BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Dewasa ini terdapat perhatian yang lebih besar pada etika dalam penggunaan komputer daripada sebelumnya. Masyarakat secara umum memberikan perhatian terutama karena kesadaran bahwa komputer dapat mengganggu hak individu atas privacy. Dalam dunia bisnis, salah satu alasan utama perhatian tersebut adalah pembajakan perangkat lunak yang menggerogoti pendapatan penjual perangkat lunak hingga milyaran dolar setahun. Namun, subyek etika komputer lebih dalam dari pada masalah privacy dan pembajakan. Komputer adalah peralatan sosial yang penuh daya, yang dapat membantu atau menggangu masyarakat dalam banyak cara. Semua tergantung pada cara penggunaannya dan pengolahan manfaat dalam memilah mana yang baik maupun yang buruk untuk digunakan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa perbedaan antara perilaku etika, moral dan hukum ?
2. Bagaimana peran etika dalam bisnis dan perlunya budaya etida dalam perusahaan ?
3. Bagaimana etika berhubungan dengan sistem informasi ?
4. Bagaimana sumbangan asosiasi-asosiasi profesional bagi etika sistem informasi dalam bentuk kode etik?
5. Bagaimana etika dalam spesialis informasi ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui perbedaan antara perilaku etika, moral dan hukum. 2. Untuk mengenali peran etika dalam bisnis dan perlunya budaya etida
dalam perusahaan.
3. Untuk memahami hubungan etika dengan sistem informasi.
4. Untuk menghargai sumbangan asosiasi-asosiasi profesional bagi etika sistem informasi dalam bentuk kode etik.
5. Untuk memahami perlunya etika bagi para spesialis informasi.
6. Untuk mengetahui apakah CIO dapat mencapai praktek yang etis dalam jasa informasi.
7. Untuk mengetahui setiap tindakan yang diambil sesuai dengan etika dan etis.
PEMBAHASAN 2.1 Moral, Etika dan Hukum
Moral adalah tradisi kepercayaan mengenai perilaku benar dan salah. Moral adalah institusi sisal dengan suatu sejarah dan daftar peraturan. Kita mulai mempelajari peraturan-peraturan dari perilaku moral sejak anak-anak. Selalu ucapkan “Terimakasih.” Saat kita bertumbuh dan matang secara fisik dan mental, kita mempelajari peraturan-peraturan yang masyarakat harapka untuk kita ikuti. Peraturan-peraturan tingkah laku ini adalah moral kita.
“Melakukan apa yang bear secara moral” merupakan landasan perilaku sosial kita. Etika. Tindakan kita juga diarahkan oleh etikaka (ethics) kata ethics berasal dari bahasa Yunani ethos, yang berarti karakter. Etika adalah suatu set kepercayaan, standar, atau pemikiran yang mengisi suatu individu, kelompok atau masyarakat. Semua individu betanggung jawab kepada masyarakat atas perilaku mereka. Masyarakat dapat berupa suatu kota, Negara, atau profesi. Masyarakat ertindak sebagai “otoritas yang lebih tinggi”, yang memaksakan harapannya pada kita.
Tidak seperti moral, etika dapat sangat berbeda dari suatu masyarakat ke masyarakat lain. Kita melihat pebedaan perbdaan ini dibidang computer dalam bentuk perangkat lunak bajakan – prangkat lunak yang digandakan secara illegal lalu digunkan atau dijual. Pada tahun 1990, diperkirakan bahwa pembajakan perangkat mengakibatkan penjual perangkat lunak AS kehilangan pendapatan tahunan lebih dari $40 miyar. Lotus development Corporation merasa kehilngan penjulalan $400 juta sethun di Taiwan saja. Statistik tang lebih baru sama dramatisnya. Pada tahun 1994 diperkirakan 35% perangkat lunak yang digunakan di amerika serikat telah dibajak, dan angka ini melonjak menjadi 92% di Jepang dan 99% di Thailand.
membantu menjelaskan perbedaan dalam praktek bisnis antara budaya Timur da Barat, seperti pembjakan perangkat lunak.
Hukum adalah perilaku formal yang dipaksakan oleh otoritas berdaulat, seperti pemerintah, pada rakyat atau pada warga negaranya. Hingga kini sangat sedikit hokum yang engatur penggunaan computer. Halini arena omputer merupakan penemuan bru- umurnya hanya sekitar empat puluh tahun- dan teknologinya berubah sangat cepat Selma periode tersebut. Sistem hukum sulit mengikutinya.
Lingkungan hokum penggunaan computer jauh lebih baik sekarang. Tetapi masih jauh dari ideal. Kasus pertama kejahatan computer terjadi pada tahun 1996, saat progamer suatu bank membuat progam yang tidak dapat menunjukan bahwa pengambilan dari rekeningnya telah melampaui saldo rekening tersebut. Ia dapat terus menulis cek walaupun tak ada lagi uang direkeningnya. Penipun ini terus berlangsung gingga computer terbut rusak, dan pemrosesan secara manual mengungkapkan saldo yang telah minus, progamer tersebut tidak dituntut melakukan kejahatan computer, karena peraturan hukumnya belum ada. Sebaliknya, ia dituntut membuat entry palsu dicatatan bank. Ia menerima hukuman yang ditangguhkan dan dua tahun percobaan.
Criminal computer lain dituntut berdasarkan UU federal sebaai pelaku penipuan surat dan pencurin milik pemerintah. Pada tahun 1984, Kongres AS manambah cangkeraman peraturan computer dengan menyetujui tiga UU federal yang khusus diterapkan pada kejahatan computer.
The Counterfeit Access Device and Computer Fraud anf Abouse Act menetapkan bahwa seseorang yang mendapat akses informasi yang berkaitan dengan pertahanan nasional dan hubungan luar negeri tanpa otoritas merupakan pelanggaran. UU ini juga menyatakan bahwa upaya mendapatkan akses tanpa otoritas ke computer yang dilindungi oleh Right to Financial Privacy Act atau Fair Credit Reporting Act, dan menyalahgunakan informasi yang terdapat dalam computer pemerintah federal sebagai suatu pelaggaran.
The Trademark Counterfeiting Act menetapkan sejumlah denda bagi orang atau organisasi yang memperdagangkan perangkat keraas atau perangkat lunak tiruan, yaitu yan mirip atau yang identik dengan yang terdaftar di US Patent and Trademark Office. Bagi individu, dendanya dapat mencapai $250.000 dan lima tahun penjara. Bagi perusahaan, dendanya dapat mencapai satu juta dolar.
Bertahun-tahun sebelumnya, pemerintah federal telah menetapkan The Electronic Communictions Privacy of 1968. Namun ini hanya mencakup UU komunikasi suara. Pada tahun 986 UU ini direvisi sehingga mencakup komunikasi digital, data dan video. UU tahun 1986 ini juga memilikibagian khusus mengenai electronic mail.
Denan cara demikian, pemerintah federal AS berangsu-angsur menetapkan suatu kerngka kerja hokum bagi penggunaan computer. Seperti halnya etika hokum computer dapat sangat berbeda dari satu Negara ke Negara lain.
2.1.1 Etika Dalam Bisnis di AS
Etika bisnis AS didasarkan pada tiga keyakinan dasar- etika protestan-etika persaingan bebas- dan survival of the fittest dalam pasar kompetitif.
Etika Protestan Benjamin Franklin dapat dianggap sebagai pemberi justifikasi etis atas efisiensi dan laba dengn perkataanya seperti “Tidur lebih awal dan bangun lebih pagi membuat seeorang sehat, makmur dan bijaksana.” Pandangan yang dikenal sebagai etika Protestan mendorong kerja keras untuk menghasilkan uang.
Etika Persaingan Bebas (free enterprise ethic) didasarkan pada teori para ahli ekonomi seperti Adam Smith, yang menganjurkan kapitalisme laissez-faire, atau kebebasan berusaha berfungsi tanpa campur tangan pemerintah. Teori menganggap bahwa tindakan pengusaha untuk mengejar kepentingan diri sendiri dapat diterima. Dasar teori ini adalah keyakinan bahwa mementingkan diri sendiri tidak merugikan masyarakat. Masyarakat akan memperoleh lebih banyak manfaat dari ekonomi berorientasi laba daripada jika tujuan utama bisnis adalah kebaikan social. Survival of the Fittest Dalam system persaingan bebas, tidak dapat dihindari bahwa sebagian perusahaan akan menjadi pemenang dan sebagian lagi akan kalah. “Survival of the Fittest” (yang terkuat yang bertahan) dapat diterima asalkan perusahaan bersaing secara wajar. Alasannya, persaingan bekerja sebgai proses seleksi untuk memangkas peruahaan-perusahaan yang member kontribusi paling sedikit pada kebaikan social.
memiliki cukup kebebasan. Masyarakat mengharapkan bisnis beroperasi secara etis sehinga tidak menyalahgunakan kebebasan tersebut.
2.1.2 Perlunya Budaya Etika
Manajemen tingkat puncak perlu menetapkan budaya kualitas yang menyeluruh di peusahaan. Budaya ini memperlihatkan bahwa manajemen bersungguh sunguh mengenai kualitas dan bersedia menyediakan semua dukungan yang diperlukan untuk malaksnakan progam-progam yang berkaitan. Etika juga memerlukan dukungan dan pengaturan serupa.
Dalam bisnis, banyak orang berpendapat bahwa suatu perusahaan mencerminkn kepribadian pemimpinnya. Suatu penelitian atas perusahaan perusahaan raksasa mndukung pendapat ini. Pengaruh Kolonel John Patterson pada National Cash Register, atau pengaruh Thomas J. Watson Sr. pada IBM Selma paruh pertama abad ini membentuk kepribadian perusahaan-perusahaan tersebut. Sekarang para CEO perusahaan-perusahaan sepeti Federal Express, Southwest Airlines< dan Wendy’s berpengaruh seemikian rupa pada organisasi mereka sehingga masyarakat cenderung memandang perusahaan tersebut sebagai CEO itu sendiri.
Menetapkan credo perusahaan
Menetapkan Progam
Etika
Komitmen pada pelangganKomitmen Kepada KaryawanKomitmen dari karyawan Security pacific
Komitmen dari karyawan kepada karyawanKomitmen pada masyarakatKomitmen kepada pemegang saham
Gambar 5.3 Contoh suatu Credo Perusahaan Sumber Patrick Murphy, “Creating Ethical Corporate Structures,” Sloan Management Review 30 (Winter 1989), 82 digunakan seijin penulis. Hubungan antara CEO dengan perusahaan merupakan dasar budaya
etika, jika perusahan harus etis, maka manajemn puncak harus etis dalam semua tindakan dan kata-katanya. Manajemen pe\uncak memimpin dengan memberi contoh. Perilaku ini adalah budaya etika.
2.2 Bagaimana Budaya Etika Diterapkan
Tugas manajemen puncak adalah memastikan bahwa konsep etikanya menyebar di seluruh organisasi, melalui semua tingkatan dan menyentuh semua pegawai. Para eksekutif mencapai penerapan ini melalui suatu metode tiga lapis, yaitu dalam bentuk corporate credo, program-program etik, dan kode etik khusus perusahaan . Gambar 5.2 menunjukkan lapisan-lapisan tersebut dan hubungannya. Corporate Credo adalah pernyataan ringkas mengenai nilai-nilai yang ditegakkan perusahaan. Tujuan credo ini adalah menginformasikan orang-orang dan organisasi-organisasi baik di dalam maupun di luar perusahaan mengenai nilai-nilai etis perusahaan. Gambar 5.3 menunjukkan suatu contoh corporate credo. Credo ini berasal dari Security Pacific Corporation, suatu bank yang berpusat di Los Angeles, dan terdiri dari enam komitmen tujuan. Manajemen Security Pacific menyadari bahwa bisnis mereka dibangun di atas komitmen , baik internal maupun eksternal. Komitmen internal mencakup (1) komitmen perusahaan pada karyawannya, (2) komitmen karyawan pada perusahaan, dan (3) komitmen karyawan pada karyawan lain. Komitmen eksternal mencakup komitmen perusahaan pada (1) pelanggan, (2) pemegang saham, dan (3) masyarakat.
corporate credo. Suatu contoh aktivitas adalah pertemuan orientasi yang dilaksanakan bagi pegawai baru. Selama pertemuan ini, subyek etika mendapat cukup perhatian. Sebagaian pertemuan menyertakan pesan dari CEO dalam bentuk video, yang memberitahukan pegawai baru bahwa mereka diharapkan menegakkan keyakinan etis perusahaan. Sebagian perusahaan bahkan meminta pegawai barunya untuk menandatangi pernyataan bahwa mereka telah menerima pengarahan demikian. Chemical Bank, bank terbesar keempat di Amerika Serikat telah mengikuti praktek ini selama tiga puluh tahun.
Contoh lain dari program etika adalah audit etika, seperti yang dipraktekkan oleh Dow Corning. Dalam audit etika, seorang auditor internal mengadakan pertemuan dengan seorang manajer selama beberapa jam untuk mempelajari bagaimana unit manajer tersebut melaksanakan corporate credo. Contohnya, auditor bertanya pada manajer penjualan, “Pernahkah terjadi kita kehilangan bisnis karena kita tidak memberikan hadiah pada petugas pembelian?”
Kode etik khusus perusahaan, banyak perusahaan telah merancang kode etik perusahaan mereka sendiri. Kadang-kadang kode ini diadaptasi dari kode etik industri tertentu.
Menempatkan Credo, Program, dan Kode Etik Perusahaan dalam Perspektif
Patrick Murphy, seorang professor pemasaran di Universitas of Notre Dame, yakin bahwa cara yang baik untuk menempatkan contoh-contoh budaya etika dalam berbagai prespektif.
2.2.1 Etika dan Jasa Informasi
kebijakan-kebijakan yang memastikan bahwa teknologi tersebut digunakan secara tepat. Namun ada satu hal yang sangat penting: bukan hanyaCIO sendiri yang bertanggung jawab atas etika komputer. Para manajer puncak lain juga bertanggung jawab. Keterlibatan seluruh perusahaan merupakan keharusan mutlak dalam dunia end-user computing saat ini, semua manajer di semua area bertanggung jawab atas penggunaan komputer yang etis di area mereka. Dan selain manajer, setiap pegawai bertanggung jawab atas aktivitas mereka yang berhubungan dengan komputer.
2.2.2 Alasan pentingnya Etika Komputer
James Moor, pengarang ”What Is Compuer Ethics?”, menyatakan ada tiga alasan utama minat masyarakat yang tinggi pada etika komputer. Ia menyebut alasan-alasan tersebut: kelenturan logika (logical malleability), faktor transformasi, dan faktor tak kasat mata (invisibility factors).
Kelenturan logika
Yang dimaksud dengan kelenturan logika (logical malleability) oleh Moor adalah kemampuan memprogram komputer untuk melakukan apa pun yang kita inginkan. Komputer bekerja tepat seperti yang diinstruksikan oleh programernya. Kadang-kadang orang-orang bisnis tidak menyadari fakta ini. Anda mungkin mengalami situasi suatu perusahaan membuat kekeliruan dan mengirimkan tagihan yang sebenarnya telah Anda bayar. Saat Anda mengajukan keluhan pada perusahaan tersebut, mungkin Anda diberi tahu, “Komputer yang membuatnya.” Sebagai seorang pakar dalam pemrosesan komputer bisnis, Anda tahu bahwa jawaban itu tidak masuk akal. Komputer hanya melakukan apa yang disuruh. Kelenturan logika inilah yang menakutkan masyarakat. Tetapi masyarakat sebenarnya tidak takut terhadap komputer. Sebaliknya masyarakat takut terhadap orang-orang yang memberi perintah di belakang komputer.
Alasan kepedulian pada etika komputer ini didasarkan pada fakta bahwa komputer dapat mengubah secara drastis cara kita melakukan sesuatu.
Faktor Tak Kasat Mata
Alasan ketiga minat masyarakat pada etika komputer adalah karena komputer dipandang sebagi kotak hitam. Semua operasi internal komputer tersembunyi dari pengelihatan. Operasi internal yang tidak nampak ini membuka peluang pada nilai-nilai pemrograman yang tidak terlihat, perhitungan rumit yang tidak terlihat dan penyalahgunaan yang tidak terlihat.
a) Nilai-nilai pemrograman yang tidak terlihat adalah perintah-perintah yang programer kodekan menjadi program yang mungkin dapat atau tidak menghasilkan pemrosesan yang diinginkan pemakai. Selama penulisan program, programer harus membuat serangkaian pertimbangan nilai seperti bagaimana program mencapai tujuannya. Ini bukan suatu tindakan jahat dari pihak programer, tetapi lebih merupakan kurangnya pemahaman.
b) Perhitungan rumit yang tak terlihat berbentuk program-program yang demikian rumit sehingga tidak dimengerti oleh pemakai. Program-program ini umumnya model matematika kompleks atau penerapan kecerdasan buatan.
c) Penyalahgunaan yang tidak terlihat meliputi tindakan yang sengaja melanggar batasan hukum dan etika.
Masyarakat karena itu sangat memperhatikan komputer – bagaimana komputer dapat diprogram untuk melakukan hampir segala sesuatu, bagimana komputer mengubah sebagian besar cara kita melakukan sesuatu, dan fakta bahwa yang dikerjakan komputer pada dasarnya tidak terlihat. Masyarakat mengharapkan bisnis diarahkan oleh etika komputer dan dengan demikian meredakan kekhawatiran tersebut.
Saat computer pertama kali diterapkan dalam bisnis pada pertengahan 1950an manajemen memutuskan bahwa penggunaan computer akan ditangani oleh para professional computer. Yaitu programmer, analisis system, dan operator yang memiliki pengetahuan dan keahlian khusus computer. Keputusan untuk penenpatan tanggung jawab ini sampai sekarang masih berlaku dan diserahkan oleh suatu segmen masyarakat yang relative kecil. Yaitu para profesianal yang terlibat dan pemakai yang tergabung dalam end user computing . Namun masyarakat memiliki hak-hak tertentu berkaitan dengan penggunaan computer, hak-hak ini dapat dipandang dari segi computer atau dari segi informasi yang dihasilkan dari penggunan computer. 2.3.1 Hak atas komputer
Deborah Johnson, professor pada rensselaer polytechnic institute, megatakan bahwa masyarakat memiliki hak atas computer, keahlian computer, spesialis computer dan pengambilan keputusan computer.
Hak atas Akses Computer Ben Shneiderman, professor university of mary land at college park, mengamati profesi computer setelah huru hara los angeles 1992 dan menemukan bahwa “aplikasi perangkat lunak dapat menjadi alat untuk memperbaiki pendidikan, memberikan pelatihan kaehlian, mengurangi buta huruf dewasa, memperbaiki organisasi-organisasi kemasyarakatan, mendukung wiraswasta dan banyak lagi.” Menyadari hal tersebut masyarakat berhak atas akses computer.
Hak atas Keahlian Computer pada awal kemunculan computer ada ketakutan di kalangan tertentu bahwa computer akan dikhawatirkan dapat menyebabkan pemutusan hubungan kerja missal, namun nyatanya itu tidak terjadi, karna tidak semua pekerjaan menggunakan koputer, tetapi banyak yang demikian. Dalam mempersiapkan pelajar sebagai angkatan kerja para pendidik sering menganggap bahwa pengetahuan tentang computer sebagai suatu kebutuhan.
harapan untuk dapat bekerja secara professional, karna itu kita harus memiliki akses ke para spesialis tersebut.
Hak atas Pengambilan Keputusan Komputer waktu masyarakat tidak banyak dalam berpartisipasi pengambilan keputusan mengenai bagaimana computer diterapkan , masyarakat memiliki hak tersebut, hal ini layak jika kmputer memiliki dampak buruk terhadap masyarakat. Hal ini sesuai dalam UU yang mengatur tentang computer.
Dalam pandangan Johnson tanggung jawab social atas penggunaan computer yang etis dapat dicapai dengan memenuhi hak-hak atas computer sabagai suatu peralatan.
2.3.2 Hak atas Informasi
Klasifikasi hak asasi manusia dalam area computer yang paling luas dipublikasikan adalah PAPA yang dibuat oleh O. Mason “mason, seorang professor di southern Methodist university, menciptakan akronim PAPA untuk menggambarkan empat hak asasi masyarakat dalam hal informasi. PAPA merupakan singkatan dari “prifacy, accuracy (akurasi), property (kepemilikan), dan assecibility (aksesibilatas).
Hak atas Privasi hakim pengadilan tinggi Louis Brandeis dikenal karna mengakui “ hak untuk dibiarkan menyendiri” mason menggap hak ini mengancam karna ada dua kekuatan. Yang pertama adalah hak meningkatnya kemampuan computer untuk digunakan pengintaian, dan yang kedua adalah meningkatnya hak kemampuaan nilai informasi untuk pengambilan keputusan. Menurut mason, para pengambil keputusan member nilai yang tinggi pada informsi sehingga mereka sering mengganggu privasi seseorang untuk mendapatkannya. Missal, pemerintah menempatkan pemantauan di WC umum untuk mengumpulkan statistic penggunaan untuk memperbaiki fasilitas.
tempur yang kemudian di tembak dan menewasknan 290 penumpang. Kekeliruan identitas tersebut disebabkan oleh kekeliruan perangkat lunak dalam system pengendalian kapal tempur tersebut.
Seperti contoh diatas keggalan system berbasis computer untuk mencapai tingkat akurasi yang diperlukan dapat menimbulkan biaya pada masyarakat yang diukur dengan uang, jasa bahkan nyawa.
Hak atas Kepemilikan disini kita berbicara tentang hak intelektual, umunya dalam bentuk program-program computer. Banyak pemakai yang mengambil program-program computer secara illegal, dan tidak sedikit yang menjualnya kembali untuk kepentingan tertentu, hingga tahun 1980an perangkat lunak tidak terlindungi oleh UU hak cipta atau paten. Namun sekarang kaduanya dapat digunakan untuk memberikan perlindungan. Namun para penjual berusaha menutup lubang-lubang dalam hokum melalui perjanjian lisensi yang diterima oleh para pelangan saat menggunakan perangkat lunak tersebut. Pelanggaran perangkat lunak tersebut dapat menyebabkan pelanggan dituntut di pengadilan,SAS Institute, misalnya, berhasil menuntu S & H computer system di pengadilan pada tahun 1985 karna melanggar perjanjian lisensi.
Hak atas Akses sebelum adanya database computer, banyak tersedia dokumen-dokumen tecetak atau micro film diperpustakaan untu masyarakat umum. Informasi tersebut berisi berita, dn berbagai hasil penelitian yang telah diubah menjadi database komersial yang kemudian sulit diakses untuk masyarakat umum.
2.3.3 Kontrak Sosial Jasa Informasi
1. Computer tidak akan digunakan secara sengaja untuk menggaggu privasi seseorang.
2. Setiap ukuran akan digunakan untuk membuat akurasi pemrosesan computer 3. Hak milik intelektual akan dilindungi
4. Computer akan dapat diakses masyarakat sehingga dapat terhindar dari ketidaktahuan informasi.
2.3.4 Kode-Kode Etik
Empat asosiasi professional computer AS telah membuat kode-kode etik sebagai panduan bagi anggotanya “empat asosiasi tersebt adalah ACM (association for computing machinary) DPMA (data proseccing manajement association) ICCP (institute for cirification of computer profesional) dan ITAA (information tegnologhi association of amerika)
Kode Prilaku Profesional ACM
Dibentuk tahun 1947 dan sekarang merupakan perkumpulan professional computer AS tertua. Dan memiliki 80.000 anggota seluruh dunia. Kode perilaku professional seluruh dunia ini terdiri dari lima canon :
1. Seorang peserta ACM selalu bertindak dengan integritas
2. Seorang anggota ACM harus selalu meningkatkan kemampuannya serta kemampuan dan prestis kompetensi
3. Seorang anggota ACM bertanggung jawab atas pekerjaannya
4. Seorang anggota ACM bertindak dengan tanggung jawab professional 5. Seorang anggota ACM harus menggunakan pengetahuan dan keahlian
khususnya untuk kesejahteraan umat manusia Kode Etik DPMA
Kode Etik ICCP
Kode etik ICCP menyatakan bahwa para anggotanya bertanggung jawab pada profesi, pemberi kerja, dan kliennya, kode ini dimasukkan pada code of conduct. Yang bersifat permanen, yang menangani maslah-masalah tentang tanggung jawab social dan pertentangan kepentingan. Kode etik ICCP juga mencakup code of good practice, yang diperbarui secara berkala, salah satu kode tersebut ICCP adalah satu-satunya kode etik yang mempunya sanksi.
Kode Etik ITAA
ITAA dalah asosiasi bagi organisasi organisasi yang memasarkan perangkat lunak dan jasa yang berkaitan dengan jasa computer. Kode ITAA terdiri dari prinsip-prinsip dasar yang mengatur penilaian. Komunikasi dan kualitas jasa klien. Perusahaan dan pegawai diharapkan menegakkan integritas professional industry computer.
Model SRI
Idealnya semua perlumpulan professional bergabung membuat satu kode etik. Kode etik tersebut harus membahas tanggung jawab setiap orang dalam profesi dalam hal etika penggunaan computer.
Ada sejumah kerangka kerja yang baik menjadi dasar suatu kode etik universal. Hak-hak computer yang dirumuskan Johnson atau PAPA yang dibuat mason yang berfungsi sebagai peangkat kerja juga, atau suatu kerangka yanfg dapat mengombinasikan sumbangan dari beberapa pakar etika.
Suatu kerangka kerja dasar yang baik yang mungkin merupakanan tempat terbaik untuk memulai, adalah model yang dikembangkan oleh SRI internasional bersamaan dengan aktivitas etikanya pada 1970an dan 1980an.
Model SRI ini unik dan tidak terbatas pada professional computer yang beroprasi dalam lingkungan bisnis tetapi luas jangkauannya.
TABEL 5.1
SUBYEK LINGKUNGAN
OBYEK
Computer mahasiswa , guru, ilmuwan, bisnis perusahaan instutisi” hak milik
Konsultan, analis, programmer, perusahaan pemerintah intelektual
Operator computer, wiraniaga perusahaan independen asset keuangan
Computer manajer
penggunaan jasa
a) Menggabungka PAPA dari mason peninjauan pada 4 obyekdalam model SRI mengungkapkan bahwa keempat obyek tersebut berpusat pada kepemilikan dan jasa. Uraian yang lebih rinci dari pada dimensi etika computer ini mungkin dibuat dengan menggabungkan PAPA dari mason. Gamba 5.6 menunjukan model SRI sebagai kubus, dengan PAPA sebagai dimensi obyek. Semua professional computer diringkas menjadi satu kategori para spesialis informasi. Dipandang dalam perspektif ini, satu kode etik harus mengatur tanggung jawab tiap subyek. Dalam tiap lingkungan. Untuk tiap obyek.
b) Menempatkan kode etik pada perspektif suatu kode etik hamya memberikan suatu pandangan umum yang dapat diadaptasi untuk beragam situasi. Bagaimana panduan tersebut diterapkan. Sebagian besar tergantung dari kebijaksanaan spesialis computer atau pemakai. Dalam buku ini. Focus kita adalah penggunaan computer dalam bisnis. Karena itu, subyek utama kita adalah spesialis informasi dan manajer mereka. Yaitu CIO. Seberapa jauh etika computer tercapai dalam perusahaan tergantung dalam keyakinan etis para spesialis informasi dan efektifitas program etika yang dapat diterapkan CIO.
2.4 Etika dan Spesialis Informasi
menggunakan skenario pertentangan etika, yang merupakan penggambaran tindakan-tindakan tertentu yang harus dievaluasi oleh subyek sebagai etis atau tidak etis. Skenario ini karenanya memberikan cara mengukur keyakinan etis subyek tersebut.
1. Penelitian SRI
Dua penelitian selama tahun 1970-an dan 1980-an memberikan sebagian besar data yang menggambarkan keyakinan etis dari para spesialis informasi yang bekerja. Penelitian pertama dibuat pada tahun 1977, disponsori SRI International dan terdiri dari suatu lokakarya etika ilmu dan teknologi komputer yang menggunakan skenario pertentangan etika. Sepuluh tahun kemudian , penelitian ini diulang untuk memasukkan teknologi baru dalam skenario yang telah diperbaharui.
Peserta Penelitian Peserta lokakarya tahun 1987 terdiri dari 27 orang dari industri, pemerintah dan akademia yang telah menunjukkan minat yang besar pada etika komputer. Karena pengalaman praktis mereka, para peserta ini dianggap sebagai spesialis informasi, walau mereka tidak dianggap mewakili semua spesialis informasi namun mereka adalah pakar.
Skenario Pertentangan Etika Lokakarya tahun 1987 menggunkan 54 skenario, yang dikelompokkan menjadi kategori sebagai berikut :
1. Standar profesional, kewajiban dan pertanggungjawaban. 2. Kepemilikan, pemberian atribut, pembajakan, peniruan, hak
cipta dan rahasia dagang.
3. Keyakinan atas informasi dan keleluasaan pribadi.
4. Praktek-praktek bisnis yang mencakup kontrak, perjanjian, dan pertentangan kepentingan.
5. Hubungan pemberi kerja dan karyawan.
Prinsip-prinsip ini, disiapkan untuk model SRI merupakan hasil utama lokakarya ini. Penelitian tahun 1987 karenanya memberikan tolok ukur etika untuk membandingkan keyakinan spesialis informasi dan mahasiswa sistem informasi. Bagaimana keyakinan seorang programmer atau seorang mahasiswa dibandingkan dengan keyakinan para pakar tersebut yang telah memikirkan masalah-masalah tersebut secara mendalam.
Tabel 5.2
Tanggapan Peserta Lokakarya atas Skenario
Kategori Jumlah Jawaban
Mahasiswa menggunakan jasa komputer dengan memanfaatkan kelemahan sistem
Tidak Etis 20
Bukan tidak etis 1
Tidak berkaitan dengan masalah etika
4
Pengolah jasa informasi menganjurkan untuk menerobos sistem komputer
Tidak Etis 9
Bukan tidak etis 7
Tidak berkaitan dengan masalah etika
9
Pengelola jasa informasi tidak memperbaiki kelemahan sistem
Tidak Etis 18
Bukan tidak etis 3
Tidak berkaitan dengan masalah etika
4
perilaku mahasiswa tersebut tidak etis dan empat menganggap bahwa tidak terdapat masalah etika didalamnya. Pendapat mengenai pengelola jasa informasi lebih beragam. Tindakan pengelola itu menganjurkan mahasiswa menerobos komputer dianggap tidak etis oleh sembilan orang. Tujuh menganggap bukan tidak etis, dan sembilan menganggap bukan masalah etika. Untuk tindakannya tidak memperbaiki kelemahan 18 menganggap pengelola itu bertindak tidak etis, tiga menganggap bukan tidak etis dan empat menganggap tidak ada masalah etika.
2. Penelitian Susan Athey atas Mahasiswa High-Tech
Pada tahun 1993 Susan Athey, seorang profesor sistem informasi komputer di Colorade State University melakukan percobaan yang membandingkan keyakinan etis 65 mahasiswa IS dan ilmu komputer dengan keyakinan etis para pakar SRI. Athey menggunakan tujuh dari skenario SRI dan menemukan bahwa para mahasiswa berbeda pendapat dengan sepuluh keputusan para pakar. Sementara para pakar menganggap suatu skenario sebagai penggambaran perilaku tidak etis, mahasiswa tidak menganggapnya tidak etis. Profesor Athey berhipotesis bahwa perbedaan tersebut disebabkan oleh pengalaman yang lebih banyak dari parapakr, dikombinasikan dengan fakta bahwa para mahasiswa banyak melihat perilaku tidak etis setiap hari dalam bentuk penyalahgunaan waktu komputer, pembajakan perangkat lunak dan mungkin menerimanya sebagai sesuatu yang wajar.
3. Penelitian Paradice atas Mahasiswa IS dan Non-IS
tanggung jwab profesional, namun lebih toleran mengenai penggandaan perangkat lunak. Paradice mengartikan hasil itu bahwa para mahasiswa SIM memerlukan panduan etika yang spesifik saat mereka memulai karir mereka. Ia menyiapkan suatu daftar implikasi manajerial SIM untuk masing-masing dari dua belas skenario, dikelompokkan menurut kewajiban, kesempatan dan maksud etika.
Tabel 5.3
Implikasi Manajerial dari Penelitian Paradice Kewajiban Etika
Personil SIM tingkat awal umumnya bertanggung jawab.
Tanggung jawab staf SIM mungkin perlu dipisahkan secara jelas dari area fungsional lain.
Kontribusi personil SIM harus diakui secara eksplisit, personil SIM mungkin menganggap rendah pekerjaan.
Personil SIM tingkat awal mungkin merasakan konflik mengenai jumlah pekerjaan yang harus dikerjakan, perlu dibuat kebijakan yang menjabarkan tingkat jasa yang dapat diberikan.
Kesempatan Etika
Lubang-lubang sistem mungkindapat diterima, tetapi eksploitasi atasnya tidak dapat diterima. Kebijakan untuk melaporkan dan memperbaiki masalah keamanan harus jelas.
Manajemen SIM mungkin perlu menekankan pada stafnya bahwa menyimpan perangkat lunak yang tidak sah adalah sebuah kejahatan.
Semua staf tingkat awal sepenuhnya menolak tiap perilaku membangkang.
HUKUM Maksud Etika
Manajemen SIM perlu menjelaskan kebijakan mengenai penggunaan fasilitas perusahaan untuk kepentingan pribadi.
Personil SIM tingkat awal mungkin menggunakan sumber daya perusahaan untuk keuntungan pribadi.
Personil SIM tingkat awal mungkin tidak menyadari implikasi dari penggandaan perangkat lunak secara tidak sah, perusahaan harus menjelaskan posisinya.
Perilaku merusak tidak dapat diterima, perilaku mengganggu masih diperdebatkan, kebijakan perusahaan harus menjernihkannya.
4. Menempatkan Keyakinan Etis Spesialis Informasi dalam Perspektif
Penelitian atas keyakinan etis mahasiswa komputer lebih banyak dibuat daripada penelitian atas spesialis informasi yang bekerja. Walau tidak ideal, pola penelitian ini masih berguna. Seperti ditunjukkan oleh Paradice, mahasiswa tingkat akhir hanya selangkah lagi untuk menjadi profesional yang bekerja. Penelitian atas mahasiswa menunjukkan perlunya pelatihan etika saat mereka memulai karir IS mereka. Pelatihan ini dapat menjadi bagian dari budaya etika perusahaan yang telah dijelaskan sebelumnya.
2.4.1 Etika dan CIO
Perilaku CIO dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Faktor faktor tersebut ada dalam hierarki seperti yang tampak dalam gmbar 5.8. yang memberikan pengaruh terbesar adalah hukum diikuti oeh budaya etika perusahaan dan kode etik profrsional. Di bawah ini terdapat tekanan sosial yang dapat berasal dari orang atau kelompok diluar perusahaan dan tekanan pribadi yang mungkin berasal dari dalam perusahaan.
KANTOR CIO BUDAYA ETIKA PERUSAHAAN
TEKA NAN
SOSI AL
TE KA
NA N P
RIB ADI
1. Persepsi Etika CIO
Seberapa baik etika CIO bertahan pada pengaruh pengaruh ini ? suatu indikasi yang baik datang dari penelitian yang dibuat oleh dua profesor University of Missisipi, Scoot J. Vitell dan Donald L. Davis. Mereka mengumpulkan data dari 61 profesional SIM , mulai dari programmer hingga manajer SIM. Data penelitian ini menggambarkan bagaimana etika mempengaruhi kinerja manajer, sesuai persepsi manajer dan bawahannya.
Memanfaatkan Kesempatan untuk Bertindak Tidak Etis Tabel 8.4 menunjukkan bahwa di sejumlah perusahaan terdapat kesempatan bagi CIO untuk berperilaku tidak etis. Namun ada perasaan kuat bahwa CIO tidak bertindak tidak etis ini berarti bahwa banyak CIO bertindak tidak etis bahkan saat kesempatan itu ada.
Tabel 5.4
CIO Biasanya Tidak Bertindak Tidak Etis Walau Terdapat Kesempatan
Setuju (%) Terdapat banyak peluang bagi para
manajer SIM di perusahaan saya untuk terlibat dalam perilaku tidak etis.
47.5 37.7
Para manajer SIM di perusahaan saya terlibat dalam perilaku yang saya anggap tidak etis.
19.7 80.3
Etika Membuahkan Sukses Tabel 8.5 menghubungkan etika dengan keberhasilan. Tabel ini menunjukkan bahwa para CIO yang berhasil berperilaku etis dan untuk sukses seseorang tidak perlu mengkompromikan etikanya. Tabel ini juga menunjukkan bahwa manajer yang berhasil tidak menyembunyikan informasi, menjelekkan saingan, mencari kambing hitam, atau mengambil pujian yang bukan haknya. Jawaban-jawaban ini menunjukkan bahwa CIO dan manajer lain menciptakan budaya etika.
Tabel 5.5
Etika dan Keberhasilan
Pertanyaan Setuju (%) Tidak
Setuju (%) Manajer SIM yang berhasil dalam
perusahaan saya umumnya lebih etis daripada manajer yang tidak berhasil.
73.8 13.1
Agar berhasil dalam perusahaan saya, etika sering perlu dikompromikan.
Manajer yang berhasil dalam perusahaan saya menyimpan informasi yang tidak baik untuk kepentingan sendiri.
21.3 50.8
Manajer yang berhasil dalam
perusahaan saya membuat saingannya tampak buruk di mata orang-orang penting di perusahaan saya.
23.0 59.0
Manajer yang berhasil dalam perusahaan saya mencari kambing hitam saat ia merasa mungkin dikaitkan dengan kegagalan.
23.0 67.2
Manajer yang berhasil di perusahaan saya mengambil pujian untuk ide dan hasil orang lain.
16.4 75.4
Perusahaan dan Manajer Memiliki Tanggung Jawab Sosial Tabel 5.6 menunjukkan bahwa manajer sering harus mendahulukan tanggung jawab mereka pada masyarakat daripada tanggung jawab mereka pada perusahaan, dan baik perusahaan maupun manajer memiliki tanggung jawab sosial yang melebihi tanggung jawab pada pemegang saham.
Tabel 5.6
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Pertanyaan Setuju (%) Tidak
Setuju (%) Manajer yang bertanggung jawab
sosial kadang kadang harus
menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan perusahaan.
Kenyataan bahwa perusahaan
memiliki kekuasaan ekonomis dalam masyarakat kita berarti bahwa
perusahaan tersebut memiliki tanggung jawab sosial melampaui kepentingan pemilik saham.
96.7 3.3
Selama perusahaan menciptakan penghasilan yang dapat diterima pemegang saham, manajer memiliki tanggung jawab sosial melampaui kepentingan pemilik saham.
70.5 16.4
Manajer Mendukung Keyakinan Etika Mereka dengan Tindakan Para spesialis informasi yakin bahwa manajemen puncak pada perusahaan mereka telah menyatakan tidak dapat mentolerir perilaku tidak etis dan akan mengambil tindakan terhadap yang melanggar standar tersebut. Dengan menggunakan penelitian Vittell Davis sebagai dasar, kita dapat menyimpulkan bahwa terdapat etika yang mendukung di banyak perusahaan dan CIOnya tampak teladan yang baik.
2. Rencana Tindakan untuk Mencapai Operasi Komputer yang Etis
Donn Parker dari SRI International menyarankan agar CIO mengikuti rencana 10 langkah dalam mengelompokkan perilaku dan menekankan standar etika dalam perusahaan.
2. Tetapkan aturan prosedur yang berkaitan dengan masalah-masalah seperti penggunaan jasa komputer untuk pribadi dan hak milik atas program dan data komputer.
3. Jelaskan sanksi yang akan diambil terhadap pelanggar seperti teguran, penghentian dan tuntutan.
4. Kenali perilaku etis.
5. Fokuskan perhatian pada etika melalui program-program seperti pelatihan dan bacaan yang disyaratkan.
6. Promosikan UU kejahatan komputer dengan memberikan informasi pada karyawan.
7. Simpan suatu catatan formal yang menetapkan pertanggungjawaban tiap spesialis informasi untuk semua tindakannya dan kurangi godaan untuk melanggar dengan program-program seperti audit etika.
8. Dorong penggunaan program-program rehabilitasi yang memperlakukan pelanggar etika dengan cara yang sama seperti perusahaan memperdulikan pemulihan bagi alkoholik atau penyalah guna obat bius.
9. Dorong partisipasi dalam perkumpulan profesional. 10. Berikan contoh.
3. Standar Perilaku Jasa Informasi
2.4.2 Panduan Etika Pribadi
John Mc,Leod ketua komite etika dari Society for Computer Simulationdan anggota lokakarya SRI 1987 , membuat suatu daftar pertanyaan yang membantu menentukan apakah tindakan yang kita ambil etis. Anda dapat menggunakan daftar ini sebagai panduan. Supaya tindakan anda etis, jawaban anda seharusnya “Ya” . untuk setiap penjelasan tambahan pada pertanyaan, anda seharusnya menjawab “Tidak”.
Tujuh Pertanyaan yang Menentukan Etika Suatu Tindakan 1. Apakah itu terhormat ?
Apakah anda ingin menyembunyikan tindakan itu dari seseorang ? 2. Apakah itu jujur ?
Apakah itu melanggar suatu perjanjian, nyata atau tersirat, atau menghianati suatu kepercayaan ?
3. Apakah itu menghindari kemungkinan pertentangan kepentingan?
Adakah pertimbangan-pertimbangan lain yang mungkin membuat bias penilaian anda?
4. Apakah itu berada dalam area kemapuan anda?
Mungkinkah bahwa usaha terbaik anda tidak memadai ? 5. Apakah itu adil ?
Apakah itu merugikan kepentingan sah pihak-pihak lain ? 6. Apakah itu dipertimbangkan ?
Akankah itu melanggar kerahasiaan atau privacy, atau mungkin merugikan seseorang atau sesuatu ?
7. Apakah itu konservatif ?
2.4 Studi Kasus
TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Tjahjo Kumolo, mengeluarkan pernyataan mengejutkan soal Gubernur Joko Widodo pekan ini. Dia mengatakan, ditemukan tiga alat penyadap di dalam rumah orang nomor satu di Jakarta tersbut. Tiga alat sadap yang ditemukan itu berada di kamar tidur, ruang makan, dan ruang tamu. (baca: Penemuan Alat Sadap di Rumah Jokowi 3 Bulan Lalu)
sekitar bulan Agustus 2013 silam. (Baca: Menjelang Pemilu, Rumah Dinas Jokowi Disadap)
Berikut kronologi isu penyadapan terhadap Jokowi:
- 20 Februari 2014, Sekjen PDIP, Tjahjo Kumolo membeberkan penemuan alat sadap itu.
- Jokowi sudah merasa disadap sejak Agustus 2013 lalu. Tapi dia tidak mengambil tindakan apapun terkait masalah itu.(baca: Jokowi Merasa Disadap Sejak Agustus 2013)
- Pada Desember 2013, tim dari Pemprov DKI memutuskan untuk
melakukan pemeriksaan di rumah dinas Jokowi. Hasilnya, ditemukan tiga alat sadap yang berada di kamar tidur, ruang makan, dan ruang tamu. (baca: Siapa yang Menyadap Jokowi? )
- Jokowi melaporkan penyadapan itu kepada PDIP. Tim internal partai melakukan pemeriksaan, dan menyimpulkan pelaku ada yang merupakan orang Indonesia, dan ada juga yang berstatua WNA. Namun mereka memutuskan tidak melaporkan hal itu ke polisi.
- Jokowi meningkatkan pengamanan terhadap dirinya. Pengawalnya ditambah dari dua orang menjadi empat orang.
- Lembaga Sandi Negara digandeng untuk mengamankan dokumen-dokumen penting yang ada di Balai Kota.(baca: Penyadapan, Jokowi Tingkatkan Pengamanan )
- Heru Budi Hartono, mantan petinggi Biro Kepala Daerah dan Kerjasama Luar Negeri, menyatakan belum tahu sejak kapan alat sadap itu dipasang. Bisa saja alat itu sudah ada sejak era Fauzi Bowo.(baca: Penyadapan Rumah Jokowi Bisa Jadi Sejak Zaman Foke )
BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan
khusus dirancang untuk menuntut kejahatan komputer. Sekarang keadaannya tidak demikian, tetapi perundang-undangan komputer masih bersifat tambal sulam. Sebagian besar UU ditujukan pada pemerintah federal, tetapi UU tersebut relatif mudah dilewati. Organisasi bisnis umumnya tidak dilindungi oleh UU komputer dan hanya bergantung pada etika mereka sendiri dan lingkungan sekitar mereka.Para eksekutif menekankan budaya etis pada organisasi mereka dalam metode 3 lapis. Pertama, mereka menetapkan credo etika, kemudian mereka membuat program-program etika, dan akhirnya mereka menyesuaikan kode etik untuk perusahaan mereka sendiri. Etika komputer mengharuskan CIO untuk waspada pada etika penggunaan komputer dan menempatkan kebijakan yang memastikan kepatuhan pada budaya etika. Manajer-manajer lain dan semua pegawai yang menggunakan komputer atau yang terpengaruhi oleh komputer turut bergabung dengan CIO dalam tanggung jawab ini. Masyarakat mementingkan etika komputer karena 3 alasan dasar. Pertama, kelenturan logika komputer menyebabkan komputer dapat melakukan apa saja yang diprogramkan. Kedua, komputer mengubah carahidup dan kerja kita. Ketiga, proses komputer tersembunyi dari penglihatan karena nilai-nilai pemrograman yang tidak terlihat, perhitungan kompleks yang tidak terlihat dan penyalahgunaan yang tidak terlihat.
Masyarakat memiliki hak tertentu berkaitan dengan komputer. Masyarakat memiliki hak atas akses komputer, hak atas memperoleh keahlian komputer, hak untuk mengunakan spesialis komputer, hak auntuk mempengaruhi pengambilan keputusan komputer. Hak-hak sosial dapatpula dilihat dari segi informasi. Hak atas informasi tersebut
dinyatakan dalam akronim PAPA
menggunakan outputnya atau dipengaruhi olehnya. Empat perkumpulan AS telah membuat kode etik. Walau kode etik tersebut merupakan suatu langkah ke arah yang benar, masih perlu banyak perbaikan. Misalnya, kode-kode tersebut tidak menguraikan prioritas tanggung jawab. Juga diperlukan suatu kode menyeluruh yang mencakup semua subyek, dalam semua lingkungan, mengenai semua objek. Suatu kerangka kerja untuk kode seperti itu disediakan oleh model SRI yang dimodifikasi untuk menyatukan klasifikasi hak-hak sosial PAPA.
Cukup mengejutkan bahwa hanya ada sedikit penelitian yang bertujuan memahami keyakinan etika dari para spesialis informasi yang bekerja. Sebaliknya, sebagian besar perhatian diarahkan pada pakar dan mahasiswa. Penelitian ini menunjukkan bahwa etika mahasiswa SIM kurang dibandingkan dengan para pakar, tetapi lebih baik daripadamahasiswa di area bisnis lain. Namun, mahasiswa SIM memerlukan pengarahan etika khusus saat bekerja.
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
1. Mc. Leod. Raymond.2008.Sistem Informasi Manajemen.Jakarta:Salemba Empat
2. McLeod, Raymond dan George Schell.2004.Sistem Informasi Manajemen.Jakarta.Indeks
3. http://www.tempo.co/read/news/2014/02/22/064556517/Kronologi-Kasus-Penyadapan-Jokowi (sabtu, 22 februari 2014 | 09:09 wib)