• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPUTUSAt~ DEWAN PERWAKILAN RA~<YAT REPUBLIK I~JDONESIA NOMOR : 6/DPR-fil/1/ TEN TANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEPUTUSAt~ DEWAN PERWAKILAN RA~<YAT REPUBLIK I~JDONESIA NOMOR : 6/DPR-fil/1/ TEN TANG"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

(

KEPUTUSAt~

DEWAN PERWAKILAN

RA~<YAT

REPUBLIK

I~JDONESIA

NOMOR : 6/DPR-fil/1/1994-1995

TEN TANG

. PERSETUJUAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT

REPUBLIK INDONESIA TERHADAP 4 (EMPAT)

RANCANGAN

U~JDANG-UNDANG

REPUBL1K INDONESIA

BIDANG PERPAJAl<AN

I

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT

REPUBLIK INDONESI,A

(2)

,

KEPU~fUSAN

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT

REPUBLH< INDONESIA

NOMOR : 6/DPR-Rl/1/-1994-1995

TEN TANG

· PERSETUJUAN DEWAN PERWAKlLAN RAKYAT

REPUBLIK INDONESIA TERHADAP 4 {EMPAT)

RANCANGAN

Uf~DANG-UNDANG

REPlJBLIK INDONESIA

BtDANG PERPAJAKAN

DEWAN PERWL\KILAN RAKYAT

REPUBLIK INDONESIA

I

(3)

DEWAN PERVlAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT

REPUBLIK INDONESIA

T\:OMOR: 6,/Ili}H-F?.T/I/1~1~34·--1995

PERSETUJUAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT ltEPUBLIK INDONESIA

rrERHADAP 4 ( E11PAT} RANGANGAN V~~D/,.NG--lL\H\·\NG HEPUBLIK

INDONESIA BIDANG PEHPAJAKAN

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,

: a. bahwa denga.n Amanat Presiden Republik Indonesia

Nomor : R.09/PU/VIII/1994 tanggal 22 Agustus 1994 Pemerintah telah menyampaikan 4 (empat) Rancangan Undang-undang Republik Indonesia Bidang

Perpajakan untuk dibicarakan da1am · Sidang Dewan

Per~~kilan Rakyat Republik Indonesia guna

mendapatkan persetujuan;

b. bahwa Rancangan Undang-undang sebagaimana

dimaksud pada huruf a diatas telah dibicarakan menurut tingkat-tingkat pembicaraan di Dewan

Perwakilan Rakyat Republik Indonesia;

c. bah~v·a persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat

H.epublil< Indonesia terhadap 4 ( empat) Rancangan

Undang-undang tersebut. diatas perlu ditetapkan dengan Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

1. Pasal 5 Ayat (1), Pasal 20 (1)~ dan Pasal 23

Ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945;

2. Undang·-undang Nomor G Tahur1 19B:3 Teni~a:ng

Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan;

3. Undang··-undang Nomor 7 Ta.hu.n lf)83 Tenta.ng Pajak

Pe:nghasilan sebagaimana telah diubah dengan

Undang-undang Nomor 7 Tahun 1991;

4. Undang-·undang Nomor 8 'Tahu.n 1983 Tentang Pertambahan Nilai Bar.ang dan ,Jasa, dan

Penjualan Atas Barang Mewah;

5 •. Undang-undang Nomor 1.2 Tahun 198.$

Bumi dan Bangunan;

Pajak Pajak

(4)

r.hatil:\.an. Mf~netapkan P E It 'f !'t H /\ KEDUA KETIG/\ ( -·- 2 -f) , K c p 1 l t u s a n D ·e w r:t n P e !' h' a k i l a n R <i y I n cl o n f~ s i ;1 N o m c> r · : 1 0 / ~ H} h ... P 1 / \ T r / l ;) g ? 1 L 1: p u b l ; k 1 qg] JO Pe nge~-c.ahan )'\ontor·: G/OPH-·EI /1 1/~ qq 1 qcl:\ ! c•nt ;~.ng

J.leng~;una.'ln Pc·r·<tll!i',l. T.~t ::t T r·t ·,h Ilc•1,·n~n Pr'f'h:''lk1l:tn

Hakyat H1··puhl i k 1 ndr;n t.'t. \ ~- .~~. I) i: t L l > .~ t r · i I) 11 r· r 1 ; ~ 'f' e r · t , ' t L "t l ·?. 1; ll t) 1 i 1< 1 r1 ri ( J r1 (:"-~---: i ;: t '; 1 , 1,.,· '.i. r 1 f., { ' -,.. a k l : t t 1 r \ : i k :::, · ; 1.. t. T :l () k L 0 t I ( ' 1" 1. ~} ~-) .~~ 0 \ \h.~ r\ l\ Y ,,\ T H F PUB I, l 1\ : • \ ~; 1 · \ 1 ·l i\ ( ; .... '( l N D !\ N (~ n ,.l r r '~ r r u j \. ~ \__ \ J t J .l !\ r 1-,~ n c N F s l /1. H r ) " \' c · , 1. : i 1 ) \ . ; \ ~< .\ 1 "< ~>1,-ny~~Lu.Jll ·1 (r·rnp:lc !V:pnb1 i. k T ndorH<-:; :1. P,! 1 d! ·,,· ,,, ·:.'.\ •,·rttl;:c:~ ·1if!(lang r~l, ~~ .1 tl!~tl:k <1js;::tltl\.:J.rl mt:.' nj ad i : r,rJ c.i n(!:-! 1! 1 c 1.:1 '' ,:.

~;rdi Pan angn .. n 1 n.n:: 1i f ' !' ····'·:: ·-:. i mana :l i mak tlfl :· l

n ;

1~ 1 '· .1 H!

F !?'T' /\ "'i i\ j l ' ! .. l ; ill I I) i r. i 1 ; I 1 ; t !ll ( '1)! l ! ll ~-~. n ). n l • !\ < • p u t us; t n 1 n 1 nP 1 l <~ i !. ; 1· r· 1 a k :.l l j: i. • l a 1." ' l / \ \ i ; 1 1 ( ·J 1 , ·~. r .· t 1 ··~ l<. ( 1 I -~ .

(5)

SURAT l<.ETUA

DPR~~Rt

PENGAN1AR PERSETUJUAN

PERSET,JJUAN

DEWAN PERWAKlLAN RAKYAT

.

REPUBLIK INDONESIA TERHADAP 4 (EMPAT)

RANCANGAN

UNDANG-LJNDA~JG

REPUBL1K INDONES1A

BIDANG PERPAJAKAN

DEWAN PEF1WAKILAN

F{AKYAT

REPUBLH< \NDONESIA

(6)

SURAT KETUA DPR-RI

PENGANTAR PERSETUJUAN

PERSETUJUAN

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT , .

BLIK: INDONESIA TERHADAP.

4.

(EM PAT)

CANGAN UNDANG-UNDANG

· REPUBLIK INDONESIA

BIDANG PERPAJAKAN

i il i:

li

I i ~ I

DEWAN PERWAKILAN

RAK·~AT

.

(7)

Nor;rtor Sifat De raj at I..~ampiran I?er:iha.l TEHBUS/\N YLh. ·1 "t~.r t h .,, J . 5 •· y th

.

Sd.r Sdr

DEWAN PER,VAKILAN RAK.Y AT REPUBLIK INDONESIA

Ja!an Jenderal Gatot Subroto- Jakarta 10270

HU .. G1/ ·10,.1/DPF--HT/199·1 Pf"T-, L in:~!.' J'1 :trt. Am<.t l ;·~;c·g ra il (L.!.L1:'LiL) C'k 1 t._; Hl J.,t .l .~J. Pc. ,. t l ; j l\ ' \ ~ JJe D 3 • (J. I l iL.

n .

n 9/ j)\ T T T T I 1 q q -'\ -1 't r.\ ~·~ h' 11 ri P e r w a i 1 ~t r 1 • . ( \ . ' j ,., :·, \. rr, 1 .. 1 ~) 9 ,1 ~ d c: rt g a. n In rl on I< i ·.~·n \ ~ut: I. 1.1111 c ' .• ] .,,], >dl; g/:ti~ TJPd Tt '11 : ; . : , nd:;.:dtdn ,\ L P.a.j<lh ·-· l.J ftiJ a. ng ·r;i.ll<lrl J :-:Jn:~ 'I'('·r~t..~Lng

p C' n g h a S l a tl E b a g: ; ', i . '-I; :.i C l £' i ·l.

r!

'U ~ 1 .H. }'l Undang--und:.-'lng i·~ornor 7 "T';::.l-l.:i< 1 r1:)J ;,

H Et n can g an 1J n d. an g - ; 1 n g T r, ~.· n r ·. ~; ·

Undang·-undan.g Nomo t· H Ta.hun 1983

P t':: r t a. mba han N i l a i B a r.a n g d a, n

·l

a

P•··njualrrn. Atas B.1rang Hr··hah;

deng::tn

itn l\tas

Pajak

·1, Ft.a.ncrtnf;·>. tJ·n:1•tng-1.l''J(:.~t··~·::; 'T · n::; an i\t.:::t.

~~,.fr~ F-.lrlL{-·,,~ry~·l rlt5 ·~~:c·i~]c;r'" !~? i~-~:r~;~ .t)eij::t.1{

Bum i cl ;:nl B a n g u n ;1 n - - -- - - -- ·- ·- -- .... -- ··- - ··· ·- -- ·-- ·- -· -· -- -- - -· - -- - ....

yang Lelah mendapat persetujuan dalam Rapat Paripurna

Terbuka. kc;·-11 Dewr:u·~ Pc::r'i..:aJ.:.-lla.n H<tkyat Hepubl ik Indonesia

Masa Persidangan I Tahtln Sidang 1994-1995 pada tanggal 13 Oktober 1994, untuk disahkan rnenjadi Undang-undang.

Demikian ata~:; perha.ti.n.n Satlrlar<t 1 1-<:'lmi UC<1pk.a .. n ter·in1a.

kasih. " ' ~ I r· .'1 ,, .c )I ., . (.ifJ T'CI l q ~~ l l to -r·," i . ) ·r:~ i ; i !~ ·1 ::::r d;1n Pc' r·d:1gar~ <t.fi; Yc·u<J.ng : !·:c;ll,:J.k i~u.~111.

.1p

'~ ~,.~,

' ... "'.·· r.' ____ :::~--_I_: ___ -~-L ___ ·-~: ____ ~.J

(8)

RANCANGAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR

TAHUN

TENTANG

PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG

NOMOR 12 TAHUN 1985 TENTANG

PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT

REPUBLIK INDONESIA

(9)

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT

REPUBLIK INDONESIA

RANCANGAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR TAHUN

TENTANG

PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 1985

TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHAESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa pelaksanaan pembangunan nasional telah menghasilkan perkembangan

yang pesat dalam kehidupan nasional, khususnya di bidang perekonomian, termasuk berkembangnya bentuk-bentuk dan praktek penyelenggaraan kegiatan usaha yang belum tertampung dalam Undang-undang perpajakan yang sekarang berlaku;

b. bahwa dalam usaha untuk selalu menjaga agar perkembangan perekonomian sebagai di atas dapat tetap berjalan sesuai dengan kebijakan pembangunan yang bertumpu · pada Trilogi Pembangunan sebagaimana diamanatkan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara, dan seiring dengan itu dapat diciptakan kepastian hukum yang berkaitan dengan aspek perpajakan bagi bentuk-bentuk dan praktek penyelenggaraan kegiatan usaha yang terus berkembang, diperlukan langkah-langkah penyesuaian yang memadai terhadap berbagai Undang-undang perpajakan yang telah ada;

(10)

Mengingat

2

-c. bahwa untuk mewujudkan hal-hal tersebut, dipandang perlu mengubah beberapa ketentuan dalam Undang-undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan;

I. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang

Dasar 1945;

2. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajak:an (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3262) sebagaimana telah diubah dengan

Undang-undang Nomor... Tahun... (Lembaran Negara Tahun ...

Nomor ... , Tambahan Lembaran Negara Nomor ... );

3. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan

(Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara

Nomor 3312);

Dengan persetujuan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS

UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 1985 TENTANG PAJAK BUMI DAN BAN GUN AN.

Pasall

Mengubah beberapa ketentuan dalam Undang-undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan, sebagai berikut :

(11)

3

-1. Ketentuan Pasal 3 ayat (3) dan ayat (4) diubah, sehingga Pasal 3 seluruhnya

menjadi berbunyi sebagai berikut :

"Pasal3

(1) Objek Pajak yang tidak dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan adalah objek pajak yang :

a. digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di bidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan nasional, yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan;

b. digunakan untuk kuburan, peningga)an purbakala, atau yang sejenis dengan itu;

c. merupakan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman nasional, tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa, dan tanah negara yang belum dibebani suatu hak;

d. digunakan oleh perwakilan diplomatik, konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik;

e. digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi intemasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan.

(2) Objek pajak yang digunakan oleh negara untuk penyelenggaraan pemerintahan, penentuan pengenaan pajaknya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

(3) Besarnya Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan sebesar Rp8.000.000,00 (delapanjuta rupiah) untuk setiap Wajib Pajak.

(4) Penyesuaian besamya Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh Menteri Keuangan."

(12)

4

-2. Ketentuan Pasal 17 dihapus.

3. Ketentuan Pasal 23 diubah, sehingga Pasal 23 seluruhnya menjadi berbunyi

sebagai berikut :

"Pasal23

Terhadap hal-hal yang tidak diatur secara khusus dalam Undang-undang ini,

berlaku ketentuan dalam Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor... Tahun... (Lembaran Negara Tahun ...

Nomor ... , Tambahan Lembaran Negara Nomor ... ) serta peraturan

perundang-undangan lainnya."

4. Ketentuan Pasal27 dihapus.

Pasalll

Dengan berlakunya Undang-undang ini, peraturan pelaksanaan yang telah ada di bidang Pajak Bumi dan Bangunan berdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun

1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan, tetap berlaku sepanjang tidak

bertentangan dan belum diatur dengan peraturan pelaksanaan yang baru berdasarkan Undang-undang ini.

Pasalm

Undang-undang ini dapat disebut "Undang-undang Perubahan Undang-undang Pajak Bumi dan Bangunan".

(13)

- 5 - '

PasaliV

Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggall Januari 1995.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan

Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik

Indonesia.

Diundangkan di Jakarta

pada tanggal ... .

MENTER! NEGARA SEKRET ARIS NEGARA

REPUBLIK INDONESIA

MOERDIONO

Disahkan di Jakarta

pada tanggal ... .

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

.SOEHARTO

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN ... NOMOR ... .

(14)

UMUM

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

RANCANGAN

PENJELASAN

ATAS

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR

TAIIUN

TENTANG

PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 1985 TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

Negara Republik Indonesia adalah negara hukum berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang menjunjung tinggi hak dan kewajiban setiap orang, oleh karena itu menempatkan

r

perpajakan sebagai salah satu perwujudan kewajiban kenegaraan dalam kegotongroyongan · nasional sebagai peran serta masyarakat dalam membiayai pembangunan.

Sesuai dengan ketentuan Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945, ketentuan-ketentuan perpajakan yang merupakan landasan pemungutan pajak ditetapkan dengan Undang-undang. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan yang berlaku sejak tahun 1986 merupakan landasan hulrum dalam pengenaan pajak sehubungan dengan hale atas bumi

danlatau

perolehan manfaat atas bumi dan/atau kepemilikan, penguasaan

dan/atau

perolehan

manfaat atas bangunan.

Pada hakekatnya, pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan merupakan salah satu sarana perwujudan kegotongroyongan nasional dalam pembiayaan negara dan pembangunan nasional, sehingga dalam pengenaannya harus memperhatikan prinsip kepastian hukum, keadilan, dan kesederhanaan serta ditunjang oleh sistem administrasi · perpajakan yang memudahkan Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban pembayaran pajak. Setelah hampir satu dasawarsa berlalrunya Undang-undang Nomor 12 Tahun 1985, dengan makin meningkatnya kesejahteraan

masyarakat

dan meningkatnya jumlah Objek Pajak serta untuk menyelaraskan pengenaan pajak dengan amanat

dal~m Garis-garis Besar Haluan Negara, dirasakan sudah masanya untuk menyempumakan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1985.

(15)

2

-Dengan berpegang teguh pada prinsip kepastian hukum dan keadilan, maka arah dan tujuan penyempurnaan Undang-undang ini adalah sebagai berikut:

a. Menunjang kebijaksanaan pemerintah menuju kemandirian bangsa dalam pembiayaan pembangunan yang sumber utamanya berasal dari penerimaan pajak;

b. Lebih memberikan kepastian huk:um dan keadilan bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembiayaa.n pembangunan sesuai dengan kemampuannya.

Dengan berlandaskan pada arab dan tujuan penyempumaan tersebut, maka dalam penyempurnaan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1985 perlu diatur kembali ketentuan-ketentuan mengenai Pajak Bumi dan Bangunan yang dituangkan dalam Undang-undang tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan, dengan pokok-pokok antara lain sebagai berikut :

a. Untuk lebih memberikan keadilan dalam pengenaan pajak, diatur ketentuan mengenai besarnya Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak untuk setiap Wajib Pajak;

b. Memperjelas ketentuan mengenai upaya banding ke badan peradilan pajak.

P ASAL DEMI P ASAL Pasall

Angka 1

Pasal3

Ayat (1)

Yang dimaksud dengan

tidak:

dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan

adalah bahwa objek pajak itu diusahakan untuk melayani kepentingan umum, dan nyata-nyata tidak ditujukan untuk mencari keuntungan.

(16)

I ~

y

- - - --~---..,

3

-Hal ini dapat diketahui antara lain dari anggaran dasar dan anggaran rumah tangga dari yayasanlbadan yang bergerak dalam bidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan, dan kebudayaan nasional tersebut. Termasuk pengertian ini adalah

hutan wisata milik Negara sesuai Pasal2 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967

tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan. Contoh:

- pesantren atau sejenis dengan itu; - madrasah;

- tanah wakaf; - rumah sakit umum.

Ayat (2)

Yang dimaksud dengan objek pajak dalam ayat ini adalah objek pajak yang

dimiliki/dikuasai/digunakan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan.

Pajak Bumi dan Bangunan adalah pajak negara yang sebagian besar penerimaannya merupakan pendapatan daerah yang antara lain dipergunakan untuk penyediaan fasilitas yang juga dinikmati oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Oleh sebab itu wajar Pemerintah Pusat juga ikut membiayai penyediaan fasilitas tersebut melalui pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan.

Mengenai bumi dan/atau bangunan milik perorangan dan/atau badan yang digunakan oleh negara, kewajiban perpajakannya tergantung pada perjanjian yang diadakan.

Ayat (3)

Untuk setiap Wajib Pajak diberikan Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak sebesar Rp 8.000.000,00 (delapanjuta rupiah).

Apabila seorang Wajib Pajak mempunyai beberapa Objek Pajak, yang diberikan Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak hanya salah satu Objek Pajak yang nilainya terbesar, sedangkan Objek Pajak lainnya tetap dikenakan secara penuh tanpa dikurangi Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak.

(17)

y

4

-Contoh:

1. Seorang Wajib Pajak hanya mempunyai Objek Pajak berupa bumi dengan

nilai

sebagai berikut :

- Nilai Jual Objek Pajak Bumi ... Rp 3.000.000,00

- Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak .. Rp 8.000.000,00

Karena Nilai Jual Objek Pajak berada dibawah Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak, maka Objek Pajak tersebut tidak dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan.

2. Seorang Wajib Pajak mempunyai dua Objek Pajak berupa bumi dan bangunan

masing-masing di Desa A dan Desa B dengan nilai sebagai berikut :

a. Desa A

- Nilai Jual Objek Pajak Bumi = Rp 8.000.000,00

- Nilai Jual Objek Pajak Bangunan

=

Rp 5.000.000,00

Nilai Jual Obiek Paiak untuk Penghitungan Paiak :

- Nilai Jual Objek Pajak Bumi ... Rp 8.000.000,00

- Nilai Jual Objek Pajak Bangunan ... Rp 5.000.000,00

_ _ _ _ _ (+)

- Nilai Jual Objek Pajak sebagai dasar

pengenaan pajak ... Rp 13.000.000,00

... Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak .. Rp 8.000.000,00

_____

(-)

- Nilai Jual Objek Pajak untuk

Penghitungan Pajak ... Rp 5. 000.000,00

b. Desa B

- Nilai Jual Objek Pajak Bumi = Rp 5.000.000,00

- Nilai Jual Objek Pajak Bangunan

=

Rp 3.000.000,00

(18)

5

-Nilai Jual Objek Paiak untuk Penghitungan Paiak :

- Nilai Jual Objek Pajak Bumi ... Rp 5.000.000,00 - Nilai Jual Objek Pajak Bangunan ... Rp 3.000.000,00

_ _ _ _ _ (+)

- Nilai Jual Objek Pajak sebagai dasar

pengenaan pajak ... Rp 8.000.000,00

- Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak .. Rp 0,00

(-)

- Nilai Jual Objek Pajak untuk

Penghitungan Pajak ... Rp 8.000.000,00

Untuk Objek Pajak di Desa B, tidak diberikan Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak sebesar Rp 8.000.000,00 (delapan juta rupiah), karena Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak telah diberikan untuk Objek Pajak yang

berada di Desa A.

3. Seorang Wajib Pajak mempunyai dua Objek Pajak berupa bumi dan bangunan

pada satu Desa C dengan nilai sebagai berikut :

a. Objek I

- Nilai Jual Objek Pajak Bumi

=

Rp 4.000.000,00

- Nilai Jual Objek Pajak Bangunan

=

Rp 2.000.000,00

Nilai Jual Objek Paiak untuk Penghitungan Paiak :

- Nilai Jual Objek Pajak Bumi ... Rp 4.000.000,00 - Nilai Jual Objek Pajak Bangunan ... Rp 2.000.000,00

_ _ _ _ _ (+)

- Nilai Jual Objek Pajak sebagai dasar

pengenaan pajak ... Rp 6.000.000,00 - Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak .. Rp 8.000.000,00

Karena Nilai Jual Objek Pajak berada dibawah Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak, maka Objek Pajak tersebut tidak dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan.

(19)

'

. ---~. :

6

-b. Objek II

- Nilai Jual Objek Pajak Bumi = Rp 4.000.000,00

- Nilai Jual Objek Pajak Bangunan = Rp 1.000.000,00

Nilai Jual Objek Paiak untuk Penghitungan Pajak :

- Nilai Jual Objek Pajak Bumi ... Rp 4.000.000,00 - Nilai Jual Objek Pajak Bangunan ... Rp 1.000.000,00 - Nilai Jual Objek Pajak sebagai dasar

_ _ _ _ _ (+)

pengenaan pajak ... Rp 5.000.000,00

- Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak .. Rp

_____

0,00

(-)

- Nilai Jual Objek Pajak untuk

Penghitungan Pajak ... Rp 5.000.000,00

Ayat (4)

Angka2

Berdasarkan ketentuan ini Menteri Keuangan diberikan wewenang untuk mengubah besamya Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dengan mempertimbangkan perkembangan ekonomi dan moneter serta perkembangan harga umum objek pajak setiap tahunnya.

Dengan dihapusnya Pasal 17, ketentuan banding Pajak Bumi dan Bangunan mengikuti

ketentuan Pasal27 Undang-undang Nomor

6

Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan

Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor ... Tahun... (Lembaran Negara Tahun... Nomor ... , Tambahan Lembaran Negara Nomor ... ).

(20)

7

-Angka 3 Pasal23

Yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan lainnya adalah antara lain

Undang-undang Nomor 19 Tahun 1959 tentang Penagihan Pajak Negara dengan

Surat Paksa. Angka4 Cuk.up jelas. Pasalll Cuk.up jelas. Pasalill Cukup jelas. PasallV Cukup jelas.

Referensi

Dokumen terkait

Seperti halnya pada saat kondisi yang ada di lokasi tersebut telah terjadi pengelolaan lahan di kawasan hutan oleh masyarakat (perambahan), pelaksana kebijakan ber usaha

Response caused by the economic growth shock seen luctuating where on the irst ifth year the POVR showed negative response, while on the next year showed positive response. During

[r]

Berdasarkan wawancara dan observasi langsung dengan mitra diperoleh permasalahan yang dihadapi mitra yaitu: Belum adanya kelompok lansia yang dapat menjadi wadah untuk

Di mana kajian nilai- nilai seni rupa modern Islam Indonesia yang dimulai pada tahun 1970, sampai dilaksanakannya kegiatan Festival Istiqlal 1991 dan 1995 ternyata

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi

In contrast, Roca (2000:145) finds the existence of interdependency among the five ASEAN’s stock markets in the short run, but not significantly related in the long run before

a) Posisi sesuai dengan keinginan, tetapi jika ibu di tempat tidur sebaiknya dianjurkan tidur miring ke kiri. b) Sarankan ibu berjalan, berdiri, duduk, jongkok,