• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai-nilai Pendidikan Multikultural (Telaah Al-Qur’an Surah Al-Hujurāt Ayat 13) - Test Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Nilai-nilai Pendidikan Multikultural (Telaah Al-Qur’an Surah Al-Hujurāt Ayat 13) - Test Repository"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

NILAI-NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL

(TELAAH AL-

QUR’AN SURAH AL

-HUJURAT AYAT 13)

SKRIPSI

DisusunUntukMemperolehGelar SarjanaPendidikan(S.Pd.)

Oleh : YULI RATINI NIM: 111-12-062

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

SALATIGA

(2)
(3)

.

.NILAI-NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL

(TELAAH AL-

QUR’AN SURAH AL

-HUJURAT AYAT 13)

SKRIPSI

DisusunUntukMemperolehGelar SarjanaPendidikan(S.Pd.)

Oleh : YULI RATINI NIM: 111-12-062

.

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

SALATIGA

(4)

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Setelah dikoreksi dan diperbaiki, maka skripsi saudari:

Nama : Yuli Ratini

Nim : 111-12-062

Fakultas : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Jurusan : Pendidikan Agama Islam (PAI)

Judul : NILAI-NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL

TELAAH SURAT AL-HUJURAT AYAT 13

Telah kami setujui untuk dimunaqosahkan.

Salatiga, 20 Maret 2017

Pembimbing

(5)

SKRIPSI

NILAI-NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL TELAAH SURAT AL-HUJURAT AYAT 13

disusun oleh

YULI RATINI NIM: 111-12-062

Telah dipertahankan di depan PanitiaDewan Penguji Skripsi Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu KeguruanInstitut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, pada tanggal 30 Maret 2017dan telah dinyatakan

memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan.

Susunan Panitia Penguji

KetuaPenguji :Dr. Agus Waluyo, M.Ag.

SekretarisPenguji : Muh. Hafidz, M.Ag.

Penguji I : Rovi‟in, M.Ag.

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)

(6)

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertandatangan di bawahini :

Nama : Yuli Ratini

NIM : 111-12-062

Fakultas : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Jurusan : Pendidikan Agama Islam

Menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil

karya sayas endiri, bukan jiplakan dari hasil karya tulis orang lain. Pendapat dan

temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan

kode etik ilmiah.

Salatiga, 30 Maret 2017 Penulis

(7)

MOTTO





















Dan Dia (tidak pula) Termasuk Orang-orang yang Beriman

dan Saling Berpesan Untuk Bersabar dan Saling Berpesan

Untuk Berkasih Sayang.

(8)

PERSEMBAHAN

Alhamdulillahirabbil‟alamin dengan rahmat dan hidayah Allah SWT skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Skripsi ini saya persembahkan kepada:

1. Bapak dan Ibu yang senantiasa memberikan kasih saying serta do‟a

dari kecil hingga saat ini dan selalu memberikan nasehat serta

mendukung setiap langkahku.

2. Kakakku terbaik Astina Fitri serta Adik-adikku tersayang Hari Budi

Imanuddin dan Nani Widari yang selalu memberiku semangat dan

tawa kebahagiaan dalam lelahku.

3. Kepada Bapak Muh. Hafidz, M.Ag selaku dosen pembimbing skripsi

yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing dan memotifasi

penulis dengan sabar dan ikhlas hingga sampai terselesaikannya skripsi

ini.

4. Temanku Fatma yang selalu meluangkan waktunya untuk membantu

dan memberikan semangat serta sahabatku Arifah, Rizqa, Elia, Mbak

Umi yang selalu memberikan motivasi,dan juga untuk seseorang yang

spesial yang selalu mendukungku Surya Widhanta serta seluruh

teman-temanku yang selalu mendukung dan membersamai dalam setiap

langkah.

5. Teman-teman PAI B, teman-teman PPL SMK PELITA SALATIGA,

dan kelompok KKN posko 32 yang telah memberikanku pengalaman

(9)

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat han hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini dengan baik. Sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada junjungan

Nabi Besar Muhammad SAW yang telah kita nanti-nantikan syafa‟atnya kelak di

yaumul kiyamah. Segala syukur penulis panjatkan sehingga dapat menyelesaikan

tugas skripsi ini dengan judul “NILAI-NILAI PENDIDIKAN

MULTIKULTURAL TELAAH SURAH AL-HUJURAT AYAT 13”.

Skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar S1 Fakultas

Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Jurusan Pendidikan Agama Islam Institut Agama

Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis menyadari

bahwa masih banyak kekurangan, sehingga dalam menyelesaikannya penulis

menyadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak penulis tidak akan dapat

menyelesaikan skripsi ini dengan lancer. Oleh karena itu penulis ingin

mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Dr. H. Rahmat Haryadi, M.Pd. selaku Rektor IAIN Salatiga

2. Bapak Suwardi, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu

Keguruan

3. Ibu Siti Rukhayati, M.Ag. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama

Islam

4. Bapak Muh. hafidz, M.Ag,selakudosenpembimbing skripsi yang telah

mencurahkan pikiran, tenaga, dan pengorbanan waktunya dalam upaya

(10)

5. Bapak Dr. H. Miftahuddin, M.Ag. selaku pembimbing akademik.

6. SeluruhdosendankaryawanIAIN Salatiga yang telah banyak membantu

selama kuliah hinggamenyelesaikanskripsiini.

7. Bapak, ibu, keluarga, dan seluruh pihak yang

selalumendorongdanmemberikanmotivasi dalammenyelesaikankuliah di

IAIN Salatiga.

Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan

bagi semua orang pada umumnya. Saran dan kritik yang membangun sangat

diperlukan dalam kesempurnaan skripsi ini.

Salatiga, 3 April2017

Penulis

(11)

ABSTRAK

Yuli,Ratini. 2017. ”Nilai-nilai Pendidikan Multikultural (Telaah Al-Qur‟an

Surah Al-Hujurāt Ayat 13)”. Program Studi S1 PAI Institut Agama

Islam Negeri. Pembimbing Muh. Hafidz M.Ag.

Kata Kunci: Pendidikan, Multikultural

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nila-nilai pendidikan

multikultural dalam al-Qur‟an surah al-Hujurāt ayat 13. Pertanyaan

yang ingin dijawab melalui kajian ini adalah: 1) Bagaimana nilai-nilai

pendidikan multikultural yang terkandung dalam surat Al-Hujurāt ayat

13.2) Bagaimana implementasi pendidikan multikultural dalam pendidikan Islam.

Untuk menjawab dari pertanyaan tersebut maka kajian ini

menggunakan penelitian library research, yaitu penelitian dimana

objek penelitiannya digali lewat berbagai sumber kepustakaan. Untuk membahas permasalahan-permasalahan dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kajian tafsir tahlili. Metode ini penulis

gunakan untukmenjelaskan kandungan ayat-ayat Al-Qur‟an dari

seluruh aspeknya.Dalam metode tahlili mufassir biasanya mengikuti

urutan ayat dan surat sebagaimana yang tersusun di dalam mushaf.

Sumbernya data yang digunakan berasal dari Kitab Tafsir Al Misbah,

Kitab Tafsir Al Maraghi, Kitab An-Nuur, Alqur‟an dan buku-buku

yang ada relevansinya dengan pembahasan serta sumber lain yang mendukung tentang pendidikan akhlak yang terkandung dalam

Al-Qur‟an surat al-Hujurat ayat 13.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan

multikultural di dalam surat Al-Hujurāt, diantaranya: kesetaraan

gender, perbedaan bangsa dan suku, ta‟aruf, dan taqwa atau

(12)

DAFTAR ISI

D. Penegasan Istilah ... 6

E. Manfaat Penelitian... 10

F. Metode Penelitian ... 10

G. Sistematika Penulisan ... 12

BAB II Deskripsi Surah al-Hujurāt ayat 13 ... 15

A. Redaksi Surah al-Hujurāt ayat 13 ... 15

(13)

C. Isi Kandungan Ayat... 20

BAB III ASBABUN NUZUL DAN MUNASABAH...25

A. Sejarah Turunnya Surah Al-Hujurāt ayat 13... 25

B. Tema Dan Tujuan Utama... 26

C. Asbabun Nuzul...…... 27

1. Surah al-Hujurāt ayat 13...27

D. Munasabah... 29

1. MunāsabāhSurah dengan Surah...30

2. MunāsabāhAyat dengan Ayat...34

BAB IV Nilai-Nilai Pendidikan Multikultural...39

A. Nilai-Nilai Pendidikan Multikultural Dalam Surah Al-Hujurāt ayat 13... 39

B. Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Surah Al-Hujurāt ayat 13 Dalam Pendidikan Islam …... 58

BAB V PENUTUP...67

A. Kesimpulan... 67

B. Saran... 69

C. Penutup... 69

DAFTAR PUSTAKA... 71

RIWAYAT HIDUP PENULIS

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Daftar SKK

2. Nota Pembimbing Skripsi

(15)

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Wacana tentang pendidikan multikultural saat ini memang sering

diperbincangkan disetiap kalangan, baik dari kalangan politisi, agama,

sosial, budaya, dan khususnya dikalangan para pemikir pendidikan.

Fenomena konflik etnis, sosial, budaya, yang sering muncul di

tengah-tengah masyarakat yang berwajah plural menyebabkan limpungnya arah

pendidikan di masa depan.

Indonesia adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia.

Kebenaran dari pernyataan ini dapat dilihat dari kondisi sosial-kultural

maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Sekarang ini, jumlah

pulau yang ada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

sekitar tiga belas ribu pulau besar dan kecil. Populasi penduduknya

berjumlah lebih dari dua ratus juta jiwa, terdiri dari tiga ratus suku yang

menggunakan hampir dua ratus bahasa yang berbeda. Selain itu mereka

juga menganut agama dan kepercayaan yang beragam seperti Islam,

Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, Konghuchu, serta berbagai

macam aliran kepercayaan (Yaqin, 2005:3-4).

Dari kasus di atas, sangat diperlukan sikap terbuka dan menerima

setiap perbedaan yang ada. Setiap manusia berkewajiban menumbuh

kembangkan sikap multikultural. Sikap multikultural merupakan sikap

(16)

berkeyakinan: perbedaan bila tidak dikelola dengan baik memang bisa

menimbulkan konflik, namun bila mampu mengelolanya dengan baik

maka perbedaan justru memperkaya dan bisa sangat produktif. Salah satu

syarat agar sikap multikultural efektif adalah bila saling mau menerima

kenyataan hakiki bahwa manusia bukan makhluk sempurna, manusia

adalah makhluk yang selalu menjadi. Padahal agar dapat menjadi, manusia

membutuhkan sesamanya.

Dengan maksud lain, sikap yang mendasari masyarakat

multikultural adalah sikap rendah hati atau mau menerima kenyataan,

bahwa tidak ada seorang pun yang mampu memiliki kebenaran absolut,

karena kebenaran absolut melampui ruang dan waktu. Manusia merupakan

makhluk yang berjalan bersama menuju kebenaran absolut tersebut. Untuk

itu diperlukan mengembangkan sikap hormat akan keunikan

masing-masing pribadi atau kelompok tanpa membeda-bedakan, entah atas dasar

gender, agama dan etnis (Molan, 2009:16-17).

Allah SWT meganjurkan kepada manusia untuk bebuat kebajikan

dan mencegah tindakan keji dalam Al-Qur‟an Surah Ali Imran ayat 104:

(17)

Lebih khusus lagi, apabila dilihat dari cara pandang tindak dan

wawasan setiap individu yang ada terhadap berbagai macam fenomena

sosial, budaya, ekonomi, politik dan terhadap hal-hal lainnya, tidak dapat

dipungkiri, mereka mempunyai pandangan yang beragam. Contohnya,

masyarakat dengan berbagai macam latar belakang yang berbeda seperti

kesetaraan gender, demokrasi, hak asasi manusia dan terhadap hal-hal

lainnya. Ada anggota masyarakat yang kurang mendukung adanya proses

demokrasi di negara ini, namun di sisi lain tidak sedikit masyarakat yang

menginginkan adanya demokrasi. Ada anggota masyarakat yang sangat

peduli dan selalu memperjuangkan hak-hak asasi manusia, namun di sisi

lain tidak sedikit masyarakat yang tidak peduli terhadap masalah tersebut.

Bahkan mereka dengan sengaja menindas hak-hak asasi orang lain. Ada

anggota masyarakat yang merespon baik dan bahkan mendukung adanya

kesetaraan gender, namun tidak sedikit masyarakat yang menentangnya

(Yaqin, 2005:3-4).

Keragaman ini diakui atau tidak, akan dapat menimbulkan

berbagai persoalan seperti yang sekarang dihadapi bangsa ini seperti

premanisme, perseteruan politik, kemiskinan, kekerasan, perusakan

lingkungan dan hilangnya rasa kemanusiaan untuk selalu menghormati

hak-hak orang lain, hal tersebut adalah bentuk nyata sebagai bagian dari

multikulturalisme itu.

Maka, menjadi keharusan untuk difikirkan upaya pemecahannya

(18)

adalah kalangan pendidikan. Pendidikan sudah selayaknya berperan dalam

menyelesaikan masalah konflik yang terjadi di masyarakat. Minimal,

pendidikan harus mampu memberikan penyadaran kepada masyarakat

bahwa konflik bukan suatu hal yang baik untuk dibudidayakan. Dan

seharusnya pula, pendidikan mampu memberikan tawaran-tawaran yang

mencerdaskan, antara lain dengan cara merancang materi, metode, hingga

kurikulum yang mampu menyadarkan masyarakat akan pentingnya sikap

saling toleran, menghormati perbedaan suku, agama, ras, etnis dan budaya

masyarakat Indonesia yang multikultural. Selayaknya pendidikan berperan

sebagai media transformasi sosial, budaya dan multikulturalisme (Mahfud,

2006:4-5).

Problem perbedaan tidak hanya dialami pada tatanan kehidupan

antar umat beragama saja, namun juga terdapat dalam masing-masing

agama. Karena persoalan keberagamaan sebenarnya tidak lepas dari

interpretasi manusia akan teks suci (divine text) yang dipercaya sebagai

ungkapan langsung dari Tuhan kepada manusia. Sementara dalam

kerangka kerjanya, tidak ada tafsir yang seragam terhadap suatu hal,

pastilah akan ada perbedaan yang disebabkan oleh banyak hal. Bisa jadi

karena faktor budaya, ekonomi, politik, pendidikan atau perbedaan tingkat

peradaban. Contohnya, perbedaan pendapat yang muncul antara

masyarakat sunni dan syi‟i, katolik dan Kristen, dan realitas terdekat

adalah antara dua organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam terbesar di

(19)

Oleh sebab itu wacana multikulturalisme sangat dibutuhkan guna

internalisasi nilai-nilai multikultural pada diri setiap manusia. Dengan

memahami perbedaan tafsir setiap teks yang ada, diharapkan akan

menghasilkan pemahaman keberagamaan yang inklusif, toleran, dan

terbuka kepada siapapun. Tidak ada yang merasa menjadi makhluk pilihan

yang selalu menganggap dirinya paling benar dan menyalahkan yang lain.

Karena yang berhak merasa benar hanya Allah swt Sang Maha Pencipta.

Dalam skripsi ini, penulis akan mengkaji isi kandungan al-Qur‟an

surah Al Hujurāt ayat 13 yang menjelaskan mengenai hakikat manusia

diciptakan laki-laki dan perempuan, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku

tidak lain agar mereka saling mengenal dan saling menghargai antara

manusia, Islam adalah agama yang mengajarkan nilai-nilai yang universal

dengan tujuan untuk memberikan rahmat bagi semesta alam, (rahmatan

lil‟alamin) sehingga terdapat ayat-ayat Al-Qur‟an yang mengajarkan

tentang perdamaian, kasih sayang, menghormati perbedaan, dan lain

sebagainya.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk

mengangkat tema tersebut dengan mengambil judul skripsi “Nilai-nilai

(20)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang penulis paparkan di atas, maka

yang menjadi masalah pokok pembahasan ini adalah:

1. Bagaimana nilai-nilai pendidikan multikultural yang terkandung dalam

surat Al-Hujurāt ayat 13?

2. Bagaimana implementasi pendidikan multikultural dalam pendidikan

Islam?

C. Tujuan Penelitian

Pada permasalahan pokok di atas bahwa tujuan dilakukan

penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui niali-nilai pendidikan multikultural yang

terkandung dalam Al Qur‟an Surah Al Hujurāt ayat 13.

2. Untuk mengetahui implementasi pendidikan multikultural dalam

pendidikan Islam.

D. Penegasan Istilah

Untuk menghindari kesalahan dan kekeliruan terhadap judul

penelitian ini, maka penulis perlu menjelaskan istilah-istilah yang terdapat

dala judul skripsi di bawah ini:

1. Nilai

Istilah nilai (value) dalam kamus umum bahasa Indonesia

diartikan sebagai sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi

kemanusiaan (Poerwadarminta, 2006:801). Nilai adalah kualitas suatu

(21)

berguna dan dapat membuat orang yang menghayatinya menjadi

bermartabat.

Menurut Steeman, nilai adalah sesuatu yang memberi makna

pada hidup, yang memberi acuan, titik tolak dan tujuan hidup

(Adisusilo, 2013:56).

2. Pendidikan Multikultural

Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga,

masyarakat, dan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran,

dan latihan, yang berlangsung di sekolah dan luar sekolah sepanjang

hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan

peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat dimasa yang

akan datang. Pendidikan adalah pengalaman-pengalaman belajar

terprogram dalam bentuk pendidikan formal, non-formal, dan informal

di sekolah, dan di luar sekolah, yang berlangsung seumur hidup yang

bertujuan optimalisasi pertimbangan kemampuan-kemampuan

individu, agar dikemudian hari dapat memainkan peranan hidup secara

tepat (Mudyahardjo, 2010:11).

Pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan

metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan,

pemahaman, dan cara bertingkah laku sesuai dengan kebutuhan (Syah,

(22)

Akar dari multikulturalisme adalah kebudayaan. Secara

etimologis, multikulturalisme dibentuk dari kata multi (banyak), kultur

(budaya), dan isme adalah aliran atau paham (Mahfud, 2006:75).

Dalam kata tersebut terkandung sebuah pengakuan akan

kehidupan manusia yang mempunyai kebudayaan beraneka ragam

dengan segala keunikannya dan melalui pendidikan tersebuat yang

terintegrasi dala kurikulum maka pemahaman masyarakat terhadap

setiap perbedaan yang ada menjelma menjadi sebuah perilaku untuk

saling menghargai dan menghormati keragaman identitas dalam

kerangka terciptanya harmonisasi kehidupan.

Dengan kata lain, multikultural adalah beberapa kebudayaan.

Secara etimologis, multikulturalisme dibentuk dari kata multi

(banyak), kultur (budaya), dan isme (aliran/paham). Secara hakiki,

dalam kata itu terkandung pengakuan akan mertabat manusia yang

hidup dalam komunitasnya dengan kebudayaannya masing-masing

yang unik (Mahfud, 2006:75).

Ada dua istilah penting yang berdekatan secara makna dan

merupakan suatu perkembangan yang sinambung, yakni pendidikan

multietnik dan pendidikan multikultural. “pendidikan multietnik”

sering dipergunakan di dunia pendidikan sebagai suatu usaha

sistematik dan berjenjang dalam rangka menjembatani

(23)

memiliki potensi untuk melahirkan ketegangan dan konflik (Baidhawy,

2005:6-6).

Sementara itu istilah “ pendidikan multikultural” memperluas

payung pendidikan multietnik sehingga memasukkan isu-isu lain

seperti relasi gender, hubungan antar agama, kelompok kepentingan,

kebudayaan dan sukultur, serta bentuk-bentuk lain dari keragaman.

Kata “kebudayaan” lebih diadopsi dalam hal ini daripada kata

“rasisme” sehingga audiens dari pendidikan multikultural semacam ini

akan lebih mudah menerima dan mendengarkan

3. Al Hujurāt ayat 13

Surat Al Hujurāt merupakan surat ke 49 dalam urutan mushaf

Al-Qur‟an, diturunkan sesudah surat Al-Mujadalah. Al Hujurāt sendiri

diambil dari kata Al-Hujurāt yang ada pada ayat ke 4 yang artinya

kamar-kamar. Surat Al-Hujurāt terdiri dari 18 ayat yang termasuk

dalam golongan surat Madaniyah atau diturunkan sesudah Nabi Hijrah

ke Madinah. Pokok isi kandungan dalam surat Al-Hujurāt adalah

melengkapi dasar-dasar kesopanan yang tinggi serta menunjukkan

manusia kepada pekerti-pekerti utama. Selain itu juga menjelaskan

sikap para muslim terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya, bagaimana

cara mereka menerima berita-berita (keterangan) dari orang-orang

yang tidak dapat dipercaya, dan bagaimana memperlakukan saudara

(24)

Dalam suarat ini dijelaskan pula hakikat iman dan hakikat mukmin

yang sebenarnya (Ash-Shiddieqy, 222:3907).

E. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian dapat berguna baik dari manfaat teoritis maupun

yang praktis, antara lain:

1. Manfaat Teoristis

Manfaat teoristis adalah menjelaskan bahwa hasil penelitian ini

bermanfaat memberikan sumbangan pemikiran atau memperkaya

konsep-konsep, teori-teori terhadap ilmu pengetahuan dari penelitian

yang sesuai dengan bidang ilmu dalam suatu penelitian.

Menambah khazanah keilmuan tentang nilai-nilai pendidikan

multikultural yang terkandung dalam surat Al-Hujurāt ayat 13.

2. Manfaat Praktis

a. Untuk menambah khazanah tentang nilai-nilai pendidikan

multikultural dalam surat Al-Hujurāt ayat 13.

b. Sebagai bahan referensi dalam ilmu pendidikan sehingga dapat

memperkaya dan menambah wawasan.

F. Metode Penelitian

Metode penelitian adalah cara kerja meneliti, mengkaji dan

menganalisis objek sasaran penelitian untuk mencari hasil atau kesimpulan

tertentu. Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini

(25)

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti yaitu library

research, penelitian tersebut dengan mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan objek penelitian, bahwa jenis penelitian yang

dilakukan menggunakan metode library reaserch. Dengan

mengumpulkan data-data yang diperlukan, baik yang primer maupun

yang sekunder, dicari dari sumber-sumber kepustakaan seperti: buku,

majalah, artikel, dan jurnal (Kuswaya, 2009:11).

2. Sumber Data

Karena jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan

(library research), maka data yang diperoleh bersumber dari literatur-literatur. Pengumpulan data-data dengan cara mempelajari, mendalami

dan mengutip teori-teori dan konsep-konsep dari sejumlah literatur

baik buku, jurnal, majalah, koran ataupun karya tulis lainnya yang

relevan dengan topik penelitian.

Maka penulis membagi sumber data menjadi dua bagian, yaitu sumber

data primer dan sumber data sekunder.

a. Sumber Data Primer

Sumber data primer adalah data yang diperoleh dari sumber

inti. Sumber data primer di sini adalah berasal dari Al-Qur‟an dan

terjemah dari Depag, kitab tafsir Al-Maraghi, kitab tafsir An-Nuur,

kitab tafsir Al-Misbah karya M.Quraish Shihab dan kitab-kitab

(26)

b. Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari

sumber data lain yang masih berkaitan dengan masalah penelitian.

Berupa buku-buku yang berkaitan dengan pendidikan

multikultural, seperti: buku Pendidikan Multikultural

Cross-Cultural Understanding untuk demokrasi dan keadilan, Plural dan

Multikulturalisme Paradigma Baru Pendidikan Agama Islam di

Indonesia, Komunikasi Multikultural, Multikulturalisme Agama,

Budaya, dan Sastra.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam

penelitian ini adalah dengan mengumpulkan yang menjadi sumber data

primer yaitu surat Al-Hujurāt ayat 13 dan terjemahannya, kitab tafsir

Al-Maraghi, kitab tafsir An-Nuur, kitab tafsir Al-Misbah karya

M.Quraish Shihab serta data sekunder yang relevan dengan

permasalahan. Setelah data terkumpul selanjutnya dilakukan penelaah

secara sistematis yang berkaitan dengan penelitian tersebut. Sehingga

dapat diperoleh bahan-bahan dan penyajian data yang diperlukan.

4. Analisis Data

Dalam menganalisis data metode yang digunakan adalah

metode tahlili. Metode tahlili adalah metode tafsir yang bermaksud

menjelaskan kandungan ayat-ayat Al-Qur‟an dari seluruh aspeknya.

(27)

surat sebagaimana yang tersusun di dalam mushaf. Mufassir memulai

uraiannya dengan mengemukakan arti kosakata yang diikuti dengan

penjelasan ayat secara global. Mufassir juga mengemukakan

munasabah, membahas sabab-al nuzul (latar belakang turunnya ayat),

dan menyampaikan dari hadist, atau dari sahabat, dan dari para tabi‟in

(Budiharjo, 2012:132).

G. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan skripsi merupakan suatu cara menyusun

dan mengolah hasil penelitian dari data serta bahan-bahan yang disusun

menurut susunan tertentu, sehingga menghasilkan kerangka skripsi

yang sistematis dan mudah dipahami, sistematikanya disusun sebagai

berikut:

Bab I Pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, rumusan

masalah, tujuan penulisan, penegasan istilah, manfaat penelitian, metode

penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II Deskripsi ayat pada bab ini berisikan tentang surat

Al-Hujurāt, kosa kata (mufrodat) dan pokok-pokok isi kandungan.

Bab III Asbabun Nuzul dan Munasabah berisi tentang sejarah

turunnya surat Al-Hujurāt, tema dan tujuan utama surat Al-Hujurāt,

hubungan surat Al-Hujurāt dengan surat sebelumnya (Al-Fath) dan surat

(28)

Bab IV pembahasan pada bab ini membahas tentang Nilai-nilai

Pendidikan Multikultural di dalam surat Al-Hujurāt ayat 13, dan

Implementasinya di dalam Pendidikan Islam.

Bab V pada bab terakhir yaitu memaparkan tentang kesimpulan

dan saran atas pembahasan yang telah diuraikan dalam penelitian, dan

(29)

BAB II

DESKRIPSI SURAT AL-HUJURAT AYAT 13 A. Redaksi Surat Al-Hujurat Ayat 13 dan Terjemahannya

Dalam sub ini penulis akan menyajikan redaksi surat Al Hujurāt

yang menjadi obyek kajian penulis. Adapun redaksi surat Al Hujurāt

beserta terjemahnya disajikan dalam uraian berikut ini:

Artinya: “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari

seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah

Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”(Qs. al-Hujurāt: 13).

B. Arti Kosa Kata (Mufrodat)

Setelah penulis menyajikan redaksi surat Al Hujurāt ayat 13 yang

menjadi obyek kajian penulis, maka selanjutnya penulis menyajikan kosa

kata yang terdapat dalam surat Al Hujurāt ayat 13 tersebut. Adapun kosa

kata yang terdapat dalam surat tersebut sebagai berikut:

1. An Nas

An nas berakar dari kata ٌسْنِإ yang merupakan bentuk tunggal

(mufrad) yang jamaknya ٌس َانُأ yang artinya manusia (Yunus, 2007:51). Al insan artinya manusia sepadan dengan kata al Basyar yang juga

(30)

tunggal (mufrad) yang jamaknya adalah al anasi yang berarti umat manusia. Disini yang dimaksud manusia yaitu seluruh penghuni bumi

yang diciptakan oleh Allah berasal dari laki-laki dan perempuan yang

sama, satu nasab, bapak ibu yang sama, yaitu Nabi Adam dan Hawa.

2. Kholaqa

Kholaqa berakar dari kata

اقْلَخ ـ ُقُلْخَي ـ َقَلَخ

yang artinya

membuat, menjadikan (Yunus, 2007:120). Kholaqa merupakan bentuk

kata kerja lampau (fiil madhi) artinya adalah menjadikan, membuat

dan menciptakan (Munawwir, 1984:393). Dengan demikian Allah

yang menciptakan manusia, menciptakan dari seorang laik-laki dan

seorang perempuan.

Dari makna itu menciptakan merupakan makna yang paling

mashur. Dikarenakan Allah menciptakan sesuatu tanpa ada sampel

atau contoh yang mendahuluinya, termasuk ketika Allah menciptakan

Nabi Muhammad saw atau seluruh manusia di alam raya.

3. Dzakara

Dzakara berakar dari kata

ٌزَكَذ

adalah bentuk tunggal (mufrad)

yang jamaknya adalah

ٌرْوُكُذ

yang berarti jantan, laki-laki (Yunus,

2007:134). Yang dimaksudkan di sini laki-laki yaitu Nabi Adam, dan

Adam adalah makhluk yang diciptakan Allah yang kemudian

(31)

4. Untsa

يَثْنُلاا

adalah bentuk tunggal (mufrad) dari ٌثَانِا yang berarti

perempuan, betina (Munawwir, 1984:46).

ٌثاَنِإ ج يَثْنُأ

juga berarti

perempuan, wanita, betina (Yunus, 2007:50). Perempuan tersebut yaitu

Hawa, dan Hawa adalah perempuan yang diciptakan Allah dari tulang

rusuk Nabi Adam, untuk menjadi pasangan hidup Nabi Adam as.

5. Ja‟ala

Ja‟ala berakar dari kata

لْعَج ـ ُلُعْجَي

-

َلَعَج

yang artinya

membuat, menjadikan (Munawwir, 1984:211). Di sini menerangkan

bahwa Allah menjadikan sesuatu hal menjadi beragam, dari bersatunya

Nabi Adanm dan Hawa, terlahirlah keturunan yang nantinya akan

menjadi penerus Nabi Adam dan Hawa untuk mengelola bumi.

6. Syuu‟ban

Syu‟ub )بْوُعُّشلا) berakar dari kata َةَعَش yang berarti bangsa

(Munawwir, 1984:774). Juga berasal dari kata بْوعُش- ُةُعَش yang artinya

kaum, bangsa, puak, jauh (Yunus, 2007:198). Yaitu suku besar yang

bernasab kepada suatu nenek moyang, seperti suku Rabi‟ah dan

Muhdar. Suku itu terdiri dari sekian banyak kelompok keluarga

yang dinamai umarah.

7. Qaba‟ila

Qaba‟ila berasal dari kata

ُحَلْيِثَقلا

yang merupakan bentuk

(32)

(Munawwir, 1984:1169).

لِئَاثَق ج حَلْيِثَق

yang juga memiliki arti puak,

sekumpulan manusia, keturunan sebapak (Yunus, 2007:330). Yang

dimaksud di sini adalah golongan yang lebih kecil dari sya‟ab, seperti

kabilah Bakar yang merupakan bagian dari Rabi‟ah, dan kabilah

Tamim yang merupakan bagian dari Muhdar.

8. Ta‟aruf

Lafazh ta‟aruf asalnya adalah (فراعتت) yang kemudian salah

satu dari kedua huruf (خ) dibuang sehingga jadilah( فراعت) yang

maksudnya supaya sebagian dari kalian saling mengenal sebagian yang

lain.

Ta‟aruf berakar dari kata

حَفْزِع

-

ُفِزْعَي

-

َفَزَع

yaitu kata kerja

yang berarti mengetahui, mengenal sesuatu (Yunus, 2007:262). Allah

menciptakan manusia agar saling mengenal walaupun berbeda suku

dan bangsa dan bersaudara baik laki-laki maupun perempuan. Semakin

kuat pengenalan satu pihak dengan pihak lainnya, maka

semakinterbuka peluang untuk saling memberi manfaat. Karena

ayat diatas menekankan untuk saling mengenal. Perkenalan itu

dibutuhkan untuk saling menarik pelajaran dan pengalaman pihak

lain, bukan untuk saling membanggakan ketinggian nasab atau

keturunan, karena sesungguhnya kebanggaan itu hanya dinilai dari segi

ketakwaan. Yang dampaknya tercermin pada kedamaian dan

(33)

9. Karama

Karama berasal dari kata

اهَزَك

ُمُزْكَي

َمُزَك

yang artinya mulya,

murah hati, dermawan (Yunus, 2007:371). Pada dasarnya berarti yang

baik dan istimewa sesuai obyeknya. Manusia yang baik dan

istimewa adalah yang memiliki akhlak yang baik terhadap Allah

dan terhadap sesama makhluk.

10.Allah

Allah(

ّ َاَل

)

yaitu Tuhan Yang Maha Esa (Yunus, 2007:47). Allah

Swt adalah Dzat yang Maha Esa, Maha Segalanya, yang menciptakan

alam semesta beserta isinya dan yang wajib disembah oleh seluruh

makhluk-Nya.

11.Atqa

Atqa berasal dari kata taqwa

(

ىَوْقَّتلا

)

dalam bahasa Arab

berasal dari kata kerja

(

يَق َو

)

yang memiliki pengertian menutupi,

menjaga, berhati-hati dan berlindung (Yunus, 2007:264).Taqwaadalah

Orang yang mulia di sisi Allah swt yang paling tinggi kedudukannya

di dunia serta di akhirat adl yang paling bertaqwa kepada-Nya. Taqwa

adl suatu prinsip umum yang mencakup: takut kepada Allah swt dan

mengerjakan apa yang diridhai-Nya, yang melengkapi kebajikan dunia

dan kebajikan akhirat.Sehingga taqwa di sini adalah orang yang paling

mulia di sisi Allah dengan kualitas keimanan yang dimiliki.

(34)

„Allama berasal dari akar kata

نْلِع

ُنَلْعَي

-

َنِلَع

yang berarti

mengetahui sesuatu (Yunus, 2007:277). Kata

نَّلَع

juga berarti mengajar (Munawwir, 1984: 1036). Tetapi di sini kata tersebut mengandung

makna ketuhanan Allah swt. Yang berarti Alim menggambarkan

pengetahuan-Nya menyangkut segala sesuatu, penekanannya adalah

pada zat Allah yang bersifat Maha Mengetahui, bukan pada sesuatu

yang diketahui itu.

13.Khobir

Khobir memiliki arti pengetahuan (Yunus, 2007:113). Khobir

menggambarkan pengetahuan-Nya yang menjangkau sesuatu, di sini

sisi penekanannya bukan pada zat-Nya Yang Maha Mengertahui, tetapi

pada sesuatu yang diketahui itu.

C. Isi Kandungan Surat Al-Hujurāt Ayat 13

Dalam pembahasan ini penulis akan memaparkan isi dari

kandungan ayat yang dikaji, yaitu pada surat al-Hujurāt ayat 13 menurut

pendapat para mufassir, yakni Tafsir tersebut adalah tafsir al Misbah, An

Nuur dan al Maraghi sebagai berikut:

Adapun redaksi ayat 13 dari surat al-Hujurāt, sebagaimana

disajikan dalam teks berikut ini:

(35)

Masing-masing pandangan dari tafsir al Misbah, An Nuur dan al

Maraghi akan penulis uraikan sebagai berikut:

a. Tafsir Al-Misbah

Seruan kepada semua manusia dan mengingatkan mereka

bahwa: Allah swt menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang

perempuan, yakni Nabi Adam as. dan Hawa, atau dari sperma (benih

lelaki) dan ovum (indung telur perempuan) dan menjadikan kamu

berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal

mengenal, yakni perkenalan yang mengantar kamu bantu membantu

serta saling melengkapi.

Allah tidak menyukai orang-orang memperlihatkan

kesombongan dengan keturunan, kepangkatan atau kekayaan karena

yang paling mulia diantara manusia di sisi Allah swt hanyalah orang

yang paling bertaqwa.

Ayat ini ditutup dengan menegaskan bahwa yang paling mulia

di antara kamu di sisi Allah swt ialah yang paling bertaqwa, sungguh

Allah Maha Mengetahui, Meneliti sehingga tidak ada sesuatu pun yang

tersembunyi bagi-Nya, walaupun detak detik jantung dan niat seseorang

(Shihab, 2012:616-618).

b. Tafsir An-Nuur

Kami (Allah) menjadikan kamu bersuku-suku dan

bergolong-golongan supaya kamu saling mengenal, bukan untuk bermusuhan.

(36)

warna kulit supaya kamu lebih tertarik untuk saling berkenalan. Inilah

dasar demokrasi yang benar di dalam Islam, yang menghilangkan

kasta-kata dan perbedaan-perbedaan bangsa. Masih adanya perbedaan rasial

(apartheid) sangat ditentang oleh agama Islam.Allah swt mengetahui semua perbuatanmu dan mengetahui semua rahasia dirimu, karena itu

bertaqwalah kepada Allah swt dan jadikanlah taqwa itu sebagai

perbekalan untuk hari akhirat kelak. Dijelaskan oleh Abu Daud bahwa

ayat ini turun mengenai Abu Hind, seorg tukan bekam. Rasulullah saw

menyuruh bani Bayadhah mengawinkan Abu Hind dengan salah

seorang gadis mereka, bani Bayadhah menjawab: “Apakah kami harus

mengawinkan anak gadis kami dengan bekas golongan budak kami

sendiri?”.

Allah menjelaskan bahwa semua manusia itu satu keturunan,

dari seorang ayah dan seorang ibu. Karena itu tidak selayaknya seorang

menghina saudaranya sendiri. Allah menjadikan mereka

berbangsa-bangsa, bersuku-suku, dan bergolong-golongan, agar saling mengenal

dan saling menolong di antara mereka. Ketaqwaan, kesalehan, dan

kesempurnaan jiwa itulah bahan-bahan kelebihan seseorang atas

yanglain (Shiddieqy, 2003:3926).

c. Tafsir Al-Maraghi

Di sini Allah menerangkan bahwa manusia seluruhnya berasal

dari seorang ayah dan seorang ibu. Maka kenapa saling mengolok-olok

(37)

bersuku-suku dan berbangsa yang berbeda, agar di antara mereka terjadi

saling mengenal dan tolong-menolong dalam kemaslahatan mereka

yang bermacam-macam.

Namun tetap tidak ada kelebihan bagi seseorang pun atas yang

lain, kecuali dengan taqwa dan kesalehan, di samping kesempurnaan

jiwa bukan dengan hal-hal yang bersifat keduniaan yang tiada abadi.

Allah menurunkan ayat ini sebagai cegahan bagi mereka dari

membanggakan nasab, mengunggul-unggulkan harta dan menghina

kepada orang-orang fakir, Allah menerangkan bahwa keutamaan itu

terletak pada taqwa (Al-Maraghi, 1993: 235-236).

Dalam pokok-pokok isi kandungan yang terdapat dalam surat

Al-Hujurāt ayat 13 di atas, penulis menyimpulkan bahwa Allah sawt

telah menciptakan manusia dari laki-laki yaitu Nabi Adam dan seorang

perempuan yaitu Hawa, lalu menjadikannya berbangsa-bangsa dan

bersuku-suku agar dengan adanya perbedaan itu terjadilah ketertarikan

untuk saling mengenal dan juga untuk saling menolong dan membantu

sesama, bukan untuk saling mengejek dan mencemooh. Allah melihat

kualitas manusia bukan dilihat dari keturunan, kekayaan, kepandaian,

tetapi dari kualitas taqwa seseorang tersebut. Jadi jika hendak

berbangga maka banggakanlah taqwamu, artinya barang siapa yang

ingin memperoleh derajat-derajat tinggi hendaklah ia bertaqwa.

(38)

Maha Waspada tentang hati manusia, maka jadikanlah taqwa sebagai

(39)

BAB III

ASBĀBUN NUZŪL DAN MUNĀSABĀH

A. Sejarah Turunnya Surat Al-Hujurāt

Kata Hujurātadalah bentuk jamak dari al-Hujrah yang berarti

kamar, ruang sebagai tempat tidur. Nama surat ini diambil dari makna kata

Hujurāt dalam ayat ke 4 yang berarti kamar-kamar (Imani, 2013:311). Al-Hujurāt adalah Surat yang tidak lebih dari 18 ayat dan termasuk surat Madaniyah , merupakan surat yang agung dan besar, yang mengandung

hakikat akidah dan syari‟ah yang penting untuk manusia. Surat Al-Hujurāt

ini menempati urutan ke-49 di dalam Al-Qur‟an.

Mengenai kisah turunnya surat Al-Hujurāt, ulama sepakat

menyatakan bahwa surat ini turun setelah Nabi Muhammad saw, berhijrah

ke Madinah. Bahkan, salah satu ayatnya yang dimulai dengan “Ya

ayyuhan an-Nas” yang bisa dijadikan ciri surat Makiyah yang turun

sebelum hijrah, disepakati juga turun pada periode Madaniyah. Walaupun

demikian, ada riwayat yang diperselisihkan nilai kesahihannya yang

menyatakan bahwa ayat tersebut turun di Makkah pada saat Haji

Wada‟/Haji Perpisahan Nabi saw. Namun demikian, kalaupun riwayat itu

benar, ini tidak menjadikan ayat tersebut Makkiyah, kecuali bagi mereka

yang memahami istilah Makkiyah sebagai ayat yang turun di Mekkah

(40)

B. Tema dan Tujuan Utama

Tema utama dalam surat Al-Hujurāt adalah berisi petunjuk apa

yang harus dilakukan oleh seorang mukmin terhadap Allah SWT, terhadap

Nabi dan orang yang menentang ajaran Allah dan Rasul-Nya, yaitu orang

fasik. Pada pembahasan ini dijelaskan apa yang harus dilakukan seorang

mukmin terhadap sesama manusia secara keseluruhan, demi terciptanya

sebuah perdamaian. Adapun etika yang diusung untuk menciptakan

sebuah perdamaian dan menghindari pertikaian yaitu menjauhi sikap

mengolok-olok, mengejek diri sendiri, saling memberi panggilan buruk,

su‟udzon, ghibah, serta tidak boleh bersikap sombong dan saling

membanggakan diri karena derajat manusia di hadapan Allah SWT itu

semua sama. Di dalam surat Al-Hujurāt juga berisikan tentang etika,

tatakrama, dan akhlak, yaitu kepada Allah swt, Rasul saw, sesama muslim

yang taat, terhadap yang durhaka kepada Allah dan Rasul, dan terhadap

sesama manusia.

Tujuan utama dalam surat ini adalah mendidik setiap umat Islam

bagaimana seharusnya berperilaku baik, sehimgga terciptanya lingkungan

yang bersih dan sejahtera yang dihiasi dengan sopan santun terhadap Allah

swt, Rasul saw, diri sendiri dan kepada orang lain. Sopan santun, bukan

saja berkaitan dengan sikap lahiriah, tetapi berkaitan dengan bisikan hati

(41)

C. Asbābun Nuzūl

Al-Qur‟an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dalam upaya

mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Ayat-ayat dalam al-Qur‟an

ada yang diturunkan tanpa sebab dan ada pula ayat-ayat yang diturunkan

setelah terjadinya suatu peristiwa yang perlu direspon atau dijawab.

Peristiwa atau persoalan yang melatarbelakangi turunnya ayat itu disebut

asbābunnuzūl (Depag, 2009:228).

Asbābun al-nuzūl secara bahasa terdiri dari dua kata asbāb dan

nuzūl, asbāb bentuk jama‟ dari sabab yang berarti sebab, sedangkan kata

nuzūl berasal dari akar kata nazala-yanzilu-nuzulan yang artinya turun,

menurunkan sesuatu (Budihardjo, 2012:21). Sedangkan asbābun nuzūūl

menurut istilah adalah peristiwa-peristiwa yang menyebabkan turunnya

ayat, dimana ayat tersebut menjelaskan pandangan al-Qur‟an tentang

peristiwa yang terjadi atau mengomentarinya (Shihab,2012:3).

Pengetahuan mengenai asbābun nuzūl atau sejarah turunnya

ayat-ayat al-Qur‟an sangat diperlukan bagi seseorang yang ingin memperdalam

pengertian mengenai ayat-ayat al-Qur‟an. Dengan mengetahui latar

belakang turunnya ayat, maka seseorang dapat menggambarkan situasi dan

kondisi saat ayat tersebut diturunkan, sehingga memudahkan untuk

memahami apa yang terkandung di balik teks ayat tersebut.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa ayat-ayat al-Qur‟an itu

diturunkan tanpa sebab dan ada pula ayat-ayat yang diturunkan setelah

(42)

pembahasan ini penulis tidak menemukan seluruhnya asbabun nuzul pada

ayat-ayat yang dikaji melainkan hanya akan menjelaskan asbābun nuzūl

yang terdapat pada surah al-Hujurāt ayat 13. Adapun asbābun nuzūl surah

al-Hujurāt ayat 13 adalah sebagai berikut:

Diriwayatkan oleh Abu Mulaikah, pada saat terjadinya Fathul

Makkah (8 H), Rasul mengutus Bilal Bin Rabbah untuk

mengumandangkan adzan, ia memanjat ka‟bah dan berseru kepada kaum

muslimin untuk shalat jama‟ah. Ahab bin Usaid ketika melihat Bilal naik

keatas ka‟bah berkata“segala puji bagi Allah yang telah mewafatkan

ayahku, sehingga tidak menyaksikan peristiwa hari ini”.

Harist bin Hisyam berkata “Muhammad menemukan orang lain ke

-cuali burung gagak yang hitam ini”, kata-kata ini dimaksudkan untuk

men-cemooh Bilal, karena warna kulit Bilal yang hitam. Maka datanglah

malaikat Jibril memberitahukan kepada Rasulullah saw tentang apa yang

dilakukan mereka. Sehingga turunlah ayat ini, yang melarang manusia

untuk menyombongkan diri karena kedudukannya, kepangkatannya,

kekayaannya, keturunan dan mencemooh orang miskin.

Diterangkan pula bahwa kemuliaan itu dihubungkan dengan

ketaqwaan, karena yang membedakan manusia disisi Allah hanyalah dari

ketaqwaan seseorang.

Adapun asbabun nuzul yang diriwayatkan oleh Abu Daud tentang

peristiwa yang terjadi kepada sahabat Abu Hindin (yaitu sahabat yang

(43)

Bayadah untuk menikahkan Abu Hindin dengan gadis-gadis di kalangan

mereka. Mereka bertanya “apakah patut kami mengawinkan gadis kami

dengan budak-budak?” sehingga turun ayat ini, agar kita tidak mencemooh seseorang karena memandang kedudukannya (Depag RI,

2009:419-420).

D. Munāsabāh

Munāsabāh berasal dari kata nāsaba-yunāsibu-munāsabah, kata

tersebut bentuk tsulatsi mujarad dari nasaba yang berarti hubungan

sesuatu dengan sesuatu yang lain. Munāsabāh berarti muqārabāh atau

kedekatan dan kemiripan. Hal tersebut dapat terjadi pada dua hal atau

lebih, sedangkan kemiripan dapat terjadi pada seluruh unsur-unsur atau

pada sebagiannya saja. Secara istilah munāsabāh adalah adaya kecocokan,

kepantasan, keserasian antara ayat dengan ayat atau surat dengan surat,

atau munāsabāh adalah kemiripan yang terdapat pada hal-hal tertentu

dalam al-Qur‟an baik pada surat maupun pada ayatnya yang

menghubungkan uraian satu dengan yang lain (Budihardjo, 2012:39).

Kata Munāsabāh sedangkan menurut Ibnu al-„Arabi, munasabah

adalah keterkaitan ayat-ayat al-Qur‟an sehingga seolah-olah merupakan

suatu ungkapan yang mempunyai satu kesatuan makna dan redaksi

(Hermawan, 2011:122).

Ilmu Munāsabāh adalah menerangkan korelasi atau hubungan

(44)

sesudahnya, baik yang di belakangnya maupun yang ada di mukanya

(Syadali, 1997:168).

Adapun Munāsabāh yang dijelaskan oleh penulis di sini adalah

hubungan surat Al-Hujurāt dengan surat sebelumnya (surat Fath) dan

hubungan dengan surat sesudahnya (surat Qaf), serta hubungan surat

Al-Hujurāt ayat 12-14.

1. Munāsabāh surah dengan surah

a. Surah al-Hujurāt dengan Surah al-Fath

Surat Al-Hujurāt merupakan surat ke 49 diturunkan di

Madinah sesudah Nabi SAW berhijrah, diturunkan sesudah surat

Al-Mujadalah. Nama Al-Hujurāt sendiri diambil dari ayat ke 4

yang artinya kamar-kamar. Ayat tersebut mencela para sahabat

yang memanggil Nabi Muhammad yang sedang berada di dalam

kamar rumahnya bersama istrinya. Memanggil dengan cara

demikian menunjukkan cara yang kurang hormat kepada beliau

karena mengganggu ketentraman beliau (Depag, 2009:393).

Penjelasan dari surat Al-Hujurāt, bahwa Al-Hujurāt adalah

surat ke-49 yang diturunkan di Madinah dengan ayatnya yang

berjumlah 18, Al-Hujurāt itu sendiri mengajarkan tentang

bagaimana cara berbicara kepada Rasulullah SAW dengan cara

yang baik.

Surat Al-Fath adalah surat ke 48, ditempatkan sesudah surat

(45)

mukaddimah pembicaraan, sedangkan surat Al-Fath dianggap

sebagai kesimpulannya. Sesudah itu diiringi dengan surat

Al-Hujurāt ini, mengingat apabila umat muslim telah berijtihad dan

memperoleh kemenangan, serta masyarakat pun telah kembali

tentram dan aman sentosa, maka perlulah ada etika pergaulan

antara para sahabat dengan Nabi serta cara-cara bergaul di antara

mereka (Ash-siddieqy, 2003:3907).

Penjelasan di atas menerangkan bahwa di dalam surat

Al-Fath dianggap sebagai kesimpulannya dari surat Qital

(Muhammad), dan diiringi juga dengan surat Al-Hujurāt, karena

dengan hal itu umat muslim memperoleh kemenangan dan umat

muslim kembali merasakan ketentraman.

Adapun persesuaian antara Al-Hujurāt dengan surat Al-Fath

adalah sebagai berikut:

a. Pada surat Al-Hujurāt disebutkan memerangi kaum

pemberontak. Sedangkan pada surat Al-Fath disebutkan

memerangi orang-orang kafir.

b. Surat Al-Hujurāt diakhiri dengan pembicaraan tentang

orang-orang yang beriman, sedangkan pada surat Al-Fath juga dibuka

tentang mereka.

c. Masing-masing kedua surat ini memulai tentang penghormatan

kepada Rasulullah SAW, terutama pada awal masing-masing

(46)

b. Surah al-Hujurāt dengan Surah al-Qaf

Surat Al-Hujurāt merupakan surat ke 49 diturunkan di

Madinah sesudah Nabi SAW berhijrah, diturunkan sesudah surat

Al-Mujadalah. Nama Al-Hujurāt sendiri diambil dari ayat ke 4

yang artinya kamar-kamar. Ayat tersebut mencela para sahabat

yang memanggil Nabi Muhammad yang sedang berada di dalam

kamar rumahnya bersama istrinya. Memanggil dengan cara

demikian menunjukkan cara yang kurang hormat kepada beliau

karena mengganggu ketentraman beliau (Depag, 2009:393).

Penjelasan dari surat Al-Hujurāt, bahwa Al-Hujurāt adalah

surat ke-49 yang diturunkan di Madinah dengan ayatnya yang

berjumlah 18, Al-Hujurāt itu sendiri mengajarkan tentang

bagaimana cara berbicara kepada Rasulullah SAW dengan cara

yang baik.

Surat Al-Qaf tergolong dalam surat Makiyyah karena turun

di kota Mekkah, tetapi kecuali pada ayat 27 yang tergolong

Madaniyyah, surat ini berjumlah 45 ayat yang diturunkan sesudah

surat Al-Mursalat.

Muslim dan lainnya meriwayatkan hadis dari Jabir bin

Samurah, bahwa Nabi saw, membaca surat ini pada rakaat pertama

dari salat fajar (salat subuh). Sementara itu Ahmad, Muslim, Abu

(47)

Al-Laisin, bahwa Nabi saw, membaca pada hari raya yakni surat

Qaf dan Iqtarabat.

Abu Daud, al-Baihaqi dan Ibnu Majah meriwayatkan dari

Ummu Hisyam binti Harisah, ia mengatakan bahwa saya menerima

surat Qaf wal Qur‟anul Majid hanya dari mulut Rasulullah saw.

Beliau membaca surat ini pada setiap jum‟at di atas mimbar apabila

beliau berkutbah di hadapan orang banyak.

Semua itu menunjukkan bahwa Nabi saw, membuka surat

ini pada pertemuan-pertemuan besar seperti dua hari raya dan

jum‟at karena suratnini memuat keterangan tentang permulaan

penciptaan dan juga tentang kebangkitan, dan penghimpunan, di

samping tentang akhirat, hisab, surga, neraka dan hukuman,

penggembiraan dan ancaman (Ash-siddieqy, 2000:248).

Penjelasan di atas telah menerangkan bahwa surat Qaf

dijelaskan bahwa Nabi Muhammad saw membaca surat Qaf pada

pertemuan-pertemuan besar seperti di hari raya.

Adapun hubungan antara surat Al-Hujurāt dengan surat Qaf

adalah sebagai berikut:

a. Pada akhir surat Al- Hujurāt disebutkan keimanan orang-orang

Badui dan sebenarnya mereka belum beriman. Hal ini dapat

membawa mereka kepada bertambahnya iman mereka dan

dapat pula menjadikan mereka orang yang mengingkari

(48)

disebutkan beberapa sifat orang kafir yang mengingkari

kenabian dan hari kebangkitan.

b. Surat Al-Hujurāt telah banyak menguraikan soal-soal duniawi,

sedang surat Qaaf banyak menguraikan masalah akhirat (Depag

RI, 1986:458).

2. Munāsabāh ayat dengan ayat

a. Al-Qur‟an surah al-Hujurāt ayat 13 memiliki munāsabāh dengan

ayat sebelumnya yaitu surat al-Hujurāt ayat 12 :

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan

purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudahmati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya .Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

Artinya: “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu

(49)

kamu berbangsa –bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Dalam surat Al-Hujurāt ayat 12, menerangkan bahwa Allah

Swt memberi peringatan kepada orang-orang yang beriman,

supaya mereka menjauhkan diri dari prasangka buruk(su‟udzon)

terhadap satu sama lainnya, mencari-cari kesalahan orang lain

(tajassus) dan larangan untuk saling mengunjing. Diriwayatkan dari Rasulullah saw sesungguhnya Allah mengharamkan diri orang

mukmin darah dan kehormatannya sehingga dilarang berburuk

sangka di antara mereka. Adapun orang yang secara

terang-terangan berbuat maksiat serta menjumpai berada di tempat orang

yang biasa minum-minuman keras dan mabuk, maka buruk sangka

terhadap mereka itu tidak dilarang, karena mereka sudah jelas

melakukan perbuatan maksiat.

Kemudian Allah melarang berburuk sangka terhadap orang

mukmin karena sudah jelas bahwa prasangka itu mengandung dosa

besar, serta Allah juga melarang mukmin untuk mencari-cari

kesalahan, mencari perbedaan di antara mukmin lain karena Allah

membenci adanya permusuhan.

Allah juga tidak menyukai mengumpat atau menggunjing

orang lain, yang dimaksud dengan gibah atau gunjing adalah

menjelek-jelekan orang lain sedangkan ia ada di tempat itu, dan itu

(50)

Allah menyuruh kaum mukmin supaya tetap bertaqwa

kepada-Nya karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun

terhadap orang yang mau bertaubat dan mengakui kesalahannya.

Sesungguhnya Allah Maha Penyayang, tidak akan mengazab

seseorang setelah ia bertaubat (Depag RI, 2009:416-418).

Sedangkan pada surat Al-Hujurāt ayat 13, menerangkan

bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku

agar mereka saling mengenal, saling membantu satu sama lain,

bukan untuk saling mencari kesalahan untuk menumbuhkan

masalah atau konflik. Dan perbedaan yang ada di antara merekalah

yang menjadikan suatu alasan bagi mereka untuk menjadi bersatu

dan saling melengkapi.

b. Ayat 13 di atas juga bermunāsabāh dengan ayat sesudahnya yaitu

surah al-Hujurāt ayat 14 yaitu:

Artinya: “Orang-orang Arab Baduiituberkata: "Kami telah

(51)

Pada surat Al-Hujurāt ayat 13 menjelaskan bahwa

manusia diciptakan oleh Allah berbangsa-bangsa dan

bersuku-suku supaya saling mengenal dan saling menolong dalam

kehidupan bermasyarakat, bukan untuk saling bermusuhan karena

adanya perbedaan tersebut, dan tidak ada kemuliaan seseorang

di sisi Allah kecuali dengan ketaqwaannya kepada Allah swt.

Sedangkan pada surat Al-Hujurāt ayat 14 menjelaskan bahwa

orang-orang Arab Badui mengaku bahwa diri mereka telah

beriman. Ucapan mereka itu dibantah oleh Allah, sepantasnya

mereka itu tidak mengatakan telah beriman, karena iman yang

sungguh-sungguh itu adalah membenarkan dengan hati yang tulus

dan percaya kepada Allah dengan seutuhnya. Hal itu belum

terbukti karena mereka memperlihatkan bahwa mereka telah

memberikan kenikmatan kepada Rasulullah saw dengan keislaman

mereka dengan berkata tidak memerangi Rasulullah saw.

Terhadap manusia yang banyak berbuat kesalahan, di mana

pun ia berada, Allah akan mengampuninya karena Dia Maha

Pengampun terhadap orang yang bertaubat dan yang beramal

penuh dengan keikhlasan (Depag RI, 2009:423).

Pada ayat 13 Allah memerintahkan kepada manusia supaya

bertakwa. Pada ayat berikut ini, Allah mencerca orang Arab

Baduui yang imannya lemah yang mereka menonjolkan

(52)

beriman, karena mereka itu hanya sekedar menghendaki

pembagian dari rampasan perang dan mementingkan soal

kebendaan saja. Serta penegasan bahwa keimanan itu tidak

cukup hanya dengan perkataan semata. Apa yang diucapkan oleh

lidah dalam bentuk pernyataan iman, menjadi batal bila hati

(53)

BAB IV

NILAI-NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL SURAT AL HUJURAT AYAT 13 DAN IMPLEMENTASINYA

A. Nilai-nilai Pendidikan Multikultural di Dalam Surat Al-Hujurāt Ayat 13

Berkaitan dengan pendapat para mufassir yang telah dijelaskan

dalam bab sebelumnya, maka dalam Al-Qur‟an Surat Al Hujurāt ayat 13

terdapat beberapa nilai-nilai pendidikan yang harus dimiliki oleh manusia

dan diaplikasikan dalam kehidupannya baik terhadap dirinya, keluarganya,

masyarakat dan negara. Nilai-nilai tersebut diantaranya adalah:

1. Kesetaraan Gender















“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang

laki-laki dan seorang perempuan”

Maksudnya di sini adalah manusia diciptakan berasal dari

seorang laki-laki yaitu Adam dan seorang perempuan yaitu Hawa, dan

laki-laki dan perempuan derajatnya sama, yang membedakan hanya

pada saat Adam dan Hawa saja, yang terciptanya Hawa dari tulang

rusuk Adam untuk menemani Adam di surga. Yang artinya Adam

lebih tinggi derajatnya dibandingkan Hawa. Akan tetapi di saat

keturunan Adam dan Hawa (manusia) lahir di bumi, pada sejak itulah

(54)

maupun perempuan. Yang membedakan adalah kualitas iman dan

takwanya kepada Allah swt.

Gender berasal dari bahasa latin yaitu genus, yang memiliki arti

tipe atau jenis. Dalam bahasa inggris, gender yang artinya jenis

kelamin atau jenis kelamin laki-laki dan perempuan (pernikahan).

Secara etimologi, gender yaitu perbedaan yang tampak antara

laki-laki dan perempuan, dilihat dari nilai dan tingkah laku. Dalam “women

studies encyclopedia” dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep

kultural, dan berupaya membuat perbedaan (distinction) dalam hal

peran, tingkah laku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara

laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.

Jika dihubungkan, surat al-Hujurāt ayat 13 dengan pembahasan

gender adalah kesamaan konteks tentang tidak adanya perbedaan

antara manusia satu dengan yang lain, serta manusia itu sendiri

terbatas pada laki-laki dan perempuan. Bisa dikatakan gender sudah

ada sejak zaman Rasulullah saw. buktinya dengan tokoh perempuan

pada masa Rasulullah saw. turut andil menyebarkan agama Islam.

Contoh Aisyah yang menjadi periwayat hadits yang terpercaya.

Gender tidak muncul begitu saja akan tetapi gender

berkembang dengan konstruksi sosial yang ada dalam masyarakat.

Dengan tingkat dan pemahaman yang berbeda, dari karakteristik, sifat,

(55)

Laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang

sama dalammenjalankan peran khalifah dan hamba. Soal peran sosial

dalam masyarakat tidak ditemukan ayat al-Qur‟an atau hadits yang

melarang kaum perempuan aktif di dalamnya.Sebaliknya al-Qur‟an

dan hadits banyak mengisyaratkan kebolehan perempuan aktif

menekuni berbagai profesi.

Allah SWT juga memberikan peran dan tanggung jawab yang

sama antara lelaki dan perempuan dalam menjalankan kehidupan

spiritualnya. Allah punmemberikan sanksi yang sama terhadap

perempuan dan lelaki untuk semuakesalahan yang dilakukannya. Jadi

pada intinya kedudukan dan derajat antaralelaki dan perempuan di

Mata Allah SWT adalah sama, dan yang membuatnyatidak sama

hanyalah keimanan dan ketaqwaannya.

Dengan demikian, keadilan gender adalah suatu kondisi adil

bagi perempuan danlaki-laki untuk dapat mengaktualisasikan dan

mendedikasikan diri bagi pembangunan bangsa dan negara. Keadilan

dan kesetaraan gender berlandaskan pada prinsip-prinsipyang

memposisikan laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai: hamba

Tuhan(kapasitasnya sebagai hamba).

a. Laki-laki dan Perempuan sama sebagai Hamba yaitu

masing-masing akan mendapatkan penghargaan dari Tuhan sesuai dengan

(56)

Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Menurut Q.S. al-Zariyat (51:56)yang berbunyi:

Dalam kapasitas sebagai hamba tidak ada perbedaan antara

laki-laki dan perempuan, keduanya mempunyai potensi dan

peluang yangsama untuk menjadi hamba yang ideal. Hamba ideal

dalam al-Qur‟an biasa diistilahkansebagai orang-orang yang

bertaqwa (mutaqqun), dan untuk mencapai derajat mutaqqun ini

tidak dikenal adanya perbedaan jenis kelamin, suku bangsa atau

kelompok etnis tertentu, sebagaimana disebutkan dalam surat

al-Hujurāt ayat 13.

b. Laki-laki dan Perempuan sebagai Khalifah di bumi ataukapasitas

manusia sebagai khalifah di muka bumi (khalifah fi al‟ard) telah

(57)

Artinya: dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dalam surat al-Baqarah ayat 30 yaitu:

Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Dalam kedua ayat tersebut, kata “khalifah” tidak menunjuk

pada salah satu jenis kelamin tertentu yang artinya, baik

perempuan maupun laki-laki mempunyai fungsi yang sama

sebagaikhalifah, yang akan mempertanggungjawabkan tugas-tugas

(58)

c. Laki-laki dan Perempuan menerima perjanjian primordial (perjanjian dengan Tuhannya) sebagaimana disebutkan dalam surat

al-A‟raf ayat ke172:

Artinya: dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)".

Perempuan dan laki-laki sama-sama mengemban amanah

dan menerima perjanjian awal dengan Tuhan, seperti dalam surat al

A‟raf ayat 172, yakni ikrar akan keberadaan Tuhan yang

disaksikan oleh para Malaikat. Sejak awal sejarahmanusia dalam

Islam tidak dikenal adanya diskriminasi jenis kelamin.

Laki-lakidan perempuan sama-sama menyatakan ikrar ketuhanan yang

(59)

seluruh anak cucu Adam tanpa pembedaan jenis kelamin seperti

yang sudah dijelaskan di dalam surat al-Isra‟/17 ayat 70:

Artinya: dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

MaksudnyaAllah swt memudahkan bagi anak Adam baik

laki-laki maupun perempuan pengangkutan-pengangkutan di

daratan dan di lautan untuk memperoleh penghidupan, serta Allah

juga memuliakan cucu Adam.

d. Adam dan Hawa terlibat secara aktif dalam cerita terdahulunya

yang telah disebutkan dalam surat al-A‟raf ayat 22:



Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data maka dapat disimpulkan bahwa: Nilai-nilai pendidikan Akhlak yang terkandung dalam surat Al-Hujurat ayat 11-13 adalah

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data maka dapat disimpulkan bahwa: Nilai-nilai pendidikan Akhlak yang terkandung dalam surat Al-Hujurat ayat 11-13 adalah akhlak

memahami, menghormati, menghargai perbedaan budaya, etnis, agama dan lainnya yang ada di masyarakat. Adapun cara yang dianggap mampu menerapkan pendidikan multikultural ini

Hasil dari peelitian penulis mengenai nilai-nilai pendidikan akhlak kepada kaum dhuafa perspektif al-Qur’an surat An- Nisa ayat 36 Tafsir Al-Maraghi ini adalah bahwa

Hanya saja, dalam konteks ini pendidikan multikultural perlu di batasi hanya menyangkut persoalan peradaban umat manusia dan kehidupan sosial ( human relation )

Hakikatnya pendidikan multikultural mencakup dalam tiga hal yaitu gagasan atau konsep, gerakan reformasi pendidikan dan proses. Nilai-nilai multikultural yang ada akan

Penelitian ini tentang nilai-nilai akhlak dalam perspektif pendidikan Islam (Kajian tafsir surat Al-Hujurat ayat 11-13) bahwa akhlak Islam adalah nilai-nilai yang utuh,

Lebih lanjut, Integrasi pendidikan multikultural dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) juga dapat dilakukan dengan mengintegrasikan nilai- nilai