• Tidak ada hasil yang ditemukan

Enisa Fitriani BAB II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Enisa Fitriani BAB II"

Copied!
126
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

I. Tinjauan Medis

A. Kehamilan

1. Pengertian kehamilan

Kehamilan adalah masa dimana seorang wanita membawa embrio atau

fetus didalam tubuhnya. Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai

lahirnya janin. Lamanya kehamilan mulai dari ovulasi sampai partus yaitu

kira-kira 280 hari (40 minggu), dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu) (Kuswanti,

2014;h.99).

Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasioanal (FOGI), kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum

dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi

hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40

minggu atau 10 bulan lunar atau 9 bulan menurut kalender internasional

(Prawirohardjo, 2010;h.213).

Kehamilan menurut Saifuddin (2009) didefinisikan sebagai fertilisasi

atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi

atau implantasi. Bila dihitung dari sifat fertilisasi hingga lahirnya bayi,

kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan

atau 9 bulan menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi menjadi 3

(2)

10

kedua 15 minggu (minggu ke-13 hingga ke-27), dan trimester ketiga 13

minggu, minggu ke-28 hingga ke-40 (Walyani, 2015;h.69).

Kesimpulan dari definisi kehamilan diatas yaitu kehamilan merupakan

hasil dari konsepsi (penyatuan antara ovum dan sperma) lamanya kehamilan

sampai 42 minggu.

Menurut Kuswanti (2014;h.99) apabila ditinjau dari lamanya, kehamilan

dibedakan menjadi :

a. Kehamilan premature, yaitu kehamilan antara 28 minggu sampai 36

minggu.

b. Kehamilan mature, yaitu kehamilan antara 37 minggu sampai 42 minggu.

c. Kehamilan postmature, yaitu kehamilan lebih dari 43 minggu.

Apabila ditinjau dari tuanya kehamilan, menurut Kuswanti (2014;h.99)

kehamilan dibagi dalam 3 bagian yaitu:

a. Kehamilan triwulan pertama (antara 0 sampai 12 minggu), dimana dalam

triwulan pertama alat-alat mulai dibentuk.

b. Kehamilan dalam triwulan kedua alat-alat telah terbentuk tetapi belum

sempurna dan viabilitas janin masih disangsikan.

c. Kehamilan triwulan terakhir (antara 28 minggu sampai 40 minggu), dimana

janin yang dilahirkan dalam trimester tiga telah viable (dapat hidup).

2. Proses permulaan kehamilan

Menurut Mochtar (2012;h.16) proses permulaan kehamilan yaitu:

a. Sel Telur (ovum)

Ovum merupakan sel terbesar pada badan manusia (Kusmiyati,

(3)

11

b. Sel Mani ( Spermatozoon)

Menurut Kusmiyati (2015;h.34) spermatoza terdiri dari 3 bagian yaitu:

1) Kaput (kepala) yang mengandung bahan nucleus.

2) Ekor berguna untuk bergerak.

3) Bagian silindrik, menghubungkan kepala dan ekor.

c. Pembuahan (Konsepsi : Fertilisasi)

Pembuahan adalah suatu peristiwa penyatuan sel mani dengan sel telur di

tuba uterine. Dalam beberapa jam setelah pembuahan, mulailah

pembelahan zigot yang terjadi selama 3 hari sampai stadium morula.

d. Nidasi (Implantasi)

Nidasi adalah masuknya atau tertanamnya hasil konsepsi ke dalam

endometrium.

e. Plasentasi dan mukosa rahim

Mukosa rahim pada wanita yang tidak hamil terdiri atas stratum

kompaktrum dan stratum spongiosum.

3. Tanda-tanda kehamilan

Menurut Kuswanti (2014;h.100-103), pada wanita hamil terdapat beberapa

tanda dan gejala, antara lain:

a. Tanda-tanda presumtive (dugaan hamil)

1) Amenore (tidak dapat haid)

Gejala ini sangat penting karena umumnya wanita hamil tidak dapat

haid lagi. Penting diketahui tanggal hari pertama haid terakhir, supaya

(4)

12

2) Mual dan muntah (nausea dan vomitting)

Biasanya terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan hingga akhir

triwulan pertama, dan sering terjadi pada pagi hari (morning sickness).

Dalam batas-batas tertentu keadaan ini masih fisiologik. Bila terlampau

sering, dapat mengakibatkan gangguan kesehatan dan disebut

hyperemesis gravidarum.

3) Mengidam (ingin makanan/minuman tertentu)

Mengidam sering terjadi pada bulan-bulan pertama akan tetapi

menghilang dengan makin tuanya kehamilan.

4) Tidak tahan suatu bau-bauan.

5) Pingsan

Sering dijumpai bila berada di tempat-tempat yang ramai. Dianjurkan

untuk tidak pergi ketempat-tempat ramai pada bulan-bulan pertama

kehamilan dan hilang sesudah kehamilan 16 minggu.

6) Tidak ada selera makan (anoreksia)

Biasanya terjadi pada bulan-bulan pertama, tetapi setelah itu nafsu

makan akan timbul lagi.

7) Lelah (fatigue)

8) Payudara membesar

Tegang dan sedikit nyeri, yang disebabkan pengaruh estrogen dan

progesteron yang merangsang duktus dan alveoli payudara. Kelenjar

(5)

13

9) Sering kencing

Terjadi karena kandung kemih tertekan oleh rahim yang membesar.

Gejala akan hilang pada triwulan kedua kehamilan karena uterus yang

membesar keluar dari rongga panggul. Pada akhir kehamilan, gejala

ini kembali karena kandung kemih ditekan oleh kepala janin.

10) Konstipasi/obstipasi

Karena tonus otot-otot usus menurun oleh pengaruh hormon steroid.

11) Pigmentasi kulit oleh pengaruh hormone kortikosteroid plasenta,

dijumpai dimuka (cloasma gravidarum), areola payudara, leher dan

dinding perut.

12) Epulis (hipertrofi dari papil gusi)

Merupakan suatu hipertrofy papilla ginggivae. Sering terjadi pada

triwulan pertama kehamilan.

13) Pemekaran vena-vena (varises) dapat terjadi pada kaki, betis dan

vulva yang biasanya didapat pada daerah genetalia eksterna, kaki, dan

betis. Pada kehamilan multigravida kadang-kadang varises ditemukan

pada kehamilan yang terdahulu, yang kemudian timbul kembali pada

triwulan pertama.

b. Tanda kemungkinan hamil (tanda tidak pasti)

1) Perut membesar

Terjadi pembesaran abdomen secara progesif dari kehamilan 7

sampai 28 minggu. Pada minggu 16-22, pertumbuhan terjadi secara

(6)

14

2) Uterus membesar

Terjadi perubahan dalam bentuk, besar dan konsistensi dari rahim.

3) Tanda hegar

Konsistensi rahim yang menjadi lunak, terutama daerah isthmus uteri

sedemikian lunaknya, hingga kalau kita letakkan 2 jari dalam forniks

posterior dan tangan satunya pada dinding perut atas symphysis,

maka isthmus ini tidak teraba seolah-olah corpus uteri sama sekali

terpisah dari serviks.

4) Tanda chadwick

Vagina dan vulva tampak lebih merah, agak kebiru-biruan (livide) yang

disebabkan oleh adanya hipervaskularisasi. Warna porsio juga akan

tampak livide. Hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh hormone

estrogen.

5) Tanda piscaseck

Uterus membesar ke salah satu jurusan hingga menonjol jelas ke

jurusan pembesaran uterus.

6) Kontraksi-kontraksi kecil uterus bila dirangsang (braxton hicks)

Bila uterus dirangsang mudah berkontraksi. Saat palpasi atau

pemeriksaan dalam, uterus yang awalnya lunak akan menjadi keras

karena berkontraksi. Tanda ini khas untuk uterus dalam masa

kehamilan.

7) Teraba ballotment

Pada kehamilan 16-20 minggu, dengan pemeriksaan bimanual dapat

(7)

15

c. Tanda pasti (tanda positif)

1) Gerakan janin yang dapat dilihat atau dirasa atau diraba.

Gerakan janin pada primigravida dapat dirasakan leh ibunya pada

kehamilan 18 minggu, sedangkan pada multigravida pada 16 minggu.

2) Denyut jantung janin

a) Didengar dengan stetoskop monoral laenec

b) Dicatat dan didengar dengan alat Doppler.

c) Dicatat dengan fet-elektor kardiogram (pada kehamilan 12 minggu).

d) Dilihat pada ultrasonografi. Dengan USG, akan dapat terlihat

gambaran janin yang berupa ukuran kantng janin, panjangnya janin

dan diameter biparietalis hingga dapat diperkirakan tuanya

kehamilan.

4. Pemeriksaan diagnostik kehamilan

Pemeriksaan diagnostik kehamilan menurut Kuswanti (2014;h.104-108) yaitu

a. Tes urin (tes HCG)

Tes urin dilakukan sedini mungkin saat diketahui ada aminore. Inti

test urin adalah untuk mengetahui kadar HCG (Human Chorioic Gonadotropin) yaitu suatu hormon yang dihasilkan embrio saat terjadinya kehamilan yang akan meningkat dalam urin dan darah seminggu setelah

konsepsi. Urin yang digunakan diusahakan adalah urin pagi hari.

b. Palpasi abdomen

Secara umum, palpasi abdominal dilakukan dengan tujuan untuk

menentukan besar dan konsistensi rahim, bagian-bagian janin, letak dan

(8)

16

Pemeriksaan palpasi leopold dibagi menjadi empat tahap, pada

pemeriksaan leopold I, II, III, pemeriksaan menghadap ke arah muka ibu

yang diperiksa dan pada pemeriksaan leopold IV pemeriksaan menghadap

ke arah kaki ibu.

Langkah-langkah dalam melakukan palpasi leopold adalah:

1) Leopold I

Tujuan dari pemeriksaan Leopold I adalah untuk menentukan tinggi

fundus uteri untuk menentukan umur kehamilan. Selain itu, dapat juga

ditentukan bagian janin mana yang terletak pada fundus uteri.

Teknik pelaksanaan:

a) Kedua telapak tangan pemeriksaan diletakkan pada puncak fundus

uteri.

b) Tentukan tinggi fundus uteri untuk menentukan usia kehamilan.

c) Rasakan bagian janin yang berada pada bagian fundus (bokong atau

kepala atau kosong).

2) Leopold II

Palpasi Leopold II ini bertujuan untuk mengetahui bagian yang ada di

sebelah kanan atau kiri perut ibu.

Teknik pelaksanaan:

a) Kedua telapak tangan pemeriksa bergeser turun kebawah sampai

disamping kiri dan kanan umbilikus.

b) Tentukan bagian punggung janin untuk menentukan lokasi auskultasi

denyut jantung janin nantinya.

(9)

17

3) Leopold III

Palpasi Leopold III ini bertujuan untuk bagian janin yang berada di

sebelah bawah uterus ibu.

Teknik pelaksanaan :

a) Pemeriksaan ini dilakukan dengan hati-hati oleh karena dapat

menyebabkan perasaan tak nyaman bagi pasien.

b) Bagian terendah janin dicekap diantara ibu jari dan telunjuk tangan

kanan.

c) Ditentukan apa yang menjadi bagian terendah janin dan ditentukan

apakah sudah mengalami enggagement atau belum. 4) Leopold IV

Pada Leopold IV, selain bertujuan untuk menentukan bagian janin mana

yang terletak dibawah, juga dapat menentukan bagian berapa bagian

dari kepala janin yang telah masuk dalam pintu atas panggul.

Teknik pelaksanaan:

a) Pemeriksaan mengubah posisi sehingga menghadap ke arah kiri

pasien.

b) Kedua telapak tangan ditempatkan disisi kiri dan kanan bagian

terendah janin.

c) Digunakan untuk menentukan sampai berapa jauh derajat desensus

janin.

c. Pemeriksaan USG

Pemeriksaan USG dilakukan untuk menegakkan diagnosis pasti

(10)

18

d. Pemeriksaan rontgen

Merupakan salah satu pemeriksaan untuk melakukan penegakkan

diagnosis pasti kehamilan. Di dalam pemeriksaan akan terlihat kerangka

janin, yaitu tengkorak dan tulang belakang.

5. Ketidaknyamanan dan cara mengatasi

a. Ketidaknyamanan pada ibu hamil trimester I menurut Hutahaean

(2014;h.77-80), yaitu:

1) Nyeri epigastrik (ulu hati)

Nyeri ulu hati biasanya terjadi karena peningkatan hormon estrogen dan

progesteron sehingga otot polos gastrointestinal menurun (GI), terjadi

peningkatan asam lambung yang akhirnya menyebabkan ulkus dan

nyeri epigastrik (ulu hati).

Penanganan:

a) Anjurkan ibu menghindari makanan keras yang susah dicerna.

b) Anjurkan ibu makan sedikit tapi sering (porsi kecil 5-6 kali sehari).

c) Anjurkan ibu untuk menghindari makanan yang merangsang, seperti

pedas, lemak, dan mengandung gas.

d) Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi vitamin B kompleks, sedatif jika

perlu.

2) Rasa mual dan muntah

Ini teradi pada bulan pertama kehamilan, timbul pada pagi hari yaitu

saat perut kosong. Penyebabnya belum diketahui secara pasti,

(11)

19

Penanganan:

a) Anjurkan ibu untuk menghindari perut kosong atau perut dalam

keadaan penuh/kenyang.

b) Anjurkan ibu untuk menghindari rangsangan berupa bau-bauan.

c) Anjurkan ibu untuk menghentikan kebiasaan merokok.

d) Anjurkan ibu untuk makan-makanan kering yang mengandung

karbohidrat sebelum bangun dari tempat tidur dan ditempat tidur

hingga tenang.

3) Mengidam

Peningkatan asupan kalori terjadi karena perubahan psikologi selama

kehamilan.

Penanganan:

a) Berikan nasihat akan makanan seimbang.

b) Berikan pengawasan pada ibu untuk jenis makanan yang tidak

merugikan secara ketat.

c) Berikan asupan protein yang cukup.

d) Berikan suplai zat besi dan vitamin yang cukup.

e) Anjurkan ibu untuk menghindari konseling ke ahli gizi.

4) Gangguan berkemih

Ini terjadi karena kandung kemih tertekan oleh uterus yang mulai

membesar. Selain itu juga dipengaruhi oleh hormon aldosteron yang

(12)

20

Penanganan:

a) Anjurkan ibu untuk mengurangi minum saat akan tidur, agar istirahat

tidak terganggu.

b) Anjurkan ibu untuk latihan senam kegel untuk kekuatan otot pubis.

c) Bila ada keluhan saat BAK, maka segera rujuk ke dokter, gunakan

pembalut jika perlu.

d) Tentramkan hati ibu dengan memberi penjelasan bahwa keadaan ini

adalah fisiologis.

5) Obstipasi

Kesulitan BAB yang dialami ibu hamil disebabkan oleh kekuatan otot

traktus digestivus menurun akibat pengaruh hormon progesteron yang

mengakibatkan motilitas saluran pencernaan berkurang. Feses yang

lebih lama di usus akan menyebabkan absorbsi air meningkat dan

terjadi pengeringan dari feses serta penekanan uterus terhadap kolon

dan rektum.

Penanganan:

a) Anjurkan ibu untuk minum -+ 6 gelas per hari.

b) Anjurkan ibu untuk diet tinggi serat.

c) Anjurkan ibu untuk lakukan latihan ringan.

6) Epulsi

Epulsi merupakan keadaan hipertropi dan hiperemesis pada gusi.

Penanganan:

a) Lakukan perawatan gigi dan mulut yang baik. Anjurkan ibu unuk

(13)

21

b) Anjurkan ibu untuk mengontrol gigi dengan teratur.

c) Anjurkan ibu untuk makan makanan yang seimbang, meningkatkan

asupan buah-buahan dan sayuran.

7) Varises

8) Flour albus meningkat

Flour albus meningkat karena servik dirangsang oleh hormon estrogen dan progesteron sehingga menjadi hipertropi dan hiperaktif serta

mengeluarkan banyak mukosa.

Penanganan:

a) Anjurkan ibu untuk menjaga kebersihan vulva dan pakaian dalam.

b) Anjurkan ibu untuk menggunakan pembalut wanita.

9) Mudah lelah, malaise dan fatique

Tidak diketahui penyebabnya dengan jelas, mungkin adanya

peningkatan estrogen dan proesteron, peningkatan HCG, dan asupan

nutrisi yang kurang.

Penanganan:

a) Cegah terjadinya anemia.

b) Anjurkan ibu untuk istirahat yang cukup dan ibu untuk meningkatkan

asupan nutrisi yang adekuat.

b. Ketidaknyamanan/keluhan-keluhan pada ibu hamil trimester II menurut

Hutahaean (2014;h.113-114), yaitu:

1) Kram otot

Penyebabnya karena tekanan saraf pada ekstremitas bawah oleh

(14)

22

serta penerapan kalsium oleh janin yang meningkat sesuai dengan

kebutuhan pertumbuhan tulang dan gigi.

Penanganan:

a) Berkolaborasi dalam pemberian kalsium

b) Serta menganjurkan ibu untuk beristirahat dengan cukup.

2) Anemia

Penyebab tersering sehingga terjadi anemia ini adalah kurangnya

nutrisi, zat besi, asam folat, serta hemoglobinopati.

Penanganan:

a) Kolaborasi untuk mendapatkan zat besi dan vitamin C.

b) Konsul tentang pemberian diet.

c) Anjurkan ibu untuk mencukupi kebutuhan nutrisinya secara adekuat.

d) Istirahat yang cukup.

3) Perubahan libido

Penuruna libido yang terjadi bisa dikarenakan pengaruh psikologis,

hormonal, maupun perubahan emosi.

Penanganan:

a) Anjurkan ibu dan pasangannya membicarakan hubungan seksual

yang aman dan nyaman bagi ibu.

b) Anjurkan ibu untuk membangun komunikasi yang baik dengan

pasangannya.

c) Menganjurkan ayah untuk memperhatikan kondisi psikologis ibu

(15)

23

4) Pruritus

5) Hiperpigmentasi

Rangsangan fisiologis dari hormon melanosit (berasal dari pituitari

anterior) biasanya akan hilang pada masa nifas.

c. Ketidaknyamanan pada ibu hamil trimester III menurut Hutahaean

(2014;h.151-153), yaitu:

1) Hemoroid

Hemoroid adalah pelebaran vena dari anus. Hemoroid dapat bertambah

besar ketika kehamilan karena adanya kongesti darah dalam rongga

panggul. Relaksasi dari otot halus pada bowel memperbesar konstipasi

dan tertahannya gumpalan.

Penaganan:

a) Hindari konstipasi.

b) Beri rendamam hangat/dingin pada anus.

c) Bila mungkin gunakan jari untuk memasukkan kembali hemoroid

kedalam anus dengan pelan-pelan.

d) Bersihkan aus dengan hati-hati setelah defekasi.

e) Usahakan BAB yang teratur.

f) Ajarkan latihan kegel untuk menguatkan perineum dan mencegah

hemoroid.

2) Sering buang air kecil

Janin yang sudah semakin besar menekan kandung kemih ibu,

akibatnya kapasitas kandung kemih terbatas sehingga ibu sering ingin

(16)

24

Penanganan:

a) Ibu hamil disarankan tidak minum saat 2-3 jam sebelum tidur.

b) Kosongkan kandung kemih saat sebelum tidur.

3) Pegel-pegel

Biasanya penyebabnya bisa karena ibu hamil kekurangan kalsium atau

karena ketegangan otot. Pada kehamilan trimester ketiga dikatakan ibu

membawa beban yang berlebih seiring peningkatan berat badan janin

dalam rahim. Otot-otot tubuh juga mengalami pengenduran sehingga

mudah merasa lelah.

Penanganan:

a) Menyempatkan waktu untuk berolahraga.

b) Menjaga sikap tubuh dalam kehidupan sehari-hari, memperbaiki cara

berdiri, duduk dan bergerak.

c) Mengkonsumsi susu dan makanan yang kaya kalsium.

4) Kram dan nyeri pada kaki

Menjelang akhir kehamilan, ibu akan sering mengalami kekakuan dan

pembengkakan (edema) pada tangan dan kaki, akibatnya jaringan saraf

tertekan. Penyebabnya diperkirakan hormon kehamilan, kekurangan

kalsium, kelelahan, tekanan uterus pada otot dan pergerakan yang

kurang sehingga sirkulasi darah tidak lancar.

Penanganan:

a) Saat kram terjadi yang dilakukan adalah melemaskan seluruh tubuh,

terutama bagian tubuh yang kram.

(17)

25

c) Meningkatkan asupan air putih.

d) Melakukan senam ringan.

e) Ibu sebaiknya istirahat yang cukup.

5) Gangguan pernapasan

Ekspansi diafragma terbatas karena pembesaran uterus, rahim

membesar mendesak diafragma ke atas.

Penanganan:

a) Latihan napas melalui senam hamil.

b) Tidur dengan bantal yang tinggi.

c) Makan tidak terlalu banyak.

d) Hentikan merokok.

6) Edema

Edema bisa dikarenakan kurangnya aktivitas ibu (terlalu banyak diam).

Sebenarnya edema bukan disebabkan oleh banyaknya mengkonsumsi

garam. Penyebab edema pada ibu hami: peningkatan sodium yang

amat berlebih, peningkatan tekanan vena, penurunan vena kembali ke

struktur awal, varises vena dengan kongesti dan defisiensi diet protein.

Penanganan:

a) Meningkatkan priode istirahat dan berbaring pada posisi miring ke

kiri.

b) Meninggikan kaki bila duduk serta memakai stoking.

c) Meningkatkan asupan protein.

d) Menurunkan asupan karbohidrat karena dapat meretensi cairan

(18)

26

6. Perubahan fisiologis

Perubahan fisiologi yang terjadi pada kehamilan yaitu :

a. Perubahan pada sistem reproduksi

1) Uterus

a) Ukuran rahim membesar.

b) Berat dari 30 gram menjadi 1000 gram pada akhir kehamilan.

c) Bentuk dan konsistensi menjadi lebih panjang dan lunak (tanda

hegar, dan pisscacek).

d) Terjadi vaskularisasi.

2) Vagina

Vagina dan vulva mengalami peningkatan pembuluh darah karena

pengaruh estrogen sehingga tampak merah dan kebiruan (Mochtar,

2012;h.30).

3) Ovarium

Ovarium berhenti masih terdapat korpus luteum gravidarum sampai

terbentuknya plasenta yang mengambil pengeluaran estrogen dan

progesteron (Mochtar, 2012;h.30).

4) Payudara

Sebagai persiapan menyusui perkembangan payudara dipengaruhi oleh

estrogen dan progesteron dan sosamomamotropi (Mochtar, 2012;h.32).

b. Sistem pencernaan

Pengaruh estrogen yang meningkat, pengeluaran asam lambung

(19)

27

panas dilambung akibat pengaruh progesteron menimbulkan gerakan usus

semakin lambat sehingga terjadi konstipasi.

c. Sistem respirasi

Terjadi desakan diagfragma karena dorongan atau pembesaran rahim ada

akibat dari kebutuhan oksigen yang meningkat, ibu hamil akan bernafas

lebih dalam.

d. Perubahan pada kulit

Terjadi kloasma gravidarum, striae livida, striae alba, striae nigra,

pigmentasi pada mamae atau papila mamae.

e. Perubahan metabolisme

Perubahan metabolisme pada kehamilan menurut Manuaba (2012;h.95)

yaitu sebagai berikut:

1) Metabolisme basal naik 15-20 %.

2) Keseimbangan asam basa menurun akibat hemodilusi darah dan

kebutuhan mineral untuk janin.

3) Kebutuhan nutrisi meningkat.

4) Pertambahan berat badan ibu hamil normal antara 6,5-16,5 kg selama

hamil atau 0,5 kg per minggu.

7. Kebutuhan psikologis ibu hamil

Kebutuhan psikologis ibu hamil menurut Kuswanti (2014;h.135-138) adalah

sebagai berikut:

a. Support keluarga

Ibu merupakan salah satu anggota keluarga yang sangat

(20)

28

mempengaruhi keluarga. Kehamilan merupakan krisis bagi kehidupan

keluarga dan diikuti oleh stress dan kecemasan. Hubungan antara wanita

dan ibunya terbukti signifikan dalam adaptasi terhadap kehamilan dan

menjadi ibu. Keberadaan ibu disamping anak perempuannya selama masa

kanak-kanak.

b. Support dari tenaga kesehatan

1) Trimester I

a) Menjelaskan dan meyakinkan pada ibu bahwa apa yang terjadi

padanya adalah suatu yang normal.

b) Membantu untuk untuk memahami setiap perubahan yang terjadi

baik fisik maupun psikologis.

c) Meyakinkan bahwa ibu akan mulai merasa lebih baik dan berbahagia

pada trimester kedua.

2) Trimester III

a) Mengajarkan ibu tentang nutrisi, pertumbuhan bayi, tanda-tanda

bahaya.

b) Bersama ibu dan keluarga dalam merencanakan kelahiran dan

rencana kegawatdaruratan.

3) Trimester III

a) Memberikan penjelasan bahwa yang dirasakan oleh ibu adalah

normal

b) Menenangkan ibu.

c) Membicarakan kembali dengan ibu bagaimana tanda-tanda

(21)

29

d) Meyakinkan bahwa anda akan selalu berada bersama ibu untuk

membantu melahirkan bayinya.

c. Rasa aman dan nyaman selama kehamilan

Selama kehamilan mungkin ibu mengeluhkan bahwa ia mengalami

berbagai ketidaknyamanan, meskipun bersifat umum dan tidak

mengancam keselamatan jiwa, tetapi dapat saja menjemukan dan

menyulitkan bagi ibu. Bidan sebagai tenaga kesehatan harus

mendengarkan ibu, membicarakan tentang berbagai macam keluhan dan

membantunya mencari cara untuk mengatasinya sehingga ibu dapat

menikmati kehamilannya dengan aman dan nyaman. Keluarga dapat

memberikan perhatian dan dukungan sehingga ibu merasa aman dan tidak

sendiri dalam menghadapi kehamilannya.

d. Persiapan menjadi orang tua

Persiapan menjadi orang tua sangat penting karena setelah bayi lahir

akan banyak perubahan peran yang terjadi, mulai dari ibu, ayah dan

keluarga. Bagi pasangan yang baru pertama mempunyai anak, persiapan

dapat dilakukan dengan banyak berkonsultasi dengan orang yang mampu

untuk membagi pengalamannya dan memberikan nasehat mengenai

persiapan menjadi orang tua. Bagi pasangan yang sudah mempunyai lebih

dari satu anak, dapat belajar dari pengalaman mengasuh anak

sebelumnya.

e. Persiapan sibling

(22)

30

tahun. Sibling rivalry biasanya ditunjukan dengan penolakan terhadap kelahiran adiknya, menangis, menarik diri dari lingkungannya.

8. Pelayanan kesehatan ibu hamil

Menurut Prawirohardjo (2010;h.279) pemeriksaan antenatal yang

lengkap adalah K1, K2, K3, K4. Hal ini berarti, minimal dilakukan sekali

kunjungan antenatal hingga usia kehamilan 28 minggu, sekali kunjungan

antenatal selama kehamilan 28-36 minggu dan sebanyak dua kali kunjungan

antenatal pada usia kehamilan di atas 36 minggu. Pelayanan kesehatan ibu

hamil yang diberikan harus memenuhi elemen pelayanan sebagai berikut :

a. Penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan

Menurut Hutahaean (2013;h.87) tinggi badan ibu sangat penting

diketahui untuk menaksir ukuran panggul, dari ukuran panggul tersebut

dapat diketahui apakah persalinan dapat dilakukan secara normal atau

tidak nantinya.

b. Pengukuran tekanan darah

Menurut Prawirohardjo (2010;h.135) selama kehamilan tekanan

darah perlu diukur untuk mengetahui perbandingan nilai dasar, tekanan

darah yang adekuat mempertahankan fungsi plasenta, kenaikan tekanan

darah normal selama kehamilan pada sistolik tidak lebih dari 20 mmHg dan

pada diastolik tidak lebih dari 10-15 mmHg.

c. Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA)

Menurut Kusmiyati (2010;h.88) standar minimal untuk ukuran lengan

atas pada wanita dewasa atau usia reproduksi adalah 23,5 cm.

(23)

31

e. Penentuan status imunisasi tetanus dan pemberian imunisasi tetanus

toksoid sesuai status imunisasi.

f. Pemberian tablet tambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan.

g. Penentuan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ).

h. Pelaksanaan temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan

konseling, termasuk keluarga berencana).

i. Pelayanan tes laboratorium sederhana, minimal tes hemoglobin darah

(Hb), pemeriksaan protein urin dan pemeriksaan golongan darah (bila

belum pernah dilakukan sebelumnya).

j. Tatalaksana kasus.

9. Komplikasi pada kehamilan

Menurut Mochtar (2012;h.141-184) komplikasi pada kehamilan yaitu sebagai

berikut:

a. Hiperemesis gravidarum

Adalah mual muntah yang berlebihan yang terjadi kira-kira sampai umur

kehamilan 20 minggu.

b. Toksemia gravidarum

Istilah toksemia gravidarum untuk kumpulan gejala-gejala dalam kehamilan

yang merupakan trias HPE (Hipertensi, Proteinuria, Edema), yang

kadang-kadang bila keadaan lebih parah diikuti oleh kejang.

c. Abortus (keguguran)

Keguguran adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup

(24)

32

Macam-macam abortus menurut Hutahaean (2013;h.76) yaitu:

1) Abortus insipien

Abortus insipien ditandai dengan kehilangan darah sedang sampai

berat, terjadi kontraksi uterus yang mengakibatkan kram dan nyeri

abdomen bagian bawah serta dilatasi serviks.

2) Abortus inkompletus

Terjadi keguguran dikeluarkannya sebagian hasil konsepsi, perdarahan

masih ada seperti darah menstruasi sementara serviks tetap membuka.

d. Kematian janin dalam kandungan

Hal ini adalah keadaan tidak adanya tanda-tanda kehidupan janin dalam

kandungan. intra uterine fetal dealth (IUFD) sering dijumpai, baik pada

kehamilan di bawah 20 minggu maupun sesudah kehamilan 20 minggu.

e. Perdarahan antepartum

Pendarahan antepartum adalah pendarahan yang terjadi setelah kehamilan

28 minggu.

f. Penyakit jantung

Kebutuhan janin akan oksigen dan zat makanan bertambah selama

kehamilan, yang harus dipengaruhi melalui darah ibu. Oleh karena itu,

banyaknya darah yang beredar semakin meningkat, sehingga jantung

harus bekerja lebih keras.

g. Hipertensi

Penyakit hipertensi dalam kehamilan merupakan kelainan vaskular yang

sering terjadi sebelum kehamilan, saat terjadi kehamilan atau pada

(25)

33

B. Persalinan

1. Definisi Persalinan

Persalinan atau kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang

terjadi karena cukup bulan (36-42 minggu) dan bersifat spontan kurang dari

18 jam tanpa ada faktor penyulit dan komplit baik bagi ibu maupun janin

(Yongky, 2012;h.47).

Persalinan adalah proses hasil konsepsi (janin dan plasenta) yang telah

cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau

melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri)

(Manuaba, 2013;h.164).

Persalinan adalah prses pengeluaran (kelahiran) hasil konsepsi yang

dapat hidup diluar uterus melalui vagina ke dunia luar. Proses tersebut dikatan

normal atau spontan jika bayi yang dilahirkan berada posisi letak belakang

kepala dan berlangsung tanpa bantuan alat-alat atau pertolongan, serta tidak

melukai ibu dan bayi. Pada umumnya prses ini berlangsung dalam waktu

kurang dari 24 am (Sondakh, 2013.h: 2).

Kesimpulan dari definisi persalinan yaitu, persalinan merupakan proses

pengeluaran hasil konsepsi melalui jalan lahir secara spontan maupun

bantuan, disertai tanpa maupun adanya penyulit.

Persalinan ada tiga jenis menurut Erawati (2011;h.3), yaitu sebagai

berikut:

a. Persalinan spontan. Jika persalinan berlangsung dengan kekuatan ibu

(26)

34

b. Persalinan buatan. Jika persalinan dibantu tenaga dari luar, misalnya

ekstraksi forsep atau operasi seksio sesaria.

c. Persalinan anjuran. Persalinan yang tidak dimulai dengan sendirinya, tetapi

baru berlangsung setelah pemecahan ketuban, pemberian pitosin atau

prostaglandin.

Beberapa istilah yang berkaitan dengan umur kehamilan dan berat janin

yang dilahirkan menurut Johariyah (2012;h.1-2) adalah sebagai berikut:

a. Abortus

1) Terhentinya dan dikeluarkannya hasil konsepsi sebelum mampu hidup

diluar kandungan.

2) Umur kehamilan sebelum 28 minggu.

3) Berat janin kurang dari 1000 gram.

b. Persalinan prematuritas

1) Persalinan pada umur kehamilan 28-36 minggu.

2) Berat janin kurang 2.499 gram.

c. Persalinan aterm

1) Persalinan antara umur kehamilan 37-42 minggu.

2) Berat janin ≥2500 gram.

d. Persalinan serotinus

1) Persalinan melampaui umur kehamilan 42 minggu.

2) Pada janin terdapat tanda serotinus.

e. Persalinan presipitatus

(27)

35

2. Tanda dan gejala menjelang persalinan

Teori penyebab mulainya persalinan menurut Sondakh (2013;h.2-3), yaitu

sebagai berikut:

a. Teori penurunan progesteron. Kadar hormon progesteron akan mulai

menurun pada kira-kira 1-2 minggu sebelum persalinan dimulai.

b. Teori keregangan

Ketika uterus berkontraksi dan menimbulkan tekanan pada selaput

ketuban, tekanan hidrostatik kantong amnion akan melebarkan saluran

c. Teori oksitosin interna

Penurunan kadar progesteron karena usia kehamilan yang sudah tua

akan mengakibatkan aktivitas oksitosin meningkat.

Beberapa tanda dimulainya proses persalinan menurut Sondakh

(2013) yaitu sebagai berikut:

a. Terjadinya his persalinan

Sifat his persalinan adalah:

1) Pinggang terasa sakit dan menjalar kedepan.

2) Sifatnya teratur, interval makin pendek, dan kekuatan makin besar.

3) Makin beraktifitas (jalan), kekuatan akan makin bertambah.

b. Pengeluaran lendir dengan darah

Terjadinya his persalinan mengakibatkan terjadinya perubahan pada

serviks yang akan menimbulkan:

1) Pendataran dan pembukaan

2) Pembukaan menyebabkan lendir yang terdapat pada kanalis

(28)

36

3) Terjadi perdarahan karena kapile pembuluh darah pecah.

c. Pengeluaran cairan

Pada beberapa kasus persalinan akan terjadi pecah ketuban. Sebagian

besar keadaan ini terjadi menjelang pembukaan lengkap. Setelah

adanya pecah ketuban, diharapkan proses persalinan aka berlangsung

kurang dari 24 jam.

d. Hasil-hasil yang diharapkan dari pemeriksaan dalam menurut Sondakh,

(2013;h.3), yaitu sebagai berikut:

1) Pelunakan serviks.

2) Pendataran serviks.

3) Pembukaan serviks.

Tanda dan gejala persalinan menurut Varney (2007) yaitu:

a. Lightening

Lightening, yang mulai dirasa kira-kira dua minggu sebelum

persalinan, adalah penurunan bagian presentasi bayi kedalam pelvis

minor. Pada presentasi sefalik, kepala bayi biasanya menancap

(engaged) setelah lightening. Wanita sering menyebut lightening

sebagai “kepalabayi sudah turun”.

Lightening menyebabkan tinggi fundus menurun ke posisi yang

sama dengan posisi fundus pada usia kehamilan 8 bulan. Pada

primigravida biasanya lightening terjadi sebelum persalinan. Hal ini

kemungkinan disebabkan peningkatan intensitas kontraksi Braxton

Hicks dan tonus otot abdomen yang baik, yang lebih sering ditemukan

(29)

37

b. Perubahan serviks

Mendekati persalinan, serviks semakin “matang.” Evaluasi

kematangan serviks akan tergantung pada individu wanita dan

paritasnya, sebagai contoh, pada masa hamil, serviks ibu multipara

secara normal mengalami pembukaan 2 cm, sedangkan pada

primigravida dalam kondisi normal serviks menutup. (Varney,

2007;h.673). Perubahan serviks diduga terjadi akibat peningkatan

intensitas kontraksi Braxton Hicks. c. Persalinan palsu

Persalinan palsu terdiri dari kontraksi uterus yang sangat nyeri,

yang memberi pengarruh signifikan terhadap serviks. Kontraksi pada

persalinan palsu sebenarnya timbul akibat kontraksi Braxton Hicks yang tidak nyeri, yang telah terjadi sejak sekitar 6 minggu kehamilan (Varney,

2007;h.673).

d. Ketuban Pecah Dini (KPD)

Pada kondisi normal, ketuban pecah pada akhir kala satu

persalinan. Apabila terjadi sebelum awitan persalinan, kondisi tersebut

disebut Ketuban Pecah Dini (KPD).

e. Bloody show

Plak Lendir disekresi serviks sebagai hasil proliferasi kelenjar

lendir serviks pada awal kehamilan. Plak ini menjadi sawar pelindung

dab menutup jalan lahir selama kehamilan. Bloody show paling sering terlihat sebagai rabas lendir bercampur darah yang lengket dan harus

(30)

38

f. Lonjakan energi

Banyak wanita mengalami lonjakan energi kurang lebih 24 sampai

48 jam sebelum awitan persalinan.

g. Gangguan saluran cerna (Varney, 2007;h.674).

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan

Masing-masing dari faktor menurut Sondakh (2013;h.4-5) sebagai berikut:

a. Penumpang (passanger)

Penumpang dalam persalinan adalah janin dan plasenta. Hal-hal

yang harus diperhatikan mengenai janin adalah ukuran kepala janin,

presentasi, letak, sikap, dan posisi janin; sedangkan yang perlu

diperhatikan pada plasenta adalah letak, besar, dan luasnya.

b. Jalan lahir (passage)

Jalan lahir terbagi atas dua, yaitu jalan lahir keras dan jalan lahir

lunak. Hal-hal yang perlu diperhatikan dari jalan lahir keras adalah ukuran

dan bentuk tulang pangggul, sedangkan yang perlu diperhatikan pada jalan

lahir lunak adalah segmen bawah uterus yang dapat meregang, serviks,

otot dasar panggul, vagina dan introitus vagina.

c. Kekuatan (power)

Karakteristik HIS persalinan sesungguhnya dan HIS persalinan palsu

menurut Johariyah (2010;h.23). His paling tinggi di fundus uteri yang

lapisan ototnya paling tebal dan puncak kontraksi terjadi simultan diseluruh

bagian uterus. Amplitudo uterus meningkat terus sampai 60 mmHg pada

akhir kala I dan frekuensi his menjadi 2-4 kontraksi tiap 10 menit. Juga

(31)

39

60-90 detik pada akhir kala I atau pada permulaan kala II (Prawirohardjo,

2010;h.290).

Tabel 2.1 Perbedaan HIS persalinan dan HIS palsu

His Persalinan His Palsu

Rasa nyeri dengan interval teratur Rasa nyeri tidak teratur Interval antara rasa nyeri yang secara

perlahan semakin pendek

Tidak ada perubahan interval antara rasa nyeri yang satu dengan yang lainnya.

Waktu dan kekuatan kontraksi semakin bertambah.

Tidak ada perubahan pada waktu dan kekuatan kontraksi.

Rasa nyeri dibagian belakang dan bagian depan.

Kebanyakan rasa nyeri pada abdomen bagian bawah.

Berjalan akan menambah intensitas. Tidak ada perubahan rasa nyeri dengan berjalan.

Ada hubungan antara tingkat kekuatan kontraksi dengan intensitas rasa nyeri.

Tidak ada hubungan antara tingkat dan kekuatan uterus dengan intensitas rasa nyeri.

Menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks

Tidak ada perubahan pada serviks.

Sumber: Johariyah (2010;h.23).

d. Posisi ibu (positioning)

Perubahan posisi yang diberikan pada ibu bertujuan untuk

menghilangkan rasa letih, memberi rasa nyaman, dan memperbaiki

sirkulasi. Posisi tegak (contoh: posisi berdiri, berjalan, duduk, dan jongkok)

memberi sejumlah keuntungan, salah satunya adalah memungkinkan gaya

gravitasi membantu penurunan janin.

e. Respons psikologis (psychology response) Respon psikologi ibu dapat dipengaruhi oleh:

1) Dukungan ayah bayi/pasangan selama proses persalinan.

2) Dukungan kakek-nenek (saudara dekat) selama persalinan.

(32)

40

4. Proses Persalinan

Proses persalinan dibagi menjadi empat kala, yaitu:

a. Kala I Persalinan

1) Kala I (kala pembukaan)

Inpartu (partus mulai) ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah

(bloody show) karena serviks mulai membuka (dilatasi) dan mendatar (effacement).

Kala pembukaan dibagi atas 2 fase menurut Mochtar (2013;h.71).

a) Fase laten: pembukaan serviks yang berlangsung lambat sampai

pembukaan 3 cm, lamanya 7-8 jam.

b) Fase aktif: berlangsung 2 jam, dibagi menjadi 3 subfase.

(1) Priode akselerasi: berlangsung 2 jam, pembukaan menjadi 4 cm.

(2) Periode dilatasi maksimal (steady): selama 2 jam, pembukaan berlangsung cepat menjadi 9 cm.

(3) Periode deselarasi: berlangsung lambat, dalam waktu 2 jam

pembukaan menjadi 10 cm (lengkap).

Tabel 2.2 Perbedaan pembukaan serviks pada primigravida dengan multigravida

Perbedaan pembukaan serviks pada primigravida dengan multigravida adalah sebagai berikut:

Primi Multi

Serviks mendatar (effacement) dulu baru berdilatasi

Berlangsung 13-14 jam.

Mendatar dan membuka dapat terjadi bersamaan.

Berlangsung 6-7 jam.

(33)

41

2) Penatalaksanaan kala satu persalinan

Penatalaksanaan selama kala satu persalinan mencakup tanggung

jawab menurut Varney (2007), yaitu:

a) Diagnosis banding persalinan

Diagnosis aktual persalinan palsu didasarkan pada definisi

persalinan sebagai perubahan serviks yang progresif. Dengan

demikian, ketika ditemukan bahwa kontraksi tidak mengakibatkan

penipisan dan pembukaan serviks, maka diagnosis persalinan palsu

ditegakkan berdasarkan fakta tidak ada pembukaan serviks (Varney,

2007;h.689).

b) Penatalaksanaan persalinan palsu

Penatalaksanaan untuk perawatan wanita yang mengalami

persalinan palsu dan wanita yang menderita rasa sakit menyeluruh

menjelang akhir kehamilan adalah sama. Keduanya memerlukan

kesabaran, pengertian, penjelasan dan perhatian yang lembut dan

penuh cinta. Anggota keluarga perlu menunjukkan dukungan dan

kesabaran (Varney, 2007;h.689).

c) Evaluasi awal terhadap ibu dan janin dalam persalinan

Selain pemeriksaan fisik untuk penapisan, pemeriksaan

abdomen dan pelvik yang menyeluruh sangat penting untuk

(34)

42

d) Evaluasi kesejahteraan ibu dan janin yang kontinu

Tabel 2.3 Evaluasi kesejahteraan ibu dan janin

Sumber : Varney, 2007;h.695.

e) Evaluasi dan fasilitasi kemajuan persalinan yang kontinu

Informasi pada poin-poin berikut ini digunakan dalam evaluasi

kemajuan persalinan yang berkelanjutan menurut Varney

(2007;h.710) yaitu:

a. Tekanan darah setiap jam

b. Temperatur, denyut nadi, pernapasan

1) Setiap 2 jam (atau setiap 4 jam) jika temperatur normal dan ketuban utuh.

2) Setiap jam (atau setiap 2 jam) setelah ketuban pecah. 2. Distensi kandung kemih

3. Urine

a. Keletihan dan penurunan fisik

b. Perilaku dan respon terhadap persalinan c. Nyeri dan kemampuan koping

Janin

1. Normalitas letak, presentasi, sikap, posisi, dan variasi janin. 2. Adaptasi janin terhadap pelvis.

(35)

43

(6) Durasi.

(7) Intensitas.

(8) Perubahan perilaku pada ibu.

(9) Tanda dan gejala transisi dan menjelang kala dua persalinan.

(10) Posisi nyeri pungggung bawah.

(11) Posisi lokasi intensitas maksimal denyut jantung janin.

b. Kala II (kala pengeluaran janin)

Menurut Erawati (2011;h.53) kala II atau kala pengeluaran janin

adalah tahap persalinan yang dimulai dengan pembukaan serviks lengkap

sampai bayi keluar dari uterus.

1) Gejala utama kala II adalah sebagai berikut:

a) His semakin kuat, dengan interval 2 sampai 3 menit, dengan durasi

50 sampai 100 detik.

b) Menjelang akhir kala I, ketuban pecah yang ditandai dengan

pengeluaran cairan secara mendadak.

c) Ketuban pecah pada pembukaan mendekati lengkap diikuti keinginan

mengejan akibat tertekannya pleksus Frankenhauser.

d) Kedua kekuatan his dan mengejan lebih mendorong kepala bayi

sehingga terjadi:

(1) Kepala membuka pintu.

(2) Sub occiput bertindak sebagai hipomoglion, kemudian secara

berturut-turut lahir ubun-ubun besar, dahi, hidung, dan muka,

serta kepala seluruhnya.

(36)

44

2) Menurut Manuaba (2010;h.173) tanda gejala kala II adalah his yang

adekuat, ketuban pecah pada pembukaan mendekati lengkap dan diikuti

keinginan untuk mengejan.

3) Memilih posisi dalam persalinan

Posisi yang dianjurkan dalam persalinan menurut Erawati (2011;h.54)

yaitu sebagai berikut:

a) Posisi jongkok atau berdiri

Keuntungan posisi jongkok atau berdiri, yaitu sebagai berikut:

(1) Membantu penurunan kepala bayi.

(2) Memperbesar dorongan untuk meneran.

(3) Mengurangi rasa nyeri.

b) Posisi duduk/setengah duduk

Keuntungan posisi duduk/setengah duduk, yaitu sebagai berikut:

(1) Memberi rasa nyaman bagi ibu.

(2) Memberikan kemudahan untuk istirahat saat kontraksi.

(3) Gaya gravitasi dapat membantu mempercepat kelahiran.

c) Posisi merangkak

Keuntungan posisi merangkak, yaitu sebagi berikut:

(1) Mengurangi rasa nyeri punggung saat persalinan.

(2) Membantu bayi melakukan rotasi.

(3) Peregangan perineum lebih sedikit.

d) Posisi berbaring miring ke kiri

Keuntungan posisi berbaring miring ke kiri, yaitu sebagai berikut:

(37)

45

(2) Memberi oksigenasi yang baik bagi bayi.

(3) Membantu mencegah terjadinya laserasi perineum.

e) Posisi persalinan telentang (supine) dapat menyebabkan hipotensi

karena bobot uterus yang menekan vena kava inferior, aorta, dan dan

pembuluh lain dari sistem vena tersebut.

4) Pemantauan kala II persalinan

Hal-hal yang dilakukan dalam pemantauan kala II persalinan menurut

Erawati (2011;h.59), adalah sebagai berikut:

a) Evaluasi terus-menerus kesejahteraan ibu yang berupa:

(1) Pemeriksaan denyut nadi tiap 15 menit.

(2) Pemeriksaan tekanan darah tiap 30 menit.

(3) Periksa kontraksi ibu tiap 30 menit untuk menilai frekuensi dan

lamanya kontraksi selama 10 menit.

(4) Tanyakan ibu dan palpasi kandung kemih untuk memastikan

kandung kemih tersebut kosong.

(5) Hidrasi kondisi umum.

(a) Apakah ibu perlu minum?

(b) Apakah ibu letih?

(6) Upaya mengejan. Apakah ibu mengejan dengan efektif dan

fisiologis?

b) Evaluasi terus-menerus kesejahteraan janin yang berupa:

(1) Penurunan, presentasi, dan sikap janin melalui pemeriksaan

(38)

46

(2) Penurunan kepala janin melalui pemeriksaan abdomen tiap 30

menit.

(3) Kondisi kepala, verteks (kaput, mulase).

(4) Denyut jantung janin dan polanya sesering mungkin.

(5) Warna cairan ketuban jika selaput ketuban sudah pecah.

c) Pemantauan bayi baru lahir.

d) Asuhan dukungan yang berupa:

(1) Meningkatkan rasa aman dengan mendukung, mendorong dan

meyakinkan ibu.

(2) Membantu pernapasan.

(3) Membantu dalam teknik mengejan.

(4) Mengikutsertakan, menghormati anggota keluarga atau teman

yang mendampingi.

(5) Memberikan tindakan yang menyenangkan, misalnya mengusap

dahi.

(6) Memberikan dan membantu ibu minum antara waktu kontraksi.

(7) Secara terus menurus mengamati prinsip pencegahan infeksi

dan dasar-dasar hygiene.

(8) Memastikan kandung kemih kosong dengan membantu dan

mendorong ibu mengosongkannya secara rutin.

c. Kala III (pelepasan plasenta)

Menurut Sondakh (2013;h.6) kala III dimulai segera setelah bayi lahir

sampai lahirnya plasenta, yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit.

(39)

47

dimulai ketika bayi lahir dan berakhir pada saat plasenta sudah dilahirkan

seluruhnya.

1) Tanda-tanda pelepasan plasenta

Proses lepasnya plasenta dapat diperkirakan dengan mempertahankan

tanda-tanda di bawah ini:

a) Uterus menjadi bundar.

b) Uterus terdorong ke atas karena plasenta dilepas ke segmen bawah

rahim.

c) Tali pusat bertambah panjang.

d) Terjadi semburan darah tiba-tiba.

Cara melahirkan plasenta adalah menggunakan teknik dorsokranial

(Sondakh, 2013;h.6).

2) Kala III terdiri dari dua fase, yaitu:

a) Fase pelepasan plasenta

Beberapa cara pelepasan plasenta menurut Sondakh (2013;h.7),

antara lain:

(1) Schultze

Proses lepasnya plasenta seperti menutup payung. Cara ini

merupakan cara yang paling sering terjadi (80%). Bagian yang

lepas terlebih dahulu adalah bagian tengah, lalu terjadi

retroplasental hematoma yang menolak plasenta ini, perdarahan

biasanya tidak ada sebelum plasenta lahir dan berjumlah banyak

(40)

48

(2) Duncan

Berbeda dengan sebelumnya, pada cara ini lepasnya plasenta

mulai dari pinggir 20%. Darah akan mengalir keluar antara

selaput ketuban. Pengeluarannya juga serempak dari tengah dan

pinggir plasenta.

b) Fase pengeluaran plasenta

Perasat-perasat untuk mengetahui lepasnya plasenta adalah:

(1) Kustner

Dengan meletakkan tangan disertai tekanan di atas simpisis, tali

pusat ditegangkan, maka bila tali pusat masuk berarti belum

lepas. Jika diam atau maju berarti sudah lepas.

(2) Klein

Sewaktu ada his, rahim didorong sedikit. Bila tali pusat kembali

berarti belum lepas, diam atau turun berarti lepas (cara ini tidak

digunakan lagi).

(3) Strassman

Tegangkan tali pusat dan ketok pada fundus, bila tali pusat

bergetar berarti plasenta belum lepas, tidak bergetar berarti

sudah lepas. Tanda-tanda plasenta telah lepas adalah rahim

menonjol di atas simpisis, tali pusat bertambah panjang, rahim

bundar dan keras, serta keluar darah secara tiba-tiba.

Pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah

(41)

49

3) Manajemen aktif kala III

Manajemen aktif kala III persalinan menurut Erawati (2011;h.74), yaitu

manajemen aktif kala III persalinan terdiri atas tiga langkah utama yaitu

suntik oksitosin, penegangan tali pusat terkendali (PTT), dan masase

fundus uterus.

4) Pemeriksaan setelah plasenta keluar

a) Plasenta

(1) Bentuk : bulat/agak bulat/oval/datar.

(2) Ukuran : diameter 20-22 cm, tebal ± 2 cm, berat ± 500 gram,

hidrops fetalis (ada/tidak).

(3) Permukaan maternal: kotiledon (lengkap/tidak), infark (ada/tidak).

(4) Permukaan fetal: korion dan amnion (ada yang tertinggal/tidak,

letak robekan).

b) Tali pusat

(1) Panjang : 40-50 cm.

(2) Diameter : 1-2 cm.

(3) Insersi : normal atau sentral, lateral, battledore, velamentosa.

5) Tindakan-tindakan kala III

Tindakan-tindakan kala III menurut Johariyah (2012;h.151-153), yaitu:

a) Kompresi Bimanual Interna (KBI)

Atonia uteri terjadi jika uterus tidak berkontraksi dalam 15 detik

setelah dilakukan rangsangan taktil fundus uteri. Setelah meyakini

bahwa plasenta telah lahir lengkap, akan tetapi kontraksi tidak terjadi,

(42)

50

b) Kompresi Bimanual Eksterna (KBE)

c) Kompresi Aorta

d) Plasenta Manual

Plasenta manual adalah tindakan untuk melepas plasenta secara

manual dari tempat implantasinya dan kemudian melahirkannya

keluar dari kavum uteri.

d. Kala IV (kala pengawasan/observasi/pemulihan)

Kala IV dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam postpartum.

Kala ini terutama bertujuan untuk melakukan observasi karena perdarahan

postpartum paling sering terjadi pada 2 jam pertama (Sondakh, 2013;h.7).

Kala IV menurut Johariyah (2012;h.7) adalah kala pengawasan selama 2

jam setelah bayi lahir, untuk mengamati keadaan ibu terutama terhadap

bahaya perdarahan postpartum.

1) Observasi yang dilakukan menurut Johariyah dan Ningrum (2012;h.7)

adalah:

a) Tingkat kesadaran penderita.

b) Pemeriksaan tanda-tanda vital.

c) Kontraksi uterus, Tinggi Fundus Uteri (TFU).

Dalam evaluasi uterus, yang perlu dilakukan adalah mengobservasi

kontraksi dan konsistensi uterus. Kontraksi uterus yang normal akan

teraba keras saat dipalpasi. Jika tidak terjadi kontraksi dalam waktu

15 menit setelah dilakukan pemijatan uterus, akan terjadi atonia

(43)

51

d) Terjadinya perdarahan : perdarahan normal bila tidak melebihi 400

sampai 500 cc.

2) Fisiologi kala IV persalinan menurut Erawati (2011;h.85)

Setelah plasenta lahir, tinggi fundus uterus kurang lebih dua jari di

bawah pusat. Otot-otot uterus berkontraksi, pembuluh darah yang ada di

antara anyaman otot uterus akan terjepit. Proses ini akan menghentikan

perdarahan setelah plasenta dilahirkan.

3) Pemeriksaan Serviks, Vagina, dan Perineum

a) Serviks

Perubahan yang terjadi pada serviks adalah serviks menganga

seperti corong.

b) Vagina dan perineum

Evaluasi laserasi dan perdarah aktif pada perineum dan vagina. Kaji

perluasan laserasi perineum. Laserasi perineum dibagi menjadi

empat derajat menurut Erawati (2010;h.86), yaitu sebagai berikut:

(1) Derajat I: Meliputi mukosa vagina, fourchette posterior, dan kulit

perineum.

(2) Derajat II: Meliputi mukosa vagina, fourchette posterior, dan kulit

perineum dan otot perineum. Pada derajat II dilakukan penjahitan

dengan teknik jelujur.

(3) Derajat III: Meliputi mukosa vagina, fourchette posterior, dan kulit

(44)

52

(4) Derajat IV: Derajat III ditambah dinding rektum anterior. Pada

derajat III dan IV, segera lakukan rujukan karena laserasi ini

memerlukan teknik dan prosedur khusus.

e. Langkah-langkah persalinan normal

Menurut APN (2008) langkah-langkah persalinan normal ada 58 langkah,

sebagai berikut:

1) Mendengar, melihat dan memeriksa gejala dan tanda kala dua, seperti

sebagai berikut:

a) Adanya keinginan untuk meneran.

b) Tekanan pada rektum dan vagina.

c) Perineum menonjol.

d) Vulva-vagina dan sfingter ani membuka.

2) Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial

untuk menolong persalinan dan penatalaksanaan komplikasi ibu dan

bayi baru lahir. Untuk asfiksia: tempat datar dan keras, 2 kain dan 1

handuk bersih dan kering, lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm dari

tubuh bayi.

a) menggelar kain diatas perut ibu, tempat resusitasi dan ganjal bahu

bayi.

b) Menyiapkan oksitosin 10 unit dan alat suntik steril sekali pakai di

dalam partus set.

(45)

53

4) Lepaskan dan simpan semua perhiasan yang dipakai, cuci tangan

dengan sabun dan air bersih mengalir kemudian keringkan tangan

dengan tisu atau handuk pribadi yang bersih dan kering.

5) Pakai sarung tangan DTT untuk melakukan periksa dalam.

6) Memasukkan oksitosin ke dalam tabung suntik memakai sarung

tangan DTT dan steril.

7) Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati dari

depan ke belakang, dengan menggunakan kapas atau kasa yang

sudah dibasahi air DTT.

a) Jika introitus vagina, perineum atau anus terkontaminasi tinja,

bersihkan dengan seksama. Mengganti sarung tangan jika

terkontaminasi.

b) Buang kapas atau kasa pembersih (terkontaminasi) dalam wadah

yang tersedia.

c) Ganti sarung tangan jika terkontaminasi (dekontaminasi, lepaskan

dan rendam dalam larutan klorin 0,5%).

8) Lakukan periksa dalam untuk memastikan pembukaan lengkap. Bila

selaput ketuban dalam pecah dan pembukaan sudah lengkap maka

lakukan amniotomi.

9) Dekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan ke

dalam larutan klorin 0,5% kemudian lepaskan dan rendam dalam

keadaan terbalik dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Cuci

(46)

54

10) Periksa denyut jantung janin untuk memastikan DJJ setelah kontrasksi

dalam batas normal (120-160 x/menit).

a) Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal.

b) Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam, DJJ dan

semua hasil-hasil penilaian serta asuhan lainnya pada partograf.

11) Memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik.

Membantu ibu memposisikan diri dengan nyaman dan sesuai dengan

keinginannya.

a) Tunggu hingga timbul rasa ingin meneran, lanjutkan pemantauan

kondisi dan kenyamanan ibu dan janin (ikuti pedoman

penatalaksanaan fase aktif) dan dokumentasikan semua temuan

yang ada

b) Jelaskan pada anggota keluarga tentang bagaimana peran mereka

untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu untuk meneran

secara benar

12) Minta keluarga membantu menyiapkan posisi meneran. (bila ada rasa

ingin meneran dan terjadi kontraksi yang kuat, bantu ibu ke posisi

setengah duduk atau posisi lain yang diinginkan dan pastikan ibu

merasa nyaman).

13) Laksanakan bimbingan meneran saat ibu merasa ada dorongan kuat

untuk meneran:

a) Membimbing ibu untuk meneran saat ibu mempunyai keinginan

untuk meneran.

(47)

55

c) Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman.

d) Menganjurkan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi.

e) Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan memberi semangat

pada ibu.

f) Menganjurkan makan minum.

g) Menilai DJJ tiap kontraksi uterus selesai.

h) Segera rujuk jika bayi belum atau tidak akan segera lahir setelah

120 menit (2 jam) meneran (primigravida) atau 60 menit (1 jam)

meneran (multigravida).

14) Anjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok, atau mengambil posisi yang

nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam

60 menit.

15) Letakkan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu, jika

kepala bayi telah membka vulva dengan diameter 5-6 cm.

16) Letakkan kain bersih dilipat 1/3 bagian, dibawah bokong ibu.

17) Buka tutup partus set dan perhatikan kembali kelengkapan alat dan

bahan.

18) Pakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.

19) Setelah tampak kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm,

lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain bersih dan

kering. Tangan yang lain menahan kepala bayi untuk menahan posisi

defleksi dan membantu lahirnya kepala. Anjurkan ibu untuk meneran

(48)

56

20) Periksa kemungkinan lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang

sesuai jika hal itu terjadi dan meneruskan segera proses kelahiran

bayi.

a) Jika tali pusat melilit leher secara longgar, lepaskan lewat bagian

atas kepala bayi.

b) Jika tali pusat melilit leher secara kuat, klem tali pusat di dua tempat

dan potong diantara dua klem tersebut.

21) Tunggu kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan.

22) Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, tempatkan kedua tangan

di masing-masing sisi muka bayi menganjurkan ibu untuk meneran

saat ada kontraksi. Dengan lembut gerakkan kepala kearah bawah

dan distal hingga bahu depan muncul dibawah arkus pubis dan

kemudian dengan lembut gerakkan kearah atas dan kearah luar untuk

melahirkan bahu belakang.

23) Setelah kedua bahu dilahirkan, geserkan tangan kearah perineum ibu

untuk menyangga kepala bayi. Lengan dan siku sebelah bawah.

Gunakan tagan atas untuk menelusuri dan memegang lengan dan siku

sebelah atas.

24) Setelah tubuh dan lengan lahir, penelusuran tangan atas berlanjut ke

punggung, bokong, tungkai dan kaki. Pegang kedua mata kaki

(masukkan telunjuk diantara kaki dan pegang masing-masing mata

kaki dengan ibu jari dan jari-jari lainnya).

25) Lakukan penilaian selintas. Bila bayi mengalami asfiksia lakukan

(49)

57

26) Keringkan dan posisikan tubuh bayi diatas perut ibu.

a) Keringkan bayi mulai dari muka, kepala, dan bagian tubuh lainnya

(tanpa membersihkan verniks) kecuali bagian tangan.

b) Ganti handuk basah dengan handuk yang kering

c) Pastikan bayi dalam kondisi mantap diatas perut ibu

27) Periksa kembali perut ibu untuk memastikan tak ada bayi lain dalam

uterus (hamil tunggal).

28) Memberi tahu kepada ibu bahwa ia akan menyuntikkan oksitosin (agar

uterus berkontraksi baik).

29) Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikkan oksitosin 10 unit (IM)

di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum

menyuntikkan oksitosin)

30) Dengan menggunakan klem, jepit tali pusat (2 menit setelah bayi lahir)

pada sekitar 3 cm dari pusar bayi. Dari sisi luar klem penjepit, dorong

isi tali pusat kearah distal (ibu) dan lakukan penjepitan kedua pada 2

cm distal dari klem pertama.

31) Pemotongan dan pengikatan tali pusat.

a) Dengan satu tangan, angkat tali pusat yang telah dijepit kemudian

lkukan pengguntingan, tali pusat (lindungi perut bayi) diantara 2

klem tersebut

b) Ikat tali pusat dengan benang DTT/ steril pada satu sisi kemudian

lingkarkan kembali 1 benang ke sisi berlawanan dan lalkukan ikatan

kedua menggunakan simpul kunci

(50)

58

32) Tempatkan bayi untuk melakukan kontak kulit ibu ke kulit bayi.

Letakkan bayi dengan posisi tengkurap di dada ibu. Luruskan bahu

bayi sehingga bayi menempel dengan baik di dinding dada perut ibu.

Usahakan kepala bayi berada diantara payudara ibu dengan posisi

lebih rendah dari putting susu ibu.

33) Selimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan pasang topi di kepala

bayi.

34) Pindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari vulva.

35) Letakkan satu tangan diatas kain pada perut ibu, ditepi atas simfisis,

untuk mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat.

36) Setelah uterus berkontraksi, tegangkan tali pusat kearah bawah sambil

tangan yang lain mendorong uterus kearah belakang-atas

(dorsokranial) secara hati-hati (untuk mencegah inversion uteri). Jika

plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik, hentikan penegangan tali pusat

dan tunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan ulangi prosedur

diatas. Jika uterus tidak berkontraksi, minta ibu, suami atau anggota

keluarga untuk melakukan stimulasi putting susu.

37) Lakukan penegangan dan dorongan dorsokranial hingga plasenta

terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat

dengan arah sejajar lantai dan kemudian kearah atas, mengikuti poros

jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorsokranial).

a) Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga berjarak

sekitar 5-10 cm dari vulva dan lahirkan plasenta

(51)

59

c) Beri dosis ulangan oksitosin 1o unit IM

d) Lakukan kateterisasi (aseptik) jika kandung kemih penuh

e) Minta keluarga untuk menyiapkan rujukan

f) Ulangi penegangan tali pusat 15 menit berikutnya

g) Segera rujuk jika plasenta tidak lahir dalam 30 menit setelah bayi

lahir

h) Bila terjadi perdarahan, lakukan plasenta manual

38) Saat plasenta muncul di introitus vagina, lahirkan plasenta dengan

kedua tangan. Pegang dan putar plasenta hingga selaput ketuban

terpilin kemudian lahirkan dan tempatkan plasenta pada wadah yang

telah disediakan. Jika selaput ketuban robek, pakai sarung tangan DTT

atau steril untuk melakukan eksplorasi sisa selaput kemudian gunakan

jari-jari tangan atau klem DTT atau steril untuk mengeluarkan bagian

selaput yang tertinggal.

39) Segera setelah plassenta dan selaput ketuban lahir, lakukan masase

uterus, letakkan telapak tangan di fundus dan lakukan masase dengan

gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus

terasa lembek). Lakukan tindakan yang diperlukan jika uterus tidaak

berkontraksi setelah 15 detik melakukan rangsangan taktil/masase.

40) Periksa kedua sisi plasenta baik bagian ibu mupun bayi dan pastikan

selaput ketuban lengkap dan utuh. Masukkan plasenta ke dalam

kantung plastik atau tempat yang sudah disediakan.

41) Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Lakukan

(52)

60

42) Pastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan

pervaginam.

43) Beri cukup waktu untuk melakukan kontak kulit bayi-ibu (di dada ibu

paling sedikit 1 jam).

a) Sebagian besar bayi akan berhasil melakukan Inisiasi Menyusui

Dini (IMD) dalam waktu 30-60 menit. Bayi cukup menyusu dari 1

payudara.

b) Biarkan bayi berada di dada ibu selama 1 jam walaupun bayi sudah

berhasil menyusu.

44) Lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes mata antibiotik

profilaksis, dan vitamin K1 1mg IM di paha kiri anterolateral setelah

jam kontak kulit ibu-bayi.

45) Berikan suntikan imunisaasi Hepatitis B (setelah 1 jam pemberian

vitamin K1) di paha kanan anterolateral.

a) Letakkan bayi di dalam jangkauan ibu agar sewaktu-waktu bisa

disusukan.

b) Letakkan kembali bayi pada dada ibu bila bayi belum berhasil

menyusu di dalam 1 jam pertama dan biarkan sampai bayi berhasil

menyusu.

46) Lanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan

pervaginam.

a) 2-3 kali dalam 15 menit pertama pascapersalinan.

b) Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pascapersalinan.

(53)

61

d) Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, melakukan asuhan yang

sesuai untuk penatalaksanaan atonia uteri.

47) Ajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai

kontraksi.

48) Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.

49) Memeriksa nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit

selama 1 jam pertama pascapersalinan dan setiap 30 menit selama

jam kedua pascapersalinan.

a) Memeriksa temperature tubuh ibu sekali setiap jam selama 2 jam

pertama pascapersalinan.

b) Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal.

50) Periksa kembali kondisi bayi untuk memastikan bahwa bayi bernapas

denga baik (40-60 kali/menit) serta suhu tubuh normal (36,5-37,5)

51) Tempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5%

untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan setelah

didekontaminasi.

52) Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang

sesuai.

53) Bersihkan badan ibu menggunakan air DTT. Bersihkan sisa cairan

ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu memakai pakaian yang bersih

dan kering.

54) Pastikan ibu merasa nyaman. Bantu memberikan ASI. Anjurkan

keluarga untuk memberi makan dan minum.

(54)

62

56) Celupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5%, balikkan

bagian dalam ke luar dan rendam dalam larutan klorin 0,5% selama 10

menit.

57) Cuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih mengalir kemudian

keringkan dengan tisu atau handuk yang bersih.

58) Lengkapi partograf (halaman depan dan belakang), periksa tanda vital

dan asuhan kala IV.

5. Komplikasi dalam persalinan

Deteksi dini komplikasi kala I menurut Johariah (2012;h.91-159) adalah

sebagai berikut:

a. Deteksi dini komplikasi kala I

1) Riwayat bedah sesar.

2) Perdarahan pervaginam.

3) Persalinan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37 minggu).

Rencana asuhan:

a) Segera rujuk ibu kefasilitas kesehatan yang memiliki kemampuan

penatalaksanaan kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir.

b) Dampingi ibu ketempat rujukan.

4) Ketuban pecah dengan mekonium yang kental.

Rencana asuhan:

a) Baringkan ibu miring ke kiri.

b) Dengarkan DJJ (normal DJJ 120-160x/menit).

c) Segera rujuk ke fasilitas yang memiliki kemampuan untuk

Gambar

Tabel 2.1 Perbedaan HIS persalinan dan HIS palsu
Tabel 2.2 Perbedaan pembukaan serviks pada primigravida dengan multigravida
Tabel 2.3 Evaluasi kesejahteraan ibu dan janin
Tabel 2.4 Kriteria diagnostik kelainan persalinan akibat persalinan lama atau
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

1 6-8 jam setelah persalinan. Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk bila perdarahan

Antigen tipe K tampak penting pada patogenesis infeksi saluran kemih bagian atas ( Jawetz et al., 1996).. Escherchia coli yang menyebabkan diare sangat banyak ditemukan

Komplikasi Yang Mungkin Terjadi Pada Masa Postpartum, Infeksi postpartum adalah semua peradangan yang disebabkan oleh masuknya kuman kedalam alat genetalia pada waktu persalinan

Untuk pengobatan Infeksi Saluran Kemih tanpa komplikasi atau Infeksi Saluran Kemih ringan diberikan antibiotik Ciprofloxacin 250 mg selama 3 hari, dan untuk

Infeksi saluran kemih bawah (sistitis) tidak dengan komplikasi 1-2 gr/hari sebagai dosis tunggal atau terbagi.. Infeksi saluran kemih lainnya 2gr/hari dalam 2 dosis

Saluran kemih lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang sudah menikah Pada tabel 5 menunjukan bahwa infeksi saluran kemih lebih banyak diderita oleh perempuan

Klebsiella pneumoniae adalah spesies yang paling banyak diisolasi dari infeksi pada manusia karena dapat menyebabkan infeksi nosokomial seperti infeksi saluran kemih

Infeksi Saluran Kemih ISK Insiden Rate Infeksi Saluran Kemih adalah kejadian ISK dibagi Jumlah hari pemakaian Catheter Urine dikali 1000.. Periode Januari – Juni 2019 tidak terdapat