• Tidak ada hasil yang ditemukan

MASALAH SAINTIFIKASI JAMU DAN KAITANNYA DENGAN PROGRAM MAGISTER HERBAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MASALAH SAINTIFIKASI JAMU DAN KAITANNYA DENGAN PROGRAM MAGISTER HERBAL"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH KONSEP HERBAL INDONESIA

MASALAH SAINTIFIKASI JAMU DAN KAITANNYA

DENGAN PROGRAM MAGISTER HERBAL

Disusun oleh:

Adhen Maulana 1106027440

Arnita Yeyen 1106027586

Caroline 1106027655

Esthi Candra Damayanti 1106027762 Aini Gusmira 1106106501

Dwi Handayani 1106106722

Fitriani Annisa A.M. 1106106842 Luh Mas Sukeningsih 1106107050 Munawarohthus Sholikha 1106107126 Pulan Widyanati 1106107214 Syavika Ayuni Taslim 1106107510 Wina Sundari 1106107561

PROGRAM MAGISTER HERBAL

DEPARTEMEN FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS INDONESIA

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara mega diversity untuk tumbuhan obat di dunia dengan keanekaragaman hayati tertinggi ke-2 setelah Brazilia. Dari 40.000 jenis flora yang ada di dunia sebanyak 30.000 jenis dijumpai di Indonesia dan 940 jenis di antaranya diketahui berkhasiat sebagai obat yang telah dipergunakan dalam pengobatan tradisional secara turun-temurun oleh berbagai etnis di Indonesia. Keanekaragaman hayati ini merupakan aset nasional yang bernilai tinggi untuk pengembangan industri agromedisin di dunia.

Menurut Undang-undang Kesehatan No.36 Tahun 2009, obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Penggunaan bahan alam sebagai obat tradisional di Indonesia telah dilakukan oleh nenek moyang kita sejak berabad-abad yang lalu terbukti dari adanya naskah lama pada daun lontar Husodo (Jawa), Usada (Bali), Lontarak pabbura (Sulawesi Selatan), dan relief candi Borobudur yang menggambarkan orang sedang meracik obat (jamu) dengan tumbuhan sebagai bahan bakunya.

Adanya kecenderungan pola hidup kembali ke alam (back to nature) dengan keyakinan bahwa mengkomsumsi obat alami relatif lebih aman dibanding dengan obat sintetik, maka berdampak tingginya permintaan dunia akan obat alami sehingga prospek pasar tumbuhan obat Indonesia di dalam maupun di luar negeri semakin besar peluangnya.

Saintifikasi jamu merupakan pembuktian ilmiah jamu melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan.

1.2. Tujuan

a. Memahami perlunya saintifikasi jamu dan menemukan solusi atas kendala yang dapat menghambat terwujudnya saintifikasi jamu.

(3)

b. Memahami kaitan antara saintifikasi jamu dengan diadakannya program pendidikan magister herbal dan menemukan solusi atas kendala yang dapat terjadi dalam pelaksanaan program pendidikan magister herbal.

(4)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Jamu

Jamu adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat (Permenkes No.003/Menkes/Per/I/2010).

2.2. Sejarah Jamu

Jamu, atau yang lebih sering dikenal sebagai obat asli Indonesia, telah ada sejak zaman dahulu kala. Jika ditilik dari dokumentasi yang ada, dokumentasi tertua mengenai jamu terdapat pada relief Candi Borobudur (tahun 772 setelah Masehi) dimana terdapat lukisan tentang ramuan obat tradisional/jamu. Relief-relief yang menerangkan tentang penggunaan jamu pada zaman dahulu juga terdapat pada Candi Prambanan, Candi Penataran (Blitar), dan Candi Tegalwangi (Kediri). Selain itu, di berbagai daerah di tanah air, dapat ditemukan berbagai kitab yang berisi tata cara pengobatan dan jenis-jenis obat tradisional. Pada tahun 991-1016 M, perumusan obat dan ekstraksi dari tanaman ditulis pada daun kelapa/lontar, misalnya seperti Lontar Usada di Bali, dan Lontarak Pabbura di Sulawesi Selatan. Beberapa dokumen tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maupun bahasa asing. Pada masa kerajaan-kerajaan di Indonesia, pengetahuan mengenai formulasi obat dari bahan alami juga telah dibukukan, misalnya Bab kawruh jampi Jawi oleh keraton Surakarta yang dipublikasikan pada tahun 1858 dan terdiri dari 1734 formulasi herbal.

Sebelumnya, jamu hanya digunakan oleh kaum bangsawan di kerajaan-kerajaan di Indonesia. Namun pada perkembangannya, jamu saat ini dikenal luas dan digunakan oleh masyarakat untuk memelihara kesehatan dan menyembuhkan penyakit.

2.3. Saintifikasi Jamu

Saintifikasi jamu merupakan pembuktian ilmiah jamu melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 003/Menkes/Per/I/2010, tujuan saintifikasi jamu adalah:

(5)

1. Memberikan landasan ilmiah (evidence based) penggunaan jamu secara empiris melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan.

2. Mendorong terbentuknya jejaring dokter atau dokter gigi dan tenaga kesehatan lainnya sebagai peneliti dalam rangka upaya preventif, promotif, rehabilitatif, dan paliatif melalui penggunaan jamu.

3. Meningkatkan kegiatan penelitian kualitatif terhadap pasien dengan penggunaan jamu.

4. Meningkatkan penyediaan jamu yang aman, memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah, dan dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan sendiri maupun dalam fasilitas pelayanan kesehatan.

Sedangkan ruang lingkup saintifikasi jamu diutamakan untuk upaya preventif, promotif, rehabilatif dan paliatif. Saintifikasi jamu dalam rangka upaya kuratif hanya dapat dilakukan atas permintaan tertulis pasien sebagai komplementer-alternatif setelah pasien memperoleh penjelasan yang cukup.

Penyelenggara saintifikasi jamu adalah fasilitas kesehatan pemerintah atau swasta dengan tenaga kesehatan terdiri dari dokter, dokter gigi, apoteker, perawat, dan tenaga kesehatan yang lain sesuai peraturan yang ada.

Tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan jamu pada fasilitas pelayanan kesehatan harus memiliki:

1. Surat Tanda Registrasi (STR) untuk dokter atau dokter gigi dari Konsil Kedokteran; Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA) untuk apoteker; Surat Izin/Registrasi dari Kepala Dinas Kesehatan Propinsi untuk tenaga kesehatan lainnya.

2. Surat izin praktik untuk dokter atau dokter gigi; surat izin kerja/surat izin praktik untuk dari tenaga kesehatan lainnyadari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat.

3. Surat Bukti Registrasi Tenaga Pengobat Komplementer Alternatif (SBR-TPKA) dari Kepala Dinas Kesehatan Propinsi.

(6)

4. Surat Tugas Tenaga Pengobat Komplementer Alternatif / Surat Izin Kerja Tenaga Pengobat Komplementer Alternatif (ST-TPKA / SIK-TPKA) dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

Dalam rangka pembinaan dan peningkatan saintifikasi jamu dalam penelitian berbasis pelayanan, Menteri Kesehatan membentuk Komisi Nasional Saintifikasi Jamu, dengan tugas:

1. Membina pelaksanaan saintifikasi jamu.

2. Meningkatkan pelaksanaan penegakan etik penelitian jamu.

3. Menyusun pedoman nasional berkaitan dengan pelaksanaan saintifikasi jamu. 4. Mengusulkan kepada Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

bahan jamu, khususnya segi budidaya, formulasi, distribusi dan mutu serta keamanan yang layak digunakan untuk penelitian.

5. Melakukan koordinasi dengan peneliti, lembaga penelitian dan universitas serta organisasi profesi dalam dan luar negeri, pemerintah maupun swasta di bidang produksi jamu.

6. Membentuk jejaring dan membantu peneliti dokter atau dokter gigi dan tenaga kesehatan lainnya yang melakukan praktik jamu dalam seluruh aspek penelitiannya.

7. Membentuk forum antar tenaga kesehatan dalam saintifikasi jamu.

8. Memberikan pertimbangan atas proses dan hasil penelitian yang aspek etik, hukum dan metodologinya perlu ditinjau secara khusus kepada pihak yang memerlukannya.

9. Melakukan pendidikan berkelanjutan meliputi pembentukan dewan dosen, penentuan dan pelaksanaan silabus dan kurikulum, serta sertifikasi kompetensi. 10. Mengevaluasi secara terpisah ataupun bersamaan hasil penelitian-pelayanan

termasuk perpindahan metode/upaya antara kuratif dan nonkuratif hasil penelitian-pelayanan praktik/klinik jamu.

11. Mengusulkan kelayakan hasil penelitian menjadi program sinergi, intregrasi dan rujukan pelayanan jamu kepada Menteri Kesehatan melalui Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

(7)

13. Memberikan rekomendasi perbaikan dan keberlanjutan program saintifikasi jamu kepada Menteri Kesehatan.

14. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan Meneteri Kesehatan.

Sesuai data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010, diketahui bahwa hampir separuh (49,54%) penduduk Indonesia umur 15 tahun ke atas menggunakan jamu. Dari mereka yang meminum jamu, bentuk sediaan jamu yang paling banyak dikonsumsi adalah cairan (55,16%), kemudian disusul seduhan dari serbuk (43,99%) lalu rebusan dari rajangan (20,43%), dan proporsi yang paling kecil adalah kapsul/pil/tablet (11,58%). Dari data tersebut menunjukkan penggunaan jamu terbanyak di masyarakat dalam bentuk cairan/seduhan/rebusan. Sehingga dalam melakukan saintifikasi jamu yang digunakan adalah bentuk sediaan jamu yang paling banyak digunakan masyarakat yaitu cairan/seduhan/rebusan.

Penyakit yang paling banyak diobati dengan komplementer (berdasar data Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan) adalah hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, hiperurisemia. Penyakit tersebut yang sedang diuji coba pada penelitian saintifikasi jamu tahun 2011. Penelitian diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan cq. Balai Besar Tanaman Obat dan Obat Tradisional. Formula jamu dan simplisia/bahan baku jamu untuk saintifikasi jamu disiapkan oleh Balai Besar Tanaman Obat dan Obat Tradisional. Penelitian saintifikasi jamu melibatkan 60 dokter yang telah mengikuti pendidikan dan latihan saintifikasi jamu 50 jam, 500 subjek serta pengumpulan data penelitian berlangsung selama 4 bulan (Juni – September 2011).

2.4. Dasar Hukum

a. Undang-undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009 tentangKesehatan.

b. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 003/Menkes/Per/I/2010 tentang Saintifikasi Jamu dalam Penelitian Berbasis Pelayanan Kesehatan.

2.5. Magister Herbal

Pendidikan formal, dalam hal ini terkait dengan herbal, hingga saat ini masih merupakan suatu kebutuhan dan kewajiban bagi masyarakat agar mendapat pengakuan baik secara nasional maupun internasional, terutama di tingkat perguruan tinggi yaitu

(8)

dengan pembentukan Program Magister Herbal Universitas Indonesia dengan peminatan Herbal Medik, Herbal Keperawatan dan Estetika Indonesia. Tujuan umum Program Magister Herbal adalah menghasilkan Magister Sains dalam Herbal yang kompeten. Sedangkan tujuan khusus dari Program Magister Herbal adalah menghasilkan:

a. Sumber daya manusia yang kompeten dalam mengangkat nama Indonesia ke dunia internasional melalui hasil-hasil penelitian bahan herbal atau jamu. Penelitian herbal atau jamu yang dimaksudkan untuk tindakan preventif, promotif, dan/atau kuratif yang berkualitas, ditunjang dengan publikasi ilmiah pada jurnal-jurnal nasional dan internasional yang terakreditasi;

b. Sumber daya manusia yang mampu:

1) Mendidik dan mengabdikan pengetahuan tentang manfaat/khasiat herbal atau jamu yang teruji secara tepat dan benar, baik secara langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat untuk preventif, promotif, dan/atau kuratif yang berkualitas, ditunjang dengan publikasi ilmiah pada jurnal-jurnal nasional dan internasional yang terakreditasi;

2) Meningkatkan dan mengembangkan diri secara terus menerus dalam bidang pengetahuan herbal/tanaman obat untuk mengatasi masalah yang terkait dengan penyakit/ keperawatan/estetika;

3) Memelihara dan mengembangkan kepribadian serta sikap yang diperlukan untuk kelangsungan profesionalnya seperti beretika, bertanggung jawab, kemampuan bekerja sama, dapat dipercaya dan menghormati serta menghargai sesama manusia;

4) Berfungsi sebagai anggota masyarakat yang kreatif, produktif, terbuka, menerima perubahan dan berorientasi ke masa depan serta mengajak masyarakat kearah yang sama;

5) Menghasilkan produk obat herbal/kosmetik herbal yang teruji dan unggul serta menghasilkan hak paten dan mampu memasarkannya. Untuk itu diperlukan kemampuan bekerjasama dengan industri obat herbal/kosmetik herbal terstandar yang mampu memproduksi obat herbal/kosmetik herbal yang berprinsip pada Good Manufacturing Practices (GMP).

(9)

BAB III

PERMASALAHAN

A. Saintifikasi Jamu

- Ketidakpraktisan bentuk sediaan jamu pada jamu saintifikasi tahun 2011 - Ketersediaan bahan baku dalam pembuatan formula jamu yang sudah

tersaintifikasi

- Standar mutu bahan baku jamu saintifikasi

- Dana yang besar dalam penelitian saintifikasi jamu

- Masih terbatasnya jumlah peneliti yang melakukan penelitian tentang jamu.

- Persetujuan protokol penelitian oleh komisi etik.

- Produk jamu saintifikasi sebagai produk generic public health atau produk komersial.

- Notifikasi/pemberitahuan dalam melakukan penelitian saintifikasi jamu agar tidak terjadi duplikasi penelitian.

- Mempublikasikan hasil penelitian saintifikasi jamu

- Tugas Komisi Nasional Saintifikasi Jamu dalam melakukan pendidikan berkelanjutan

B. Program Magister Herbal

- Hubungan saintifikasi jamu dan program Magister Herbal berkenaan dengan tugas Komisi Nasional Saintifikasi Jamu dalam melakukan pendidikan berkelanjutan.

- Dana dalam melakukan penelitian

- Komitmen bersama dalam implementasi ilmu herbal di bidang pelayanan kesehatan

(10)

BAB IV

PEMBAHASAN

Masyarakat umumnya memiliki pandangan bahwa membuat jamu adalah hal yang mudah yaitu mengambil tanaman yang ada, mengolahnya, serta menyimpannya tanpa memperhatikan faktor-faktor penting agar jamu tersebut mempunyai efek terapeutik yang optimal dan aman digunakan. Dalam membuat jamu agar bisa tersaintifikasi harus melewati beberapa tahap standarisasi. Tahap-tahap ini tidaklah mudah dilakukan karena setiap tanaman memiliki karakter yang berbeda-beda.

Salah satu parameter kualitas tanaman obat dilihat dari banyaknya senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan karena senyawa tersebut merupakan zat aktif yang berkhasiat obat. Selain itu tanaman obat harus memiliki manfaat serta aman dikonsumsi. Agar didapat manfaat yang optimal serta keamanan dari suatu tanaman obat yang diolah menjadi jamu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Tanaman yang digunakan adalah tanaman budidaya

Beberapa kejadian yang tidak diinginkan yang dilaporkan setelah penggunaan obat herbal tertentu salah satu penyebabnya adalah rendahnya kualitas produk jadi akibat penggunaan bahan baku tanaman obat dengan kualitas rendah. Untuk mengatasi hal ini maka sebaiknya bahan baku obat diperoleh dari tanaman yang dibudidayakan. Tanaman yang di dapat secara liar memiliki beberapa kekurangan diantaranya pencemaran mikroba patogen atau polusi yang mengandung logam berat, kandungan metabolit sekunder yang rendah, serta adanya kemungkinan salah identifikasi tanaman obat. Dalam budidaya tanaman obat, bibit yang digunakan haruslah bibit dengan kualitas tinggi. Selain itu kondisi lingkungan tanam, kondisi tanah, serta pemeliharaan harus menjadi perhatian agar kandungan metabolit sekunder yang diharapkan dapat dihasilkan dengan maksimal. Setiap tanaman memiliki waktu tertentu dimana kandungan metabolit sekundernya mencapai kadar tertinggi. Pada saat inilah waktu yang tepat untuk panen. Bagian yang dipanenpun berbeda-beda pada setiap tanaman, tergantung pada bagian mana metabolit sekundernya paling banyak dihasilkan. Penanganan pasca panen juga harus diperhatikan agar tumbuhan tidak terkontaminasi oleh benda asing serta

(11)

organoleptisnya seperti penampakan fisik, ukuran, warna, bau, dan rasa tetap terjaga.

2. Cara pengolahan tanaman obat menjadi jamu

Setiap tanaman memiliki cara pengolahan yang berbeda. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam meramu jamu adalah sebagai berikut:

- Bahan jamu harus dipilih dalam keadaan baik, tidak busuk atau berjamur. - Mengetahui bagian dari tanaman yang digunakan serta jumlahnya harus tepat. - Alat yang digunakan untuk memasak jamu biasanya berupa panci yang terbuat

dari tanah liat atau dapat juga berbahan keramik dan kaca. Untuk memasak jamu hindari panci yang terbuat dari alumunium agar kandungan obat tidak berinteraksi dengan aluminium.

- Suhu, waktu, serta jumlah air yang digunakan harus tepat agar zat aktif obat dapat tersari dengan maksimal.

3. Monitoring penyimpanan dan penggunaan

Tumbuhan obat yang belum diramu sebaiknya disimpan ditempat yang sesuai dengan kondisi setiap tanaman untuk menghindari pembusukan, berjamur, dan kontaminasi silang seperti bercampurnya dengan bahan lain. Tumbuhan obat yang sudah diramu menjadi jamu sebaiknya tidak digunakan berulang-ulang karena dapat memicu pertumbuhan mikroba patogen yang berbahaya bagi kesehatan, selain itu tanaman obat sudah tidak memiliki khasiat lagi.

Untuk mendukung terlaksananya program saintifikasi jamu dan program pendidikan magister herbal, pemerintah diharapkan memberikan perhatian lebih terhadap perkembangan jamu di Indonesia berupa penyediaan dana penelitian dan mendorong peningkatan jumlah pakar herbal yang kompeten.

Dalam saintifikasi jamu hal yang paling mendasar yang harus dilakukan yaitu salah satunya pembuktian secara ilmiah bahwa obat tradisional berbahan alami itu memberikan manfaat klinis untuk pencegahan atau pengobatan penyakit, serta tidak menimbulkan efek samping. Program Saintifikasi Jamu sendiri merupakan suatu bentuk upaya penelitian berbasis pelayanan kesehatan. Protokol penelitian hendaknya mengadaptasi dari jurnal-jurnal ilmiah nasional maupun internasional yang berkaitan

(12)

dengan penelitian yang hendak dilakukan, misalnya protokol penelitian yang terdapat pada jurnal Traditional Chinese Medicine.

Sebagian pemanfaatan bahan alam sebagai obat didasarkan pada resep ramuan tradisional warisan leluhur. Meski demikian, dalam perkembangannya khasiat-khasiat itu terbukti melalui beragam penelitian ilmiah. Penelitian itu memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap obat herbal. Badan Kesehatan Dunia (WHO) pun telah merekomendasikan penggunaan obat bahan alam dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit, terutama untuk penyakit-penyakit kronis, penyakit-penyakit degeneratif bahkan untuk kanker.

Seiring dengan perkembangan itu, industri jamu/obat herbal mulai memanfaatkan teknologi dalam bidang kefarmasian. Dengan demikian, industri jamu/obat herbal mampu memproduksi berbagai sediaan serupa obat farmasi modern. Seperti bentuk tablet, kapsul lunak dan kaplet, sirup, bahkan tablet efervesens, serta sediaan siap saji dalam sachet. Dengan semakin majunya teknologi yang digunakan, produk jamu saintifikasi yang sudah terbukti khasiatnya melalui penelitian ilmiah serta diproduksi sesuai standar yang berlaku mempunyai peluang pasar yang besar baik sebagai produk “generic public health” atau pun produk komersial dikarenakan kualitas serta tingkat keamanan yang lebih terjamin. Ditambah lagi meningkatnya permintaan pasar dalam maupun luar negeri terhadap produk-produk kesehatan berbahan alami, contohnya Antangin (Antangin JRG Tablet, Antangin JRG Syrup, Antangin Mint, Antangin mocca), OBHerbal, Antalinu, Srongpas, Natur Slim, Rapet Wangi, Pill Tuntas, Permen Antangin, dan Permen OBherbal. Seluruh produk itu diproduksi sesuai standar GMP (Good Manufacturing Process) Eropa, GMP Indonesia (CPOTB/Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik), dan FDA.

Dalam mempublikasikan penelitian saintifikasi jamu, sampai saat ini belum terdapat sistem dokumentasi yang terintegrasi lintas institusi secara nasional, sehingga sering terjadi duplikasi penelitian. Untuk mencegah terjadinya hal tersebut, hendaknya terdapat sistem dokumentasi publikasi penelitian yang terintegrasi secara nasional dan internasional.

Untuk menjamin akses masyarakat terhadap jamu yang bermutu, berkhasiat dan aman, dikembangkanlah “Pojok Jamu” di Puskesmas, diklat kepada dokter umum, dokter spesialis, dokter Puskesmas tentang pelayanan obat tradisional/jamu, pembinaan

(13)

produsen jamu tentang Cara Pembuatan Jamu yang Baik (CPJB), serta pengembangan 12 rumah sakit untuk persiapan saintifikasi jamu. Ke-12 rumah sakit tersebut adalah RSUP Persahabatan Jakarta, RS Kanker Dharmais Jakarta, RSAL Mintoharjo Jakarta, RS Dr. Sutomo Surabaya, RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, RS Orthopedi Solo, RSUP Sanglah Bali, RSUP Adam Malik Medan, RS Dr. Pirngadi Medan, RS Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, RS Syaiful Anwar Malang serta RSUP Kandou Manado. Salah satu contoh adalah dengan dipilihnya beberapa rumah sakit untuk menyediakan pelayanan herbal sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1684/Menkes/Per/XII/2005. Salah satu dari Rumah Sakit tersebut adalah RS Kanker Dharmais yang mendirikan unit Complementary Alternative Medicine (CAM). Unit CAM RS Kanker Dharmais berfungsi untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan komplementer bagi penderita penyakit kanker dan atau masalah kesehatan lainnya baik yang berasal dari Rumah Sakit Kanker Dharmais maupun rujukan dari fasilitas kesehatan lainnya.

Khusus pelayanan dengan menggunakan herbal terstandar ataupun jamu dapat diberikan dalam bentuk pelayanan berbasis penelitian yang pelaksanaannya diatur berdasarkan Permenkes tersendiri. Peraturan ini juga mengatur tentang syarat serta jenis herbal terstandar maupun jamu yang dapat digunakan dalam pelayanan kesehatan pada masyarakat yang berbasis pada penelitian. Dalam pelaksanaanya Unit CAM bekerjasama dengan SMF ilmu lainnya serta dengan Badan Penelitian dan Pengembangan.

Pada RS Kanker Dharmais sebagai pusat kanker nasional, penggunaan herbal dalam pelayanan berbasis penelitian ditujukan sebagai terapi penunjang (komplemen) terhadap pengobatan konvensional serta juga dalam mengatasi berbagai gejala yang timbul baik akibat kanker itu sendiri ataupun terhadap efek samping yang terjadi akibat dari pengobatan kanker.

Pendidikan formal, dalam hal ini terkait dengan herbal, hingga saat ini masih merupakan suatu kebutuhan dan kewajiban bagi masyarakat agar mendapat pengakuan baik secara nasional maupun internasional

Dengan adanya program pendidikan magister herbal diharapkan dapat mempercepat proses saintifikasi jamu karena dapat meningkatkan jumlah sumber daya manusia yang kompeten dan penelitian berkaitan dengan saintifikasi jamu. Namun,

(14)

dalam proses pendidikan calon pakar herbal tersebut diperlukan dana yang cukup besar untuk melakukan penelitian. Oleh karena itu, diharapkan pemerintah, industri jamu dan lembaga lainnya yang terkait dapat berperan dalam memfasilitasi penelitian tersebut.

Dalam mempertahankan dan mengembangkan pengetahuan para lulusan yang dihasilkan dari program pendidikan magister herbal ini, diperlukan adanya suatu wadah yang dapat menampung para lulusan tersebut dan memfasilitasi para lulusan untuk melakukan penelitian berkelanjutan dan mengaplikasikan pengetahuan yang dimilikinya.

(15)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

a. Dalam mewujudkan saintifikasi jamu, diperlukan peranan pemerintah dalam merumuskan kebijakan dan memberikan dukungan berupa dana dan fasilitas bagi para peneliti dan tenaga kesehatan terkait.

b. Program pendidikan magister herbal diharapkan dapat menjadi sarana untuk menghasilkan pakar herbal yang kompeten dan mendukung terwujudnya saintifikasi jamu.

5.2. Saran

a. Memperbanyak lahan budidaya tanaman obat untuk mempermudah mendapatkan bahan baku jamu.

b. Melakukan penelitian-penelitian tentang metode budidaya yang baik untuk meningkatkan kualitas tanaman obat.

c. Membuat standarisasi pengolahan setiap tanaman obat mulai dari penanaman hingga pembuatan jamu.

d. Pemerintah melibatkan berbagai kementerian untuk mendukung program saintifikasi jamu baik dari segi regulasi, fasilitasi publikasi penelitian ilmiah sehingga tidak terjadi penelitian ganda, capacity building dan melakukan proteksi produk dalam negeri.

e. Pemerintah, industri jamu, dan lembaga terkait diharapkan dapat berperan dalam memfasilitasi penelitian mahasiswa program pendidikan magister herbal.

f. Diperlukan adanya suatu wadah yang dapat menampung para lulusan program pendidikan magister herbal dan memfasilitasi para lulusan untuk melakukan penelitian berkelanjutan dan mengaplikasikan pengetahuan yang dimilikinya.

(16)

DAFTAR ACUAN

Anonim. (2007). Tentang Jamu. http://www.nyonyameneer.com/indonesia/tentang-jamu.php (18 September 2011, pk. 21:29:34)

Anonim. (2010). Jamu Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. http://www.depkes.go.id (18 September 2011, pk. 21:36:57) Anonim. (2011). Konsorsium Pengembangan Teknologi Industri Jamu/Obat Herbal. Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia. http://www.ristek.go.id (18 September 2011, pk.21:38:00)

BPOM RI. (2004). Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan No.

HK.00.05.4.2411 Tahun 2004 tentang Ketentuan Pokok Pengelompokan dan Penandaan Obat Bahan Alam Indonesia. Jakarta: BPOM RI.

BPOM RI. (2005). Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik

Indonesia No. HK.00.05.41.1384 tentang Kriteria dan Tata Laksana Pendaftaran Obat Tradisional, Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka.

Jakarta: BPOM RI.

BPOM RI. (2005). Pedoman Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik. Jakarta: BPOM RI.

Dorly. 2005. Potensi Tumbuhan Obat Indonesia dalam Pengembangan Industri Agromedisin. Makalah Pribadi Pengantar Falsafah Sains (pps 702) Sekolah

Pascasarjana/S3. Bogor : Institut Pertanian Bogor.

Kandini, H.S. (2010). Industri Jamu Tanah Air dan Implementasi ASEAN-China Free

Trade Agreement (ACFTA). Media HKI Vol. VII/No.3/Juni 2010.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 661/MenKes/SK/VII/1994 tentang Persyaratan Obat Tradisional.

Hargono, Djoko. Sejarah Jamu Indonesia. http://www.airmancur.co.id/artikel/read/sejarah-jamu_2 (18 September 2011, pk. 21:27:03)

Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 003/Menkes/Per/I/2010 tentang Saintifikasi Jamu dalam Penelitian Berbasis Pelayanan Kesehatan.

(17)

Pols, Hans. European Physicians and Botanists, Indigenous Herbal Medicine in the Dutch East Indies, and Colonial Networks of Mediation. East Asia Science,

Technology and Society: an International Journal 3, 2009:173-208.

Syra. (2011). BPPT Tingkatkan Mutu Produk Jamu dan Obat Herbal. BPPT. http://www.bppt.go.id/index.php?view=article&catid=56%3Abioteknologi-dan-

farmasi&id=740%3Aupaya-bppt-membatikkan-jamu&format=pdf&option=com_content (18 September 2011, pk.21:40:25)

Undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

World Health Organization. (2003). WHO Guidelines on Good Agricultural and

Collection Practices (GACP) for Medicinal Plants. Geneva: World Health

Organization.

World Health Organization. (2007). WHO Guidelines on Good Manufacturing

Referensi

Dokumen terkait

atau sebelum tindakan pada rawat jalan di rumah sakit, jika masih dalam jangka waktu 30 hari, riwayat medis dapat dipergunakan dan apabila telah lebih dari 30 hari harus

Optimal Order Quantity is when the Total Cost curve is at its lowest. This occurs when the Ordering Cost =

Di kejaksaan Tinggi Provinsi Sulawesi Selatan Pada Bagian Tindak Pidana Khusus terdapat suatu kegiatan untuk melakukan proses penanganan perkara, penyelidikan, penyidikan

Komunikasi yang dilakukan pada waktu yang tepat akan membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Misalnya, bila pasien sedang menangis kesakitan, bukan waktunya untuk tenaga

Kurang lebih, demikian proses mengurus surat nikah secara umum. Di beberapa tempat mungkin ada beberapa aturan yang berbeda sedikit. Setelah proses mengurus

The robust hydro-thermal power system controller design with the ECS is proposed in order to improve system stability under wind power disturbance with 5% variation of

Expenditure share on livestock product was lower than that of other food category. Most of rural household spent their income on livestock product is lower than that of either

Atas fenomena kasus pengoplosan makanan yang ditayangkan TRANS TV ini, penulis kemudian melakukan penelitian untuk tujuan mengetahui sejauhmana tayangan Reportase Investigasi