• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATI. pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATI. pdf"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS MULTIMEDIA PADA MATERI PECAHAN SEDERHANA ANAK TUNARUNGU

KELAS 3 DI SDLB

Gisella Rahmadhani Soesanto, Moh. Efendi, Henry Praherdiono Universitas Negeri Malang

ABSTRAK: Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan produk pengembangan media pembelajaran matematika untuk anak tunarungu di SLB. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan yang ada di lapangan, teknik penggunaan instrument menggunakan angket. Metode kuantitatif digunakan untuk menilai skor kelayakan media, kriteria kelayakan media dan hasil belajar siswa. Hasil penelitian adalah produk yang dikembangkan dan hasil nilai belajar siswa.

Kata Kunci: Pengembangan Media Pembelajaran, Matematika, Multimedia, Tunarungu

Anak tunarungu merupakan anak yang memiliki hambatan pendengaran yang diakibatkan kerusakan dan ketidakberfungsian sebagian atau keseluruhan organ pendengaran (Damayanti, 2013). Sehingga menyebabkan terhambatnya proses informasi bahasa baik dengan menggunakan atau tanpa menggunakan alat bantu dengar. Keterbatasan anak tunarungu dalam menerima informasi yang disampaikan menyebabkan minimnya pemahaman anak tunarungu terhadap

materi pelajaran termasuk pelajaran matematika mengenai pemahaman pelajaran matematika. Sedangkan matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang harus dikuasai dan dipelajari oleh setiap anak (Damayanti, 2013). Hal ini tidak terlepas bagi anak regular dan anak berkebutuhan khusus (ABK).

Matematika ialah bahasa simbol tentang berbagai gagasan dengan menggunakan istilah-istilah yang didefinisikan secara cermat, jelas dan akurat. Matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan, sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk berfikir (John & Myklebust dalam Abdurrahman,M, 1996). Oleh karena itu kurikulum mata pelajaran matematika hendaknya mencakup tiga elemen yaitu, konsep, keterampilan, dan pemecahan masalah.ketiga elemen matmatika tersebut dijelaskan menggunakan bahasa simbolis tersebut yang tidak mudah dipahami oleh anak tunarungu (Lerner, 1988).

(2)

mempunyai kemampuan untuk merealisasikan bentuk stimulus tersebut dalam bentuk pembelajaran. Namun kebanyakan pengajar tidak mempunyai kemampuan untuk menghadirkan stimulus itu dengan program computer.

Media memiliki kaitan erat dalam sistem pembelajaran (Sharon, et.al). Karena media pembelajaran memfasilitasi komunikasi dan pembelajaran anak tunarungu yang memiliki keterbatasan memahami bahasa secara verbal maupun tertulis. Media terdapat dimana saja baik dirumah, di jalan dan disekolah. Hal tersebut merupakan poin penting bahwa media tersebut

terdapat dimana saja. Kita dapat mempelajari sesuatu melalui berjalan, melihat, mencari di internet, melakukan percakapan dengan yang lain dan mengamati apa yang terjadi di sekitar kita.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) menuntut guru

untuk menggunakan teknologi, khususnya komputer, dalam pembelajaran (Permen Nomor 74 tentang Guru, 2008). Penggunaan komputer sebagai media. Maka, guru dituntut mampu memanfaatkan sumber dan media pembelajaran sesuai tuntutannya. Berdasarkan observasi di SLB Pembina Malang dalam di bidang TIK sebagian besar guru telah memiliki sarana teknologi seperti laptop dan tab. Laptop tersebut digunakan oleh guru untuk mengerjakan instrument perangkat pembelajaran, seperti program tahunan, RPP, silabus dan browsing. Laptop yang digunakan juga terisntal program yang dapat digunakan untuk membuat media presentasi. Akan tetapi, guru tidak pernah menggunakannya sebagai media pembelajaran sehingga program tersebut tidak digunakan.

Penggunaan teknologi dalam pembelajaran meningkat, tidak hanya sebagai alat bantu untuk melaksanakan pembelajaran, tetapi juga sebagai sebuah media presentasi (Romiszowski, 1974: 260-261). Maka media presentasi dapat digunakan untuk menyampaikan materi pada anak tunarungu sesuai dengan gaya belajarnya.

Live dan Lepts (dalam Akbar, 2013) mengemukakan fungsi media visual diantaranya yaitu (1) fungsi atensi, yaitu menarik perhatian siswa untuk berkosentrasi pada isi pelajaran; (2) fungsi afeksi, yaitu menciptakan perasaan senang siswa; dan (3) fungsi kognisi, yaitu alat bantu memahami dan mengingat informasi. Secara langsung penggunaan media presentasi pada pembelajaran matematika meteri pecahan dapat membantu untuk meningkatkan minat siswa dalam belajar.

(3)

Penelitian dilakukan selama tiga bulan di SLB Pembina Malang dengan subyek anak tunarungu kelas 3. Dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan dan berupa masukan dari ahli media, ahli materi, dan praktisi.

Model pengembanga untuk mengembangkan media pembelajaran menggunakan model pengembangan Lee dan Owens (Multimedia Intructional Design). Lee dan Owens (2004:160) mengemukakan apapun jenis multimedia, prinsip-prinsip dasar pembangunan tetap sama: (1)

Membangun kerangka kerja alat pengembangan, spesifikasi pengembangan, dan standar; (2) Selanjutnya, mengembangkan unsur media yang sesuai dengan kerangka; (3) Kemudian meninjau dan merevisi produk; (4) Akhirnya, menerapkan produk jadi; (5) Evaluasi untuk mengukur keberhasilan program.

Alur model pengembangan Lee dan Owens

Analisis Kebutuhan dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan dilapangan dan membantu dalam pengembangan media diantaranya audience analysis, technology analysis,task analysis, critical incident analysis, issue analysis, objective analysis, media analysis, extant-data analysis, cost-benefits analysis

Merancang/desain untuk menentukan elemen media dengan mengumpulkan bahan pendukung sesuai dengan kebutuhan materi dan sasaran seperti gambar, animasi, suara dan pengumpulan tersebut dapat dilakukan dengan cara mencari melalui internet (browsing),

2. Desain/rancan

3. Pengembangan 4. Implementasi

5. Evaluasi

(4)

menggunakan yang sudah ada di direktori file, jika diperlukan memproduksi sendiri bahan-bahan yang diperlukan dengan mendesain sendiri.

Penyusunan materi dengan mengumpulkan bahan seperti buku, LKS dan modul kemudian dirangkum selanjutnya dipilah dan dimodifikasi baik disederhanakan maupun dikembangkan berdasarkan kemampuan sasaran media yang digunakan. Tahap desain dan rancangan merancang media pembelajaran berbasis presentasi dengan menggunakan salah satu perangkat lunak yang menyediakan program pengolahan gambar vector untuk merancang layout

media. Tampilan (lay out) media didesain sederhana dan menarik. Untuk menyesuaikan dengan pelajaran matematika dengan tema desain yang digunakan menggunakan angka dengan berbagai warna.

Pengembangan memiliki dua keriteria pengembangan media dan pengembangan materi. Pengembangan media adalah upaya untuk mengembangkan suatu bentuk media yang baru atas dasar kebutuhan di lapangan. Pengembangan materi adalah upaya untuk mengembangkan suatu bentuk yang baru dari segi materi (isi media) atas dasar acuan kurikulum yang ada.

Sesuai dengan tahapan pengembangan (Lee dan Owens) bahwa tahapan pengembangan media terdiri dari tiga tahap yaitu pra produksi, produksi dan paska produksi. Maka kegiatan yang perlu dilakukan adalah

a. Pra Produksi

Kegiatan pada tahap pra produksi yaitu Membuat story board (naskah cerita) penulisan naskah secara teoritis merupakan komponen dari pengembangan media atau secara lebih praktis merupakan bagian dari serangkaian kegiatan pra produksi media melalui tahap-tahap perencanaan desain pengembangan (Riyana, 2007). Identifikasi program merupakan kelanjutan dari beberapa analisa yang dilakukan terhadap kegiatan produksi (Riyana, ) yaitu:

1) Judul program berisi tentang judul/tema program yang dirumuskan dengan kalimat yang singkat, padat, menarik.

2) Tujuan/kompetensi berisi tujuan umum yang ingin dicapai oleh sasaran.

3) Pokok bahasan berisi tentang penulisan pokok bahasan yang dilakukan terutama dalam pembuatan program dan media pembelajaran yang secara langsung

(5)

4) Sub pokok bahasan berisi penulisan sub pokok bahasan terutapa materi yang akan disampaikan dalam bentuk sub materi.

5) Sasaran adalah target audiens yang menjadi sasaran utama dalam pelaksanaan program. Dalam penulisannya dituliskan secara jelas untuk siapa.

Tujuan khusus/indikator berisi program tersebut yang dibuat diambil dari kurikulum maka tujuan atau indikatir dituliskan berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar.

b. Produksi

Proses produksi adalah tahap pengerjaan media dengan manggabungkan semua unsure media kemudian mengintegrasikan ke dalam software presentasi. Memasang gambar dan menyertakan animasi merupakan kegiatan produksi lebih lanjut.

c. Paska Produksi dan Tinjauan Kualitas

Paska produksi merupakan kegiatan setelah memproduksi suatu media. Media tersebut akan di tampilkan dan diuji kelayakannya oleh ahli media, ahli materi, dan diuji coba oleh ahli praktisi. Berdasarkan Lee dan Owens bahwa penilaian kualitas media yang akan berdasarkan 3 aspek yaitu (1) standart reviews,penilaian berdasarkan standar isi media yang akan divalidasi ahli materi,(2) editorial reviwew penilaian kelayakan media berdasarkan desain yang akan divalidasi oleh ahli media,(3) functional review penilaian yang akan divalidasi oleh ahli praktisi.

Evaluasi sebagai pengukur pengembangan media oleh Lee dan Owens bahwa evaluasi mencakup 4 hal yaitu, (1) screen and lesson shells untuk membangun arah konten/isi, (2)

skill assessment untuk mengukur kemampuan, (3) proficiency exams untuk membangun hasil belajar, (4) course management system berfungsi untuk mengetahui kemampuan murid. Maka evaluasi pengembangan media pembelajaran menggunakan

a. Evaluasi kelayakan media untuk screen and lesson shells untuk membangun arah konten/isi dengan validasi ahli materi dan ahli media.

b. Evaluasi formatif untuk skill assessment untuk mengukur kemampuan dengan menggunakan pre-test dan post-test pada hasil belajar siswa

c. Evaluasi ketertarikan media untuk proficiency exams untuk membangun hasil

(6)

d. Evaluasi course management system untuk mengetahui kemampuan murid diukur dengan penilaian oleh ahli praktisi yang menggunakan media dan hasil post-test murid.

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Validasi Ahli Media

Data uji ahli media diperoleh dari dosen Teknologi Pendidikan diperoleh pada tanggal 18 Maret 2014. Uji ahli media mencakup penilaian terhadap produk, tampilan media, penggunaan huruf, penggunaan media dan kemenarikan media. Data hasil validasi media dibedakan menjadi dua jenis data, yaitu data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif dengan skala 1 – 4 digunakan untuk menggambarkan penilaian terhadap jabaran variabel. Berikut

paparan data hasil uji ahli materi. Data kualitatif berupa saran terhadap pengembangan media pembelajaran.

Tabel 4.6 Validasi Coba Ahli Media

H

No. Pernyataan tentang media yang dikembangkan skor Presentase Tingkat

kelayakan

1. Kesesuaian media dengan tujuan instruksional khusus 4 100% Sangat Layak

2. Kesesuaian media dengan karakteristik siswa

tunarungu

3 75% Layak

3. Kesesuaian materi dalam mengembangkan media 4 100% Sangat Layak

4. Kemampuan media dalam mengembangkan motivasi

siswa

4 100% Sangat Layak

5. Kemampuan media untuk alat bantu memahami dan

mengingat informasi

4 100% Sangat Layak

6. Kesesuaian media untuk menciptakan rasa senang

pada siswa

3 75% Layak

7. Kemampuan media sebagai stimulus belajar 4 100% Sangat Layak

8. Kemampuan media untuk mengulang apa yang akan

dipelajari

4 100% Sangat Layak

9. Kemampuan media untuk umpan balik dengan siswa 3 75% Layak

10. Kesesuaian media dengan lingkungan belajar 3 75% Layak

11. Kemudahan pengoprasian media oleh guru 4 100% Sangat Layak

12. Efisiensi media pembelajaran berkaitan dengan waktu 4 75% Sangat Layak

13. Efisiensi media pembelajaran berkaitan dengan

tenaga

4 100% Sangat Layak

14. Keamanan media dalam penggunaan 4 100% Sangat Layak

15. Kualitas media pembelajaran 4 100% Sangat Layak

(7)

Hasil uji ahli media selain diperoleh data kuantitatif juga diperoleh data kualitatif. Penilaian dalam data kualitataif berupa saran terkait dengan pengembangan media pembelajaran matematika ini. Ahli media memberikan saran secara umum media yang dikembangkan sudah bagus. Hanya beberapa hal berkaitan dengan fungsi tombol dan navigasi lebih dioptimalkan lagi. Performa media supaya dikonsultasikan dengan ahli materi terkait dengan relevansi antara performa dengan karakteristik audiens.

B. Validasi Ahli Materi

Data uji ahli materi diperoleh dari dosen Pendidikan Luar Biasa diperoleh pada tanggal 21 April 2014. Uji ahli materi mencakup penilaian terhadap produk, keakuratan materi, dan kesesuaian bahasa dengan materi. Data hasil validasi materi dibedakan menjadi dua jenis data, yaitu data kuantitatif skala 1 – 4 digunakan untuk menggambarkan penilaian terhadap jabaran variabel. Berikut paparan data hasil uji ahli materi.

Tabel 4.6 Hasil Validasi Ahli Materi

D

Dari paparan hasil data uji ahli materi dapat ditarik kesimpulan bahwa, media yang digunakan layak digunakan dalam pembelajaran dengan sedikit revisi.

No. Kriteria Skor Presentase Kriteria

Kelayakan

1. Sebagai motivasi belajar 4 100% Sangat Layak

2. Ketepatan media dengan penggunaan strategi pembelajaran

3 75% Layak

3. Interaktivitas media 3 75% Layak

4. Kelengkapan dan kualitas bahan ajar 3 75% Layak

5. Ketepatan penggunan media dengan karakteristik 3 75% Layak 6. Kemampuan media dalam menerkemahkan materi 4 100% Sangat Layak 7. Redaksi penyampaian dapat dipahami siswa 3 75% Layak 8. Komunikatif pesan yang disampaikan dapat

dimengereti sesuai dengan keinginan

3 75% Layak

9. Ketepatan alat evaluasi siswa 4 100% Sangat Layak

10. Sistematis, runtut dan alur logika jelas 3 75% Layak 11. Kelengkapan dan kualitas bahan bantuan belajar 3 75% Layak

12. Kedalaman materi yang disampaikan 4 100% Sangat Layak

13. Kesesuaian media dengan penggunaan waktu belajar 3 75% Layak 14. Ketepatan media sebagai alat mencapai tujuan

pembelajaran

4 100% Sangat Layak

15. Kesesuaian media dengan tujuan pembelajaran 4 100% Sangat Layak

(8)

C. Hasil Validasi Ahli Praktisi

Data uji ahli materi diperoleh dari dosen Pendidikan Luar Biasa diperoleh pada tanggal 21 April 2014. Uji ahli materi mencakup penilaian terhadap produk, keakuratan materi, dan kesesuaian bahasa dengan materi. Data hasil validasi materi dibedakan menjadi dua jenis data, yaitu data kuantitatif skala 1 – 4 digunakan untuk menggambarkan penilaian terhadap jabaran variabel. Berikut paparan data hasil uji ahli materi.

Tabel 4.7 Hasil Validasi Ahli Praktisi

No. Aspek Kriteria Skor Presentase Keterangan

1 Media Media pembelajaran memiliki topik yang jelas 3 75% Layak

2 Penyampaian materi sesuai dengan SK dan KD 3 75% Layak

3 Tampilan simulasi yang menarik 3 75% Layak

4 Program memungkinkan siswa aktif dalam pembelajaran

3 75% Layak

5 Media pembelajaran dapat membantu menjelaskan konsep pecahan secara efektif

4 100% Sangat layak

6 Materi Kesesuaian pengorganisasian materi yang disampaikan

3 75% Layak

7 Isi materi memiliki konsep yang benar dan tepat

3 75% Layak

8 Materi yang diberikan sudah memenuhi standar kriteria belajar matematika

3 75% Layak

9 Tahapan materi yang disampaikan penting dikuasai oleh siswa

3 75% Layak

10 Memiliki konten isi materi yang jelas 3 75% Layak

11 Contoh soal yang terdapat di dalam media mudah dipahami

3 75% Layak

12 Contoh soal yang bervariasi 3 75% Layak

13 Bahasa Bahasa yang digunakan mudah dimengeri dan dipahami

3 75% Layak

14 Bahasa yang digunakan mudah dimengeri dan dipahami

2 50% Layak,

direvisi 15 Kesesuaian materi dengan pengembangan

media sesuai dengan karakter belajar peserta didik

3 75% Layak

Total & Rata-rata Presentase 45 75% Layak

(9)

pengembangan media pembelajaran matematika berbasis multi media pada materi pecahan untuk siswa tunarungu kelas 3 tingkat SDLB layak digunakan.

D. Implementasi

Uji coba pada siswa tunarungu dilaksanakan pada tanggal 22 April 2014 pada saat

prestest dan 24 April pada saat posttest. Uji coba tersebut dibagi menjadi dua hari berdasarkan

materi materi yang diberikan.

Tabel 4.9 Hasil Analisis Data Hasil Belajar Akhir Siswa

No Nama Siswa Skor Awal Skor Akhir Kualifikasi

1. RK 40,2 90 49,8

2. DR 20,1 80 59,9

3. FF 53,6 90 36,4

4. MR 53,6 85 31,4

Rata-rata 44,38

( cukup baik/ Layak)

Media pembelajaran tersebut termasuk kategori cukup baik, sehingga perlu diadakan revisi dan dapat digunakan dalam proses pembelajaran di kelas.

Data hasil analisis yang diperoleh, digunakan untuk menentukan kelayakan media sesuai dengan kriteria Analisis data merupakan kegiatan secara rinci hasil analisis data uji coba. Data uji coba berasal dari ahli materi, ahli media, praktis (guru), dan uji coba lapangan. Hasil dari penilaian dari tiap pengujian dianalisis untuk mengetahui bagian yang perlu mendapatkan revisi. Berikut paparan analisis data.

Tabel 4.10 Hasil Validasi

Validator Presentasi Kriteria

Eka Pramono Adi S.Si, M. Pd (ahli media)

91,7 % Sangat Layak

Drs. Thomas Iriyanto, S. Pd., M. Pd (ahli Materi)

75% Layak

Bibit Sofianah, S. Pd, M. Pd 85% Sangat Layak

(10)

media pembelajaran yang dikembangkan perlu diadakan sedikit revisi dan dinilai layak untuk digunakan di lapangan. Berdasarkan analisis data kualitatif yang berupa saran, tersapat beberapa bagian yang perlu dilakukan revisi. Berikut paparan bagian yang perlu direvisi.

Aspek Yang perlu direvisi Keterangan

Akses Media

Icons/button, Navigasi Perlu dioptimalkan dalam

penggunaannya, dengan menyertakan

hyperlink pada unsure button. Serta navigasi pada keyboard tidak perlu dimatikan

Identitas media Identitas pengembang Identitas pengembang supaya dilengkapi

dengan profil pengembang media

Berdasarkan analisis data dari ahli materi yang tampak dalam tabel di atas akan

dilakukan revisi untuk membuat buku panduan layak ketika diuji cobakan.

Berdasarkan data yang diperoleh dari ahli materi secara keseluruhan media pembelajaran matematika berbasis multimedia pada materi pecahan untuk siswa tunarungu kelas 3 SDLB di SLB Pembina Malang didapatkan skor penilaian 75 % dengan kategori layak. Berdasarkan data tersebut, mengacu pada kriteria penilaian pengambil keputusan bahwa media pembelajaran yang dikembangkan perlu diadakan sedikit revisi dan dinilai layak untuk digunakan di lapangan. Berdasarkan analisis data kualitatif yang berupa saran, tersapat beberapa bagian yang perlu dilakukan revisi. Berikut paparan bagian yang perlu direvisi.

Aspek Yang perlu direvisi Keterangan

Bahasa

Bahasa yang digunakan sesuai dengan karakteristik peserta didik

Supaya menggunakan bahasa yang singkat dan jelas. Satu kalimat tidak lebih dari 4 kata.

Berdasarkan data yang diperoleh dari ahli materi secara keseluruhan media pembelajaran matematika berbasis multimedia pada materi pecahan untuk siswa tunarungu kelas

(11)

Aspek Keterangan

Bahasa

Kalimat dalam soal cerita tidak lebih dari 3 kata dalam 1 kalimat, dan menggunakan kalimat operasional dalam soal cerita

Gambar Gambar arsiran disesuaikan berdasarkan gambar pada buku paket umumnya (arsiran standar). Supaya disertakan gambar utuh sebelum dijadikan pecahan.

Media pembelajaran yang dikembangkan cukup baik dan layak digunakan dalam pembelajaran. Media pembelajaran yang dikembangkan memiliki banyak keterbatasan. Pengoptimalkan navigasi dan penggunaan button pada media pembelajaran akan efektif. Navigasi dan penggunaan tombol tersebut berfungsi untuk masuk ke slide satu dengan slide

lain baik secara berurutan maupun abstrak.

Dari segi materi yang dikembangkan cukup bagus, hendaknya media pembelajaran dikemas secara ringkas baik tombol yang digunakan. Untuk materi supaya disertai gambar yang sesuai dengan standar gambar pecahan misalnya arsiran atau warna yang lebih gelap. Menampilkan gambar dalam bentuk utuh dan bentuk pecahan. Media tersebut dilengkapi dengan buku lembar kerja siswa yang menunjang pembelajaran siswa dan latihan siswa selama disekolah maupun dirumah. Lembar kerja siswa tersebut juga dilengkapi penjelasan-penjelasan materi pecahan sederhana.

Materi yang digunakan sesuai dengan SK dan KD siswa tunarungu. Sesuai dengan pengembangan materi yang dikembangkan menekankan pada penggunaan garis bilangan dan soal cerita. Dalam lembar kerja siswa juga dilengkapi intruksi pengerjaan soal, penjelasan, dan varian soal.

PENUTUP Kesimpulan

Matematika adalah bahasa simbolis yang memiliki fungsi praktis mengeskresikan hubungan kuantitatif dan keruangan. Aspek pembelajarannya meliputi (1) konsep, (2) keterampilan, dan (3) pemecahan masalah.

Mata pelajaran matematika perlu dikuasai oleh semua siswa tunarungu di jenjang SDLB. Pembelajaran matematika memerlukan kemampuan untuk berfikir secara kongkrit, semi

(12)

Penguasaaan pelajaran matematika pada jenjang SDLB untuk tunarungu memiliki hambatan pada proses pembelajaran terutama pada materi pecahan. Peserta didik memiliki karakteristik verbalistis dan tidak memahami konsep dan maksud pechanan sederhana terhana tersebut. Media yang digunakan secara umum dapat menjelaskan konsep pecahan sederhana namun pada sub materi selanjutnya dirasa kurang praktis dalam penyampaiannya. Oleh karena itu diperlukan media yang dapat menjelaskan atau menerjemahkan bahasa simbolis matematika tersebut yang sesuai dengan karaktiristik siswa serta praktis dalam penggunaan dan

penyimpanannya.

Pengembangan media pembelajaran matematika berbasis multimedia merupakan bagian dari pengembangan media berbantuan teknologi. Teknologi memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembelajaran. Maka diadakan studi pengembangan mengenai media pembelajaran matematika untuk anak tunarungu guna menunjang pembelajaran.

Hasil dari penelitian pengembangan yang dilakukan oleh peneliti menghasilkan media pembelajaran matematika berbasis multimedia untuk siswa tunarungu SDLB Pembina Malang yang dapat menjelaskan konsep pecahan sederhana dengan penggunaan yang aman dan praktis. Secara teoritik media pembelajaran matematika berbasis multimedia tersebut telah dinyatakan valid oleh ahli media, ahli materi, dan ahli praktisi (guru). Hasil uji coba produk juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam menguasai kompetensi materi pecahan sederhana. Berdasarkan hasil uji coba produk, didapatkan hasil cukup layak untuk digunakan dalam pembelajaran matematika di kelas.

Media pembelajaran yang dikembangkan dapat dijadikan alternatif media yang bisa digunakan dalam pembelajaran matematika. Media pembelajaran berbasis miultimedia yang penggunaannya menggunakan proyektor cukup layak digunakan karena media dapat menjelaskan pada siswa konsep pecahan sederhana, membandingkan dua pecahan, mengurutkan pecahan dan pemecahan masalah.

Pengembangan media pembelajaran matematika berbasis multimedia menyajikan menggunakan kombinasi antara gambar dan motion sehingga menghasilkan animasi sederhana. Animasi tersebut menjelaskan bagaimana suatu gambar yang utuh dibelah kemudian lambang bilangan pecahannya. Kemudian menerangkan mana yang lebih besar dan lebih kecil pada garis

(13)

multimedia juga dilengkapi lembar kerja siswa untuk melatih anak dalam mengerjakan soal matematika.

Pengembangan media pembelajaran matematika berbasis multimedia memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan pengembangan media pembelajaran berbasis matematika adalah gabungan antara gambar dan motion dapat memvisualisasikan benda kongkret yang di potong, digunakan jangka panjang, dan aman digunakan. Kelemahan pengembangan media pembelajaran berbasis multimedia hanyalah sebatas pada materi pecahan sederhana untuk siswa tunarungu

kelas 3. Untuk media pembelajaran selama satu semester diperlukan waktu yang lama untuk melakukan penelirian serta uji coba dengan beberapa kelompok. Siswa tunarungu memerlukan media yang inovatif dalam pembelajrannnya, oleh karena itu pengembangan media berikutnya dapat dilanjutkan oleh guru kelas mauppun peneliti yang akan datang.

Saran

Gambar

Tabel 4.6 Validasi Coba Ahli Media
Tabel 4.6 Hasil Validasi Ahli Materi
Tabel 4.7 Hasil Validasi Ahli Praktisi
Tabel 4.10 Hasil Validasi
+2

Referensi

Dokumen terkait

Data hasil evaluasi dari ahli pembelajaran pendidikan jasmani dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan diperoleh persentase 92,93% sehingga produk pengembangan

yang dikembangkan kemudian akan di validasi oleh ahli materi, bahasa dan media. Bertindak sebagai ahli materi dalam evaluasi pengembangan media pembelajaran berbasis

yang dikembangkan kemudian akan di validasi oleh ahli materi, bahasa dan media. Bertindak sebagai ahli materi dalam evaluasi pengembangan media pembelajaran berbasis

Pengembangan media pembelajaran berbasis android pada pembelajaran EFI mendapatkan penilaian dari ahli media, ahli materi, uji coba kelompok kecil, dan uji coba

Penelitian ini bertujuan untuk 1 mengembangkan media pembelajaran berbasis video sebagai media pembelajaran, 2 mengetahui penilaian ahli materi dan ahli media terhadap media

Oleh karena itu, peneliti tertarik melakukan penelitian dan pengembangan media pembelajaran berbasis edmodo terhadap materi penjumlahan dan pengurangan dua pecahan dengan penyebut

Lampiran 12: Validasi Ahli Materi ANGKET VALIDASI AHLI MATERI Judul Penelitian : Pengembangan Media Pembelajaran E-Komik Sistem Ekskresi Manusia pada Pembentukan Urine Berbasis Kode

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan menguji cobakan produk yang dikembangkan berupa media matematika berbasis roda pintar ROPI pada materi pecahan kelas IV yang ditinjau