• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Tabel I. 1 Daftar Unit Marching Band di Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Tabel I. 1 Daftar Unit Marching Band di Indonesia"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.1.1. Perkembangan Marching Band di Indonesia

Marching Band di Indonesia umum dikenal sebagai pengembangan lebih lanjut dari Drum Band yang sebelumnya berada di bawah naungan PDBI (Persatuan Drum Band seluruh Indonesia) yang dibina oleh Menteri Pemuda dan Oahraga (Menpora). Berbeda dengan drum band yang lebih memfokuskan sebagai kegiatan olahraga, marching band lebih memfokuskan penampilannya pada permainan musik dan visual secara seimbang. Marching band di Indonesia banyak mengadaptasi teknik-teknik permainan dari unit-unit Drum Corps asal Amerika. Inilah hal lain yang mempermudah untuk membedakan antara penampilan marching band dengan drum band.

Perkembangan musik marching band di Indonesia mengalami kemajuan yang sangat pesat sejak era 1980-an. Hal tersebut dibuktikan dengan semakin banyaknya jumlah unit marching band yang ada saat ini. Mulai dari unit marching band yang dimiliki oleh instansi pendidikan, pemerintahan, perusahaan, kementrian, hingga unit independen. Beberapa contoh unit-unit tersebut antara lain :

Tabel I. 1 Daftar Unit Marching Band di Indonesia

No Nama Unit Lokasi Penaung Tahun

1 Putri Santa Ursula Marching Brass Jakarta SMA Santa Ursula 1960 2 MB. Madah Bahana UI Depok Universitas Indonesia 1964 3 Korps Putri Tarakanita Jakarta SMA Tarakanita 1 1965 4 MB. Bhina Caraka Jakarta Dirjen Bea Cukai 1978 5 MB. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Universitas Gadjah Mada 1979 6 MB. Semen Indonesia Gresik PT. Semen Indonesia 1986 7 MB. Bontang Pupuk Kaltim Bontang PT. Pupuk Kaltim 1987 8 MB. Bahana Cendana Kartika Riau Riau YPC Rumbai 1987 9 Nada Syiar Daar El-Qolam Corps Tangerang Ponpes Daar El-Qolam 1992 10 MB. Gita Surosowan Banten Serang Pemprov Banten 2006

Sumber : http://id.m.wikipedia.org/wiki/Daftar_marching_band_di_Indonesia, diakses 12-03-2015 pukul 11.00 WIB

Kegiatan marching band saat ini juga sudah mulai mendapatkan tempat di hati masyarakat. Masyarakat mulai memiliki antusiasme yang tinggi terhadap musik marching band, terlihat dari partisipasi unit-unit yang ada dalam setiap kejuaraan marching band yang diselenggarakan setiap tahun, baik skala daerah, nasional, maupun internasional. Kejuaraan tahunan tersebut akan dijabarkan pada tabel berikut.

(2)

Tabel I. 2 Daftar Kejuaraan Marching Band di Indonesia

No Nama Kejuaraan Istilah Tingkat

1 Grand Prix Marching Band GPMB Nasional 2 Jember Open Marching Competition JOMC Internasional 3 Festival Open Marching Band Bogor FOMB Nasional 4 Bandung Marching Band Championship BMBC Nasional 5 Langgam Indonesia Langgam Nasional 6 Indonesia Open Marching Band Championship IOMBC Internasional

Sumber : http://trendmarching.or.id/read/category/events/, diakses 12-03-2015 pukul 11.45 WIB

Selain kejuaraan-kejuaraan dalam negeri tersebut, beberapa unit marching band juga mengikuti kejuaraan internasional skala Asia, Eropa, dan bahkan dunia. Berikut adalah beberapa daftar kejuaraan internasional yang biasa diikuti oleh beberapa unit marching band Indonesia.

Tabel I. 3 Daftar Kejuaraan Marching Band Internasional

No Nama Kejuaraan Istilah Penyelenggara

1 Kuala Lumpur World Marching Band Competition KLWMBC Malaysia 2 Malaysia World Marching Competition MWBC Malaysia 3 Thailand Intenational Marching Band Competition TIMBC Thailand 4 Thailand World Music Championships TWMC Thailand 5 World Music Contest WMC Belanda 6 Drum Corps International DCI Amerika Serikat

Partisipasi unit-unit marching band di Indonesia dalam setiap kejuaraan, digunakan sebagai tolok ukur prestasi, barometer pencapaian organisasi, dan juga sebagai ajang pembuktian eksistensi. Hal tersebut membuktikan bahwa eksistensi musik marching band di Indonesia sangat berkembang dengan pesat dan perlu dukungan secara terus menerus agar menjadi lebih baik.

1.1.2. Kondisi Marching Band di Yogyakarta

Selaras dengan perkembangan musik marching band di Indonesia, musik marching band di Yogyakarta juga mengalami kemajuan yang sangat baik. Yogyakarta merupakan salah satu daerah yang memiliki unit-unit marching band besar terbaik nasional. Setidaknya terdapat 7 unit marching band besar di Yogyakarta, yang secara rutin mengikuti kejuaraan nasional GPMB dan selalu menorehkan prestasi yang luar biasa membanggakan. Adapun ketujuh marching band besar di Yogyakarta tersebut adalah sebagai berikut :

(3)

Tabel I. 4 Daftar Unit Marching Band di Yogyakarta

No Nama Unit Penaung

1 MB. Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada 2 MB. Citra Derap Bahana UNY Universitas Negeri Yogyakarta 3 MB. Universitas Islam Indonesia Universitas Islam Indonesia 4 MB. Saraswati ISI Yogyakarta Institut Seni Indonesia Yogyakarta 5 MB. Universitas Pembangunan Negeri Universitas Pembangunan Negeri 6 MB. Atma Jaya Yogyakarta Universitas Atma Jaya Yogyakarta 7 Drum Corps Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Ketujuh unit marching band di Yogyakarta tersebut merupakan marching band dibawah naungan instansi pendidikan. Marching band milik perguruan tinggi atau sering disebut marching band mahasiswa, mayoritas pemain dan pengurusnya adalah mahasiswa. Dikarenakan milik sebuah instansi perguruan tinggi, sudah tentu unit tersebut tidak memiliki alokasi dana khusus dan menetap. Sehingga seluruh kebutuhan penyelenggaraan latihan harus diusahakan secara mandiri oleh unit tersebut.

Unit marching band mahasiswa di Yogyakarta tergolong jarang atau tidak pernah diberikan sarana dan prasarana khusus penunjang latihan maupun pertunjukan oleh perguruan tinggi terkait. Sehingga selalu ada kendala fisik dalam setiap latihan seperti kurangnya luas lapangan, tata suara yang kurang memadai, cuaca buruk, dan sebagainya. Padahal jadwal latihan mereka cenderung akan sangat padat ketika unit tersebut memutuskan untuk mengikuti kejuaraan nasional maupun internasional.

(4)

Berdasarkan gambar analisis di atas, dapat diketahui jadwal kegiatan latihan untuk kejuaraan dalam setahun. Pada bulan-bulan awal tahun kegiatan latihan belum terlalu intensif. Sedangkan mulai pertengahan hingga akhir tahun akan ada kegiatan latihan yang terpusat dan sangat intensif. Pada bulan-bulan tersebut biasanya unit akan menyewa tempat berlatih khusus. Beberapa tempat di Yogyakarta yang sering digunakan sebagai tempat berlatih meskipun kurang mendukung karena tidak dikhususkan untuk berlatih marching band, antara lain :

Tabel I. 5 Daftar Tempat Latihan Marching Band di Yogyakarta (outdoor)

No Nama Tempat Fungsi

1 GOR Mandala Krida tempat olahraga 2 GOR Pangukan Sleman tempat olahraga 3 GOR Akademi Militer Magelang tempat olahraga 4 Youth Centre Yogyakarta bumi perkemahan

5 Hall Kampus tempat olahraga dan olahraga

Tabel I. 6 Daftar Tempat Pertunjukan Marching Band di Yogyakarta (indoor)

No Nama Tempat Fungsi Kekurangan

1 Auditorium Grha Sabha Pramana UGM gedung serba guna tata suara dan tribun penonton 2 Auditorium ISI Yogyakarta gedung serba guna tribun penonton dan luasan 3 Sportorium UMY gedung serba guna tata suara dan tribun penonton 4 Auditorium UPN gedung serba guna tata suara dan tribun penonton 5 GOR UNY tempat olahraga tata suara

Berdasarkan data di atas, sebagian besar dari tempat yang biasa digunakan untuk berlatih adalah merupakan tempat olahraga dan gedung serba guna, di mana bangunan dan lapangan yang disediakan tidak dirancang secara khusus untuk bermusik terlebih lagi kegiatan marching band. Selain itu, jumlah fasilitas tempat latihan yang ada terbatas, sehingga menambah kesulitan unit dalam berlatih. Padahal, dengan segala potensi dan capaian prestasi yang telah diberikan oleh unit marching band di Yogyakarta, sudah sepantasnya bahwa fasilitas sarana dan prasarana penunjang latihan dan pertunjukan marching band perlu ditingkatkan.

1.1.3. Marching Band sebagai Pendidikan Berkarakter Non-Formal [1]

Masa remaja adalah masa transisi dari usia anak menjadi orang dewasa. Peningkatan fisik, mental, dan hormonal remaja akan sangat mempengaruhi perkembangan dan perubahan karakternya. Rasa ingin tahu yang tinggi, tingkat energi

1 Hermawan, Marko. 2013. Marching Band sebagai Pendidikan Berkarakter : Sebuah Solusi Komprehensif Pendidikan Non Formal Bagi

Remaja. https://www.academia.edu/5096981/MARCHING_BAND_SEBAGAI_PENDIDIKAN_BERKARAKTER, diakses 06-03-2015 pukul 22.37 WIB

(5)

dan emosi yang besar, serta keinginan bersosialisasi dan berinteraksi yang tinggi dengan teman dan lingkungan sekitar, menjadi hal yang perlu diimbangi dengan informasi dan pergaulan yang positif. Pendidikan berkarakter serta pengenalan dan apresiasi akan kesenian merupakan salah satu hal positif yang dapat diimplementasikan. Namun demikian, kurikulum pendidikan di Indonesia yang lebih menitikberatkan pada kemampuan teknikal (hard skill) daripada kemampuan intra dan interpersonal (soft skill) menyebabkan pendidikan seni kurang mendapat perhatian yang serius.

Banyaknya kasus kekerasan dan tawuran pelajar di Indonesia yang marak terjadi akhir-akhir ini merupakan suatu permasalahan besar yang memilukan. Menurut M. Sobari (VivaNews, 2012), tawuran terjadi karena tidak ada tempat bagi mereka menyalurkan kreativitas di luar sekolah. Tawuran sendiri berawal dari tingkat agresivitas remaja yang tinggi, yang disinyalir berawal dari keluarga dan lingkungan sekitar yang tidak harmonis (Anjari, 2012). Tingkat agresivitas tersebut cenderung tidak tersalurkan secara positif, sehingga perlu disalurkan kepada kegiatan positif yang membutuhkan energi yang cukup besar. Dalam penelitian Erdmann, Graham, Radlo, and Knepler (2003), disimpulkan bahwa kegiatan marching band yang menguras tenaga ini sangat cocok diterapkan pada remaja karena berpotensi menyerap fisik yang sesuai dengan tenaga seorang remaja.

Gambar I. 2 Tawuran yang Dilakukan Pelajar Indonesia

Sumber : https://aswadmansur.wordpress.com/2013/02/02/tawuran-budayakah/ diakses 05-03-2015 pukul 14.23 WIB

Marching band merupakan perpaduan antara seni dan kedisplinan yang tertuang secara fisik ke dalam musik dan baris-berbaris. Meskipun baris-berbaris identik dengan kegiatan militer, namun secara umum pertunjukan marching band dikategorikan sebagai pertunjukan seni. Kegiatan marching band mulai banyak diadopsi oleh sekolah sebagai kegiatan ekstrakulikulernya. Sekolah mulai memahami bahwa kegiatan marching band ini membawa banyak dampak positif terhadap siswa siswinya.

(6)

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Zdzinski (2004), marching band berkontribusi positif terhadap peningkatan musikal, sosial, dan personal seseorang. Sebagai pendidikan non-formal, marching band memberikan solusi kegiatan kreatif seni dan olahraga yang tidak biasa ditawarkan oleh kurikulum sekolah saat ini. Marching band merupakan organisasi multi-disiplin berbasis apresiasi musik dan gerak yang akan membantu membentuk karakter positif seorang remaja.

1.1.4. Persepsi, Citra, dan Karakter Musik Marching Band

Di dalam dunia arsitektur, bangunan dapat merepresentasikan sebuah ekspresi, yang merupakan suatu media komunikasi untuk menampilkan fungsi bangunan, rupa bangunan, besar skala bangunan, dan pernyataan lain yang muncul dari benak seseorang yang melihat atau menggunakannya. Maka dari itu, tampilan bangunan merupakan salah satu faktor penting dalam menyampaikan kesan awal orang yang melihatnya. [2]

Marching band adalah kegiatan seni musik. Sebagian besar masyarakat memiliki persepsi bahwa marching band adalah musik yang kaku, keras, dan pemainnya terkesan penuh dengan tekanan. Selain itu, beberapa masyarakat juga memiliki persepsi bahwa marching band adalah kegiatan eksklusif. Padahal sebenarnya, musik marching band itu dinamis, ekspresif, dengan konfigurasi barisan yang sistematis, serta merupakan kegiatan positif untuk bersosialisasi dan berinteraksi dalam kerjasama tim. Keeksklusifan yang dianggap oleh masyarakat sebenarnya adalah karena kegiatan ini menuntut fokus dan komitmen yang tinggi sehingga terkadang membuat anggotanya nampak mengeksklusifkan diri dan antisosial.

Gambar I. 3 Contoh Konfigurasi Bentuk Barisan dalam Pertunjukan Marching Band

Sumber : http://www.eonline.com/news/474943/ohio-state-marching-band-performs-medley-of-movie-theme-songs-in-the-most-impressive-halftime-show-we-have-ever-seen

diakses 06-03-2015 pukul 15.10 WIB

Kata marching band secara mudah dapat dipahami sebagai musik bergerak atau musik berjalan, yakni sekumpulan pemain musik yang memainkan musik secara bergerak. Bergerak yang dimaksud di sini bukan perpindahan satu kelompok secara

(7)

bersama ke tempat lain, akan tetapi perpindahan setiap orang atau elemen dalam kelompok menuju tempat yang berbeda dalam konfigurasi bentuk tertentu, sebagai visualisasi musik yang dimainkan.

Berdasarkan citra karakter marching band tersebut, maka dari itu bentuk bangunan serta penataan ruangan dibuat untuk memberikan ekspresi dan makna dari karakter tersebut. Ekspresi ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang untuk mengetahui lebih dalam mengenai bangunan serta mengubah persepsi bahwa marching band adalah musik yang keras dan kaku namun dinamis dan ekspresif.

1.2 Permasalahan

1.2.1. Permasalahan Umum

1. Kurangnya kelayakan fasilitas tempat latihan dan pertunjukan marching band di Yogyakarta secara luasan bangunan, tata suara, kenyamanan penonton, dan kapasitas.

2. Kurangnya media informasi dan promosi mengenai marching band di Yogyakarta maupun Indonesia.

3. Belum adanya sebuah pusat pelatihan dan pertunjukan sekaligus media informasi dan promosi marching band di Yogyakarta maupun Indonesia.

4. Persepsi masyarakat bahwa marching band adalah musik yang keras dan kaku, serta memiliki jam latihan yang padat dan penuh tekanan.

1.2.2. Permasalahan Khusus

Bagaimana menerjemahkan citra dan karakter Music in Motion dari marching band ke dalam arsitektur bangunan Pusat Pelatihan dan Pertunjukan Marching Band di Yogyakarta sehingga menimbulkan persepsi bahwa marching band adalah musik yang dinamis dan ekspresif.

1.3 Tujuan Penulisan 1.3.1. Tujuan

1. Menciptakan sebuah Pusat Pelatihan dan Pertunjukan Marching Band sebagai fasilitas kegiatan marching band di Yogyakarta yang layak dari segi luas bangunan, tata suara, kenyamanan penonton, kapasitas, dan kejelasan program ruang.

(8)

2. Menciptakan sebuah Pusat Pelatihan dan Pertunjukan Marching Band sebagai pionir dan ikon di Yogyakarta bahkan Indonesia, yang dapat menjadi generator aktivitas ekonomi dan budaya sekitarnya.

3. Menciptakan sebuah Pusat Pelatihan dan Pertunjukan Marching Band sebagai media informasi dan promosi marching band di Yogyakarta sehingga dapat meningkatkan minat masyarakat terhadap musik marching band, serta mengubah persepsi masyarakat bahwa marching band itu kaku dan keras tapi dinamis dan ekspresif.

1.3.2. Sasaran

1. Mendukung pengembangan musik marching band di Indonesia pada umumnya dan di Yogyakarta pada khususnya.

2. Meningkatkan kualitas kelayakan fasilitas pelatihan dan pertunjukan marching band di Yogyakarta.

3. Meningkatkan minat dan antusiasme masyarakat melalui media informasi dan promosi yang baik.

4. Menjadikan ikon baru marching band di Yogyakarta dan Indonesia yang belum pernah ada sebelumnya.

1.4 Lingkup Pembahasan

Pembahasan dibatasi pada permasalahan arsitektural yang menekankan pada perencanaan dan perancangan fasilitas Pusat Pelatihan dan Pertunjukan Marching Band ini, sedang pembahasan permasalahan non arsitektural dimaksudkan untuk lebih memperdalam lagi pemaknaan dalam pembahasan utama.

1.5 Metode Penulisan 1.5.1. Studi Pustaka

Pembelajaran dari sumber-sumber baik buku maupun internet mengenai marching band, kebutuhan ruang, karakter dan citra ruang “music in motion”, hingga fungsi-fungsi yang harus diakomodasi di dalamnya.

1.5.2. Observasi Lapangan

Kegiatan observasi lapangan untuk mendapatkan gambaran dan perbandingan antara fasilitas yang berhubungan serta data-data mengenai keadaan eksisting dari lokasi terpilih.

(9)

1.5.3. Studi Kasus

Kegiatan ini dilakukan dengan studi komparasi terhadap beberapa kasus objek sejenis dengan fasilitas yang disediakan pada pusat pelatihan marching band, serta studi kasus objek dengan pendekatan semiotika yang ada di kota-kota di Indonesia maupun manca negara.

1.5.4. Analisis

Mengelompokkan dan mengolah data yang telah didapat melalui hasil studi pustaka, observasi lingkungan, maupun studi kasus untuk menarik prinsip perancangan, persyaratan bangunan, standard, dan kesimpulan.

1.5.5. Sintesis

Menarik kesimpulan dari tahap analisis yang telah dilakukan untuk kemudian dirumuskan menjadi konsep perancangan sebagai sebuah solusi dari permasalahan dan dengan pendekatan tertentu.

1.6 Sistematika Penulisan

BAB I. PENDAHULUAN

Berisi tentang paparan latar belakang masalah, permasalahan umum dan khusus, tujuan dan sasaran penulisan, lingkup pembahasan, metode penulisan, sistematika penulisan, keaslian penulisan, serta kerangka pikiran penulis.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Berisi tentang pembahasan mengenai marching band, mulai dari pengertian, sejarah sampai dengan elemen instrumentasi dan standar ukuran yang digunakan; pengertian dan fasilitas Pusat Pelatihan dan Pertunjukan Marching Band; serta pembahasan mengenai semiotika arsitektur dan citra bangunan “music in motion”.

BAB III. STUDI KASUS

Berisi tentang pembahasan beberapa studi kasus objek sejenis yang relevan dengan kebutuhan ruangan dalam Pusat Pelatihan dan Pertunjukan Marching Band ini, serta objek arsitektur dengan pendekaran konsep semiotika, yang dapat dijadikan sebagai perbandingan dalam arahan menuju perumusan konsep dan ide desain.

(10)

BAB IV. TINJAUAN LOKASI DAN TAPAK

Berisi tentang alternatif lokasi yang akan dibangun Pusat Pelatihan dan Pertunjukan Marching Band di Yogyakarta sekaligus disertai dengan analisis dari masing-masing kelebihan dan kekurangannya.

BAB V. PENDEKATAN KONSEP

Berisi tentang proses pendekatan konsep perencanaan dan perancangan arsitektur berdasarkan studi pustaka, studi kasus, dan tinjauan lokasi. Dalam bab ini juga berisi beberapa alternatif konsep sebelum nantinya akan dirumuskan menjadi satu konsep.

BAB VI. KONSEP

Berisi tentang rumusan konsep desain perencanaan dan perancangan yang digunakan dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada dalam proses desain Pusat Pelatihan dan Pertunjukan Marching Band di Yogyakarta.

1.7 Keaslian Penulisan

Dalam penulisan naskah ini, penulis menemukan karya tugas akhir dengan tema yang sama namun dengan pendekatan yang berbeda sehingga dijadikan sebagai contoh dalam penulisan. Karya tugas akhir tersebut adalah :

Tugas Akhir Universitas Atma Jaya Yogyakarta 2012 oleh Adhe Rizki Afianti NPM. 08 01 13101 “PUSAT PELATIHAN MARCHING BAND MAHASISWA DI D.I. YOGYAKARTA”

Terdapat kesamaan pada tipologi bangunan yang akan dibangun yaitu pusat pelatihan marching band di Yogyakarta, namun terdapat perbedaan pada penekanan yang digunakan yakni analogi bentuk instrumen dalam marching band.

Tugas Akhir Universitas Gadjah Mada 2013 oleh Olga Elisa NIM 09/281412/TK/34973 “PUSAT KESUSASTRAAN INDONESIA DI YOGYAKARTA – Penekanan Transformasi Semiotika”

Terdapat kesamaan pada penekanan yang digunakan yakni transformasi semiotika, namun terdapat perbedaan pada tipologi bangunan yang akan dibangun yaitu pusat kesusatraan.

(11)

1.8 Kerangka Pemikiran

Gambar

Tabel I. 1    Daftar Unit Marching Band di Indonesia
Tabel I. 3    Daftar Kejuaraan Marching Band Internasional
Tabel I. 4    Daftar Unit Marching Band di Yogyakarta
Tabel I. 6    Daftar Tempat Pertunjukan Marching Band di Yogyakarta (indoor)
+4

Referensi

Dokumen terkait

pengembangan organisasi pendidikan, pengembangan administrasi pendidikan, perencanaan pendidikan,.

“Adanya post reply yang tercampur jadi satu dengan post reply dengan topik berbeda ini, jadi ya tidak dapat terlihat secara benar mengenai partisipan yang memasang thread dan

[r]

diberikan oleh ruas kiri dan tengah persamaan ( 17.a) ialah titik dengan absisa セ@ 2 yang. bersangkutan dengan eigentenaga £2 (lihat

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM CENTERED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN GAMBAR TEKNIK DI.. SMK MIFTAHUL ULUM

Peserta lelang yang diundang agar dapat membawa dokumen asli atau dokumen yang dilegalisir oleh pihak yang berwenang dan copy 1 (satu) rangkap sesuai dengan

Faktor dukungan dari lingkungan sekitar dan persepsi yang kuat terhadap wirausaha, menjadikan mahasiswa berpendapat bahwa berwirausaha pada bidang agribisnis

Oleh karena itu peneliti menggunakan model pembelajaran langsung (direct intruction) dan inkuiri (indirect intruction) untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh