Locus Majalah Ilmiah Fisip Vol 7 No. 1- Pebruari 2017| 84 Kinerja Pegawai Dalam Pelayanan Pengurusan Ktp Elektronik Di Kantor
Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng Oleh : Kadek Artini*1 dan I Nyoman Mudarya*2
Abstraksi
Pegawai pemerintahan adalah aparat birokrasi yang juga sebagai abdi masyarakat harus memiliki kinerja yang baik agar mampu memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat khususnya dalam pengurusan KTP elektronik.
Dari hasil penelitian ditemukan fakta bahwa kinerja pegawai dalam memberikan pelayanan pengurusan KTP di Kantor Kecamatan Busungbiu sudah sesuai dengan indikator seperti ketepatan pelayanan, efektivitas, kualitas dan kuantitas pelayanan, kemandirian pegawai dalam memberikan pelayanan, serta adanya hubungan interpersonal antar pegawai.
Hal-hal yang menjadi pendukung dan penghambat pelayanan yang diberikan oleh pegawai kepada masyarakat di Kantor Kecamatan Busungbiu adalah kualitas dan kuantitas SDM pegawai, kerjasama antara pegawai dalam memberikan pelayanan, sikap pegawai dalam memberikanpelayanan, dan status kepegawaian dari pegawai pemberi pelayanan. Sedangkan solusi dalam mengatasi hambatan yang ada adalah dengan menambah jumlah pegawai dan memberikan pendidikan dan pelatihan kepada pegawai, memperbaiki sikap pegawai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, serta memperpanjang masa kontrak bagi pegawai yang berkinerja baik.
Kata Kunci : pelayanan publik, kinerja pegawai, KTP elektronik
*1Alumni Fisip Unipas
*2Staf Pengajar Universitas Panji Sakti
1. Pendahuluan
Dalam perkembangan zaman sekarang ini salah satu masalah yang kerap dihadapi oleh pemerintah khususnya pemerintah daerah adalah bagaimana menciptakan aparatur yang profesional, hebat, memiliki etos kerja tinggi, keunggulan kompetitif dan kemampuan memegang teguh etika birokrasi dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya dalam memenuhi aspirasi masyarakat serta terbebas dari Kolusi, Korupsi dan Nepotisme. Tantangan tersebut merupakan hal yang beralasan mengingat masyarakat di daerah menginginkan agar aparat pemerintah dalam melaksanakan tugas-tugasnya dapat bekerja secara maksimal yang dapat memberikan pelayanan yang terbaik terhadap masyarakat.
Locus Majalah Ilmiah Fisip Vol 7 No. 1- Pebruari 2017| 85 Menurut pasal 6 dan 7 Undang-Undang nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara (ASN), bahwa Pegawai ASN terdiri atas PNS dan PPPK. PNS merupakan pegawai ASN yang diangkat sebagai pegawai tetap oleh Pejabat Pembina Kepegawaian dan memiliki nomor induk pegawai secara nasional. Sedangkan PPPK merupakan pegawai ASN yang diangkat sebagai pegawai dengan perjanjian kerja oleh Pejabat Pembina Kepegawaian sesuai dengan kebutuhan instansi pemerintah dan ketentuan Undang-Undang.
Sebagai bagian dari Aparatur Sipil Negara, pegawai kecamatan memiliki kewajiban melaksanakan tugas kedinasan dengan penuh pengabdian, kejujuran, kesadaran, dan tanggung jawab, serta melaksanakan kebijakan yang dirumuskan pejabat pemerintah yang berwenang ( Pasal 23 huruf c dan e UU No. 5 Tahun 2014 )
Adapun masyarakat sangat ingin pelayanan yang optimal dan memuaskan dari para aparatur pegawai Pemerintah Daerah dalam hal pelayanan publik. Hal ini menuntut aparatur agar mempunyai ikatan psikologis terhadap perkembangan zaman sekarang ini sehingga bisa menyesuaikan sikap dalam melakukan pelayanan publik. Dalam konteks ini pelayanan menjadi kewajiban dan tanggungjawab birokrasi dalam mengadopsi perubahan dan kebutuhan sosial yang berdasarkan atas profesionalisme dan nilai-nilai kemanusiaan. Mengingat sangat pentingnya eksistensi Sumberdaya Manusia dalam bidang kegiatan pemerintahan disebutkan dalam penjelasan umum Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 bahwa kelancaran penyelenggaraan tugas pemerintahan dan pembangunan nasional sangat tergantung pada kesempurnaan aparatur, khususnya pegawai negeri. Dalam kenyataannya hal tersebut tidaklah mudah untuk terbentuk dengan sendirinya. Banyak hal yang terjadi malah sebaliknya, dimana banyak aparatur pemerintah daerah kurang mampu dalam menyelenggarakan kegiatan pemerintah dengan kredibilitas yang tinggi, sehingga proses pelayanan yang diberikan kepada masyarakat menjadi relatif kurang optimal.
Tugas dari Pemerintah adalah memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat dalam menjalankan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemerintahan Kecamatan dalam melayani masyarakat juga tidak
Locus Majalah Ilmiah Fisip Vol 7 No. 1- Pebruari 2017| 86 terlepas dari permasalahan yang berkenaan dengan kondisi pelayanan yang relatif belum memuaskan. Hal ini terutama berkaitan dengan kualitas sumber daya aparatur pemerintah yang profesional.
Salah satu kerja birokrasi dapat dilihat dari bagaimana birokrasi tersebut dalam hal ini Kecamatan bekerja sama dengan Kepala Desa melaksanakan tugasnya dalam mengeluarkan Kartu Tanda Penduduk ( KTP ). Bagi masyarakat. KTP merupakan suatu hal yang dekat dengan masyarakat dan dapat dikatakan pembuatan KTP ini pelayanan dasar pemerintah kepada masyarakatnya, KTP meski kelihatannya sepele tetapi merupakan unsur penting dalam administrasi kependudukan. Alasannya adalah karena menyangkut masalah legitimasi seseorang dalam eksistensinya sebagai penduduk dalam suatu wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan sesuai dengan Keputusan Presiden No. 52 Tahun 1997 yang di dalamnya disebutkan bahwa setiap penduduk yang berusia 17 tahun atau pernah menikah wajib memiliki Kartu Tanda Penduduk ( KTP ). Adapun syarat-syarat sesorang berhak mempunyai KTP salah satunya adalah apabila sudah genap 17 tahun dan bagi yang berstatus menikah tapi usianya belum mencapai 17 tahun juga berhak mempunyai KTP.
Tata cara pembuatan atau perpanjangan KTP adalah harus mengajukan permohonan tertulis kepada camat dengan menggunakan formulir yang disediakan dilampiri persyaratan surat pengantar dari Kepala desa dan pas photo, pengesahan dari desa, pengesahan dari Kecamatan kemudian ke Catatan Sipil. Melalui prosedur dan persyaratan seseorang berhak memiliki KTP, namun kenyataannya masih banyak yang telah memenuhi syarat tetapi belum mempunyai KTP dari data kependudukan yang diperoleh dari Kantor Camat Busungbiu. Dari jumlah penduduk kecamatan Busungbiu yang sudah wajib dan berhak memiliki KTP sebanyak 40.954 jiwa, baru 32.252 jiwa ( 78,75 ) yang sudah memiliki KTP. Sisanya 8.702 jiwa ( 21,25 % ) belum memiliki KTP, ada yang masih dalam proses dan ada juga yang memang belum mengurusnya.
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini, yaitu :1).Bagaimanakah kinerja pegawai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam pengurusan
Locus Majalah Ilmiah Fisip Vol 7 No. 1- Pebruari 2017| 87 Kartu Tanda Penduduk di Kantor Kecamatan Busungbiu ?; 2).Apakah yang menjadi faktor pendukung dan penghambat dalam pelayanan pengurusan Kartu Tanda Penduduk yang diberikan oleh pegawai Kantor Kecamatan Busungbiu ?; dan 3).Bagaimanakah solusi dalam mengatasi faktor penghambat dalam pelayanan KTP oleh pegawai di Kantor Kecamatan Busungbiu ?
2. Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif karena data yang dikumpulkan berupa kata-kata. Arikunto (2006 : 12) mengemukakan bahwa, penelitian kualitatif tidak menggunakan angka-angka tetapi hanya menggunakan kata-kata. Sedangkan menurut Bungin (2012 : 32), penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data deskriptif mengenai kata-kata lisan maupun tertulis dan tingkah laku yang dapat diamati dari orang-orang yang diteliti.
Informan dalam penelitian ini adalah Camat Busungbiu Kabupaten Buleleng, Pegawai Kantor Camat Busungbiu Kabupaten Buleleng dan anggota masyarakat Kecamatan Busungbiu. Dalam memilih dan menentukan informan, peneliti mengacu pada teknik “purposive sampling”, dimana peneliti memilih informan yang dianggap tahu dan dapat dipercaya untuk menjadi sumber data yang benar dan mengetahui masalahnya secara mendalam.
Adapun yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah: 1).Kinerja pegawai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam pengurusan Kartu Tanda Penduduk di Kantor Kecamatan Busungbiu, seperti: kualitas dan kuantitas pelayanan, ketepatan waktu pelayanan, efektivitas, kemandirian, dan hubungan interpersonal; 2)Faktor pendukung dan penghambat pelayanan yang diberikan oleh Pegawai di Kantor Kecamatan Busungbiu, yang meliputi : a) Kualitas dan kuantitas SDM Pegawai Kantor Kecamatan Busungbiu; b) kerjasama antar pegawai dalam memberikan pelayanan; dan c) sikap pegawai dalam memberikan pelayanan.3). Solusi dalam mengatasi faktor penghambat pelayanan pengurusan KTP oleh pegawai di Kantor Kecamatan Busungbiu, yang meliputi : a)meningkatkan kualitas dan kuantitas pegawai; b)meningkatkan kerjasama antar
Locus Majalah Ilmiah Fisip Vol 7 No. 1- Pebruari 2017| 88 pegawai dalam memberikan pelayanan; dan c)memperbaiki sikap pegawai dalm memberikan pelayanan.
Penelitian ini mengambil lokasi di Kantor Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng, dengan tujuan untuk mengetahui kinerja pegawai dalam pemberian pelayanan pengurusan KTP kepada masyarakat. Selanjutnya menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan pemanfaatan dokumen. Analisis data dilakukan dengan analasis data kualitatif dengan prosedur : pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan serta verifikasi ( Sugiyono, 2013)
3. Hasil Penelitian Dan Pembahasan
3.1 Kinerja Pegawai dalam Memberikan Pelayanan Kepada Masyarakat dalam Pengurusan Kartu Tanda Penduduk di Kantor Kecamatan Busungbiu
Kinerja merupakan prestasi kerja yang telah dicapai oleh seseorang, yang merupakan hasil akhir dari suatu aktifitas yang telah dilakukan seseorang untuk meraih suatu tujuan. Pencapaian hasil kerja juga sebagai bentuk perbandingan hasil kerja seseorang dengan standar yang telah ditetapkan. Kinerja juga diharapkan memiliki atau menghasilkan kualitas yang baik dan tetap melihat jumlah atau kuantitas yang akan diraihnya. Suatu pekerjaan harus dapat dilihat secara kualitas terpenuhi maupun dari segi jumlah yang akan diraih dapat sesuai dengan yang direncanakan.
Sehubungan dengan kinerja pegawai kantor kecamatan sebagai ujung tombak birokrasi pelayanan publik di kecamatan, selalu berpedoman pada asas pelayanan publik yakni : transparansi, akuntabilitas, kondisional, partisipatif, kesamaan hak, dan keseimbangan hak dan kewajiban. Karena dalam hal ini, hakekat pelayanan publik yang diberikan oleh pegawai kecamatan kepada masyarakat adalah berupa pemberian pelayanan prima kepada masyarakat yang merupakan perwujudan kewajiban aparatur pemerintah sebagai abdi masyarakat ( Rahmayanty, 2013 : 86).
Locus Majalah Ilmiah Fisip Vol 7 No. 1- Pebruari 2017| 89 Pelayanan yang diberikan kepada masyarakat oleh pegawai di Kantor Kecamatan Busungbiu khususnya dalam pelayanan pengurusan KTP adalah berupa perekaman data dari masyarakat pemohon KTP yang untuk selanjutnya diberikan rekomendasi oleh Camat untuk kemudian dibawa ke Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil di Singaraja.
Dari hasil wawancara dengan para informan tersebut, dan didukung oleh hasil pengamatan peneliti langsung di kantor Camat Busungbiu, dapat dipahami bahwa kecepatan dan ketepatan pelayanan yang diberikan oleh pegawai kantor Camat Busungbiu adalah yang utama, tetapi tetap mengikuti prosedur pelayanan yang telah ditetapkan yang tentunya telah diketahui oleh masyarakat. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Dwiyanto ( 2011 : 77 ), bahwa dalam pelayanan publik diperlukan adanya standar pelayanan, dimana pencari layanan dapat mengetahui dengan pasti prosedur pelayanan yang diselenggarakan oleh birokrasi publik.
Selanjutnya berkaitan dengan kinerja pegawai dalam hal ini pegawai di kantor Kecamatan Busungbiu khususnya dalam pelayanan pengurusan KTP,dapat diukur dari efektifitas yang meliputi tingkat penggunaan sumber daya organisasi ( tenaga, uang, teknologi, bahan baku). Di Kantor Kecamatan Busungbiu, saat ini ada 3 ( tiga ) orang pegawai yang menangani masalah perekaman data penduduk untuk pengurusan KTP. Dengan didukung oleh peralatan berupa komputer perekam data sebanyak 2 ( dua ) unit. Tetapi yang digunakan sehari-hari untuk merekam data penduduk hanya 1 ( satu) unit komputer saja.
Dari hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa dengan ketersedian tenaga dan teknologi yang dimiliki oleh Kantor Kecamatan Busungbiu, pegawai dapat memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Ini berarti bahwa efektivitas sebagai salah satu kriteria kinerja pegawai di kantor Kecamatan Busungbiu sudah bisa berjalan maksimal. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh B.Jhon (Rivai, 2008 : 287), bahwa efektivitas merupakan tingkat penggunaan sumber daya organisasi dengan maksud untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Locus Majalah Ilmiah Fisip Vol 7 No. 1- Pebruari 2017| 90 Secara kualitas, pelayanan yang diberikan oleh pegawai di Kantor Kecamatan Busungbiu kepada masyarakat dalam pengurusan KTP sudah bisa dikatakan maksimal meskipun masih terdapat kekurangan-kekurangan. Kekurangan tersebut bersifat manusiawi karena keterbatasan yang dimiliki oleh pegawai di Kantor Kecamatan Busungbiu.
Dalam pelayanan yang diberikan, berapapun jumlah masyarakat yang datang untuk mengurus KTP, baik yang datang langsung ke kantor camat atau yang datang saat ada program jemput bola ke desa-desa, semua dapat dilayani dengan baik. Ini menunjukan bahwa secara kualitas dan kuantitas kinerja pegawai kantor Kecamatan Busungbiu dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sudah cukup maksimal. Menurut B.Jhon ( Rivai, 2008), kualitas dan kuantitas pekerjaan merupakan salah satu indikator dalam mengukur kinerja pegawai.
Selanjutnya yang dijadikan indikator untuk melihat kinerja seorang pegawai adalah kemandirian, dalam hal ini dilihat kemampuan seorang pegawai dapat melakukan fungsi kerjanya tanpa meminta bantuan, bimbingan dan pengawasan atau meminta turut campur pengawas guna menghindari hasil yang merugikan. Sehubungan dengan hal tersebut, apa yang dilakukan oleh pegawai di Kantor Kecamatan Busungbiu, khususnya pegawai yang menangani proses perekaman data KTP sudah mengarah pada kemandirian. Dengan jumlah personil yang hanya 3 (tiga) orang, mereka dapat melaksanakan tugas dan fungsinya secara mandiri dalam melayani masyarakat. Kerjasama diantara mereka sesama operator ataupun dengan pegawai di bagian lain, tetap ada sebagai bagian dari hubungan interpersonal. Karena bagaimanapun setiap manusia selalu membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Kerjasama dengan sesama teman kerja dalam satu unit kerja memang dimungkinkan dalam konsep kemandirian dan hubungan interpersonal. Bagaimanapun juga, sebuah instansi seperti Kantor Kecamatan Busungbiu adalah sebuah unit kerja yang merupakan satu kesatuan, dan saling terkait satu sama lain.
Saling membantu antara rekan kerja dalam unit kerja bukanlah bukti mereka tidak memiliki kemandirian. Karena dalam beberapa kondisi seseorang tidak mungkin bisa melakukan beberapa pekerjaan dalam satu waktu. Misalnya ketika seorang operator komputer perekam data KTP sedang melayani masyarakat
Locus Majalah Ilmiah Fisip Vol 7 No. 1- Pebruari 2017| 91 memerlukan alat atau benda lain yang tidak ada didekatnya, dia bisa minta bantuan kepada teman lainnya untuk mengambilkannya.
Selanjutnya yang dijadikan tolok ukur dalam pelayanan kepada masyarakat oleh pegawai di Kantor Kecamatan Busungbiu adalah hubungan interpersonal dalam pelayanan. Dalam hal ini para pegawai di Kantor Kecamatan Busungbiu selalu bersosialisasi dengan sesama rekannya, saling mengemukakan perasaan, berkeluh kesah, saling membantu, dan selalu bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan bersama.
Kerjasama diantara mereka tetap ada sebagai bagian dari hubungan interpersonal. Karena bagaiamanapun setiap manusia selalu membutuhkan orang lain dalam kehidupannya. Kerjasama dengan sesama teman kerja dalam satu unit kerja memang dimungkinkan dalam konsep kemandirian dan hubungan interpersonal.
Dari hasil wawancara serta didukung oleh hasil pengamatan di lokasi penelitian, dapat disimpulkan bahwa kinerja pegawai di Kantor Kecamatan Busungbiu dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat selalu dilandasi oleh adanya hubungan interpersonal dimana dalam hal ini pegawai bisa mengemukakan perasaaan, harga diri, menghormati jasa baik, dan kerjasama antara rekan kerja untuk tercapainya keberhasilan dalam pekerjaan. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh B. Jhon ( Rivai , 2008 ) yang mengatakan bahwa salah satu kriteria yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja pegawai adalah hubungan interpersonal, tingkat dimana pegawai mengemukakan perasaan, harga diri, jasa baik, dan kerjasama antara rekan kerja dalam unit kerjanya.
3.2 Faktor Pendukung dan Penghambat Pelayanan yang diberikan oleh Pegawai Kantor Kecamatan Busungbiu
3.2.1.Faktor Pendukung Pelayanan oleh Pegawai Kantor Kecamatan Busungbiu
Dalam melaksanakan tugasnya, seorang pegawai membutuhkan dukungan yang maksimal dari berbagai sisi. Berhasil tidaknya seorang pegawai melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya sangat tergantung adanya
Locus Majalah Ilmiah Fisip Vol 7 No. 1- Pebruari 2017| 92 berbagai faktor yang mendukung kinerja pegawai tersebut. Dan sebaliknya, gagalnya suatu pekerjaan diselesaikan oleh seorang pegawai sangat tergantung pada adanya faktor-faktor penghambat yang mengganggu kinerja pegawai.
Sehubungan dengan kinerja pegawai di Kantor Kecamatan Busungbiu dalam melaksanakan tugasnya memberikan pelayanan kepada masyarakat, khususnya dalam pengurusan KTP, maka yang menjadi faktor pendukung dan penghambat keberhasilan pelaksanaan tugas tersebut adalah, kualitas dan kuantitas SDM pegawai tersebut, kerjasama antar pegawai, dan sikap pegawai dalam memberikan pelayanan
Secara kualitas khususnya dari segi pendidikannya, maka pegawai yang melayani masyarakat dalam pengurusan KTP di Kantor Kecamatan Busungbiu yang berjumlah 3 (tiga) orang, seorang berpendidikan sarjana, seorang berpendidikan Diploma, serta seorang lagi lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA). Dengan tingkat pendidikan seperti itu memang dirasa cukup memiliki kemampuan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat .
Kemudian dilihat dari semangat kerja dan keenerjikan, khususnya dari segi umur, ketiga orang staf pegawai tersebut rata-rata berusia masih muda dan masih memiliki energi yang sangat tinggi untuk menunjang produktivitasnya. Gairah kerjanya juga masih mengebu-gebu. Ini tentunya sangat mendukung kinerja pegawai tersebut dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat
Untuk pegawai yang menangani teknologi yang lumayan canggih seperti operator komputer perekam data KTP, memiliki tingkat pendidikan seperti tersebut di atas memang sudah cukup. Jika ditambah lagi dengan pengalaman yang dimilikinya dalam berhubungan dengan masyarakat, maka kualitas seseorang dengan tingkat pendidikan seperti tersebut sudah dirasa mampu untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Faktor pendukung lainnya bagi maksimalnya pemberian layanan kepada masyarakat khususnya dalam pengurusan KTP oleh pegawai di Kantor Kecamatan Busungbiu adalah karena adanya kerjasama yang terjalin baik selama ini. Hal itu terjadi karena mereka merasa sama-sama sebagai pegawai di kantor yang sama, sama-sama mengabdi untuk melayani masyarakat. Usia mereka juga sebaya
Locus Majalah Ilmiah Fisip Vol 7 No. 1- Pebruari 2017| 93 sehingga mereka gampang berkomunikasi dan gampang bekerja sama. Apalagi nasib mereka tentang status kepegawaiannya sama yakni sama-sama pegawai kontrak. Akhirnya diantara mereka tumbuh rasa persaudaraan, tidak lagi hanya sebatas teman kerja.
Hal terakhir yang menjadi pendukung pelayanan yang diberikan pegawai kepada masyarakat adalah sikap pegawai dalam memberikan pelayanan. Sikap seseorang dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri pegawai itu sendiri dan faktor lingkungan. Faktor dari dalam dapat berupa karakter dari pegawai tersebut, keadaan kejiwaan yang sedang terjadi dalam diri pegawai tersebut, dan faktor-faktor lainnya. Sedangkan faktor-faktor dari luar yang berupa lingkungan kerja dapat berasal dari teman kerja, juga dari masyarakat yang mencari pelayanan.
Karakter orang yang memang dalam kesehariannya ramah dan murah senyum, maka akan berpengaruh terhadap sikapnya ketika berhadapan dengan masyarakat yang mencari layanan. Ramah, murah senyum, dan penuh canda akan menjadikan pegawai tersebut dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan membuat masyarakat puas. Sikap melayani harus ditumbuhkan dalam diri pegawai yang merupakan abdi negara dan abdi masyarakat.
Dari pendapat para informan, dapat dipahami bahwa sikap seorang pegawai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat berpengaruh pula terhadap kinerja pegawai tersebut. Sikap seorang pegawai yang baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat merupakan salah satu bagian dari komitmennya sebagai seorang pegawai, dimana dia memiliki tanggung jawab kepada pekerjaan dan instansi tempatnya bekerja. Komitmen kerja merupakan suatu tingkat dimana pegawai atau karyawan mempunyai komitmen kerja dengan instansi dan tanggung jawab terhadap kantor ( B.Jhon dalam Rivai, 2008 )
3.2.2 Faktor Penghambat Pelayanan oleh Pegawai Kantor Camat Busungbiu
Salah satu faktor yang bisa menjadi penghambat kinerja pegawai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat khususnya dalam pengurusan KTP di Kantor Kecamatan Busungbiu adalah masih terbatasnya jumlah dan kemampuan
Locus Majalah Ilmiah Fisip Vol 7 No. 1- Pebruari 2017| 94 yang dimiliki oleh pegawai yang bertugas di bagian pelayanan pengurusan KTP. Meskipun dengan jumlah dan kualitas yang dimiliki oleh pegawai di bagian pelayanan pengurusan KTP untuk saat ini dirasa sudah cukup, tetapi menghadapi tantangan kedepan dibutuhkan jumlah yang lebih dengan kualitas yeng lebih pula.
Faktor lain yang bisa menyebabkan terhambatnya pelayanan yang oleh pegawai berikan kepada masyarakat, adalah status kepegawaian mereka tersebut yang masih berstatus sebagai pegawai kontrak. Ini tentunya menjadi hambatan secara psikologis bagi para pegawai tersebut untuk melaksanakan pekerjaannnya. Seperti diketahui, status sebagai pegawai kontrak dengan penghasilan yang masih tergolong rendah, bahkan masih di bawah upah minimum, tentunya akan berdampak negatif terhadap kinerja seorang pegawai.
Dari pemaparan yang disampaikan oleh informan, status kepegawaian dari pegawai yang bertugas di bagian pelayanan pengurusan KTP di Kantor Camat Busungbiu yang masih berstatus sebagai pegawai kontrak menjadi penghambat secara psikologis terhadap pelayanan yang diberikannya kepada masyarakat.
Hal terakhir yang menjadi penghambat pelayanan yang diberikan pegawai kepada masyarakat adalah sikap pegawai dalam memberikan pelayanan. Sikap seseorang dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri pegawai itu sendiri dan faktor lingkungan. Faktor dari dalam dapat berupa karakter dari pegawai tersebut, keadaan kejiwaan yang sedang terjadi dalam diri pegawai tersebut, dan faktor-faktor lainnya. Sedangkan faktor-faktor dari luar yang berupa lingkungan kerja dapat berasal dari teman kerja, juga dari masyarakat yang mencari pelayanan.
Karakter dan sikap seseorang yang dalam kesehariannya selalu menampakkan sikap judes dan gampang emosi biasanya akan dapat menghambat seorang pegawai dalam melaksanakan kewajibannya sebagai pelayan masyarakat. Pegawai yang memiliki sikap seperti itu akan sulit beradaptasi dengan pekerjaan dan lingkungan sekitarnya.
Dari pendapat beberapa orang informan, dapat dipahami bahwa sikap seorang pegawai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat berpengaruh pula terhadap kinerja pegawai tersebut. Sikap seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain atau dengan lingkungan sekitarnya memang dipengaruhi oleh
Locus Majalah Ilmiah Fisip Vol 7 No. 1- Pebruari 2017| 95 karakter dari orang bersangkutan. Sikap yang tidak baik dapat menjadi penghambat kinerja pegawai tersebut. Sikap seorang pegawai yang tidak baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat merupakan salah satu bagian pengingkaran terhadap komitmennya sebagai seorang pegawai, dimana dia seharusnya memiliki tanggung jawab kepada pekerjaan dan instansi tempatnya bekerja. Komitmen kerja merupakan suatu tingkat dimana pegawai atau karyawan mempunyai komitmen kerja dengan instansi dan tanggung jawab terhadap kantor ( B.Jhon dalam Rivai, 2008 ). Itu yang harus ditumbuhkan dalam diri seorang pegawai, terlebih dia adalah pegawai yang bertugas sebagai pelayan masyarakat.
3.3 Solusi dalam mengatasi faktor penghambat pelayanan pengurusan KTP oleh pegawai di Kantor Kecamatan Busungbiu Untuk meminimalisir berbagai faktor penghambat yang bisa menyulitkan dalam proses pelayanan kepada masyarakat, berbagai solusi diterapkan oleh Kantor Kecamatan Busungbiu agar pelayanan tetap berjalan baik dan masyarakat merasa puas dengan pelayanan yang diberikan.
Solusi yang dilakukan adalah yang berkaitan dengan kualitas dan kuantitas pegawai pemberi layanan adalah tentunya dengan menambah jumlah pegawai yang bertugas di bagian pelayanan khususnya di pelayanan perekaman data KTP. Hal ini dimaksudkan supaya semakin banyak masyarakat yang bisa dilayani.
Dari hasil wawancara dengan para informan, dapat dipahami bahwa solusi yang dilakukan oleh Kantor Kecamatan Busungbiu untuk mengatasi hambatan dalam pelayanan kepada masyarakat yang berkaitan dengan kuantitas dan kualitas pegawai adalah dengan menambah jumlah pegawai serta melaksanakan diklat atau pengembangan pegawai. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Irawan (2007), bahwa pengembangan pegawai merupakan suatu proses merekayasa perilaku kerja pegawai sedemikian rupa sehingga pegawai dapat menunjukkan kinerja yang optimal dalam pekerjaannya.
Memperbaiki sikap pegawai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat merupakan solusi dari ditemukannya hambatan dalam pelayanan
Locus Majalah Ilmiah Fisip Vol 7 No. 1- Pebruari 2017| 96 kepada masyarakat yang berkaitan dengan sikap pegawai yang kurang bersahabat dalam memberikan pelayanan.
Dari hal-hal yang disampaikan oleh para informan yang merupakan pejabat teras di Kantor Kecamatan Busungbiu, dapat dipahami bahwa sikap yang ramah dengan berusaha selalu tersenyum ketika memberikan pelayanan kepada masyarakat merupakan solusi bagi pegawai dalam mengatasi hambatan pelayanan yang berkaitan dengan sikap pegawai yang terkadang tidak ramah dan tidak bersahabat kepada masyarakat yang datang ke Kantor Camat mencari pelayanan.
Berkaitan dengan hambatan pelayanan administrasi kependudukan di Kantor Kecamatan Busungbiu berupa status pegawai pemberi pelayanan yang sebagian besar masih berstatus sebagai pegawai non PNS atau pegawai kontrak, maka solusi yang bisa dilakukan adalah dengan mengusulkan kepada pemerintah pusat melalui pemerintah kabupaten untuk melaksanakan pengangkatan menjadi Pegawai Negeri Sipil kepada pegawai kontrak yang berkinerja baik dengan masa kerja yang sudah cukup lama.
Dari hal-hal yang disampaikan oleh para informan, dapat diketahui bahwa solusi yang dilakukan oleh pihak Kantor Kecamatan Busungbiu untuk mengatasi hambatan pelayanan yang berkaitan dengan status kepegawaian dari staf pegawai khususnya yang bertugas di bagian pelayanan, yang lebih realistis adalah dengan selalu memperpanjang masa kontrak para pegawai tersebut setiap tahunnya. Sambil berharap pemerintah pusat segera mencabut moratorium pengangkatan CPNS, sehingga pegawai yang saat ini berstatus non PNS bisa segera diusulkan menjadi CPNS, dan tentunya kesejahteraan pegawai tersebut bisa lebih terjamin kedepannya. Dengan demikian mereka diharapkan akan lebih bersemangat dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai abdi negara dan pelayan masyarakat.
4. Simpulan dan Saran
Dari hal-hal yang diperoleh lewat hasil penelitian dan telah dijelaskan pada bab terdahulu, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
Locus Majalah Ilmiah Fisip Vol 7 No. 1- Pebruari 2017| 97 1. Kinerja pegawai di Kantor Kecamatan Busungbiu dapat dinyatakan cukup baik
dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat khususnya dalam pengurusan Kartu Tanda Penduduk elektronik ( e-KTP), hal ini dapat dilihat dari ketepatan pelayanan dimana proses perekaman data KTP tidak lebih dari satu jam, efektivitas pelayanan yakni semua sumber daya yang ada bisa digunakan secara efektif, kualitas dan kuantitas pelayanan yang diberikan dimana semua masyarakat yang datang bisa terlayani dngan baik, kemandirian pegawai dalam memberikan pelayanan, serta hubungan interpersonal para pegawai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kinerja pegawai tersebut terbilang sudah cukup baik meskipun memang belum sempurna. Tetapi paling tidak sudah mampu memuaskan masyarakat yang mencari pelayanan ke Kantor Kecamatan Busungbiu.
2. Faktor pendukung dan penghambat pelayanan yang diberikan oleh pegawai di Kantor Kecamatan Busungbiu meliputi : kualitas dan kuantitas SDM pegawai pemberi layanan, kerjasama antar pegawai dalam memberikan pelayanan, sikap pegawai dalam memberikan pelayanan, serta status kepegawaian dari pegawai pemberi layanan kepada masyarakat. Kualitas SDM yang kurang memahami tugas-tugasnya serta jumlah SDM yang sedikit menjadi faktor penghambat. Kerjasama yang baik dan harmonis diantara sesama pegawai menjadi faktor pendukung. Sikap pegawai yang ramah menjadi faktor pendukung, sebaliknya yang terkesan kasar dan judes kepada masyarakat tentunya menjadi penghambat. Status pegawai pemberi layanan yang sebagian besar masih berstatus sebagai pegawai kontrak menjadi penghambat dalam pemberian layanan kepada masyarakat, karena pegawai tersebut bekerja sambil memikirkan nasib masa depannya.
3. Solusi dalam mengatasi faktor penghambat pelayanan pengurusan KTP oleh pegawai di Kantor Kecamatan Busungbiu adalah : meningkatkan jumlah pegawai yang bertugas di bagian pelayanan yang tentunya selalu atas dasar analisis jabatan dan analisis beban kerja dan melakukan pengembangan pegawai melalui berbagai pendidikan dan pelatihan, meningkatkan kerjasama antar pegawai dalam memberikan pelayanan, memperbaiki sikap pegawai dalam
Locus Majalah Ilmiah Fisip Vol 7 No. 1- Pebruari 2017| 98 memberikan pelayanan kepada masyarakat, serta solusi jangka pendek berupa memperpanjang masa kontrak pegawai yang berstatus non PNS setiap tahunnya.
Daftar Pustaka
Arikunto,Suharsimi, 2006, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik, Raja Grafindo : Jakarta
Bungin,Burhan, 2012, Analisis Data Penelitian Kualitatif : Pemahaman Filosofis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi, Raja Grafindo Perkasa : Jakarta Dwiyanto, Agus, 2011, Manajemen Pelayanan Publik : Peduli,Inklusif, dan
Kolaboratif, Gajah Mada University Press : Yogyakarta
Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2011 tentang Penerapan KTP berbasis Nomor Induk Kependudukan Berbasis Nasional.
Rahmayanty,Nina, 2013, Manajemen Pelayanan Prima, Graha Ilmu : Yogyakarta Rivai, 2008, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, Raja Grafindo : Jakarta Sugiyono, 2013, Metode Penelitian Kualitatif,Kuantitatif dan R&D, Alfabeta :
Bandung
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara