DAFTAR ISI
BAB I : PENDAHULUAN……….6
Ringkasan Eksekut if ... 6
Perkem bangan Um um Akt if itas Pem bayaran dan Pengedaran Uang Di Indonesia... 8
BAB II : PERKEM BANGAN SISTEM PEM BAYARAN DI INDONESIA……….10
STABILITAS SISTEM PEM BAYARAN... 10
2.1 Penyelenggaraan Sist em Pem bayaran Nilai Besar ... 10
Kinerja Sist em BI-RTGS...10
M anajemen Likuidit as Sist em BI-RTGS...11
Perkembangan Transaksi BI-RTGS...12
Pola Transaksi Dalam BI-RTGS...13
Transaksi Perbankan...14
Transaksi Pemerint ah...14
Rent ang Nilai Transaksi dalam Sist em BI-RTGS...15
2.2 Penyelenggaraan Sist em Pem bayaran Rit el ... 15
Penyelenggaraan Kliring...15
Kinerja Sist em Kliring...15
Perkembangan Transaksi Kliring...16
Penyelenggaraan Alat Pembayaran dengan M enggunakan Kart u...19
Kinerja Alat Pembayaran dengan M enggunakan Kart u...20
Perkembangan Transaksi APM K...20
Transaksi Kart u Kredit...21
Kart u ATM dan ATM + Debet...24
Kart u Prabayar dan Uang Elekt ronik (E-M oney)...25
Penyelenggaraan M oney Remit t ance...25
2.3 Penyelenggaran Sist em Pem bayaran Lainnya ... 26
BAB III : KEBIJAKAN SISTEM PEM BAYARAN UNTUK M ENDUKUNG STABILITAS SISTEM KEUANGAN………..29
3.1. M it igasi Risiko Sist em Pem bayaran ... 29
M it igasi Risiko Sist em Kliring...29
M it igasi Risiko Penyelenggaraan APM K...30
Implement asi Kebijakan M inimum Pembayaran 10% pada Kart u Kredit...31
Daf t ar Hit am Nasional...31
Penerbit an Ket ent uan M engenai M oney Remit t ance...33
3.2 Ef isiensi Sist em Pem bayaran ... 34
Int egrasi Sist em Kliring...34
St andardisasi Kart u ATM dan Kart u Debet...35
3.3 Bussines Cont inut y Plan Penyelenggaraan Sist em Pem bayaran ... 37
3.4 Perijinan Sist em Pem bayaran ... 37
3.5 Disem inasi Inf orm asi Sist em Pem bayaran Nasional... 38
BAB IV : LAPORAN OVERSIGHT PENYELENGGARAAN SISTEM PEM BAYARAN……….39
4.1 Oversight Sist em BI-RTGS dan Assessm ent BI-SSSS ... 39
4.2 Oversight Sist em Kliring Nasional Bank Indonesia ... 39
4.3 Oversight APM K ... 40
4.4 Financial Sect or Assessm ent Program ... 40
BAB V : ARAH KEBIJAKAN SISTEM PEM BAYARAN……….41
BOKS - BOKS Implementasi Treasury Single Account Pemerintah………..13
Pengaturan Daftar Hitam Nasional Penarik Cek dan atau Bilyet Giro Kosong………..30
Grafik Pertumbuhan Transaksi BI-RTGS...10
Grafik Troughput...12
Grafik harian transaksi BI-RTGS menjelang Hari Raya...13
Grafik harian transaksi BI-RTGS setelah Hari Raya...14
Pangsa nominal transaksi per kelompok bank...14
Pangsa volume transaksi per kelompok bank...14
Grafik perkembangan kliring penyerahan secara nasional...16
Grafik perkembangan nominal transaksi kliring...17
Grafik perkembangan RRH nominal transaksi kliring...17
Grafik perkembangan volume transaksi kliring...17
Grafik perkembangan RRH volume transaksi kliring...17
Grafik Nominal kliring penyerahan berdasarkan wilayah...17
Grafik Volume kliring penyerahan berdasarkan wilayah...17
Grafik prosentase penyerahan kliring per 5 wilayah terbesar berdasarkan volume...18
Grafik prosentase penyerahan kliring per 5 wilayah terbesar berdasarkan nominal...18
Grafik komposisi volume transaksi nasabah melalui sistem kliring dan sistem BI-RTGS untuk transaksi...18
transfer Rp. 50 juta keatas sampai dengan Rp 100 juta...18
Grafik perputaran kliring transfer kredit per siklus...18
Grafik prosentase pengembalian warkat debet berdasarkan volume...19
Grafik prosentase pengembalian warkat debet berdasarkan nominal...19
Grafik volume tolakan kliring karena cek/BG kosong...19
Grafik RRH volume tolakan kliring karena Cek/BG kosong...19
Grafik nominal tolakan kliring karena Cek/BG kosong...19
Grafik RRH nominal tolakan kliring karena Cek/BG kosong...19
Grafik prosentase jumlah kartu kredit tahun 2005...22
Grafik prosentase jumlah kartu kredit tahun 2006...22
Grafik prosentase volume transaksi kartu kredit tahun 2005...22
Grafik prosentase volume transaksi kartu kredit tahun 2006...22
Grafik prosentase nominal transaksi kartu kredit tahun 2005...23
Grafik prosentase nominal transaksi kartu kredit tahun 2006...23
Grafik prosentase nominal transaksi outstanding kartu kredit tahun 2006...24
Tabel range transfer dana...18
Tabel Penerbit Kartu Kredit...22
Tabel Jumlah Outstanding Kartu Kredit...23
BAB I : PENDAHULUAN
Ringkasan Eksekut if
Layaknya suatu proses metamormosis, bentuk dan
isi Laporan Perkembangan Sistem Pembayaran
(LPSP) juga mengalami perubahan. Pada
penerbitan perdana tahun 2004, semangat
penulisan lebih ditekankan pada kebutuhan
untuk mengedukasi masyarakat mengenai kiprah
dan seluk beluk Bank Indonesia dalam
menjalankan salah satu fungsi utama (core
function) di bidang sistem pembayaran.
Sedangkan pada tahun 2005, fokus laporan lebih
bersifat governance report berupa gambaran atas
akuntabilitas manajemen pengelolaan
operasional dan kebijakan yang ditempuh BI
dalam menjaga kelancaran sistem pembayaran.
Edisi tahun 2006 berubah lebih unik lagi. Pertama
bentuk publikasi tidak lagi dalam bentuk hard
copy berupa cetakan, namun berbentuk
elektronik sehingga pengunjung web dapat
mengakses secara langsung laporan dimaksud
pada www.bi.go.id/sp. Alasan kami sederhana,
publikasi LPSP ini sebenarnya hanya merupakan
complement ary report atas buku laporan resmi
yang diterbitkan Bank Indonesia, sehingga
publikasinya tidak harus dikemas dalam bentuk
cetakan. Mempublikasi laporan dalam bentuk
elektronik ternyata jauh lebih efisien. Tentu kami
masih berprinsip untuk tidak mengurangi
kelengkapan dan kualitas laporan. Kami juga
mengubah fokus dan isi laporan. Pada edisi 2006
ini, penekanan laporan tidak lagi difokuskan pada
akuntabilitas lembaga terhadap pelaksanaan
tugas di bidang sistem pembayaran namun
diarahkan hanya pada aspek pemaparan rinci
perkembangan dan kebijakan utama yang
ditempuh BI dalam bidang sistem pembayaran.
Reorientasi ini dilakukan mengingat saat ini, Bank
Indonesia telah menyampaikan laporan berkala
yang bersifat governance report sebagai bentuk
akuntabilitas formal kepada stakeholder yaitu:
Laporan Tahunan BI, Laporan Perekonomian
Indonesia dan Laporan Stabilitas Sistem
Keuangan. Gambaran umum pelaksanaan tugas BI
dalam sistem pembayaran sebenarnya juga telah
disampaikan pada ketiga laporan dimaksud. Oleh
karena itu, agar tidak ada kesan tumpang tindih,
fokus LPSP 2006 lebih ditekankan hanya pada
analisa perkembangan dan deskripsi kebijakan
sistem pembayaran selama peridode laporan.
Pada LPSP 2006 terdiri dari 2 (dua) laporan utama
yaitu Perkembangan Sistem Pembayaran, berupa
pemaparan atas analisa perkembangan dan
gambaran atas pelaksanaan kebijakan BI dalam
sistem pembayaran. Perkembangan transaksi,
adanya inovasi baru teknologi pembayaran dan
pola transaksi pembayaran ritel dan bernilai besar
akan dideskripsikan secara rinci. Termasuk dalam
hal ini penyelenggaran sistem pembayaran lain di
luar sistem perbankan yang sudah mulai marak,
misalkan tren transaksi mobile, internet dan
phone banking, e-money serta jasa remittances
yang semakin luas digunakan oleh masyarakat
yang unbanked. Sedangkan bagian kedua aka
menjelaskan yaitu kebijakan sistem pembayaran
dalam rangka mendukung stabilitas sistem
keuangan, yang memaparkan berbagai kebijakan
yang telah ditempuh oleh Bank Indonesia selama
tahun 2006 dengan dilengkapi penjelasan
mengenai tujuan kebijakan dan alasan yang
mendasarinya. Sub bagian ketiga merupakan
laporan oversight terhadap penyelenggaraan
sistem pembayaran dan sub bagian terakhir yang
berisikan arah kebijakan sistem pembayaran yang
akan ditempuh di tahun mendatang.
Bagian Kedua terdiri dari empat sub bagian yaitu
sub bagian pelaksanaan kebjakan pengedaran
uang yang memaparkan berbagai kebijakan yang
telah ditempuh Bank Indonesia di bidang
mengenai tujuan yang hendak dicapai. Sub
bagian kedua adalah peningkatan kinerja Bank
Indonesia dalam pelaksanaan tugas di bidang
pengedaran uang, sub bagian ketiga mengenai
hubungan kerjasama Bank Indonesia dengan
pihak terkait dan yang terakhir adalah sub bagian
keepat yang memaparkan arah kebijakan dan
recana kegiatan pengembangan di bidang
Perkem bangan Um um Akt if it as Pem bayaran dan Pengedaran Uang Di Indonesia
Sistem pembayaran yang berfungsi dengan baik
sangat penting bagi aktivitas perekonomian.
Kelancaran sistem pembayaran terbukti mampu
menjadi faktor positif pendukung stabilitas sistem
keuangan suatu negara. Keyakinan yang tinggi
dari pelaku ekonomi terhadap keamanan
setelmen pembayaran akan menjamin transaksi
komersial dan keuangan berjalan lancar.
Sebaliknya, kegagalan pembayaran satu pelaku
ekonomi dikhawatirkan dapat berdampak pada
aktivitas ekonomi secara keseluruhan. Tidak
mengherankan jika sebagai otoritas sistem
pembayaran, Bank Indonesia sangat
berkepentingan untuk memastikan agar berbagai
komponen sistem pembayaran, antara lain alat
pembayaran, mekanisme kliring dan setelmen
seluruh pelaku sistem pembayaran (peserta,
pengguna dan penyedia jasa) bekerja secara
harmonis.
Secara historis, pada umumnya cikal bakal fungsi
utama yang melandasi keberadaan bank sentral
bermula dari adanya pemberian hak tunggal
sebagai penerbit dan pencetak uang. Fungsi
utama tersebut berubah dinamis seiring dengan
kian berkembangnya kebutuhan dan preferensi
masyarakat alat pembayaran baru. Evolusi
instrumen dan metode pembayaran baru
melahirkan berbagai kepedulian baru bank
sentral sebagai otoritas moneter dalam menjaga
stabilitas sistem keuangan. Perubahan ini juga
melahirkan tugas baru bank sentral terutama
pada fungsi sistem setelmen, meskipun muara
akhir kebijakan tetap sama, yaitu bagaimana
memelihara dan menjaga “nilai” uang kartal dan
deposit money yang tersimpan pada semua
rekening giro/deposito/tabungan di perbankan.
Kelancaran sistem pembayaran sebagai
infrastruktur keuangan modern dianggap sebagai
mekanisme penting yang dapat menjaga
keyakinan pelaku ekonomi terhadap nilai uang.
Wajar jika seluruh bank sentral sangat concern
untuk mengadopsi int ernat ional best pract ice
sebagai acuan prinsip utama dalam
penyelenggaraan sistem pembayaran.
Sekurang-kurangnya ada 4 (empat) prinsip utama
yang mendasari setiap kebijakan bank sentral
dalam sistem pembayaran. Pertama, pengendalian
resiko, terutama yang dikategorikan sebagai
syst emically import ant payment syst em (SIPS),
yaitu sistem yang memproses transaksi bernilai
besar karena adanya potensi resiko sistemik.
Concern ini wajar karena transaksi harian antar
bank di Indonesia yang di-set t le melalui sistem
BI-RTGS mencapai 117,6 trilyun rupiah, atau
sebanding dengan 25% belanja negara selama
setahun. Bisa dibayangkan potensi magnitute
resiko SIPS jika tidak dimitigasi secara baik. Prinsip
kedua berkaitan dengan efisiensi. Pengembangan
sistem pembayaran diupayakan pada
penyempurnaan mekanisme operasional dalam
rangka pengurangan biaya khususnya biaya
transaksi dan waktu proses setelmen. Meskipun
asas efisiensi terkadang berseberangan dengan
prinsip kecepatan dan keamanan, namun fokus
efisiensi secara ekonomi ditekankan pada aspek
economics scope and scale. Transaksi pembayaran
ritel yang biasanya bernilai kecil, bersifat
berulang-ulang dan banyak dilakukan pelaku
individual, pada umumnya lebih mementingkan
aspek efisiensi daripada unsur keamanan.
Prinsip ket iga adalah kesetaraan akses (equit able
access). Dalam hal ini bank sentral harus
memperhatikan agar semua penyelenggaraan
sistem pembayaran menerapkan asas kesetaraan.
Berarti, memberikan keseimbangan hak dan
kewajiban antar seluruh pelaku sistem
pembayaran baik penyedia jasa pembayaran
maupun pengguna jasa pembayaran, termasuk
kesempatan untuk memperoleh layanan yang
sama antar berbagai wilayah. Prinsip ini penting
agar layanan jasa pembayaran ritel juga dapat
termasuk yang berada di wilayah terpencil
(remote area).
Prinsip keempat, bank sentral perlu
memperhatikan aspek perlindungan konsumen
dalam penyelenggaraan sistem pembayaran.
Artinya, setiap penyelenggaraan wajib
menerapkan asas perlindungan konsumen secara
wajar dalam kegiatan operasionalnya. Prinsip ini
sebenarnya memberikan keseimbangan hak dan
kewajiban antara penyedia dan penyelenggara
dengan pengguna layanan jasa pembayaran.
Secara umum, aktifitas transaksi pembayaran non
tunai, pada tahun 2006 tercatat pertumbuhan
positif, artinya meningkat baik dari sisi nilai dan
volume pembayaran, terutama pada transaksi
pembayaran yang bernilai besar. Transaksi yang
di-set t le pada sistem BI-RTGS pada periode
laporan mencapai Rp29.102 triliun atau
meningkat 44% dari tahun sebelumnya. Di sisi
volume peningkatan tercatat mencapai 16.6%
dibanding tahun sebelumnya atau mencapai 6,9
juta transaksi. Secara harian, rata-rata nilai
transaksi adalah Rp118,3 triliun sedangkan
rata-rata volume transaksi mencapai 28,1 ribu
transaksi.
Hal yang sama terjadi pada transaksi pembayaran
ritel yang menggunakan kartu (APMK). Aktivitas
transaksi yang berbasis kartu mencatat
pertumbuhan yang sangat pesat dibanding tahun
sebelumnya. Jumlah kartu saat ini mencapai 37
juta dengan volume sebesar 1,06 milyar
(meningkat 5%) dan nilai transaksi sebesar Rp.
1,24 ribu triliun (meningkat 25%).
Yang menarik, aktivitas pembayaran ritel yang
di-settle melalui sistem kliring (neeting) pada tahun
2006 justru mengalami penurunan dibanding
tahun sebelumnya. Total volume perputaran
kliring secara nasional hanya mencapai 74,2 juta
transaksi atau turun sebesar 4,9%, sementara nilai
transaksi mencapai Rp 1,206 triliun atau turun
sebesar 10,5%. Dengan penurunan ini maka
rata-rata harian transaksi kliring adalah sebesar Rp 4,9
triliun (turun 6% dari 319 ribu transaksi) dan
volume sebesar 300 ribu transaksi (turun 12% dari
Rp. 5,5 triliun).
Dalam kaitannya dengan pelaksanaan fungsi Bank
Indonesia dalam pengedaran uang, kebijakan
tetap diarahkan upaya pemenuhan kebutuhan
masyarakat akan uang kartal yang berkualitas
dalam arti layak edar, jumlah nominal yang
cukup, jenis pecahan yang sesuai dan tepat waktu
serta menanggulangi meluasnya peredaran uang
palsu.
Di sisi pengedaran uang, aktifitas selama tahun
2006 juga menunjukkan pertumbuhan yang
signifikan. Hal ini tercermin dari posisi uang kartal
yang diedarkan (UYD) harian yang tercatat
sebesar Rp. 144,5 triliun, yang meningkat sebesar
14,6% dari tahun 2005 (Rp. 126,1 triliun).
Sedangkan rasio temuan uang palsu terhadap uang kertas yang diedarkan pada tahun 2006 menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, namun masih berada pada nilai yang cukup rendah. Rata-rata rasio uang palsu terhadap UYD per bulan pada tahun 2005 sebesar 0,0000009 atau terdapat 9 lembar temuan uang palsu pada setiap 10 juta lembar uang kertas yang diedarkan, sedangkan pada 2006 rata-rata rasio temuan uang palsu terhadap UYD per bulan menjadi 0,0000014 atau terdapat 14 lembar pada setiap 10 juta lembar uang kertas yang diedarkan.
BAB II : PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN DI INDONESIA
STABILITAS SISTEM PEM BAYARAN
2.1 Penyelenggaraan Sist em Pem bayaran Nilai Besar
Kinerja Sist em BI-RTGS
Trend aktivitas transaksi nilai besar yang
diselenggarakan melalui RTGS selalu mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun. Sebagai
ilustrasi, pada tahun 2002 transaksi perharinya
hanya 8.724 transaksi, sedangkan di tahun 2006
rata-rata perharinya telah mencapai 27.939. Jadi
selama 4 tahun telah terjadi peningkatan aktivitas
transaksi sebesar 220%. Pada waktu-waktu
tertentu sepanjang tahun juga terdapat aktivitas
transaksi yang cukup tinggi. Misalnya pada
hari-hari besar keagamaan atau hari-hari libur nasional,
transaksi RTGS bisa mencapai nilai sekitar 40 ribu
transaksi.
Khusus untuk mengantisipasi peningkatan
transaksi pada hari-hari tertentu tadi, Bank
Indonesia telah mengeluarkan kebijakan untuk
membatasi transaksi yang nilainya 25 juta
kebawah, agar tidak menggunakan sistem RTGS.
Pembatasan transaksi dalam periode ini dilakukan
dalam rangka libur idul fitri, yakni tanggal 12 s.d
27 Oktober 2006 dan dalam rangka libur natal
dan tahun baru tanggal 18 s.d 29 Desember 2006.
Batasan pengiriman transaksi meliputi transaksi
antar bank untuk kepentingan nasabah yang
hanya dapat dikirimkan jika nilainya >Rp 25 juta.
Target dari kebijakan ini adalah dalam rangka
antisipasi terhadap penggunaan kapasitas sistem
BI-RTGS sehingga masih dalam batas toleransi
yang ditetapkan. Adapun untuk transfer antar
bank untuk kepentingan nasabah yang nilainya
<Rp 25 Juta dapat diselesaikan melalui SKN-BI.
Peningkatan transaksi tersebut tentunya dapat
berdampak pada menurunnya perf ormance sistem
BI-RTGS. Untuk mengakomodasi hal tersebut,
telah dilakukan enhancement aplikasi RTGS.
Kapasitas mesin utama maupun sistem back-up
ditingkatkan sehingga dapat memproses transaksi
lebih cepat lagi. Bank anggota RTGS pun
diperkenankan untuk meningkatkan kapasitas
hardware mereka apabila dipandang transaksinya
sudah meningkat dan dikawatirkan dapat
mengganggu jalannya operasional transaksi.
Securit y f eat ures ditambahkan dengan enkripsi
Grafik Pertumbuhan Transaksi BI-RTGS RTGS Growth (5 yrs)
pada sisi tertentu untuk meningkatkan keamanan
sistem.
Penjagaan perf ormance sistem juga dilakukan
melalui pelaksanaan uji coba disaster recovery
planning. Pada tahun 2006 telah dilaksanakan
sebanyak 4 kali yang melibatkan seluruh peserta
BI RTGS. Uji coba ini dimaksudkan untuk menguji
kesiapan sistem back up apabila sistem utama
mengalami gangguan. Lebih lanjut, uji coba ini
dimaksudkan untuk meningkatkan kesiapan dan
kepatuhan operasional baik dari sisi
penyelenggara maupun peserta terhadap
prosedur penanggulangan keadaan darurat yang
telah ditetapkan.
M anajemen Likuidit as Sist em BI-RTGS
Penggunaan sistem BI-RTGS terbukti mampu
mengurangi risiko sistemik. Hal ini karena sifatnya
transaksinya yang dilakukan secara gross atau
tidak dapat terlaksana apabila dana tidak
tersedia. Artinya risiko gagal bayar oleh peserta
RTGS tidak mungkin terjadi karena begitu peserta
tidak memiliki dana untuk melakukan transfer
dana, disain sistem secara otomatis menolak
transaksi yang dibukukan.
Sangat disadari desain sistem seperti itu
memerlukan likuiditas yang tinggi bagi setiap
peserta. Ini berbeda dengan sistem net t ing yang
hanya membutuhkan posisi likuiditas tertentu
untuk dibayarkan oleh peserta pada periode yang
telah ditetapkan, biasanya akhir hari seperti
halnya sistem kliring. Misalnya dapat saja saldo
peserta pada pagi hari lebih kecil dari total
nominal transaksinya sehingga transaksinya tidak
dapat dilaksanakan dan harus menunggu
transaksi masuk, atau dalam sistem RTGS disebut
queue. Kondisi ini bukan berarti peserta tersebut
mengalami kesulitan likuiditas, karena mungkin
saja seluruh transaksi yang seharusnya masuk
(incoming t ransf er) baru terjadi kemudian. Yang
terjadi hanyalah int raday gap atau kesenjangan
likuiditas pada periode tertentu.
Mengatasi hal itu, Sistem BI-RTGS didesain untuk
mengatasi int raday gap tersebut yaitu dengan
Fasilitas Likuiditas Intrahari (FLI), sehingga t rade
of f antara manfaat prudential dengan efisiensi
likuiditas pasar dapat terpenuhi. Desain sistem
memungkinkan FLI dilakukan secara otomatis
apabila saldo rekening giro bank peserta di Bank
Indonesia tidak mencukupi untuk melakukan
transaksi keluar. Bank dapat menggunakan FLI
sesuai dengan nilai SBI dan SUN miliknya yang
ditatausahakan di Bank Indonesia. FLI ini dapat
dilunasi secara otomatis setelah bank menerima
transfer masuk ke rekeningnya. Apabila FLI masih
tidak mencukupi untuk mendanai transaksi
peserta, maka akan berubah menjadi Fasilitas
Pendanaan Jangka Panjang (FPJP).
Selain fasilitas diatas, setiap pagi hari pada
kesempatan pertama Bank Indonesia juga
melikuidkan pasar dengan mengkredit rekening
giro bank atas Sertifikat Bank Indonesia yang
telah jatuh tempo. Paling tidak bank memiliki
dana yang cukup untuk melakukan out going
t ransf er di pagi hari.
Disamping berbagai fasilitas tersebut, Bank
Indonesia juga melakukan monitoring terhadap
likuiditas pasar. Salah satunya adalah dengan
memperhatikan distribusi penyelesaian transaksi
sepanjang w indow t ime. Distribusi transaksi yang
merata sepanjang jam operasional BI-RTGS
menunjukkan kadar likuiditas pasar yang cukup
untuk mendukung kelancaran sistem BI-RTGS.
Untuk mendukung hal tersebut sejak tahun 2002
menetapkan biaya transfer dalam 2 penggalan
waktu dengan biaya berbeda. Untuk transfer yang
dikirimkan sebelum pukul 15.00 WIB dikenakan
biaya Rp 7000 per transaksi dan pukul 15.00 WIB
atau lebih dikenakan biaya Rp 15.000 per
transaksi. Biaya transakasi tersebut adalah untuk
kategori single t ransf er, namun demikian untuk
pengiriman mult iple t ransf er1
tetap dikenakan
biaya Rp 50.000 per transaksi sepanjang jam
operasional.
Pada tahun 2006 transaksi yang dikirimkan
sebelum pukul 15.00 WIB mencapai 88%
1
sedangkan yang dikirimkan pukul 15.00 WIB atau
lebih mencapai 12%. Dengan demikian terlihat
bahwa pengiriman transaksi oleh peserta
cenderung menyebar pada jam transkasi sebelum
pukul 15.00 WIB. Ini mengindikasikan bahwa
diversifikasi biaya untuk mendorong pengiriman
transaksi oleh peserta dalam periode waktu
tertentu masih terlihat efektif.
Selain dari sisi penyelenggara dalam kaitan untuk
menjaga likuiditasnya, seluruh peserta BI RTGS
telah menyepakati untuk menyelesaikan transfer
dananya berdasarkan t hroughput guidelines yang
terdapat dalam skema Bye Laws. Bank anggota
BI-RTGS sepakat untuk menyelesaikan 30% dari total
transaksi hariannya sebelum pukul 10.30 WIB.
Kemudian 30% berikutnya antara pukul
10.30-14.30 WIB, dan sisanya 40% transaksi antara pukul
14.30 sampai 16.30 WIB. Act ual t roughput dapat
dilihat pada grafik dibawah.
Pada grafik tersebut terlihat bahwa pengiriman
transaksi telah terdistribusi dengan baik.
Perbandingan distribusi sesuai t hroughput
guidelines Bye Laws BI-RTGS terpenuhi dengan
baik dan bahkan terlampaui, karena transaksi
yang diselesaikan di penggalan waktu terakhir
hanya mencapai 30% dari transaksi harian. Kinerja
throughput menggambarkan bahwa manajemen
likuiditas bank peserta BI-RTGS berjalan dengan
baik. Hal ini mengindikasikan pula selama tahun
2006, sistem BI-RTGS tidak pernah mengalami
kemacetan penyelesaian transaksi (gridlock).
Meskipun selama operasional periode ini tidak
terdapat kasus kemacetan penyelesaian transaksi,
namun dalam sistem BI-RTGS tekanan likuiditas
dapat terjadi setiap saat. Guna mendukung
mekanisme ini, penyelenggara sampai saat ini
tetap menyediakan fasilitas Likuiditas Intrahari
(FLI) bagi peserta. Penggunaan FLI dalam periode
ini adalah sebesar Rp31,4 triliun. Jika
dibandingkan dengan total transaksi yang
di-set t le nilai tersebut adalah sebesar 0,11%. Hal ini
juga mendukung data sebelumnya yang
menggambarkan bahwa masih baiknya
pengelolaan likuiditas peserta BI-RTGS.
Perkembangan Transaksi BI-RTGS
Aktivitas transaksi pembayaran melalui sistem
RTGS pada tahun 2006 mengalami peningkatan.
Nilai yang di-set t le pada sistem ini mencapai
Rp29.102 triliun atau meningkat 44% dari tahun
sebelumnya. Adapun dari sisi volume tercatat
sebanyak 6,9 juta transaksi naik 16,6%. Rata-rata
nilai transaksi per harinya mencapai Rp118,3
triliun sedangkan dari sisi volume tercatat 28, 1
ribu transaksi.
Penyebab utama naiknya nilai transaksi yang
cukup signifikan adalah karena peningkatan pada
transaksi pengelolaan moneter. Proporsi transaksi
moneter yang selama ini mendominasi transaksi
pada sistem RTGS sampai 35%-nya, tahun ini
tercatat sebesar Rp10,2 ribu triliun yang naik
61,5% dari tahun sebelumnya. Apabila dilihat
lebih jauh lagi, jenis transaksi pengelolaan
moneter yang mengalami peningkatan tertinggi
adalah transaksi intervensi dan pembelian
SBI/SWBI.
Jenis transaksi lain yang turut menyumbang
peningkatan ini yakni transaksi Pasar Uang Antar
Bank (PUAB). Tahun lalu transaksi ini hanya
tercatat sebesar Rp3 ribu triliun, pada tahun
laporan mencapai Rp4,2 ribu triliun atau naik
39,8%. Transaksi PUAB ini merupakan jenis
transaksi dengan nilai nominal terbanyak ketiga
setelah transaksi moneter dan transaksi terkait
nasabah yang memiliki pangsa 14,4%.
Sementara itu untuk transaksi nasabah yang
memiliki pangsa nilai 18,1% dari seluruh total
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%
Actual Troughput Troughput Guidelines
<10:30 10:30 - 14:00 >10:30
nilai transaksi mengalami peningkatan yang tidak
sebesar kedua jenis transaksi sebelumnya.
Dibanding tahun 2005 terjadi peningkatan
sebesar 8,7% , yaitu dari Rp4,8 ribu triliun menjadi
Rp5,2 ribu triliun. Peningkatan ini nampaknya
sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan mulai
membaiknya beberapa indikator makro ekonomi
selama tahun laporan seperti inflasi dan nilai
tukar.
Di sisi volume, peningkatan transaksi paling
signifikan terjadi pada transaksi terkait nasabah.
Dengan pangsa yang mencapai 78,3% dari seluruh
total volume, transaksi ini meningkat 18,8%
dibanding tahun sebelumnya. Tahun lalu tercatat
sebanyak 4,5 juta transaksi meningkat sampai 5,4
juta transaksi pada tahun laporan. Jenis transaksi
lain juga mengalami peningkatan namun karena
proporsi terhadap total volume transaksi relatif
kecil atau hanya sekitar 20%, kenaikannya tidak
terlalu signifikan berdampak pada total transaksi
secara keseluruhan.
Pola Transaksi Dalam BI-RTGS
Pola pembayaran ataupun transfer dana di dalam
sistem BI-RTGS dapat menggambarkan fenomena
yang tengah terjadi pada waktu tertentu.
Misalnya, pada hari Kamis hampir selalu terjadi
peningkatan nilai transaksi diatas rata-rata harian.
Nilai transaksi yang di-set t le pada hari ini
mencapai Rp192,35 triliun dengan volume 29,5
ribu transaksi perharinya. Apabila dibandingkan
dengan rata-rata harian selama tahun laporan,
dari sisi nilai lebih tinggi 63,9% dan volume
5,8%-nya. Hal ini karena pada hari Kamis merupakan
jadwal penyelesaian transaksi untuk pembelian
instrumen moneter SBI maupun SWBI.
Contoh pola yang lain adalah kecenderungan
tingginya volume transaksi pada hari Hari Hari
Senin. Setiap hari ini rata-rata volume perharinya
mencapai 29,4 ribu transaksi atau lebih tinggi
5,3% dari rata-rata harian selama setahun.
Transaksi paling banyak yang terjadi pada setiap
hari Hari Senin adalah transaksi untuk nasabah.
Hal ini menunjukkan bahwa pola masyarakat
dalam melakukan transaksinya paling sering
dilakukan setiap hari Hari Hari Senin. Prosentase
volume yang lebih tinggi dari rata-rata harian
selama setahun terjadi pula pada hari Selasa dan
Jum’at, yakni masing-masing 3,7% dan 1,6%. Ini
terjadi akibat pelimpahan transaksi pembayaran
pajak dari bank yang umumnya dilakukan pada
setiap hari Selasa dan Jum’at.
Pola transaksi yang muncul secara tahunan adalah
tingginya transaksi menjelang hari raya
keagamaan. Pada saat mendekati hari raya Idul
Fitri rata-rata transaksi mencapai 32,5 ribu per
hari lebih tinggi 16,3% dari rata-rata harian
selama setahun. Demikian pula dari sisi nilai yang
di-set t le, yakni tercatat sebesar Rp138,96 triliun
per harinya atau lebih tinggi 18,4% dibanding
nilai rata-rata harian selama setahun.
Pola yang mirip terjadi pula pada akhir tahun,
terutama pada saat mendekati libur natal dan
tahun baru. Rata-rata volume dan nilai transaksi
pada hari- hari tersebut mencapai 34,3 ribu
transaksi dan Rp179,65 triliun yang meningkat
masing-masing 22,9% untuk volume perhari serta
53,1% untuk nilainya dibanding rata-rata
pertahunnya. Hal ini semata disebabkan karena
masyarakat (dan perbankan) merasa perlu untuk
melakukan antisipasi terhadap tidak
beroperasinya perbankan sepanjang libur hari
raya (dan cuti bersama); termasuk antisipasi
peningkatan transaksi (dan harga) komoditas
kebutuhan pokok yang selalu menyertai perayaan
hari raya keagamaan.
Transaksi Perbankan
Perbankan merupakan kelompok terbesar
pengguna sistem BI-RTGS, terutama untuk
melakukan transfer dana untuk nasabah serta
transaksi pasar uang antar bank. Diantara
kelompok-kelompok bank, maka Bank Umum
Swasta Nasional (BUSN) merupakan kelompok
yang mendominasi aktivitas transaksi dalam
BI-RTGS. Hal ini semata disebabkan oleh jumlah
peserta yang termasuk dalam kelompok BUSN
adalah yang terbanyak dalam kepesertaan
BI-RTGS.
Transaksi Pemerint ah
Transaksi yang dilakukan oleh pemerintah melalui
sistem BI-RTGS memiliki pangsa 3,4% dari total
nilai transaksi dan 2,5% dari total volume
transaksi. Memang apabila dilihat dari pangsanya
cukup kecil, namun transaksi ini diberikan
prioritas utama untuk di-set t le terlebih dahulu
mengingat tingkat urgensinya tinggi. Contoh dari
transaksi pemerintah yaitu pelimpahan
pembayaran pajak ke rekening Kantor Pelayanan
Perbendaharaan Negara (KPPN)2, transaksi ke
Bendahara Umum Negara (BUN) serta transaksi
lain yang terkait dengan rekening pemerintah.
Pada tahun laporan nilai transaksi tercatat sebesar
Rp992 triliun atau naik 29,7% dibanding tahun
sebelumya (Rp765 triliun). Sedangkan volume
transaksi mencapai 176 ribu transaksi atau naik
17,07% dibanding tahun lalu (151 ribu transaksi).
Skim transaksi baru dalam sistem BI-RTGS adalah
transaksi yang berkaitan dengan TSA Pemerintah
(lihat boks Implementasi Treasury Single Account
Pemerintah). Untuk melakukan transfer yang
berkaitan dengan TSA Pemerintah, selama ujicoba
peserta dikenakan biaya Rp 0 setiap melakukan
transaksi melalui sistem ini. Pembebasan biaya ini
terkait dari upaya penyelenggara untuk
mendukung kegiatan Pemerintah khususnya
Departemen Keuangan dalam melakukan
pengelolaan keuangan negara sesuai amanat UU
No.1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan.
Pembebasan biaya tersebut berlaku sejak 11
Oktober 2006 dan baru meliputi transaksi yang
berkaitan dengan kegiatan transaksi dalam
rangka pengeluaran negara. Pembebasan biaya
TSA hanya dapat digunakan oleh peserta tertentu
yang telah mendapat persetujuan dari
Departemen Keuangan dan Bank Indonesia.
Adapun penggunaan fasilitas tersebut oleh
peserta di luar mekanisme TSA ujicoba akan
dikenakan biaya transaksi oleh penyelenggara
sebesar Rp 100.000.
-Grafik harian transaksi BI-RTGS setelah Hari Raya
26.5%
Boks
IMPLEMENTASI TREASURY SINGLE ACCOUNT PEMERINTAH
Treasury Single Account (TSA) merupakan konsekuensi diterapkannya U.U. No. 1 tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara. Dalam UU tersebut diamanatkan bahwa semua uang negara setiap akhir hari harus
disimpan pada rekening Kas Umum Negara di Bank Indonesia. Sesuai ketentuan peralihan sebagaimana diatur
pada Pasal 70 ayat (3), Pelaksanaan TSA secara menyeluruh selambat-lambatnya tahun 2006.
Sejak 1 Juli 2005 telah dilaksanakan uji coba TSA untuk rekening Pengeluaran di KPPN Jakarta II,
KPPN Batam dan KPPN Bekasi dengan menggunakan mekanisme rekening pengeluaran bersaldo nihil di bank
umum yang sumber dananya berasal dari rekening KPPN yang ditatausahakan di BI (desentralisasi). Sejak 17
April 2006, mekanisme uji coba berubah menjadi mekanisme rekening pengeluaran bersaldo nihil kuasa
bendahara umum negara pusat di bank umum (sentralisasi), yaitu sumber dananya berasal dari rekening
Bendahara Umum Negara (BUN).
Pada tanggal 1 September 2006, dilaksanakan perluasan uji coba TSA dengan menggunakan
mekanisme sentralisasi pada 50 KPPN yang berada di 28 KBI. Uji coba ini melibatkan 3 bank mitra kerja 50
KPPN, yaitu BRI, BNI, dan Bank Mandiri serta lembaga non bank, yaitu Sentral Giro Pos. Dalam rangka
mendukung program Departemen Keuangan tersebut, selama uiji coba TSA kebijakan Bank Indonesia adalah
melakukan pembebasan biaya transaksi uji coba TSA yang dilaksanakan melalui Sistem BI-RTGS dan SKNBI.
Selanjutnya Departemen Keuangan merencanakan pelaksanakan TSA pada seluruh KPPN dengan
menggunakan mekanisme Rekening Pengeluaran KPPN Bersaldo Nihil pada akhir tahun 2007.
Rent ang Nilai Transaksi dalam Sist em BI-RTGS
Sejalan dengan ketentuan capping clearing, profil
transaksidengan skala nilai atau margin transaksi
>Rp100 juta mendominasi transaksi yang melalui
sistem BI-RTGS dengan pangsa 99,7%. Dari jumlah
tersebut 94,7% merupakan transaksi >Rp1 Milyar.
Apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya
transaksi yang >Rp100 juta menurun sebesar
13,6% Sedangkan transaksi dengan nilai <Rp100
juta hanya memiliki porsi kurang dari 10% atau
menurun 16,6% dibanding tahun sebelumnya.
Berdasarkan volume transaksi, transaksi bernilai
besar atau >Rp100 juta mencapai 72,8%. Dari
jumlah tersebut jumlah transaksi yang >Rp1 milyar
sekitar 20%-nya. Jika dibandingkan dengan tahun
sebelumnya, untuk transaksi >Rp100 juta naik
13,5%. Sedangkan untuk transaksi yang kurang
dari Rp100 juta memiliki pangsa 27% atau
meningkat 32,5% dibanding tahun sebelumnya
2.2 Penyelenggaraan Sist em Pem bayaran Rit el
Penyelenggaraan Kliring
Kinerja Sist em Kliring
Dalam kedudukannya sebagai penyelenggara
kliring, Bank Indonesia telah berupaya untuk
menjaga kelancaran operasional sistem kliring
secara keseluruhan. Upaya tersebut dilakukan
dengan penyeragaman sistem kliring di seluruh
wilayah Indonesia melalui implementasi SKNBI
dan penetapan FtS serta Pref und (pendanaan
awal). Selain itu penyempurnaan dan
enhancement sistem kliring juga terus dilakukan
untuk meningkatkan kinerja sistem dan
menambahkan fitur yang lebih baik.
Hal tersebut sangat penting dilakukan mengingat
sistem kliring Bank Indonesia merupakan sistem
pembayaran terbesar kedua di Indonesia setelah
sistem BI-RTGS, dengan rata-rata harian volume
transaksi mencapai 300 ribu dan nominal transaksi
mencapai 4.93triliun rupiah.
Selama tahun 2006, Bank Indonesia juga
dan Pasuruan. Penambahan wilayah kliring baru
tersebut dilakukan dengan pertimbangan adanya
gangguan f orce majeur, yaitu peristiwa luapan
lumpur panas di Porong Sidoarjo yang telah
menghambat aktifitas kliring perbankan yang
berlokasi di Mojokerto dan Pasuruan karena
terputusnya jalur transportasi antara kedua
wilayah tersebut dengan Kota Surabaya. Dengan
bertambahnya wilayah kliring ini, jumlah wilayah
kliring Bank Indonesia pada tahun 2006 menjadi
107 wilayah dengan komposisi 37 wilayah
dioperasikan oleh kantor-kantor Bank Indonesia
dan 70 wilayah dioperasikan oleh non Bank
Indonesia.
Meskipun sepanjang tahun 2006 dilakukan
implementasi SKNBI secara bertahap di seluruh
Indonesia baik untuk wilayah kliring dengan
penyelenggara BI maupun wilayah kliring dengan
penyelenggara non BI, namun demikian
penyelenggaraan kliring secara umum di seluruh
Indonesia dapat terlaksana dengan baik.
M anajemen Likuidit as dalam Sist em Kliring
Penyediaan pref und (setoran awal) dalam rangka
Failure to Settle merupakan salah satu upaya yang
ditempuh oleh Bank Indonesia untuk menurunkan
resiko yang terkandung dalam proses kliring.
Sistem ini mengharuskan peserta kliring untuk
menyetorkan dana terlebih dahulu di awal hari
sehingga saldo rekening mencukupi untuk
menyelesaikan transaksi kliring yang dilakukan.
Sepanjang tahun 2006, secara umum kondisi
likuiditas perbankan untuk menyelesaikan
kewajiban set t lement hasil kliring sangat baik. Hal
ini tercermin dari lebih besarnya pref und harian
yang disediakan oleh bank peserta kliring
dibandingkan dengan nilai set t lement kliring
harian.
Dalam kedudukannya sebagai penyelenggara
kliring, Bank Indonesia telah berupaya untuk
menjaga kelancaran operasional sistem kliring
secara keseluruhan. Upaya tersebut dilakukan
dengan penyeragaman sistem kliring di seluruh
wilayah Indonesia melalui implementasi SKNBI
dan penetapan FtS serta Pref und (pendanaan
awal). Selain itu penyempurnaan dan
enhancement sistem kliring juga terus dilakukan
untuk meningkatkan kinerja sistem dan
menambahkan fitur yang lebih baik.
Hal tersebut sangat penting dilakukan mengingat
sistem kliring Bank Indonesia merupakan sistem
pembayaran terbesar kedua di Indonesia setelah
sistem BI-RTGS, dengan rata-rata harian volume
transaksi mencapai 300 ribu dan nominal transaksi
mencapai 4.93triliun rupiah.
Perkembangan Transaksi Kliring
Perkembangan Perputaran Kliring
-Trend Bulanan Volume Transaksi Kliring Trend Bulanan Nominal Transaksi Kliring
Value (Rp Juta) Volume
Grafik perkembangan kliring penyerahan secara nasional
Selama tahun 2006, perputaran transaksi kliring
secara nasional mengalami penurunan dibanding
periode sebelumnya. Total volume perputaran
kliring secara nasional mencapai 74,2 juta
transaksi dan nominal mencapai Rp 1,206 triliun
transaksi. Hal ini menunjukkan penurunan
perputaran transaksi kliring sebesar 4,9% di sisi
volume dan 10,5% di sisi nominal dari periode
sebelumnya.
Dengan rata-rata harian transaksi kliring sebesar
Rp 4,9 triliun transaksi dan volume sebesar 300
ribu transaksi maka perputaran transaksi per hari
mengalami penurunan sebesar 6% (dari 319 ribu
Perkembangan nominal kliring 2005-2006 Nom inal (Rp Juta)
20,000,000
Perkembangan RRH nom inal kliring
Grafik perkembangan nominal transaksi kliring Grafik perkembangan RRH nominal transaksi kliring
Perkem bangan perput aran volum e kliring
-Perkem bangan perput aran RRH volum e kliring
-Grafik perkembangan volume transaksi kliring Grafik perkembangan RRH volume transaksi kliring
Ditinjau dari wilayah kliringnya, wilayah kliring
Jakarta masih memiliki pangsa 51% dan 46%
untuk volume dan nominal transaksi kliring
penyerahan secara nasional. Dominasi wilayah
kliring Jakarta ini karena aktivitas ekonomi
banyak yang dilaksanakan di Jakarta selain
sebagian besar bank berkantor pusat di Jakarta.
Dengan adanya SKN seluruh pelaksanaan klring
khususnya transfer kredit bagi bank yang sistem
internalnya sudah online dapat dilakukan secara
terpusat, dalam hal ini di Jakarta.
Wilayah lain yang memiliki pangsa penyerahan
kliring signifikan adalah Surabaya, Bandung,
Medan dan Semarang.
Sejalan dengan itu, maka selama tahun 2006, total
transfer dana melalui kliring yang tercatat di
sistem SKNBI sebesar Rp 261,5 triliun dengan
volume sebanyak 28,9 juta. Dari nilai transaksi
tersebut, 85% berasal dari wilayah Jakarta.
Kondisi ini terjadi karena desain SKN khususnya
untuk transfer dana memungkinkan bank untuk
melakukan sentralisasi di kantor pusatnya, yang
sebagian besar di Jakarta.
0
Jika ditelusuri lebih jauh, transfer dana yang
melalui kliring untuk transfer dana di bawah Rp
10 juta adalah sebesar 26,5 juta lembar, antara Rp
10 – Rp 50 juta adalah sebesar 5,8 juta lembar.
Sedangkan transfer dana antara Rp 50 – Rp 100
juta adalah sebesar 1,4 lembar.
Pr osent a se
Tabel range transfer dana
Tabel di atas menunjukkan kenaikan terbesar
terjadi pada transfer dana dengan nominal antara
Rp 10 juta sampai Rp 50 juta yaitu sebesar 40,98%.
Sedangkan kenaikan terkecil terjadi pada transfer
dana melalui kliring dengan nominal Rp 50 juta
sampai Rp 100 juta sebesar 14,75%. Hal ini
mengindikasikan bahwa sebagian besar
masyarakat masih memprioritaskan melakukan
transfer dana melalui kliring untuk nominal di
bawah Rp 50 juta. Sementara untuk nominal
diatas Rp.50 juta nasabah mulai melirik RTGS
sebagai alternatif selain melalui kliring. Hal ini
dikarenakan sistem BI-RTGS memiliki keunggulan
berupa waktu pemrosesan transfer yang lebih
cepat. Hal ini terlihat dari grafik komposisi volume
transaksi nasabah melalui sistem kliring dan sistem
BI-RTGS untuk transaksi transfer Rp. 50 juta keatas
sampai dengan Rp 100 juta seperti terlihat pada
grafik di bawah ini.
Sementara itu dengan dibaginya transaksi transfer
kredit menjadi 2(dua) siklus (sejak
diimplementasikannya SKNBI), maka selama tahun
2006 rata-rata harian volume transfer kredit yang
dikliringkan pada siklus pertama mencapai 55,1
ribu transaksi dengan nominal sebesar 476,3
milyar transaksi. Sedangkan volume transfer
kredit yang dikliringkan pada siklus kedua
mencapai 62,303 transaksi dengan nominal
sebesar 582,6 milyar transaksi. Dari data di atas,
maka dapat dilihat bahwa 55% dari total transfer
kredit dikliringkan pada siklus 2, hal ini
dikarenakan adanya transfer kredit yang ditolak
pada siklus 1 diproses kembali pada siklus kedua.
10,000 SIKLUS 1 SIKLUS 2 Volume
Grafik perputaran kliring transfer kredit per siklus
Selain transfer dana, selama implementasi SKNBI
pada tahun 2006, kliring warkat debet juga
dikliringkan dengan total nilai transaksi sebesar
Rp 682,4 triliun transaksi dengan jumlah volume
sebanyak 30,2 juta transaksi. Bilyet Giro
dikliringkan dengan total nominal sebesar Rp
Prosent ase Volum e
70.65%
Grafik prosentase penyerahan kliring per 5 wilayah terbesar berdasarkan volume
Prosent ase Nom inal
64.88%
Grafik prosentase penyerahan kliring per 5 wilayah terbesar berdasarkan nominal
Jan-05 Mar-05 May-05 Jul-05Sep-05 Nov-05 Jan-06 Mar-06 May-06 Jul-06Sep-06 Nov-06 Kliring RTGS
Grafik komposisi volume transaksi nasabah melalui sistem kliring dan sistem BI-RTGS untuk transaksi
607,5 triliun dan volume mencapai 27,3 juta
transaksi, kemudian Cek dengan nominal Rp 74,4
triliun dan volume 2,4 juta transaksi. Sisanya
adalah warkat debet lainnya seperti nota debet,
wesel dan lain-lain yang nilai transaksinya
mencapai Rp 385,9 milyar dengan volume
sebanyak 473,3 ribu transaksi.
Sedangkan pengembalian warkat debet pada
tahun 2006 mencapai volume 371,9 ribu atau
1,23% dari total penyerahan. Dari total volume
pengembalian warkat debet tersebut,
pengembalian dengan alasan cek dan BG kosong
mencapai 73,3 %, selebihnya 26,7% adalah
pengembalian dengan alasan lain. Sedangkan jika
ditinjau dari sisi nominal mencapai Rp 9,7 triliun
atau 1,41% dari total penyerahan. Dari total
nominal pengembalian warkat debet 49,7% nya
merupakan pengembalian dengan alasan cek dan
BG kosong, selebihnya 50,3% adalah
pengembalian dengan alasan lain.
Prose nt a se Volum e
17. 08%
56. 23%
26. 70% Cek Kosong
BG Kosong
Alasan Lain
Grafik prosentase pengembalian warkat debet berdasarkan volume
Grafik prosentase pengembalian warkat debet berdasarkan nominal
Grafik nominal tolakan kliring karena Cek/BG kosong Grafik RRH nominal tolakan kliring karena Cek/BG kosong
Penyelenggaraan Alat Pembayaran dengan M enggunakan Kart u
Kinerja Alat Pembayaran dengan M enggunakan
Kart u
Selama tahun 2006 Industri APMK diwarnai oleh
upaya para penerbit APMK untuk menawarkan
berbagai jenis kartu dengan fitur dan fasilitas
yang semakin beragam, terutama kartu kredit. Hal
ini secara signifikan berkontribusi dalam
pertumbuhan ningkatan volume dan nominal
transaksi. Rasio total jumlah kartu yang beredar
dengan jumlah angkatan kerja saat ini sekitar 365
kartu untuk 1000 penduduk dengan asumsi satu
penduduk hanya memegang satu kartu. Pada
prakteknya satu orang dapat memegang
beberapa jenis kartu sekaligus. Hal ini
menunjukan bahwa potensi pasar di Indonesia
masih cukup besar dan para penerbit kartu masih
memiliki kesempatan untuk meningkatkan
penetrasi pasarnya. Selain itu Indonesia dinilai
sebagai negara yang relatif masih baru dalam
industri ini, seluruh jenis instrumen di Indonesia
dari mulai kartu kredit, debit, ATM sampai ke
terminal point of sales (POS) masuk dalam
kategori embrio. Dengan kata lain potensi
pertumbuhannya masih dapat ditingkatkan untuk
mendorong para pemain baru untuk memasuki
industri ini.
Pembayaran menggunakan kartu seperti kartu
kredit, kartu debet dan kartu ATM telah cukup
berkembang luas di masyarakat, tercermin dari
peningkatan jumlah pemegang, volume dan nilai
transaksi. Jumlah kartu beredar saat ini mencapai
37 juta, jumlah kartu yang merupakan account
based seperti kartu ATM dan kartu Debit
mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan.
Apabila dibandingkan dengan tahun 2003
pertumbuhannya mencapai 54%, dan untuk
pemegang kartu kredit tumbuh sebesar 82%.
Sementara itu secara total volume dan nilai
transaksi pembayaran dengan menggunakan
kartu tumbuh sebesar 5 % dan 25 % dalam tahun
2006.
Kegiatan pembelanjaan yang dilakukan oleh
masyarakat baik menggunakan kartu kredit
maupun kartu debet tumbuh sebesar 21%.
Pertumbuhan aktifitas pembelanjaan dengan
menggunakan kartu debet secara signifikan
menunjukkan bahwa jumlah masyarakat yang
memilih untuk berbelanja dengan dukungan
kekuatan finansialnya sendiri juga meningkat, hal
ini menunjukkan bahwa jumlah masyarakat yang
berperilaku positif dalam berbelanja cukup besar.
Di satu sisi aktifitas pembelanjaan dengan kartu
kredit juga mengalami peningkatan yaitu sebesar
20%, namun demikian apabila dibandingkan
dengan tahun lalu, nilai pembelanjaan yang
menjadi kredit mengalami penurunan dari semula
36% menjadi 33%. Hal ini menunjukkan bahwa
perilaku masyarakat cenderung lebih
bertanggungjawab dalam menggunakan kartu
kredit.
Dukungan jaringan dan infrastruktur kartu dalam
tahun 2006 juga mengalami perbaikan. Jumlah
mesin ATM, EDC, dan merchant secara berurutan
mencapai 17 ribu, 167 ribu dan 165 ribu. Hal ini
memperluas ketersediaan sarana untuk
mendukung bertransaksi dengan kartu ATM dan
kartu debet.
Dengan tujuan yang sama, pada tahun ini juga
mulai dijajaki kemungkinan untuk melakukan
kerjasama interoperabilitas antar sesama
penyelenggara jaringan ATM. Nantinya kerjasama
ini akan memberikan manfaat tambahan bagi
para pengguna kartu ATM, berupa semakin
luasnya cakupan pelayanan dan kecepatan
pemrosesan transaksi degan kartu ATM, sehingga
seorang nasabah bank nantinya dapat
bertransaksi dengan nasabah bank lain, baik yang
banknya tergabung dalam satu jaringan merk
ATM maupun dalam jaringan merk ATM yang
berbeda. Di sisi lain interoperabilitas juga
memberikan efisiensi dalam pengelolaan mesin
ATM oleh bank, yaitu menurunkan jumlah mesin
ATM yang harus disediakan.
Jenis APMK yang ada saat ini adalah Kartu Kredit,
Kartu ATM dan Kartu ATM yang sekaligus
berfungsi sebagai Kartu Debit (ATM+Debit).
Selama tahun 2006, jumlah APMK yang beredar
sebanyak 37 juta kartu dengan nilai transaksi
sebesar Rp. 1,24 ribu triliun dan volume transaksi
sebanyak 1,06 milyar transaksi. Pertumbuhan
industri APMK terutama didorong oleh
pertumbuhan kartu ATM dan kartu ATM+Debit
yang masih mendominasi dengan pangsa 77,4%.
Nilai transaksi dengan jenis kartu ini mencapai Rp.
1.18 ribu triliun (pangsa 95,4%) dan volume 942
juta (pangsa 89,2%) transaksi, baik transaksi
pengambilan tunai, pembelanjaan maupun
transfer antar rekening dan antar bank.
Transaksi Kart u Kredit
Secara umum, selama tahun 2006 industri kartu
kredit mengalami pertumbuhan yang cukup pesat
dibanding tahun sebelumnya. Hal ini
tergambarkan dari jumlah kartu beredar yang
meningkat sebesar 5% yaitu dari 7,6 juta menjadi
8 juta kartu. Untuk aktifitas transaksi, nominal
penggunaan kartu kredit mengalami
pertumbuhan sebesar 15% dari Rp49.6 ribu
milyar menjadi Rp57.3 ribu milyar, sedangkan dari
sisi volume tumbuh sebesar 12% dari sebesar 102
juta menjadi 114 juta transaksi di tahun 2006.
Pesatnya pertumbuhan ini tak lepas dari adanya
peningkatan kebutuhan konsumsi masyarakat dan
merebaknya pemberian fasilitas tambahan untuk
penggunaan kartu kredit dari penerbit, antara
lain pemberian diskon di merchant dan rew ard.
Graf ik Jum lah Kart u Kredit
6,000
Jan Feb MarApr Mei Jun Jul Aug SepOkt Nov Des
(
Tahun 2005 Tahun 2006
Graf ik Volume Transaksi Kart u Kredit
7,000
Jan Feb MarApr Mei Jun Jul Aug Sep Okt NovDes
( D
Tahun 2005 Tahun 2006
Graf ik Nom in al Tran saksi Kart u Kredit
2,500
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des
(
Tahun 2005 Tahun 2006
Jumlah penerbit kartu kredit pada tahun 2006
sebanyak 22 lembaga baik dari lembaga
perbankan maupun lembaga keuangan lainnya,
semua penerbit kartu kredit tergabung dalam 5
jaringan prinsipal asing yaitu Visa, Mastercard,
JCB, Amex, Diners dan 1 jaringan prinsipal lokal
yaitu BCA Card.
Prinsipal Jumlah
Grafik Jum lah APM K Beredar
25,000
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des ( Dalam Ribu )
Tahun 2005 Tahun 2006
Graf ik Volu me Tran saksi APM K
55,000
Jan FebMar AprMei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des ( Dalam Ribu )
Tahun 2005 Tahun 2006
Graf ik Nom inal Transaksi APM K
20,000
Jan Feb Mar AprMei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des ( Dalam Milyar )
Penerbit
VISA 17
MASTERCARD INTERNATIONAL 8
JCB INTERNASIONAL 2
DINERS 1
AMEX dan BCA 5
Tabel Penerbit Kartu Kredit
Kegiatan transaksi kartu kredit pada tahun 2006
masih didominasi oleh pemegang kartu yang
berasal dari 4 penerbit bank asing yang mencapai
2,6 juta kartu (32%) dengan nilai transaksi
sebesar Rp. 27.8 triliun dan volume transaksi
sebanyak 57,7 juta transaksi. Sedangkan kartu
kredit yang diterbitkan oleh BUSN mencapai 2,2
juta kartu (27%) dari total kartu kredit dengan
nilai transaksi sebesar Rp. 15.6 triliun dan volume
transaksi sebanyak 28,7 juta transaksi. Dominasi
ini cukup wajar mengingat sejumlah bank asing
merupakan penerbit lama di industri kartu kredit.
Selama beberapa tahun ke belakang, Bank Umum
Swasta Nasional (BUSN) sempat mendominasi
dalam hal jumlah kartu, tetapi pada tahun 2006,
dominasi tersebut beralih kembali ke kartu kredit
terbitan bank asing. Pada tahun 2005, jumlah
kartu kredit BUSN yang beredar mencapai 42%
tetapi pada tahun 2006 prosentase kartu kredit
BUSN turun menjadi hanya 31%.
Peralihan dominasi penerbitan ini ditengarai
sebagai akibat dari gencarnya kegiatan promosi
dari para penerbit kartu kredit asing selama tahun
2006. Berbagai contoh bentuk promosi yang
ditawarkan adalah fasilitas potongan harga untuk
transaksi belanja di merchant tertentu, pemberian
rew ard berupa barang, pembebasan iuran
tahunan bahkan tingkat suku bunga yang
kompetitif. Selain itu, untuk menjaring konsumen
penerbit kartu kredit lebih interaktif dalam
memasarkan produknya dan mempermudah
proses aplikasi atau permohonan kartu kredit.
Namun demikian pengenaan biaya keanggotaan
tahunan oleh para penerbit kartu kredit tidak
bergeser dari tahun sebelumnya yaitu berkisar
antara Rp75 ribu sampai dengan Rp5 juta
tergantung dari jenis kartu atau pagu kredit yang
diberikan.
Sebaran Jum lah Kart u Kredit Tahun 2005
2 9 %
4 2 % 2 5 %
4 %
B a nk A s ing B US N
P e m e rint a h C a m pura n
Grafik prosentase jumlah kartu kredit tahun 2005
Sebaran Jum lah Kart u Kredit Tahun 2006
3 7 % 2 7 %
31% 5%
B a nk A s ing B US N
P e m e rint a h C a m pura n
Grafik prosentase jumlah kartu kredit tahun 2006
Sebaran Volum e Transaksi Tahun 2005
4 8 %
3 1% 18 %
3 %
B a nk A s ing B USN P e m e rint a h C a m pura n
Grafik prosentase volume transaksi kartu kredit tahun 2005
Seba ran Volum e Transaksi Tahun 20 06
5 3 %
2 6 %
17% 4 %
B a nk A s ing B US N
P e m e rint a h C a m pura n
Selama tahun 2006, Bank Asing merupakan
penerbit dengan transaksi teraktif, dengan kata
lain sebagian besar transaksi kartu kredit yang
dilakukan oleh masyarakat masih dilakukan
dengan menggunakan kartu kredit yang
diterbitkan oleh bank asing.
Volume transaksi yang dilakukan dengan kartu
kredit terbitan Bank Asing mengalami
peningkatan dari sebesar 48 % pada tahun 2005
menjadi 53 % pada tahun 2006. Hal ini diyakini
karena para pemegang teraktif adalah pemegang
kartu kredit bank asing yang notabene cukup
lama menggunakan kartu kredit sebagai alat
pembayaran dan memiliki tingkat conf idence dan
memercayai kartu kredit sebagai alat pembayaran
yang aman.
Aktifitas transaksi yang dilakukan oleh
masyarakat dengan kartu kredit saat ini terdiri
dari dua macam yaitu untuk pembelanjaan dan
penarikan tunai. Aktifitas pembelanjaan
merupakan aktifitas terbanyak yang dilakukan
mengingat fungsi utama kartu kredit adalah
sebagai instrumen pembayaran non tunai. Selama
tahun 2006 komposisi penarikan tunai mengalami
penurunan dari sebesar 9% pada tahun 2005
menjadi 6 % pada tahun 2006. Transaksi belanja
masih merupakan transaksi utama yang dilakukan
oleh nasabah dengan proporsi 94% yaitu Rp. 53,8
juta milyar dari seluruh transaksi, fakta ini sesuai
dengan peruntukan kartu kredit yang memang
ditujukan sebagai alat pembayaran pengganti.
Sementara untuk transaksi penarikan tunai,
jumlahnya jauh lebih kecil. Hal ini ditengarai
karena bunga yang dikenakan oleh penerbit
relatif lebih tinggi dibandingkan fasilitas kredit
lainnya, yaitu berkisar antara 48-60% pertahun.
Sebagai penerbit kartu kredit dengan transaksi
teraktif, kartu kredit terbitan Bank Asing juga
mendominasi sebaran nominal penggunaan kartu
kredit. Nominal transaksi kartu kredit asing juga
mengalami pertumbuhan dari sebesar 46% pada
tahun 2005 menjadi sebesar 51% pada tahun
2006. Sebaliknya perkembangan kartu kredit
BUSN mengalami penurunan dari sebesar 31%
pada tahun 2005 menjadi 26% pada tahun 2006.
Selama tahun 2006 dana outstanding yang
terbentuk dari transaksi kartu kredit yang
dilakukan mencapai 33%. Jumlah ini cukup tinggi
walaupun relatif menurun dibandingkan dengan
tahun sebelumnya. Daftar transaksi outstanding
per penerbit sebagai berikut.
Penerbit Kartu
Kredit
Jum lah
Transaksi
Dana
Outst anding Persent ase
Bank Asing 27,9 triliun 8.6 triliun 31 %
Tabel Jumlah Outstanding Kartu Kredit
Persentase transaksi kartu kredit yang menjadi
kredit (dana outstanding) yang tertinggi berasal
dari kartu kredit terbitan bank pemerintah disusul
kartu kredit bank campuran. Sedangkan bank
Asing yang mendominasi dari jumlah transaksi
dan nominal transaksi, dana yang menjadi kredit
30 %. Sedangkan untuk nominal transaksi
outstanding yang terbesar berasal dari kartu
kredit terbitan asing, hal ini cukup wajar
mengingat nominal transaksi yang dilakukan
dengan menggunakan kartu kredit asing
merupakan yang terbesar selama tahun 2006.
Sebaran N om inal Transaksi Tahun 2005
Grafik prosentase nominal transaksi kartu kredit tahun 2005
Sebaran N om inal Transaksi Out st anding t ahun 2006
4 8 %
Grafik prosentase nominal transaksi outstanding kartu kredit tahun 2006
Kart u ATM dan ATM + Debet
Aktivitas transaksi melalui kartu ATM dan ATM+
Debet di tahun 2006, relatif stabil dan cenderung
menurun bila dibandingkan dengan pada tahun
2005 khususnya dari jumlah kartu sebanyak 32,7
juta kartu pada tahun 2005 menjadi 29,6 juta
kartu pada tahun 2006. Sedangkan volume
transaksi mengalami peningkatan sebesar 4 %
sebanyak 906 juta transaksi pada tahun 2005
menjadi 943 juta transaksi pada tahun 2006.
Demikian pula untuk nominal transaksi terjadi
peningkatan sebesar 33 % dari Rp. 886 trilyun
pada tahun 2005 menjadi Rp. 1.183 trilyun pada
tahun 2006. Menurunnya jumlah kartu ATM yang
beredar mungkin disebabkan adanya kebijakan
bank untuk menerapkan biaya bulanan untuk
kartu ATM. Sedangkan peningkatan volume dan
nilai transaksi mencerminkan adanya peningkatan
aktivitas ekonomi masyarakat selama tahun 2006,
berbagai aktifitas yang dilakukan masyarakat
dengan menggunakan kartu ATM dan
ATM+Debet adalah penarikan tunai, belanja, serta
transfer dana interbank dan antarbank.
Grafik Jum lah Kart u Debet
22,000
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des
( D
Tahun 2005 Tahun 2006
Graf ik Volum e Transaksi Kart u Debet
40,000
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des
( Da
la
m
Ri
bu )
Tahun 2005 Tahun 2006
Grafik Nom inal Transaksi Kart u Debet
-Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul AugSep Okt Nov Des
( D
Tahun 2005 Tahun 2006
Pada tahun 2006, proporsi aktifitas transfer
interbank mendominasi dengan nilai transaksi
mencapai Rp. 692 trilyun ( 58 % ), diikuti
penarikan tunai sebesar Rp. 461 trilyun ( 39 % ),
aktifitas belanja sebesar Rp. 21.969 milyar ( 2 % )
dan sisanya transfer antarbank sebesar Rp. 6.588
milyar ( 1% ). Tingginya volume aktifitas
penarikan tunai dan transfer karena kebanyakan
bank memiliki fasilitas ATM untuk mengurangi
jumlah tarik tunai di kasir. Disamping itu jumlah
mesin ATM juga selalu mengalami peningkatan
dari tahun ke tahun, yang pada tahun 2006
mencapai 16.960 mesin. Di sisi lain, aktifitas
belanja menunjukkan adanya animo masyarakat
untuk menggunakan kartu sebagai alat
pembayaran non tunai. Potensi ini dapat terus
ditingkatkan untuk memperluas penggunaan
instrumen non tunai dengan memperhatikan
berbagai aspek yang dinilai penting oleh
masyarakat berupa keamanan, aksesibilitas, dan
kecepatan pelayanan.
Sebara n Transaksi Ka rt u De bet
39%
Sejalan dengan aktifitas belanja, aktifitas transfer
antarbank juga mulai dilakukan nasabah melalui
fasilitas ATM. Hal ini dapat dimungkinkan dengan
tersedianya interoperability jaringan ATM, dimana
seluruh bank yang menjadi anggotanya dapat
melakukan transfer antarbank pada jaringan ATM
tersebut. Alternatif ini menambah pilihan bagi
masyarakat untuk melakukan transfer dana antar
bank untuk nominal kecil.
Apabila dilihat dari jumlah jaringan
penyelenggara sw it ching ATM, pada tahun 2006
di Indonesia terdapat 5 jaringan lokal dan 2
jaringan internasional. Sementara untuk jaringan
penyelenggara kartu debit terdiri dari 2 jaringan
lokal dan 2 jaringan internasional. Jumlah bank
anggota jaringan tersebut terlihat sebagaimana
tabel berikut:
Internasional Cirrus 9
Plus 10
Jaringan Debit
Lokal Debit BCA 16
Kartuku 2
Internasional Visa Electron 10
Maestro 9
Tabel Jumlah Peserta Jaringan Swicthing ATM dan Debit
Kart u Prabayar dan Uang Elekt ronik (E-M oney)
Dalam tahun 2006, industri instrumen
pembayaran ini relatif tidak mengalami
perkembangan yang berarti. Hal ini terjadi karena
beberapa calon penerbit masih berupaya untuk
menyempurnakan fitur serta memproses perijinan
penerbitannya di Bank Indonesia. Diyakini pada
tahun mendatang industri ini akan mulai
diramaikan oleh beberapa penerbit awal, yang
menerbitkan kartu prabayar dan e-money dalam
beberapa variasi bentuk dan karakteristik
misalnya cardbased dan operat or served based.
Penerbitan kartu prabayar dan e-money lebih
diperuntukan bagi transaksi yang nilainya kecil
dan proses pembayaran transaksinya sangat cepat
pada bidang usaha yang sifatnya massive (seperti :
transportasi, perparkiran, transaksi pada restoran
cepat saji).
Penyelenggaraan M oney Remit t ance
Kegiatan Usaha Pengiriman Uang (KUPU) atau
biasa dikenal dengan money remit t ance
menunjukkan perkembangan yang cukup
signifikan. Data dari BPS pada tahun 2006
transaksi pengiriman uang tercatat mencapai
sekitar USD 5 milyar. Bandingkan dengan tahun
2001 yang hanya mencapai sekitar USD 1 milyar.
Pertumbuhan transaksi ini nampaknya akan terus
terjadi mengingat jumlah Tenaga Kerja Indonesia
yang dikirim ke luar negeri senantiasa mengalami
peningkatan. Pada tahun 2006 tercatat 474 ribu
TKI yang dikirim baik bekerja di sektor formal
maupun informal. Dari jumlah tersebut sekitar
60%nya bekerja di sektor informal.
Seiring dengan pertumbuhan jumlah TKI tersebut,
kebutuhan jasa pengiriman uang tentunya juga
mengalami peningkatan. Saat ini terdapat
beberapa saluran pengiriman uang dari luar
negeri ke Indonesia. Di sektor formal beberapa
jaringan perusahaan asing masih mendominasi
seperti moneygram dan westernunion yang
biasanya bekerja sama dengan bank maupun
kantor pos, jaringan perbankan sendiri dan yang
terakhir kegiatan usaha pengiriman uang
informal.
Dari berbagai saluran tadi nampaknya TKI
khususnya yang bekerja di sektor informal enggan
menggunakan jasa perbankan atau jasa
pengiriman uang formal lainnya. Hasil penelitian
Pusat Penelitian Analisis Transaksi Keuangan
(PPATK) mencatat sekitar 70% transfer dana dari
TKI melalui jalur non formal. Mereka lebih
memilih jalur pengiriman swasta, agen TKI dan
terkadang dibawa sendiri.
Sangatlah wajar apabila TKI memilih jalur
tersebut. Pertama, prosedur tidak terlalu berbelit
karena lebih mendasarkan pada aspek
relatif lebih cepat, karena biasanya menggunakan
sistem korespondensi. Ketiga, yang terpenting
adalah biaya pengiriman yang jauh lebih murah
dibandingkan melalui jalur-jalur formal tadi.
Namun demikian berbagai kemudahan dan
kelebihan tadi bukanlah tanpa risiko. Risiko yang
sering terjadi biasanya karena tidak adanya
kepastian dalam pengiriman uang. Kemudian
dengan tidak ada aturan dan lembaga yang
mengawasi maka jaminan penyelenggaraan yang
dilakukan secara hati-hati dan mengutamakan
aspek perlindungan konsumen tidak ada.
Disisi lain, kegiatan remitansi sering pula
dimanfaatkan untuk tindakan ilegal, seperti
pencucian uang dan pendanaan kegiatan
terorisme. Ini juga merupakan konsekuensi tidak
adanya otoritas yang mengatur kegiatan ini.
Makanya dalam praktek internasional, tengah
gencar dilakukan formalisasi terhadap
penyelenggaraan remitansi ini. Bank For
International Settlement (BIS) bahkan telah
mengeluarkan core prinsipless atau acuan pokok
penyelenggaraan remintansi. Disamping itu
dituangkan pula dalam rekomendasi yang
dikeluarkan oleh Financial Action Task Force on
Money Laundering (FATF).
2.3 Penyelenggaran Sist em Pem bayaran
Lainnya
Berbagai aktifitas pembayaran lainnya yang
diproses oleh sejumlah lembaga penyelenggara
sistem pembayaran, baik yang dilakukan oleh
bank maupun lembaga bukan bank. Lembaga
penyelenggara sistem pembayaran antara lain
memproses pengiriman dana, menyelenggarakan
kliring dan menyelenggarakan settlement.
Perkembangan aktifitas sistem pembayaran yang
diselenggarakan oleh lembaga tersebut selama
tahun 2006 dapat dirangkum dalam Tabel.1 Peta
Perkembangan Penyelenggaraan Sistem