Bab 11 Kebijakan Keuangan Publik Dalam
Peningkatan Daya Saing Nasional
Kodrat Wibowo
11.1Gambaran umum
Keuangan publik merupakan bagian dari ilmu ekonomi yang mempelajari aktivitas finansial pemerintah yang menjelaskan tentang belanja publik dan bagaimana pemerintah membiayai belanja tersebut melalui pendapatannya. Hal yang dipelajari dalam Keuangan publik adalah bagaimana proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal belanja dan penerimaan, karena setiap keputusan tentunya akan mempunyai pengaruh terhadap ekonomi, keuangan rumah tangga dan swasta. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa fokus keuangan publik adalah mempelajari pendapatan dan belanja pemerintah, dan juga menganalisis implikasi dari kegiatan pendapatan dan belanja pada alokasi sumber daya, distribusi pendapatan, dan stabilitas ekonomi. Keuangan publik pada dasarnya akan berkaitan erat dengan proses pengambilan keputusan yang berdasarkan asas demokrasi. Dalam konteks ini, para wakil rakyat bersama sama dengan Pemerintah melakukan pembahasan dan memutuskan anggaran yang akan dijalankan pada tahun anggaran berikutnya, dan di samping itu para wakil rakyat juga diwajibkan untuk melakukan pengawasan atas penggunaan uang negara yang berasal dari pembayaran pajak sehingga akan dibelanjakan dengan sebaik baiknya untuk pencapaian kondisi pelayanan publik yang lebih baik.
Dalam perekonomian khususnya terkait dengan daya saing nasional, fungsi sektor publik harus dibedakan dengan fungsi rumah tangga dan perusahaan. Namun demikian, akan terdapat hubungan yang erat antara arus sektor swasta (rumah tangga dan perusahaan) dan sektor pemerintah. Sektor publik (anggaran pemerintah) akan memberikan kontribusi pada pasar faktor produksi dan pasar produk sehingga merupakan bagian integral dari sistem pembentukan harga. Itulah sebabnya dalam merancang suatu kebijakan fiskal, perlu diperhatikan bagaimana sektor swasta akan bereaksi. Pada akhirnya daya saing nasional yang meliputi keseluruhan sektor publik maupun swasta dapat ditingkatkan.
kebijakan publik mempunyai sifat mengarahkan, mengoreksi dan melengkapi peranan mekanisme pasar.
Secara aturan, upaya meningkatkan daya saing nasional melalui kebijakan keuangan publik perlu diwujudkan melalui adanya good governance dalam hal pengelolaan keuangan negara secara profesional, transparan, dan bertanggung jawab sesuai dengan aturan pokok yang telah ditetapkan dalam UUD 1945. Aturan pokok yang telah ditetapkan dalam UUD 1945 tersebut dijabarkan oleh UU No. 17/2003 ke dalam asas-asas umum yang telah lama dikenal dalam pengelolaan kekayaan negara, seperti asas tahunan, asas universalitas, asas kesatuan dan asas spesialitas; maupun asas-asas baru sebagai pencerminan best practices (penerapan kaidah-kaidah yang baik) dalam pengelolaan keuangan negara, antara lain akuntabilitas, berorientasi pada hasil, profesionalitas, proporsionalitas, keterbukaan dalam pengelolaan keuangan negara, dan pemeriksaan keuangan oleh badan pemeriksa yang bebas dan mandiri. Lebih jauh lagi dengan semangat desentralisasi dan otonomi daerah, penjabaran keuangan negara dalam kaitannya dengan keuangan daerah provinsi, Kota/Kabupaten dijabarkan dalam UU No. 32/2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat-Daerah yang menjelaskan mekanisme transfer pusat daerah melalui asas desentralisasi dan dekonsentrasi. Guna memperjelas fungsi keuangan daerah khususnya dalam hal pendapatan, maka UU No. 29/2009 tentang Pajak dan Retribusi Daerah juga dikeluarkan dalam rangka pengelolaan keuangan daerah yang lebih baik dan menunjang pengelolaan keuangan negara secara lebih utuh dan lebih baik.
11.2 Permasalahan prioritas bidang keuangan publik
Dengan berbagai dinamika dan perkembangan dasawarsa terakhir, disadari bahwa daya saing nasional mau tidak mau dipengaruhi oleh faktor keuangan publik. Tingkat kinerja pengelolaan keuangan publik akan mempengaruhi kinerja perekonomian dan kesejahteraan secara keseluruhan melalui peranan keuangan publik dalam peran sosial dan penentu efisiensi khususnya di sektor swasta. Dalam hal ini jelas terlihat bahwa peran keuangan publik dalam mendukung daya saing nasional adalah melalui perannya sebagai penyeimbang antara peran mekanisme pasar dan campur tangan belanja serta pendapatan pemerintah dalam pembangunan ekonomi dan pencapaian kesejahteraan nasional.
11.2.1 Keuangan publik lebih menjadi produk keputusan politik dibandingkan supply kebijakan terhadap demand public interest
Politik anggaran adalah penetapan berbagai kebijakan tentang proses anggaran yang mencakupi berbagai pertanyaan bagaimana pemerintah membiayai kegiatannya; bagaimana uang publik didapatkan, dikelola dan didistribusikan; siapa yang diuntungkan dan dirugikan; peluang-peluang apa saja yang tersedia baik untuk penyimpangan negatif maupun untuk meningkatkan pelayanan publik. Anggaran karenanya merupakan salah satu dari instrumen politik secara realita di seluruh pemerintahan negara manapun.
Sudah bukan merupakan rahasia umum untuk mengetahui bahwa keterlibatan politik dalam keuangan publik sangatlah dominan untuk beberapa peluang sbb:
Penentuan rencana program kerja pemerintah, baik mulai dari perencanaan sistem pembangunan nasional dan daerah, RPJP, RPJM, RKP, hingga Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA).
Penentuan prioritas APBN/APBD, baik sisi belanja maupun penerimaan.
Penentuan kebijakan anggaran, yang menentukan perlunya pos pembiayaan (defisit, surplus, berimbang); dan
Penentuan besaran alokasi anggaran per pos belanja.
Politik anggaran tentunya memegang peranan penting dalam hal keuangan publik. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menciptakan lingkungan pendukung dengan adanya landasan bagi tatanan kontraktual kinerja antara lembaga-lembaga pusat (central agency) seperti Kementerian Keuangan dengan Kementerian Negara/Lembaga teknis. Kesepakatan-kesepakatan ini mencerminkan platform politik pemerintah. Namun secara teori dan konsep mendasar kebijakan keuangan publik seharusnya merupakan supply dari adanya demand dari kepentingan masyarakat yang membutuhkan peran pemerintah untuk memenuhi kebutuhan publik masyarakat (public interest). Walaupun terdapat tentang teori capture yang menyiratkan bahwa kebijakan keuangan publik bisa saja diputuskan berdasarkan adanya lobby dari interest kelompok tertentu yang bisa jadi positif terhadap kepentingan interest masyarakat yang lebih luas, namun kebijakan keuangan publik di Indonesia masih kental dengan dominannya peran legislatif dalam pengambilan keputusannya. Keputusan tentang berapa alokasi anggaran yang akan diberikan pada satu prioritas pembangunan tertentu atau keputusan tentang berapa pajak penghasilan akan ditarik dari masyarakat masih sangat tergantung pada pertimbangan legislatif yang ditenggarai lebih banyak dipengaruhi oleh faktor non ekonomi apalagi masalah peningkatan daya saing nasional.
pengesahannya di DPR RI, menjadikan anggaran sebagai arena kontestasi politik penting terutama menjelang dan setelah Pemilu. Tidak mengherankan, banyak pihak menilai anggaran sebagai proses politik arena perebutan sumber daya publik antara berbagai kepentingan, baik aktor‐aktor di dalam lingkaran sistem politik yang berlaku maupun kelompok kepentingan lain yang memiliki pengaruh terhadap keputusan politik anggaran.Dari sisi lain salah satu penyebab korupsi terbesar di Indonesia adalah “liarnya” partai politik (Parpol) dalam mencari sumber dana. Kevakuman hukum dimanfaatkan Parpol untuk mencari dana dari berbagai sumber. Salah satu sumber dana terbesar adalah APBN dan APBD. Meski tidak gampang dibuktikan, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Parpol lewat anggotanya yang ditempatkan di Badan atau Panitia Anggaran DPR/DPRD memiliki peluang untuk menentukan alokasi belanja guna kepentingan partai dan konstituennya.
11.2.1.2 Disharmoni kebijakan keuangan publik antar sektor dan tingkat pemerintahan
Sudah menjadi rahasia umum bahwa terjadi benturan kepentingan antara khususnya Bappenas, Kemenkeu, dan Kemendagri dalam pengambilan kebijakan dalam hal perencanaan dan penganggaran. Intinya terdapat dua undang-undang yang tarik menarik dalam hal perencanaan dan penganggaran yaitu munculnya UU No.17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan UU No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembanguan Nasional (SPPN). Belum lagi dengan eksistensi UU No.32 tahun 2004 dan UU No.33 tahun 2004 yang pada pelaksanaannya menunjukkan adanya kecenderungan dari tidak selarasnya kebijakan keuangan publik terkait kegiatan perencanaan dan penganggaran khususnya pada lingkup perencanaan dan penganggaran daerah (APBD). Dalam UU 25 tahun 2004 tentang SPPN, rencana jangka panjang yang disebut Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) berperiode 20 tahun, diamanatkan bahwa RPJP Provinsi memperhatikan RPJP Nasional dan RPJP Daerah memperhatikan RPJP Provinsi. Namun bila melihat UU No. 32 tahun 2004 yang juga mengatur seluruh aspek kegiatan pemerintahan di tingkat daerah termasuk perencanaan dan penganggaran; walaupun jabaran pasal per pasalnya memang terlihat umum, namun disadari telah memicu masalah perbedaan interpretasi dalam proses pengambilan kebijakan perencanaan dan penganggaran.
peraturan daerah yang ditetapkan oleh DPRD. Dapat dibayangkan bagaimana landasan hukum yang “agak” berbeda ini dapat mengakibatkan perdebatan khususnya di politik lokal yang akhirnya mengakibatkan kualitas dari RPJMD maupun pemenuhan ketepatan waktu penyususunan menjadi tidak optimal.
Demikian pula halnya dengan implementasi UU No. 17 tahun 2003 dengan UU. No. 33 Tahun 2004 yang lagi-lagi menunjukkan banyaknya kemiripan-kemiripan dalam pasal-pasal yang tercantum dalam kedua Undang-undang tersebut. Memang relatif terjadi minimal benturan antara kedua Undang-undang tersebut, namun dikhawatirkan dapat saja menimbulkan inefisiensi dan inefektivitas dalam proses perencanaan dan penganggaran serta mempengaruhi implementasinya.
Berbagai permasalahan terkait kebijakan dan implementasi keuangan publik di tingkat pemerintahan daerah yang merupakan refleksi permasalahan disharmoni kebijakan keuangan publik di tingkat pusat, antara lain: (1) terjadinya duplikasi program dan kegiatan yang diusulkan oleh beberapa SKPD, (2 tidak ada perda khusus yang mengatur penyusunan anggaran, selama ini peraturannya terlalu banyak, (3) pengaturan nomenklatur anggaran masih memungkinkan terjadinya anggaran ganda, (4) anggaran belanja langsung biasanya lebih kecil dibandingkan anggaran belanja tidak langsungterlebih lagi prioritas pembangunan belum tercermin dalam APBD, (5) persaingan antara Bappeda dan Biro Keuangan dalam penentuan anggaran, (6) terbatasnya keterlibatan publik dalam perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan pengelolaan anggaran publik, (7) Musrenbang masih didominasi oleh aparat sehingga prioritas program dan kegiatan sebagian besar untuk aparat dan (8) terbatasnya anggaran.
11.2.3 Maraknya praktek pork barrel politics
Istilah “gentong babi” (pork barrel) mengacu pada pengeluaran yang diusahakan oleh politisi atau anggota parlemen untuk konstituennya sebagai imbalan atas dukungan politik, baik dalam bentuk kampanye atau suara pada pemilihan umum. Tujuannya agar mereka dapat terpilih kembali dalam pemilu berikutnya. Praktik politik ini terus dikecam karena cenderung menguntungkan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum serta rawan penyelewengan dan salah siasaran. Secara sistem politik yang berlaku di Indonesia sekarang memang anggota perwakilan rakyat (DPR/DPRD) dipilih berdasarkan daerah konstituen-nya. Karenanya tidak mengherankan ada kecenderungan bahwa para wakil rakyat terpilih akan memanfaatkan hak budgeting-nya guna memenuhi keinginan dan kepentingan konstituen-nya di daerah bahkan lebih parah untuk kepentingan pribadi dan partai politik pengusungnya dengan mengenyampingkan kepentingan nasional yang lebih tinggi.
pada kepentingan yang tidak menyentuh sama sekali peningkatan daya saing nasional. Sampai saat inipun kecenderungan pork barrel politics ini masih sering ditemui baik di tingkat pusat atau daerah dalam bentuk alokasi anggaran publik dalam bentuk belanja-belanja pemerintah yang lebih tidak kentara tujuan pemenuhan diluar kepentingan publik yang lebih diprioritaskan.
.2.4 Biasnya prinsip kebijakan keuangan publik dari money follow function kepada prinsip resource envelope
Salah satu hal yang memang cukup menarik dalam UU No 32 tahun 2004 ini adalah ditetapkannya konsep “money follows the function” yang diharapkan akan berdampak baik bagi kebijakan keuangan publik di daerah. Konsep “money follows the function” secara sederhana menjelaskan bahwa pengalokasian anggaran harus didasarkan pada fungsi masing-masing unit/satuan kerja yang telah ditetapkan undang-undang. Prinsip ini mengamanatkan pula bahwa penyerahan atau pelimpahan wewenang pemerintah membawa konsekuensi anggaran yang diperlukan untuk melaksanakan kewenangan tersebut
Dengan demikian, maka syarat awal yang harus dipenuhi dalam penerapan konsep ini adalah “the right man in the right place”agar konsep ini semakin tepat sasaran. Konsep ini ditetapkan dengan harapan akan mengoptimalkan kinerja dari setiap instansi pemerintah dengan anggapan jika setiap orang telah ditempatkan di posisi yang tepat/sesuai dengannya, tentu kinerja yang dihasilkan akan lebih baik. Dengan demikian daya saing dari daerah khususnya para pengelola kebijakan keuangan publik daerah harus menjadi kondisi utama.
Namun, jika melihat kenyataannya saat ini, banyak daerah otonom yang masih belum mampu menerapkan konsep ini dengan baik. Banyak diantara satuan kerja/unit dalam instansi pemerintah daerah bukan merupakan orang yang benar-benar ahli sehingga yang didapat hanyalah kinerja yang kurang maksimal serta banyaknya tumpang tindih pekerjaan karena tidak mengetahui dengan baik fungsinya masing-masing.
belanja infrastruktur, dan lain-lain. Jelas praktik resource envelope ini sangat membatasi keleluasaan dari pemerintah pusat maupun daerah dalam mengeluarkan kebijakan pengelolaan keuangan publik-nya.
.2.5 Kebijakan keuangan publik yang cenderung responsif namun tidak antisipatif
Kebijakan keuangan publik sangat mempengaruhi kegiatan masyarakat sektor swasta sesuai dengan fungsinya sebagai alat memperbaiki kegagalan pasar. Dalam hal ini seyogyanya memang kebijakan keuangan publik harus responsif terhadap berbagai shock dan dinamika perubahan situasi apapun yang terkait dengan jalannya perekonomian dan pembangunan termasuk situasi ekonomi global yang makin hari makin tidak menentu.
Sudah diketahui bahwa kebijakan keuangan publik tidak dapat secara murni fleksibel perubahannya. Respon keuangan publik sangat dibatasi oleh siklus anggaran dimana perubahan anggaran sangat terbatas, hanya sekali setahun untuk perubahan anggaran. Karenanya unsur responsif sangat terasa pada setiap warna RAPBN/RAPBD dan pengesahannya, terutama melalui asumsi makro yang dibuat secara rasional dan memenuhi aspek prudential.
Namun kelemahan dimana APBN/APBD yang disusun tidak antisipatif terhadap kemungkinan perubahan lanjutan masih terasa kental. Hal ini memang tidak mudah karena membutuhkan kemampuan mumpuni dalam memperkirakan kemungkinan terjadinya perubahan mendasar dari fundamental ekonomi domestik maupun internasional, khususnya krisis dari negara-negara besar yang notabene berdampak langsung terhadap daya saing nasional khususnya bidang perekonomian.
11.3Solusi prioritas dalam peran kebijakan keuangan
publik terhadap peningkatan daya saing nasional
Dalam rangka memecahkan masalah-masalah prioritas yang dibahas sebelumnya, dalam rangka meningkatkan daya saing nasional dengan ditopang oleh kebijakan keuangan publik di tingkat pusat maupun daerah yang efisien, efektif serta maka diperlukan solusi-solusi dibawah ini.
11.3.1 Proses politik dalam penetapan anggaran yang mengutamakan pengujian efisiensi dari setiap anggaran yang diajukan
APBN dan APBD berpengaruh pada lambatnya timing eksekusi dari anggaran pemerintah daerah, padahal keterlambatan eksekusi anggaran terjadi pula di tingkat pusat. Selain itu, penerimaan pemerintah daerah yang sebagian besar disalurkan oleh pemerintah pusat melalui dana perimbangan, juga belum di smoothing out alokasinya oleh pemerintah pusat sehingga menghambat efektivitas pengeluaran pemerintah daerah. Pada saat ini saja, anggaran belanja daerah disusun dan direncanakan tidak berdasarkan suatu analisis kebutuhan yang nyata yang harus dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah tapi lebih banyak disusun secara ekletik, dengan anggaran tahun sebelumnya sebagai acuan utama tanpa ada proses penentuan kriteria program kegiatan seperti benefit cost analysis dan penghitungan Net Present Value (NPV) atau Internal Rate of Return (IRR).
Selain itu proses review dari anggaran pemerintah di tingkat legislatif (DPR/DPRD) harus diperkuat dan ditekankan agar selanjutnya dapat menguatkan program pengeluaran yang didasarkan atas pelibatan partisipasi masyarakat (contoh: melalui Musrenbang), dan bukan untuk melakukan perubahan drastis dari program pengeluaran pemerintah. Pola hubungan dan komunikasi antara pemerintah dan legislatif harus diarahkan pada setting kolaborasi dimana tiap pihak harus memiliki satu tujuan yang sama yaitu menyejahterakan masyarakat, Tidak lupa bahwa pihak yudikatif dalam hal ini perlu juga dilibatkan.
Terakhir, keseimbangan antara penguatan desentralisasi pengeluaran dan desentralisasi penerimaan di daerah harus segera dimatangkan dalam upaya efisiensi kebijakan keuangan publik. Hal ini tentunya harus dibarengi dengan upaya peningkatan kompetensi SDM pengelola keuangan baik nasional maupun daerah, serta penegakan hukum oleh pihak yudikatif. Guna menjamin adanya efisiensi anggaran yang baik maka penerapan Multi Term Expenditure Framework (MTEF) dalam pembiayaan program-program relatif membutuhkan dana besar harus diimplementasikan. MTEF akan menjamin bahwa belanja publik akan mencerminkan kebijakan dan prioritas program pemerintah dengan lebih baik karena MTEF adalah proses bergulir dan selalu dilakukan setiap tahun, dan bertujuan untuk mengurangi kesenjangan antara ketersediaan dengan permintaan dana oleh lembaga publik/kementerian/dinas.
Kementerian Keuangan tidak memiliki peranan yang jelas. Akibatnya, diperlukan sebuah aturan untuk mengatur prosedur dan pendelegasian pekerjaan ke berbagai institusi yang bertanggung jawab dalam mempersiapkan prakiraan maju dana transfer. Peraturan tersebut sebaiknya merupakan sebuah Peraturan Pemerintah stand alone karena peraturan saat ini yakni PP21/2004 dibatasi untuk mengatur RKA-KL yang tidak memuat tentang dana transfer dan PP ini belum menyentuh mekasime MTEF di tingkat daerah. Peraturan tersebut harus berisi prosedur untuk menghitung proyeksi ke depan tersebut secara standar. Begitu angka prakiraan maju pendapatan negara mengalami perubahan, secara otomatis proyeksi dana transfer terkait dengan jenis pendapatan tersebut akan berubah. Lebih lanjut, prosedur tersebut dapat digunakan setiap tahunnya kecuali ada perubahan kebijakan di kemudian hari.
11.3.2 Harmonisasi proses kebijakan keuangan publik secara
horizontal dan vertical pemerintahan
Harmonisasi yang baik antara desentralisasi politik, administrasi, dan fiskal adalah hal pertama yang harus diupayakan guna menjadikan kebijakan keuangan publik sebagai pendorong daya saing nasional. Mengaitkan kebijakan, perencanaan, dan penganggaran juga merupakan hal yang tidak kalah penting guna menghasilkan kebijakan keuangan publik yang mumpuni.
Revitalisasi dan/atau revisi terhadap UU No. 25/2004, UU No. 17/2003, UU No. 33/2004 dan aturan serta perundang-undangan terkait perpajakan, kewenangan pengelolaan keuangan baik pusat dan daerah juga harus dilakukan. Beberapa ketidak-selarasan aturan dan teknis operasional terkait perencanaan anggaran sudah terpetakan dan seyogyanya segera diperbaiki agar kebijakan keuangan publik lebih mengarah pada peningkatan daya saing nasional.
Efisiensi kebijakan pengelolaan keuangan publik telah lama dikesampingkan pula oleh tidak harmonisnya hubungan antar daerah kabupaten/kota. Banyak terjadi overlapping dan pemborosan dari kebijakan alokasi anggaran pemerintah daerah yang cenderung mengedepankan arogansi daerah dan menafikan pentingnya kerjasama antar daerah secara horisontal. Karenanya tetap dibutuhkan kebijakan-kebijakan keuangan publik yang mengedepankan semangat kerjasama daerah dan ketergantungan antar daerah melalui skema insentive-disincentive.
11.3.3 Memperkuat peranan partisipasi masyarakat dan akuntabilitas publik
daerah masih perlu upaya revitalisasi terstruktur yang bisa menjamin bahwa kebijakan keuangan memang benar-benar merupakan produk kebijakan publik dan bukan hanya sekedar produk politik. Pemanfaatan teknologi khususnya bidang informasi merupakan keniscayaan yang harus dibangun dan dibentuk dalam kerangka kebijakan pusat-daerah dalam bidang keuangan publik.
Dibutuhkan pula adanya pergeseran secara proporsional dari fokus Belanja tidak langsung menjadi belanja langsung khususnya belanja modal sebagai stimulus pembangunan ekonomi. Sekarang ini ditenggarai bahwa pemerintah provinsi memiliki kesulitan dalam pengalokasian belanja modal karena terbatasnya kewenangan dan sumber daya yang dimiliki pemerintah provinsi. Kebanyakan pemerintah provinsi memilih untuk mentransfer anggarannya dengan alokasi hibah, bansos dan bantuan kabupaten/kota yang dalam kacamata provinsi dikategorikan sebagai belanja tidak langsung, namun menjadi belanja langsung di tingkat kabupaten/kota melalui pengawasan pemerintah provinsi. Praktek ini disadari cukup mengkhawatirkan karena dapat memberikan justifikasi terhadap tidak pentingnya mengalokasikan anggaran pada belanja modal dibandingkan belanja non modal seperti belanja pegawai, dan lain-lain. Penguatan kapasitas fiskal sektor publik perlu juga melibatkan langsung sektor swasta dalam pendanaan dan pembiayaan langsung swasta kepada proyek dan program sektor publik via penerapan Public Private Partnership (PPP). Namun disadari bahwa skema PPP ini masih sulit diterapkan secara sempurna dan ideal pada kenyataan di lapangan karena mengundang pihak swasta dalam berinvestasi di bidang infrastruktur bukanlah suatu hal yang mudah. Sangat tingginya pembiayaan penyediaan infrastruktur dan jangka waktu pengembalian investasi yang sangat panjang merupakan faktor utama sulitnya menarik minat investasi pihak swasta. Selain itu, masih banyak faktor lain yang mempengaruhi daya minat pihak swasta untuk berinvestasi di bidang infrastruktur, antara lain adalah ketidakpercayaan pihak swasta terhadap kinerja pemerintahan Indonesia terutama pemerintah daerah atau sulitnya pembebasan lahan, dan faktor-faktor lainnya. Untuk itu, pemerintah pusat dan daerah harus mewujudkan prinsip good governance dalam penyelenggaraan PPP.
11.3.4 Perubahan paradigma tentang konsep “public goods” serta pembagian urusan dan kewenangan
Pelayanan publik selalu dikumandangkan bila dikaitkan dengan fungsi kebijakan publik terutama kebijakan keuangan publik. Masalah pelayanan publik seringkali dikaitkan dengan masalah birokrasi pemerintahan. Kualitas pelayanan publik di Indonesia terutama di tingkat daerah memang merupakan masalah laten yang memperlemah daya saing nasional terutama dalam persaingan di era global saat ini.
Namun pada prakteknya implementasi pelayanan publik masih dinomor-duakan dalam berbagai kebijakan, utamanya kebijakan keuangan publik. Secara praktek urusan pelayanan publik yang notabene dapat disandingkan sebagai pengejawantahan urusan wajib pemerintah daerah lebih sedikit jumlah programnya yang otomatis mengakibatkan alokasi anggaran publik juga yang semakin rendah. Dalam RPJPD, RPJMD, dan RKPD, dengan jelas terlihat bahwa proporsi program yang disusun dan direncanakan sangat didominasi oleh program-program yang notabene masuk dalam kategori program pilihan, sehingga program-program terkait pelayanan publik menjadi bukan prioritas. Hal ini memang merupakan kelemahan dari PP No. 38/2009 yang membagi urusan dan kewenangan pemerintahan di berbagai tingkat yang tidak secara jelas memberikan batasan-batasan yang rinci tentang apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh pemerintah daerah. Solusi yang harus dilakukan adalah sesegera mungkin merevisi PP tersebut agar menjadi lebih jelas.
11.3.5 Revitalisasi prinsip “money follow function”
Guna memuluskan penerapan prinsip “money follow
function”revitalisasi prinsip Performance Planning Budgeting System (PPBS) harus dilakukan. Selama hampir satu dasawarsa praktek perencanaan dan penganggaran dalam keuangan publik masih belum lepas dari paradigma lama yaitu penekanan pada input (input based). Lebih lengkapnya dibutuhkan pula adanya penentuan ulang skala prioritas dan bidang pembangunan tahunan, jangka menengah dan jangka panjang.