• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum BankIndonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum BankIndonesia"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Tinjauan Kebijakan Moneter

Februari 2010

Tinjauan Kebijakan Moneter (TKM) dipublikasikan secara bulanan oleh Bank Indonesia setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada setiap bulan Februari, Maret, Mei, Juni, Agustus, September, November, dan Desember. Laporan ini dimaksudkan sebagai media bagi Dewan Gubernur Bank Indonesia untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat luas mengenai evaluasi kondisi moneter terkini atas asesmen dan prakiraan perekonomian Indonesia serta respon kebijakan moneter Bank Indonesia yang dipublikasikan dalam Laporan Kebijakan Moneter (LKM) secara triwulanan pada setiap bulan Januari, April, Juli dan Oktober. Secara rinci, TKM menyampaikan hasil evaluasi atas perkembangan terkini mengenai inflasi, nilai tukar dan kondisi moneter selama bulan laporan, serta keputusan respon kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia.

Dewan Gubernur

Darmin Nasution Deputi Gubernur Senior

Hartadi A. Sarwono Deputi Gubernur

Siti Ch. Fadjrijah Deputi Gubernur

S. Budi Rochadi Deputi Gubernur

Muliaman D. Hadad Deputi Gubernur

Ardhayadi Mitroatmodjo Deputi Gubernur

(4)

Daftar Isi

I. Statement Kebijakan Moneter ...3

II. Perkembangan dan Kebijakan Moneter ...6

Perkembangan Ekonomi Dunia ...6

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ...8

Inflasi ...11

Nilai Tukar Rupiah ...13

Kebijakan Moneter ...15

Suku Bunga ...15

Dana, Kredit, dan Uang Beredar ...17

Pasar Saham ...18

Pasar SUN ...19

Pasar Reksadana ...20

Kondisi Perbankan ...20

(5)

I.

STATEMENT

KEBIJAKAN MONETER

Pemulihan perekonomian global masih menunjukkan perkembangan yang positif. Selain ditopang oleh ekspansi perekonomian negara emerging market, seperti China, pemulihan ekonomi global juga ditopang oleh menguatnya permintaan domestik di negara maju, seperti AS dan Jepang, walaupun dengan laju yang lebih moderat. Sementara itu, pemulihan di Eropa berjalan sedikit lebih lambat akibat konsumsi yang masih melemah sejalan dengan tingginya tingkat penggangguran, membengkaknya defisit fiskal di sejumlah negara di kawasan Eropa. Dengan perkembangan ekonomi global tersebut, pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2009 dan 2010 diperkirakan lebih optimis dari perkiraan sebelumnya.

Di pasar keuangan global, perbaikan ekonomi global yang terus berlanjut mendorong kinerja pasar keuangan global. Indeks saham di berbagai bursa menunjukkan tren yang meningkat, meski sempat terkoreksi akibat sentimen negatif yang dipicu oleh sinyal pengetatan kebijakan moneter di China. Optimisme di pasar keuangan global tersebut juga disertai oleh membaiknya persepsi risiko di emerging market. Hal ini mendorong derasnya aliran modal ke emerging market, yang mendukung penguatan di pasar keuangan dan apresiasi mata uang di sejumlah negara. Inflasi global diperkirakan relatif masih rendah sehingga mendorong otoritas moneter di sebagian besar negara maju untuk melanjutkan kebijakan moneter yang akomodatif sehingga arus modal masuk ke negara emerging, termasuk Indonesia diperkirakan masih akan berlanjut.

(6)

dapat memperbaiki efisiensi produksi. Kegiatan investasi juga akan meningkat meskipun belum terlalu signifikan. Kegiatan investasi terutama terjadi pada sektor bangunan, yaitu sektor infrastruktur. Sektor-sektor lain yang akan menunjukkan ekspansi ekonomi antara lain sektor manufaktur dan sektor perdagangan, terutama terkait dengan meningkatnya konsumsi masyarakat dan permintaan komoditas ekspor, serta sektor pengangkutan dan komunikasi seiring dengan aktivitas ekonomi yang meningkat.

Dari sisi harga, tekanan inflasi menunjukkan sedikit peningkatan di bulan Januari 2010, namun perkembangan ini diyakini masih sesuai dengan kisaran sasaran Bank Indonesia 2010 sebesar 5±1%.

Inflasi bulan Januari 2010 tercatat 0,84% (mtm), atau 3,72 (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 0,33% (mtm) atau 2,78% (yoy). Meningkatnya tekanan inflasi terutama bersumber dari faktor non-fundamental, yaitu kelompok volatile food akibat kendala di sisi pasokan komoditas pangan strategis, khususnya beras. Kenaikan harga beras ini selain dipicu oleh penurunan produksi pada masa paceklik, juga didorong oleh kenaikan HPP beras 10% dan ekspektasi petani terhadap kenaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi pada bulan April 2010. Sementara itu, tekanan dari faktor fundamental, yang tercermin pada inflasi inti, tidak menunjukkan peningkatan yang berarti. Dari sisi domestik, sisi penawaran masih mampu merespons kenaikan sisi permintaan sehingga berhasil menahan tekanan harga. Sementara itu dari faktor eksternal, tekanan inflasi impor relatif meningkat pada komoditas tertentu, terutama gula, sejalan dengan terus meningkatnya harga gula internasional. Namun demikian tren apresiasi rupiah yang masih berlanjut dapat meredam inflasi dari faktor eksternal.

(7)

daya tarik aset berdenominasi rupiah dan memicu maraknya investasi asing di aset domestik. Penerbitan medium term notes oleh pemerintah di pasar global senilai 2 miliar dolar AS turut mendukung surplus neraca TMF. Dengan berbagai perkembangan tersebut, cadangan devisa pada akhir Januari 2010 mencapai 69,6 miliar dolar AS, cukup untuk membiayai 5,9 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah. Solidnya kinerja neraca pembayaran Indonesia mendorong penguatan nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah secara rata-rata menguat 1,90% ke level Rp9.275 per dolar AS. Pada akhir periode rupiah ditutup di level Rp9.350 per dolar AS atau menguat 0,8% (p-t-p) dari akhir Desember 2009.

Di sektor keuangan domestik, kinerja pasar keuangan terus meningkat sejalan dengan stabilitas ekonomi domestik dan sentimen global yang semakin membaik. Di pasar uang, kondisi likuiditas perbankan meningkat tercermin dari suku bunga PUAB O/N yang terjaga di sekitar BI Rate, serta risiko PUAB yang menurun. Di pasar saham, IHSG menguat 3,02% (mtm). Peningkatan kinerja saham ini sejalan dengan membaiknya likuiditas di pasar saham. Pergerakan harga saham sempat diwarnai oleh sentimen negatif dinamika global seperti pengetatan moneter di China, ekspektasi rencana pembatasan bidang usaha perbankan dan rencana Pemerintah AS untuk mulai keluar dari strategi kebijakan quantitative easing, serta sustainabilitas fiskal Yunani. Di pasar obligasi, perbaikan rating utang luar negeri Indonesia dari BB ke BB+ mendorong penurunan yield SUN hampir di semua tenor. Secara rata-rata, yield SUN turun sebesar 11 bps (mtm).

Transmisi kebijakan moneter di sektor keuangan juga terus berlanjut. Hal ini tercermin dari masih menurunnya suku bunga deposito dan kredit walaupun BI rate tidak mengalami perubahan sejak September 2009. Kredit yang disalurkan di akhir tahun 2009 meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Secara bulanan, pertambahan kredit (termasuk

channeling) pada Desember 2009 mencapai Rp39,9 triliun, atau tumbuh

2,8%. Ke depan, transmisi kebijakan moneter ini diperkirakan terus membaik sejalan dengan membaiknya persepsi pelaku ekonomi di sektor riil dan perbankan terhadap perekonomian dan komitmen perbankan untuk menurunkan suku bunga.

Di sisi mikro perbankan, kondisi perbankan nasional tetap stabil.

(8)

itu likuiditas perbankan, termasuk likuiditas di pasar uang antar bank kian membaik dan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) terus meningkat.

Dengan mempertimbangkan bahwa tingkat BI Rate 6,5% masih konsisten dengan sasaran inflasi tahun 2010 sebesar 5% ±1% dan arah kebijakan moneter saat ini juga dipandang masih kondusif bagi proses pemulihan perekonomian dan berlangsungnya intermediasi perbankan, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 4 Februari 2010 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 6,5% dengan koridor suku bunga yang juga tetap sebesar +/-50 bps dari BI Rate, yakni 7% Repo dan 6% FASBI..

II. PERKEMBANGAN EKONOMI DAN

KEBIJAKAN MONETER

Kinerja perekonomian Indonesia terus menunjukkan perbaikan seiring dengan kondisi perekonomian dan pasar keuangan global yang semakin membaik. Di sisi harga, tekanan inflasi sedikit menunjukkan peningkatan memasuki awal tahun 2010, walaupun untuk keseluruhan tahun

diperkirakan masih dalam kisaran target. Sementara itu, kebijakan moneter yang cenderung longgar pada tahun 2009 mendorong peningkatan harga aset termasuk IHSG. Di sisi mikro perbankan, kondisi perbankan nasional tetap stabil.

Perkembangan Ekonomi Dunia

Perekonomian global masih berkembang dalam tren yang positif ditopang oleh kokohnya pertumbuhan negara berkembang, khususnya Asia. Sementara itu, proses pemulihan ekonomi negara maju terus berlangsung meski dengan laju yang lebih moderat. Tertahannya pemulihan di negara maju ditengarai akibat masih tingginya angka pengangguran dan tersendatnya penyaluran kredit perbankan. Meskipun demikian, paket stimulus fiskal di AS dan Jepang telah mampu mendorong penguatan permintaan domestik yang tercermin dari meningkatnya pengeluaran konsumsi rumah tangga.

(9)

di negara-negara maju. Meskipun demikian, dampak pengucuran paket stimulus fiskal kedua di AS dan Jepang mampu mendorong penguatan permintaan domestik yang tercermin dari menguatnya indikator penjualan eceran dan pengeluaran rumah tangga. Sementara itu, pemulihan di Uni Eropa berjalan lambat seiring dengan lemahnya konsumsi rumah tangga akibat meningkatnya jumlah pengangguran dan membengkaknya defisit fiskal pada beberapa negara seperti Yunani dan Irlandia.

Perekonomian AS mengalami peningkatan yang didukung oleh perbaikan konsumsi meskipun perbaikan di tenaga kerja relatif belum stabil. Secara umum, sisi konsumsi AS terus mengalami perbaikan tercermin dari indikator penjualan eceran, meningkatnya pengeluaran rumah tangga (Grafik 2.1), serta menguatnya tingkat keyakinan konsumen. Meningkatnya konsumsi rumah tangga didorong oleh masa liburan akhir tahun dan stimulus potongan harga untuk pembelian mobil (cash for clunkers). Di sisi lain, tingkat pengangguran AS masih berada pada level yang tinggi yakni sebesar 10,0% pada bulan Desember 2009, meskipun telah turun dari level tertinggi sebesar 10,2% pada Oktober tahun lalu.

Sektor produksi di AS mengalami perbaikan merespons

meningkatnya permintaan. Musim liburan akhir tahun dan berbagai paket stimulus fiskal mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga dan memicu peningkatan produksi sektor industri di AS. Perbaikan sektor produksi AS terindikasi dari indeks produksi dan kapasitas produksi yang mulai meningkat setelah sempat terpuruk pada triwulan II-2009 (Grafik 2.2). Sejalan dengan kedua indikator produksi tersebut, Purchasing

Manager Index (PMI) kembali meningkat di bulan Desember dan sudah

berada pada fase ekspansi.

Kondisi ekses likuiditas dan kebijakan the Fed serta bank sentral utama lainnya untuk menjaga suku bunga di level rendah mendorong berlanjutnya arus masuk aliran dana termasuk ke negara emerging

markets. Namun demikian, kinerja pasar keuangan global sempat

mengalami tekanan akibat sinyal pengetatan moneter di China dan rencana Federal Reserve USA untuk membatasi usaha perbankan yang bersifat spekulatif. Derasnya aliran dana investor masuk ke negara

emerging markets dan terjaganya persepsi risiko investor menyebabkan

penguatan nilai tukar dan bursa saham di kawasan Asia.

Tekanan inflasi global mulai menunjukkan peningkatan sejalan dengan naiknya harga komoditas internasional dan aktivitas perekonomian dunia. Prakiraan laju inflasi global untuk keseluruhan Grafik 2.1Real Income Spending Rumah

Tangga AS

�����������������

������������

������������

�������� ������

�������� �����������

�� �� �� � � � �

��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ���

���� ���� ����

��� ���

��� ���

Grafik 2.2 Industrial Production dan

Capacity Utilisation AS

�����������������

������

���� ����

����

�� �� �� ��

��

���� ����

�������������������� ����������������������������

���

���

����

�����

�����

(10)

tahun 2010 pada bulan Januari sedikit meningkat menjadi sebesar 3,05% (yoy). Tekanan inflasi di negara berkembang diprakirakan sebesar 4,92% (yoy), sementara di kelompok negara maju diperkirakan sebesar 1,56%

Suku bunga kebijakan di negara maju masih bertahan pada level yang rendah. Pada Januari 2010, sebagian besar bank sentral utama seperti AS dan Jepang masih menahan kenaikan suku bunga sebagai upaya mendorong pemulihan ekonomi domestik. Di sisi lain, BoE

mengalami pilihan yang sulit akibat masih lambatnya pemulihan ekonomi Inggris namun tekanan inflasinya sangat kuat, bahkan sudah berada di luar target BoE. Sementara itu, bank sentral Denmark masih menurunkan suku bunganya sebesar 10 bps untuk menyesuaikan dengan suku bunga Eropa sebesar 1,0%. Injeksi likuiditas dan pembelian aset-aset bermasalah (toxic assets) dalam kerangka kebijakan quantitative easing masih dilakukan oleh beberapa bank sentral utama seperti AS dan Inggris, namun dengan intensitas dan skala yang lebih kecil. Sinyal pengetatan kebijakan moneter di negara berkembang mulai terlihat meskipun kenaikan suku bunga kebijakan masih tertahan. Pesatnya pemulihan ekonomi dan meningkatnya tekanan inflasi di negara Asia memicu respons beberapa bank sentral di Asia untuk menahan penurunan suku bunga lebih lanjut. Bahkan di beberapa negara seperti China dan India, sinyal pengetatan sudah terlihat dengan adanya kebijakan untuk menaikkan reserves ratio masing-masing sebesar 50 bps dan 75 bps.

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Membaiknya pertumbuhan ekonomi diprakirakan masih akan berlanjut pada triwulan I-2010 seiring dengan peningkatan permintaan dan perkembangan perekonomian global. Di sisi

permintaan, kenaikan pertumbuhan PDB tersebut didorong oleh perbaikan pertumbuhan konsumsi rumah tangga, investasi dan ekspor. Konsumsi rumah tangga diperkirakan mengalami sedikit peningkatan didorong oleh daya beli masyarakat yang membaik serta masih kuatnya keyakinan konsumen. Kinerja ekspor juga diperkirakan semakin membaik ditopang oleh meningkatnya permintaan negara mitra dagang serta kenaikan harga komoditas internasional. Sejalan dengan itu, investasi diperkirakan juga tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya seiring dengan meningkatnya permintaan dan optimisme pelaku usaha.

Merespons indikasi perbaikan permintaan domestik dan eksternal, kinerja Grafik 2.3 Penjualan Produk Elektronik ��������

��� ��� �� �� �� ��

� � � � �

��������

���� ���� ����

� �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� ���

(11)

impor juga diprakirakan tumbuh meningkat. Di sisi penawaran, beberapa sektor ekonomi diprakirakan akan menunjukkan perbaikan seiring dengan membaiknya permintaan eksternal dan permintaan domestik pada triwulan I-2010. Perbaikan permintaan diperkirakan dapat mendorong pertumbuhan sektor-sektor utama perekonomian diantaranya sektor industri pengolahan serta sektor perdagangan, hotel dan restoran. Sementara itu, kinerja sektor lainnya seperti sektor pengangkutan dan komunikasi masih berada dalam tingkat pertumbuhan yang tinggi dan menjadi kontributor utama terhadap pertumbuhan.

Konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2010 diprakirakan masih tumbuh stabil. Prakiraan tersebut sejalan dengan perkembangan indikator penuntun konsumsi rumah tangga yang mengindikasikan perbaikan. Rencana kenaikan gaji PNS, TNI dan Polri sebesar 5% dan kenaikan UMP pada awal tahun 2010 berpotensi menopang perbaikan daya beli masyarakat. Perbaikan konsumsi rumah tangga juga didukung oleh perkembangan beberapa indikator dini. Konsumsi barang tahan lama (durable goods) seperti penjualan mobil, motor, dan elektronik tumbuh meningkat (Grafik 2.3). Indeks penjualan eceran sampai dengan akhir triwulan IV-2009 masih tumbuh tinggi ditopang oleh meningkatnya konsumsi pada kelompok pakaian dan peralatannya serta makanan dan tembakau (Grafik 2.4). Perbaikan pertumbuhan konsumsi juga tercermin pada kenaikan pertumbuhan impor barang konsumsi hingga Desember 2009 (Grafik 2.5). Searah dengan perkembangan tersebut, indikator yang terkait dengan pembiayaan konsumsi seperti pertumbuhan M1 riil juga menunjukkan tren yang meningkat (Grafik 2.6).

Pertumbuhan investasi (PMTB) pada triwulan I-2010 diprakirakan meningkat seiring dengan membaiknya permintaan eksternal dan domestik. Peningkatan investasi terutama ditopang oleh realisasi investasi bangunan seperti ditunjukkan oleh masih tingginya konsumsi semen (Grafik 2.7). Hal tersebut juga dibarengi dengan impor barang modal (Grafik 2.8) yang tumbuh membaik seiring dengan optimisme pelaku usaha. Jika dilihat dari strukturnya, pangsa utama pertumbuhan investasi pada triwulan I-2010 diperkirakan masih didominasi oleh investasi bangunan. Namun demikian, dukungan pembiayaan perbankan masih relative terbatas sebagaimana ditunjukkan oleh pertumbuhan kredit investasi riil yang menurun (Grafik 2.9). Perkembangan hasil survei persepsi pelaku bisnis mengindikasikan minat pelaku usaha untuk berinvestasi masih berada dalam level optimis. Berdasarkan Hasil Survei Grafik 2.4 Indeks Penjualan Eceran

���

Grafik 2.5 Pertumbuhan Impor Barang Konsumsi dan PDB Konsumsi RT

(12)

Keyakinan Dunia Usaha (SKDU-BI), realisasi kegiatan usaha pada triwulan IV-2009 mengalami ekspansi sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu sebesar 15,33%, terutama disumbang oleh sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, sektor pertambangan, dan sektor pertanian (Grafik 2.10). Meskipun masih melambat, kegiatan usaha pada triwulan I-2010 diperkirakan akan kembali mengalami ekspansi usaha yang didorong oleh optimisme terhadap situasi bisnis dan kondisi keuangan perusahaan serta kenaikan harga jual dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Sejalan dengan terus membaiknya kondisi perekonomian negara mitra dagang, kinerja ekspor pada triwulan I-2010 tumbuh meningkat. Hal tersebut tercermin dari perbaikan permintaan negara maju terutama Amerika dan negara emerging markets seperti China dan Singapura. Tren peningkatan indeks produksi, tingkat kepercayaan konsumen serta sentimen bisnis negara G3 dan China hingga akhir triwulan IV-2009 juga mendukung semakin membaiknya laju pertumbuhan ekspor. Selain itu, harga komoditas yang cenderung meningkat di pasar internasional turut berdampak positif pada masih tingginya volume perdagangan global yang tercermin pada indeks Baltic Dry. Menurut sektor dan golongan komoditas, pertumbuhan ekspor nonmigas masih ditopang oleh ekspor komoditas primer berupa produk pertambangan seperti batubara dan produk hasil industri seperti minyak kelapa sawit.

Pertumbuhan impor pada triwulan I-2010 juga diprakirakan semakin membaik sejalan dengan meningkatnya permintaan domestik dan eksternal. Perbaikan pertumbuhan impor ditopang oleh membaiknya konsumsi rumah tangga serta dorongan permintaan bahan baku dan barang modal untuk kegiatan produksi terutama di sektor industri. Di samping itu, indikasi berlanjutnya peningkatan pertumbuhan impor dikonfirmasi oleh peningkatan pertumbuhan bea masuk impor hingga akhir tahun 2009. Bea masuk impor yang semakin meningkat mencerminkan nilai impor yang juga semakin meningkat. Menyusul implementasi AC-FTA pada Januari 2010, impor hasil industri seperti tekstil yang bersumber dari China juga diperkirakan akan meningkat. Pangsa pertumbuhan impor terutama bersumber dari impor bahan baku/penolong yang tumbuh membaik. Pertumbuhan nilai impor sepanjang Januari-Desember 2009 masih didorong oleh pertumbuhan impor beberapa komoditas yang terkait dengan penambahan kapasitas produksi, seperti mesin/pesawat mekanik serta mesin dan peralatan listrik.

Grafik 2.7 Pertumbuhan Konsumsi Semen

Grafik 2.8 Pertumbuhan Impor Barang Modal

(13)

Perbaikan kinerja sektoral diprakirakan akan berlanjut pada triwulan I-2010 seiring dengan membaiknya permintaan eksternal dan stabilnya permintaan domestik. Kinerja sektor utama yaitu sektor industri

pengolahan dan sektor perdagangan diprakirakan tumbuh membaik pada awal triwulan 2010. Sementara itu, kinerja sektor utama lainnya yaitu sektor pertanian diprakirakan tumbuh melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Hal tersebut ditengarai karena adanya pergeseran musim tanam pada Oktober-Desember 2009 akibat dampak El Nino. Kinerja sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor listrik, gas dan air bersih masih berada dalam tingkat pertumbuhan yang tinggi. Tingginya pertumbuhan sektor pengangkutan dan komunikasi terutama ditopang oleh masih tingginya kinerja subsektor telekomunikasi. Sementara itu, sektor pertambangan diprakirakan memiliki potensi untuk tumbuh lebih tinggi didukung oleh tren peningkatan permintaan komoditas sektor pertambangan seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian global. Jika dilihat dari strukturnya, pangsa terbesar terhadap perekonomian masih berasal dari sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor pertanian. Sementara itu, penyumbang utama dalam pertumbuhan berasal dari sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor industri pengolahan.

I n f l a s i

Memasuki awal tahun 2010, tekanan inflasi sedikit meningkat karena faktor non fundamental. Namun demikian, untuk keseluruhan tahun inflasi diperkirakan masih dalam kisaran target 5%±1%. Inflasi Januari 2010 tercatat sebesar 0,84% (mtm) atau 3,72% (yoy), meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 0,33% (mtm) atau 2,78% (yoy). Meningkatnya tekanan inflasi terutama bersumber dari faktor nonfundamental, khususnya kelompok volatile food terutama akibat meningkatnya harga komoditas pangan strategis (beras). Sementara itu, tekanan dari faktor fundamental yang tercermin pada inflasi inti juga terlihat sedikit meningkat. Dari sisi eksternal, berlanjutnya tren apresiasi rupiah dapat meredam peningkatan inflasi impor terkait kecenderungan peningkatan harga komoditas tertentu. Dari sisi domestik, interaksi sisi permintaan dan penawaran belum menimbulkan tekanan pada harga secara umum.

Grafik 2.10 Rencana Investasi (SKDU-BI)

��������

����������������

��� �� � �� �� ��

���� ���� ���� ����

� �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� ��

����������������������������� �����������������������������

Grafik 2.11 Perkembangan Inflasi

������ ������

��� ��������� �

� � � � � � ��

�� �� �� � � � � ��

���� ���� ���� ����

(14)

Jika dilihat dari faktor yang memengaruhinya, peningkatan inflasi terutama dipicu oleh kenaikan pada kelompok volatile food.

Peningkatan inflasi kelompok volatile food terutama disumbang oleh kenaikan harga beras sejalan dengan penurunan produksi beras pada masa paceklik. Selain itu, dampak kenaikan HPP beras (10%) dan perkiraan kenaikan HET (Harga Eceran Tertinggi) pupuk bersubsidi pada April 2010 turut mendorong peningkatan harga beras. Di sisi lain, perkembangan harga komoditas internasional hanya sedikit berdampak terhadap inflasi bahan pangan domestik.

Secara umum, laju inflasi berdasarkan kelompok pengeluaran meningkat. Peningkatan tekanan inflasi terutama terjadi pada kelompok bahan makanan terkait berkurangnya produksi komoditas utama seperti beras akibat faktor musiman, dampak psikologis kenaikan HPP dan HET pupuk bersubsidi. Jika dilihat secara bulanan, kelompok bahan makanan juga menjadi penyumbang inflasi terbesar pada Januari 2010 yaitu sebesar 0,40%. Kelompok lainnya yang juga signifikan memberikan tekanan inflasi IHK adalah kelompok makanan jadi dengan sumbangan inflasi sebesar 0,33%. Sementara itu, satu-satunya kelompok yang menyumbang deflasi pada Januari 2010 adalah kelompok sandang terkait penurunan harga emas perhiasan.

Inflasi administered prices pada bulan laporan masih relatif rendah dikarenakan tidak adanya kebijakan strategis dari Pemerintah.

Inflasi administered prices pada Januari 2010 tercatat sebesar 0,44% (mtm), menurun bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 0,68% (mtm). Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi pada bulan laporan adalah bahan bakar rumah tangga (0,03%) dan rokok (0,04%). Inflasi administered di bulan Januari 2010 antara lain berasal dari kenaikan harga BBM nonsubsidi (pertamax, Pertamax Plus, dll), namun tidak signifikan menyumbang pada inflasi Januari 2010.

Tekanan inflasi volatile food meningkat baik secara bulanan maupun tahunan terutama didorong oleh penurunan produksi beras domestik sesuai pola musiman paceklik pada awal tahun (Grafik 2.13). Masa tanam untuk tahun 2010 diperkirakan mundur sekitar 10-20 hari terkait dengan dampak El Nino, walaupun untuk keseluruhan tahun 2010 produksi padi diperkirakan masih akan meningkat. Adanya dampak psikologis kenaikan HPP beras pada 1 Januari 2010 lalu dan rencana kenaikan HET pupuk bersubsidi per 1 April 2010 mendorong inflasi volatile food. Dengan perkembangan tersebut, laju inflasi volatile

Grafik 2.12 Perkembangan Inflasi Menurut Kelompok Barang dan

Grafik 2.13 Raskin dan Harga Beras

(15)

food tercatat sebesar 1,98% (mtm) atau 5,17% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yakni sebesar -0,19% (mtm) dan 3,95% (yoy).

Inflasi inti mulai menunjukkan peningkatan, baik secara bulanan dan tahunan, meskipun relatif masih rendah seiring dengan masih minimalnya tekanan eksternal dan terkendalinya ekspektasi inflasi.

Inflasi inti pada bulan laporan tercatat sebesar 0,59% (mtm) atau 4,43% (yoy), sedikit meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 0,40% (mtm) atau 4,28% (yoy). Berlanjutnya tren apresiasi rupiah dapat meredam peningkatan inflasi impor terkait kecenderungan peningkatan harga komoditas tertentu dan terjaganya ekspektasi inflasi (Grafik 2.14). Peningkatan harga komoditas internasional masih relatif moderat, kecuali untuk komoditas gula (Grafik 2.15). Sementara itu, komoditas emas menjadi penyumbang deflasi pada kelompok inti (0,04%). Di sisi lain, pemulihan ekonomi belum memberikan tekanan berarti dari sisi permintaan seiring dengan masih memadainya respons dari sisi penawaran. Indikator meningkatnya permintaan tercermin dari indeks penjualan riil per Desember yg meningkat baik secara bulanan dan tahunan yaitu sebesar 3,7% (mtm) dan 32,3% (yoy) (Grafik 2.16).

Nilai Tukar Rupiah

Selama Januari 2010, nilai tukar rupiah bergerak menguat, walaupun sempat mengalami sedikit tekanan pada akhir bulan.

Prospek perekonomian domestik yang cukup solid serta spread imbal hasil investasi rupiah yang masih tinggi di antara negara kawasan Asia mampu menopang stabilitas pergerakan rupiah. Tekanan yans empat terjadi pada akhir bulan antara lain dipengaruhi oleh sentimen negatif yang terjadi di pasar keuangan global. Sentimen negatif tersebut muncul setelah dirilisnya kerugian JP Morgan dan kebijakan sektor keuangan AS, besarnya defisit fiskal beberapa negara di kawasan Eropa, dan keputusan otoritas moneter India dan China menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM) .

Mengawali tahun 2010, nilai tukar rupiah bergerak menguat. Selama Januari 2010, rata-rata nilai tukar rupiah menguat 1,90% ke level Rp9.275 per dolar AS (Grafik 2.17) dan ditutup pada level Rp9.350 per dolar AS atau menguat 0,80% dari periode bulan lalu. Nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp9.153 per dolar AS, level terkuat sejak Oktober 2008, meskipun kemudian bergerak melemah dikarenakan sentimen negatif Grafik 2.15 Harga Gula Internasional dan

Grafik 2.16 Pertumbuhan Penjualan Riil (SPE-BI)

Grafik 2.17 Rata-rata Nilai Tukar Rupiah

(16)

akibat masih tingginya ketidakpastian di sektor eksternal. Pergerakan nilai tukar rupiah selama Januari 2010 berdampak pada meningkatnya volatilitas dari 0,20% (posisi Desember 2009) menjadi 0,96% pada bulan laporan (Grafik 2.18).

Persepsi risiko investasi di Indonesia masih relatif baik sejalan dengan relatif terjaganya ekspektasi positif terhadap nilai tukar rupiah. Meski sempat mengalami peningkatan sebagai respons dari kondisi pasar keuangan global yang kembali tertekan, secara umum indikator risiko investasi di Indonesia relatif stabil dibandingkan dengan Desember 2009 dikarenakan fundamental perekonomian dometik yang masih solid dan upgrade rating Indonesia oleh Fitch dari BB menjadi BB+. Hal tersebut memberikan insentif terhadap prospek investasi di Indonesia.

Spread EMBIG bergerak naik ke level 323 bps dari level 294 bps pada

periode Desember 2009 (Grafik 2.21). Yield spread global bond Indonesia dengan US T-Note juga meningkat ke level 228 bps dari level 174 bps pada periode Desember 2009. Sementara itu, CDS spread sedikit turun dari 192 bps pada periode Desember 2009 menjadi 190 bps pada bulan laporan searah dengan pergerakan CDS kawasan emerging markets Asia. Indikator risiko lain, yakni premi swap, juga bergerak stabil yang mengindikasikan tekanan terhadap rupiah relatif rendah (Grafik 2.22).

Masih tingginya spread imbal hasil investasi rupiah turut menopang stabilitas pergerakan rupiah. Selisih suku bunga dalam negeri dan luar negeri (Uncovered Interest Rate Parity - UCIP) pada Januari 2010 mencapai level 6,48%, relatif stabil jika dibandingkan dengan level 6,51% pada bulan sebelumnya. Sementara itu, sedikit meningkatnya indikator risiko di akhir periode menyebabkan selisih suku bunga dalam negeri dan luar negeri yang sudah mempertimbangkan risiko (Covered Interest

Rate Parity - CIP) mengalami penurunan ke level 4,21% dari level 4,77%

pada Desember 2009. Meskipun mengalami penurunan, namun spread imbal hasil rupiah yang relatif lebih tinggi dibandingkan negara kawasan masih menjadi daya tarik investasi global (Grafik 2.23). Hal tersebut mengakibatkan aliran dana asing masih mengalir masuk ke perekonomian domestik dan stabilitas pergerakan nilai tukar masih terjaga di tengah kondisi pasar keuangan global yang kembali bergejolak pada akhir Januari 2010.

Grafik 2.18 Volatilitas Nilai Tukar Rupiah

����

Grafik 2.20 Apresiasi/Depresiasi Rata-Rata Nilai Tukar Januari 2010 dibandingkan dengan Desember 2009

(17)

Kebijakan Moneter

Suku Bunga

Pada Januari 2010, transmisi kebijakan moneter ke suku bunga jangka pendek berjalan baik. Di tengah kondisi BI Rate yang tetap dipertahankan pada level 6,50%, rata-rata harian suku bunga PUAB O/N menurun sebesar 3bps menjadi 6,23%. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pergerakan suku bunga PUAB O/N relatif stabil berada di sekitar BI Rate. Di samping itu, transmisi kebijakan moneter ke suku bunga PUAB dengan jangka waktu yang lebih panjang. Likuiditas perbankan yang melimpah mendorong suku bunga PUAB untuk terus turun khususnya untuk jangka waktu di atas 27 hari. Kondisi tersebut sekaligus mengindikasikan adanya perbaikan persepsi counterparty risk.

Terjaganya kondisi likuiditas di pasar uang sejalan dengan menurunnya persepsi risiko. Distribusi likuiditas di pasar uang lebih merata sebagaimana tercermin pada semakin kecilnya spread rata-rata harian suku bunga tertinggi dan suku bunga terendah di PUAB O/N. Kondisi tersebut tak lepas dari upaya untuk menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang melalui instrumen Operasi Pasar Terbuka dan koridor suku bunga (standing facilities).

Di tengah level BI Rate yang tetap, suku bunga deposito terus menurun secara signifikan. Pada Desember 2009, suku bunga deposito 1 bulan menurun sebesar 29bps, lebih besar dari bulan sebelumnya yang hanya sebesar 22bps. Dengan perkembangan tersebut selama tahun 2009, suku bunga deposito 1 bulan turun sebanyak 353bps atau jauh lebih besar dari total penurunan BI Rate sebesar 300bps. Sementara itu, suku bunga deposito berbagai jangka waktu secara rata-rata turun mencapai 33bps pada Desember 2009. Penurunan terbesar terjadi pada suku bunga deposito dengan jangka waktu 12 bulan, yaitu sebesar 86bps, sedangkan suku bunga deposito 24 bulan justru mengalami peningkatan sebesar 4bps. Kondisi tersebut mencerminkan intensi perbankan untuk memberikan insentif lebih kepada nasabah untuk penempatan dana jangka panjang. Jika dilihat berdasarkan kelompok banknya, suku bunga deposito bank persero mengalami penurunan terbesar selama periode BI Rate tetap. Pada Desember 2009, bank persero tercatat menurunkan suku bunga depositonya sebesar 51bps, diikuti oleh bank swasta nasional sebesar 23bps. Sementara itu, kelompok bank asing dan campuran hanya menurunkan suku bunga depositonya sebesar 14bps.

Grafik 2.21 Indikator Persepsi Risiko Indonesia

Grafik 2.22Premi Swap Berbagai Tenor

(18)

Transmisi kebijakan moneter ke suku bunga kredit masih berjalan lambat. Meskipun lambat, penurunan suku bunga kredit masih terus berlangsung hingga Desember 2009. Secara agregat (rata-rata suku bunga Kredit Modal Kerja, Kredit Investasi, dan Kredit Konsumsi) pada Desember 2009 menurun sebesar 13bps, atau lebih baik dari bulan sebelumnya yang hanya menurun 9bps. Penurunan terbesar terjadi pada suku bunga Kredit Modal Kerja (KMK) yang menurun sebesar 29bps, sedangkan Kredit Investasi (KI) dan Kredit Konsumsi (KK) masing-masing menurun sebesar 7bps dan 5bps. Sementara itu, jika dilihat berdasarkan kelompok banknya, penurunan suku bunga kredit terbesar terjadi pada kelompok bank swasta nasional yang diikuti oleh kelompok bank persero.

Tabel 2.1

Perkembangan Berbagai Suku Bunga

Suku Bunga (%)

BI Rate 8,75 8,25 7,75 7,5 7,25 7,00 6,75 6,50 6,50 6,50 6,50 6,50 Penjaminan Deposito 9,50 9,00 8,25 7,75 7,75 7,50 7,25 7,00 7,00 7,00 7,00 7,00 Dep 1 bulan (Weighted Average) 10,52 9,88 9,42 9,04 8,77 8,52 8,31 7,94 7,43 7,38 7,16 6,87

Base Lending Rate 14,18 13,98 13,94 13,78 13,64 13,40 13,20 13.00 12,96 13,01 12,94 12,83

Kredit Modal Kerja (KMK) 15,23 15,08 14,99 14,82 14,68 14,52 14,45 14,30 14,17 14,09 13,96 13,69 Kredit Investasi (KI) 14,37 14,23 14,05 14,05 13,94 13,78 13,58 13,48 13,20 13,20 13,03 12,96 Kredit Konsumsi (KK) 16,46 16,53 16,46 16,48 16,57 16,63 16,66 16,62 16,67 16,53 16,47 16,42

2009

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

Grafik 2.24 Perkembangan Berbagai Suku Bunga

Masih lambatnya transmisi ke suku bunga kredit terutama terkait dengan persepsi risiko perbankan dan penetapan margin yang masih tinggi. Persepsi risiko perbankan yang masih tinggi tercermin pada lebarnya spread antara suku bunga kredit dan Base Lending Rate (BLR), sedangkan masih tingginya margin yang ditetapkan perbankan diindikasikan oleh spread antara suku bunga deposito riil dan suku bunga kredit riil yang melebar. Di sisi lain, cost of fund bank terbilang masih lebih tinggi dibandingkan dengan periode 2007-2008 meskipun BI Rate saat ini lebih rendah dibandingkan dengan periode tersebut. Kondisi itu terutama terkait dengan proses realignment suku bunga deposito, sehingga suku bunga deposito menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan BI Rate sejak krisis global Oktober 2008.

���� ���� ����� ����� ����� ����� ����� �����

������� ��������������� ���������������� ������������������ �������������������

���������

���� ���� ���� ����

(19)

Dana, Kredit, dan Uang Beredar

Pada Desember 2009, DPK meningkat sebesar Rp76,1 triliun menjadi Rp1.973 triliun. Peningkatan tersebut bersumber dari dana Rupiah khususnya dalam bentuk tabungan Rupiah sebesar Rp50 triliun dan deposito Rupiah sebesar Rp19,9 triliun. Sementara itu, peningkatan posisi giro Rupiah relatif lebih rendah sebesar Rp8,1 triliun yang terutama berasal dari meningkatnya kepemilikan dari kelompok badan usaha milik swasta-lainnya dan perorangan. Meskipun secara keseluruhan posisi DPK meningkat, pertumbuhan DPK di 2009 sedikit melambat dari tahun sebelumnya yaitu menjadi sebesar 12,5% (yoy) dari 16,1% (yoy) di akhir tahun sebelumnya (Grafik 2.25).

Di jalur kredit, pertumbuhan kredit secara bulanan mengalami peningkatan. Pada Desember 2009 pertumbuhan kredit (termasuk

channeling) mencapai 8,7% (yoy) atau meningkat dari bulan sebelumnya

yang hanya sebesar 4,3% (yoy). Posisi kredit (termasuk channeling) pada Desember 2009 meningkat dari bulan sebelumnya sebesar Rp39,9 triliun yang merupakan pertambahan tertinggi selama 4 (empat) tahun berturut-turut untuk periode yang sama. Jika dilihat berdasarkan jenis penggunaannya, kredit konsumsi masih menjadi penopang pertumbuhan kredit pada Desember 2009. Sementara itu, kredit modal kerja yang sebelumnya mengalami kontraksi yang cukup dalam mulai mengalami perbaikan. Secara tahunan, pertumbuhan kredit modal kerja, kredit investasi dan kredit konsumsi pada Desember 2009 mencapai 2,7%, 16,4%, dan 19,0% (Grafik 2.26).

Meskipun secara bulanan mengalami peningkatan, pertumbuhan kredit untuk keseluruhan tahun 2009 masih lebih rendah dari pencapaian tahun sebelumnya. Masih terhambatnya transmisi kebijakan moneter melalui jalur kredit berasal baik dari sisi permintaan (demand side) maupun sisi penawaran (supply side). Dari sisi permintaan, pertambahan kredit berjalan lambat seiring dengan aktivitas ekonomi domestik maupun eksternal yang melambat dan disertai dengan suku bunga kredit yang masih tinggi. Sementara itu, dari sisi penawaran, hambatan penyaluran kredit bersumber dari persepsi risiko perbankan yang masih tinggi sehingga menyebabkan resistensi suku bunga kredit untuk turun.

Likuiditas perekonomian pada Desember 2009 mengalami perbaikan dari bulan sebelumnya. Secara tahunan, pertumbuhan M1, M2 dan M2 Rupiah yang meningkat masing-masing menjadi 8,4%, 13,1% dan 13,9% (yoy) dari bulan sebelumnya sebesar 6,8%, 11,5% Grafik 2.25 Pertumbuhan Kredit, DPK,

(20)

dan 13,0% (yoy) (Grafik 2.27). Posisi M1 menurun sebesar Rp1,9 triliun dari bulan sebelumnya, menjadi Rp505,6 triliun terkait dengan pola realisasi anggaran belanja Pemerintah di akhir tahun. Sementara itu, posisi M2 dan M2 Rupiah masing-masing meningkat sebesar Rp77,7 triliun dan Rp80,1 triliun seiring dengan pertambahan komponen uang kuasi. Berbagai kondisi di atas mencerminkan masih belum pulihnya aktifitas perekonomian masyarakat sebagaimana tampak pada pertumbuhan M1 yang masih berada pada level yang lebih rendah dari historisnya.

Pasar Saham

Kinerja IHSG pada Januari 2010 membaik. IHSG menguat sebesar 3,02% dan ditutup pada level 2.610,8. Pelaku pasar menangkap sinyal bahwa belum terdapat tekanan inflasi yang signifikan hingga semester I 2009. Tidak berubahnya level BI Rate diterjemahkan sebagai upaya bank sentral untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga pencapaian sasaran inflasi pada tahun 2010. Hal tersebut kemudian direspon pelaku pasar dengan peningkatan transaksi di pasar saham.

Dinamika yang berkembang di pasar keuangan global sempat meredam peningkatan IHSG di awal tahun. Kebijakan pengetatan moneter dan rencana pembatasan ekspansi kredit yang terjadi di Cina, rencana Pemerintah AS untuk mulai keluar dari strategi kebijakan quantitative

easing, melakukan penyesuaian operasi moneter, dan membatasi ukuran

dan kegiatan bisnis bank di AS1 serta krisis pasar utang Yunani akibat

membengkaknya defisit fiskal menyebabkan koreksi yang cukup dalam pada indeks regional yang pada akhirnya turut mempengaruhi kinerja IHSG. Namun, pada akhirnya IHSG berhasil rebound yang dipicu oleh: (1) langkah the Fed untuk mempertahankan Fed Fund Rate pada kisaran 0-0,25%, (2) rencana pemotongan pajak oleh Pemerintah AS, (3) pidato Presiden AS Barrack Obama yang memberikan penegasan tidak bermaksud untuk ”menghukum” bank, serta (4) peningkatan rating oleh lembaga rating “Fitch” untuk delapan bank umum domestik, dari ‘BB’ menjadi ‘BB+’, setelah sebelumnya, peringkat utang pemerintah Indonesia juga dinaikkan menjadi satu level di bawah invesment grade. Perkembangan yang demikian pada akhirnya menyebabkan IHSG mampu melampaui kinerja indeks regional (Grafik 2.29)

Grafik 2.27 Pertumbuhan Uang Beredar (Nominal)

Grafik 2.28 Pertumbuhan Uang Beredar (Riil)

Grafik 2.29 IHSG dan Indeks Regional

�����������������

(21)

Peningkatan kinerja IHSG juga sejalan dengan mulai membaiknya likuiditas di pasar saham. Volume perdagangan di bursa domestik selama Januari 2010 meningkat menjadi Rp3,79 triliun per hari dibandingkan dengan Desember 2009 yang mencapai Rp2,9 triliun per hari (Grafik 2.30).

Perkembangan tersebut menunjukkan terus membaiknya keyakinan pelaku pasar secara umum selama Januari 2010. Di tengah meningkatnya volume perdagangan, net beli asing hanya sebesar Rp0,58 triliun atau turun dibandingkan dengan Desember 2009 yang mencapai Rp3,84 triliun.

Pasar SUN

Transmisi kebijakan moneter di pasar SUN ditandai oleh penurunan yield SUN untuk hampir seluruh tenor.Yield SUN turun secara rata-rata sebesar 11bps dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Penurunan yield SUN juga didorong oleh perbaikan rating utang luar negeri Indonesia dari BB ke BB+ sejalan dengan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia kedepan. Penurunan yield SUN terutama terjadi pada SUN dengan tenor jangka menengah dan panjang sebesar 25bps dan 16bps, sedangkan untuk SUN tenor jangka pendek justru mengalami kenaikan yield sebesar 22bps sebagai respon atas dinamika ekonomi global yang terjadi di China, AS dan Yunani.

Penurunan yield SUN dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berasal baik dari eksternal maupun domestik. Faktor eksternal berkontribusi positif terhadap kinerja di pasar SUN seperti tercermin pada tingginya minat investor asing di pasar SUN serta stabilitas nilai tukar rupiah dan credit default swap index yang cenderung membaik. Sementara itu, faktor fundamental ekonomi yang memberikan sentimen positif antara lain pertumbuhan ekonomi yang masih positif serta inflasi yang masih terkendali. Risiko fiskal2 juga tidak memberi tekanan terhadap

kinerja pasar SUN pasca koreksi harga komoditas global pada Januari 2010. Namun, seiring dengan rencana pembatasan ekspansi kredit di China dan pembatasan investasi bank di AS pada pertengahan Januari 2010, penurunan yield SUN sedikit tertahan.

Penurunan yield SUN selama Januari 2010, diikuti oleh meningkatnya volume perdagangan. Volume perdagangan SUN secara rata-rata kembali naik menjadi Rp3,3 triliun per hari dibandingkan posisinya pada Desember 2009 yang mencapai Rp2,9 triliun per hari Grafik 2.30 IHSG dan Rata-Rata Harian

Volume Perdagangan

�����������

� � � � � ��

���� ���� ���� ����

� � � � � � � � �������� � � � � � � � �������� � � � � � � � �����������

����� ����� ����� ����� �����

���������������������� ����������

2 Salah satu pendekatan adalah rasio stock utang per PDB. Grafik 2.31 Nilai Perdagangan SUN

�����������

� � � � � ��

���� ���� ���� ���� ���� ����

� � � � � ��� � � � � ��� � � � � ��� � � � � ��� � � � � �� ��

�� �� ��

(22)

(Grafik 2.31). Sejalan dengan meningkatnya volume perdagangan, pelaku asing mencatatkan peningkatan posisi kepemilikan SUN sebesar Rp25 triliun3. Meningkatnya aktivitas perdagangan di pasar SUN meningkatkan

frekuensi rata-rata harian perdagangan SUN menjadi 255 kali perhari pada Januari 2010 dibandingkan frekuensi perdagangan pada Desember 2009 yang mencapai 196 kali per hari (Grafik 2.32).

Pasar Reksadana

Perkembangan positif di pasar saham dan surat berharga negara serta penurunan suku bunga simpanan mendorong berkembangnya kinerja reksadana. Membaiknya kinerja underlying asset reksadana terus mendorong peningkatan Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana pada akhir tahun 2009 (16 Des 2009). NAB reksadana pada Desember 2009 mencapai Rp112,9 triliun atau meningkat pesat dibandingkan dengan awal tahun yang hanya sebesar Rp 74,3 triliun atau tumbuh sebesar 47.7% (ytd) (Grafik 2.33).

Sejalan dengan meningkatnya NAB reksadana, rata-rata imbal hasil harian per produk reksadana dalam 1 tahun terakhir4 juga

meningkat. Imbal hasil untuk reksadana saham mencapai 99,2% dengan jumlah produk sebanyak 63, imbal hasil reksadana pendapatan tetap sebesar 15,15% dengan jumlah produk 114, imbal hasil reksadana campuran mencapai 49,6% dengan jumlah produk 104, serta imbal hasil reksadana pasar uang mencapai 3,8% dengan jumlah produk 27. Sementara itu, jenis reksadana yang paling berkontribusi pada peningkatan NAB reksadana adalah reksadana saham, yang meningkat sebesar Rp16,6 triliun atau tumbuh 83,9% (ytd). Meningkatnya reksadana saham sejalan dengan meningkatnya harga saham sebagai underlying asset reksadana saham dengan pertumbuhan IHSG sebesar 86,1% selama tahun 2009.

Kondisi Perbankan

Kinerja sektor perbankan secara umum tetap baik. Indikator-indikator utama perbankan seperti rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio - CAR), rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan - NPL), Net

Interest Margin (NIM) dan Return On Asset (ROA) tetap menunjukkan

3 Posisi SBN termasuk SBSN dan SPN. 4 Sampai dengan 26 Januari 2010

Grafik 2.32 Frekuensi Perdagangan SBN

�����������

Grafik 2.33 Perkembangan Reksadana

(23)

perkembangan yang cukup baik dan stabil di tengah kondisi global yang belum stabil. NPL pada Desember 2009 jauh lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya menjadi sebesar 3,8%, sedangkan CAR masih solid di level 17,4%, jauh berada di atas level minimal yang ditetapkan BI sebesar 8%. Sementara itu, Return On Asset (ROA) dan Net Interest

Margin (NIM) tetap stabil sebesar 2,6% dan 0,5% (Tabel 2.2).

III. RESPONS KEBIJAKAN MONETER

Pada 4 Februari 2010, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia

memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 6,50%. Rapat Dewan Gubernur memandang bahwa tingkat suku bunga BI Rate yang berlaku saat ini sebesar 6,50% masih konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi tahun 2010 sebesar 5%±1% dan cukup kondusif untuk mendukung proses pemulihan perekonomian dan intermediasi perbankan.

Tabel 2.2

Kondisi Umum Perbankan

Indikator Utama

Total Aset (T Rp) 2.310,6 2.307,1 2.344,9 2.352,1 2.327,4 2.309,8 2.354,3 2.331,4 2.384,6 2.388,6 2.392,7 2.439,7 2.534,1 DPK (T Rp) 1.753,3 1.745,6 1.767,1 1.786,2 1.780,9 1.783,6 1.824,3 1.806,6 1.847,0 1.857,3 1.863,5 1.897,0 1.973,0 Kredit (T Rp) 1.353,6 1.325,3 1.334,2 1.342,1 1.332,1 1.339,2 1.368,9 1.370,2 1.400,4 1.399,9 1.410,4 1.430,9 1.470,8 LDR (%) 77,2 75,9 75,5 75,1 74,8 75,1 75,0 75,8 75,8 75,4 75,7 75,4 74,5 NPLs Gross* (%) 3,8 4,2 4,3 4,5 4,6 4,7 4,5 4,6 4,5 4,3 4,3 4,4 3,8 NPLs Net * (%) 1,5 1,6 1,6 1,9 2,0 1,9 1,7 1,7 1,5 1,3 1,2 1,4 0,9 CAR (%) 16,2 17,6 17,7 17,4 17,6 17,3 17,0 17,0 17,0 17,7 17,6 17,0 17,4 NIM (%) 0,5 0,5 0,3 0,6 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,4 0,5 0,5 0,5 ROA (%) 2,3 2,7 2,6 2,8 2,7 2,7 2,7 2,7 2,7 2,6 2,7 2,6 2,6

2008 2009

Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

(24)

* angka sementara

* angka BPS berdasarkan tahun dasar 2000 1) minggu terakhir

2) rata-rata tertimbang 3) penutupan pada akhir periode 4) closed file

Sumber : Bank Indonesia. kecuali data pasar modal (BAPEPAM). IHK. ekspor/impor dan PDB dari BPS

Indikator Terkini

SEKTOR KEUANGAN

H A R G A

SEKTOR EKSTERNAL

INDIKATOR KUARTALAN

SUKU BUNGA & SAHAM Suku bunga SBI 1 bln 1) Suku bunga SBI 3 bln 1) Suku bunga deposito 1 bln 2) Suku bunga deposito 3 bln 2 JIBOR satu minggu 2) IHSG Indeks 3)

BESARAN MONETER (miliar Rp Base Money

M1(C+D) Uang Kartal (C) Uang giral (D) Broad Money (M2 = C+D+T)

Uang kuasi (T) Uang kuasi (Rupiah)

Deposit Tabungan Deposito (Valas) M2 - Rupiah

Tagihan pada Dunia Usaha Kredit-Bank Umum

Inflasi bulanan (%. mtm) Inflasi tahunan (%. yoy)

Rp/USD (akhir periode. nilai tengah) Ekspor Barang Non migas (f.o.b. juta USD) 4) Impor Barang Non migas (c & f. juta USD) 4) Net International Reserve (juta USD)

Pertumbuhan PDB (%. yoy)** Konsumsi

Investasi Perubahan Stok Ekspor Impor

9,50 8,74 8,21 7,59 7,25 6,95 6,71 6,58 6,48 6,49 6,47 6,46 -

9,93 9,25 8,61 7,95 7,39 7,05 6,79 6,63 6,55 6,60 6,59 6,59

-10,52 9,89 9,42 9,04 8,77 8,52 8,31 7,94 7,43 7,38 7,16 6,87 -

11,34 11,13 10,65 10,09 9,68 9,25 8,99 8,73 8,35 7,97 7,68 7,49

-9,43 8,71 8,30 8,03 7,69 7,09 6,96 6,56 6,46 6,46 6,47 6,46

-1.333 1.285 1.434 1.723 1.917 2.027 2.323 2.342 2.468 2.368 2.416 2.534 2.611

314.662 303.777 304.718 308.277 309.232 322.994 322.850 324.663 354.297 364.869 376.938 402.118 -437.388 434.233 448.452 454.221 455.364 483.053 469.346 490.575 490.501 485.979 495.554 507.682 -191.339 186.611 186.538 191.194 192.143 203.838 201.172 200.871 210.822 206.305 212.547 228.009 -246.049 247.622 261.914 263.027 263.221 279.215 268.174 289.704 279.679 279.674 283.007 279.673 - 1.754.293 1.773.980 1.794.004 1.794.888 1.807.388 1.859.690 1.841.112 1.871.955 1.889.157 1.900.907 1.928.840 2.004.617 1.316.905 1.339.747 1.345.553 1.340.667 1.352.024 1.376.637 1.371.766 1.381.381 1.398.656 1.414.928 1.433.286 1.496.935 1.175.565 1.190.990 1.202.724 1.205.976 1.217.906 1.245.822 1.245.247 1.251.225 1.272.217 1.285.497 1.297.781 1.359.001 -686.919 703.027 706.002 705.379 715.139 726.088 724.888 727.889 731.202 741.072 738.118 755.996 -488.645 487.964 496.722 500.597 502.767 519.733 520.359 523.336 541.015 544.425 559.663 603.005 -141.341 148.757 142.828 134.691 134.118 130.815 126.519 130.156 126.439 129.431 135.505 137.934 1.612.953 1.625.223 1.651.176 1.660.197 1.673.270 1.728.875 1.714.594 1.741.800 1.762.718 1.771.476 1.793.335 1.866.683

1.391.619 1.403.408 1.401.342 1.387.947 1.392.747 1.419.799 1.435.290 1.465.870 1.463.662 1.478.447 1.503.304 1.543.901 1.293.600 1.305.681 1.303.885 1.292.306 1.298.095 1.320.131 1.333.469 1.351.511 1.348.857 1.361.096 1.383.567 1.408.669

--0,07 0,21 0,22 -0,31 0,04 0,11 0,45 0,56 1,05 0,19 -0,03 0,33 0,84

9,17 8,60 7,92 7,31 6,04 3,65 2,71 2,75 2,83 2,57 2,41 2,78 3,72

11.355 11.980 11.575 10.713 10.340 10.225 9.920 10.060 9.681 9.545 9.480 9.400 9.365

6.345 6.713 7.473 7.053 8.229 8.470 8.437 8.966 8.200 9.714 8.678 -

-5.706 5.008 5.819 5.488 6.366 6.987 7.720 7.313 5.589 7.405 7.109 -

-47,96 47,17 50,68 51,72 51,65 50,99 50,72 50,84 53,81 55,68 56,15 57,69 61,59

4,40 4,00 4,20

7,30 6,30 5,40

-0,80 3,20 4,20

-146,40 88,20 23,80 -18,70 -15,50 -8,20 -26,00 -23,90 -18,30

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan

2009 2010

Gambar

Grafik 2.2 Industrial Production dan
Grafik 2.3 Penjualan Produk Elektronik
Grafik 2.4 Indeks Penjualan Eceran
Grafik 2.7 Pertumbuhan Konsumsi Semen
+7

Referensi

Dokumen terkait

Setelah melakukan evaluasi terhadap kondisi makroekonomi Indonesia tahun 2006, prospek ekonomi moneter ke depan dan berbagai faktor risiko yang dihadapi, serta pencapaian

Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas serta perkembangan dan prospek ekonomi global, regional, dan domestik, pencapaian terhadap sasaran inflasi tahun 2008 dan 2009

Bank Indonesia akan terus mewaspadai peningkatan tekanan inflasi tersebut dan menyesuaikan respons kebijakan moneter yang diperlukan untuk memastikan agar inflasi tetap berada

Dari sisi moneter, kondisi tersebut telah menyebabkan tekanan terhadap pelemahan nilai tukar rupiah dengan volatilitas yang meningkat, sementara inflasi masih relatif tinggi

Memperhatikan prospek ekonomi-moneter ke depan khususnya pencapaian sasaran inflasi jangka menengah serta faktor risiko yang berpotensi memberikan tekanan pada kestabilan ekonomi,

Berdasarkan kriteria tersebut dan mengingat masih rapuhnya sistem perbankan sebagai suatu jalur transmisi kebijakan moneter terpenting serta masih sangat rentannya

Terdapat beberapa syarat bagi efektivitas sistem pengendalian moneter menggunakan suku bunga sebagai sasaran operasional, yaitu: i) Sasaran akhir kebijakan moneter

Kerangka Kerja Kebijakan Moneter Penargetan Inflasi OPERASI MONETER RESPON KEBIJAKAN INDIKATOR KEBIJAKAN SASARAN AKHIR SASARAN INFLASI PRAKIRAAN INFLASI BI RATE INSTRUMEN MONETER 13