BAB II
LANDASAN TEORI
Pada bab ini akan dibahas mengenai teori yang mendukung dalam pembuatan proyek akhir. Materi yang akan dibahas adalah knedaraan medan berat, diagram kelistrikan mobil LJ 80, accu, saklar cut off pada kendaraan medan berat, relay, sekering, dan komponen akhir.
2.1. Accu
Accu adalah suatu elemen yang merupakan sumber arus listrik yang searah dengan cara mengubah energi kimia menjadi energi listrik. Terdapat dua kutub pada accu yaitu kutub positif dan kutub negatif. Kutub positif terbuat dari tembaga (Cu) dan kutub negatif terbuat dari seng (Zn). Accu berisi cairan asam sulfat sebagai elektrolitnya. Accu memiliki beberapa elemen. Gambar 2.1 merupakan contoh fisik dari sebuah accu.
Accu memiliki kapasitas pemakain yang beragam. Biasanya dinyatakan dalam satuan Ah (Ampere hour). Satuan ini merupakan spesfikasi yang dikeluarkan oleh pabrikan accu. contoh penulisan untuk spesifikasi accu adalah 12V, 100Ah. 12V yaitu tegangan accu, 100Ah yaitu kapasitasi accu dan 20 Hours adalah waktu pengetesan yang di keluarkan oleh pabrikan aki. waktu tersebut berarti accu diberi beban 5 Ampere selama 20 jam sampai accu benar-benar habis. jika beban yang dipakai lebih besar, waktu yang dibutuhkan agar accu benar-benar habis tidak akan 20 jam lagi tetapi akan menjadi lebih singkat.
Cara perhitungan waktu pakai accu akan di jelaskan oleh Peukeurt's law dengan persamaan sebagai berikut.
=
( )
... [
1]
H adalah waktu pakai accu dari pabrikan (jam) C adalah kapasitas acc (Ampere-hours)
I adalah Arus pemakaian
k adalah konstanta peukeurt's, 1.2
t adalah waktu pakai accu terhadap beban pemakaian (jam).
Jika sebuah batre memiliki spesifikasi 100Ah dengan beban pemakaian 5 Ampere maka didapat perhitungan sebagai berikut.
= 20 ( 100
5 20) .
= 20 jam
Dengan beban pemakain 5 ampere didapat waktu 20 jam sebagai waktu pakai kapasitas accu. jika accu tersebut digunakan pada beban 10 ampere maka akan didapat perhitungan sebagai berikut.
= 20 ( 100
10 20) .
= 8,7 jam
Hal ini membuktikan bahwa semakin besar beban pemakaian maka waktu pemakaian accu akan menjadi lebih singkat.
Gambar 2.1 Accu
2.2 Transducer
Transducer adalah suatu alat yang digunakan untuk mengubah satu besaran ke besaran lain. Transducer listrik adalah alat yang digunakan untuk mengubah besaran fisik ke listrik. Transducer-transducer yang akan digunakan pada proyek akhir ini adalah transducer-transducer bawaan mobil Suzuki LJ 80. Transducer yang akan digunakan adalah transducer suhu, level tangki bahan bakar (fuel gauge), dan transducer tekanan oli mesin.
Transducer suhu
Transducer suhu pada mobil digunakan untuk mengukur suhu mesin mobil. Transducer suhu ini dirangkai mulai dari sumber melewati koil penunjuk suhu pada panel kemudian masuk ke transducer suhu pada mesin. Transducer suhu menempel pada mesin sekaligus terhubung pada ground. pada Gambar 2.2 adalah rangkain transducer suhu pada Suzuki LJ 80.
Gambar 2.2 Rangkaian transducer suhu
Transducer suhu pada suzuki LJ 80 merupakan NTC (Negative Temperature coefficient). NTC memiliki karakteristik ketika koefisein temperatur semakin panas maka resistansi NTC akan semakin kecil dan ketika koefisein temparatur semakin dingin maka nilai resistansinya akan semakin besar.
berdasarkan karakteristik NTC, cara kerja transducer suhu pada Suzuki LJ 80 adalah ketika suhu mesin mobil dingin atau mesin mati,
resistansi NTC akan besar dan arus yang mengalir akan kecil sehingga koil berada pada area dingin (cool). ketika suhu mesin mobil panas maka resistansi NTC akan mengecil dan arus yang mengalir melewati koil akan besar sehingga koil akan bergerak menuju area panas (hot).
Gambar 2.3 Transducer Suhu
Gambar 2.3 merupakan bentuk fisik dari transducer suhu mobil. Transducer suhu memiliki drat pada badannya sebagai dudukan ketika dipasang pada mesin mobil. drat ini akan menempel pada mesin mobil dan sekaligus menjadi terminal ground transducer ini.
Fuel gauge
Pada Gambar 2.5 adalah bentuk fisik dari transducer level tangki bahan bakar (fuel gauge) yang berfungsi sebagai instrument penunjukan kosong atau penuhnya bahan bakar. Pada tampilan ditulis E untuk empty dan F untuk full. Pada mobil Suzuki LJ 80 digunakan fuel gauge sebagai transducer level bahan bakar. Fuel gauge terdiri dari pelampung yang terhubung resistor variabel. fuel gauge pada Suzuki LJ 80 memiliki spesifikasi ketika volume bensin penuh (pelampu diatas) memiliki nilai resistansi 0 Ohm dan ketika volume bensin kosong (pelampung dibawah) memiliki nilai resistansi 110 ohm. Gambar rangkaian transducer level bensin dapat dilihat pada Gambar 2.4.
Cara kerja penunjukan volume bensin yaitu ketika bensin kosong nilai resistansi fuel gauge akan besar sehingga arus yang
melewati koil akan kecil. pada meter penunjukan posisi jarum akan berada pada posisi E. pada saat bensin dalam kondisi penuh resistansi fuel gauge akan bernilai nol sehingga arus yang mengalir pada koil akan menggerakan jarum sampai menunjuk pada posisi F.
Gambar 2.4 Rangkaian transducer level bensin
Gambar 2.5 Fuel gauge
Transducer tekanan oli mesin
Transducer tekanan oli pada mobil berupa saklar yang bekerja terhadap tekanan. Transducer ini berfungsi untuk mengetahui tekanan oli pada mobil. keluaran dari transducer ini akan ditampilkan berupa lampu indikator sebagai penunjuk ada atau tidaknya tekanan pada oli pada mesin mobil.
Pada Gambar 2.6 dapat dilihat konstruksi dari transducer tekanan oli. terdapat pegas yang menekan difragma dan terhubung
pada terminal yang terhubung ke lampu indikator transducer tekanan oli, difragma sebagai kontak saklar, dan metal base sebagai terminal ground sekaligus temapat masuknya oli pada transducer ini.
Gambar 2.6 Transducer tekanan oli
Keluaran transducer oli terhubung ke lampu indikator pada panel. pegas berfungsi sebagai penekan difragma sehingga transducer ini bersifat normally closed. maka ketika mesin mati atau tidak ada tekanan maka lampu indikator akan menyala. ketika mesin dihidupkan maka oli akan masuk melalui lubang kecil pada metal base. seiring dengan naiknya tekanan oli maka oli yang masuk akan menekan difragma sehingga membuat kontak terbuka dan lampu indikator akan mati.
2.3 Pengkondisi sinyal
Pengkondisi sinyal merupakan suatu rangkaian yang mengubah besaran keluaran dari transduser menjadi besaran listrik yang cocok untuk perekaman,pemrosesan dan pemrogaman.
Pengkondisi sinyal mempunyai variasi ke kompleksan mulai dari rangkaian resistor sederhana atau rangkaian maching impedansi hingga yang terdiri dari mulai tingkat penguat, detektor, demodulator dan filter.
IstiIah lain dari pengkondisi sinyal adalah pemodifikasi sinyal atau pemroses sinyal. Sinyal output dapat berbentuk analog atau besaran digital
2.3.1 Pembagi Tegangan
Dalam dunia elektronika, sebuah pembagi tegangan adalah rangkaian linear sederhana yang menghasilkan keluaran yang besarannya merupakan hasil pembagian dari nilai masukannya, dengan kata lain pembagi tegangan menghasilkan besaran output yang merupakan pelemahan dari input berdasarkan perbandingan nilai tahanan.
Contoh sederhana dari sebuah pembagi tegangan adalah 2 buah resistor yang di rangkai secara seri atau sebuah potensio meter. Rangkaian ini biasanya dibuat untuk mengeluarkan tegangan referensi.Gambar 2.7 menunjukan sebuah rangkaian pembagi tegangan.
Gambar 2.7 Rangkaian pembagi tegangan
Dengan menggunakan hokum ohm , nilai keluaran dari pembagi tegangan dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut.
= ...[2]
Dimana = Tegangan keluaran = Tegangan masukan = Impedansi 1 = Impedansi 2
2.4 Saklar
Saklar atau switch adalah sebuah alat yang berfungsi sebagai penghubung dan pemutus arus listrik. Dalam rangkaian elektronika dan rangkaian listrik saklar berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan arus listrik yang mengalir dari sumber menuju beban (output) atau dari sebuah sistem ke sistem lainnya. Pada Tabel 2.1 terdapat jenis-jenis saklar, simbol-simbol saklar, dan contoh fisik dari saklar.
Tabel 2.1 Jenis, Simbol, dan Contoh Bentuk Saklar
JENIS SAKLAR SIMBOL SAKLAR CONTOH FISIK
SPST
Saklar On-Off 2 terminal
Saklar Push-On Kedua terminal akan terhubung selama ditekan
Saklar Push-Off Kedua terminal akan terputus selama ditekan
Saklar SPDT Terminal sentral (COM)
akan terhubung ke salah satu terminal dan akan
terputus ke terminal lainnya dalam satu
kondisi. Saklar DPST Dalam kondisi On (“1”) dua terminal sentral akan
terhubung ke terminal pasangannya dan akan terputus ktika kondisi Off
(“0”)
Saklar DPDT Dua terminal sentral akan
terhubung ke salah satu terminal pasangannya dan
terputus ke terminal pasangannya yang lain
dalam satu kondisi.
Saklar Cut Off pada Kendaraan Medan Berat
Saklar cut off adalah jenis saklar yang berfungsi sebagai pemutus hubungan arus listrik. Saklar cut off ini memiliki rating arus yang tinggi karena dipasang secara seri dari accu menuju seluruh sistem kelistrikan. Pada gambar 2.4 saklar cut off tersebut memiliki rating arus hingga 250 A. hal ini disebabkan karena saklar cut off dilewati oleh beban keseluruhan sistem kelistrikan mobil. Konstruksi saklar cut off memiliki tuas untuk pemutusannya. Untuk memutus arus, tuas saklar cut off harus diputar berlawanan arah jarum jam. Desain saklar cut off dirancang khusus untuk memutus arus listrik dengan sengaja terlihat seperti pada Gambar 2.8.
Gambar 2.8 Saklar cut off
Saklar rem
Saklar rem adalah jenis saklar yang berfungsi untuk mengontrol kondisi ON maupun OFF-nya lampu rem. Saklar rem ini berada di belakang pedal rem. Saklar rem akan bekerja ketika pedal rem diinjak. Jenis saklar rem ini adalah saklar push button maka ketika rem diinjak mengakibatkan kondisi saklar itu terhubung dan lampu rem akan menyala. contoh fisik dari saklar rem dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 2.9 Saklar rem
Saklar rem tangan
Pada Gambar 2.10 saklar rem tangan adalah saklar yang berfungsi untuk mengontrol kondisi ON maupun OFF-nya lampu indikator rem tangan yang terletak pada panel. Saklar ini berada di belakang tuas rem tangan. Ketika tuas rem tangan diangkat, pada mobil akan terjadi pengereman dan pada saat itu pula lampu indikator rem tangan akan menyala.
Gambar 2.10 Saklar rem tangan
Saklar gigi mundur
Saklar gigi mundur adalah saklar yang berfungsi mengontrol kondisi ON maupun OFF-nya lampu mundur. Saklar ini berada di transmission gear box sehingga apabila transmisi diubah ke gigi mundur maka saklar ini akan aktif dan menyalakan lampu mundur. Contoh fisik dari saklar gigi mundur dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 2.11 Saklar gigi mundur
2.5 Relay
Relay adalah saklar elektromagnetik yang berfungsi sebagai saklar atau komponen antarmuka untuk rangkaian daya besar dengan rangkaian pengontrol yang memiliki daya kecil. Konstruksi relay dibuat dengan koil dan saklar. Relay memiliki koil, saklar normally open (NO) dan normally closed (NC). Relay aktif jika koil dialari arus sehingga koil akan memiliki medan magnet dan menarik kontak saklar. Ketika koil dialiri arus, saklar akan menutup dan keadaan ini disebut NO. Sedangkan NC adalah ketika koil dialiri arus dan saklar akan terbuka.
Relay memiliki banyak jenis dengan spesifikasi yang berbeda. Salah satu jenis relay adalah relay untuk keperluan otomotif terlihat pada Gambar 2.12. Relay ini biasanya memiliki spesifikasi tegangan koil 12V DC karena disesuaikan dengan tegangan accu. Relay untuk spesifikasi otomotif harus memiliki ketahanan yang tinggi karena relay ini harus kuat terhadap getaran dan guncangan.
Gambar 2.12 Relay otomotif
Gambar 2.13 memperlihatkan beberapa bentuk kontak dari sebuah relay:
Gambar 2.13 Jenis konstruksi relay
2.6 Sekering
Sekering adalah komponen yang berfungsi sebagai pengaman dari arus berlebih dengan cara memutus hubungan listrik sehingga arus berlebih tidak akan merusak devais. Cara kerja sekering yaitu ketika arus yang melewati sekering lebih dari beban kerjanya maka sekering akan putus sehingga devais menjadi aman karena arus berlebih tidak masuk.
Ada dua macam tipe sekring yang sering digunakan yaitu sekring tipe blade dan sekring catridge (tabung). Gambar 2.14 merupakan salah satu jenis sekering yaitu jenis blade. Sekering jenis ini dirancang untuk spesifikasi otomotif karena desainnya yang dapat menancap kuat pada soket. Dengan desain seperti itu, sekering ini kuat menahan getaran dan guncangan pada kendaraan sehingga tidak terlepas dari soketnya. Warna sekring tipe blade digunakan untuk membedakan kapasitas arus, sedangkan sekring tipe catridge kapasitas arus hanya ditulis pada salah satu ujung tabung.
Gambar 2.14 Sekering tipe blade
Untuk sekering jenis blade terdapat cetakan angka pada bagian atasnya yang menandakan berapa besar arus yang dapat melewati sekering. Pada Tabel 2.2 terdapat kode warna sekering tipe blade, rating arus dan ukuran fisik.
Tabel 2.2 Pengkodean sekering
Color Ampere Low Min Reg Maxi
Dark Blue 0.5 - - - - Black 1 - - X - Gray 2 X X X - Violet 3 - X X - Pink 4 - X X - Tan 5 X X X - Brown 7.5 X X X - Red 10 X X X - Blue 15 X X X - Yellow 20 X X X X Clear 25 X X X Gray Green 30 X X X X
Blue green 35 - - X Brown
Orange 40 - - X X Red 50 - - - X Blue 60 - - - X Amber/tan 70 - - - X Clear 80 - - - X Violet 100 - - - X
Purple 120 - - - X
Untuk mengetahui nilai sekering yang dipakai pada alat maka harus diketahui arus pemakaian dari alat tersebut. Untuk menghitung besar arus dapat diketahui dengan persamaan dibawah ini.
I = P/V...[3] Tetapi untuk menghitung kapasitas sekering diperlukan faktor aman 2 kali dari rumus diatas, berikut contoh perhitungan pada lampu penerangan dengan spesifikasi 12V /55W. didapat perhitungan dengan menggunakan faktor aman sebagai berikut.
55/12 x 2 = 9,17 A.
1. Karena lampu kepala berjumlah 2 maka 2 x 9,17 A = 18,34 A.
2. Karena kapasitas sekering dipasaran 18,34 A tidak ada, maka kapasitas sekering yang digunakan adalah 20 A.
2.7 Lampu
Lampu pijar
Lampu pijar adalah sumber penerangan buatan yang dihasilkan oleh filamen yang di aliri arus listrik kemudian memanas dan menghasilkan cahaya. Lampu pijar menghasilkan cahaya kuning keoranyean.
Gambar 2.15 Lampu pijar
Seperti pada Gambar 2.15, Lampu ini memiliki konstruksi tabung kaca dan terdapat filamen di dalamnya. Tabung kaca diisi oleh gas yang mencegah terjadinya oksidasi
pada filamen. Lampu pijar memiliki efisiensi rendah. Memerlukan daya yang besar tapi menghasilkan intensitas cahaya yang rendah.
Lampu Halogen
Sama halnya seperti lampu pijar, konstruksi lampu halogen adalah tabung kaca dengan filamen didalamnya. hanya saja lampu halogen diiisi dengan gas halogen yang dapat beroperasi pada suhu yang lebih tinggi sehingga menghasilkan intensitas cahaya yang lebih tinggi daripada lampu pijar. cahaya yang dihasilkan lampu halogen berwarna kuning keoranyean. Membutuhkan daya besar tetapi memiliki efisiensi tinggi dibanding lampu pijar. Bentuk fisik lampu halogen dapat dilihat pada Gambar 2.16.
Gambar 2.16 Lampu halogen
2.8 Motor DC
Motor DC adalah sebuah mesin yang berfungsi mengubah tegangan listrik arus searah menjadi tenaga gerak atau tenaga mekanik, enaga gerak tersebut berupa putaran dari rotor. Gambar 2.17 merupakan contoh fisik motor DC.
Gambar 2.17 Motor DC
Motor DC terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian stator (bagian yang diam) dan bagian rotor (bagian yang berputar). Bagian Stator terdiri dari :
• Pelindung Mesin
Pelindung mesin memiliki fungsi sebagai tempat jalannya fluksi magnet dan sebagai tempat pegangan bagian lain.
• Kutub Magnet
Kutub magnet pada bagian stator berfungsi sebagai pendistribusi fluksifluksi magnet ke bagian rotor.
• Belitan Kutub Magnet
Belitan kutub magnet berfungsi sebagai pembangkit fluksi magnet yang membentuk kutub-kutub magnet.
• Terminal
Terminal sebagai sarana atau tempat penyambungan kabel atau penghantar.
• Bearing
Bearing sebagai bantalan luncur rotor atau sebagai alat mempertahankan posisi rotor.
• Sikat
Sikat sebagai sarana pendistribusian besaran arus listrik dari bagian stator ke bagian rotor atau dari bagian rotor ke bagian stator.
Sedangkan bagian rotor, terdiri dari :
• Inti Rotor
Inti rotor berfungsi sebagai tempat jalannya fluksi magnet dan sebagai pemegang belitan rotor.
• Lilitan Rotor atau Belitan Jangkar
Lilitan rotor atau belitan jangkar berfungsi sebagai tempat jalannya arus listrik.
• Komutator
Komutator berfungsi sebagai alat pengubah arus AC pada belitan motor menjadi arus DC.
• Poros Rotor
Poros rotor merupakan bagian rotor yang berfungsi sebagai tempat penjaga posisi rotor.
• Lamel
Lamel merupakan bagian dari komutator yang berfungsi sebagai untuk menghubungkan belitan rotor ke sikat.
Gambar 2.18 Arah putaran pada kumparan
Prinsip dasar Motor DC didasarkan pada suatu gejala bahwa jika suatu penghantar yang berarus dilewatkan pada magnet maka akan menghasilkan suatu gaya gerak. Arah gerak dari penghantar tersebut ditentukan dengan kaidah tangankiri. Besar gaya gerak yang dihasilkan dapat dihitung melalui persamaan : F = BIl (N) ...[4]
Dimana :
B = Kepadatan flux magnet (Weber) I = Arus listrik yang mengalir (Ampere) l = Panjang penghantar (Cm)
Gambar 2.18 memperlihatkan arah putaran motor DC. Arah putaran pada kumparan berarus terletak dalam medan magnet. Apabila penghantar terletak disekeliling rotor motor DC, maka akan timbul suatu gerak putar pada penghantar tadi. Karena gerak putar tersebut terjadi akibat adanya pengaruh medan magnet di sekitar rotor tadi. Apabila beban yang bekerja pada motor tidak berubah-ubah, maka timbul suatu daya (W), Torsi (Nm) dan kecepatan sudut ω (rad/s) dan dapat dituliskan kedalam persamaan :
P = VxI (Watt) ...[5] T = (Nm) ...[6] ω = . ...[7]
Pengaturan kecepatan pada motor DC sangat penting karena karakteristik pada putarannya yang dapat menguntungkan dibandingkan dengan jenis motor lain. Berikut adalah berbagai metode pengaturan kecepatan pada motor DC :
1. Pengaturan kecepatan dengan mengatur medan shunt.
Metode ini dilakukan dengan cara menyisipkan tahanan variable yang dipasang secara seri terhadap kumparan medannya.
2. Pengaturan kecepatan dengan mengatur tahanan jangkar.
Metode ini dilakukan dengan cara menyisipkan tahanan secara seri terhadap tahanan jangkar motor, karena hubungan seri menjadikan rugi panas besar.
3. Pengaturan kecepatan dengan mengatur tegangan masukannya.
Metode ini dilakukan dengan cara mengatur tahanan medannya, cara ini memiliki batas yang lebar.
2.9 Winch
Winch adalah motor DC dengan tenaga yang sangat besar dan dapat menarik beban sampai skala ton. Winch menggunakan sumber tegangan dari accu mobil. Karena kemampuannya menarik beban hingga skala ton, arus yang dibutuhkan juga sangat besar. Oleh karena itu pemakaian terbatas dan hanya digunakan pada saat darurat. Contoh fisik winch terlihat pada Gambar 2.18.
Gambar 2.19 Winch
2.10 Klakson
Klakson adalah suatu alat penghasil suara pada kendaraan yang berfungsi sebagai pemberi peringatan bahwa ada kendaraan tersebut. Klakson berfungsi juga sebagai pemberi peringatan pada kendaraan atau manusia agar lebih waspada. Biasanya klakson digunakan pada kereta, mobil dan kapal untuk mengkomunikasikan sesuatu, klakson memberi tahu pendengarnya bahwa ada kendaraan yang datang,mengingatkan akan kemungkinan bahaya yang terjadi,ingin mendahului,atau menyatakan perasaan emosional.
Dapat dilihat pada Gambar 2.20 merupakan contoh fisik klakson. suara khas dari klakson ketika ditekan berasal dari sebuah elektromagnet yang digunakan untuk menggerakan baja spiral. Jika elektromagnet tersebut diberi arus, spiral tersebut bergerak ke arah magnet. Ketika spiral berpindah di titik maksimum ke arah magnet, sambungan dilepaskan yang menyebabkan arus berhenti untuk beberapa saat dan menyebabkan baja spiral tersebut mengendur. Setelah itu, elektromagnet kembali begerak ke
arah besi. Siklus ini terjadi berulangkali dan menyebabkan baja spiral berosilasi kembali yang menghasilkan suara klakson tersebut.
Gambar 2.20 Klakson
2.11 Bipolar Junction Transistor (BJT)
BJT adalah komponen semikonduktor yang terbagi menjadi dua jenis yaitu NPN dan PNP. Jenis NPN dan PNP sama-sama memiliki konstruksi tiga lapis. Konstruksi NPN memiliki dua lapis n- dan satu lapis p- sedangkan konstruksi PNP meiliki dua lapis p- dan satu lapis n-. BJT memiliki tiga terminal yaitu base, collector dan emitter. Konstruksi BJT dapat dilihat pada Gambar 2.20.
Gambar 2.21 Konstruksi BJT
Prinsip kerja transistor sama seperti saklar. Dimana colector dan emiter dipasang seri pada rangkaian dan base sebagai tombol untuk mengaktifkannya. Ketika tombol ditekan maka arus akan mengalir. BJT akan aktif ketika base diberi arus. Pada NPN ketika base mendapat arus maka arus dari colector akan mengalir menuju emitter. Dengan prinsip kerja
BJT seperti ini, BJT dapat berfungsi sebagai saklar elektronik. Transistor juga dapat berfungsi sebagai antarmuka rangkaian berdaya lemah sebagai pengontrol rangkaian berdaya besar.
Ketika transistor digunakan sebagai saklar, maka ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu cut off dan saturasi. Daerah cut off didefinisikan sebagai daerah di mana arus collector bernilai nol. Sebagai tambahan, dalam daerah cut off, hubungan collector-base dan base-emitter dari transistor, keduanya berada pada kondisi bias reverse. kondisi ini sama dengan kondisi transistor tidak aktif. Daerah saturasi didefinisikan sebagai daerah dari karakteristik dengan nilai Vcb sama dengan nol. Sedangkan dalam daerah saturasi, hubungan collector-base dan base-emitter, keduanya berada pada kondisi bias forward. hal ini membuat transistor menjadi aktif dan arus dapat mengalir dari collector ke emitter.
Salah satu contoh transistor sebagai antarmuka rangkaian daya lemah untuk mengontrol rangkaian daya besar yaitu sebagai driver relay. Transistor difungsikan sebagai saklar elektronik untuk mengaktifkan koil. Keluaran logic satu dari mikrokontroller akan menjadi input transistor yaitu pada kaki base dan sebagai kontrol ON-OFF transistor. Gambar dibawah ini adalah rangkaian transistor sebagai driver relay.
Gambar 2.22 Driver relay