturan perizinan bagi KUPVA BB menjadi sangat penting

(51)

industri yang sehat dan efisien, fungsi pengaturan dan pengawasan

sangat diperlukan dalam mencegah dimanfaatkannya KUPVA BB

untuk pencucian uang, pendanaan terorisme, atau kejahatan

lainnya. Untuk itulah, penerbitan KUPVA BB dilakukan bersama

oleh Bank Indonesia, PPATK, BNN, dan Polri khususnya apabila

terdapat indikasi Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) baik yang

berasal dari kejahatan maupun narkoba.

3. Pelaku usaha yang berbadan hukum adalah Perseroan Terbatas (PT),

yayasan, koperasi, BUMN. Sedangkan pelaku usaha yang bukan

berbadan hukum adalah CV, firma, perusahaan perorangan (UD).

Untuk itu KUPVA Bukan Bank yang berbadan Hukum PT yang

pengaturannya berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No.

18/20/PBI/2016, ada pun KUPVA Bukan Bank yang tidak Berbadan

Hukum PT, yang mana dalam Kegiatan Usaha Penukaran Valuta

Asing yang tidak berbadan hukum PT ini adalah berbentuk CV

(comanditer venotschaap) atau Firma yang pengaturannya tidaklah

dari Peraturan Bank Indonesia, maka Aspek Hukum Kegiatan Usaha

Penukaran Valuta Asing Bukan Bank yang Tidak Berbadan Hukum

dalam hal perizinan mendirikan usaha diatur dari beberapa

Undang-undang atau keputusan seperti Kitab Undang – Undang-undang Hukum Dagang

( Wetboek van Koophandel voor Indonesie) S. 1847-23 yang mengatur

bahwa perseroan komanditer didirikan antara seseorang atau beberapa

orang persero yang bertanggung jawab secara tanggung-renteng dan

(52)

dalam akta pendirian yang dimuat dimuka notaris. Keputusan

Menperindag No. 408 Tahun 1997 mengatur perizinan KUPVA BB

dengan mendapatkan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dengan

menyampaikan surat permintaan TDUP kepada Kakandep yang

ditandatangani oleh pemilik/penanggung jawab perusahaan tersebut,

Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 9 tahun 2014 tentang

Penyelenggaraan Usaha Perindustrian dan Perdagangan mengatur

perizinan KUPVA BB dengan ketentuan mengajukan permohonan

kepada Walikota untuk memperoleh SIUP yang berisikan beberapa

syarat seperti fotocopy akte notaris pendirian perusahaan yang telah

didaftarkan pada Pengadilan Negeri.

B.SARAN

1. Bagi Pejabat Bank Indonesia agar lebih mempertimbangkan kembali

untuk dapat merevisi Pasal 11 ayat (3) huruf c Peraturan Bank

Indonesia No. 18/20/PBI/2016. Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11

ayat (3) huruf c bahwa untuk memperoleh izin dari Bank Indonesia

harus memenuhi jumlah modal disetor yang ditetapkan oleh Bank

Indonesia. Dalam Surat Edaran no 18/42/DKSP, jumlah nominal

modal yang disetor oleh Penyelenggara KUPVA BB sebesar Rp.

250.000.000,00 bagi calon Penyelenggara yang melakukan Kegiatan

Usaha di wilayah Kota Jakarta, Kota Batam, Kota Denpasar, dan

Bandung. Dan bagi Penyelenggara yang melakukan usaha diluar dari

wilayah seperti diatas jumlah nominalnya Rp. 100.000.000. Mungkin

(53)

tidak mengurus izin kepada Bank, karena nilai nominal modal yang

disetor terlalu besar bagi sebagian Penyelenggara KUPVA BB dan

juga nilai nominal tersebut tidak seimbang dengan hasil pendapatan

dari kegiatan usaha nya. Untuk itu kepada Pejabat Bank Indonesia agar

meringankan nilai nominal modal disetor tersebut. Supaya

Penyelenggara KUPVA BB dapat mengurus surat izinnya kepada

Bank Indonesia.

2. Bagi Penyelenggara KUPVA BB yang sanggup memenuhi nilai

Nominal Modal disetor tersebut dan ingin melanjutkan usahanya,

maka Penyelenggara KUPVA BB agar secepatnya juga memohon

surat perizinan kepada Bank Indonesia. Supaya Bank Indonesia lebih

mudah melakukan pengawasan dalam mencegah memanfaatkan

KUPVA BB dari pencucian uang, pendanaan terorisme atau kejahatan

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hal tersebut maka permasalahan yang diteliti adalah : Bagaimana pelaksanaan Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 16/15/PBI/2014 tentang Kegiatan Usaha

n jk : Sampel usaha konstruksi tidak berbadan hukum dalam satu desa per Bidang Pekerjaan Utama (perhitungan dilakukan BPS kabupaten/kota) I jk : Interval sampel per Bidang

Bank Indonesia memberikan persetujuan atau penolakan permohonan izin usaha untuk melakukan kegiatan sebagai Perusahaan Pialang Pasar Uang Rupiah dan Valuta Asing

Bank Syariah Mandiri Cabang Banda Aceh, dalam bab ini dibahas penentuan harga jual beli valuta asing, dan tinjauan hukum Islam terhadap penetapan harga spot

a) Bank yang melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing terlebih dahulu memperoleh persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan untuk melakukan kegiatan dalam valuta

Tesis ini membahas tentang “Efektivitas Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 16/15/2014 tentang Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank Terkait Jasa Money Changer

Dalam perkembangan pasar keuangan domestik, sebagai lembaga penunjang sektor keuangan, pedagang valuta asing yang terdiri dari bank (yang melaksanakan kegiatan

(2) Selain kegiatan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Penyelenggara KUPVA Bukan Bank dapat pula melakukan kegiatan usaha lain yang memiliki keterkaitan dengan