• Tidak ada hasil yang ditemukan

NASKAH PUBLIKASI PENERIMAAN ORANGTUA PADA ANAK AUTIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "NASKAH PUBLIKASI PENERIMAAN ORANGTUA PADA ANAK AUTIS"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

PENERIMAAN ORANGTUA PADA

ANAK AUTIS

Oleh :

PUTRI RAHMA NOVIA IRWAN NURYANA KURNIAWAN

PROGAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI DAN SOSIAL BUDAYA

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

(2)

2007

NASKAH PUBLIKASI

PENERIMAAN ORANGTUA PADA ANAK AUTIS

Telah Disetujui Pada Tanggal

_________________________

(3)

Irwan Nuryana Kurniawan S.Psi, M.Si

PENERIMAAN ORANGTUA PADA ANAK AUTIS

Putri Rahma Novia Irwan Nuryana Kurniawan

Penelitian yang ditulis mempunyai tujuan untuk mengetahui sejauh mana penerimaan orangtua pada anaknya yang merupakan anak dengan kebutuhan khusus. Penelitian ini juga diharapkan untuk menambah pengetahuan tentang anak dengan kebutuhan khusus dan penerimaan orangtua yang anaknya merupakan anak dengan kebutuhan khusus.

Subyek dalam penelitian ini yaitu orangtua yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus, menyekolahkan anaknya pada yayasan atau sekolah untuk anak dengan kebutuhan khusus Cahaya Ananda.

Penelitian yang dipakai yaitu metode penelitian kualitatif. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode wawancara langsung dengan subyek yang merupakan dua orang ibu yang mempunyai anak Autis. Dari penelitian tersebut terdapat adanya variasi penerimaan di antara orangtua disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu faktor yang menimbulkan variasi penerimaan orang tua di antaranya yaitu perkembangan anak. Orangtua yang banyak mengalami kesulitan dalam mengasuh anaknya, sering merasa putus asa. Orangtua merasa putus asa karena anak tidak menunjukkan kemajuan seperti yang diharapkan orangtua. Orangtua yang lain dapat menerima anaknya yang merupakan anak dengan kebutuhan khusus walaupun awalnya juga mengalami kesulitan yang sama seperti orangtua lain yang mempunyai anak dengan kebutuhan khusus, karena anak menunjukkan kemajuan yang baik, kemajuan yang sesuai dengan harapan orangtua maka orangtua akan lebih menerima anaknya yang merupakan anak dengan kebutuhan khusus.

(4)

Pengantar

Tumbuh kembang yang normal pada anak adalah harapan bagi setiap orangtua. Orangtua selalu berharap anak yang dilahirkan adalah anak yang sehat dan normal. Tapi kadang Tuhan berkehendak lain. Salah satu cobaan bagi orangtua yaitu memiliki anak Autis (Haniman, 2001)

Setiap orangtua mengharapkan anak-anak mereka tumbuh dewasa tanpa menghadapi masalah-masalah yang berarti. Mereka berharap anak-anak mereka tumbuh normal dan kelak berhasil dalam pendidikan dan kehidupan serta dapat menjadi kebanggaan keluarga. Persoalan dapat saja muncul dalam sebuah keluarga yang memiliki anak Autis.

Sampai sekarang anak Autis semakin banyak. Disebutkan bahwa angka kejadian gangguan perkembangan Autis meningkat beberapa tahun terakhir ini. Di Indonesia kesan peningkatan juga terlihat di ruang day care Psikiatri Anak RSUD Dr. Soetomo. Jumlah pasien yang datang dengan gangguan perkembangan Autis ini jelas bertambah. Tahun-tahun sebelumnya tiap tahun hanya sekitar dua sampai tiga orang anak, pada tahun 2000 jumlahnya meningkat dengan tajam sampai kurang lebih 20 anak, demikian juga pada tahun-tahun berikutnya. Bertambahnya jumlah anak penyandang Autis ini tampaknya memacu orangtua untuk siap dengan keadaan anaknya yang merupakan anak Autis (Haniman, 2001).

Seringkali orangtua tidak terlalu memahami mengenai anak Autis sehingga mereka merasa bimbang terhadap kondisi anaknya dan mengalami konflik dalam diri orangtua itu sendiri. Konflik tersebut terkait dengan keinginan dan harapan yang

(5)

tidak terpenuhi untuk memiliki anak yang bisa dibanggakan dalam lingkungan. Ketidaksesuaian terjadi antara kenyataan dan idealisme (Faridah, 2001).

Perjuangan orangtua sangat diperlukan. Karena perjuangan orangtua bagi anaknya adalah suatu panggilan hidup dan suatu keharusan. Masih banyak kemungkinan yang tidak bisa diduga oleh orangtua yang anaknya merupakan anak Autis. Misalnya anak Autis memiliki keunikan tersendiri. Anak Autis tetaplah anak yang membutuhkan kasih sayang, perhatian dan cinta dari orangtua, saudara dan orang lain disekitarnya. Karena anak Autis juga anugerah dan kepercayaan yang diberikan oleh Tuhan untuk dibesarkan, dididik dan dilatih. Orangtua seharusnya dan sepatutnya merasa sangat bangga telah diberikan kepercayaan oleh Tuhan (Faridah, 2001)

Realitas-realitas yang sering terjadi pada orangtua yang anaknya merupakan anak Autis sangat kompleks. Sebagian orangtua mengalami shock, sedih, khawatir, malu dan takut saat pertama kali mengetahui hasil diagnostik bahwa anaknya merupakan anak Autis. Perasaan-perasaan seperti itu pada awalnya menimbulkan ketidakpercayaan orangtua pada dokter, psikiater dan psikolog. Maka untuk mencari ketenangan diri, orangtua mencari dokter, psikiater dan psikolog lain yang mungkin akan menyangkal diagnostik sebelumnya (Safaria, 2005)

Orangtua yang dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa anaknya merupakan anak Autis, banyak orangtua yang dengan terpaksa menerima keadaan anaknya. Tentu saja menerima keadaan anak Autis tidaklah mudah. Anak yang mereka cintai merupakan anak Autis. Perasaan marah juga muncul ketika timbul perasaan iri pada teman-teman yang memiliki anak normal. Kebingungan dalam

(6)

menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari teman, keluarga besar atau orang lain yang menanyakan kondisi dan apa yang terjadi pada anaknya (Safaria, 2005)

Kadang-kadang orangtua memiliki perasaan yang kuat untuk menolak keadaan bahwa anaknya merupakan anak Autis. Penolakan ini bukan malah meredakan kesedihan orangtua tetapi malah semakin menyiksa perasaan orangtua. Perasaan ini tanpa disadari dilampiaskan pada pasangan atau anak, sehingga cukup membuat beban dalam keluarga bertambah. Bagaimanapun sikap menerima dengan hati terbuka lebih baik dari pada sikap menolak keadaan anaknya karena akan menambah beban orangtua (Safaria, 2005)

Sejalan dengan itu, Faridah (2001) menyebutkan bahwa sudah seharusnya orang tua menerima anaknya karena anak adalah titipan Tuhan. Orangtua yang mempunyai anak Autis dapat memberikan reaksi menerima dan menolak pada anaknya. Penerimaan orangtua sangat berperan penting dalam perkembangan anak dan sebaliknya, penolakan orangtua bisa menghambat perkembangan anak Autis.

Safaria (2005) mendeskripsikan gangguan perkembangan Autis sebagai ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan orang lain, gangguan berbahasa yang ditunjukkan dengan penguasaan yang tertunda, aktivitas permainan yang repetitif dan keinginan obsesif untuk mempertahankan keteraturan di dalam lingkungannya.

Kuwanto dan Natalia (2001) menyatakan bahwa gangguan Autis merupakan gangguan perkembangan dalam bidang komunikasi verbal dan non-verbal, bidang interaksi sosial, bidang perilaku dan emosi.

(7)

Dawson dan Hertzig (Santrock, 2002) menyatakan Autis ialah gangguan perkembangan yang parah yang meliputi ketidakmampuan dalam membangun hubungan sosial, ketidaknormalan dalam berkomunikasi, mempunyai pola perilaku yang terbatas dan perilaku yang berulang-ulang.

Menurut Kannen (2006), anak Autis merupakan keterlambatan perkembangan perilaku yang menghambat kemampuan berkomunikasi, bicara, emosi perilaku dan ketrampilan motorik yang berdampak luas pada anak. Tidak bisa berbicara secara normal, berkomunikasi, berhubungan dengan orang lain dan belajar berinteraksi dengan seseorang. Anak Autis ini umumnya tidak mampu mengembangkan permainan yang kreatif dan imajinatif.

Anak Autis termasuk anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan perilakunya. Perilaku anak-anak Autis ini, yang antara lain terdiri dari wicara dan okupasi, tidak berkembang seperti pada anak yang normal (Handoyo, 2003)

Sampai saat ini para ahli belum menentukan apa penyebab Special Needs. Namun beberapa ahli berpendapat McCandless (2003) Special Needs merupakan sindroma yang disebabkan oleh berbagai penyebab seperti :

a. Faktor genetik, diduga karena kromososm (ditemukan pada 5-20 % penyandang Autis) seperti kelainan kromososm yang disebut syndrome fragile – x.

b. Kelalaian otak, adanya kerusakan atau berkurangnya jumlah sel syaraf yang disebut sel purkenye.

c. Kelainan neurotransmitter, terjadi karena impuls listrik antar sel terganggu alirannya.

(8)

d. Kelainan peptida pada otak. Dalam keadaan normal, gluten (protein gandum) dan kasein (protein susu) dipecah dalam usus menjadi peptida dan asam amino. Sebagian kecil peptida tersebut diserap di usus dan kemudian beredar dalam darah, bila berlebihan akan dikeluarkan melalui urine. Sebagian lainnya akan disaring kembali saat melewati batang darah otak, sehingga yang masuk ke dalam otak hanya sedikit dan berperan dalam peningkatan jumlah endorfin dan enfekali yang dibutuhkan dalam pengaturan aktifitas otak. Bila kadar endoruin dan enkefalin melebihi kebutuhan akan menyebabkan gangguan perilaku, persepsi, intelegensia emosi dan perasaan. Pada sebagian besar penyandang Autis turunan peptida yaitu gliadorpin dan casomorphin dalam urin jumlahnya berlebih yang menunjukkan adanya kelebihan peptida pada darah dan otak. e. Komplikasi saat ibu hamil dan persalinan. Komplikasi yang terjadi seperti

pendarahan pada trisemester pertama gawat janin yang disertai terhisapnya cairan ketuban yang bercampur feses dan obat-obatan yang diminum ibu selama kehamilan.

f. Kekebalan tubuh. Terjadi karena kemungkinan adanya interaksi gangguan kekebalan tubuh dengan faktor lingkungan.

g. Keracunan. Keracunan yang paling banyak dicurigai adalah karena keracunan logam berat timah hitam (plumbum), arsen, antimoni, kadmium dan merkuri yang berasal dari polusi udara, air maupun makanan.

h. Kejang. Setelah mengalami kejang beberapa anak menunjukkan gejala Autis Neale (Kuwanto dan Natalia, 2001) menyebutkan bahwa penyandang Autis sempat berkembang normal, namun perkembangan itu terhenti sebelum mencapai

(9)

usia tiga tahun dan kemudian tampak kemunduran serta tampak gejala-gejala Autis sebagai berikut :

a. Gangguan dalam bidang komunikasi verbal maupun non-nerbal - terlambat bicara.

- berbicara dangan bahasa yang tidak dimengerti oleh orang lain.

- bila kata-kata mulai diucaokan, anak Autis itu sendiri tidak mengerti apa yang sudah diucapkan.

- bicara tidak dipakai untuk komunikasi. - banyak meniru atau membeo (echolalia).

- beberapa anak Autis pandai menirukan nyanyian, nada maupun kata-katanya, tanpa mengerti artinya.

- bila anak Autis menginginkan sesuatu, ia menarik tangan orang yang terdekat dengannya dan mengharap tangan tersebut melakukan sesuatu untuknya.

b. Gangguan dalam bidang interaksi sosial - menolak dan menghindari tatapan mata. - tidak mau menengok bila dipanggil. - sering kali menolak bila dipeluk.

- tidak ada usaha untuk memulai interaksi dengan orang lain. - lebih asyik bermain sendiri.

- bila didekati untuk diajak bermain, anak Autis ini cenderung menjauh. c. Gangguan dalam bidang perilaku

(10)

- pada anak Autis terlihat adanya perliaku berlebihan atau excess (hiperaktif motorik seperti jalan mondar-mandir, melompat-lompat, mengulang suatu gerakan tertentu dan tantrum). Selain itu terdapat juga perilaku kekurangan atau deficit (duduk diam dengan tatapan kosong, melakukan permainan yang sama atau monoton, sering duduk terdiam melihat benda berputar).

- kadang-kadang ada kelekatan pada benda tertentu yang terus dipegang dan dibawa kemana-mana.

- perilaku yang ritualistik.

d. Gangguan dalam bidang perasaan atau emosi

- tidak dapat ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain, misalnya melihat anak menangis, anak Autis tidak merasa kasihan melainkan merasa terganggu dan mungkin anak yang menangis itu akan didatangi dan dipukul. - kadang anak Autis ini tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah-marah

tanpa sebab yang nyata.

- sering mengamuk tidak terkendali, terutama bila tidak mendapatkan yang dia inginkan, anak Autis ini bisa menjadi agresif atau destruktif.

e. Gangguan dalam persepsi sensoris

- mencium-cium, menggigit mainan atau benda-banda apa saja. - bila mendengar suara tertentu langsung menutup telinga. - tidak menyukai rabaan dan pelukan

- merasa sangat tidak nyaman bila memakai pakaian yang kasar.

Seperti teori dari Rohner (2001) penerimaan orangtua yaitu suatu efek psikologis dan perilaku dari orangtua pada anaknya seperti rasa sayang, kelekatan,

(11)

kepedulian, dukungan dan pengasuhan dimana orangtua tersebut bisa merasakan dan mengekspresikan rasa sayang kepada anaknya.

Dalam kaitannya dengan ini, seperti yang dikatakan Stipek (2006) mengatakan bahwa terdapat hubungan yang erat antara orangtua dan anaknya sedikitnya mempunyai tiga komponen yang utama. Pertama yaitu penerimaan. Dalam konteks ini, orangtua harus menerima keberadaan anak apa adanya, tanpa syarat apapun. Penerimaan total orangtua terhadap anak-anak memberikan rasa percaya diri yang tinggi kepada anak-anak dan mempercepat anak dalam proses pembelajaran dan perkembangan dirinya. Kedua, hubungan atau ikatan batin yang kuat antara orangtua dan anaknya menciptakan rasa aman secara emosi, tenteram dan bahagia menjadi dirinya sendiri. Ketiga, dukungan dari orangtua. Orangtua harus menghargai dan menghormati anak sebagai pribadi yang unik, sehingga mengembangkan segala potensinya untuk menjadi diri sendiri dan mandiri.

Sikap orangtua menurut Faridah (2001) merupakan faktor yang mempengaruhi penerimaan orangtua pada anaknya yang merupakan anak Autis antara lain :

1. Hubungan cinta untuk semua anggota keluarga.

Hubungan cinta yang sehat pada semua anggota keluarga menghasilkan energi positif dan para anggota keluarga akan semakin produktif, sehingga bisa bekerja sama dalam mendidik dan mengasuh anak Autis.

(12)

Orangtua percaya bahwa anak, bagaimanapun keadaan anak mereka adalah titipan Tuhan yang harus dijaga, dididik dan diasuh sebaik mungkin karena merupakan tenggung jawab orangtua pada Tuhan.

3. Pandangan individu terhadap nilai moral sebagai orangtua.

Dalam kehidupan sehari-hari, orangtua mampu mencerminkan sikap menerima anaknya yang merupakan anak Autis untuk selalu dididk dan diasuh demi kemajuan anak.

Faridah (2001) menyatakan orangtua yang memiliki anak Autis, memberikan banyak reaksi dalam penerimaan anaknya. Ada yang menerima dengan pasrah begitu saja dengan anaknya yang merupakan anak Autis. Ada pula orangtua yang sama sekali menolak kondisi anak Autis karena malu dan hancur. Ada pula yang menerima anaknya dengan penuh optimis serta mendukung demi kemajuan anaknya yang merupakan anak Autis. Ciri-ciri orangtua yang menerima anaknya yang merupakan anak Autis antara lain :

1. Menerima dengan lapang dada diagnosis dari dokter bahwa anaknya merupakan anak Autis.

2. Orangtua mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang anak Autis, untuk kemajuan anaknya dan kemajuan orangtua sendiri dalam membimbing dan mendidik anaknya yang merupakan anak Autis.

3. Orangtua memeriksakan anaknya secara berkala pada ahli, sehingga dapat mengetahui kondisi anaknya secara akurat dan aktual.

(13)

4. Menghubungi pusat terapi untuk anak Autis agar dapat membantu proses pendidikan anak Autis dan juga untuk berbagi pengalaman sesama orangtua yang memiliki anak Autis.

5. Melatih anak di rumah, terutama melatih anak untuk menolong diri sendiri. 6. Melakukan kontrol minimal seminggu sekali dan melakukan evaluasi

kemajuan anak, walaupun hal itu merupakan hal yang kecil dan sederhana. 7. Orangtua melakukan terapi untuk kemajuan motorik kasar dan motorik halus.

Metode Penelitian

Penelitian ini memakai metode penelitian studi kasus dimana peneliti ingin memahami pengalaman subyek yang mempunyai anak Autis. Data penelitian berasal dari hasil wawancara kualitatif dengan subyek (Alsa, 2003)

Pengumpulan data dioeroleh dari wawancara langsung dengan subyek dimana peneliti merekam dan mentransfer data tersebut ke dalam transkrip. Pertanyaan-pertanyaan dalam wawancara memfokuskan pada bagaimana penerimaan orangtua yang mempunyai anak Autis (Alsa, 2003)

Orangtua yang memiliki anak Autis merupakan subyek penelitian yang mempunyai gambaran tentang dirinya sendiri dalam menerima atau menolak anaknya. Maka dari itu diperlukan metode tepat untuk mengetahui pengalaman-pengalaman orangtua dalam mengasuh, mendidik dan membimbing anaknya yang merupakan anak Autis lebih mendalam.

Metode ini digunakan untuk mendapatkan keterangan sejelas-jelasnya dari orangtua. Agar dapat memperoleh keterangan tentang penerimaan orangtua pada

(14)

anaknya yang merupakan anak Autis, maka peneliti menggunakan metode sebagai berikut :

1. Angket Skala penerimaan Orangtua

Skala penerimaan orangtua ini digunakan untuk mengukur tingkat penerimaan orangtua pada anaknya yang merupakan anak Autis. Hasil dan pengambilan data dengan angket ini menunjukkan tinggi rendahnya penerimaan orangtua. 2. Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara merupakan daftar pertanyaan secara garis besar yang akan diberikan pada subyek penelitian. Dalam hal ini, pedoman wawancara diberikan kepada orangtua yang memiliki anak Autis yang “menyekolahkan” anaknya di Yayasan Anak Autis Cahaya Ananda sebagai subyek yang paling memahami dirinya sendiri.

3. Wawancara

Wawancara adalah suatu percakapan tatap muka untuk memperoleh informasi sesuai dengan maksud yang ingin dicapai. Dalam hal ini pewawancara menanyakan masalah-masalah dan mencatat jawaban subyek (Chaplin, 2004) Metode wawancara ini dilakukan secara terarah dan memberikan keleluasaan kepada subyek untuk bercerita tentang pengalaman hidup bersama anaknya, terutama bagaimana penerimaan orangtua. Diharapkan subyek mau membuka diri untuk bercerita dalam suasana bebas bersama peneliti.

Sebelum melakukan pengambilan data dengan metode wawancara, penerimaan orangtua diukur menggunakan skala penerimaan orangtua yang dibuat

(15)

oleh peneliti meliputi aspek komunikasi, aspek perhatian dan kasih sayang, aspek keterlibatan dengan anak dan aspek kepercayaan pada anak.

Tingginya penerimaan orangtua terhadap anaknya yang merupakan anak Autis dapat dilihat dari skor tinggi pada skala ini. Skor dari angket diharapkan dapat memberi informasi secara garis besar bagaimana penerimaan orangtua, kemudian informasi ini digunakan untuk memilih orangtua mana yang akan diwawancarai.

Pada penelitian kualitatif, dalam pengambilan data sangat bermacam-macam sesuai dengan masalah yang diteliti. Metode pengumpulan data pada penelitian ini yaitu wawancara. Metode wawancara dilakukan untuk mengetahui secara langsung bagaimana orangtua menerima anaknya dan mengasuh anaknya yang merupakan anak Autis. Mengetahui kegiatan apa saja yang dilakukan orangtua bersama anaknya dalam kehidupan sehari-hari. Hasil wawancara akan ditulis dalam bentuk teks oleh peneliti untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana proses wawancara dilaksanakan. Wawancara dalam penelitian ini, terlebih dahulu dengan membuat pedoman wawancara mengenai bagaimana penerimaan orangtua. Hal ini dilakukan agar dalam wawancara, pertanyaan tetap terfokus pada tujuan penelitian. Pedoman wawancara tersebut adalah :

1. Pendapat orangtua tentang Autis dan anak Autis saat diagnosa. 2. Bagaimana perasaan orangtua saat diagnosa anak?

3. Masa tersulit yang dialami subyek.

4. Bagaimana orangtua menghadapi masa sulit? 5. Sikap penerimaan orangtua sekarang.

(16)

Alsa (2003) menyebutkan untuk menganalisis data kualitatif dengan cara wawancara langsung dengan subyek, peneliti menyusun statement dan deskripsi wawancara untuk menunjukkan penerimaan subyek pada anaknya.

Untuk mengetahui tinggi rendahnya penerimaan orangtua terhadap anaknya yang merupakan anak Autis digunakan skala penerimaan orangtua.

Angket yang diisi oleh subyek menggambarkan secara garis besar penerimaan orangtua pada anaknya yang merupakan anak Autis. Dari skor angket dapat memberikan informasi orangtua mana yang akan berpartisipasi untuk pengambilan data selanjutnya yaitu wawancara.

Pengambilan data melalui skala sikap dalam penelitian ini dilakukan dengan alasan :

a. Akan memperoleh jawaban langsung sehingga lebih efektlf dari segi waktu, biaya dan tenaga.

b. Adanya asumsi bahwa subyek merupakan orang yang paling tahu mengenai dirinya sendiri.

c. Dengan situasi yang diinginkan subyek diharapkan dapat mengemukakan pendapat dan jawaban sebenarnya dan secara terbuka.

Analisis data dalam penelitian yaitu tahap wawancara ini dilakukan dengan menyajikan data dan menarik kesimpulan. Analisis data dilakukan secara kualitatif, diantaranya yaitu :

1. Mengumpulkan data dengan cara wawancara memakai tape recorder untuk mendapatkan data akurat dari subyek.

(17)

3. Menarik kesimpulan dari data.

Metode wawancara dipilih karena merupakan salah satu cara mendapatkan data secara langsung dari subyek. Subyek dapat bebas bercerita sesuai dengan pengalaman pribadinya sesuai dengan pertanyaan yang diajukan peneliti. Dari jawaban subyek, peneliti dapat menyimpulkan sesuai dengan topik penelitian yaitu penerimaan orangtua pada anaknya yang merupakan anak Autis.

Hasil Penelitian

Subyek merupakan ibu salah satu orangtua yang memiliki anak Autis. Subyek sebagai ibu rumah tangga memberikan pengasuhan penuh mulai dari anaknya lahir sampai sekarang tanpa bantuan babysitter ataupun pembantu. Subyek didampingi suami dalam pengasuhan anak saat sore sampai malam karena suaminya bekerja. Perbandingan waktu bersama anak antara subyek dengan suami jelas ada. Subyek mempunyai waktu lebih lama bersama anak dibandingkan dengan suami, sehingga subyek sangat peka dengan anak. Keterkaitan emosi antara ibu dan anak sangat terjalin walaupun anaknya merupakan Autis. Waktu bersama anak yang relatif banyak ini membuat subyek bisa memberikan perhatian penuh pada anak. Sampai pada subyek menemukan keanehan demi keanehan pada anaknya.

Subyek menampakkan sikap positif dan kooperatif saat wawancara berlangsung. Subyek memberikan jawaban pada setiap pertanyaan. Bukan hanya itu, subyek mau bercerita dan berbagi tentang pengalaman baik bersama anaknya sampai menemukan masa sulit yang sempat membuat subyek sangat stress. Hidup bersama Autis bagi subyek merupakan ujian dari Tuhan, karena subyek percaya ada

(18)

mukjizat Tuhan untuk masa depan anaknya. Subyek merasa anaknya adalah titipan Tuhan yang dipercayakan pada subyek sehingga subyek sangat bersyukur bagaimanapun keadaan anaknya. Segala upaya untuk kesembuhan ataupun pendidikan anak subyek, subyek akan selalu mengusahakan.

Subyek adalah seorang ibu yang single parent, mengasuh anaknya yang merupakan anak Autis. Subyek menceritakan bahwa saat gejala Autis pada anaknya muncul, subyek belum tahu kalau gejala tersebut adalah gejala Autis. Mulai dari terlambat bicara, hiperaktif, tidak merespon panggilan, menyukai benda berputar dan memutar benda atau mainan. Subyek merasa ada yang tidak beres dengan anaknya saat itu, sehingga subyek mulai berkonsultasi ke dokter syaraf sampai ke psikiater dan akhirnya anak subyek didiagnosa Autis.

Subyek saat itu belum mengerti betul apa yang dimaksud dengan Autis. Namun setelah mempelajari dan mencari informasi, subyek mengalami stress dan bingung harus berbuat apa. Apa lagi saat subyek melewati masa sulit melatih anaknya toilet training, subyek medapat banyak kesulitan diantara suatu keharusan dan kasihan melihat anaknya berontak dan menangis.

Subyek juga melatih anaknya untuk bantu diri misalnya makan, minum, memakai celana, memakai baju, mandi dan buang air besar sendiri. Subyek sangat bersyukur kepada Tuhan karena anaknya sudah mulai bisa mengerjakan kepentingannya sendiri seperti makan, minum, mandi dan buang air besar sendiri. Kemajuan yang dialami oleh anak subyek tidak sekaligus, namun setahap demi satahap sampai akhirnya sekarang anak subyek sudah masuk SD kelas satu dan mampu mengikuti pelajaran sekolah umum tersebut. Hal ini yang memotivasi subyek

(19)

untuk selalu memberi semangat kepada orangtua yang juga memiliki Autis untuk terus dan berpikir positif tentang kemajuan anaknya serta selalu bersyukur atas apa yang Tuhan berikan.

Pembahasan

Deteksi dini perilaku Autisme pada anak, dapat mempercepat langkah-langkah yang harus diambil segera oleh orangtua, terutama dalam penelitian ini ibu. Kadang kala orangtua mengalami kesulitan untuk melakukan deteksi dini karena ketidaktahuan orangtua tentang kejanggalan-kejanggalan yang terjadi pada anaknya. Banyak orangtua yang sudah terlambat melakukan deteksi, artinya usia anak sudah melebihi lima tahun, bahkan ada yang membawa anaknya untuk periksa pada saat umur anak 15 tahun (Handojo, 2003). Berdasarkan penelitian, subyek cenderung menangkap keanehan pada diri anaknya sejak dini. Subyek memiliki kepekaan sebagai ibu tentang terlambat bicara anak dan polah tingkah yang tidak terkontrol serta tidak memiliki kendali diri terhadap bahaya misalnya kejatuhan kursi. Menurut Marion (Hastuti & Zamralita, 2004) seringkali orangtua tidak memahami mengenai autis sehingga mereka merasa bimbang terhadap kondisi anaknya dan mengalami konflik dalam diri yang terkadang membuat orangtua sulit menerima anaknya. Subyek sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang autis, Autis misalnya. Subyek tidak tahu apakah itu Autis. Sampai pada akhirnya diagnosa dokter menyatakan anaknya menderita Autis dan butuh penanganan seumur hidup, subyek merasa hal ini cukup berat bagi subyek. Memiliki autis tidaklah pernah menjadi impian orangtua. Safaria (2005) menyatakan kebanyakan

(20)

orangtua mengalami shock bercampur perasaan sedih, khawatir, cemas, takut dan marah ketika pertama kali mendengar diagnosis bahwa anaknya merupakan autis. Perasaan tidak percaya bahwa anak yang dicintainya harus menderita suatu gangguan yang menyebabkan anaknya tidak berkembang secara kognitif, emosi dan sosial sebagaimana anak yang lain.

Ketika orangtua menghadapi suatu kenyataan bahwa anak mereka adalah autis, sikap apa yang harus kita ambil sebagai orangtua? (McCandless, 2003). Subyek sudah mulai curiga dengan keanehan yang terjadi pada anak. Sampai suatu ketika subyek memutuskan untuk mengetahui apa yang terjadi pada anaknya. Mulai dari dokter anak, dokter spesialis syaraf, psikiater dan mengikutsertakan anak mereka ke tempat terapi autis.

Menurut Hastuti & Zamralita (2004) keadaan keterlambatan perkembangan anak membuat orangtua menjadi putus asa dan merupakan aib dalam keluarga. Mulanya orangtua menemukan masalah yang amat menakutkan karena memiliki autis (Danuatmaja, 2003). Salah satu subyek pada awalnya mengalami kesulitan untuk mengenalkan anaknya pada keluarga besar dan lingkungan di sekitas rumahnya. Subyek menyatakan sempat ada desakan dari keluarga besar untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah umum. Demikian juga lingkungan sekitarnya yang masih awam dengan kondisi anak subyek. Tekanan dari pihak luar sempat membuat subyek merasa putus asa. Seiring berjalannya waktu dan kejadian-kejadian yang secara tidak langsung menjelaskan pada keluarga besar dan lingkungan disekitar rumah subyek bahwa keadaan anaknya berbeda dengan anak yang normal. Kesedihan, keraguan tentang masa depan, dan kekecewaan dirasakan

(21)

oleh sebagian besar orangtua yang memiliki autis. Dengan kata lain, sebagai orangtua tidak hanya menghadapi penderitaan dan perasaan kehilangan karena kelainan anak, akan tetapi juga frustasi yang disebabkan kondisi tersebut (McClure, 2006). Subyek merasakan shock,down dan bingung setelah semakin banyak informasi tentang anak dengan kebutuhan khsus dipelajari. Subyek mulai cemas dengan masa depan anak.

Dapatkah anda membayangkan bagaimana rasanya ketika masa-masa sulit itu tiba-tiba “jatuh” di pundak kita? Akankah kita akan menutup mata dan bersikap seolah-olah anak kita tidak pernah mengalaminya? (McCandless, 2003). Subyek mengalami masa sulit saat melatih anaknya toilet training. Menurut subyek, salah satu ciri anak Autis yaitu obsesif dengan suatu hal. Salah satu yang dialami anak subyek yaitu obsesif dengan tempat buang air besar. Anak menganggap tempat buang air besar di halaman belakang. Karena menurut subyek, halaman belakang bukan untuk buang air besar dan kebiasaan ini bila dilanjutkan akan sangat buruk bagi anak, maka subyek melatih anak untuk buang air besar di kloset. Masa sulit ini sangat melelahkan bagi subyek karena pada awalnya anak berontak dan menangis. Demi masa depan anak, dengan susah payah dan perjuangan mengalahkan ego anak, subyek terus melatih anaknya untuk buang air besar di kloset.

Permasalahan yang dihadapi orangtua, sebagian besar mengacu pada tingkah laku dan emosi anak. Pengasuhan sehari-hari merupakan masalah yang cukup membebani orangtua. Hal ini dikarenakan autis membutuhkan pengawasan yang berbeda dari anak-anak lainnya. (Hastuti & Zamralita, 2004). Subyek menceritakan beberapa masa sulit yang dialami bersama anaknya. Perilaku anak yang tidak

(22)

terkontrol, membuat rumah sedikit berantakan, tidak bisa duduk manis apabila bertamu ke rumah orang lain, sering menyerang diri sendiri atau tantrum dan belum bisa lancar berbicara dan juga belum mengerti apabila orang lain berbicara pada anak. Puncak masa sulit yang dialami subyek yaitu anaknya sempat hilang dari pengawasan saat bersepeda. Sedikit kelalaian saja bisa fatal akibatnya. Subyek mengira anaknya tidak akan bersepeda jauh dan hanya mengelilingi komplek perumahan saja. Setelah beberapa waktu menunggu anaknya tidak pulang, subyek berusaha mencari ke seluruh gang kompleks rumahnya. Subyek tidak menemukan anaknya. Diluar dugaan subyek, anaknya bersepeda hingga keluar komplek perumahan tempat tinggalnya. Bukan hanya itu, anaknya bersepeda di jalan raya yang juga merupakan jalan propinsi di mana kendaraan besar seperti truk, bis dan mobil banyak melewati jalan tersebut. Anak ini ditemukan oleh seorang polisi karena menerobos lampu merah. Setelah ditanyai, polisi melihat bahwa anak tersebut bertingkah aneh. Setelah dibawa ke kantor sosial dan disitu ada tetangga subyek yang melihat anaknya dibawa polisi, maka tetangga tersebut memberitahukan pada subyek. Perasaan cemas, shock, takut dan bingung yang bercampur aduk membuat subyek sempat tidak sadarkan diri dan masih mengalami trauma hingga wawancara dilakukan.

Orangtua melatih anaknya dengan dibekali prinsip-prinsip dasar autis dan pelatihannya, ceramah-ceramah berkala, buku-buku, video-video yang melibatkan anak dan orangtua (Haniman, 2001). Dengan pengalaman subyek memeriksakan anaknya hingga “menyekolahkan” anaknya ke pusat terapi autis, subyek juga berusaha melatih anaknya dirumah seperti yang sudah dipelajari di pusat terapi.

(23)

Mulai dari belajar duduk, bantu diri (misal : minum, makan, melepas dan memakai celana, buang air kecil dan buang air besar) sampai sekarang anaknya sudah masuk sekolah umum kelas satu sekolah dasar. Subyek juga rajin mengikuti seminar, mail-list dan komunitas-komunitas lain yang mana bertujuan untuk saling bertukar pikiran mengenai anaknya yang merupakan autis.

Para orangtua diharapkan dapat menjadi terapis yang baik untuk anaknya yang merupakan autis (Haniman, 2001). Subyek melatih anak sama seperti apa yang diajarkan terapis saat melatih anaknya. Sehingga anak dapat segera bisa menguasai atau paling tidak anak dikenalkan dengan materi yang nantinya bermanfaat untuk masa depan anak.

Orangtua harus memperkaya pengetahuannya tentang autis, terutama pengetahuan mengenai terapi yang tepat dan sesuai dengan anak (Danuatmaja, 2003 ). Untuk menangani terapi autis, kedua subyek mempercayakan pada pusat terapi yang selama ini melatih dan mendidik anak subyek. Namun subyek tidak hanya pasarah dengan apa yang diajarkan terapis pada anaknya, namun juga melatih anak di rumah agar anak konsister dengan kemampuannya.

Sebagai orangtua yang mempunyai autis mempunyai tanggung jawab yang harus dipikul untuk perkembangan anak (McClure, 2006).

Mendekatkan diri pada Tuhan banyak membantu orangtua untuk menyadari bahwa hikmah dalam kehidupan yang mereka dapatkan salah satunya dengan mempunyai autis (Danuatmaja, 2003).

(24)

Sebagai orangtua memiliki kepercayaan yang kuat pada Tuhan dan merasa kehilangan jika tidak menyebutkan itu sebagai sumber kedamaian dan kekuatan utama di dalam kehidupan orangtua yang mempunyai autis (McClure, 2006).

Penerimaan orangtua pada autis, mencerminkan bagaimana orangtua bersikap saat mulai anak didiagnosa, menyesuaikan diri dengan anak, proses menerima keadaan anak sampai melewati masa-masa sulit.

Penerimaan orangtua pada anaknya sangat terbukti. Dapat dilihat dari hasil wawancara bahwa walaupun anaknya merupakan autis, orangtua selalu berusaha untuk kemajuan anaknya. Mulai terapi di pusat terapi, obat, suplemen, rutin ke psikiater sampai ke pengobatan alternatif. Hal ini dikarenakan orangtua percaya bahwa anak adalah titipan Tuhan yang harus dijaga, diasuh dan dididik sebaik mungkin. Orangtua sadar bahwa usaha yang silakukan selama ini harus diiringi doa untuk kemajuan buah hatinya. Penerimaan orangtua tercermin dalam kehidupan sehari-hari sesuai hasil wawancara dan memebentuk dinamika sikap orangtua.

Orangtua yang memiliki autis bahkan merasa bangga karena menjadi orangtua yang istimewa. Keyakinan itu muncul karena dengan dianugerahi anak yang khusus, maka orangtua membutuhkan kesabaran yang ekstra dalam pengasuhan dan mendidik anak, dengan begitu orangtua percaya akan mendapatkan pahala yang “ekstra” juga dari Tuhan.

Keseluruhan data yang diperoleh peneliti menunjukkan penerimaan orangtua yang memiliki autis. Sikap ini dibuktikan bahwa orangtua percaya anak adalah titipan Tuhan. Orangtua percaya harus mendidik, merawat dan mengasuh anaknya sebaik mungkin. Kondisi autis memang memerlukan usaha lebih dari orangtua, tapi

(25)

orangtua percaya apa yang dilakukan untuk anaknya merupakan usaha demi kebaikan anak. Agar suatu saat anak bisa mengontrol dirinya sendiri dan bantu diri atau mandiri.

Namun demikian, tingkat penerimaan orangtua berbeda. Sesuai dengan wawancara, hal ini disebabkan oleh perbedaan perkembangan anak. Subyek menyatakan menerima anaknya yang merupakan autis walaupun dalam kehidupan sehari-hari subyek sering merasa putus asa dengan perkembangan anaknya yang seolah-olah berhenti. Selain putus asa karena perkembangan anaknya yang bisa dibilang lambat, subyek juga sering merasa putus asa dengan masa depan anaknya nanti karena untuk mengontrol diri saja anaknya belum bisa. Subyek masih sering menghadapi kesulitan dalam mengasuh anak misalnya karena anaknya sering tantrum, belum bisa mengendalikan diri, belum lancar bicara dan belum mengerti perintah dari orang lain. Kesulitan-kesulitan ini yang kadang membuat subyek putus asa dengan masa depan dan perkembangan anakknya.

Subyek yang lain menyatakan sejauh ini anaknya yang merupakan autis sudah menunjukkan banyak perbaikan. Mulai dari bantu diri, akademik dan perilakunya. Subyek mengalami masa sulit saat anaknya belum bisa mematuhi perintah. Sehingga anak cenderung semaunya sendiri. Masa-masa sulit sudah dilewati subyek. Sekarang subyek sudah merasa jauh lebih lega karena anaknya sudah bisa mandiri, misalnya memakai baju sendiri, makan, minum sendiri, mandi sendiri dan buang air kecil dan buang air besar sendiri. Bahkan saat ini subyek menyatakan bahwa subyek sangat bangga dengan anaknya yang merupakan autis yang sudah bisa mandiri dan masuk sekolah umum.

(26)

Pengambilan data dalam penelitian ini dapat didukung dengan observasi guna menambah data, tapi observasi tidak dapat dilakukan peneliti pada saat orangtua dan anak berada di rumah untuk melihat kehidupan sehari-hari secara nyata.

Orangtua yang memiliki autis berharap anaknya tumbuh dengan normal dan kelak berhasil dalam kehidupan dan pendidikan serta dapat menjadi kebanggaan keluarga (Hastuti & Zamralita, 2004). Kebanyakan orangtua selalu mempertanyakan bagaimana kemungkinan sembuh bagi anaknya yang merupakan autis. Orangtua sering mencemaskan masa depan anaknya. Bagaimana nanti kalau orangtuanya sudah tiada. Belum lagi bagaimana autis mencari sumber penghidupannya. Bagaimana pula dengan masalah jodohnya kelak (Handojo, 2003). Subyek sangat berharap masa depan anaknya akan sesuai dengan apa yang diharapkan orangtua yang lain. Keadaan anak yang merupakan autis membuat orangtua tidak bisa berandai-andai tentang masa depan anaknya tersebut. Paling tidak orangtua ingin anaknya bisa mengendalikan dirinya sendiri (tidak hiperaktif lagi), mandiri, bisa melakukan keperluannya sendiri, seperti makan, minum, memakai baju, buang air besar, buang air kecil dan mandi sendiri. Untuk kemajuan akademik, subyek tidak terlalu menuntut. Menurut sebyek, asalkan anak bisa mengikuti pelajaran yang diberikan, maka subyek sudah sangat bersyukur.

Kesimpulan

1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orangtua menerima anaknya yang merupakan autis karena menurut orangtua anak adalah titipan Tuhan dan orangtua merasa anak anak adalah tanggung jawab orangtua. Walaupun

(27)

dalam menjalankan tanggung jawabnya, orangtua membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang lebih dibanding orangtua lain yang mempunyai anak normal.

2. Adanya variasi penerimaan di antara orangtua karena faktor perkembangan anak. Orangtua yang banyak mengalami kesulitan dalam mengasuh anaknya, sering merasa putus asa. Orangtua merasa putus asa karena anak tidak menunjukkan kemajuan seperti yang diharapkan orangtua. Orangtua yang lain dapat menerima anaknya yang merupakan autis walaupun awalnya juga mengalami kesulitan yang sama seperti orangtua lain yang mempunyai autis, karena anak menunjukkan kemajuan yang baik, kemajuan yang sesuai dengan harapan orangtua maka orangtua akan lebih menerima anaknya yang merupakan autis.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan, maka penulis mengajukan saran sebagai berikut :

1. Saran untuk pusat terapi anak Autis Cahaya Ananda.

Mensosialisasikan pada orangtua lain tentang autis. memberikan informasi tentang gejala perilaku autis, memberi informasi apa yang sebaiknya dilakukan orangtua apabila mendapati anaknya menunjukkan gejala autis serta memberikan motivasi pada orangtua yang baru menyadari bahwa anaknya merupakan autis untuk selalu berusaha demi perkembangan anaknya.

(28)

Memberikan motivasi pada orangtua untuk tidak putus asa dalam mengasuh autis.

2. Saran untuk peneliti selanjutnya.

Penelitian ini lebih berfokus pada penerimaan orangtua pada autis dengan metode angket untuk menentukan orangtua mana yang akan diwawancarai. Wawancara cukup intens, tapi hanya dilakukan satu kali karena peneliti tidak mau mengganggu aktifitas dan kesibukkan subyek.

Referensi

Dokumen terkait

Gambar 4.138 Rancangan Layar Halaman Laporan Pelanggan / Partner Baru

20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidkan Nasional (UU Sisdiknas) merupakan respons terhadap tuntutan reformasi di bidang pendidikan. Sejalan dengan prinsip

Prosedur penelitian .Jakarta: Rineka Cipta... Motivasi kepemimpinan dan

Batubara hasil proses mempunyai nilai Rmax yang lebih tinggi dibandingkan dengan batubara raw, yang menunjukkan bahwa batubara hasil proses memiliki laju

Pengarah bukaan pada ruang Unit Kemahasiswaan bangunan Student Center Itenas Bandung tidak bekerja optimal dalam menciptakan kenyamanan termal, karena aliran udara

dengan judul “ Perbandingan efektivitas penggunaan kompres ekstrak lidah buaya ( gel aloe vera ) dengan kompres air hangat pada penurunan tingkat skala nyeri phlebitis pada

In this chapter the writer analyzes the data by applying X-bar theory to both languages noun phrases found in the data. After applying X-bar theory, the writer