• Tidak ada hasil yang ditemukan

VIRG AGAI PENETRATION ENHANCER DALAM NIK RAMBUT EKSTRAK ETANOL-AIR B uccana (L.) Willd) : APLIKASI DESAIN FA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "VIRG AGAI PENETRATION ENHANCER DALAM NIK RAMBUT EKSTRAK ETANOL-AIR B uccana (L.) Willd) : APLIKASI DESAIN FA"

Copied!
150
0
0

Teks penuh

(1)

PREDIKSI KOMPO uccana(L.) Willd) : APLIKASI DESAIN FA

SKRIPSI

iajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat emperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm)

(2)

PREDIKSI KOMPO

OSISI OPTIMUM GLISERIN DANVIRGIN C AGAIPENETRATION ENHANCERDALAM FO

NIK RAMBUT EKSTRAK ETANOL-AIR BIJI ccana(L.) Willd): APLIKASI DESAIN FAKTO

SKRIPSI

ajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat mperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm)

(3)

iii

Persetujuan Pembimbing

PREDIKSI KOMPOSISI OPTIMUM GLISERIN DANVIRGIN COCONUT OIL(VCO) SEBAGAIPENETRATION ENHANCERDALAM FORMULA EMULSI A/M TONIK RAMBUT EKSTRAK ETANOL-AIR BIJI KEMIRI

(Aleurites moluccana(L.) Willd) : APLIKASI DESAIN FAKTORIAL

Skripsi yang diajukan oleh : Octo Rahadian Pius

NIM : 088114149

Telah disetujui oleh :

Pembimbing

(4)
(5)

v

HALAMAN PERSEMBAHAN

Tugas kita bukanlah untuk berhasil

tugas kita adalah untuk mencoba

karena di dalam mencoba itulah,

kita menemukan dan belajar

membangun kesempatan untuk berhasil

-Mario

Teguh-“Kupersembahkan karya kecil ini kepada mereka yang paling kucintai,

kusayangi, dan kuhormati di dunia ini. Mereka yang selalu mencintaiku,

menyayangiku, dan berbagi warna dan cerahnya rona kehidupan denganku serta

menorehkan kuas warna yang indah dalam lukisan perjalanan

hidupku……….”

(6)
(7)

vii PRAKATA

Puji Syukur dan terima kasih penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang atas semua rahmat dan penyertaan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi “Prediksi Komposisi Optimum Gliserin dan Virgin

Coconut Oil (VCO) sebagai Penetration Enhancer dalam Formula Emulsi A/M Tonik Rambut Ekstrak Etanol-Air Biji Kemiri (Aleurites moluccana (L.) Willd): Aplikasi Desain Faktorial” sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana

Farmasi (S. Farm) di Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Selama perkuliahan, penelitian hingga proses penyusunan skripsi, penulis telah mendapatkan bantuan dari berbagai pihak yang berupa dukungan sarana, bimbingan, nasihat, kritik dan saran. Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada :

1. Ipang Djunarko, M. Sc., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Rini Dwiastuti, M. Sc., Apt., selaku dosen pembimbing atas segala kesabaran untuk selalu mendukung, memotivasi, membimbing, dan memberi masukan kepada penulis dalam menyusun skripsi ini.

(8)

viii

4. Yohanes Dwiatmaka, M. Si., selaku dosen penguji yang telah menguji sekaligus memberikan kritik dan saran kepada penulis.

5. Phebe Hendra, M.Si., Ph.D., Apt., atas diskusi, masukan, dan saran dalam penyusunan skripsi.

6. Jeffy Julianus, M. Si., atas diskusi, masukan, dan saran dalam penyusunan skripsi. 7. Semua dosen Fakultas Farmasi yang telah membagikan ilmunya kepada penulis

selama penulis berkuliah di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.

8. Segenap laboran dan karyawan, Pak Musrifin, Pak Parlan, Pak Kayat, Pak Yo, Mas Wagiran, Pak Heru, Pak Parjiman, Pak Katijo, Mas Sigit, Mas Kunto, Mas Bimo, Mas Otok, Mas Agung, Pak Darto, Pak Timbul, dan Pak Yuwono atas bantuan dan kerjasamanya selama penulis melakukan penelitian.

9. Papa, mama, Cik Vina, Adi, dan Aan atas dukungan, kasih sayang dan cintanya. 10. Anna dan Agnes sebagai teman satu tim atas bantuan, kerjasama, canda tawa,

keluh kesah dan dukungannya selama penyusunan skripsi ini.

11. Asti, Dian, Tika, Mariana, Nanda, Noveli, Ellen, Dewi, Dessy, sebagai teman sekerja di Lantai 1 yang telah memberi canda tawa, dan keceriaan selama penyusunan skripsi ini.

12. Gery FKK B, Okky, Kak Linda, Kak Ade, teman-teman Farmasi C 2008 dan FST B 2008. Terima kasih telah menjadi teman yang luar biasa, bekerjasama, berbagi duka serta dukungan yang telah diberikan selama perkuliahan.

(9)

ix

14. Seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak memberikan andil hingga terselesaikannya skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih banyak keurangannya mengingat keterbatasan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki. Oleh sebab itu kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan oleh penulis demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Yogyakarta, 31 Januari 2012

(10)
(11)
(12)

xii

2. Tujuan Khusus ... 6

BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA... 8

A. Rambut ... 8

1. Anatomi dan Fisiologi Rambut ... 8

2. Siklus Pertumbuhan Rambut... 8

B. Kerontokkan Rambut ... 10

C. Kemiri ... 12

1. Keterangan Botani... 12

2. Pertelaan Biji Kemiri... 13

3. Kandungan dan Khasiat ... 13

4. Mekanisme Kemiri dan Perananannya dalam Merangsang Per-tumbuhan Rambut ... 14

D. Penetration Enhancer... 15

E. Tonik Rambut ... 17

F. Emulsi ... 19

G. Sistem HLB... 20

H. Gliserin... 22

I. Virgin Coconut Oil(VCO)... 23

J. Sifat Fisis dan Stabilitas Emulsi... 25

1. Viskositas ... 25

(13)

xiii

3. Stabilitas Emulsi ... 25

a. Creamingatau Sedimentasi... 26

b. Flokulasi... 26

c. Koalesen ... 26

d. Ostwald Ripening... 27

K. Desain Faktorial ... 27

L. Landasan Teori... 29

M. Hipotesis... 31

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 32

A. Jenis Rancangan Penelitian ... 32

B. Varianel Penelitian ... 32

1. Variabel Penelitian ... 32

2. Variabel Tergantung... 32

3. Variabel Pengacau Terkendali ... 32

4. Variabel Pengacau Tak Terkendali ... 32

C. Definisi Operasional... 33

D. Alat dan Bahan Penelitian... 35

1. Alat Penelitian... 35

2. Bahan Penelitian... 35

E. Alur Penelitian ... 36

(14)

xiv

1. Ekstraksi dan Identifikasi Biji Kemiri... 37

a. IdentifikasiEndospermBiji Kemiri ... 37

b. Persiapan dan EsktraksiEndospermBiji Kemiri ... 37

1) PersiapanEndospermbiji Kemiri ... 37

2) EkstraksiEndospermBiji Kemiri ... 37

2. Uji kualitatif Ekstrak Etanol-Air Biji Kemiri ... 38

1) Uji kualitatif Ekstrak Biji Kemiri secara KLT ... 38

2) Uji Kualitatif Ekstrak Biji Kemiri dengan Pereaksi Peng-endapan ... 39

3. Formula Emulsi Tonik Rambut Ekstrak Biji Kemiri ... 39

4. Pembuatan Emulsi Tonik Rambut Ekstrak Biji Kemiri ... 41

5. Uji Tipe Emulsi ... 41

a. Metode Pewarnaaan ... 41

b. Metode Pengenceran ... 41

6. Uji Sifat Fisis Emulsi dan Stabilitas Emulsi Tonik Rambut Eks-trak Etanol-Air Biji Kemiri ... 41

a. Uji Daya Sebar ... 41

b. Uji Viskositas ... 42

c. Uji Persen Pemisahan... 42

d. Uji Mikromeritik (Ukuran Droplet) ... 43

e. Uji Iritasi Primer dengan MetodeDraize test... 43

(15)

xv

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 46

A. Pembuatan Ekstrak Etanol Air Biji Kemiri (Aleurites moluccana(L.) Willd) ... 46

B. Uji Kualitatif Golongan Senyawa Aktif dalam Ekstrak Biji Kemiri ... 48

1. Uji Kualitatif Ekstrak Etanol-Air Biji Kemiri dengan Kromatografi Lapir Tipis (KLT) ... 49

2. Uji Kualitatif Ekstrak Etanol-Air Biji Kemiri dengan Pereaksi Pengendapan ... 51

C. Pembuatan Emulsi Tonik Rambut Ekstrak Biji Kemiri... 52

D. Penentuan Tipe Emulsi ... 55

1. Metode Pewarnaan ... 56

2. Metode Pengenceran ... 57

E. Sifat Fisik dan Stabilitas Tonik Rambut ... 58

1. Viskositas ... 58

2. Daya Sebar ... 60

3. Persen Pemisahan Fase ... 61

4. Karakteristik Ukuran Droplet Selama Penyimpanan 25 Hari ... 62

F. Efek Gliserin, VCO dan Interaksi Keduanya dalam Menentukan Sifat Fisis Emulsi Tonik Rambut... 65

1. Viskositas ... 65

2. Daya Sebar ... 68

(16)

xvi

G. Prediksi Komposisi Optimum Gliserin dan VCO... 74

1. Viskositas ... 74

2. Daya Sebar ... 75

3. Persen Pemisahan Fase ... 76

4. Superimposed contourplot... 77

H. Uji pH dan Iritasi Primer Emulsi Tonik Rambut ... 78

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN... 80

A. Kesimpulan ... 80

B. Saran... 80

DAFTAR PUSTAKA ... 81

LAMPIRAN... 87

(17)

xvii

DAFTAR TABEL

Tabel I. Klasifikasi Surfaktan Berdasarkan Nilai HLB ... 21

Tabel II. Rancangan Desain Faktorial dengan Dua Faktor Dua Level ... 27

Tabel III. Formula Standar Emulsi Tonik Rambut ... 39

Tabel IV. Formula Emulsi Tonik Rambut Ekstrak Kemiri... 40

Tabel V. Formula Emulsi Tonik Rambut Untuk Desain Faktorial ... 40

Tabel VI. Evaluasi Reaksi Iritasi Kulit ... 44

Tabel VII. Kriteria Iritasi ... 44

Tabel VIII. Perhitungan Rf Uji Kualitatif Flavonoid dalam Ekstrak... 49

Tabel IX. Hasil Pengujian Identifikasi Senyawa Alkaloid ... 51

Tabel X. Data Sifat Fisis dan Stabilitas Tonik Rambut ... 58

Tabel XI. Data Profil Uji Viskositas Selama 25 Hari ... 59

Tabel XII. Data Profil Uji Daya Sebar Selama 25 Hari ... 60

Tabel XIII. Data Profil Uji Persen Pemisahan Fase Selama 25 Hari... 61

Tabel XIV. Uji Signifikansi Perubahan Ukuran Droplet setelah 15 Hari... 63

Tabel XV. Uji Signifikansi Perubahan ukuran Droplet setelah 25 Hari ... 63

Tabel XVI. Hasil perhitungan ANOVA Respon Viskositas 48 Jam ... 66

Tabel XVII. Hasil perhitungan ANOVA Respon Daya Sebar 48 Jam ... 69

Tabel XVIII. Hasil perhitungan ANOVA Respon Persen Pemisahan Fase 25 Hari... 72

(18)

xviii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Anatomi Rambut ... 8

Gambar 2. Siklus Pertumbuhan Rambut ... 10

Gambar 3. Biji Kemiri... 13

Gambar 4. BentukEmulsifier... 21

Gambar 5. Struktur Gliserin... 23

Gambar 6. Struktur Beberapa Asam Lemak dalam VCO ... 24

Gambar 7. Skema Ketidakstabilan Emulsi... 27

Gambar 8. Skema Alur Penelitian... 36

Gambar 9. Perbandingan Simplisia Biji Kemiri dengan Biji Kemiri yang sudah dideterminasi ... 47

Gambar 10. Kromatogram KLT untuk Identifikasi Flavonoid ... 49

Gambar 11. Kromatogram KLT untuk Identifikasi Asam Lemak ... 50

Gambar 12. Mekanisme Stabilisasi Emulsi Oleh Kosurfaktan ... 53

Gambar 13. Interaksi molekular Span 80 dan Tween 80 ... 55

Gambar 14. Gambar Emulsi di bawah mikroskop perbesaran 400x setelah penambahan zat warnamethylen blue... 56

Gambar 15. Uji Tipe Emulsi dengan Metode Pengenceran ... 57

Gambar 16. Grafik Hubungan Efek Faktor Gliserin, VCO, dan interaksinya ter-hadap respon viskositas setelah 48 jam pembuatan ... 65

(19)

xix

Gambar 18. Grafik Hubungan Efek Faktor Gliserin, VCO, dan interaksinya

ter-hadap respon persen pemisahan fase 25 hari penyimpanan... 71

Gambar 19.Contour plotViskositas... 74

Gambar 20.Contour plotDaya Sebar... 75

Gambar 21.Contour plotPersen Pemisahan Fase ... 76

(20)

xx

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Data Perhitungan Rendemen Ekstrak dan Perhitungan Rf Uji

Kua-litatif Ekstrak... 88

Lampiran 2. MSDS dari Setiap Bahan yang Digunakan ... 90

Lampiran 3. Data Penimbangan Formula Emulsi Tonik Rambut... 98

Lampiran 4. Notasi Desain Faktorial dan Percobaan Desain Faktorial ... 99

Lampiran 5. Sifat Fisis dan Stabilitas Emulsi Tonik Rambut Ekstrak Etanol-Air Biji Kemiri... 100

Lampiran 6. Perhitungan Efek Sifat Fisik dan Stabilitas Tonik Rambut ... 107

Lampiran 7. Perhitungan Signifikansi Efek dan Persamaan dengan Respon Sifat Fisik dan Stabilitas Tonik Rambut dengan Software R UBUNTU Des_Faktor0.9... 109

Lampiran 8. Perhitungan Uji Iritasi Primer dengan MetodeDraize test ... 112

Lampiran 9. Uji Normalitas dan Profil Kestabilan Sifat fisik dan Stabilitas Tonik Rambut ... 113

(21)

xxi INTISARI

Penelitian mengenai Prediksi Komposisi Optimum Gliserin dan Virgin Coconut Oil (VCO) sebagai Penetration Enhancer dalam Formula Emulsi Tonik Rambut Ekstrak Etanol-Air Biji Kemiri (Aleurites moluccana L. (Willd)) : Aplikasi Desain Faktorial bertujuan untuk mengetahui faktor yang signifikan berpengaruh dalam menentukan sifat fisik dan stabilitas emulsi tonik rambut, serta mengetahui prediksi komposisi optimum Gliserin dan virgin coconut oil yang menghasilkan sifat fisik dan stabilitas tonik rambut yang dikehendaki.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni dengan menggunakan desain faktorial. Evaluasi dilakukan terhadap parameter sifat fisis, (viskositas, daya sebar), dan stabilitas (persen pemisahan fase, dan perubahan ukuran droplet setelah 25 hari penyimpanan). Optimasi dilakukan dengan melihat parameter viskositas, daya sebar dan persen pemisahan fase setelah 25 hari penyimpanan. Analisis data dilakukan dengan Software R UBUNTU 10.04_Des.Faktor-0.9 dengan ukuran signifikan jika p<0,05.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa virgin coconut oil signifikan menentukan viskositas, daya sebar dan persen pemisahan fase sedangkan gliserin dan interaksi gliserin-virgin coconut oil signifikan menentukan persen pemisahan fase setelah 25 hari penyimpanan. Pada superimposed contourplot dapat ditemukan prediksi area komposisi optimum gliserin dan virgin coconut oil yang menghasilkan karakter fisik dan stabilitas tonik rambut ekstrak etanol-air biji kemiri yang dikehendaki terbatas pada level yang diteliti.

(22)

xxii ABSTRACT

The research about Prediction Optimum Composition of Glycerin and Virgin Coconut Oil (VCO) as Penetration Enhancer in Hair Tonic Formula of Etanolic-Water Extract Seed of Aleurites moluccana L. (Willd) : Application of Factorial Design is to determine which of Glycerin, VCO, and their interaction which significantly affects the physical properties and stability, and to determine the optimum composition of Glycerin and VCO which results wanted physical properties and stability.

This research was a pure experimental research using factorial design method. Evaluation in physical characteristic parameter such as viscosity, spreadability, percentage of emulsion disapparate and droplet size distribution shift over 25 days, had been done. Optimization was done toward physical characteristic parameter which covered viscosity, spreadability and percentage of emulsion disapparate. Data were analyzed using SOFTWARE R UBUNTU 10.04_Des.Faktor-0.9.

The result of this research exhibit that VCO significantly affects viscosity spreadability and percentage of emulsion disapparate over 25days. At the superimposed contourplot graphic, there was a prediction of optimum composition area of Glycerin and VCO at the research level, which results wanted physical properties and stability on Hair Tonic based on ethanolic extract of Aleurites moluccana(L.) Willd.

(23)

1 BAB I PENGANTAR

A. Latar Belakang

Rambut merupakan aset yang cukup penting bagi manusia. Selain merupakan pelindung kulit kepala terhadap faktor luar, seperti suhu dingin, panas dan sinar matahari, kini rambut mulai bergeser fungsinya menjadi simbol eksistensi bagi seseorang (Shaker dan Neste, 2001). Merawat rambut dengan shampoo dan conditioner dipandang belum cukup bagi kebanyakan orang. Oleh karena itu, diperlukan sediaan yang lain untuk memaksimalkan perawatan, salah satunya yaitu dengan menggunakan tonik rambut. Sediaan tonik rambut dapat membuat rambut tampak lebih tebal dan berisi sehingga terkesan sehat, indah dan terawat.

(24)

Ekstrak etanol-air biji kemiri yang berfungsi sebagai penumbuh rambut dapat dikembangkan ke dalam suatu bentuk formulasi sediaan farmasi.

Dalam penelitian ini, dipilih bentuk sediaan tonik rambut sebagai alternatif pemanfaatan ekstrak etanol-air biji kemiri, dikarenakan sediaan ini tidak menimbulkan rasa lengket (viskositas relatif rendah dibandingkan dengan sediaan krim ataulotion) serta nyaman saat diaplikasikan di daerah berambut (Allen, 2002).

Sediaan tonik rambut termasuk dalam jenis medicated product, yaitu sediaan yang dapat merawat, mengurangi dan atau untuk menutupi keadaan yang tidak estetis yang disebabkan oleh abnormalitas kulit kepala. Pada sediaan hair loss medicated product, syarat yang harus dipenuhi adalah harus dipastikan bahwa nutrien harus

dapat sampai ke dalam akar rambut (Wilkinson dan Moore, 1982). Struktur kulit terluar kepala mempunyai lapisan yang terkeratinisasi yang mengakibatkan suatu zat sulit untuk berpenetrasi ke dalam sel target (Dehaven, 2007). Oleh karena itu biasanya pada hair loss medicated product sering ditambahkan senyawa penetration enhancer untuk meningkatkan masuknya senyawa aktif ke akar rambut. Salah satu penetration enhancer yang sering dipakai untuk sediaan topikal di kulit kepala adalah virgin coconut oil. Kandungan asam lemak (terutama asam laurat dan oleat) dalam

virgin coconut oil diketahui berpotensi dapat meningkatkan absorpsi perkutan dari bahan aktif (Lucida, 2008).

(25)

efek lubrikasi dan menambah kekentalan sediaan sehingga kontak dengan kulit kepala semakin lama (Sinko, 2006). Namun, pemakaian virgin coconut oil sebagai penetration enhancer tunggal tidak cukup efektif (Lucida, 2008). Selain itu, penambahanvirgin coconut oilterlalu banyak akan dapat menimbulkan kesan lengket dan berminyak di dalam sediaan. Kondisi ini dapat diatasi dengan mengombinasikan virgin coconut oil bersama dengan penetration enhancer lain yang tidak bersifat hidrofil. Gliserin diketahui selain bersifat sebagai penetration enhancer juga merupakan humektan yang kuat dan aman bagi kulit kepala karena mempunyai kemampuan menyerap air hampir sama dengan natural moisturizing factor (NMF) yang merupakan pengikat air alami dalam kulit (Aprilia, 2007). Namun, penambahan gliserin juga perlu diperhatikan, sebab bila penambahannya terlalu banyak maka menimbulkan kesan basah (tacky) dari sediaan.

(26)

penggunaan gliserin dan virgin coconut oil dalam formula tonik rambut perlu diperhatikan komposisinya.

Model rancangan penelitian yang memungkinkan untuk mengevaluasi efek dari gliserin danvirgin coconut oil adalah desain faktorial dengan dua faktor dan dua level. Signifikansi dari setiap faktor dan interaksinya dalam memberikan efek dianalisis menggunakan ANOVA dengan program Software R UBUNTU Des.Faktor_0.9 pada taraf kepercayaan 95%.

Dari uraian di atas, penelitian ini ditujukan untuk melihat efek gliserin dan virgin coconut oil terhadap sifat fisis sediaan emulsi tonik rambut ekstrak etanol-air biji kemiri (Aleurites moluccana (L.) Willd) serta menemukan prediksi area komposisi optimum dari gliserin dan virgin coconut oilyang menghasilkan sifat fisis dan stabilitas sediaan emulsi tonik rambut yang dikehendaki.

1. Perumumusan masalah

a. Manakah di antara faktor gliserin, virgin coconut oil, dan interaksi keduanya yang berpengaruh secara signifikan dalam menentukan sifat fisik dan stabilitas emulsi tonik rambut ekstrak etanol-air biji kemiri?

b. Apakah dapat ditemukan prediksi area komposisi optimum gliserin danvirgin coconut oilpadasuperimposed countour plotyang diprediksi sebagai formula optimum tonik rambut ekstrak etanol-air biji kemiri?

(27)

2. Keaslian Penelitian

Sejauh penelusuran pustaka yang dilakukan penulis, penelitian tentang “Optimasi Gliserin dan Virgin Coconut Oil (VCO) sebagai Penetration Enhancer dalam Formula Emulsi Tonik Rambut Ekstrak Etanol-Air Biji Kemiri (Aleuritus moluccana(L.) Willd) : Aplikasi Desain Faktorial” belum pernah dilakukan.

3. Manfaat penelitian a. Manfaat Teoritis

Menambah informasi bagi ilmu pengetahuan kefarmasian, khususnya dalam bidang formulasi mengenai komposisi gliserin dan virgin coconut oil sebagai penetration enhancer pada sediaan emulsi tonik rambut ekstrak etanol-air biji kemiri (Aleurites moluccana(L.) Willd).

b. Manfaat Metodologis

Menambah informasi dalam bidang kefarmasian mengenai penggunaan desain faktorial dalam mengamati efek gliserin, virgin coconut oil dan interaksinya terhadap sifat fisis dan stabilitas sediaan emulsi tonik rambut ekstrak etanol-air biji kemiri (Aleurites moluccana(L.) Willd).

c. Manfaat Praktis.

(28)

B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum

Tujuan umum dalam penelitian ini adalah membuat sediaan emulsi tonik rambut dari bahan alam, yaitu ekstrak etanol-air biji kemiri.

2. Tujuan khusus

a. Mengetahui manakah di antara gliserin, virgin coconut oil, dan interaksinya yang berpengaruh secara signifikan dalam menentukan sifat fisik dan stabilitas tonik rambut ekstrak etanol-air biji kemiri.

b. Mengetahui prediksi area komposisi optimum gliserin dan virgin coconut oil pada superimposed countour plot yang diprediksi sebagai formula optimum tonik rambut ekstrak etanol-air biji kemiri.

(29)

7 BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A. Rambut

Rambut merupakan benang keratin elastik yang tumbuh dari invaginasi tubular pada epidermis yang disebut dengan folikel beserta kelenjar sebasea yang disebut dengan ‘unit pilobasea’ (Brown dan Burns, 2005). Sembilan puluh persen

dari rambut yang tumbuh di dada ketiak, lengan, dan kaki pada pria adalah rambut terminal, sedangkan pada wanita hanya 45% dari rambut pada daerah yang sama merupakan rambut terminal. Rambut intermediet berada pada kulit kepala dan memiliki morfologi di antara rambut vellusdan rambut terminal. Rambut intermediet memiliki medulla dan mengandung sejumlah pigmen tetapi lebih sedikit daripada pigmen yang terkandung pada rambut terminal (Trancik, 2000).

1. Anatomi dan fisiologi rambut :

Rambut terdiri atas bagian yang terbenam di dalam kulit (akar rambut) dan bagian yang berada di luar kulit disebut batang rambut. Batang rambut adalah bagian dari folikel rambut yang keluar dari epidermis (Shapiro, Rose dan Morgan, 2004).

(30)

lapisan terluar dari batang rambut dan terusun dari 6-10 lapis sel. Sel-sel pada bagian korteks dan kutikula perlahan-lahan akan terkeratinisasi dan akan naik ke permukaan (Shapiro, Rose dan Morgan, 2004).

Struktur rambut terdiri dari sel keratin yang tersusun erat bersama-sama, yang tumbuh keluar dari epidermis. Dermal papilla bertugas untuk menginisiasi siklus rambut baru untuk pertumbuhan rambut normal. Pada bagian ini banyak diproduksi faktor pertumbuhan dan reseptor faktor pertumbuhan yang berperan dalam pertumbuhan rambut. (Shapiro, Rose dan Morgan, 2004).

Gambar 1. Anatomi rambut (Mutsuharmy, 2009).

2. Siklus pertumbuhan rambut

(31)

(fase anagen), kemudian terjadi fase transisi yang dingkat (fase katagen), dan diikuti dengan fase istirahat (fase telogen).

Proses yang terjadi pada masing-masing fase dijelaskan sebagai berikut : 1. Fase anagen menuju fase katagen

Pada akhir periode fase anagen, folikel rambut akan menerima signal untuk memasuki fase katagen. Sel matriks akan berproliferasi dan menghentikan produksi melanin. Dermal papilla berkontraksi dan dilepaskan dari folikel rambut. Bagian tengah folikel akan mengerut dan menjadi club hair. Bagian bawah akan tercabut dari ototerector pilidan meninggalkan berkas tipis sel epitel yang belum berferensiasi (Shapiro, Rose dan Morgan, 2004).

2. Fase katagen ke fase telogen

Fase katagen secara umum berlangsung kurang dari empat minggu sehingga sangat sulit untuk menentukan kapan fase tersebut sudah berahir dan fase telogen telah dimulai. Signal spesifik yang berpengaruh pada transisi fase katagen ke telogen belum dapat dikarakterisasi hingga sekarang (Shapiro, Rose dan Morgan, 2004).

3. Fase telogen ke fase anagen

(32)

sel menjadi hair germ (HG). Dermal papilla dan hair germ berproliferasi dan batang rambut yang baru dibentuk (Shapiro, Rose dan Morgan, 2004).

Siklus pertumbuhaan rambut dipaparkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Siklus Pertumbuhan Rambut (Bio Team Global Moderators, 2011)

B. Kerontokan rambut

(33)

Keadaan kebotakan (alopecia) dapat terjadi bila lepasnya rambut dari kulit kepala melebihi batas normalnya serta berlangsung terus-menerus dalam waktu yang lama. Pendekatan yang dinilai paling efektif untuk mendiagnosis terjadinya kerontokan rambut pada kulit kepala adalah dengan melihat perubahan kerontokan rambut serta dengan memeriksa keadaan kulit kepala (Brown dan Burns, 2002).

Ada 3 jenis alopecia, yaitu telogen effluvium, androgenetic alopecia, dan alopecia areata.

1. Telogen effluvium

Alopecia jenis ini sering ditimbulkan oleh keadaan penyakit berat, tindakan operasi, kecelakaan atau stress. Sejumlah besar rambut tiba-tiba akan berada pada fase telogen) dan akan rontok sekitar 3 bulan kemudian. Pada telogen effluvium, pertumbuhan rambut dapat berlangsung normal kembali secara spontan (Brown dan Burns, 2002).

2. Androgenetic alopecia

(34)

tipis sampai hanya tinggal beberapa rambut vellus dan pada akhirnya terjadi kebotakan (Brown dan Burns, 2002).

3. Alopecia areata

Penyebab terjadinya kelainan ini belum diketahui, kemungkinan karena proses autoimun. Pada alopecia jenis ini, ciri-ciri yang nampak adalah terjadi bercak yang spesifik berbentuk bulan atau oval, kulit biasanya tampak normal walaupun bisa juga didapatkan eritema ringan, serta di beberapa tempat kemungkinan timbul bercak dimakan ngengat. Selain itu, pada alopecia areata akan timbul rambut yang serupa tanda seru (exclamation mark hair) dan rambut-rambut pendek akan semakin menipis ke arah dasar. Bila keadaan ini melanda seluruh kulit kepala, maka disebut degan alopecia totalis sedangkan bila seluruh tubuh terkena maka dipakai istilah alopecia universalis(Brown dan Burns, 2002).

C. Kemiri 1. Keterangan Botani

(35)

2. Pertelaan Biji Kemiri

Biji berusuk atau beralur, diameter + 3,5 cm dan berdaging (Hutapea, 1993). Biji sangat keras, hitam karena penyerbukan. Biji mengandung minyak kuning bening dan berlemak, baunya enak (Dharma, 1985).

Gambar 3. Biji kemiri (Balai Taman Nasional Alas Purwo, 2011)

3. Kandungan dan Khasiat :

(36)

4. Biji Kemiri dan Peranannya dalam Merangsang Pertumbuhan Rambut Senyawa yang diduga dapat memacu pertumbuhan rambut di alam biji kemiri adalah senyawa flavonoid, alkaloid dan asam lemak. Selain itu juga terdapat senyawa sterol dan saponin. Dari hasil elusidasi struktur yang dilakukan oleh Leliqia (2003), senyawa flavonoid yang terkandung dalam biji kemiri merupakan golongan aglikon flavonoid yaitu isoflavon yang tak mengandung 5-OH bebas dengan gugus metil dan metoksi dan kemungkinan memiliki gugus hidroksil pada posisi 6 atau 8 atau pada keduanya dan pada cincin B.

Flavonoid memiliki fungsi menguatkan kapiler degan mengoreksi gangguan pada kapiler serta meningkatkan fragilitas kapiler sehingga aliran darah pada kulit kepala meningkat. Di samping itu flavonoid memiliki efek dapat menghambat bakteri, bakterisid, dan antivirus sehingga mencegah kerontokan rambut akibat bakteri atau virus (Sariasih, 1996). Isoflavon dalam biji kemiri diketahui dapat memblok terbentuknya DHT dari testosteron oleh 5-alfa-reduktase sehingga mencegah terjadinya pengecilan folikel rambut (Trancik, 2000).

Dari hasil analisis Amalia (2003), fraksi etil asetat esktrak etanol biji kemiri mengandung senyawa pirimidin-2,4-dion; 6-amino-(5-(4-karboksimetoksi) benzimidoil-1,3-dibutil; piperidin; 1,1’(1,1’-bifenil-4,4’-dibikarbonil)bis6,8-dimetil-7-oxo-2,3,7,8tetrahidroimidazo 1,2-apirimidin; sipro-5-imidazolinon-4,4-piperidin, 1’-4,4difluoro-4-p-fluoro eugenol atau yang termodif gugus lain.

(37)

pertumbuhan rambut menjadi banyak sehingga akan memperbesar batang rambut dan meningkatkan pertumbuhan rambut (Dwiwahyuni, 2001).

Dari hasil analisis yang dilakukan oleh Julaiha (2003) menggunakan kromatografi gas cair, asam lemak jenuh yang terkandung dalam kemiri yaitu asam palmitat dan asam arakidat, asam lemak tak jenuh yaitu asam oleat dan linoleat serta sterol dan triterpena bebas. Zat lemak dan sterol akan menembus stratum korneum, difusi melintasi lipid di dalam polibasea. Zat lemak akan diolah di papilla rambut sebagai nutrisi untuk pertumbuhan rambut. Sterol mempercepat pertumbuhan rambut dengan menstimulasi kelenjarsebasea. Kandungan asam lemak tak jenuh yang tinggi berfungsi sebagai emollient pada kulit sehingga lemak dan sterol dapat berdifusi dnegan cepat melintasi stratum korneum. Akibatnya, lemak dan sterol dapat segera mencapai glandulasebaseadan segera dimanfaatkan untuk pertumbuhan rambut.

D. Penetration Enhancer

(38)

komposisi dari pembawa untuk meningkatkan kelarutan obat atau dengan mengubah permeabilitas kulit sehingga mudah ditembus (Pereira, 2002).

Ada beberapa senyawa yang bertindak sebagaipenetration enhancer, yaitu : 1. Golongan alkohol dan glikol.

Alkohol rantai pendek (C2-C5) dan senyawa golongan glikol dapat

meningkatkan absorpsi, khususnya absorpsi molekul polar. Senyawa ini bertindak dengan cara meningkatkan fluiditas dari lapisan lipid pada stratum korneum dengan berinteraksi dengan protein stratum korneum.

2. Asam lemak dan esternya

Sejumlah besar asam lemak sudah secara luas diteliti untuk meningkatkan permeasi sediaan transdermal. Asam lemak tidak jenuh dilaporkan lebih aktif daripada asam lemak yang jenuh. Mekanisme aksi dari asam lemak adalah meningkatkan kelarutan dari obat, meningkatkan partisi obat, meningkatkan penetrasi pelarut dan mengubah strukturbarrierkulit.

3. Terpene

Terpene diketahui dapat meningkatkan permeasi perkutan dari obat hirofilik maupun yang bersifat hidrofob. Terpene yang bersifat polar ternyata diketahui dapat meningkatkan permeasi dari senyawa polar dan sebaliknya. 4. Amina dan amida

(39)

banyak diteliti karena dapat meningkatkan permeasi dari obat dalam spektrum luas (Rosen, 2005).

E. Tonik Rambut

Tonik rambut adalah sediaan yang mengandung bahan-bahan yang diperlukan oleh rambut, akar rambut, dan kulit kepala dan digunakan untuk mempercepat pertumbuhan rambut, mengurangi minyak ataupun mengatasi kulit kepala yang kering dan mencegah ketombe (Trenggono, 1992).

Ada dua macam jenis tonik, yaitu medicated product dan conditioner. Medicated productadalah tonik yang ditujukan untuk mengatasi masalah yang terjadi pada rambut dan kulit kepala, sedangkan conditioner lebih ditujukan untuk meningkatkan, dan menjaga kondisi rambut (Wilkinson dan Moore, 1982).

Hair loss medicated productbekerja dengan mekanisme di bawah ini, yaitu : 1. Meningkatkan fase anagen dari rambut

2. Meningkatkan produksi folikel baru ataumultiplefolikel baru 3. Memperpanjang fase anagen atau memperpendek fase telogen 4. Mencegah atau menunda fase telogen

5. Menginisiasi fase anagen pada folikel rambut pada fase telogen (Wilkinson dan Moore, 1982).

(40)

Defisiensi nutrien yang diakibatkan oleh rendahnya aliran darah dapat disebabkan oleh pengaruh hormonal, misalnya adanya metabolit dari testosterone (5α-dihydrotes-tosterone). Sediaan yang digunakan sebagai anti-hairloss biasanya mengandung senyawa iritan, rubefacient dan bahan-bahan yang dapat meningkatkan suplai darah untuk meningkatkan nutrien ke dalam rambut (Wilkinson dan Moore, 1982).

Penetrasi senyawa aktif dalam tonik rambut diperkirakan melalui dua mekanisme, yaitu melalui intercellular lipids dan intrafollicular pathway. pada mekanisme intercellular pathway, senyawa asam lemak dalam virgin coconut oil bekerja dengan menstabilkan intercellular lipids melalui efek fluidization dan mengurangi resistansi difusi padalipid bilayer. Hal ini menyebabkan terjadinya celah di antara lipid bilayer dan senyawa aktif akan lebih mudah masuk ke akar rambut. Pada kulit yang normal efek dari pengubahan lipid bilayer ini bersifat reversibel (Dayan, 2005).

(41)

F. Emulsi

Emulsi adalah sistem dispersi yang terdiri dari 2 cairan yang tidak saling campur, dimana salah satu fase terdispersi di dalam fase yang lain dan biasanya terdiri dari air dan minyak. Jika air yang merupakan fase kontinyu, maka disebut sistem emulsi minyak dalam air (M/A) dan ketika fase kontinyu adalah minyak, maka disebut emulsi air dalam minyak (A/M) (Aulton dan Diana, 1991).

Uji penentuan tipe emulsi dilakukan untuk memastikan apakah emulsi yang dibuat merupakan tipe M/A atau tipe A/M. Uji yang dapat dilakukan adalah :

1. Miscibility test :emulsi M/A dapat bercampur dengan air dan tipe A/M dapat bercampur dengan minyak.

2. Conductivity measurement : Emulsi dengan fase kontinyu air dapat menghantarkan listrik, sedangkan emulsi dengan fase kontinyu minyak tidak. 3. Stanning test : Menggunakan pewarna yang larut air atau minyak, dimana

salah satunya akan terlarut dan mewarnai fase kontinyu (Billany, 2002). Dalam pembuatan suatu emulsi terdapat teori yang menyangkut proses terbentuknya emulsi yang stabil, yaitu :

1. Teori Tegangan Permukaan atauSurface Tension Theory

(42)

masing-masing cairan, sehingga stabilitas emulsi tetap baik secara fisik maupun kimia (Ansel dan Popovich, 1989).

2. Oriented Wedge Theory

Teori ini menyatakan bahwa lapisan monomolekular dari zat pengemulsi melingkari suatu tetsan dari fase dalam emulsi. Teori tersebut beranggapan bahwa zat pengemulsi tertentu mengarahan dirinya di sekitar sistem yang mengandung dua cairan yang tidak saling campur, dimana zat pengemulsi akan lebih larut dalam salah satu fase dibandingkan dengan fase lainnya. Untuk zat pengemulsi yang memiliki karakteristik hidrofilik yang besar daripada sifat hidrofobiknya akan membentuk suatu emulsi M/A, sedangkan bila zat pengemulsi bersifat lebih hidrofobik maka membentuk emulsi tipe A/M (Ansel dan Popovich, 1989).

3. Teori Lapisan Antarmuka atauPlastic Film Theory

Teori ini menempatkan zat pengemulsi pada antarmuka antara minyak dan air, mengelilingi tetesan fase dalam sebagai suatu lapisan tipis atau film yang diadsorbsi pada permukaan dari tetesan tersebut yang akan mencegah terjadinya kontak atau berkumpulnya kembali tetesan kecil itu menjadi tetesan yang lebih besar (Ansel dan Popovich, 1989).

G. Sistem HLB (HydrophileLipophile Balance)

(43)

hidrofil. Atas dasar efisiensi, sistem HLB dibuat skala 1-20. Semakin lipofil suatu surfaktan, semakin rendah nilai HLB-nya (Voigt, 1994).

Tabel I. Klasifikasi surfaktan berdasarkan nilai HLB (Kim, 2004)

HLB Penggunaan Dispersibilitas di air

1-3 Antifoaming agent Tidak

3-6 W/O emulsifying agent Jelek

7-9 Wetting agent Dispersi seperti susu yang bersifat tidak stabil

8-16 O/W emulsifying agent Dispersi seperti susu bersifat stabil

13-15 Detergens Dispersi translucent

15-18 Solubilizing agent Larutan jernih

Untuk menghasilkan emulsi yang stabil, emulsi harus disesuaikan dengan nilai required HLB sistem. Nilai rHLB merupakan nilai HLB yang dibutuhkan oleh sistem yang mengandung fase minyak dalam jumlah tertentu. Nilai rHLB dari VCO adalah 6,0 (Yusvita, 2010).

Gambar 4. Bentuk emulsifier (a); emulsi Oil in Water (b); Emulsi Water in Oil (c); Emulsifier dengan emulsifier ganda (d) (Leyden, James dan Rawlings, 2002)

(44)

tersebut. Emulsifier2 memiliki afinitas yang lebih kuat terhadap minyak daripada air (HLB 5-12) dan dapat memberikan kontribusi molekul yang lebih banyak per unit area. Emulsifier3 akan secara cepat membentuk emulsi minyak dalam air (HLB 1-5) (Leyden, James dan Rawlings, 2002).

Kombinasi lebih dari 1 emulsifier dapat membentuk jumlah emulsifier yang lebih banyak per surface unit areadari droplet. Gambar 4b menggambarkan susunan emulsifier di dalam emulsi minyak dalam air. Gambar 4c menggambarkan susunan emulsifier pada emulsi air dalam minyak. Gambar 4d merupakan gambar yang menunjukkan konsep penggunaan emulsifier ganda dengan nilai HLB yang lebih tinggi untuk menstabilkan emulsi (Leyden, James dan Rawlings, 2002).

H. Gliserin

Gliserin merupakan cairan jernih seperti sirup, tidak berwarna, rasa manis, berbau khas lemah, higroskopis dan netral terhadap lakmus (Ditjen POM, 1995). Gliserin dapat menyebabkan plasticizing pada stratum korneum dengan memecah ikatan hidrogen antara gugus bersebelahan pada lipid lamellar sehingga menyebabkan lisisnya korneodesmoson di dalam matriks ekstraseluler. Hal ini menunjukkan bahwa gliserin merupakan bahan korneodesmolitik yang nyata dan dapat meningkatkan efektifitas deskuamasi untuk memperbaiki kulit kering dan bersisik (Rawlingset al., 2002).

(45)

1992). Sebagaipenetration enhancer, gliserin biasa digunakan dalam konsentrasi 0,1-20% (Stinchcomb dan Banks, 2010).

MenurutMaterial Safety Data Sheet,gliserin memiliki potensial efek terhadap kesehatan dan sifat fisika kimia. Potensi efek terhadap kesehatan (identifikasi bahaya) pada gliserin yaitu gliserin diharapkan tidak dapat menyebabkan iritasi mata dan tidak menyebabkan iritasi kulit secara serius pada kulit, pernafasan dan pengecapan (Science Lab, 2009). Sifat fisika kimia dari gliserin menurut Material Safety Data Sheet yaitu berbentuk cairan kental; tidak berbau; berasa manis; tidak berwarna; mempunyai titik didih 290°C (554°F); mempunyai titik leleh 19°C (66,2°F); berat jenis 1,2636; larut dalam air dingin, air panas dan alkohol. Sebagian larut di aseton. Sangat tidak larut pada dietileter. Praktis tidak larut pada etil asetat dan tidak larut pada CCl4, benzene, kloroform, petroleum eter dan minyak (Science Lab, 2009).

Gambar 5. Struktur Gliserin (Ditjen POM RI, 1995)

I. Virgin Coconut Oil(VCO)

(46)

lemak jenuh (92%) yang utamanya terdiri dari asam laurat (Rowe et al., 2009). Asam-asam lemak tersebut antara lain asam kaprilat (8%), asam oleat (2,5%), asam miristat, asam kaprat (7%), asam palmitat, asam laurat (48%-53%), dan asam stearat. VCO aman dan efektif digunakan sebagai emolien (Bawalan dan Chapman, 2006). Virgin coconut oil dapat digunakan sebagai penetration enhancersampai konsentrasi 40% (Lucida, 2008).

(47)

J. Sifat Fisis dan Stabilitas Emulsi 1. Viskositas

Viskositas adalah suatu pernyataan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir, sehingga semakin tinggi viskositas akan semakin besar tahanannya. Ukuran droplet yang kecil akan semakin menaikkan viskositas. Semakin luas distribusi ukuran droplet maka akan semakin rendah viskositasnya dibandingkan dengan emulsi yang dengan ukuran droplet yang distribusinya lebih sempit (Martinet al., 1993).

Semakin besar konsentrasi fase dalam maka konsentrasi fase kontinyu akan berkurang sehingga konsentrasi fase akan semakin besar, menyebabkan viskositas emulsi akan meningkat. Namun seiring dengan semakin besarnya konsentrasi fase dalam maka akan semakin tidak stabil emulsi (Mollet dan Grubenmann, 2001).

2. Daya sebar

Daya sebar memiliki hubungan dengan sudut kontak tiap tetes cairan atau preparasi semipadat yang berhubungan dengan koefisien friksi. Faktor yang mempengaruhi daya sebar adalah kaku tidaknya formula, laju dan waktu tekanan yang menghasilkan kelengketan, serta suhu pada tempat aksi. Kecepatan penyebaran bergantung pada viskositas formula, kecepatan evaporasi pelarut dan kecepatan peningkatan viskositas karena evaporasi (Garg, Aggrawal, Garg, dan Singla, 2002). 3. Stabilitas Emulsi

(48)

Secara umum, terdapat empat macam ketidakstabilan emulsi, yaitu : a. Creamingatau sedimentasi

Creaming adalah pemisahan emulsi menjadi dua bagian, dimana bagian yang satu memiliki fase dispers lebih banyak dari bagian yang lain. Peningkatan creaming sangat memungkinkan terjadinya koalesen dari droplet karena keduanya sangat berhubungan erat. Emulsi yang mengalami creaming terlihat tidak elegan dan jika emulsi tidak digojog secara cukup ada kemungkinan pasien tidak mendapat dosis yang benar (Aulton, 2002). Pada emulsi A/M, suatu lapisan bawah akan terbentuk akibat sedimentasi droplet air (Eccleston, 2007).

b. Flokulasi

Flokulasi adalah suatu peristiwa penggabungan droplet emulsi yang lemah dan bersifat reversible dimana masih terdapat suatu lapisan film dari fase kontinyu. Penggabungan ini meningkat karena adanya interaksi gaya tarik-menarik dan tolak-menolak antara droplet-droplet dan bersifat reversiblebila diberi pengadukan ringan. Flokulasi biasanya menjadi awal indikasi terjadinya koalesen (Eccleston, 2007). c. Koalesen

(49)

d. Oswald Ripening

Oswald ripening cenderung terjadi pada emulsi yang bersifat polidispers. Ukuran droplet pada emulsi akan semakin besar karena droplet berukuran besar bergabung menjadi droplet yang berukuran lebih besar dan droplet yang berukuran lebih kecil akan menjadi semakin kecil (Eccleston, 2007).

Skema Ketidakstabilan emulsi disajikan oleh gambar di bawah :

Gambar 7. Skema ketidakstabilan emulsi (Malmsten, 2002)

Uji yang biasa dilakukan untuk melihat kestabilan emulsi adalah uji makroskopik (indeks creaming); uji mikroskopik (analisis ukuran droplet) dan melihat perubahan viskositas (Aulton and Diana, 1991).

K. Desain Faktorial

(50)

secara simulasi efek dari beberapa faktor dan interaksinya yang signifikan. Signifikan berarti bila ada perubahan dari level rendah ke level tinggi pada faktor-faktor maka akan menyebabkan terjadinya perubahan yang besar pada respon (Bolton, 1990).

Pada desain faktorial dua level dan dua faktor diperlukan empat percobaan (2n = 4, dengan 2 menunjukkan level dan menunjukkan faktor), yaitu (1) A dan B masing-masing pada level rendah, (a) A pada level tinggi dan B pada level rendah, (b) A pada level rendah dan B pada level tinggi, serta (ab) A dan B masing-masing pada level tinggi (Bolton, 1990).

Persamaan umum dari desain faktorial adalah sebagai berikut : Y = b

0+ b1XA+ b2XB+ b12XAXB (1)

Dengan : Y = respon hasil atau sifat yang diamati X

A, XB = level bagian A dan B.

b

0, b1, b2, b12 = koefisien, dapat dihitung dari hasil percobaan

Tabel II. Desain Faktorial dengan Dua level dan Dua Faktor

Formula Faktor A Faktor B Interaksi

(1) - - +

(51)

Dari persamaan (2) dan data yang diperoleh dapat dibuat contour plot suatu respon tertentu yang sangat berguna dalam memilih komposisi campuran yang optimum (Bolton, 1990).

L. Landasan Teori

Rambut merupakan bagian yang penting bagi seseorang karena berhubungan dengan kepercayaan dirinya. Merawat rambut tidak cukup hanya dengan shampoo dan conditioner saja tetapi juga diperlukan sediaan lain seperti tonik rambut. Tonik rambut membuat kesan rambut tampak tebal dan berisi. Masyarakat pedalaman biasanya menggunakan biji kemiri sebagai perangsang tumbuhnya rambut dengan cara menggerusnya dengan air dan berbentuk seperti emulsi. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat komponen senyawa polar yang terlarut dalam fase air dan komponen nonpolar yang terdapat dalam minyak kemiri. Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol-air biji kemiri mengandung alkaloid, flavonoid dan asam lemak yang mempunyai fungsi untuk meningkatkan fragilitas kapiler, meningkatkan nutrisi batang rambut serta mencegah terbentuknya metablit DHT dari testosteron.

Ekstrak etanol-air biji kemiri tidak cukup nyaman bila diaplikasikan langsung pada kulit kepala, sehingga perlu dilakukan formulasi menjadi bentuk sediaan, dalam hal ini adalah tonik rambut. Sediaan ini tidak lengket saat diaplikasikan di daerah berambut seperti sediaan krim ataulotionserta mudah dalam penggunaannya.

(52)

formula tonik rambut biasanya ditambahkan penetration enhancer untuk memfasilitasi zat aktif masuk ke akar rambut. Salah satupenetration enhancer alami yang sering dipakai adalahvirgin coconut oil. Namun, penambahanvirgin coconut oil yang terlalu banyak dalam formula akan dapat menimbulkan kesan lengket dan berminyak. Kondisi ini dapat ditutupi dengan mengombinasikan virgin coconut oil denganpenetration enhanceryang bersifat hidrofilik, yaitu gliserin. Sifat higroskopis dari lapisan film gliserin dapat menjaga kelembaban kulit kepala saat tonik rambut dioleskan. Gliserin bersifat polar sedangkan virgin coconut oil bersifat nonpolar, sehingga untuk memformulasikannya dibentuk menjadi sediaan emulsi.

Komposisi virgin coconut oil dan gliserin harus diperhatikan, karena jika terlalu banyak virgin coconut oil membuat tonik rambut menjadi viscous dan berminyak, sedangkan jika terlalu banyak penambahan gliserin maka akan terkesan basah (tacky). Peningkatan virgin coconut oil dalam formula akan menambah viskositas formula karena adanya kandungan asam lemaknya sehingga juga menurunkan daya sebar tonik rambut. Peningkatan gliserin akan meningkatkan daya sebar dengan cara menangkap lembab dari luar. Sifat higroskopis dari gliserin akan membuat droplet-droplet fase air akan bergabung membentuk droplet yang lebih besar sehingga akan terjadicreamingdan peningkatan ukuran droplet.

(53)

interaksinya dalam memberikan efek dapat teridentifikasi dengan menggunakan ANOVA Software R UBUNTU Des.Faktor_0.9 pada taraf kepercayaan 95%.

L. Hipotesis

1. Di antara gliserin,virgin coconut oil, dan interaksi gliserin danvirgin coconut oil, ada yang berpengaruh signifikan terhadap sifat fisis dan stabilitas tonik rambut ekstrak etanol-air biji kemiri.

2. Dapat ditemukan prediksi area komposisi optimum dari gliserin dan virgin coconut oil sebagai penetration enhancer terbatas pada level yang diteliti yang memenuhi parameter sifat fisik dan stabilitas yang dikehendaki.

(54)

32 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan rancangan eksperimental murni dengan variabel eksperimental ganda dan bersifat eksploratif dengan menggunakan desain faktorial.

B. Variabel Penelitian 1) Variabel Bebas

Komposisi gliserin dan virgin coconut oil sebagai penetration enhancer dalam level rendah dan level tinggi.

2) Variabel Tergantung

Sifat fisik tonik rambut (viskositas dan daya sebar), stabilitas tonik rambut (pergeseran ukuran droplet dan persen pemisahan fase selama 25 hari penyimpanan).

3) Variabel Pengacau Terkendali

Alat percobaan, wadah penyimpanan, lama penyimpanan emulsi tonik rambut, lama dan kecepatan pencampuran.

4) Variabel Pengacau Tak Terkendali

(55)

C. Definisi Operasional

1. Tonik rambut ekstrak kemiri adalah suatu sediaan kosmetik yang diaplikasikan pada kulit kepala yang berbentuk cairan untuk memberikan nutrisi pada rambut yang dibuat dari ekstrak etanol-air endosperm biji kemiri dengan menggunakan gliserin dan virgin coconut oilsebagai penetration enhancer sesuai formula yang telah ditentukan dan dibuat sesuai prosedur pembuatan pada penelitian ini.

2. Ekstrak biji kemiri adalah ekstrak cair dariendospermbiji kemiri kupas utuh yang diekstraksi dengan pelarut etanol 70 % kemudian dipekatkan dengan vacuum rotary evaporatorhingga volume akhir + 10%.

3. Penetration enhancer adalah substansi yang dapat memfasilitasi absorpsi penetrasi melalui kulit dengan mengurangi impermeabilitas dari kulit secara sementara, dalam hal ini adalah gliserin danvirgin coconut oil.

4. Desain faktorial adalah desain penelitian yang dapat digunakan untuk mengevaluasi efek dari 2 faktor secara simultan.

5. Faktor adalah besaran yang mempengaruhi respon, dalam penelitian ini digunakan 2 faktor, yaituvirgin coconut oil(Faktor A) dan gliserin (Faktor B). 6. Level adalah nilai atau tetapan untuk faktor. Dalam penelitian ini, level rendah

gliserin adalah 10 gram dan level tinggi 20 gram. Level rendahvirgin coconut oil adalah 20 gram dan level tinggivirgin coconut oiladalah 30 gram.

(56)

8. Stabilitas tonik rambut adalah parameter untuk mengetahui tingkat kestabilan emulsi tonik rambut, dalam penelitian ini meliputi persen pemisahan fase serta signifikansi perubahan ukuran droplet setelah penyimpanan 25 hari.

9. Viskositas adalah hambatan emulsi untuk mengalir setelah adanya pemberian gaya. Kriteria viskositas yang dikehendaki adalah 0,1-1 dpAs.

10. Daya sebar tonik rambut adalah diameter penyebaran emulsi tonik rambut pada lempeng plat selama 1 menit yang diberi beban plat kaca seberat 61,0288 gram. Kriteria daya sebar yang dikehendaki adalah 6-8 cm.

11. Persen pemisahan fase adalah persentase emulsi yang memisah pada tabung berskala yang dibandingkan terhadap volume total emulsi semula. Kriteria persen pemisahan fase yang dikehendaki adalah kurang dari 5%.

12.Contour plot adalah grafik yang digunakan untuk memprediksi area optimum berdasarkan satu parameter tonik rambut.

13.Superimposed contour plotadalah grafik yang digunakan untuk memprediksi area optimum formula berdasarkan semua parameter tonik rambut. Diperoleh dari memilih area pada masing-masing contour plot sifat fisis tonik rambut kemudian digabung menjadi satu grafik.

(57)

D. Alat dan Bahan Penelitian

1. Alat Penelitian

Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah alat-alat gelas (Pyrex-Japan), timbangan (METTLER TOLEDO GB3002 - Switzerland),vaccum rotary evaporator (Janke-Kulken), waterbath (Tamson Zoetermeer-Holland 1985 0023), Viskometer seri VT-04 (RION-JAPAN), alat uji daya sebar, seperangkat alat KLT, lampu UV 366 nm, dan kamera moticam 1000 piksel 1,3 M.

2. Bahan Penelitian

(58)

E. Alur Penelitian

Gambar 8. Skema Alur Penelitian

Ekstraksi dan Identifikasi Ekstrak Biji Kemiri : - Identifikasi bahan

- Persiapanendospermbiji kemiri - Ekstraksiendospermbiji kemiri

- Uji kualitatif Ekstrak Menggunakan KLT dan Pereaksi Pengendap

Pembuatan Tonik Rambut Ekstrak Etanol-air Biji Kemiri dengan Variasi Jumlah Gliserin danVirgin Coconut Oil(VCO)

1. Pencampuran fase I (ekstrak biji kemiri, Span 80, VCO, BHT) selama 5 menit denganpropeller mixerkecepatan putar no.5 pada suhu 35oC 2. Pencampuran fase II (Tween 60, gliserin, etanol, aquadest) selama 5

menit denganpropeller mixerkecepatan putar no.5 pada suhu 35oC 3. Fase I dan II dicampur denganpropellar mixerkecepatan angka putar

no.5 selama 10 menit pada suhu 35oC kemudian di homogenizer selama 3 x 1 menit

Uji Sifat Fisik dan Stabilitas Emulsi Tonik Rambut

1. Uji sifat fisik meliputi viskositas, uji daya sebar setelah 48 jam setelah pembuatan.

2. Uji tipe emulsi dengan metode pewarnaan dan pengenceran

3. Uji stabilitas meliputi mikromeritik dan persen pemisahan fase pada hari ke-2, ke-15, dan ke-25.

4. Uji iritasi primer:

Dilihat apakah terjadi reaksi kulit (oedem dan eritema) pada kulit yang diberi tonik rambut

Analisis data viskositas, daya sebar, persen pemisahan fase dengan Software R UBUNTU Des.Faktor-0.9 untuk melihat nilai signifikansinya

dan dibuatsuperimposed contour plotyang merupakan gabungan dari ketigacontour plotmeliputi viskositas, daya sebar dan persen pemisahan

(59)

F. Tata Cara Penelitian

1) Ekstraksi dan Identifikasi Ekstrak Etanol-Air Biji Kemiri 1) IdentifikasiEndospermBiji Kemiri

Endosperm biji kemiri yang digunakan dalam penelitian diamati ciri-ciri fisiknya yang meliputi panjang, lebar, bentuk warna dan kandungan minyak yang dihasilkan kemudian dibandingkan dengan ciri-ciri fisik endosperm biji kemiri yang berasal dari tanaman kemiri kebun obat Fakultas Farmasi USD yang telah dideterminasi. Kesesuaian ciri-ciri fisik menunjukkan adanya kesamaan jenis dan kebenaran sampel bahan yang digunakan dalam penelitian.

2) Persiapan dan EkstraksiEndospermBiji Kemiri 1) PersiapanEndospermBiji Kemiri

Endosperm biji kemiri diperoleh dari Pasar Beringharjo. Endosperm biji kemiri yang digunakan dalam proses ekstraksi dipastikan memenuhi persyaratan yang ditetapkan, yaitu berwarna coklat kekuningan, bersih dan tidak terdapat jamur (pengamatan secara makroskopik). Endosperm biji kemiri yang terkumpul kemudian diserbuk dengan menggunakan alat penumbuk.

2) EkstraksiEndospermBiji Kemiri

(60)

putaran 200 rpm. Setiap kali pengadukan dilakukan selama 12 menit tiap 2 jam, kemudian disaring. Ampas direndam lagi dengan pelarut yang sama sebanyak 4 L kemudian didiamkan selama 2 hari dan disaring. Kedua filtrat dicampur lalu diuapkan dengan vaccum rotary evaporatorsampai didapatkan ekstrak kental biji kemiri. Penguapan pelarut dilakukan sampai tersisa volume akhir ekstrak + 10% dan diperoleh ekstrak berwujud dua lapis, dimana terdiri dari fase minyak berwarna kuning tua dan fase air berwarna kuning jernih. 3) Uji Kualitatif Ekstrak Etanol-Air Biji Kemiri

Ekstrak etanol biji kemiri ditimbang sebanyak 10,00 g, kemudian dilarutkan dalam 10,0 mL etanol 50%. Kemudian dilakukan fraksinasi dengan menggunakan petroleum eter sebanyak 20,0 mL. Fraksi petroleum eter (lapisan atas) digunakan dalam analisis kualitatif kandungan asam lemak. Sisa fraksinasi difraksinasi kembali dengan menggunakan etil asetat sebanyak 20,0 mL, sehingga didapatkan fraksi etil asetat (lapisan atas). Fraksi etil asetat digunakan untuk uji kualitatif senyawa flavonoid dan alkaloid.

1) Uji Kualitatif Dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

Analisis kualitatif senyawa flavonoid dilakukan dengan sistem kromatografi lapis tipis (KLT) sebagai berikut :

Fase diam : plat selulosa Fase gerak : asam asetat 15%

(61)

Analisis kualitatif senyawa asam lemak dilakukan dengan sistem kromatografi lapis tipis (KLT) sebagai berikut :

Fase diam : plat silika gel GF60

Fase gerak : petroleum eter : dietil eter : asam asetat (90:10:1) Deteksi : uap iodium

2) Uji Kualitatif dengan Pereaksi Pengendapan

Analisis kualitatif senyawa alkaloid dilakukan dengan memipet 2 mL fraksi etil asetat pada drupple plate kemudian ditetesi dengan pereaksi Dragendorff. Uji dilakukan sebanyak enam kali untuk memastikan benar-benar kandungan senyawa alkaloid dalam ekstrak.

3. Formula Emulsi Tonik Rambut Ekstrak Etanol-Air Biji Kemiri

Formula standar yang digunakan sebagai tonik rambut mengacu pada (Parikh dan Ciotti, 2009) dengan formula sebagai berikut :

Tabel III. Formula Standar Emulsi Tonik Rambut

(62)

Formula setelah penyesuaian untuk 200 gram adalah :

Tabel IV. Formula Emulsi Tonik Rambut Ekstrak Etanol-Air Biji Kemiri

Bahan Jumlah (g)

Dari desain penelitian di atas diperoleh komposisi setiap bahan pada masing-masing formula (200 g) sebagai berikut :

Tabel V. Formula Emulsi Tonik Rambut Untuk Rancangan Desain Faktorial

Bahan F1 Fa Fb Fab

Ekstrak biji kemiri 10,00 g 10,00 g 10,00 g 10,00 g

Virgin coconut oil 20,00 g 30,00 g 20,00 g 30,00 g

Gliserin 10,00 g 10,00 g 20,00 g 20,00 g

(63)

4. Pembuatan Emulsi Tonik Rambut Ekstrak Etanol-Air Biji Kemiri

Tween 80, gliserin, etanol 10% serta aquadest dicampur menggunakan propeller mixer pada kecepatan angka putar nomor 5 pada suhu 35oC di atas waterbath selama 5 menit (fase air). Ekstrak biji kemiri, virgin coconut oil, Span 80 dan BHT dicampur menggunakanpropeller mixerpada kecepatan angka putar nomor 5 pada suhu 35oC di atas waterbath selama 5 menit (fase minyak). Fase air ditambahkan ke fase minyak porsi demi porsi sambil dicampur dengan menggunakan propeller mixer pada kecepatan angka putar nomor 5 pada suhu 35oC di atas waterbath selama 15 menit. Ukuran droplet diperkecil menggunakan Ultra Turrax selama 3x1 menit.

5. Uji Tipe Emulsi 1) Metode Warna

Beberapa tetes larutan Methylene Blue dicampurkan ke dalam contoh emulsi. Jika warna emulsi biru merata pada medium terdispers, maka emulsi yang diuji bertipe A/M oleh karena air berada dalam fase dalam (Voigt, 1994).

2) Metode Pengenceran

(64)

6. Uji Sifat Fisis dan Stabilitas Tonik Rambut Ekstrak Etanol-Air Biji Kemiri 1) Uji Daya Sebar

Menggunakan metode Garg,et al.(2002) yang telah dimodifikasi :

Daya sebar sampel dibandingkan dengan standar (Minoksidil 5%). Sampel dan standar diperlakukan sama yaitu dengan mengambil 50 μ L tonik rambut di tengah kaca bulat, kemudian diberi beban kaca penutup yang lain, didiamkan selama 1 menit, kemudian dicatat penyebarannya.

2) Uji Viskositas

Alat yang digunakan untuk uji viskositas adalah viskotester elektrik (VT-04, rotor no. 3). Emulsi tonik rambut dimasukkan sebanyak 140,0 mL dalam bejanastainless steel. Rotor dipasang pada alat uji dan alat uji diatur sedemikian rupa sehingga rotor tercelup ke dalam tonik rambut. Hasil yang terbaca pada alat merupakan viskositas dari ekstrak kemiri dengan satuan dPas (Poise). Setiap kali dilakukan repetisi pengujian, tonik rambut harus didiamkan selama 5 menit terlebih dahulu untuk mengembalikan keadaan sistem seperti semula. Uji ini dilakukan 48 jam setelah pembuatan, 15 hari dan 25 hari penyimpanan.

3) Uji Persen Pemisahan

(65)

Hasil pemisahan fase dinyatakan dengan persentase pemisahan fase :

% Pemisahan fase = x 100% (2)

keterangan : hu = tinggi pemisahan yang terjadi ho = tinggi emulsi mula-mula 4) Uji mikromeritik (Ukuran Droplet)

Dioleskan sebanyak 9 μ L tonik rambut pada gelas objek kemudian diletakkan meja benda pada mikroskop. Diamati ukuran droplet uang terdispersi pada tonik rambut. Perbesaran lemah digunakan untuk menentukan objek yang akan diamati kemudian diganti menggunakan perbesaran kuat. Dalam penelitian ini pengamatan mikromeritik dilakukan dengan mengambil beberapa foto preparat tonik rambut dan tampak adanya droplet-droplet yang akan ditentukan diameternya.

Pengukuran diameter droplet dilakukan dengan menggunakan Software Motic Image Plus 2.0 hingga didapatkan diameter (μ m) dari 500 droplet yang akan diukur. Pengujian dilakukan pada emulsi tonik rambut 48 jam setelah pembuatan, 15 hari serta setelah 25 hari penyimpanan.

7. Uji Iritasi Primer dengan MetodeDraize Test

(66)

dengan kasa selama 4 jam pemejanan. Setelah empat jam, kasa penutup dibuka. Reaksi yang timbul pada 0, 24, dan 48 jam setelah penutup dibuka (post exposure) diberikan skor sesuai Tabel VI dan kriteria iritasi berdasarkan Tabel VII.

Tabel VI. Evaluasi Reaksi Iritasi Kulit (Lu, 1995)

Jenis iritasi Skor

Eritema Tanpa eritema 0

Eritema hampir tidak tampak 1

Eritema berbatas jelas 2

Eritema moderat sampat berat 3

Eritema berat (merah bit) sampai sedikit membentuk kerak 4

Edema Tanpa edema 0

Edema hampir tidak tampak 1

Edema berbatas jelas 2

Edema moderat (tepi naik + 1 cm) 3

Edema berat (tepi naik lebih dari 1 mm dan meluas keluar daerah pejanan)

4

Tabel VII. Kriteria Iritasi (Lu, 1995)

Indeks iritasi Kriteria Iritasi Senyawa Kimia

<2 Kurang merangsang

2-5 Iritan moderat

>6 Iritan berat

G. Analisis Data

(67)

Data yang terkumpul adalah data viskositas; daya sebar; ukuran droplet (mean); persen pemisahan fase (%) setelah penyimpanan 25 hari; profil viskositas, profil daya sebar, profil ukuran droplet dan profil persen pemisahan fase selama 25 hari. Dengan metode desain faktorial dapat dihitung besarnya efek gliserin dan virgin coconut oildan interaksinya dalam menentukan sifat fisik dan stabilitas tonik rambut.

Analisis signifikansi faktor dalam menentukan sifat fisis dan stabilitas emulsi tonik rambut dilakukan menggunakan Sofware R UBUNTU 10.04_Des.Faktor-0.9 dengan uji ANOVA pada taraf kepercayaan 95%. Analisis data profil viskositas, daya sebar, persen pemisahan fase dan profil ukuran droplet selama 25 hari penyimpanan dilakukan menggunakan uji Paired sample t-test apabila data yang diperoleh normal serta uji Wilcoxon apabila data yang diperoleh tidak normal pada taraf kepercayaan 95 % dengan menggunakan program R 2.9.0.

(68)

46 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pembuatan Ekstrak Etanol-Air Biji Kemiri (Aleurites moluccana(L.) Willd) Bahan baku yang digunakan dalam penelitian berasal merupakan endosperm biji kemiri yang diperoleh dari Pasar Beringharjo pada Bulan Agustus 2011. Kemiri yang digunakan dalam penelitian merupakan jenis Aleurites moluccana (L.) Willd karena mempunyai daging biji cukup tebal, minyak yang dihasilkan cukup tahan selama penyimpanan, serta mempunyai kandungan senyawa aktif yang ajeg karena tidak dipengaruhi oleh iklim. Determinasi dilakukan untuk memastikan simplisia yang digunakan adalah benar dan murni dan berasal dari tanaman kemiri (Aleurites moluccana(L.) Willd).

(69)

(a) (b) (c)

(d) (e)

Keterangan:

A = Biji kemiri yang terdapat di kebun obat Fak. Farmasi USD B = Biji kemiri yang digunakan dalam penelitian

Gambar 9. Perbandingan Simplisia Biji Kemiri yang Digunakan dengan Biji Kemiri yang telah Dideterminasi pada Kebun Obat Fakultas Farmasi USD

Berdasarkan gambar (9a), (9b) dan (9c), biji kemiri yang digunakan mempunyai panjang dan lebar yang sama dengan biji kemiri yang telah dideterminasi, yaitu panjang + 2 cm dan lebar + 2,5 cm. Bentuk biji kemiri yang digunakan juga memiliki bentuk dan warna yang sama, yaitu berbentuk bulat lonjong dengan ujung runcing, berdaging serta berwarna putih kecoklatan (Gambar (9d)). Berdasarkan gambar (9e), ditunjukkan bahwa biji kemiri yang digunakan memiliki kandungan minyak bewarna kuning bening yang sama dengan biji kemiri yang telah dideterminasi. Hal ini menunjukkan biji kemiri yang digunakan dalam penelitian adalah benar dan murni serta benar-benar berasal dari tanaman Kemiri.

(70)

maserasi (ekstraksi dingin) dipilih karena pada ekstrak biji kemiri karena zat aktif flavonoid dan asam lemak tidak tahan terhadap pemanasan serta dinilai efektif untuk mengekstraksi bahan yang mengandung zat aktif dalam jumlah besar (Indraswati, 2008). Etanol 70% digunakan sebagai cairan penyari karena etanol dapat melarutkan baik flavonoid, asam lemak, maupun alkaloid yang terkandung dalam biji kemiri (Depkes RI, 1986). Pengadukan dilakukan untuk menghindari kejenuhan dengan cara menjaga adanya perbedaan konsentrasi yang sebesar-besarnya antara larutan di dalam sel dan di luar sel. Proses maserasi dilakukan dua kali untuk melarutkan senyawa aktif yang kemungkinan belum terlarut pada proses maserasi pertama.

Evaporasi dilakukan untuk mengurangi jumlah pelarut dalam ekstrak sehingga kadar zat aktif dalam ekstrak lebih besar. Ekstrak yang diperoleh berupa cairan kuning (berupa minyak) pada lapisan atas dan cairan kuning muda pada lapisan bawah, berbau khas dengan rendemen 41,026%. Ekstrak disimpan dalam wadah coklat tertutup rapat pada kondisi suhu rendah (4oC) dan terlindung dari cahaya untuk mencegah terjadinya kerusakan senyawa akibat suhu dan cahaya.

(71)

referensi. Uji kualitatif alkaloid dilakukan dengan pereaksi pengendapan kemudian dibandingkan hasilnya dengan referensi.

Pengujian flavonoid dan alkaloid pada ekstrak biji kemiri menggunakan fraksi etil-asetat karena senyawa flavonoid dan alkaloid larut paling bagus dalam pelarut etil-asetat (Amalia, 2003). Pada pengujian asam lemak digunakan pelarut petroleum eter karena senyawa asam lemak merupakan senyawa nonpolar sehingga lebih mudah larut dalam pelarut nonpolar (prinsiplike dissolved like) (Julaiha, 2003).

1. Identifikasi Golongan Senyawa Flavonoid dan Asam Lemak dalam Ekstrak Etanol-Air Biji Kemiri Secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

1,00

0,50

0,00

Fase diam : plat selulosa Fase gerak : asam asetat 15% Deteksi :

(72)

Tabel VIII. Warna Bercak pada Identifikasi Kandungan Flavonoid dalam Ekstrak Etanol-Air Biji Kemiri secara KLTdengan Pereaksi Semprot Sitroborat dan Uap amoniak

Bercak Warna Bercak

S1B1 Biru Biru-keunguan Biru Biru-keunguan

S1B2 Biru Biru-keunguan Biru Biru-keunguan

S2B1 Biru Biru-keunguan Biru Biru-keunguan

S2B1 Biru Biru-keunguan Biru Biru-keunguan

Keterangan : S : Sampel ; B = Bercak (penomoran dihitung dari awal pengembangan)

Pada Gambar 10 nampak bahwa bahwa dalam ekstrak terkandung senyawa flavonoid, ditunjukkan dengan adanya bercak yang berfluoresensi biru-keunguan. Pada Gambar 10 ditunjukkan bahwa terdapat dua bercak, sehingga diperkirakan bahwa di dalam ekstrak terdapat dua jenis senyawa flavonoid.

1,00

0,00 0,50

Fase diam : plat silika gel GF60 Fase gerak :

PE : dietil eter : asam asetat (90:10:1) Deteksi : uap iodium

(73)

Hasil uji kualitatif secara KLT menunjukkan bahwa terdapat bercak warna kuning yang ditimbulkan oleh uap iodium sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam ekstrak terdapat kandungan asam lemak (Gambar 11). Peampakan bercak oleh uap iodium dikarenakan senyawa asam lemak mengalami oksidasi oleh I2sehingga terjadi

pergeseran batokromik ke arah panjang gelombang yang lebih panjang (Ulfah, 2003).

2. Identifikasi Golongan Senyawa Alkaloid dalam Ekstrak Etanol-Air Biji Kemiri dengan Pereaksi Pengendap Dragendorff

Tabel IX. Hasil Pengujian Identifikasi Kandungan Senyawa Alkaloid dalam Ekstrak Etanol-Air Biji Kemiri dengan Pereaksi Pengendap Dragendorff

Pengujian Endapan Warna Endapan

1 +++ Jingga kekuningan

2 ++ Jingga kemerahan

3 ++ Jingga kemerahan

4 +++ Jingga kekuningan

5 +++ Jingga kekuningan

6 ++ Jingga kemerahan

Keterangan : semakin banyak tanda + menunjukkan semakin banyak endapan yang terbentuk

Gambar

Gambar 19. Contour plot Viskositas......................................................................
Gambar 1. Anatomi rambut (Mutsuharmy, 2009).
Gambar 2. Siklus Pertumbuhan Rambut (Bio Team Global Moderators, 2011)
Gambar 3. Biji kemiri (Balai Taman Nasional Alas Purwo, 2011)
+7

Referensi

Dokumen terkait