O4-97 '()*+,-. :(,-6+3+) Z(4+H:+,L4()9+=+0 '(=+,-4 <6(4L) 9+)?(4+)L=6(,4+ _+);+ '(=+,-49+=+0 Y9+,+ _(,1-3+

Teks penuh

(1)

0

12345

6

737589843

1

3872 894

0

4 8

728

483

8 3





30 !"# !$%&$8" '()*+,-./'()+01+.+)/2+34-/5(,0()4+67/8(9+3/'+97/9()*+)/:+;+)* <6;(,*7=-6/>7*(,/4(,.+9+;/:+)9-)*+)/?7)(,+=/:+=67-0@/5(,,-0/9+) ?+*)(67-0

A$BCD91E&D$E4B$D3$"&E FG H FI '()*+,-./;J/9+)/K+0+/5(,0()4+67/L=(./M)N70/O(=-=L6(/9+=+0/',L6(6 J79,L=7676/-)4-3/?()7)*3+43+)/>7=+7/P7N7/MQ()*/PL)9L3 B$E FR HGS '()*+,-./'(0+3+7+)/?7)T+3/U+*-)* 4(,.+9+;/'L=+/K(0+3/8+,+. :(=7)Q7 VE GW H GX '()*+,-./'(01(,7+)/Y,7)/O+;7;+9+/Z(,1+*+7/:L)6()4,+679+)/K+0+ '(,()9+0+)/Z()7./O()4,L/[\()4,L6(0+/'-1(6Q()6]4(,.+9+;/8+T+ :(Q+01+.@/^7*L,74+69+)/Z(,+4/:(,7)*/_+)+0+) `$a$D Gb H SI O4-97/'()*+,-./:(,-6+3+)/Z(4+H:+,L4()9+=+0/'(=+,-4/J(36+)+@/<6(4L) 9+)/?(4+)L=6(,4+/_+);+/'(=+,-49+=+0/Y9+,+/_(,1-3+ !$B2"cd"& SR H SX e9()47f73+67/5-)*7/?73L,7N+/<,1-63-=+,/[5?<]97/J-4+)/K7)9-)* ?+)*,Lg(/'+)*3+=/Z+1-/:+1-;+4()/_+)h-)*/U+1-)*/Z+,+4/U+017

3"$E&2c6"i&$"$9$ED$EV$a$B Sb H WI ^L=-0(/<017)*/9+)/ZL1L4/Z+9+)/<)+3/:+017)*/'(,+)+3+)/M4+j+.

6(1+*+7/k(6;L)/'(01(,7+)/5OJ/9+)/'?OP

4D$ED$E i$l WR H IS

e9()47f73+67/U()769+)/'(,1+)T+3+)/M)9L073L,7N+/KL3+=97/J-4+) :+0;-6/Y)7g(,674+6/U+017

2c6"i&$"$9$E3"$E&D$E4#$CD IW H Im Mg+=-+67/?-4-/P+1+./'+97/KL3+=/'+6+)*/O-,-4/<6+=/:(Q+0+4+)/_-)*3+= e=7,/:+1-;+4()/_+)h-)*/U+1-)*/Z+,+4 4CE" In H RF e9()47f73+67/?-4-/Z(,+69+,7/'+97/KL3+=/'+6+)*/O-,-4/<6+=/:(Q+0+4+) '()*+1-+)/:+1-;+4()/_+)h-)*/U+1-)*/Z+,+4 `&C9$%a RG H RX <)+=7676/8+)/:+,+34(,76+67/O()T+j+/<=3+=L79/8+,7/_+)+0+)/:7)+ [\.7)Q.L)+/=(9*(,7+)+] 3%a$0BE Ib H mI

(2)

IDENTIFIKASI FUNGI MIKORIZA ARBUSKULAR (FMA) DI HUTAN LINDUNG MANGROVE PANGKAL BABU

KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT JAMBI

Nursanti, Rike Puspitasari Tamin, dan Hamzah

Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Jambi Kampus Pinang Masak, Mendalo Darat, Jambi 36361

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksploirasi ada tidaknya Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) endogenus pada hutan lindung mangrove Pangkal Babu Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Percobaan dilaksanakan pada bulan Juni - November 2012 di Hutan Lindung Mangrove Pangkal Babu Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Laboratorium laboratorium Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Pengambilan sampel tanah dilakukan di setiap tegakan/rhizosfer masing-masing dengan 3 kali ulangan, kemudian sampel tanah yang diperoleh dilakukan pengamatan spora FMA dengan teknik penyaringan basah bertingkat lalu diamati di mikroskop Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil eksplorasi FMA endogenus pada hutan lindung mangrove Pangkal Babu di Kabupaten Tanjung Jabung Barat didapatkan kelimpahan spora FMA yang berbeda pada setiap tegakan/rhizosper. Kepadatan spora terendah terdapat pada rhizosfer pohon Xylocarpus granatum dan Bruquiera gymnorhyza masing-masing sebesar 15 dan 19 spora per 100 gram sampel tanah, sedangkan kepadatan spora tertinggi didapat dari rhizosfer pohon teruntum (Lumnitzera racemosa) sebesar 58 spora per 100 gram tanah.

Kata kunci : FMA, hutan mangrove, endogenus

PENDAHULUAN

Salah satu bagian terpenting dari kondisi geografis Indonesia sebagai wilayah kepulauan adalah wilayah pantai dan pesisir dengan garis pantai sepanjang 81.000 km. Wilayah pantai dan pesisir memiliki arti yang strategis karena merupakan wilayah interaksi/peralihan (interface) antara ekosistem darat dan laut yang memiliki sifat dan ciri yang unik, dan mengandung produksi biologi cukup besar serta jasa lingkungan lainnya. Kekayaan sumber daya yang dimiliki wilayah tersebut menimbulkan daya tarik bagi berbagai pihak untuk memanfaatkan secara langsung karena secara sektoral memberikan sumbangan yang besar dalam kegiatan ekonomi misalnya pertambangan, perikanan, kehutanan, industri, pariwisata dan lain-lain.

Wilayah pesisir merupakan ekosistem transisi yang dipengaruhi daratan dan lautan, yang mencakup beberapa ekosistem, salah

satunya adalah ekosistem hutan mangrove. Hutan mangrove merupakan ekosistem utama pendukung kehidupan penting di wilayah pesisir dan kelautan. Selain mempunyai fungsi ekologis sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan, tempat pemijahan dan asuhan (nursery ground) berbagai macam biota, penahan abrasi pantai, amukan angin taufan dan tsunami, penyerap limbah, pencegah interusi air laut, hutan mangrove juga mempunyai fungsi ekonomis yang tinggi seperti sebagai penyedia kayu, obat-obatan, alat dan teknik penangkapan ikan. Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem wilayah pesisir dan lautan yang sangat potensial bagi kesejahteraan masyarakat baik dari segi ekonomi, sosial dan lingkungan hidup, namun sudah semakin kritis ketersediaannya.

Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) merupakan suatu bentuk simbiosis mutualistik antara jamur dan akar tanaman. Salah satu

(3)

Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Sains

kemampuan FMA yaitu dalam membantu tanaman menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosfor (Brundrett, 2004). Hampir pada semua jenis tanaman terdapat bentuk simbiosis ini. FMA dapat ditemukan hampir pada sebagian besar tanah dan pada umumnya tidak mempunyai inang yang spesifik. Walaupun demikian, tingkat populasi dan komposisi jenis sangat beragam dan dipengaruhi oleh karakteristik tanaman dan faktor lingkungan seperti suhu, pH tanah, kelembaban tanah, kandungan posfor dan nitrogen. Dengan demikian, setiap ekosistem mempunyai kemungkinan dapat mengandung FMA dengan jenis yang sama atau bisa juga berbeda, karena keanekaragaman dan penyebaran FMA sangat bervariasi yang disebabkan oleh kondisi lingkungan yang bervariasi juga, begitu juga dengan FMA yang terdapat di hutan mangrove memiliki ciri khas tersendiri, salah satunya FMA yang terdapat di hutan lindung mangrove Pangkal Babu Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi dimana belum pernah diketahui keberadaannya, jenis dan keanekaragaman FMA tersebut, sehingga perlu dilakukan eksplorasi dan indentifikasi serta perbanyakan FMA karena penggunakan FMA endogenus akan lebih baik dibandingkan menggunakan FMA eksogenus pada jenis-jenis tanaman lokal.

METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Percobaan

Percobaan lapangan dilaksanakan di Hutan Lindung Magrove Pangkal Babu Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi, Laboratorium Produksi Tanaman bulan Juni sampai dengan November 2012.

Bahan dan Alat Percobaan

Bahan yang digunakan antara lain adalah tanah pada Hutan Lindung Mangrove Pangkal Babu Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi, , aquades, alkohol 70%,bayclin , gula pasir.

Alat-alat yang digunakan adalah pinset spora, pipet spora, suntikan, cawan petri, mikroskop, tabung film, lemari pendingin, kantong plastik, kaca preparat, pot kecil,

zeolit, cangkul, kertas label, saringan spora, blender, sentrifius, dan kamera digital.

Rancangan Percobaan

Metode sampling yang digunakan dalam pengambilan sampel tanah di Hutan Lindung Mangrove Pangkal Babu Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi yaitu secara Purposive Random Sampling dengan 3 kali ulangan.

Metode

Eksplorasi FMA Di Hutan Lindung Mangrove Pangkal Babu Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi

Eksplorasi FMA dilakukan dengan cara mengambil contoh tanah secara acak dengan 3 kali ulangan pada beberapa titik di sekitar perakaran tanaman (rhizosfer) untuk 7 jenis pohon mangrove dari kedalaman 0 – 20 cm. Contoh tanah dimasukan dalam kantung plastik dan diberi label sebanyak 500 gram. Kemudian dilakukan pencatatan dan dokumentasi tentang kondisi habitat.

Pengamatan Spora Awal

1. Ambil sampel tanah yang diambil dari Hutan Lindung Mangrove Pangkal Babu Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi. 2. Haluskan contoh tanah uji.

3. Teknik penyaringan FMA menggunakan teknik basah dari Nicholson dan Gerdeman (1963), dengan cara :

a. Campurkan contoh tanah sebanyak ± 250 ml didalam satu liter air dan aduklah sampai rata. Biarkan beberapa menit sampai partikel-partikel besar mengendap.

b. Tuang cairan tadi ke dalam saringan yang berukuran (500-800 µm) untuk memisahkan partikel-partikel bahan organik yang berukuran besar. Tampung cairan yang keluar dan basuhlah saringan tadi untuk menjamin bahwa partikel yang kecil sudah terbawa. c. Buat suspensi kembali dari cairan yang

telah ditampung tadi dan biarkan untuk beberapa menit agar partikel-partikel yang berat mengendap.

d. Tuang cairan tadi ke dalam saringan yang berukuran 38 – 250 µm.

(4)

e. Cucilah semua bahan yang menempel pada saringan agar menjamin keluar dari saringan.

f. Pindahkan sejumlah tanah sisa yang tertinggal pada saringan ke dalam cawan petri dan lihatlah ke dalam mikroskop. g. Isilah gelas sentrifius yang bersih

dengan 10 ml sukrosa 50 %.

h. Tambahkan lagi 10 ml larutam sukrosa 25 % di atas larutan sukrosa 50 % dengan menggunakan jarum injeksi. Penambahan ini harus dilakukan secara hati-hati agar tidak tercampur.

i. Tambahkan lagi di atas lapisan sukrosa 25 % dengan air biasa sebanyak 10 ml. j. Tambahkan suspensi yang telah disaring

melalui teknik penyaringan basah ke dalam tabung sentrifius tadi dan sentrifiuslah selama 5 menit dengan kecepatan 3000 rpm.

k. Pisahkan kotoran-kotoran yang ada dan tuangkan atau ambilah cairan yang bening pada lapisan tengah dengan menggunakan jarum injeksi. Kotoran ini kemudian dicuci pada saringan yang berdiameter 45 µm.

Setelah dicuci, pindahkan spora yang menempel pada saringan ke dalam cawan petri dan lihatlah di bawah mikroskop untuk dilakukan pengamatan identifikasi spora FMA.

l. Simpan spora FMA didalam tabung film berisi air, kemudian simpan didalam kulkas sampai pada waktunya untuk diperbanyak dengan kultur spora tunggal.

Ekstraksi Spora FMA

Ekstraksi FMA dilakukan untuk memisahkan spora dari contoh tanah sehingga dapat dilakukan identifikasi guna mengetahui genus spora FMA. Teknik yang digunakan adalah teknik tuang saring dari Pacioni (1992) dan dilanjutkan dengan sentrifugasi dari Brundrett et al.(1996)

1. Pada teknik tuang saring, contoh tanah sebanyak 100 gram dicampur dengan 200-300 ml air, lalu diaduk sampai butiran-butiran tanah hancur. Selanjutnya

disaring dalam satu set saringan. Saringan bagian atas disemprot dengan air kran untuk memudahkan spora lolos. Selanjutnya saringan teratas dilepas, dan sejumlah tanah sisa yang tertinggal pada saribgab terbawah dipindahkan ke dalam tabung sentrifuse.

2. Hasil saringan dalam tabung sentrifuse ditambah glukosa 60 % dengan menggunakan pipet.

3. Kemudian masukan tabung ke dalam sentrifuse dengan kecepatan 2500 rpm selama 3 menit.

4. Selanjuntnya larutan supernatan tersebut dihisap dengan pipet hisap dan dituang ke dalam saringan 45 µm, dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan glukosa. 5. Endapan yang tersisa disaringan

dituangkan ke dalam cawan petri plastik dan kemudian diperiksa di bawah mikroskop binokuler untuk penghitungan spora dan pembuatan preparat guna identifikasi spora FMA yang ada.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian berupa kepadatan spora per 100 gram tanah dari Hutan Lindung Mangrove Pangkal Babu Tanjung Jabung Barat Jambi dari rhizosfer jenis Avicennia (api-api), Sonneratia alba (Pedada), Rhizophora sp. (bakau), Xylocarpus granatum (nyirih), Bruguiera gymnorhyza (tancang), teruntum, dan Nypha fruticans (Nipah) seperti disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1 menunjukkan bahwa Hutan Lindung Mangrove Pangkal Babu Tanjung Jabung Barat Jambi yang merupakan ekosistem salin mengandung fungi mikoriza arbuskular lokal (endomikoriza) endogenus. Hasil penelitian ini mendukung beberapa hasil penelitian terdahulu yang juga menemukan fungi mikoriza arbuskular pada tanah tergenang dan salin, seperti penelitian Lingan, et al. (1999) yang menemukan 3 jenis endomikoriza lokal di Hutan mangrove Pichavaram India. Moharkumar dan Mahadevan (1986) disitasi Sengupta dan Chaudhuri (2002) , Kan (1993) disitasi oleh

(5)

Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Sains

Tabel 1. Jumlah spora FMA per 50 gram tanah yang ditemukan pada 7 jenis pohon di Hutan Lindung Mangrove Pangkal Babu Tanjung Jabung Barat Jambi

No Jenis Ulangan Jumlah Spora Rata-rata Jumlah Spora 1 17 2 42 1 Avicennia 3 38 32 1 40 2 19 2 Sonneratia alba 3 45 35 1 30 2 8 3 Rhizophora sp. 3 28 22 1 28 2 13 4 Xylocarpus granatum 3 3 15 1 3 2 25 5 Bruguiera gymnorhyza 3 28 19 1 68 2 84 6 Teruntum 3 22 58 1 18 2 6 7 Nypha fruticans 3 74 33

Saidi et al. (2007), serta Wang et al. (2011) juga mengemukakan bahwa beberapa fungi mikoriza arbuskular mampu bertahan pada kondisi salin dan tergenang.

Keberadaan FMA pada kondisi salin dan tergenang seperti hutan mangrove dapat dijelaskan antara lain ; 1) FMA tersebut merupakan jenis yang toleransinya tinggi terhadap garam; 2) pada kondisi tergenang moderat misalnya (2-4 jam per hari) jumlah akar nafas pneumatophore meningkat sehingga dapat pula meningkatkan efisiensi dari parenkim udara aerenkim pada jenis-jenis mangrove; 3) pada kondisi tergenang moderat tersebut, fotosintesis jenis-jenis mangrove sangat efisien dan optimal sehingga karbohidrat yang dihasilkan lebih banyak yang merupakan sumber energi bagi FMA (Wang et al, 2011 ; Avid et al., 2006). Jaringan aerenkim di korteks pada jenis-jenis mangrove menjadi pintu masuknya oksigen dari permukaan ke dalam akar yang akan memfasilitasi survival FMA pada kondisi anaerobik.

Keberadaan FMA pada Hutan Mangrove Pangkal Babu salah satunya didukung oleh letak wilayah tersebut pada daerah estuarin

yang merupakan daerah endapan sedimen aluvial dari wilayah daratan. Hal tersebut berbeda dengan hutan mangrove pada Marine Salt Marsh yang dilaporkan tidak ditemukan spora FMA ( Moharkumar dan Mahadevan, 1986 disitasi oleh Sengupta dan Chaudhuri, 2002).

Status mikoriza arbuskular di dalam tanah salah satunya tercermin dari kepadatan spora per gram tanah dalam hal ini per 100 gram tanah dari rhizosfer tanaman sampel. Kepadatan FMA di Hutan mangrove Pangkal Babu ini bervariasi dari 3-84 per 100 gram tanah dari rhizosfer 7 jenis pohon mangrove yang diamati. Populasi spora FMA di Hutan Mangrove Pangkal Babu ini tergolong tinggi, karena menurut Walker (1992) diacu dalam Widiastuti dan Kramadibrata (1993) populasi spora FMA dikategorikan tinggi bila jumlahnya 14-161 per 100 gram tanah. Tingginya populasi spora FMA pada tanah salin diduga karena jenis-jenis FMA pada lokasi tersebut memiliki mekanisme osmoregulasi yaitu mekanisme penyesuaian osmotik dari halofit pada tanah salin dengan cara menyimpan ion natrium dan klorida sehingga potensial osmotik di dalam sel lebih rendah daripada larutan tanah (Flowers et al., 1977).

Gambar 1. Kelimpahan spora FMA pada rhizosfer Teruntum

Gambar 2. Kelimpahan spora FMA pada rhizosfer Rhizophora sp.

(6)

Kepadatan spora terendah pada rhizosfer pohon Xylocarpus granatum dan Bruquiera gymnorhyza, sedangkan kepadatan spora tertinggi didapat dari rhizosfer pohon teruntum (Lumnitzera racemosa). Tingginya populasi spora pada rhizosfer pohon teruntum diduga karena substrat tempat tumbuh teruntum sesuai untuk perkecambahan spora FMA karena substratnya berupa pasir dan lumpur yang tebal dan berada di sepanjang aliran yang mendapat banyak air tawar. Rata-rata jumlah spora per 100 gram tanah tertinggi dari rhizosfer pohon teruntum, diikuti Nypha fruticans, Sonneratia alba, avicennia, Rhizophora, dan terendah Bruquiera gymnorhyza dan Xylocarpus granatum. Penelitian Lingan et al. (1999) pada hutan Mangrove Pichavaram India, menemukan jumlah spora tertinggi justru pada rhizosfer pohon Bruquiera gymnorhyza 110 spora per 50 gram tanah, sedangkan untuk jenis Avicennia officinalis 32 spora per 50 gram tanah, dan terendah pada Rhizophora mucronata 2 spora per 50 gram tanah. Sedangkan penelitian Saidi, et al., (2007) pada hutan mangrove Pasca Tsunami di Nangroe Aceh Darussalam dan Pulau Nias ditemukan jumlah spora sebesar 56-877 spora per 50 gram tanah.

Kepadatan spora FMA pada mangrove dipengaruhi terutama oleh kondisi kimia tanah dan lingkungan dari sampel tanah mangrove tersebut (Kim dan Weber, 1985 diacu dalam Saidi, et al., 2007). Selain itu persaingan interspesifik diantara FMA tersebut juga turut menentukan. Peneliti lain yaitu Flowers, (1977) disitasi Kuske (1987) menambahkan bahwa pohon inang juga turut mempengaruhi kelimpahan spora FMA. Peranan pohon inang terhadap kelimpahan spora FMA di rhizosfer adalah berhubungan dengan eksudat akar yang dihasilkan, dimana eksudat akar yang merupakan sumber energi akan mempengaruhi perkecambahan spora FMA.

KESIMPULAN

Hasil eksplorasi FMA endogenus pada hutan lindung mangrove Pangkal Babu di Kabupaten Tanjung Jabung Barat didapatkan kelimpahan spora FMA yang berbeda pada

setiap tegakan/rhizosper. Kepadatan spora terendah terdapat pada rhizosfer pohon Xylocarpus granatum dan Bruquiera gymnorhyza masing-masing sebesar 15 dan 19 per 100 gram sampel tanah, sedangkan kepadatan spora tertinggi didapat dari rhizosfer pohon teruntum (Lumnitzera racemosa) sebesar 58 per 100 gram tanah.

DAFTAR PUSTAKA

Allaby, M. 1999. Biomes of the World. Anndromedia volume 7 Oxford. Avid, K., Koth, D., Shalin, Bhattacharyyn,

Ramesh, and C. Kuhad. 2005. Micorrhyza at Nicobar India. Biol Fertil Soils 42: 358-361.

Flowers, T.J., Troke, P.F., and A.R. Yeo. 1977. The mechanism of salt tolerance in halophytes. Ann. Rev. Plant Physiol 28 : 89-121.

Kellert, S. R. 1997. Macmillion Encyclopedia of the Environment. Simon and Schuster and Prentice Hall International.

Kusmana, C. 2005. Rencana Rehabilitasi Hutan Mangrove dan Hutan Pantai Pasca Tsunami di NAD dan Nias. Makalah dalam Lokakarya Hutan mangrove Pasca sunami, Medan, April 2005.

Naamin, N. 1991. Penggunaan Hutan Mangrove untuk Budidaya Tambak Keuntungan dan Kerugian. Prosiding Seminar IV Ekosistem Hutan Mangrove MAB Indonesia LIPI. Bandar lampung.

Saenger. 1983. Global Status of Mangrove Ekosistem, IUCN Commission on Ecology Papers, No. 3. 1983.

Saidi, A.B., Budi, S.W., dan C. Kusmana. 2007. Status cendawan mikoriza arbuskular hutan pantai dan hutan mangrove pasca tsunami (Studi Kasus di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam dan Pulau Nias). Forum Pascasarjana vol. 30 No. 1;(13-25). Sengupta, A., and S. Chaudhuri. 2002.

Arbuscular mycorrhizal of mangrove plant community at the Ganges river

(7)

Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Sains

estuary in India. Mycorrhiza 12 : 169-171.

Soerianegara, I., dan Indrawan. 1982. Ekologi Hutan Indonesia. Departemen Manajemen Hutan. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

Stralher, Arthur N, Strahler, and H. Alan. 1997. Elements of Physical Geography. John Wiley & Sons. Van Aarle, I.M., T.R. Cavagnaro, S.E. Smith,

F.A. Smith, and S. Dickson. 2005. Metab o lic ac t iv i t y o f G lo mu s

intradices in Arum- and Paris-type arbuscular mycorrhizal colonization. New Phytologist 166(2):611-618. Wang, Y., Huang, Y., Qiu, Q., Xin, Q., Yang,

Z., and Shi, S. 2011. Flooding Greatly Affect The Diversity Arbuscular Mycorrhyzal Fungi Communities in The Wetland Plants. Widiastuti, H. dan K. Karmadibrata. 1993.

Identifikasi jumlah mikoriza vesikular arbuskular di arboretum. Menara jurnal 61 (1): 13-19.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :