Islamic State In Iraq and Syria adalah suatu gerakan yang menyerukan agar umat Islam diseluruh dunia untuk kembali bersatu dan membangun kembali pemerintahan khalifah seperti yang dulu ada pada masa Rasulullah SAW. Namun mereka melakukan segala bentuk kekerasan yang semuanya hampir merujuk pada bentuk aksi terorisme.1
Islamic State In Iraq and Syria berdiri pada tahun 2013 di Suriah dan Irak, Organisasi ini dipimpin oleh Abu Bakar al-Baghdadi. Perjalanan kelompok ini dari sebuah organisasi yang bernama Tanzhimu ad-Daulah al-Islamiyah fi al-Iraq wa asy-Syam yang disingkat Da’isy, lalu berubah menjadi ad-Daudlah al-Islamiyah fi al-Iraq wa asy-Syam atau negara Islam di Irak dan Suriah.2
Asal mula terbentuknya Islamic State In Iraq and Syria berasal dari Invansi Amerika Serikat kepada Irak ditahun 2003. Setelah pendudukan Amerika Serikat di Irak membuat negara tersebut lumpuh perekonomiannya dan terjadi kekosongan kekuasaan karena Saddam Hussein ditangkap. Sejak itu kaum mayoritas Syiah langsung mengambil alih kekuasaan dan meresepsi golongan
Sunni, tentu saja kaum Sunni tidak tinggal diam, pemberontakan Sunni mulai muncul. Kelompok seperti Al-Qaeda masuk ke Irak dan kelompok-kelompok lokal pemberontak yang mayoritas Sunni bertempur melawan tentara Amerika Serikat. Dalam perlawannya kepada Amerika Serikat kelompok ini bernaung
1 Mas Nazar, “Apasih Yang Dimaksud Isis Itu?”, melalui http://www.makintau.com. Diakses Jumat, 23 Maret 2018, Pukul 03.41 wib.
2 Ikhwanul Kiram Mashuri. 2014. ISIS JIHAD ATAU PETUALANG. Republik Penerbit: Jakarta.
dalam satu Paguyuban besar yang dipimpin oleh Abu Muzhab Zarkawi dan setelah itu dipimpin oleh Abu Bakar al-Baghdadi.3
Islamic State In Iraq and Syria di Indonesia mendeklarasikan Khilafah Islamiyah pada 29 Juni 2014. Pada tanggal 6 Juni 2014 ratusan orang dengan bendera FAKSI (Forum Aktivis Syariat Islam) menyatakan bai’at kepada kekhalifahan Isis.4
Berbagai kalangan di Indonesia, Pemerintah, Majelis Ulama Indonesia, Nadhatul Ulama, Muhammadiyah, dan organisasi kemasyarakatan Islam lainnya ramai-ramai menolak Islamic State In Iraq and Syria dan kekhalifahan Abu Bakar al-Baghdadi. Pemerintah Indonesia melalui Menko Polhukam Djoko Suyanto menilai ISIS bukanlah masalah agama, tapi terkait dengan ideologi atau keyakinan yang dianggap bertentangan dengan ideologi Pancasila. Atas dasar itu, kata Djoko, pemerintah dan neraga Indonesia menolak dan tidak mengizinkan paham ISIS berkembang di Indonesia.5
Keputusan pemerintah ini diambil dalam rapat kabinet yang dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di kantor Kepresidenan awal Agustus 2014 lalu. Menurut Menko Polhukam, setiap upaya pengembangan paham ISIS dan
Islam State harus dicegah, dan Indonesia tidak boleh menjadi tempat persemaian paham kelompok radikal tersebut.6
Tanggal 18 Oktober 2002 telah mulai berlaku Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang dimuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia
3Analisa, ”Akar Sejarah Terbentuknya Isis dan Al-qaeda”, melalui http://arrahmahnews.com, diakses Senin, 5 Maret 2018, Pukul 12.07 wib.
4 Saefudin Zuhri. 2017. Deklarasi Terorisme. Jakarta: Daulat Press, halaman 72. 5 Ikhwanul Kiram Mashuri. Op. Cit., halaman 97.
Tahun 2002 Nomor 106. Peraturan Perundang-undangan ini dibuat dalam bentuk Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang, karena adanya kebutuhan yang sangat mendesak untuk mengatur usaha pemberantasan tindak pidana terorsime, yaitu bahwa Peraturan Perundang-undangan yang berlaku pada saat itu belum secara komprehensif dan memadai untuk memberantas tindak pidana terorisme.7
Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Nommor 1 Tahun 2002 menjadi Undang-Undang selanjutnya disebut dengan Undang-Undang-Undang-Undang Tindak Pidana Terorisme, mendefinisikan bahwa tindak pidana terorisme adalah penggunaan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang yang secara luas atau menimbulkan korban yang bersifat massal dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek-objek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas Internasional.8
Tindak pidana terorisme merupakan tindak pidana khusus yang telah memiliki Undang-Undang sendiri yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Namun pada dasarnya hukum acara yang berlaku dalam penanganan tindak pidana terorisme tetap berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undnag Tindak Pidana Terorisme.9 Pembentukan
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana
7 R. Wiyono. 2014. Pembahasan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Jakarta: Sinar Grafika, halaman 1.
8 Ibid., halaman 2.
Terorisme di Indonesia merupakan kebijakan dan langkah antisipatif yang bersifat proaktif yang dilandaskan kepada kehati-hatian dan bersifat jangka panjang.10
Menetapkan seseorang sebagai tersangka pada dasarnya pihak kepolisian hanya menggunakan bukti permulaan dengan digandeng asas presumpiton of guilt. Bukti permulaan yang dimaksud dalam Pasal 1 angka 14 KUHAP tidak hanya sebatas alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 184 KUHAP, tetapi juga dapat meliputi barang bukti dalam konteks hukum pembuktian universal dikenal selaku physical evidence atau real evidence. Untuk menakar bukti permulaan tidak dapat terlepas dari Pasal yang akan disangkakan kepada tersangka. Pada hakikatnya Pasal yang dijeratkan berisi rumusan delik yang dalam konteks hukum acara pidana berfungsi sebagai unjuk bukti.11
Adanya minimal dua alat bukti maka harus disesuaikan dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang mana tidak lagi asal tangkap, baru selanjutkan dipikirkan beban pembuktiannya. Cara yang digunakan oleh penyidik berdasarkan KUHAP yang diimbangi dengan menugaskan penyelidik yang cermat dengan teknis investigasi yang berpengalaman supaya mampu mengumpulkan alat bukti yang sah. Ketika adanya dua alat bukti yang sah baru dilakukan penetapan tersangka dilanjutkan pemeriksaan penyidik ataupun penangkapan dan penahanan terhadap tersangka.12
Berkaitan dengan alat bukti yang sah, KUHAP mengatur secara limitatif alat-alat bukti yang sah, antara lain: Keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa. Khusus dalam Undang-Undang Terorisme 10 Anonym, “Quo Vadis Hukum dan Ham Terhadap Tersangka Tindak Pidana Terorisme”, melalui http://satutubuh.wordpress.com, diakses Jumat, 23 Maret 2018, Pukul 03.23 wib.
11 Rauf Alauddin, “Penetapan Tersangka”, melalui http://www.academia.edu, diakses Rabu, 22 Maret 2018, Pukul 10.23 Wib.
dikenal pula alat bukti sah lainnya selain yang diatur dalam KUHAP. Salah satu kekhususan dalam penanganan tindak pidana terorisme adalah adanya laporan intelijen yang dapat dijadikan sebagai alat bukti permulaan yang cukup. Prosesnya disebut hearing, dimana untuk menentukan laporan intelijen dapat dijadikan alat bukti permulaan yang cukup adlaah dengan melibatkan pihak pengadilan untuk menetapkannya sebagai alat bukti permulaan yang cukup.13
Penetapan tersangka dalam penyidikan tindak pidana terosisme terhadap anggota Islamic State In Iraq and Syria di Labuhanbatu yang dilakukan oleh Penyidik Ditreskrimum Kepolisian Daerah Sumatera Utara dengan menggunakan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Tindak Pidana Terorisme. Penetapan tersangka hanya mengacu kepada bukti petunjuk berupa buku-buku, bendera ISIS, keterangan saksi dan keterangan terdakwa.14 Tanpa adanya ancaman
Teror sebagaimana mengenai unsur-unsur tindak pidana terorisme yang terdapat di dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Tindak Pidana Terorisme.
Berdasarkan uraian di atas maka disusun Skripsi ini dengan judul
“Penetapan Tersangka Dalam Penyidikan Tindak Pidana
Terorisme Terhadap Anggota Islamic State In Iraq and
Syria (ISIS) (Studi Kasus Di Ditreskrimum Kepolisian
Sumatera Utara)” B. Rumusan Masalah
13 Erwin Asmadi. 2013. Pembuktian Tindak Pidana Terorisme. Jakarta: PT. Sofmedia, halaman 74.
Masalah yang dirumuskan berdasarkan uraian di atas dapat ditarik permasalahan yang akan menjadi batasan pembahasan dari penelitian, adapun rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini antara lain:
a. Bagaimana prosedur penetapan tersangka dalam penyidikan tindak pidana terorisme terhadap Anggota Islamic State In Iraq and Syria?
b. Bagaimana hambatan penetapan tersangka dalam penyidikan tindak pidana terorisme terhadap Anggota Islamic State In Iraq and Syria?
c. Bagaimana upaya mengatasi hambatan penetapan tersangka dalam penyidikan tindak pidana terorisme terhadap Anggota Islamic State In Iraq and Syria?
C. Faedah Penelitian
Faedah penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teroritis maupun praktis, manfaat yang diperoleh dari penelitian adalah sebagai berikut:
1. Secara teoritis yaitu untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan dalam bidang hukum tindak pidana terorisme terkhususnya penetapan tersangka dalam penyidikan tindak pidana terorisme terhadap anggota Islamic State In Iraq and Syria.
2. Secara praktik sebagai sumbangan pemikiran bagi negara, bangsa dan masyarakat agar terhindar dari jaringan terorisme terkhusus Islamic State In Iraq and Syria.
Berdasarkan pokok-pokok permasalahan tersebut di atas, penelitian ini dilakukan bertujuan untuk:
1. Untuk mengetahui prosedur kepolisian dalam penetapan tersangka dalam penyidikan tindak pidana terosisme terhadap anggota Islamic State In Iraq and Syria.
2. Untuk mengetahui hambatan kepolisian dalam penetapan tersangka dalam penyidikan tindak pidana terorisme terhadap anggota Islamic State In Iraq and Syria.
3. Untuk mengetahui upaya kepolisian dalam mengatasi kendala penetapan tersangka dalam penyidikan tindak pidana terosisme terhadap anggota Islamic State In Iraq and Syria.
E. Metode Penelitian
Agar mendapatkan hasil yang maksimal maka metode yang dipergunakan penelitian ini terdiri dari:
1. Sifat Penelitian
Sifat penelitian yang digunakan adalah deskritip analitis yang menggunakan jenis penelitian yuridis empiris. Melalui penelitian deskriptip, peneliti berusaha mendeskripsikan peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatian tanpa memberikan perlakuan khusus terhadap peristiwa tersebut.
2. Sumber Data
Penelitian ini diperoleh dari data primer yaitu melakukan penelitian di lapangan, yakni dengan mengumpulkan data yang berkaitan dengan objek materi penelitian yang meliputi:
b. Bahan hukum sekunder, yaitu data yang diperoleh melalui literatur, artikel, liputan, serta peraturan perundang-undangan yang ada kaitannya dengan penelitian ini.
c. Bahan hukum tertier, yakni bahan-bahan yang memberi petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, berupa kamus, ensiklopedia dan sebagainya.
3. Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah melakukan wawancara dengan pihak Kepolisian yakni penyidik Ditreskrimum di Kepolisian Daerah Sumatera Utara yang terkait dan menelaah peraturan perundang-undangan.
4. Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan cara kualitatif yakni dengan menganalisa data berdasarkan kualitasnya lalu dideskripsikan dengan menggunakan kata-kata sehingga diperoleh bahasan atau paparan dalam bentuk kalimat yang sistematis dan dapat dimengerti, kemudian ditarik kesimpulan.
F. Definisi Operasional
definisi-definisi/konsep-konsep khusus yang akan diteliti.15 Sesuai dengan judul penelitian yang diajukan yaitu “Penetapan Tersangka Dalam Penyidikan Tindak Pidana Terorisme Terhadap Anggota
Islamic State In Iraq and Syria”, maka dapat diterangkan
definisi operasional penelitian yaitu:
1. Penetapan adalah sebuah proses, cara, perbuatan menetapkan; penentuan;
pengangkatan (jabatan dan sebagainya) pelaksanaan (janji, kewajiban, dan
sebagainya). Dalam istilah hukum, penetapan adalah tindakan sepihak
menentukan kaidah hukum konkret yang berlaku khusus.16
2. Tersangka adalah seseorang yang karena perbuatannya atau keadaanya, berdasarkan bukti permulaan patut diduga sebagai pelaku tindak pidana.17 3. Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal
dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.
4. Tindak Pidana Terorisme adalah tindakan yang menggunakan kekerasan atau ancaman keras yang berlatar belakang politik atau kekuasaaan dalam suatu pemerintahan negara.
5. Islamic State In Iraq and Syria adalah sekelompok gerilyawan orang Islam yang berasal dari negara Irak dan Suriah.18
15 Ida Hanifah, dkk. 2014. Pedoman Penulisan Skripsi. Medan: Fakultas Hukum, halaman 5.
16 Anonym, ”Arti Kata Penetapan Menurut KBBI”, melalui www.kbbi.com, diakses Senin, 18 Desember 2017, Pukul 00.29 wib.
17 M.Karjadi. 1998. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.Bogor: Politeia. halaman 18.
A. TINDAK PIDANA
1. Pengertian Tindak Pidana
Pengertian tindak pidana dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dikenal dengan istilah Strafbaarfeit, secara harfiah Strabaar feit itu dapat diterjemahkan sebagai suatu kenyataan yang dapat dihukum yang sudah barang tentu tidak tepat, oleh karena kelak akan kita ketahui bahwa yang dapat dihukum itu sebenarnya adalah manusia sebagai pribadi dan bukan kenyataan perbuatan ataupun tindakan.19
Pompe, dengan merumuskan bahwa strafbaarfeit adalah tidak lain dari pada suatu tindakan yang menurut sesuatu rumusan Undang-Undang telah dinyatakan sebagai tindak Pidana.20
Pompe, lebih lanjut memberikan definisi perbuatan pidana menurut hukum positif, sebagai berikut:21 “Perbuatan pidana didefinisikan sebagai pelanggaran
norma yang diadakan karena pelanggar bersalah dan harus dihukum untuk menegakan aturan hukum dan menyelamatkan kesejahteraan umum. Perbuatan pidana adalah suatu kelakuan dengan tiga hal sebagai suatu kesatuan yaitu melawan hukum, kesalahan yang dapat dicela dan dapat dipidana”.
Sifat-sifat seperti dimaksud di atas perlu dimiliki setiap strabaafeit oleh karena secara teoritis setiap pelanggaran norma atau setiap normo vertreding itu harus merupakan suatu perilaku atau gedraging yang telah dengan sengaja
19 Amir Ilyas. 2012. Azas-Azas Hukum Pidana. Yogyakarta: Rangkang Education Yogyakarta dan PuKAP-Indonesia, halaman 18.
20 Adami Chazawi. 2014. Pelajaran Hukum Pidana I. Jakarta: Raja Grafindo Persada, halaman 72.
ataupun telah tidak sengaja dilakukan oleh seorang pelaku, yang di dalam penampilannya merupakan suatu perilaku yang bersifat bertentangan dengan hukum atau “in strijd met het recht” atau bersifat ”wederrechttelijk”.22
Moeljatno mengartikan strabaarfeit itu sebenarnya adalah suatu kelakukan manusia yang diancam pidana oleh peraturan perundang-undangan.23 Sementara
Jonker merumuskan bahwa straabaarfeit sebagai peristiwa pidana yang diartikannya sebagai “suatu perbuatan yang melawan hukum (wederrechttelijk)
yang berhubungan dengan kesengajaan atau kesalahan yang dilakukan oleh orang yang dapat dipertanggungjawabkan. Adapun menurut Simon, straabaafeit
merupakan suatu tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja oleh seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya dan yang oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai suatu tindakan yang dapat dihukum.24
S.R menambahkan bahwa tindak pidana sebagai suatu tindakan pada tempat, waktu dan keadaan tertentu yang dilarang (diharuskan) dan diancam dengan pidana oleh undang-undang bersifat melawan hukum, serta dengan kesalahan dilakukan oleh seseorang (yang bertanggungjawab).25
KUHAP, menurut sistem dibedakan antara kejahatan yang dimuat dalam buku ke-II dan pelanggaran dimuat di dalam buku ke-III.26 Alasan pembeda antara
kejahatan dan pelanggaran adalah jenis pelanggaran lebih ringan dari pada kejahatan, hal tersebut dapat dipahami bahwa segala macam yang ada pada pidana pelanggaran tidak ada yang dipenjara. Dan kejahatan merupakan delik-delik yang
22 P.A.F Lamintang. 1997. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia. Bandung: PT Citra Aditya Bakti, halaman 182.
23 Amir Ilyas, Op. Cit., halaman 19. 24 Ibid., halaman 20.
melanggar kepentingan hukum dan juga menimbulkan bahaya secara konkret, sedangkan pelanggaran itu hanya membahayakan in abstracto saja. Secara kuantitatif pembuat undang-undang membedakan delik kejahatan dan pelanggaran sebagai berikut:27
a. Pasal 5 KUHP hanya berlaku bagi perbuatan-perbuatan yang merupakan kejahatan di Indonesia. Jika seorang Indonesia yang melakukan delik diluar negeri yang digolongkan sebagai delik pelanggaran di Indonesia, maka di pandang tidak perlu dituntut.
b. Percobaan dan membantu melakukan delik pelanggaran tindak pidana. Dibedakan pula antara Tindak Pidana Formil dan Tindak Pidana Materil. Tindak pidana formil adalah tindak pidana yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga memberikan arti bahwa inti larangan yang dirumuskan itu adalah melakukan suatu perbuatan tertentu, perumusan tindak pidana formil tidak memerlukan dan/atau tidak memerlukan timbulnya suatu akibat tertentu dari perbuatan sebagai syarat penyelesaian tindak pidana, melainkan semata-mata pada perbuatannya saja. Dalam rumusan tindak pidana materil, inti larangan adalah menimbulkan akibat yang dilarang, oleh karena itu, siapa yang menimbulkan akibat yang dilarang itulah yang dipertanggungjawabkan dan dipidana.28
Berdasarkan macam perbuatannya, dapat dibedakan antara tindak pidana aktif/positif dapat juga disebut juga tindak pidana komisi dan tindak pidana pasif atau negative disebut tindak pidana omisi.
1) Tindak pidana aktif adalah tindak pidana yang perbuatannya berupa perbuatan aktif, perbuatan aktif adalah perbuatan yang untuk mewujudkannya diisyaratkan adanya gerakan dari anggota tubuh orang yang berbuat, perbuatan aktif ini terdapat baik dalam tindak pidana 27 Ibid., halaman 26.
yang dirumuskan secara formil maupun secara materil. Dan sebagian besar yang dirumuskan di dalam KUHP adalah tindak pidana aktif. 2) Tindak pidana pasif ada dua macam yaitu tindak pidana pasif murni dan
tindak pidana pasif tidak murni.29
Kemampuan bertanggung jawab menjadi hal yang sangat penting dalam hal penjatuhan pidana dan bukan dalam hal terjadinya tindak pidana. Untuk terjadinya atau terwujudnya tindak pidana sudah cukup dibuktikan terhadap semua unsur yang ada pada tindak pidana yang bersangkutan.30
Adapun unsur-unsur tindak pidana yang dikemukakan di atas menurut Moeljatno adalah sebagai berikut:31
1. Perbuatan.
2. Yang dilarang (oleh aturan hukum). 3. Ancaman Pidana (bagi yang melanggar).
Menurut R.Tresna unsur tindak pidana adalah sebagai berikut:32
1. Perbuatan/rangkaian perbuatan.
2. Yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. 3. Diadakan tindakan hukum.
Rincian dari dua rumusan di atas tampak berbeda-beda, namun pada hakikatnya ada persamaannya, yaitu tidak memisahkan antara unsur-unsur mengenai perbuatannya dengan unsur yang mengenai orangnya.33
Tindak pidana yang terdapat dalam KUHAP itu pada umumnya dapat dijabarkan kedalam unsur-unsur yang pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua macam unsur, yakni unsur-unsur subjektif dan unsur-unsur objektif. Unsur-unsur subjektif adalah unsur-unsur yang melekat pada diri sipelaku atau yang berhubungan dengan diri sipelaku, termasuk kedalamnya yaitu segala sesuatu yang terkandung di dalam hatinya. Sedangkan unsur-unsur yang ada hubungannya
29 Ibid., halaman 30.
30 Adami Chazawi. 2014. Pelajaran Hukum Pidana Bagian I Stelsel Pidana, Tindak Pidana, Teori-teori Pemidanaan dan Batas Berlakunya Hukum Pidana. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, halaman 78.
dengan keadaan-keadaan yaitu di dalam keadaan-keadaan dimana tindakan-tindakan dari sipelaku itu harus dilakukan.34
Unsur-unsur subjektif dari suatu tindak pidana adalah:35
1. Kesengajaan atau ketidaksengajaan (dolus atau culpa).
2. Maksud atau Voornemen pada suatu percobaan atau poging seperti yang dimaksud di dalam Pasal 53 ayat 1 KUHP.
3. Macam-macam maksud. 4. Merencanakan terlebih dahulu. 5. Perasaan takut.
Unsur-unsur objektif dari suatu tindak pidana adalah:36
1. Sifat melanggar hukum. 2. Kualitas dari sipelaku.
3. Kuasalitas, yakni hubungan antara sesuatu tindakan sebagai penyebab dengan sesuatu kenyataan sebagai akibat.
Tindak pidana terorisme sebagai lex specialis dari tindak pidana umum seperti yang diatur dalam KUHAP, sudah tentunya akan mengikuti asas-asas berlakunya KUHAP, kecuali dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 jo. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 sendiri menyebut atau mengatur secara tersendiri.37
Tindak Pidana Terorisme merupakan tindak pidana khusus yang telah memiliki undang-undang sendiri yang diatur dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Namun pada dasarnya hokum acara yang berlaku dalam penanganan tindak pidana terorisme tetap berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), kecuali ditentukan lain dalam pemberantasan tindak pidana terorisme.38
Pengertian tindak pidana terorisme adalah tindakan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan berlatar belakang politik atau kekuasaan dalam
34 Ibid., halaman 82.
35 Amir Ilyas, Op. Cit., halaman 45. 36 Ibid., halaman 46.
37 R Wiyono, Op. Cit., halaman 59.
suatu pemerintahan Negara. Dari sudut pandang hukum, kejahatan tindak pidana yang dilakukan baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama untuk membuat suatu serangan yang menimbulkan rasa ketakutan dan ketidaknyamanan bagi orang lain. Unsur-unsur tindak pidana terorisme dapat kita lihat dari pendapat Romli Atmasasmita yang mengatakan bahwa unsur tindak pidana terorisme adalah adanya suasana terror dan rasa takut yang bersifat luas. Adapun unsur-unsur dan sanksi dalam tindak pidana terorisme bisa dilihat pada ketentuan Peraturan Pemerintah Perundang-undangan Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pencegahan Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.40
Pada Pasal 6 Perppu No.1 Tahun 2002 yang berbunyi sebagai berikut: “Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana terror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal dengan cara merampas kemerdekaan atau menghilangkan nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun”.
Pada Pasal 7 Perppu No.1 Tahun 2002 ialah berbunyi sebagai berikut: ”Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan bermaksud untuk menimbulkan suasana terror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa atau harta benda orang lain, atau untuk menimbulkan kerusakan atau 39 Ibid., halaman 12.
kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis, atau lingkungan hidup atau fasilitas publik, atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana penjara paling lama seumur hidup”.
Pasal 6 Perppu No.1 Tahun 2002 di atas dapat diartikan bahwa suatu aksi atau tindakan dapat digolongkan sebagai tindak pidana terorisme apabila mengandung unsur-unsur sebagai berikut:41
1. Dilakukan dengan sengaja.
2. Menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan.
3. Menimbulkan suasana terror atau rasa takut secara meluas.
4. Menimbulkan korban massal, baik dengan cara merampas kemerdekaan atau dengan menghilangkan nyawa atau harta benda orang lain.
Mudzakir yang kemudian pendapatnya dikutip oleh Mahru Ali, disebutkan bahwa perumusan Pasal 6 dikatakan sebagai delik terorisme atau sebagai pengertian dasar (umum) dari delik terorisme (delik genus). Sebagai delik genus
semua tindak pidana yang termasuk kategori terorisme harus mengandung atau memuat sifat utama dari genus tindak pidana terorisme. Sifat utama dari tindak pidana terorisme adalah menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang yang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal.42
Terhadap rumusan Pasal 6 yang berbunyi: “dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain; atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas
internasional”, menunjukan bahwa pasal tersebut dirumuskan secara “materiil”. Jadi yang dilarang adalah “akibat”, yaitu:43
a. Menimbulkan suasana teror terhadap orang secara meluas, atau b. Menimbulkan rasa takut terhadap orang secara meluas, atau c. Menimbulkan korban yang bersifat massal dengan cara:
1. Merampas kemerdekaan, atau
2. Hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau d. Mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap:
1. Obyek-obyek vital yang strategis, atau 2. Lingkungan hidup, atau
3. Fasilitas publik, atau, 4. Fasilitas internasional.
Pasal 7 Perppu No.1 Tahun 2002 dapat diartikan bahwa suatu aksi atau tindakan dapat digolongkan sebagai tindak pidana terorisme apabila mengandung unsur-unsur sebagai berikut:44
1. Dilakukan dengan sengaja.
2. Menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan. 3. Dimaksud untuk menimbulkan korban massal.
4. Mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis, atau lingkungan hidup, atau fasilitas publik atau fasilitas internasional.
Ajarotni Nasutio yang juga pendapatnya dikutip oleh Mahrus Ali, disebutkan bahwa semua tindak pidana yang dirumuskan dalam Pasal 7 sampai dengan Pasal 12 secara diam-diam harus ditafsirkan memuat unsur terorisme, yaitu menimbulkan suasana teror atau rasa takut tehadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat masal. Terjadinya suasana teror atau rasa takut secara meluas dan adanya korban yang bersifat massal harus dibuktikan meskipun unsur tersebut ada yang tidak disebutkan dalam rumusan pasal secara eksplisit.45
Perbedaan unsur-unsur Pasal 7 UU Terorisme dengan Pasal 6 UU terorisme adalah terkait dengan unsur yang ketiga, yakni dalam Pasal 6 UU
Terorisme disebut dengan istilah actual harm (kerugian atau kehancuran nyata) sebagaimana makna dari kalimat “menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal”, sedangkan dalam pasal 7 UU Terorisme disebutkan dengan istilah potential harm
(ancaman/memungkinkan terjadi kerusakan atau kehancuran) sebagaimana makna dari kata “bermaksud” sebelum kalimat “menimbulkan suana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal”.46
Tindak pidana terorisme dimasukan dalam extradionary crime dengan alasan sulitnya pengungkapan karena merupakan kejahatan transboundry dan melibatkan jaringan internasional. Fakta menunjukan bahwa memang tindak pidana terorisme merupakan tindak pidana yang melibatkan jaringan internasional. Namun kesulitan pengungkapan bukan karena perbuatannya ataupun sifat internasionalnya. Walaupun demikian terorisme bukan merupakan tindak pidana dalam yuridiksi Internasional Criminal Court.47
Beberapa fakta pendorong kriminalisasi terhadap tindak pidana terorisme berkaitan dengan korban yang sangat serius baik berkaitan dengan nyawa, kemerdekan, harta benda, serta obyek-obyek vital strategis, lingkungan hidup, berbagai fasilitas umum dan internasional, serta timbulnya rasa takut terhadap masyarakat yang bersifat luas. Demikian pula korban dan calon korban sering kali tidak berdosa, mengingat sasaran terorisme yang bersifat acak. Disamping aspek korban, juga mempertimbangkan syarat-syarat komprehensif seperti menjauhi hal-hal yang bersifat ad hoc, memperhatikan aspirasi masyarakat luas (aspirasi
infrastrukral, suprastruktural, kepakaran dan aspirasi masyarakat internasional), sifat “ultimatum remedium” hukum pidana dan kemampuannya.48
Terorisme sebagai kejahatan yang tergolong kedalam kejahatan Extra Odinari Crime (Kejahatan Luar Biasa), yaitu kejahatan yang dapat mengakibatkan korban jiwa yang sangat signifikan. Oleh karena sifat terorisme yang tergolong dalam kejahatan Extra Ordinary Crime hampir setiap negara menggunakan Undang-Undang khusus dalam menanggulangi tindak pidana terorisme. Akan tetapi menurut Ken Roach, Adnan Buyung Nasution dan beberapa ahli hukum pidana menolak pandangan demikian. Bagi mereka terorisme merupakan kejahatan biasa dan penanganannya cukup dengan peraturan tindak pidana lainnya, dalam konteks sistem peradilan pidana cukup dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang-Undang-Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) tidak perlu menggunakan undang-undang anti terorisme lainnya. Namun demikian menurut pendapat Mulyadi, bahwa tidak dapat disanggah bahwa tindak pidana terorisme dapat dikatergorikan sebagai Malum In Se bukan termasuk malum Prohibitum. Hal ini karena terorisme merupakan kejahatan terhadap hati nurani, menjadi jahat bukan karena dilarang oleh undang-undang tetapi karena pada dasarnya terorisme merupakan tindakan yang tercela.49
Terorisme akan muncul sebagai aksi atas fenomena yang muncul didalam peraturan global. Sebagaimana yang dikatakan Robert K Merton, yang menyatakan bahwa terorisme merupakan kelompok yang tertindas yang akan terus melakukan perlawanan yang berkepanjangan sepanjang kelompok itu tidak mencapai tujuan. Hal ini terjadi karena terorisme merupakan sebagai bagian dari
48 Ibid., halaman 26.
gerakan sosial dimana ciri-ciri dari gerakan ini adalah gerakan kelompok tertentu yang teorganisir secara rapi, memiliki kesamaan ideologi dan tujuan, menggunakan cara-cara kepemimpinan dan komando yang bisa meletigimasi otoritas kekerasan yang dilakukan.50
Secara istilah yang diperoleh dari beberapa sumber dapat dikemukakan pengertian terorisme, diantaranya terorisme merupakan perbuatan teror yang dilakukan oleh individu atau kelompok atau negara yang zalim kepada manusia, pada agamanya, darahnya, akalnya, hartanya dan kehormatannya. Tercakup di dalamnya berbagai bentuk teror, gangguan, ancaman, dan pembunuhan tanpa hak serta berbagai tindakan anarkis lainnya dengan tujuan menebar ketakutan di tengah manusia dan ancaman terhadap kehidupan atau keamanan.51
Berdasarkan hasil suatu forum hasil diskusi antara para akademisi, profesional, pakar, pengamat politik dan diplomat terkemuka, yang diadakan di Kantor Menteri Kordinator Publik dan Keamanan pada tanggal 15 September 2001, dapat dicatat beberapa pendapat atau pandangan tentang terorisme, yaitu terorisme dapat diartikan sebagai tindakan kekerasan yang dilakukan sekelompok orang (ekstrim, suku) sebagai jalan terakhir untuk memperoleh keadilan yang tidak dapat dicapai mereka melalui saluran resmi atau jalur hukum.52 Pemerintah
Indonesia belum mampu menyelesaikan permasalahan terorisme meskipun sudah memiliki payung hukum dan sudah banyak penangkapan.53
Terorisme meskipun disebutkan merupakan kejahatan yang sifat internasional, tetapi sampai saat ini terorisme belum diakui sebagai kejahatan
50 Erlangga Masdiana. 2004. Perang Global dan Masa Depan Demokrasi. Depok: Matapena, halaman 89.
51 Erwin Asmadi, Op. Cit., halaman 16. 52 Ibid., halaman 17.
internasional (internasional crime) oleh PBB, bahkan usaha memasukkan terorisme ke dalam juridiksi Internasional Criminal Court dalam Konverensi Diplomatik di Roma Tahun 1998 telah ditolak, terutama oleh negara-negara OKI dan juga Amerika Serikat.54 Sebab sampai saat ini terorisme belum diakui sebagai
kejahatan internasional, karena pengertian terorisme itu sendiri sangat mejemuk atau multi interpretatif, tergantung dari sudut pandang yang dipergunakan sehingga akibatnya belum ada kesepakatan atau keseragaman yang dapat diterima secara universal tentang pengertian terorisme.55
2. Kewenangan Lembaga-lembaga Negara yang Khusus menangani Tindak Pidana Terorisme
Rapat Kerja antara Komisi I DPR-RI dan Menkopulhukam 31 Agustus 2009, DPR-RI memberi suatu rekomendasi kepada pemerintah untuk membentuk suatu badan khusus yang berwenang menanggulangi terorisme. Berdasarkan rekomendasi Komisi I DPR-RI tersebur dan assessment terhadap dinamika terorisme, pada tanggal 16 Juli 2010 Presiden Republik Indonesia menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2010 tentang Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.56
Permasalahan kasus tindak pidana terorisme ini di Indonesia mempunyai badan-badan atau lembaga-lembaga tinggi Negara yang dikhususkan untuk menjalankan prosedur dari pada kasus ini dan juga memiliki wewenang sendiri. POLRI, dimana TNI menjadi unsur utama dan Polri menjadi unsur pendukung.
54 R.Wiyono, Op. Cit., halaman 11. 55 Ibid., halaman 11.
Selama ini penugasan dari terhadap aksi terror terkait separatisme adalah oleh Brimob Polri, dengan Unit wanteror dan Gegana.57
Densus 88 anti-teror tingkat pusat secara struktural berada di bawah Badan Reserse Kriminal (BARESKRIM) Mabes Polri dipimpin oleh Komandan Detasemen berpangkat Brigjen Polisi dan dibantu oleh wakil detasemen (Waden). Sedangkan pada tingkat Polda, Densus 88 berada dibawah Direktorat Serse (Dit Serse) dipimpin oleh komandan berpangkat Perwira menengah Polisi (Pamen Pol). Dalam pembentukan detasemen anti teror ini mempunyai landasan hukum. Detasemen ini digagas pada tahun 2003 oleh Jendral Polisi Da’I Bachtiar dengan skep Nomor 30/IV/2003 tanggal 30 Juni 2003. Alasan utama pembentukan Denssus 88 Anti-teror ini adalah untuk menanggulangi meningkatnya kejahatan terorisme di Indonesia, khususnya aksi terror dengan modus peledakan bom.58
Komandan Densus 88 dalam menjalankan aksinya memiliki empat pilar pendukung setingkat Sub-Departemen, yakni Subden bantuan yang bekerja dibawah naungan UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Pasal 13 UU kepolisian dan ketertiban masyarakat, penegak hukum, memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyrakat terkhususnya mengenai aksi teror tersebut.59
Detasemen 81 memiliki tugas dan fungsi yang hampir sama dengan Detasemen 88 Polri, milik TNI seperti Detasemen 81 Kopassus, Detassemen 81 AD, AL dan AU ini mempunyai tugas untuk mempertahankan Negara dimana meraka menjaga kondisi Negara sehingga menjadi kondusif setiap saat. Seperti menjaga aksi terorisme lewat udara, laut dan darat. Dengan mengacu pada
57 Galih Priatmodjo, “Densus 88”, melalui http://densus88.com, diakses pada Senin, 5 Maret 2018, Pukul 09.31 wib.
ancaman alat-alat tempur milik Negara, sabotase pangkalan udara, laut dan batas Negara. Yang Notabene tugasnya sama dengan Densus 88 Polri. Tugas Pasukan Penanggulangan Teror dari Batalyon Infranteri Raider adalah sebagai unsur penindak dan pemukul bereaksi cepat ditingkat Komando Daerah Militer (Kodam) diseluruh wilayah Indonesia. Pasukan ini adalah dikhususkan untuk menanggulangi masalah keamanan khususnya masalah teror ditingkat provinsi di bawah Komando Panglima Kodam (Pangdam).60
Batalyon ini Memiliki kemampuan tiga kali lipat yang lebih dari Batalyon Infanteri lainnya, diharapkan segala macam bentuk ancaman yang ada disekitar wilayah Kodam dapat dituntaskan dengan cepat senyap dan tepat sasaran, khususnya masalah-masalah yang terkait dengan keamanan bersifat terorisme. Dalam keadaan tertentu pasukan ini siap diterjunkan untuk membantu Polri dalam mengatasi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat ditingkat provinsi berdasarkan perintah Panglima Kodam yang diteruskan pada Komandan Batalyon Raider Setempat.61
Tugas pokok dari Detasemen Jala Mangkara Korps Marinir Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI-AL) adalah melaksanakan pembinaan kemampuan dan pengerahan kekuatan sebagai satuan pasukan anti teror dalam rangka melaksanakan tugas operasi penanggulangan masalah terorisme, sabotase dalam aspek kelautan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain sebagai pasukan anti teror dalam wilayah kelautan, pasukan ini juga dapat diandalkan kemampuannya di wilayah daratan, dalam berbagai macam bentuk
60 Anonym, “Keterlibatan TNI Dalam Memerangi Terorisme”, melalui http://Keterlibatan,TNIdalamMemerangiTerorisme.com, diakses Senin, 5 Maret 2018, Pukul 10.00 wib.
terorisme dengan sasaran obyek gedung perkantoran, mall, kereta api, bandara, penerbangan, terminal bus. Tugas yang dibebankan pada pasukan Detasemen Jala Mangkara Korps Marinir TNI-AL adalah memukul dan melumpuhkan setiap ancaman terorisme dalam aspek kelautan di wilayah perairan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tidak hanya wilayah laut saja kamampuan pasukan Denjaka dalam wilayah daratpun tindakan terorisme mampu dilumpuhkan.62
Detasemen Bravo 90 Korps Paskhas TNI-AU mempunyai tugas pokok sebagai satuan khusus anti teror dalam lingkungan TNI-AU menangani masalah terorisme dalam aspek kedirgantaraan yaitu melumpuhkan dan menumpas para pembajak pesawat terbang, sabotase dalam bandara penerbangan dan perbutan kembali pangkalan udara yang dikuasai oleh musuh dan menyiapkan landasan pendaratan pesawat rekan sekesatuan dalam lingkungan Tentara Nasional Indonesia. Selaian itu pasukan ini dapat diandalakan kemampuannya dalam misi-misi rahasia bersifat intelijen bahkan melakuan penyergapan terhadap ancaman teror di dalam wilayah daratan dalam lingkup perkotaan termasuk wilayah hutan belantara dan perairan. Kemampuan penguasaan medan ini didapat dari pelatihan kerjasama unit anti teror antar Kesatuan di lingkungan TNI seperti Satuan 81 Gultor Kopassus AD dan Detasemen Jala Mangkara Korps Marinir dari TNI-AL.63
Kewenangan dari pasukan khusus pada penjelasan tadi hanya sebatas pada masalah pertahanan Negara dan untuk masalah terorisme ini TNI hanya dapat melakukan penangkapan saja. Atau hanya sampai pada proses penangkapan dan bisa juga dalam proses penahanan sementara sampai nantinya apa tersangka akan
diberikan oleh pihak kepolisian dalam proses penyidikan lebih lanjut. Keikutsertaan TNI dalam pemberantasan terorisme merupakan upaya preventif. TNI yang merupakan bagian dari masyarakat dan bangsa memiliki tanggung jawab yang sama dalam memerangi terorisme. Mengoptimalkan kembali peran Babinsa tidak perlu dicurigai secara berlebihan, dan yang jelas perannya nanti untuk membantu aparat kepolisian.64
Masalah terorisme juga tidak lepas dari pandangan Badan Intelijen Negara, lembaga ini sengaja dibuat sebagai pendukung kelancaran dari pada penganan tindak pidana terorisme ini yang bersifat pre-emptif dan memiliki koridor hukum tersendiri. Intelijen sendiri terdiri dari kumpulan anggota TNI dan POLRI dan lainnya yang sama-sama menjadi aktor dalam pemberantasan terorisme ini dan dibiayai oleh Negara dan bahkan oleh para pihak swasta yang notabene mendukung kelancaran dari pada sistem penegakan hukum di Indonesia khususnya masalah penanggulangan Terorisme ini. UU Intelijen yang telah selesai dibahas oleh Panitia Kerja Komisi I DPR belum mengakomodasi norma-norma HAM. UU Intelijen tersebut masih belum sesuai dengan norma umum HAM, baik nasional maupun internasional. Tercatat dari Komnas HAM terdapat beberapa hal yang krusial dari draft terakhir RUU Intelijen yang perlu diperbaiki, antara lain.65
Pertama, Pasal 1 ayat 8 dan Pasal 3 tentang keamanan nasional (Kamnas), karena tidak ada pengertian yang jelas mengenai Kamnas. Karena pengertian Kamnas tidak boleh direduksi menjadi keamanan pemerintah. Dalam prinsip
Johanesburg Ke-1, menyatakan, pembatasan HAM yang dijustifikasi dengan
64 Anonym, “Keterlibatan TNI dalam Memerangi Terorisme”, melalui
http://www.KeterlibatanTNI.com, diakses senin, 5 Maret 2018, Pukul 10.45 wib.
alasan keamanan nasional tidak sah bila tujuannya untuk melindungi yang tidak ada hubungannya dengan keamanan nasional, termasuk melindungi pemerintah dari kesalahannya. Kedua, Pasal 32 tentang penyadapan. Kewenangan penyadapan seharusnya diberlakukan dalam situasi khusus dengan payung hukum yang jelas, seperti dalam situasi darurat sipil atau darurat militer atau darurat perang yang penetapannya melalui payung hukum.66
Restriksi ini perlu dijabarkan lebih detil dan tidak bisa diterima dalam kondisi negara tertib sipil. Dan satu hal lagi, hasil penyadapanpun tidak bisa digunakan sebagai barang bukti. Ketiga, mengenai pengawasan eksternal terhadap intelijen. RUU Intelijen belum mengakomodasi tentang diperlukannya pengawasan terhadap operasi intelijen yang tidak hanya dilakukan oleh DPR, namun perlu dibentuk suatu Komisi Pengawas Intelijen. Sesuai dengan kewajiban anggota intelijen sama seperti halnya dengan hak anggota intelijen Negara, dirumuskan dalam bagian dua RUU tentang intelijen Negara, perbedaanya hanya terletak pada penempatan pasalnya saja. Jika hak anggota intelijen Negara diatur didalam Pasal 16, maka kewajiban intelijen Negara diatur pada Pasal 17.67
B. PENYIDIKAN
1. Pengertian Penyidikan
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Pasal 1 angka 2 pengertian penyidikan ialah “Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangka”.68
66 Ibid.
67 Ismantoro Dwi Yuwono. 2014. Kupas tuntas Intelijen Negara. Jakarta: Sinar Grafika, halaman 83.
Penyidikan baru dapat dilaksanakan oleh penyidik apabila terjadi suatu tindak pidana dan terhadap tindak pidana tersebut dapat dilakukan penyidikan menurut yang diatur dalam KUHP. Penyidik adalah pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia atau pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh Undang-Undang untuk melakukan penyidikan (Pasal 109 ayat (1) KUHAP), untuk dapat menentukan suatu peristiwa yang terjadi adalah termasuk suatu tindak pidana, menurut kemampuan penyidik untuk mengidentifikasi suatu peristiwa sebagai tindak pidana dengan berdasarkan pada pengetahuan hukum pidana.69
Tujuan penyidikan adalah untuk menunjuk siapa yang telah melakukan kejahatan dan memberikan pembuktian-pembuktian mengenai masalah yang telah dilakukan. Untuk mencapai maksud tersebut maka penyidik akan menghimpun keterangan dengan fakta atau peristiwa-peristiwa tertentu.70
2. Proses Penyidikan
Hamrat Hamid dan Harun Husein, secara formal prosedural, suatu proses penyidikan dikatakan telah mulai dilaksanakan sejak dikeluarkannya Surat Perintah Penyidikan yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang di instansi penyidik. Setelah pihak Kepolisian menerima laporan atau informasi tentang adanya suatu peristiwa tindak pidana, ataupun mengetahui sendiri peristiwa yang diduga merupakan suatu tindak pidana. Hal ini selain untuk menjaga agar tidak terjadi penyalahgunaan wewenang dari pihak kepolisian, dengan adanya Surat
69 Ibid., halaman 55.
Perintah Penyidikan tersebut adalah sebagai jaminan terhadap perlindungan hak-hak yang dimiliki oleh pihak-hak tersangka.71
Berdasarkan pada Pasal 109 ayat (1) KUHAP, maka seorang penyidik yang telah memulai melaksanakan penyidikan terhadap peristiwa tindak pidana, penyidik harus sesegera mungkin untuk memberitahukan telah mulai penyidikan kepada Penuntut Umum. Untuk mencegah penyidikan yang berlarut-larut tanpa adanya suatu penyelesaian, seorang penyidik kepada Penuntut Umum, sementara dipihak Penuntut Umum berwenang minta penjelasan kepada penyidik mengenai perkembangan penyidikan yang dilakukan oleh penyidik.72
kegiatan-kegiatan pokok dari penyidikan adalah adalah sebagai berikut: a. Penyelidikan: serangkaian tindakan dari penyelidik untuk mencari dan
menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai perbuatan pidana, guna menentukan dapat tidaknya dilakukan penyidikan.
b. Penindakan: Setiap tindakan hukum terhadap orang atau barang yang ada hubungannya dengan perbuatan pidana yang terjadi, yang dapat berupa:
1. Pemanggilan. 2. Penangkapan. 3. Penahanan. 4. Penggeledahan. 5. Penyitaan.
c. Pemeriksaan: Kegiatan untuk mendapat keterangan, kejelasan dan keidentikan tersangka dan atau saksi dan atau berang bukti maupun unsur-unsur perbuatan pidana yang terjadi, sehingga peranan seseorang atau barang bukti dalam perbuatan pidana itu menjadi jelas.
d. Penyelesaian dan penyelesaian berkas perkara: Merupakan kegiatan akhir dari penyidikan perbuatan pidana meliputi:
1. Pembuatan Resume.
71 Hamrat Hamid, dkk. 1992. Pembahasan Permasalahan KUHAP Bidang Penyidikan. Jakarta: Sinar Grafika, halaman 36.
2. Penyusunan isi berkas perkara. 3. Pemberkasan.
4. Penyerahan berkas perkara:
Tahap Pertama: Penyidik hanya menyerahkan berkas perkara saja.
Tahap kedua: Dalam hal penyidikan sudah dinyatakan lengkap (P.21), penyidik menyerahkan tanggung jawab tersangka dan barang bukti.73
Penyidikan tindak pidana terorisme menerapkan prinsip pre-emtive, penangkapan terhadap tersangka dilakukan tanpa bukti memadai menjadi tidak melanggar asas praduga tidak bersalah.74
3. Pihak Yang Berwenang Melakukan Penyidikan
Perkara pidana, pada dasarnya yang berwenang melakukan penyidikan adalah penyidik sebagaimana disebut dalam Pasal 1 angka 1 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana: “Penyidik adalah Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia atau pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan”.75
Tindak pidana Terorisme, dibentuk tim gabungan khusus yang bernama Densus 88, tim khusus ini terdiri dari anggota POLRI dan TNI. Keterlibatan TNI diatur dalam Pasal 7 UU No. 34 Tahun 2004 tentang kedudukan TNI. Oleh karena itu, terorisme merupakan kejahatan luar biasa yang membahayakan keutuhan Negara, maka TNI ikut serta dalam penanganan terorisme sebagai salah satu tugas operasi militer selain perang.76
C. PENETAPAN TERSANGKA
73 Human Fairuz, ”Proses dan Mekanisme Perkara Pidana dari Penyidikan Hingga Putusan Pengadilan”, melalui http://humamlawoffice.blogspot.co.id, diakses Minggu, 4 Maret 2018, Pukul 15.30 wib.
74 Lintang Noor Choliq Abduhafi,”Terorisme Dalam Sistem Hukum Indonesia”, melalui http://www.academia, diakses Minggu, 4 Maret 2018, Pukul 15.41 wib.
75 Anonym, “Hukum Online’, melalui http://www.hukumonline.com, diakses Rabu 4 April 2018, Pukul 14.04 wib.
Tersangka dalam KUHAP dapat ditemukan pada Bab I tentang Ketentuan Umum Pasal 1 angka 14, yang menentukan bahwa tersangka adalah seseorang yang karena perbuatannya atau keadaannya berdasarkan bukti permulaan yang patut diduga sebagai pelaku tindak pidana. Dalam definisi tersebut terdapat frasa “karena perbuatan atau keadaannya” seolah-olah mana kalimat tersebut menunjukan bahwa penyidik telah mengetahui perbuatan tersangka sebelumnya terlebih dahulu padahal sebenarnya aspek ini yang akan diungkap oleh penyidik. Secata teoritis, pengertian demikian hanya dapat diungkapkan terhadap tersangka yang telah tertangkap tangan.77
Pengertian tersangka tersebut akan lebih tepat bila mengacu pada ketentuan Pasal 27 ayat (1) Nederland van Strafvordering (Ned.Sv). Istilah pengertian tersangka dalam Ned.Sv ditafsirkan secara lebih luas dengan lugas yaitu yang dipandang sebagai tersangka ialah orang karena fakta-fakta atau keadaan-keadaan menunjukan ia patut diduga bersalah melakukan suatu tindak pidana (“Als verdachte wordt aangemerk degene te weins aanzien uit feiten of omstadig heden een redelijk vermoeden van schuld aan eenig strafbaar feit
voorvloeit”).78 Jadi fakta-fakta atau keadan-keadaan yang menjerumus kepada
dugaan yang patut bahwa tersangkalah yang melakukan perbuatan itu.79
Pasal 1 angka 14 KUHAP mensyaratkan adanya bukti I permulaan sebelum menetapkan seseorang sebagai tersangka. Namun KUHAP tidak menjelaskan lebih lanjut tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan bukti permulaan, khusus definisi bukti permulaan yang dapat digunakan sebagai dasar
77 Lilik Mulyadi, Op. Cit., halaman 49. 78 Ibid., halaman 51.
penetapan tersangka. Penjelasan mengenai apa yang dimaksud dengan bukti permulaan hanya disinggung secara tanggung dan tidak menyelesaikan masalah oleh KUHAP dalam penjelasan Pasal 17 KUHAP, yaitu “yang dimaksud dengan bukti permulaan yang cukup ialah bukti permulaan untuk menduga adanya tindak pidana sesuai dengan bunyi Pasal 1 butir 14”. Karena KUHAP tidak mendefinisikan lebih lanjut mengenai apa itu bukti permulaan cukup, khususnya yang dapat digunakan sebagai dasar menetapkan seseorang menjadi tersangka, maka mengenai apa yang dimaksud bukti permulaan, harus dicari dari sumber lain.80
Candra M. Hamzah dalam bukunya yang berjudul ”Penjelasan Hukum Tentang Bukti Permulaan Yang Cukup” menjelaskan bahwa bukti permulaan yang cukup berfungsi sebagai prasyarat dilakukannya penyidikan dan penetapan tersangka. Bukti permulaan yang cukup dapat terdiri atas:81
a. Keterangan (dalam proses penyelidikan). b. Keterangan Saksi ( dalam proses penyidikan). c. Keterangan ahli (dalam proses penyidikan).
d. Barang bukti (dalam proses penyelidikan dan penyidikan ).
Mendefinisikan bukti permulaan untuk menetapkan status hukum seseorang menjadi tersangka adalah hal yang sangat penting, karena tindak lanjut dari penetapan status hukum tersangka adalah upaya paksa (dwang middelen) yang dapat ditindak lanjuti oleh penyidik, misalnya berupa penangkapan, penahanan, pencegahan keluar negeri, pemblokiran rekening dan lain sebagainya.82
80 Muh. Tanziel Aziezi,” PenetapanTersangka Sebagai Objek Praperadilan Progresivitas Hukum Yang Dibutuhkan”, melalui http://www.selasar.com, diakses pada Senin, 18 Desember 2017, Pukul 01.05 wib.
81 Candra M. Hamzah. 1998. Penjelasan Hukum Tentang Bukti Permulaan Yang Cukup.Jakarta: Sinar Grafika, halaman 19.
Status sebagai tersangka hanya dapat ditetapkan oleh penyidik kepada seseorang setelah hasil penyidikan yang dilaksanakan memperoleh bukti permulaan yang cukup yaitu paling sedikit 2 (dua) jenis alat bukti sebagaimana dimaksud pada Pasal 184 ayat (1) KUHAP ditentukan melalui gelar perkara. Berdasarkan Pasal 1 butir 11 jo, Pasal 14 ayat (1) Perkap 12 Tahun 2009, prosedur penyelesian perkara termasuk penyidikan dan penetapan tersangka, harus dilakukan secara profesional, proporsional dan transparan agar tidak ada penyalahgunaan wewenang dan lebih jauh tidak semata-mata bertendensi menjadikan seseorang menjadi tersangka.83
D. ISLAMIC STATE IN IRAQ AND SYRIA
1. Sejarah Islamic State In Iraq and Syria
Islamic State In Iraq and Syria adalah sebuah organisasi yang berdiri pada tahun 2013 di Suriah dan Irak, organisasi ini dipimpin oleh Abu Bakar al-Baghdadi. Perjalanan kelompok ini dari sebuah organisasi yang bernama
Tanzhimu ad-Daulah al-Islamiyah fi al-Iraq wa asy-Syam yang disingkat Da’isy, lalu berubah menjadi ad-Daulah al-Islamiyah fi al-Iraq wa asy-Syam atau Negara Islam di Irak dan Syria, media barat sering menyebut hanya dengan Daulah Islamiyah atau ISIS.84
Asal mula terbentuknya Islam State in Iraq and Syria berasal dari invansi Amerika Serikat kepada Irak di tahun 2003. Setelah pendudukan Amerika Serikat di Irak membuat negara tersebut lumpuh perekonomiannya dan terjadi kekosongan
83 Ibid.
kekuasaan karena Saddam Hussein ditangkap. Sejak itu kaum mayoritas Syiah langsung mengambil alih kekuasaan dan merepresi golongan sunni, tentu saja kaum Sunni tidak tinggal diam. Pemberontakan Sunni mulai muncul. Kelompok teroris seperti Al Qaeda masuk ke Irak dan kelompok-kelompok pemberontak lokal yang minoritas sunni mulai bertempur melawan Amerika Serikat. Dalam perlawanannya kepada Amerika Serikat kelompok ini bernaung dalam satu paguyuban besar yang di pimpin oleh Abu Muzhab Zarkawi dan setelah itu dipimpin oleh Abu Bakar al-Baghdadi.85
Islamic State In Iraq and Syira juga berhasil menguasai kota Mosul dan mengambil ratusan juta dollar dari bank Sentral Irak di Mosul, berhasil menguasai sejumlah ladang minyak di wilayah bagian timur Suriah yang dijual kembali kepada pemerintahan Suriah. ISIS juga disebut menjual benda-benda antik dari situs bersejarah.86
Berdasarkan seruan jihadnya kini ISIS menyebar dan memiliki pasukkan di Negara-negara lain dan salah satunya adalah Negara Indonesia. ISIS masuk ke Indonesia pada tahun 2014. Di bumi Indonesia bahkan pengaruh ISIS telah nyata adanya. Ada dalam bentuk simpatisan, pendukung, ikut bertabiat, dan ada yang benar-benar sudah ikut berperang bersama ISIS di Irak dan Suriah. Malah ada yang secara terbuka 85 Analisa, “Akar sejarah terbentuknnya isis dan al qaeda”, melalui http//arrahmah news.com, diakses Senin, 5 Maret 2018, Pukul 12.07 wib.
memberikan dukungan kepada ISIS. Karena itu kita harus waspada. Paham ISIS masuk ke Indonesia masih terbuka lebar. Apalagi harus kita akui bersama keinginan dari sebagian kecil masyarakat kita untuk mengubah bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Negara Kekhalifahan sebagaimana dipropagandakan ISIS hingga kini masih ada.87
Indonesia menganggap ISIS sebagai Teroris karena pergerakan yang dilakukan ISIS sangat radikal seperti menghalahkan segala cara untuk mencapai Misinya termasuk membunuh sesama muslim yang dianggap bertentangan dengan pemahaman mereka. Di Indonesia, perbuatan-perbuatan radikal terorisme seperti ISIS diatur di dalam Perppu No 2 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme perubahan atas Perppu No 2 Tahun 2002.
Berbagai kalangan di Indonesia pemerintah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nadhatul Ulama, Muhammadiyah, dan organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam lainnya ramai-ramai menolak Islamic State In Iraq and Syria dan Kekhalifahan Abu Bakar al-Baghdadi. Pemerintah Indonesia melalui Menko Polhukum Djoko Suyanto menilai Islamic State In Iraq and Syria
bukanlah masalah agama, tetapi terkait dengan ideologi atau keyakinan yang dianggap bertentangan dengan ideologi Pancasila. Atas dasar itu, kata Djoko,
pemerintah dan negara Indonesia menolak dan tidak mengizinkan paham Islamic State In Iraq and Syria berkembang di Indonesia.88
Semakin mengkhawatirkan, kelompok radikal seperti Islamic State In Iraq and Syria telah berhasil mengelabui banyak orang, terutama anak-anak muda, bahwa ‘jihad’ itu adalah kewajiban orang perorang, bukan negara. Anak-anak muda itu kemudian mereka peralat sebagai jihadis yang siap memerangi siapa saja tanpa paham betul apa yang sebenarnya sedang mereka hadapi.89
Warga Negara Indonesia sampai tahun 2017, setidaknya 671 orang terlibat dengan kelompok teroris Islamic State In Iraq and Syria (ISIS) di Irak dan Suriah. Jumlah itu terdiri dari 524 orang laki-laki dan 147 perempuan.90
BNPT menyatakan pasukan ISIS di Indonesia yang telah melaksanakan pengakuan menerangkan prosedur awalnya ialah diajak ataupun diajarkan oleh orang terdekat. Fakta-fakta yang lain ialah sumber pendanaan pemberangkatan anggota ISIS didanai oleh salah satu anggota keluarga ataupun lebih lagi iuran dari sejumlah kerabat keluarga. Sasaran pertama dalam perekrutan anggoa ISIS di Indonesia adalah keluarga terdekat. Sebab keluarga yang sudah ternaman pemikiran jihadnya akan semkain gampang untuk di provokasi.91
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan bahwa ada 16 daerah yang sudah terindikasi menjadi tempat
88 Ikhwanul Karim, Op. Cit., halaman 97. 89 Ibid., halaman 102.
90 Serambinews, “Jumlah Warga Indonesia Yang Bergabung Dengan ISIS”, melalui http://aceh.tribunnews.com, diakses Senin, 5 Maret 2018, Pukul 13.00 wib.
jaringan ISIS di Indonesia jelas merupakan ancaman yang sangat berbahaya. Wilayah Indonesia yang sangat berpotensi dimasuki ISIS adalah Poso, mengingat daerah ini memiliki sejarah teror yang berkaitan dengan kelompok ISIS.92
A. Prosedur KepolisianMenetapkan Tersangka Dalam Penyidikan Tindak Pidana Terorisme Terhadap Anggota Islamic State In Iraq and Syria 1. Posisi Kasus
Sebelum masuk dalam pembahasan prosedur Kepolisian dalam Menetapkan Anggota ISIS sebagai Pelaku Tindak Pidana Terorisme, perlu kita ketahui posisi kasusnya. Penangkapan berawal saat petugas menggelar razia kendaraan bermotor di depan pos polisi lantas, Sigambal. Kemudian seorang pengendara sepeda motor tanpa plat, Afrian Kasmali 28 Tahun dihentikan petugas Bripka Reza Lubis.93
Bripka Reza kemudian menanyakan kelengkapan surat-surat kendaraan, namun pria yang tinggal di Jalan Sultan Alamuddinsyah, kelurahan Padang Bulan, Kecamatan Sena Pelan, Kota Pekan Baru, Riau itu tidak dapat menunjukannya. Dia mengatakan, sepeda motor tersebut merupakan pinjaman dari temannya, Ferdiyansah Gustian 27 Tahun, warga Jalan Perdamean, Keluarahan Perdamean, Kecamatan Rantau Selatan, Rantauprapat, Labuhanbatu. Afrian lalu menelepon Gustian untuk datang.94
Gustian yang pekerjaan sehari-harinya sebagai tukang duplikat kunci tidak lama kemudian datang dan langsung marah-marah bahkan dia mencoba menakuti polisi dengan mengaku sebagai anggota Islamic State In Iraq and Syria kepada Bripka Reza.95
Mendengar pengakuan Gustian, Bripka Reza dan petugas lainnya langsung mengamankan keduanya dan diserahkan ke Unit Intelkam Polres Labuhanbatu.
93 Herdiansyah Talib, “Dua Pria Rantauprapat Ngaku Anggota ISIS”, diakses melalui http://medansatu.com, diakses Kamis, 29 Maret 2018, Pukul 00.06 wib.
2. Prosedur Penetapan Tersangka Tindak Pidana Terorisme Terhadap anggota
Islamic State In Iraq and Syria
Proses penetapan tersangka harus memenuhi ada atau tidaknya bukti permulaan. Alat bukti yang ada dirumuskan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang terdapat dalam Pasal 184 KUHAP alat bukti yang sah ialah: keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, keterangan terdakwa. Dalam proses penyidikan hanya dimungkinkan untuk memperoleh alat bukti yang sah berupa keterangan saksi, keterangan ahli, dan surat.96
Alat bukti berupa petunjuk diperoleh dari penilaian hakim setelah melakukan pemeriksaan di dalam persidangan, dan alat bukti berupa keterangan terdakwa diperoleh ketika seorang terdakwa di dalam persidangan, sebagaimana hal tersebut jelas diatur di dalam ketentuan Pasal 188 ayat (3) KUHAP dan ketentuan Pasal 189 ayat (1) KUHAP.97
Pemeriksaan terhadap tersangka yang dilakukan oleh pihak pinyidik kepolisian, masih sering dijumpai bahwa pengakuan dari tersangka adalah target yang harus dikejar oleh penyidik. Sesungguhnya hal itu adalah salah, karena sistem hukum Indonesia menghendaki pembuktian yang objektif.98
Status sebagai tersangka hanya dapat ditetapkan oleh penyidik kepada seseorang setelah hasil penyidikan yang dilaksanakan memperoleh bukti permulaan yang cukup yaitu paling sedikit 2 (dua) jenis alat bukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan melalui gelar perkara. Berdasarkan Pasal 1 butir 11 jo, Pasal 14 ayat (1) Perkap 12 Tahun 2009, prosedur penyelesian perkara termasuk penyidikan dan penetapan tersangka, harus dilakukan secara
96 Ratna Nur Afifah, Op. Cit, halaman 97. 97 Ibid., halaman 98.
professional, proporsional dan transparan agar tidak ada penyalahgunaan wewenang dan lebih jauh tidak semata-mata bertendensi menjadikan seseorang menjadi tersangka.99
J.C.T Simorangkir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tersangka adalah seseorang yang telah disangka melakukan suatu tindak pidana dan ini masih dalam taraf pemeriksaan pendahuluan untuk mempertimbangkan apakah tersangka ini mempunyai cukup dasar untuk dipersiksa di persidangan.100
Pasal 17 KUHAP, dari segi pengertian dan penerapannya mirip dengan definisi yang ada pada hukum acara pidana negara anglo saxon, yaitu dalam menjalankan tindakan pencegahan tersangka melarikan diri seperti penangkapan dan penahanan harus didasarkan adanya alat bukti sah dan saksi sehingga yang sesuai dengan due process of law. Dari pengertian bukti permulaan, bukti permulaan yang cukup pasca adanya Putusan Mahkamah Konstitusi dalam definisi ada kemiripan pada rumusan Pasal 183 KUHAP yaitu mewajibkan hakim memutus perkara berdasarkan prinsip ”batas minimal pembuktian” yang terdiri dari minimal dua alat bukti yang sah sesuai Pasal 184 KUHAP.
Adanya ketentuan minimal dua alat bukti maka harus disesuaikan dengan KUHAP yang mana tidak lagi asal tangkap, baru selanjutnya dipikirkan beban pembuktiannya. Cara yang digunakan oleh penyidik berdasarkan KUHAP yang diimbangi dengan menugaskan penyelidik yang cermat dengan teknis investigasi yang berpengalaman supaya mampu mengumpulkan alat bukti yang sah. Ketika adanya dua alat bukti yang sah baru dilakukan penetapan tersangka dilanjutkan pemeriksaan penyidik ataupun penangkapan dan penahanan terhadap tersangka.101
99 Ibid., halaman 155.
Menentukan suatu perbuatan dikatakan sebagai tindak pidana terorisme adalah apabila dalam suatu unsur perbuatan tersebut telah memenuhi unsur-unsur tindak pidana sebagaimana yang termuat dalam regulasi tindak pidana terorisme. Dengan demikian, apabila suatu perbuatan telah memenuhi unsur-unsur pasal-pasal dalam regulasi tersebut, maka seseorang telah melakukan tindak pidana terorisme. Bagaimana unsur atau rumusan suatu tindak pidana itu terpenuhi sehingga seseorang dapat dipidana, maka diperlukan pembuktian melalui Hukum Acara Pidana.102
Berkaitan dengan alat bukti yang sah, KUHAP mengatur secara litimatif alat-alat bukti yang sah, antara lain, keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa. Khusus dalam Undang-Undang Tindak Pidana Terorisme, dikenal pula alat bukti sah lainnya selain yang diatur dalam KUHAP, yakni:103
1) Informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu; 2) Data, remakan, atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau
didengar, yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang diatas kertas, benda fisik apapun selain kertas, atau yang terekam secara elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada:
1. tulisan, suara, atau gambar;
2. peta, rancangan, foto, atau sejenisnya;
3. huruf, tanda, angka, simbol, atau perforasi yang memiliki makna atau dapat dipahami oleh orang yang mampu membaca atau memahaminya.
Penetapan tersangka tindak pidana terorisme ada sedikit perbedaan dengan prosedur yang terdapat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Dalam tindak pidana terorisme penetapan tersangka dilakukan dengan 2 alat bukti yang cukup, setelah itu penyidik harus menyerahkan alat bukti kepada Ketua Pengadilan Negeri atau Wakil Ketua Pengadilan Negeri setempat sebagaimana tercantum di dalam Pasal 26 ayat (2) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.
Salah satu kekhususan dalam penanganan tindak pidana terorisme adalah adanya laporan intelijen yang dapat dijadikan sebagai alat bukti permulaan yang cukup. Prosesnya disebut hearing, dimana untuk menentukan laporan intelijen dapat dijadikan alat bukti permulaan yang cukup adalah dengan melibatkan pihak pengadilan untuk menetapkannya sebagai alat bukti permulaan yang cukup.104
Proses hearing dilakukan dimana penyidik dapat menggunakan setiap laporan intelijen untuk memperoleh bukti permulaan yang cukup. Kemudian, laporan intelijen dimaksud harus dilakukan proses pemeriksaan oleh Ketua atau Wakil Pengadilan Negeri selama 3 hari secara tertutup, untuk ditetapkan apakah sudah dapat atau diperoleh bukti permulaan yang cukup dengan suatu penetapan Pengadilan Negeri. Apabila dalam pemeriksaan oleh Ketua atau Wakil Ketua Pengadilan Negeri ditetapkan adanya bukti permulaan yang cukup, maka Ketua Pengadilan Negeri segera memerintahkan untuk dilaksanakan penyidikan.105
Menetapkan tersangka tindak pidana terorisme yang dilakukan oleh anggota Islamic State In Iraq And Syria, Kepolisian tetap mengacu kepada Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dan peraturan
undangan yang berlaku. Adapun prosedur yang dilakukan oleh pihak kepolisian adalah sebagai berikut:
a. Penangkapan dan Tertangkap tangan
Polisi melakukan penangkapan terlebih dahulu kepada kedua tersangka, penangkapan ini dilakukan dengan aksi tangkap tangan di Jalan Lintas Sigambal yang dilakukan oleh Bripka M. Reza Lubis.106 Definisi penangkapan ialah,
Penangkapan adalah suatu tindakan penyidik berupa pengekangan sementara waktu kebebasan tersangka atau terdakwa apabila terdapat cukup bukti guna kepentingan penyidikan atau penuntutan dan atau peradilan dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam Undang-undang.107
Pengertian tertangkap tangan adalah tertangkapnya seseorang pada waktu sedang melakukan tindak pidana atau dengan segera sesudah beberapa saat tindak pidana itu dilakukan, atau sesaat kemudian diserukan oleh khalayak ramai sebagai orang yang melakukannya, atau apabila sesaat kemudian padanya ditemukan benda yang diduga keras telah dipergunakan untuk melakukan tindak pidana itu yang menunjukkan bahwa ia adalah pelakunya atau turut melakukan atau membantu melakukan pidana itu.
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Tindak Pidana terorisme menjadi dasar hukum tindak pidana terorisme memiliki keistimewaan sendiri dalam aturan-aturan hukumnya yang sedikit menyimpang dari ketentuan KUHAP. Salah satu bentuk penyimpangan ialah mengenai penangkapan terorisme, dimana dalam ketentuan tersebut penyidik dapat melakukan penangkapan terhadap
106 Hasil Wawancara dengan Rolan Purba, Penyidik Subdit 1 Ditreskrimum, 20 Februari 2018.
seorang yang diduga melakukan tindak pidana terorisme dengan bukti permulaan dapat ditangkap dengan jangka waktu paling lama 7 x 24 jam atau tujuh hari.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap Bapak Rolan selaku penyidik di Kepolisian Daerah Sumatera Utara pada bagian Ditreskrimum subdit 1 bagian 4, Polisi tidak berhak melakukan penangkapan kepada seseorang yang diduga terorisme selama belum ada perbuatan teror yang dilakukannya. Tetapi fakta dilapangan polisi langsung melakukan penangkapan terhadap tersangka.108
Penangkapan tersangka tindak pidana terorisme terhadap anggota Islamic State In Iraq and Syria ialah dengan cara tertangkap tangan yang dilakukan oleh Kepolisian Polsek Sigambal, Kecamatan Rantau Selatan, Kabupaten Labuhanbatu. Penangkapan dilakukan berdasarkan bukti permulaan yaitu pengakuan atau keterangan tersangka yang mengatakan “saya adalah anggota ISIS”. Setelah dilakukan penangkapan ditempat kejadian perkara, pihak kepolisian langsung menyerahkan tersangka ke Polres Labuhanbatu untuk diamankan. Setelah melakukan pemeriksaan di Polres Labuhanbatu, tersangka kasus tindak pidana terorisme langsung diserahkan ke Kepolisian Daerah Sumatera Utara untuk melakukan penyidikan lebih lanjut.109
Pada masa penangkapan tersangka tindak pidana terorisme yang dilakukan oleh anggota Islamic State In Iraq and Syria tersangka ditangkap selama 6 x 24 jam atau enam (6) hari.110
b. Penyidikan
Pengertian Penyidikan
108 Hasil Wawancara dengan Rolan Purba, Penyidik Subdit 1 Ditreskrimum, 20 Februari 2018.
109 Ibid.