Sumber Kebahagiaan Hidup
Oleh Dzulqarnain M. Sunusi
(Pengasuh Pesantren As-Sunnah Makassar)
Disampaikan pada Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1440 H di Hutan Kota Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan
ميحرلا نمحرلا الله مسب
َو ،ُهُر ِفْغَت ْس
َنَو ُهُنْيِعَت ْسَنَو ُهُدَمْحَن ،ِلله َدْمَحْلا َّنِإ
اَن ِس ُفْن
أ ِر ْوُر
َ
ُش ْنِم ِللهاِب ُذْوُعَن
، ُه
ل َي ِدا َه
َ
لَ َف ْل ِل ْضُي ْن َم َو ،ُه
َ
ل َّل ِض ُم
َ
لَ َف ُالله ِدْه َي ْن َم ،اَنِلا َمْع
َ
أ ِتاَئِ ي َسَو
َ
ُه
ل ْو ُس َر َو ُه ُدْب َع ا ًد َّم َح ُم َّن
ُ
أ ُد َه ْش
َ
أ َو ُالله َّلَِإ
َ
َهَلِإ َلَ ْنَأ ُدَه ْشَأَو
.
ي ِذ
َّلا اَهُّيَأ اَي
َنو ُم ِل ْس ُم ْمُتْن
أ َو َّلَ ِإ َّن
َ
ُتوُمَت َلََو ِهِتاَقُت َّقَح َالله اوُقَّتا اوُنَمآ َن
.
ا َه َج ْوَز ا َهْن ِم َق
َلَخَو ٍةَد ِحاَو ٍسْفَن ْنِم ْمُكَقَلَخ يِذَّلا ُمُكَّبَر اوُقَّتا ُساَّنلا اَهُّيَأ اَي
او ُقَّتا َو ًءا َسِنَو اًريِث
َك ًلَاَجِر اَمُهْنِم َّثَبَو
َالله َّن ِإ َما َحْر
لْا َو ِهِب
َ ْ
َنوُلَءا َسَت ي ِذَّلا َالله
اًبيِقَر ْم
ُكْيَلَع َناَك
.
ْم ُك
لا َم ْع
َ
أ ْم ُك
َ
ل ْح ِل ْصُي .ا ًدي ِد َس
َ
ًلَْوَق اوُلوُقَو َالله اوُقَّتا اوُنَمآ َني ِذَّلا اَهُّيَأ اَي
َق َف ُه
لو ُس َر َو َالله ِع ِطُي
َ
ْنَمَو ْمُكَبوُنُذ ْمُكَل ْرِفْغَيَو
ا ًمي ِظَع ا ًز ْو
َف َزاَف ْد
.
ُدـْعَب ا َّم
أ
َ
..
ِهْي
َلَع ُالله َّلَص ٍدَّمَحُم ُيْدَه ِيْدَهْلا َرْيَخَو ،ِالله ُم َلََك ِثْيِدَحْلا َقَدْصَأ َّنِإَف
َّل ُكَو ، ٌة
ل
َ
لَ َض ٍةَع ْدِب َّل
َ
ُكَو ، ٌةَع ْدِب ٍةَثَدْحُم َّلُكَو ،اَهُتاَثَدْحُم ِرْوُمُ ْلْا َّر َشَو ،َمَّل َسَو
ِراَّنلا ي ِف ٍة
ل
َ
لَ َض
َ
.
Kaum muslimin dan muslimat jamaah shalat Id yang berbahagia, Marilah kita selalu memuji Allah dan menyanjung-Nya, mensyukuri dan membesarkan-Nya atas segala curahan karunia dan nikmat,
ُهوُمُتۡلَأ َس اَم ِ لُك نِ م مُكٰىَتاَءَو
ا َهو ُص ْحُت
لَ ِالله َت َمْعِن او ُّدُع
َ
َت ْن
ِإ
َو
“Dan Dia telah memberikan kepada kalian segala apa yang kalian mohonkan kepada-Nya. Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kalian membilangnya.” [Ibrahim: 34]
Berbagai keutamaan dan keistimewaan telah kita lalui selama bulan Ramadhan hingga Allah menyempurnakan nikmat-Nya untuk kita umat Islam dengan hari yang agung ini, hari Idul Fitri yang merupakan salah satu simbol agung dari rahmat dan kebesaran agama Islam,
َم ْحَرِبَو ِالله ِل
ْضَفِب ْلُق
َنوُع َم ْجَي ا َّم ِم ٌرْي
َخ َوُه اوُحَرْفَيْلَف َكِلَذِبَف ِهِت
.
“Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik daripada sesuatu yang mereka kumpulkan.’.” [Yunus: 58]
Kaum muslimin dan muslimat yang Saya muliakan,
Jika ada sebuah nikmat yang harus kita syukuri dan harus selalu kita ingat, maka nikmat itu adalah nikmat keislaman yang telah Allah memilih kita sebagai penganutnya dan memuliakan kita dengan berbagai tuntunan dan kebaikannya,
روُن ِ َّللَّٱ َن ِ م م
ُكَءۤاَج ۡدَق
ࣱ
ب
ـَت ِكَو
ٰ
ࣱ
ٌنيِب ُّم
.
َو ۡضِر َعَب
َّتٱ ِنَم ُ َّللَّٱ ِهِب یِدۡهَي
‘
ُهَن
َلُب ُس ۥ
َر ِص ٰى
ل ِإ ۡم ِهي ِدۡه َيَو ۦ ِهِن
َ
ۡذِإِب ِروُّنلٱ ىَلِإ ِتٰـَمُلُّظلٱ َنِ م مُهُجِرۡخُیَو ِمٰـَل َّسلٱ
‘
ط
ࣲ
ِقَت ۡس ُّم
ٍمی
“Sungguh, telah datang kepada kalian cahaya dari Allah, dan Kitab yang menjelaskan. Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan ke jalan yang lurus.” [Al-Ma`idah: 15-16]
َی
َ
أ
ـ ُّي
ٰۤ
ا َه
ٱ
ُساَّنل
ٌة
ظ ِعۡو َّم م
َ
ُكۡتَءۤاَج ۡدَق
ٌءۤا َف ِش َو ۡم
ُك
ِ
بَّر نِ م
ِف ا
َ
لّ
ِ
ی
ٱ
ِرو ُد ُّصل
ًد ُه َو
ى
ٌة َم ۡح َر َو
ِنِم ۡؤ ُم
ۡلِ ل
ي
َن
“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepada kalian pelajaran (Al-Qur`an) dari Rabb kalian, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” [Yunus: 57]
Kita juga bersyukur kepada Allah yang telah menjadikan agama ini sebagai sumber kebahagiaan dan rahmat untuk seluruh makhluk,
ِن َم
َف
َعَبَّتا
َيا َد ُه
َ
لَ َف
ُّل ِضَي
َ
لََو
َق ْشَي
ى
“Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan sengsara.” [Thaha: 123]
Firman Allah Ta’ala tentang Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam,
َنيِ
لّاَعْل ِل
َ
ًةَمْحَر َّلَِإ َكاَنْل َسْرَأ اَمَو
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [Al-Anbiya`: 107]
ٰۤى َق ۡشَت ِل َنا َء ۡر ُق
لٱ َكۡیَل َع اَن
ۡ
لَزن
ۡ
أ ۤا َم
َ
“Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah.” [Thaha: 2]
Kaum muslimin dan muslimat yang semoga selalu dirahmati oleh Allah
Ta’ala,
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan sumber pokok kebahagiaan hidup dalam firman-Nya,
ًح ِل
ـ َص َل ِمَع ۡن َم
ٰ
ٍر
َكَذ نِ م ا
ٌن ِمۡؤ ُم َو ُه َو ٰى
َثنُأ ۡوَأ
ٍة ٰوَی َح ۥُهَّنَیِی ۡح
ُنَلَف
ٍةَبِ ی
ط
َ
َر ۡج
أ ۡم ُهَّنَیِز ۡج
َ
َنَلَو
َنوُل َمۡعَی ۟اوُناَك ا َم ِن َس ۡح
أِب م ُه
َ
“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl: 97]
Dua asas dalam kebahagiaan hidup: Pertama, keimanan kepada Allah. Kedua, beramal dengan amalan shalih.
Dua asas ini merupakan ajaran seluruh nabi dan rasul serta simbol agama yang mereka sampaikan kepada manusia.
Keimanan adalah keyakinan hati yang diucapkan dengan lisan dan disertai amalan perbuatan, mencakup berbagai cabang keimanan. Pokoknya adalah keimanan kepada Allah, kepada malaikat, kitab-kitab, para rasul, dan hari akhirat, serta keimanan kepada takdir baik dan takdir buruk.
Juga, ketulusan dan kemurnian ibadah adalah bersih dari noda kesyirikan sebagaimana firman Allah Ta’ala,
َنو ُدَت ْه ُم ْم ُه َو ُن ْم
لْا ُم ُه
َ ْ
ل َكِئ
َ
لو
َ
أ ٍم
ُ
ْلُظِب ْمُهَناَميِإ او ُسِبْلَي ْمَلَو اوُنَمآ َنيِذَّلا
.
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezhaliman (kesyirikan), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al-An’am: 82]
َب ْم ِهْي
َلَع اَنْحَتَفَل اْوَقَّتاَو اوُنَمآ ىَرُقْلا َلْهَأ َّنَأ ْوَلَو
ِضْر
لْا َو ِءا َم َّسلا َن ِم ٍتا
َ ْ
َكَر
َنوُب ِس
ْكَي اوُناَك اَمِب ْمُهاَنْذَخَأَف اوُبَّذَك ْنِكَلَو
.
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit
dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu maka Kami menyiksa mereka disebabkan oleh perbuatan mereka.” [Al-A’raf: 96] Amalan shalih adalah ketaatan yang dibangun di atas keikhlasan dan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana firman Allah Subhanahu,
ۤا َم َو
ٱ ۟او ُدُبۡعَی ِل
َّلَِإ ۟اۤوُرِمُأ
َلله
َةٰوَل َّصلٱ ۟او ُمی ِقُیَو َء
ۤاَفَنُح َنی ِ دلٱ ُهَل َني ِصِلۡخُم
ٱ ۟اوُت ۡؤُی َو
َة ٰوَكَّزل
َذ َو
َك ِل
ِد
ِة َمِ ی
َقۡلٱ ُنی
“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” [Al-Bayyinah: 5]
Allah Ta’ala berfirman pula,
ًتيِب
ْثَت َّد َشَأَو ْمُهَل اًرْيَخ َناَكَل ِهِب َنوُظَعوُي اَم اوُلَعَف ْمُهَّنَأ ْوَلَو
ْن ِم ْم ُهاَنْيَت
لَ ا ًذِإَو .ا
َ
ا ًمي ِقَت ْس ُم اًطاَر ِص ْمُهاَنْيَدَهَلَو .اًمي ِظَع اًرْجَأ اَّنُدَل
.
“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (keimanan mereka), dan kalau demikian, Kami pasti memberikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan Kami pasti memberi petunjuk kepada mereka menuju jalan yang lurus.” [An-Nisa`: 66-68]
Jamaah shalat Idul Fitri yang berbahagia,
Di antara pokok kebahagiaan hidup adalah menjawab segala seruan Allah dan Rasul-Nya,
او ُمَل ْعا َو ْم ُكيِي ْحُي ا
َ
ِلّ ْم
ُكاَعَد اَذِإ ِلو ُسَّرلِلَو َِّ ِللَّ اوُبي ِجَت ْسا اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّيَأ اَي
َنوُر َش ْحُت ِهْي
ل ِإ
َ
ُهَّنَأَو ِهِبْلَقَو ِءْرَْلّا َنْيَب ُلوُحَي َالله َّنَأ
.
“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan rasul apabila dia menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan.” [Al-Anfal: 24]
Menjawab seruan Allah dan Rasul-Nya itulah kehidupan yang sebenarnya, sedangkan berpaling dari hal tersebut itulah kematian dalam kehidupan,
َنوُع َجْرُي ِهْي
ل ِإ َّم
َ
ُث ُالله ُمُهُثَعْبَي ىَتْوَ ْلّاَو َنوُعَم ْسَي َني ِذَّلا ُبي ِجَت ْسَي اَمَّنِإ
.
“Hanya mereka yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang (teranggap) mati, akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepada-Nyalah mereka dikembalikan.” [Al-An’am: 36] Juga, di antara pokok kebahagiaan hidup adalah meninggalkan segala dosa dan maksiat.
Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,
ِخ ْدُنَو ْم
ُكِتاَئِ ي َس ْمُكْنَع ْرِ فَكُن ُهْنَع َنْوَهْنُت اَم َرِئاَبَك اوُبِنَتْجَت ْنِإ
ًلَ َخ ْد ُم ْم ُكْل
ا ًميِر
َك
.
“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang dikerjakan terhadap kalian, niscaya Kami menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke tempat yang mulia (surga).” [An-Nisâ`: 31]
Namun, sangat disayangkan bahwa, pada hari-hari ini, kita melihat banyak dari kaum muslimin yang meremehkan dosa, seakan dosa itu bukanlah ancaman yang bisa menghancurkan kehidupan seorang hamba.
َ
أ َن ْوُل َمْعَت
ل ْم ُكَّن ِإ
َ
ى َلَع ا َه ُّدُعَن
ل اَّن ُك ْن ِإ ِرْع
َ
َّشلا َنِم ْمُكِنُيْعَأ ْيِف ُّقَدَأ َيِه ًلَاَمْع
ِتا َقِبْو
ُ ْلّا َنِم َمَّل َسَو ِهْيَلَع ُالله ىَّلَص ِالله ِلْو ُسَر ِدْهَع
“Sungguh kalian mengerjakan amalan-amalan yang, di mata kalian, seperti rambut, padahal kami, pada masa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, menganggap (amalan) tersebut sebagai hal yang membinasakan.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry]
Di antara dosa yang banyak diremehkan oleh manusia adalah perbuatan kesyirikan, seperti berdoa kepada selain Allah, meminta hajat kepada penghuni kubur, menyembelih untuk selain Allah, dan mendatangi tempat-tempat yang dikeramatkan.
Kesyirikan adalah penghancur kenikmatan dan dosa terbesar yang akan mengakibatkan pelakunya kekal di dalam neraka. Allah Subhânahu mengingatkan,
ْن ِم َنيِِلّاَّظلِل اَمَو ُراَّنلا ُهاَوْأَمَو َةَّنَجْلا ِهْيَلَع ُالله َمَّرَح ْدَقَف ِللهاِب ْكِر ْشُي ْنَم ُهَّنِإ
ٍرا َص
ْنَأ
“Sesungguhnya, barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, pasti Allah mengharamkan surga kepadanya, sedang tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim itu.” [Al-Mâ`idah: 72]
Allah ‘Azza wa Jalla juga menegaskan,
ي ِف ُحيِ رلا ِهِب يِوْه َت ْو
أ ُرْيَّطلا ُه ُف
َ
ط ْخَتَف ِءا َم َّسلا َن ِم َّر
َ
َخ اَمَّنَأَكَف ِللهاِب ْكِر ْشُي ْنَمَو
ٍقي ِح َس ٍنا
َكَم
“Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh.”[Al-Hajj: 31]
Termasuk dosa yang banyak diremehkan adalah mendatangi dukun-dukun dan memercayai paranormal, padahal Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
ٍد َّم َح ُم ى
َلَع َلِزْنُأ اَمِب َرَفَك ْدَقَف ،ُلوُقَي اَمِب ُهَقَّدَصَف ،اًفاَّرَع ْوَأ ،اًنِهاَك ىَتَأ ْنَم
“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau paranormal, lalu membenarkan ucapan (dukun atau paranormal) itu, sungguh dia telah kafir terhadap (risalah) yang diturunkan kepada Muhammad.” [Dikeluarkan oleh Ahmad dan Hâkim. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Irwâ`ul Ghalîl 7/69-70]
Juga, di antara deretan dosa yang disepelekan adalah sebagaimana keadaan sebagian kaum muslimat yang menanggalkan jilbab dan mengikuti pakaian perempuan-perempuan kafir. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan,
َنوُبِر ْضَي ِر
َقَبْلا ِباَنْذَأَك ٌطاَي ِس ْمُهَعَم ٌمْوَق ،اَمُهَرَأ ْمَل ِراَّنلا ِلْهَأ ْنِم ِناَفْن ِص
ِة َمِن ْس
أَك َّن ُه ُسو ُء ُر ، ٌت
َ
لَِئا َم ٌت
َ
لَي ِم ُم ٌتاَيِراَع ٌتاَي ِسا
َ
َك ٌءا َسِنَو ، َساَّنلا اَهِب
َ
لََو ، َةَّن َج
لا َنْل ُخ ْدَي
ْ
لَ ، ِة
َ
َلِئاَْلّا ِتْخُبْلا
ْن ِم ُد َجوُي
ل ا َه َحيِر َّنِإَو ،اَه
َ
َحيِر َن ْد ِجَي
ا َذ َكَو ا َذ َك ِةَري ِس َم
“Dua golongan dari penduduk neraka, yang aku belum pernah melihat keduanya: suatu kaum yang membawa cambuk-cambuk seperti ekor-ekor sapi, dia memukul manusia dengan (cambuk-cambuk) itu, dan para perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, menyesatkan orang lain, bersisir seperti pezina, kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring. Mereka tidak akan dimasukkan ke dalam surga dan tidak akan mencium bau (surga), padahal bau (surga) bisa dicium dari jarak begini dan begini.” [Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu]
Kaum muslimin dan muslimat, jamaah shalat Id yang berbahagia, Di antara sumber kebahagiaan yang dibawa oleh agama ini adalah menjaga persatuan dan kebersamaan serta meninggalkan segala perpecahan sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,
ْمُتْن ُك ْذ ِإ ْم
ُكْيَلَع ِ َّاللَّ َتَمْعِن اوُرُكْذاَو اوُقَّرَفَت َلََو اًعيِمَج ِ َّاللَّ ِلْبَحِب اوُم ِصَتْعاَو
ْحَب ْص
أَف ْم ُكِبو
َ
ُلُق َنْيَب َفَّلَأَف ًءا َدْعَأ
ٍةَر ْف ُح ا َف َش ى
َلَع ْمُتْنُكَو اًناَوْخِإ ِهِتَمْعِنِب ْمُت
. َنو ُدَت ْه َت ْم ُكَّلَع
ل ِهِتاَيآ ْم
َ
ُكَل ُ َّاللَّ ُنِ يَبُي َكِلَذَك اَهْنِم ْمُكَذَقْنَأَف ِراَّنلا َنِم
“Dan berpeganglah kalian semua kepada tali (agama) Allah, janganlah kalian bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika dahulu (pada masa Jahiliyah) kalian bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian orang-orang yang bersaudara karena nikmat Allah; juga kalian telah berada di tepi jurang neraka, tetapi Allah menyelamatkan kalian dari (neraka) itu. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar kalian mendapat petunjuk.” [Ali ‘Imran: 103]
Salah seorang pemimpin umat Islam sekaligus alim terpercaya yang pernah hidup pada masa dahulu: Imam Sahl bin Abdillah At-Tastury (wafat 283 H) pernah berucap kalimat yang layak ditulis dengan tinta emas. Beliau bertutur,
ا َم ٍرْي
َخِب ُساَّنلا ُلاَزَي َلَ
َنْي َذ َه او ُمَّظَع ا َذ ِإ
َف ؛ َءاَمَلُعْلاَو َناَطْل ُّسلا اوُمَّظَع
ْم ُهاَر ْخ
أ َو ْم ُهاَيْن ُد َد ِس
ُ
ْفُأ َنْي َذَهِب اوُّفَخَت ْسا اَذِإَو ، ْمُهاَرْخ
أ َو ْم ُهاَيْن ُد ُ َّاللَّ َح َل ْص
ُ
أ
َ
.
“Manusia akan terus menerus berada di atas kebaikan selama mereka masih mengagungkan sulthan dan ulama. Tatkala mereka mengagungkan keduanya, Allah akan memperbaiki dunia dan akhirat mereka. Namun, apabila mereka menghinakan keduanya, mereka telah merusak dunia dan akhirat mereka sendiri.” [Tafsîr Al-Qurthuby] Maka di tengah umat, ada dua komponen yang wajib dijaga di tengah umat agar terjaga pula kebersamaan dan kesatuan mereka:
Yang pertama, menghormati pemimpin.
Adanya pemimpin di tengah manusia adalah anugerah dari Allah dan terdapat hikmah besar di belakang hal tersebut. Allah Subhânahu wa
Ta’âlâ mengingatkan,
ٍل ْض
َف وُذ َ َّاللَّ َّنِكَلَو ُضْرَ ْلْا ِتَد َسَفَل ٍضْعَبِب ْمُهَضْعَب َساَّنلا َِّاللَّ ُعْفَد َلَْوَلَو
َنيِ
لّاَع
َ
لا ى َلَع
ْ
“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.”
[Al-Baqarah: 251]
Oleh karena itu hargailah dan muliakan pemimpin kalian sebagaimana perintah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallamakan hal tersebut,
َر ْك
أ ْن َم
َ
َنا
طْل ُس َنا َه
َ
أ ْن َم َو ، ِة َماَي ِق
َ
لا َم ْوَي ُالله ُه َمَر ْك
ْ
أ ،اَيْن ُّدلا ي ِف ِالله َنا
َ
طْل ُس َم
َ
ِة َماَي ِق
لا َم ْوَي ُالله ُهَنا َه
ْ
أ ، اَيْن ُّدلا ي ِف ِالله
َ
“Barangsiapa yang memuliakan sulthan Allah di dunia, Allah akan memuliakannya pada hari kiamat. (Namun) barangsiapa yang menghinakan sulthan Allah di dunia, Allah akan menghinakannya pada hari kiamat.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya]
Juga Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda,
َو َكَر ْه
ظ َبَر َض ْنِإَو ِر
َ
ْيِمَ ْلِْل ُعْي ِطُتَو ُعَم ْسَت
ْع ِط
أ َو ْع َم ْسا َف َك
َ
لا َم َذ َخ
َ
أ
َ
“Kamu mendengar dan menaati penguasa, walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu, maka dengar dan taatlah.” [Diriwayatkan oleh Muslim dari Hudzaifah radhiyallâhu ‘anhu]
Bukan hal terlarang memberi nasihat kepada penguasa, tetapi sampaikan nasihat dengan jelas dan baik langsung kepada yang bersangkutan secara pribadi, sebagaimana sabda Nabi shallallâhu
ِدَيِب
ُذُخْأَي ْنِكَلَو ،ًةَيِن َلََع ِهِدْبُي َلََف ٍناَطْل ُس يِذِل َح َصْنَي ْنَأ َداَرَأ ْنَم
وُل ْخَيَف ِه
ِهْي
َلَع ي ِذَّلا ىَّدَأ ْدَق َناَك َّلَ
ِإ
َو ، َكا َذَف ُهْنِم َلِبَق ْنِإَف ، ِهِب
“Barangsiapa yang menasihati penguasa, janganlah dia
menampakkan (nasihat itu) secara terang-terangan, tetapi hendaknya dia mengambil tangan (penguasa tersebut) dan berduaan dengannya. Kalau (sang penguasa) menerima, itulah (yang diinginkan). Akan tetapi, jika (sang penguasa) menolak, dia telah menunaikan kewajibannya.”[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Âshim, Hâkim, dan
Al-Baihaqy]
Nasihat itu bukanlah dengan cara ribut-ribut dan berteriak-teriak di jalan dan menzhalimi manusia. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi
wasallam mengingatkan,
ُه
ل َدا َه ِج
َ
لََف اًن ِم ْؤ ُم ى
َ
َذآ ْوَأ اًقْيِرَط َعَطَق ْوَأ ًلَِزْنَم َقَّيَض ْنَم
“Siapa saja yang mempersempit tempat singgah (seseorang), memutus jalan, atau mengganggu seorang mukmin, maka tidak ada jihad baginya.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan selainnya dari Mu’âdz bin Anas radhiyallâhu ‘anhu]
Yang kedua, menghormati ulama.
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda,
اَنِِلّاَعِل
ْفِرْعَيَو ،اَنَريِغَص ْمَحْرَيَو ،اَنَريِبَك َّل ِجُي ْمَل ْنَم يِتَّمُأ ْنِم َسْيَل
“Bukanlah dari umatku, orang yang tidak menghormati orang tuanya, (tidak) merahmati orang mudanya, dan (tidak) mengenal hak orang berilmu di kalangan kami.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Hâkim]
Pada lisan ulama, terdapat hujjah dan argumen dari Al-Qur`an dan As-Sunnah yang bisa menundukkan hati dan jiwa, sesuatu yang kaddang tidak bisa ditundukkan oleh pedang dan senjata. Oleh karena itu,
seluruh kata “Sulthan” di dalam Al-Qur`an ditafsirkan oleh para ulama berkaitan dengan ilmu agama.
Namun, ketahuilah bahwa bukanlah dari ulama, siapa saja yang menjual ilmu untuk dunia yang hina atau menjilat kepada siapapun di antara manusia. Juga, tidak ada di dalam sejarah, dari kalangan shahabat, tabi’in, Imam Empat, dan selainnya, ada ulama yang mencela dan menghina penguasa, apalagi melakukan demonstrasi, perlawanan, dan kudeta.
Bahkan, para ulama membimbing umat untuk menjadi manusia terbaik dengan bimbingan ilmu mereka. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi
wasallam bersabda,
ُه َمَّل َع َو َنآْر ُق
لا َمَّلَعَت ْن َم ْم ُكُرْي َخ
ْ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkan (Al-Qur`an).” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dari Utsman
bin Affan]
Kaum muslimin dan muslimat,
Hari-hari kehidupan umat Islam bukanlah kehidupan yang sia-sia, bayang-bayang, atau fatamorgana yang berlalu tanpa arti, tetapi kehidupan ini adalah renungan, pelajaran, dan tanggung jawab. Allah Subhânahu wa Ta’âlâmengingatkan,
ُب ِ
لَقُي
ِرا َصْب
لْا يِلو
َ ْ
ُ
ِلْ
ًةَرْبِعَل َكِلَذ يِف َّنِإ َراَهَّنلاَو َلْيَّللا ُ َّاللَّ
“Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.” [An-Nûr: 44]
Juga Allah Maha Pengasih mengingatkan,
“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” [Al-Furqân: 62]
Hidup ini adalah kesempatan dan amanah. Terdapat kewajiban yang terpikul pada pundak seseorang yang diberi amanah kepemimpinan dan tanggung jawab.
Rasulullah mengingatkan,
َل َف ، ًةَّي ِعَر ُالله ُهاَعْر
َت ْسا ٍدْبَع ْنِم اَم
َة َحِئاَر ْد ِجَي ْم
ل َّلَِإ ، ٍة َحي ِص
َ
َنِب اَهْطُحَي ْم
ِةَّن َجلا
“Tidaklah seorang hamba diberi tanggung jawab oleh Allah dengan suatu tanggung jawab, kemudian dia tidak menjaga (tanggung jawab) itu secara tulus dan maksimal, kecuali bahwa dia tidak akan mencium bau surga.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Ma’qil bin Yasar. Lafazh hadits adalah milik Al-Bukhâry]
Juga Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,
َو ُساَّنلا ا َه ُدوُق َو اًراَن ْم ُكيِل ْه
أ َو ْم ُك َس ُفْن
َ
أ او ُق اوُن َمآ َني ِذ
َ
َّلا اَهُّيَأ اَي
ا َهْيَل َع ُةَرا َج ِح
لا
ْ
َنوُر َم ْؤُي ا َم َنوُلَع ْفَي َو ْم ُهَر َم
أ ا َم َالله َنو ُصْعَي
َ
لَ ٌدا َد ِش
َ
ٌظ َلَِغ ٌةَكِئ َلََم
.
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap segala sesuatu yang (Allah) perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan segala hal yang diperintahkan.” [At-Tahrîm: 6]
Kalian adalah buah hati dan harapan umat, jadilah orang yang paling bermanfaat bagi manusia, dan jadilah orang-orang yang berberkah di manapun kalian berada sebagaimana keberadaan Nabi Isa ‘alaihis salâm yang berkata,
ا َم َنْي
أ اًكَراَب ُم ي ِن
َ
َلَعَجَو
ُتْن ُك
.
“Dan Dia menjadikanku sebagai orang yang diberkahi di mana saja aku berada.”[Maryam: 31]
Kaum muslimin dan muslimat yang seluruhnya akan menghadap kepada Allah,
Pada hari kemarin Kita dimuliakan dengan Ramadhan. Waktu terus bergulir, dan tiada terasa hari ini Kita telah meninggalkan Ramadhan. Itulah hari-hari kehidupan yang terus berjalan tanpa henti menuju suatu yang pasti: kehidupan akhirat, yang di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla Kita akan berdiri,
ِالله ى
ل ِإ ِهيِف
َ
َنوُعَجْرُت اًمْوَي اوُقَّتاَو
َ
لَ ْم ُه َو ْتَب َس َك ا َم ٍس
ْفَن ُّلُك ىَّف َوُت َّمُث
َنو ُمَل
ظُي
ْ
.
“Dan peliharalah diri kalian dari (adzab yang terjadi pada) hari yang, pada waktu itu, kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan sempurna terhadap segala sesuatu yang telah mereka kerjakan, sedang sedikitpun mereka tidak dianiaya (dirugikan).” [Al-Baqarah: 281]
Perbaharuilah lembaran-lembaran kehidupan yang segala hasilnya akan kembali kepada Kita jua,
َف َءا َس
أ ْن َم َو ِه ِس ْفَنِل
َ
َف اًح ِلاَص َلِمَع ْنَم
ِديِبَع
ْلِل ٍم َّلََظِب َكُّبَر اَمَو اَهْيَلَع
.
“Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, (pahalanya) untuk dirinya sendiri, sedangkan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat,
(dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya.”[Fushshilat: 46]
Kaum muslimin dan muslimat yang memiliki kelembutan hati dan kasih sayang,
Pada hari yang berbahagia ini, ada sejumlah kaum muslimin menghadiri hari Id ini dengan linangan air mata dan berliput duka dan nestapa. Oleh karena itu, ulurkanlah tangan kebaikan dan tuangkanlah dari ketulusan hati kepada saudara-saudara seagama. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ْم ُكِئا َفَع ُضِب
لَ ِإ نو
ُق َزْرُتَو َنوُرَصْنُت ْلَه
“Tidaklah kalian mendapat pertolongan dan kelapangan rezeki, kecuali dengan sebab (memperhatikan) orang-orang lemah di antara kalian.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dari Sa’d bin Abi Waqqâsh radhiyallâhu ‘anhu]
Juga janganlah lupa kepada kaum muslimin di berbagai belahan dunia: di Palestina, Suriah, Iraq, dan selainnya yang diliputi oleh berbagai kesedihan dan cobaan. Curahkanlah doa dan bantuan untuk mereka. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallammengingatkan,
ا ًضْعَب ُه ُضْعَب ُّد ُشَي ِناَي
ْنُبْلاَك ِنِمْؤُمْلِل ُنِمْؤُلّا
“Seorang mukmin bagi mukmin yang lain seperti bangunan, yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” [Dikeluarkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallâhu ‘anhu]
Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa menjaga kita semua di atas segala nikmat dan melindungi kita dari segala musibah dan malapetaka.
Sebagaimana, Kita bermohon kepada-Nya agar Dia menerima amalan puasa, shalat, zakat, sedekah, bacaan Al-Qur`an, dan segala amalan
shalih, serta menjadikan amalan tersebut sebagai pembebas leher-leher Kita dari api neraka.
Semoga, pada setiap tahunnya, kaum muslimin dan muslimat selalu berada di atas kebaikan dan ketakwaan, tergolong ke dalam Al-Fâ`izin ‘orang-orang yang beruntung’ dan Al-Â’idin ‘orang-orang yang terlahir kembali, bersih dari dosa’.