• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Penerapan Teknologi Digital Subscriber Line (DSL) Pada Layanan Corporate Customer UNER 1 Sumatera

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Penerapan Teknologi Digital Subscriber Line (DSL) Pada Layanan Corporate Customer UNER 1 Sumatera"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KERANGKA TEORITIS

2.1 Pengenalan Teknologi Digital Subscriber Line

Teknologi Digital Subscriber Line (DSL) merupakan salah satu teknologi

akses komunikasi data berkecepatan tinggi yang dapat diterapkan guna

mempercepat akses transfer data pada penggunaan jaringan kabel tembaga

pelanggan (subscriber lines).

Teknologi DSL termasuk keluarga teknologi yang menyediakan transmisi

digital, kemudian dikembangkan sebagai teknologi transmisi untuk ISDN

(Integrated Services Digital Network) Basic Rate Access Channel. ISDN adalah

teknologi digital yang mampu mentransfer layanan suara, gambar serta video

namun dengan kecepatan terbatas..

Perkembangan kemudian, teknologi DSL digunakan sebagai transmisi digital dan

dibagi berdasarkan perbedaan kecepatan pengiriman data dan jarak kabel

maksimum bergantung pada kecepatan yang diinginkan serta kualitas jaringan

kabel yang digunakan. Penggunaan teknologi DSL memiliki beberapa alternatif

penggunaan yang dapat dikembangkan, bergantung pada sistem pengiriman paket

data yang diinginkan seperti High bit rate DSL (HDSL), Asymmetric DSL

(ADSL), Symmetrical DSL (SDSL), dan Very High bit rateDSL (VDSL).

Keuntungan terbesar yang diberikan dalam penggunaan teknologi DSL

adalah kemampuan memberikan akses dengan bandwidth yang lebih tinggi

(2)

2.2Pengertian Gangguan dan Sasaran Mutu Gangguan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan

Nasional, 2008), gangguan adalah halangan, rintangan, sesuatu yang

menyusahkan, hal yang menyebabkan ketidakwarasan atau ketidaknormalan atau

hal yang menyebabkan ketidaklancaran.

Gangguan pada suatu layanan atau jasa dapat diartikan sebagai suatu hal

yang menyebabkan kesusahan, ketidaknormalan atau ketidaklancaran dalam

menikmati layanan atau jasa yang diberikan kepada pelanggan. Gangguan dapat

berupa suatu bencana, tahanan, maupun usikan terhadap kegiatan yang sedang

dilaksanakan.

Dalam hal penanganan gangguan untuk tetap menjaga mutu layanan yang

diberikan agar tetap sesuai dengan persyaratan dan menjaga kepuasan pelanggan,

PT Telkom menetapkan pedoman untuk pengelolaan layanan yang dinamakan

Pedoman Pengelolaan Service Level Agreement (SLA). SLA adalah kesepakatan

antar unit bisnis Telkom yang menjelaskan tentang tujuan, hak dan kewajiban

para pihak serta parameter yang ditentukan.

Pengelolaan SLA layanan komunikasi data bagi corporate customer,

diatur oleh unit bisnis Telkom yaitu antara Divisi Enterprise (Dives) dengan

Divisi Product Owner (PO). Kedua unit bisnis telah menyepakati bahwa untuk

durasi penyelesaian gangguan ditetapkan suatu sasaran mutu yang dinamakan

Mean Time to Recover (MTTR) sebesar selama 3.5 jam. Diharapkan dengan

adanya kesepakatan sasaran mutu tersebut, dapat meningkatkan jaminan terhadap

(3)

2.3 Pengertian Mutu

Mutu merupakan segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan/

kebutuhan pelanggan (meeting the needs of customer) (Gasperz, 2006). Mutu

dapat juga diartikan sebagai segala sesuatu yang menentukan kepuasan

pelanggan dan upaya perubahan ke arah perbaikan terus-menerus sehingga

dikenal sebagai istilah Q-MATCH (Quality = Meets Agreed Terms and Changes).

Terdapat beberapa definisi mutu menurut para ahli, yakni:

1. Menurut William Edward Deming

Mutu adalah sesuatu yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan

pelanggan sekarang dan dimasa datang. (Deming, 2000)

2. Philips Bayard Crosby, mutu adalah kesesuaian dengan kebutuhan yang

meliputi availibility, delivery, reliability, maintainability, and cost

effectiveness. (Crosby, 1979).

2.3.1 Manfaat Mutu

Pada era globalisasi saat ini, persaingan bisnis berjalan semakin kompleks

dan semakin tajam. Para ahli berpendapat bahwa untuk bisa bertahan dalam

situasi tersebut maka perusahaan harus memiliki keunggulan kompetitif , dimana

salah satu faktor penting untuk dapat memperolehnya adalah dengan Manajemen

Mutu, dimulai dari mutu proses yang mengarah untuk membentuk mutu

produk/jasa.

Banyak manfaat yang dapat diterima apabila sebuah perusahaan bermutu,

(4)

1. Dampak Positif terhadap Biaya Produksi, terjadi melalui proses

pembuatan produk yang memiliki derajat konformasi yang tinggi terhadap

standar-standar sehingga bebas dari tingkat kerusakan yang mungkin

terjadi.

2. Dampak Positif terhadap Pendapatan, terjadi melalui peningkatan

penjualan atas produk bermutu yang berharga kompetitif.

Dengan manajemen mutu maka pekerjaan berulang akan dihilangkan,

kesalahan-kesalahan didalam proses kerja tidak terjadi lagi, produk/jasa yang

gagal/cacat/tidak baik akan sangat rendah sehingga produktivitas akan memiliki

pertumbuhan yang tinggi, hal ini digambarkan dalam reaksi berantai Deming

sebagai berikut:

Gambar 2.1 Reaksi Berantai Deming

Mutu/kualitas memiliki dimensi yang dapat diukur berdasarkan

elemen-elemen tertentu. Elemen-elemen-elemen dimensi mutu untuk pelayanan atau jasa adalah : Tingkatkan

Mutu

Biaya menurun oleh karena lebih sedikit kerja ulang, lebih sedikit kesalahan, lebih sedikit

keterlambatan, berkurangnya halangan mendadak, lebih baiknya penggunaan waktu,

mesin dan bahan

Produktivitas meningkat

Menyediakan semakin banyak lapangan kerja

Tetap bertahan di usaha Menguasai pasar dengan mutu yang lebih baik &

(5)

1. Kepastian waktu (timelines): dilaksanakan dalam waktu yang

dijanjikan.

2. Keramahan (courtesy) : dilakukan dengan ramah tamah.

3. Konsistensi (consistency) : semua pelanggan mempunyai pengalaman

yang sama dari waktu ke waktu.

4. Kelengkapan (completeness) : dilayani dengan penuh sebagaimana

yang diharuskan.

5. Ketepatan (accuracy) : dilakukan dengan tepat setiap saat.

Suatu organisasi/perusahaan yang secara konsisten melakukan manajemen

mutu dalam kegiatannya akan dapat menurunkan cost, sehingga harga jual produk

maupun jasa akan lebih murah dibandingkan dengan kompetitornya.

2.4 Manajemen Teknologi

Manajemen teknologi berfungsi sebagai disiplin yang menjembatani

bidang engineering dan science dengan bidang manajemen yang ditujukan untuk

perencanaan (planning), pengembangan (development), dan implementasi

(implementation) teknologi dalam rangka pencapaian sasaran strategis dan

operasional suatu organisasi. Ruang lingkup Manajemen Teknologi meliputi

kegiatan :

a. Pemilihan teknologi yang akan digunakan.

b. Transfer dan adaptasi teknologi.

(6)

Secara umum tujuan Manajemen teknologi adalah menciptakan dan/atau

menambah nilai bagi perusahaan melalui teknologi, baik yang diciptakan sendiri

maupun yang diperoleh dari luar. Penciptaan atau peningkatan nilai dapat

dilakukan melalui penciptaan bisnis, penciptaan produk atau perbaikan produk

atau jasa baru atau penciptaan dan perbaikan proses.

Salah satu bentuk kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan

adalah dengan mengadopsi teknologi baru untuk menggantikan teknologi yang

dimiliki.

Secara skematis kebutuhan untuk mengadopsi teknologi dapat dilakukan

dengan berdasar kepada 4 faktor sebagai berikut (Nazaruddin, 2008):

a. Tuntutan kualitas.

b. Perkembangan Produk/Proses baru.

c. Pertumbuhan Produktivitas.

d. Kompetisi Global.

Salah satu dasar keputusan dalam pemilihan adopsi teknologi adalah

Pertumbuhan Produktivitas. Produktivitas beserta dengan kualitas adalah kunci

sukses bagi perusahaan., dasar pemikirannya adalah perusahaan akan dapat

dioperasikan seefektif dan seefisien mungkin dengan teknologi mutakhir. Namun,

teknologi baru bukanlah solusi utama dalam permasalahan produktivitas dan

kualitas. Teknologi baru dapat dipandang sebagai sebuah alat yang terintegrasi

untuk digunakan bersama dengan faktor lainnya sesuai dengan target yang

diprogramkan. Dalam beberapa studi tentang penerapan teknologi baru,

(7)

untuk kegiatan penerapan teknologi berikutnya (Harrison dan Samson, 2002).

Pada beberapa perusahaan, budaya mereka berperan sangat penting, karena hal

tersebutlah yang mengarahkan perusahaan pada pemilihan teknologi yang tepat

dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan posisi perusahaan dalam pasar.

Sedangkan dalam perihal percepatan pengembangan produk/teknologi

baru, pada proses internal perusahaan harus terdapat 4 metode koordinasi internal

yang perlu teridentifikasi dan diimplementasikan untuk mempercepat pengenalan

produk baru, yaitu interaksi antara bagian riset dengan pemasaran, keterlibatan

lebih cepat oleh bagian perakitan, pemilihan desain produk, dan budaya

berdasarkan komitmen bersama (Narayanan, 2001).

2.5Analisis Statistika

Analisis Statistika yang digunakan pada penelitian ini berdasar pada

hipotesis yang akan diuji yaitu hipotesis deskriptif satu sampel dan hipotesis

asosiatif. Pengujian berdasar pada data yang bersifat ordinal dan rasio.

Untuk pengujian hipotesis asosiatif dengan data ordinal digunakan

Korelasi rank Spearman (Sugiyono, 1999) dengan rumus sebagai berikut:

r

rank =

1

(8)

D = Beda peringkat

N = Jumlah Data

Untuk mengintepretasikan angka

r

rank, maka perlu diperbandingkan

dengan angka pada tabel rho.

Sedangkan untuk pengujian hipotesis deskriptif, digunakan data berbentuk

rasio dengan menggunakan uji t-test dengan rumus:

z =

X - µ

σ

/

n

dengan :

z = nilai uji t

X = rata-rata sampel

µ = nilai yang dihipotesiskan

σ = simpangan baku sampel

n = jumlah sampel

2.6 Tinjauan Pustaka

Tinjauan Pustaka mempunyai arti: peninjauan kembali pustaka-pustaka

yang terkait (review of related literature). Sesuai dengan arti tersebut, suatu

tinjauan pustaka berfungsi sebagai peninjauan kembali (review) pustaka (laporan

penelitian, dan sebagainya) tentang masalah yang berkaitan, tidak selalu harus

tepat identik dengan bidang permasalahan yang dihadapi, tetapi termasuk pula

yang seiring dan berkaitan (collateral). Fungsi peninjauan kembali pustaka yang

(9)

Leedy (1997) bahwa semakin banyak seorang peneliti mengetahui, mengenal dan

memahami tentang penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya,

semakin dapat dipertanggung jawabkan caranya meneliti permasalahan yang

dihadapi.

Dalam hal penerapan teknologi DSL, salah satu contoh penggunaan

teknologi tersebut adalah untuk layanan Speedy, jasa akses internet berkecepatan

tinggi dari PT Telkom. Kebijakan pemasaran layanan Speedy memberikan

dampak peningkatan jumlah pelanggan dan sebagai sumber baru bagi PT Telkom

dalam peningkatan revenue.

Penelitian yang menjadi tinjauan pustaka dalam penulisan gladikarya ini

adalah sebagai berikut :

• Febri Egasmara (MM USU, 2008) melakukan penelitian dengan judul Analisis

Respon pelanggan Atas Kebijakan Bauran Pemasaran Speedy Dalam

Peningkatan Pendapatan (Studi Kasus di Telkom Divisi Regional I Sumatra).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan kebijakan

bauran pemasaran layanan SPEEDY di TELKOM Divre I Sumatra dalam

memasarkan layanan SPEEDY untuk meningkatkan pendapatan serta Untuk

mengetahui respon pelanggan atas kebijakan bauran pemasaran layanan

SPEEDY di TELKOM Divre I Sumatra. Dengan menggunakan teknik

wawancara, kuisioner dan data sekunder lainnya dalam pengumpulan data lalu

dilakukan analisis dengan pendekatan deskriptif, dimana semua data baik

kuantitatif maupun kualitatif dijelaskan keterkaitan serta pengaruhnya

Gambar

Gambar 2.1  Reaksi Berantai Deming

Referensi

Dokumen terkait

Sistem diuji cobakan pada jaringan broadband ADSL yang telah dikonfigurasi sebelumnya, kemudian dilakukan pengambilan data menggunakan software Wireshark 1.0.5, Selanjutnya

Access Multiplekser (DSLAM) pada teknologi Very High Data Rate Digital Subscriber Line (VDSL) dapat dilanjutkan dengan parameter yang lebih spesifik seperti

Speedy adalah nama produk PT Telkom yang merupakan layanan akses internet dengan kecepatan tinggi yang memiliki kemampuan akses untuk kecepatan upstream sebesar 64 kbps,

Digital Subscriber Line Access Multiplexer (DSLAM) merupakan sebuah peralatan yang berfungsi menggabungkan dan memisahkan sinyal data dengan saluran telepon yang dipakai

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan layanan perpustakaan dengan bantuan teknologi informasi dan komunikasi adalah dengan menggunakan teknologi Radio Frequency

Selanjutnya hasil analisis memperlihatkan bahwa variabel be- bas yang berpengaruh nyata ter- hadap peluang petani jambu mete untuk mengadopsi teknologi adalah

Suatu organisasi/perusahaan yang secara konsisten melakukan manajemen mutu dalam kegiatannya akan dapat menurunkan cost, sehingga harga jual produk maupun jasa akan lebih

Lain halnya dengan pesaing, keinginan untuk mengungguli pesaing ditemukan menjadi faktor yang mendorong pengrajin tempe untuk mengadopsi teknologi baru Tingkat Adopsi Teknologi