• Tidak ada hasil yang ditemukan

Resume 12 - Topik Khusus Anti Korupsi III

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Resume 12 - Topik Khusus Anti Korupsi III"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Resume

Resume

Etika Bisnis dan Profesi

Etika Bisnis dan Profesi

“TOPIK KHUSUS ANTI KORUPSI III: NILAI

“TOPIK KHUSUS ANTI KORUPSI III: NILAI

PA

PANCASILA DAN

NCASILA DAN PERAT

PERATURAN P

URAN PERUNDANGAN

ERUNDANGAN

UNTUK PENCEGAHAN KORUPSI”

UNTUK PENCEGAHAN KORUPSI”

Resume ini disusun untuk memenuhi tugs Resume ini disusun untuk memenuhi tugs !t Ku"ih Etik #isnis dn

!t Ku"ih Etik #isnis dn P$%&esi ke"s CAP$%&esi ke"s CA

D%sen Peng'$ D%sen Peng'$

P$%&( D$( Unti Ludigd%) Ak() CA( P$%&( D$( Unti Ludigd%) Ak() CA(

Disusun %"eh: Disusun %"eh: #i"" And$e Agssi

#i"" And$e Agssi *+,-.-+-****-/0*+,-.-+-****-/0 A

Attii11  22iitt$$iinnii **33,,--..--++--33******----** G

Gee$$1 1 22''$ $ CChh11ddii **33,,--..--++--33******----//

UNI4ERSITAS #RA5I6A7A UNI4ERSITAS #RA5I6A7A 2A

2AKULTKULTAS EKONO!I AS EKONO!I DAN #IDAN #ISNISSNIS 6URUSAN AKUNTANSI 6URUSAN AKUNTANSI !ALANG !ALANG .-*, .-*,

(2)

#A# 4II 8 TINDAK PIDANA KORUPSI DALA! PERATURAN PERUNDANG8 UNDANGAN DI INDONESIA

A( Se'$h Pem9e$ntsn Tindk Pidn K%$usi

Berbagai upaya pemberantasan korupsi dilakukan oleh pemerintah sejak  kemerdekaan, baik dengan menggunakan peraturan perundangundangan yang ada maupun dengan membentuk peraturan perundang-undangan baru yang secara khusus mengatur mengenai pemberantasan tindak pidana korupsi. Di antara peraturan  perundang-undangan yang pernah digunakan untuk memberantas tindak pidana

korupsi adalah:

*( De"ik K%$usi d"m KUHP

Dalam perjalanannya K!P telah diubah, ditambah, dan diperbaiki oleh beberapa undang-undang nasional seperti undang "omor # tahun #$%&, ndang-undang "omor '( tahun #$%&, dan ndang-ndang-undang "omor )* tahun #$+, termasuk   berbagai undang-undang mengenai pemberantasan korupsi yang mengatur secara lebih khusus beberapa ketentuan yang ada di K!P. Delik korupsi yang ada di dalam K!P meliputi delik jabatan dan delik yang ada kaitannya dengan delik jabatan. esuai dengan sifat dan kedudukan K!P, delik korupsi yang diatur di dalamnya masih merupakan kejahatan biasa saja.

.( Pe$tu$n Pem9e$ntsn K%$usi Pengus Pe$ng Pust N%m%$ P$t; Pee$u;-*+;*<,-(

Peraturan yang secara khusus mengatur pemberantasan korupsi adalah Peraturan Pemberantasan Korupsi Penguasa Perang Pusat "omor PrtPeperpu(#*#$+(, yang kemudian diikuti dengan Peraturan Penguasa /iliter tanggal $ 0pril #$+) "omor Prt P/(&#$+), tanggal ') mei #$+) "omor PrtP/(*#$+), dan tanggal # 1uli #$+)  "omor PrtP/(###$+). !al yang penting untuk diketahui dari peraturan-peraturan

di atas adalah adanya usaha untuk pertama kali memakai istilah korupsi sebagai istilah hukum dan member batasan pengertian korupsi sebagai 2perbuatan-perbuatan yang merugikan keuangan dan perekonomian negara.3 4ang menarik dari ketentuan Peraturan Penguasa Perang Pusat adalah adanya pembagian korupsi ke dalam '  perbuatan:

( K%$usi se9gi e$9utn idn=

Korupsi sebagai perbuatan pidana dijelaskan sebagai,

8 Perbuatan seseorang dengan atau karena melakukan suatu kejahatan atau  pelanggaran memperkaya diri sendiri atau orang lain atau badan yang secara langsung atau tidak langsung merugikan keuangan atau perekonomian negara

(3)

atau daerah atau merugikan suatu badan yang menerima bantuan dari keuangan negara atau badan hukum lain yang mempergunakan modal dan kelonggarankelonggaran masyarakat.

8 Perbuatan seseorang yang dengan atau karena melakukan suatu kejahatan atau  pelanggaran memperkaya diri sendiri atau suatu badan dan yang dilakukan

dengan menyalahgunakan jabatan atau kedudukan.

8 Kejahatan-kejahatan tercantum dalam Pasal %# sampai dengan Pasal +( Pepperpu ini dan dalam Pasal '($, '#(, %#, %#$, dan %'( K!P.

9( K%$usi se9gi e$9utn "inn1=

Korupsi sebagai perbuatan bkan pidana atau perbuatan lainnya dijelaskan sebagai, 8 Perbuatan seseorang yang dengan atau karena melakukan perbuatan mela5an

hukum memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu badan yang secara langsung atau tidak langsung merugikan keuangan negara atau daerah atau merugikan keuangan suatu badan yang menerima bantuan dari keuangan negara atau daerah atau badan hukum lain yang mempergunakan modal atau kelonggaran-kelonggaran dari masyarakat.

8 Perbuatan seseorang yang dengan atau karena melakukan perbuatan mela5an hukum memperkay diri sendiri atau orang lain atau suatu badan dan yang dilakukan dengan menyalahgunakan jabatan atau kedudukan.

+( Undng8Undng N%(.3 >PRP? thun *<0- tentng Tindk Pidn K%$usi(

Perubahan utama dari Peraturan Penguasa Perang Pusat ke dalam ndang-undang ini adalah diubahnya istilah perbuatan menjadi tindak pidana. "amun demikian undangundang ini ternyata dianggap terlalu ringan dan menguntungkan tertuduh mengingat pembuktiannya lebih sulit.

3( Undng8Undng N%(+ thun *<@* tentng Pem9e$ntsn Tindk Pidn K%$usi(

Dalam periode #$)(-an, Presiden membentuk apa yang dikenal sebagai Komisi % dengan maksud agar segala usaha memberantas korupsi dapat berjalan lebih efektif  dan efisien. Komisi % ini terdiri dari beberapa orang yaitu 6ilopo, .!., 7.1. Kasimo, Prof. 7r. 1ohannes, dan 0n5ar 8jokroaminoto. 0dapun tugas Komisi % adalah:

( /engadakan penelitian dan penilaian terhadap kebijakan dan hasil-hasil yang telah dicapai dalam pemberantasan korupsi.

9( /emberikan pertimbangan kepada pemerintah mengenai kebijaksanaan yang masih diperlukan dalam pemberantasan korupsi.

,( TAP !PR N%( I;!PR;*<</ tentng Pen1e"engg$ Neg$ 1ng #e$sih dn #e9s K%$usi) K%"usi) dn Ne%tisme(

(4)

/elalui penyelenggaraan idang mum 7stime5a /P9, disusunlah 80P "o. 7 /P9#$$ tentang Penyelenggara "egara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan "epotisme. 80P /P9 ini di dalamnya memuat banyak amanat untuk membentuk perundang-undangan yang akan menga5al pembangunan orde reformasi, termasuk amanat untuk menyelesaikan masalah hukum atas diri mantan Presiden oeharto beserta kroni-kroninya.

0( Undng8Undng N%(./ Thun *<<< tentng Pen1e"engg$ Neg$ 1ng #e$sih dn #e9s K%$usi) K%"usi) dn Ne%tisme(

Dalam undang-undang ini diatur pengertian kolusi sebagai tindak pidana, yaitu adalah  permufakatan atau kerja sama secara mela5an hukum antar penyelenggara negara,

atau antara penyelenggara negara dan pihak lain, yang merugikan orang lain, masyarakat, dan atau "egara. edangkan tindak pidana nepotisme didefinisikan sebagai adalah setiap perbuatan penyelenggara negara secara mela5an hukum yang menguntungkan kepentingan keluarganya dan atau kroninya di atas kepentingan masyarakat, bangsa, dan "egara.

Dalam perjalanannya, undang-undang ini tidak banyak digunakan. Beberapa alasan tidak populernya undang-undang ini adalah terlalu luasnya ketentuan tindak pidana yang diatur di dalamnya serta adanya kebutuhan untuk menggunakan ketentuan undang-undang yang lebih spesifik dan tegas, yaitu undang-undang yang secara khusus mengatur mengenai pemberantasan korupsi.

@( Undng8Undng N%(+* thun *<<< tentng Pem9e$ntsn Tindk Pidn K%$usi(

;ahirnya undang-undang pemberantasan korupsi "omor *# tahun #$$$ dilatar   belakangi oleh ' alasan, yaitu pertama bah5a sesuai dengan bergulirnya orde

reformasi dianggap perlu meletakkan nilai-nilai baru atas upaya pemberantasan korupsi, dan kedua undangundang sebelumnya yaitu  "o. * tahun #$)# dianggap sudah terlalu lama dan tidak efektif lagi.

0pa yang diatur sebagai tindak pidana korupsi di dalam ndang-undang "omor *# tahun #$$$ sebetulnya tidak sungguh-sungguh suatu yang baru karena pembuat undangundang masih banyak menggunakan ketentuan yang terdapat di dalam undang-undang sebelumnya. "amun demikian, semangat dan ji5a reformasi yang dianggap sebagai roh pembentukan undang-undang baru ini diyakini akan melahirkan suatu gebrakan baru terutama dengan diamanatkannya pembentukan suatu komisi  pemberantasan tindak pidana korupsi sebagai suatu instrumen baru pemberantasan

korupsi.

/( Undng8undng N%( .- thun .--* tentng Pe$u9hn ts Undng8undng N%( +* thun *<<< tentng Pem9e$ntsn Tindk Pidn K%$usi(

(5)

ndang-undang "omor '( tahun '((# merupakan undang-undang yang lahir semata untuk memperbaiki kelemahan dan kekurangan undang-undang terdahulu. ebagaimana telah disebutkan di atas, beberapa kelemahan tersebut kemudian dire<isi di dalam undangundang baru.

0dapun re<isi atas kelemahan ndang-undang "omor *# tahun #$$$ adalah:

a. Penarikan pasal-pasal perbuatan tertentu dari K!P sebagai tindak pidana korupsi dilakukan dengan cara mengadopsi isi pasal secara keseluruhan sehingga  perubahan K!P tidak akan mengakibatkan ketidaksinkronan.

 b. Pengaturan alasan penjatuhan pidana mati didasarkan atas perbuatan korupsi yang dilakukan atas dana-dana yang digunakan bagi penanggulangan keadaan tertentu seperti keadaan bahaya, bencana nasional, dan krisis moneter.

c. Dicantumkannya aturan peralihan yang secara tegas menjadi jembatan antara undang-undang lama yang sudah tidak berlaku dengan adanya undang-undang  baru, sehingga tidak lagi menimbulkan resiko kekosingan hukum yang dapat

merugikan pemberantasan tindak pidana korupsi.

<( Undng8undng N%m%$ +- thun .--. tentng K%misi Pem9e$ntsn Tindk  Pidn K%$usi(

;ahirnya undang "omor *( tahun '((' merupakan amanat dari ndang-undang "omor *# tahun #$$$ yang menghendaki dibentuknya suatu komisi  pemberantasan tindak pidana korupsi.

ebagai suatu tindak pidana yang bersifat luar biasa (extra ordinary crime),  pemberantasan korupsi dianggap perlu dilakukan dengan cara-cara yang juga luar   biasa. =ara-cara pemberantasan korupsi yang luar biasa itu se betulnya telah tercantum

di dalam ndangundang "omor *# tahun #$$$ di antaranya mengenai alat-alat bukti yang dapat dijadikan sebagai dasar pembuktian di pengadilan termasuk adanya beban  pembuktian terbalik terbatas atau berimbang di mana pelaku tindak pidana korupsi  juga dibebani ke5ajiban untuk membuktikan bah5a harta kekayaannya bukan hasil tindak pidana korupsi. "amun demikian, pembantukan Komisi Pemberantasan Korupsi tetap dianggap sebagai penjelmaan upaya luar biasa dari pemberantasan korupsi, utamanya dengan mengingat bah5a KPK diberikan ke5enangan yang lebih  besar dibanding insitutsi pemberantasan korupsi yang telah ada sebelumnya yaitu

Kepolisian dan Kejaksaan.

ecara historis, tuntutan dibentuknya KPK adalah sebagai bentuk ketidakpercayaan masyarakat atas kinerja Kepolisian dan Kejaksaan dalam memberantas korupsi. Kedua institusi itu terlanjur dianggap masyarakat sebagai tempat terjadinya korupsi

(6)

 baru, baik dalam penanganan perkara-perkara korupsi maupun dalam penanganan  perkara-perkara lainnya.

*-( Undng8undng N%( @ thun .--0 tentng Pengeshn United Nti%n C%nBenti%n Aginst C%$$uti%n >UNCAC? .--+(

/erajalelalanya korupsi ternyata tidak hanya di 7ndonesia, tetapi juga hampir di seluruh belahan dunia. !al ini terbukti dengan lahirnya United Nation Convention  Against  Corruption atau "=0= sebagai hasil dari Konferensi /erida di /eksiko tahun '((*. ebagai 5ujud keprihatinan dunia atas 5abah korupsi, melalui "=0= disepakati untuk mengubah tatanan dunia dan mempererat kerjasama pemberantasan korupsi. Beberapa hal baru yang diatur di dalam "=0= antara lain kerjasama hukum timbal balik (mutual  legal assistance), pertukaran narapidana (transfer of   sentence person), korupsi di lingkungan s5asta (corruption in public sector),  pengembalian aset hasil kejahatan >asset recovery?, dan lain-lain.

**( Pe$tu$n Peme$inth N%( @* thun .--- tentng Pe$n se$t !s1$kt dn Pem9e$in Pengh$gn d"m Peneghn dn Pem9e$ntsn Tindk Pidn K%$usi(

;ahirnya Peraturan Pemerintah "omor )# tahun '((( merupakan amanat ndang-undang "omor *# tahun #$$$ yang mengatur adanya peran serta ma-syarakat dalam  pemberantasan korupsi. 0dapun latar belakang diaturnya peran serta masyarakat

dalam ndang-undang "omor *# tahun #$$$ adalah karena korupsi menyebabkan krisis kepercayaan. Korupsi di berbagai bidang pemerintahan menyebabkan kepercayaan dan dukungan terhadap pemerintahan menjadi minim, padahal tanpa dukungan rakyat program perbaikan dalam bentuk apapun tidak akan berhasil. ebaliknya jika rakyat memiliki kepercayaan dan mendukung pemerintah serta  berperan serta dalam pemberantasan korupsi maka korupsi bisa ditekan semaksimal

mungkin.

PP "o. )# tahun '((( dibentuk untuk mengatur lebih jauh tata cara pelaksanaan peran serta masyarakat sehingga apa yang diatur di dalam undang-undang dan peraturan  pemerintah tersebut pada dasarnya memberikan hak kepada masyarakat untuk 

mencari,

memperoleh, dan memberikan informasi tentang dugaan korupsi serta menyampaikan saran dan pendapat maupun pengaduan kepada penegak hukum >polisi, jaksa, hakim, ad<okat, atau kepada KPK?. Di samping itu PP ini juga memberikan semacam  penghargaan kepada anggota masyarakat yang telah berperan serta memberantas

(7)

tindak pidana korupsi yaitu dengan cara memberikan penghargaan dan semacam  premi.

*.( Inst$uksi P$esiden N%( , thun .--3 tentng Pe$etn Pem9e$ntsn K%$usi(

7nstruksi Presiden "omor + tahun '((% lahir dilatarbelakangi oleh keinginan untuk  mempercepat pemberantasan korupsi, mengingat situasi pada saat terbitnya 7npres  pemberantasan korupsi mengalami hambatan dan semacam upaya  perla5ananserangan balik dari koruptor.

/elalui 7npres ini Presiden merasa perlu memberi instruksi khusus untuk membantu KPK dalam penyelenggaraan laporan, pendaftaran, pengumuman, dan pemeriksaan ;!KP" >;aporan !arta Kekayaan Penyelenggara "egara?. Presiden mengeluarkan #' instruksi khusus dalam rangka percepatan pemberantasan korupsi. 0dapun instruksi itu secara khusus pula ditujukan kepada menteri-menteri tertentu, 1aksa 0gung, Kapolri, termasuk para @ubernur dan Bupati6alikota, sesuai peran dan tanggungja5ab masing-masing.

#( LATAR #ELAKANG LAHIRN7A DELIK KORUPSI DALA! PERUNDANG8 UNDANGAN KORUPSI

ntuk memahami delik korupsi yang diatur dalam undang-undang tentang  pemberantasan korupsi perlu meninjau latar belakang lahirnya ketentuan-ketentuan delik tersebut mengingat munculnya undang-undang korupsi yang lebih baru adalah untuk memperbaiki kekurangan yang ada pada undang-undang sebelumnya, termasuk  adanya kelemahan pengaturan mengenai rumusan delik. ecar a umum, lahirnya delik-delik korupsi di dalam perundang-undangan korupsi dapat dibagi ke dalam ' >dua?  bagian utama, yaitu:

*( De"ik k%$usi 1ng di$umuskn %"eh em9ut undngundng(

Delik korupsi yang dirumuskan oleh pembuat undang-undang adalah delik-delik yang memang dibuat dan dirumuskan secara khusus sebagai delik korupsi oleh para  pembuat undang-undang. /enurut berbagai literatur, delik korupsi yang dirumuskan oleh pembuat undang-undang hanya meliputi % pasal saja yaitu sebagaimana yang diatur di dalam Pasal ', Pasal *, Pasal #*, dan Pasal #+ ndang-undang "omor *# tahun #$$$ juncto ndang-undang "omor '( tahun '((# tentang Perubahan atas ndang-undang "omor *# tahun #$$$ tentang Pemberantasan 8indak Pidana Korupsi. "amun apabila kita perhatikan secara seksama apa yang diatur dalam Pasal #+ undang tersebut sesungguhnya bukanlah murni rumusan pembuat undang-undang akan tetapi mengambil konsep sebagaimana yang diatur di dalam K!P.

(8)

.( De"ik k%$usi 1ng dim9i" d$i KUHP) de"ik mn dt kit 9gi men'di . 9gin) 1itu:

a. Delik korupsi yang ditarik secara mutlak dari K!P.

4ang dimaksud dengan delik korupsi yang ditarik secara mutlak dari K!P adalah delik-delik yang diambil dari K!P yang diadopsi menjadi delik korupsi sehingga delik tersebut di dalam K!P menjadi tidak berlaku lagi. Dengan demikian sebagai konsekuensi diambilnya delik tersebut dari K!P adalah ketentuan delik tersebut di dalam K!P menjadi tidak berlaku lagi. 0tau dengan kata lain, apabila perbuatan seseorang memenuhi rumusan delik itu maka kepadanya akan diancamkan delik  korupsi sebagaimana diatur dalam undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi dan bukan lagi sebagaimana delik itu di dalam K!P.

 b. Delik korupsi yang ditarik tidak secara mutlak dari K!P.

4ang dimaksud dengan delik korupsi yang ditarik tidak secara mutlak dari K!P adalah delik-delik yang diambil dari K!P yang, dengan syarat keadaan tertentu yaitu berkaitan dengan pemeriksaan tindak pidana korupsi, diadopsi menjadi delik  korupsi namun dalam keadaan lain tetap menjadi delik sebagaimana diatur di dalam K!P. Berbeda dengan penarikan secara mutlak, ketentuan delik ini di dalam K!P tetap berlaku dan dapat diancamkan kepada seorang pelaku yang perbuatannya memenuhi unsur, akan tetapi apabila ada kaitannya dengan pemeriksaan delik korupsi maka yang akan diberlakukan adalah delik sebagaimana diatur dalam undang-undang  pemberantasan korupsi.

C( DELIK KORUPSI !ENURUT UU NO( +* TAHUN *<<< 6O( UU NO( .-TAHUN .--*

Berdasarkan undang-undang, kita dapat membedakan *( perbuatan yang masuk  kategori sebagai delik korupsi. *( perbuatan korupsi itu diatur dalam #* pasal. ntuk  mempermudah pemahaman, penjelasan atas delik-delik korupsi dalam undang-undang dilakukan berdasarkan perumusan delik sebagaimana dijelaskan pada bagian terdahulu, yaitu delik korupsi yang dirumuskan oleh pembuat undang-undang dan delik korupsi yang ditarik dari K!P baik secara langsung maupun tidak secara langsung. "amun tidak semua delik korupsi di dalam undang-undang yang akan dijelaskan disini, tetapi beberapa perbuatan korupsi yang utama dan umum saja termasuk mengenai gratifikasi yang belum banyak dipahami oleh masyarakat. 0dapun delik-delik korupsi yang diatur dalam undang-undang adalah:

(9)

• Pasal '  "o. *# tahun #$$$ mengatur perbuatan korupsi yang pertama.

Berdasarkan ketentuan Pasal ' perbuatan korupsi yang dilarang adalah memperkaya diri, memperkaya orang lain, atau memperkaya suatu korporasi, perbuatan memperkaya mana dilakukan dengan cara mela5an hukum.

• 0pa yang dilarang dalam Pasal * undang-undang korupsi pada intinya adalah

melarang perbuatan mengambilmencari untung, yaitu mengambilmencari

keuntungan yang

dilakukan dengan cara menyalahgunakan ke5enangan, kesempatan, atau sarana.

• Perbuatan utama yang dilarang di dalam Pasal #* sebagai perbuatan korupsi yang

ketiga

adalah memberi hadiah atau janji kepada pega5ai negeri. /emberi adalah perbuatan yang

 baik, akan tetapi memberikan hadiah kepada seseorang dengan mengingat kekuasaan atau 5e5enangnya, yang melekat pada jabatan atau kedudukan orang itu, adalah  perbuatan yang masuk ke dalam pengertian delik korupsi. Pemahaman mendasar yang  perlu dipahami adalah bah5a perbuatan memberi yang dilarang oleh delik ini adalah

memberi hadiah atau memberi janji.

Pidana yang tidak selesai

0pabila suatu perbuatan pidana yang tidak selesai telah memenuhi syarat:

>#? ada niatA >'? adanya permulaan pelaksanaanA >*? tidak selesainya delik bukan karena kehendak pelakuA maka kepada pelaku dapat dimintai pertanggungja5aban pidana.

Perbantuan

  Perbantuan (medeplichtigheid) adalah suatu perbuatan yang dengan sengaja membantu seorang yang akan atau sedang melakukan tindak pidana. Daya upaya yang dilakukan oleh seorang pembantu, yaitu dengan memberi kesempatan, sarana, atau keterangan. 0dapun daya upaya seorang pembantu kepada pelaku utama yang sedang melakukan delik tidak ditentukan secara definitif, sehingga setiap perbuatan apapun dapat dikategorikan sebagai suatu bentuk   bantuan bagi pelaku utama apabila seseorang tidak menghalangi orang lain melakukan delik.

Permufakatan jahat

K!P mengatur permufakatan jahat atas delik tertentu saja yang dapat dipidana, seperti delik  makar, delik pembunuhan kepala negara dan atau tamu negara. anksi pidana yang diancam

(10)

kepada pelaku permufakatan jahat lebih ringan dibandingkan perbuatan pembunuhan kepala negara dan atau tamu negara.

uap

Delik korupsi berupa memberi suap terdiri atas dua bentuk, yaitu

#. memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pega5ai negeri atau penyelenggara negara dengan maksud supaya pega5ai negeri atau penyelenggara negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan ke5ajibannyaA atau '. memberi sesuatu kepada pega5ai negeri atau penyelenggara negara karena atau

 berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan ke5ajiban, dilakukan atau tidak  dilakukan dalam jabatannya.

Perbedaan utama keduanya adalah bah5a pada delik memberi suap yang pertama, pemberian atau janji itu dilakukan dengan tujuan agar pega5ai negeri atau penyelenggara negara berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan ke5ajibannya. edangkan delik korupsi berupa memberi suap yang kedua adalah pemberian yang dilakukan karena pega5ai negeri atau penyelenggara negara telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ke5ajiban yang dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya.

ementara itu bagi penerima suap dipidana dengan pidana yang sama dengan pemberi suap.

!adiah atau 1anji

Pada prinsipnya seorang pega5ai negeri atau penyelenggara negara dilarang menerima hadiah atau janji. Pega5ai negeri atau penyelenggara negara itu cukup mengetahui atau dapat menduga bah5a pemberian dilakukan karena ia memiliki kekuasaan atau 5e5enang yang dimiliki karena jabatannya itu.

Perbuatan =urang

Perbuatan curang disini adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan umum dan atau peraturan serta kesepakatan yang  berlaku, seperti mengurangi kualitas dan atau kuantitas bangunan, mengurangi kualitas dan atau kuantitas barang. 0dapun unsur sengaja atau dengan sengaja yang dimaksud disini adalah bah5a pelaku mengetahui perbuatannya membiarkan perbuatan curang itu merupakan  perbuatan yang mela5an hukum.

(11)

Perbuatan yang dilarang sebagai perbuatan korupsi yang termasuk penggelapan jabatan adalah:

#. menggelapkan uang atau surat berharga yang disimpan karena jabatannyaA

'. membiarkan uang atau surat berharga tersebut diambil atau digelapkan oleh orang lain.

@ratifikasi

@ratifikasi adalah adalah pemberian dalam arti luas, meliputi pemberian uang, rabat >diskon?, komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan 5isata, pengobatan cuma- cuma, dan fasilitas lainnya. Pemberian itu akan dianggap sebagai suap apabila dapat dibuk- tikan bah5a diberikan berhubung dengan jabatannya yang  berla5anan dengan ke5ajiban atau tugasnya. ifat pidana gratifikasi akan hapus dengan dilaporkannya penerimaan gra- tifikasi itu oleh pega5ai negeri atau penyelenggara negara kepada Komisi Pemberantasan Korupsi.

Ni"i8ni"i Luhu$ Pnsi" d"m !enegh Te$'din1 Keu$ngn

Pendahuluan: Kecurangan dan 9untuhnya /oral Bangsa

;udigdo >'(#*? mengatakan bah5a kecurangan > fraud ? telah menjadi budaya kekinian di 7ndonesia dan mengemukakan sebutan bangsa curang dengan menilik berbagai peristi5a  besar sepanjang tahun '(#* seperti penangkapan Ketua /ahkamah Konstitusi Dr. /. 0kil /ochtar, ! atas kasus suap peradilan 6akil Ketua Komisi 777 DP9 dari Partai @olkar  =hairunnisa bersama pengusaha 8ubagus =haeri 6ardanaA penangkapan Kepala KK /igas Prof. Dr. 9udi 9ubiandini atas kasus suap pengelolaan hulu minyak dan gas bersama dengan  pengusaha minyak perusahaan multinasional dan pelatih golf nyaA penangkapan Presiden

PK atas kasus impor daging sapi disertai berbagai cerita asmara dibalik kehidupan para tokohnya.

(12)

elain melibatkan pejabat negara dan politisi, kecurangan juga melibatkan para pelaku usaha atau korporasi yang tentunya sangat merugikan bangsa karena potensi dana yang hilang yang seharusnya dapat dugunakan untuk pembiayaan program pembangunan yang mencapai angka trilyunan rupiah, contohnya:

#. 7=6 merilis data potensi kerugian negara di sektor kehutanan yang mencapai angka 9p&$# triliun yang berasal dari #'% kasus kejahatan korporasi dalam kurun 5aktu '(##-'(#', yang meliputi: a? 0lih fungsi lahanA b? Pemanfaatan hasil hutan secara tidak sahA dan c? Penghindaran dan manipulasi pajak.

'. KPK juga menemukan adanya kerugian dalam penerimaan negara di sektor /ineral dan Batubara sebesar 9p&,) triliun akibat adanya tunggakan pembayaran royalti dan iuran /inerba dalam kurun 5aktu '((*-'(##.

Kecurangan ini rupanya juga tidak terlepas dari peran masyarakat kelas menengah seperti contohnya penyimpangan pemberian fasilitas pembiayaan terhadap #$) nasabah fiktif di Bank yariah /andiri =abang Bogor dengan total nilai 9p#(' milyarA adanya pega5ai Ditjen Pajak berekening gendut serta yang menerima suap restitusi pajak di P8 urabaya 0gung 7ndustri and Paper senilai 9p'# milyarA kecurangan dalam pelaksanaan jian "asional menyangkut pembiayaannya seperti penyimpangan anggaran dalam pelaksanaan jian  "asional tahun '(#'-'(#* sebesar 9p#% miliar yang berasal dari proses lelang pencetakan dan distribusi bahan ", serta penyimpangan dari pemotongan belanja dan kegiatan fiktif  serta mark upA Koalisi Pendidikan juga menemukan kecurangan pelaksanaan " tingkat /0/K/0 '(#* berupa kebocoran kunci ja5aban.

Bahkan masyarakat kelas ba5ah pun tidak terlepas dari kecurangan, seperti contohnya sekelompok pengemis dan anak jalanan di Bandung yang lebih memilih terus menjadi  pengemis daripada bekerja sebagai pekerja sektor informal yang lebih mulia >penyapu jalan?.

Berbagai contoh diatas telah menunjukkan bagaimana realitas bangsa telah mencapai moral terendahnya dan bertentangan dengan idealisme Pancasila yang hanya sekedar dijadikan simbol kebangsaan semata. Pancasila tidak dijadikan pandangan hidup bangsa dalam kesehariannya sehingga hanya bersifat simbolik.

/engapa Kecurangan > Fraud ? 8erjadiC

Kecurangan terjadi karena sebab internal maupun eksternal. 4ang paling mendasar adalah ketamakan > greediness? atau semangat untuk memenuhi keinginan bukan kebutuhan yang seolah tiada batas sehingga seseorang melakukan tindakan apapun. @aya hidup konsumtif 

(13)

menjadi pemicu hal ini karena hanya mengagungkan kepuasan materi dan penampilan me5ah kalangan tertentu, serta dukungan lingkungan kerja dan keluarga yang permisif  terhadap kecurangan, sehingga tindakan curang menjadi suatu ke5ajaran bahkan keharusan. Kemungkinan melakukan kecurangan terbuka ketika kesempatan tercipta karena adanya sistem yang berkembang dalam suatu organisasi terlalu lemah mengontrol perilaku buruk   para pihak yang terlibat dalam aktifitas organisasi tersebut.

Pancasila sebagai 7deologi Perla5anan terhadap Kecurangan > Fraud ?

Pancasila dijadikan sebagai ideologi perla5anan terhadap kecurangan di 7ndonesia bukan merupakan sesuatu yang mustahil karena Pancasila memiliki pandangan moral yang luar   biasa dalam sila-silanya. Pancasila memiliki landasan ontologis, epistemologis, aksiologis

yang kuat dan dalam setiap sila memiliki justifikasi historis, rasional dan aktual yang dipahami, dihayati, dipercayai dan diamalkan secara konsistem sehingga dapat menopang  pencapaian-pencapaian agung peradaban bangsa ini. 1ika kesadaran bah5a kecurangan akan menghancurkan peradaban bangsa dan mencemari manusia telah muncul, maka seharusnya kita membangkitkan lagi semangat perjuangan mela5an belenggu kecurangan ini. Perla5anan ini dapat dilakukan dengan menghidupkan dan memperkuat kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan nyata, bukan hanya 5acana.

*( Ketuhnn se9gi P%ndsi Si$itu"

 "ilai-nilai ketuhanan merupakan sumber moralitas dan spiritualitas >yang bersifat <ertikal-transendental? bagi Bangsa 7ndonesia. 7ni sudah merupakan kenyataan hakiki dalam mana 8uhan telah 2hadir3 dalam relung ji5a manusia 7ndonesia sejak lampau, meski usaha-usaha untuk mencerabutnya terus menerus dilakukan oleh para kolonialis. !al demikian menunjukkan bah5a sejarah panjang perjuangan mencapai dan mempertahankan kemerdekaan 7ndonesia, banyak dilandasi oleh semangat keberagamaan. Etos perjuangan  para pendahulu bangsa yang sangat kuat dilandasi oleh semangat ketuhanan ini, antara lain dapat diperhatikan dalam pernyataan Pembukaan D #$%+ alinea ketiga yang berbunyi, 20tas berkat rahmat 0llah 4ang /aha Kuasa 3, dan pekik gemuruh 20llahu 0kbar3 yang disuarakan oleh Bung 8omo saat menggelorakan semangat juang rakyat pada perang kemerdekaan #( "opember #$%+ di urabaya.

(14)

/emahami lebih lanjut tentang sila Ketuhanan 4ang /aha Esa, maka sebagai manusia 7ndonesia seharusnya kita berpegang teguh pada kaidah ihsan, mengikuti kaidah iman dan 7slam, yang dinyatakan dalam suatu hadist, 2!endaklah kamu menyembah 0llah seakan-akan kamu melihat-"ya, dan jika engkau tidak dapat melihat-"ya, maka sesungguhnya Dia melihatmu3 >!.9. /uslim?. Komitmen ketuhanan ini dijadikan sebagai sumber moti<asi dan inspirasi dalam menjalani kehidupan. 7hsan sepenuhnya dapat menjadikan seseorang sebagai pribadi yang selalu berbuat baik. Dengan demikian ihsan juga  bermakna suatu keadaan di mana seorang manusia mencurahkan kebaikan dan menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain. Perbuatan baik ini antara lain di5ujudkan dengan sifat-sifat kejujuran, kerendahhatian dan ketulusan dalam menjalani aktifitas kehidupannya. 7ni kemudian akan berlanjut pada penciptaan suasana kehidupan yang dipenuhi cinta kasih pada sesama. /emperhatikan hal demikian, maka perla5anan terhadap berbagai tindak  kecurangan harus selalu dihubungkan dengan nilai-nilai bah5a manusia 7ndonesia harus >lihat butir-butir Pedoman Penghayatan dan Pemngamalan PancasilaP%?:

/enyatakan kepercayaan dan keta5aannya terhadap 8uhan 4ang /aha Esa. 

  Percaya dan ta5a terhadap 8uhan 4ang /aha Esa, sesuai dengan agama dan 

kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

/embina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap 

8uhan 4ang /aha Esa.

.( Kemnusin 7ng Adi" dn #e$d9

 "ilai-nilai kemanusiaan yang bersandar pada ketuhanan ini bukanlah dalam  pengertian sekedar mengikuti paham pengutamaan hak-hak indi<idual >indi<idualisme? sebagaimana yang diusung banyak negara barat, namun harus diletakkan pada pentingnya  paham kekeluargaan yang khas 0sia khususnya di nusantara. /engesankan sekali jika kita memperhatikan kembali pandangan para pendiri negara yang disampaikan melalui pidato di sidang BPPK7 tanggal #(-#+ 1uli #$%+. oekarno menyatakan dengan tegas, 21ikalau betul- betul hendak mendasarkan negara pada paham kekeluargaan, paham tolong menolong, paham gotong royong dan keadilan sosial, enyahkanlah tiap-tiap pikiran, tiap-tiap paham indi<idualisme dan liberalisme dari padanya.3 >lihat ;atif, '(##A #*?. ;ebih lanjut Bung !atta pernah mengatakan, 24ang harus disempurnakan dalam Pancasila, ialah kedudukan manusia sebagai hamba 0llah, yang satu sama lain harus merasa bersaudara. Fleh karena itu sila kemanusiaan yang adil dan beradab langsung terletak di ba5ah sila pertama. Dasar 

(15)

kemanusiaan itu harus dilaksanakan dalam pergaulan hidup. Dalam segala hubungan manusia satu sama lain harus berlaku rasa persaudaraan3 >;atif, '(##A '%(?. Dengan ini yang dimaksudkan sebagai harkat kemanusiaan bukanlah yang justru menjadikan manusia 7ndonesia serakah dengan memangsa sesamanya dan seisi semesta alam.

 "ilai kemanusiaan yang dilandasi ketuhanan mengajarkan cinta kasih dan menjauhi sesuatu yang menyebabkan perendahan martabat manusia dan merugikan pihak lainnya. Perbuatan curang selalu dan pasti merugikan pihak lain dan juga pasti merendahkan martabat dirinya dan orang lain. /engaitkan hal yang demikian, maka perla5anan terhadap berbagai tindak kecurangan ini dilakukan karena manusia 7ndonesia harus >lihat butir-butir P%?:

/engakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai 

makhluk 8uhan 4ang /aha Esa.

/engakui persamaan derajad, persamaan hak dan ke5ajiban aGasi setiap manusia, tanpa 

membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, 5arna kulit dan sebagainya.

/engembangkan sikap saling mencintai sesama manusia. 

 /engembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira. 

 /engembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain. 

 /enjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. 

 @emar melakukan kegiatan kemanusiaan. 

 Berani membela kebenaran dan keadilan. 

+( Pe$stun Ind%nesi

0ktualisasi nilai-nilai kemanusian dalam kerangka Pancasila harus berakar kuat pada <isi kebangsaan yang kokoh oleh karena kemajemukan masyarakat 7ndonesia. isi kebangsaan yang kokoh ini berupa komitmen untuk membangun kebersamaan menuju tercapainya cita-cita bersama. /embangun kebersamaan yang dilakukan dalam 5adah Persatuan 7ndonesia, tidak mengharuskan tercerabutnya akar tradisi dan kesejarahan masing-masing komunitas suku, ras dan agama >;udigdo, '(#'?. 1ika saat ini Bangsa 7ndonesia menghadapi 5abah penyakit moral berbagai tindak kecurangan, maka cita-cita bersama yang harus diusung adalah memerangi 5abah kecurangan tersebut. Bagaimanapun, berbagai tindak  kecurangan telah nyata mengancam persatuan bangsa. Keharmonisan hidup masyarakat digerogoti oleh berbagai pengkhiatan kemanusiaan oleh beberapa unsur personil  penyelenggara negara dan juga sebagian masyarakat >pelaku usaha maupun masyarakat

(16)

 biasa? di berbagai bidang kehidupan. 1ika berbagai tindak kecurangan sebagaimana dipaparkan di atas terus menerus terjadi tanpa solusi yang jelas dan tegas, potensi disintegrasi  bangsa akan terus berlanjut. /engapa demikian karena akibat berbagai kecurangan tersebut  pemerataan pembangunan tidak dapat dijalankan sehingga menjangkau seluruh 5ilayah 7ndonesia, kerusakan alam yang masif >yang juga berpengaruh terhadap kualitas lingkungan? dirasakan oleh semua lapisan masyarakat, dan ketimpangan kesejahteraan material dan immaterial akan terjadi di berbagai 5ilayah tanah air. 8idak akan ada lagi kebanggaan pada diri 5arga negara terhadap 7ndonesia, yang dengan itu kemudian mereka akan mudah menggadaikan nasionalismenya.

/emperhatikan hal di atas, sangat baik jika kita menyelami kembali Butir-Butir P% yang secara jelas menyebutkan bah5a manusia 7ndonesia harus:

/ampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan 

negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

anggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan. 

 /engembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa. 

 /engembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air 7ndonesia. 

 /engembangkan persatuan 7ndonesia atas dasar Bhinneka 8unggal 7ka. 

 /emajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa. 

3( Ke$k1tn 1ng Diimin %"eh Hikmt Ke9i'ksnn d"m Pe$mus1$tn;Pe$ki"n

Pancasila mengajarkan bah5a rakyat merupakan institusi tertinggi di negeri ini. 7ni berarti  bah5a orientasi kebijakan maupun keputusan harus demi kepentingan rakyat bukan kepentingan diri maupun kelompok. Pemihakan pada kepentingan rakyat dipandu dengan hikmat kebijaksanaan melalui media musya5arah.

Beberapa butir P% sebagai referensi dalam mengimplementasikan sila ke-% untuk   pencegahan tindak kecurangan:

#. ebagai 5arga negara dan 5arga masyarakat, setiap manusia 7ndonesia mempunyai kedudukan, hak dan ke5ajiban yang sama.

(17)

*. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungja5abkan secara moral kepada 8uhan 4ang /aha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.

,( Kedi"n S%si" 9gi Se"u$uh Rk1t Ind%nesi

Frientasi kebijakan atau pengambilan keputusan pada kepentingan rakyat yang dipandu oleh hikmah kebijakan akan berimplikasi pada per5ujudan keadilan sosial. Dalam cara  pandang Pancasila, per5ujudan keadilan sosial ini sekaligus harus merupakan aktualisasi nilai-nilai ketuhanan dan nilai-nilai kemanusiaan, serta cita-cita kebangsaan yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat. 0rah penegakan keadilan di 7ndonesia adalah pada rakyat secara keseluruhan.

uparman >'((*? menguraikan tiga jenis kejahatan yang dinilai fungsional bagi sistem kapitalisme, yaitu:

#. the crime of acomodationA yaitu kejahatan yang timbul sebagai respon pelaku terhadap dorongan maksimum konsumsi atau sebagai usaha mempertahankan hidup dalam sistem di mana institusi-institusi perlindungan sosial kolektif telah

'. the crimes of economic domination, yaitu jenis-jenis kejahatan oleh para pelaku bisnis  berupa penipuan pajak, kejahatan lingkungan, eksploitasi buruh, penyimpangan kontrak 

karya, penipuan informasi penjualan produk, penanaman citra produk dan lain sebagainya.

*. the crimes of government , yaitu penyalahgunaan 5e5enang birokrasi, kolusi, korupsi termasuk pengabaian-pengabaian terhadap ketentuan hukum, hak asasi manusia dan tindakan-tindakan politik yang dikatagorikan ke dalam political coruption seperti kecurangan-kecurangan dalam pemilihan umum, teladan palsu, pesta-pesta palsu, dan seterusnya.

Beberapa butir P% sebagai referensi dalam mengimplementasikan sila ke-% untuk   pencegahan tindak kecurangan:

#. /engembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.

'. /engembangkan sikap adil terhadap sesama. *. /enjaga keseimbangan antara hak dan ke5ajiban. %. /enghormati hak orang lain.

+. uka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.

&. 8idak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.

). 8idak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup me5ah.

(18)

. 8idak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.

$. uka bekerja keras.

#(. uka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.

##. uka melakukan kegiatan dalam rangka me5ujudkan kemajuan yang merata dan  berkeadilan sosial.

Penutu

ntuk mengembangkan tata nilai kehidupan Pancasila, maka yang dapat kita lakukan adalah:

#. 4akin bah5a Pancasila merupakan ideologi yang tepat untuk bangsa 7ndonesia.

'. loyalitas serta keterlibatan optimal para pendukungnya untuk mendapatkan derajat  penerimaan optimal

*. Peran lembaga pendidikan, kurikulum harus adaftif terhadap penyebaran cara pandang Pancasila

DA2TAR PUSTAKA

;udigdo, nti. '(#*. Nilai-nilai uhur !ancasila dalam "encegah #er$adinya %ecurangan. Puspito, "anang 8., dkk. '(##.  !endidi&an Anti %orupsi untu& !erguruan #inggi. 1akarta:

Referensi

Dokumen terkait

Bakteri ini mempunyai peran tripel yaitu (2) meningkatkan ketersediaan fosfat dalam tanah, sehingga kebutuhan tanaman akan fosfat dapat terpenuhi sekalipun dengan

Posisi pasar “ Lost Opportunity ” pada produk roti, kue, biskuit, dan produk lainnya yang sejenis di Malaysia, pada produk kembang gula di Macao, Malaysia, Thailand, dan Turki,

Jika menggunakan Standard Cost (2.C.5), Setelah save warehouse FGIN akan secara otomatis mengubah Job Costing/ Pembiayaan Pesanan yang sudah dibuat sebelumnya saat proses Material

penelitian juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan prestasi belajar antara subyek yang mengalami anemia dengan subyek yang tidak mengalami anemia (p&gt;0.05), baik pada

Pemerintah telah menetapkan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana

Penyebaran minimarket di Kota Padang, dimana terdapat 11 Kecamatan yang ada di Kota Padang ada 1 Kecamatan yang dianggap tidak memiliki minimarket yakni kecamatan Bungus Teluk

Berdasarkan Gambar 1, pada perlakuan menggunakan bakteri Escherichia coli sebagai bakteri uji, hasil pada media alternatif menggunakan berbagai sumber karbohidrat yang

Makalah ini membahas blue print yang terkait dengan pengembangan sarana TIK untuk PT, yaitu kebijakan, rencana strategis, program kerja tahunan TIK, pengembangan