Modul Bahasa Indonesia SMA Kelas XI
Posted on Januari 16, 2011
MODUL PEMBELAJARAN Standar Kompetensi 1
Memahami berbagai informasi dari sambutan/khotbah dan wawancara
Kompetensi Dasar
1.1 Menemukan pokok-pokok isi sambutan/khotbah yang didengar
Alokasi Waktu :
2 jam pelajaran ( 1 x pertemuan )
Dilaksanakan pada pertemuan ke
Indikator pencapaian hasil belajar:
Mencatat pokok-pokok isi sambutan atau khotbah yang didengarkan
Menuliskan pokok-pokok isi sambutan tersebut ke dalam beberapa kalimat Menyampaikan (secara lisan) ringkasan sambutan atau khotbah
Dalam kegiatan keseharian, baik di lingkungan sekolah atau masyarakat, Anda tentunya pernah mengikuti kegiatan yang dilaksanakan dalam berbagai acara. Saat acara dilaksanakan, biasanya ada kata sambutan dari pihak panitia, pejabat
pemerintah, ataupun orang yang dihormati. Misalnya, dalam acara kegiatan di sekolah, kepala sekolah atau ketua panitia berkenan untuk memberikan sambutan. Dalam acara resmi tingkat nasional atau internasional pun selalu adasambutan dari orang/pejabat tertentu.
Berikut ini contoh sambutan ketua panitia dalam suatu acara. Dengarkanlah dengan baik, salah seorang temanmu akan membacakannya. Selama teman Anda
membacakannya, tutuplah buku Anda dan tulislah hal-hal penting yang disampaikan teman tersebut.
Hadirin yang saya hormati,
Pertama-tama, kita patut bersyukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Dengan izin-Nya-lah kita bisa hadir dalam rangka pembukaan pelaksanaan “Program Forum Warga” di daerah kita tercinta ini. Saya pun mengucapkan terima kasih yang
sebesarbesarnya kepada berbagai pihak yang telah hadir dalam kegiatan kita kali ini. Kami selaku panitia mengucapkan selamat datang kepada Ibu Bupati, para camat, serta para lurah yang telah menyempatkan hadir dalam kesempatan kita ini.
Seperti Ibu dan Bapak ketahui, pengembangan dan pemberdayaan masyarakat ke arah yang lebih baik menuntut dibukanya kebebasan warga. Biarkan mereka berpikir dan berpendapat bebas terhadap semua masalah yang terjadi di sekeliling mereka. Termasuk dalam menentukan cara menyelesaikan persoalan.
Hadirin yang saya hormati.
Contoh yang lebih konkret misalnya di wilayah kelurahan atau desa kita. Di lingkup itu, semua warga masyarakat harus tahu apakah kelompok miskin, pengangguran, putus sekolah di sekitar mereka semakin bertambah setiap tahun, tetap, atau
semua hal yang terkait dengan hidup bermasyarakat harus diketahui, disadari dan ditangani secara bersamasama.
Pilihan yang paling tepat untuk bisa “hidup bersama- sama seperti itu adalah” tentu saja bertemunya seluruh warga atau unsur-unsur warga di satu lingkungan untuk berdialog atau berbicara secara terbuka, transparan, dan demokratis. Dalam pertemuan ini warga akan tahu kenapa dan bagaimana rencana kerja pemerintah, berapa dana yang dimiliki, dari mana sumber dana tersebut guna meningkatkan kesejahteraan warganya. Pemerintah melalui kelurahan juga dapat memahami mengapa dana untuk masyarakat “macet”. Mengapa jumlah fakir miskin,
pengangguran, dan/atau putus sekolah bertambah. Apakah para pengusaha, kelompok-kelompok warga seperti majelis taklim, dewan kesejahteraan masjid, gereja, dan organisasi keagamaan lain masih dapat berpartisipasi mengatasi masalah sosial di masyarakat. Dan, mengapa ada masyarakat yang masih enggan terlibat dalam
mendukung program pemerintah.
Pertemuan ini juga bertujuan untuk meningkatkan pemahaman antarkelompok agama, antaretnis, juga antargenerasi. Bahkan diharapkan mampu menjalin kerja sama demi kesejahteraan bersama. Pertemuan antarwarga atau antarunsur-unsur kelompok warga yang berjalan secara rutin selama ini, tiada lain bertujuan membicarakan masalah dan penyebabnya, merencanakan kegiatan pemecahan, hingga mengevaluasi hasil kegiatan inilah yang sering dinamakan “Forum Warga”. Meskipun istilah “Forum Warga” terkesan baru, kegiatan seperti ini sebenarnya sudah menjadi tradisi
masyarakat nusantara sejak dulu. Kegiatan tersebut di pedesaan hampir sama dengan apa yang disebut “Rembuk Desa”.
Hadirin yang saya hormati.
Forum Warga bukan suatu organisasi dengan struktur yang formal. Ia hanyalah istilah untuk menamakan suatu kegiatan pertemuan rutin warga guna mengatasi persoalan dan meningkatkan kerja sama antarwarga masyarakat termasuk peningkatan manfaat pembangunan yang ada. Fungsi lain yang juga penting, dalam pemerintahan desa dan kelurahan yang semakin demokratis, Forum Warga juga dapat menjadi tempat
Tuhan Yang Mahakuasa memberkahi niat baik kita. Selain itu, semoga kegiatan “Program Forum Warga” ini ke depannya dapat terlaksana dengan baik. Amin.
Terima kasih atas perhatian hadirin.
1. Catatlah pokok-pokok isi sambutan di atas.
2. Lakukanlah tukar silang hasil pekerjaan dengan teman Anda.
3. Bacakanlah isi sambutan tersebut secara bergiliran.
4. Selama teman Anda membacakan sambutannya, catatlah pokokpokok pikiran yang ada dalam sambutan tersebut.
5. Sampaikan kembali isi pokok-pokok pikiran dari sambutan tersebut dengan bahasa Anda sendiri.
Kompetensi Dasar
Alokasi Waktu
2 jam pelajaran (1 x pertemuan)
Dilaksanakan pada pertemuan ke
Indikator
Mencatat pokok-pokok pembicaraan ( siapa yang berbicara apa isi pembicaraannya)
Merangkum seluruh isi pembicaraan dalam beberapa kalimat
Menyampaikan (secara lisan) isi rangkuman kepada orang lain
Berdasarkan perilaku mendengarkan/ menyimak, terdapat dua tipe perilaku dalam kegiatan mendengarkan/ menyimak wawancara, yaitu sebagai berikut.
1. Menyimak Faktual
Menyimak faktual berarti menangkap serta memahami faktafakta, konsep-konsep, serta informasi yang disampaikan pembicara. Pada saat kita menyimak, kita mencoba menangkap ide-ide pokok, gagasan-gagasan penting sang pembicara atau narasumber. Kegiatan yang dilakukan saat menyimak faktual adalah:
a. memusatkan perhatian pada pesan-pesan orang lain;
b. berusaha mendapatkan fakta-fakta.
2. Menyimak Empatik
Menyimak empatik menolong kita untuk memahami sikap psikologis dan emosional sang pembicara/narasumber dan bagaimana sikap tersebut memengaruhi ujarannya. Menyimak empatik ini dapat juga disebut menyimak aktif atau menyimak pemahaman. Setiap pesan berisi dua bagian, yaitu isi atau materi faktual dan perasaan
atau sikap pembicara terhadap isi tersebut. Kegiatan yang dilakukan saat menyimak empatik adalah:
a. memperhatikan isyarat-isyarat nonverbal (gerak-gerik anggota tubuh);
b. menempatkan diri pada posisi orang lain;
Wawancara dengan Linda Christanty
Linda Christanty dilahirkan di Pulau Bangka tahun 1970. Setelah
menyelesaikan sekolah dasar dan menengah (pertama dan atas), Linda
sempat kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI). Selama ini,
dia telah memublikasikan karyakarya cerpennya di berbagai media massa
dan mendapat pujian serta perhatian dari sejumlah pengamat sastra.
Pada 1989, cerpen karya Linda bertajuk “Daun- Daun Kering”
mendapatkan salah satu penghargaan lomba menulis cerpen yang
diselenggarakan
Kompas
yang kemudian dimuat di harian yang sama pada
5 Agustus 1990. Saat itu, Linda memperoleh juara harapan bersama
sembilan penulis cerpen lainnya, di antaranya Bre Redana, Satyagraha
Hoerip, dan Putu Wijaya.
Apa yang telah dicapai Linda tidak lepas dari kebiasaan masa kecilnya
yang suka menulis dan membaca yang beberapa bacaan di antaranya
mungkin dianggap belum saatnya dibaca anak-anak seusianya. Misalnya,
buku-buku politik milik kakeknya. Berikut ini petikan wawancara
Majalah
Matabaca
dengan Linda Christanty.
Apa yang sebenarnya menjadi inspirasi bagi karyakarya Anda sehingga
karya-karya tersebut banyak menyinggung soal kemanusiaan yang
berkaitan dengan politik?
Aku menganggap sumberku dalam berkarya adalah kehidupan sehari-hari.
Realitas ini sendiri. Ya, bisa aja orang kemudian berimajinasi ada mahluk
di Mars atau apa, aku pikir itu sah saja. Tapi untuk karyaku, aku berpikir
memang sumbernya adalah kehidupan kita yang hari per hari ini. Dalam
kehidupan sehari-hari ini kan banyak sekali peristiwaperistiwa. Misalnya,
ketidakadilan terhadap orang kecil, pembunuhan, penganiayaan, atau
perampokan. Hanya gara-gara, misalnya, orang itu tak punya uang, (maka
orang itu) rela merampok dan membunuh untuk uang sekitar dua puluh
ribu dan itu realitas dalam masyarakat kita.
Berapa lama biasanya Anda menyelesaikan cerpen-cerpen yang termuat
dalam buku kumpulan cerpen “Kuda Terbang Mario Pinto”
?
Cerpen yang paling cepat dua jam (cerpen “Makan Malam”), tapi ada juga
yang berbulan-bulan yang aku bingung ini akhirnya bagaimana yah seperti
“Pesta Terakhir”.
cerpen
?
Kesulitan saya mungkin dialami juga ya sama penulis lain. Misalnya,
tiba-tiba, nah ini sepertinya perlu juga penulis seperti saya karena sebagian
besar penulis kita itu otodidak. Jadi, begitu menulis fiksi tidak pernah tuh
wah bagian pertama adalah pembukaannya nanti ada padanannya atau
segala macam yang ada klimaks antiklimaks. Jadi, saat menulis cerpen itu
duduk. Apa yang dipikirkan waktu itu dan dirasakan ditulis saja. Nah itu,
ternyata bermasalah. Iya kalau memang idenya terus
mengalir dan energi kita langsung bisa menyelesaikan dalam
sekali duduk. Seringkali, di tengah jalan, lho tokohnya mau
dibawa ke mana, eh akhir ceritanya bagaimana yah, saya jadi
bingung. Hal seperti itu kadang saya alami. Namun, ada juga
saya dalam situasi secara psikologis juga memang sedang
betul-betul
mood
, semangat, asyik dan saya merasa cerita ini
betul-betul menyatu dengan saya. Misalnya, “Makan Malam”
itu saya selesaikan dalam waktu dua jam. Saya tuh tidak
pernah menulis cerpen sekali tulis walaupun banyak penulis
lain (setelah) menulis, tidak dibaca lagi, langsung kirim. Saya
tidak bisa seperti itu. Saya akan teliti lagi logikanya
bahasanya, seperti itulah.
Sejak kapan Anda suka menulis
?
Saya sudah menulis sejak usia delapan tahun. Pemicunya,
sebuah buku catatan harian yang diberikan oleh kakek saya.
Dia berkata kepada saya, “kalo Anda merasa sedih, senang,
gembira, cobalah ditulis di sini.” Pada waktu masih kecil,
saya kan bingung bagaimana untuk mengungkapkan
kesedihan itu. Kalimatnya seperti apa kira-kira. Mungkin,
kakek saya juga agak bingung kalo harus mendiktekan
kalimat seperti itu, dalam situasi, ia juga tidak tahu apa yang
saya rasakan. Jadi, dia bilang begini, sekarang ini Juan
Carlos, Raja Spanyol dan Putri Sofia sedang datang ke
Indonesia. Jadi, pembukaan catatan harianmu tuliskan saja
bahwa pada hari ini tanggal sekian bulan sekian tahun sekian
Raja Juan Carlos dan Putri Sofia datang ke indonesia. Saya
buka catatan harian saya dengan kalimat itu.
Mulai kapan dan bagaimana Anda mengasah keterampilan
menulis cerpen
?
Saya memang sejak kecil menulis. Kemudian, mulai menulis
fiksi dalam bentuk cerpen waktu SMP di mading (majalah
dinding). Ketika SMA, saya menulis juga. Tahun 1989, ada
lomba (menulis cerpen yang diselenggarakan harian
Kompas
).
Sekitar 4000 lebih naskah masuk ke redaksi
Kompas
. Waktu
itu, cerpen saya berjudul “Daun-Daun Kering” mendapat
juara harapan (pemenang harapan sekitar sepuluh orang).
Karya pemenang kemudian dipublikasikan. Saya (sejak itu)
mulai terpacu secara serius untuk menulis fiksi. Caranya,
saya membaca banyak buku. Kebetulan, saya adalah orang
yang suka belajar diam-diam. Jadi, lebih asyik kalo belajar
diam-diam itu lewat buku, baik karya sastra dunia maupun
karya sastra Indonesia. Masa itu, saya suka
pengarang-pengarang Jepang seperti Yasunari Kawabata, Yukio
Mishima, Ryonosuke Akutagawa, Yuniciru Tanijaki. Karena
pengarang Jepang itu, mereka kadang menceritakan hal yang
sederhana dengan cara yang begitu halus dan juga puitis.
Terutama, (Yukio) Mishima, saya terkesan sekali sama salah
satu novelnya tentang seorang anak kecil miskin dari
Linda Christanty menganggap sumber dalam berkarya adalah kehidupan
sehari-hari. Saat membuat karya cerpen, waktu yang paling cepat adalah
dua jam, tetapi ada juga yang berbulan-bulan. Salah satu kesulitan menulis
karya adalah saat menulis fiksi karena tidak ada langkah-langkah yang
pasti. Ia sudah menulis sejak usia delapan tahun dan pemicunya adalah
sebuah buku catatan harian yang diberikan oleh kakeknya. Ia sejak kecil
menulis kemudian mulai menulis fiksi dalam bentuk cerpen waktu SMP di
mading (majalah dinding). Ketika SMA pun, ia menulis juga. Obsesi ke
depannya adalah ingin menulis novel.
Hasil rangkuman dalam beberapa kalimat tersebut dapat Anda sampaikan kepada teman-teman Anda dengan menggunakan bahasa Anda sendiri. Penyampaian isi
rangkuman secara lisan tersebut akan membuat orang lain memahami isi pembicaraan secara umum.
1. Bergabunglah dengan teman sebangkumu, simaklah sebuah acara talk show di televisi!
2. Catatlah siapa yang mewawancarai dan siapa yang diwawancarai! 3. Catat juga pokok-pokok isi pembicaraan dalam wawancara tersebut! 4. Buatlah rangkuman hasil pembicaraan dalam wawancara tersebut!
MODUL PEMBELAJARAN Standar Kompetensi 2
Mengungkapkan secara lisan informasi hasil membaca dan wawancara
Kompetensi Dasar
2.1 Menjelaskan secara lisan uraian topik tertentu dari hasil membaca (artikel atau buku)
Alokasi Waktu :
4 jam pelajaran ( 2 x pertemuan )
Dilaksanakan pada pertemuan ke
Indikator pencapaian hasil belajar:
Mendata pokok-pokok isi artikel/ buku yang diperoleh dari hasil membaca
Menyampaikan (secara lisan) isi artikel dengan memperhatikan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar
“Dengan membaca, kita dapat merengkuh dunia”. Begitulah ungkapan yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Apa artinya kita memiliki pikiran, jika kita tidak dapat menambah informasi ke dalam otak kita? Kegiatan membaca adalah upaya yang dapat membawa kita bertualang ke dalam ilmu pengetahuan. Sudahkah Anda
menjadikan perpustakaan, toko buku, atau taman bacaan sebagai rumah kedua Anda?
Membaca adalah aktivitas yang kompleks, terutama datang dari faktor luar pembaca dan dalam pembaca sendiri. Untuk memperlancar proses membaca, seorang pembaca harus memiliki modal pengetahuan dan pengalaman; kemampuan memahami bahasa; kemampuan teknik membaca; serta tahu tujuan membaca. Sebetulnya, kegiatan membaca identik dengan rasa kritis dan juga mengingat. Kegiatan membaca
merupakan proses usaha memasukkan informasi yang ditangkap dari bacaan ke dalam ingatan. Dalam hal ini, Anda akan mengetahui topik yang dibahas jika Anda mampu membaca dengan baik suatu teks bacaan.
Kata artikel tidak asing lagi bagi kita. kita dapat menemukan artikel di koran atau majalah. artikel merupakan bentuk karangan yang membahas berbagai masalah. Masalah yang dibahas dalam artikel masalah yang aktual. Artikel menyajikan informasi bagi pembaca. Artikel berbentuk karangan deskripsi atau eksposisi. Dengan membaca artikel, Anda diharapkan mengerti masalah yang dibahas.
Untuk menemukan topik artikel diperlukan langkah-langkah sebagai berikut.
1. Membaca dan memahami artikel secara utuh.
3. Mencatat topik dan pokok permasalahan yang dibahas dalam artikel. 4. Memberikan pendapat atau uraian beserta alasan terhadap topik yang
ditemukan.
5. Menyampaikan secara lisan topik artikel yang dibaca dengan alas an perlunya membaca artikel tersebut.
Untuk melatih Anda, bacalah teks berikut dengan baik.
Rimba Gambut Menanti Ajal
Hutan gambut Sumatra terkikis hutan tanaman industri. Ini bisa menjadi awal
datangnya petaka banjirasap dan kekurangan air. Kecemasan itu pelan-pelan merasuki perkampungan Suku Akit di pedalaman hutan Semenanjung Kampar, Riau. Aroma kekhawatiran seperti meletup dari gubuk-gubuk buruk di tengah hutan. Lelaki-lelaki perkasa dari suku itu kini sering pulang berburu dengan wajah getir.
Tangan mereka kosong. Tak ada tangkapan, tiada pula madu hutan.
Hutan yang didiami Ajib dan tetangga-tetangganya beberapa tahun ini telah berubah. Ajib bercerita, sudah beberapa tahun ini, ”kampungnya” alias hutan gambut itu digangsir. Banyak yang datang dengan membawa mesin-mesin gergaji. Lalu pelan-pelan kicau burung pun tergantikan deru gergaji mesin. Raungan gergaji itu juga mengganggu lebah-lebah madu sialang. Itulah yang membuat kehidupan 380 keluarga suku Akit kian pahit.
Itu baru sebagian ancaman. Ancaman lainnya adalah ”kampung” Ajib itu mulai dikeruk tanahnya dan dibangun parit-parit besar agar air di tanah gambut mengering. Gambut memang tanah yang penuh tumpukan ranting yang tak terurai sempurna selama puluhan tahun sehingga strukturnya seperti spons atau busa yang mengandung banyak air. Dengan parit, air di tanah gambut akan mongering dan bisa disulap menjadi hutan akasia yang menjadi bahan baku pabrik kertas dan bubur kertas.
Pohon ditebang, tanah dipapras, membuat ”kampung” suku Akit kian sempit.
Akibatnya, sudahbanyak yang mengungsi ke pedalaman Taman Nasional Bukit Tiga Puluh di Indragiri Hilir.
penebang. Sebagian perusahaan itu menebang pohon untuk diolah menjadi bubur kertas. Untuk memenuhi pasokan bahan bakunya, ada perusahaan yang mengubah hutan gambut alam menjadi hutan dengan tanaman yang seragam atau dikenal
sebagai hutan tanaman industri (HTI). Kerusakan itu belum termasuk kerusakan yang ditimbulkan 52 persen penduduk sekitar hutan yang ikut-ikutan menebangi hutan.
Tergerusnya hutan gambut ini membuat waswas para pencinta lingkungan. Menurut dataWorld Wild Fund (WWF) Indonesia, luas hutan dan lahan gambut di Indonesia mencapai 20 juta hektare. Empat juta hektare di antaranya ada di Riau. Salah satu hutan gambut Riau yang terkenal adalah Semenanjung Kampar, kampung Suku Akit. Pada 1990-an hutan ini tercatat sebagai salah satu yang terluas di Sumatra. Membujur di pesisir timur Riau, hutan ini pada 1997 luasnya masih sejuta hektare. Kini hutan gambut itu tinggal secuil.
Disadur dari: Tempo, 16 Juli 2006
Anda telah mencatat pokok-pokok isi artikel ” Rimba Gambut Menanti Ajal”. Sekarang lakukan kegiatan berikut!
1. Sampaikan isi artikel secara lisan dan ungkapkan pendapat Anda sendiri mengenai artikel tersebut!
2. Kemukakan alasan Anda dengan data pendukung!
PENILAIAN PENYAMPAIAN ISI ARTIKEL
Kompetensi Dasar : Menjelaskan secara lisan uraian topik tertentu dari hasil membaca (artikel/ buku)
Nama Siswa : Kelas : Nomor Absen :
No
Aspek yang
Dinilai
Pertanyaan Pemandu 1
2
3
4
5
01
Kesesuaian isi
Apakah isinya sesuai?
02
Kelengkapan isi
Apakah isinya lengkap?
03
Ketepatan simpulan
Apakah kesimpulannya
tepat?
04
Urutan
penyampaian
Apakah
penyampaiannya
runtut?
05
Kemudahan
dipahami
Apakah
penyampaiannya
mudah dipahami?
06
Intonasi
penyampaian
Apakah intonasinya
baik?
07
Artikulasi
Bagaimana kejelasan
artikulasinya?
08
Volume suara
Bagaimana volume
suaranya? Tepat?
Jumlah nilai = 8 – 40
Keterangan : 1. Sangat tidak sesuai 4. Sesuai 2. Tidak sesuai 5. Sangat sesuai
3. Biasa saja
2.2 Menjelaskan hasil wawancara tentang tanggapan narasumber terhadap topik tertentu
Alokasi Waktu :
4 jam pelajaran ( 2 x pertemuan )
Dilaksanakan pada pertemuan ke
Indikator pencapaian hasil belajar:
Mencatat pokok-pokok hasil wawancara topik tertentu
Membuat rangkuman hasil wawancara dengan kalimat yang efektif
Menjelaskan tanggapan nara sumber terhadap topik tertentu
Wawancara adalah suatu cara untuk mengumpulkan informasi dengan menanyakan langsung kepada seorang narasumber. Biasanya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan disiapkan terlebih dahulu dan diarahkan kepada informasi-informasi untuk topik yang akan dibahas.
Berikut ini teks hasil wawancara seorang wartawan terhadap seorang tokoh. Tokoh itu adalah Jennifer Hawkins, Miss Universe 2004. Salah seorang teman Anda akan
membacakan teks tersebut dan teman yang lain menyimak dengan saksama!
Jennifer Hawkins telah menggeluti dunia tari sejak umur lima tahun. Tahun 2001, ia menang dalam lomba tari berskala nasional di Australia. Sebelum menjadi Miss
Universe, ia pernah bekerja sebagai sekretaris di kantor pengacara dan model. Ia juga penggila olahraga dan menyukai olahraga pria seperti surfing dan wakeboarding. Berkaitan dengan tugasnya sebagai Miss Universe, Jennifer menjelaskan kepada para wartawan. Demikian petikannya:
Apa saja tugas-tugas yang Anda emban sebagai Miss Universe?
Sejak dinobatkan sebagai Miss Universe, saya bergabung sebagai duta dalam organisasi The Global Healt Council, jadi, untuk saat ini tugas-tugas saya berkisar tentang bagaimana membantu organisasi tersebut dalam rangka meningkatkan kewaspadaan akan penyakit HIV/AIDS. Saya senang diberi kesempatan berbicara dalam forum-forum internasional tentang masalah ini.
Pengalaman apa yang Anda dapatkan sebagai Miss Universe?
Hal yang paling menyenangkan adalah acara jalan-jalan.
Apakah Anda merasa kehilangan waktu bersama teman dan keluarga setelah menjabat sebagai Miss Universe?
Menjadi Miss Universe membuka kesempatan bagi saya untuk melakukan kegiatan di bidang modeling dan pertelevisian. Namun, tentu saja saya sangat rindu keluarga dan teman-teman saya di Australia. Setahun ini saya akan fokus pada tugas sebagai Miss Universe. Menjadi Miss Universe itu menyenangkan, lho. Saya dapat bertemu dengan banyak orang.
Bagaimana dengan hobi Anda, surfing?
Hobi saya seperti surfing dan wakeboarding, tentu harus disesuaikan dengan jadwal Miss Universe. Kalau tidak bisa, ya, saya berolahraga di pusat kebugaran. Saya sangat merindukan Australia, karena di New York tempat saya berdomisili sebagai Miss Universe, tidak ada pantai.
Apa ambisi Anda selanjutnya?
Setelah Miss Universe, saya berniat terjun ke dunia pertelevisian sebagai presenter dan meneruskan karier sebagai model. Mumpung masih muda dan modal bagus, mengapa tidak?
Apa pendapat Anda tentang Indonesia?
indahnya Indonesia. Nanti kalau saya berkunjung ke negara lain, saya akan ceritakan kepada semua orang bahwa Indonesia indah dan aman.
Bagaimana kabar pacar Anda, Jake Wall?
Saya tidak ingin kehidupan pribadi membayang-bayangi kegiatan saya sebagai Miss Universe. Jake Wall masih di Sydney dan hubungan kami baik-baik saja.
Ada pesan yang ingin Anda sampaikan kepada wanita Indonesia?
Untuk semua wanita, Anda bisa melakukan apa yang Anda impikan. Contohnya, saya yang dulu punya mimpi ingin jadi model dan presenter TV, kini bisa menjadi Miss Universe. Anda dapat melakukan itu. Tersenyum dan selalu bahagia. Dan yang terpenting, jangan lupakan dukungan dari keluarga Anda.
Sumber: Tabloid NOVA, 15 Agustus 2004
Wawancara di atas akan dibacakan oleh dua orang temanmu di depan kelas, tugas kamu adalah:
1. Catatlah pokok-pokok isi wawancara tersebut.
2. Buatlah rangkuman hasil wawancara dengan kalimat yang efektif. 3. Sampaikanlah hasil rangkumanmu secara lisan di depan kelas.
MODUL PEMBELAJARAN Standar Kompetensi 3
Memahami ragam wacana tulis dengan membaca intensif dan membaca nyaring
3.1 Menemukan perbedaan paragraf induktif dan deduktif melalui kegiatan membaca intensif
Alokasi Waktu
4 jam pelajaran (2 x pertemuan)
dilaksanakan pada pertemuan ke
Indikator pencapaian hasil belajar
Menetukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada paragraf
Menentukan kalimat penjelas yang mendukung gagasan utama
Menjelaskn perbedaan antara paragraf yang berpola deduktif dengan paragraf yang berpola induktif
penjelasa atau gagasan-gagasan khusus. Sebaliknya, pola pengembangan induktif merupakan pengembangan paragraf dengan meletakkan pikiran utama atau gagasan utama di akhir paragraf dan diawali dengan pikiran-pikiran penjelas atau gagasan-gagasan yang bersifat khusus.
Pikiran utama atau gagasan umum adalah pikiran atau gagasan yang menjiwai sebuah paragraf. Sedangkan, pikiran penjelas atau gagasan yang bersifat khusus adalah gagasan-gagasan yang menjelaskan pikiran utama atau gagasan utama.
Perhatikan kutipan teks berikut ini!
Paragraf di atas terdiri atas 1 kalimat topik dan 2 kalimat penjelas. Kalimat (1) dan (2) adalah kalimat penjelas dan kalimat (3) adalah kalimat topik. Maka, gagasan utama paragraf di atas adalah kalimat (3). Karena gagasan utama paragraf terletak di akhir paragraf, paragraf tersebut tergolong paragraf induktif.
Paragraf tersebut terdiri atas 1 kalimat topik dan 2 kalimat penjelas. Kalimat (1) adalah kalimat topik dan kalimat (2) dan (3adalah kalimat penjelas. Maka, gagasan utama paragraf tersebut adalah kalimat (1). Karena gagasan utama paragraf terletak di awal paragraf, paragraf tersebut tergolong paragraf deduktif.
Frasa Nominal
Frasa nominal adalah frasa yang intinya terdiri dari kata benda atau nomina.
Tulislah PI jika paragraf induktif dan PD jika paragraf deduktif!
3.2 Membacakan berita dengan intonasi, lafal, dan sikap membaca yang baik
Alokasi Waktu :
8 jam pelajaran ( 4 x pertemuan )
Dilaksanakan pada pertemuan ke
Indikator pencapaian hasil belajar:
Membacakan berita dengan intonasi yang baik
Membacakan beritadengan lafal yang jelas Membacakan berita dengan sikap yang baik
Membacakan berita dapat menjadi suatu pengalaman yang menyenangkan bagi sang pembaca dan pendengarnya jika pembacaan dilakukan dengan baik. Untuk dapat menjadi pembaca berita yang baik perlu berlatih:
1. lafal dan pengucapan yang jelas;
2. intonasi yang benar;
Dalam menyampaikan berita, intonasi dapat menimbulkan bermacam arti. Keras lambatnya suara atau pengubahan nada, dan cepat lambatnya pembacaan dapat digunakan sebagai penegasan, peralihan waktu, perubahan suasana, maupun perenungan.
Dalam membacakan berita hendaknya diutamakan pelafalan yang tepat. Gerak-gerik terbatas pada gerak tangan, lengan atau ke-pala. Segala gerak tersebut lebih banyak bersifat mengisyaratkan (bernilai sugestif) dan jangan berlebihan. Untuk menimbulkan suasana khusus yang diperlukan dalam pembacaan, suara lebih efektif dengan
didukung oleh ekspresi wajah. Air muka (mimik) dan alunan suara yang pas lebih efektif untuk meningkatkan suasana. Senyum atau kerutan kening juga dapat membantu penafsiran teks. Perhatikan pula kontak pandangan Anda dengan
pendengar (penonton), terutama bila membacakan berita melalui media televisi atau kontak langsung dengan pendengarnya. Jadi, membaca berita adalah menyampaikan suatu informasi atau berita melalui membaca teks berita dengan lafal, intonasi, dan sikap secara benar.
Kalimat Tunggal
Perhatikan contoh kalimat berikut.
Kalimat yang panjang tersebut berasal dari kalimat tunggal
Teks berita terdiri atas beberapa kalimat yang padu. Apakah kalimat itu? Dasar
kalimat adalah adanya bagian (konstituen) dasar dan intonasi final. Kontituen dasar itu biasanya berupa klausa. predikatif. Artinya, susunan tersebut dapat berfungsi sebagai predikat. Adapun yang lain berfungsi sebagai subjek, objek, dan keterangan. Berikut ini contoh klausa.
Jadi, kalau sebuah klausa diberi intonasi final, akan terbentuklah sebuah kalimat. Intonasi final itu terdiri atas intonasi deklaratif (tanda titik), intonasi interogatif (tanda tanya), dan intonasi seru
(tanda seru).
Adapun kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri atas satu seperti subjek dan predikat hanyalah satu atau merupakan satu kesatuan. Dalam kalimat tunggal, tentu saja terdapat semua unsure wajib yang diperlukan. Selain itu, tidak mustahil ada pula unsure manasuka seperti keterangan tempat, waktu, dan alat. Dengan demikian, kalimat tunggal tidak selalu dalam wujud yang pendek,tetapi juga dapat panjang seperti pada contoh berikut.
1. Bacakanlah isi berita tersebut di depan kelas dengan memperhatikan aspek intonasi, lafal, dan sikap.
2. Sebelum memulai pembacaan berita, lakukanlah latihan terlebih dahulu.
3. Pada saat teman Anda membacakan berita, berilah tanggapan dengan mengisi tabel penilaian berikut.
Penilaian Pembacaan Berita
Nama
Aspek Penilaian
Lafal
Tempo
Nada
Intonasi
Sikap
Keterangan:
4. Cari dan tentukanlah beberapa kalimat tunggal yang ada dalam setiap paragraf dalam teks berita tersebut.
1. Simaklah beberapa pembacaan berita di televisi! Amati intonasi, lafal, dan cara membacanya! Anda akan menemukan berbagai cara pembacaan berita.
2. Coba Anda pelajari salah satu cara membaca berita itu di televisi, yang menurut kelompok Anda merupakan cara membaca berita paling baik!
3. Salah satu anggota kelompok membaca berita di depan kelas! 4. Setiap kelompok saling menilai cara membaca berita dari kelompok lain.
5. Tuliskan teknik membaca berita yang baik menurut kelompok Anda!
MODUL PEMBELAJARAN Standar Kompetensi 4
Mengungkapkan informasi dalam bentuk proposal, surat dagang, karangan ilmiah
Kompetensi Dasar
4.1 Menulis proposal untuk berbagai keperluan
Alokasi Waktu
6 jam pelajaran (3 x pertemuan)
Dilaksanakan pada pertemuan ke
Indikator pencapaian hasil belajar:
Mengidentifikasi komponen atau unsur-unsur proposal
Menulis proposal sesuai dengan keperluan dengan menerapkan kalimat tunggal
Proposal dapat didefinisikan sebagai rencana kerja yang disusun secara sistematis dan terinci untuk suatu kegiatan yang bersifat formal.
Unsur-unsur proposal 1. Nama kegiatan (Judul)
Nama kegiatan/judul yang akan dilaksanakan tercermin dalam judul proposal.
2. Latar belakang
Latar belakang proposal berisi pokok-pokok pemikiran dan alasan perlunya diadakan kegiatan tertentu.
3. Tujuan kegiatan
Penyusunan proposal harus merumuskan tujuan sedemikian rupa agar target yang akan dicapai dan nilai tambah yang diperoleh dapat dirasakan oleh pembaca proposal. Oleh karena itu, tujuan harus dijabarkan supaya tampak manfaatnya.
4. Tema
Tema adalah hal yang mendasari kegiatan tersebut.
Penyusun proposal harus menetapkan secara tegas siapa yang akan dilibatkan dalam kegiatan tersebut.
6. Tempat dan waktu kegiatan
Dalam proposal harus dituliskan secara jelas kapan dan di mana kegiatan akan dilaksanakan.
7. Kepanitiaan
Penyelenggara atau susunan panitia harus dicantumkan dalam proposal dan ditulis secara rinci.
8. Rencana anggaran kegiatan
Penulis proposal harus menyusun anggaran biaya yang logis dan realistis, serta memperhatikan keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran.
9. Penutup
1. Susunlah sebuah proposal kegiatan lengkap sehubungan dengan rencana kegiatan study tour di sekolah Anda! Rencanakan setiap hal dalam proposal dengan saksama!
2. Bacakan proposal yang sudah dibuat di depan teman-teman Anda!
3. Mintalah teman-teman Anda menanggapi proposal tersebut! Lalu, buat catatan mengenai tanggapan dan penilaian temantemanmu!
4. Perbaiki proposal berdasarkan penilaian dan tanggapan teman-teman Anda!
Kompetensi Dasar
4.2 Menulis surat dagang dan surat kuasa
Alokasi Waktu
4 jam pelajaran ( 2 x pertemuan )
Dilaksanakan pada pertemuan ke
Indikator pencapaian hasil belajar: Mendaftar jenis surat niaga
Menulis surat perjanjian jual beli dan surat kuasa sesuai dengan keperluan
Menjelaskan isi surat perjanjian jual beli dan surat kuasa
Surat niaga (dagang) adalah surat yang dikeluarkan oleh badanbadan atau perusahaan-perusahaan dalam rangka menjalankan kegiatan usahanya.
1. 1. Surat perjanjian jual beli
Surat perjanjian jual-beli dibuat oleh pihak penjual dan pihak pembeli. Di dalam surat tersebut dinyatakan secara tertulis kesepakatan antara kedua belah pihak. Surat tersebut berisi pernyataan secara tertulis mengenai kesepakatan yang menyatakan bahwa pihak penjual wajib menyerahkan barang dan berhak atas pembayaran barang itu. Sebaliknya, pihak pembeli berhak atas penerimaan barang dan wajib membayar harga barang itu kepada pihak penjual.
Dalam surat perjanjian jual-beli, barang yang dapat diperjanjikan berupa barang bergerak seperti alat-alat perabotan dan kendaraan; dan barang-barang tidak bergerak atau barang tetap, contohnya adalah rumah, gedung, dan tanah.
Surat Perjanjian Jual-Beli
Yang bertanda tangan di bawah ini,
1.
Nama : Dini Handayani
Alamat : Jln. Ir. H. Juanda No. 213 Bandung
Pekerjaan : Pegawai Pemkot Bandung
Selaku pihak kesatu, selanjutnya disebut penjual, dan
1.
Nama : Winda Ratuliu
Alamat : Jln. Mengger No.127 Bandung
Pekerjaan : Wiraswasta
Pasal 1
Penjual menjual rumah yang terletak di Kelurahan Rajawali No. 12,
Kecamatan BandungKulon, Kota Bandung, Jawa Barat yang diketahui
benar oleh pembeli.
Pasal 2
Dalam jual beli ini termasuk pula penyerahan c.q. penerimaan hak milik
penjual atas rumah tersebut dalam Pasal 1.
Pasal 3
Perjanjian jual beli ini disepakati dengan harga Rp80.000.000,00 (delapan
puluh juta rupiah). Jumlah tersebut akan dibayarkan secara tunai oleh
pembeli kepada penjual pada waktu penandatanganan surat perjanjian ini,
dengan tanda terima/kuitansi tersendiri yang disaksikan oleh beberapa
orang saksi, dan selanjutnya penjual menyerahkan semua surat rumah
kepada pembeli.
Pasal 4
Segala tunggakan pajak dan lain-lain hingga saat ini adalah tanggung
jawab penjual.
Pasal 5
Penjual memberi jaminan kepada pembeli, apabila ternyata pada kemudian
hari terjadi hal-hal atau gugatan dari pihak lain atas rumah tersebut dalam
Pasal 1.
Pasal 6
Pembaliknamaan (persil) yang dipersoalkan dalam perjanjian ini termasuk
segala ongkosongkos atau biaya yang diperlukan merupakan beban
pembeli.
Pasal 7
Sejauh diperlukan, penjual dengan ini memberi kuasa yang merupakan
bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perjanjian ini dan dengan hak
subtitusi kepada pembeli untuk mengurus perizinan jika ada, c.q.
pembaliknamaan yang bersangkutan atas nama penjual.
Pasal 8
Kedua belah pihak berjanji tidak akan membawa atau memperselisihkan
ke muka pengadilan sebelum diusahakan sedapat mungkin untuk
menyelesaikan perselisihan secara damai.
Pasal Penutup
dua-duanya mempunyai kekuatan yang sama.
Bandung, 23 Agustus 2007
Penjual,
Pembeli,
Dini Handayani Winda
Ratuliu
Saksi-saksi
:
2. Surat Kuasa
Surat kuasa digunakan untuk memberikan wewenang kepada seseorang atau lembaga yang dipercaya untuk mewakili orang yang bersangkutan dalam melaksanakan suatu tindakan atau mengurus urusan tertentu. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat surat kuasa, yaitu:
- menentukan kegiatan yang akan diberi kuasa;
- memilih orang atau lembaga yang akan diberi kuasa;
- menentukan batas-batas kuasa yang akan dilimpahkan;
- mencantumkan tempat dan tanggal pembuatan surat kuasa;
- menulis surat kuasa di atas kertas segel atau dibubuhi meterai secukupnya;
- memberikan kuasa kepada seseorang yang dapat dipercaya;
- orang yang memberi dan menerima kuasa harus sudah dewasa, serta sehat rohani dan jasmani;
- orang yang memberi dan menerima kuasa harus menandatangani surat tersebut agar surat dianggap sah.
Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS)
SMA Permata Ilmu
————————————————————————————-Surat Kuasa
Nomor: 12/SMA PI/Oktober/2007
Pihak yang bertanda tangan berikut ini,
nama : Winda Ratuliu
jabatan : Ketua OSIS SMA Permata Ilmu
kelas : XI/F
memberi kuasa kepada:
nama : Sigit Armando
jabatan : Ketua Sie. Dana Usaha OSIS SMA Permata Ilmu
kelas : XI/A
untuk mengambil uang donatur acara kegiatan “Bulan Bahasa SMA
Permata Ilmu” di bagian personalia PT Anugerah Lestari.
Atas perhatian dan kerja sama Ibu/Bapak, saya mengucapkan terima kasih.
Medan, 12 Oktober 2007
1. Buatlah satu macam surat niaga dan surat kuasa.
2. Tukarkanlah hasil tulisan Anda tersebut dengan teman sebangku.
3. Lakukanlah saling koreksi atas surat niaga dan surat kuasa tersebut berdasarkan struktur kalimat dan EYD.
Format Penilaian Penulisan Surat
Hal yang Dinilai
Penilaian
Saran
Baik
Cukup
Kurang
Sistematika
Kalimat
Struktur
EYD
Kompetensi Dasar
4.3 Melengkapi karya tulis dengan daftar pustaka dan catatan kaki
Alokasi Waktu
6 jam pelajaran (3 x pertemuan)
Dilaksanakan pada pertemuan ke
Indikator pencapaian hasil belajar:
Menentukan topik atau gagasan yang akan dikembangkan dalam karya tulis
Menyusun kerangka karya tulis
Mengembangkan kerangka menjadi karya tulis, dengan dilengkapi daftar pustaka dan catatan kaki
Menyunting karya tulis yang dilengkapi daftar pustaka dan catatan kaki karya sendiri atau karya teman berdasarkan struktur kalimat dan EyD
Menyusun Karya Tulis
Karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Yang termasuk karangan ilmiah adalah makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan laporan penelitian.
Ketentuan Umum
Ketentuan umum yang harus diperhatikan dalam pembuatan karangan ilmiah:
2. Pengetikan menggunakan huruf tegak dan jelas (misalnya, Times New Roman) dengan ukuran 12.
3. Menggunakan tinta berwarna hitam.
4. Batas-batas pengetikan:
a. pias atas 4 cm;
b. pias bawah 3 cm;
c. pias kiri 4 cm; dan
d. pias kanan 3 cm.
5. Sistematika karangan ilmiah menggunakan sistematika yang berlaku secara umum.
Sistematika Karya Ilmiah A. Bagian Pembukaan
1. Kulit Luar/Kover dan Halaman Judul
Yang harus dicantumkan pada kulit luar dan halaman judul karangan ilmiah adalah sebagai berikut:
a. Judul karangan ilmiah lengkap dengan anak judul (jika ada)
b. Keperluan Penyusunan
c. Nama Penyusun
d. Nama Lembaga Pendidikan
e. Nama Kota
2. Halaman Pengesahan
Dalam halaman ini dicantumkan nama guru pembimbing, kepala sekolah, dan tanggal, bulan, tahun persetujuan.
3. Kata Pengantar
Kata pengantar dibuat untuk memberikan gambaran umum kepada pembaca tentang penulisan karangan ilmiah. Kata pengantar hendaknya singkat tapi jelas. Yang
dicantumkan dalam kata pengantar adalah (1) puji syukur kepada Tuhan, (2)
keterangan dalam rangka apa karya dibuat, (3) kesulitan/ hambatan yang dihadapi, (4) ucapan terima kasih kepada pihak yang membantu tersusunnya karangan ilmiah, (5) harapan penulis, (6) tempat, tanggal, tahun, dan nama penyusun karangan ilmiah.
4. Daftar Isi
5. Daftar Tabel
Tajuk Daftar Tabel dituliskan dengan huruf kapital semua dan terletak di tengah.
6. Daftar Grafik, Bagan, atau Skema
Pada dasarnya penulisannya hampir sama seperti penulisan Daftar Tabel.
7. Daftar Singkatan
Penulisan sama dengan penulisan Daftar Tabel, Grafik, Bagan, atau Skema.
B. Bagian inti 1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Misalnya, karangan ilmiah bertema “Tingkat Pencemaran Air di Wilayah Jakarta Barat”.
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan yang timbul akan dibahas dalam bagian pembahasan dan ini ada kaitannya dengan latar belakang masalah yang sudah dibahas sebelumnya. Permasalahan ini dirumuskan dalam kalimat-kalimat pertanyaan.
1.3 Tujuan Penulisan
Bagian ini mencantumkan garis besar tujuan pembahasan dengan jelas dan tujuan ini ada kaitannya dengan rumusan masalah dan relevansinya dengan judul. Tujuan boleh lebih dari satu.
1.4 Ruang Lingkup (Pembatasan Masalah)
Ruang lingkup ini menjelaskan pembatasan masalah yang dibahas. Pembatasan masalah hendaknya terinci dan istilahistilah yang berhubungan dirumuskan secara tepat. Rumusan ruang lingkup harus sesuai dengan tujuan pembahasan.
1.5 Landasan Teori/Kerangka Teori
Landasan teori berisi prinsip-prinsip teori yang mempengaruhi dalam pembahasan. Teori ini juga berguna untuk membantu gambaran langkah kerja sehingga membantu penulis dalam membahas masalah yang sedang diteliti.
Hipotesis merupakan kesimpulan/perkiraan yang dirumuskan dan untuk sementara diterima, serta masih harus dibuktikan kebenarannya dengan data-data otentik yang ada, pada bab-bab berikutnya. Hipotesis harus dirumuskan secara jelas dan sederhana, serta cukup mencakup masalah yang dibahas.
1.7 Sumber Data
Sumber data yang digunakan penulis karangan ilmiah biasanya adalah kepustakaan, tempat kejadian peristiwa (hasil observasi), interview, seminar, diskusi, dan
sebagainya.
1.8 Metode dan Teknik
a. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah cara mencari data bagi suatu penulisan, ada yang secara deduktif dan atau induktif. Mencari data dapat dilakukan dengan cara studi pustaka, penelitian lapangan, wawancara, seminar, diskusi, dan lain sebagainya.
b. Teknik Penelitian
Teknik penelitian yang dapat digunakan ialah teknik wawancara, angket, daftar kuesioner, dan observasi. Semua ini disesuaikan dengan masalah yang dibahas.
1.9 Sistematika Penulisan
Sistematika Penulisan adalah suatu tulisan mengenai isi pokok secara garis besar dari bab I sampai bab terakhir atau kesimpulan dari suatu karangan ilmiah.
Bab ini merupakan bagian pokok dari sebuah karangan ilmiah, yaitu masalah-masalah akan dibahas secara terperinci dan sistematis. Jika bab pembahasan cukup besar, penulisan dapat dijadikan dalam beberapa anak bab.
3. Bab Kesimpulan dan Saran
Bab ini berisi kesimpulan yang telah diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan. Kesimpulan adalah gambaran umum seluruh analisis dan relevansinya dengan hipotesis yang sudah dikemukakan. Yang dimaksudkan dengan saran adalah saran penulis tentang metode penelitian lanjutan, penerapan hasil penelitian, atau beberapa saran yang ada relevansinya dengan hambatan yang dialami selama penelitian.
C. Bagian Penutup
Daftar Pustaka
Tajuk daftar pustaka dituliskan dengan huruf kapital semua tanpa diberi tanda baca dan dituliskan di tengah-tengah. Dalam daftar pustaka dicantumkan semua
kepustakaan, baik yang dijadikan acuan penyusunan karangan maupun yang dijadikan bahan bacaan, termasuk artikel, makalah, skripsi, disertasi, buku, dan lain-lain Semua acuan dalam daftar pustaka disusun menurut abjad nama pengarang atau lembaga yang menerbitkan. Jadi, daftar pustaka tidak diberi nomor urut. Jika tanpa nama pengarang atau lembaga, yang menjadi dasar urutan adalah judul pustaka.
Kutipan, Daftar Pustaka, dan Catatan Kaki A. Kutipan
Mengutip pendapat atau tulisan seseorang ada ketentuannya dan hal ini sudah dibahas di kelas X. Hal yang perlu diingat adalah sebagai berikut.
b. Kutipan yang panjangnya kurang dari 5 baris diintegrasikan dengan teks, spasi dua, dan dibubuhi tanda kutip.
c. Kutipan yang panjangnya 5 baris atau lebih tidak harus diberi tanda kutip,
dipisahkan dari teks utama dengan jarak 2,5 spasi, jarak antarbaris satu spasi, serta seluruh kutipan diketik ke dalam 5—7 ketikan.
d. Bila ada bagian yang dihapus, bagian ini diberi tanda titik-titik tiga buah.
e. Tiap kutipan diberi nomor pada akhir kutipan dan penulisannya setengah spasi ke atas.
B. Daftar Pustaka
Daftar pustaka dikenal juga sebagai referensi, bibliografi, sumber acuan, atau sumber rujukan. Daftar pustaka adalah susunan sumber informasi yang umumnya berasal dari sumber tertulis berupa buku-buku, makalah, karangan di surat kabar, majalah, dan sejenisnya. Semua sumber bacaan itu berhubungan erat dengan karangan yang ditulis.
Daftar pustaka ditempatkan pada bagian akhir karangan dan ditulis pada halaman tersendiri. Daftar pustaka disusun berdasarkan urutan abjad nama penulis (alfabetis) dan tidak menggunakan nomor urut.
Ketentuan penulisannya sebagai berikut.
a. Buku
1) Jika penulisnya satu orang, penulisan nama belakang penulisnya (jika terdiri atas dua kata atau lebih) dipindahkan ke depan. Misalnya, Yogi
Yogaswara menjadi Yogaswara,Yogi. Contoh:
2) Jika penulisnya dua atau tiga orang, nama penulis pertama ditulis terbalik, sedangkan yang lainnya tetap. Contoh:
3) Jika penulisnya lebih dari tiga orang, hanya satu orang yang dituliskan, kemudian ditambah keterangan dkk. (dan kawan-kawan). Contoh:
4) Jika beberapa buku dari penulis yang sama kita rujuk, urutan daftar pustaka tidak mengulang nama penulisnya. Pada urutan kedua dan selanjutnya, nama penulis diganti dengan garis delapan ketukan. Contoh:
Warsidi, Edi dan Eriyandi Budiman. 1999.
Teknik Menulis Naskah
Film untuk Anak-Anak
. Bandung: Katarsis.
Sugono, Dendy dkk. 2003.
Kamus Bahasa Indonesia Sekolah
Dasar
. Jakarta: Gramedia.
Ismail, Taufiq (ed.) dkk, 2002.
Horison Sastra Indonesia 1, Kitab
Puisi
. Jakarta: Horison & The Ford Foundation.
5) Jika tahun terbit tidak dicantumkan, tahun terbitnya diganti dengan tulisan tanpa tahun (tt). Contoh:
b. Surat Kabar
1) Jika berupa berita, urutannya yaitu nama koran (dicetak miring) dan penanggalan. Contoh:
2) Jika berupa artikel urutannya yaitu nama penulis (seperti pada buku), tahun terbit, judul artikel (diapit tanda petik dua), nama koran, tanggal terbit. Contoh:
Maulana, Dodi. tanpa tahun.
Beternak Unggas
. Bandung: CV
Permata.
Kompas
(harian). Jakarta, 20 Februari 2005.
Kedaulatan Rakyat
(harian). Yogyakarta, 15 Maret 2005.
c. Majalah
Sama dengan surat kabar, tetapi di belakang nama majalah ditambahkan nomor edisi. Contoh:
d. Lembaran Kerja dari Lembaga Tertentu
Contoh:
e. Makalah yang Tidak Diterbitkan
Setelah kota tempat penulisan, tidak terdapat nama penerbit. Contoh:
Kleiden, Ignas. 2005. “Politik Perubahan Tanpa Perubahan
Politik.”
Tempo
No. 50 tahun XXXIII.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1990.
Pedoman
Surat Dinas
. Jakarta: P3B.
Departemen Pendidikan Nasional. 2003.
Kurikulum 2004: Standar
Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah
Menengah Atas dan Madrasah Ibtidaiyah
. Jakarta.
M.I. Sulaeman. (1985).
Suatu Upaya Pendekatan Fenomenologis
Situasi Kehidupan dan Pendidikan dalam Keluarga dan
C. Catatan Kaki
Karya tulis ilmiah membutuhkan dokumentasi untuk memudahkan penulis menyatakan serta mengakui jasa para penulis lainnya. Selain itu, dokumentasi ini bertujuan agar para pembaca menguji atau memeriksa sumber informasi. Dokumentasi ini biasanya berbentuk catatan kaki. Walaupun suatu catatan kaki dapat saja menambahi komentar dan penjelasan, haruslah kita ingat benar-benar bahwa fungsi utamanya adalah
Jika bahan tulisan diambil dari sebuah buku, ikutilah bentuk berikut.
a. Buku
(1) Data pengarang
Nama pertama, nama tengah, nama akhir, koma.
(2) Data buku
Judul buku digarisbawahi (dicetak miring), tanda kurung buka,
tempat penerbitan, titik dua, penerbit, koma, tahun penerbitan,
tanda kurung tutup, koma.
(3) Data halaman
Ringkasan p. atau pp., angka, titik. Contoh:
Haruslah
diperhatikan benar-benar bahwa tidak ada tanda baca mendahului tanda kurung buka, tetapi terdapat koma setelah tanda kurung tutup. Seperti juga halnya dengan kalimat, catatan kaki mulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan titik.
b. Artikel
(1) Data pengarang
Nama pertama, nama tengah, nama akhir, koma.
1
Erich Fromm, The Art of Loving (New York: Harper & Row,
(2) Data artikel/publikasi
Tanda kutip buka, judul artikel, koma, tanda kutip tutup, judul penerbitan
digarisbawahi, koma, hari, bulan (disingkat kalau lebih dari lima huruf), koma, tahun, koma.
(3) Data halaman
Singkatan p. atau pp., angka, titik. Contoh:
Perlu dicatat bahwa dalam catatan kaki tersebut dipakai bentuk penanggalan militer; urutannya adalah hari—
bulan—tahun, bukan urutan bulan—hari—tahun seperti yang biasa dipergunakan masyarakat umum. Juga, pada data tersebut tidak dicantumkan nomor jilid karena majalah-majalah populer diterbitkan berdasarkan tahun kalender dan dijilid di perpustakaan berdasarkan hal itu. Berikut ini beberapa contoh bagi sumber-sumber lainnya yang mungkin kita temui.
a. Artikel dalam Koran
(Catatan: tidak ada pengarang; col = kolom).
b. Artikel dalam Jurnal
2
Stuart Baur, “First Message from the Planet of the Apes”,
New
Yorker
, 24 Feb. 1975, pp. 30—37.
3
“College Hunt”,
New York Times
, 11 May 1975, p.29, col. 1.
4
Mitchell C. Lynch, “Shaking up the G-Men”,
Wall Street Journal
,
15 May 1975, p.14, cols. 4-6.
6
Zellig S. Harris, “Discourse Analysis”,
in The Structure of
(Catatan: eds = editors; karena Englewood Cliffs tidak begitu terkenal, diikuti oleh singkatan negara bagian).
d. Artikel dalam Majalah Mingguan
(Catatan:
Pengarang tidak disebut).
e. Artikel dalam Majalah Bulanan
9
Betsy Langman and Alexander Cockburn, “Sirhan’s Gun”.
Harper’s
, Jan.
1975, pp. 16–27
(Catatan: Pengarang dua orang).
f. Buku Lebih dari Satu Edisi
10
Hans P. Guth, Words and Ideas, 3 rded. (Belmont, Calif.: Wadsworth,
1969), pp. 326–36.
7
Roger Angell “The Sporting Scence (Baseball)”,
New Yorker
,14
April 1975, pp. 90–95).
8
“Year of the Ear”,
Newsweek
, 19 May 1975,
Buku, edisi suntingan
:
11
William Makepeac Thackeray,
Vanity Fair
:
A Novel Without a Hero
, eds.
Geoffrey and Kathleen Tellotson (Boston: Houghton Mifflin, 1963), p. 89.
g. Buku Terjemahan
12
Miguel de Cervantes,
Don Quixote
, trans. J.M. Cohen (Harmondsworth,
Middlesex: Penguin Books, 1950), p. 916.
h. Buku, Pengarang Dua Orang
13
Christopher Jencks and David Riesman,
The Academic Revolution
(New
York: Doubleday, 1968), pp. 55–59.
i. Laporan Komisi
14
U.S. Commission on Civil Rights,
The Exluded Student
:
Educational
Practics Affecting Mexican-Americans in the Southwest
, Report III
(Washington, D.C.: U.S. Gouvernment Printing Office, 1973), p. 54.
j. Esai dalam Karya-Karya Kumpulan
15
Ralph Waldo Emerson, “Literary Ethics”,
in Works
, ed. James Elliot
(Catatan: Keduabelas jilid tersebut diterbitkan selama tahun tersebut, antara 1883– 1893.
Esai yang dimaksud dalam catatan kaki nomor 15 ini termuat dalam jilid empat (yang ditulis dengan angka Romawi); penunjukan pada halaman 171 (yang ditulis dengan angka Arab) jilid tersebut. (Adelstein and Pival, 1976 : 553–55).
Hal-hal lain yang perlu diperhatikan mengenai bentuk catatan kaki ini adalah sebagai berikut.
a. Nomor
Nomor mengikuti bahan yang dikutip, yang diacu atau yang dikomentari. Nomor itu ditempatkan agak ke atas baris, di belakang semua tanda baca, kecuali garis pisah. Catatan kaki haruslah diberi nomor secara berurutan dalam seluruh karya tersebut.
b. Penempatan
Catatan kaki ditulis di bawah garis pada bagian bawah halaman. Setiap catatan kaki diperlakukan sebagai suatu paragraf terpisah, dimasukkan 5 spasi diawali dengan nomor yang bersangkutan (sedikit berada di atas garis), diikuti oleh catatan yang berspasi tunggal, dan diakhiri dengan titik. Jika catatan kaki ditempatkan pada akhir karya tulis, haruslah ditempatkan pada halaman khusus (halaman terpisah). Jarak antara catatan kaki dan catatan kaki lainnya biasanya dua spasi (atau spasi ganda).
c. Kapitalisasi dalam Judul
d. Judul, Tanda Kutip, dan Huruf Miring
Semua judul mengikuti peraturan yang sama seperti pada bibliografi: judul buku, judul majalah, harian, atau ensiklopedi digarisbawahi atau dicetak dengan huruf miring; judul artikel ditempatkan dalam tanda kutip.
e. Referensi Kedua atau Belakangan
Kalau kita telah menyajikan semua informasi yang dibutuhkan dalam catatan kaki yang pertama bagi suatu sumber, demi kepraktisan tidak perlu lagi kita ulangi seperti catatan kaki yang pertama itu. Cukup kalau kita menulis nama akhir pengarang dan nomor halaman saja, contoh: (Tarigan, p. 17). Kalau kebetulan ada dua pengarang yang mempunyai nama akhir yang sama, kita harus menulis nama mereka secara utuh (Henry Guntur Tarigan, p. 17); dan kalau ternyata pengarang tersebut telah menulis dua atau lebih karya, maka sebaiknya kita mencantumkan nama akhir dan singkatan judul karyanya, contoh: (Tarigan, Membaca, p. 27). Sebagai bentuk pilihan, pada penyebutan kedua dan seterusnya atas sumber yang sama, judul buku dan sebagainya tidak perlu disebut lagi, dan digantikan dengan singkatan: ibid, op.cit, loc.cit.
1. Bentuklah kelompok kecil yang terdiri dari tiga orang.
2. Tentukanlah topik atau gagasan yang akan dikembangkan menjadi karya tulis
3. Buatlah kerangka karangan berdasarkan topik tersebut
4. Kembangkanlah kerangka karangan tersebut menjadi sebuah karya tulis ilmiah
5. Lengkapilah karya tulis tersebut dengan kutipan, daftar pustaka, dan catatan kaki.
MODUL PEMBELAJARAN Standar Kompetensi 5
Kompetensi Dasar
Menganalisis pementasan drama berdasarkan teknik pementasan
Alokasi Waktu
2 jam pelajaran (1 x pertemuan)
Dilaksanakan pada pertemuan ke
Indikator pencapaian hasil belajar: Menentukan tokoh dan perannya
Menentukan konflik dengan menunjukkan data yang mendukung
Menentukan latar
Menentukan tema dengan alasan
Menentukan pesan dengan data yaang mendukung
Mengaitkan isi drama dengan kehidupan sehari-hari
1. Drama
Gerak merupakan unsur penting dalam permainan drama. Terkadang pemain beranggapan hanya melafalkan dialog, setelah itu membisu dan mematung sampai giliran berdialog datang lagi.
Gerak dibedakan atas tiga, yaitu:
1. Gerakan perpindahan (movement)
3. Gerakan kesibukan (business)
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan gerakan:
1. Semua gerakan harus didasarkan atas suatu motivasi dan tujuan membangun dan mempertegas karakter tokoh yang diperankan dan mempersiapkan gerakan berikutnya.
2. Tidak overacting, setiap gerakan harus dilakukan dengan porsi yang wajar sesuai dengan motif tujuan. Tidak semua dialog perlu diiringi dengan gerak karena akan menimbulkan kesan ramai.
3. Gerakan-gerakan kecil yang bermakna perlu dilakukan seperti mengangkat bahu, mengernyitkan dahi dan dilakukan dengan luwes dan pada waktu yang tepat. 4. Saat tidak berdialog pemain bisa melakukan kesibukan untuk membuat
actingnya lebih hidup.
5. Wajah adlah pusat ekspresi dan harus terlihat oleh penonton, jangan membelakangi penonton saat melakukan dialog.
Tata busana juga memiliki fungsi yang sama dengan tata hias
1. Membantu mengidentifikasi.
2. Membantu visualisasi peran, menunjukkan asal-usul dan status sosial tokoh yang diperankan.
3. Menunjukkan waktu peristiwa itu terjadi. 4. Mengekspresikan usia orang itu.
5. Membantu gerak-gerik aktor di pentas.
Panggung ibarat sebuah kanvas dan harus didasari oleh seluruh pemain, pemain harus tahu batas-batas maya area panggung dan dapat menempatkan diri yang tepat, pemain harus memperhatikan komposisi baik pemain, peralatan dan kelompok.
2. Penokohan
a. Metode analitik
Pengarang secara langsung memaparkan watak tokoh denan jalan menyebutkan sifat-sifat atau tokoh-tokohnya. Misalnya: keras hati, keras kepala, sombong, pemalu, rendah hati, pengiba.
Contoh:
Ki Sardodoh, mulanya seorang pengguna di Kadipaten. Seorang lelaki yang gagah dan sakti, tetapi justru karena kesaktiannya itulah ia menjadi kesurigaan dengan adipati yang selalu membayangkan suatu saat Ki Sardodoh akan mendorong kewibawaannya.
Dari kutipan cerpen tersebut, tokoh Ki Sardodoh, sifat-sifatnya digambarkan secara langsung oleh pengarang yaitu seorang laki-laki yang mempunyai sifat gagah dan berani.
b. Metode dramatik
Penggambaran watak tokoh yang tidak diceritakan secara langsung pengarang, tetapi disampaikan melalui hal-hal berikut.
Pilihan nama
Contoh:
Saya juga mengurangi nongkrong di warung Pak Mbedol lebih baik duduk di rumah, meski saya justru kian merasa gelisah karena jadi kepikiran nasib Kang Kurta…
Melalui pilihan nama Pak Mbedol dapat diketahui bahwa tokoh tersebut adalah sebagai orang desa yang sederhana, bukan pejabat demikian juga nama Kang Kurta. Melalui kedua tokoh tersebut pilihan namanya dapat diketahui bahwa mereka berasal dari salah satu suku dengan kehidupan yang sederhana…
Penggambaran fisik (misalnya cara berpakaian, postur tubuh, reaksi antar tokoh) contoh:
Dari gambaran di atas, dapat disimpulkan bahwa tokoh di atas bersifat jahat.
Penggambaran melalui cakapan (baik dialog maupun monolog) Contoh:
“ Oo, kau marah, Pak Tua? Ah, sudah tua suka marah-marah!”
“Huss! Apakah kau anggap aku ini pak tuamu?’
“Aku bukan kangmasmu!” bentak kakek-kakek itu lagi.
“Oo, iya! Tentunya aku harus memanggilmu mbah, ya! Aku lupa, sungguh. Tapi sebetulnya awal tadi telah aku ingatkan jika aku bersalah. Siapa bersalah wajib
diingatkan. Jika tidak demikian? Coba gambarkan, betapa banyak kesalahan yang akan kuperbuat selanjutnya.”
Kakek itu tertunduk. Wajahnya berubah terang. Lalu bicara dengan suara yang tak berdaya. “Betulkah bicaramu? Aku sudah tampak sangat tua?”
“Mengapa?”
“Pantas kau panggil mbah?”
“Hi-hi-hi! Pertanyaanmu itu! Kau sekarang kentara sekali merasa sedih! Mengapa? Apakah karena umurmu yang lanjut, apa karena tidak tahu bahwa kau sudah tua?”
“Jangan bersenda gurau, Kenes, aku betul-betul bertanya!”
Dari percakapan di atas, jelas bahwa kakek mempunyai sifat mudah marah, tidak menyadari usianya.
Tokoh dalam sebua cerita dapat dibagi tiga:
1. tokoh protagonis, merupakan tokoh yang berwatak baik, tokoh utama dalam cerita.
Pilihlah satu jawaban yang kamu anggap benar untuk pertanyaan berikut ini.
1. Di bawah ini merupakan gerakan yang terdapat dalam drama, kecuali….
a. gerakan perpindahan (movement)
b. gerakan anggota tubuh (gesture)
c. gerakan fisik
d. gerakan kesibukan (business)
e. gerakan ekspresi
2. Yang tidak termasuk fungsi ucapan adalah….
a. untuk menyampaikan informasi tentang sifat dan perasaan tokoh
b. untuk melakukan ucapan tidak perlu keras dan dapat didengar dengan jelas
c. pemain bisa mengatur dan mengendalika pernafasan
d. pemain harus memperhatikan tingkah laku
e. kata-kata yang dilafalkan tepat akan terdengar jelas perbedaan bunyinya
a. sebagai penerang di panggung waktu acara berlangsung
b. memberikan efek alamiah
c. memberi variasi
d. mengembangkan maksud dengan memperkuat kejiwaan
e. semuanya benar
4. Fungsi tata busana dalam drama adalah….
a. menunjukkan waktu peristiwa
b. mengekspresikan usia tokoh
c. membantu gerak-gerik aktor di pentas
d. membantu mengidentifikasi
e. terjadinya konflik
MODUL PEMBELAJARAN Standar Kompetensi 6
Memerankan tokoh dalam pementasan drama
Kompetensi Dasar
Alokasi Waktu
6 jam pelajaran (3 x pertemuan)
Dilaksanakan pada pertemuan ke
Indikator pencapaian hasil belajar:
Memerankan drama disertai gerak-gerik yang tepat
Memmerankan drama dengan lafal, intonasi, nada yang jelas
Mengekspresikan watak tokoh dengan mimik yang tepat
Sebagai karya sastra, naskah drama adalah karya seni dengan media bahasa kata. Drama adalah semua bentuk tontonan yang mengandung cerita yang dipertunjukkan di depan orang banyak dan mengangkat kisah hidup manusia dalam masyarakat yang diproyeksikan ke atas panggung.
Untuk dapat membawakan dialog drama dengan baik, pelaku harus dapat melakukan hal-hal sebagai berikut.
1. Mengucapkan dialog dengan lafal yang jelas
2. Membaca dialog dengan memperhatikan volume suara 3. Membaca dialog dengan tekanan yang tepat
Agar dapat memerankan pelaku dengan baik, beberapa hal yang harus diperhatikan.
1. Konsentrasi atau pemusatan perhatian
2. Ingatan emosi
4. Pembangunan watak
5. Observasi atau pengamatannya terhadap aspek kehidupan dalam naskah drama
6. Irama
Pada pementasan drama, selain para pemain masih ada unsur uang terlibat, seperti sutradara, tata musik, tata panggung, dan tata busana (kostum).
1. Latihan Dasar
Karya seni sang aktor diciptakan melalui tubuh, suara, dan jiwanya sendiri. Hasilnya berupa peragaan cerita yang ditampilkan di depan penonton. Oleh karena itu, seorang aktor yang baik adalah seorang seniman yang mampu memanfaatkan potensi dirinya. Potensi diri itu dapat diperinci menjadi: potensi tubuh, potensi dria, potensi akal, potensi hati, potensi imajinasi, potensi vokal, dan potensi jiwa. Kemampuan memanfaatkan potensi diri itu tentu tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus dengan giat berlatih. Pelatihan dasar berikut ini dapat dilakukan oleh calon aktor.
a. Potensi Tubuh
Tubuh harus bagus dan menarik. Arti bagus dan menarik di sini bukan wajah harus tampan atau cantik. Hal yang dimaksud adalah tubuh harus lentur, sanggup
memainkan semua peran, dan mudah diarahkan. Latihan dasar untuk melenturkan tubuh, antara lain sebagai berikut.
1. Latihan tari supaya aktor mengenal gerak berirama dan dapat mengatur waktu. 2. Latihan samadi supaya aktor mengenal lebih dalam artinya diam; merenung
secara insani.
3. Latihan silat supaya aktor mengenal diri dan percaya diri. 4. Latihan anggar untuk mengenal arti semangat.
5. Latihan renang agar aktor mengenal pengaturan napas.
b. Potensi Dria
Dria adalah semua pancaindra: penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan pengecap. Semua perlu dilatih satu per satu supaya peka. Cara melatihnya, melalui dria ganda. Artinya, suatu pengindraan disertai pengindraan yang lain. Misalnya, melihat sambil mendengarkan.
Seorang aktor harus cerdik dan tangkas. Kecerdikan dan ketangkasan itu dapat dipunyai kalau ia terbiasa menggunakan akal, antara lain dengan kegiatan membaca dan berolahraga. Tentu saja olahraga yang dimaksud adalah olahraga yang
berhubungan dengan pikiran seperti catur, halma, bridge, atau teka-teki silang.
d. Potensi Hati
Hati merupakan landasan perasaan. Perasaan manusia amat beragam dan silih berganti. Kadang-kadang senang dan tertawa, kadangkadang sedih dan meratap. Semua berurusan dengan hati. Oleh karena itu, melatih hati sebenarnya melatih kepekaan perasaan. Jika perasaan seseorang peka, ia dapat merasakan apa yang datang dalam suasana batinnya dengan cepat dan dengan cepat pula ia dapat memberikan reaksi.
e. Potensi Imajinasi
Akting baru mungkin terjadi apabila dalam hati ada kehendak. Kehendak (niat) itu harus dilengkapi imajinasi (membayangkan sesuatu). Menyuburkan imajinasi dalam diri dapat dilakukan dengan sering mengapresiasi puisi dan mengapresiasi lukisan.
f. Potensi Vokal
Aktor mengucapkan kata-kata yang dirakit menjadi kalimatkalimat untuk
mengutarakan perasaan dan pikirannya. Kata-kata diucapkan dengan mulut. Jadi, mulut menghasilkan suara. Suara dari mulut yang membunyikan kata-kata itu disebut vokal. Aktor harus mempunyai vokal kuat agar kata-kata yang diucapkan jelas. Latihan dasar untuk menguatkan vokal antara lain dengan deklamasi dan menyanyi.
g. Potensi Jiwa
Seorang aktor harus mampu memerankan tokoh dengan penjiwaan. Artinya, ia harus berusaha agar jiwanya melebur dalam tokoh yang diperankan. Penjiwaan ini dapat dibangkitkan lewat pengalaman dan pengamatan. Misalnya, seorang tokoh dapat memerankan tokoh sedih atau menangis tersedu-sedu dengan penuh penghayatan karena dia berpengalaman merasakan sedih atau pernah mengamati orang bersedih. Oleh karena itu, sebaiknya aktor banyak melakukan pengamatan masalah kehidupan untuk menambah pengalaman.
1. Buatlah kelompok secara berpasangan (laki-laki dan perempuan).
2. Perankanlah penggalan naskah drama berikut disertai gerak-gerik dan mimik sesuai dengan watak tokoh.
Tumbang
Perempuan : Hantu?
Lelaki : (bangkit, memegang bahu perempuan itu dan melepaskannyalagi) Tidak, tidak, kau bukan hantu. Cumaaku, aku saja.
Perempuan : Apa maksudmu?
Lelaki : (ketawa kecil). Ah, tidak apa-apa Tidak apa-apa, Dik.
Perempuan : Kau tidak senang melihat aku?
Lelaki : Bukan begitu. Aku senang kau datang kemari. Mana tempatmu?
Perempuan : Tempatku jauh….
Lelaki : Jauh? Di…. di sana? (menuding ke atas). Berapa kali bumi ini jauhnya?
Perempuan : (tercengang) Mas.Omongmu tidak karuan!
Lelaki : Di neraka atau di sorga?
Perempuan : (marah) Rupanya kau sudah menjadi gila! Neraka atau sorga, katamu? Di sorga tak mungkin. Sebab kaulah yang menghalang-halangi aku untuk pergi ke situ kelak. Kaulah yang menyeret aku ke neraka!
Lelaki : Benar…. benar, Dik. (berjalan ke kursi, duduk, matanya nanar memandang ke satu jurusan).
Perempuan : Bukankah salahmu melulu, bahwa penghidupan kita ibarat neraka? Sehingga aku lari dari padamu, setahun yang lalu?
Lelaki : (bertopang dagu) Ya, ya Dik. Maaf, maaflah.
Perempuan : (lunak kembali) Mas, bukan maksudku untuk membalas dendam.
Lelaki : (mengangguk) Kutahu, Dik, kutahu baik hatimu. Semuanya ini salahku. Penderitaan orangtuaku. Sengsaramu. Semua aku yang menyebabkannya. Aku penjudi, peminum, penjahat, duh! Cinta kasih orang tua dan cinta kasihmu, betapa aku membalasnya? Harta benda orang tua habis lenyap karena aku. Habis dengan judi dan minum. Kusakitkan hati ayahku, kusedihkan ibuku. Dan kau Dik, (Memandang
perempuan muda. itu) betapa aku membalas kebaikanmu? Dengan malas, dengan
minum, brendi berbotol-botol yang kubeli dengan uangmu! Kau yang selalu kerja keras, aku yang menghabiskan uangmu, aku yang menyayat hatimu, menyiksa jiwamu! Maaf, maaf, Dik!
Perempuan : Biarlah, itu sudah lampau. Sekarang aku sudah bisa mendapat mata pencaharianku sendiri. Tapi kau sendiri? (melihat di sekitarnya). Kau kekurangan segalanya, Mas.
Lelaki : Hukumanku, Dik, biarlah. Ini sudah setimpal.
Perempuan : Kalau mau, aku bisa menolong….. (membuka tasnya).
Lelaki : (cepat) Ah tidak! Tidak. Terima kasih, Dik.
Perempuan :Tak usah malu-malu, Mas. Kuberikan dengan relahati.
dengan apa? Dengan muka masam, kekasaran dan penghinaan. Ah, betapa sering kuhina kau, Dik? Betapa sering kulemparkan cacian ke mukamu bahwa kau bera