BAB I PENDAHULUAN. Motivation atau motivasi adalah dorongan sesorang berbuat sesuatu yang sesuai dengan

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang Masalah

Motivation atau motivasi adalah dorongan sesorang berbuat sesuatu yang sesuai dengan keinginan, kebutuhan, dan kekuranganya. Keinginan, kebutuhan, dan kekurangan sesorang berbeda dengan orang lain, dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat, sehingga karenanya motivasi itu berbeda dalam intensitasnya. Demikian pula intensitas tanggapan sesorang terhadap suatu komunikasi.

Motivasi menonton tayangan televisi mahasiswa dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri individu (intrinsik) dan faktor yang datang dari luar diri individu (ekstrinsik). faktor intrinsik yang diduga berpengaruh terdiri atas beberapa variabel yaitu usia, jenis kelamin, tingkat pendapatan dan etnis. Sedangkan faktor ekstrinsik yang dipengaruhi oleh adanya informasi yang didapatkan dari program acara yang ditayangkan dan hiburan untuk melepaskan rasa lelah karena aktifitas sehari-hari, atau untuk mengisi waktu yang kosong.

Setiap individu memiliki prilaku tertentu dalam menggunakan media massa. Prilaku menonton televisi adalah suatu tindakan menonton televisi karena adanya dorongan dalam diri mahasiswa untuk menonton televisi. Dorongan ini dapat dikatakan sebagai motif atau motivasi seseorang dalam pemuasan kebutuhannya atau konsekuensi lain yang tidak diinginkan sebagai dampak dari perbandingan antara harapan individu sebelum menonton televisi dengan yang sesungguhnya diperoleh individu tersebut setelah menonton televisi.

Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan,

(2)

baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri maupun dari luar individu Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks menonton, belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya, untuk memahami motivasi menonton individu dapat dilihat dari beberapa indikator, diantaranya: 1. durasi kegiatan sehari-hari, 2. frekuensi menonton dalam sehari, 3. devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan dan mendapatkan informasi yang diinginkan, 4. tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan dalam menonton televisi

Televisi menghadirkan berbagai bentuk program acara yang dikemas sedemikian menarik perhatian penonton. Seperti news reality, talk show, reality show, infotainment dan berbagai program lainnya yang kesemuanya itu dapat menarik perhatian pemirsa sesuai dengan berkembangnya motivasi individu untuk memilih program acara mana yang dapat memenuhi kebutuhan akan informasi maupun hiburan.

Sekarang ini telah terdapat 10 stasiun televisi swasta, seperti Indosiar, TPI, Trans TV, Global TV, RCTI, SCTV, Metro TV, Trans 7, TV one, ANTV ditambah beberapa media lokal seperti Deli TV, dan DAAI TV. Televisi swasta kini berlomba – lomba menghadirkan tayangan informasi maupun hiburan yang menarik, cepat dan fenomenal. Ke sepuluh televisi swasta ini menunjukkan bagaimana tingkat kemajuan masyarakat dalam memilih stasiun televisi mana yang menyajikan program acara yang sesuai dengan kebutuhan. Sehingga stasiun – stasiun televisi tersebut saling bersaing untuk menghadirkan dan menyuguhkan program – program acara yang dekat dengan realita kehidupan.

Ada beberapa perogram acara yang menguak dan menayangkan berbagai realita kehidupan, misalnya acara – acara talk show yang banyak di minati oleh masyarakat

(3)

seperti: Kick Andy (Merto TV), D`Show (Trans TV), Bukan Empat Mata (Trans 7), dan Just Alvin di Metro TV.

Talk Show, tidak bisa dipungkiri dalam perkembangannya. Sajian program yang satu ini memang disuguhkan sangat spesial untuk penggemarnya, salah satunya adalah program talkshow Just Alvin yang cara penyajiannya mempunyai gaya tersendiri dengan seorang Host bernama Alvin Adam, yang sudah dikenal di dunia entertainment

Sekarang ini kebutuhan masyarakat akan informasi tentang sosok seorang tokoh publik figur semakin meningkat terlihat dari banyaknya stasiun televisi yang menyajikan dan secara khusus membahas seputar kehidupan selebritis baik itu dari segi karir sampai dengan masalah kehidupan pribadinya pun sudah menjadi rahasia umum dan konsumsi publik. Bergerak dari kebutuhan masyarakat yang tinggi tersebut, program acara Just Alvin yang penayanganya mulai pada awal februari 2009 dan di tayangkan setiap hari kamis pukul 22.05 WIB. Siaran ulangnya di tayangkan pada hari jumat pukul 13.30 WIB di Metro TV. Just Alvin berusaha membuat suatu ruang dan menciptakan suasana yang nyaman dan semenarik mungkin agar narasumber yang dihadirkan merasa nyaman dan bersedia menjawab semua pertanyaan yang ditanyakan oleh pembawa acara sebagai topik atau materi dalam acara tersebut dengan terbuka dan terus terang atas dasar konsep pendekatan human interest, manusiawi dan tidak memojokkan narasumber.

Tayangan Just Alvin bukan merupakan acara gosip yang memaparkan isu – isu yang belum jelas kebenarannya, tetapi disini menjelaskan tentang kehidupan sosok narasumber yang belum banyak di ketahui oleh masyarakat. Misalnya, bagaimana sang narasumber sebelum menjadi seseorang yang berhasil dalam karirnya ketika ia masih dalam perjalanan untuk menjadi seorang yang sukses, kesulitan – kesulitan yang dihadapinya, bagaimana ia bergerak dari angka nol hingga ia menjadi seorang yang sukses. Narasumber juga tidak

(4)

akan sungkan menerangkan bagaimana hubungannya dengan keluarga, lingkungan, sahabat dan pada saat menjadi sosok publik figur. Ia juga bukan hanya menceritakan keberhasilannya, tetapi juga menceritakan bagaimana susahnya untuk menggapai impian. Kadang juga sang narasumber sampai mengeluarkan air mata sehingga membuat suasana menjadi haru, namun karena kepiawaian Alvin dalam mensiasati suasana haru menjadi cair kembali dengan membuat sedikit lelucon tanpa harus membuat narasumber merasa dipojokkan atau sakit hati.

Untuk narasumber, Alvin sering kali membuat kejutan – kejutan misalnya menghadirkan seseorang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan, dan seseorang itu juga akan melengkapi informasi dengan menceritakan bagaimana pandangannya, dukungannya kepada narasumber. Untuk mendapatkan informasi yang maksimal terkadang sosok narasumber itu diliput bagaimana kehidupannya sehari – hari dalam sosok seorang biasa dan dokumenter tersebut akan ditayangkan diakhir acarannya, biasanya narasumber yang dihadirkan dalam tayangan ini adalah sosok yang fenomenal sehingga tema yang ditentukanpun haruslah semenarik mungkin agar pembicaraan menjadi menarik untuk disaksikan dan masyarakat lebih terpuaskan.

Dalam penyajiaanya talk show Just Alvin lebih cendrung konsisten dan tidak basa – basi pada tema yang dibawakannya, sehingga konsep acaranya dibuat formal sehingga mengalir apa adannya.

Dari uraian diatas peneliti merasa tertarik untuk meneliti tayangan Just Alvin karena dianggap berbeda dengan talk show yang lain terlihat dari narasumber yang dihadirkan, materi yang dibawakan hanya mencakup ruang lingkup sang narasumber sehingga tema yang dibahas lebih fokus.

(5)

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka dapat dikemukan perumusan masalah yaitu sebagai berikut:

“Sejauhmanakah hubungan Tayangan Just Alvin di Metro TV terhadap Motivasi Menonton Mahasiswa FISIP USU?”

1.3 Pembatasan Masalah

Untuk menghindari salah pengertian dan memperjelas masalah yang dibahas dalam penelitian, maka peneliti merasa perlu melakukan pembatasan masalah yang akan diteliti. Adapun pembatasan masalah tersebut adalah sebagai berikut:

a. Penelitian ini bersifat korelasional yang mencari hubungan atau menjelaskan hubungan antara Pengaruh Tayangan Just Alvin di Metro TV Terhadap Motivasi Menonton Mahasiswa.

b. Penelitian ini terbatas pada mahasiswa FISIP USU angkatan 2006 - 2009 yang tercatat aktif dalam perkuliahan.

c. Mahasiswa FISIP USU angkatan 2006 - 2009 yang pernah menonton tayangan Just Alvin di Metro TV

d. Penelitian ini dalakukan pada bulan November 2009 - Selesai

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.4.1 Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui Motif Menonton Mahasiswa FISIP USU menonton Tayangan Just Alvin di Metro TV

(6)

b. Untuk mengetahui Pengaruh tayangan Just Alvin terhadap motivasi menonton mahasiswa FISIP USU.

c. Untuk mengetahui Sejauhmana pengaruh media terhadap khalayak.

1.4.2.Manfaat Penelitian

a. Secara teoritis, penelitian ini berguna untuk dapat memperluas cakrawala pengetahuan peneliti mengenai motivasi menonton mahasiswa setelah menyaksikan tayangan Just Alvin di Metro TV.

b. Secara akademis, penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang positif kepada mahasiswa FISIP USU khususnya terhadap Ilmu Komunikasi.

c. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak – pihak yang membutuhkan pengetahun yang berkenaan dengan masalah penelitian. 1.5 Kerangka Teori

Sebelum melakukan penelitian seorang peneliti perlu menyusun suatu kerangka teori. Kerangka teori disusun sebagai landasan berpikir yang menunjukan dari sudut mana peneliti menyoroti masalah yang akan diteliti (nawawi. 1997:40).

Teori menurut F..M Kerlinger merupakan himpunan konstruk (konsep),defenisi,dan preposisi yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala dengan menjabarkan relasi di antara varabel,untukmenjelaskan dan meramalkan gejala tersebut (Rakhmat, 2002:6). Dengan adanya kerangka teori, peneliti akan memiliki landasan dalam menentukan tujuan arah penelitianya.

Dalam penelitian ini, teori yang dianggap relevan adalah Teori Uses and Gratification.

(7)

1.5. 1 Komunikasi Massa

Komunikasi massa sebagai bagian dari komunikasi memiliki defenisi sederhana dikemukakan oleh Brittner, yakni: Komunikasi massa adalah pesan yang di komunikasikan melalui media massa pada sejumlah orang besar (Ardianto,2004:3). Defenisi komunikasi massa yang lebihn rinci di kemukakan oleh Gerbner.kominkasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri (Ardianto 2004:3)

Josep A. Devito dalam bukunya, Communicology; An Introduction to the Study Of Communication, menampilam defenisinya mengenai komunikasi massa dengan lebih tegas, yakni sebagai berikut: (Ardianto 2004:3)

Petama, komunikasi massa adalah komunikasi yang di tujukan kepada massa, kepada khalayak yang luar biasa banyaknya. Ini tidak berarti bahwa khalayak meliputi seluruh penduduk , semua orang yang membaca atau semua orang yang menonton televisi, ini berarti bahwa khalayak itu besar dan pada umumnya sulit di defenisikan.

Kedua, komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancar – pemancar yang audio atau visual. Komunikasi massa barang kali akan lebih mudah dan lebih logis bila di defenisikan menurut bentuknya:Televisi, Radio, surat kabar, majalah, film dan buku.

Seperti yang dikatakan oleh Severin dan Tankard, Jr, komunikasi massa adalah keterampilan, seni, dan ilmu, dikaitan dengan pendapat Devito bahwa komunikasi massa itu ditujukan kepda massa dengan melalui media masa dibandingkan dengan jenis komunikasi lainnya, maka komunikasi massa mempunyai ciri – ciri khusus yang disebabkan oleh sifat – sifat komponennya. Ciri – cirinya adalah sebagai berikut:(effendy, 2004:22 - 25)

(8)

a. Komunikasi massa berlangsung satu arah

Berbeda dengan komunikasi antarpersona yang berlangsung dua arah (two way traffic communication), komunikasi massa berlangsung satu arah (one way traffic communication). Ini berarti bahwa tidak terdapat arus balik dari komunikan kepada komunikator. Setidaknya komunikator tidak mengetahui tanggapan komunikannya secara langsung.

b. Komunikator melembaga

Media massa sebagai saluran komunikasi massa merupakan lembaga, yakni suatu institusi atau organisasi. Oleh karena itu komunikatornya melembaga.

c. Pesan yang bersifat umum

Pesan yang disalurkan melalui media massa bersifat umum karena ditujukan kepada umum dan mengenai kepentingan umum. Jadi tidak ditujukan kepada perseorangan atau kepada sekelompok orang tertentu.

d. Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan

Ciri lain dari media massa adalah kemampuannya untuk menimbulkan keserempakan pada pihak khalayak dalam menerima pesean – pesan yang disebarkan. Hal inilah yang merupkan ciri yang paling hakiki dibandingkan dengan media komunikasi lainnya.

e. Komunikasi massa bersifat heterogen

Komunikan atau khalayak yang merupakan kumpulan anggota masyarakat yang terlibat dalam proses komunikasi massa sebagai sarana yang dituju komunikator yang bersifat heterogen. Dalam keberadaannya secara terpencar – pencar dimana satu sama lainnya tidak saling mengenal dan tidak memiliki kontak pribadi, masing – masing berbeda dalam beberapa hal : jenis kelamin, usia, agama, ideologi, pekerjaan, pendidikan, pengalaman, kebudayaan, pandangan hidup, keinginan, cita – cita dan sebagainya. Heterogenitas khalayak seperti itulah yang menjadi kesulitan seorang komunikator dalam menyebarkan pesannya melalui media massa karena setiap individu dari khalayak itu menghendaki agar keinginannya dipenuhi.

Media massa atau pers adalah suatu istilah yang mulai dipergunakan pada tahun 1920-an untuk mengistilahkan jenis media massa yang secara khusus di disain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Dalam pembicaraan sehari – hari istilah ini sering disingkat sebagai Media.

Masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah memiliki ketergantungan dan kebutuhan terhadap media massa yang lebih tinggi dari pada masyarakat dengan tingkat ekonomi tinggi karena pilihan mereka yang terbatas. Masyarakat dengan tingkat ekonomi lebih

(9)

tinggi memiliki lebih banyak pilihan dan akses banyak media massa, termasuk bertanya langsung pada sumber atau ahli dibandingan mengandalkan informasi yang mereka dapat dari media massa tertentu.

1.5.2 Teori Uses and Grativication

Teori uses and grativication adalah teori yang menjelaskan bagaimana komunikan memilih medianya sendiri sesuai dengan kebutuhannya. Teori Uses and Grativication menunjukkan bahwa yang menjadi permasalahan utama bukanlah bagaimana media mengubah sikap dan perilaku khalayak, tetapi bagaimana media memenuhi kebutuhan pribadi dan sosial khalayak. Jadi, bobotnya ialah pada khalayak yang aktif, yang sengaja menggunakan media untuk mencapai tujuan khusus. (effendy, 2004 : 289-290).

Katz, Blummer dan Gurevitch menjelaskan mengenai asumsi dasar dari teori Teori Uses and Grativication yaitu (Ardianto, 2004 : 71):

a. Khalayak yang di anggap aktif, artinya khalayak dianggap sebagai bagian penting dari penggunaan media massa diasumsikan mempunyai tujuan.

b. Dalam proses komunikasi massa, inisiatif untuk mengaitkan pemuasan kebutuhan dengan pemilihan media terletak pada khalayak.

c. Media massa harus bersaing dengan sumber – sumber lain untuk memuaskan kebutuhannya. Kebutuhan yang dipenuhi media lebih luas, bergantung pada khalayak yang bersangkutan.

d. Tujuan pemilih media massa disimpulkan dari data yang diberikan anggota khalayak. Artinya, orang dianggap cukup mengerti untuk melaporkan kepentingan dan motif pada situasi – situasi tertentu.

e. Penilaian tentang arti kultural dari media massa harus dipertanggungkan sebelum diteliti lebih dahulu oleh orientasi khalayak.

Agar lebih jelas elemen-elemenya dapat di lihat dalam bagan ‘model uses and gratification’

(10)

Dari model diatas dapat dilihat bahwa:

1. Khalayak aktif dan selektif dalam menggunakan media sebagai salah satu cara untuk memuaskan kebutuhan yang timbul dari lingkungan sosialnya mengikuti ciri-ciri demografis, afilasi kelompok dan karakteristik personal atau ciri-ciri kepribadian . 2. Berbagai kebutuhan yang dapat dipuaskan oleh media tersebut meliputi: kebutuhan

kognitif adalah kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan informasi, pengetahuan, dan pemahaman mengenai lingkungan. Kebutuhan ini didasarkan pada hasrat untuk memahami dan menguasai lingkungan, juga memuaskan rasa penasaran kita dan dorongan untuk penyelidikan kita. Kebutuhan afektif adalah kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan pengalaman-pengalaman yang estetis, menyenangkan dan emosional. Kebutuhan pribadi secara integratif adalah kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan kredibilitas, kepercayaan, stabilitas, dan status individual.hal ini bisa diperoleh dari hasrat akan harga diri. Kebutuhan sosial secara integratif adalah kebutuhan yang berkaitan dengan peneguh kontak dengan keluarga, teman, dan dunia. Hal tersebut di dasarkan pada hasrat untuk berafiliasi. Sementara itu, kebutuhan pelepasan adalah kebutuhan yang berkaitan dengan upaya menghindarkan tekanan, ketegangan, dan hasrat akan keanekaragaman.kebutuhan ini dapat dipuaskan dengan memenfaatkan media yang digunakan khalayak tersebut yang mengarah kepada pemuasan atau fungsi-fungsi media yang meliputi: pengawasan lingkungan, diversi, identitas dan hubungan sosial.

Lingkungan sosial 1. karakteristik demografis 2. afiliasi kelompok 3. karakteristik personal Kebutuhan individu: 1. kebutuhan kognitif 2. kebutuhan afektif 3. kebutuhan integrasi personal 4. kebutuhan integrasi sosial 5. kebutuhan pelepasan ketegangan/ melarikan diri Sumber pemenuhan kepuasan non media: 1. keluarga, teman 2. komunikasi interpersona 3. hobbi 4. tidur 5. obat-obatan Penggunaan media unsur: 1. tipe medi koran, radio 2. terpaan media 3. hubungan sosial dari terpaan media Gratifikasi media: 1. pengawasan 2. hiburan 3. pribadi 4. hubungan sosial

(11)

1.5.3 Fungsi Televisi Sebagai Media Massa

Pada Hakikatnya media televisi sebagai media komunikasi pandang dengar mempunyai tiga fungsi (Kuswandi, 1996 : 20-21) yaitu :

a. Fungsi informasi ( The Information function)

Televisi dalam melaksanakan fungsinya sebagai sarana informasi tidak hanya dalam bentuk siaran pandang mata atau berita yang dibacakan penyiar, dilengkapi dengan gambar- gambar yang faktual, akan tetapi juga menyiarkan bentuk lain seperti ceramah, diskusi dan komentar. Televisi dianggap sebagai media massa yang mampu menyiarkan informasi yang sangat memuaskan

b. Fungsi Pendidikan ( The Educational Function )

Sebagai media komunikasi massa televisi merupakan sarana yang ampuh untuk menyiarkan acara pendidikan kepada khalayak yang jumlahnya begitu banyak. Sesuai dengan makna pendidikan yakni meningkatkan pengetahuan dan penalaran mereka, televisi menyiarkan acara – acara tertentu secara teratur, misalnya pelajaran bahasa, matematika, elektronika dan lain – lain.

c. Fungsi Hiburan ( The Entertainment Function)

Dinegara –negara yang kehidupan masyarakatnya bersifat agraris, fungsi hiburan yang melekat di televisi siaran lebih dominan. Sebagian besar dari alokasi siaran diisi oleh acara – acara hiburan. Hal ini dapat dimengerti pada layar televisi dapat ditampilkan gambar hidup serta suara bagaikan kenyataan, dan dapat dinikmati dirumah – rumah oleh seluruh keluarga, serta dapat dinikmati oleh khalayak yang tidak mengerti bahasa asing bahkan tuna aksara.

1.5.4 Program Acara Talk Show

Talk Show merupakan acara yang digemari saat ini, dapat dilihat dari hampir setiap stasiun televisi swasta memiliki program acara talk show, mungkin karena narasumbernya yang fenomenal, topik yang yang dibahas biasanya merupakan perasangka – perasangka yang sedang berkambang dimasarakat, misalnya gosip tentang masalah perceraian seleberitis, dimana semua akan diungkap mulai dari penyebab perceraian itu atau alasan – alasan lain yang menjadi faktor penyebabnya, materi yang dibahas juga dapat memberikan banyak peluang usaha dapat kita lihat dari kegigihan seorang narasumber dalam mencapai

(12)

karir atau usahanya yang mulai dari nol sampai berkembang pesat.juga dapat dijadikan hiburan karena presenternya menyampaikan materi dengan cara yang kocak dan menarik.

Talk Show, tidak bisa dipungkiri dalam perkembangannya sehingga banyak program – program televisi yang notabenenya merupakan acara talk show. Talk show sendiri mempunyai gaya sendiri dalam penyampaian informasinya, sehingga acara talk show banyak digemari khalayak. Karena acara talk show banyak digemari, banyak media televisi menyajikan talk show – talk show yang mempunyai kekhasan sendiri sehingga tidak dapat dipungkiri lagi bahwa talk show merupakan program yang dapat menyebarkan dan menyajikan informasi yang dibutuhkan oleh pemirsa dan penggemarnya. Didalam talk show terdapat komponen-komponen pendukungnya seperti: host atau pembawa acara, materi acara yang akan dibawakan, bintang tamu yang akan dihadirkan dalam acara tersebut, studio atau tempat acara itu di laksanakan, frekuensi penayangan acara tersebut, dan waktu penayanganya (Munson:1993)

Bermacam-macam jenis talk show muncul dilayar televisi. Dengan pembawa acara mulai dari pria, wanita, bahkan ada pula yang dipadu berdua. Menurut Timberg (2002), berdasarkan waktu penayanganya talk show bisa dibedakan menjadi 3 subgenre utama, yakni:

1. The Late-Night Entertainment Talk show

Jenis ini biasanya paling lekat pada benak khalayak, jika mengingat talk show, yakni acara yang menghadikan selebritis, juga biasa bersama orang lain, dan mereka duduk berdekatan

(13)

2. The Daytime Audience-Participation Show

Berbeda dari host yang lain yang berdiri dipanggung sepanjang acara, host berkeliling diantara penonton studio, sehingga menimbulkan kesan akrab.

3. The Early-Morning News Talk Megazine Show

Talk show ini muncul lebih awal, yang biasanya mengambil waktu siaran dari mulai pagi atau sebelum tengah hari.

1.5.5 Motivasi

Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) penggerak seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik). Seseorang yang mempunyai motivasi berarti ia telah memperoleh kekuatan untuk mencapai kepuasan dan keberhasilan dalam kehidupan..

Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja, menonton maupun dalam kegiatan lainnya.

Motivasi Intrinsik

Motivasi intrinsik merupakan motivasi yang berasal dari rangsangan di dalam diri setiap individu. Ia terdiri daripada dorongan dan minat individu untuk me-lakukan suatu aktivitas tanpa mengharap ataupun meminta ganjaran. Sebagaimana yang sudah

(14)

dibicarakan, Bruner (1966) mengaitkan motivasi intrinsik ini dengan naluri ingin tahu dan dorongan mencapai tujian atau pemuasan.

Harter (1981) mengenal pasti lima dimensi kecenderungan motivasi intrinsik dalam bidang pembelajaran. Dimensi-dimensi ini adalah insentif bekerja untuk memuaskan minat dan sifat ingin tahu, percobaan untuk mencapai penguasaan yang bebas, penilaian yang bebas berkenaan dengan apa yang hendak dilakukan di dalam melakukan kegiatan dan semangat untuk dapat meraih keberhasilan.

Motivasi ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik diwujudkan dalam bentuk rangsangan dari luar yang bertujuan menggerakkan individu untuk melakukan suatu aktivitas yang membawa manfaat kepada individu itu sendiri. Motivasi ekstrinsik ini dapat dirangsang dalam bentuk-bentuk seperti pujian, insentif, hadiah, dan nilai. Selain itu membentuk suasana dan lingkungan yang kondusif juga dapat dikategorikan kedalam bentuk motivasi ekstrinsik

Konsep Motivasi Internal dan Eksternal

Bertitik tolak dari pandangan bahwa tidak ada satu model motivasi yang sempurna, dalam arti masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, para ilmuwan terus menerus berusaha mencari dan menemukan sistem motivasi yang terbaik, dalam arti menggabung berbagai kelebihan model-model tersebut menjadi satu model. Tampaknya terdapat kesepakan di kalangan para pakar bahwa model tersebut ialah apa yang tercakup dalam teori yang mengaitkan imbalan dengan prestasi seseorang individu .

(15)

Menurut model ini, motivasi seorang individu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Termasuk pada faktor internal adalah : (a) persepsi seseorang mengenai diri sendiri; (b) harga diri; (c) harapan pribadi; (d) kebutuhaan; (e) keinginan; (f) kepuasan kerja; (g) prestasi kerja yang dihasilkan.

Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi motivasi seseorang, antara lain ialah : (a) jenis dan sifat pekerjaan; (b) kelompok kerja dimana seseorang bergabung; (c) organisasi tempat bekerja; (d) situasi lingkungan pada umumnya; (e) sistem imbalan yang berlaku dan cara penerapannya.

Jadi, dari penjelasan diatas motivasi menonton dapat diartikan merupakan suatu iklim dimana seseorang mempunyai kekuatan penggerak yang timbul karena mendapat informasi dan kepuasan serta dorongan dari dalam diri yang mempunyai dimensi – dimensi dalam menonton untuk memuaskan minat dan keingin tahuan.

1.6 Kerangka konsep

Seorang peneliti harus menetapkan variabel – variabel penelitian dalam penelitiannya sebelum memulai pengumpulan datanya. Kerangka konsep merupakan pemikiran rasional yang bersifat teoritis dalam memperkirakan hasil penelitian yang akan dicapai (Nawawi 1991 : 56). Dalam penelitian ini terdapat beberapa variabel yang akan diteliti yaitu :

a. Variabel Bebas (X)

Yaitu suatu gejala, faktor atau unusr yang menentukan atau mempengaruhi ada atau munculnya gejala atau faktor atau unsur lain (Nawawi 1997 : 40) variabel bebas

(16)

merupakan variabel yang mempengaruhi variabel lain. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Motivasi Menonton Mahasiswa FISIP USU

b. Variabel Terikat ( Y )

Yaitu sejumlah gejala atau faktor maupun unsur yang ada ataupun muncul dipengaruhi atau ditentukan adanya variabel bebas dan bukan adanya variabel lain. Variabel terikat yaitu variabel yang merupakan akibat atau yang dipengaruhi oleh variabel yang mendahuluinya (Rahmat, 1997 : 12 ). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Tayangan Just Alvin

1.7 Model Teoritis

Berdasarkan kerangka konsep yang telah dikemukakan sebelumnya maka dapat dibuat suatu model teoritis sebagai berikut :

1.8 Operasional Variabel

Berdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep diatas, maka dibuat operasional variabel untuk membentuk kesatuan dan kesesuaian dalam penelitian yaitu :

VARIABEL BEBAS (X) Motivasi Menonton

Mahasiswa

VARIABEL TERIKAT (Y) Tayangan Just Alvin di

(17)

Tabel 1.1 Variabel Operasi

Variabel Teoritis Variabel Operasional 1. Variabel Bebas (X)

Motivasi Menonton Mahasiswa FISIP USU

Berdasarkan Kategori-kategori kebutuhan : 1. kebutuhan informasi tentang

narasumber

2. kebutuhan akan kesenangan dan pengalaman

3. kebutuhan pelepasan ketegangan 4. kebutuhan akan hiburan

5. kebutuhan dalam mengisi waktu 2. Variabel Terikat (Y)

Tayangan just alvin di Metro TV

Komponen-komponen talkshow: 1. host atau pembawa acara 2. materi acara

3. bintang tamu acara 4. studio/ panggung acara 5. frekuensi penayangan 6. waktu penayanggan

1.9 Defenisi Operasional

Menurut Singarimbun (1995:46) defenisi Operasional adalah hasil penelitian yang memberitahukan bagaimana cara untuk mengukur suatu variabel. Dalam penelitian ini, variabel – variabel dapat didefenisikan sebagai berikut :

(18)

- Kebutuhan akan informasi tentang narasumber yaitu: khalayak mendapatkan informasi, dan dapat melapasakan rasa ingin tahu serta kejelasan akan isu yang sedang berkembang di masyarakat tentang narasumber

- Kebutuhan akan kesenangan dan pengalaman yaitu: khalayak tidak hanya mengetahui dan memahami makna yang di tangkap, juga dapat memberikan kesenangan dan menjadikanya pengalaman dalam kehidupan

- Kebutuhan pelepasan ketegangan yaitu: kebutuhan akan pelarian dan pengendalian diri dari rutinitas dan masalah, serta pelepasan emosi

- Kebutuhan akan hiburan yaitu: khalayak merasa mendapatka hiburan setelah seharian beraktifitas ketika menonton just alvin

- Kebutuhan mengisi waktu yaitu: ketika khalayak menonton just alvin dalam keadaan santai dan mengisi waktu yang kosong

b. Variabel Terikat (Y) : tayangan just alvin di Metro TV

Pembawa acara/ host: adalah seseorang yang membawakan suatu program acara dimana ia memiliki ciri khas, nilai jual, interest, misalnya pembawa acara tersebut memiliki sifat manusiawi dan tidak memojokkan narasumbernya

- Materi acara: topik-topik apa yang di angkat dalam acara tersebut misalnya, gaya hidup, perjalanan karier, dan kejelasan isu-isu

- Bintang tamu: narasumber yang di hadirkan dalam acara tersebut seperti selabritis dan tokoh masyarakat

- Studio/ tata ruang: tata ruang dan tempat yang digunakan untuk mengadakan acara talkshow sehingga kelihatan menarik

- Frekuensi penayangan: adalah berapa lama acara tersebut di tayangkan sehingga tidak menimbulkan rasa bosan

(19)

- Waktu penayangan: adalah kapan acara itu di tayangkan sehingga kemungkinan banyak khalayak yang menyaksikannya

1.10 Hipotesis

Hipotesis adalah suatu kesimpulan yang masih kurang, yang masih belum sempurna. Pengertian ini diperluas dengan maksud sebagai kesimpulan yang belum sempurna, sehingga perlu disempurnakan dengan membuktikan kebenaran hipotesis itu melalui penelitian (Bungin 2001:75).

Hipotesis dalam penelitian ini adalah :

Ho : Tidak terdapat hubungan antara Motivasi Menonton Mahasiswa terhadap Tayangan Just Alvin di Metro TV

Ha : Terdapat hubungan antara Motivasi Menonton Mahasiswa terhadap Tayangan Just Alvin di Metro TV

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :