KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2010 Ida Kasi Purnamasari, Ihda Mauliyah, Dadang Kusbiantoro
…………... ……….…… …… . .….ABSTRAK…… …....………. …… …… . .….
Dengue Haemorhagic Fever (DHF) merupakan salah satu penyakit menular yang ditularkan oleh nyamuk Aedes Agypti atau nyamuk penggigit siang hari dengan manifestasi klinis berupa suhu tinggi mendadak, nyeri otot pada seluruh tubuh, nyeri dibelakang kepala hebat, suara serak, batuk, epistaksis serta disuria. DHF paling sering menyerang anak usia bermain yaitu <15 tahun.
Tujuan penelitian ini adalah menganalisa Hubungan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat dengan Kejadian DHF Pada Anak. Desain penelitian ini menggunakan Metode Analitik Korelasional dengan pendekatan cross sectional. Metode sampling yang digunakan adalah consecutive sampling. Populasinya adalah seluruh keluarga yang memeriksakan anaknya ke puskesmas dengan umur anak ≤ 21 tahun Di Polindes Warukulon Kecamatan Pucuk Kabupaten
Lamongan. Sampel yang diambil sebesar keluarga yang memeriksakan anaknya ke Polindes dengan umur anak ≤ 21 pada bulan Mei - September 2010. Data penelitian ini dengan menggunakan kuesioner tertutup dan observasi. kemudian ditabulasi data dan dijabarkan dengan tabulasi silang.
Hasil penelitian menunjukkan 10 responden yang terserang DHF dari 25 total responden yang memeriksakan anaknya ke Polindes, yaitu sebanyak 19 orang (52,6%) yang berperilaku kategori tidak sehat dan tidak ada satupun yang berperilaku kategori sehat. Melihat hasil penelitian ini maka perlu adanya kesadaran masyarakat untuk berperilaku bersih dan sehat agar dapat menghindari kejadian DHF pada anak.
Kata kunci : Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat, DHF, Anak
PENDAHULUAN.…… . … … .
Penyakit Dengue Haemorhagic Fever (DHF) merupakan salah satu penyakit menular yang dapat menimbulkan kejadian luar biasa (Hidayat, 2009). Epidemi lazim ada pada daerah beriklim sedang di Amerika, Eropa, Australia, dan Asia sampai pada awal abad ke-20 dimanaAedes Agypti mempunyai kisaran terbatas yang penyebaran epideminya terjadi terutama melalui manusia Viremia dan mengikuti jalan- jalan transportasi utama, kasus- kasus permulaan dapat menginfeksi nyamuk rumah tangga dengan sejumlah besar infeksi sekunder yang hampir bersamaan yang memberikan penyakit menular, pada tempat- tempat dengue endemik, anak- anak dan orang asing yang rentan mungkin merupakan satu-satunya orang yang dapat penyakit yang nyata.
Virus dengue ditularkan oleh nyamuk Family Stegomyia. Aedes agypti, nyamuk
penggigit siang hari, adalah vektor utama dimana pada kebanyakan daerah tropis Aedes Agypti adalah sangat urbanisasi, berkembang biak pada penyimpanan air minum atau air mandi atau pada air hujan yang terkumpul pada berbagai wadah (Nelson, 2000: 1132). Masa tunas penyakit ini 3- 15 hari tetapi rata-rata 5-8 hari. Gejala klinis muncul secara mendadak berupa suhu tinggi, nyeri otot pada seluruh tubuh, nyeri dibelakang kepala hebat, suara serak, batuk, epistaksis serta disuria. Penyakit biasanya akan sembuh sendiri dalam 5 hari dengan penurunan suhu secara lisis maka penyakit ini juga disebutVydaage, Koorts (Demam 5 Hari). (Ngastiyah, 2005: 368)
830 kasus (CFR:0,81) Dari kasus yang dilaporkan selama tahun 2009, tercatat 10 provinsi yang menunjukkan kasus terbanyak diantaranya Jawa Timur (15.362 kasus 147 meninggal) (Piogama UGM : 2009 ). Sedangkan di lamongan (Januari- April) tahun 2010 jumlah penduduk 1.263.524 jiwa yang terserang DHF sebanyak 356 jumlah kematian 4Case Fatality Rate(CFR) 1,08 % dan data di puskesmas pucuk (Januari- April) tahun 2010 jumlah penduduk 46.993 jiwa yang menderita DHF sebanyak 15 anak(60%) yang menderita DHF dari total 25 jiwa yang menderita DHF yang terdiri dari 6 penderita Dari Desa Warukulon, 2 penderita dari desa wanar, 4 penderita dari desa ngambek, 1 penderita dari desa cungkup, dan 2 penderita anak dari desa paji.
Dan data dipolindes Warukulon terdapat 6 ( 40% ) anak yang terkena DHF dari total 15 anak yang menderita DHF selama ( Januari- April ) tahun 2010. Tingginya kejadian DHF yang menyerang pada anak usia ≤21 tahun merupakan
masalah kesehatan yang memerlukan perhatian karena jika tidak penderita DHF terutama anak- anak akan semakin banyak dan bila tidak segera ditangani akan berujung pada keterlambatan penanganan DHF yang berujung pada kematian dan tingginya angka kematian karena penyakit DHF.
Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan faktor yang paling mempengaruhi dalam kejadian DHF dikarenakan pengendalian vector inilah yang dianggap cara efektif utama untuk mencegah merenjatnya DHF dengan didorong kesadaran perilaku masyarakat dalam melakukan pengendalian vector dan dilengkapi pengetahuan, sikap yang cukup tentang penyakit DHF. Dengan kesadaran hidup bersih akan tercipta lingkungan yang sehat pula dan lingkungan yang sehat akan dapat mendukung program pengendalian vector penyakit DHF Selain itu faktor pendukung lain terhadap kejadian DHF adalah fasilitas kesehatan dengan petugas kesehatan yang berkompeten dapat memperkecil kejadian penyakit ini (Piogama UGM : 2009).
Virus dengue yang memasuki tubuh manusia melaui gigitan nyamukAedes Agypti tubuh pasien membentuk kekebalan terhadap penyakit. Jika pasien diserang untuk kedua kalinya tidak akan mengalami kesulitan, kecuali jika yang menyerang kedua kalinya atau lebih tersebut jenis virus yang berbeda (Ngastiyah, 2007: 342). Pada keadaan yang jarang kematian mungkin disebabkan oleh perdarahan saluran cerna atau perdarahan intrakranial (Nelson, 2000: 1136).
Perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran (PHBS), sehingga keluarga beserta semua yang ada di dalamnya dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat terutama dibidang lingkungan yang menyangkut kebersihan merupakan cara ampuh untuk mencegah terjadinya penyakit salah satunya adalah DBD (Esty. 2009)
Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) yang menyangkut Kebersihan lingkungan dapat diangkat derajatnya dengan penyuluhan bagaimana cara pemberantasan nyamuk secara efektif dan pengikutsertaan masyarakat dalam program – program kesehatan (Misnadiarly, 2009:65), pemutusan rantai penularan yang dapat dilaksanakan dengan cara perlindungan perorangan (menggunakan Mosquito Reppelent dan Insektisidasemprotan, menuangkan air panas pada saat bak mandi berisi air sedikit, memberikan cahaya matahari lansung lebih banyak), pemberantasan vektor jangka panjang (membuang secara baik kaleng, botol, ban kemudian menguras bak mandi dan menutup tempat penampungan air ), cara lain bisa dengan menaburkan bubuk abate atau fogging (Rusepno Hasan, 2007: 620)
Tujuan penelitian Mengetahui Hubungan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Dengan Kejadian DHF Pada Anak Di Polindes Warukulon Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan Tahun 2010.
METODE PENELITIAN.… … .…
anaknya ke polindes dengan umur anak ≤ 21
tahun Di Polindes Warukulon Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan Tahun 2010 sedangkan sampelnya adalah sebesar keluarga yang memeriksakan anaknya dengan umur anak ≤ 21 tahun ke Polindes
Warukulon Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan Tahun 2010
. Variabel. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah PHBS. Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah Kejadian DHF. Pengumpulan data dengan menggunakan lembar quesioner dan observasi pengolahan data menggunakan editing, koding, tabulasi dan penjelasan tabel silang.
HASIL
.PENELITIAN …
1. Data Umum
1) Karakteristik Responden (1) Umur
Tabel 1 Distribusi Umur Responden Untuk Anak di Desa Warukulon Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan Tahun 2010
No Umur Frekuensi Prosentase (%)
1
Berdasarkan tabel 1 diatas dapat dijelaskan bahwa dari 25 responden Sebagian besar memiliki anak berusia 0-7 tahun sebanyak 13 anak (52%) dan sebagian kecil memiliki anak berusia 14-21 tahun sebanyak 3 anak (12%)
Tabel 2 Distribusi Umur Responden untuk Ibu Desa Warukulon Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan Tahun 2010
No Umur Frekuensi Prosentase (%) 1
Berdasarkan tabel 2 diatas dapat dijelaskan bahwa dari 25 responden Sebagian besar berada pada rentang umur 21-30 tahun yaitu sebanyak 14 orang (56%) dan tidak satupun berada pada rentang umur >40 tahun (0%). (2) Pendidikan
Tabel 3 Distribusi Pendidikan Responden di Polindes Desa Warukulon
Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan Tahun 2010
No Pendidikan Frekuensi Prosentase (%) 1.
Berdasarkan tabel 3 diatas dapat dijelaskan bahwa dari 25 responden Sebagian besar berpendidikan SLTA sebanyak 13 orang (52%) dan tidak satupun yang tidak sekolah (0%). (3) Pekerjaan
Tabel 4 Distribusi Pekerjaan Responden di Desa Warukulon Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan Tahun 2010
No Pekerjaan Frekuensi Prosentase (%)
2. Data Khusus
1. Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Keluarga yang berhubungan dengan DHF Di Polindes Warukulon Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan Tahun 2010.
Tabel 5 Distribusi Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Keluarga yang berhubungan dengan DHF Di Polindes Warukulon Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan Tahun 2010.
No PHBS Frekuensi Prosentase (%) 1
Berdasarkan tabel 5 diatas dapat di jelaskan bahwa dari 25 responden hampir seluruh memiliki perilaku yang tidak sehat berhubungan dengan DHF sebanyak 19 orang (76%) dan sebagian kecil memiliki perilaku yang sehat berhubungan dengan DHF sebanyak 6 orang (24%).
2. Kejadian DHF Pada Anak Di Polindes Warukulon Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan Tahun 2010.
Tabel 6. Distribusi Kejadian DHF Pada Anak Di Polindes Warukulon Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan Tahun 2010.
No Kejadian
DHF Frekuensi Prosentase (%) 1
Berdasarkan tabel 6 diatas dapat dijelaskan bahwa dari 25 responden Hampir setengah responden terserang penyakit DHF sebanyak 10 orang (40%) dan Sebagian besar responden tidak terserang penyakit DHF sebanyak 15 orang (40%).
Tabel 7. Distribusi Pasien DHF Pada Anak Berdasarkan Umur Di Polindes Warukulon Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan Tahun 2010.
No Pasien DHF Frekuensi Prosentase (%) 1
Berdasarkan tabel 7 diatas dapat dijelaskan bahwa dari 10 anak yang terserang DHF Setengahnya terdapat pada rentan umur 0-7 tahun sebanyak 5 orang(50%) dan sebagian kecil terdapat pada rentan umur 7-14 tahun sebanyak 2 orang(20%).
3. Hubungan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Keluarga Yang Berhubungan Dengan Kejadian DHF Pada Anak Di Polindes Warukulon Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan Tahun 2010.
Tabel 8. Distribusi Hubungan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Keluarga Yang Berhubungan Dengan Kejadian DHF Pada Anak Di Polindes Warukulon Kecamatan Pucuk Kabupaten
orang (47,4%). Sedangkan responden dengan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Keluarga yang berhubungan dengan DHF tergolong sehat yaitu 6 orang, Seluruh responden tidak mengalami DHF sebanyak 6 orang (100%) dan tidak ada satupun yang mengalami DHF (0%).
PEMBAHASAN.… .…
1. Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Keluarga yang berhubungan dengan DHF
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 25 responden dan didapatkan bahwa hampir seluruh responden memiliki Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat yang tidak sehat 19 orang (76%) , dan sebagian kecil memiliki Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat yang sehat 6 orang(24%).
PHBS adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran, sehingga keluarga beserta semua yang ada di dalamnya dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat (Esty. 2009). Dimana dari perilaku sehat manusia akan lebih terjamin atas kesehatan yang dimilikinya.
Menurut Soekidjo N (2008) Dasar orang berperilaku dipengaruhi oleh nilai, sikap, pendidikan/pengetahuan. Dari tabel distribusi menurut pendidikan didapatkan lebih dari sebagian berpendidikan SLTA sebanyak 13 orang (52%), Menurut Wahid et al (2007:30) cara merubah perilaku manusia dibagi menjadi tiga rantai pendukung utama yaitu kesungguhan, di awali dari lingkungan keluarga , dan Pemberian peyuluhan. Dimana status tingkat pendidikan yang dimiliki oleh seseorang belum tentu akan menjamin seseorang berperilaku yang sehat tanpa disertai sikap yang baik. Dan begitu sebaliknya tingkat pendidikan yang rendah belum tentu akan menjamin seseoran berperilaku tidak sehat.
Faktor usia juga dapat berpengaruh pada perilaku, dari hasil penelitian didapatkan Sebagian besar ibu (56%) berusia 21- 30 tahun. Pada usia ini merupakan usia yang aktif dalam menerima informasi karena
pada masa ini merupakan usia dewasa muda dan usia produktif dimana belum terjadi proses degenerasi dan daya ingat terhadap informasi yang diterima dari berbagai media baik dari media cetak ataupun media elektronik, baik langsung maupun tidak langsung akan lebih muda diingat dan difahami, sehingga dapat terwujud dengan adanya pengetahuan yang tinggi dan berpengaruh terbentuknya perilaku yang sehat. Pada usia ini terjadi peralihan dari masa remaja ke dewasa, sehingga perkembangan fikiran mereka masih labil dan belum dapat menentukan keputusan sendiri, mereka membutuhkan orang-orang disekitar mereka untuk mendukung keputusannya dan mempunyai kebiasaan yang baik, kemungkinan pengalaman terhadap aplikasi sehari-hari masih kurang, ibu yang masih muda cenderung langsung menerima informasi baru begitu saja tanpa didasari pengetahuan, sikap, pendidikan yang cukup dalam hal ini tentang perilaku hidup bersih dan sehat yang berhubungan dengan DHF.
Menurut (Soekidjo N, 2007: 140) Penerimaan perilaku atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini, dimana didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya, apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan, sikap dan kesadaran akan tidak berlangsung lama.
Menurut Green (1908) dalam Soekidjo (2007), Perilaku dalam berpola hidup bersih dan sehat selain dipengaruhi oleh pendidikan dan usia, juga dipengaruhi oleh factor lain yaitu :
1) Faktor-faktor predisposisi, yang terwujud dalam pengetahuan, pendidikan, kepercayaan, sikap, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya 2) Faktor-faktor pendukung, yang
terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas atau sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obat-obatan dan sebagainya.
petugas kesehatan atau petugas yang lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat. Didalam program-program kesehatan, agar diperoleh perubahan perilaku yang sesuai dengan norma-norma kesehatan, sangat diperlukan usaha-usaha konkrit dan positif dari tenaga kesehatan. Beberapa strategi untuk memperoleh perubahan perilaku tersebut oleh WHO dikelompokkan menjadi tiga yaitu : 1) Menggunakan kekuasaan atau dorongan. 2) Pemberian informasi, untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat sehingga timbul kesadaran mereka yang akhirnya akan berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki, dalam hal ini diharapkan setelah ibu mendapat informasi tentang cara berperilaku bersih dan sehat yang dapat meminimalisir kejadian DHF pada anak dan ibu bisa menerapkan dengan benar. 3) Diskusi dan partisipasi, dimana masyarakat tidak hanya pasif tetapi juga aktif berpartisipasi terutama dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat yang berhubungan dengan DHF.
Sedangkan menurut Depkes RI (2009) berpola Hidup Bersih Dan Sehat dalam lingkungan rumah tangga yang diterapkan dalam pencegahan tingginya kejadian penyakit DHF dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara melakukan 3M plus (Menguras, Menutup, Mengubur, Plus Menghindari gigitan nyamuk) diantaranya : Mengubur atau menyingkirkan barang bekas yang dapat menampung air, Menutup rapat tempat penampungan air, Menguras dan menyikat tempat penampungan air, Memakai obat anti nyamuk baik dalam bentuk lotion atau semprot pada jam (08.00- 18.00), Menghindari kebiasaan menggantung pakaian didalam kamar, rumah dalam keadaan bersih dan tidak lembab, Menaburkan larvasida (bubuk pembunuh jentik nyamuk atau bubuk abate), tidak membiasakan cara membuang sampah dengan ditimbun, Selalu mengikuti fogging yang diadakan oleh lingkungan sekitar tempat tinggal
2. Kejadian DHF Pada Anak Di Polindes Warukulon Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan Tahun 2010
Berdasarkan hasil penelitian Di Polindes Warukulon Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan Tahun 2010 menunjukkan bahwa dari 25 anak Hampir setengah 10 anak (40%) yang terserang DHF. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi yaitu Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat dalam lingkungan keluarga.
Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat dimaksud adalah adanya kebiasaan Mengubur atau menyingkirkan barang bekas yang dapat menampung air, Menguras dan menyikat tempat penampungan air setiap minggu, Memakai obat anti nyamuk baik dalam bentuk lotion atau semprot pada jam (08.00- 18.00), Menghindari kebiasaan menggantung pakaian didalam kamar, Menaburkanlarvasidaatau bubuk pembunuh jentik nyamuk, Tidak membiasakan cara membuang sampah dengan ditimbun. Kebiasaan sehari- hari adalah salah satu cara untuk membentuk perilaku yang sehat.
tahun anak lebih suka bermain diluar dan dapat tergigit nyamuk karena nyamuk Aedes juga suka berlindung ditempat yang rindang.
Meskipun dengan gejala klinis awal sama baik pada usia dewasa dan anak, diantaranya : (demam mendadak yang bisa mencapai >40ºC dan beralangsung selama 2-7 hari, memerahnya kulit muka, tidak ada nafsu makan, muntah, nyeri kepala, nyeri otot dan persendian). Dimana dengan demam tinggi >40ºC dapat disertai kejang dan terjadi shock yang berakibat kematian.
Menurut Webmaster dalam Misnadiarly (2009:32) Faktor daya tahan tubuh anak yang belum sempurna seperti halnya orang dewasa agaknya juga merupakan faktor mengapa anak lebih banyak terkena penyakit DHF dibanding orang dewasa dan virus dengue lebih cepat berkembang banyak pada seseorang yang terkena infeksi ini akibatnya sel jaringan akan rusak dan dapat mematikan. Walaupun sebagian besar anak sembuh dengan sendirinya, diobati maupun tidak diobati oleh karena penyakit virus bersifat self – limiting diseasejadi penyakit infeksi yang disebabkan virus mempunyai keunikan yaitu datang mendadak, penyakit berjalan terus walaupun diobati, dan akhirnya sembuh dengan sendirinya tergantung pada ketahanan tubuh orang yang terkena.
Pengaruh musim terhadap DHF tidak begitu jelas, tetapi secara garis besar dapat dikemukakan bahwa jumlah penderita meningkat antara bulan September -Nopember walaupun DHF saat ini di indonesia dapat terjadi disemua bulan dalam satu tahun karena perpanjangan musim penghujan dan pola hidup yang tidak sehat, sedangkan secara keseluruhan tidak ada perbedaan antara jenis kelamin dengan tinggiya penderita DHF pada anak tetapi kematian ditemukan lebih banyak pada anak perempuan dibandingkan anak laki- laki karena dipengaruhi proses penyembuhan pada saat menderita DHF lebih manja anak perempuan terhadap orangtua dibandingkan anak laki- laki.
3. Hubungan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Keluarga Yang Berhubungan Dengan Kejadian DHF Pada Anak Di Polindes Warukulon Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan Tahun 2010.
Berdasarkan hasil dari tabulasi silang jadi H1 diterima berarti ada hubungan antara Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Dengan Kejadian DHF Pada Anak Di Polindes Warukulon Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan Tahun 2010.
Adanya hubungan tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan Depkes RI (2009) bahwa kejadian DHF merupakan salah satu fenomena yang dipengaruhi oleh Pola Hidup Bersih Dan Sehat dalam lingkungan, oleh karena itu Misnadiarly (2009: 32) mengatakan bahwa penerapan Pola Hidup Bersih Dan Sehat sangat penting terutama untuk meminimalisir kejadian DHF pada anak. Apabila responden penelitian ini mempunyai perilaku yang tidak sehat maka kemungkinan dapat meningkatkan tingginya angka kejadian DHF terutama pada anak.
Masih banyaknya keluarga yang berperilaku tidak sehat meskipun lebih dari sebagian berpendidikan SLTA sebanyak 13 orang(52%), Menurut Wahid et al (2007:30) cara merubah perilaku manusia dibagi menjadi 3 rantai pendukung utama yaitu kesungguhan, di awali dari lingkungan keluarga,dan Pemberian peyuluhan. Dimana status tingkat pendidikan yang dimiliki oleh seseorang belum tentu akan menjamin seseorang berperilaku yang sehat tanpa disertai sikap yang baik.
karena nyamuk Aedes juga suka berlindung ditempat yang rindang.
Dapat disimpulkan bahwa seseorang yang memiliki perilaku yang sehat akan terhindar dari penyakit DHF, karena dalam kejadian DHF dipengaruhi oleh kebersihan lingkungan fisik, fasilitas kesehatan, PHBS dan petugas kesehatan. Begitu juga sebaliknya, seseorang yang terkena DHF sebagian besar mempunyai perilaku yang tidak sehat, dalam hal ini kebiasaan perilaku hidup bersih dan sehat ibu atau keluarga yang berhubungan dengan DHF.
Keterbatasan dalam penelitian ini antara lain sampel yang digunakan terbatas dan
instrumen yang digunakan adalah kuesioner sehingga bersifat subyektif serta
kemungkinan terjadinya perbedaan persepsi dalam menjawab pertanyaan yang diajukan
KESIMPULAN DAN SARAN. …
1. Kesimpulan
1) Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Keluarga di Polindes Waru Kulon Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan Tahun 2010 hampir seluruh mempunyai perilaku tidak sehat.
2) Kejadian DHF pada anak di Polindes Waru Kulon Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan Tahun 2010 lebih dari sebagian terserang DHF.
3) Terdapat hubungan yang signifikan antara Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Dengan Kejadian DHF pada anak. di Polindes Waru Kulon Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan Tahun 2010 2. Saran
Hasil penelitian ini di gunakan sebagai sumbangan bagi ilmu pengetahuan dan sebagai pembanding khususnya dalam hal Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Dengan Kejadian DHF Pada Anak dalam memperkaya informasi tentang Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Dengan Kejadian DHF Pada Anak.
Dapat di gunakan sebagai perkembangan ilmu kesehatan bagi penderita DHF di indonesia dan mengurangi jumlah angka DHF.
Hasil penelitian ini di harapkan dapat menjadi masukan dalam bidang kesehatan tentang Peran Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Dengan Kejadian DHF Pada Anak.
Di harapkan penelitian ini bisa memberikan masukan bagi profesi Kebidanan dalam memberikan informasi pada pasien DHF terutama yang mempunyai masalah tentang Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Dengan Kejadian DHF Pada Anak.
Dapat di gunakan sebagai referensi atau langka awal dalam penelitian berikutnya, terutama penelitian yang berkaitan tentang pentingnya Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Dengan Kejadian DHF Pada Anak.
. . .DAFTAR PUSTAKA . . . Abu ahmadi, H, Drs, (2005). Psikologi
Perkembangan. Jakarta : Rineka Cipta
Admin, (2009).Tugas- Tugas Perkembangan Anak. http://www.wordpress.com. Diakses: Tanggal 26 Juli 2009. Jam 11.17 WIB.
Alan R, (2006). Demam Dan Trombosit Turun. http://www.wordpress.com. Diakses: Tanggal 26 Juli 2009. Jam 11.17 WIB
Bambang prasetyo, (2006). Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Depkes RI, (2005). Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dan Pemerikasaan Jentik Nyamuk Buku 5. Pelatihan PSN- DBD Departemen Kesehatan RI.
Depkes RI, (2005). Penyelidikan Epidemiologis Penanggulangan Fokus Dan Penanggulangan Vektor Pada Kejadian Luar Biasa Demam Berdarah Dengue Buku 4. Pelatihan PSN- DBD Departemen Kesehatan RI.
Dengue Buku 3. Pelatihan PSN-DBD Departemen Kesehatan RI. Depkes RI, (2006). Buku Pedoman Juru
Pemantauan Jentik, Dinkes Kabupaten Lamongan. Pelatihan PSN- DBD Departemen Kesehatan RI.
Depkes RI, (2009). Perilaku Hidup Bersih
Dan Sehat,
[email protected]. Diakses: Tanggal 07 April 2010. Jam 09.00 WIB.
Depkes RI, (2004). 5 Kriteria Diagnosis Dugaan Kasus Demam Berdarah. http://www.depkes.com. Diakses: Tanggal 26 Juli 2009. Jam 13.00 WIB.
Esty dr, (2009).Perilaku Hidup Bersih Dan
Sehat (PHBS).
http://www.dinkeskotasurabaya.co m. Diakses: Tanggal 26 Juli 2009. Jam 13.00 WIB.
FKUI (2007). Ilmu Kesehatan Anak. Bagian II. Jakarta: Infomedika.
Lenny, (2009). Doktere Cilik, http://www.wordpress.com.
Diakses: Tanggal 26 Juli 2009. Jam 11.17 WIB.
Misnadiarly, (2009). Demam Berdarah Dengue. Jakarta: Pustaka Populer Obor
Nelson, (2005). Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 2. Jakarta: EGC.
Ngastiyah, (2007). Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC
Nursalam, (2008). Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Ilmu Keperawatan. Jakarta:Salemba Medika
Putra Kusuma, (2010). 5 Diagnosis Banding Penyakit Dengan Gejala Demam, http://www.sobatsehat.com.
Diakses: Tanggal 07 April 2010. Jam 09.00 WIB.
Ratu T, (2009). Cegah DBD Dengan Hidup Sehat
http://www.kesehatanhome.com. Diakses: Tanggal 26 Juli 2009. Jam 13.00 WIB.
Rauda, (2008). Sosiologi Lingkungan. http://www.google.com. Diakses: Tanggal 26 Juli 2009. Jam 13.00 WIB.
Renny A, (2007). Kesehatan Lingkungan
Pertemuan Pertama.
http://www.phitosezone.com. Diakses: Tanggal 26 Juli 2009. Jam 13.00 WIB.