• Tidak ada hasil yang ditemukan

SUSUNAN REDAKSI. Dr. Riadika Mastra Irmadi Nahib. Dr. Aris Poniman Yatin Suwarno

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SUSUNAN REDAKSI. Dr. Riadika Mastra Irmadi Nahib. Dr. Aris Poniman Yatin Suwarno"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

SUSUNAN REDAKSI

REDAKTUR PELAKSANA: SIDANG PENYUNTING I PENELAAH AHU:

Jaya Wijaya Dr. Riadika Mastra

Irmadi Nahib Dr. Aris Poniman

Yatin Suwarno Dr. Sobar Sutisna

Moh. Khifni Soleman Dr. Priyadi Kardono, M.Sc

R. Danoe Suryamiharja Drs. Suwahyuono, M.Sc

Bambang Wahyu S Ir. Soma Trenggana, M.Sc

Hari Suryanto Dr. Budi Sulistiyo

WJ

Miamat Redaksi

Pusat Survei Sumber Daya Alam Laut - Bakosurtanal JI. Raya Jakarta - Bogor KM 46 Cibinong 16911

Telpon I Fax : 021 8759481 Diterbitkan oleh :

Yayasan Peduli Kelestarian Sumberdaya Alam dan Lingkungan (USUAU) . JI. Swadaya I No. 30 B RT 09/RW 09 Pejaten Timur Pasar Minggu

Jakarta Selatan , Telp. 021 781 .6201 Ijin Penerbitan

SIT Khusus SK Menpen RI No.2558/SKlDitjen PPG/SITI1999 Akreditasi P2JP Nasional UPI sebagai Majalah IImiah:

3836N.2/1F/2000 Tanggal10 Juli 2000 Penanggung jawab Penerbitan : Ketua Departemen Penelitian dan Pengembangan

Yayasan Peduli Kelestarian Sumberdaya Alam dan Lingkungan (USUAU) Tahun Pertama Terbit : Juni 1999

Frekuensi Penerbitan :

(3)

Pemanfaatan Bahan Tersuspensi Menggunakan Citra Landsat TM .... (Ambarwulan, Wdan Widiatmaka)

PEMETAAN BAHAN TERSUSPENSI MENGGUNAKAN CITRA

LANDSAT-TM MELALUI PENDEKATAN STATISTIK

(STUDI KASUS DI TELUK BANTEN )

Mapping of TSM from Landsat TM using Statistical Approach

(Case Study in Teluk Banten)

Oleh / by :

Wiwin Ambarwulan

Staf Pusat Survei Sumberdaya Alam Laut - (BAKOSURTANAL) JI. Raya Jakarta - Bogar KM 46 Cibinong , E-mail: [email protected]

Widiatmaka

Staf Pengajar Jurusan Tanah, Fak. Pertanian, IPS, E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan di Teluk Banten, Indonesia. Masalah yang ada pada daerah penelitian adalah mengenai pola siurkulasi dan· air teluk dangkal dimana air pada daerah pesisir ini dicirikan dengan konsentrasi sedimen melayang yang re/atif tinggi dan menyebabkan pendangkalan dari teluk. Tujuan utama dari penelitian ini adalah menduga konsentrasi total sedimen tersuspensi (total suspended sediment - TSM) dari air di wilayah pesisir dari penginderaan jauh.

Hasi/ dari penelitian menunjukan bahwa band merah dari Landsat TM (band 3) dengan menggunakan linear regresi adlah paling cocok untuk menduga konsentrasi TSM. Beberapa kelebihan

dari penggunaan pendekatan empirik (statistik) telah teramati pada penelitian ini. Dengan kata lain

pendekatan statistik telah terbukti cocok untuk Teluk Banten dan akan relatit mudah di aplikasikan pada 'Ii/ayah pesisir lainnya di Indonesia dengan cukup keakurasiannya.

ABSTRACT

The research was done in Teluk Banten, Indonesia. The problem in this area deals with circulation ::attems of the shallow bay waters and the water is characterised by high concentrations of suspended

sediment, which cause silting up of the bay. The main objective of the research was to estimate total

s:lspended matter (TSM) concentrations of the coastal waters from remotely sensed data.

A set of Landsat-TM images have been applied in this study. Such images were processed into -SM maps according to the empirical approach (statistical model). The statistical model is based on the orithm, developed from laboratory analysis data of TSM concentrations and the reflectance of -·ellite imagery.

The research result shows that the red band of Landsat TM (band 3), by using linear regression are

..; most suitable algorithm for estimating TSM concentration. Several advantages of the use of

aiistical model are discovered in this research. In other, this method has proved to be suitable for

_ Jk Banten and can easily be applied in other coastal area in Indonesia with sufficient accuracy. .

:a Kunci: Pendekatan Statistik, Model Statistik, Total Sedimen Tersuspensi , Penginderaan Jauh

(4)

- Z f>esember ZOOZ : 1 - 11

1. PE DAHULUAN

1.1. Latar Belakang

IE _" Se "en erleiak di pantai utara pulau Jz .'.'d ! 60 m di sebelah barat Jakarta. Sv0C2 a administratif, teluk ini terletak di ','."'a 'ah Propinsi Santen, Indonesia. C::ecara geografis, teluk terletak pada letak I "ta 9 5e SO'OO" - 06°04'OO"LS dan letak

tJ (16°05'00" - 106°17'00"BT. Total

ermukaan perairannya sekitar 150 rasalah utama di perairan Teluk Ba .en adalah masalah yang berkaitan de 9an pola sirkulasi pada perairan angkal, yang dicirikan oleh tingginya ,0(0 sentrasi bahan tersuspensi - yang 'ercermin dari tingginya nilai turbiditas dan

onsentrasi Total Bahan Tersuspensi (Total Suspended Matter -TSM).

Tingginya bahan tersuspensi ini antara lain menyebabkan pendangkalan teluk, yang pada giliran berikutnya mempersulit

pengelolaannya untuk berbagai penggunaan . Karena itu, apabila kadar

bahan tersuspensi ini dapat dimonitor, aspek perencanaan penggunaan perairan akan dapat terbantu.

Penginderaan Jauh Optik (Optical Remote Sensing) merupakan salah satu teknik al ernatif yang dapat digunakan untuk memonitor turbiditas dan kandungan bahan tersuspensi pada perairan. Salah satu kelebihan dari pendekatan dengan menggunakan satelit ini adalah bahwa data capat dikumpulkan pada wilayah yang reiatif luas dan pada interval waktu tertentu .

Morel & Gordon (1980) menyatakan bahwa terdapat tiga pendekatan berbeda untuk penetapan radian spektral (spectral radiance) atau refiektan, yang dapat digunakan untuk menduga konsentrasi bahan tersuspe si di dalam air. Pendekatan tersebut meliputi pendekatan empirik atau statistik, pendekatan semi empirik dan pendekatan analitik. Penelitian ini mengguna 'an pendekatan

statistik untuk menduga konsentrasi bahan tersuspensi dengan menggunakan citra Landsat TM .

Pendekatan statistik didasarkan pada adanya korelasi antara TSM yang diukur in situ di lapang dengan reflektan pada citra satelit. Kelebihan utama dari pendekatan statistik ini adalah: (i) mudah dilakukan, dan (ii) tidak memerlukan pengetahuan yang mendalam mengenai sifat-sifat optik inheren (inherent optical properties).

1.2. Tujuan

Tujuan utama dari penelitian ini adalah menduga konsentrasi total sedimen tersuspensi (total suspended sediment ­ TSM) dari air di wilayah pesisir Teluk Santen dari citra penginderaan jauh dengan pendekatan statistik .

2. BAHAN DAN METODA

Seri citra satelit Landsat TM daerah studi digunakan untuk menduga konsentrasi TSM. Citra tersebut adalah citra Landsat TM dari beberapa waktu pengambilan (27 Mei 1995; 14 Juni 1996; 30 Januari 1997; 14 Juni 1997; dan 6 April 2000). Waktu akuisisi citra-citra tersebut, sebagian pada musim kemarau dan sebagian lain pada musim penghujan.

Data bahan tersuspensi (TSM) yang digunakan pada penelitian ini adalah: (i) sedimen hasil pengukuran Wignyowinoto pada bulan November 1999 (Wignyowinoto, 2001), selanjutnya dalam makalah ini' akan disebut sebagai "TSM­ Wignyowinoto", (ii) pengukuran sedimen oleh NIOZ pada bulan Oktober 1998 (Van den Berg et al., 1998) dan sedimen hasil pengukuran NIOZ pada bulan Februari 1999 (Van den Berg et al., 1999), selanjutnya dalam makalah ini akan disebut sebagai "TSM-NIOZ', dan (iii) sedimen hasil pengukuran di lapang pada

(5)

konsentrasi '-enggunakan _ . yang diukur 'eflektan Jtama ah: (i) mudah memerlukan . ~ am herent

Pemanfaatan Bahan Tersuspensi Menggunakan Citra Landsat TM .. .. (Ambarwu/an, W dan Widiatmaka)

: Ian Oktober 2001 (Ambarwulan, 2002), terhadap citra yang ada dari distorsi, S2lanjutnya dalam makalah In! akan untuk menghasilkan citra terkoreksi, (iv)

~ sebut sebagai "TSM-Ambarwulan". penghitungan hubungan antara konsentrasi TSM dengan reflektan pada pada S:;cara umum, tahapan kegiatan yang ge10mbang tampak mata (band biru, hijau _ akukan pada pendekatan statistik ini dan merah) dengan menggunakan pada a:ialah (i) pemilihan data sekunder dari regresi, (v) penerapan algoritma yang dari 2sil pengukuran sedimen tersuspensi dihasilkan ke citra untuk mendapatkan _ 9 dilakukan oleh peneliti sebelumnya, peta sebaran sedimen. Tahapan kegiatan

pemilahan data sedimen kedalam dua pemetaan ini secara rinci disajikan pada mengenai Elompok, yaitu data sedimen terukur Gambar 1.

optical ;c a bulan basah dan data sedimen _ kur pad a bulan kering, (iii) koreksi

r---, I

I

Koreksi Citra Indeja

=-~ '2h _ ,., ik ~ ~ .uga : ~ ~ ~

r ian ini adalah

total sedimen ed sediment ­ pesisir Teluk ginderaan jauh . : TM daerah studi konsentrasi a.:a\ah citra Landsat ;J pengambilan (27

S; 30 Januari 1997; pril 2000). Waktu

out, sebagian pada

sebagian lain pada

(TSM) yang ini adalah: (i) Wignyowinoto uran pada 8 erg makalah ' TSM-NIOZ', ovember 1999 : <}, selanjutnya dalam :: : ebut sebagai "TSM­ engukuran sedimen ,:: n Oktober 1998 (Van

:~8) dan sedimen hasil bulan Februan et aI., 1999), ini akan dan (iii)

kuran di lapang pada

Raw data Citra Inderaja (landsat TM)

Masking daratan dari lautan I

~ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ J

Konsentrasi TSM hasil pengukuran di lapangan

Analisis regresi antara reflektan dengan konsentarsi TSM

Aplikasikan agorilma ke citra yang ada

Peta Distribusi TSM

~llbar 1. Diagram Alir Pemetaan distribusi sedimen (TSM) dengan Pendekatan Statistik

Koreksi Citra Inderaja Untuk memperoleh referensi geometrik secara tepat, dipilih 14 titik ikat untuk

. Koreksi Geometrik . masing-masing citra dengan RMS (Root

Mean Square) antara 0.2 sampai 0.5. Nilai _ . koreksi geometrik, digu[1akan Peta ini menunjukkan bahwa distorsi posisi ..c 4: mi sebagai peta referensi. geometris yang diperoleh lebih kecil dari 1

.:-apa titik ikat (Ground Control Point) pixel atau < 30 meter . ~ untuk melakukan korelasi antara

dengan Peta Rupabumi. 2.1.2 Koreksi RadiometrikiAtmosferik yang digunakan adalah

polinomial dengan Koreksi ini dilakukan dalam beberapa

Jling menggunakan nearest tahap. Tahap pertama adalah melakukan ::. r. Resampling dilakukan dengan konversi dari bilangan digital (ON - Digital akan ukuran pixel 20 meter. Number) ke bentuk radian dengan

(6)

Globe Volume 4 No 1-2 Desember 2002 : 1 - 11

menggunakan informasi yang ada pada header file dari masing-masing citra. Tahap kedua adalah konversi dari radian ke bentuk reflektan. 8elanjutnya, tahap ketiga adalah koreksi atmosferik. Untuk penelitian ini, koreksi atmosferik dilakukan dengan cara penghilangan pixel gelap (dark pixel substraction). Hasil dari tahap ini adalah citra inderaja yang telah terkoreksi, sehingga pembandingan antara citra yang satu dan lain pada daerah tersebut dapat dilakukan.

2.1.3 Pemisahan Lautan dari Daratan

(masking)

Masking bertujuan agar hanya reflektan dari air yang diperhitungkan, sedangkan reflektan dari daratan dibuat no!. Tahapan dari masking ini adalah: (i) pembuatan peta segmen dengan digitasi garis pantai pada layar (on screen digitizing) pada band merah (band 2), (ii) vektorisasi dan rasterisasi, (iii) penggunaan algoritma untuk membuat reflektan daratan menjadi nol, sedangkan lautan tetap dengan nilai reflektannya.

2.2. Analisis Sampel Air

8ampel air diambil pada saat

dilakukannya survei utama pada bulan Oktober 2001 . Dari kegiatan survei ini dikumpulkan sam pel-sam pel dari 10 titik lokasi sampling, dengan masing-masing tiga sampel pada setiap titik pengamatan. 8ampel air dibawa ke laboratorium untuk dianalisis kandungan T8M-nya, setelah

sebelumnya disaring . dengan .

menggunakan filter Whatman dengan ukuran pori ~

=

0.45 ).tm. Data T8M yang dihasilkan dari kegiatan inilah yang merupakan data "TSM-Ambarwulan". Analisis laboratorium ini dilaksanakan di

Laboratorium Vrije University,

Netherlands.

Untuk diketahui, metode pengukuran T8M dari ketiga data yang ada ternyata berbeda-beda. Data "TSM-Wignyowinoto" (Wignyowinoto, 2001) diperoleh dengan

menggunakan Digital Water Checker melalui pengukuran langsurg di lap~Ing, tanpa analisis di laboratorium. Data "TSM­ NIOZ' (Van den Bergh, 1999) maupun "TSM-Ambarwulan" (Ambarwulan, 2002) diperoleh melalui anal isis laboratorium.

Perbedaan metodologi ini dapat dianggap tidak terlalu mengganggu, karena tujuan penelitian ini untuk mendapatkan pola (trend) penyebaran sedimen di Teluk Banten secara kualitatif, dan bukan pembandingan nilai absolutnya.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Total Bahan Tersuspensi (Total

Suspended Matter -TSM)

Data T8M-NIOZ hasil pengukuran pada musim penghujan (Van den Bergh, 1998) disajikan pad a Gambar 2, sedangkan T8M-NIOZ hasil pengukuran pada musim kemarau disajikan pad a Gambar 3. Nilai ·

T8M pad a musim kemarau berkisar antara 2.4 mg/l sampai 28.4 mg/! F)ada

musim penghujan, nilai T8M berkisar antara 2.06 mg/l sampai 31.25 mg/l.

Konsentrasi T8M pada kedua musim tersebut tidak jauh berbeda. Konsentrasi T8M terendah dijumpai pada lokasi ' bagian barat teluk, sedangkan konsentrasi tertinggi dijumpai di bagian timur teluk, di mulut delta Ciujung.

Pengukuran T8M in situ juga dilakukan oleh Wignyowinoto (2001). 8elain itu, Wignyowinoto (2001) juga melakukan pengukuran turbiditas. Hasil pengukuran ini disajikan pada Gambar 4. Terlihat bahwa pola distribusi sedimen di teluk ini

relatif sam a dengan pengukuran

sebelumnya. Turbiditas tertinggi dijumpai di bag ian timur tel uk.

Pengukuran T8M dalam penelitian ini (T8M-Ambarwulan) dilakukan pada bulan Oktober 2001 (Ambarwulan, 2002). Hasil pengukuran, bersama-sama dengan hasil pengukuran total chlorofil-a disajikan pada Gambar 5. Nilai T8M hasil pengukuran berkisar antara 1.5 mg/l sampai 13.4 mg/l.

(7)

Pemanfaatan Bahan Tersuspensi Menggunakan Citra Landsat TM ....(Ambarwu/an. W dan Widiatmaka)

.' aler Chee<ker

.;s r g di lapang, _ ·Jm. Data "TSM­ 1999) maupun ~~arwulan, 2002) ~·s laboratorium. ~ dapat dianggap _=.1. karena tujuan ~e dapatkan pola

e-

imen di Teluk dan bukan SAN (Totai Jengukuran pada - en Bergh, 1998) 2, sedangkan

.. uran pada musim

-a

Gambar 3. Nilai · emarau berkisar __ 28.4 mg/!. Pada ~ 3i TSM berkisar - pai 31 .25 mg/!. ada kedua musim

... eda. Konsentrasi

_-~pai pada lokasi gkan konsentrasi

~:;jgian timur teluk, di

s· u juga dilakukan

2001). Selain itu, juga melakukan 5_ Hasil pengukuran ambar 4. Terlihat sedimen di teluk ini

:=~gan pengukuran

;:as tertinggi dijumpai

_alam penelitian ini -Iakukan pada bulan

=arwulan, 2002). Hasil

3-sama dengan hasil

ofil-a disajikan pada

-SM hasil pengukuran

II sampai 13.4 mg/!.

T S Min s i (u nl e a sure men tin drys c as 0 n ___ ___--..l!.~_IQ~,_L21.!)___ __ .._____.___

.~

S,~(jon Loc'Irion

Turbidity of Tel uk bantcn on Dry

season , " .' , , , " . . . . Lo cation of In

.~~

~_

~

I

I

I Gambar 4. Turbiditas Teluk Banten pada

bulan Oktober-November 2000

(Wignyowinoto, 2001)

T81 T62 f83 T84 TSS T86 T87 TB8 169 TB10

[aTS... (glml .TC~(mglml)

I

Gambar 5. Distribusi CHL dan konsentrasi TSM di Teluk Banten

Peta-peta TSM yang dihasilkan dari citra setelah aplikasi algoritma statistik terse but

dapat memberikan informasi detil

mengenai keragaman bahan tersuspensi pada perairan di sekitar Teluk Banten. Hasil menunjukkan koefisien determinasi

(R2) yang beragam antara TSM yang

dihasilkan dari citra dan TSM hasil pengukuran in-situ. Nilai R2 berkisar dari rendah pada musim penghujan sampai tinggi pada musim kemarau. Nilai-nilai ini sangat tergantung pada beberapa faktor seperti kondisi meteorologi dan akurasi pengukuran.

Peta konsentrasi TSM juga menunjukkan dengan jelas pola konsentrasi bahan tersuspensi di Teluk Banten.· Sumber utama sedimen Teluk Banten berasal dari Sungai Ciujung.

5 Gambar 2. TSM hasil pengukuran In-situ

pada musim kemarau (Oktober, 1998);

Sumber: Van den Bergh (1998)

Konsentrasi TSM terendah diperoleh pada

!itik sam pel yang berlokasi di laut dalam,

sementara konsentrasi tertinggi diperoleh

pada titik keluaran air sungai. 3.2. Peta TSM

Hasil peta TSM yang diperoleh dari citra

L.andsat TM disajikan pada Gambar 6. Hasil analisis regresi untuk setiap band

'an dari setiap sumber data TSM yang

iperoleh dari Landsat TM disajikan pada

abel 1.

..

. .

I

Gambar 3: TSM hasil pengukuran in-situ

pada musim penghujan (Februari, 1999);

Sumber: Van den Bergh (1999)

TSM in siru measurement ofwet season

(8)

Globe Volume 4 No 1-2 Desember 2002 : 1 - 11

Tabel1. Algoritma dan R2 dari konsentrasi TSM yang diperoleh dari citra Landsat TM

Tahun 1995, 1996,1997 dan 2000 Landsal TM

1995, Mei

T§M NfOZ-Iffy

R"

TtM-dry WigftyOwiftoto TSM dry-AmlJarwulaft

Band I Y-0.91 04X --6.4959 Algoritma 0.33 Y-0.682X + 2.0692 AI"oritma 0.03 R' Y=0.3596X -­1.293 Algoritma 0-23 R' Band 2 Y - 1. 2353X + 0.9652 0.66 Y-0.0117 X'+ 0.4353X' -3.4256X + 15.619 0.20 Y-0. 1757X + 3.5279 0.22

Band 3 Y-1 .6025X + 5.8639 0.11 Y-0.704h+ 11.208 0. 11 Y=O.2637X + 4.648 0.10

Landsat TM 1996,lulli

TSM NlOZ-dry TSM-dry Wignyowinoto TSM dry-Ambarwulall

Band I Y-1.0821X ­ 76.981 0.60 Y=-0.0005 X'+ 0.1094X'­ 5.8691 +41.329 0.27 Y=-0.006IX' + 1.492IX' - 121.66X + 3305.5 0.10 Band 2 Y-1.685X ­ 38.194 0.60 Y --0.0019 X'+ 0.2147X·' -5.599X +40.359 0.30 Y=0.016IX' ­ 1.3736X' + 38.299X ­ 344.68 0.60

Band 3 Y-1.0779X -­18.663 0.70 Y=-O.OO\3 X'+ 0.14<i4X' -3.4256X+37.788 0.30 Y=0.0025X' ­ 0.2386X' + 7.0822X ­ 62.254 0.70 Landsat TM 1997, Juni

TSM NlOZ-dry TSM-dry Wignyowinoto TSM dry-Ambarwulan

Band 1 Y=I.0047 X - 76.644 0.16 Y=0.0589x +0.9202 0.1 Y=0.116X - 4.5592 0.Q3

Band 2 Y-1.8026X ­ 48.625 0.20 Y-0.0092X' - 0.5899X' +

9.7458X - 0.9856 0.\4 Y-0.5572X -­ 13.696 0.34 Band 3 Y-0.8384X - 12.216 0.10 Y-0.0124X' - 0.6916X' + 9.9084X - 1.0536 0.30 Y-0.407X ­6.9108 0.50 LandsatTM 1996, lanuari

TSM NlOZ-wet TSM-wet Wignyowinoto TSM wet-Ambarwulan

Band I Y=0.4774X -41.137 0.42 Y=1.0048 X - 70.644 0.16 Y=-0.0008X' + 0.2726X' - 29.098X +

1026.2

0.34

Band 2 Y=O.OOO6X' ­ O.II2X' + 7.1813X -133.77

0.44 Y=1.9185X -47.575 0.20 Y-0.1417X ­ 1.0148 0.31

Band 3 Y-0.0004X' - 0.0823X' + 5.2319X - 87.394

0-44 Y=2.1770X -54. 575 0.25 Y-4E-05X' -0.OO51X' + 0.2703X -0. 1681

0.40

Landsat TM 2000, April

TSM NlOZ-wet TSM-wet Wignyowinoto TSM wet-Ambarwulan

Band I Y=0.1219X + 7.4<i51 0.01 Y=-0.5484X + 29.. 392 0.10 Y -0.271 IX -1.8963 0.28 Band 2 Y=0.0765X + 10.188

om

Y=-1.6815X + 26.057 0.10 Y-0.5156X + 1.9496 0.16 Band 3 Y=0.2295X + 7.0574 0.10 Y=0.1087X + 13.456 0.003 Y-0.1518X + 1.6755 0.50

(9)

r--Pemanfaaian Bahan Tersuspensi Menggunakan Citra Landsat TM .... (Ambarwulan. W dan Widiatmaka)

andsat-l'M

I.:

~

-A mbarwulall

-A:; ""I ma R' ,J.15lIi . _. 1.293 0.23 - - 3.5279 0.22

-.

- 4.648 0.10 ali , -,4 mbarwulall ~'JZ X'+ 0.10 - 121.66X +

f -

-,:1

_

0.60 - 38299X­ ~ 0.70 'l~ ~ - 7.0822X ­ .::.\~ ­ I - V dry-Ambarwulan 0.03 • X -4.5592 !""~ 0.34 'itO::;: .: !.X .. 13.696 .. ~ ~ , , -6 9108 0.50 f TS.H wet-Ambarwulan I .)()8Xl + 0.34 - \:, - 29.098X + ~: - : 0.31 :417X -1.0148 II' 'r OAO :c703X - 0.1681 E-05Xl - 0.OO51X2

rl

~ ~ TSM wet-Ambarwulan

.'

-

0.28 =0 2711X -1.8963 -.:~ 0.16 _=» .5156X + 1.9496 0.50 • =t1.l 518X + 1.6755 ~

t

3.2.1. Peta TSM dari Citra Landsat TM 1995 (27 Mei 1995, Musim Kemarau)

Pendugaan konsentrasi TSM yang diperoleh dari TSM-NIOZ (Van den Bergh,

1998), TSM-Wignyowinoto (Wignyowinoto,

2001) dan TSM-Ambarwulan

(Ambarwulan, 2002) menghasilkan

koefisien dan peta yang berbeda-beda.

Konsentrasi TSM yang diduga

menggunakan data TSM-Wignyowinoto berkisar antara 20 - 45 NTU, dengan

R2

band 3 adalah yang tertinggi, yaitu sebesar 0.20. Konsentrasi TSM yang

diduga dari data TSM-Ambarwulan

berkisar antara 2 - 15 mg/I dengan

R2

=

0.23 pada band 1. Konsentrasi TSM yang diduga dari data NIOZ berkisar antara 2 ­ 60 mg/I, dengan

R2

pad a band 2 sebesar 0.66 yang merupakan nilai

R2

yang

tertinggi.

Korelasi yang relatif paling tinggi antara nilai TSM dari pendugaan dengan citra dan TSM hasil pengukuran in-situ pada pengukuran menggunakan data NIOZ ini kemungkinan berkaitan erat dengan sifat

hid rodinamika perairan pada saat

ilakukannya pengukuran in-situ pada

ata NIOZ. Artinya, perbedaan kondisi

idrodinamika perairan, antara saat

ewatnya satelit dan saat pengukuran in­

situ relatif paling keci!. Untuk pengukuran

lain (Ambarwulan dan Wignyowinoto),

emungkinan terjadi perbedaan sifat

idrodinamika perairan yang lebih jauh ,

antara saat lewatnya satelit dengan saat cengukuran in-situ. .

3.2.2. Peta TSM dari Citra Landsat TM 1996 (14 Juni 1996, Musim Kemarau)

3and 3 Landsat TM memberikan nilai '

R2

.~ inggi. Koefisien korelasi tertinggi terjadi .: ara TSM hasil pengukuran in-situ NIOZ :::::. Ambarwulan (R2 = 0.70). Tingginya •::efisien korelasi Inl kemungkinan

: 520abkan karena akuisisi citra dan

pengukuran in-situ dilaksanakan pad a musim yang sam a (musim kemarau).

Kemungkinan lain adalah pengaruh kondisi cuaca. Kemungkinan, kondisi cuaca antara saat pengukuran in-situ dan saat akuisisi citra relatif tidak jauh berbeda.

3.2.3. Peta TSM dar; Citra Landsat TM 1997 (14 Juni 1997, Musim Kemarau)

Untuk citra ini, hampir semua data

pengukuran in-situ memberikan koefisien

korelasi yang sangat rendah. /\Iilai

R2

tertinggi adalah 0.50, yang berasal dari algoritma dari data TSM-Ambarwulan dan Landsat TM band 3.

. Pembandingan antara peta TSM yang

diturunkan dari citra Landsat TM Juni 1996 dan dari citra Landsat TM Juni 1997 juga menunjukkan bahwa model statistik dari kedua citra dengan akuisisi pad a bulan yang sam a tetapi dari tahun yang berbeda .ini juga memberikan hasil yang jauh berbeda. Perbedaan ini menunjukkan

bahwa kondisi hidrodinamika perairan

wilayah ini juga bersifat sangat dinamis,

baik dalam ruang maupun waktu.

Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa pasang-surut bukanlah merupakan satu­ satunya faktor dalam parameter dinamika

perairan . Faktor-faktor lain seperti

kecepatan dan arah angin, pergerakan arus dan kondisi iklim juga berpengaruh

terhadap jumlah radiasi yang dapat

diterima sensor satelit.

3.2.4. Peta TSM dari Citra Landsat TM 1997 (30 Januari 1997, Musim Penghujan)

Analisis regresi untuk semua band citra Landsat dan semua set data pengukuran in-situ menghasilkan nilai

R2

yang rendah. Nilai

R2

tertinggi adalah 0.44 untuk citra Landsat band 3 dengan menggunakan data TSM-NIOZ dan 0.40 untuk citra Landsat band 3 dengan menggunakan

data TSM-Ambarwulan.

(10)

Globe' Volume 4 No 1-2 Desember 2002 : 1 - 11

3.2.5. Peta TSM dari Citra Landsat TM

2000 (6 April 2000, Musim

Penghujan)

Landsat TM band 3 memberikan nilai R2

tertinggi (0.50), dengan menggunakan

data T8M-Ambarwulan . Relatif rendahnya

nilai R2 untuk sumua pengukuran T8M in­

situ dengan citra periode ini disebabkan

karena perbedaan cuaca antara saat

akuisisi citra dan saat pengukuran T8M in­

situ.

Pendekatan statistik ini menunjukkan

bahwa dalam beberapa hal, analisis

regresi memberikan hasil yang tidak

terlalu baik untuk mencirikan hubungan antara konsentrasi T8M terukur dan konsentrasi T8M yang diduga dari citra, beberapa yang lain memberikan hasil cukup baik. Rendahnya nilai R2 diduga disebabkan oleh fakta bahwa semua T8M diukur pada saat yang tidak bersamaan

dengan lewatnya satelit. 8ebab lain

adalah karena citra yang digunakan tidak

dikoreksi menjadi reflektan riil dari

perairan. Radian yang tercatat pada citra

sebagai angka digital (DN) bersifat

dependen terhadap light field, waktu dan

ruang . Alasan yang mung kin dari

ketergantungan In! adalah sedikitnya

jumlah pengukuran, kesalahan (eror) pad a saat pengukuran, atau eror pada saat

matching antara lokasi sampling in situ

dan lokasi citra. Konsentrasi sedimen dari

data satelit menunjukkan bahwa

ketergantungan terhadap musim tidak

terlalu jelas terlihat dari hasil penelitian ini.

Analisis regresi linier tidak menunjukkan perbedaan yang besar antara hasil pada

musim penghujan dan pada musim

kemarau, meskipun untuk beberapa data 2 nilai R2 cukup berbeda. Umumnya, R

pada musim penghujan lebih rendah.

Tinggi rendahnya nilai R2 ini juga dapat

diinterpretasikan sebagai tingginya

dinamika perairan di wilayah ini, yang menyebabkan tingginya keragaman dalam

ruang dan waktu. Ombak dan arus

berpengaruh terhadap percampuran

sedimen sehingga berpengaruh terhadap

transparansi optik perairan ,

Citra Landsat TM, band merah (band 3) merupakan band yang paling cocok untuk menduga konsentrasi T8M. Band ini memberikan nilai R2 tertinggi. Hal ini

kemungkinan berkaitan dengan

sensitivitas: band merah memiliki

sensitivitas tertinggi dan kurang

terpengaruh oleh sifat kualitas air lain seperti absorbsi CDOM dan absorbsi air

murni, Alasan lain, kemungkinan adalah

karena band ini memiliki leaving radian

sang at tinggi dan absorbsi air rendah.

Peta-peta yang diturunkan dengan

citra Landsat dengan menggunakan 3

data pengukuran in-situ Inl juga

memberikan gambaran mengenai asal sedimentasi di Teluk Banten. 8umber utama sedimen Teluk Banten berasal dari 8ungai Ciujung.

4. KESIMPULAN

Pendekatan statistik dengan

menggunakan analisis regresi

memberikan hasil yang tidak terlalu baik

untuk mencirikan hubungan antara

konsentrasi T8M terukur dan konsentrasi T8M yang diduga dari citra, hal ini ditunjukan dengan rendahnya nilai R2 Konsentrasi sedimen dari data satelit

menunjukkan bahwa ketergantungan

terhadap musim tidak terlalu jelas terlihat antara hasil pada musim penghujan dan pada musim kemarau.

Hasil menunjukkan bahwa untuk citra

Landsat TM, band merah (band 3)

merupakan band yang paling cocok untuk menduga konsentrasi T8M.

Peta-peta yang diturunkan dengan citra Landsat memberikan gambaran mengenai asal sedimentasi di Teluk Banten. 8umber utama sedimen Teluk Banten berasal dari

(11)

- ; aruh terhadap

erah (band 3)

9 cocok untuk

-SM. Band ini

.:> mggi. Hal ini

dengan

~erah memiliki

dan kurang

ualitas air lain

I dan absorbsi air ungkinan adalah i leaving radian si air rendah. _ :urunkan dengan menggunakan 3

-situ In! juga

mengenai asal Banten. Sumber Banten berasal dari

siatistik dengan

analisis regresi

, ang tidak terlalu baik

, hubungan antara

~erukur dan konsentrasi

3a dari citra, hal ini

~rendahnya nilai R2

_ men dari data satelit

ahwa ketergantungan

'idak terlalu jelas terlihat

a musim penghujan dan

e- arau.

~ kan bahwa untuk citra

band merah (band 3)

.a d yang paling cocok untuk

-.sentrasi TSM.

9 diturunkan dengan citr~

-, erikan gambaran men genal

asi di Teluk Banten. Sumber

en Teluk Banten berasal dari

g.

Pemanfaatan Bahan Tersuspensi Menggunakan Citra Landsat TM .... (Ambarwulan, W dan Widiatmaka)

5. REKOMENDASI

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut di

Teluk Banten dengan menggunakan

pendekatan statistik lainnya seperti

dengan membandingkan ratio antar band, juga dengan analisis eksponen antara reflektan dengan konsentrasi TSM hasil

pengukuran in situ di lapang.

DAFTAR PUSTAKA

Ambarwulan, W ., 2002.' Mapping of TSM concentrations from SPOT and Landsat TM Satellite Images for Integrated Coastal Zone Management in Teluk Banten, Indonesia. MSc Thesis. Intemational Institute for Geo-information Science and Earth Observation. 131 pp.

Oouven, W. and O. A. Tiwi, 2001. Banten Bay Information System, A Marine Ecosystem Information System to Support EIA (AMOAL) and Integrated Coastal Zone Management in Banten Bay, Indonesia.

1997-2001 Indonesian - Dutch Teluk Banten Research Program.

Morel, A., H.R. Gordon, 1980. Report of the working group on water color. Boundary layer Meteorology, Vol. 18, p.343-355. Van den Bergh, G.O., T.C.E. Van Weering and

B. Ontowirjo, 1998. Coastal Marine Sediments and Sedimentation in the Bay of Banten. Progress Report Project 3 Period 1998, Cooperation between NIOZ and BPPT 1997-2001.

Van den Bergh, G.O., T.C.E. Van Weering and B. Ontowirjo, 1999. Coastal Marine Sediments and Sedimentation in the Bay of Banten. Progress Report Project 3 Period 1999, Cooeperation between NIOZ and BPPT 1997-2001.

Wignyowinoto, i, 2001. Remote Sensing Application for Bathymetric Mapping of Banten Bay, indonesia, Using Landsat TM . M. Sc. Thesis Repot, ITC The Netherlands, 60p.

(12)

Globe' Volume 4 No 1-2 Desember 2002 : 1 - 11 o

TM 1996-TSM Ambarwulan (dry)

I

TM 1996-TSM NIOZ dry season TM 1996-TSM Wignyowinoto (dry)

I

TM 1997 June-TSM NIOZ-dry TM 1997 June-TSM Wignyowinoto (dry) TM 1997 June-TSM Ambarwulan (dry)

60-70 ,c=::J g_~and) 8·10 ~ 30-35 ~ 10-.f5 ." . 35-40 70-80 ~ 2-4 IIii5II!!IIII 15-20 c:::::J _ 40-45 45-50 80-90 G:::::::J 4-$ c=::J 20-25 go·100

[f]

(13)

-TM 'j')\J <J J"III:-) ~I\I " "011"1,,,,,1 ... , (LI! TM 1997 June-TSM Wignyowinoto (dry)

TM 1997 June-TSM NIOZ-dry 8-10 c:::::J 30-35 IIII!lI!IIiI!!I 60-70 _ 70-80 k~--I 35-40 10-15 _ 80-90 15-20 c:::::J _ 40-45 45-50 90-100 20-25 _ _ .:ncn ... ,t"nn "'~ .,,,

-

-

I

rn

-

z

~

Gambar 6.1. Peta TSM Konsentrasi diperoleh dari Landsat TM 1995. 1996 dan 1997 (musim kerinQ)

P" nlwJlUlJtW/ BallDn Tersuspensl MOrlg9unai<an Citro Landsat 7M .. .. (AmbOtwu/al1. W dDIl Wi(JiDtmDi<o)

iIIIII

1.5-20 c:::J 20025 E::l ·25-30 ~ 30-35 ~ 35-40 E:::J 40-45 _ 45~50 200-300 300-4DO 400-500 >500 TM 2000 -TSM Ambarwulan N

*

Gambar

Gambar 5.  Distribusi CHL dan konsentrasi  TSM di  Teluk Banten
Figure 6.2. Peta Citra Konsentrasi TSM dari Landsat TM  Januari  1997  dan Landsat TM  7, April  2000 (musim basah)

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh Motivasi Kerja dan Disiplin Kerja terhadap Kinerja PNS pada BAPPEDA Kota Malang.. Wirjana dan Susilo

Keputusan Wadir Umum dan Keuangan RSUD Abdul Wahab Sjahranie Peraturan Gubernur Kalimantan Timur Nomor 58 Tahun 2013, Tentang Tarif Pelayanan Kesehatan Pada Badan

Emisi otoakustik adalah bunyi yang diproduksi secara spontan dari koklea terutamanya dari sel-sel rambut luar di telinga bagian dalam. Emisi otoakustik ini dapat diukur dari

Menurut Darmadi (2011 : 175) penelitian eksperimen adalah satu-satunya metode penelitian yang benar-benar dapat menguji hipotesis hubungan sebab-akibat. Dalam

Anak adalah refleksi dari orang tuanya, anak juga merupakan representasi dari keadaan suatu keluarga. Usaha untuk mewujudkan anak yang bermoral dan berkualitas

Kandungan fosfor yang tinggi pada kedua sampel baik tanah supresif maupun tanah yang terinfestasi ganoderma disebabkan ion – ion fosfor (P) yang terikat oleh logam –

Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak atau sedikitnya jumlah komisaris independen yang dimiliki perusahaan tidak memberikan pengaruh terhadap naik dan turunnya nilai

Konsep dasar yang ideal bagi bisnis waralaba dalam perspektip hukum kontrak adalah berdasarkan rasa keadilan dan kepatutan (equity) dengan mengacu kepada asas-asas hukum