NILAI-NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL
(TELAAH AL-
QUR’AN SURAH AL
-HUJURAT AYAT 13)
SKRIPSI
DisusunUntukMemperolehGelar SarjanaPendidikan(S.Pd.)
Oleh : YULI RATINI NIM: 111-12-062
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SALATIGA
.
.NILAI-NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL
(TELAAH AL-
QUR’AN SURAH AL
-HUJURAT AYAT 13)
SKRIPSI
DisusunUntukMemperolehGelar SarjanaPendidikan(S.Pd.)
Oleh : YULI RATINI NIM: 111-12-062
.
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SALATIGA
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Setelah dikoreksi dan diperbaiki, maka skripsi saudari:
Nama : Yuli Ratini
Nim : 111-12-062
Fakultas : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Jurusan : Pendidikan Agama Islam (PAI)
Judul : NILAI-NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL
TELAAH SURAT AL-HUJURAT AYAT 13
Telah kami setujui untuk dimunaqosahkan.
Salatiga, 20 Maret 2017
Pembimbing
SKRIPSI
NILAI-NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL TELAAH SURAT AL-HUJURAT AYAT 13
disusun oleh
YULI RATINI NIM: 111-12-062
Telah dipertahankan di depan PanitiaDewan Penguji Skripsi Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu KeguruanInstitut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, pada tanggal 30 Maret 2017dan telah dinyatakan
memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan.
Susunan Panitia Penguji
KetuaPenguji :Dr. Agus Waluyo, M.Ag.
SekretarisPenguji : Muh. Hafidz, M.Ag.
Penguji I : Rovi‟in, M.Ag.
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertandatangan di bawahini :
Nama : Yuli Ratini
NIM : 111-12-062
Fakultas : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil
karya sayas endiri, bukan jiplakan dari hasil karya tulis orang lain. Pendapat dan
temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan
kode etik ilmiah.
Salatiga, 30 Maret 2017 Penulis
MOTTO
Dan Dia (tidak pula) Termasuk Orang-orang yang Beriman
dan Saling Berpesan Untuk Bersabar dan Saling Berpesan
Untuk Berkasih Sayang.
PERSEMBAHAN
Alhamdulillahirabbil‟alamin dengan rahmat dan hidayah Allah SWT skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Skripsi ini saya persembahkan kepada:
1. Bapak dan Ibu yang senantiasa memberikan kasih saying serta do‟a
dari kecil hingga saat ini dan selalu memberikan nasehat serta
mendukung setiap langkahku.
2. Kakakku terbaik Astina Fitri serta Adik-adikku tersayang Hari Budi
Imanuddin dan Nani Widari yang selalu memberiku semangat dan
tawa kebahagiaan dalam lelahku.
3. Kepada Bapak Muh. Hafidz, M.Ag selaku dosen pembimbing skripsi
yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing dan memotifasi
penulis dengan sabar dan ikhlas hingga sampai terselesaikannya skripsi
ini.
4. Temanku Fatma yang selalu meluangkan waktunya untuk membantu
dan memberikan semangat serta sahabatku Arifah, Rizqa, Elia, Mbak
Umi yang selalu memberikan motivasi,dan juga untuk seseorang yang
spesial yang selalu mendukungku Surya Widhanta serta seluruh
teman-temanku yang selalu mendukung dan membersamai dalam setiap
langkah.
5. Teman-teman PAI B, teman-teman PPL SMK PELITA SALATIGA,
dan kelompok KKN posko 32 yang telah memberikanku pengalaman
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat han hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini dengan baik. Sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada junjungan
Nabi Besar Muhammad SAW yang telah kita nanti-nantikan syafa‟atnya kelak di
yaumul kiyamah. Segala syukur penulis panjatkan sehingga dapat menyelesaikan
tugas skripsi ini dengan judul “NILAI-NILAI PENDIDIKAN
MULTIKULTURAL TELAAH SURAH AL-HUJURAT AYAT 13”.
Skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar S1 Fakultas
Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Jurusan Pendidikan Agama Islam Institut Agama
Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis menyadari
bahwa masih banyak kekurangan, sehingga dalam menyelesaikannya penulis
menyadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak penulis tidak akan dapat
menyelesaikan skripsi ini dengan lancer. Oleh karena itu penulis ingin
mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Dr. H. Rahmat Haryadi, M.Pd. selaku Rektor IAIN Salatiga
2. Bapak Suwardi, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu
Keguruan
3. Ibu Siti Rukhayati, M.Ag. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama
Islam
4. Bapak Muh. hafidz, M.Ag,selakudosenpembimbing skripsi yang telah
mencurahkan pikiran, tenaga, dan pengorbanan waktunya dalam upaya
5. Bapak Dr. H. Miftahuddin, M.Ag. selaku pembimbing akademik.
6. SeluruhdosendankaryawanIAIN Salatiga yang telah banyak membantu
selama kuliah hinggamenyelesaikanskripsiini.
7. Bapak, ibu, keluarga, dan seluruh pihak yang
selalumendorongdanmemberikanmotivasi dalammenyelesaikankuliah di
IAIN Salatiga.
Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan
bagi semua orang pada umumnya. Saran dan kritik yang membangun sangat
diperlukan dalam kesempurnaan skripsi ini.
Salatiga, 3 April2017
Penulis
ABSTRAK
Yuli,Ratini. 2017. ”Nilai-nilai Pendidikan Multikultural (Telaah Al-Qur‟an
Surah Al-Hujurāt Ayat 13)”. Program Studi S1 PAI Institut Agama
Islam Negeri. Pembimbing Muh. Hafidz M.Ag.
Kata Kunci: Pendidikan, Multikultural
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nila-nilai pendidikan
multikultural dalam al-Qur‟an surah al-Hujurāt ayat 13. Pertanyaan
yang ingin dijawab melalui kajian ini adalah: 1) Bagaimana nilai-nilai
pendidikan multikultural yang terkandung dalam surat Al-Hujurāt ayat
13.2) Bagaimana implementasi pendidikan multikultural dalam pendidikan Islam.
Untuk menjawab dari pertanyaan tersebut maka kajian ini
menggunakan penelitian library research, yaitu penelitian dimana
objek penelitiannya digali lewat berbagai sumber kepustakaan. Untuk membahas permasalahan-permasalahan dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kajian tafsir tahlili. Metode ini penulis
gunakan untukmenjelaskan kandungan ayat-ayat Al-Qur‟an dari
seluruh aspeknya.Dalam metode tahlili mufassir biasanya mengikuti
urutan ayat dan surat sebagaimana yang tersusun di dalam mushaf.
Sumbernya data yang digunakan berasal dari Kitab Tafsir Al Misbah,
Kitab Tafsir Al Maraghi, Kitab An-Nuur, Alqur‟an dan buku-buku
yang ada relevansinya dengan pembahasan serta sumber lain yang mendukung tentang pendidikan akhlak yang terkandung dalam
Al-Qur‟an surat al-Hujurat ayat 13.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan
multikultural di dalam surat Al-Hujurāt, diantaranya: kesetaraan
gender, perbedaan bangsa dan suku, ta‟aruf, dan taqwa atau
DAFTAR ISI
D. Penegasan Istilah ... 6
E. Manfaat Penelitian... 10
F. Metode Penelitian ... 10
G. Sistematika Penulisan ... 12
BAB II Deskripsi Surah al-Hujurāt ayat 13 ... 15
A. Redaksi Surah al-Hujurāt ayat 13 ... 15
C. Isi Kandungan Ayat... 20
BAB III ASBABUN NUZUL DAN MUNASABAH...25
A. Sejarah Turunnya Surah Al-Hujurāt ayat 13... 25
B. Tema Dan Tujuan Utama... 26
C. Asbabun Nuzul...…... 27
1. Surah al-Hujurāt ayat 13...27
D. Munasabah... 29
1. MunāsabāhSurah dengan Surah...30
2. MunāsabāhAyat dengan Ayat...34
BAB IV Nilai-Nilai Pendidikan Multikultural...39
A. Nilai-Nilai Pendidikan Multikultural Dalam Surah Al-Hujurāt ayat 13... 39
B. Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Surah Al-Hujurāt ayat 13 Dalam Pendidikan Islam …... 58
BAB V PENUTUP...67
A. Kesimpulan... 67
B. Saran... 69
C. Penutup... 69
DAFTAR PUSTAKA... 71
RIWAYAT HIDUP PENULIS
DAFTAR LAMPIRAN
1. Daftar SKK
2. Nota Pembimbing Skripsi
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Wacana tentang pendidikan multikultural saat ini memang sering
diperbincangkan disetiap kalangan, baik dari kalangan politisi, agama,
sosial, budaya, dan khususnya dikalangan para pemikir pendidikan.
Fenomena konflik etnis, sosial, budaya, yang sering muncul di
tengah-tengah masyarakat yang berwajah plural menyebabkan limpungnya arah
pendidikan di masa depan.
Indonesia adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia.
Kebenaran dari pernyataan ini dapat dilihat dari kondisi sosial-kultural
maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Sekarang ini, jumlah
pulau yang ada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
sekitar tiga belas ribu pulau besar dan kecil. Populasi penduduknya
berjumlah lebih dari dua ratus juta jiwa, terdiri dari tiga ratus suku yang
menggunakan hampir dua ratus bahasa yang berbeda. Selain itu mereka
juga menganut agama dan kepercayaan yang beragam seperti Islam,
Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, Konghuchu, serta berbagai
macam aliran kepercayaan (Yaqin, 2005:3-4).
Dari kasus di atas, sangat diperlukan sikap terbuka dan menerima
setiap perbedaan yang ada. Setiap manusia berkewajiban menumbuh
kembangkan sikap multikultural. Sikap multikultural merupakan sikap
berkeyakinan: perbedaan bila tidak dikelola dengan baik memang bisa
menimbulkan konflik, namun bila mampu mengelolanya dengan baik
maka perbedaan justru memperkaya dan bisa sangat produktif. Salah satu
syarat agar sikap multikultural efektif adalah bila saling mau menerima
kenyataan hakiki bahwa manusia bukan makhluk sempurna, manusia
adalah makhluk yang selalu menjadi. Padahal agar dapat menjadi, manusia
membutuhkan sesamanya.
Dengan maksud lain, sikap yang mendasari masyarakat
multikultural adalah sikap rendah hati atau mau menerima kenyataan,
bahwa tidak ada seorang pun yang mampu memiliki kebenaran absolut,
karena kebenaran absolut melampui ruang dan waktu. Manusia merupakan
makhluk yang berjalan bersama menuju kebenaran absolut tersebut. Untuk
itu diperlukan mengembangkan sikap hormat akan keunikan
masing-masing pribadi atau kelompok tanpa membeda-bedakan, entah atas dasar
gender, agama dan etnis (Molan, 2009:16-17).
Allah SWT meganjurkan kepada manusia untuk bebuat kebajikan
dan mencegah tindakan keji dalam Al-Qur‟an Surah Ali Imran ayat 104:
Lebih khusus lagi, apabila dilihat dari cara pandang tindak dan
wawasan setiap individu yang ada terhadap berbagai macam fenomena
sosial, budaya, ekonomi, politik dan terhadap hal-hal lainnya, tidak dapat
dipungkiri, mereka mempunyai pandangan yang beragam. Contohnya,
masyarakat dengan berbagai macam latar belakang yang berbeda seperti
kesetaraan gender, demokrasi, hak asasi manusia dan terhadap hal-hal
lainnya. Ada anggota masyarakat yang kurang mendukung adanya proses
demokrasi di negara ini, namun di sisi lain tidak sedikit masyarakat yang
menginginkan adanya demokrasi. Ada anggota masyarakat yang sangat
peduli dan selalu memperjuangkan hak-hak asasi manusia, namun di sisi
lain tidak sedikit masyarakat yang tidak peduli terhadap masalah tersebut.
Bahkan mereka dengan sengaja menindas hak-hak asasi orang lain. Ada
anggota masyarakat yang merespon baik dan bahkan mendukung adanya
kesetaraan gender, namun tidak sedikit masyarakat yang menentangnya
(Yaqin, 2005:3-4).
Keragaman ini diakui atau tidak, akan dapat menimbulkan
berbagai persoalan seperti yang sekarang dihadapi bangsa ini seperti
premanisme, perseteruan politik, kemiskinan, kekerasan, perusakan
lingkungan dan hilangnya rasa kemanusiaan untuk selalu menghormati
hak-hak orang lain, hal tersebut adalah bentuk nyata sebagai bagian dari
multikulturalisme itu.
Maka, menjadi keharusan untuk difikirkan upaya pemecahannya
adalah kalangan pendidikan. Pendidikan sudah selayaknya berperan dalam
menyelesaikan masalah konflik yang terjadi di masyarakat. Minimal,
pendidikan harus mampu memberikan penyadaran kepada masyarakat
bahwa konflik bukan suatu hal yang baik untuk dibudidayakan. Dan
seharusnya pula, pendidikan mampu memberikan tawaran-tawaran yang
mencerdaskan, antara lain dengan cara merancang materi, metode, hingga
kurikulum yang mampu menyadarkan masyarakat akan pentingnya sikap
saling toleran, menghormati perbedaan suku, agama, ras, etnis dan budaya
masyarakat Indonesia yang multikultural. Selayaknya pendidikan berperan
sebagai media transformasi sosial, budaya dan multikulturalisme (Mahfud,
2006:4-5).
Problem perbedaan tidak hanya dialami pada tatanan kehidupan
antar umat beragama saja, namun juga terdapat dalam masing-masing
agama. Karena persoalan keberagamaan sebenarnya tidak lepas dari
interpretasi manusia akan teks suci (divine text) yang dipercaya sebagai
ungkapan langsung dari Tuhan kepada manusia. Sementara dalam
kerangka kerjanya, tidak ada tafsir yang seragam terhadap suatu hal,
pastilah akan ada perbedaan yang disebabkan oleh banyak hal. Bisa jadi
karena faktor budaya, ekonomi, politik, pendidikan atau perbedaan tingkat
peradaban. Contohnya, perbedaan pendapat yang muncul antara
masyarakat sunni dan syi‟i, katolik dan Kristen, dan realitas terdekat
adalah antara dua organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam terbesar di
Oleh sebab itu wacana multikulturalisme sangat dibutuhkan guna
internalisasi nilai-nilai multikultural pada diri setiap manusia. Dengan
memahami perbedaan tafsir setiap teks yang ada, diharapkan akan
menghasilkan pemahaman keberagamaan yang inklusif, toleran, dan
terbuka kepada siapapun. Tidak ada yang merasa menjadi makhluk pilihan
yang selalu menganggap dirinya paling benar dan menyalahkan yang lain.
Karena yang berhak merasa benar hanya Allah swt Sang Maha Pencipta.
Dalam skripsi ini, penulis akan mengkaji isi kandungan al-Qur‟an
surah Al Hujurāt ayat 13 yang menjelaskan mengenai hakikat manusia
diciptakan laki-laki dan perempuan, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
tidak lain agar mereka saling mengenal dan saling menghargai antara
manusia, Islam adalah agama yang mengajarkan nilai-nilai yang universal
dengan tujuan untuk memberikan rahmat bagi semesta alam, (rahmatan
lil‟alamin) sehingga terdapat ayat-ayat Al-Qur‟an yang mengajarkan
tentang perdamaian, kasih sayang, menghormati perbedaan, dan lain
sebagainya.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk
mengangkat tema tersebut dengan mengambil judul skripsi “Nilai-nilai
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang penulis paparkan di atas, maka
yang menjadi masalah pokok pembahasan ini adalah:
1. Bagaimana nilai-nilai pendidikan multikultural yang terkandung dalam
surat Al-Hujurāt ayat 13?
2. Bagaimana implementasi pendidikan multikultural dalam pendidikan
Islam?
C. Tujuan Penelitian
Pada permasalahan pokok di atas bahwa tujuan dilakukan
penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui niali-nilai pendidikan multikultural yang
terkandung dalam Al Qur‟an Surah Al Hujurāt ayat 13.
2. Untuk mengetahui implementasi pendidikan multikultural dalam
pendidikan Islam.
D. Penegasan Istilah
Untuk menghindari kesalahan dan kekeliruan terhadap judul
penelitian ini, maka penulis perlu menjelaskan istilah-istilah yang terdapat
dala judul skripsi di bawah ini:
1. Nilai
Istilah nilai (value) dalam kamus umum bahasa Indonesia
diartikan sebagai sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi
kemanusiaan (Poerwadarminta, 2006:801). Nilai adalah kualitas suatu
berguna dan dapat membuat orang yang menghayatinya menjadi
bermartabat.
Menurut Steeman, nilai adalah sesuatu yang memberi makna
pada hidup, yang memberi acuan, titik tolak dan tujuan hidup
(Adisusilo, 2013:56).
2. Pendidikan Multikultural
Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga,
masyarakat, dan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran,
dan latihan, yang berlangsung di sekolah dan luar sekolah sepanjang
hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan
peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat dimasa yang
akan datang. Pendidikan adalah pengalaman-pengalaman belajar
terprogram dalam bentuk pendidikan formal, non-formal, dan informal
di sekolah, dan di luar sekolah, yang berlangsung seumur hidup yang
bertujuan optimalisasi pertimbangan kemampuan-kemampuan
individu, agar dikemudian hari dapat memainkan peranan hidup secara
tepat (Mudyahardjo, 2010:11).
Pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan
metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan,
pemahaman, dan cara bertingkah laku sesuai dengan kebutuhan (Syah,
Akar dari multikulturalisme adalah kebudayaan. Secara
etimologis, multikulturalisme dibentuk dari kata multi (banyak), kultur
(budaya), dan isme adalah aliran atau paham (Mahfud, 2006:75).
Dalam kata tersebut terkandung sebuah pengakuan akan
kehidupan manusia yang mempunyai kebudayaan beraneka ragam
dengan segala keunikannya dan melalui pendidikan tersebuat yang
terintegrasi dala kurikulum maka pemahaman masyarakat terhadap
setiap perbedaan yang ada menjelma menjadi sebuah perilaku untuk
saling menghargai dan menghormati keragaman identitas dalam
kerangka terciptanya harmonisasi kehidupan.
Dengan kata lain, multikultural adalah beberapa kebudayaan.
Secara etimologis, multikulturalisme dibentuk dari kata multi
(banyak), kultur (budaya), dan isme (aliran/paham). Secara hakiki,
dalam kata itu terkandung pengakuan akan mertabat manusia yang
hidup dalam komunitasnya dengan kebudayaannya masing-masing
yang unik (Mahfud, 2006:75).
Ada dua istilah penting yang berdekatan secara makna dan
merupakan suatu perkembangan yang sinambung, yakni pendidikan
multietnik dan pendidikan multikultural. “pendidikan multietnik”
sering dipergunakan di dunia pendidikan sebagai suatu usaha
sistematik dan berjenjang dalam rangka menjembatani
memiliki potensi untuk melahirkan ketegangan dan konflik (Baidhawy,
2005:6-6).
Sementara itu istilah “ pendidikan multikultural” memperluas
payung pendidikan multietnik sehingga memasukkan isu-isu lain
seperti relasi gender, hubungan antar agama, kelompok kepentingan,
kebudayaan dan sukultur, serta bentuk-bentuk lain dari keragaman.
Kata “kebudayaan” lebih diadopsi dalam hal ini daripada kata
“rasisme” sehingga audiens dari pendidikan multikultural semacam ini
akan lebih mudah menerima dan mendengarkan
3. Al Hujurāt ayat 13
Surat Al Hujurāt merupakan surat ke 49 dalam urutan mushaf
Al-Qur‟an, diturunkan sesudah surat Al-Mujadalah. Al Hujurāt sendiri
diambil dari kata Al-Hujurāt yang ada pada ayat ke 4 yang artinya
kamar-kamar. Surat Al-Hujurāt terdiri dari 18 ayat yang termasuk
dalam golongan surat Madaniyah atau diturunkan sesudah Nabi Hijrah
ke Madinah. Pokok isi kandungan dalam surat Al-Hujurāt adalah
melengkapi dasar-dasar kesopanan yang tinggi serta menunjukkan
manusia kepada pekerti-pekerti utama. Selain itu juga menjelaskan
sikap para muslim terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya, bagaimana
cara mereka menerima berita-berita (keterangan) dari orang-orang
yang tidak dapat dipercaya, dan bagaimana memperlakukan saudara
Dalam suarat ini dijelaskan pula hakikat iman dan hakikat mukmin
yang sebenarnya (Ash-Shiddieqy, 222:3907).
E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian dapat berguna baik dari manfaat teoritis maupun
yang praktis, antara lain:
1. Manfaat Teoristis
Manfaat teoristis adalah menjelaskan bahwa hasil penelitian ini
bermanfaat memberikan sumbangan pemikiran atau memperkaya
konsep-konsep, teori-teori terhadap ilmu pengetahuan dari penelitian
yang sesuai dengan bidang ilmu dalam suatu penelitian.
Menambah khazanah keilmuan tentang nilai-nilai pendidikan
multikultural yang terkandung dalam surat Al-Hujurāt ayat 13.
2. Manfaat Praktis
a. Untuk menambah khazanah tentang nilai-nilai pendidikan
multikultural dalam surat Al-Hujurāt ayat 13.
b. Sebagai bahan referensi dalam ilmu pendidikan sehingga dapat
memperkaya dan menambah wawasan.
F. Metode Penelitian
Metode penelitian adalah cara kerja meneliti, mengkaji dan
menganalisis objek sasaran penelitian untuk mencari hasil atau kesimpulan
tertentu. Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti yaitu library
research, penelitian tersebut dengan mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan objek penelitian, bahwa jenis penelitian yang
dilakukan menggunakan metode library reaserch. Dengan
mengumpulkan data-data yang diperlukan, baik yang primer maupun
yang sekunder, dicari dari sumber-sumber kepustakaan seperti: buku,
majalah, artikel, dan jurnal (Kuswaya, 2009:11).
2. Sumber Data
Karena jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan
(library research), maka data yang diperoleh bersumber dari literatur-literatur. Pengumpulan data-data dengan cara mempelajari, mendalami
dan mengutip teori-teori dan konsep-konsep dari sejumlah literatur
baik buku, jurnal, majalah, koran ataupun karya tulis lainnya yang
relevan dengan topik penelitian.
Maka penulis membagi sumber data menjadi dua bagian, yaitu sumber
data primer dan sumber data sekunder.
a. Sumber Data Primer
Sumber data primer adalah data yang diperoleh dari sumber
inti. Sumber data primer di sini adalah berasal dari Al-Qur‟an dan
terjemah dari Depag, kitab tafsir Al-Maraghi, kitab tafsir An-Nuur,
kitab tafsir Al-Misbah karya M.Quraish Shihab dan kitab-kitab
b. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari
sumber data lain yang masih berkaitan dengan masalah penelitian.
Berupa buku-buku yang berkaitan dengan pendidikan
multikultural, seperti: buku Pendidikan Multikultural
Cross-Cultural Understanding untuk demokrasi dan keadilan, Plural dan
Multikulturalisme Paradigma Baru Pendidikan Agama Islam di
Indonesia, Komunikasi Multikultural, Multikulturalisme Agama,
Budaya, dan Sastra.
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam
penelitian ini adalah dengan mengumpulkan yang menjadi sumber data
primer yaitu surat Al-Hujurāt ayat 13 dan terjemahannya, kitab tafsir
Al-Maraghi, kitab tafsir An-Nuur, kitab tafsir Al-Misbah karya
M.Quraish Shihab serta data sekunder yang relevan dengan
permasalahan. Setelah data terkumpul selanjutnya dilakukan penelaah
secara sistematis yang berkaitan dengan penelitian tersebut. Sehingga
dapat diperoleh bahan-bahan dan penyajian data yang diperlukan.
4. Analisis Data
Dalam menganalisis data metode yang digunakan adalah
metode tahlili. Metode tahlili adalah metode tafsir yang bermaksud
menjelaskan kandungan ayat-ayat Al-Qur‟an dari seluruh aspeknya.
surat sebagaimana yang tersusun di dalam mushaf. Mufassir memulai
uraiannya dengan mengemukakan arti kosakata yang diikuti dengan
penjelasan ayat secara global. Mufassir juga mengemukakan
munasabah, membahas sabab-al nuzul (latar belakang turunnya ayat),
dan menyampaikan dari hadist, atau dari sahabat, dan dari para tabi‟in
(Budiharjo, 2012:132).
G. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan skripsi merupakan suatu cara menyusun
dan mengolah hasil penelitian dari data serta bahan-bahan yang disusun
menurut susunan tertentu, sehingga menghasilkan kerangka skripsi
yang sistematis dan mudah dipahami, sistematikanya disusun sebagai
berikut:
Bab I Pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, rumusan
masalah, tujuan penulisan, penegasan istilah, manfaat penelitian, metode
penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab II Deskripsi ayat pada bab ini berisikan tentang surat
Al-Hujurāt, kosa kata (mufrodat) dan pokok-pokok isi kandungan.
Bab III Asbabun Nuzul dan Munasabah berisi tentang sejarah
turunnya surat Al-Hujurāt, tema dan tujuan utama surat Al-Hujurāt,
hubungan surat Al-Hujurāt dengan surat sebelumnya (Al-Fath) dan surat
Bab IV pembahasan pada bab ini membahas tentang Nilai-nilai
Pendidikan Multikultural di dalam surat Al-Hujurāt ayat 13, dan
Implementasinya di dalam Pendidikan Islam.
Bab V pada bab terakhir yaitu memaparkan tentang kesimpulan
dan saran atas pembahasan yang telah diuraikan dalam penelitian, dan
BAB II
DESKRIPSI SURAT AL-HUJURAT AYAT 13 A. Redaksi Surat Al-Hujurat Ayat 13 dan Terjemahannya
Dalam sub ini penulis akan menyajikan redaksi surat Al Hujurāt
yang menjadi obyek kajian penulis. Adapun redaksi surat Al Hujurāt
beserta terjemahnya disajikan dalam uraian berikut ini:
Artinya: “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari
seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”(Qs. al-Hujurāt: 13).
B. Arti Kosa Kata (Mufrodat)
Setelah penulis menyajikan redaksi surat Al Hujurāt ayat 13 yang
menjadi obyek kajian penulis, maka selanjutnya penulis menyajikan kosa
kata yang terdapat dalam surat Al Hujurāt ayat 13 tersebut. Adapun kosa
kata yang terdapat dalam surat tersebut sebagai berikut:
1. An Nas
An nas berakar dari kata ٌسْنِإ yang merupakan bentuk tunggal
(mufrad) yang jamaknya ٌس َانُأ yang artinya manusia (Yunus, 2007:51). Al insan artinya manusia sepadan dengan kata al Basyar yang juga
tunggal (mufrad) yang jamaknya adalah al anasi yang berarti umat manusia. Disini yang dimaksud manusia yaitu seluruh penghuni bumi
yang diciptakan oleh Allah berasal dari laki-laki dan perempuan yang
sama, satu nasab, bapak ibu yang sama, yaitu Nabi Adam dan Hawa.
2. Kholaqa
Kholaqa berakar dari kata
اقْلَخ ـ ُقُلْخَي ـ َقَلَخ
yang artinyamembuat, menjadikan (Yunus, 2007:120). Kholaqa merupakan bentuk
kata kerja lampau (fiil madhi) artinya adalah menjadikan, membuat
dan menciptakan (Munawwir, 1984:393). Dengan demikian Allah
yang menciptakan manusia, menciptakan dari seorang laik-laki dan
seorang perempuan.
Dari makna itu menciptakan merupakan makna yang paling
mashur. Dikarenakan Allah menciptakan sesuatu tanpa ada sampel
atau contoh yang mendahuluinya, termasuk ketika Allah menciptakan
Nabi Muhammad saw atau seluruh manusia di alam raya.
3. Dzakara
Dzakara berakar dari kata
ٌزَكَذ
adalah bentuk tunggal (mufrad)yang jamaknya adalah
ٌرْوُكُذ
yang berarti jantan, laki-laki (Yunus,2007:134). Yang dimaksudkan di sini laki-laki yaitu Nabi Adam, dan
Adam adalah makhluk yang diciptakan Allah yang kemudian
4. Untsa
يَثْنُلاا
adalah bentuk tunggal (mufrad) dari ٌثَانِا yang berartiperempuan, betina (Munawwir, 1984:46).
ٌثاَنِإ ج يَثْنُأ
juga berartiperempuan, wanita, betina (Yunus, 2007:50). Perempuan tersebut yaitu
Hawa, dan Hawa adalah perempuan yang diciptakan Allah dari tulang
rusuk Nabi Adam, untuk menjadi pasangan hidup Nabi Adam as.
5. Ja‟ala
Ja‟ala berakar dari kata
لْعَج ـ ُلُعْجَي
-
َلَعَج
yang artinyamembuat, menjadikan (Munawwir, 1984:211). Di sini menerangkan
bahwa Allah menjadikan sesuatu hal menjadi beragam, dari bersatunya
Nabi Adanm dan Hawa, terlahirlah keturunan yang nantinya akan
menjadi penerus Nabi Adam dan Hawa untuk mengelola bumi.
6. Syuu‟ban
Syu‟ub )بْوُعُّشلا) berakar dari kata َةَعَش yang berarti bangsa
(Munawwir, 1984:774). Juga berasal dari kata بْوعُش- ُةُعَش yang artinya
kaum, bangsa, puak, jauh (Yunus, 2007:198). Yaitu suku besar yang
bernasab kepada suatu nenek moyang, seperti suku Rabi‟ah dan
Muhdar. Suku itu terdiri dari sekian banyak kelompok keluarga
yang dinamai umarah.
7. Qaba‟ila
Qaba‟ila berasal dari kata
ُحَلْيِثَقلا
yang merupakan bentuk(Munawwir, 1984:1169).
لِئَاثَق ج حَلْيِثَق
yang juga memiliki arti puak,sekumpulan manusia, keturunan sebapak (Yunus, 2007:330). Yang
dimaksud di sini adalah golongan yang lebih kecil dari sya‟ab, seperti
kabilah Bakar yang merupakan bagian dari Rabi‟ah, dan kabilah
Tamim yang merupakan bagian dari Muhdar.
8. Ta‟aruf
Lafazh ta‟aruf asalnya adalah (فراعتت) yang kemudian salah
satu dari kedua huruf (خ) dibuang sehingga jadilah( فراعت) yang
maksudnya supaya sebagian dari kalian saling mengenal sebagian yang
lain.
Ta‟aruf berakar dari kata
حَفْزِع
-
ُفِزْعَي
-
َفَزَع
yaitu kata kerjayang berarti mengetahui, mengenal sesuatu (Yunus, 2007:262). Allah
menciptakan manusia agar saling mengenal walaupun berbeda suku
dan bangsa dan bersaudara baik laki-laki maupun perempuan. Semakin
kuat pengenalan satu pihak dengan pihak lainnya, maka
semakinterbuka peluang untuk saling memberi manfaat. Karena
ayat diatas menekankan untuk saling mengenal. Perkenalan itu
dibutuhkan untuk saling menarik pelajaran dan pengalaman pihak
lain, bukan untuk saling membanggakan ketinggian nasab atau
keturunan, karena sesungguhnya kebanggaan itu hanya dinilai dari segi
ketakwaan. Yang dampaknya tercermin pada kedamaian dan
9. Karama
Karama berasal dari kata
اهَزَك
–
ُمُزْكَي
–
َمُزَك
yang artinya mulya,murah hati, dermawan (Yunus, 2007:371). Pada dasarnya berarti yang
baik dan istimewa sesuai obyeknya. Manusia yang baik dan
istimewa adalah yang memiliki akhlak yang baik terhadap Allah
dan terhadap sesama makhluk.
10.Allah
Allah(
ّ َاَل
)
yaitu Tuhan Yang Maha Esa (Yunus, 2007:47). AllahSwt adalah Dzat yang Maha Esa, Maha Segalanya, yang menciptakan
alam semesta beserta isinya dan yang wajib disembah oleh seluruh
makhluk-Nya.
11.Atqa
Atqa berasal dari kata taqwa
(
ىَوْقَّتلا
)
dalam bahasa Arabberasal dari kata kerja
(
يَق َو
)
yang memiliki pengertian menutupi,menjaga, berhati-hati dan berlindung (Yunus, 2007:264).Taqwaadalah
Orang yang mulia di sisi Allah swt yang paling tinggi kedudukannya
di dunia serta di akhirat adl yang paling bertaqwa kepada-Nya. Taqwa
adl suatu prinsip umum yang mencakup: takut kepada Allah swt dan
mengerjakan apa yang diridhai-Nya, yang melengkapi kebajikan dunia
dan kebajikan akhirat.Sehingga taqwa di sini adalah orang yang paling
mulia di sisi Allah dengan kualitas keimanan yang dimiliki.
„Allama berasal dari akar kata
نْلِع
–
ُنَلْعَي
-
َنِلَع
yang berartimengetahui sesuatu (Yunus, 2007:277). Kata
نَّلَع
juga berarti mengajar (Munawwir, 1984: 1036). Tetapi di sini kata tersebut mengandungmakna ketuhanan Allah swt. Yang berarti Alim menggambarkan
pengetahuan-Nya menyangkut segala sesuatu, penekanannya adalah
pada zat Allah yang bersifat Maha Mengetahui, bukan pada sesuatu
yang diketahui itu.
13.Khobir
Khobir memiliki arti pengetahuan (Yunus, 2007:113). Khobir
menggambarkan pengetahuan-Nya yang menjangkau sesuatu, di sini
sisi penekanannya bukan pada zat-Nya Yang Maha Mengertahui, tetapi
pada sesuatu yang diketahui itu.
C. Isi Kandungan Surat Al-Hujurāt Ayat 13
Dalam pembahasan ini penulis akan memaparkan isi dari
kandungan ayat yang dikaji, yaitu pada surat al-Hujurāt ayat 13 menurut
pendapat para mufassir, yakni Tafsir tersebut adalah tafsir al Misbah, An
Nuur dan al Maraghi sebagai berikut:
Adapun redaksi ayat 13 dari surat al-Hujurāt, sebagaimana
disajikan dalam teks berikut ini:
Masing-masing pandangan dari tafsir al Misbah, An Nuur dan al
Maraghi akan penulis uraikan sebagai berikut:
a. Tafsir Al-Misbah
Seruan kepada semua manusia dan mengingatkan mereka
bahwa: Allah swt menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan, yakni Nabi Adam as. dan Hawa, atau dari sperma (benih
lelaki) dan ovum (indung telur perempuan) dan menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal
mengenal, yakni perkenalan yang mengantar kamu bantu membantu
serta saling melengkapi.
Allah tidak menyukai orang-orang memperlihatkan
kesombongan dengan keturunan, kepangkatan atau kekayaan karena
yang paling mulia diantara manusia di sisi Allah swt hanyalah orang
yang paling bertaqwa.
Ayat ini ditutup dengan menegaskan bahwa yang paling mulia
di antara kamu di sisi Allah swt ialah yang paling bertaqwa, sungguh
Allah Maha Mengetahui, Meneliti sehingga tidak ada sesuatu pun yang
tersembunyi bagi-Nya, walaupun detak detik jantung dan niat seseorang
(Shihab, 2012:616-618).
b. Tafsir An-Nuur
Kami (Allah) menjadikan kamu bersuku-suku dan
bergolong-golongan supaya kamu saling mengenal, bukan untuk bermusuhan.
warna kulit supaya kamu lebih tertarik untuk saling berkenalan. Inilah
dasar demokrasi yang benar di dalam Islam, yang menghilangkan
kasta-kata dan perbedaan-perbedaan bangsa. Masih adanya perbedaan rasial
(apartheid) sangat ditentang oleh agama Islam.Allah swt mengetahui semua perbuatanmu dan mengetahui semua rahasia dirimu, karena itu
bertaqwalah kepada Allah swt dan jadikanlah taqwa itu sebagai
perbekalan untuk hari akhirat kelak. Dijelaskan oleh Abu Daud bahwa
ayat ini turun mengenai Abu Hind, seorg tukan bekam. Rasulullah saw
menyuruh bani Bayadhah mengawinkan Abu Hind dengan salah
seorang gadis mereka, bani Bayadhah menjawab: “Apakah kami harus
mengawinkan anak gadis kami dengan bekas golongan budak kami
sendiri?”.
Allah menjelaskan bahwa semua manusia itu satu keturunan,
dari seorang ayah dan seorang ibu. Karena itu tidak selayaknya seorang
menghina saudaranya sendiri. Allah menjadikan mereka
berbangsa-bangsa, bersuku-suku, dan bergolong-golongan, agar saling mengenal
dan saling menolong di antara mereka. Ketaqwaan, kesalehan, dan
kesempurnaan jiwa itulah bahan-bahan kelebihan seseorang atas
yanglain (Shiddieqy, 2003:3926).
c. Tafsir Al-Maraghi
Di sini Allah menerangkan bahwa manusia seluruhnya berasal
dari seorang ayah dan seorang ibu. Maka kenapa saling mengolok-olok
bersuku-suku dan berbangsa yang berbeda, agar di antara mereka terjadi
saling mengenal dan tolong-menolong dalam kemaslahatan mereka
yang bermacam-macam.
Namun tetap tidak ada kelebihan bagi seseorang pun atas yang
lain, kecuali dengan taqwa dan kesalehan, di samping kesempurnaan
jiwa bukan dengan hal-hal yang bersifat keduniaan yang tiada abadi.
Allah menurunkan ayat ini sebagai cegahan bagi mereka dari
membanggakan nasab, mengunggul-unggulkan harta dan menghina
kepada orang-orang fakir, Allah menerangkan bahwa keutamaan itu
terletak pada taqwa (Al-Maraghi, 1993: 235-236).
Dalam pokok-pokok isi kandungan yang terdapat dalam surat
Al-Hujurāt ayat 13 di atas, penulis menyimpulkan bahwa Allah sawt
telah menciptakan manusia dari laki-laki yaitu Nabi Adam dan seorang
perempuan yaitu Hawa, lalu menjadikannya berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku agar dengan adanya perbedaan itu terjadilah ketertarikan
untuk saling mengenal dan juga untuk saling menolong dan membantu
sesama, bukan untuk saling mengejek dan mencemooh. Allah melihat
kualitas manusia bukan dilihat dari keturunan, kekayaan, kepandaian,
tetapi dari kualitas taqwa seseorang tersebut. Jadi jika hendak
berbangga maka banggakanlah taqwamu, artinya barang siapa yang
ingin memperoleh derajat-derajat tinggi hendaklah ia bertaqwa.
Maha Waspada tentang hati manusia, maka jadikanlah taqwa sebagai
BAB III
ASBĀBUN NUZŪL DAN MUNĀSABĀH
A. Sejarah Turunnya Surat Al-Hujurāt
Kata Hujurātadalah bentuk jamak dari al-Hujrah yang berarti
kamar, ruang sebagai tempat tidur. Nama surat ini diambil dari makna kata
Hujurāt dalam ayat ke 4 yang berarti kamar-kamar (Imani, 2013:311). Al-Hujurāt adalah Surat yang tidak lebih dari 18 ayat dan termasuk surat Madaniyah , merupakan surat yang agung dan besar, yang mengandung
hakikat akidah dan syari‟ah yang penting untuk manusia. Surat Al-Hujurāt
ini menempati urutan ke-49 di dalam Al-Qur‟an.
Mengenai kisah turunnya surat Al-Hujurāt, ulama sepakat
menyatakan bahwa surat ini turun setelah Nabi Muhammad saw, berhijrah
ke Madinah. Bahkan, salah satu ayatnya yang dimulai dengan “Ya
ayyuhan an-Nas” yang bisa dijadikan ciri surat Makiyah yang turun
sebelum hijrah, disepakati juga turun pada periode Madaniyah. Walaupun
demikian, ada riwayat yang diperselisihkan nilai kesahihannya yang
menyatakan bahwa ayat tersebut turun di Makkah pada saat Haji
Wada‟/Haji Perpisahan Nabi saw. Namun demikian, kalaupun riwayat itu
benar, ini tidak menjadikan ayat tersebut Makkiyah, kecuali bagi mereka
yang memahami istilah Makkiyah sebagai ayat yang turun di Mekkah
B. Tema dan Tujuan Utama
Tema utama dalam surat Al-Hujurāt adalah berisi petunjuk apa
yang harus dilakukan oleh seorang mukmin terhadap Allah SWT, terhadap
Nabi dan orang yang menentang ajaran Allah dan Rasul-Nya, yaitu orang
fasik. Pada pembahasan ini dijelaskan apa yang harus dilakukan seorang
mukmin terhadap sesama manusia secara keseluruhan, demi terciptanya
sebuah perdamaian. Adapun etika yang diusung untuk menciptakan
sebuah perdamaian dan menghindari pertikaian yaitu menjauhi sikap
mengolok-olok, mengejek diri sendiri, saling memberi panggilan buruk,
su‟udzon, ghibah, serta tidak boleh bersikap sombong dan saling
membanggakan diri karena derajat manusia di hadapan Allah SWT itu
semua sama. Di dalam surat Al-Hujurāt juga berisikan tentang etika,
tatakrama, dan akhlak, yaitu kepada Allah swt, Rasul saw, sesama muslim
yang taat, terhadap yang durhaka kepada Allah dan Rasul, dan terhadap
sesama manusia.
Tujuan utama dalam surat ini adalah mendidik setiap umat Islam
bagaimana seharusnya berperilaku baik, sehimgga terciptanya lingkungan
yang bersih dan sejahtera yang dihiasi dengan sopan santun terhadap Allah
swt, Rasul saw, diri sendiri dan kepada orang lain. Sopan santun, bukan
saja berkaitan dengan sikap lahiriah, tetapi berkaitan dengan bisikan hati
C. Asbābun Nuzūl
Al-Qur‟an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dalam upaya
mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Ayat-ayat dalam al-Qur‟an
ada yang diturunkan tanpa sebab dan ada pula ayat-ayat yang diturunkan
setelah terjadinya suatu peristiwa yang perlu direspon atau dijawab.
Peristiwa atau persoalan yang melatarbelakangi turunnya ayat itu disebut
asbābunnuzūl (Depag, 2009:228).
Asbābun al-nuzūl secara bahasa terdiri dari dua kata asbāb dan
nuzūl, asbāb bentuk jama‟ dari sabab yang berarti sebab, sedangkan kata
nuzūl berasal dari akar kata nazala-yanzilu-nuzulan yang artinya turun,
menurunkan sesuatu (Budihardjo, 2012:21). Sedangkan asbābun nuzūūl
menurut istilah adalah peristiwa-peristiwa yang menyebabkan turunnya
ayat, dimana ayat tersebut menjelaskan pandangan al-Qur‟an tentang
peristiwa yang terjadi atau mengomentarinya (Shihab,2012:3).
Pengetahuan mengenai asbābun nuzūl atau sejarah turunnya
ayat-ayat al-Qur‟an sangat diperlukan bagi seseorang yang ingin memperdalam
pengertian mengenai ayat-ayat al-Qur‟an. Dengan mengetahui latar
belakang turunnya ayat, maka seseorang dapat menggambarkan situasi dan
kondisi saat ayat tersebut diturunkan, sehingga memudahkan untuk
memahami apa yang terkandung di balik teks ayat tersebut.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa ayat-ayat al-Qur‟an itu
diturunkan tanpa sebab dan ada pula ayat-ayat yang diturunkan setelah
pembahasan ini penulis tidak menemukan seluruhnya asbabun nuzul pada
ayat-ayat yang dikaji melainkan hanya akan menjelaskan asbābun nuzūl
yang terdapat pada surah al-Hujurāt ayat 13. Adapun asbābun nuzūl surah
al-Hujurāt ayat 13 adalah sebagai berikut:
Diriwayatkan oleh Abu Mulaikah, pada saat terjadinya Fathul
Makkah (8 H), Rasul mengutus Bilal Bin Rabbah untuk
mengumandangkan adzan, ia memanjat ka‟bah dan berseru kepada kaum
muslimin untuk shalat jama‟ah. Ahab bin Usaid ketika melihat Bilal naik
keatas ka‟bah berkata“segala puji bagi Allah yang telah mewafatkan
ayahku, sehingga tidak menyaksikan peristiwa hari ini”.
Harist bin Hisyam berkata “Muhammad menemukan orang lain ke
-cuali burung gagak yang hitam ini”, kata-kata ini dimaksudkan untuk
men-cemooh Bilal, karena warna kulit Bilal yang hitam. Maka datanglah
malaikat Jibril memberitahukan kepada Rasulullah saw tentang apa yang
dilakukan mereka. Sehingga turunlah ayat ini, yang melarang manusia
untuk menyombongkan diri karena kedudukannya, kepangkatannya,
kekayaannya, keturunan dan mencemooh orang miskin.
Diterangkan pula bahwa kemuliaan itu dihubungkan dengan
ketaqwaan, karena yang membedakan manusia disisi Allah hanyalah dari
ketaqwaan seseorang.
Adapun asbabun nuzul yang diriwayatkan oleh Abu Daud tentang
peristiwa yang terjadi kepada sahabat Abu Hindin (yaitu sahabat yang
Bayadah untuk menikahkan Abu Hindin dengan gadis-gadis di kalangan
mereka. Mereka bertanya “apakah patut kami mengawinkan gadis kami
dengan budak-budak?” sehingga turun ayat ini, agar kita tidak mencemooh seseorang karena memandang kedudukannya (Depag RI,
2009:419-420).
D. Munāsabāh
Munāsabāh berasal dari kata nāsaba-yunāsibu-munāsabah, kata
tersebut bentuk tsulatsi mujarad dari nasaba yang berarti hubungan
sesuatu dengan sesuatu yang lain. Munāsabāh berarti muqārabāh atau
kedekatan dan kemiripan. Hal tersebut dapat terjadi pada dua hal atau
lebih, sedangkan kemiripan dapat terjadi pada seluruh unsur-unsur atau
pada sebagiannya saja. Secara istilah munāsabāh adalah adaya kecocokan,
kepantasan, keserasian antara ayat dengan ayat atau surat dengan surat,
atau munāsabāh adalah kemiripan yang terdapat pada hal-hal tertentu
dalam al-Qur‟an baik pada surat maupun pada ayatnya yang
menghubungkan uraian satu dengan yang lain (Budihardjo, 2012:39).
Kata Munāsabāh sedangkan menurut Ibnu al-„Arabi, munasabah
adalah keterkaitan ayat-ayat al-Qur‟an sehingga seolah-olah merupakan
suatu ungkapan yang mempunyai satu kesatuan makna dan redaksi
(Hermawan, 2011:122).
Ilmu Munāsabāh adalah menerangkan korelasi atau hubungan
sesudahnya, baik yang di belakangnya maupun yang ada di mukanya
(Syadali, 1997:168).
Adapun Munāsabāh yang dijelaskan oleh penulis di sini adalah
hubungan surat Al-Hujurāt dengan surat sebelumnya (surat Fath) dan
hubungan dengan surat sesudahnya (surat Qaf), serta hubungan surat
Al-Hujurāt ayat 12-14.
1. Munāsabāh surah dengan surah
a. Surah al-Hujurāt dengan Surah al-Fath
Surat Al-Hujurāt merupakan surat ke 49 diturunkan di
Madinah sesudah Nabi SAW berhijrah, diturunkan sesudah surat
Al-Mujadalah. Nama Al-Hujurāt sendiri diambil dari ayat ke 4
yang artinya kamar-kamar. Ayat tersebut mencela para sahabat
yang memanggil Nabi Muhammad yang sedang berada di dalam
kamar rumahnya bersama istrinya. Memanggil dengan cara
demikian menunjukkan cara yang kurang hormat kepada beliau
karena mengganggu ketentraman beliau (Depag, 2009:393).
Penjelasan dari surat Al-Hujurāt, bahwa Al-Hujurāt adalah
surat ke-49 yang diturunkan di Madinah dengan ayatnya yang
berjumlah 18, Al-Hujurāt itu sendiri mengajarkan tentang
bagaimana cara berbicara kepada Rasulullah SAW dengan cara
yang baik.
Surat Al-Fath adalah surat ke 48, ditempatkan sesudah surat
mukaddimah pembicaraan, sedangkan surat Al-Fath dianggap
sebagai kesimpulannya. Sesudah itu diiringi dengan surat
Al-Hujurāt ini, mengingat apabila umat muslim telah berijtihad dan
memperoleh kemenangan, serta masyarakat pun telah kembali
tentram dan aman sentosa, maka perlulah ada etika pergaulan
antara para sahabat dengan Nabi serta cara-cara bergaul di antara
mereka (Ash-siddieqy, 2003:3907).
Penjelasan di atas menerangkan bahwa di dalam surat
Al-Fath dianggap sebagai kesimpulannya dari surat Qital
(Muhammad), dan diiringi juga dengan surat Al-Hujurāt, karena
dengan hal itu umat muslim memperoleh kemenangan dan umat
muslim kembali merasakan ketentraman.
Adapun persesuaian antara Al-Hujurāt dengan surat Al-Fath
adalah sebagai berikut:
a. Pada surat Al-Hujurāt disebutkan memerangi kaum
pemberontak. Sedangkan pada surat Al-Fath disebutkan
memerangi orang-orang kafir.
b. Surat Al-Hujurāt diakhiri dengan pembicaraan tentang
orang-orang yang beriman, sedangkan pada surat Al-Fath juga dibuka
tentang mereka.
c. Masing-masing kedua surat ini memulai tentang penghormatan
kepada Rasulullah SAW, terutama pada awal masing-masing
b. Surah al-Hujurāt dengan Surah al-Qaf
Surat Al-Hujurāt merupakan surat ke 49 diturunkan di
Madinah sesudah Nabi SAW berhijrah, diturunkan sesudah surat
Al-Mujadalah. Nama Al-Hujurāt sendiri diambil dari ayat ke 4
yang artinya kamar-kamar. Ayat tersebut mencela para sahabat
yang memanggil Nabi Muhammad yang sedang berada di dalam
kamar rumahnya bersama istrinya. Memanggil dengan cara
demikian menunjukkan cara yang kurang hormat kepada beliau
karena mengganggu ketentraman beliau (Depag, 2009:393).
Penjelasan dari surat Al-Hujurāt, bahwa Al-Hujurāt adalah
surat ke-49 yang diturunkan di Madinah dengan ayatnya yang
berjumlah 18, Al-Hujurāt itu sendiri mengajarkan tentang
bagaimana cara berbicara kepada Rasulullah SAW dengan cara
yang baik.
Surat Al-Qaf tergolong dalam surat Makiyyah karena turun
di kota Mekkah, tetapi kecuali pada ayat 27 yang tergolong
Madaniyyah, surat ini berjumlah 45 ayat yang diturunkan sesudah
surat Al-Mursalat.
Muslim dan lainnya meriwayatkan hadis dari Jabir bin
Samurah, bahwa Nabi saw, membaca surat ini pada rakaat pertama
dari salat fajar (salat subuh). Sementara itu Ahmad, Muslim, Abu
Al-Laisin, bahwa Nabi saw, membaca pada hari raya yakni surat
Qaf dan Iqtarabat.
Abu Daud, al-Baihaqi dan Ibnu Majah meriwayatkan dari
Ummu Hisyam binti Harisah, ia mengatakan bahwa saya menerima
surat Qaf wal Qur‟anul Majid hanya dari mulut Rasulullah saw.
Beliau membaca surat ini pada setiap jum‟at di atas mimbar apabila
beliau berkutbah di hadapan orang banyak.
Semua itu menunjukkan bahwa Nabi saw, membuka surat
ini pada pertemuan-pertemuan besar seperti dua hari raya dan
jum‟at karena suratnini memuat keterangan tentang permulaan
penciptaan dan juga tentang kebangkitan, dan penghimpunan, di
samping tentang akhirat, hisab, surga, neraka dan hukuman,
penggembiraan dan ancaman (Ash-siddieqy, 2000:248).
Penjelasan di atas telah menerangkan bahwa surat Qaf
dijelaskan bahwa Nabi Muhammad saw membaca surat Qaf pada
pertemuan-pertemuan besar seperti di hari raya.
Adapun hubungan antara surat Al-Hujurāt dengan surat Qaf
adalah sebagai berikut:
a. Pada akhir surat Al- Hujurāt disebutkan keimanan orang-orang
Badui dan sebenarnya mereka belum beriman. Hal ini dapat
membawa mereka kepada bertambahnya iman mereka dan
dapat pula menjadikan mereka orang yang mengingkari
disebutkan beberapa sifat orang kafir yang mengingkari
kenabian dan hari kebangkitan.
b. Surat Al-Hujurāt telah banyak menguraikan soal-soal duniawi,
sedang surat Qaaf banyak menguraikan masalah akhirat (Depag
RI, 1986:458).
2. Munāsabāh ayat dengan ayat
a. Al-Qur‟an surah al-Hujurāt ayat 13 memiliki munāsabāh dengan
ayat sebelumnya yaitu surat al-Hujurāt ayat 12 :
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan
purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudahmati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya .Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
Artinya: “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu
kamu berbangsa –bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
Dalam surat Al-Hujurāt ayat 12, menerangkan bahwa Allah
Swt memberi peringatan kepada orang-orang yang beriman,
supaya mereka menjauhkan diri dari prasangka buruk(su‟udzon)
terhadap satu sama lainnya, mencari-cari kesalahan orang lain
(tajassus) dan larangan untuk saling mengunjing. Diriwayatkan dari Rasulullah saw sesungguhnya Allah mengharamkan diri orang
mukmin darah dan kehormatannya sehingga dilarang berburuk
sangka di antara mereka. Adapun orang yang secara
terang-terangan berbuat maksiat serta menjumpai berada di tempat orang
yang biasa minum-minuman keras dan mabuk, maka buruk sangka
terhadap mereka itu tidak dilarang, karena mereka sudah jelas
melakukan perbuatan maksiat.
Kemudian Allah melarang berburuk sangka terhadap orang
mukmin karena sudah jelas bahwa prasangka itu mengandung dosa
besar, serta Allah juga melarang mukmin untuk mencari-cari
kesalahan, mencari perbedaan di antara mukmin lain karena Allah
membenci adanya permusuhan.
Allah juga tidak menyukai mengumpat atau menggunjing
orang lain, yang dimaksud dengan gibah atau gunjing adalah
menjelek-jelekan orang lain sedangkan ia ada di tempat itu, dan itu
Allah menyuruh kaum mukmin supaya tetap bertaqwa
kepada-Nya karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun
terhadap orang yang mau bertaubat dan mengakui kesalahannya.
Sesungguhnya Allah Maha Penyayang, tidak akan mengazab
seseorang setelah ia bertaubat (Depag RI, 2009:416-418).
Sedangkan pada surat Al-Hujurāt ayat 13, menerangkan
bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
agar mereka saling mengenal, saling membantu satu sama lain,
bukan untuk saling mencari kesalahan untuk menumbuhkan
masalah atau konflik. Dan perbedaan yang ada di antara merekalah
yang menjadikan suatu alasan bagi mereka untuk menjadi bersatu
dan saling melengkapi.
b. Ayat 13 di atas juga bermunāsabāh dengan ayat sesudahnya yaitu
surah al-Hujurāt ayat 14 yaitu:
Artinya: “Orang-orang Arab Baduiituberkata: "Kami telah
Pada surat Al-Hujurāt ayat 13 menjelaskan bahwa
manusia diciptakan oleh Allah berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku supaya saling mengenal dan saling menolong dalam
kehidupan bermasyarakat, bukan untuk saling bermusuhan karena
adanya perbedaan tersebut, dan tidak ada kemuliaan seseorang
di sisi Allah kecuali dengan ketaqwaannya kepada Allah swt.
Sedangkan pada surat Al-Hujurāt ayat 14 menjelaskan bahwa
orang-orang Arab Badui mengaku bahwa diri mereka telah
beriman. Ucapan mereka itu dibantah oleh Allah, sepantasnya
mereka itu tidak mengatakan telah beriman, karena iman yang
sungguh-sungguh itu adalah membenarkan dengan hati yang tulus
dan percaya kepada Allah dengan seutuhnya. Hal itu belum
terbukti karena mereka memperlihatkan bahwa mereka telah
memberikan kenikmatan kepada Rasulullah saw dengan keislaman
mereka dengan berkata tidak memerangi Rasulullah saw.
Terhadap manusia yang banyak berbuat kesalahan, di mana
pun ia berada, Allah akan mengampuninya karena Dia Maha
Pengampun terhadap orang yang bertaubat dan yang beramal
penuh dengan keikhlasan (Depag RI, 2009:423).
Pada ayat 13 Allah memerintahkan kepada manusia supaya
bertakwa. Pada ayat berikut ini, Allah mencerca orang Arab
Baduui yang imannya lemah yang mereka menonjolkan
beriman, karena mereka itu hanya sekedar menghendaki
pembagian dari rampasan perang dan mementingkan soal
kebendaan saja. Serta penegasan bahwa keimanan itu tidak
cukup hanya dengan perkataan semata. Apa yang diucapkan oleh
lidah dalam bentuk pernyataan iman, menjadi batal bila hati
BAB IV
NILAI-NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL SURAT AL HUJURAT AYAT 13 DAN IMPLEMENTASINYA
A. Nilai-nilai Pendidikan Multikultural di Dalam Surat Al-Hujurāt Ayat 13
Berkaitan dengan pendapat para mufassir yang telah dijelaskan
dalam bab sebelumnya, maka dalam Al-Qur‟an Surat Al Hujurāt ayat 13
terdapat beberapa nilai-nilai pendidikan yang harus dimiliki oleh manusia
dan diaplikasikan dalam kehidupannya baik terhadap dirinya, keluarganya,
masyarakat dan negara. Nilai-nilai tersebut diantaranya adalah:
1. Kesetaraan Gender
“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan”
Maksudnya di sini adalah manusia diciptakan berasal dari
seorang laki-laki yaitu Adam dan seorang perempuan yaitu Hawa, dan
laki-laki dan perempuan derajatnya sama, yang membedakan hanya
pada saat Adam dan Hawa saja, yang terciptanya Hawa dari tulang
rusuk Adam untuk menemani Adam di surga. Yang artinya Adam
lebih tinggi derajatnya dibandingkan Hawa. Akan tetapi di saat
keturunan Adam dan Hawa (manusia) lahir di bumi, pada sejak itulah
maupun perempuan. Yang membedakan adalah kualitas iman dan
takwanya kepada Allah swt.
Gender berasal dari bahasa latin yaitu genus, yang memiliki arti
tipe atau jenis. Dalam bahasa inggris, gender yang artinya jenis
kelamin atau jenis kelamin laki-laki dan perempuan (pernikahan).
Secara etimologi, gender yaitu perbedaan yang tampak antara
laki-laki dan perempuan, dilihat dari nilai dan tingkah laku. Dalam “women
studies encyclopedia” dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep
kultural, dan berupaya membuat perbedaan (distinction) dalam hal
peran, tingkah laku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara
laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.
Jika dihubungkan, surat al-Hujurāt ayat 13 dengan pembahasan
gender adalah kesamaan konteks tentang tidak adanya perbedaan
antara manusia satu dengan yang lain, serta manusia itu sendiri
terbatas pada laki-laki dan perempuan. Bisa dikatakan gender sudah
ada sejak zaman Rasulullah saw. buktinya dengan tokoh perempuan
pada masa Rasulullah saw. turut andil menyebarkan agama Islam.
Contoh Aisyah yang menjadi periwayat hadits yang terpercaya.
Gender tidak muncul begitu saja akan tetapi gender
berkembang dengan konstruksi sosial yang ada dalam masyarakat.
Dengan tingkat dan pemahaman yang berbeda, dari karakteristik, sifat,
Laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang
sama dalammenjalankan peran khalifah dan hamba. Soal peran sosial
dalam masyarakat tidak ditemukan ayat al-Qur‟an atau hadits yang
melarang kaum perempuan aktif di dalamnya.Sebaliknya al-Qur‟an
dan hadits banyak mengisyaratkan kebolehan perempuan aktif
menekuni berbagai profesi.
Allah SWT juga memberikan peran dan tanggung jawab yang
sama antara lelaki dan perempuan dalam menjalankan kehidupan
spiritualnya. Allah punmemberikan sanksi yang sama terhadap
perempuan dan lelaki untuk semuakesalahan yang dilakukannya. Jadi
pada intinya kedudukan dan derajat antaralelaki dan perempuan di
Mata Allah SWT adalah sama, dan yang membuatnyatidak sama
hanyalah keimanan dan ketaqwaannya.
Dengan demikian, keadilan gender adalah suatu kondisi adil
bagi perempuan danlaki-laki untuk dapat mengaktualisasikan dan
mendedikasikan diri bagi pembangunan bangsa dan negara. Keadilan
dan kesetaraan gender berlandaskan pada prinsip-prinsipyang
memposisikan laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai: hamba
Tuhan(kapasitasnya sebagai hamba).
a. Laki-laki dan Perempuan sama sebagai Hamba yaitu
masing-masing akan mendapatkan penghargaan dari Tuhan sesuai dengan
Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Menurut Q.S. al-Zariyat (51:56)yang berbunyi:
Dalam kapasitas sebagai hamba tidak ada perbedaan antara
laki-laki dan perempuan, keduanya mempunyai potensi dan
peluang yangsama untuk menjadi hamba yang ideal. Hamba ideal
dalam al-Qur‟an biasa diistilahkansebagai orang-orang yang
bertaqwa (mutaqqun), dan untuk mencapai derajat mutaqqun ini
tidak dikenal adanya perbedaan jenis kelamin, suku bangsa atau
kelompok etnis tertentu, sebagaimana disebutkan dalam surat
al-Hujurāt ayat 13.
b. Laki-laki dan Perempuan sebagai Khalifah di bumi ataukapasitas
manusia sebagai khalifah di muka bumi (khalifah fi al‟ard) telah
Artinya: dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dalam surat al-Baqarah ayat 30 yaitu:
Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Dalam kedua ayat tersebut, kata “khalifah” tidak menunjuk
pada salah satu jenis kelamin tertentu yang artinya, baik
perempuan maupun laki-laki mempunyai fungsi yang sama
sebagaikhalifah, yang akan mempertanggungjawabkan tugas-tugas
c. Laki-laki dan Perempuan menerima perjanjian primordial (perjanjian dengan Tuhannya) sebagaimana disebutkan dalam surat
al-A‟raf ayat ke172:
Artinya: dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)".
Perempuan dan laki-laki sama-sama mengemban amanah
dan menerima perjanjian awal dengan Tuhan, seperti dalam surat al
A‟raf ayat 172, yakni ikrar akan keberadaan Tuhan yang
disaksikan oleh para Malaikat. Sejak awal sejarahmanusia dalam
Islam tidak dikenal adanya diskriminasi jenis kelamin.
Laki-lakidan perempuan sama-sama menyatakan ikrar ketuhanan yang
seluruh anak cucu Adam tanpa pembedaan jenis kelamin seperti
yang sudah dijelaskan di dalam surat al-Isra‟/17 ayat 70:
Artinya: dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
MaksudnyaAllah swt memudahkan bagi anak Adam baik
laki-laki maupun perempuan pengangkutan-pengangkutan di
daratan dan di lautan untuk memperoleh penghidupan, serta Allah
juga memuliakan cucu Adam.
d. Adam dan Hawa terlibat secara aktif dalam cerita terdahulunya
yang telah disebutkan dalam surat al-A‟raf ayat 22: