• Tidak ada hasil yang ditemukan

LEMBAGA WAKAF DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKA (8)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LEMBAGA WAKAF DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKA (8)"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

LEMBAGA WAKAF DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Individu Pada Mata Kuliah

Sejarah Sosial Pendidikan Islam

Oleh:

Hafizah Fitri Rambe NIM.3003163009 Prodi: Pendidikan Islam

Moderator:

Hadi Syahputra Pangabean

Dosen Pembimbing: Prof.Dr.Dja’far Siddik, MA

Dr.Siti Zubaidah, M.Ag

PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SUMATERA UTARA

(2)

BAB I PENDAHULUAN

Wakaf sangat memliliki manfaat untuk membantu umat kaum muslim meningkatkan kesejahteraannya yang dimana wakaf digunakan sebagai untuk sarana penyaluran rezeki untuk kebutuhan sosial ekonomi baik dalam pendidikan, pelayanan kesehatan, pelayanan sosial dan kepentingan umum, kegiatan keagamaan, pengembangan ilmu pengetahuan serta dalam peradaban Islam.

Perkembangan wakaf di negara-negara Timur Tengah telah banyak dirasakan manfaatnya bagi masyarakat Timur Tengah. Perkembangan wakaf kini sampai ke Indonesia, wakaf di Indonesia telah dikenal sebagai lembaga keagamaan yang banyak membantu dengan sosial ekonomi, telah banyak membantu pembangunan secara menyeluruh di Indonesia dan berbagai negara lainnya, baik dalam pembangunan sumber daya manusia maupun dalam pembangunan sumber daya sosial, karena pada kenyataannya, sebagian besar rumah ibadah, tempat pemakaman, perguruan Islam dan lembaga-lembaga keagamaan Islam dibangun di atas tanah wakaf.

(3)

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Wakaf

Untuk mengetahui pengertian wakaf mulanya kita harus mengetahui asal dari kata wakaf tersebut, wakaf berasal dari bahasa Arab Waqafa. Asal kata Waqafa berarti “menahan” atau “berhenti” atau “diam di tempat” atau tetap berdiri”. Kata Waqafa-Yaqifu-Waqfan sama artinya dengan Habasa – Yahbisu - Tahbisan.1 Secara bahasa kata wakaf (

ففففف

ق و

) berarti al-habs

(menahan), radiah (tekembalikan), al-tahbis (tertahan) dan al-man’u (mencegah).2 Secara istilah wakaf diartikan sebagai suatu tindakan penahanan

barang yang masih ada, dimana seseorang dapat memanfaatkan atau menggunakan hasilnya untuk tujuan amal, dari penyerahan dan penggunaan aset tersebut.3 Wakaf juga dapat diartikan sebagai harta yang diberikan untuk

berbagai tujuan kemanusiaan, yang dalam penyerahan aset tetap oleh seseorang sebagai bentuk manifestasi kepatuhan pada agama, sekali untuk selamanya.4 Dalam pengertian yang lainnya wakaf yaitu menahan sesuatu

benda atau harta yang dapat diambil manfaatnya untuk digunakkan pada jalan yang diridai Allah Swt.5

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa wakaf adalah suatu tindakan menyerahkan aset dan menahan diri memanfaatkannya, untuk dapat dikelola dengan menahan pokoknya, dan hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan umum sebagai wujud dari kepatuhan terhadap agama pada jalan yang diridhai Allah Swt.

Para ahli fiqih berbeda dalam mendefinisikan wakaf menurut istilah, sehingga mereka berbeda pula dalam memandang hakikat wakaf itu sendiri. Berbagai pandangan tentang wakaf menurut istilah sebagai berikut:

1 Muhammad al-Khathib, al-Iqna' (Bairut: Darul Ma'rifah,1995), h. 26 dan Wahbah Zuhayli, Al-Fiqh al-Islam wa 'Adillatuhu,(Beirut: : Dar al-Fikr,1997),, h. 7599

2 M. Al-Syarbini Khatib, Al-Iqna Fi Al-Hall Al-Alfadz Abi Syuza’, (Indonesia: Dar al-Ihya al-Kutub, tt), h. 319.

3 M.A Manan, Sertifikat Wakaf Tunai (Jakarta:CiBER Bekerja Sama Dengan PKTII-UI, 2005), h.29

4 Ibid, h.30

(4)

1. Abu Hanifah

Menurut Abu Hanafiah mengartikan wakaf sebagai shadaqah yang kedudukannya seperti ‘ariyah, yaitu pinjam-meminjam.6 Perbedaan dari

kedua arti ini adalah pada bendanya. Dalam ‘ariyah benda ada ditangan sipeminjam sebagai pihak yang menggunakan dan mengambil manfaat benda itu. Sedangkan benda dalam wakaf ada ditangan si pemilik yang tidak menggunakan dan mengambil manfaat dari benda itu. Dengan demikian benda wakaf itu tetap menjadi milik wakif sepenuhnya, hanya manfaatnya saja yang disedekahkan.7

2. Imam Maliki

Pendapat memiliki perbedaan dari pendapat abu nifah yang dimana menurut Imam Malik wakaf tidak harus dilembagakan secara abadi dalam ari muabbad dan boleh saja mesti diwakafkan untuk tenggang waktu tertentu yang disebut muaqqat. Namun demikian wakaf itu tidak boleh ditarik ditengah perjalanan. Dengan lain perkataan si wakif tidak boleh menarik ikrar wakafnya sebelum habis tenggang waktu yang telah ditetapkan. Disinilah letak kepastian hukumnya dalam perwakafan menurut Imam Malik, yaitu kepastian hukum yang mengikat berdasarkan suatu ikrar.8 Maksud dari Imam Maliki wakaf disini dengan cari perjanjian

atau kontrak dengan menggunakan waktu yang telah disepakati dengan perjanjian menggunakkan hukum.

3. Imam Syafi’i dan Hambali

Menurut Imam Syafi’i wakaf itu disamakan dengan shadaqah. Pada dasarnya Syafi’i dan Hambali mempunyai pandangan yang sama tentang wakaf, baik dalam kedudukannya yang lazim maupun sahnya wakaf dengan ucapan maupun perbuatannya. Ada beberapa syarat keabsahan wakaf: pertama benda yang diwakafkan itu dapat diperjual belikan dan menunjukkan pemanfaatannya secara langsung tanpa mengalami kerusakkan bendanya. Kedua wakaf mesti ditujukkan untuk kebaikkan (al-birr), seperti untuk orang – orang miskin, tempat ibadah,

6 Wahbah Zuhayli, Al-Fiqh al-Islam wa 'Adillatuhu,..h.7603

7 Ibid, h.7599

(5)

kepentingan umum, jembatan dan lain – lain. Ketiga, wakaf hendaknya diserahkan kepada orang yang mempunyai hak untuk memiliki sesuatu yang disebut al-tamalluk. Dengan demikian wakaf tidak sah jika diberikkan kepada hamba sahaya. Keempat, wakaf mesti dilaksanakan secara langsung tanpa digantungkan kepada suatu syarat tertentu.9

B. Sejarah Wakaf10

Untuk mengetahui asal muasalnya wakaf tersebut, bisa dipahami dari sejarah mulanya adanya wakaf, yang dimulai dari masa Rasulullah. Untuk lebih jelasnya sejarah wakaf, yaitu :

1. Masa Rasulullah

Awal mulanya wakaf terjadi pada zaman Rasulullah yang bisa dapat dilihat dalam sejarah Islam, wakaf dikenal sejak masa Rasulullah SAW karena wakaf disyariatkan setelah Nabi SAW berhijrah ke Madinah, pada tahun kedua hijriyah. Di zaman Rasulullah terdapat dua pendapat para ahli fuqaha’ mengenai siapa yang melaksanakan pertama kali Syariat wakaf. Menurut beberapa pendapat ulama yang mengatakan bahwa yang melaksanakan wakaf pertama kali adalah Rasulullah SAW, wakaf yang di lakukan Rasulullah adalah tanah miliknya sendiri yang digunakan untuk dibangun masjid. Pendapat ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Syabah dari ‘Amr bin Sa’ad bin Mu’ad, ia berkata: Sa'ad bin Muad berkata : “Dan diriwayatkan dari Umar bin Syabah, dari Umar bin Sa'ad bin Muad berkata : “Kami bertanya tentang mula-mula wakaf dalam Islam? Orang Muhajirin mengatakan adalah wakaf Umar, sedangkan orang-orang Ansor mengatakan adalah wakaf Rasulullah SAW.

Tidak hanya itu Rasulullah juga pernah mewakafkan tujuh kebun kurma di Madinah yang terjadi pada tahun ketiga hijriah, di antara kebun kurma tersebut ialah kebon A’raf, Shafiyah, Dalal, Barqah dan kebon lainnya. Menurut pendapat sebagian ulama mengat akan bahwa yang

9 Asnil Aidah Ritonga, Pendidikan Islam Dalam Buaian Arus Sejarah, (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2008), h.35-36

(6)

pertama kali melaksanakan Syariat wakaf adalah Umar bin Khathab. Pendapat ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar ra. ia berkata: “Bahwa sahabat Umar ra. meperoleh sebidang tanah di Khaibar, kemudian Umar ra.Menghadap Rasulullah SAW. untuk meminta petunjuk. Umar berkata: “Hai Rasulullah SAW., saya mendapat sebidang tanah di Khaibar, saya belum mendapatkan harta sebaik itu, maka apakah yang engkau perintahkan kepadaku?” Rasulullah SAW. bersabda: “Bila engkau suka, kau tahan (pokoknya) tanah itu, dan engkau sadekahkan (hasilnya). “Kemudian Umar mensadekahkan (tanahnya untuk dikelola), tidak dijual, tidak dihibahkan dan tidak diwariskan. Ibnu Umar berkata: “Umar menyedekahkannya (hasil pengelolaan tanah) kepada orang-orang fakir, kaum kerabat, hamba sahaya, sabilillah, ibnu sabil dan tamu. Dan tidak dilarang bagi yang mengelola (nazhir) wakaf makan dari hasilnya dengan cara yang baik (sepantasnya) atau memberi makan orang lain dengan tidak bermaksud menumpuk harta.” (HR. Muslim)

Setelah Umar Bin Khattab melaksanakan syariat tentang pewakafan, kemudian wakaf juga dilaksanakan oleh Abu Thalhah yang mewakafkan kebun Bairaha miliknya yang merupakan kebun kesayangannya, Selanjutnya pewakafan dilakukan oleh sahabat Nabi SAW. lainnya, seperti Abu Bakar yang mewakafkan sebidang tanahnya di Mekkah yang diperuntukkan kepada anak keturunannya yang datang ke Mekkah. Utsman menyedekahkan hartanya di Khaibar. Ali bin Abi Thalib mewakafkan tanahnya yang subur. Setelah itu dilanjutkan oleh Mu’adz bin Jabal yang dimana ia mewakafkan rumahnya yang dikenal dengan “Dar al- Anshar”. Kemudian pelaksanaan wakaf disusul oleh Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Zubair bin Awwam dan ‘Aisyah Istri Rasulullah SAW.11

(7)

2. Masa Dinasti-Dinasti Islam

Setelah di zaman Rasulullah pelaksanaan wakaf semakin berkembang luas pada masa dinasti Umayah dan dinasti Abbasiyah, semua orang telah berlomba-lomba untuk melaksanakan wakaf, wakaf dimanfaatkan tidak hanya untuk orang-orang fakir dan miskin , tetapi juga wakaf menjadi modal untuk membangun untuk kepentingan bersama yaitu seperti pembangunan lembaga pendidikan, membangun perpustakaan dan membayar gaji para stafnya, gaji para guru dan beasiswa untuk para siswa dan mahasiswanya. Pelaksanaan wakaf yang dilakukan masyarakat ini menjadi suatu keinginaan untuk mengatur pelaksanaan dalam pengelolaan wakaf sebagai suatu usaha untuk membangun solidaritas sosial dan ekonomi masyarakat untuk kesejahteraan negara.

Pelaksanaan wakaf awalnya hanyalah untuk keinginan seseorang yang dengan kekayaan yang dimilikinya untuk berbuat baik secara individu untuk dapat mengelolanya dan dikelola secara individu tanpa ada aturan yang pasti. Setelah masyarakat Islam dapat merasakan banyak manfaatnya lembaga wakaf, maka mulailah timbul keinginan untuk pelaksanaan pengaturan perwakafan dengan baik dan kemudian akan mulai dibentuk lembaga yang mengatur wakaf untuk mengelola, memelihara dan menggunakan harta wakaf, baik secara umum seperti masjid atau secara individu atau keluarga.

(8)

Kehakiman yang dikelola dengan baik dan hasilnya disalurkan kepada yang berhak dan yang membutuhkan.12

Lembaga wakaf Shadr al-Wuquuf” yang ada pada masa dinasti Abbasiyah yang akan mengatur dan mengelola administrasi dan memilih staf pengelola lembaga wakaf. Beitu juga dalam perkembangan wakaf pada masa dinasti Umayyah dan Abbasiyah yang manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat, sehingga lembaga wakaf berkembang searah dengan pengaturan administrasinya. Pada masa dinasti Ayyubiyah di Mesir perkembangan wakaf cukup menggembirakan, di mana hampir semua tanah-tanah pertanian menjadi harta wakaf dan semuanya dikelola oleh negara dan menjadi milik negara (baitul mal).

Saat dalam pemerintahan Mesir Shalahuddin Al-Ayyuby, ia bertujuan untuk mewakafkan tanah-tanah milik negara yang akan diserahkannya kepada yayasan keagamaan dan yayasan sosial yang dimana telah dilakukan oleh dinasti Fathimiyyah sebelumnya, meskipun secara hukum fiqih mewakafkan harta baitulmal ada perbedaan pendapat para ulama. Untuk mewakafkan tanah milik negara (baitul mal) orang harus mewakafkanya terlebih dahulu kepada yayasan keagamaan dan sosial adalah Raja Nuruddin Asy-Syahid dengan ketegasan fatwa yang dikeluarkan oleh seorang ulama pada masa itu ialah Ibnu ‘Ishrun dan didukung oleh para ulama lainnya bahwa mewakafkan harta milik negara hukumnya boleh (jawaz), dengan argumentasi (dalil) memelihara dan menjaga kekayaan negara. Oleh karena itu harta yang menjadi milik negera pada hukumnya tidak boleh diwakafkan Shalahuddin al-Ayyuby banyak mewakafkan lahan milik negara untuk kegiatan pendidikan, seperti mewakafkan beberapa desa (qaryah) untuk pengembangan madrasah mazhab asy-Syafi’iyah, madrasah al-Malikiyah dan madrasah mazhab al-Hanafiyah dengan dana melalui model mewakafkan kebun dan lahan pertanian, seperti pembangunan

(9)

madrasah mazhab Syafi’iy di samping kuburan Imam Syafi’i dengan cara mewakafkan kebun pertanian dan pulau al-Fil.

Dalam rangka mengembangkan para ulama dan kepentingan misi mazhab Sunni Shalahuddin al-Ayyuby menetapkan kebijakan (1178 M/572 H) bahwa bagi orang Kristen yang datang dari Iskandar untuk berdagang wajib membayar bea cukai. Hasilnya dikumpulkan dan diwakafkan kepada para ahli yurisprudensi (fuqahaa’) dan para keturunannya. Wakaf telah menjadi sarana bagi dinasti al-Ayyubiyah untuk kepentingan politiknya dan misi alirannya, ialah mazhab Sunni dan mempertahankan kekuasaannya. Harta milik negara yang menjadi pemasukkan untuk diwakafkan untuk pelaksanaan pengembangan mazhab Sunni dan untuk menggusur mazhab Syi’ah yang dibawa oleh dinasti sebelumnya, ialah dinasti Fathimiyah.13

Perkembangan wakaf pada masa dinasti Mamluk sangat pesat dan beraneka ragam, sehingga apapun yang dapat diambil manfaatnya boleh diwakafkan. Aka tetapi yang paling banyak diwakafkan pada saat itu ialah tanah pertanian dan bangunan, bangunan yang di wakafkan seperti gedung perkantoran, penginapan dan tempat belajar. Pada masa Mamluk terdapat wakaf hamba sahaya yang diwa kafkan untuk merawat lembaga-lembaga agama. Seperti mewakafkan budak untuk memelihara masjid dan madrasah. Hal ini dilakukan pertama kali oleh penguasa dinasti Utsmani ketika menaklukkan Mesir, Sulaiman Basya yang mewakafkan budaknya untuk merawat masjid.

Manfaat wakaf pada masa dinasti Mamluk digunakan sebagaimana tujuan wakaf, seperti wakaf keluarga untuk kepentingan keluarga, wakaf umum untuk kepentingan sosial, membangun tempat untuk memandikan mayat dan untuk membantu orang-orang fakir dan miskin. Yang sangat membawa syi’ar Islam adalah wakaf yang digunakkan untuk sarana di Haramain, ialah Mekkah dan Madinah, seperti kain Ka’bah (kiswatul ka’bah). Sebagaimana yang dilakukan oleh Raja Shaleh bin al-Nasir yang membeli desa Bisus lalu

(10)

diwakafkan untuk membiayai kiswah Ka’bah setiap tahunnya dan mengganti kain kuburan Nabi SAW dan mimbarnya setiap lima tahun sekali.

Perkembangan selanjutnya telah banyak manfaat dari pelaksanaan wakaf yang akhirnya menjadi sarana untuk membantu dalam roda ekonomi pada masa dinasti Mamluk mendapat perhatian khusus pada masa itu meski tidak diketahui secara pasti awal mula disahkannya undang-undang wakaf. Namun menurut berita dan berkas yang terhimpun bahwa perundang-undangan wakaf pada dinasti Mamluk dimulai sejak Raja al-Dzahir Bibers al-Bandaq (1260-1277 M./658-676 H) di mana dengan undang-undang tersebut Raja al-Dzahir memilih hakim dari masing-masing empat mazhab Sunni. dimasa al-Dzahir Bibers perwakafan dibagi menjadi tiga : yang pertama ialah pendapatan negara dari hasil wakaf yang diberikan oleh penguasa kepada orang-orang yang dianggap berjasa, dan yang kedua wakaf untuk membantu Haramain (fasilitas Mekkah dan Madinah) dan yang ketiga kepentingan masyarakat umum.14

Sejak abad lima belas, kerajaan Turki Utsmani dapat memperluas wilayah kekuasaannya, sehingga Turki dapat menguasai sebagian besar wilayah negara Arab. Kekuasaan politik yang diraih oleh dinasti Utsmani secara otomatis mempermudah untuk menerapkan Syari’at Islam, di antaranya ialah peraturan tentang perwakafan. Di antara undang-undang yang dikeluarkan pada masa dinasti Utsmani ialah peraturan tentang pembukuan pelaksanaan wakaf, yang dikeluarkan pada tanggal 19 Jumadil Akhirtahun 1280 Hijriyah. Undang-undang tersebut mengatur tentang pencatatan wakaf, sertifikasi wakaf, cara pengelolaan wakaf, upaya mencapai tujuan wakaf dan melembagakan wakaf dalam upaya realisasi wakaf dari sisi administratif dan perundang-undangan.

Pada tahun 1287 Hijriyah dikeluarkan undang-undang yang menjelaskan tentang kedudukan tanah-tanah kekuasaan Turki Utsmani

(11)

dan tanah-tanah produktif yang berstatus wakaf. Dari implementasi undang-undangtersebut di negera-negara Arab masih banyak tanah yang berstatus wakaf dan diperaktekkan sampai saat sekarang.

Pada masa perkembangan sejarahnya yang dimulai pada masa Rasulullah, masa kekhalifahan dan masa dinasti-dinasti Islam sampai sekarang , pelaksanaan wakaf masih d lakukan dari waktu ke waktu di seluruh negeri muslim, termasuk di Indonesia. Kenyataan ini dapat terlihat bahwa lembaga wakaf yang berasal dari agama Islam ini telah bisa diterima menjadi hukum adat bagi bangsa Indonesia sendiri. Yang telah banyak diketahui dari kenyataan pula bahwa di Indonesia terdapat banyak benda wakaf, baik wakaf benda bergerak atau benda tak bergerak.

Dapat kita amati bahwa di negara-negara muslim lainnya, wakaf mendapat perhatian yang cukup sehingga wakaf menjadi amal sosial yang mampu memberikan manfaat kepada masyarakat banyak. Dalam perkembangan sejarah wakaf yang akan terus semakin berkembang dengan perkembangan perubahan jaman dengan berbagai memberikan inovasi dalam pembentukkan wakaf, seperti wakaf tunai, wakaf HAKI dan lain-lain. Di Indonesia sendiri, saat ini wakaf mendapat perhatian yang cukup serius dengan (akan) dikeluarkannya Undang-undang Wakaf sebagai upaya pengintegrasian terhadap beberapa peraturan perundangundangan wakaf yang terpisah-pisah.15

C. Landasan Hukum Wakaf

Wakaf merupakan salah satu bentuk ibadah yang nilainya lebih dominan pada ibadah sosial. Hal ini berarti juga merupakan salah satu jenis dari beberapa jenis ibadah serupa, seperti amal shaleh, sedekah, infak dan lainnya, yang kesemuanya itu merupakan bentuk charity (charitable endowmens).16

Pada dasarnya Al-Qur’an tidak pernah menyebut secara jelas tentang wakaf. Namun demikian ada beberapa ayat yang biasanya dijadikan landasan hukum

15 Ibid

(12)

wakaf oleh para ulama17. Diantaranya adalah dalam surah al-Hajj ayat 77,

Allah berfirman :





















Artinya : “Berbuatlah kamu akan kebaikkan agar kamu mendapatkan kemenangan.”

Dalam ayat lain yaitu surah Ali Imran ayat 92 Allah juga berfirman :





























....

Artinya : “ Kamu akan mencapai kebaikkan bila kamu menyedekahkan apa yang kamu cintai.”

Sedangkan dalam hadis yang menunjukkan landasan wakaf, seperti sabda nabi yang artinya :

ةقدص ءايشأ ةثلث نم لا اهلمع عطقنا ناسنلا تام اذإ

(

ملسم هاور هلوعدي حلاص دلو وأ هب عفني ملع وا ةيراج

)

"Jika manusia mati maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga: sedekah jariah (yang terus meneruskan), ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakan kepadanya”. (HR. Muslim).

Hadis yang lain yang juga sangat populer digunakan adalah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Ibn Umar : “Umar mempunyai tanah di Khaibar, kemudian dia datang kepada Rasulullah aku memiliki sebidang tanah di Khaibar, tetapi aku belum mengambil manfaatnya, bagaimana aku harus berbuat untuk itu?” Nabi Bersabda: Jika kamu menginginkannya tahanlah itu dan shadaqahkan hasilnya. Tanah tersebut tidak boleh dijual atau diperjual belikan, dihibahkan atau diwariskan. Umar menshadaqahkannya kepada fakir miskin, karib kerabat dan ibn sabil.”

Dari dalil - dalil diatas tersebut dapat kita pahami menurut para ahli hadis dan ahli-ahli fiqh mengidentikkan wakaf sama dengan shadaqah jariyah sebagimana yang telah disebutkan dalam ayat dan hadis diatas. Hal ini dikarenakan shadaqah jariyah adalah amalan yang pahalanya terus mengalir sehingga dipersamakan dengan amal wakaf. Yang dimana wakaf disini

(13)

mempunyai banyak manfaat untuk banyak orang. Adapun status hukum wakaf itu dalam agama adalah tidak wajib tetapi mandub atau sunnah.

D. Macam – Macam Wakaf

Bila ditinjau dari segi peruntukan ditujukan kepada siapa wakaf itu, maka wakaf dapat dibagi beberapa macam, yaitu:

1. Wakaf Ahli

Wakaf Ahli adalah wakaf yang ditujukan kepada orang-orang tertentu, seorang atau lebih, keluarga si wakif atau bukan. Wakaf seperti ini juga disebut wakaf Dzurri. Ketika ada seseorang yang ingin mewakafkan sebidang tanah kepada anaknya, lalu kepada cucunya, wakafnya sah dan yang berhak mengambil manfaatnya adalah mereka yang ditunjuk dalam pernyataan wakaf. Wakaf jenis ini (wakaf ahli/dzurri) kadang-kadang juga disebut wakaf 'alal aulad, yaitu wakaf yang diperuntukkan bagi kepentingan dan jaminan sosial dalam lingkungan keluarga, lingkungan kerabat sendiri.18 Wakaf jenis ini

berdasarkan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik tentang adanya wakaf keluarga Abu Thalhah kepada kaum kerabatnya. Di ujung Hadits tersebut dinyatakan sebagai berikut :“Aku telah mendengar ucapanmu tentang hal tersebut. Saya berpendapat sebaiknya kamu memberikannya kepada keluarga terdekat. Maka Abu Thalhah membagikannya untuk para keluarga dan anak-anak pamannya”.

Dibeberapa Negara Timur Tengah wakaf semacam ini menimbulkan banyak masalah terutama jika wakaf tersebut berupa tanah pertanian sering kali terjadi penyalahgunaan seperti : (a) menjadikan wakaf keluarga ini sebagai alat untuk menghidari pembagian harta kekayaan pada ahli waris yang berhak menerimanya, setelah wakif meninggal dunia. (b) wakaf keluarga ini dijadikan alat untuk mengelak dari tuntutan kreditor terhadap hutang-hutang yang dibuat oleh seseorang, sebelum ia mewakafkan tanahnya itu. Karena banyaknya masalah yang

(14)

ditimbulkan karena wakaf ini ada beberapa Negara wakaf keluarga ini dihapuskan seperti di Mesir tahun 1952 wakaf ini dihapuskan karena praktek-praktek penyimpangan yang tidak sesuai ajaran Islam. Selain itu di Indonesia harta pusaka suku Minangkabau memiliki ciri-ciri seperti wakaf keluarga, harta pusaka tersebut dipertahankan tidak dibagi-bagi atau diwariskan kepada keturunan secara individual, karena diperuntukkan bagi kepentingan keluarga”.19 Jadi wakaf ahli merupakan pemberikan wakaf

untuk ahli waris si pewakif yang dipercayai untuk mengelola wakaf yang akan diberikannya.

2. Wakaf Khairi

Selain wakaf ahli, ada juga wakaf khairi yaitu wakaf yang secara tegas untuk kepentingan agama (keagamaan) atau kemasyarakatan (kebajikan umum).20 Wakaf Khairi ini bukan untuk kepentingan keluarga

melainkan untuk kepentingan atau kemaslahatan umum, yang sifatnya sebagai lembaga kaegamaan dan lembaga sosial dalam bentuk masjid, madrasah, pesantren, rumah sakit, dll. Karena bersifat umumlah wakaf ini yang paling sesuuai dengan ajaran Islam dan sangat dianjurkan karena bagi yang menjalankannya akan memperoleh pahala yang terus mengalir.21 Jadi wakaf khairi merupakkan wakaf untuk kepentingan sosial

dalam keagamaan yang dapat dimanfaatkan untuk banyak orang.

E. Rukun Dan Syarat Wakaf

Wakaf dinyatakan sah apabila telah terpenuhi rukun dan syaratnya. Rukun wakaf ada empat, yaitu :22

1. Wakif (orang yang mewakafkan harta);

Syarat wakif (orang yang mewakafkan) adalah cakap hukum, yakni dewasa, sehat akal pikiran (baligh berakal), merdeka, dan cerdas. Oleh karena itu tidak sah melakukan wakaf bagi anak – anak, orang gila, dan

19 Ali, M. D, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf.( Jakarta: UI-Press, 1988), h. 90

20 Sayyid Sabiq, Fiqhu as-Sunnah,...h.378

21 Ali, M. D, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf,...h.90-91

(15)

orang yang berada dibawah pengampunan. Disamping itu, disyaratkan wakif merupakan pemilik sah dari harta yang diwakafkan.

2. Mauquf (barang atau harta yang diwakafkan);

Para ulama menentukan persyaratan benda yang diwakafkan yakni benda yang diwakafkan haruslah benda yang boleh dimanfaatkan menurut syariat (mal mutaqawwim), jelas diketahui bendanya, dan merupakan milik sempurna wakif. Jadi benda wakaf harus tampak bendanya.

3. Mauquf 'Alaih (pihak yang diberi wakaf/peruntukan wakaf); Syarat menjadi Mauquf ‘Alaih adalah untuk kebaikkan, taqarub ila Allah atau untuk keluarga. Wakif dalam mewakafkan hartanya harus menentukkan tujuan wakaf baik untuk kepentingan khusus seperti menolong keluarganya sendiri, fakir miskin, sabilillah, dan ibn sabil, ataupun untuk kepentingan umum, seperti untuk ibadah, pendidikan dan sosial lainnya.

4. Shighat Wakaf (Ikrar Wakaf/Perjanjian Wakaf)

Ikrar wakaf merupakan persyaratan dari wakif untuk mewakafkan tanah benda miliknya. Syarat – syarat shighat wakaf adalah:

a. Shighat wakaf harus bersifat ta’bid (untuk selama – lamanya).

b. Shighat bersifat tanjiz. Artinya wakaf tidak diiringi dengan syarat tertentu atau masa yang akan datang.

c. Iltizam, wakaf itu menurut jumhur ulama bersifat mengikat. Wakif tidak dapat menarik kembali benda yang diwakafkannya.

d. Shight tidak diiringi dengan syarat yang batal, syarat yang bertentangan dengan tabiat wakaf.

e. Menyebutkan mauquf alaih secara jelas dalam shighat wakaf. Maksudnya memberi tahu benda yang akan diwakafkan dalam pelaksanaan ikrar wakaf.

f. Shighat dinyatakan dengan lafal sharih (jelas).

(16)

berikut (a) Wakaf harus kekal (abadi) dan terus menerus. (b) wakaf harus dilakukan secara tunai, tanpa digantungkan pada terjadinya suatu peristiwa di masa yang akan datang. Karena persyaratan wakaf berakibat pada lepasnya hak milik seketika setelah wakif menyatakan berwakaf. (c) tujuan wakaf harus jelas, maksudnya adalah hendaknya wakaf itu disebutkan dengan terang dan jelas kepada siapa harta tersebut diwakafkan. (d) wakaf merupakan hal yang harus dilaksanakan tanpa syarat boleh khiyar. Ini artinya tidak boleh membatalkan atau melangsungkan wakaf yang telah dinyatakan, sebab pernyataan wakaf telah berlaku tunai untuk selamanya.23

F. Nadzir (Orang Yang di Beri Amanat Untuk Memelihara Wakaf)

Setelah adanya wakif, wakif sangat memerlukan yang namanya Nadzir yaitu seseorang atau badan yang memegang amanat untuk memelihra dan mengurus harta wakaf sebaik-baiknya sesuai dengan wujud dan tujuannya. Jika Nadzir itu adalah perorangan, para ahli menentukan beberapa syarat yaitu : (1) telah dewasa, (2) berakal sehat, (3) dapat dipercaya, (4) mampu menyelenggarakan segala urusan yang berkenaan dengan harta wakaf. Selain syarat ada juga hak–hak yang harus diterima seorang wakaf yaitu : (1)nadzir wakaf berhak melakukan hal yang mendatangkan kebaikan bagi wakaf yang bersangkutan, namun tidak berhak menggadaikan harta wakaf dan menjadikannya sebagai jaminan hutang.(2) nadzir wakaf berhak mendapatkan upah atas jerih payahnya mengurus harta wakaf, selama melaksanakan tugasnya dengan baik. Besarnya upah ditentukan oleh wakif biasanya sepersepuluh atau seperdelapan dari hasil tanah atau harta yang diwakafkan. Yang berhak menetukan nadzir wakaf adalah wakif.24 Jadi nadzir disini adalah

orang yang dipercayai oleh si wakif untuk memegang amanah yang akan dia berikan.

Nadzir hendaknya orang mempunyai sumber daya yang berkualitas, sebab dengan sumber daya manusia yang berkualitas yang baik merupakan potensi, setidaknya memiliki dua hal potensi utama, yaitu (1) gagasan-gasagan, kreasi

23 Nina Indah Febriana,AHKAM Jurnal Hukum Islam - Pengelolaan Wakaf Tunai dan Peran Lembaga Keuangan Syariah, (Tulungagung: Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN). 2013), h. 150

(17)

dan konsepsi, (2) kemampuan dan keterampilan mewujudkan gagasan-gagasan tersebut dengan cara yang produktif.

Ada 3 dimensi yang harus diperhatikan dalam usaha menentukan nadzir wakaf agar lebih berkualitas sehingga wakaf yang menjadi tanggung jawabnya terkelola dengan baik dan produktif. Dimensi-dimensi tersebut adalah:

1. Dimensi Kepribadian, nadzir wakaf haruslah memiliki kepribadian muslim yang beriman dan beranmal soleh, berkemampuan untuk mengembangkan dan menjaga integritas, sikap dan tingkah laku, etika dan moralitas sesuai dengan pandangan masyarakat umum, lebih konkrit lagi menjadi nazir hendaknya ikhlas karena ibadah karean Allah.

2. Dimensi produktifitas, menyangkut apa yang dihasilkan oleh manusia (nazir) wakaf dalam hal jumlah yang lebih banyak dan kualitas yang lebih baik.

3. Dimensi kreatifitas, dimensi ini melihat kekampuan seseorang untuk berfikir dan berbuat kreatif, menciptakan sesuatu yang berguna bagi diri dan masyarakat.

Dalam menentukan nadzir yang produktif dan berkualitas sumber daya manusia yang baik perlu diperhatikan ciri-ciri individunya, seperti (1) berhasrat ingin mengetahui dan mengembangkan pengetahuan, (2) bersikap terbuka terhadap pengalaman baru, (3) cerdik, (4) berkeinginan untuk menemukan dan memeliti, (5) cenderung lebih suka melakukan tugas yang berat dan sulit, (6) berpikir flesibel dan mempunyai banyak alternatif, (7) bergairah, aktif dan berdedikasi tinggi dalam melakukan tugasnya, (8) ikhlas menjalankan tugas.

Untuk lebih utamanya, seorang nadzir wakaf selain memiliki kualitas individu juga memiliki kualitas lain seperti (1) kualitas priritual (habiminAllah) beribadah dengan baik, (2) kualitas bermasyarakat dan berbangsa, menyangkut keserasian hubungan dengan sesama manusia dan hubungan dengan lingkungan sosial (habiminannas), (3) kualitas kesadaran lingkungan hidup dan keadaran membentuk hubungan yang serasi serta saling mendukung antara manusia dan sesamanya, juga manusia dan lingkungan sekitar.

(18)

dalam berkarya dan berkreasi lebih banyak sehingga kerja mereka akan lebih bermutu dan berkualitas.25

G. Wakaf Sebagai Pendukung Finansial Pendidikan Islam Klasik

Pada masa klasik wakaf memiliki hubungan yang erat terhadap sistem pendidikan Islam. Adanya lembaga wakaf ini membantu dalam pengelolaan dana keuangan bagi kegiatan pendidikan Islam sehingga pendidikan Islam dapat berlangsung dengan baik dan lancar.26 Dalam bukunya Ahmad Syalabi ia

mengatakan bahwa khalifah al-Ma’mun adalah orang pertama kali mengemukakan pendapat tentang pembentukan bandan wakaf. Dia berpendapat bahwa kelangsungan kegiatan tidak tergantung kepada subsidi negara dan kedermawanan penguasa-penguasa, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat untuk bersama-sama menanggung biaya pelaksanaan pendidikan.27

Pada masa klasik dapat dilihat dalam sejarah yang ada tentang peranan wakaf, hal ini terdapat bukti-bukti yang menunjukkan bahwa wakaf dalam mendukung pelaksanaan pendidikan dalam Islam dari beberapa perkembangan bangunan madrasah (jamiah) yang telah didirikan dan dipertahankan dengan dana wakaf baik dari dermawan kaya atau penguasa politik muslim.28Setiap sekolah mempunyai penghasilan sendiri yaitu berasal

dari harta wakaf yang diperuntukan untuk membiayai mahasiswa maupun gurunya. Wakaf yang telah banyak membantu dalam pembangunan sekolah dibeberapa sekolah yang telah dibiayai oleh dana wakaf memperhatikan pengajaran agama Islam, fiqh menurut mazhab yang empat, bahasa, pengetahuan umum sambil memperkuat mazhab ahli sunah dan menentang ahli syiah. Bangunan yang telah dibiayai wakaf yaitu seperti sekolah-sekolah tinggi yang sangat penting yaitu diantaranya:

1. Madrasah Nizamiyah di Baghdad,

25 Hafsah. MIQOT - Wakaf Jurnal Ilmu – Ilmu Keislaman- Produktif Dalam Hukum Islam Indonesia, (Medan: IAIN Press. 2013), h. 92-94

26 Hanun Asrahah, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta Logos Wacana Ilmu, 1999), h.90

27 Ahmad Syalaby, Sejarah Pendidikan Islam, terj. Mukhtar Yahya dan sanusi latif, (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), h. 374

(19)

2. Madrasah al Muntasiriyah di Baghdad, 3. Madrasah an Nasiriyyah di Kairo, dan 4. Madrasah Annuriah di Damaskus.29

Menurut Hasan Asari madrasah Nizamiyah mempunyai dukungan finansial yang sangat baik. Nidham al-Mulk mengalokasikan sejumlah besar aset yang diwakafkan untuk kepentingan madrasah. Disamping itu wakaf yang diberikan adalah aseet produktif yang dapat menjamin kelangsungan pembiayaan madrasah.30 Banyaknya biaya yang telah dikeluarkan untuk

membantu kepentingan operasi sekolah yang dikeluarkan oleh Nidham al-Mulk dalam satu tahun saja mencapai 600.000 dinar. Sedangkan uang masuk yang dapat dihasilkan oleh wakaf-wakaf yang diperuntukan bagi sekolah Nidham al-Mulk sebesar 15.000 dinar setiap tahun. Dari hasil dana wakaf yang dihasilkan ini telah cukup untuk memenuhi apa saja kebutuhan untuk para guru dan pelajar, termasuk biaya makan, pakaian, alat-alat tidur dan kendaraan mereka serta kebutuhan lainnya.31

Madrasah Annuriah juga mendapatkan bantuan berupa wakaf dari Nuruddin orang-orang Magribi yang terdapat di Mesjid Jamik diantara yang diwakafkan itu adalah dua buah gilingan gandum, tujuh bidang kebun, sebidang tanah putih, sebuah tempat mandi, dan dua buah tokoh, di Attharin.32

Al-Magrizy menambahkan bahwa Salahuddin saat membangun sekolah Nasiriyyah juga telah memberikan wakafnya berupa bentuk tempat mandi yang terdapat disampingnya, dan dibelakangnya ada beberapa buah toko dan serta sebuah pulau yang bernama “Pulau Gajah “ yang terletak di sungai Nil diluar kota Kairo.33

H. Wakaf Dan Kebebasan Akademik

Lembaga Wakaf yang banyak dikenal dan dilindungi oleh Syari’ah untuk kepentingan ummat. Pemberian dana wakaf kepada setiap madrasah

29 M .Athiyah Al Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintangm, 1970), h. 80

30 Hasan Asari, Menyingkap Zaman Keemasan Islam, (Bandung: Citapustaka Media, 2007), h.93

31 Ahmad Syalaby, Sejarah Pendidikan Islam,..h 376

32 Ibid ,h. 377

(20)

yang membuatnya maju dimasa lalu dan dengan demikian hal itu membuat para guru dan murid sanggup menuntut ilmu pengetahuan demi Allah Ta’ala semata-mata. Karena institusi wakaf ini yang akan memberikan kepada madrasah presonalitas legal yang pertama sekali dalam sejarah. Dalam hal ini madrasah yang telah berlandaskan wakaf yang akan ditiru oleh universitas-universitas yang paling awal di Barat ketika universitas-universitas-universitas-universitas itu berdiri delapan abat yang lalu.34

Kebebasan akademik pada pendidikan Islam telah diterapkan dengan adanya dukungan finansial dari wakaf tersebut. Pelaksanaan wakaf disini yang merupakan ibadah yang hukumnya sunah dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah swt. serta untuk memperoleh pahala yang selalu mengalir terus menerus selama harta wakaf yang telah diberikan masih dimanfaatkan, walaupun orang yang mewakafkan telah tiada. Secara praktis pewakaf telah berhenti dalam memegang kepemilikan hartanya, sehingga pewakaf tidak bisa lagi mengubah dalam segala kebijakan terhadap harta wakaf yang telah diserahkan kepada wakif. Harta wakaf yang telah diberikan seluruhnya akan menjadi milik ummat Islam dan akan dipergunakan dengan seutuhnya untuk kemaslahatan ummat. Perguruan tinggi yang awalnya telah menyatu dengan surau kini setelah berubah menjadi lembaga sebagai wakaf terbebas dari kontrol pendirinya atau yang mewakafkan.35

Menurut hukum Islam ada larangan dalam pemanfaatan yayasan-yayasan wakaf untuk keuntungan suatu kelompok profesi (atau aliran pemikiran). Yayasan-yayasan ini, ketika dilembagakan, masih mungkin dibisniskan asalkan keuntungannya diperuntukkan bagi orang-orang miskin. Meskipun dibolehkan, hal semacam itu jarang dipraktikkan. Dikarenakan hal itu kini wakaf yang telah berbentuk bangunan seperti masjid, madrasah, rumah sakit, atau lembaga publik lainnya dapat dimanfaatkan untuk keuntungan para profesional yang terlibat di dalamnya, bukan untuk kepentingan suatu mazhab.36

34 Isma’il Raji al-Faruqi , Islamization of Knowledge, terj.Anas Mahyuddin, Islamisasi Pengetahuan, (Bandung: Penerbit Pustaka 1982), h. 23-24

35 George A 0-p[Magdisi,The Rise of Humanisme in Classical Islam and The Cristian West, terj. A Samsu Rizal Dan Nurhidayah, Cita Humanisme Islam (Jakarta:Penerbit Ikrar Mandiri Abadi,1990), h 58

(21)

Dengan adanya harta wakaf yang sangat potensial mendukung kebebasan akademik, sehingga terhindar dari kepentingan penguasa, golongan mazhab, ataupun para pemberi wakaf, karena memberikan wakaf semata mengharapkan pahala serta mendekatkan diri kepada Allah swt. Walaupun demikian itu tidak bisa dipungkiri dalam sebahagian pewakaf ada juga tidak mengharapkan pahala saja namun ada keinginan untuk kepentingan dunia atau suatu kepentingan pribadi atau dalam kepentingan golongan.

I. Prosfek Wakaf Dalam Pendidikan Islam Moderen

Selain pendidikan Islam klasik dana wakaf juga memiliki peran yang sangat besar dalam menunjang pelaksanaan pendidikan. Pemasukkan dana wakaf dari ummat Islam jadi mendapatkan kemudahan dalam menuntut ilmu di karena wakaf pendidikan Islam tidak terlalu banyak menuntut biaya bagi pelajar-pelajar sehingga bagi mereka akan mendapatkankan kesempatan yang sama baik miskin atau kaya, bahkan untuk mereka yang khususnya miskin, akan mendapatkan fasilitas-fasilitas yang luar biasa dan tidak putus-putusnya.37

Untuk masa depan pendidikan Islam secara disadari atau tidak, sangat bergantung pada kekuatan ekonomi karena tidak dapat disangkal bahwa aktifitas pendidikan tidak lepas dari dukungan dana yang memadai untuk melakukan pengkajian terhadap ilmu pengetahuan.

Karena dengan lembaga wakaf yang telah terbukti ini ampuh sebagai pendukung dan penopang perkembangan dan kemajuan pendidikan Islam di zaman klasik, bagaimanapun berperan di masa modern. Indonesia misalnya berpenduduk mayoritas beragama Islam berpeluang besar terhadap pengumpulan dana-dana zakat, infaq maupun wakaf untuk peningkatan kualitas pendidikan.38 Hal ini dapat terwujud bila kita mampu mengkondisikan

lembaga-lembaga ini serta mendorong masyarakat khususnya dermawan dan orang kaya untuk mengeluarkan harta bukan hanya untuk sarana ibadah tapi juga untuk dana pendidikan. Persoalan yang timbul manakala kredibilitas pengurus lembaga itu sendiri. Masyarakat yang tidak ingin untuk

37 Hanun Asrahah, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu,1999), h.91

(22)

mengeluarkan zakat dan wakafnya karena khawatir tentang pengelolaannya yang kurang transparan dan kurang profesional.

Tidak hanya itu ada persoalan lain, yang masyarakat pahami bahwa wakaf hanya sebatas pemberian harta untuk kepentingan-kepentingan peribadatan dan fasilitas-fasilitas sosial saja. Oleh sebab itu mereka hanya puas dan merasa lebih berpahala jika memberikan wakaf untuk kepentingan mesjid dan pembangunannya, tidak untuk sekolah dan institusi pendidikan.

Dengan demikian yang harus dilakukan adalah bagaimana mengubah persepsi masyarakat tentang fungsi wakaf itu sendiri dan mensosialisasikannya kepada masyarakat tentang pentingnya wakaf sebagai sarana pendukung pendidikan Islam. Karena wakaf mempunyai kegunaan yang positif, apabila dikelola dengan baik untuk peningkatan kualitas dan kemajuan pendidikan Islam di masa depan.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

(23)

1. wakaf adalah suatu tindakan menyerahkan aset dan menahan diri memanfaatkannya, untuk dapat dikelola dengan menahan pokoknya, dan hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan umum sebagai wujud dari kepatuhan terhadap agama pada jalan yang diridhai Allah Swt.

2. Sejarah wakaf dimulai dari masa rasulullah yang dimana rasulullah sendiri yang mewakafkan tanah miliknya untuk membangun mesjid dan beberapa kebun yang ia miliki.

3. Hukum wakaf berlandasan dengan Al-Qur’an dan Hadis yang dimana hukum wakaf senidri tidaklah wajib melainkan sunnah.

4. Ada dua macam wakaf yaitu wakaf ahli yang merupakan wakaf yang diberikan untuk ahli waris keluarga dan wakaf khairi yaitu yang diberikan untuk kepentingan umum.

5. Ada empat rukun wakaf, yaitu wakif, mauquf, mauquf ‘alaih,dan shighat wakaf.

6. Nadzir adalah orang yang diberi amanat untuk memeilhara wakaf

7. Wakaf sebagai pendukung finansial pendidikan klasik untuk mengelola dana wakaf untuk pembangunan madrasah.

8. Wakaf dan kebebasan akademik bukan hanya untuk pembangunan madrasah melainkan juga untuk kesejahteraan guru dan murid

9. Prosfek wakaf dalam pendidikan modren ini tidak hanya untuk bangunan madrasah melainkan untuk bangunan – bangunan yang membantu pendidikan Islam dimasa depan.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Syalaby, Sejarah Pendidikan Islam, terj. Mukhtar Yahya dan sanusi latif, Jakarta: Bulan Bintang, 1978

(24)

Asnil Aidah Ritonga, Pendidikan Islam dalam Buaian Arus Sejarah, Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2008

A.Qodri Azizi, Membangun Fondasi Ekonomi Umat: Meneropong Prospek Berkembangnya Ekonomi Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2004

Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Melenium Baru, Jakarta:Logos Wacana Ilmu, 1999

Dapertemen Agama RI, Fiqih Wakaf, Jakarta: Ditbinperta Islam, 2007 Dapertemen Agama RI, Ilmu Fiqh, Jakarta: Ditbinperta Islam, 1999 Didin Hafiduddin, Islam Aplikatif, Jakarta:Gema Insani Press,2003

George A Magdisi,The Rise of Humanisme in Classical Islam and The Cristian West, terj. A Samsu Rizal Dan Nurhidayah, Cita Humanisme Islam Jakarta: Penerbit Ikrar Mandiri Abadi, 1990

Hafsah. MIQOT - Wakaf Jurnal Ilmu – Ilmu Keislaman- Produktif Dalam Hukum Islam Indonsia, Medan: IAIN Press. 2013

Hasan Asari, Menyingkap Zaman Keemasan Islam, Bandung: Citapustaka Media, 2007

Hanun Asrahah, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta Logos Wacana Ilmu, 1999 Juhaya S.Praja, Perwakafan di Indonesia, Bandung: Yayasan Piara, 1993

M. Al-Syarbini al-Khatib, Al-Iqna fi Al-Hall Al-Alfadz Abi Syuza’, Indonesia: Dar al-Ihya al-Kutub, tt

M.A Manan, Sertifikat Wakaf Tunai, Jakarta: CiBER Bekerja Sama Dengan PKTII-UI, 2005

Muhammad al-Khathib, al-Iqna', Bairut: Darul Ma'rifah,1995

M .Athiyah Al Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintangm, 1970

Nawawi, Ar-Raudhah, Bairut : Dar al-Kutub al-Ilmiah,t.t

Nina Indah Febriana, AHKAM Jurnal Hukum Islam - Pengelolaan Wakaf Tunai dan Peran Lembaga Keuangan Syariah, (Tulungagung: Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN). 2013

Rozalinda, Fiqih Ekonomi Syariah, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2016 Sayyid Sabiq, Fiqhu as-Sunnah, Lebanon : Dar al-'Arabi, 1971

(25)

Referensi

Dokumen terkait

Sistem operasi cooling tower berdasarkan pada penguapan dan perubahan panas sensibel, dimana campuran dua fluida pada temperatur yang berbeda (air dan udara) akan

Pada siklus pertama, pembelajaran dalam Penelitian Kemitraan Penggunaan Penilaian Berbasis Kelas untuk Meningkatkan Kualitas Proses dan Hasil Belajar Siswa Kelas IV pada Mata

oleifera dari Suriname memiliki keragaman genetik tertinggi pada populasi yang diuji dan berpeluang untuk diekplorasi pada program pemuliaan kelapa sawit,

Cloud computing merupakan sistem virtualisasi yang mampu menampung beragam platform , bahasa program (coding) , aplikasi dan infrastruktur yang berbeda agar dapat bekerja

Pemasangan Link akses jaringan yang terkoneksi dari DC Kalibata ke DC MMU untuk mendukung layanan akses data kependudukan dari Data Center Kependudukan Kementerian Dalam

Dengan hujan yang tidak kunjung henti, jenis hama tanaman itu merajalela.” Ketua Harian Dewan Hortikultura Nasional Benny A Kusbini di Indramayu mengatakan, tingkat kegagalan

Bank Indonesia (2009) menyatakan bahwa sebagian besar dari remitansi digunakan untuk konsumsi oleh keluarga penerima, selain itu remitansi juga digunakan untuk

Kedudukan PPAT selaku pejabat umum dalam proses penerbitan sertifikat hak milik atas tanah yaitu dapat dikatakan sebagai pejabat perantara kepentingan antara pemegang