SKRIPSI
Oleh :
MUHAMMAD SYAIFUL ALAM AL GHOZALY NIM. D01213035
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
JURUSAN PENDIDIKAN ISLAM
Muhammad Syaiful Alam Al-Ghozaly : D01213035 mengadakan penelitian tentang Pembentukan Akhlak Santri Melalui Penerapan Tata Tertib Di Pondok
Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik. Tahun 2017.
Penelitian ini di latar belakangi oleh rendahnya kedisiplinan siswa dalam proses pendidikan yang mengakibatkan kecenderungan untuk melakukan pelanggaran dimanapun mereka berada. Seperti realita yang terjadi di Indonesia sampai saat ini diantaranya, kecurangan siswa dalam mengerjakan tugas, tawuran, membantah bahkan sampai memukul guru, dan hal ini merupakan wujud penurunan akhlak yang baik pada diri siswa.
Pondok Pesantren Qomaruddin melalui penerapan tata tertib mengajarkan kedisiplinan yang tidak lain bertujuan untuk membentuk akhlak santri menjadi akhlak yang lebih disiplin dan akhlak yang mulia atau Akhla>qul Kari>mah.
Tujuan penelitian ini adalah ingin memperoleh data tentang pembentukan akhlak di pondok pesantren, penerapan tata tertib pondok pesantren dan pembentukan akhlak santri melalui penerapan tata tertib pondok pesantren. Di Pondok Pesantren Qomaruddin Desa Sampurnan Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian dilaksanakan selama pada semester genap tahun pelajaran 2016-2017 antara bulan April 2017 s.d akhir Mei 2017. Teknik pengumpulan data antara lain wawancara, observasi dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan akhlak di pondok pesantren qomaruddin melalui beberapa macam antara lain, Pertama, melalui pengajian kitab kuning. Kedua, melalui pembiasaan wiridan sesudah sholat berjama’ah dan do’a bersama. Ketiga melalui pembiasaan kegiatan keagamaan di Pondok Pesantren. Keempat pembatasan penggunaan handphone dan barang elektronik lainnya.
Penerapan tata tertib di pondok pesantren Qomaruddin berjalan dengan baik dan hukuman yang diberikan berupa hukuman yang mendidik namun memberikan efek yang baik bagi pembentukan akhlak santri.
Pembentukan akhlak santri melalui penerapan tata tertib di pondok pesantren Qomaruddin menjadi hal yang paling penting. Melalui tata tertib pesantren, santri dipaksa untuk menjadi lebih disiplin. Tindakan-tindakan tegas terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh santri dapat membentuk akhlak santri menjadi akhlak yang disiplin, bertanggung jawab, dan sadar atas kesalahannya.
HALAMAN SAMPUL ...i
PENGESAHAN TIM PENGUJI ...ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI ...iii
PERSEMBAHAN ...iv
MOTTO ...v
ABSTRAK ...vi
KATA PENGANTAR ...vii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ...ix
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ...x
DAFTAR ISI ...xi
DAFTAR TABEL ...xiv
PEDOMAN TRANSLITERASI ...xv
BAB I PENDAHULUAN ...1
A. Latar Belakang Masalah ...1
B. Rumusan Masalah ...7
C. Tujuan Penelitian ...8
D. Manfaat Penelitian ...8
E. Penelitian Terdahulu ...9
F. Definisi Operasional ...13
G. Sistematika Pembahasan ...14
BAB II KAJIAN PUSTAKA ...16
A. TINJAUAN TENTANG PEMBENTUKAN AKHLAK ...16
1. Pengertian Pembentukan Akhlak ...16
2.Dasar-Dasar Hukum dan Tujuan Pembentukan Akhlak ...20
PESANTREN ...51
1.Pengertian Penerapan Tata Tertib Pondok Pesantren ...51
2.Dasar dan Tujuan Penerapan Tata Tertib Pondok Pesantren ...53
3.Unsur-Unsur Tata Tertib Pondok Pesantren ...56
4.Penegakan Disiplin Tata Tertib di Pondok Pesantren ...57
C. PEMBENTUKAN AKHLAK SANTRI MELALUI PENERAPAN TATA TERTIB ...63
1. Penerapan Tata Tertib Pondok Pesantren Sebagai Pembentukan Akhlak Santri ...63
2. Strategi Penerapan Tata Tertib Pondok Pesantren ...71
BAB III METODE PENELITIAN ...76
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ...76
B. Subyek dan Obyek Penelitian ...77
C. Tahap-Tahap penelitian ...78
D. Jenis Data dan Sumber Data. ...81
E. Teknik Pengumpulan Data ...82
F. Teknik Analisis Data ...85
G. Teknik Keabsahan Data ...88
BAB IV PAPARAN DATA HASIL PENELITIAN ...91
A. Gambaran Umum Objek Penelitian...91
1. Letak Geografis Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik ...91
2. Sejarah Singkat Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik ...92
3. Visi Misi, Tujuan dan Program Kerja Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik ...96
Gresik ...102
7. Jadwal Kegiatan Santri Mukim Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik ...106
8. Sarana Prasarana Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik ...110
B. Pembentukan Akhlak di Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik ...113
1. Pembentukan Akhlak Melalui Pengajaran “Kitab Kuning” Oleh Kyai maupun Ustadz ...113
2. Pembentukan Akhlak Spiritual Melalui Pembiasaan “Wiridan” dan Do’a Bersama ...118
3. Pembentukan Akhlak melalui Pembiasaan Kegiatan Keagamaan ...120
4. Pembentukan Akhlak melalui Pembatasan PenggunaanHandphone, Radio dan Barang Elektronik lainnya ...124
C. Penerapan Tata Tertib di Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik ...127
1. Penyusunan Tata Tertib Pondok Pesantren Qomaruddin ...127
2. Tata Tertib Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik ...130
3. Penerapan Tata Tertib Pondok Pesantren Qomaruddin ...135
D. Pembentukan Akhlak melalui Penerapan Tata Tertib di Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik ...143
BAB V PENUTUP ...148
A. Kesimpulan ...148
B. Saran ...149 DAFTAR PUSTAKA
Tabel 1 Pelaksanaan Penelitian Di Pondok Pesantren Qomaruddin ...75
Tabel 2 Kisi-Kisi Pedoman Wawancara ...78
Tabel 3 Data Dewan Asatidz Pondok Pesantren Qomaruddin 2016-2017 ...94
Tabel 4 Data Santri Mukim Putra Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik Periode 2016/2017 ...97
Tabel 5 Data Santri Mukim Putri Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik Periode 2016/2017 ...98
Tabel 6 Perkembangan Data Santri Mukim Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik hingga periode 2016/2017 ...99
Tabel 7 Jadwal Kegiatan Harian Santri Mukim Pondok Pesantren Qomaruddin Tahun Pelajaran 2016/201 ...101
Tabel 8 Jadwal Kegiatan Mingguan Santri Mukim Pondok Pesantren
Qomaruddin Tahun Pelajaran 2016/2017 ...103
Tabel 9 Sarana Dan Prasarana Yang Dimiliki PP. Qomaruddin Tahun Pelajaran 2016/2017 ...104
1. Surat Izin Penelitian
2. Surat Tugas
3. Kartu Konsultasi
4. Pedoman Pengumpulan Data
5. Buku Pribadi Santri
6. Undang-Undang Pondok Pesantren Qomaruddin
7. Lembar Data Perizinan Santri
8. Lembar Data Pelanggaran Santri
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan, Secara sederhana jika merujuk Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) dalam Damsar, merupakan proses pengubahan sikap dan
tata laku seorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia
melalui upaya pengajaran dan pelatihan.1 dari pengertian Kamus tersebut
melalui pendidikan Orang mengalami perubahan sikap dan tata laku,
berproses menjadi dewasa dn lebih matang dalam tingkah laku dan
dilakukan melalui pengajaran dan pelatihan terhadap seseorang.
Menurut Oemar Hamalik dalam bukunya Proses Belajar Mengajar
bahwa Pendidikan merupakan suatu proses dalam rangka mempengaruhi
siswa agar dapat menyesuaikan diri sebaik mungkin terhadap
lingkungannya dan dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam
dirinya yang memungkinkannya untk berfungsi secara edekuat dalam
kehidupan masyarakat.2
Dengan melihat pengertian diatas maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa pendidikan merupakan satu-satunya cara agar manusia menjadi lebih
baik dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan pemahaman sehingga
dapat mengimbangi setiap perkembangan yang terjadi agar tidak tertinggal
jauh oleh kemajuan teknologi dalam bekalnya dalam kehidupan
bermasyarakat.
Jauh sebelum Indonesia merdeka, Ki Hajar Dewantara sebagai
Pahlawan Pendidikan Nasional merumuskan bahwa pendidikan sebagai
proses pembudayaan kodrat alam setiap individu dengan kemampuan untuk
mempertahankan hidup, yang tertuju pada kemerdekaan lahir batin sehingga
memeperoleh keselamatan, keamanan, kenyamanan dan kebahagiaan lahir
batin.3 Dengan demikian penting lah pendidikan bagi setiap manusia untuk hidup berdampingan dengan lingkungan.
Keberhasilan suatu pendidikan tidak lepas dari adanya sumber daya
manusia yang berkualitas dan berkarakter. Salah satu jalan alternative yang
untuk mengatasi penyimpangan moral maupun perbaikan akhlak pada diri
siswa adalah melalui pendidikan di Pondok Pesantren. Hal tersebut penting
untuk dilaksanakan mengingat keadaan pendidikan formal saat ini sangat
terpuruk dalam bidang akhlak terutama rendahnya kedisiplinan siswa
baik di sekolah maupun dalam kesehariannya di rumah lingkungan siswa
tinggal. Oleh sebab itu, sejak tahun 2010 pemerintah melalui Kementrian
Pendidikan Nasional mencanangkan penerapan pendidikan karakter bagi
semua tingkat pendidikan, baik sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Upaya ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, pada pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik
agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.4
Hal ini
sesuai dengan model pendidikan yang diajarkan di pondok pesantren.
Meskipun pondok pesantren bukan merupakan pendidikan formal namun
pondok pesantren mengajarkan nilai-nilai akhlak dan pendidikan karakter
serta kedisiplinan sehingga cocoklah sebagai jalan yang ditempuh dalan
pembentukan akhlak yang baik.
Rendahnya kedisiplinan seorang anak akan membuat proses pendidikan
terganggu. Selain itu, kurangnya sikap disiplin siswa mengakibatkan
kecenderungan untuk melakukan pelanggaran dimanapun mereka berada.
Terlebih lagi pendidikan saat ini tidak menuntut peserta didik memiliki
akhlak dan budi pekerti yang baik melainkan lebih menuntut siswa untuk
mendapatkan nilai yang tinggi. Maka tidak heran jika peserta didik sering
melakukan kecurangan baik dalam ujian maupun dalam mengerjakan
tugas-tugas individu, tawuran, membantah bahkan sampai memukul guru, dan
penurunan akhlak yang baik.
Bangsa Indonesia kian hari kian terpuruk, seperti yang di beritakan
4
baik melalui media sosial, media cetak maupun media televisi dan sudah
banyak orang ketahui pada Mei 2016 lalu kasus guru di Sidoarjo yang
dilaporkan polisi karena mencubit Anak SD sebagai hukuman pada si anak.
Pada bulan Agustus 2016 juga terkenal kasus Orang tua dan Murid
memukul guru di SMKN 2 Makassar hingga si guru pendarahan di bagian
hidung hanya karena guru tersebut memberikan tamparan karena siswa itu
mengeluarkan kata-kata kotor dan tidak sopan.5 Selain itu juga masih ada
banyak kasus-kasus tawuran pelajar yang sampai menewaskan banyak
orang. Hal ini tentunya sangat memprihatinkan karena se usia pelajar sudah
membunuh teman sebayanya sendiri. Oleh karena itu perlu diadakannya
suatu wadah untuk menanggulangi dan mencegah hal-hal yang demikian
itu bisa terjadi. Salah satunya yakni melalui pondok pesantren.
Fenomena berpakaian seragam ketat saat ini juga menjadi trend bagi
santri yang tinggal di Pondok Pesantren yang juga merupakan siswa
SMA Assa’adah. Tentu saja akan membawa dampak yang negative bagi
generasi muda. Pada umumnya mereka meniru gaya pakaian di dunia
sinetron, lingkungan masyarakat dan di lingkungan sekolahnya sendiri.
Efeknya adalah santri pondok pesantren Qomaruddin juga mengikuti model
pakaian mereka, misalnya celana ketat dan baju jangkis, rok menggantung.
Meskipun pihak sekolah telah menggunting pakaian ketatnya sebagai
5 Indowarta.
sanksi dari tindakannya, dan pihak pondok pesantren juga menyita
pakaiannya tetapi tetap saja masih terdapat santri yang melanggarnya.
Lebih ekstrim lagi, di Pondok Pesantren Qomaruddin juga pernah
adanya kasus pencurian dan terlibat tawuran yang dilakukan oleh santri.
Tanpa toleransi pihak pondok pesantren mengeluarkan santri tersebut sesuai
dengan peraturan tata tertib yang ada. Walaupun pihak pondok pesantren
sudah berusaha menerapkan tata tertib, namun nampaknya hal itu belum
sepenuhnya berhasil, perlu usaha yang lebih maksimal dalam menerapkan
tata tertib yang telah disepakati bersama.
Sebagai lembaga pendidikan yang Informal. Pondok Pesantren
merupakan suatu lembaga yang dapat menjadi peran utama dalam
pembentukan akhlak santri (red:siswa)nya. Karena di pondok pesantren
mulai sejak tingkatan sekolah dasar hingga sekolah menengah atas tidak
lepas dari pengawasan dalam pembentukan akhlak dan membentuk
kedisiplinan santri. Untuk tingkatan SMA/sederjat menjadi salah satu
pembina dan percontohan dalam pembentukan akhlak untuk adik-adik nya
yang lain yang dibawah umur. Sehingga dapat selalu terpantau jika ada
penyimpangan dalam ber akhlak dan bertingkah laku. Hal itu semata-mata
tidak terlepas dari penerapan tata tertib di pondok pesantren.
Penerapan tata tertib di pondok pesantren bermacam-macam seperti
yang ada di Pondok Pesantren Qomaruddin yang terkesan unik, salah satu
pondok pesantren. Jika tidak mengikuti tanpa ada sebab yang jelas maka
diberikan hukuman hafalan beberapa ayat maupun nadhoman sesuai dengan
pelanggarannya. Dengan adanya peraturan seperti ini diharapkan siswa
mengikuti semua kegiatan dan sanksinya pun dapat membuat siswa lebih
banyak menghafal dan mengasah memory santri. Walaupun sanksi
tersebut nampaknya sangat mendidik, tetapi ada beberapa siswa yang
memilih untuk pergi dan menghindar dari pondok daripada dihukum
untuk menghafalkan naz}o>m-naz}o>m dan beberapa ayat al-Qur’an. Hal ini
tentunya dapat menjadikan akhlak yang baik sebagai efek dari pemberian
hukuman yang diberikan di pondok pesantren.
Dalam kaitannya pembentukan Akhlak, tentulah tidak semudah
membalikkan telapak tangan. Namun membutuhkan proses yang lama
metode yang beragam dalam membimbing dan membina peserta didik
sehinga dapat membentuk sebuah kebiasaan. Dengan kebiasaan ini
terbentuklah karakter dari setiap peserta didik. Kebiasaan ini dapat terbentuk
jika ada sesuatu yang mengatur dan dipatuhi atau juga bisa melalui
pembiasaan diri. Untuk itu agar pembentukan Akhlak ini dapat berjalan
dengan baik maka salah satu program pondok pesantren adalah melalui
penerapan tata tertib. Dengan adanya tata tertib diharapkan santri dapat
melaksanakan aturan-aturan yang berlaku di pondok pesantren sehingga
akhlak santri secara perlahan dapat terbentuk dengan baik dan dapat
pesantren. Sehingga santri memiliki akhlak yang baik, dan tingkat
kedisiplinan yang tinggi.
Dharma Kesuma dkk dalam bukunya yang berjudul Pendidikan
Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah menuliskan salah satu upaya
pembentukan akhlak dapat melalui Kebiasaan (habit). Menurutnya banyak
situasi tingkah moral diuntungkan oleh habit. Orang-orang yang memiliki
karakter yang baik sering tidak berpikir secara sadar tentang “pilihan yang
baik”. Tapi mereka melakukannya karena kekuatan kebiasaan.6 Dengan
kebiasaan, hal tersebut memberikan pengalaman belajar kepada anak-anak
karena dapat mengembangkan kebiasaan yang baik dan juga praktik
menjadi orang yng baik. Dengan begitu bisa terbiasa berkelakuan baik
beretika dan sopan santun.
Oleh karena itu, maka penulis bermaksud melakukan penelitian di
salah satu pondok pesantren yang terkenal di kota santri Gresik yakni
dengan judul “Pembentukan Akhlak Santri Melalui Penerapan Tata Tertib di Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik”. B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dirumuskan beberapa
masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
6 Dharma Kesuma, Dkk. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah,
1. Bagaimana Pembentukan Akhlak Santri di Podok Pesantren Qomaruddin
Sampurnan Bungah Gresik?
2. Bagaimana Penerapan Tata Tertib di Pondok Pesantren Qomaruddin
Sampurnan Bungah Gresik?
3. Bagaimana Pembentukan Akhlak Santri melalui Penerapan Tata Tertib di
Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan diadakannya penelitian ini diantaranya:
1. Untuk Mengetahui Bagaimana Pembentukan Akhlak Santri di Pondok
Pesantren Qomaruddin Bungah Gresik
2. Untuk Mengetahui Bagaimana Penerapan Tata Tertib di Pondok Pesantren
Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik
3. Untuk Mengetahui Bagaimana Pembentukan Akhlak santri melalui Penerapan
Tata Tertib di Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik.
D. Manfaat Penelitian
Disamping Dalam penelitian ini, penulis harapkan berguna bagi
semua pihak yang membutuhkannya terutama bagi penulis sendiri. dari hasil
penelitian ini diharapkan dapat menarik minat peneliti lain, khususnya
dikalangan mahasantri, untuk mengembangkan penelitian lanjutan tentang
masalah yang sama dan serupa.7
7 Cik Hasan Bisyri, Penuntun Penyusunan Rencana Penelitian Skripsi,( Jakarta: Raja Grafindo,
Adapun Manfaat penelitian ini dibedakan menjadi dua macam yakni:
1. Manfaat Akademik
Dapat digunakan sebagai informasi dan sebagai tambahan
pengetahuan mengenai tata tertib atau peraturan yang berlaku di
Pondok Pesantren Qomaruddin sebagai proses pembentukan akhlak
santri.
Selain itu juga sebagai sumbangan kepada UIN Sunan Ampel
Surabaya khususnya kepada perpustakaan sehingga dapat dimanfaatkan
sebagai bagan bacaan atau rujukan yang bersifat ilmiah serta kontribusi
dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan islam sendiri.
2. Manfaat Praktis
Dengan penelitian ini diharapkan bisa menjadi rujukan dan bahan
evaluasi terhadap tata tertib yang berlaku di Pondok Pesantren
Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik
Disamping itu hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan
pengambilan kebijakan dalam menerapkan tata tertib pesantren guna
membentuk akhlak santri di Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan
Bungah Gresik
E. Penelitian Terdahulu
Berdasarkan pada penelusuran tentang tinjauan pustaka yang peneliti
yang hampir sama dengan judul penelitian yang penulis lakukan dan
beberapa lagi skripsi yang pernah ditulis di lokasi penelitian
Skripsi yg hampir sama dengan judul penelitian penulis yaitu skripsi
yang berjudul :
1. Korelasi Antara Kegiatan Keagamaan Dengan Pembentukan Akhlak
Peserta Didik Di Sma Islam Sidoarjo. Disusun oleh, Sabta Agustien
Sieseva Prodi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
UIN Sunan Ampel Surabaya Tahun 2016.
Dalam Skripsi ini membahas tentang hubungan kegiatan keagamaan
yang dilaksanakan di sekolah dengan akhlak dari siswa yang dalam
penelitiannya Hasil dari penghitungan menggunakan regresi sederhana
menunjukkan bahwa nilai F hitung sebesar 116,874 dan F tabel pada nilai
N= 78 adalah 12,7062 sedangkan nilai t hitung sebesar 10.811 dan t tabel
sebesar 1,980 Karena nilai F hitung > F tabel (116,874 > 12,7062) dan
nilai t hitung > t tabel, 10.811 > 1,980 di tambah lagi dengan nilai
signifiasi 0,000 < 0,05. Sehingga semakin tinggi kegiatan keagamaannya
semakin tinggi pula pembentukan akhlak nya.
2. Pengaruh Mata Pelajaran Akidah Akhlak Terhadap Pembentukan
Karakter Siswa Di SMP Wachid Hasyim 2 Surabaya. Disusun Oleh, susi
Ardina Prodi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Dalam Skripsi ini membahas tentang gambaran pembelajaran Aqidah
Akhlak di Sekolahan dan pengaruhnya dalam pembentukan akhlak.
Dalam penelitiannya peneliti menggunakan rumus korelasi product
moment yang menghasilkan nilai positif dan nilai hasil df = 60, jika
dikonsultasikan pada taraf signifikan 5 % = 0,250 dan pada taraf 1% =
0,325. Dari hasil signifikansi 5% dan 1% dapat diketahui bahwa “rXY”
lebih besar dari “rtabel” (rhitung = 0,531 > rtabel = 0,250). Dan setelah uji
signifikan ditemukan thitung lebih besar dari ttabel (t hitung = 6,854 > ttabel =
2,390). Sehingga ada pengaruh pelajaran akidah akhlak terhadap
pembentukan karakter siswa.
3. Pelaksanaan Pembinaan Akhlak Dalam Menanggulangi Pelanggaran
Tata Tertib Sekolah Di Kelas 8 SMP Wachid Hasyim 2 Surabaya Tahun
Ajaran 2013/2014 yang disusun oleh Nur Lailia Mufidah, Jurusan
Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri
Sunan Ampel Surabaya tahun 2014.
Dalam Skripsi ini membahas tentang pelaksanaan pembinaan akhlak
dalam menanggulangi pelanggaran tata tertib di sekolah dan hasil dari
penelitian bahwa pembinaan akhlak dapat menekan tingkat pelanggaran
Skripsi yang pernah dilakukan di lokasi penelitian yang sama dengan
penulis yaitu skripsi yang berjudul. :
1. Kepemimpinan KH. Ahmad Muhammad Al Hammad dalam upaya
pengembangan Yayasan Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan
Bungah Gresik : Ni'matus Sholikhah Program Studi Manajemen
Dakwah. Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel
Surabaya pada tahun 2001. Skripsi ini membahas tentang kepemimpinan
Kepala Yayasan dalam pengembangan Yayasan.
2. Peranan Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan dalam Pembinaan
Keagamaan Masyarakat Desa Bungah Gresik : Zuhriyatul Lathifah
Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Institut
Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya pada tahun 2002. Skripsi ini
membahas peran pondok pesantren bagi keagamaan masyarakat desa.
Sedangkan untuk penelitian penulis sendiri. Dalam penelitian ini
penulis lebih menitik beratkan pada bagaimana pembentukan akhlak santri
dan bagaimana penerapan tata tertib sebagai salah satu sarana
pembentukan akhlak santri di Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan
F. Definisi Operasional
Agar tidak terjadi salah pemahaman dalam mengkaji skripsi ini serta
untuk memperoleh gambaran yang jelas sebagai tindakan preventif, maka
dirasa perlu memberi penjelasan atau penegasan tentang beberapa istilah yang
terdapat dalam judul skripsi ini. Berikut penegasan judul tersebut:
1. Akhlak santri adalah segala budi pekerti baik yang ditimbulkan santri
tanpa melalui pemikiran dan pertimbangan yang mana sifat itu menjadi
budi pekerti yang utama dan dapat meningkatkan harkat dan martabat
santri.8
2. Santri adalah: pelajar, dan seluruh peserta didik yang tinggal di pondok
pesantren.
3. Pembentukan Akhlak Santri : usaha sungguh-sungguh dalam rangka
membentuk akhlak santri, dengan menggunakan sarana pendidikan dengan
sungguh- sungguh dan pembinaan yang terperogram dengan baik dan
dilaksanakan dengan konsekuen dan konsisten9
4. Penerapan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah perbuatan
menerapkan.
5. Tata Tertib adalah ketentuan-ketentuan yang mengatur kehidupan
sehari-hari dan mengandung sanksi bagi pelanggarnya.10
8 Irfan, Sidney. Kamus Arab Indonesia. (Jakarta: Andi Rakyat, 1998). h. 127 9
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT Raja Grafindo Pustaka, 2011) h. 45
10
6. Penerapan Tata Tertib adalah suatu perbuatan mempraktekkan
ketentuan-ketentuan yang mengatur kehidupan untuk mencapai tujuan tertentu dan
untuk suatu kepentingan yang diinginkan.
G. Sistematika Pembahasan
Untuk lebih memudahkan pembaca dalam memahami maksud yang
dikehendaki, sistematika penulisan penelitian ini sengaja disusun sebagai
berikut:
Bab Pertama dalam Skripsi ini merupakan uraian yang di dalamnya
berisi beberapa pokok pikiran yang melatarbelakangi timbulnya penelitian
yang akan diteliti, tentang rumusan masalah, tujuan penelitian, Manfaat hasil
penelitian, difinisi operasional, serta sistematika pembahasan.
Setelah itu pada Bab kedua adalah kajian teori yang berisi tinjauan
tentang pembentukan akhlak santri dan juga tentang penerapan tata tertib
Adapun tinjauan tentang pembentukan akhlak santri di dalamnya terdapat
sub-sub antara lain: pengertian pembentukan akhlak, dasar dan tujuan
pembentukan akhlak, pembagian akhlak dan faktor-faktor yang
mempengaruhi pembentukan akhlak. Sedangkan tinjauan tentang penerapan
tata tertib di dalamnya terdapat sub-sub bab antara lain: pengertian penerapan
tata tertib, dasar dan tujuan penerapan tata tertib, unsur-unsur tata tertib dan
penegakan disiplin tata tertib di. Selain itu juga terdapat sub bab pembentukan
antara lain : penerapan tata tertib sebagai upaya pembentukan akhlak dan
strategi penerapan tata tertib.
Kemudian di Bab ketiga membahas tentang metode penelitian yang
meliputi: pendekatan dan jenis penelitian, subyek dan obyek penelitian,
tahap-tahap penelitian, jenis data dan sumber data, teknik pengumpulan data, teknik
analisis data, dan teknik keabsahan data.
Pada Bab keempat Berisi paparan data hasil penelitian, menjelaskan
tentang gambaran umum Pondok Pesantren Qomaruddin Bungah Gresik yang
mencakup letak geografis serta sejarah berdirinya Pondok Pesantren
Qomaruddin dan perkembangannya, dasar dan tujuan didirikannya Pondok
Pesantren Qomaruddin, struktur organisasi Pondok Pesantren Qomaruddin,
keadaan pendidik, para santri, sarana prasarana serta kegiatan di Pondok
Pesantren Qomaruddin Bungah Gresik dan berisi pula tentang pembahasan
atau kajian pokok dalam penulisan skripsi, dan berusaha menjawab
masalah-masalah penelitian yang ada, yaitu bagaimana pembentukan Akhlak santri di
Pondok Pesantren Qomaruddin Bungah, penerapan tata tertib, serta faktor
pendukung dan penghambat di dalamnya.
Akhirnya pada Bab Kelima : Berisi penutup yang merupakan bab
16
A. TINJAUAN TENTANG PEMBENTUKAN AKHLAK
1. Pengertian Pembentukan Akhlak
Secara etimologi, "akhlak" berasal dari bahasa Arab jama' dari
bentuk mufradnya "khuluqun" (قلخ) yang menurut logat diartikan: budi
pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kalimat tersebut mengandung
segi-segi persesuaian dengan perkataan "khalqun" (قلخ) yang berarti
kejadian, serta erat hubungannya dengan "kha>liq" (قلاخ) yang berarti
pencipta dan "makhlu>q" (قولخم) yang berarti yang diciptakan. 1
Definisi akhlak di atas muncul sebagai mediator yang
menjembatani komunikasi antara kha>liq (pencipta) dengan makhlu>q (yang
diciptakan) secara timbal balik, yang kemudian disebut sebagai hablum
min Allah. Dari produk hablum min Allah yang verbal biasanya lahirlah
pola hubungan antar sesama manusia yang disebut dengan hablum min
anna>s (pola hubungan antar sesama makhluk).2
Meskipun kata akhlak berasal dari Bahasa Arab, kata akhlak tidak
terdapat di dalam Al-Qur’an. Kebanyakan kata akhlak dijumpai dalam
hadith. Satu-satunya kata yang ditemukan semakna akhlak dalam
1 Zahruddin AR, dan Hasanuddin Sinaga, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada, 2004) h. 1
Qur’an adalah bentuk tunggal, yaitu khuluqun, tercantum dalam surat al
Qalam ayat 4:
ىَلَعَل َكنِإَو
ٍقُلُخ
ٍمىْيِظَع
٤
Artinya: Sesungguhnya Engkau (Muhammad) benar-benar, berbudi
pekerti yang luhur.3
Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa akhlak ialah
sifat-sifat yang dibawa manusia sejak lahir yang tertanam dalam jiwanya dan
selalu ada padanya. Sifat itu dapat lahir berupa perbuatan baik, disebut
akhlak yang mulia, atau perbuatan buruk, disebut akhlak yang tercela
sesuai dengan pembinaannya.4
Secara terminologi, akhlak berarti tingkah laku seseorang
yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu
perbuatan yang baik. Muhammad Al-Ghazali menyatakan bahwa akhlak
adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat
memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih
dahulu.5
Jadi pada hakikatnya khuluq (budi pekerti) atau akhlak ialah
kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian
hingga dari situ timbullah berbagai macam perbuatan dengan cara spontan
3 Depag RI, Al Hikmah Al-Qur’an dan Terjemahan, (Bandung : CV Penerbit Diponegoro,
2010) h. 564
4 Asmaran AS, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: Rajawali Pers, 1992) h. 1
dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pikiran. Apabila dari
kondisi tadi timbul kelakuan yang baik dan terpuji menurut pandangan
syariat dan akal pikiran. Maka ia dinamakan budi pekerti mulia dan
sebaliknya apabila yang lahir kelakuan yang buruk, maka disebut budi
pekerti yang tercela.
Dalam menentukan baik buruknya akhlak, Islam telah meletakkan
dasar-dasar sebagai suatu pendidikan nilai, dimana ia tidak mendasarkan
konsep al-ma’ruf (yang baik) dan al-munkar (yang jelek) semata-mata
pada rasio, nafsu, intuisi, dan pengalaman yang muncul dari panca indera
yang selalu mengalami perubahan. Tetapi Islam, telah memberikan sumber
yang tetap yang menentukan tingkah laku moral yang tetap dan universal
yaitu Al-Qur’an dan as-Sunnah. Dasar hidup itu menyangkut kehidupan
perorangan, keluarga, tetangga, sampai pada kehidupan bangsa.6
Selanjutnya Tadjab dalam Dimensi-Dimensi Studi Islam mengutip
pendapat Ibnu Maskawaih, mendefinisikan akhlak dengan keadaan gerak
yang mendorong ke arah melakukan perbuatan dengan tidak memerlukan
pikiran.7 Sedangkan Tadjab juga mendefinisikan Akhlak adalah “sikap hati yang mudah mendorong anggota tubuh untuk berbuat sesuatu”.8
6 Sahal Mahfudz, Nuansa Fiqh Sosial, (Yogyakarta: LKiS Bekerjasama dengan Pustaka
Pelajar, 1994), h. 180-181
7 Tadjab, Muhaimin, Abd. Mujib, Dimensi-Dimensi Studi Islam (Surabaya: Karya Abditama,
1994) h. 243
8 Depag RI, Panduan Pesantren Kilat (Untuk Sekolah Umum) (Jakarta: Departemen Agama
Adapun Menurut Prof. Dr. Ahmad Amin, yang disebut akhlak itu
ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya kehendak itu bila membiasakan
sesuatu, maka kebiasaan itulah yang dinamakan akhlak. Dalam penjelasan
beliau, kehendak ialah ketentuan dari beberapa keinginan sesudah bimbang,
sedangkan kebiasaan ialah perbuatan yang diulang-ulang sehingga mudah
dikerjakan. Jika apa yang bernama kehendak itu dikerjakan berulang-kali
sehingga menjadi kebiasaan, maka itulah yang kemudian berproses menjadi
akhlak.9
Karena akhlak secara kebahasaan bisa baik atau buruk
tergantung pada tata nilai yang dipakai sebagai landasannya, Namun
secara sosiologis di Indonesia kata Akhlak sudah mengandung konotasi
baik, jadi orang yang berakhlak berarti orang yang berahlak baik.10
Sedangkan kata “pembentukan” dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia berasal dari kata bentuk yang berwalan pe- dan berakhiran –an,
yang memiliki arti Proses, cara, Proses membentuk. 11
Jadi pengertian pembentukan akhlak seperti yang dikemukakan
oleh Abuddin Nata adalah usaha sungguh-sungguh dalam rangka
membentuk anak dengan sungguh – sungguh, dengan menggunakan
9 Tim Dosen Agama Islam, Pendidikan Agama Islam Untuk Mahasiswa (Malang: IKIP
Malang, 1995) h. 170
10Abu Ahmadi, Noor Salim, MKDU Dasar-Dasar Pendidikan Islam, (Bandung: Bumi
Aksara,1986) h. 198
11 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Pusat
sarana pendidikan dan pembinaan yang terprogram dengan baik dan
dilaksanakan dengan konsekuen dan konsisten.12
2. Dasar-Dasar Hukum dan Tujuan Pembentukan Akhlak
Setiap akhir dari tujuan ibadah adalah pembinaan ketakwaan yang
mengandung arti menjauhi perbuatan yang jelek, dan mendekati
perbuatan yang baik. Para Ulama’ juga mengungkapkan yaitu sikap yang
hanya baik dan telah biasa dilakukan oleh orang-orang yang dinilai
sebagai berakhlak mulia.13
Kita sebagai umat Islam tidak terlepas dari pedoman hidup
yang telah kita yakini yaitu Al-Qur’an dan Hadis. Maka disini penulis
memberikan pandangan hukum Islam yang menjadi dasar dari
pembentukan akhlak tertuang di dalam Al-Qur’an maupun Hadis sebagai
dasar religi serta menjadikan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 sebagai dasar konstitusional
a. Dasar- Dasar Hukum Pembentukan Akhlak
Sumber akhlak atau pedoman hidup dalam Islam yang menjelaskan
kriteria baik buruknya sesuatu perbuatan adalah Al-Qur’an dan sunnah
Rasulullah SAW.14 Kedua dasar itulah yang menjadi landasan dan
12 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf,
(Jakarta: PT Raja Grafindo Pustaka, 2011) h. 45
13 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Vol 14 (Tangerang : Lentera Hati, 2005) h. 380-381 14 Tim Penyusun MKD UIN Sunan Ampel Surabaya, Akhlak Tasawuf, (Surabaya: UIN Sunan
sumber ajaran Islam secara keseluruhan sebagai pola hidup dan
menetapkan mana yang baik dan mana yang buruk.
Disamping itu, dasar-dasar pembentukan akhlak dalam hal ini
penulis membagi menjadi dua macam yakni Dasar Religi, dan Dasar
Konstitusional. Dengan uaraian sebagai berikut :
1) Dasar Religi
Yang dimaksud dasar religi dalam uraian ini adalah
dasar-dasar yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah rasul (Al-Hadits)
sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Qalam
ayat 4 yakni sebagai berikut
ىَلَعَل َكنِإَو
ٍقُلُخ
ٍمىْيِظَع
٤
Artinya : “Sesungguhnya Engkau (Muhammad) benar-benar,
berbudi pekerti yang luhur”.15
Sedangkan hadis Nabi yang menjadi sumber hukum akhlak
Ialah :
نبا ديعس وبأ أبنأ ياهبصأا فسوي نب دمح وبأ انربخأ
دمح ركب وبأ ا ث ,يرعأا
نب ديعس ا ث ,يذورورما ديبع نب
م
نب دمح يرخأ ,دمح زيزعلا دبع ا ث , روص
ناجع
نع
يأ نع ميكح نب عاقعقلا
ه ع ها يضر ةرير يأ نع حاص
.م.ص ها لوسر لاق : لاق
ُِأ ُتْثِعُب اََِإ
َاْخَأْاَمِراَكَم َمََِ
َياَوِر َِِوُ
ِ َََِلاَص : ٍة
هجرخأ .
اخبلا
امرغو مكاحاو درفما بدأا ِ ير
Artinya :
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan
akhlak yang mulia (dalam riwayat lain: yang shalih) .” Hadits
Shahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari di dalam kitab
al-Adab al-Mufrad, Imam al-Hakim dan lain-lain.16
Selain itu tingkat kesempurnaan keimanan seseorang juga dapat
dilihat dari kesempurnaan akhlak dari orang tersebut. Sebagaimana Hadis
Nabi SAW:
اًقُلُخ ْمُهُ َسْحَأ َو اًناَِْْإ َنِمْؤُمْلا ُلَمْكَأ
َىذمرلا اورُ
Artinya:
“Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah orang
yang paling sempurna budi pekertinya.” (HR. Tirmidzi).17
Orang tua merupakan pembentuk Akhlak pertama dalam hidup
Anak. Kepribadian orang tua, sikap, dan cara hidup mereka
merupakan unsur pendidikan yang tidak berlangsung, yang dengan
sendirinya masuk dalam kepribadian anak. Jadi hal ini juga
sangat besar peranannya, sesuai dengan sabda Nabi
16 Al-Baihaqi, Al-Sunan Al-Kubro Juz 10, (Beirut : Da>r Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 2002), h. 323
Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dll, lihat Al-Adab al-Mufrad karya Imam al-Bukhari, Bi Takhrijat Wa Ta’liqat: Syaikh al-Albani, Da>r ash-Shiddi>q, Jubail, KSA, cet. II, 1421 H/2000 M, hal. 100-101, no. 273. Lihat pula Silsilah Shahihah, no. 45.
ِةَرْطِفْلا ىَلَع ُدَلْوُ ي ٍدْوُلْوَم لُك
َ ي ُاَوَ بَأَف
ُهَناَسُجَْْ ْوَأ ُهَناَرُصَْ ي ْوَأ ُهَناَدْوُه
Artinya:
“Semua anak dilahirkan suci, maka bapak ibunyalah yang
menjadikan dia Yahudi Nasrani atau Majusi” (HR. Bukhari
Musalim).18
Dalam agama Islam yang menjadi dasar atau alat
pengukur yang menyatakan bahwa sifat-sifat seseorang itu dapat
dikatakan baik atau buruk adalah Al-Qur’an dan Hadis. Apa yang
baik menurut Al-Qur’an atau Hadis itulah yang baik untuk
dijadikan pegangan dalam kehidupan sehari- hari. Sebaliknya apa
yang buruk menurut Al-Qur"an dan Hadis berarti itu tidak baik
dan harus dijauhi.
Jika ada orang yang menjadikan dasar akhlak itu pada
adat kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat maka untuk
menentukan atau menilai baik- buruknya adat kebiasaan itu,
harus dinilai dengan norma-norma yang ada dalam Al-Qur’an
dan Hadis, kalau sesuai terus dipupuk dan dikembangkan, dan
kalau tidak harus ditinggalkan.19
Pribadi Nabi Muhammad SAW adalah contoh yang
paling tepat untuk dijadikan teladan dalam membentuk kepribadian.
Begitu juga sahabat-sahabat beliau yang selalu mempedomani
Al-Qur’an, dan ajaran Nabi Muhammad SAW dalam kesehariannya
dengan demikian kita pun patut mematuhi ajaran yang disampaikan
Nabi Muhammad SAW.
2) Dasar konstitusional
Dasar konstitusional pembinaan akhlaqul karimah yaitu
Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Pasal 31 ayat 3 menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan
dan menyelenggarakan atau sistem pendidikan nasional yang
meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta kemuliaan dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan
undang-undang.20
Selain itu Undang-Undang Dasar yang mengatur kehidupan
suatu bangsa atau Negara, mengenai kegiatan pembinaan moral,
juga diatur dalam UUD 1945, pokok pikiran ke empat sebagai
berikut :
“Negara berdasar atas ke-Tuhanan yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Oleh karena itu, undang-undang dasar harus mengandung isi yang mewajibkan pemerintah dan lain-lain penyelenggara Negara untuk memelihara budi pekerti manusia yan luhur
dan memegang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur”.21
20 Undang-undang Republika Indonesia. No. 20 tahun 2003. Tentang Sistem pendidikan Nasional (Sisdiknas), (Bandung: Citra Umbara, 2003), h. 49
Dari uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa sebagai
warga Negara Indonesia yang berketuhanan Yang Maha Esa
hendaknya ikut serta dalam membentuk akhlak yang baik dan ikut
serta membina dan memelilhara akhlak. Hal itu demi terwujudnya
warga negara yang baik dan berbudi pekerti luhur
b. Tujuan Pembentukan Akhlakul Karimah
Tujuan akhir setiap ibadah adalah ketaqwaan. Melihat dari segi
tersebut bertakwa mengandung arti melaksankan segala perintah agama
dan meninggalkan segala larangan agama. Ini berarti menjauhi perbuatan-
perbuatan jahat dan melakukan perbuatan-perbuatan baik (akhla>qul
Mahmu>dah). Perintah Allah ditujukan kepada perbuatan-perbuatan baik
dan larangan berbuat jahat (akhla>qul madhmu>mah). Orang bertakwa
berarti orang yang berakhlak mulia, berbuat baik dan berbudi luhur.22
Tujuan Akhlak adalah mencapai kebahagiaan hidup umat
manusia dalam kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat.23 Jika seseorang dapat menjaga kualitas mu’amalah ma’a Allah dan
mu’amalah ma’a anna>s, insya Allah akan memperoleh ridho-Nya.
Orang yang mendapat ridha-Nya micaya akan memperoleh jaminan
kebahagiaan hidup baik duniawi maupun ukhrawi.
Dari keterangan di atas dapat penulis simpulkan yakni tujuan
pembentukan akhlak ialah menanamkan dan membiasakan peserta didik
untuk berlatih berakhlak yang baik secara tertib dan bertanggung jawab
serta pula untuk membersihkan kalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan
amarah sehingga hati menjadi suci bersih, bagaikan cermin yang dapat
menerima Nur Cahaya Tuhan24.
Sebagaimana Ahmad Amin mengatakan :
” Dengan mempelajari ilmu akhlak dan permasalahannya, kita
lalu dapat memilih mana perbuatan yang baik dan mana yang buruk. Bersikap adil termasuk baik, sedangkan berbuat dholim termasuk perbuatan buruk, membayar hutang kepada pemiliknya termasuk baik, sedangkan mengingkari utang
termasuk perbuatan buruk ”25.
Pembentukan akhlak pada dasarnya mempunyai tujuan yaitu
ingin mencapai kebaikan dan meninggalkan keburukan, baik dalam
kehidupan individu sendiri, masyarakat bahkan berbangsa dan
bernegara. Menurut tokoh pendidik Islam, tujuan pembentukan akhlak
adalah:
1) Menanamkan perasaan cinta kepada Allah dalam hatinya
2) Menanamkan I’tikad yang benar dan kepercayaan yang benar
dalam dirinya
3) Mendidik supaya menjalankan perintah Allah SWT. Dan menjauhi
larangan-Nya.
4) Membiasakan akhlak yg mulia dan menunaikan kewajiban agama.
5) Mengajarkan supaya mengetahui hukum-hukum agama serta
mengamalkannya.
6) Memberi petunjuk hidup di dunia dan akhirat.
7) Memberi suri tauladan (prilaku yang baik).26
Menurut Prof Moh. Athiyah Al-Abrasyi, tujuan utama dalam
Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam bahwa pendidikan Akhlak
dalam Islam adalah untuk membantu orang-orang (peserta didik) yang
bermoral baik, keras kemauan, sopan dalam berbicara dan
perbuatan mulia dalam tingkah laku, bersifat bijaksana, memiliki tata
karma, sempurna, ikhlas, jujur, suci.27
Begitu pula Hamzah mengemukakan bahwa tujuan dari
pembinaan akhlak yaitu sesuai dengan pola hidup yang diajarkan
islam, bahwa seluruh kegiatan hidup, harta kematian sekalipun,
semata-mata dipersembahkan kepada Allah, ucapan yang selalu
dinyatakan dalam do’a iftitah sholat, merupakan bukti nyata bahwa
tujuan yang tertinggi dari segala tingkah laku adalah mendapatkan
Rid}o Allah.28
26 Mahmud Yunus, Metodik Khusus Pendidikan Agama (Jakarta: Hidayah Karya Agung
1989) h. 19
27 Athiyah Al-Abrasyi,
Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1970) h. 104
3. Pembagian Akhlak
Berangkat dari definisi akhlak maka akhlak itu terbagi menjadi dua
bagian. Pertama ada akhlak yang baik yang dinamakan akhla>qul
Mahmu>dah (akhlak terpuji). Kedua ada yang dinamakan akhla>qul
madhmu>mah (akhlak tercela). Akhlak terpuji adalah akhlak yang menjadi
tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad SAW, dan merupakan hal yang
berat timbangannya kelak di hari kiamat. Akhlak atau budi pekerti yang
mulia (akhla>qul Mahmu>dah) adalah jalan untuk memperoleh kebahagiaan
dunia dan di akhirat kelak serta mengangkat derajat manusia ke tempat
mulia sedangkan akhlak yang buruk (akhla>qul madhmu>mah) adalah racun
yang berbahaya serta merupakan sumber keburukan yang akan
menjauhkan manusia dari rahmat Allah SWT. sekaligus merupakan
penyakit hati dan jiwa yang akan memusnahkan arti hidup yang
sebenarnya.
Menusia memang diberi dua jalan yakni jalan baik dan jalan yang
buruk. Keduanya menajdi potensi yang ada dalam diri manusia sejak awal
penciptaan manusia. Akan tetapi walau kedua potensi itu ada dalam diri
manusia tetap saja ditemukan isyarat dalam al-Qur’an bahwa kebajikan
lebih dahulu menghiasi jiwa manusia daripada kejahatan, dan bahwa
manusia pada dasarnya cenderung pada kebaikan.29
Berdasarkan objeknya, akhlak dibedakan menjadi dua: pertama, akhlak
kepada khaliq, kedua akhlak kepada makhluk, yang terbagi menjadi:
a. Akhlak terhadap Allah SWT.
b. Akhlak terhadap Rasulullah SAW.
c. Akhlak terhadap keluarga
d. Akhlak terhadap diri sendiri
e. Akhlak terhadap sesama atau orang lain dan
f. Akhlak terhadap lingkungan alam.30
Pembahasan seputar akhlak ini sangat luas, namun penulis batasi.
Bagaimana berakhlak kepada Allah SWT, kepada diri sendiri, kepada
masyarakat atau sesama dan berakhlak kepada alam (lingkungan).
a. Akhlak Kepada Allah SWT.
Alam dan seisinya ini mempunyai pencipta dan pemelihara
yang diyakini adanya yakni Allah SWT. Dialah yang memberikan
rahmat dan menurunkan adzab kepada siapa saja yang
dikehendakinya. Oleh karena itu manusia wajib taat dan beribadah
hanya kepada-Nya sebagai wujud rasa terima kasih terhadap segala
yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia
1) Berdo’a Kepada Allah SWT
Memohon apa saja kepada Allah SWT. Doa merupakan
mukhhulibadah (otaknya ibadah), karena doa merupakan pengakuan
akan keterbatasan dan ketidakmampuan manusia, sekaligus
pengakuan akan kemahakuasaan Allah terhadap segala sesuatu. 31
2) Ikhlas Kepada Allah SWT
Ikhlas artinya tanpa pamrih atau tanpa mengharapkan apa
pun kepada selain Allah SWT. Mengerjakan sesuatu hanya
mengharapkan ridho Allah SW., tidak mengharapkan apa pun
selain-Nya dan kepada selain-Nya, itulah ikhlas.
3) Bertakwa Kepada Allah SWT
Kalimat “ittaqulla>h” (bertaqwalah kepada Allah) jika
diterjemahkan secara harfiyah akan menjadi jauhilah Allah SWT
atau hindarkanlah dirimu dari Allah SWT. Hal ini tentunya
mustahil dapat dilakukan manusia karena siapakah yang dapat
menghindar dari Nya. Ulama-ulama berpendapat bahwa
sesungguhnya terdapat satu kata yang tersirat antara hindarilah
dan Allah. Kata yang tersirat itu adalah siksa atau hukuman.
Dengan demikian, yang dimaksud dengan menghindari Allah
adalah menghindari siksa atau hukuman Nya.32
Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa>’ :
قي
څقۉٰي
أ
ق
ٱ
سڅٯن
ٱ
اۊ ںٯت
ہ كٯبقر
ٱ
يق
َ
ٯ
ہ كقںقۀقخ
ۄقكم
ڷٯن
لڝ
قو
لةقڙقح
قڸقۀقخقو
ۆقم
څقۉ
وقز
څقۉقج
ٯڍقبقو
ۆقم
څقۃ ۉ
م
لڅقجقر
ميقث
قك
ا
كڅ قسقنقو
مء
31Ibid.,قوٱ
اۊ ںٯت
ٱ
ق ٯّ
ٱ
يق
َ
ٯ
كڅ قسقت
قنۊ قء
قۇقب
ۦ
قو
ٱ
ق
ل
ر
قعڅقح
ٯنقإ
ٱ
ق ٯّ
قن قَ
يقۀقع
ہ ك
مڈيق قر
څ
Artinya:“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah
Menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan Allah Menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu Menjaga
dan Mengawasimu.” (Q.S An-Nisa>’:1)33
4) Tawakkal Kepada Allah SWT
Tawakal mempunyai hubungan yang sangat erat dengan
pemahaman manusia akan takdir, rida, ikhtiar, sabar dan do’a.34 Tawakal adalah kesungguhan hati dalam bersandar kepada Allah
SWT untuk mendapatkan kemaslahatan serta mencegah
kemadharatan, baik menyangkut urusan dunia maupun urusan
akhirat.
5) Berdzikir kepada Allah SWT
Berdzikir sebagai bukti ketaatan kepada Allah. Berdzkir
berarti selalu mengingat Allah SWT, dimanapun, kapanpun dan
dalam kondisi apapun. seperti dalam Q.S Al-Baqarah ayat 152,
yang berbunyi :
33 Depag RI, Al Hikmah .... h. 77
34 Zainuddin dan Muhammad Jamhari, Al-Islam 2: Muamalah dan Akhlak, (Bandung:
قفٱ
م
كقنو ڛ
ك
م
ق
ث
ڛ ك
ہ
قو
ٱ
ش
او ڛ ڽ
قل
ق
لقو
كقت
قنو ڛ ڷ
٢
Artinya:
“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun ingat kepadamu.
Bersyukurlah Ku, dan janganlah kamu ingkar
kepada-Ku.” (Q.S. Al-Baqarah : 152)35
Dan juga dalam Q.S Ar-Ra’d ayat 28:
ٱ
قۄيق
َ
ٯ
اۊ ۆقماقء
ګقتقو
ٰۄقئقۃ
ہ ۉ بۊ ۀ ق
كقښقب
قڛ
ٱ
هقٯّ
ق
ل
أ
ق
كقښقب
قڛ
ٱ
ق ٯّ
ګقت
ٰۄقئقۃ
ٱ ل
بۊ ۀ ں
٨
Artinya:36“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi
tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan
mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Q.S. Ar-Ra’d :
28)37
b. Akhlak kepada Diri Sendiri
Akhlak terhadap diri sendiri yang dimaksud adalah bagaimana
seseorang menjaga dirinya (jiwa dan raga) dari perbuatan yang dapat
menjerumuskan dirinya atau bahkan berpengaruh kepada orang lain
karena diri sendiri merupakan asal motivasi dan kembalinya manfaat
suatu perbuatan.
1) Menjaga Kesehatan
Setiap muslim diperintahkan untuk menjaga kesehatan
dirinya. Baik kesehatan jasmani maupun rohani. Menjaga
35 Depag RI, Al Hikmah .... h. 23 36 Ibid., h. 252
kesehatan jasmani dapat dilakukan dengan cara makan makanan
yang sehat dan halal serta dengan berolahraga. Sedangkan
menjaga kesehatan rohani dapat dilakukan dengan kegiatan yang
dapat menentramkan hati seperti membaca Al-Qur’an.
Allah berfirman dalam QS. Al-A’ra>f (7) :
قي
ك قنقڈ
قعقلاقء
او ښ خ
ہ كقڌقنيقز
قڙۆقع
ق
ك ك
سق
لڙقج
اۊ ُقو
قو
ٱ
ق ش
اۊ ب
ق
لقو
ت
ق س
كۊ ف
ا
ۇٯنقإ
ُ
ق
ل
ٰچق ُ
ٱ
ق س ۃ
قَقي
١
Artinya :“Wahai anak Adam!, pakailah pakaianmu yang bagus pada
Setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang
yang berlebih-lebihan.”(QS. Al-A’ra>f : 31)38
2) Memelihara kesucian diri
Maksud dari memelihara kesucian diri (al-ifa>fah) adalah
menjaga diri dari segala tuduhan, fitnah dan memelihara
kehormatan. Upaya memelihara kesucian diri ini hendaknya
dilakukan setiap hari agar diri tetap berada dalam status
kesucian. Hal ini dapat dilakukan mulai dari memelihara hati
(qalbu) untuk tidak membuat rencana dan angan-angan yang
buruk.39
Allah berfirman dalam QS. Ash-Sha>ms (94):
ْ فَأ ْدَق
ىكَز نَم َََل
اَه
٩
Artinya :“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan
jiwa itu” (Q.S Ash-Sha>ms: 9)40
3) Bertanggung jawab
Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur'an surat
At-Tahri>m ayat 6 :
قي
څقۉٰي
أ
ق
ٱ
قۄيق
َ
ٯ
اۊ ۆقماقء
كۊ ق
ا
ہ ك قس ڷن
ق
ث
ه
ق
ثقو
ہ كيقۀ
مرڅقن
ا
څقه لۊ ققو
ٱ
سڅٯن
قو
ٱ
ق
ل
ةقرڅقج
يقۀقع
څقۉ
قلقم
ډقڽقئ
قلقغ
ظ
لاقڙقش
ٯ
ل
عقي
قنۊ ص
ٱ
ق ٯّ
كڅقم
ہ هقڛق
ق
ث
ڷقيقو
قنۊ ۀقع
څقم
ڀ ي
قنو ڛق
٦
Artinya:“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan.”(QS. At-Tahri>m : 6)41
Ayat di atas menjadi dasar untuk meyakinkan bahwa sikap
terhadap diri sendiri adalah prinsip yang perlu mendapat perhatian
sebagai menifestasi dari tanggung jawab terhadap dirinya dalam
bentuk sikap dan perbuatan akhlak yang terpuji.
4) Bersikap pemaaf
Salah satu sifat mahmudah adalah sifat pemaaf dan lawan
daripada sifat ini adalah sifat pemarah dan pendendam. Pemaaf
berarti orang yang rela memberi maaf kepada orang lain. Sikap
pemaaf berarti sikap suka memaafkan kesalahan orang lain
tanpa sedikit pun ada rasa benci dan keinginan untuk
membalasnya. Dalam bahasa Arab sikap pemaaf disebut al-’afw
yang juga memiliki arti bertambah (berlebih), penghapusan,
ampun, atau anugerah.
Pemaaf adalah sifat luhur yang perlu ada pada diri setiap
muslim. Ada beberapa ayat al-Quran dan hadis yang
menekankan keutamaan bersifat itu yang juga disebut sebagai
sifat orang yang hampir di sisi Allah SWT.
Allah Berfirman dalam QS. A<li ’Imra>n (4):
ٱ
قۄيق
َ
ٯ
قنۊ ںقڷۆ ي
قف
ٱ
كاٯ ٯس
قء
قو
ٱ
كاٯ ٯَ
قء
قو
ٱ ل
قك
قَقۃقڮ
ٱ ل
يقغ
قڬ
قوٱ
ل
قَقيڅقع
قۄقع
ٱ
قسڅٯن
قو
ٱ
ٯّ
ٰچق ُ
ٱ
ح ۃ
قَقنقس
٤
Artinya :
“(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai
orang-orang yang berbuat kebaikan.” ( QS. A<li ’Imra>n:134)42
5) Bersikap sederhana
Hidup sederhana berarti membebaskan segala ikatan yang tidak
di perlukan. Berbeda dengan kemiskinan, kesederhanaan
merupakan suatu pilahan, keputusan untuk menjalani hidup
yang berfokus pada apa yang benar-benar berarti. hidup
sederhana adalah hidup yang di sesuaikan dengan kebutuhan
dan tidak berlebihan dalam menggunakan harta yang ada.
c. Akhlak terhadap sesama
1) Husnuz}a>n
Husnuz}a>n secara bahasa berarti “berbaik sangka” lawan katanya
adalah su>’uz}a>n yang berarti berburuk sangka atau apriori dan
sebagainya. Husnuz}a>n adalah cara pandang seseorang yang
membuatnya melihat segala sesuatu secara positif, seorang yang
memiliki sikap husnuz}a>n akan mepertimbangkan segala sesuatu
dengan pikiran jernih, pikiran dan hatinya bersih dari prasangka
yang belum tentu kebenaranya.
Pentingnya husnuz}a>n terhadap sesama manusia, maka
dalam hidupnya akan memiliki banyak teman, disukai kawan, dan
di segani lawan. Husnuz}a>n terhadap sesama manusia juga
merupakan kunci sukses dalam pergaulan, baik pergaulan di
ada pergaulan yang harmonis tanpa adanya prasangka baik antara
satu individu dengan individu lainnya. Dengan begitu hubungan
persahabatan dan persaudaraan menjadi lebih baik, terhindar dari
penyesalan dalam hubungan dengan sesama, dan selalu senang
dan bahagia atas kebahagiaan orang lain.43 2) Tawadhu’
Tawadhu’ secara bahasa adalah "
ْلُل ْذتلا
" ketundukan dan"
ْعُشاَختلا
" rendah hati. Secara terminologis Tawadhu’ adalah
ketundukan kepada kebenaran dan menerimanya dari siapapun
datangnya baik ketika suka atau dalam keadaan marah. Orang
yang tawadhu’ adalah orang yang merendahkan diri dalam
pergaulan dan tidak menampakkan kemampuan yang dimiliki.44 Sesungguhnya orang yang tawadhu’ dan lemah lembut,
keduanya itulah yang mendapatkan ketenangan serta kasih
sayangnya diatas bumi, yang mana kepada saudara-saudara
mereka sesama mukmin mereka berlaku lemah lembut dan penuh
kasih sayang. Sementara kepada orang kafir musuh-musuh Islam
mereka bersikap keras dalam artian tegas.45
3) Tassa>muh (Tenggang Rasa)
Tassa>muh berasal dari kata
َََماَسَتَ ي
–َََماَسَت
yang artinyatoleransi. Tassa>muh berarti sikap tenggang rasa saling
menghormatisaling menghargai sesama manusia untuk
melaksanakan hak-haknya. Kita wajib menghormati karena
manusia dapat merasakan bahagia apabila hidup bersama manusia
lainnmya. Pada hakikatnya, sikap seperti ini telah dimiliki oleh
manusia sejak masih usia anak-anak, namun perlu dibimbing dan
diarahkan.46
Tasamuh dapat menjadi pengikat persatuan dan kerukunan,
mewujudkan suasana yang harmonis, dapat menjalin dan
memperkuat tali silaturrahmi kepada sesama, mempererat tali
persaudaraan dengan semua kalangan, menjalin kasih sayang antar
umat beragama, dan memperoleh banyak kemudahan.
4) Ta’awun (Tolong-menolong)
Ta’awun berasal dari bahasa arab
اًنُواَع
َ ت
-
ُنَواَعَ تَ ي
-
َنَواَعَ ت
yang berarti tolong menolong, gotong royong, atau bantu
membantu dengan sesama. Ta’awun adalah kebutuhan hidup
manusia yang tidak dapat dipungkiri, kenyataan membuktikan
bahwa suatu pekerjaan atau apa saja yang membutuhkan pihak
46 Ibrahim, Membangun Akidah dan Akhlak, (Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2002) h.
lain pasti tidak akan dapat dilakukan sendiri oleh seseorang meski
dia memiliki kemampuan dan pengetahuan tentang hal itu.47
Didunia ini tidak ada orang yang bisa hidup tanpa
bergantung kepada orang lain, sebagai makhluk sosial yang hidup
ditengah-tengah masyarakat, Islam menganjurkan umatnya untuk
saling memperhatikan satu sama lain dengan saling menghormati
tolong menolong dalam kebaikan , berkata sopan , berperilaku
adil dan lain sebagainya. Sehingga tercipta sebuah kelompok
masyarakat yang hidup tentram dan damai. Sebagaimana firman
Allah dalam al-Qur 'an surat Al-Ma>idah: 2
……
قعقتقو
اۊ نقوڅ
ق قَ
ٱ ل
قكقب
قو
ٱ
ںٯت
ىقۊ
ق
لقو
اۊ نقوڅقعقت
ق قَ
ٱ
ق
ل
ث قہ
قوٱ
ل
ڙ ع
قو
قن
قوٱ
اۊ ںٯت
ٱ
ق ٯّ
ٯنقإ
ٱ
ق ٯّ
ڙيقڙقش
ٱ ل
قبڅقںقع
Artinya:“dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kamu kepada Allah,
Sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya” (QS. Al-Ma>idah : 2)48
d. Akhlak terhadap Lingkungan
Manusia diposisikan Allah sebagai khalifah di atas bumi ini dan
hidup ditengah-tengah lingkungan bersama makhluk lain sehingga
sudah menjadi kewajibannya untuk menjaga lingkungan sebagai
makhluk yang memiliki derajat tertinggi dengan akal dan
kemampuannya mengelola alam. Sebagaimana firman Allah dalam
al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 11-12 :
اقمِ
قھيق
ہ ۉق
ق
ل
ڷ ت
او ڙقس
قف
ٱ
ق
ل
ۡ
قض
كۊ څقق
ا
څقۃٯنقإ
ق
ن
ۄ
ص
قنۊ حقۀ
ك
ق
ل
أ
ق
ہ ۉٯنقإ
ہ ه
ٱ
ڷ ۃ
قنو ڙقس
قلقو
ۄقك
ٯ
ل
شقي
قنو ڛ ع
Artinya:“(11) dan apabila dikatakan kepada mereka, "berbuat kerusakan di bumi! ". mereka menjawab: "Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan."
(12) Ingatlah, Sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan,
tetapi mereka tidak menyadari. (QS. Al-Baqarah : 11-12)49
1) Menjaga Kebersihan Lingkungan
Kebersihan lingkungan erat kaitanya dengan masalah
kesehatan. Lingkungan yang bersih adalah lingkungan yang sehat.
Kelalaian dalam menjaga kebersihan lingkungan merupakan awal
dari mewabahnya berbagai penyakit. Banyak wabah penyakit yang
disebabkan oleh lingkungan yang kotor.
Menjaga kebersihan lingkungan dimulai dari kebiasaan
membuang sampah pada tempatnya, sebagimana ajaran mulia yang
menyetarakan membuang sampah dengan sedekah.
2) Memanfaatkan Sumber daya Alam dan Lingkungan secara
Proporsional
Alam sudah menyediakan semua yang dibutuhkan oleh
manusia. Sehingga layaknya manusia tidak boleh mengeksploitasi
sumber daya alam dengan seenaknya. Karena akan mengganggu
keseimbangan kehidupan di alam.
Pemanfaatan sumber daya alam ditentukan berdasarkan
kegunaan sumber daya alam tersebut bagi manusia. Oleh karena
itu, nilai suatu sumber daya alam juga ditentukan oleh nilai
kemanfaatannya bagi manusia.
3) Menyayangi Hewan dan Tumbuhan
Allah SWT menciptakan binatang untuk kepentingan
manusia dan juga menunjukkan kekuasaannya, sebagaimana firman
Allah SWT QS. An-Nu>r : 45:
قوٱ
ٯّ
قڸقۀقخ
ٯ ك
تقل
لډٯب
ۄقكم
كڅٯم
لء
ۆقۃقف
ہ ۉ
ۄٯم
ۃقي
قش
ق قَ
ګقب
قۇقۆ
ۦ
ۆقمقو
ہ ۉ
ۄٯم
ۃقي
قش
ق قَ
جقر
ق َ
قۀ
ۆقمقو
ہ ۉ
ۄٯم
ۃقي
قش
ق قَ
ر
ق
ث
لگقب
قي
ڸ ۀ
ٱ
ٯّ
څقم
كڅ قشقي
ء
ٯنقإ
ٱ
ق ٯّ
ق قَ
ق
ك ك
قش
لء
ڛيقڙقق
٥
Artinya:
“Dan Allah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka
sebagian ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki.
Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. An-Nu>r:
45)50
Betapa banyaknya binatang yang dapat dimanfaatkan oleh
manusia. Ada yang dimanfaatkan tenaganya, air susunya, madunya,
dagingnya dan sebagainya. Oleh sebab itu, tepatlah apabila kita
disuruh untuk memelihara dan menyayangi binatang tersebut.
Sampai-sampai apabila hendak menyembelih binatang ternak, kita
disuruh untuk menggunakan pisau yang sangat tajam supaya
binatang ternak itu tidak lama merasakan sakitnya.
Selain itu, Tumbuhan juga merupakan bagian dari alam yang
merupakan anugerah dari Allah, bukan hanya untuk kehidupan
manusia, namun juga untuk kehidupan binatang-binatang. Sebagian
besar makanan manusia dan hewan tersebut berasal dari
tumbuh-tumbuhan.
Allah SWT berfirman dalam QS. T{a>ha> : 53-54
ٱ
يق
َ
ٯ
قھقعقج
ہ كقل
ٱ
ق
ل
ۡ
قض
ۉق
مڙا
قڻقۀقسقو