• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANAJEMEN BISNIS SYARIAH 1 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MANAJEMEN BISNIS SYARIAH 1 1"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

MANAJEMEN BISNIS SYARIAH

PENDAHULUAN

DAN CARILAH APA YANG TELAH DIANUGRAHKAN ALLAH KEPADAMU

(KEBAHAGIAAN NEGERI AKHIRAT), NAMUN JANGANLAH KAMU MELUPAKAN KEBAHAGIAAN DARI KENIKMATAN DUNIA DAN BERBUAT BAIKLAH KEPADA ORANG LAIN, SEBAGAIMANA ALLAH TELAH BERBUAT BAIK KEPADAMU, DAN JANGANLAH MEMBUAT KERUSAKAN DIMUKA BUMI. SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK MENYUKAI ORANG YANG BERBUAT KERUSAKAN.

(QS AL-QASHAS,28:77)

PERKEMBANGAN EKONOMI DAN BISNIS SYARIAH

Bank Indonesia menetapkan perbankan syariah sebagai salah satu pilar penyangga dual-banking system dan mendorong pangsa pasar bank-bank syariah yang lebih luas sesuai cetak biru

perbankan syariah (BI, 2002).

Depkeu melalui Bapepam-LK telah mengakui keberadaan lembaga keuangan syariah non banking seperti asuransi dan pasar modal syariah.

Departemen Agama telah mengeluarkan akreditasi bagi organisasi pengelola zakat baik dipusat maupun daerah.

Tahun 1990 MUI memprakarsai Lokakarya Ekonomi Syariah dan Tanggal 10-2-1999 MUI membentuk Dewan Syariah Nasional (DSN)

ANEKA RAGAM BISNIS SYARIAH BAB I A. PERBANKAN SYARIAH

Pengertian Bank Syariah menurut para ahli :

1. Menurut Schaik (2001:45-52), bank syariah adalah sebuah bentuk dari bank modern yang didasarkan pada hukum islam yang sah, dikembangkan pada abad pertama islam, menggunakan konsep berbagi risiko sebagai metode utama, dan meniadakan keuangan berdasarkan kepastian serta keuntungan yang ditentukan sebelumnya.

(2)

tidak mengandalkan pada bunga yang usaha pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalu-lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya sesuai dengan prinsip syariat islam.

PRINSIP-PRINSIP DALAM PERBANKAN SYARIAH Prinsip Titipan atau Simpanan (Al-Wadiah)

Al-Wadiah sebagai titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip menghendaki (Syafi’I Antonio, 2001).

a. Wadiah Yad Al-Amanah b. Wadiah Yad adh-Dhamanah

Tatacara pembagian hasil usaha :

a. Al-Mudharabah adalah suatu perkongsian antara dua pihak shahib al-mal menyediakan dana dan pihak mudharib bertanggung jawab atas pengelolaan usaha.

b. Al-Musyakarah adalah perkongsian antara dua pihak atau lebih dalam satu proyek dimana masing pihak berhak atas segala keuntungan dan bertanggung jawab akan segala kerugian yang terjadi sesuai dengan penyertaannya masing-masing

Prinsip Jual Beli (Al-Tijaraah)

Merupakan tata cara jual beli, dimana bank akan membeli terlebih dahulu barang yang

dibutuhkan atau mengangkat nasabah sebagai agen bank melakukan pembelian barang atas nama bank, kemudian bank akan menjual barang tersebut kepada nasabah dengan harga sejumlah harga beli ditambah keuntungan (margin).

a. Al-Murabahah adalah akad jual beli barang dengan

menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli

b. Salam adalah akad jual beli barang pesanan dengan penangguhan pengiriman oleh penjual dan pelunasannya dilakukan segera oleh pembeli sebelum pesanan tersebut diterima sesuai syarat-syarat tertentu.

(3)

dapat berupa pembayaran dimuka, cicilan, atau ditangguhkan sampai jangka waktu tertentu.

3. Prinsip Sewa (Al-Ijarah)

Al-Ijarah merupakan akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa , melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan hak kepemilikan atas barang itu sendiri.

a. Ijarah, sewa murni

b. Ijarah al muntahiya bit tamlik merupakan penggabungan sewa dan beli.

4. Prinsip Jasa

Prinsip ini meliputi seluruh layanan non-pembiayaan yang diberikan bank. a. Al-Wakalah, nasabah memberikan kuasa kepada bank untuk

mewakili dirinya melakukan pekerjaan jasa tertentu, seperti transfer

b. Al-Kafalah, merupakan jaminan yang diberikan oleh penanggung kepada pihak ketiga untuk memenuhi pihak kedua atau yang ditanggung.

c. Al-Hawalah adalah pengalihan utang dari orang yang berutang kepada orang lain yang wajib menangungnya, dimana bank bertindak sebagai juru tagih tanpa

membayarkan dulu piutang tersebut.

d. Ar-Rahn adalah menahan salah satu harta milik si

peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya. e. Al-Qardh adalah pemberian harta kepada orang lain yang dapat ditagih atau diminta atau dengan kata lain meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan.

Bagi Hasil (syirkah)

(4)

bekerja sama untuk meningkatkan nilai aset secara bersama-sama.

b. Mudharabah adalah bentuk kerjasama antara dua atu lebih pihak di mana pemilik modal (shahibul mal) mempercayakan sejumlah uang kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian pembagian keuntungan.

PERBEDAAN BANK SYARIAH DENGAN KONVENSIONAL Terdapat perbedaan dalam berbagai aspek.

Akad dan aspek legal memiliki konsekuensi dunia akhirat.

Lembaga penyelesaian sengketa dilakukan di Badan Arbitrase Muamalah Indonesia (BAMUI) yang didirikan secara bersama oleh Kejaksaan Agung RI dan MUI.

Struktur organisasi bank syariah harus ada Dewan Pengawas Syariah. Bisnis dan usaha yang dibiayai tidak lepas dari kreteria syariah. Lingkungan dan budaya kerja yang sesuai dengan syariah.

Baitul Mal Wat Tamwil (BMT)

Pengertian BMT, dilihat secara konseptual memiliki dua fungsi yaitu pertama Baitul maal menyangkut kegiatan dalam menerima titipan dana zakat, infaq, dan shadaqah serta

mengoptimalkan distribusinya sesuai dengan peraturan dan amanahnya. dan kedua Baitul tamwil dengan melakukan kegiatan pengembangan usaha-usaha produktif dan investasi.

Menurut Hosen dan Hasan Ali (PKES, 2008), BMT merupakan lembaga keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip bagi hasil, menumbuhkembangkan bisnis usaha mikro dalam rangka mengangkat derajat dan martabat serta membela kepentingan kaum fakir miskin, ditumbuhkan atas prakarsa dan modal awal dari tokoh-tokoh masyarakat setempat dengan berlandaskan pada sistem ekonomi yang salaam : keselamatan (berintikan keadilan), kedamaian, dan kesejahteraan.

Prinsip-Prinsip dalam BMT

(5)

Sistem balas jasa merupakan cara jual-beli yang dalam pelaksanaannya BMT mengangkat nasabah sebagai agen yang diberi kuasa melakukan pembelibarang atas nama BMT, dan kemudian bertindak sebagai penjual, dengan menjual barang yang telah dibelinya dengan ditambah mark up. Keuntungan BMT nantinya akan dibagi kepada penyedia dana.

Sistem profit, disebut juga sebagai pembiayaan kebajikan yang bersifat sosial dan non-komersial. Nasabah cukup mengembalikan pokok pinjamannya saja.

Akad bersyarikat, adalah kerjasama antara dua pihak atau lebih dan masing-masing pihak mengikutsertakan modal dengan perjanjian pembagian keuntungan/kerugian yang disepakati. Produk pembiayaan. Persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam diantara BMT dengan pihak lain.

Kegiatan Operasional BMT : Terdapat 2 tugas penting BMT

Pengumpulan Dana BMT yang bersumber dari dana masyarakat, simpanan biasa, simpanan berjangka atau deposito, serta melalui kerjasama antar institusi.u anggota

a. Simpanan Wadiah ( wadhi’ah amanah dan wadhi’ah

yadhomanah) – setiap waktu dapat ditarik pemilik atau anggota b. Simpanan mudharabah – dana yang penyetoran dan

penarikannya dapat dilakukan sesuai dengan perjanjian.

2. Penyaluran Dana BMT

Dalam bentuk pinjaman atau disebut juga pembiayaan yaitu suatu fasilitas yang diberikan BMT kepada anggota yang membutuhkan untuk menggunakan dana yang telah dikumpulkan BMT dari anggota yang surplus dana.

a. Akad Tijarah (jual beli)

b. Akad syirkah (penyertaan dan bagi hasil) – Musyarakah yaitu

keuntungan dsan kerugian ditanggung bersama, Mudharabah yaitu BMT menyediakan dana dan peminjam berupaya mengelola dana tersebut untuk pengembangan usaha.

(6)

Modal Pendirian BMT

Modal awal sebesar Rp.20 juta berasal dari beberapa tokoh masyarakat, yayasan, kas mesjid atau BAZIS. Namun pendirian harus dilakukan antara 20 sampai 44 orang.

Badan Hukum BMT

BMT dapat didirikan dalam bentuk kelompok swafdaya masyarakat atau koperasi.

C. PEGADAIAN SYARIAH

Pengertian Pegadaian Syariah dalam fiqih islam mengenal perjanjian gadai atau Rahn yaitu perjanjian menahan sesuatu barang sebagai tanggungan hutang.

Rukun dan syarat transaksi gadai :

Shigat adalah ucapan berupa ijab dan qabul Orang yang berakad

Harta atau barang (marhun) Hutang (marhun bih)

Syarat sah gadai :

Shigat, syarat shigat tidak boleh terikat dengan syarat tertentu dan dengan masa yang akan datang.

Orang yang berakad, baik yang menggadaikan (rahin) maupun yang menerima gadai (murtahin) harus cakap dalam melakukan tindakan hukum, baligh, dan berakal sehat, serta mampu

melakukan akad.

(7)

Marhun, harus merupakan harta yang bisa dijual dan nilainya seimbang dengan marhun bih.

Asuransi Syariah (takaful).

Pengertian asuransi syariah menurut fatwa Dewan Asuransi Syariah Nasional MUI adalah usaha saling melindungi dan tolong –menolong diantara sejumlah orang atau pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad atau perikatan yang sesuai dengan syariah.

Menurut Hosen dan Hasan Ali (PKES, 2008:8-9), asuransi syriah mempunyai ciri-ciri : 1. Menggunakan akad tolong-menolong

2. Dana yang terkumpul dari peserta asuransi akan tetap menjadi milik peserta asuransi bukan menjadi milik perusahaan (hanya sebagai pengelola).

3. Pembayaran klaim peserta menggunakan dana kebajikan (tabarru’) bukan dana milik perusahaan asuransi.

4. Terdapat Dewan Pengawas Syariah.

E. Pasar Modal Syariah

Defenisi pasar modal adalah pasar untuk berbagai instrumen keuangan (sekuritas) jangka panjang yang dapat diperjual belikan, baik dalam bentuk hutang maupun modal sendiri, baik yang diterbitkan oleh pemerintah, public authorithies maupun perusahaan swasta.

Menurut UU RI (1995 : No.8) tentang pasar modal disebutkan bahwa pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek.

Kegiatan operasional pasar modal syariah

Fatwa DSN No.40/DSN-MUI/X/2003 tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal menentukan kriteria produk investasi :

(8)

2. Jenis transaksi menganut prinsip kehati-hatian dan tidak spekulatif.

Berdasarkan ketentuan tersebut produk investasi sesuai syariah dapat berupa : 1. Saham sudah sesuai dengan ajaran islam (syirkah dan

musyarakah).

2. Obligasi syariah (sukuk) dengan mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi hasil atau margin atau fee serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo.

3. Reksadana Syariah, merupakan wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal kemudian diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi yang beroperasi menurut ketentuan dan prinsip syariah islam.

LANDASAN POKOK MANAJEMEN BISNIS SYARIAH BAB II

Terdapat tiga komponen pokok yang terstruktur dalam manajemen bisnis syariah : 1. Aqidah atau iman yang bermakna ikatan keyakinan:

a. Tiada kekuatan lain diluar Allah SWT.

b. Selalu bicara tentang kebenaran, selalu lurus, dan konsusten dalam perilakunya.

c. Rasa optimis menjalani kehidupan, tidak gelisah dan putus asa.

2. Syariah.

(9)

3. Akhlaq yaitu pelaksanaan ibadah kepada Allah SWT dan bermuamalah dengan penuh keikhlasan.

TIDAKKAH KAMU PERHATIKAN BAGAIMANA ALLAH TELAH MEMBUAT PERUMPAMAAN KALIMAT YANG BAIK SEPERTI POHON YANG BAIK, AKARNYA TEGUH DAN CABANGNYA MENJULANG KELANGIT. POHON ITU MEMBERIKAN BUAHNYA PADA TIAP MUSIM DENGAN SEIZIN TUHANNYA. ALLAH MEMBUAT PERUMPAMAAN ITU UNTUK MANUSIA SUPAYA MEREKA SELALU INGAT. (QS IBRAHIM. 24-25)

DAN JANGANLAH KAMU MERUGIKAN MANUSIA TERHADAP HAK-HAK MEREKA DAN JANGANLAH KAMU MEMBUAT KEJAHATAN DIMUKA BUMI DENGAN

MEMBUAT KERUSAKAN (QS HUD 11:85)

TIDAK HALAL BAGI SEORANG MUSLIM MENJUAL SATU KOMODITI YANG

MEMILIKI CACAT, KECUALI CACAT TERSEBUT DIPERLIHATKAN KEPADA PEMBELI (HR BUKHARI).

Beberapa konsep ajaran islam :

Kepemimpinan Rasullullah SAW yang sudah sangat terkenal 1. Siddiq yaitu benar, nilai dasarnya adanya integritas dalam pribadi, selalu berkata benar, pikiran jernih.

Nilai bisnisnya : Jujur, ikhlas, keseimbangan emosi, berusaha secara halal.

2. Amanah yaitu terpecaya, bisa memegang amanah.

Nilai bisnisnya :Adanya kepercayaan , bertanggung jawab, tepat waktu, memberikan yang terbaik.

(10)

Nilai bisnisnya : Memiliki visi misi, cerdas, pengetahuan tentang produk

4. Tabligh yaitu komunikatif, menjadi pelayan bagi publik, delegasi wewenang dengan baik.

Nilai bisnisnya : Supel, deskripsi tugas, bisa bekerja dengan tim, koordinasi ada kendali dan supervisi.

5. Saja’ah yaitu berani.

Nilai bisnisnya : Mampu mengambil keputusan, menganalisis data, tepat dalam mengambil keputusan, dan responsif.

Rukun Iman sebagai landasan kepercayaan muslim a. Iman kepada Allah SWT

b. Iman kepada Malaikat

c. Iman kepada Kitab-Kitab Allah d. Iman kepada Rasul Allah e. Iman kepada hari akhir f. Iman kepada Qada dan Qadar Shalat untuk membangun karakter a. Disiplin

b. Perjalanan rohani

c. Latihan psikis dan emosional d. Kesadaran diri

e. Kesucian dan keikhlasan

Puasa Ramadhan sebagai pendidikan rohani. Zakat

Haji

BELANJAKANLAH SEBAGAIN DARI APA YANG TELAH KAMI BERIKAN

(11)

KAMU, LALU IA BERKATA : “ YA TUHANKU, MENGAPA ENGKAU TIDAK MENAGGUHKAN KEMATIANKU SAMPAI WAKTU TERTENTU, SEHINGGA MEMUNGKINKAN AKU DAPAT BERSEDEKAH DAN AKU TERMASUK ORANG-ORANG YANG SOLEH (AL-MUNFIQIN : 10)

TIADA SESUATU YANG LEBIH BERAT DALAM TIMBANGAN SESEORANG MUKMIN DI HARI KIAMAT, SELAIN DARI KEINDAHAN AKHLAQ. DAN ALLAH BENCI KEPADA ORANG YANG KEJI MULUT DAN BURUK KELAKUAN. YANG BANYAK MEMASUKKAN ORANG KEDALAM SORGA IALAH TAQWA DAN

KEINDAHAN AKHLAQ DAN SEBALIKNYA YANG BANYAK MEMASUKKAN ORANG KE NERAKA IALAH KEJAHATAN MULUT DAN KEMALUAN (HR TIRMIZI)

Landasan Pokok Manusia Pembangunan :

Tauhid Uluhiyah, merupakan keyakainan bahwa Allah SWT-lah yang berkuasa atas segala-galanya. Manusia hanya menerima titipan dalam pengelolaan harta.

Tauhid Rububiyah, merupakan keyakinan bahwa yang mengatur dan memberi rezeki ilah Allah SWT. Oleh sebab itu, sebagai manusia harus berusaha dan berdoa seoptimal mungkin.

Khilafah, bahwa manusia ditempatkan di muka bumi memiliki tugas dan tanggung jawab dalam memakmurkannya.

Tazkiyah, bahwa manusia harus mensucikan harta yang dimilikinya dengan berzakat, infak dan sadaqah. Pengelolaan harta mesti dengan cara-cara yang baik dan bersumber dari kehalalan. Al-Falah, bermaksud bahwa sukses yang diraih hendaknya menjadi pembuka dan melapangkan jalannya ke akhirat.

Penggunaan Harta

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah Ayat 261 – 274 mengenai tuntunan islam terhadap penggunaan harta. Bahwa orang muslim menggunakan hartanya untuk :

1. Memperkuat ketaqwaan kepada Allah SWT

2. Memperkuat hubungan silaturrahmi sesama manusia. 3. Berbuat amal baik dan benar

(12)

RUANG LINGKUP BISNIS SYARIAH BAB III

Pengertian bisnis menurut Hughes dan Kapoor ialah suatu kegiatan usaha individu yang terorganisasi untuk menghasilkan dan menjual barang dan jasa guna mendapatkan keuntungan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.

Usaha Perusahaan

Rumah tangga perusahaan sebagai suatu bentuk bagian dari bisnis berada di tengah masyarakat, dan harus menjaga hubungaqn baik, dengan lembaga, organisasi dan dengan individu-individu sebagai anggota masyarakat. Dengan relasi yang baik, terjaminlah hubungan antar sesama manusia, yang akan mempunyai efek kumulatif meningkatkan ketaqwaan Muslim pengelola bisnis.

Keberhasilan mencari rezeki dijanjikan oleh Allah SWT, seperti hadist berikut :

Andaikan kamu tawakkal kepada Allah dengan sungguh-sungguh, niscaya akan memberi rezeki kepadamu, sebagaimana Dia memeberi rezeki kepada burung, yang keluar sangkar di pagi hari dengan perut kosong, dan pulang di senja hari dengan perut kenyang, (HR.Tirmidzi)

Terdapat lima jenis rumah tangga perusahaan yang menghasilkan barang dan jasa : 1. Agraris

2. Ekstraktif atau Pertambangan 3. Industri

4. Perdagangan 5. Jasa

Dalam melaksanakan kegiatan bisnis tidak mementingkan diri sendiri, harus memelihara ekosistem, menjaga keseimbangan lingkungan alam menjaga kehidupan dan memberi hak hidup kepada makhluk Allah SWT yang lain selain manusia.

(13)

pisaumu sebelum kau membaringkannya untuk disembelih ? (HR. Al-Hakim)

Peluang-peluang yang disediakan bisnis :

Bisnis menyediakan lapangan pekerjaan dari berbagai tingkatan dan lapangan mulai jadi pekerja sampai menjadi pengusaha.Dunia bisnis sangat tanggap akan kekurangan barang di pasar guna memenuhi kebutuhan manusia sepanjang masa.

Motif pembelian : 1. Matif rasional 2. Motif selektif 3. Motif emosional

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Furqan Ayat 67 berikut :

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) ditengah-tengah antara yang demikian.

Untuk lebih memahami dengan baik, mari kita perhatikan hadis berikut ini :

1. Tidak akan melaratlah siapa saja yang berlaku sedang (dalam berbelanja). (HR. Ahmad dan Thabrani).

Ada tiga hal yang dapat menyelamatkan yaitu takut kepada Allah SWT baik secara rahasia atau terang-terangan, berlaku sederhana di waktu kaya dan miskin, serta berlaku adil baik ketika rela atau marah. (HR. Bazzar, Thabrani, Abu Naim, dan Baihaqi)

Selanjutnya motif rasional ialah sebelum berbelanja seorang individu memikirkan secara matang apa yang akan dibelinya, misalnya seorang merasa lapar, maka secara rasional ia akan mencari nasi. Jika nanti ia memilih restoran tertentu atau memilih makanan tertentu maka ia sudah menggunakan motif selektif. Sedangkan motif emosional ialah motif yang muncul seketika yang mendorong seseorang berbelanja.

Binis dan Dinamika Masyarakat

(14)

jasa. Dunia bisnis bersifat dinamis, kreatif dan menantang. Mobilitas tinggi mereka bergerak dari satu daerah ke daerah lain. Sesuai musim, situasi, dan waktu yang tepat di satu daerah dan daerah lain di mana orang membutuhkan barang (daerah minus).

QS Al-Mulk Ayat 15 berikut ini :

Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya, dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.

QS Nuh Ayat 19-20 :

Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan (Ayat 19), Supaya kami menjalani jalan-jalan yang Luas di bumi itu (Ayat 20).

Perjalanan ini banyak dilakukan oleh orang-orang yang bergerak di bidang bisnis, dibandingkan dengan orang yang bekerja di kantor.

Orang yang bergerak dalam bidang bisnis akan mampu memberi sumbangan untuk

pembangunan ekonomi, melalui etos kerja, mengembangkan sikap jujur dalam bisnis, orientasi dan perilaku yang merangsang dan mendorong pembangunan, mampu menggerakkan

masyarakat sekitarnya, menyerap tenaga kerja, dan mendidik tenaga kerja untuk gairah bekerja dan taat melaksanakan perintah agama, membantu masyarakat sekitar dengan sedekah dan zakat perdagangan dan zakat mal.

Kewirausahaan :

Peluang membuka wirausaha masih sangat besar. Beberapa faktor yang turut mendorong berwirausaha.

Personal – menyangkut aspek kepribadian ; rajin, mau kerja keras, percaya diri, bisa dipercaya, bisa bergaul dengan orang lain.

(15)

Siapa yang dikatakan Wirausaha ?

Bygrave menyatakan bahwa wirausaha ilah orang yang bisa melihat peluang, dan mengatur langkah-langkah atau strategi untuk mengisi peluang peluang tersebut, sehingga menguntungkan.

Peter Drucker menyatakan wirausaha ialah seseorang yang mampu memanfaatkan peluang.

David Mc Clelland menyatakan seorang wirausaha ialah seorang yang energik dan gandrung akan prestasi.

Schumpeter menyatakan bahwa wirausaha ialah orang menemukan teknik-teknik produksi baru, membuat barang baru, atau yang dapat mengolah bahan baku tertentu menjadi barang baru. PERILAKU DAN TUJUAN BERBISNIS BAB IV

Berdagang adalah Hobby :

Berdagang adalah hobby kebanyakan dianut oleh pedagang cina, mereka memang menekuni dunia perdagangan dalam keseharian mereka.

Berdagang adalah Ibadah :

Bagi orang muslim, kegiatan berdagang sebenarnya lebih tinggi derajatnya, yaitu dalam rangka beribadah kepada Allah SWT.

Fatabiqul Khairat :

- Banyak berbuat kebaikan, akan sangat menyenangkan bagi si pelaku dan juga bagi orang yang melihatnya. Selalu berbuat baik dan selalu membantu meringankan penderitaan orangh lain, otaknya senang, dan tubuhnya akan lebih kebal terhadap penyakit.

Terdapat hubungan antara berbuat baik, dengan kesehatan badan, hal ini diungkapkan dalam buku The Healing Brain (otak yang menyembuhkan) yang dituis oleh Robert Ornstein dan dokter David Sobel, dan telah memenangkan American Health Award (Majalah Tempo, 25 JUNi 1998). Diungkapkan bahwa fungsi otak yang utama bukan untuk berpikir, tapi untuk

(16)

ternyata banyak bergantung pada frekuensi perbuatan baik. Manusia adalah makhluk sosial, bergaul, bermuamalah, kerjasama, tolong menolong, dan kegiatan komunikasi dengan orang lain adalah sebuah aspek kerja otak yang paling utama.

Berbuat baik adalah keadaan yang paling intens dalam berhubungan dengan orang lain, terbukti efektif dalam keseimbangan otak. Keadaan seimbang ini diperlukan untuk mengontrol kesehatan tubuh.

BISNIS SYARIAH SEBAGAI PEKERJAAN MULIA BAB V Perdagangan dalam syariah

Nabi Muhammad SAW pernah ditanya :

Mata pencaharian apakah yang paling baik, Ya Rasulullah ? Jawab beliau : Ialah seseorang yang bekerja dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang bersih (HR. Al-Bazzar). Dan Allah SWT telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (QS-Al Baqarah: 275 Berdagang di Masjid

Melakukan perdagangan di lingkungan masjid tidak dilarang. Pelarangan terjadi jika melakukan perdagangan di dalam masjid, sebagaimana hasidt berikut :

Rasullullah SAW telah melarang berjual beli di dalam mesjid (HR Akhmad, Abu Daud, Nasai, Thirmizi dan Ibnu Majah)

Wajib mengetahui hukum jual beli

Dalam pelaksanaan jual-beli ada rukunnya yang disebut dengan ijab dan kabul. Ijab adalah ungkapan yang keluar lebih dahulu dari dan ke salah satu pihak dan kabul adalah jawabannya. Dalam istilah, ijab dan kabul tidak ada kewajiban menggunakan kata-kata khusus karena ketentuan hukumnya ada pada tujuan dan maknanya bukan kata-katanya. Yang diperlukan disini ialah menyatakan kerelaan yang direalisasikan dalam bentuk mengambil dan memberi sehingga merubah kepemilikan benda.

Ijab kabul ini diucapkan dengan lisan dan bisa juga berbentuk tertulis.

Promosi dalam perdagangan. Dilakukan dengan 5 (lima) cara :

(17)

mendatangi calon pembeli ke rumah-rumah, yang berhadapan langsung dan mempengaruhi calon pembeli dengan segala cara berkomunikasi.

2. Advertising, yaitu memasang reklame, iklan, brosur, leaflet dan berbagai bentuk lainnya. Tujuannya ialah untuk menarik calon pembeli dengan menonjolkan keunggulan barang yang dijual. Selalu menekankan plus point, berupa kelebihan atau keistimewaan barang dagangannya. Dalam ilmu marketing terdapat prinsip truth in advertising artinya iklan, reklame, pujian

terhadap barang sendiri, tidak boleh berlebihan dan membohongi calon pembeli.

Rasullullah SAW melarang banyak sumpah dalam jual beli, ditegaskan dalam riwayat Muslim: Jauhkanlahbanyak sumpah dalam jual beli, karena sesungguhnya hal itu betul melariskan dagangan, akan tetapi menghapuskan keberkahan. Rasulullah SAW sangat tidak menyenangi perkataan yang banyak menggunakan sumpah ini karena mereka bersumpah, setelah itu mereka banyak berbuat dosa, mereka bersumpah setelah itu mereka berbohong.

3. Publicity, yaitu berupa pemuatan berita disurat kabar, radio, atau televisi. Biasanya para pengusaha mengadakan temu wicara, atau press release dengan para wartawan kemudian beritanya dimuat di media masa.

4. Sales Promotion, artinya usaha promosi yang dilakukan dengan harapan meningkatkan

penjualan dalam jangka pendek. Misalnya dengan penjualan obral, memberikan discount khusus, seperti :

- Banting harga, jual obral, korting besar, cuci gudang. - Memberikan hadiah langsung atau berupa undian. - Mengadakan show (pertunjukan).

- Mengadakan fair, pasar malam, festival, bazar.

5. Public relation, yaitu suatu usaha menjaga hubungan baik dengan masyarakat, dengan selalu menginformasikan apa yang telah dilakukan oleh lembaga, dan rencana apa yang akan

dilaksanakan di masa yang akan datang.

(18)

Menurut Imam Al-Ghazali ada enam sifat perilaku terpuji dilakukan dalam perdagangan yaitu :

1. Tidak mengambil laba lebih banyak.

2. Membayar harga agak lebih mahal kepada penjual yang miskin. 3. Memurahkan harga atau memberi korting kepada pembeli yang miskin.

4. Bila membayar hutang, pembayarannya dipercepat dari waktu yang telah ditentukan.

5. Membatalkan jual beli, jika pihak pembeli menginginkannya. 6. Bila menjual bahan pangan kepada orang miskisn secara cicilan, maka jangan ditagih bila orang miskin itu tidak mampu membayar dan membebaskan mereka dari hutang jika meninggal dunia.

SUMBER DAYA INSANI DAN ETOS KERJA DALAM BISNIS SYARIAH Mengandung unsur-unsur sebagai berikut :

Usaha Kerja keras

Motivasi dan Perintah Berusaha sebagaimana forman Alah SWT dalam QS Al-Qashas ayat 77, dan Hadis riwayat Thabrani : Sesungguhnya Allah SWT telah mewajibkan kalian berusaha, maka oleh sebab itu hendaklah kalian berusaha.

Berjalanlah di muka bumi. Allah SWT telah menciptakan segala sesuatu di alam raya ini untuk manusia, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Lukman Ayat 20.

Usaha Mencapai Sukses, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Al-Jumu’ah Ayat 10. Produktivitas Kerja, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS At-Taubah Ayat 109.

Memacu Perubahan Sosial, sebagaimana Allah SWT telah berfirman dalam QS Al-Anbiyaa’ Ayat 107.

TANGGUNG JAWAB SOSIAL BISNIS SYARIAH Definisi Corporate Social Responsibility (CSR)

(19)

Tanggung jawab sosial dipengaruhi oleh : Etika

Peraturan Aksi Konsumen

SISTEM BISNIS (Buchari Alma, 2009) REPUTASI PERUSAHAAN (Fombrun, 1996) ETIKA BISNIS SYARIAH

Definisi Etika Bisnis oleh Linda Klebe Trevino, 1995 : Business ethics is about building of trust between people and organizations, and absolutely essential ingredient to conducting business successfully especially in the long term.

Beberapa dasar etika bisnis syariah :

Janji, “tepatilah janji, karena sesungguhnya janji itu akan diminta pertanggung jawabannya”, (HR. Baihaqi).

Utang-Piutang

Tidak boleh menghadang orang desa di perbatasan kota Jual beli harus jujur dan ada hak khiyar

Ukuran takaran dan timbangan Tidak menjual barang haram Berperilaku hemat

Masalah upah.

REFERENSI

---Buchari Alma dan Donni Juni Priansa. 2009 , MANAJEMEN BISNBIS SYARIAH, Alfabeta, Jakarta.

(20)

---Ahmad Ibrahim Abu Sinn. 2012 , MANAJEMEN SYARIAH, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

---Veithzal Rivai, Amiur Nuruddin, dan Faisar Ananda Arfa. 2012, ISLAMIC BUSINESS AND ECONOMIC ETHICS, Bumi Aksara, Jakarta.

---Muhammad Sharif Chaudhry. 2012 , SISTEM EKONOMI ISLAM, Kencana, Jakarta

(21)

Pemikiran dan praktek ekonomi selalu berkembang seiring dengan perkembangan kehidupan manusia. Pada masa awal peradaban manusia, ekonomi dilaksanakan

Berdasarkan hasil survey kepada 457 Leader, diperoleh 21 Karakter yang penting dimiliki untuk menjadi success leader:

1. Kejujuran / Integritas 2. Kemampuan Komunikasi 3. Kemampuan Bekerjasama 4. Kemampuan Interpersonal 5. Beretika

6. Motivasi / Inisiatif 7. Kemampuan Beradaptasi 8. Daya Analitik

9. Kemampuan “Komputer” 10. Kemampuan Berorganisasi 11. Berorientasi pada Detail 12. Kepemimpinan

13. Kepercayaan Diri 14. Ramah

15. Religius 16. Sopan 17. Bijaksana 18. IP >= 3.00 19. Kreatif 20. Humoris

(22)

Landasan Pokok Manajemen Bisnis Syariah

Ekonomi suatu bangsa akan baik, apabila akhlak masyarakatnya baik. Antara akhlak dan ekonomi memiliki keterikatan yang tak dapat dipisahkan dengan demikian, akhlak yang baik berdampak pada terbangunnya muamalah atau kerjasama ekonomi yang baik. Rasulullah tidak hanya diutus untuk menyebarluaskan akhlak semat, melainkan untuk menyempurnakan akhlak mulia baik akhlak dalam berucap; maupun dalam bertingkah laku, sehingga mendekatkan diri kepada Allah swt dan beriman dengan sebenar-benarnya dapat terwujud. Untuk melihat akhlak manusia bertindak dalam kehidupan ekonomi maka baik kita lihat dulu posisi akhlak dalam struktur agama Islam.

Agama Islam mengandung tiga komponen pokok yang terstruktur dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain yaitu:

1. Aqidah atau Iman

Merupakan keyakinan akan adanya Allah dan rasul yang dipilihnya untuk menyampaikan risalahnya kepada umat melalui malaikat yang dituangkan dalam kitab suci, yang mengajarkan adanya hari akhirat, suasana kehidupan sesudah mati.

2. Syariah

Merupakan aturan Allah tentang pelaksanaan dari penyerahan diri secara total melalui proses ibadah dalam hubungan dengan sesama makhluk, secara garis besar syariah meliputi dua hal pokok yaitu ibadah dalam arti khusus atau ibadh mahdah dan ibadah dalam arti umum atau muamalah atau ibadh ghair mahdah.

3. Akhlak

Yaitu pelaksanaan ibadah kepada Allah dan bermuamalah dengan penuh keikhlasan. Tiga komponen ajaran Islam, akidah, syariat dan akhlak merupakan suatu kesatuan yang integral tidak dapat dipisahkan.

(23)

PENGERTIAN BISNIS SYARIAH

A. Pendahuluan

Secara bahasa, Syariat (al-syari’ah) berarti sumber air minum (mawrid al-ma’ li al istisqa) atau jalan lurus (at-thariq al-mustaqîm). Sedang secara istilah Syariah bermakna perundang-undangan yang diturunkan Allah Swt melalui Rasulullah Muhammad SAW untuk seluruh umat manusia baik menyangkut masalah ibadah, akhlak, makanan, minuman pakaian maupun muamalah (interaksi sesama manusia dalam berbagai aspek kehidupan) guna meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Menurut Syafi’I Antonio, syariah mempunyai keunikan tersendiri, Syariah tidak saja komprehensif, tetapi juga universal. Universal bermakna bahwa syariah dapat diterapkan dalam setiap waktu dan tempat oleh setiap manusia. Keuniversalan ini terutama pada bidang sosial (ekonomi) yang tidak membeda-bedakan antara kalangan Muslim dan non-Muslim. (Syariah Marketing, Hal. 169). Dengan mengacu pada pengertian tersebut, Hermawan Kartajaya dan Syakir Sula memberi pengertian bahwa Bisnis syariah adalah bisnis yang santun, bisnis yang penuh kebersamaan dan penghormatan atas hak masing-masing. (Syariah Marketing, hal. 45). Pengertian yang hari lalu cenderung normatif dan terkesan jauh dari kenyataan bisnis kini dapat dilihat dan dipraktikkan dan akan menjadi trend bisnis masa depan.

B. Prinsip Dasar dan Etika dalam Bisnis Syari’ah

Ada empat prinsip (aksioma) dalam ilmu ikonomi Islam yang mesti diterapkan dalam bisnis syari’ah, yaitu: Tauhid (Unity/kesatuan), Keseimbangan atau kesejajaran (Equilibrium), Kehendak Bebas (Free Will), dan Tanggung Jawab (Responsibility).[1]

Tauhid mengantarkan manusia pada pengakuan akan keesaan Allah selaku Tuhan semesta alam. Dalam kandungannya meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini bersumber dan berakhir kepada-Nya. Dialah pemilik mutlak dan absolut atas semua yang diciptakannya. Oleh sebab itu segala aktifitas khususnya dalam muamalah dan bisnis manusia hendaklah mengikuti aturan-aturan yang ada jangan sampai menyalahi batasan-batasan yang telah diberikan.

(24)

Tetapi dalam kehendak bebas yang diberikan Allah kepada manusia haruslah sejalan dengan prinsip dasar diciptakannya manusia yaitu sebagai khalifah di bumi. Sehingga kehendak bebas itu harus sejalan dengan kemaslahatan kepentingan individu telebih lagi pada kepentingan umat.

Tanggung Jawab (Responsibility) terkait erat dengan tanggung jawab manusia atas segala aktifitas yang dilakukan kepada Tuhan dan juga tanggung jawab kepada manusia sebagai masyarakat. Karena manusia hidup tidak sendiri dia tidak lepas dari hukum yang dibuat oleh manusia itu sendiri sebagai komunitas sosial. Tanggung jawab kepada Tuhan tentunya diakhirat, tapi tanggung jawab kepada manusia didapat didunia berupa hukum-hukum formal maupun hukum non formal seperti sangsi moral dan lain sebagainya.

Sementara menurut Beekun terdapat 5 aksioma dalam ekonomi islam. Sebagai yang kelima adalah benovelence atau dalam istilah lebih familiar dikenal dengan Ihsan.[2] Ihsan adalah kehendak untuk melakukan kebaikan hati dan meletakkan bisnis pada tujuan berbuat kebaikan. Kelima prinsip tersebut secara operasional perlu didukung dengan suatu etika bisnis yang akan menjaga prinsip-prinsip tersebut dapat terwujud.

C. Etika Bisnis Syari’ah

(25)

Perbedaan etika bisnis syariah dengan etika bisnis yang selama ini dipahami dalam kajian ekonomi terletak pada landasan tauhid dan orientasi jangka panjang (akhirat). Prinsip ini dipastikan lebih mengikat dan tegas sanksinya. Etika bisnis syariah memiliki dua cakupan. Pertama, cakupan internal, yang berarti perusahaan memiliki manajemen internal yang memperhatikan aspek kesejahteraan karyawan, perlakuan yang manusiawi dan tidak diskriminatif plus pendidikan. Sedangkan kedua, cakupan eksternal meliputi aspek trasparansi, akuntabilitas, kejujuran dan tanggung jawab. Demikian pula kesediaan perusahaan untuk memperhatikan aspek lingkungan dan masyarakat sebagai stake holder perusahaan.

Etika yang diabaikan bisa membuat perusahaan kehilangan kepercayaan dari masyarakat bahkan mungkin dituntut di muka hukum. Manajemen yang tidak menerapkan nilai-nilai etika dan hanya berorientasi pada laba (tujuan) jangka pendek, tidak akan mampu bertahan (survive) dalam jangka panjang. Jika demikian, pilihan berada di tangan kita. Apakah memilih keuntungan jangka pendek dengan mengabaikan etika atau memilih keuntungan jangka panjang dengan komit terhadap prinsip-prinsip etika –dalam hal ini etika bisnis syariah-.

D. Ciri Khas Bisnis Syari’ah

Bisnis syariah merupakan implementasi/perwujudan dari aturan syari’at Allah. Sebenarnya bentuk bisnis syari’ah tidak jauh beda dengan bisnis pada umumnya, yaitu upaya memproduksi/mengusahakan barang dan jasa guna memenuhi kebutuhan konsumen. Namun aspek syariah inilah yang membedakannya dengan bisnis pada umumnya. Sehingga bisnis syariah selain mengusahakan bisnis pada umumnya, juga menjalankan syariat dan perintah Allah dalam hal bermuamalah. Untuk membedakan antara bisnis syariah dan yang bukan, maka kita dapat mengetahuinya melalui ciri dan karakter dari bisnis syariah yang memiliki keunikan dan ciri tersendiri. Beberapa cirri itu antara lain:

1. Selalu Berpijak Pada Nilai-Nilai Ruhiyah. Nilai ruhiyah adalah kesadaran setiap manusia akan

eksistensinya sebagai ciptaan (makhluq) Allah yang harus selalu kontak dengan-Nya dalam wujud ketaatan di setiap tarikan nafas hidupnya. Ada tiga aspek paling tidak nilai ruhiyah ini harus terwujud , yaitu pada aspek : (1) Konsep, (2) Sistem yang di berlakukan, (3) Pelaku (personil).

2. Memiliki Pemahaman Terhadap Bisnis yang Halal dan Haram. Seorang pelaku bisnis syariah

(26)

yang salah. Disamping juga harus paham dasar-dasar nash yang dijadikan hukumnya (tahqiqul hukmi).

3. Benar Secara Syar’iy Dalam Implementasi. Intinya pada masalah ini adalah ada kesesuaian

antara teori dan praktek, antara apa yang telah dipahami dan yang di terapkan. Sehingga pertimbangannya tidak semata-mata untung dan rugi secara material.

4. Berorientasi Pada Hasil Dunia dan Akhirat. Bisnis tentu di lakukan untuk mendapat keuntungan

sebanyak-banyak berupa harta, dan ini di benarkan dalam Islam. Karena di lakukannya bisnis memang untuk mendapatkan keuntungan materi (qimah madiyah). Dalam konteks ini hasil yang di peroleh, di miliki dan dirasakan, memang berupaharta.

5. Namun, seorang Muslim yang sholeh tentu bukan hanya itu yang jadi orientasi hidupnya.

Namun lebih dari itu. Yaitu kebahagiaan abadi di yaumil akhir. Oleh karenanya. Untuk mendapatkannya, dia harus menjadikan bisnis yang dikerjakannya itu sebagai ladang ibadah dan menjadi pahala di hadapan Allah . Hal itu terwujud jika bisnis atau apapun yang kita lakukan selalu mendasarkan pada aturan-Nya yaitu syariah Islam.

Jika semua hal diatas dimiliki oleh seorang pengusaha muslim, niscaya dia akan mampu memadukan antara realitas bisnis duniawi dengan ukhrowi, sehingga memberikan manfaat bagi kehidupannya di dunia maupun akhirat. Akhirnya, jadilah kaya yang dengannya kita bisa beribadah di level yang lebih tinggi lagi.

E. Akad Dalam Bisnis Syariah

Dalam setiap transaksi islami, akan memegang peranan yang sangat penting. Akad ibaratnya sebuah dinding yang sangat tipis dan dengannya terpisah antara yang sah dan tidak. Secara bahasa, akad atau perjanjian itu digunakan untuk banyak arti, yang keseluruhannya kembali kepada bentuk ikatan atau penghubungan terhadap dua hal. Sementara akad menurut istilah adalah keterikatan keinginan diri dengan keinginan orang lain dengan cara yang memunculkan adanya komitmen tertentu yang disyariatkan. Terkadang kata akad dalam istilah dipergunakan dalam pe-ngertian umum, yakni sesuatu yang diikatkan seseorang bagi diri-nya sendiri atau bagi orang lain dengan kata harus. Di antaranya adalah firman Allah : “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad kalian.” Jual beli dan sejenisnya adalah akad atau perjanjian dan kesepakatan. Setiap hal yang diharuskan seseorang atas dirinya sendiri baik berupa nadzar, sumpah dan sejenisnya, disebut sebagai akad.

(27)

Akad memiliki tiga rukun, yaitu: Adanya dua orang atau lebih yang saling terikat dengan akad, adanya sesuatu yang diikat dengan akad, serta pengucapan akad/perjanjian tersebut.[5] 1. Dua Pihak atau lebih yang Saling Terikat Dengan Akad

Dua orang atau lebih yang terikat dengan akad ini adalah dua orang atau lebih yang secara langsung terlibat dalam per-janjian. Kedua belah pihak dipersyaratkan harus memiliki kemam-puan yang cukup untuk mengikuti proses perjanjian, sehingga perjanjian atau akad tersebut dianggap sah. Kemampuan tersebut terbukti dengan beberapa hal berikut:

a. Pertama: Kemampuan membedakan yang baik dan yang buruk. Yakni apabila pihak-pihak

tersebut sudah berakal lagi baligh dan tidak dalam keadaan tercekal. Orang yang tercekal karena dianggap idiot atau bangkrut total, tidak sah melakukan perjanjian.

b. Kedua: Pilihan. Tidak sah akad yang dilakukan orang di bawah paksaan, kalau paksaan itu

terbukti. Misalnya orang yang berhutang dan butuh pengalihan hutangnya, atau orang yang bangkrut, lalu dipaksa untuk menjual barangnya untuk menutupi hutangnya.

c. Ketiga, akad itu dapat dianggap berlaku (jadi total) bila tidak memiliki pengandaian yang

disebut khiyar (hak pilih). Seperti khiyar syarath (hak pilih menetapkan persyaratan), khiyar ar-ru’yah (hak pilih dalam melihat) dan sejenisnya.

2. Sesuatu yang Diikat Dengan Akad

Yakni barang yang dijual dalam akad jual beli, atau sesuatu yang disewakan dalam akad sewa dan sejenisnya. Dalam hal itu juga ada beberapa persyaratan sehingga akad tersebut dianggap sah, yakni sebagai berikut:

a. Barang tersebut harus suci atau meskipun terkena najis, bisa dibersihkan. Oleh sebab itu, akad

usaha ini tidak bisa diber-lakukan pada benda najis secara dzati, seperti bangkai. Atau benda yang terkena najis namun tidak mungkin dihilangkan najisnya, seperti cuka, susu dan benda cair sejenis yang terkena najis. Namun kalau mungkin dibersihkan, boleh-boleh saja.

b. Barang tersebut harus bisa digunakan dengan cara yang disyariatkan. Karena fungsi legal dari

(28)

rongsokan) Atau bermanfaat tetapi untuk hal-hal yang diharamkan, seperti minuman keras dan sejenisnya, semuanya itu tidak dapat diperjualbelikan.

c. Komoditi harus bisa diserahterimakan. Tidak sah menjual barang yang tidak ada, atau ada tapi

tidak bisa diserahterimakan. Karena yang demikian itu termasuk menyamarkan harga, dan itu dilarang.

d. Barang yang dijual harus merupakan milik sempurna dari orang yang melakukan penjualan.

Barang yang tidak bisa dimiliki tidak sah diperjualbelikan.

e. Harus diketahui wujudnya oleh orang yang melakukan akad jual beli bila merupakan

barang yang dijual lang-sung. Dan harus diketahui ukuran, jenis dan kriterianya apabila barang-barang itu berada dalam kepemilikan namun tidak berada di lokasi transaksi. Bila barang-barang-barang-barang itu dijual langsung, harus diketahui wujudnya, seperti mobil tertentu atau rumah tertentu dan sejenisnya. Namun kalau barang-barang itu hanya dalam kepemilikan seperti jual beli sekarang ini dalam akad jual beli as-Salm, di mana seorang pelanggan membeli barang yang diberi gambaran dan dalam kepemilikan penjual, maka disyaratkan ha-rus diketahui ukuran, jenis dan kriterianya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

ممووللعومم لمجمأم ىلمإإ ممووللعومم نمزووموم ممووللعومم لميوكم يإف مولإسويللوفم مملمسوأم نومم

“Barangsiapa yang melakukan jual beli as-Salm hendaknya ia memesannya dalam satu takaran atau timbangan serta dalam batas waktu yang jelas.”

G. Kerjasama (Syirkah) dalam Bisnis Syari’ah

Bisnis syari’ah sebagaimana bisnis pada umumnya yang dibangun atas kerjasama berbagai pihak dalam mengembangkan usahanya. Namun kerjasama dalam bisnis syari’ah tidak hanya dibangun atas dasar keuntungan dan pertimbangan aspek duniawiyah saja, namun juga dibangun atas dasar keridhoan Allah. Keridhoan Allah diperoleh melalui implementasi prinsip-prinsip syariah dalam melaksanakan kerjasama bisnis.

(29)

syirkah adalah suatu akad antara dua pihak atau lebih, yang bersepakat untuk melakukan suatu usaha dengan tujuan memperoleh keuntungan.

H. Hukum dan Rukun Syirkah

Syirkah hukumnya jaiz (mubah), berdasarkan dalil Hadis Nabi Saw berupa taqrîr (pengakuan) beliau terhadap syirkah. Pada saat beliau diutus sebagai nabi, orang-orang pada saat itu telah bermuamalah dengan cara bersyirkah dan Nabi Saw membenarkannya. Nabi Saw bersabda, sebagaimana dituturkan Abu Hurairah ra:

Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman: Aku adalah pihak ketiga dari dua pihak yang ber-syirkah selama salah satunya tidak mengkhianati yang lainnya. Kalau salah satunya berkhianat, Aku keluar dari keduanya. (HR. Abu Dawud, al-Baihaqi, dan ad-Daruquthni).

Rukun syirkah yang pokok ada 3, yaitu: (1) akad (ijab-kabul), disebut juga shighat; (2) dua pihak yang berakad (‘aqidani), syaratnya harus memiliki kecakapan (ahliyah) melakukan tasharruf (pengelolaan harta); (3) obyek akad (mahal), disebut juga ma’qud ‘alayhi, yang mencakup pekerjaan (amal) dan/atau modal (mal).[8] Adapun syarat sah akad ada 2, yaitu: (1) obyek akadnya berupa tasharruf, yaitu aktivitas pengelolaan harta dengan melakukan akad-akad, misalnya akad jual-beli; (2) obyek akadnya dapat diwakilkan (wakalah), agar keuntungan syirkah menjadi hak bersama di antara para syarik (mitra usaha).[9]

I. Macam-Macam Syirkah

Menurut An-Nabhani, berdasarkan kajian beliau terhadap berbagai hukum syirkah dan dalil-dalilnya, terdapat lima macam syirkah dalam Islam: yaitu:

a. Syirkah Inan

Syirkah inan adalah syirkah antara dua pihak atau lebih yang masing-masing memberi konstribusi kerja (‘amal) dan modal (mal). Syirkah ini hukumnya boleh berdasarkan dalil as-Sunnah dan Ijma Sahabat. Contoh syirkah inan: A dan B insinyur teknik sipil. A dan B sepakat menjalankan bisnis properti dengan membangun dan menjualbelikan rumah. Masing-masing memberikan konstribusi modal sebesar Rp 500 juta dan keduanya sama-sama bekerja dalam syirkah tersebut.

(30)

Syirkah ‘abdan adalah syirkah antara dua pihak atau lebih yang masing-masing hanya memberikan konstribusi kerja (‘amal), tanpa konstribusi modal (mal). Konstribusi kerja itu dapat berupa kerja pikiran (seperti pekerjaan arsitek atau penulis) ataupun kerja fisik (seperti pekerjaan tukang kayu, tukang batu, sopir, pemburu, nelayan, dan sebagainya). Syirkah ini disebut juga syirkah ‘amal. Contohnya: A dan B. keduanya adalah nelayan, bersepakat melaut bersama untuk mencari ikan. Mereka sepakat pula, jika memperoleh ikan dan dijual, hasilnya akan dibagi dengan ketentuan: A mendapatkan sebesar 60% dan B sebesar 40%.

c. Syirkah Mudharabah

Syirkah mudharabah adalah syirkah antara dua pihak atau lebih dengan ketentuan, satu pihak memberikan konstribusi kerja (‘amal), sedangkan pihak lain memberikan konstribusi modal (mal). Istilah mudharabah dipakai oleh ulama Irak, sedangkan ulama Hijaz menyebutnya qiradh. Contoh: A sebagai pemodal (shahib al-mal / rabb al-mal) memberikan modalnya sebesar Rp 10 juta kepada B yang bertindak sebagai pengelola modal (‘amil/ mudharib) dalam usaha perdagangan umum (misal, usaha toko kelontong).

d. Syirkah Wujuh

Syirkah wujuh disebut juga syirkah ‘ala adz-dzimam. Disebut syirkah wujuh karena didasarkan pada kedudukan, ketokohan, atau keahlian (wujuh) seseorang di tengah masyarakat. Syirkah wujuh adalah syirkah antara dua pihak (misal A dan B) yang sama-sama memberikan konstribusi kerja (‘amal), dengan pihak ketiga (misalnya C) yang memberikan konstribusi modal (mal). Dalam hal ini, pihak A dan B adalah tokoh masyarakat. Syirkah semacam ini menurut An Nabhani termasuk dalam syirkah mudharabah sehingga berlaku ketentuan-ketentuan syirkah mudharabah padanya.

e. Syirkah Mufawadhah

Syirkah mufawadhah adalah syirkah antara dua pihak atau lebih yang menggabungkan semua jenis syirkah di atas (syirkah inan, ‘abdan, mudharabah, dan wujuh).[18] Syirkah mufâwadhah dalam pengertian ini, menurut An-Nabhani adalah boleh. Sebab, setiap jenis syirkah yang sah ketika berdiri sendiri, maka sah pula ketika digabungkan dengan jenis syirkah lainnya.

(31)

Secara umum lembaga bisnis syariah masih sebatas pada lembaga keuangan. Namun kini lembaga bisnis syariah sudah mencakup pada perhotelan dan usaha sector riil. Lembaga bisnis dapat dikategorikan dalam lembaga bisnis syariah apabila memenuhi ketentuan sebagai berikut: a. Memproduksi barang yang halal

b. Tidak melakukan transaksi yang bertentangan dengan syariat

c. Mendapatkan modal (kerjasama) dengan cara-cara yang sah menurut Islam.

d. Terdapat pengawas syariah pada perusahaan tersebut.

Berdasarkan data dari Dewan Syariah Nasional, hingga 08 Mei 2008 telah terdapat 10 lembaga pembiayaan syariah, 1 lembaga pegadaian syariah, 2 DPLK Syariah, 4 usaha syariah, 1 modal ventura syariah, dan 1 lembaga penjamin syariah.[19]

1. Pembiayaan Syariah

1. PT Federal Internasional Finance 2. PT Semesta Citra Dana

3. PT Mandala Multifinance, Tbk

4. PT Wahana Ottomitra Multiartha, Tbk 5. PT Amanah Finance

6. PT Fortuna Multi Finance 7. PT Trust Finance Indonesia, Tbk 8. PT Capitalinc Finance

9. PT Al-Ijarah Indonesia Finance 10. PT Trimamas Finance

2. Pegadaian Syariah

1. Perum Pegadaian Syariah 3. DPLK Syariah

1. DPLK Manulife Indonesia 2. DPLK Muamalat

4. Bisnis Syariah

1. PT Sofyan Hotels

(32)

5. Modal Ventura Syariah

1. PT Bahana Artha Ventura 6. Lembaga Penjaminan Syariah

1. Perum Sarana Pengembangan Usaha

RUANG LINGKUP BISNIS SYARIAH

PENGERTIAN BISNIS SYARIAH

Secara bahasa, Syariat (al-syari’ah) berarti sumber air minum (mawrid al-ma’ li al istisqa) atau jalan lurus (at-thariq al-mustaqîm). Sedang secara istilah syariah bermakna perundang-undangan yang diturunkan Allah Swt melalui Rasulullah Muhammad SAW untuk seluruh umat manusia baik menyangkut masalah ibadah, akhlak, makanan, minuman pakaian maupun muamalah (interaksi sesama manusia dalam berbagai aspek kehidupan) guna meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Menurut Syafi’I Antonio, syariah mempunyai keunikan tersendiri, syariah tidak saja

komprehensif, tetapi juga universal. Universal bermakna bahwa syariah dapat diterapkan dalam setiap waktu dan tempat oleh setiap manusia. Keuniversalan ini terutama pada bidang sosial (ekonomi) yang tidak membeda-bedakan antara kalangan Muslim dan non-Muslim.(syariah marketing, Hal. 169).

RUANG LINGKUP BISNIS SYARIAH

Ada empat prinsip (aksioma) dalam ilmu ikonomi Islam yang mesti diterapkan dalam bisnis syari’ah, yaitu: Tauhid (Unity/kesatuan), Keseimbangan atau kesejajaran (Equilibrium), Kehendak Bebas (Free Will), dan Tanggung Jawab (Responsibility).

(33)

berakhir kepada-Nya. Dialah pemilik mutlak dan absolut atas semua yang diciptakannya. Oleh sebab itu segala aktifitas khususnya dalam muamalah dan bisnis manusia hendaklah mengikuti aturan-aturan yang ada jangan sampai menyalahi batasan-batasan yang telah diberikan.

Keseimbangan atau kesejajaran (Equilibrium) merupakan konsep yang menunjukkan adanya keadilan sosial. Kehendak bebas (Free Will) yakni manusia mempunyai suatu potensi dalam menentukan pilihan-pilihan yang beragam, karena kebebasan manusia tidak dibatasi. Tetapi dalam kehendak bebas yang diberikan Allah kepada manusia haruslah sejalan dengan prinsip dasar diciptakannya manusia yaitu sebagai khalifah di bumi. Sehingga kehendak bebas itu harus sejalan dengan kemaslahatan kepentingan individu telebih lagi pada kepentingan umat.

Tanggung Jawab (Responsibility) terkait erat dengan tanggung jawab manusia atas segala aktifitas yang dilakukan kepada Tuhan dan juga tanggung jawab kepada manusia sebagai masyarakat. Karena manusia hidup tidak sendiri dia tidak lepas dari hukum yang dibuat oleh manusia itu sendiri sebagai komunitas sosial. Tanggung jawab kepada Tuhan tentunya diakhirat, tapi tanggung jawab kepada manusia didapat didunia berupa hukum-hukum formal maupun hukum non formal seperti sangsi moral dan lain sebagainya.

Sementara menurut Beekun terdapat 5 aksioma dalam ekonomi islam. Sebagai yang kelima adalah benovelence atau dalam istilah lebih familiar dikenal dengan Ihsan. Ihsan adalah

kehendak untuk melakukan kebaikan hati dan meletakkan bisnis pada tujuan berbuat kebaikan. Kelima prinsip tersebut secara operasional perlu didukung dengan suatu etika bisnis yang akan menjaga prinsip-prinsip tersebut dapat terwujud.

Perbedaan etika bisnis syariah dengan etika bisnis yang selama ini dipahami dalam kajian ekonomi terletak pada landasan tauhid dan orientasi jangka panjang (akhirat). Prinsip ini dipastikan lebih mengikat dan tegas sanksinya. Etika bisnis syariah memiliki dua cakupan. Pertama, cakupan internal, yang berarti perusahaan memiliki manajemen internal yang memperhatikan aspek kesejahteraan karyawan, perlakuan yang manusiawi dan tidak

(34)

diwujudkan dalam bentuk ketulusan perusahaan dengan orientasi yang tidak hanya pada keuntungan perusahaan namun juga bermanfaat bagi masyarakat dalam arti sebenarnya. Pendekatan win-win solution menjadi prioritas. Semua pihak diuntungkan sehingga tidak ada praktek “culas” seperti menipu masyarakat atau petugas pajak dengan laporan keuangan yang rangkap dan lain-lain. Bisnis juga merupakan wujud memperkuat persaudaraan manusia dan bukan mencari musuh. Jika dikaitkan dengan pertanyaan di awal tulisan ini, apakah etika bisnis syariah juga bisa meminimalisir keuntungan atau malah merugikan ?. Jawabnya tergantung bagaimana kita melihatnya. Bisnis yang dijalankan dengan melanggar prinsip-prinsip etika dan syariah seperti pemborosan, manipulasi, ketidakjujuran, monopoli, kolusi dan nepotisme cenderung tidak produktif dan menimbulkan inefisiensi.

Etika yang diabaikan bisa membuat perusahaan kehilangan kepercayaan dari masyarakat bahkan mungkin dituntut di muka hukum. Manajemen yang tidak menerapkan nilai-nilai etika dan hanya berorientasi pada laba (tujuan) jangka pendek, tidak akan mampu bertahan (survive) dalam jangka panjang. Jika demikian, pilihan berada di tangan kita. Apakah memilih keuntungan jangka pendek dengan mengabaikan etika atau memilih keuntungan jangka panjang dengan komit terhadap prinsip-prinsip etika –dalam hal ini etika bisnis syariah-.CIRI KHAS BISNIS SYARIAH

Bisnis syariah merupakan implementasi/perwujudan dari aturan syari’at Allah. Sebenarnya bentuk bisnis syari’ah tidak jauh beda dengan bisnis pada umumnya, yaitu upaya

memproduksi/mengusahakan barang dan jasa guna memenuhi kebutuhan konsumen. Namun aspek syariah inilah yang membedakannya dengan bisnis pada umumnya. Sehingga bisnis syariah selain mengusahakan bisnis pada umumnya, juga menjalankan syariat dan perintah Allah dalam hal bermuamalah. Untuk membedakan antara bisnis syariah dan yang bukan, maka kita dapat mengetahuinya melalui ciri dan karakter dari bisnis syariah yang memiliki keunikan dan ciri tersendiri. Beberapa cirri itu antara lain:

(35)

2. Memiliki Pemahaman Terhadap Bisnis yang Halal dan Haram. Seorang pelaku bisnis syariah dituntut mengetahui benar fakta-fakta (tahqiqul manath) terhadap praktek bisnis yang Sahih dan yang salah. Disamping juga harus paham dasar-dasar nash yang dijadikan hukumnya (tahqiqul hukmi).

3. Benar Secara Syar’iy Dalam Implementasi. Intinya pada masalah ini adalah ada kesesuaian antara teori dan praktek, antara apa yang telah dipahami dan yang di terapkan. Sehingga pertimbangannya tidak semata-mata untung dan rugi secara material.

4. Berorientasi Pada Hasil Dunia dan Akhirat. Bisnis tentu di lakukan untuk mendapat keuntungan sebanyak-banyak berupa harta, dan ini di benarkan dalam Islam. Karena di lakukannya bisnis memang untuk mendapatkan keuntungan materi (qimah madiyah). Dalam konteks ini hasil yang di peroleh, di miliki dan dirasakan, memang berupa harta.

5. Namun, seorang Muslim yang sholeh tentu bukan hanya itu yang jadi orientasi hidupnya. Namun lebih dari itu. Yaitu kebahagiaan abadi di yaumil akhir. Oleh karenanya. Untuk

mendapatkannya, dia harus menjadikan bisnis yang dikerjakannya itu sebagai ladang ibadah dan menjadi pahala di hadapan Allah . Hal itu terwujud jika bisnis atau apapun yang kita lakukan selalu mendasarkan pada aturan-Nya yaitu syariah Islam.

Jika semua hal diatas dimiliki oleh seorang pengusaha muslim, niscaya dia akan mampu

memadukan antara realitas bisnis duniawi dengan ukhrowi, sehingga memberikan manfaat bagi kehidupannya di dunia maupun akhirat. Akhirnya, jadilah kaya yang dengannya kita bisa beribadah di level yang lebih tinggi lagi.

ممووللعومم لمجمأم ىلمإإ ممووللعومم نمزووموم ممووللعومم لميوكم يإف مولإسويللوفم مملمسوأم نومم

“Barangsiapa yang melakukan jual beli as-Salm hendaknya ia memesannya dalam satu takaran atau timbangan serta dalam batas waktu yang jelas.”

Bisnis syari’ah sebagaimana bisnis pada umumnya yang dibangun atas kerjasama berbagai pihak dalam mengembangkan usahanya. Namun kerjasama dalam bisnis syari’ah tidak hanya dibangun atas dasar keuntungan dan pertimbangan aspek duniawiyah saja, namun juga dibangun atas dasar keridhoan Allah. Keridhoan Allah diperoleh melalui implementasi prinsip-prinsip syariah dalam melaksanakan kerjasama bisnis.

Kerjasama dalam Islam disebut dengan istilah syirkah. Kata syirkah dalam bahasa Arab secara terminologis berasal dari kata syarika (fi’il mâdhi), yasyraku (fi’il mudhari’),

(36)

dasarnya boleh dibaca syirkah, boleh juga dibaca syarikah. Akan tetapi, menurut Al-Jaziri dalam Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, dibaca syirkah lebih fasih (afshah).[6] Sedangkan secara etimologis, syirkah berarti mencampurkan dua bagian atau lebih sedemikian rupa sehingga tidak dapat lagi dibedakan satu bagian dengan bagian lainnya.[7] Adapun menurut makna syariat, syirkah adalah suatu akad antara dua pihak atau lebih, yang bersepakat untuk melakukan suatu usaha dengan tujuan memperoleh keuntungan.

Islam adalah satu-satunya agama yang sempurna yang mengatur seluruh sendi kehidupan manusia dan alam semesta. Kegiatan perekonomian manusia juga diatur dalam Islam dengan prinsip illahiyah. Harta yang ada pada kita, sesungguhnya bukan milik manusia, melainkan hanya titipan dari Allah swt agar dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kepentingan umat manusia yang pada akhirnya semua akan kembali kepada Allah swt untuk dipertanggungjawabkan.

Ekonomi Islam merupakan ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia yang perilakunya diatur berdasarkan aturan agama Islam dan didasari dengan tauhid sebagaimana dirangkum dalam rukun iman dan rukun Islam.

Bekerja merupakan suatu kewajiban karena Allah swt memerintahkannya, sebagaimana firman-Nya dalam surat At Taubah ayat 105:

Dan katakanlah, bekerjalah kamu, karena Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaan itu.

Karena kerja membawa pada keampunan, sebagaimana sabada Rasulullah Muhammad saw: Barang siapa diwaktu sorenya kelelahan karena kerja tangannya, maka di waktu sore itu ia mendapat ampunan.

(HR.Thabrani dan Baihaqi) TUJUAN BISNIS SYARIAH

Segala aturan yang diturunkan Allah swt dalam system Islam mengarah pada tercapainya

kebaikan, kesejahteraan, keutamaan, serta menghapuskan kejahatan, kesengsaraan, dan kerugian pada seluruh ciptaan-Nya. Demikian pula dalam hal ekonomi, tujuannya adalah membantu manusia mencapai kemenangan di dunia dan di akhirat.

(37)

1. Penyucian jiwa agar setiap muslim bisa menjadi sumber kebaikan bagi masyarakat dan lingkungannya.

2. Tegaknya keadilan dalam masyarakat. Keadilan yang dimaksud mencakup aspek kehidupan di bidang hukum dan muamalah.

3. Tercapainya maslahah (merupakan puncaknya). Para ulama menyepakati bahwa maslahah yang menjad puncak sasaran di atas mencaku p lima jaminan dasar:

· keselamatan keyakinan agama ( al din)

· kesalamatan jiwa (al nafs)

· keselamatan akal (al aql)

· keselamatan keluarga dan keturunan (al nasl)

· keselamatan harta benda (al mal)

Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam

Secara garis besar ekonomi Islam memiliki beberapa prinsip dasar:

1. Berbagai sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan dari Allah swt kepada manusia.

2. Islam mengakui pemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu.

3. Kekuatan penggerak utama ekonomi Islam adalah kerja sama.

(38)

saja.

5. Ekonomi Islam menjamin pemilikan masyarakat dan penggunaannya direncanakan untuk kepentingan banyak orang.

6. Seorang mulsim harus takut kepada Allah swt dan hari penentuan di akhirat nanti.

7. Zakat harus dibayarkan atas kekayaan yang telah memenuhi batas (nisab)

Referensi

Dokumen terkait

signifikan terhadap variabel kepuasan kerja (Y). Hal ini berarti faktor hygiene yang terdiri dari kebijakan perusahaan, pengawasan, hubungan dengan rekan kerja, upah, dan

Dengan demikian bukan berarti filsafat hukum Islam adalah ushul fiqh dan qawa’id al-fiqhiyyah secara an sich, namun menjadi sebuah kajian ilmiah terbaru dalam membahasakan

Oleh karena itu bila dipandang dari sisi nasabah syirkah tersebut bukan Musyarakah Mutanaqisah akan tetapi lebih tepat bernama Musyarakah Ziyadah (bertambah).

Berdasarkan sejarahnya, Hotel Al-Badar berasal dari bahasa Arab yang berarti “Bulan purnama". Salah satu alasan hotel ini bernama Al-Badar dikarenakan nama

Titipan b. Salah satu prinsip yang digunakan bank syariah dalam memobolisasi dana adalah dengan menggunkan prinsip titipan. Adapun akad yang digunakan dalam prinsip

bagaimana cara menyelesaikan suatu tugas tetapi insentif untuk melakukannya dengan tepat dan dengan cepat.  Untuk bisa efektip

Dengan demikian, dunia pemasaran sekarang merangkul tidak hanya manajemen hubungan pelanggan , tetapi juga hubungan pelanggan yang dikelola .Kontrol konsumen yang lebih besar

Adapun kaitannya adalah dengan menerapkan nilai – nilai Islam pada suatu perusahaan terutama dalam hal mendalami ayat – ayat Al-quran akan membentuk karakter karyawan atau pegawai yang