SKRIPSI
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial pada Konsentrasi Kebijakan Publik
Program Studi Ilmu Administrasi Negara
Oleh
Tangen Vika Indriany
NIM 6661120378
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
v
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (Q.S 55:13)
vi
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas berkah, rahmat dan
inayah-Nya, Alhamdulillah penulis dapat menyelesaikan proposal skripsi yang
berjudul Implementasi Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di Kota
Administratif Jakarta Utara tanpa menemukan hambatan dan kesulitan yang berarti.
Dalam skripsi ini penulis berusaha menyampaikan hasil penelitian tentang
Implementasi Ruang Publik Terpadu Ramah Anak di Kelurahan Sungai Bambu Kota
Administrasi Jakarta Utara. Ucapan terimakasih juga peneliti sampaikan kepada
pihak yang telah memberikan arahan, bimbingan, pelajaran, serta motivasi dan
dukungan dalam upaya penyusuna skripsi ini. Untuk itu peneliti mengucapkan
terimakasih kepada:
1. Prof. Dr. H. Sholeh Hidayat, M.Pd selaku Rektor Universitas Sultan Ageng
Tirtayasa.
2. DR. Agus Sjafari S.Sos M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
3. Rahmawati, S.Sos., M.Si selaku Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
vii
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
6. Listyaningsih, M.Si selaku Ketua Prodi Ilmu Administrasi Negara Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
7. Yeni Widyastuti, M.Si selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah
membimbing penulis dari awal hingga akhir.
8. DR. Abdul Apip, M.Si selaku Dosen Pembimbing I Skripsi yang selalu
membimbing, memberikan ilmunya, serta memotivasi penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini.
9. Rahmawati, M.Si selaku Dosen Pembimbing II Skripsi yang selalu
membimbing, meluangkan waktunya, memotivasi penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini dan selalu mendoakan yang terbaik.
10.Semua Dosen dan Staff Jurusan Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang membekali penulis
dengan ilmu pengetahuan selama perkuliahan.
11.Bapak Jumadi S.E., M.Si Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak BPMPKB Provinsi DKI Jakarta beserta staff dan
jajarannya yang telah membantu penulis dalam memberikan data dan
viii
13.Bapak Fakhrudin, Kepala Kantor KB Jakarta Utara yang telah memberika
informasi penting terkait dengan penelitian ini.
14.Ibu Rita Nirmala, Kepala Suku Dinas Kelautan, Pertanian dan Ketahanan
Pangan Jakarta Utara yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan
informasi kepada peneliti.
15.Bapak V. Christian Anthony, S. Kom, Kepala Suku Dinas Komunikasi,
Informatika dan Kehumasan Jakarta Utara yang telah bersedia meluangkan
waktunya untuk memberikan informasi kepada penulis.
16.Ibu dr. Atika, Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat Suku Dinas Kesehatan
Jakarta Utara atas keramahtamahannya dalam menjawab semua pertanyaan
yang penulis ajukan.
17.Ibu Mila, Kepala Seksi Taman Suku Dinas Pemakaman dan Pertamanan
Jakarta Utara yang telah bersedia meluangkan waktu untuk menjawab semua
pertanyaan yang peneliti ajukan.
18.Ibu Rohani Utami, Ketua TP PKK Jakarta Utara atas kebaikan hati dan sikap
ramah kepada penulis yang menjadikan proses wawancara menjadi
menyenangkan.
19.Bapak Bambang Chidir, Kepala Perpustakaan Daerah Jakarta Utara yang telah
ix penulis.
22.Bapak Zamrud, Ketua Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) Jakarta Utara
atas kebaikan dan sikap yang menyenangkan dalam memberikan segala
informasi yang penulis butuhkan.
23.Ibu Widiastuti, Senior Officer CSR PT. Citra Marga Nusaphala Persada yang
telah memberikan data dan informasi kepada penulis.
24.PT. Pembangunan Jaya yang telah memberikan data dan informasi kepada
peneliti.
25.Kedua orang tua yang selalu membimbing dan mendoakan anaknya hingga
pada saat penyusunan proposal penelitian ini. Dan juga Mas Gama yang terus
menerus memberikan dukungan.
26.Sahabat-sahabatku dari SMA Negeri 1 Jakarta yang terus menerus
memberikan dukungan dari awal proses penulisan skripsi hingga selesai.
Terima kasih Annya, Icim, Faiqa, Aelda, Karima, Riris love you so much
girls! Ku sayang kalian.
27.Sahabat-sahabat di dunia perkuliahan yang terus menerus mendukung dan
saling mendoakan. Upeh, Komuk, Ndew, Silvia, Meta, Wungu, Pangku,
Fahmay yang tiada lelahnya mendengarkan curahan hati dan drama kehidupan
x
Penulis menyadari bahwa skripsi ini terdapat kekurangan. Oleh karena itu
peneliti mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat membangun. Penulis
meminta maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam proposal skripsi ini terjadi
kesalahpahaman yang kurang berkenan selama penulis melakukan penelitian.
Terimakasih.
Serang, Januari 2017
xi
Anak di Kelurahan Sungai Bambu Kota Administrasi Jakarta Utara. Program Studi Ilmu Administrasi Negara. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Pembimbing I: Dr. Abdul Apip, M.Si dan Pembimbing II: Rahmawati, M.Si.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana implementasi Ruang Publik Terpadu Ramah Anak di Kota Administrasi Jakarta Utara. Peneliti menggunakan teori implementasi Jones (1991) yang terdiri dari pilar-pilar organisasi, interpretasi, dan aplikasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil temuan lapangan penelitian menyimpulkan bahwa pelaksanaan program Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di Kota Administratif Jakarta Utara belum optimal. Pada dimensi organisasi, pelatihan yang dilakukan untuk melatih para pengelola RPTRA masih kurang. Kemudian UKPD terkait tidak mengalokasikan anggaran untuk RPTRA. Pada dimensi Interpretasi, metode penghitungan jumlah pengunjung masih menggunakan metode manual yang sangat tidak efektif hasilnya. Pada dimensi aplikasi, sosialisasi mengenai fungsi RPTRA yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih belum maksimal.
xii
Science. University of Sultan Ageng Tirtayasa. First Preceptor: Dr. Abdul Apip, M.Si and Second Preceptor: Rahmawati, M.Si.
This research was aimed to analyzed how the implementation of Integrated Child Friendly Public Space in Northern Jakarta City. Researcher used the theory of implementation from Jones (1991) which consists the pillars of the organization, interpretation and application. The method used is descriptive method with qualitative approach. The result of research concluded that the implementation of the program of Integrated Child Friendly Public Space (ICFPS) in Northern Jakarta City is still not optimal. On the dimension of the organization, the training conducted to train the managers of ICFPS still less. Then the related Government from Northern Jakarta City not allocate a budget for ICFPS. On the dimension of the interpretation, the counting method for the number of visitors still use manual methods which are not very effective in results. On the dimension of the application, the socialization of ICFPS functions did by the government of Jakarta is still not optimal.
xiii
COVER ... i
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii
LEMBAR PERSETUJUAN ... iii
LEMBAR PENGESAHAN ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... xi
ABSTRACT ... xii
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR TABEL ... xvii
DAFTAR GAMBAR ... xviii
DAFTAR LAMPIRAN ... xix
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ... 1
1.2. Identifikasi Masalah ……….. 13
1.3. Batasan Masalah ... 14
1.4. Rumusan Masalah ………. 14
1.5. Tujuan Penelitian ……….. 14
1.6. Manfaat Penelitian ……….... 14
xiv
2.1.2 Implementasi Kebijakan Publik... 27
2.1.2.1 Organisasi ... 41
2.1.2.2 Interpretasi ... 42
2.1.2.3 Aplikasi ... 44
2.1.3 Konsep Ruang Publik Terpadu Ramah Anak ... 46
2.1.3.1 Kedudukan, Tugas, dan Fungsi RPTRA ... 47
2.1.3.2 Layanan dan Kegiatan ... 48
2.1.3.3 Pengorganisasian ... 49
2.1.4 Konsep Konvensi Hak Anak Oleh PBB ... 56
2.1.5 Dasar Hukum ... 57
2.2.Penelitian Terdahulu ... 58
2.3.Kerangka Pemikiran Penelitian ... 61
2.4.Asumsi Dasar ... 64
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Pendekatan dan Metode Penelitian ... 65
3.2. Fokus Penelitian ... 66
3.3. Lokasi Penelitian ... 66
3.4. Fenomena yang Diamati ... 67
xv
3.4.2.3 Aplikasi ... 69
3.5. Instrumen Penelitian... 69
3.6. Informan Penelitian ... 70
3.7. Pedoman Wawancara ... 72
3.8. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 76
3.8.1 Teknik Analisis Data ... 77
3.8.2 Uji Keabsahan Data ... 78
3.9. Jadwal Penelitian ... 79
BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Kota Administratif Jakarta Utara ... 82
4.1.1 Geografis Kota Administratif Jakarta Utara ... 82
4.1.1 Administratif Jakarta Utara ... 83
4.1.2 Kondisi Demografis Kota Administratif Jakarta Utara ... 85
4.2 Gambaran Umum BPMPKB Provinsi DKI Jakarta ... 87
4.2.1 Tugas Pokok dan Fungsi ... 88
4.2.2 Struktur Organisasi ... 89
4.3 Deskripsi Informan Penelitian... 90
xvi
4.5.2 Dimensi Interpretasi ... 122
4.5.3 Dimensi Aplikasi/Penerapan ... 143
4.6 Pembahasan ... 158
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ... 167
5.2 Saran ... 167
5.3 Rekomendasi Kebijakan ... 169
xvii
Tabel 1.2 Provinsi Pilot Project Pengembangan Kab/Kota Layak Anak (KLA) ... 4
Tabel 1.3 Data Jumlah Penduduk Usia Anak di Jakarta Utara 2015 ... 6
Tabel 1.4 Data lokasi, CSR dan Waktu Peresmian RPTRA 2015 ... 10
Tabel 3.1 Informan Penelitian ... 71
Tabel 3.2 Pedoman Wawancara Penelitian ... 73
Tabel 3.3 Jadwal Penelitian... 81
Tabel 4.1 Data Kecamatan dan Kelurahan di Kota Administratif Jakarta Utara ... 84
Tabel 4.2 Data Jumlah RW Menurut Kecamatan di Jakarta Utara ... 85
Tabel 4.3 Data Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Jakarta Utara ... 86
Tabel 4.4 Spesifikasi Informan ... 91
Tabel 4.5 Kriteria Pengelola RPTRA ... 106
Tabel 4.6 Jumlah Pengunjung RPTRA Sungai Bambu 2016 ... 139
xviii
Gambar 2.1 Tahapan Kebijakan Publik ... 22
Gambar 2.2 Sekuensi Implementasi Kebijakan Publik ... 33
Gambar 2.3 Model Implementasi George C. Edward III ... 38
Gambar 2.4 Gambar Kerangka Pemikiran ... 63
Gambar 4.1 Struktur Organisasi BPMPKB DKI Jakarta ... 90
Gambar 4.3 Ruang Perpustakaan RPTRA Sungai Bambu ... 101
Gambar 4.4 Ruang Laktasi dan Ruang Konsultasi KB RPTRA Sungai Bambu... 101
Gambar 4.5 Ruang Sekretariat RPTRA Sungai Bambu ... 102
Gambar 4.6 Lokasi Outdoor di RPTRA Sungai Bambu ... 102
Gambar 4.7 Pertemuan Rutin Bulan Oktober 2016 ... 151
xix
Lampiran 1 Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 196 Tahun 2015 Lampiran 2 Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 40 Tahun 2016 Lampiran 3 Surat Ijin Penelitian
Lampiran 4 Kategorisasi Data Lampiran 5 Member Check
Lampiran 6 Dokumentasi Penelitian Lampiran 7 Catatan Lapangan Lampiran 8 Catatan Bimbingan
Lampiran 9 Perjanjian Kerjasama Antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan PT. Pembangunan Jaya Tentang Penyediaan Fasilitas RPTRA
Lampiran 10 Perjanjian Kerjasama Antara PT. Pembangunan Jaya dengan PT. Citra Marga Nusaphala Persada Tbk dengan PT. Toyota Manufacture Motor Indonesia
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta merupakan ibukota negara
Republik Indonesia. Sebagai salah satu kota besar di Indonesia, Provinsi DKI Jakarta
mempunyai beberapa permasalahan-permasalahan klasik yang dialami diantaranya
adalah masalah kemacetan, banjir, dan salah satunya mengenai isu kritis mengenai
pemenuhan hak-hak anak. Hak-hak anak menjadi sesuatu yang sangat penting untuk
dipenuhi karena karakter dan kualitas pembangunan suatu bangsa dan Negara sangat
ditentukan oleh sumber daya manusia yang dimilikinnya. Pengembangan kualitas
sumber daya manusia harus dipersiapkan sedini mungkin bahkan sejak masa
kanak-kanak.
Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan
Anak, anak merupakan seseorang yang belum berusia 18 tahun termasuk anak yang
masih dalam kandungan. Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa pada umumnya
membutuhkan perlindungan dan seorang anak hendaknya dapat menikmati haknya
untuk dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki. Hal ini
sebagaimana hak-hak dasar anak yang mencakup hak tumbuh kembang, partisipasi.
Anak-anak merupakan kelompok penduduk usia muda yang mempunyai potensi
mendatang. Namun dalam kenyataannya berbagai faktor mempengaruhi hal tersebut.
Faktor-faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah faktor sosial dan ekonomi.
Anak dapat dilihat menjadi sosok yang lemah karena kedua faktor tersebut sehingga
anak seringkali tidak memperoleh haknya sendiri.
Anak yang dapat dilihat lemah tersebut dapat menjadi sangat rentan akan
berbagai macam tindakan kekerasan yang dilakukan. Berikut merupakan jumlah
kasus anak yang ditangani oleh P2TP2A DKI Jakarta:
Tabel 1.1
Jumlah Kasus Anak di DKI Jakarta yang Ditangani P2TP2A
No Tahun Jumlah Kasus Anak
1 2011 251
2 2012 325
3 2013 468
4 2014 553
Jumlah 1.597
Sumber: P2TP2A DKI Jakarta, 2015
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah kasus yang menimpa
anak mengalami peningkatan yang signifikan dari tahun 2011 hingga tahun 2014.
Berdasarkan data pada tabel tersebut juga dapat diketahui bahwa masih banyak anak
yang mengalami tindak kekerasan di Provinsi DKI Jakarta. Jenis kasus yang dihadapi
anak seperti penelantaran, pencabulan, perkosaan, kekerasan fisik, kekerasan psikis,
lari anak dibawah umur, penganiayaan, pemanfaatan anak untuk jaringan obat-obatan
terlarang, pelibatan anak dalam gerakan masa dan sebagainya. Dengan masih
merebaknya tindak kekerasan pada anak, maka sudah tentu dapat dipastikan bahwa
hak-hak anak menjadi belum terpenuhi.
Anak seringkali tidak mendapatkan haknya bahkan untuk tumbuh dan
berkembang sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Banyak
anak-anak khususnya di Ibukota yang tidak mampu menikmati masa kanak-anak-kanak-anaknya
karena terbatasnya ruang publik yang ramah anak. Di DKI Jakarta sendiri belum
tersedianya fasilitas bermain yang layak atau ramah anak menjadi salah satu kendala
dalam pemenuhan hak-hak anak. Hak-hak anak telah disetujui dalam Konvensi Hak
Anak (KHA) oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1989. Terdapat 54
pasal dan Komite Hak Anak PBB mengelompokkan KHA ke dalam 8 klaster.
Hak-hak anak tersebut harus terpenuhi dan menjadi kewajiban bagi Pemerintah untuk
mewujudkan hal tersebut. Hak-hak anak tersebut harus dipenuhi guna menunjang
kehidupan anak khususnya tumbuh dan kembang anak. Tumbuh kembang anak
menjadi sangat penting karena diharapkan dengan proses tumbuh kembang yang baik,
anak dapat menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas.
Pemrintah pun menggulirkan kebijakan Kota Layak anak (KLA) sebagai salah
satu solusi dalam memberikan perlindungan dan pengembangan potensi anak sesuai
satu program strategis dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
(RPJMD) Provinsi DKI Jakarta tahun 2013-2017.
Tabel 1.2
10 Provinsi Pilot Project Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA)
No Nama Provinsi
1 DK DKI Jakarta
22 2 Banten
3 Jawa Barat
4 Jawa Tengah
5 Jawa Timur
6 Sumatera Utara
7 Bali
8 Kepulauan Riau
9 Kalimantan Timur
10 Daerah Istimewa Yogyakarta
Sumber: Kepmen Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI No. 56 Tahun 2010
Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2010 tentang Penunjukan
dan Penetapan 10 Provinsi untuk mengembangkan Kabupaten/Kota Layak Anak,
Provinsi DKI Jakarta termasuk salah satu Provinsi yang ditunjuk untuk
Pengembangan KLA di Provinsi DKI Jakarta saat ini terdapat di Kota
Administrasi Jakarta Pusat, Jakarta Utara dan Jakarta Selatan. Hal tersebut sesuai
dengan yang tercantum di dalam Keputusan Gubernur Nomor 394 tahun 2011 tentang
Penunjukan Kota Administrasi Jakarta Pusat, Jakarta Utara dan Jakarta Selatan
sebagai Pengembangan Kota Layak Anak. Dilanjutkan dengan Keputusan Gubernur
Nomor 736/2013 tentang penunjukan Kota Administrasi Jakarta Timur, Jakarta barat
dan Kepulauan Seribu sebagai Pengembangan Kota Layak Anak berikutnya, serta
Keputusan Gubernur Nomor 1192/2011 tentang Pembentukan Gugus Tugas Kota
Layak Anak di Provinsi DKI Jakarta.
Gugus tugas KLA Provinsi DKI Jakarta mengatur tentang tugas dan peran
SKPD serta lembaga terkait untuk menangani pengembangan KLA. Salah satu SKPD
yang berperan sebagai leading sector dari program KLA ini adalah Badan
Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB) Provinsi
DKI Jakarta.
Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) sebagai pengembangan dari
kebijakan Kota Layak Anak menjadi strategi penting Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta dengan mengintegrasikan seluruh komitmen dan potensi sumber daya para
pihak baik dari Pemerintah, masyaraat maupun dari pihak duinia usaha melalui sistem
perencanaan yang komprehensif, menyeluruh dan berkelanjutan dalam bentuk
fasilitas fisik dan non fisik secara terpadu. Seluruh kebijakan dan langkah strategis ini
Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) yang pertama kali diresmikan
oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah RPTRA yang berada di Kota
Administrasi Jakarta Utara yakni di Kelurahan Sungai Bambu. RPTRA tersebut
menjadi RPTRA pilot projcet yaitu RPTRA percontohan yang terletak di Kota
Administrasi Jakarta Utara. Jakarta Utara merupakan salah satu wilayah Kota
Administrasi pengembangan Kota Layak Anak dan Kelurahan Sungai Bambu pun
menjadi salah satu pilot project Kelurahan ramah anak di DKI Jakarta. Anak
merupakan komponen utama dalam pengimplementasian RPTRA. Berikut ini
merupakan tabel jumlah penduduk usia 0-17 tahun di Jakarta Utara:
Tabel 1.3
Jumlah Penduduk Usia Anak 0-17 Tahun di Kota Administratif Jakarta Utara Tahun 2015
No Kecamatan Jumlah Penduduk Usia Anak
1 Penjaringan 91.418
2 Tanjung Priok 121.606
3 Koja 105.383
4 Cilincing 134.992
5 Pademangan 49.548
6 Kelapa Gading 35.275
TOTAL 538.222
Sumber: www.data.go.id
Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa jumlah anak yang tidak
Salah satunya adalah terbatasnya lahan yang difungsikan sebagai tempat bermain
yang ramah anak di Provinsi DKI Jakarta. Dengan adanya permasalahan tersebut,
tentunya Provinsi DKI Jakarta belum dapat di kategorikan sebagai Kota Layak Anak.
Karena anak-anak tidak mempunyai tempat untuk bermain sehingga dapat memicu
terjadinya kekerasan pada anak dan berbagai macam hal-hal yang tidak diinginkan
dan menjadikan hak-hak anak tidak terpenuhi.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang berusaha untuk mendapatkan
predikat Kota Layak Anak (KLA). Untuk mendapatkan predikat Kota Layak Anak
tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus memenuhi indikator-indikator KLA.
Untuk memulainya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memenuhi empat
indikator Kota Layak Anak yang terdapat di dalam Peraturan Menteri Negara
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 12
Tahun 2011 tentang Indikator Kabupaten/Kota Layak Anak, yaitu pada pasal 5 ayat 2
huruf a mengenai penguatan kelembagaan yaitu dalam hal keterlibatan lembaga
masyarakat dalam pemenuhan hak anak dan keterlibatan dunia usaha dalam
pemenuhan hak anak. Dan pada pasal 5 ayat 2 huruf b mengenai klaster hak anak
meliputi kesehatan dasar dan kesejahteraan dan pendidikan dan pemanfaatan waktu
luang dan kegiatan budaya. Pemenuhan keempat indikator tersebut adalah dengan
dibangunnya Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA).
Fasilitas Ruang Publik Terpadu menjadi bagian dari strategi pembangunan
Kepadatan kampung kota mengakibatkan anak-anak yang tinggal di kawasan padat
penduduk tersebut kehilangan hak-haknya untuk bermain dan mempunyai fasilitas
bermain di tempat yang aman. Keadaan tersebut tentunya menjadi penghalang DKI
Jakarta mendapatkan predikat Kota Layak Anak (KLA).
Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) merupakan ruang publik yang
dapat dimanfaatkan fungsinya oleh masyarakat umum, mulai dari anak-anak sampai
masyarakat lanjut usia (Lansia). RPTRA dibangun di kawasan permukiman kumuh
sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat memanfaatkan ruang publik tersebut.
Ruang publik tersebut termasuk kategori ramah anak karena di dalamnya terdapat
taman bermain dan lapangan olahraga yang di khususkan sebagai tempat bermain
yang aman untuk anak dan juga terdapat fasilitas edukasi untuk anak seperti,
perpustakaan, sehingga anak-anak di RPTRA tidak hanya bermain namun anak-anak
juga dapat membaca buku. Anak-anak pun dapat mendapatkan edukasi-edukasi selagi
bermain. Selain itu, RPTRA juga merupakan ruang publik yang bebas dari asap
rokok. Hal tersebut yang menjadikan RPTRA memang suatu fasilitas ruang publik
yang ramah untuk anak.
Hal tersebut memenuhi indikator Kota Layak Anak Peraturan Menteri Negara
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia pada pasal 11
huruf (e) yaitu tersedia fasilitas untuk kegiatan kreatif dan rekreatif yang ramah anak,
di luar sekolah yang dapat diakses semua anak. Kemudian juga memenuhi indikator
Anak Republik Indonesia pasal 10 huruf (g) jumlah anak dari keluarga miskin yang
memperoleh akses peningkatan kesejahteraan. Dengan adanya RPTRA di
tengah-tengah lingkungan permukiman kumuh, masyarakat dengan tingkat ekonomi
menengah ke bawah dapat memberikan fasilitas bermain dan belajar yang
sebelumnya sulit untuk didapatkan.
Tidak hanya untuk anak-anak saja RPTRA juga dapat dimanfaatkan oleh
masyarakat dari berbagai kalangan usia. Untuk usia remaja, dapat memanfaatkan
lapangan-lapangan olahraga yang ada. Untuk kalangan ibu dan bapak dapat
memanfaatkan taman yang ditanami tanaman-tanaman obat yang juga dapat
dimanfaatkan dan untuk Lansia juga dapat memanfaatkan program-program yang
disediakan khusus untuk Lansia. RPTRA juga dibangun sebagai sarana berkumpul
seluruh warga sebagai cara untuk melakukan sosialisasi dan membicarakan
permasalahan yang masing-masing sedang dihadapi dan juga untuk menggugurkan
sikap individualisme masyarakat perkotaan dan juga sebagai lokasi tanggap darurat
terhadap bencana.
Pembangunan RPTRA pada tahap pertama dibiayai oleh dana Coorporate
Social Responsibility (CSR) dari perusahaan-perusahaan swasta. Hal tersebut sesuai
dengan indikator KLA pada Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak Republik Indonesia pasal 6 huruf (g) yaitu keterlibatan dunia
usaha dalam pemenuhan hak anak. Keterlibatan dunia usaha ini dalam memberikan
swasta pun menunjukkan kepeduliannya dalam hal pembangunan RPTRA sebagai
sarana sosialisasi untuk masyarakat yang ramah anak ini.
Operasional dan pemeliharaan RPTRA menjadi domain dari TP PKK Provinsi
DKI Jakarta, SKPD/UKPD, serta CSR. Berbagai bentuk dukungan dalam
pengembangan RPTRA baik berupa sumbangan fisik dan non fisik diatur dalam
Perjanjian Kerja Sama dan Peraturan Gubernur. Selanjutnya masyarakat dilibatka
secara aktif agar RPTRA menjadi milik bersama masyarakat yang harus
dimanfaatkan, dijaga dan dilindungi.
Kepedulian sektor swasta tersebut dibuktikan dengan tidak hanya pemberian
dana, namun proses pembuatan RPTRA dari tahap perancangan hingga tahap
pembangunan juga ditangani oleh pihak swasta tentunya dengan masukan-masukan
dari masyarakat dan beberapa universitas. Berikut ini merupakan enam RPTRA yang
telah dibangun sebagai RPTRA percontohan di masing-masing Kota Administrasi di
Provinsi DKI Jakarta.
Tabel 1.4
Data Lokasi, CSR, dan Waktu Peresmian RPTRA Tahun 2015
ing
Bahari Cilandak Gandaria Selatan Jl. Bahari Raya RT 009 RW
Seribu Selatan Untung Jawa Untung Pulau Jawa
Cililitan Kramat Jati Cililitan Jl. Buluh RT 10 RW 16 Sumber: Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMP-KB) Provinsi DKI Jakarta
Untuk RPTRA Sungai Bambu yang terletak di Jakarta Utara, terdapat tiga
pihak swasta yang terlibat yaitu, PT. Pembangunan Jaya dengan dana CSR sebesar
Rp. 412.154.795 (Empat ratus dua belas juta seratus lima puluh empat ribu tujuh ratus
sembilan puluh lima rupiah). PT. Citra Marga Nusaphala Persada dengan dana
sebesar Rp. 220.000.000,- (Dua ratus dua puluh juta rupiah), dan PT. Toyota Motor
Manufacturing Indonesia dengan dana CSR sebesar Rp 87.664.000 (Delapan puluh
Ruang Publik Terpadu Ramah Anak dikelola oleh pengelola yang ditetapkan
dengan SK Gubernur dengan proses seleksi sesuaikan dengan ketentuan. Pada tigkat
Provinsi DKI Jakarta, dibentuk pengurus RPTRA Provinsi pada tingkat
Kota/Kabupaten dibentuk pengurus RPTRA Kota/Kabupaten, dan pada tingkat
Kelurahan dibentuk Pengurus RPTRA Kelurahan. Selain itu terdapat petugas
kebersihan yang ditugaskan di setiap RPTRA yang biasa disebut Petugas Penanganan
Sarana dan Prasarana Umum (PPSU). Namun diharapkan RPTRA juga dijaga dan
dipelihara bersama oleh masyarakat sekitar. Sehigga masyarakat dapat ikut berperan
aktif dalam pemeliharaan RPTRA. Hal tersebut sesuai dengan indikator KLA pada
Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Republik Indonesia pasal 6 huruf (f) yaitu keterlibatan lembaga masyarakat dalam
pemenuhan hak anak.
Peneliti memutuskan untuk menjadikan Kota Administrasi Jakarta Utara
sebagai locus penelitian karena Kota Administrasi Jakarta Utara merupakan salah
satu Kota Administrasi pengembangan Kota Layak Anak sesuai dengan Keputusan
Gubernur Nomor 394 Tahun 2011. Selain itu, di Kota Administrasi Jakarta Utara
terdapat satu RPTRA percontohan yang telah dibangun, diresmikan, dan programnya
pun sudah berjalan yaitu RPTRA di Kelurahan Sungai Bambu, Kecamatan Tanjung
Priok. RPTRA tersebut berada di kawasan RW 06, lokasi berada di tanah seluas
+3838.68 m2. Lokasi RPTRA tersebut merupakan salah satu daerah berpenduduk
kawasan tersebut belum terdapat ruang terbuka untuk bermain yang mendorong
tumbuh kembang anak, belum terdapatnya sarana kesehatan dan pendidikan yang
memadai, tidak adanya ruang berkumpul bagi warga yang dapat mencukupi
kebutuhan sosial bermasyarakat, dan belum adanya ruang untuk menampung kondisi
cepat tanggap darurat ketika terjadi bencana banjir dan kebakaran juga bencana
lainnya.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah peneliti sampaikan sebelumnya, terdapat masalah yang peneliti temukan yaitu :
1. Koordinasi antar SKPD yang terkait masih rendah dalam hal
mensosialisasikan fungsi-fungsi dan tujuan didirikannya RPTRA sehingga
masih banyak masyarakat yang belum dapat merasakan manfaat dari
didirikannya RPTRA.
2. Penerapan peraturan yang dibuat oleh petugas RPTRA dalam hal ini adalah
ibu-ibu PKK Kelurahan Sungai Bambu selaku pihak yang berwenang
menjaga RPTRA atau staff lapangan masih belum tepat dan tidak sesuai
dengan kebutuhan masyarakat.
3. Harapan masyarakat mengenai RPTRA yaitu menjadi tempat bermain yang
1.3 Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi diatas maka peneliti membatasi
masalah penelitian yaitu tentang Implementasi Ruang Publik Terpadu Ramah Anak
(RPTRA) di Kota Administrasi Jakarta Utara.
1.4 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Implementasi Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di
Kota Administrasi Jakarta Utara
1.5 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam
penelitian adalah untuk mengetahui Implementasi Ruang Publik Terpadu Ramah
Anak (RPTRA) di Jakarta Utara.
1.6 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun
secara praktis yaitu :
teori-teori yang telah ada sehingga memperkaya hasil-hasil ilmu pengetahuan yang baru.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN ASUMSI
DASAR PENELITIAN
2.1 Tinjauan Pustaka
Setiap penelitian selalu menggunakan teori. Kerlinger dalam Basrowi dan
Suwandi (2008:37) memberikan definisi teori sebagai berikut:
“Theory is a set of interalated construct (concepts), definition, and proposition that presents a systematic view of phenomena by specifying relation among variables, with purpose of explaining and predicting the phenomena.” (Teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi, dan proporsi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui spesifikasi hubungan antarvariabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena).
Teori sangat dibutuhkan dan berguna untuk menjelaskan dan meramalkan
fenomena secara sistematis. Berikut akan peneliti paparkan teori-teori yang peneliti
gunakan sesuai dengan masalah penelitian yang telah peneliti identifikasi.
2.1.1 Konsep Kebijakan Publik
Kebijakan publik merupakan produk hukum yang diperoleh melalui suatu
proses kegiatan atau tindakan yang bersifat administratif, ilmiah dan politis yang
dibuat oleh pembuat kebijakan (policy maker) dan pemangku kebijakan terkait
(Mulyadi, 2015:45). Kebijakan publik inilah yang nantinya akan membantu
diusulkan oleh sekelompok masyarakat seperti yang diungkapkan oleh Carl Friedrich
berikut ini.
Kebijakan dipandang sebagai suatu arah tindakan yang diusulkan oleh
seseorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu yang
memberikan hambatan-hambatan dan peluang-peluang terhadap kebijakan yang
diusulkan untuk menggunakan dan mengatasi dalam rangka mencapai suatu tujuan
atau merealisasikan suatu sasaran atau suatu maksud tertentu, Carl Friedrich dalam
Winarno (2014:20).
Berdasarkan definisi kebijakan publik yang diungkapkan oleh Carl Friedrich
tersebut, dapat dikatakan bahwa apa yang disampaikan oleh Friedrich ini menyangkut
dimensi yang luas karena kebijakan tidak hanya dipahami sebagai tindakan yang
dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga oleh kelompok maupun oleh individu.
Kebijakan tidak hanya melibatkan pemerintah dalam pembuatan kebijakan tersebut,
dalam hal ini masyarakat juga dapat dilibatkan dalam perumusan suatu kebijakan.
Untuk lebih memahami pengertian kebijakan publik yang luas dengan , maka berikut
akan dijelaskan pengertian kebijakan publik menurut para ahli kebijakan pada
subbab-subbab khusus berikut ini.
2.1.1.1 Pengertian Kebijakan Publik
Kebijakan merupakan serangkaian kegiatan yang mempunyai maksud atau
aktor yang berhubungan dengan suatu permasalahan atau suatu hal yang diperhatikan,
James Anderson dalam Agustino (2008:7).
Seorang pakar inggris, W.I Jenkins dalam Wahab (2012:15) mengemukakan
kebijakan publik sebagai berikut:
“A set of interrelated decisions taken by political actor of group of actors concerning the selection of goals and the means of achieving them within a specified situation where these decisions should, in principle, be within the power of these actors to achieve” (serangkaian keputusan yang saling berkaitan yang diambil oleh seorang aktor politik atau sekelompok aktor, berkenaan dengan tujuan yang telah dipilih beserta cara-cara untuk mencapainya dalam suatu situasi. Keputusan-keputusan itu pada prinsipnya masih berada dalam batas-batas kewenangan kekuasaan dari para aktor tersebut).
Dari kedua pengetian diatas, kebijakan merupakan serangkaian kegiatan yang
berisi mengenai keputusan yang mempunyai maksud dan tujuan tertentu dari adanya
suatu permasalahan dan dibuat oleh seorang aktor politik atau sekelompok aktor yang
mempunyai kekuasaan dan wewenang.
Knoepfel dkk dalam Wahab (2012:10) mengartikan kebijakan sebagai:
“a series of decisions or activities resulting from structured and recurrent interactions between different actors, both public and private, who are involved in various different ways in the emergence, identification and resolution of a problem defined politically as a public one” (serangkaian keputusan atau tindakan-tindakan sebagai akibat dari interaksi terstruktur dan berulang di antara berbagai aktor, baik publik/pemerintah maupun privat/swasta yang terlibat berbagai cara dalam merespons, mengidentifikasi, dan memecahkan suatu masalah yang secara politis didefinisikan sebagai masalah publik).
Makna dari definisi yang diungkapkan oleh Knoepfel dkk diatas menunjukkan
pembuat kebijakan, kebijakan tersebut dibuat untuk memecahkan berbagai masalah
publik yang sedang terjadi. Dalam menentukan kebijakan tersebut memang
melibatkan berbagai macam aktor yang mempunyai kepentingan di dalamnya.
Pengertian mengenai kebijakan publik juga diungkapkan oleh Lemieux dalam
Wahab (2012:10) seorang pakar dari Prancis, Lemieux merumuskan kebijakan
publik sebagai berikut:
“the product of activities aimed at the resolution of public problems in the environment by political actors whose relationship are structured. The entire process evolves over time” (produk aktivitas-aktvitas yang dimaksudkan untuk memecahkan masalah-masalah publik yang terjadi di lingkungan tertentu yang dilakukan oleh aktor-aktor politik yang hubungannya terstruktur. Keseluruhan proses aktivitas itu berlangsung sepanjang waktu).
Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa kebijakan publik merupakan
hasil atau produk dari aktivitas-aktvitas yang memang dimaksudkan untuk
memecahkan permasalahan publik yang terjadi di berbagai lingkungan.
Beberapa pakar lainnnya memberikan definisi yang berbeda tentang
kebijakan publik. Salah satu definisi tersebut diberikan oleh Thomas R. Dye dalam
Nugroho (2012:20) yang mendefinisikannya sebagai segala sesuatu yang dikerjakan
pemerintah, mengapa mereka melakukan, dan hasil yang membuat sebuah kehidupan
bersama tampil berbeda (what government do, why they do it, and what difference it
makes). Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa apapun yang dilakukan oleh
pemerintah atau keputusan apapun yang dilakukan oleh pemerintah hal tersebut
dipikirkan dan memiliki alasan tersendiri yang tentunya pada akhirnya diharapkan
akan membuat perubahan-perubahan yang diinginkan oleh masyarakat.
Michael Howlett dan M. Ramesh dalam Nugroho (2012:120) mengemukakan
bahwa:
“public policy is a complex phenomenon consisting of numerous decisions made by numerous individual and organizations. It is often shaped by earlier policies and is frequently linked closely with other seemingly unrelated decisions” (kebijakan publik merupakan sebuah fenomena kompleks yang terdiri dari banyak keputusan yang dibuat oleh banyak orang dan organisasi. Kebijakan publik juga kerap kali terbentuk dari kebijakan-kebijakan yang telah ada dan juga sering berhubungan dengan keputusan yang lain yang diduga tidak berkaitan).
Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa kebijakan publik adalah
fenomena-fenomena yang kompleks yang berisi tentang keptusan-keputusan yang
dibuat oleh individu atau kelompok dan juga kebijkaan itu bisa terbentuk dari
kebijakan yang memang sudah ada atau kebijakan yang baru yang tujuannya tetap
untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh masyarakat.
Kemudian terdapat juga definisi kebijakan publik yang diutarakan oleh
Charles L. Cochran dan Eloise F. Malone dalam Nugroho (2012:121) public policy
consists of political decisions for implementing programs to achieve societal goals
(kebijakan publik berisi keputusan-keputusan politik untuk mengimplementasikan
program-program untuk mencapai tujuan-tujuan masyarakat). Dari pengertian
tersebut dapat diketahui juga bahwa kebijakan publik berisikan tentang keputusan
akan diimplementasikan dan diharapkan dengan diimplementasikannya program
tersebut, masyarakat dapat merasakan manfaatnya.
Setelah memahami pengertian-pengertian kebijakan publik dari beberapa ahli
kebijakan, peneliti dapat menarik sebuah pengertian yang singkat dan umum bahwa
kebijakan publik adalah sebuah instrumen yang dikeluarkan oleh pemerintah yang
berisikan tentang keputusan-keputusan politik untuk mengatasi
permasalahan-permasalahan yang dialami oleh masyarakat.
2.1.1.2 Tahap-Tahap Kebijakan Publik
Untuk menghasilkan suatu program yang dapat membantu masyarakat untuk
menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi, kebijakan publik memiliki
mekanisme berupa tahapan-tahapan dalam kebijakan publik. Kebijakan publik
memiliki beberapa tahapan yang saling terkait antara satu dengan yang lainnnya.
Karena secara umum, kebijakan publik merupakan suatu proses yang kompleks,
dinamis, dan dalam pembuatannya pun dipengaruhi oleh beberapa aktor pembuat
kebijakan. Dengan proses yang kompleks tersebut diharapkan program yang
dihasilkan pun tidak hanya sebatas regulasi-regulasi yang tertera diatas kertas saja
namun dapat juga diaplikasikan dengan baik demi tercapainya kesejahteraan
masyarakat. Agar lebih jelas mengenai tahapan-tahapan pada kebijakan publik,
Gambar 2.1
Tahapan Kebijakan Publik
Sumber: Nugroho (2012:185)
Gambar 2.1 di atas dapat dijelaskan dalam sekuensi berikut:
1. Isu kebijakan. Disebut isu apabila bersifat strategis, yakni bersifat mendasar,
menyangkut banyak orang atau bahkan keselamatan bersama, (biasanya) berjangka panjang, tidak bisa diselesaikan oleh orang-seorang, dan memang harus diselesaikan. Isu ini diangkat sebagai agenda politik untuk diselesaikan.
Isu kebijakan ini terdiri atas dua jenis, yaitu problem dan goal. Artinya
kebijakan publik dapat berorientasi pada permasalahan yang muncul pada
kehidupan politik, dan apat pula berorientasi pada goal atau tujuan yang
hendak dicapai pada kehidupan publik.
2. Isu kebijakan ini kemudian menggerakan pemerintah untuk merumuskan
kebijakan publik dalam rangka menyelesaikan masalah tersebut. rumusan kebijakan ini akan menjadi hukum bagi seluruh Negara dan warganya termasuk pimpinan Negara.
3. Setelah dirumuskan, kebijakan publik ini kemudian dilaksanakan baik oleh
pemerintah atau masyarakat maupun pemerintah bersama-sama dengan masyarakat.
4. Namun, dalam proses perumusan, pelaksanaan dan pasca pelaksanaan
diperlukan tindakan evaluasi sebagai sebuah siklus baru untuk dinilai apakah Perumusan
Kebijakan
Implementasi Kebijakan
kebijakan tersebut sudah dirumuskan dengan baik dan benar dan diimplementasikan dengan baik dan benar pula.
5. Implementasi kebijakan bermuara pada output yang dapat berupa kebijakan itu sendiri atau manfaat langsung yang dapat dirasakan oleh pemanfaat.
6. Dalam jangka panjang, kebijakan tersebut menghasilkan outcome dalam bentuk impak kebijakan yang diharapkan semakin menigkatkan tujuan yang hedak dicapai dengan kebijakan tersebut.
Berdasarkan gambar 2.1 di atas dapat dilihat bahwa siklus kebijakan publik
selalu berjalan seperti pada gambar tersebut guna mendapatkan hasil kebijakan yang
nantinya akan digunakan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan publik. Pada
gambar tersebut dapat dilihat awal dari sebuah proses kebijakan adalah adanya isu
kebijakan. Seperti yang diungkapkan oleh Mulyadi (2015:5) isu kebijakan menjadi
embrio awal bagi munculnya masalah-masalah publik. Isu kebijakan tersebut muncul
dari permasalahan yang datang dari masyarakat dimana masyarakat muai merasakan
adanya perbedaan harapa dengan kenyataan yang terjadi. Kemudian, isu-isu
kebijakan tersebut akan dipilih, pilihan isu tersebut berdasarkan isu mana yang lebih
penting dan lebih serius maka isu tersebut lah yang akan dibahas dalam agenda
setting atau agenda kebijakan. Meurut Lester dan Stewart dalam Mulyadi (2015:6)
menyatakan bahwa suatu isu akan mendapat perhatian bila memenuhi kriteria berikut:
1. Bila suatu isu telah melampaui suatu proporsi suatu krisis dan tidak dapat terlalu lama dibiarkan. Misalnya kebakaran hutan.
2. Suatu isu akan mendapat perhatian bila isu terseut memiliki sifat partikularis,dimana isu tersebut menunjukkan dan mendramatisir isu yang lebih besar. Misalnya isu mengenai kebocoran lapisan ozon dan pemanasan global.
4. Mendorong munculnya pertanyaan menyangkut kekuasaan dan legitimasi masyarakat.
5. Isu tersebut sedang menjadi tren atau sedang diminati oleh banyak orang. Setelah penetapan isu kebijakan selesai dilakukan, selanjutnya adalah
menyusun agenda kebijakan sebelum nantinya merumuskan kebijakan. Menurut
Mulyadi (2015:6) agenda kebijakan adalah tuntutan-tuntutan agar para pembuat
kebijakan memilih atau merasa terdorong untuk melakukan tindakan tertentu. Roger
W. Cobb dan Charles D. Elder dalam Mulyadi (2015:7-8) mengidentifikasi dua
macam agenda pokok, yaitu:
1. Agenda Sistemik
Terdiri dari semua isu yang menurut pandangan anggota-anggota masyarakat
politik pantas mendapat perhatian publik dan mencakup masalah-masalah yang
berada dalam yuridiksi wewenang pemerintah yang secara sah ada. Agenda ini
terdapat dalam setiap sistem politik di tingkat nasional dan di daerah. Agenda
sistemik pada dasarnya merupakan agenda pembahasan. Tindakan mengenai suatu
masalah hanya aka nada apabila masalah tersebut diajukan kepada lembaga
pemerintah dengan suatu kewenangan untuk mengambil tindakan yang pantas.
2. Agenda Lembaga atau Pemerintah
Terdiri dari masalah-masalah yang mendapat perhatian serius dari pejabat
pemerintah. Karena terdapat bermacam-macam pokok agenda yang membutuhkan
lembaga merupakan agenda tindakan yang memiliki sifat lebih khusus dan lebih
konkret bila dibandingkan dengan agenda sistemik.
Pokok-pokok agenda lembaga dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Pokok-pokok agenda lama
Pokok-pokok agenda lama cenderung tidak mendapatkan prioritas dari para
pembuat kebijakan. Alokasi waktu yang diberikan terbatas, serta agenda selalu sarat
dengan masalah. Hal ini terjadi karena masalah-masalah telah tercantum lama dalam
agenda sehingga para pembuat keputusan kecenderungan beranggapan bahwa
masalah-masalah lama tersebut telah mendapat perhatian yang cukup besar dan para
pejabat lebih mempunyai pemahaman terhadap masalah tersebut.
b. Pokok-pokok agenda baru
Pokok-pokok agenda baru tercantum secara teratur dalam agenda. Misalnya
kenaikan gaji pegawai dan alokasi anggaran belanja. Agenda ini biasanya dikenal
oleh para pejabat dan alternatif-alternatif untuk menanggulanginya telah terpola
sedemikian rupa. Pokok-pokok agenda baru timbul dari keadaan-keadaan tertentu.
Kemudian setelah dilakukan agenda kebijakan tahapan selanjutnya adalah
perumusan kebijakan atau juga biasa disebut dengan formulasi kebijakan. Perumusan
kebijakan merupakan salah satu tahap yang penting dalam pembentukan kebijakan
publik. Berikut ini merupakan tahap-tahap dalam perumusan kebijakan menurut
1. Tahap Pertama: Perumusan Masalah (Defining Problem)
Mengenali dan merumuskan masalah merupakan langkah yang paling fundamental dalam perumusan kebijakan. Untuk dapat merumuskan kebijakan dengan baik, maka masalah-masalah publik harus dikenali dan didefinisikan dengan baik pula. Kebijakan publik pada dasarnya dibuat untuk memecahkan masalah yang ada dalam masyarakat. Oleh karena itu, seberapa besar kontribusi yang diberikan oleh kebijakan publik dalam menyelesaikan masalah-masalah dalam masyarakat menjadi pertanyaan yang menarik dalam evaluasi kebijakan publik. Namun demikian, apakah pemecahan masalah tersebut memuaskan atau tidak bergantung pada ketepatan masalah-masalah publik tersebut dirumuskan. 2. Tahap Kedua: Agenda Kebijakan
Tidak semua masalah publikakan masuk ke dalam agenda kebijakan. Suatu masalah untuk masuk ke dalam agenda kebijakan harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Masalah publik yang telah masuk ke dalam agenda kebijakan akan dibahas oleh para perumus kebijakan, seperti kalangan legislatif (DPR), kalangan eksekutif (presiden dan para pembatunya), agen-agen pemerintah dan mungkin juga kalangan yudikatf.
3. Tahap Ketiga: Pemilihan Alternatif Kebijakan untuk Memecahkan Masalah Setelah masalah-masalah publik didefinisikan dengan baik dan para perumus kebijakan sepakat untuk memasukkan masalah tersebut ke dalam agenda kebijakan, maka langkah selanjutnya adalah membuat pemecahan masalah. Disini para perumus kebijakan akan berhadapan dengan alternatif-alternatif pilihan kebijakan yang diambil untuk memecahkan masalah tersebut.
4. Tahap Keempat: Penetapan Kebijakan
Setelah salah satu dari sekian alternatif kebijakan diputuskan diambil sebagai cara untuk memecahkan masalah kebijakan, maka tahap paling akhir dalam pembentukan kebijakan adalah menetapkan kebijakan yang dipilih tersebut sehingga mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Alternatif kebijakan yang diambil pada dasarnya merupakan kompromi dari berbagai kelompok kepentingan yang terlibat dalam pembentukan kebijakan tersebut.
Setelah melewati beberapa tahapan perumusan kebijakan publik seperti di
atas, maka langkah selanjutnya adalah mengimplementasikan kebijakan yang
tentunya sudah di sahkan oleh pemerintah. Karena tahap implementasi kebijakan ini,
merupakan langkah yang sangat penting dalam proses kebijakan. Karena banyak
kebijakan yang telah mampu dibuat oleh pemerintah namun kemudian ternyata tidak
terjadi di masyarakat. Setelah tahap pengimplementasian kebijakan publik tersebut,
tahap berikutnya adalah tahap evaluasi dimana dapat dinilai bagaimana hasil dari
perumusan kebijakan dan juga bagaimana implementasi kebijakannya.
Dapat disimpulkan bahwa implementasi merupakan tahap yang krusial
dimana pada tahapan tersebut kebijakan benar-benar di aplikasikan. Karena sebaik
apapun suatu substansi kebijakan publik yang dibuat atau diformulasikan, hal tersebut
tidak akan berguna jika tidak terimplementasikan dengan baik.
2.1.2 Implementasi Kebijakan Publik
Setelah proses perumusan kebijakan yang telah menghasilkan sebuah
program-program yang akan digunakan untuk menyelesaikan masalah publik, sudah
semestinya “produk” tersebut diimplementasikan agar hasilnya terlihat. Seperti yang
diungkapkan oleh Jones dalam Mulyadi (2015:45): “those activities directed toward
putting a program into effect” (proses mewujudkan program hingga memperlihatkan
hasilnya). Seperti halnya Jones, Mulyadi (2015:46) pun beranggapan serupa bahwa
kebijakan publik perlu diwujudkan dan dilaksanakan oleh berbagai pihak sehingga
mempunyai dampak yang sesuai dengan apa yang menjadi tujuan. Jadi dapat
diketahui bahwa hasil dari perumusan kebijakan tersebut hendaknya
diimplementasikan agar kebijakan tersebut dapat terlihat hasilnya
Sementara itu, Udoji dalam Mulyadi (2012:46) juga memberikan pandangan
“the execution of policies is as important if not more important than policy making. Policies will remain dreams or blue print file jackets unless they are implemented”
(pelaksanaan kebijakan adalah sesuatu yang penting, bahkan mungkin jauh lebih penting dari pembuatan kebijakan. Kebijakan-kebijakan hanya akan berupa impian atau rencana yang bagus, yang tersimpan rapi dalam arsip jika tidak dapat diimplemetasikan).
Pandangan tersebut menekankan bahwa kebijakan merupakan suatu tahapan dalam
kebijakan publik yang sangat penting. Jangan sampai kebijakan publik hanya menjadi
arsip-arsip atau dokumen saja. Hal tersebut sesuai juga dengan apa yang disampaikan
oleh Edwards III dalam Mulyadi (2015:47) bahwa tanpa implementasi yang efektif
maka keputusan pembuat kebijakan tidak akan berhasil dilaksanakan.
Ripley dan Franklin dalam Winarno (2014:148) berpendapat bahwa
implementasi adalah apa yang terjadi setelah undang-undang ditetapkan yang
memberikan otoritas program, kebijakan, keuntungan (benefit), atau jenis keluaran
yang nyata (tangible output). Istilah implementasi menunjuk pada sejumlah kegiatan
yang mengikuti pernyataan maksud tentang tujuan-tujuan program dan hasil-hasil
yang diinginkan oleh para pejabat pemerintah. Implementasi mencakup
tindakan-tindakan (tanpa tindakan-tindakan-tindakan-tindakan) oleh berbagai aktor, khususnya para birokrat,yang
dimaksudkan untuk membuat program berjalan. Dari pengertian tersebut dapat
diketahui bahwa implementasi kebijakan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan
setelah dikeluarkannya pengarahan yang sah dari suatu kebijakan yang meliputi
Lane dalam Mulyadi (2015:47) berpendapat bahwa implementasi sebagai
konsep dapat dibagi ke dalam dua bagian. Pertama implementation = F (intention,
output, outcome). Kedua, implementasi merupakan persamaan fungsi dari
implementation = F (policy, formator, implementor, initiator, time). Menurut Sabatier
masih dalam Mulyadi (2015:47-48) penekanan utama kedua fungsi ini adalah kepada
kebijakan itu sendiri, kemudian hasil yang dicapai dan dilaksanakan oleh
implementor dalam kurun waktu tertentu.
Kemudian menurut Grindle dalam Winarno (2014:149) secara umum, tugas
implementasi adalah membentuk suatu kaitan (linkage) yang memudahkan
tujuan-tujuan kebijakan bisa direalisasikan sebagai dampak dari suatu kegiatan pemerintah.
Oleh karena itu, tugas implementasi mencakup terbentuknya “a policy delivery
system,” dimana sarana-sarana tertentu dirancang dan dijalankan dengan harapan
sampai pada tujuan-tujuan yang diinginkan. Hal tersebut tampak senada dengan apa
yang disampaikan oleh Van Meter Van Horn (Grindle, 1980:6) dalam Mulyadi
(2015:48) bahwa tugas implementasi adalah membangun jaringan yang
memungkinkan tujuan kebijakan publik direalisasikan melalui aktivitas instansi
pemerintah yang melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan (policy
stakeholder). Jadi, implementasi kebijakan mempunyai tugas membangun jaringan
atau membentuk suatu kaitan yang tentunya mempunyai kemungkinan-kemungkinan
tentunya mengimplementasikan suatu kebijakan adalah bukan suatu perkara yang
mudah.
Van Meter Van Horn dalam Winarno (2014:149) lalu membatasi
implementasi kebijakan sebagai tindakan-tindakan yang dilakukan oleh
individu-individu (atau kelompok-kelompok) pemerintah maupun swasta yang diarahkan
untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam keputusan-keputusan
kebijakan sebelumnya. Berdasarkan penjelasan diatas, dapat diketahui bahwa
memang proses implementasi kebijakan bukanlah hal yang mudah. Seperti yang
dinyatakan oleh Agustino (2008:138) bahwa dalam praktiknya implementasi
kebijakan merupakan suatu proses yang begitu kompleks bahkan tidak jarang
bermuatan politis dengan adanya intervensi berbagai kepentingan. Seperti yang
disebutkan oleh Lester dan Stewart (Winarno, 2014:219), pelaku dalam implementasi
kebijakan meliputi birokrasi, legislatif, lembaga-lembaga, pengadilan, kelompok
penekan, dan komunitas organisasi. Masing-masing pelaku kebijakan ini mempunyai
kepentingan-kepentingannya sendiri dalam praktik mengimplementasikan suatu
kebijakan.
Namun, dibalik kerumitan dan kompleksnya proses tersebut, implementasi
kebijakan memegang peranan yang cukup vital dalam proses kebijakan. Tanpa
adanya proses implementasi kebijakan, program-program kebijakan yang telah
disusun hanya akan menjadi berkas-berkas yang disimpan oleh para pembuat
Anderson dalam Kusumanegara (2010 : 97) mengungkapkan bahwa
implementasi kebijakan/program merupakan bagian dari administrative process
(proses administrasi). Proses administrasi mempunyai konsekuensi terhadap
pelaksanaan, isi, dan dampak suatu kebijakan dengan adanya penekanan pada „proses
administrasi‟, maka dapat dipahami bahwa implementasi merupakan suatu proses
yang dinamis dan berkelanjutan, dimana pelaksana kebijakan melakukan suatu
akivitas atau kegiatan, sehingga pada akhirnya akan mendapatkan suatu hasil yang
sesuai dengan tujuan atau sasaran kebijakan itu sendiri (Agustino, 2008:139). Dapat
disimpulkan bahwa, kebijakan publik merupakan suatu proses kebjakan publik yang
penting dan krusial dalam suatu pemerintahan.
Huntigton dalam Abidin (2012:145) berpendapat bahwa perbedaan yang
paling penting antara suatu Negara dengan Negara lain tidak terletak pada bentuk
atau ideologinya, tetapi pada tingkat kemampuan Negara ini untuk melaksanaan
pemerintahan. Tingkat kemampuan itu dapat dilihat pada kemapuan dalam
mengimplementasikan setiap keputusan atau kebijakan yang dibuat oleh seuah pilot
biro, cabinet, atau presiden Negara itu. Berdasarkan pendapat Huntington tersebut
dapat diketahui bahwa proses implementasi kebijakan merupakan proses yang cukup
krusial dan dapat menentukan kesuksesan pemerintah di suatu Negara.
Menurut Abidin (2012) terdapat dua konsep dasar berkenaan dengan
implementasi kebijakan. Pertama, konsep tentang peralatan kebijakan (policy
kebijakan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan atau yang ingin dicapai. Peralatan
kebijakan ini berhubungan dengan sumber daya manusia, khususnya sumber daya
aparatur dan organisasi. Sumber daya manusia aparatur atau aparatur pemerintah
adalah subjek dan juga sekalgus objek dalam implementasi kebijakan. Sebagai
subjek, pembahasannya berkenaan dengan kemampuan dan kemauan untuk
melaksanakan. Sebagai objek, sumber daya manusia berkaitan dengan penerimaan
(acceptability) terhadap suatu kebijakan. (Hogwood dan Gunn dalam Abidin, 2012:
152).
Kedua, konsep tentang kewenangan yang tersedia untuk melaksanakan
implementasi. Kewenangan adalah kekuasaan tertentu yang dimilikki dan secara
formal diakui oleh pihak-pihak lain untuk menggunakan peralatan yang tersedia
dalam mengimplementasikan kebijakan. Kewenangan berkaitan dengan posisi
organisasi yang bersangkutan dan peraturan perundang-undangan yang mengaturnya.
Masing-masing organisasi memilikki wewenang dan yuridksi administrasi tertentu,
misalnya organisasi atau instansi pusat, organisasi daerah tingkat provinsi, organisasi
daerah tingkat kabupaten, BUMN, atau organisasi swasta.
Nugroho (2012: 675-676) mempunyai gambaran untuk mengimplementasikan
kebijakan publik, terdapat dua pilihan langkah yang ada, yaitu langsung
mengimplementasikan dalam bentuk program atau melalui formulasi kebijakan
derivate atau turunan dari kebijakan publik tersebut. Secara umum dapat digambarkan
Gambar 2.2
Sekuensi Implementasi Kebijakan
Sumber: Nugroho (2012: 675)
Kebijakan publik dalam bentuk Undang-Undang atau Peraturan Daerah (Perda)
adalah jenis kebijakan yang memerlukan kebijakan publik penjelas atau yang sering
diistilahkan sebagai peraturan pelaksanaan. Kebijakan publk yang bisa langsung Kebijakan Publik
Kebijakan Publik Penjelas
Program
Proyek
Kegiatan
Pemanfaat
operasional antara lain Keppres, Inpres, Kepmen, Keputusan Kepala Daerah,
Keputusan Kepala Dinas, dan lain-lain. Rangkaian Implementasi pada gambar 2.2
diatas dapat dilihat dengan jelas, yaitu dimulai dari program yang dibuat, lalu ke
proyek, dan ke kegiatan.
Menurut Abidin (2012 : 148), secara umum kebijakan dianggap berkualitas dan
mampu diimplementasikan ditentukan oleh beberapa elemen sebagai berikut:
1. Tujuan yang ingin dicapai atau alasan yang dipakai untuk mengadakan kebijakan itu. Tujuan atau alasan suatu kebijakan dapat dikatakan baik jika tujuan atau alasan itu memenuhi kriteria berikut:
a. Rasional. Artinya, tujuan tersebut dapat dipahami atau diterima oleh akal sehat. Ini terutama dilihat dari faktor-faktor pendukung yang tidak mempertimbangkan faktor pendukung, tidak dapat dianggap sebagai kebijakan yang rasional.
b. Diinginkan (desirable). Tujuan dari kebijakan tersebut menyangkut kepentingan orang banyak, sehingga memperoleh dukungan dari banyak pihak.
2. Asumsi yang dipakai dalam proses perumusan kebijakan itu realistis. Asumsi tersebut tidak mengada-ada. Asumsi ini menentukan tingkat validitas suatu kebijakan.
3. Informasi yang digunakan cukup lengkap dan benar. Suatu kebijakan atau sudah kadaluarsa (out of date). Sementara itu, kebijakan yang didasarkan pada informasi yang kurang lengkap boleh jadi tidak sempurna atau tidak tepat.
Setelah dirasa elemen-elemen tersebut sudah terpenuhi, maka kebijakan tersebut
sudah dianggap berkualitas dan mampu diimplementasikan.
Kebijakan yang diimplementasikan juga sangat bergantung pada efektivitas
dan efisiensi pelaksanaan kebijakan itu sendiri. Apakah kebijakan tersebut dalam
setidaknya ada “lima tepat” yang perlu dipenuhi dalam hal keefektifan implementasi
kebijakan. Pertama, apakah kebijakannya sendiri sudah tepat. Ketepatan kebijakan ini
dimulai dari sejauh mana kebijakan yang ada telah bermuatan hal-hal yang memang
memecahkan masalah yang hendak dipecahkan. Kedua adalah tepat pelaksanannya,
ketiga adalah tepat target, keempat adalah tepat lingkungan, dan kelima adalah tepat
proses.
Setelah memahami makna dari implementasi kebijakan menurut para ahli
kebijakan di atas, maka peneliti dapat mengembangkan suatu pengertian umum
bahwa implementasi kebijakan publik pada dasarnya adalah cara yang dilakukan oleh
para pembuat kebijakan untuk mencapai tujuan dari suatu kebijakan yang telah
dibuat.
Selanjutnya dalam teori kebijakan publik terdapat beberapa model-model
implementasi kebijakan publik. Model Hogwood dan Gunn dalam Nugroho (2006)
(Mulyadi 2015:73-75) menyatakan bahwa untuk melakukan implementasi kebijakan
diperlukan beberapa syarat yaitu:
1. Berkenaan dengan jaminan bahwa kondisi eksternal yang dihadapi oleh lembaga/bada pelaksana tidak akan menimbulkan masalah besar.
2. Apakah untuk melaksanakannya tersedia sumberdaya yang memadai, termasuk sumberdaya waktu. Gagasan ini sangat bijaksana karena berkenaan dengan fisibilitas implementasi kebijakan.
4. Apakah kebijakan yang akan diimplementasikan didasari dengan hubungan kausal yang andal. Jadi prisipnya adalah apakah kebijakan tersebut memang dapat menyelesaikan masalah yang hendak ditanggulangi. Dalam metodologi dapat disederhanakan menjadi apakah jika X dilakukan akan terjadi Y.
5. Seberapa banyak hubungan kausalitas yang terjadi. Asumsinya semakin sedikit hubungan “sebab-akibat” semakin tinggi pula hasil yang dikehendaki oleh kebijakan tersebut dapat tercapai. Sebuah kebijakan yang memepunyai hubungan kausalitas yang kompleks otomatis menurunkan efektivitas implementasi kebijakan.
6. Apakah hubungan saling kebergantungan kecil. Asumsinya adalah jika hubungan saling kebergantungan tinggi , implementasi tidak akan berjalan secara efektifapalagi jika hubungannya adalah hubungan kebergantungan. Sebagai contoh implementasi kebijakan pengarus-utamaan gender banyak menemui kendala karena kantor menteri Negara pemberdayaan perempuan bergantug dalam itensitas tinggi kepada seluruh departemen dan LPND serta kepala-kepala daerah.
7. Pemahaman yang mendalam dan kesepakatan terhadap tujuan. Sudah dapat disepakati bahwa mereka yang dalam perahu yang sama sepakat akan ke sebuah tujuan yang sama. Sebuah perahu dengan penumpang yang berbeda-beda tujuan dan pemimpin yang tidak mampu memimpin adalah perahu yang tidak akan pernah bisa beranjak jauh dari tempat semula.
8. Tugas-tugas telah dirinci dan ditempatkan dalam urutan yang benar. Tugas yang jelas dan prioritas yang jelas adalah kunci efektivitas implementasi kebijakan.
9. Komunikasi dan koordinasi yang sempurna. Komunikasi adalah perekat organisasi dan koordinasi adalah asal muasal dari kerjasama tim dan terbentuknya sinergi.
10.Bahwa pihak-pihak yang memilikki wewenang kekuasaan dapat menuntut dan mendapatkan keptuhan yang sempurna. Kekuasan adalah syarat bagi keefektifan implementasi kebijakan. Tanpa otoritas dari kekuasaan kebijakan akan tetap berupa kebijakan tanpa ada impak bagi target kebijakan.
Sebenarnya model Hogwood dan Gunn mendasarkan pada konsep manajemen
strategis yang mengarah pada praktik manajemen yang sistematis dan tidak
meninggalkan kaidah-kaidah pokok. Kelemahannya konsep ini tidak secara tegas
menunjukkan mana yang bersifat politis, strategis, teknis dan operasional. Agar lebih
mudah dimengerti, model Hogwood dan Gunn dirangkum oleh Mulyadi (2015:75)
1. Jaminan bahwa kondisi eksternal yang dihadapi oleh lembaga/badan pelaksana tidak akan menimbulkan masalah besar.
2. Sumber daya yang memadai.
3. Sumber-sumber yang diperlukan benar-benar ada.
4. Kebijakan yang akan diimplementasikan didasari hubungan kausal yang andal.
5. Seberapa banyak hubungan kausalitas yang terjadi. 6. Seberapa besar hubungan saling bergantungan.
7. Pemahaman yang mendalam dan kesepakata yang mendalam terhadap tujuan.
8. Tugas-tugas telah dirinci dan ditempatkan dalam urutan yang benar. 9. Komunikasi dan koordinasi yang sempurna.
10.Pihak-pihak yang memilikki wewenang kekuasaan dapat menuntut dan mendapatkan kepatuhan yang sempurna.
Selain Hugwood dan Gunn, juga terdapat model implementasi yang
disampaikan oleh George C. Edward III dalam Subarsono (2005) (Mulyadi
2015:68-69) mengemukakan empat variabel yang mempengaruhi implementasi kebijakan,
yakni:
1. Komunikasi
Keberhasilan implementasi kebijakan mensyaratkan agar implementor mengetahui apa yang harus dilakukan. Apa yang menjadi tujuan dan sasaran kebijakan harus ditransmisikan kepada kelompok sasaran (target group)
sehingga akan mengurangi distorsi implementasi. Apabila tujuan dan sasaran suatu kebijakan tidak jelas atau bahkan tidak diketahui sama sekali oleh kelompok sasaran, maka kemungkinan akan terjadi resistensi dari kelompok sasaran.
2. Sumberdaya
Walaupun isi kebijakan sudah dikomunikasikan secara jelas dan konsisten, tetapi apabila implementor kekurangan sumberdaya untuk melaksanakan, implementasi tidak akan berjalan efektif. Sumberdaya tersebut dapat berwujud sumberdaya manusia, yakni kompetensi implementor, dan sumberdaya finansial. Sumberdaya adalah faktor penting untuk implementasi kebijakan agar efektif. Tanpa sumber daya, kebijakan hanya tinggal di kertas menjadi dokumen saja.
3. Disposisi
seperti apa yang diinginkana oleh pembuat kebijakan, maka proses implementasi kebijakan juga menjadi tidak efektif.
4. Struktur Birokrasi
Struktur organisasi yang bertugas mengimplementasikan kebijakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap implementasi kebijakan. Salah satu dari aspek struktur yang penting dari setiap organisasi adalah adanya prosedur
operasi yang standar Standard Operating System (SOP). SOP menjadi
pedoman bagi setiap implementor dalam bertindak. Struktur organisasi yang terlalu panjang akan cenderung melemahkan pengawasan dan menimbulkan
red-tape, yakni prosedur birokrasi yang rumit dan kompleks. Ini pada
gilirannya menyebabkan aktivitas organisasi tidak fleksibel.
Gambar 2.3
Model Implementasi George C. Edwards III
Sumber: Mulyadi (2015:69) Komunikasi
Struktur Birokrasi
Implementasi Sumber Daya