BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Material Tanah
Tanah merupakan lapisan bumi paling atas yang terbentuk dari proses pembentukkan pengendapan batuan dan bahan-bahan organik. Tanah dalam ilmu mekanika tanah merupakan semua endapan alam kecuali batuan tetap. Batuan tetap menjadi ilmu tersendiri dalam mekanika batuan (rock mechanics). Endapan alam mencakup semua bahan dari tanah lempung sampai berangkal (Soedarmo, Eddy Purnomo, 1997). Tanah merupakan hasil transformasi zat-zat mineral dan organik di permukaan bumi. Tanah terbentuk dibawah pengaruh faktor-faktor lingkungan yang bekerja dalam waktu yang sangat panjang (Rahman Sutanto, 2005). Lapisan tanah dasar (subgrade) merupakan lapisan terbawah suatu kontruksi perkerasan jalan yang sangat berperan penting dalam pengerasan tanah diatasnya. Dimana tanah dasar dibedakan atas lapisan tanah galian, lapisan tanah timbunan dan lapisan tanah asli. Daya dukung tanah dasar sangat dipengaruhi oleh jenis tanah, tingkat kepadatan, kadar air, kondisi drainase, dan lain-lain. Tanah yang tingkat kepadatannya tinggi akan mengalami perubahan volume yang kecil jika terjadi perubahan kadar air dan mempunyai daya dukung yang besar jika dibandingkan dengan dengan tanah dengan tingkat kepadatan yang rendah. Tingkat kepadatan tanah dinyatakan dalam presentese berat isi kering (d) tanah terhadap kadar air.
Tanah memiliki 2 sifat yaitu sifat-sifat fisik (physical properties) dan sifat-sifat teknik (engineering porperties). Untuk sifat-sifat fisik terdiri atas distribusi ukuran butir, bata-batas consistency dan permeabilitas (permeability) sedangkan untuk sifat-sifat teknik terdiri atas regangan, tegangan, konsolidasi dan pemadatan. Secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Sifat-sfat fisik (physical properties) a. Analisis Distribusi ukuran butir
dengan menggunakan ayakan (sieve analysis) dan menggunakan alat hydrometer.
b. Batas-batas konsitensi tanah
Untuk beberapa jenis tanah, seperti tanah gambut dan tanah liat, konsistensi tanah sangatlah penting. Batas atterberg merupakan batas-batas plastisitas tanah yang terdiri atas batas-batas atas pada kondisi plastis dan batas bawah pada kondis batas plastis. Kedua batasan ini sangat penting untuk menentukan sifat-sifat tanah karena pada tanah liat sifat-sifat fisiknya sangat ditentukan oleh harga plastisitasnya.
Pada dasarnya tanah memiliki tiga batasan yaitu kondisi cair, kondisi, padat dan kondisi antara padat dan cair. Batas antara kondisi cair ke plastis disebut dengan batas cair dan batas antara plastis ke non plastis disebut dengan batas batas plastis.
Adapun untuk penentuan klasifikasi tanah berdasarkan nilai indeks plastisitas adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1. Tingkat Palstisitas Tanah Menurut Atterberg (1971)
Indeks Plastisitas Tingkat Plastisitas Jenis Tanah
0 Non Platis Pasir
0 < PI < 7 Rendah Lanau
7 < PI < 17 Sedang Lempung Kelanauan
PI > 17 Sangat Plastis Lempung
c. Permeabilitas tanah (permeability)
Permeabilitas adalah sifat bahwa zat cair dapat mengalir lewat bahan berpori. Tanah merupakan bahan yang berpori yang dapat dilewati dengan air melalui pori-pori tanah. Dimana derajat permeabilitas tanah ditentukan oleh :
a. Ukuran pori b. Jenis tanah
Dalam menentukan permeabilitas dapat dilakukan dengan percobaan di laboratorium dengan menggunakan alat permeameter. Salah satu cara menghitung nilai derajat permeabilitas tanaha adalah dengan metoda Falling head Parameter.
Penentuan nilai k dengan menggunakan rumus :
... 2.1
Dimana : k = koefisisen permeabilitas pada suhu ToC (cm/s)
A = luas penampang diamter tabung tempat tanah uji (cm2) a = luas penampang pipa aliran air (cm2)
L = panjang (tinggi) tanah uji (cm) t (t1– t2) = rentang waktu (s) h1 = tinggi air mula-mula (cm)
h2 = tinggi air setelah air masuk ke tanah uji (cm)
2. Sifat-sifat teknik (engineering properties)
Salah satu sifat teknik (engineering properties) tanah adalah pemadatan (compaction). Pemadatan adalah upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kekuatan tanah dengan cara memberikan beban sehingga udara keluar dari rongga antara butir-butir tanah, dan rongga-rongga tersebut akan diisi dengan butiran tanah itu sendiri dan air.
2.1.1. Karaktetristik Tanah Liat
Tanah liat dihasilkan oleh alam yang berasal dari pelapukan kerak bumi yang sebagian besar tersusun dari batuan feldspatik, yang terdiri sari batuan atas batuan granit dan bauan beku. Dimana kerak buui itu sendiri tersusun atas unsur-unsur seperti silikon, oksigen dan aluminium. Aktivitas panas bumi yang membuat terjadian pelapukan batuan silika dengan asam karbonat, sehingga terbentuklah tanah liat.
Tanah liat memiliki ciri-ciri diantaranya :
2. Struktur tanahnya cenderung lengket jika dalam keadaan basah dan kekuatan penyatuan butiran-butiran tanah yang satu dengan butiran tanah yang lain. 3. Pada kondisi kering, butiran-butiran tanahnya terpecah-pecah secara halus.
Dari berbagai macam jenis tanah, tanah liat merupakan tanah yang banyak memiliki banyak variasi komposisi yang dapat dijadikan bahan sebagai perekayasa. Berdasarkan pengetahuan dari ahli geoteknik, menyatakan bahwa tanah liat merupakan bahan anorganik halus yang memiliki kemampuan untuk plastisitas pada saat basah, dan secara umum sifat-sifat seperti adsorpsi, hidrasi, pertukaran ion, dan pengerasan akan berubah berdasarkan kondisi lingkungannya. Salah satu faktor utama yang mempengaruhi reaktivitas tanah untuk bereaksi dengan aditif kimia dalam menghasilkan senyawa semen adalah fraksi tanah liat (Khairul Anwar, 2009)
2.1.2. Mineral Tanah Liat
Mineral tanah liat dihasilkan dari transformasi dengan pemilahan fisik dan kimia tanpa dimodifikasi kimia dari mineral, dan oleh pelapukan kimia yang menyebabkan tranformasi mineral primer dengan bentuk mineral tanah liat sekunder (klause Heine & Jorg Volkel, 2010). Tanah liat memiliki berbagai komposisi mineralogi yang terdiri dari berbagai jenis mineral diantaranya mineral jenis lempung yaitu kaolinite, illite, dan montmorillonite (Khairul Anwar, 2009).
Dalam Wijaya Seta (2004), pada umumnya ketiga mineral tersebut membentuk kristal Hidro Aluminium Silikat (Al2O3N Si O2 kH2O), tetapi ketiga mineral tersebut memiliki karakter atau sifat dan struktur yang berbeda satu dengan yang lainnya.
2.1.2.1 Kaolinite
Pada umumnya partikel kaolinite tidak ekspansif karena adanya ikatan hidrogen yang pada kondisi tertentu akan membentuk lebih dari seratus tumpukkan yang sukar dipisahkan, sehingga mineral ini stabil dan air tidak dapat masuk diantara lempengan-lempengannya atau tidak terjadi pengembangan dan penyusutan pada sel satuannya (Andrani, 2012). Kaolinit merupakan mineral tanah liat yang paling banyak terdapat pada kelompok kaolin. Mineral kaolinit (Al2Si2O5(OH)4. Kaolinit mineral adalah mineral yang paling terlihat dari kelompok kaolin, pembentukan kaolinit terjadi ketika alumina banyak dan silika sedikit, karena struktur dari silika dan alumina adalah 1:1. Pada dasarnya, pembentukan kaolinit biasanya pada tempat yang curah hujannya relatif tinggi, dan ada drainase yang baik untuk memastikan pencucian kation dan besi. Setiap partikel kaolinite terdiri dari serangkaian lapisan bentuk heksagonal seperti lembaran buku. Lapisan ini terikat untuk lapisan yang berdekatan lainnya oleh ikatan hidrogen. Akibatnya, kation dan air tidak masuk antara lapisan struktural kaolinit. Oleh sebab itu, berbeda dengan mineral lempung lain, kaolinite menunjukkan kurang plastis, kurang kohesif, dan kurang mengembang (Anuar, 2009).
2.1.2.2 Montmorillonite
Montmorillonite merupakan mineral yang paling umum dari kelompok smektit. Kondisi ini yang mendukung terjadinya pembentukkan jenis Montmorillonite mineral pada PH yang tinggi, elektrolit yang tinggi, yang banyak mengandung silika. Struktur dari Montmorillonite hampir sama dengan struktur illite namun pemisahnya yang berbeda yaitu ion H2O, dimana struktur ini sangat mudah lepas, sehingga dikatakan struktur ini sangat tidak stabil pada keadaan tergenang, dimana air dengan mudah masuk diantara sela-sela lapisan yang mengakibatkan tanah mengembang dan ketika mengering tanah menjadi menyusut (Monintja, S. 2013). Kandungan air di dalam Montmorillonite berubah-ubah dan akan meningkat tinggi dengan apabila menyerap air. Secara kimia montmorilonite merupakan natrium kalsium aluminium magnesium silikat hidroksida terhidrat (Na,Ca) (Al,Mg)2(Si4O10)(OH)2.nH2O.
Gambar 2.3. Struktur dan Morpologi dari Montmorillonite (Mitchell and Soga, 2005; McBride, 1994 dalam Anwar, 2009)
2.1.2.3 Illite
terdapat kurang dua puluh persesn pergantian silicon (Si) oleh alminium 9Al) pada lempeng tetahedral. 2) antar satuan kristal terdapat kalium (K) yang berfungsi sebagai peyeimbang muatan dan pengikat antar satuan kristal. 3) struktur mineralnya tidak mengembang sebagaimana monmorrilonite (Andrani, 2012). Illite termasuk kedalam kelompok Mica-like, kadangkala juga bisa berperilaku ekspansif tetapi tidak menimbulkan persoalan yang begitu berarti. Illite terdiri atas lembaran oktahedra yang terikat dalam dua lembaran silika tetrahedra. Di dalam lembaran oktahedra terdapat substitusi parsial aluminium oleh magnesium dan besi serta di dalam lembaran tetrahedra terdapat pula substitusi silikon oleh aluminium yang menghasilkan muatan negatif. Muatan negatif ini mengikat ion kalium kalium yang berada diantara lapisan-lapisan illite. Ikatan-ikatan tersebut tertahan lebih lama dari pada ikatan hidrogen pada kristal kaolinite, tetapi lebih kuat dari ikatan ionik yang membentuk kristal monmorrilonite. Rumus kimia dari illite adalah : H2KAl3O12 Al2O34SiO2H2O + xH2O
Gambar 2.4. Struktur dan Morpologi dari Illit (Mitchell and Soga, 2005; McBride, 1994 dalam Anwar, 2009)
2.2. Stabilisasi Tanah
terhadap beban di atasnya. Berdasarkan penelitian Yunan (2002), tindakan yang dapat diambil dari stabilisasi tanah adalah :
1. menambah kerapatan tanah
2. menambah material yang tidak aktif sehingga mempertinggi kohesi dan/atau tahanan geser yang timbul
3. menambah material untuk menyebabkan perubahan-perubahan kimiawi dan fisis dari material tanah
4. merendahkan muka air (drainase tanah) 5. mengganti tanah-tanah yang buruk.
Tujuan dari stabilisasi tanah adalah untuk memperoleh tanah dasar yang stabil pada semua kondisi musim dan dalam jangka waktu yang lama. Tanah dasar (subgrade) diharapkan dapat menahan beban di atasnya (pergerakan dari truk-truk pengangkut hasil-hasil perkebunan), untuk itu diharapkan tanah dasar itu sendiri haruslah merupakan suatu padatan yang kuat dan volumenya tidak mengembang ketika basah (terkena hujan).
Keuntungan dari stabilisasi tanah (Vitton, 2006) :
- stabilisasi tanah berfungsi sebagai working platform dalam suatu proyek - stabilisasi sebagai penahan air pada tanah
- stabilisasi meningkatkan kekuatan tanah
2013). Stabilisasi tanah dapat dilakukan dengan salah satu atau kombinasi pekerjaan-pekerjaan dengan cara mekanis, yaitu pemadatan dengan cara mekanis, yakni pemadatan dengan menggunakan berbagai jenis peralatan seperti mesin gilas (roller), benda berat yang dijatuhkan, ledakan tekanan statis, pembekuan dan pemanasan dan dengan bahan pencampur (additiver) seperti penambahan kerikil untuk tanah kohesif (lempung), untuk tanah berbutir kasar, dan pencampur kimiawi seperti semen, gamping, abu batubara, semen aspal, abuk sekam padi, dan lain-lain (Ninik, 2007). Ada dua metode dalam stabilisasi tanah yang sering digunakan yaitu:
1. Stabilisasi Mekanik
Stabilisasi mekanik merupakan suatu metode penstabilan tanah yang memberikan pembebanan pada tanah sehingga tanah akan menjadi lebih padat dan stabil. Stabilisasi tanah secara mekanis bertujuan untuk mendpatkan tanah yang berdegradasi baik (well graded) sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi spesifikasi yang diinginkan (Pretty, dkk, 2013).
2. Stabilisasi Kimiawi
Stabilisasi kimiawi merupakan penambahan bahan stabilisasi yang dapat mengubah karakter tanah yang tidak menguntungkan. Metode ini biasanya digunakan untuk tanah yang memiliki butiran halus. Bahan pencampur yang digunakan merupakan bahan-bahan dapat membuat tanah menjadi tanah lebih stabil (stabilizing agent). Bahan-bahan pencampur yang digunakan adalah semen, kapur, fly ash, button ash, dan sekarng ini sudah ada bahan dari Polimer yaitu polipropilena (PP) dan serat (fiber) polipropilena. 2.2.1 Semen
bagi usaha mendapatkan suatu masa tanah yang kokoh dan tahan terhadap deformasi (Takaendengan, 2013). Bahan dasar semen yang terutama mengandung kapur, silika, alumina, dan oksida besi. Bahan-bahan tersebut merupakan unsur pokok dari semen, yaitu trikalsium silikat (C3S) atau 3CaO.SiO2, dikalsium silikat (C2S) atau 3CaO.Al2O3, trikalsium aluminat (C3A) atau 3CaO.Al2O3, dan tetrakalsium aluminoferit (C4AF) atau 4CaO.Al2O3Fe2O3 (Ninik Ariyani, 2007). 2.2.2 Polivinil klorida (PVC)
Polivinil klorida (PVC) adalah polimer termoplastik urutan ketiga dalam hal jumlah pemakaian di dunia setelah polietilena dan polipropilena. Sebagai bahan bangunan, PVC relatif murah, tahan lama dan mudah dirangkai.
Gambar. 2.5. Serbuk PVC (www.bestrade.eu)
a. Inisiasi : radikal bebas menyerang monomer vinil klorida membentuk monomer.
I 2R
R + H2C === CH2Cl R – CH2 - CHCl
b. Propagasi : Tahap perpanjangan monomer radikal
R --- CH2– CHCl + CH2 = CHCl R-CH2– CHCl – CH2CHCl c. Terminasi : tahap pergantian
CH2 = CHCl + R --- CH2– CHCL (- CH2-CHCl-CH2-CHCl-)n PVC memiliki sifat keras dan kaku, kekuatan benturannya baik, mudah terdegradasi akibat panas dan cahaya, mudah disintesis, bentuknya serbuk putih sehingga lebih mudah untuk diolah, mudah larut pada suhu kamar dan serta tidak mudah untuk terbakar (Bahroni, 2010).
2.2.3 Serat (fiber) Polipropilena
Polipropilane berasal dari monomer C3H6 yang termasuk dalam hidrokarbon murni seperti lem parafin. Bahan ini merupakan molekul yang berat dan proses produksi sampai menjadi serat (fiber). Adapun sifat-sifat dari serat Polipropilane sebagai berikut (Ferry, 2011):
a. Susunan atom biasa dalam molekul polymer dan kristalisasi tinggi, bernama Isotactic Polypropylene
b. Titik leleh yang tinggi 1650C dan mampu digunakan pada temperatur 1000C dalam waktu yang lebih singkat
c. Kekakuan kimia menyebabkan bahan kuat terhadap hampir semua bahan kimia. Bahan kimia tidak akan menyerang beton dan juga tidak akan berpengaruh pada serat. Terhadap bahan kimia yang lebih ganas maka betonlah yang akan mengalami kerusakan terlebih dahulu.
e. Proses perenggangan pada rantai polymer dalam serat, pada kuat tekan benang 159/denier, selama dengan kuat tekan Fu = 400 MN/m2.
f. Pedoman menunjukkan kelemahan pada daerah lateral, dimana terdapat serabut. Matriks semen dapat menembus struktur rapat antara serabut sendiri dan membuat ikatan mekanik antara serat dan matriks.
Gambar 2.6. Serat (fiber) Polipropilena 2.2.6 Limbah serbuk besi
Limbah serbuk besi merupakan limbah yang sangat berbahaya jika dibuang sembarang. Jika dibuang ke sungai akan mencemari sungai, yang jika digunakan oleh masyarakat akan menyebabkan gangguan kesehatan bagi masyarakat itu sendiri. Di Indonesia, banyak perusahaan-perusahaan yang menghasilkan limbah dari hasil manufaktur besi dan baja, dimana dalam prosesnya menghasilkan limbah serbuk besi.
2.3. Pengujian dan Karakterisasi
yang sudah dibuat akan diujikan ke sampel tanah liat (clay). Untuk mengetahui bahwa penstabil (soil stabilizer) sudah sesuai dengan standarisasi pengujian pengerasan tanah, maka dilakukan uji CBR (California Bearing Ratio).
2.3.1 Karakterisasi dengan menggunakan Difraksi Sinar-X
Difraksi Sinar-X merupakan suatu pengujian karakterisasi yang dilakukan untuk menganalisis struktur kristalin dari suatu bahan penstabil tanah (soil stabilizer). Metode difraksi sinar-X mempunyai peran yang sangat penting untuk menganalisi padatan kristalin yaitu untuk meneliti ciri utama struktur (parameter kisi dan tipe struktur), serta untuk mengetahui analisis lain seperti susunan berbagai jenis atom dalam kristal, terjadinya kecacatan pada bahan, ukuran butiran dan sub butiran, dan yang lainnya. Difraksi sinar-X terjadi pada hamburan elastis foton-foton sinar-X oleh atom dalam suatu kisi yang periodik. Terjadinya hamburan monokromatis sinar-X dalam fase tersebut memberikan interferensi yang konstruktif. Sinar X merupakan suatu radiasi elektromagnetik yang memiliki energi pada rentang antara 200 eV sampai 1 MeV.
Ada dua proses yang terjadi ketika sinar-X ditembakkan mengenai sebuah atom yaitu: (1) energi berkas sinar-X terserap oleh atom, (2) sinar x akan dihamburkan oleh atom. Difraksi sinar-X yang mengenai sebuah material terjadi akibat dua fenomena: (1) hamburan oleh tiap-tiap atom, dan (2) interferensi gelombang-gelombang yang dihamburkan oleh atom-atom tersebut. Interferensi ini terjadi karena gelombang-gelombang yang dihamburkan oleh atom-atom memiliki koherensi dengan gelombang datang.
Ketentuan penggunaan difraksi sinar-X adalah berdasarkan persamaan Bragg:
2dhkl sinB = n ... 2.2 dengan dhkl adalah jarak antar bidang (interplanner spacing) (hkl) untuk sebuah kristal, B adalah sudut Bragg dan adalah panjang gelombang radiasi.
Menurut persamaan Bragg, seberkas sinar-X yang mengenai sampel kristal, maka pada kristal tersebut akan membiaskan sinar-Z yang mempunyai panjang gelombang sama dengan jarak antar kisi dalam kristal tersebut. Sinar bias dari sinar-X akan di terima oleh detektor dan diterjemahkan menjadi sebuah puncak difraksi. Semakin banyak bidang kristal yang terdapat dalam sampel, semakin tinggi intensitas pembiasan yang dihasilkan. Setiap puncak yang mucul pada pola XRD merupakan perwakilan dari bidang kristal yang memiliki orientasi tertentu dalam sumbu tiga dimensi. Puncak-puncak yang didapatkan dari data pengukuran, selanjutnya disesuaikan dengan standar difraksi sinar-X yaitu Joint Commite Powder Diffraction Standard (JCPDS) (Bukit, 2011).
Secara umum hasil dari analisa dengan menggunakan sinar-X adalah memberikan gambaran dari kristal-kristal yang ditunjukkan melalui difraksi intensitas. Dimana, difraksi intensitas dapat ditentukan dengan sebuah gambaran kristal pada simetri kubik dan sel parameter dengan panjang gelombang sampai 5Ao.
2.3.2 Karakterisasi Morpologi dengan menggunakan Scanning Electron
Microscope (SEM)
Scanning Electron Microscope (SEM) merupakan sebuah perangkat mikroskop elektron yang dirancang untuk mengamati permukaan suatu objek atau material tertentu dalam skala mikro. SEM memiliki perbesaran 10 – 3.000.000 kali, depth of field 4 – 0,4 mm dan resolusi sebesar 1 – 10 nm.
pada dasarnya panjang gelombang yang lebih menarik untuk digunakan adalah daerah panjang gelombang cahaya tampak (cathodoluminescence) dan sinar-X.
Gambar 2.8. Ilustrasi berkas elektron yang terjadi pada SEM
Elektron-elektron BSE dan SE yang direfleksikan dan dipancarkan sampel dikumpulkan oleh sebuah scintillator yang memancarkan sebuah pulsa cahaya pada elektron yang datang. Cahaya yang dipancarkan kemudian diubah menjadi sinyal listrik dan diperbesar oleh photomultiplier. Setelah melalui proses pembesaran sinyal tersebut dikirim ke bagian grid tabung sinar katoda. Scintillator biasanya memiliki potensial positif sebesar 5 – 10 kV untuk mempercepat energi rendah yang dipancarkan elektron agar cukup untuk mengemisikan cahaya tampak ketika menumbuk (Anggraini, 2008).
EDX (Energy Dispersive X-ray), merupakan karakterisasi material menggunakan sinar-X yang diemisikan ketika material mengalami tumbukkan dengan elektron. Sinar-X diemisikan dari transisi elektron dari lapisan kulit atom. Sehingga energinya tergantung tingkatan energi kulit atom. Setiap elemen pada tabel periodik atom memiliki susunan elektronik yang unik, sehingga akan memancarkan sinar-X yang unik pula. Dengan mendeteksi tingkat energi yang dipancarkan dari sinar-X dan intensitasnya, maka akan diketahui atom-atom penyusun material dan persentase massanya (Bukit, 2011).
2.3.3. Pengujian Pemadatan Tanah (Compaction)
Pemadatan pada tanah (compaction) adalah proses memperkecil ruangan pori dengan menggunakan beban dinamis yang dipengaruhi oleh mekanisme pergerakan dari partikel padatnya. Pada setiap standar pemadatan yang digunakan akan diperoleh nilai kadar air optimum (optimum moisture content) yang menghasilkan kepadatan maksimum (berat volume kering maksimum). Pada kadar air lainnya, baik di daerah kering maupun di daerah basah terhadap kadar air optimumnya, akan diperoleh kepadatan yang lebih kecil dari kepadatan maksimunya. Makin jauh dari kadar air optimumnya, maka kepadatan yang akan di dapatkan akan semakin kecil pula. Tujuan dari pemadatan tanah adalah : (1) mempertinggi kuat geser tanah, (2) mengurangi sifat mudah mampat (kompresibilitas), (3) mengurangi permeabilitas, dan (4) mengurangi perubahan volume sebagai akibat perubahan kadar air (Yuliet, 2011).
2.3.4 California Bearing Ratio (CBR)
Untuk menguji kapasitas daya dukung tanah yang dipadatkan pada umumnya digunakan digunakan uji CBR (California Bearing Ratio). Uji CBR adalah suatu perbandingan antara beban percobaan (test load) dengan beban standar (standart load) yang dinyatakan dalam persen, dengan rumus sebagai berikut:
Harga CBR adalah nilai yang menyatakan kualitas tanah dasar yang dibandingkan dengan beban standar. Nilai CBR adalah salah satu parameter yang yang digunakan untuk mengetahui daya dukung tanah dasar dalam perencanaan pelapisan tanah dasar (subgrade). Jika tanah dasar memiliki nilai CBR yang tinggi maka akan mengurangi ketebalan pelapisan yang berada di atas tanah dasar (Palar, H; dkk, 2013).