• Tidak ada hasil yang ditemukan

Merindukan Masyarakat yang Damai

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Merindukan Masyarakat yang Damai"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh Drs. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag.1

املسلا

مكيلع

ةمحرو

هللا

هتاكربو

نإ

دمحلا

هلل

هدمحن

هنيعتسنو

هرفغتسنو

هربكنو

لوقنو

هللا

ربكأ

هللا

ربكأ

و

هلل

دمحلا

هللا

ربكأ

اريبك

دمحلاو

هلل

اريثك

ناحبسو

هللا

ةركب

ليصأو

.

دمحلا

هلل

يذلا

عرش

سانلل

اديع

اكرابم

اميعنو

اروكشم

امويو

ارورسم

ةلصلاو .

املسلاو

ىلع

نم

هلسرأ

هللا

ةمحر

نيملاعلل

اريشب

اريذنو

ىلعو

هلآ

هبحصو

نمو

مهعبت

ناسحءاب

ىلا

اموي

نيدلا

انمؤم

اصلخمو

دهشأ .

نأ

ل

هلا

لا

هللا

هدحو

ل

كيرش

هل

دهشأو

نأ

ادمحم

هدبع

هلوسرو

ل

يبن

هدعب

.

امأ

دعب

ايف

دابع

هللا

مكيصوأ

ياياو

يوقتب

هللا

دقف

زاف

نوقتملا

اههييأهايه

ن

ه يذذللا

اوننمهاءه

اوقنتلا

ههلللا

ق

ل حه

هذتذاقهتن

لهوه

ن

ل تنومنته

للإذ

م

م تننمأ

ه وه

ن

ه ومنلذس

م من

1 Staf Pengajar Magister Studi Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Direktur

(2)

Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudari kaum Muslimin dan Muslimat sidang ‘Idul

Fitri yang berbahagia.

Pertama-tama marilah kita senantiasa bersyukur ke hadhirat Allah SWT yang

telah memberikan kesempatan kepada kita untuk melaksanakan ibadah ‘Idul Fitri

1423 H pada pagi yang berbahagia ini. Semoga semua amal ibadah kita dapat

diterima oleh Allah Yang Maha Kuasa dan dibalasi-Nya dengan pahala yang berlipat

ganda.

Kemudian shalawat dan salam semoga dilimpahkan Allah kepada Nabi Besar

Muhammad SAW, yang telah berjuang menyampaikan risalah Islamiyah sebagai

petunjuk dan pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Begitu juga untuk keluarga

dan sahabat-sahabat beliau serta siapa saja yang mengikuti sunnahnya dengan penuh

keimanan dan keikhlasan sampai Hari Akhir nanti.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahilhamd

Pagi ini umat Islam, di mana-mana, di seantero bumi Allah ini sama-sama

bergembira menyambut kedatangan ‘Idul Fitri. Tua muda, besar kecil, laki-laki

perempuan, sama-sama mengumandangkan kalimat-kalimat suci dengan penuh

(3)

Allahu Akbar, Allah Maha Besar, besar dari segala-galanya. Semua kekuatan,

semua kekuasaan jadi kecil tak berarti dibandingkan dengan kekuasaan Allah

Yang Maha Agung. Islam telah mengajarkan takbir kepada kita. Saat adzan kita

mengucapkan takbir, membesarkan nama Alah. Saat iqamah kita mengucapkan

takbir. Saat hendak memulai shalat kita mengucapkan takbir. Saat bayi

dilahirkan kita mengucapkan takbir di telinganya. Saat menyembelih hewan

kita mengucapkan takbir. Saat terjun di medan laga kita mengucapkan takbir.

Pada hari ‘Id seperti saat ini kita mengucapkan takbir keras-keras,

membesarkan asma Allah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah , Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa

Lillahil Hamd.

La Ilaha Illallah, tiada Tuhan Yang disembah melainkan Engkau ya Allah,

seluruh hidup kami, lahir batin, hanyalah dalam rangka beribadah kepada-Mu

semata. Seluruh yang kami rasakan, yang kami pikirkan, yang kami ucapkan dan

yang kami lakukan, hanyalah semata-mata untuk mencari ridha-Mu ya Allah.

Alhamdulillah, segala puja puji hanya dipersembahkan kepda-Mu ya Allah.

Tidak ada yang berhak dipuji selain Engkau, Yang Maha Pengasih dan Maha

Penyayang, Yang melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya.

(4)

Pada hari ‘Idul Fitri ini kita bergembira, seperti gembiranya orang yang

sedang berbuka puasa, dan kita sedang menunggu kegembiraan yang lebih besar lagi,

yaitu saat bersua dengan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

م

ذ ئذاص

ل للذَ

ه

ن

ذ اتهحهرمفه

امههنحنرهفميه

اذهإذ

رهط

ه فمأه

ح

ه رذفه

هذرذط

م فذبذ

اذهإذوه

ي

ه قذله

هنبلره

ح

ه رذفه

هذمذومص

ه بذ

“Orang yang berpuasa itu memiliki dua kegembiraan, yaitu saat berbuka puasa dia

bergembira dengan makanannya, dan jika bersua Rabbnya dia bergembira dengan

puasanya” (H.R. Bukhari Muslim)

Kegembiraan orang yang berpuasa saat berbuka merupakan kegembiraan

yang alami, karena dia mendapatkan kebebasannya kembali dari apa yang tadinya

dilarang. Kegembiraan berbuka puasa juga merupakan kegembiraan yang relijius,

karena dia berhasil menyelesaikan ibadah puasanya.

Sebulan lamanya kita berjuang melawan hawa nafsu kita sendiri. Sekarang

apakahkita termasuk orang-orang yang kembali dari medan juang dengan

kemenangan, sehingga pantas menerima ucapan “minal ‘aidin wal faizin”? Tentu

tidak mudah menjawabnya. Kita perlu meninjau dan mengoreksi diri kita

masing-masing, apakah ibadah puasa sudah betul-betul kita kerjakan dengan iman dan

ihtisaban atau kita hanya termasuk orang-orang yang hanya berpayah-payah

menahan lapar dan haus tanpa arti yang bermakna.

Rasulullah SAW sudah menjanjikan, siapa yang puasa bulan Ramadhan

dengan iman dan ihtisaban akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu. Dalam

hadits lain dikatakan oleh beliau, siapa yang mendirikan malam Ramadhan dengan

(5)

kita berhasil mencapai seperti yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW tersebut, tentu

pada hari ini kita bebas dari segala macam dosa. Kembali seperti seorang bayi yang

baru dilahirkan ke dunia. Bersih. Suci. Fitrah. Itulah sebabnya Hari Raya ini dinamai

‘Idul Fithri, artinya kembali ke fitrah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahilhamd

Setelah kembali ke fithrah, kembali suci seperti hari pertama dilahirkan oleh

ibu, maka marilah mencoba mengamati dan merenungkan dengan hati yang suci

dan pikiran yang jernih, keadaan bangsa Indonesia, khususnya umat Islam setelah

dilanda oleh berbagai macam krisis empat tahun belakangan ini.Bermacam-macam

krisis mendera kita berkepanjangan. Mulai dari krisis moneter, krisis ekonomi, krisis

politik, krisis hukum, krisis kepercaaan sampai kepada krisis moral. Semua krisis itu

membuat bangsa kita terpuruk, tidak dapat menegakkan kepala sebagai khaira

ummah, sekalipun mayoritas bangsa Indonesia adalah kaum Muslimin.

Sekarang ini bangsa kita tidak lagi hidup dengan tenang, rukun, aman,

makmur. Beberapa fenomena suram dan kelam dapat kita saksikan di tengah-tengah

masyarakat. Mari kita daftar beberapa fenomena suram berikut ini: Sesama anggota

masyarakat tidak lagi saling menolong. Yang pintar tidak mengajari yang bodoh.

Yang kaya tidak membantu yang miskin. Yang kuat tidak menolong yang lemah.

Yang miskin, lemah dan bodoh tidak lagi mendo’akan yang kaya, kuat dan pintar.

Kesalahfahaman sudah sulit dijernihkan. Konflik tidak segera dapat datasi. Yang

bengkok tidak gampang diluruskan, yang kusut tidak mudah diselesaikan. Marah

(6)

berubah menjadi ketakutan, kemakmuran berganti dengan kemelaratan. Kecurigaan,

kesalahfahaman, kebencian berkembang menjadi konflik berkepanjangan dan

(7)

Apalagi belakangan ini, setelah peristiwa WTC New York 11 September 2001,

lebih-lebih lagi setelah teror bom Bali 12 November 2002, stigma teroris

dialamatkan kepada sebagian umat Islam, bahkan oleh pihak-pihak tertentu

dialamatkan juga kepada Islam itu sendiri. Sekalipun umat Islam di mana-mana

di seluruh dunia sudah mengutuk teror yang biadab yang tidak mengenal belas

kasih itu, dan sekalipun keterlibatan umat Islam dalam peristiswa itu tidak

pernah dibuktikan dengan jelas, tetapi stigma teroris dan suka kekerasan tetap

dialamatkan kepada umat Islam. Kalau pada bulan-bulan yang lalu, akibat

stigma tersebut tidak begitu dirasakan oleh bangsa Indonesia, lain halnya

sekarang, setelah teror bom Bali, kita sebagai bangsa dan umat, dapat

merasakan dampak negatif langsung dari stigma tersebut. Lima orang warna

negara Indonesia dideportasi secara kasar dari Meksiko bagitu mereka akan

memasuki negara itu di pintu imigrasi air port setempat. Sekalipun mereka

memiliki visa dan undangan untuk menghadir Seminar, mereka tetap dideprtasi

secara tidak manusiawi pada saat itu juga, tanpa memberikan mereka

kesempatan istirahat setelah melakukan perjalanan 26 jam dari Jakarta. Begitu

juga tindakan kasar dan tidak bersahabat yang dilakukan oleh Australia

terhadap beberapa warga negara Indonesia yang dicurigai mengetahui atau

terlibat jaringan Jama’ah Islamiyah. Sebelumnya kita sudah dipermalukan dan

sama sekali tidak dihormati oleh tetangga kita dalam kasus pemulangan hampir

setengah juta orang tenaga kerja Indonesia dari Malaysia dengan alasan

keberadaan mereka di sana ilegal. Belum lagi tindak kekerasan yang terjadi di

(8)

pembunuhan, pembakaran manusia, penjarahan dan lain sebagainya telah

menjadi peristiwa biasa karena sangat seringnya terjadi. Alhasil, sekarang ini

kita paling merasakan telah hilangnya rasa aman dan kedamaian di negara kita,

padahal mayoritas kita adalah kaum Muslimin yang sudah tentu memahami

dengan baik bahwa Islam adalah agama yang paling di depan mengajarkan

kedamaian..

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahilhamd!

(9)

Damai, perdamaian atau kedamaian dalam bahasa Al-Qur’an disebut dengan

as-salâm. Kata ini terulang dalam Kitab Suci Al-Qur’an sebagai 42 kali. Islam

sebagai nama agama Allah pun berasal dari akar kata yang sama dengan

as-salâm. Islam di samping berarti tunduk, patuh, menyerah dan pasrah, juga

berarti mencari salam, berdamai dan mencari kedamaian, baik kedamaian di

dunia maupun di akhirat. Islam mengajarkan sikap bgerdamai dan mencari

kedamaian melalui sikap menyerah, pasrah dan tunduk pada Allah secara tulus.

Sikap menyerah, tunduk dan paarah bukan hanya pilihan hidup yang benar

untuk manusia, tetapi juga merupakan pola wujud (mode of existence) seluruh alam

raya beserta isinya. Karena itu jika manusia diseru untuk memilih sikap hidup

tunduk, menyerah dan pasrah kepada Tuhan, yaitu untuk berislam, maka tidak lain

ialah seruan agar manusia mengikuti pola hidup yang sama dengan pola wujud alam

raya. Yang dihasilkan oleh sikap itu tidak saja kedamaian dengan Tuhan sendiri, dan

sesama manusia, tetapi juga dengan sesama makhluk, sesama isi seluruh alam raya,

dan jagad raya itu sendiri. (Islam Agama Peradaban 1995:261)

Kedamaian sejati dan abadi hanya ada di sorga, oleh sebab itu Allah SWT

menyebut sorga dengan istilah Darussalam, yang secara harfiah berarti negeri

kedamaian. Allah berfirman

هنلللاوه

وع

ن دميه

ىلهإذ

رذاده

ام

ذ لهس

ل لا

يدذهميهوه

ن

م مه

ءناش

ه يه

ىلهإذ

ط

ط ارهص

ذ

م

ط يقذتهس

م من

“Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang

(10)

ن

م مهفه

دذرذين

هنلللا

ن

م أه

هنيهدذهيه

ح

م رهش

م يه

هنرهدمص

ه

ام

ذ لهس

م لم

ذ لذ

ن

م مهوه

دمرذين

ن

م أه

هنللض

ذ ين

ل

م عهجميه

هنرهدمص

ه

اقِّقييض

ه

اجِّقرهحه

امهنلأهكه

دنعلص

ل يه

يفذ

ءذامهس

ل لا

ك

ه لذذهكه

ل

ن عهجميه

هنلللا

س

ه

جمريلا

ىلهع

ه

ن

ه يذذللا

له

َ)ن

ه وننمذؤمين

125

اذهههوه(

ط

ن ارهص

ذ

ك

ه بيره

امِّقيقذتهس

م من

دمقه

انهلمص

ل فه

ت

ذ ايهلما

ام

ط ومقهلذ

َ)ن

ه ورنكلذليه

126

م

م هنله(

رناده

ام

ذ لهس

ل لا

دهنمعذ

م

م هذبيره

وههنوه

م

م هنييلذوه

امهبذ

اونناكه

َ)ن

ه ولنمهعميه

127

(

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk,

niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang

dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit,

seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada

orang-orang yang tidak beriman. Dan inilah jalan Tuhanmu; (jalan) yang lurus. Sesungguhnya

Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran.

Dan inilah jalan Tuhanmu; (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan

ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang bersedia merenungkan. Bagi mereka ini adalah

Darussalam di sisi Tuhan mereka, dan Dia adalah Pelindung mereka berkenaan dengan

segala sesuatu yang mereka kerjakan. ” (Q.S. Al-An’am 6:125-127)

Digambarkan oleh Al-Qur’an bahwa penghuni sorga nanti memberikan salam

penghormatan dengan kata salam sebagaimana yang dapat kita baca dalam Surat Yunus ayat

(11)

م

م هنتنيلح

ذ تهوه

اههيفذ

امملهس

ه

رنخذاءهوه

م

م هناوهع

م ده

ن

ذ أ

ه

دنممحهلما

هذلللذ

ب

ي ره

َ)ن

ه يمذلهاعهلما

10

(

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh,

mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir

sungai-sungai di dalam surga yang penuh keni`matan. Do`a mereka di dalamnya ialah:

"Subhanakallahumma", dan salam penghormatan mereka ialah: "Salam". Dan penutup do`a

mereka ialah: "Alhamdulillaahi Rabbil `aalamin." (Q.S. Yunus 10:9-10)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahilhamd!

Sidang ‘Id yang berbahagia!

Tapi dunia bukanlah sorga. Sekalipun banyak lembaga-lembaga Islam dinamai

dengan Darussalam, dan sehari-hari umat Islam dianjurkan untuk menebarkan salam dengan

ucapan Assalamu ‘Alaikum warahmatullahi wabarakatuh, bahkan shalat pun diakhiri dengan

salam mulia ini, tetapi kedamaian yang sejati tidak akan didapat di dunia ini. Di samping ada

manusia yang beriman, ada pula yang kufur. Di samping ada yang menginginkan dan

berupaya terus menerus untuk mewujudkan kedamaian dan perdamaian, tetap ada saja yang

berbuat sebaliknya. Oleh sebab itu, untuk menjaga tegaknya kedamaian di dalam kehidupan

di dunia ini, diperlukan tindakan-tindakan yang selintas sepertinya berlawanan dengan

perdamaian.

Kedamaian harus ditegakkan dengan aturan hukum yang mengikat, lengkap dengan

sanksi-sanksinya, tidak cukup hanya dengan himbauan moral semata. Untuk tindak

kejahatan yang bertentangan dan merusak kedamaian hidup bermasyarakat, baik yang

menyangkut harta, nyawa, kesucian ketuturunan, kebebasan berpikir dan lebih-lebih lagi

(12)

di Akhirat nanti (jika tidak bertobat). Dalam perspektif inilah kita melihat hukum Islam

terhadap pencurian, penipuan, perampokan, penganiayaan, pembunuhan, perzinaan,

peminum khamar dan sejenisnya, dan lebih-lebih lagi hukuman bagi orang yang

mempermainkan agama (murtad) atau menghalangi orang lain menjalankan ajaran

agamanya.

Sekalipun dibenarkan ada sanksi-sanksi untuk tindak pidana yang merusak

kedamaian hidup bermasarakat, tetapi Islam tidak membenarkan tindakan anarkis. Otoritas

pelaksanaan hukum, termasuk eksekusi tidak pernah diberikan kepada perorangan, kelompok

atau pihak-pihak lain di luar penguasa yang sah. Tindakan sebagian anggota masyarakat,

sekali pun atas nama agama, yang melakukan perusakan tempat-tempat maksiat, merajam

pezina, membunuh pencopet dan maling yang ketangkap, adalah tindakan anarkis yang tidak

dibenarkan oleh Islam. Sekalipun misalnya, perbuatan tersebut hanya sebagai reaksi, atau

akibat kekecewaan dan ketidakpercaaan terhadap aparat penegak hukum, tetap saja tidak

dibenarkan, karena kesalahan pihak lain tidak membenarkan kesalahan yang kita lakukan.

Pemaksaan kehendak, intimmidasi, teror, walaupun dengant ujuan yang baik atau

atas nama agama dan kemanusiaan, tetap tidak dibenarkan, karena dalam Islam tujuan tidak

menghalkan cara. Al-ghâyah lâ tubarriru al-wasîlah. Di samping niat (tujuan), proses yang

sesuai dengan ajaran Islam adalah hal yang sangat penting. Penilaian tidak diberikan oleh

Allah berdasarkan hasil, tetapi berdasarkan proses. Selama seorang Muslim tetap konsisten

dengan proses yang benar, tidak bertentangan dengan syari’ah Islam sekalipun secara

lahiriah, materi, tidak berhasil, dia akan tetap mendapatkan ganjaran di sisi Allah SWT.

Tidak demikian sebaliknya, sekalipun secara lahiriah duniawiyah mendapatkan hasil yang

gemilang, tetapi dicapai dengan cara yang salah, amalnya tidak ada artinya di sisi Allah,

(13)

Terorsme, misalnya, jika dilakukan untuk dan atas nama agama sekalipun, tidak

pernah dibenarkan oleh Islam.Tetapi terorisme juga tidak boleh dihentikan dengan teroisme,

sekalipun atas nama negara. Terosis harus dihukum setelah dibuktikan di pengadilan yang

jujur dan terbuka bahwa dia memang teroris. Jangan sampai menghukum orang yang tidak

bersalah sebagai kambing hitam karena ketidakmampuan kita mencari teroris yang

sebenarnya, atau karena ada agenda yang tersembunyi yang ingin dicapai. Menghentikan

terorisme tidak dapat hanya secara parsial dan sporadis, tetapi harus secara menyeluruh

dengan menghentikan segala penyebabnya. Terorisme muncul antara lain karena

ketidakadilan, ketidakberadayaan menghadapi kesewenangan dan kezaliman sebuah

kekuasaan. Terorisme bisa muncul sebagai reaksi terhadap teror negara terhadap

kemanusiaan. Oleh sebab itu, untuk mengakhiri terorisme, akhirilah terorisme negara. To end

terorism, end state terorism, kata para ahli.

Sidang ‘Id yang berbahagia!

Seperti telah disebutkan sebelumnya, pada dasarnya Islam mengingnkan kedamaian

dan perdamaian, tetapi untuk alasan tertentu perangpun diizinkan. Pertama, perang diizinkan

untuk membela diri. Apabila umat Islam dianiaya, diusir dari negeri mereka sendiri atau

diserang oleh musuh. Allah berfirman:

(14)

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena

sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa

menolong mereka itu. (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka

tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah".

Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang

lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat

orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya

Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Q.S. Al-Hajj 22:39-40).

Kedua, untuk menjamin kebebasam beragama. Islam memang tidak membenarkan

pemaksaan untuk masuk agama, tetapi juga tidak membenarkan pemaksanan untuk tidak

beragama. Semua kekuatan yang menghalang-halangi kebebasan beragama, dan

menghalang-halangi umat Islam dalam menjalankan ajaran agamanya boleh diperangi.

Al-Qur’an menyebut tindakan menghalangi kebebasan beragama itu dengan fitnah yang harus

diperangi. Allah berfirman:

م

م هنولنتذاقهوه

ىتلحه

له

ن

ه وك

ن ته

ةمنهتمفذ

ن

ه وك

ن يهوه

ن

ن يديلا

هنليكن

هذلللذ

ن

ذ إذفه

اومههههتهنما

ن

ل إذفه

ههلللا

امهبذ

ن

ه ولنمهعميه

رميص

ذ به

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu

semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha

Melihat apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. Al-Anfal 8:39)

Dalam berperang setiap Muslim harus selalu menunjukkan akhlaq yang tinggi

karena perang dalam Islam mempunyai tujuan mulia untuk menegakkan keadilan, membela

kebenaran dan menjamin kebebasan beragama. Tujuan yang mulia itu harus dilaksanakan

(15)

dipatuhi oleh setiap pasukan Muslim dalam perang. Dengan memahami Surat Al-Baqarah

ayat 2191-193 para mufassir menjalankan rambu-rambu tersebut: (1) Tidak boleh melakukan

tindakan yang melampau batas seperti bertindak kejam dan sadis; (2) Tidak boleh

membunuh orang-orang yang lemah seperti anak-anak, orang-orang tua, kaum perempuan,

orang-orang yang sedang sakit, orang-orang yang tidak turut berperang, musuh-musuh yang

menyerah dan lain-lain; (3) Tidak boleh merusak tanam-tanaman, hewan ternak,

rumah-rumah penduduk, bangunan umum dan lain-lain yang tidak ada huhungan langsung dengan

peperangan; (4) Tidak boleh beperang disekitar Masjid Haram, kecuali kalau pihak musuh

memerangi kaum Muslimin di tempat suci tersebut; (5) Tidak boleh menyerang jika pihak

musuh sudah menghentikan peperangan; dan (6) Mengadakan perdamaian yang didasarkan

kepada ketentuan-ketentuan yang wajar dan adil dan menghentikan permusuhan kecuali

terhadap orang-orang yang masih membangkang. Mari kita lihat peperangan modern yang

dilakukan oleh umat manusia sekarang ini, apakah sudah sesuai dengan etika perang menurut

Al-Qur’an. Betapa banyak jatuh korban sipil di Iraq dan Afghanistan misalnya atau di bagian

bumi lainnya yang dilakukan oleh pihak yang mengaku memimpin peradaban dunia.

Begitulah konsep damai, perdamaian dan kedamaian dalam idelaitasnya seperti yang

dituntunkan oleh Al-Qur’an, tinggal bagaimana kita sebagai pemeluk Islam

membuktikannya kepada dunia, bahwa kita umat Islam mencintai kedamaian. Tidak hanya

umat Islam, seluruh warga dunia tentu merindukan kedamaian walaupun tidak secara absolut

di atas permukaan bumi ini.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahilhamd

(Shalawat, do’a dan penutup khutbah tidak dituliskan dalam naskah ini)

(16)

Referensi

Dokumen terkait

Kemudian adanya tradisi sesudah melaksanakan Ibadah Puasa (Hari Raya Idul Fitri) seperti yang sering disebut oleh Masyarakat Jawa khususnya Masyarakat Desa Tanah

Sebagai penutup, Menteri Siti pun menyampaikan pesan khusus untuk semua masyarakat Indonesia yang sedang merayakan Hari Raya Idul Fitri.. Taqobbalallahu minna wa

Mari kita panjatkan Do’a untuk saudara – saudara kita ,untuk mereka yang pada tahun ini sudah tidak mampu bersama kita untuk sholat Taraweh dan Sholat Idul Fitri berjamaah karena

Dengan puasa dan Idul Fitri setiap Muslim menjadi insan yang beragama secara bersih dan lurus, karena jiwanya sepenuhnya lurus bertauhid kepada Allah dan ihsan kepada

Setelah kita mengetahui beberapa amalan di bulan Ramadhan yang bisa menghapuskan dosa-dosa, maka seseorang di hari raya Idul Fithri, ketika dia kembali berbuka (tidak

Lebaran atau Idul Fitri adalah hari besar bagi orang yang beragama Islam, sesudah mereka berpuasa satu bulan dalam bulan Puasa atau Ramadan.. Di Indonesia yang sebagian

Karena Ramadhan adalah waktu di mana sifat dan sikap yang lebih baik kita amalkan, dan Idul Fitri sebagai penanda bahwa sesungguhnya kita benar­benar tidak ingin merugi..

دُمْحَلا هلَّلوَ رُبَكْأَ هلَّلا ،رُبَكْأَ هلَّلاوَ ،هلَّلا لاَّإِ هلإِ لاَّ ×٣ رُبَكْأَ هلَّلا Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah Puasa