• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI RUANG PUBLIK TERPADU RAMAH ANAK (RPTRA) DI KELURAHAN SUNGAI BAMBU KOTA ADMINISTRASI JAKARTA UTARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "IMPLEMENTASI RUANG PUBLIK TERPADU RAMAH ANAK (RPTRA) DI KELURAHAN SUNGAI BAMBU KOTA ADMINISTRASI JAKARTA UTARA"

Copied!
231
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial pada Konsentrasi Kebijakan Publik

Program Studi Ilmu Administrasi Negara

Oleh

Tangen Vika Indriany

NIM 6661120378

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

(2)
(3)
(4)
(5)

v

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (Q.S 55:13)

(6)

vi

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas berkah, rahmat dan

inayah-Nya, Alhamdulillah penulis dapat menyelesaikan proposal skripsi yang

berjudul Implementasi Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di Kota

Administratif Jakarta Utara tanpa menemukan hambatan dan kesulitan yang berarti.

Dalam skripsi ini penulis berusaha menyampaikan hasil penelitian tentang

Implementasi Ruang Publik Terpadu Ramah Anak di Kelurahan Sungai Bambu Kota

Administrasi Jakarta Utara. Ucapan terimakasih juga peneliti sampaikan kepada

pihak yang telah memberikan arahan, bimbingan, pelajaran, serta motivasi dan

dukungan dalam upaya penyusuna skripsi ini. Untuk itu peneliti mengucapkan

terimakasih kepada:

1. Prof. Dr. H. Sholeh Hidayat, M.Pd selaku Rektor Universitas Sultan Ageng

Tirtayasa.

2. DR. Agus Sjafari S.Sos M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

3. Rahmawati, S.Sos., M.Si selaku Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

(7)

vii

Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

6. Listyaningsih, M.Si selaku Ketua Prodi Ilmu Administrasi Negara Fakultas

Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

7. Yeni Widyastuti, M.Si selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah

membimbing penulis dari awal hingga akhir.

8. DR. Abdul Apip, M.Si selaku Dosen Pembimbing I Skripsi yang selalu

membimbing, memberikan ilmunya, serta memotivasi penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini.

9. Rahmawati, M.Si selaku Dosen Pembimbing II Skripsi yang selalu

membimbing, meluangkan waktunya, memotivasi penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini dan selalu mendoakan yang terbaik.

10.Semua Dosen dan Staff Jurusan Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan

Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang membekali penulis

dengan ilmu pengetahuan selama perkuliahan.

11.Bapak Jumadi S.E., M.Si Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan

Perlindungan Anak BPMPKB Provinsi DKI Jakarta beserta staff dan

jajarannya yang telah membantu penulis dalam memberikan data dan

(8)

viii

13.Bapak Fakhrudin, Kepala Kantor KB Jakarta Utara yang telah memberika

informasi penting terkait dengan penelitian ini.

14.Ibu Rita Nirmala, Kepala Suku Dinas Kelautan, Pertanian dan Ketahanan

Pangan Jakarta Utara yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan

informasi kepada peneliti.

15.Bapak V. Christian Anthony, S. Kom, Kepala Suku Dinas Komunikasi,

Informatika dan Kehumasan Jakarta Utara yang telah bersedia meluangkan

waktunya untuk memberikan informasi kepada penulis.

16.Ibu dr. Atika, Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat Suku Dinas Kesehatan

Jakarta Utara atas keramahtamahannya dalam menjawab semua pertanyaan

yang penulis ajukan.

17.Ibu Mila, Kepala Seksi Taman Suku Dinas Pemakaman dan Pertamanan

Jakarta Utara yang telah bersedia meluangkan waktu untuk menjawab semua

pertanyaan yang peneliti ajukan.

18.Ibu Rohani Utami, Ketua TP PKK Jakarta Utara atas kebaikan hati dan sikap

ramah kepada penulis yang menjadikan proses wawancara menjadi

menyenangkan.

19.Bapak Bambang Chidir, Kepala Perpustakaan Daerah Jakarta Utara yang telah

(9)

ix penulis.

22.Bapak Zamrud, Ketua Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) Jakarta Utara

atas kebaikan dan sikap yang menyenangkan dalam memberikan segala

informasi yang penulis butuhkan.

23.Ibu Widiastuti, Senior Officer CSR PT. Citra Marga Nusaphala Persada yang

telah memberikan data dan informasi kepada penulis.

24.PT. Pembangunan Jaya yang telah memberikan data dan informasi kepada

peneliti.

25.Kedua orang tua yang selalu membimbing dan mendoakan anaknya hingga

pada saat penyusunan proposal penelitian ini. Dan juga Mas Gama yang terus

menerus memberikan dukungan.

26.Sahabat-sahabatku dari SMA Negeri 1 Jakarta yang terus menerus

memberikan dukungan dari awal proses penulisan skripsi hingga selesai.

Terima kasih Annya, Icim, Faiqa, Aelda, Karima, Riris love you so much

girls! Ku sayang kalian.

27.Sahabat-sahabat di dunia perkuliahan yang terus menerus mendukung dan

saling mendoakan. Upeh, Komuk, Ndew, Silvia, Meta, Wungu, Pangku,

Fahmay yang tiada lelahnya mendengarkan curahan hati dan drama kehidupan

(10)

x

Penulis menyadari bahwa skripsi ini terdapat kekurangan. Oleh karena itu

peneliti mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat membangun. Penulis

meminta maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam proposal skripsi ini terjadi

kesalahpahaman yang kurang berkenan selama penulis melakukan penelitian.

Terimakasih.

Serang, Januari 2017

(11)

xi

Anak di Kelurahan Sungai Bambu Kota Administrasi Jakarta Utara. Program Studi Ilmu Administrasi Negara. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Pembimbing I: Dr. Abdul Apip, M.Si dan Pembimbing II: Rahmawati, M.Si.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana implementasi Ruang Publik Terpadu Ramah Anak di Kota Administrasi Jakarta Utara. Peneliti menggunakan teori implementasi Jones (1991) yang terdiri dari pilar-pilar organisasi, interpretasi, dan aplikasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil temuan lapangan penelitian menyimpulkan bahwa pelaksanaan program Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di Kota Administratif Jakarta Utara belum optimal. Pada dimensi organisasi, pelatihan yang dilakukan untuk melatih para pengelola RPTRA masih kurang. Kemudian UKPD terkait tidak mengalokasikan anggaran untuk RPTRA. Pada dimensi Interpretasi, metode penghitungan jumlah pengunjung masih menggunakan metode manual yang sangat tidak efektif hasilnya. Pada dimensi aplikasi, sosialisasi mengenai fungsi RPTRA yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih belum maksimal.

(12)

xii

Science. University of Sultan Ageng Tirtayasa. First Preceptor: Dr. Abdul Apip, M.Si and Second Preceptor: Rahmawati, M.Si.

This research was aimed to analyzed how the implementation of Integrated Child Friendly Public Space in Northern Jakarta City. Researcher used the theory of implementation from Jones (1991) which consists the pillars of the organization, interpretation and application. The method used is descriptive method with qualitative approach. The result of research concluded that the implementation of the program of Integrated Child Friendly Public Space (ICFPS) in Northern Jakarta City is still not optimal. On the dimension of the organization, the training conducted to train the managers of ICFPS still less. Then the related Government from Northern Jakarta City not allocate a budget for ICFPS. On the dimension of the interpretation, the counting method for the number of visitors still use manual methods which are not very effective in results. On the dimension of the application, the socialization of ICFPS functions did by the government of Jakarta is still not optimal.

(13)

xiii

COVER ... i

LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii

LEMBAR PERSETUJUAN ... iii

LEMBAR PENGESAHAN ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... xi

ABSTRACT ... xii

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xvii

DAFTAR GAMBAR ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... xix

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ... 1

1.2. Identifikasi Masalah ……….. 13

1.3. Batasan Masalah ... 14

1.4. Rumusan Masalah ………. 14

1.5. Tujuan Penelitian ……….. 14

1.6. Manfaat Penelitian ……….... 14

(14)

xiv

2.1.2 Implementasi Kebijakan Publik... 27

2.1.2.1 Organisasi ... 41

2.1.2.2 Interpretasi ... 42

2.1.2.3 Aplikasi ... 44

2.1.3 Konsep Ruang Publik Terpadu Ramah Anak ... 46

2.1.3.1 Kedudukan, Tugas, dan Fungsi RPTRA ... 47

2.1.3.2 Layanan dan Kegiatan ... 48

2.1.3.3 Pengorganisasian ... 49

2.1.4 Konsep Konvensi Hak Anak Oleh PBB ... 56

2.1.5 Dasar Hukum ... 57

2.2.Penelitian Terdahulu ... 58

2.3.Kerangka Pemikiran Penelitian ... 61

2.4.Asumsi Dasar ... 64

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Pendekatan dan Metode Penelitian ... 65

3.2. Fokus Penelitian ... 66

3.3. Lokasi Penelitian ... 66

3.4. Fenomena yang Diamati ... 67

(15)

xv

3.4.2.3 Aplikasi ... 69

3.5. Instrumen Penelitian... 69

3.6. Informan Penelitian ... 70

3.7. Pedoman Wawancara ... 72

3.8. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 76

3.8.1 Teknik Analisis Data ... 77

3.8.2 Uji Keabsahan Data ... 78

3.9. Jadwal Penelitian ... 79

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Kota Administratif Jakarta Utara ... 82

4.1.1 Geografis Kota Administratif Jakarta Utara ... 82

4.1.1 Administratif Jakarta Utara ... 83

4.1.2 Kondisi Demografis Kota Administratif Jakarta Utara ... 85

4.2 Gambaran Umum BPMPKB Provinsi DKI Jakarta ... 87

4.2.1 Tugas Pokok dan Fungsi ... 88

4.2.2 Struktur Organisasi ... 89

4.3 Deskripsi Informan Penelitian... 90

(16)

xvi

4.5.2 Dimensi Interpretasi ... 122

4.5.3 Dimensi Aplikasi/Penerapan ... 143

4.6 Pembahasan ... 158

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan ... 167

5.2 Saran ... 167

5.3 Rekomendasi Kebijakan ... 169

(17)

xvii

Tabel 1.2 Provinsi Pilot Project Pengembangan Kab/Kota Layak Anak (KLA) ... 4

Tabel 1.3 Data Jumlah Penduduk Usia Anak di Jakarta Utara 2015 ... 6

Tabel 1.4 Data lokasi, CSR dan Waktu Peresmian RPTRA 2015 ... 10

Tabel 3.1 Informan Penelitian ... 71

Tabel 3.2 Pedoman Wawancara Penelitian ... 73

Tabel 3.3 Jadwal Penelitian... 81

Tabel 4.1 Data Kecamatan dan Kelurahan di Kota Administratif Jakarta Utara ... 84

Tabel 4.2 Data Jumlah RW Menurut Kecamatan di Jakarta Utara ... 85

Tabel 4.3 Data Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Jakarta Utara ... 86

Tabel 4.4 Spesifikasi Informan ... 91

Tabel 4.5 Kriteria Pengelola RPTRA ... 106

Tabel 4.6 Jumlah Pengunjung RPTRA Sungai Bambu 2016 ... 139

(18)

xviii

Gambar 2.1 Tahapan Kebijakan Publik ... 22

Gambar 2.2 Sekuensi Implementasi Kebijakan Publik ... 33

Gambar 2.3 Model Implementasi George C. Edward III ... 38

Gambar 2.4 Gambar Kerangka Pemikiran ... 63

Gambar 4.1 Struktur Organisasi BPMPKB DKI Jakarta ... 90

Gambar 4.3 Ruang Perpustakaan RPTRA Sungai Bambu ... 101

Gambar 4.4 Ruang Laktasi dan Ruang Konsultasi KB RPTRA Sungai Bambu... 101

Gambar 4.5 Ruang Sekretariat RPTRA Sungai Bambu ... 102

Gambar 4.6 Lokasi Outdoor di RPTRA Sungai Bambu ... 102

Gambar 4.7 Pertemuan Rutin Bulan Oktober 2016 ... 151

(19)

xix

Lampiran 1 Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 196 Tahun 2015 Lampiran 2 Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 40 Tahun 2016 Lampiran 3 Surat Ijin Penelitian

Lampiran 4 Kategorisasi Data Lampiran 5 Member Check

Lampiran 6 Dokumentasi Penelitian Lampiran 7 Catatan Lapangan Lampiran 8 Catatan Bimbingan

Lampiran 9 Perjanjian Kerjasama Antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan PT. Pembangunan Jaya Tentang Penyediaan Fasilitas RPTRA

Lampiran 10 Perjanjian Kerjasama Antara PT. Pembangunan Jaya dengan PT. Citra Marga Nusaphala Persada Tbk dengan PT. Toyota Manufacture Motor Indonesia

(20)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta merupakan ibukota negara

Republik Indonesia. Sebagai salah satu kota besar di Indonesia, Provinsi DKI Jakarta

mempunyai beberapa permasalahan-permasalahan klasik yang dialami diantaranya

adalah masalah kemacetan, banjir, dan salah satunya mengenai isu kritis mengenai

pemenuhan hak-hak anak. Hak-hak anak menjadi sesuatu yang sangat penting untuk

dipenuhi karena karakter dan kualitas pembangunan suatu bangsa dan Negara sangat

ditentukan oleh sumber daya manusia yang dimilikinnya. Pengembangan kualitas

sumber daya manusia harus dipersiapkan sedini mungkin bahkan sejak masa

kanak-kanak.

Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan

Anak, anak merupakan seseorang yang belum berusia 18 tahun termasuk anak yang

masih dalam kandungan. Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa pada umumnya

membutuhkan perlindungan dan seorang anak hendaknya dapat menikmati haknya

untuk dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki. Hal ini

sebagaimana hak-hak dasar anak yang mencakup hak tumbuh kembang, partisipasi.

Anak-anak merupakan kelompok penduduk usia muda yang mempunyai potensi

(21)

mendatang. Namun dalam kenyataannya berbagai faktor mempengaruhi hal tersebut.

Faktor-faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah faktor sosial dan ekonomi.

Anak dapat dilihat menjadi sosok yang lemah karena kedua faktor tersebut sehingga

anak seringkali tidak memperoleh haknya sendiri.

Anak yang dapat dilihat lemah tersebut dapat menjadi sangat rentan akan

berbagai macam tindakan kekerasan yang dilakukan. Berikut merupakan jumlah

kasus anak yang ditangani oleh P2TP2A DKI Jakarta:

Tabel 1.1

Jumlah Kasus Anak di DKI Jakarta yang Ditangani P2TP2A

No Tahun Jumlah Kasus Anak

1 2011 251

2 2012 325

3 2013 468

4 2014 553

Jumlah 1.597

Sumber: P2TP2A DKI Jakarta, 2015

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah kasus yang menimpa

anak mengalami peningkatan yang signifikan dari tahun 2011 hingga tahun 2014.

Berdasarkan data pada tabel tersebut juga dapat diketahui bahwa masih banyak anak

yang mengalami tindak kekerasan di Provinsi DKI Jakarta. Jenis kasus yang dihadapi

anak seperti penelantaran, pencabulan, perkosaan, kekerasan fisik, kekerasan psikis,

(22)

lari anak dibawah umur, penganiayaan, pemanfaatan anak untuk jaringan obat-obatan

terlarang, pelibatan anak dalam gerakan masa dan sebagainya. Dengan masih

merebaknya tindak kekerasan pada anak, maka sudah tentu dapat dipastikan bahwa

hak-hak anak menjadi belum terpenuhi.

Anak seringkali tidak mendapatkan haknya bahkan untuk tumbuh dan

berkembang sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Banyak

anak-anak khususnya di Ibukota yang tidak mampu menikmati masa kanak-anak-kanak-anaknya

karena terbatasnya ruang publik yang ramah anak. Di DKI Jakarta sendiri belum

tersedianya fasilitas bermain yang layak atau ramah anak menjadi salah satu kendala

dalam pemenuhan hak-hak anak. Hak-hak anak telah disetujui dalam Konvensi Hak

Anak (KHA) oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1989. Terdapat 54

pasal dan Komite Hak Anak PBB mengelompokkan KHA ke dalam 8 klaster.

Hak-hak anak tersebut harus terpenuhi dan menjadi kewajiban bagi Pemerintah untuk

mewujudkan hal tersebut. Hak-hak anak tersebut harus dipenuhi guna menunjang

kehidupan anak khususnya tumbuh dan kembang anak. Tumbuh kembang anak

menjadi sangat penting karena diharapkan dengan proses tumbuh kembang yang baik,

anak dapat menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas.

Pemrintah pun menggulirkan kebijakan Kota Layak anak (KLA) sebagai salah

satu solusi dalam memberikan perlindungan dan pengembangan potensi anak sesuai

(23)

satu program strategis dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah

(RPJMD) Provinsi DKI Jakarta tahun 2013-2017.

Tabel 1.2

10 Provinsi Pilot Project Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA)

No Nama Provinsi

1 DK DKI Jakarta

22 2 Banten

3 Jawa Barat

4 Jawa Tengah

5 Jawa Timur

6 Sumatera Utara

7 Bali

8 Kepulauan Riau

9 Kalimantan Timur

10 Daerah Istimewa Yogyakarta

Sumber: Kepmen Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI No. 56 Tahun 2010

Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan

Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2010 tentang Penunjukan

dan Penetapan 10 Provinsi untuk mengembangkan Kabupaten/Kota Layak Anak,

Provinsi DKI Jakarta termasuk salah satu Provinsi yang ditunjuk untuk

(24)

Pengembangan KLA di Provinsi DKI Jakarta saat ini terdapat di Kota

Administrasi Jakarta Pusat, Jakarta Utara dan Jakarta Selatan. Hal tersebut sesuai

dengan yang tercantum di dalam Keputusan Gubernur Nomor 394 tahun 2011 tentang

Penunjukan Kota Administrasi Jakarta Pusat, Jakarta Utara dan Jakarta Selatan

sebagai Pengembangan Kota Layak Anak. Dilanjutkan dengan Keputusan Gubernur

Nomor 736/2013 tentang penunjukan Kota Administrasi Jakarta Timur, Jakarta barat

dan Kepulauan Seribu sebagai Pengembangan Kota Layak Anak berikutnya, serta

Keputusan Gubernur Nomor 1192/2011 tentang Pembentukan Gugus Tugas Kota

Layak Anak di Provinsi DKI Jakarta.

Gugus tugas KLA Provinsi DKI Jakarta mengatur tentang tugas dan peran

SKPD serta lembaga terkait untuk menangani pengembangan KLA. Salah satu SKPD

yang berperan sebagai leading sector dari program KLA ini adalah Badan

Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB) Provinsi

DKI Jakarta.

Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) sebagai pengembangan dari

kebijakan Kota Layak Anak menjadi strategi penting Pemerintah Provinsi DKI

Jakarta dengan mengintegrasikan seluruh komitmen dan potensi sumber daya para

pihak baik dari Pemerintah, masyaraat maupun dari pihak duinia usaha melalui sistem

perencanaan yang komprehensif, menyeluruh dan berkelanjutan dalam bentuk

fasilitas fisik dan non fisik secara terpadu. Seluruh kebijakan dan langkah strategis ini

(25)

Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) yang pertama kali diresmikan

oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah RPTRA yang berada di Kota

Administrasi Jakarta Utara yakni di Kelurahan Sungai Bambu. RPTRA tersebut

menjadi RPTRA pilot projcet yaitu RPTRA percontohan yang terletak di Kota

Administrasi Jakarta Utara. Jakarta Utara merupakan salah satu wilayah Kota

Administrasi pengembangan Kota Layak Anak dan Kelurahan Sungai Bambu pun

menjadi salah satu pilot project Kelurahan ramah anak di DKI Jakarta. Anak

merupakan komponen utama dalam pengimplementasian RPTRA. Berikut ini

merupakan tabel jumlah penduduk usia 0-17 tahun di Jakarta Utara:

Tabel 1.3

Jumlah Penduduk Usia Anak 0-17 Tahun di Kota Administratif Jakarta Utara Tahun 2015

No Kecamatan Jumlah Penduduk Usia Anak

1 Penjaringan 91.418

2 Tanjung Priok 121.606

3 Koja 105.383

4 Cilincing 134.992

5 Pademangan 49.548

6 Kelapa Gading 35.275

TOTAL 538.222

Sumber: www.data.go.id

Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa jumlah anak yang tidak

(26)

Salah satunya adalah terbatasnya lahan yang difungsikan sebagai tempat bermain

yang ramah anak di Provinsi DKI Jakarta. Dengan adanya permasalahan tersebut,

tentunya Provinsi DKI Jakarta belum dapat di kategorikan sebagai Kota Layak Anak.

Karena anak-anak tidak mempunyai tempat untuk bermain sehingga dapat memicu

terjadinya kekerasan pada anak dan berbagai macam hal-hal yang tidak diinginkan

dan menjadikan hak-hak anak tidak terpenuhi.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang berusaha untuk mendapatkan

predikat Kota Layak Anak (KLA). Untuk mendapatkan predikat Kota Layak Anak

tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus memenuhi indikator-indikator KLA.

Untuk memulainya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memenuhi empat

indikator Kota Layak Anak yang terdapat di dalam Peraturan Menteri Negara

Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 12

Tahun 2011 tentang Indikator Kabupaten/Kota Layak Anak, yaitu pada pasal 5 ayat 2

huruf a mengenai penguatan kelembagaan yaitu dalam hal keterlibatan lembaga

masyarakat dalam pemenuhan hak anak dan keterlibatan dunia usaha dalam

pemenuhan hak anak. Dan pada pasal 5 ayat 2 huruf b mengenai klaster hak anak

meliputi kesehatan dasar dan kesejahteraan dan pendidikan dan pemanfaatan waktu

luang dan kegiatan budaya. Pemenuhan keempat indikator tersebut adalah dengan

dibangunnya Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA).

Fasilitas Ruang Publik Terpadu menjadi bagian dari strategi pembangunan

(27)

Kepadatan kampung kota mengakibatkan anak-anak yang tinggal di kawasan padat

penduduk tersebut kehilangan hak-haknya untuk bermain dan mempunyai fasilitas

bermain di tempat yang aman. Keadaan tersebut tentunya menjadi penghalang DKI

Jakarta mendapatkan predikat Kota Layak Anak (KLA).

Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) merupakan ruang publik yang

dapat dimanfaatkan fungsinya oleh masyarakat umum, mulai dari anak-anak sampai

masyarakat lanjut usia (Lansia). RPTRA dibangun di kawasan permukiman kumuh

sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat memanfaatkan ruang publik tersebut.

Ruang publik tersebut termasuk kategori ramah anak karena di dalamnya terdapat

taman bermain dan lapangan olahraga yang di khususkan sebagai tempat bermain

yang aman untuk anak dan juga terdapat fasilitas edukasi untuk anak seperti,

perpustakaan, sehingga anak-anak di RPTRA tidak hanya bermain namun anak-anak

juga dapat membaca buku. Anak-anak pun dapat mendapatkan edukasi-edukasi selagi

bermain. Selain itu, RPTRA juga merupakan ruang publik yang bebas dari asap

rokok. Hal tersebut yang menjadikan RPTRA memang suatu fasilitas ruang publik

yang ramah untuk anak.

Hal tersebut memenuhi indikator Kota Layak Anak Peraturan Menteri Negara

Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia pada pasal 11

huruf (e) yaitu tersedia fasilitas untuk kegiatan kreatif dan rekreatif yang ramah anak,

di luar sekolah yang dapat diakses semua anak. Kemudian juga memenuhi indikator

(28)

Anak Republik Indonesia pasal 10 huruf (g) jumlah anak dari keluarga miskin yang

memperoleh akses peningkatan kesejahteraan. Dengan adanya RPTRA di

tengah-tengah lingkungan permukiman kumuh, masyarakat dengan tingkat ekonomi

menengah ke bawah dapat memberikan fasilitas bermain dan belajar yang

sebelumnya sulit untuk didapatkan.

Tidak hanya untuk anak-anak saja RPTRA juga dapat dimanfaatkan oleh

masyarakat dari berbagai kalangan usia. Untuk usia remaja, dapat memanfaatkan

lapangan-lapangan olahraga yang ada. Untuk kalangan ibu dan bapak dapat

memanfaatkan taman yang ditanami tanaman-tanaman obat yang juga dapat

dimanfaatkan dan untuk Lansia juga dapat memanfaatkan program-program yang

disediakan khusus untuk Lansia. RPTRA juga dibangun sebagai sarana berkumpul

seluruh warga sebagai cara untuk melakukan sosialisasi dan membicarakan

permasalahan yang masing-masing sedang dihadapi dan juga untuk menggugurkan

sikap individualisme masyarakat perkotaan dan juga sebagai lokasi tanggap darurat

terhadap bencana.

Pembangunan RPTRA pada tahap pertama dibiayai oleh dana Coorporate

Social Responsibility (CSR) dari perusahaan-perusahaan swasta. Hal tersebut sesuai

dengan indikator KLA pada Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan

Perlindungan Anak Republik Indonesia pasal 6 huruf (g) yaitu keterlibatan dunia

usaha dalam pemenuhan hak anak. Keterlibatan dunia usaha ini dalam memberikan

(29)

swasta pun menunjukkan kepeduliannya dalam hal pembangunan RPTRA sebagai

sarana sosialisasi untuk masyarakat yang ramah anak ini.

Operasional dan pemeliharaan RPTRA menjadi domain dari TP PKK Provinsi

DKI Jakarta, SKPD/UKPD, serta CSR. Berbagai bentuk dukungan dalam

pengembangan RPTRA baik berupa sumbangan fisik dan non fisik diatur dalam

Perjanjian Kerja Sama dan Peraturan Gubernur. Selanjutnya masyarakat dilibatka

secara aktif agar RPTRA menjadi milik bersama masyarakat yang harus

dimanfaatkan, dijaga dan dilindungi.

Kepedulian sektor swasta tersebut dibuktikan dengan tidak hanya pemberian

dana, namun proses pembuatan RPTRA dari tahap perancangan hingga tahap

pembangunan juga ditangani oleh pihak swasta tentunya dengan masukan-masukan

dari masyarakat dan beberapa universitas. Berikut ini merupakan enam RPTRA yang

telah dibangun sebagai RPTRA percontohan di masing-masing Kota Administrasi di

Provinsi DKI Jakarta.

Tabel 1.4

Data Lokasi, CSR, dan Waktu Peresmian RPTRA Tahun 2015

(30)

ing

Bahari Cilandak Gandaria Selatan Jl. Bahari Raya RT 009 RW

Seribu Selatan Untung Jawa Untung Pulau Jawa

Cililitan Kramat Jati Cililitan Jl. Buluh RT 10 RW 16 Sumber: Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMP-KB) Provinsi DKI Jakarta

Untuk RPTRA Sungai Bambu yang terletak di Jakarta Utara, terdapat tiga

pihak swasta yang terlibat yaitu, PT. Pembangunan Jaya dengan dana CSR sebesar

Rp. 412.154.795 (Empat ratus dua belas juta seratus lima puluh empat ribu tujuh ratus

sembilan puluh lima rupiah). PT. Citra Marga Nusaphala Persada dengan dana

sebesar Rp. 220.000.000,- (Dua ratus dua puluh juta rupiah), dan PT. Toyota Motor

Manufacturing Indonesia dengan dana CSR sebesar Rp 87.664.000 (Delapan puluh

(31)

Ruang Publik Terpadu Ramah Anak dikelola oleh pengelola yang ditetapkan

dengan SK Gubernur dengan proses seleksi sesuaikan dengan ketentuan. Pada tigkat

Provinsi DKI Jakarta, dibentuk pengurus RPTRA Provinsi pada tingkat

Kota/Kabupaten dibentuk pengurus RPTRA Kota/Kabupaten, dan pada tingkat

Kelurahan dibentuk Pengurus RPTRA Kelurahan. Selain itu terdapat petugas

kebersihan yang ditugaskan di setiap RPTRA yang biasa disebut Petugas Penanganan

Sarana dan Prasarana Umum (PPSU). Namun diharapkan RPTRA juga dijaga dan

dipelihara bersama oleh masyarakat sekitar. Sehigga masyarakat dapat ikut berperan

aktif dalam pemeliharaan RPTRA. Hal tersebut sesuai dengan indikator KLA pada

Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Republik Indonesia pasal 6 huruf (f) yaitu keterlibatan lembaga masyarakat dalam

pemenuhan hak anak.

Peneliti memutuskan untuk menjadikan Kota Administrasi Jakarta Utara

sebagai locus penelitian karena Kota Administrasi Jakarta Utara merupakan salah

satu Kota Administrasi pengembangan Kota Layak Anak sesuai dengan Keputusan

Gubernur Nomor 394 Tahun 2011. Selain itu, di Kota Administrasi Jakarta Utara

terdapat satu RPTRA percontohan yang telah dibangun, diresmikan, dan programnya

pun sudah berjalan yaitu RPTRA di Kelurahan Sungai Bambu, Kecamatan Tanjung

Priok. RPTRA tersebut berada di kawasan RW 06, lokasi berada di tanah seluas

+3838.68 m2. Lokasi RPTRA tersebut merupakan salah satu daerah berpenduduk

(32)

kawasan tersebut belum terdapat ruang terbuka untuk bermain yang mendorong

tumbuh kembang anak, belum terdapatnya sarana kesehatan dan pendidikan yang

memadai, tidak adanya ruang berkumpul bagi warga yang dapat mencukupi

kebutuhan sosial bermasyarakat, dan belum adanya ruang untuk menampung kondisi

cepat tanggap darurat ketika terjadi bencana banjir dan kebakaran juga bencana

lainnya.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah peneliti sampaikan sebelumnya, terdapat masalah yang peneliti temukan yaitu :

1. Koordinasi antar SKPD yang terkait masih rendah dalam hal

mensosialisasikan fungsi-fungsi dan tujuan didirikannya RPTRA sehingga

masih banyak masyarakat yang belum dapat merasakan manfaat dari

didirikannya RPTRA.

2. Penerapan peraturan yang dibuat oleh petugas RPTRA dalam hal ini adalah

ibu-ibu PKK Kelurahan Sungai Bambu selaku pihak yang berwenang

menjaga RPTRA atau staff lapangan masih belum tepat dan tidak sesuai

dengan kebutuhan masyarakat.

3. Harapan masyarakat mengenai RPTRA yaitu menjadi tempat bermain yang

(33)

1.3 Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi diatas maka peneliti membatasi

masalah penelitian yaitu tentang Implementasi Ruang Publik Terpadu Ramah Anak

(RPTRA) di Kota Administrasi Jakarta Utara.

1.4 Rumusan Masalah

1. Bagaimana Implementasi Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di

Kota Administrasi Jakarta Utara

1.5 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam

penelitian adalah untuk mengetahui Implementasi Ruang Publik Terpadu Ramah

Anak (RPTRA) di Jakarta Utara.

1.6 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun

secara praktis yaitu :

(34)

teori-teori yang telah ada sehingga memperkaya hasil-hasil ilmu pengetahuan yang baru.

(35)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN ASUMSI

DASAR PENELITIAN

2.1 Tinjauan Pustaka

Setiap penelitian selalu menggunakan teori. Kerlinger dalam Basrowi dan

Suwandi (2008:37) memberikan definisi teori sebagai berikut:

“Theory is a set of interalated construct (concepts), definition, and proposition that presents a systematic view of phenomena by specifying relation among variables, with purpose of explaining and predicting the phenomena.” (Teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi, dan proporsi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui spesifikasi hubungan antarvariabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena).

Teori sangat dibutuhkan dan berguna untuk menjelaskan dan meramalkan

fenomena secara sistematis. Berikut akan peneliti paparkan teori-teori yang peneliti

gunakan sesuai dengan masalah penelitian yang telah peneliti identifikasi.

2.1.1 Konsep Kebijakan Publik

Kebijakan publik merupakan produk hukum yang diperoleh melalui suatu

proses kegiatan atau tindakan yang bersifat administratif, ilmiah dan politis yang

dibuat oleh pembuat kebijakan (policy maker) dan pemangku kebijakan terkait

(Mulyadi, 2015:45). Kebijakan publik inilah yang nantinya akan membantu

(36)

diusulkan oleh sekelompok masyarakat seperti yang diungkapkan oleh Carl Friedrich

berikut ini.

Kebijakan dipandang sebagai suatu arah tindakan yang diusulkan oleh

seseorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu yang

memberikan hambatan-hambatan dan peluang-peluang terhadap kebijakan yang

diusulkan untuk menggunakan dan mengatasi dalam rangka mencapai suatu tujuan

atau merealisasikan suatu sasaran atau suatu maksud tertentu, Carl Friedrich dalam

Winarno (2014:20).

Berdasarkan definisi kebijakan publik yang diungkapkan oleh Carl Friedrich

tersebut, dapat dikatakan bahwa apa yang disampaikan oleh Friedrich ini menyangkut

dimensi yang luas karena kebijakan tidak hanya dipahami sebagai tindakan yang

dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga oleh kelompok maupun oleh individu.

Kebijakan tidak hanya melibatkan pemerintah dalam pembuatan kebijakan tersebut,

dalam hal ini masyarakat juga dapat dilibatkan dalam perumusan suatu kebijakan.

Untuk lebih memahami pengertian kebijakan publik yang luas dengan , maka berikut

akan dijelaskan pengertian kebijakan publik menurut para ahli kebijakan pada

subbab-subbab khusus berikut ini.

2.1.1.1 Pengertian Kebijakan Publik

Kebijakan merupakan serangkaian kegiatan yang mempunyai maksud atau

(37)

aktor yang berhubungan dengan suatu permasalahan atau suatu hal yang diperhatikan,

James Anderson dalam Agustino (2008:7).

Seorang pakar inggris, W.I Jenkins dalam Wahab (2012:15) mengemukakan

kebijakan publik sebagai berikut:

“A set of interrelated decisions taken by political actor of group of actors concerning the selection of goals and the means of achieving them within a specified situation where these decisions should, in principle, be within the power of these actors to achieve” (serangkaian keputusan yang saling berkaitan yang diambil oleh seorang aktor politik atau sekelompok aktor, berkenaan dengan tujuan yang telah dipilih beserta cara-cara untuk mencapainya dalam suatu situasi. Keputusan-keputusan itu pada prinsipnya masih berada dalam batas-batas kewenangan kekuasaan dari para aktor tersebut).

Dari kedua pengetian diatas, kebijakan merupakan serangkaian kegiatan yang

berisi mengenai keputusan yang mempunyai maksud dan tujuan tertentu dari adanya

suatu permasalahan dan dibuat oleh seorang aktor politik atau sekelompok aktor yang

mempunyai kekuasaan dan wewenang.

Knoepfel dkk dalam Wahab (2012:10) mengartikan kebijakan sebagai:

“a series of decisions or activities resulting from structured and recurrent interactions between different actors, both public and private, who are involved in various different ways in the emergence, identification and resolution of a problem defined politically as a public one” (serangkaian keputusan atau tindakan-tindakan sebagai akibat dari interaksi terstruktur dan berulang di antara berbagai aktor, baik publik/pemerintah maupun privat/swasta yang terlibat berbagai cara dalam merespons, mengidentifikasi, dan memecahkan suatu masalah yang secara politis didefinisikan sebagai masalah publik).

Makna dari definisi yang diungkapkan oleh Knoepfel dkk diatas menunjukkan

(38)

pembuat kebijakan, kebijakan tersebut dibuat untuk memecahkan berbagai masalah

publik yang sedang terjadi. Dalam menentukan kebijakan tersebut memang

melibatkan berbagai macam aktor yang mempunyai kepentingan di dalamnya.

Pengertian mengenai kebijakan publik juga diungkapkan oleh Lemieux dalam

Wahab (2012:10) seorang pakar dari Prancis, Lemieux merumuskan kebijakan

publik sebagai berikut:

“the product of activities aimed at the resolution of public problems in the environment by political actors whose relationship are structured. The entire process evolves over time” (produk aktivitas-aktvitas yang dimaksudkan untuk memecahkan masalah-masalah publik yang terjadi di lingkungan tertentu yang dilakukan oleh aktor-aktor politik yang hubungannya terstruktur. Keseluruhan proses aktivitas itu berlangsung sepanjang waktu).

Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa kebijakan publik merupakan

hasil atau produk dari aktivitas-aktvitas yang memang dimaksudkan untuk

memecahkan permasalahan publik yang terjadi di berbagai lingkungan.

Beberapa pakar lainnnya memberikan definisi yang berbeda tentang

kebijakan publik. Salah satu definisi tersebut diberikan oleh Thomas R. Dye dalam

Nugroho (2012:20) yang mendefinisikannya sebagai segala sesuatu yang dikerjakan

pemerintah, mengapa mereka melakukan, dan hasil yang membuat sebuah kehidupan

bersama tampil berbeda (what government do, why they do it, and what difference it

makes). Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa apapun yang dilakukan oleh

pemerintah atau keputusan apapun yang dilakukan oleh pemerintah hal tersebut

(39)

dipikirkan dan memiliki alasan tersendiri yang tentunya pada akhirnya diharapkan

akan membuat perubahan-perubahan yang diinginkan oleh masyarakat.

Michael Howlett dan M. Ramesh dalam Nugroho (2012:120) mengemukakan

bahwa:

“public policy is a complex phenomenon consisting of numerous decisions made by numerous individual and organizations. It is often shaped by earlier policies and is frequently linked closely with other seemingly unrelated decisions” (kebijakan publik merupakan sebuah fenomena kompleks yang terdiri dari banyak keputusan yang dibuat oleh banyak orang dan organisasi. Kebijakan publik juga kerap kali terbentuk dari kebijakan-kebijakan yang telah ada dan juga sering berhubungan dengan keputusan yang lain yang diduga tidak berkaitan).

Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa kebijakan publik adalah

fenomena-fenomena yang kompleks yang berisi tentang keptusan-keputusan yang

dibuat oleh individu atau kelompok dan juga kebijkaan itu bisa terbentuk dari

kebijakan yang memang sudah ada atau kebijakan yang baru yang tujuannya tetap

untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh masyarakat.

Kemudian terdapat juga definisi kebijakan publik yang diutarakan oleh

Charles L. Cochran dan Eloise F. Malone dalam Nugroho (2012:121) public policy

consists of political decisions for implementing programs to achieve societal goals

(kebijakan publik berisi keputusan-keputusan politik untuk mengimplementasikan

program-program untuk mencapai tujuan-tujuan masyarakat). Dari pengertian

tersebut dapat diketahui juga bahwa kebijakan publik berisikan tentang keputusan

(40)

akan diimplementasikan dan diharapkan dengan diimplementasikannya program

tersebut, masyarakat dapat merasakan manfaatnya.

Setelah memahami pengertian-pengertian kebijakan publik dari beberapa ahli

kebijakan, peneliti dapat menarik sebuah pengertian yang singkat dan umum bahwa

kebijakan publik adalah sebuah instrumen yang dikeluarkan oleh pemerintah yang

berisikan tentang keputusan-keputusan politik untuk mengatasi

permasalahan-permasalahan yang dialami oleh masyarakat.

2.1.1.2 Tahap-Tahap Kebijakan Publik

Untuk menghasilkan suatu program yang dapat membantu masyarakat untuk

menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi, kebijakan publik memiliki

mekanisme berupa tahapan-tahapan dalam kebijakan publik. Kebijakan publik

memiliki beberapa tahapan yang saling terkait antara satu dengan yang lainnnya.

Karena secara umum, kebijakan publik merupakan suatu proses yang kompleks,

dinamis, dan dalam pembuatannya pun dipengaruhi oleh beberapa aktor pembuat

kebijakan. Dengan proses yang kompleks tersebut diharapkan program yang

dihasilkan pun tidak hanya sebatas regulasi-regulasi yang tertera diatas kertas saja

namun dapat juga diaplikasikan dengan baik demi tercapainya kesejahteraan

masyarakat. Agar lebih jelas mengenai tahapan-tahapan pada kebijakan publik,

(41)

Gambar 2.1

Tahapan Kebijakan Publik

Sumber: Nugroho (2012:185)

Gambar 2.1 di atas dapat dijelaskan dalam sekuensi berikut:

1. Isu kebijakan. Disebut isu apabila bersifat strategis, yakni bersifat mendasar,

menyangkut banyak orang atau bahkan keselamatan bersama, (biasanya) berjangka panjang, tidak bisa diselesaikan oleh orang-seorang, dan memang harus diselesaikan. Isu ini diangkat sebagai agenda politik untuk diselesaikan.

Isu kebijakan ini terdiri atas dua jenis, yaitu problem dan goal. Artinya

kebijakan publik dapat berorientasi pada permasalahan yang muncul pada

kehidupan politik, dan apat pula berorientasi pada goal atau tujuan yang

hendak dicapai pada kehidupan publik.

2. Isu kebijakan ini kemudian menggerakan pemerintah untuk merumuskan

kebijakan publik dalam rangka menyelesaikan masalah tersebut. rumusan kebijakan ini akan menjadi hukum bagi seluruh Negara dan warganya termasuk pimpinan Negara.

3. Setelah dirumuskan, kebijakan publik ini kemudian dilaksanakan baik oleh

pemerintah atau masyarakat maupun pemerintah bersama-sama dengan masyarakat.

4. Namun, dalam proses perumusan, pelaksanaan dan pasca pelaksanaan

diperlukan tindakan evaluasi sebagai sebuah siklus baru untuk dinilai apakah Perumusan

Kebijakan

Implementasi Kebijakan

(42)

kebijakan tersebut sudah dirumuskan dengan baik dan benar dan diimplementasikan dengan baik dan benar pula.

5. Implementasi kebijakan bermuara pada output yang dapat berupa kebijakan itu sendiri atau manfaat langsung yang dapat dirasakan oleh pemanfaat.

6. Dalam jangka panjang, kebijakan tersebut menghasilkan outcome dalam bentuk impak kebijakan yang diharapkan semakin menigkatkan tujuan yang hedak dicapai dengan kebijakan tersebut.

Berdasarkan gambar 2.1 di atas dapat dilihat bahwa siklus kebijakan publik

selalu berjalan seperti pada gambar tersebut guna mendapatkan hasil kebijakan yang

nantinya akan digunakan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan publik. Pada

gambar tersebut dapat dilihat awal dari sebuah proses kebijakan adalah adanya isu

kebijakan. Seperti yang diungkapkan oleh Mulyadi (2015:5) isu kebijakan menjadi

embrio awal bagi munculnya masalah-masalah publik. Isu kebijakan tersebut muncul

dari permasalahan yang datang dari masyarakat dimana masyarakat muai merasakan

adanya perbedaan harapa dengan kenyataan yang terjadi. Kemudian, isu-isu

kebijakan tersebut akan dipilih, pilihan isu tersebut berdasarkan isu mana yang lebih

penting dan lebih serius maka isu tersebut lah yang akan dibahas dalam agenda

setting atau agenda kebijakan. Meurut Lester dan Stewart dalam Mulyadi (2015:6)

menyatakan bahwa suatu isu akan mendapat perhatian bila memenuhi kriteria berikut:

1. Bila suatu isu telah melampaui suatu proporsi suatu krisis dan tidak dapat terlalu lama dibiarkan. Misalnya kebakaran hutan.

2. Suatu isu akan mendapat perhatian bila isu terseut memiliki sifat partikularis,dimana isu tersebut menunjukkan dan mendramatisir isu yang lebih besar. Misalnya isu mengenai kebocoran lapisan ozon dan pemanasan global.

(43)

4. Mendorong munculnya pertanyaan menyangkut kekuasaan dan legitimasi masyarakat.

5. Isu tersebut sedang menjadi tren atau sedang diminati oleh banyak orang. Setelah penetapan isu kebijakan selesai dilakukan, selanjutnya adalah

menyusun agenda kebijakan sebelum nantinya merumuskan kebijakan. Menurut

Mulyadi (2015:6) agenda kebijakan adalah tuntutan-tuntutan agar para pembuat

kebijakan memilih atau merasa terdorong untuk melakukan tindakan tertentu. Roger

W. Cobb dan Charles D. Elder dalam Mulyadi (2015:7-8) mengidentifikasi dua

macam agenda pokok, yaitu:

1. Agenda Sistemik

Terdiri dari semua isu yang menurut pandangan anggota-anggota masyarakat

politik pantas mendapat perhatian publik dan mencakup masalah-masalah yang

berada dalam yuridiksi wewenang pemerintah yang secara sah ada. Agenda ini

terdapat dalam setiap sistem politik di tingkat nasional dan di daerah. Agenda

sistemik pada dasarnya merupakan agenda pembahasan. Tindakan mengenai suatu

masalah hanya aka nada apabila masalah tersebut diajukan kepada lembaga

pemerintah dengan suatu kewenangan untuk mengambil tindakan yang pantas.

2. Agenda Lembaga atau Pemerintah

Terdiri dari masalah-masalah yang mendapat perhatian serius dari pejabat

pemerintah. Karena terdapat bermacam-macam pokok agenda yang membutuhkan

(44)

lembaga merupakan agenda tindakan yang memiliki sifat lebih khusus dan lebih

konkret bila dibandingkan dengan agenda sistemik.

Pokok-pokok agenda lembaga dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

a. Pokok-pokok agenda lama

Pokok-pokok agenda lama cenderung tidak mendapatkan prioritas dari para

pembuat kebijakan. Alokasi waktu yang diberikan terbatas, serta agenda selalu sarat

dengan masalah. Hal ini terjadi karena masalah-masalah telah tercantum lama dalam

agenda sehingga para pembuat keputusan kecenderungan beranggapan bahwa

masalah-masalah lama tersebut telah mendapat perhatian yang cukup besar dan para

pejabat lebih mempunyai pemahaman terhadap masalah tersebut.

b. Pokok-pokok agenda baru

Pokok-pokok agenda baru tercantum secara teratur dalam agenda. Misalnya

kenaikan gaji pegawai dan alokasi anggaran belanja. Agenda ini biasanya dikenal

oleh para pejabat dan alternatif-alternatif untuk menanggulanginya telah terpola

sedemikian rupa. Pokok-pokok agenda baru timbul dari keadaan-keadaan tertentu.

Kemudian setelah dilakukan agenda kebijakan tahapan selanjutnya adalah

perumusan kebijakan atau juga biasa disebut dengan formulasi kebijakan. Perumusan

kebijakan merupakan salah satu tahap yang penting dalam pembentukan kebijakan

publik. Berikut ini merupakan tahap-tahap dalam perumusan kebijakan menurut

(45)

1. Tahap Pertama: Perumusan Masalah (Defining Problem)

Mengenali dan merumuskan masalah merupakan langkah yang paling fundamental dalam perumusan kebijakan. Untuk dapat merumuskan kebijakan dengan baik, maka masalah-masalah publik harus dikenali dan didefinisikan dengan baik pula. Kebijakan publik pada dasarnya dibuat untuk memecahkan masalah yang ada dalam masyarakat. Oleh karena itu, seberapa besar kontribusi yang diberikan oleh kebijakan publik dalam menyelesaikan masalah-masalah dalam masyarakat menjadi pertanyaan yang menarik dalam evaluasi kebijakan publik. Namun demikian, apakah pemecahan masalah tersebut memuaskan atau tidak bergantung pada ketepatan masalah-masalah publik tersebut dirumuskan. 2. Tahap Kedua: Agenda Kebijakan

Tidak semua masalah publikakan masuk ke dalam agenda kebijakan. Suatu masalah untuk masuk ke dalam agenda kebijakan harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Masalah publik yang telah masuk ke dalam agenda kebijakan akan dibahas oleh para perumus kebijakan, seperti kalangan legislatif (DPR), kalangan eksekutif (presiden dan para pembatunya), agen-agen pemerintah dan mungkin juga kalangan yudikatf.

3. Tahap Ketiga: Pemilihan Alternatif Kebijakan untuk Memecahkan Masalah Setelah masalah-masalah publik didefinisikan dengan baik dan para perumus kebijakan sepakat untuk memasukkan masalah tersebut ke dalam agenda kebijakan, maka langkah selanjutnya adalah membuat pemecahan masalah. Disini para perumus kebijakan akan berhadapan dengan alternatif-alternatif pilihan kebijakan yang diambil untuk memecahkan masalah tersebut.

4. Tahap Keempat: Penetapan Kebijakan

Setelah salah satu dari sekian alternatif kebijakan diputuskan diambil sebagai cara untuk memecahkan masalah kebijakan, maka tahap paling akhir dalam pembentukan kebijakan adalah menetapkan kebijakan yang dipilih tersebut sehingga mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Alternatif kebijakan yang diambil pada dasarnya merupakan kompromi dari berbagai kelompok kepentingan yang terlibat dalam pembentukan kebijakan tersebut.

Setelah melewati beberapa tahapan perumusan kebijakan publik seperti di

atas, maka langkah selanjutnya adalah mengimplementasikan kebijakan yang

tentunya sudah di sahkan oleh pemerintah. Karena tahap implementasi kebijakan ini,

merupakan langkah yang sangat penting dalam proses kebijakan. Karena banyak

kebijakan yang telah mampu dibuat oleh pemerintah namun kemudian ternyata tidak

(46)

terjadi di masyarakat. Setelah tahap pengimplementasian kebijakan publik tersebut,

tahap berikutnya adalah tahap evaluasi dimana dapat dinilai bagaimana hasil dari

perumusan kebijakan dan juga bagaimana implementasi kebijakannya.

Dapat disimpulkan bahwa implementasi merupakan tahap yang krusial

dimana pada tahapan tersebut kebijakan benar-benar di aplikasikan. Karena sebaik

apapun suatu substansi kebijakan publik yang dibuat atau diformulasikan, hal tersebut

tidak akan berguna jika tidak terimplementasikan dengan baik.

2.1.2 Implementasi Kebijakan Publik

Setelah proses perumusan kebijakan yang telah menghasilkan sebuah

program-program yang akan digunakan untuk menyelesaikan masalah publik, sudah

semestinya “produk” tersebut diimplementasikan agar hasilnya terlihat. Seperti yang

diungkapkan oleh Jones dalam Mulyadi (2015:45): “those activities directed toward

putting a program into effect” (proses mewujudkan program hingga memperlihatkan

hasilnya). Seperti halnya Jones, Mulyadi (2015:46) pun beranggapan serupa bahwa

kebijakan publik perlu diwujudkan dan dilaksanakan oleh berbagai pihak sehingga

mempunyai dampak yang sesuai dengan apa yang menjadi tujuan. Jadi dapat

diketahui bahwa hasil dari perumusan kebijakan tersebut hendaknya

diimplementasikan agar kebijakan tersebut dapat terlihat hasilnya

Sementara itu, Udoji dalam Mulyadi (2012:46) juga memberikan pandangan

(47)

“the execution of policies is as important if not more important than policy making. Policies will remain dreams or blue print file jackets unless they are implemented”

(pelaksanaan kebijakan adalah sesuatu yang penting, bahkan mungkin jauh lebih penting dari pembuatan kebijakan. Kebijakan-kebijakan hanya akan berupa impian atau rencana yang bagus, yang tersimpan rapi dalam arsip jika tidak dapat diimplemetasikan).

Pandangan tersebut menekankan bahwa kebijakan merupakan suatu tahapan dalam

kebijakan publik yang sangat penting. Jangan sampai kebijakan publik hanya menjadi

arsip-arsip atau dokumen saja. Hal tersebut sesuai juga dengan apa yang disampaikan

oleh Edwards III dalam Mulyadi (2015:47) bahwa tanpa implementasi yang efektif

maka keputusan pembuat kebijakan tidak akan berhasil dilaksanakan.

Ripley dan Franklin dalam Winarno (2014:148) berpendapat bahwa

implementasi adalah apa yang terjadi setelah undang-undang ditetapkan yang

memberikan otoritas program, kebijakan, keuntungan (benefit), atau jenis keluaran

yang nyata (tangible output). Istilah implementasi menunjuk pada sejumlah kegiatan

yang mengikuti pernyataan maksud tentang tujuan-tujuan program dan hasil-hasil

yang diinginkan oleh para pejabat pemerintah. Implementasi mencakup

tindakan-tindakan (tanpa tindakan-tindakan-tindakan-tindakan) oleh berbagai aktor, khususnya para birokrat,yang

dimaksudkan untuk membuat program berjalan. Dari pengertian tersebut dapat

diketahui bahwa implementasi kebijakan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan

setelah dikeluarkannya pengarahan yang sah dari suatu kebijakan yang meliputi

(48)

Lane dalam Mulyadi (2015:47) berpendapat bahwa implementasi sebagai

konsep dapat dibagi ke dalam dua bagian. Pertama implementation = F (intention,

output, outcome). Kedua, implementasi merupakan persamaan fungsi dari

implementation = F (policy, formator, implementor, initiator, time). Menurut Sabatier

masih dalam Mulyadi (2015:47-48) penekanan utama kedua fungsi ini adalah kepada

kebijakan itu sendiri, kemudian hasil yang dicapai dan dilaksanakan oleh

implementor dalam kurun waktu tertentu.

Kemudian menurut Grindle dalam Winarno (2014:149) secara umum, tugas

implementasi adalah membentuk suatu kaitan (linkage) yang memudahkan

tujuan-tujuan kebijakan bisa direalisasikan sebagai dampak dari suatu kegiatan pemerintah.

Oleh karena itu, tugas implementasi mencakup terbentuknya “a policy delivery

system,” dimana sarana-sarana tertentu dirancang dan dijalankan dengan harapan

sampai pada tujuan-tujuan yang diinginkan. Hal tersebut tampak senada dengan apa

yang disampaikan oleh Van Meter Van Horn (Grindle, 1980:6) dalam Mulyadi

(2015:48) bahwa tugas implementasi adalah membangun jaringan yang

memungkinkan tujuan kebijakan publik direalisasikan melalui aktivitas instansi

pemerintah yang melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan (policy

stakeholder). Jadi, implementasi kebijakan mempunyai tugas membangun jaringan

atau membentuk suatu kaitan yang tentunya mempunyai kemungkinan-kemungkinan

(49)

tentunya mengimplementasikan suatu kebijakan adalah bukan suatu perkara yang

mudah.

Van Meter Van Horn dalam Winarno (2014:149) lalu membatasi

implementasi kebijakan sebagai tindakan-tindakan yang dilakukan oleh

individu-individu (atau kelompok-kelompok) pemerintah maupun swasta yang diarahkan

untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam keputusan-keputusan

kebijakan sebelumnya. Berdasarkan penjelasan diatas, dapat diketahui bahwa

memang proses implementasi kebijakan bukanlah hal yang mudah. Seperti yang

dinyatakan oleh Agustino (2008:138) bahwa dalam praktiknya implementasi

kebijakan merupakan suatu proses yang begitu kompleks bahkan tidak jarang

bermuatan politis dengan adanya intervensi berbagai kepentingan. Seperti yang

disebutkan oleh Lester dan Stewart (Winarno, 2014:219), pelaku dalam implementasi

kebijakan meliputi birokrasi, legislatif, lembaga-lembaga, pengadilan, kelompok

penekan, dan komunitas organisasi. Masing-masing pelaku kebijakan ini mempunyai

kepentingan-kepentingannya sendiri dalam praktik mengimplementasikan suatu

kebijakan.

Namun, dibalik kerumitan dan kompleksnya proses tersebut, implementasi

kebijakan memegang peranan yang cukup vital dalam proses kebijakan. Tanpa

adanya proses implementasi kebijakan, program-program kebijakan yang telah

disusun hanya akan menjadi berkas-berkas yang disimpan oleh para pembuat

(50)

Anderson dalam Kusumanegara (2010 : 97) mengungkapkan bahwa

implementasi kebijakan/program merupakan bagian dari administrative process

(proses administrasi). Proses administrasi mempunyai konsekuensi terhadap

pelaksanaan, isi, dan dampak suatu kebijakan dengan adanya penekanan pada „proses

administrasi‟, maka dapat dipahami bahwa implementasi merupakan suatu proses

yang dinamis dan berkelanjutan, dimana pelaksana kebijakan melakukan suatu

akivitas atau kegiatan, sehingga pada akhirnya akan mendapatkan suatu hasil yang

sesuai dengan tujuan atau sasaran kebijakan itu sendiri (Agustino, 2008:139). Dapat

disimpulkan bahwa, kebijakan publik merupakan suatu proses kebjakan publik yang

penting dan krusial dalam suatu pemerintahan.

Huntigton dalam Abidin (2012:145) berpendapat bahwa perbedaan yang

paling penting antara suatu Negara dengan Negara lain tidak terletak pada bentuk

atau ideologinya, tetapi pada tingkat kemampuan Negara ini untuk melaksanaan

pemerintahan. Tingkat kemampuan itu dapat dilihat pada kemapuan dalam

mengimplementasikan setiap keputusan atau kebijakan yang dibuat oleh seuah pilot

biro, cabinet, atau presiden Negara itu. Berdasarkan pendapat Huntington tersebut

dapat diketahui bahwa proses implementasi kebijakan merupakan proses yang cukup

krusial dan dapat menentukan kesuksesan pemerintah di suatu Negara.

Menurut Abidin (2012) terdapat dua konsep dasar berkenaan dengan

implementasi kebijakan. Pertama, konsep tentang peralatan kebijakan (policy

(51)

kebijakan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan atau yang ingin dicapai. Peralatan

kebijakan ini berhubungan dengan sumber daya manusia, khususnya sumber daya

aparatur dan organisasi. Sumber daya manusia aparatur atau aparatur pemerintah

adalah subjek dan juga sekalgus objek dalam implementasi kebijakan. Sebagai

subjek, pembahasannya berkenaan dengan kemampuan dan kemauan untuk

melaksanakan. Sebagai objek, sumber daya manusia berkaitan dengan penerimaan

(acceptability) terhadap suatu kebijakan. (Hogwood dan Gunn dalam Abidin, 2012:

152).

Kedua, konsep tentang kewenangan yang tersedia untuk melaksanakan

implementasi. Kewenangan adalah kekuasaan tertentu yang dimilikki dan secara

formal diakui oleh pihak-pihak lain untuk menggunakan peralatan yang tersedia

dalam mengimplementasikan kebijakan. Kewenangan berkaitan dengan posisi

organisasi yang bersangkutan dan peraturan perundang-undangan yang mengaturnya.

Masing-masing organisasi memilikki wewenang dan yuridksi administrasi tertentu,

misalnya organisasi atau instansi pusat, organisasi daerah tingkat provinsi, organisasi

daerah tingkat kabupaten, BUMN, atau organisasi swasta.

Nugroho (2012: 675-676) mempunyai gambaran untuk mengimplementasikan

kebijakan publik, terdapat dua pilihan langkah yang ada, yaitu langsung

mengimplementasikan dalam bentuk program atau melalui formulasi kebijakan

derivate atau turunan dari kebijakan publik tersebut. Secara umum dapat digambarkan

(52)

Gambar 2.2

Sekuensi Implementasi Kebijakan

Sumber: Nugroho (2012: 675)

Kebijakan publik dalam bentuk Undang-Undang atau Peraturan Daerah (Perda)

adalah jenis kebijakan yang memerlukan kebijakan publik penjelas atau yang sering

diistilahkan sebagai peraturan pelaksanaan. Kebijakan publk yang bisa langsung Kebijakan Publik

Kebijakan Publik Penjelas

Program

Proyek

Kegiatan

Pemanfaat

(53)

operasional antara lain Keppres, Inpres, Kepmen, Keputusan Kepala Daerah,

Keputusan Kepala Dinas, dan lain-lain. Rangkaian Implementasi pada gambar 2.2

diatas dapat dilihat dengan jelas, yaitu dimulai dari program yang dibuat, lalu ke

proyek, dan ke kegiatan.

Menurut Abidin (2012 : 148), secara umum kebijakan dianggap berkualitas dan

mampu diimplementasikan ditentukan oleh beberapa elemen sebagai berikut:

1. Tujuan yang ingin dicapai atau alasan yang dipakai untuk mengadakan kebijakan itu. Tujuan atau alasan suatu kebijakan dapat dikatakan baik jika tujuan atau alasan itu memenuhi kriteria berikut:

a. Rasional. Artinya, tujuan tersebut dapat dipahami atau diterima oleh akal sehat. Ini terutama dilihat dari faktor-faktor pendukung yang tidak mempertimbangkan faktor pendukung, tidak dapat dianggap sebagai kebijakan yang rasional.

b. Diinginkan (desirable). Tujuan dari kebijakan tersebut menyangkut kepentingan orang banyak, sehingga memperoleh dukungan dari banyak pihak.

2. Asumsi yang dipakai dalam proses perumusan kebijakan itu realistis. Asumsi tersebut tidak mengada-ada. Asumsi ini menentukan tingkat validitas suatu kebijakan.

3. Informasi yang digunakan cukup lengkap dan benar. Suatu kebijakan atau sudah kadaluarsa (out of date). Sementara itu, kebijakan yang didasarkan pada informasi yang kurang lengkap boleh jadi tidak sempurna atau tidak tepat.

Setelah dirasa elemen-elemen tersebut sudah terpenuhi, maka kebijakan tersebut

sudah dianggap berkualitas dan mampu diimplementasikan.

Kebijakan yang diimplementasikan juga sangat bergantung pada efektivitas

dan efisiensi pelaksanaan kebijakan itu sendiri. Apakah kebijakan tersebut dalam

(54)

setidaknya ada “lima tepat” yang perlu dipenuhi dalam hal keefektifan implementasi

kebijakan. Pertama, apakah kebijakannya sendiri sudah tepat. Ketepatan kebijakan ini

dimulai dari sejauh mana kebijakan yang ada telah bermuatan hal-hal yang memang

memecahkan masalah yang hendak dipecahkan. Kedua adalah tepat pelaksanannya,

ketiga adalah tepat target, keempat adalah tepat lingkungan, dan kelima adalah tepat

proses.

Setelah memahami makna dari implementasi kebijakan menurut para ahli

kebijakan di atas, maka peneliti dapat mengembangkan suatu pengertian umum

bahwa implementasi kebijakan publik pada dasarnya adalah cara yang dilakukan oleh

para pembuat kebijakan untuk mencapai tujuan dari suatu kebijakan yang telah

dibuat.

Selanjutnya dalam teori kebijakan publik terdapat beberapa model-model

implementasi kebijakan publik. Model Hogwood dan Gunn dalam Nugroho (2006)

(Mulyadi 2015:73-75) menyatakan bahwa untuk melakukan implementasi kebijakan

diperlukan beberapa syarat yaitu:

1. Berkenaan dengan jaminan bahwa kondisi eksternal yang dihadapi oleh lembaga/bada pelaksana tidak akan menimbulkan masalah besar.

2. Apakah untuk melaksanakannya tersedia sumberdaya yang memadai, termasuk sumberdaya waktu. Gagasan ini sangat bijaksana karena berkenaan dengan fisibilitas implementasi kebijakan.

(55)

4. Apakah kebijakan yang akan diimplementasikan didasari dengan hubungan kausal yang andal. Jadi prisipnya adalah apakah kebijakan tersebut memang dapat menyelesaikan masalah yang hendak ditanggulangi. Dalam metodologi dapat disederhanakan menjadi apakah jika X dilakukan akan terjadi Y.

5. Seberapa banyak hubungan kausalitas yang terjadi. Asumsinya semakin sedikit hubungan “sebab-akibat” semakin tinggi pula hasil yang dikehendaki oleh kebijakan tersebut dapat tercapai. Sebuah kebijakan yang memepunyai hubungan kausalitas yang kompleks otomatis menurunkan efektivitas implementasi kebijakan.

6. Apakah hubungan saling kebergantungan kecil. Asumsinya adalah jika hubungan saling kebergantungan tinggi , implementasi tidak akan berjalan secara efektifapalagi jika hubungannya adalah hubungan kebergantungan. Sebagai contoh implementasi kebijakan pengarus-utamaan gender banyak menemui kendala karena kantor menteri Negara pemberdayaan perempuan bergantug dalam itensitas tinggi kepada seluruh departemen dan LPND serta kepala-kepala daerah.

7. Pemahaman yang mendalam dan kesepakatan terhadap tujuan. Sudah dapat disepakati bahwa mereka yang dalam perahu yang sama sepakat akan ke sebuah tujuan yang sama. Sebuah perahu dengan penumpang yang berbeda-beda tujuan dan pemimpin yang tidak mampu memimpin adalah perahu yang tidak akan pernah bisa beranjak jauh dari tempat semula.

8. Tugas-tugas telah dirinci dan ditempatkan dalam urutan yang benar. Tugas yang jelas dan prioritas yang jelas adalah kunci efektivitas implementasi kebijakan.

9. Komunikasi dan koordinasi yang sempurna. Komunikasi adalah perekat organisasi dan koordinasi adalah asal muasal dari kerjasama tim dan terbentuknya sinergi.

10.Bahwa pihak-pihak yang memilikki wewenang kekuasaan dapat menuntut dan mendapatkan keptuhan yang sempurna. Kekuasan adalah syarat bagi keefektifan implementasi kebijakan. Tanpa otoritas dari kekuasaan kebijakan akan tetap berupa kebijakan tanpa ada impak bagi target kebijakan.

Sebenarnya model Hogwood dan Gunn mendasarkan pada konsep manajemen

strategis yang mengarah pada praktik manajemen yang sistematis dan tidak

meninggalkan kaidah-kaidah pokok. Kelemahannya konsep ini tidak secara tegas

menunjukkan mana yang bersifat politis, strategis, teknis dan operasional. Agar lebih

mudah dimengerti, model Hogwood dan Gunn dirangkum oleh Mulyadi (2015:75)

(56)

1. Jaminan bahwa kondisi eksternal yang dihadapi oleh lembaga/badan pelaksana tidak akan menimbulkan masalah besar.

2. Sumber daya yang memadai.

3. Sumber-sumber yang diperlukan benar-benar ada.

4. Kebijakan yang akan diimplementasikan didasari hubungan kausal yang andal.

5. Seberapa banyak hubungan kausalitas yang terjadi. 6. Seberapa besar hubungan saling bergantungan.

7. Pemahaman yang mendalam dan kesepakata yang mendalam terhadap tujuan.

8. Tugas-tugas telah dirinci dan ditempatkan dalam urutan yang benar. 9. Komunikasi dan koordinasi yang sempurna.

10.Pihak-pihak yang memilikki wewenang kekuasaan dapat menuntut dan mendapatkan kepatuhan yang sempurna.

Selain Hugwood dan Gunn, juga terdapat model implementasi yang

disampaikan oleh George C. Edward III dalam Subarsono (2005) (Mulyadi

2015:68-69) mengemukakan empat variabel yang mempengaruhi implementasi kebijakan,

yakni:

1. Komunikasi

Keberhasilan implementasi kebijakan mensyaratkan agar implementor mengetahui apa yang harus dilakukan. Apa yang menjadi tujuan dan sasaran kebijakan harus ditransmisikan kepada kelompok sasaran (target group)

sehingga akan mengurangi distorsi implementasi. Apabila tujuan dan sasaran suatu kebijakan tidak jelas atau bahkan tidak diketahui sama sekali oleh kelompok sasaran, maka kemungkinan akan terjadi resistensi dari kelompok sasaran.

2. Sumberdaya

Walaupun isi kebijakan sudah dikomunikasikan secara jelas dan konsisten, tetapi apabila implementor kekurangan sumberdaya untuk melaksanakan, implementasi tidak akan berjalan efektif. Sumberdaya tersebut dapat berwujud sumberdaya manusia, yakni kompetensi implementor, dan sumberdaya finansial. Sumberdaya adalah faktor penting untuk implementasi kebijakan agar efektif. Tanpa sumber daya, kebijakan hanya tinggal di kertas menjadi dokumen saja.

3. Disposisi

(57)

seperti apa yang diinginkana oleh pembuat kebijakan, maka proses implementasi kebijakan juga menjadi tidak efektif.

4. Struktur Birokrasi

Struktur organisasi yang bertugas mengimplementasikan kebijakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap implementasi kebijakan. Salah satu dari aspek struktur yang penting dari setiap organisasi adalah adanya prosedur

operasi yang standar Standard Operating System (SOP). SOP menjadi

pedoman bagi setiap implementor dalam bertindak. Struktur organisasi yang terlalu panjang akan cenderung melemahkan pengawasan dan menimbulkan

red-tape, yakni prosedur birokrasi yang rumit dan kompleks. Ini pada

gilirannya menyebabkan aktivitas organisasi tidak fleksibel.

Gambar 2.3

Model Implementasi George C. Edwards III

Sumber: Mulyadi (2015:69) Komunikasi

Struktur Birokrasi

Implementasi Sumber Daya

Gambar

Tabel 1.1
Tabel 1.2
Tabel 1.3
Tabel 1.4
+7

Referensi

Dokumen terkait

menghampiriku. Tangannya menampar pipi kiriku, dan menampar lagi pipi kananku. Jejak tangannya seperti setrika arang. Kekerasan fisik yang dialami Gambir terlihat

Dari data inilah, perlu adanya kajian lebih lanjut bahwa kematian ibu memang di rumah sakit atau karena sistem rujukan yang belum berjalan dengan baik (Dinkes

Pembuatan distro Linux Ubuntu MantriX ini bertujuan untuk menghasilkan sebuah sistem operasi Linux yang akan kami distribusikan dalam bentuk satu CD, dan juga format iso sehingga

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji regresi linier berganda dan uji hipotesis dengan uji t yang menghasilkan secara parsial harga

Kemudian, lengkapkan carta di bawah tentang punca pencemaran daripada aktiviti perkilangan dan kesan pembuangan bahan sisa industri terhadap alam sekitar.  Akuatik

Mengetikkan username dan password tidak diisi atau kosong kemudian klik tombol login Username: agung Password : (kosong) Sistem akan menolak akses user dan

RPTRA sudah mampu menarik minat warga untuk datang ke sana dan responden berpendapat bahwa taman ini lebih baik dari sebelumnya karena beragam fasilitas yang

Serangan disini hanya dilakukan untuk melihat apakah penyerang dapat memasuki database website UMK tanpa melakukan manipulasi terhadap database yang ada,