• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Awal Penyusunan Instrumen Penilai

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kajian Awal Penyusunan Instrumen Penilai"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Konferensi Nasional Teknik Sipil 10 Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 26-27 Oktober 2016

1

KAJIAN AWAL PENYUSUNAN INSTRUMEN PENILAI JALAN HIJAU

DI INDONESIA

Wulfram I. Ervianto1

1

Program Studi Teknik Sipil, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jl. Babarsari 44 Yogyakarta Email: [email protected]

ABSTRAK

Terkait agenda pembangunan konektivitas nasional yang dituangkan dalam dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) tentang pembangunan infrastruktur jalan, pelabuhan, bandar udara, dan sarana pendukung air minum akan berdampak langsung terhadap kestabilan lingkungan. Salah satu jenis infrastruktur yang membutuhkan lahan relatif luas adalah jalan raya. Berdasarkan data Statistik Transportasi Darat Indonesia tahun 2014 diperlihatkan data panjang jalan di Indonesia mencapai 517.663 km. Berdasarkan tingkat kewenangan pembinaannya, 417.793 km (80,71%) merupakan jalan kabupaten/kota. Sedangkan panjang jalan negara dan provinsi adalah 46.432 km (8,97%) dan 53.438 km (10,32%). Berdasarkan jenis permukaannya, 57,17% dari panjang jalan total merupakan jalan beraspal; 19,72% jenis permukaan kerikil, dan 17,84% jenis permukaan tanah dan 5,27% lainnya. Terlihat bahwa dominasi permukaan jalan di Indonesia berupa jalan beraspal dimana prosesnya tidak ramah lingkungan jika menggunakan pencampuran panas. Selain itu, luas lahan yang diperlukan dalam pembangunan jalan raya relatif luas yang berpotensi mengusik keanekaragaman hayati dan hewani. Saat pelaksanaan konstruksi seringkali berada di daerah yang tergolong sensitif, yaitu : (a) kawasan hutan, (b) kawasan rawan bencana, (c) kawasan lindung di luar kawasan hutan, (d) kawasan cagar budaya, (e) kawasan khusus, (f) kawasan komersial, pemukiman, dan lahan produktif, (g) daerah komunitas rentan (komunitas adat terpencil dan fakir miskin). Upaya untuk mengetahui seberapa ramah lingkungan proses pembangunan jalan raya diperlukan instrumen untuk mengetahui seberapa ramah lingkungan aktivitas proses yang dilakukan oleh kontraktor yang mencakup: Sumber dan Siklus Material, Manajemen Lingkungan Bangunan, Konservasi Energi, Kualitas Udara, Kesehatan dan Kenyamanan Dalam Proyek, dan Konservasi Air. Hal ini perlu dilakukan karena penerima dampak langsung adalah masyarakat dan lingkungan di sekitar proyek.

Kata kunci: Kajian; Proses Konstruksi; Infrastruktur; Jalan Raya.

1.

PENDAHULUAN

Infrastruktur memiliki peran yang signifikan dalam memberikan kontribusi terhadap peningkatan daya saing perekonomian di suatu negara. Selain sebagai barang modal yang secara langsung dapat menghasilkan produksi, infrastruktur juga menjadi landasan bagi perekonomian yang secara tidak langsung berpotensi meningkatkan proses produksi (fasilitas proses transportasi dan irigasi), serta sebagai sarana penting bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat yang secara tidak langsung mampu meningkatkan produksi. Salah satu jenis infrastruktur yang berperan penting dalam mewujudkan konektivitas antar daerah adalah jalan raya. Mengingat peran pentingnya infrastruktur jalan raya dalam pendistribusian barang dan jasa, maka pemerintah Indonesia memprogramkan jalan tol sepanjang 1.000 km yang dimuat dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Tahun 2015-2019. Penambahan jalan tol sepanjang ± 1.153 km mencakup Trans Sumatera, Trans Jawa, Tol Samarinda-Balikpapan, dan Tol Manado-Bitung.

(2)

isu penting selain isu keterbatasan sumberdaya alam dan kerusakan lingkungan. Salah satu konsep yang diyakini mampu mereduksi isu tersebut adalah pendekatan green dalam mengelola infrastruktur.

2.

TUJUAN DAN MANFAAT

Tujuan penelitian adalah melakukan kajian hal-hal yang perlu dipertimbangkan untuk menyusun instrumen penilai konstruksi hijau yang sesuai dengan lingkungan di Indonesia. Hasil kajian dapat dimanfaatkan dalam penyusunan instrumen penilai jalan hijau di Indonesia.

3.

KAJIAN PUSTAKA

Isu “keberlanjutan” telah menjadi bagian penting yang perlu dikaji di tingkat global maupun nasional Indonesia. Hal ini diperkuat dengan adanya fenomena meningkatnya konsentrasi di udara yang dipicu terjadinya revolusi industri pada abad ke-17 dengan ditemukannya mesin uap oleh James Watt. Hal ini diperkuat oleh Salim, E., (2010) yang menyatakan bila cara-cara pembangunan tetap dilakukan seperti biasanya tanpa perubahan, maka pada tahun 2050 diperkirakan konsentrasi akan mencapai 500 part per million (ppm) atau menjadi dua kali lipat konsentrasinya bila dibandingkan sebelum revolusi industri. Dampak nyata peristiwa ini adalah terjadinya perubahan iklim yang mengancam kehidupan di Bumi. Oleh sebab itu, para ahli sedunia sepakat menetapkan konsentrasi sebesar 450-550 ppm. Di lingkup nasional tepatnya dalam Konferensi Bali pada bulan Desember 2007, Indonesia telah menyepakati tentang pola pembangunan abad ke-21 yang berkadar rendah karbon dengan cara menurunkan konsentrasi di udara sebesar 26% ⁄ 41% di akhir tahun 2020 (Salim 2010, h.11). Tentu kesepakatan ini perlu direspon positif oleh seluruh sektor bisnis termasuk konstruksi.

Dalam pengelolaan proyek konstruksi, salah satu pendekatan yang perlu diakomodasi adalah pengelolaan proyek konstruksi yang semula bersifat terpisah atau separated (gambar 1) menjadi terintegrasi (integrated) di setiap daur hidupnya. Perbedaan antara kedua pendekatan tersebut terletak pada interaksi setiap tahap yang mengutamakan terjadinya aliran “nilai” ke tahap-tahap berikutnya serta mekanisme umpan balik di tahap tertentu terhadap tahap-tahap sebelumnya. Dengan mekanisme tersebut diatas diharapkan terjadi perbaikan untuk proyek berikutnya.

Studi

Kelayakan Perencanaan Pengadaan Konstruksi Operasional Habis pakai

Gambar 1. Manajemen proyek terpisah

Salah satu hal penting bagi negara adalah konektivitas antar daerah sehingga dapat menyalurkan berbagai komoditas guna mencukupi kebutuhan hidup bagi warganya yang berada di daerah tertentu. Selain itu, ketersediaan infrastruktur jalan nasional, propinsi, dan kabupaten/kota turut menentukan harga dari sebuah komoditas, oleh sebab itu isu konektivitas antar daerah menjadi prioritas utama saat ini. Berdasarkan data Statistik Transportasi Darat Indonesia tahun 2014, data panjang jalan di Indonesia mencapai 517.663 km. Berdasarkan tingkat kewenangan pembinaannya, 417.793 km (80,71%) merupakan jalan kabupaten/kota. Sedangkan panjang jalan negara dan provinsi secara berturutan adalah 46.432 km (8,97%) dan 53.438 km (10,32%). Berdasarkan jenis permukaannya, 57,17% dari panjang jalan total merupakan jalan beraspal; 19,72% jenis permukaan kerikil, dan 17,84% jenis permukaan tanah dan 5,27% lainnya. Terlihat jelas bahwa dominasi permukaan jalan di Indonesia berupa jalan beraspal dimana prosesnya tidak ramah lingkungan jika menggunakan pencampuran panas. Selain itu, luas lahan yang diperlukan dalam pembangunan jalan raya relatif luas dan berpotensi mengusik keanekaragaman hayati dan hewani.

Agenda strategis Kementerian PUPR

Dalam dokumen Rencana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Tahun 2015-2019 dimuat beberapa agenda strategis, antara lain : (a) Pembangunan jalan tol sepanjang 1.000 km, (b) Peningkatan kapasitas jalan nasional sepanjang 3.073 km, (c) Preservasi jalan nasional sepanjang 47.017 km. Tentu agenda tersebut diatas akan memberikan dampak positif bagi kesejahteraan rakyat namun berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan jika tidak dikelola secara bijaksana. Oleh sebab itu, diperlukan pendekatan yang tepat agar dampak negatif yang dihasilkan selama proses konstruksi minimum.

Pendekatan konstruksi hijau

(3)

praktek di lapangan, komponen input (pekerja, material, metoda, peralatan, uang) perlu dikelola secara efisien agar dihasilkan infrastruktur ramah lingkungan yang diukur oleh : (a) banyak sedikitnya limbah yang dihasilkan, (b) keselamatan dan kesehatan pekerja konstruksi dalam proyek, dan (c) kesehatan masyarakat di sekitar lokasi proyek.

Dalam penelitian yang dikembangkan oleh Ervianto, W.I., 2015 tentang Pengembangan Model Assessment Green Construction Pada Proses Konstruksi Untuk Proyek Gedung di Indonesia membagi tujuh aspek penting dalam proses konstruksi, yaitu :

1.

Konservasi energi, tujuannya adalah melakukan pemantauan dan pencatatan pemakaian energi, penghematan konsumsi energi, dan pengendalian penggunaan sumber energi yang berdampak pada lingkungan selama proses konstruksi.

2.

Konservasi air, tujuannya adalah melakukan pemantauan dan pencatatan pemakaian air, penghematan konsumsi air, dan menggunakan kembali air selama proses konstruksi.

3.

Tepat guna lahan, tujuannya adalah memelihara kehijauan lingkungan serta mengurangi emisi CO2 dan polutan. Selain itu, untuk mengurangi beban drainase kota yang ditimbulkan oleh limpasan air hujan akibat proses konstruksi dalam hal jumlah dan kualitasnya.

4.

Sumber dan siklus material, maksudnya untuk menahan eksploitasi sumberdaya alam tak terbarukan agar daur hidupnya lebih lama. Tujuan dalam aspek ini adalah: (a) Menggunakan material lokal bekas bangunan atau hasil dekonstruksi untuk mengurangi pemakaian material baru sehingga dapat mengurangi limbah di tempat pembuangan akhir dan memperpanjang usia pakai material. (b) Menggunakan bahan bangunan pabrikasi hasil proses daur ulang yang ramah lingkungan. (c) Menggunakan bahan baku kayu yang dapat dipertanggungjawabkan asal usulnya. (d) Menggunakan material lokal untuk mengurangi pemakaian energi selama proses transportasi.

5.

Manajemen lingkungan bangunan, maksud dan tujuannya adalah mengurangi timbulnya limbah sehingga beban di tempat pembuangan akhir berkurang dan mendorong gerakan pemilahan sampah secara sederhana untuk mempermudah proses daur ulang.

6.

Kualitas udara, bertujuan untuk mengurangi terjadinya pencemaran udara yang ditimbulkan oleh bahan bangunan dan peralatan yang digunakan selama proses konstruksi berlangsung.

7.

Kesehatan dan kenyamanan dalam proyek, tujuannya adalah mengurangi dampak asap rokok di udara, mengurangi polusi zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan manusia, menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan proyek.

Ketujuh aspek tersebut diatas diadopsi untuk mengembangkan instrumen konstruksi hijau untuk proyek jalan raya dengan pertimbangan bahwa pada tingkat aspek konstruksi hijau masih sesuai antara proyek gedung dengan proyek jalan raya, sedangkan perbedaannya terletak pada indikator konstruksi hijau yang disebabkan karena di tingkat indikator merepresentasikan aktivitas proses konstruksi di proyek, dimana aktivitas dalam proyek gedung relatif lebih banyak dibanding proyek jalan.

4.

PELAKSANAAN PEKERJAAN

Salah satu karakteristik pekerjaan jalan adalah luasnya lahan yang harus dikelola oleh kontraktor. Tidak jarang ditemui saat pelaksanaan konstruksi berada di daerah yang tergolong sensitif, yaitu : (a) kawasan hutan, (b) kawasan rawan bencana, (c) kawasan lindung di luar kawasan hutan, (d) kawasan cagar budaya, (e) kawasan khusus, (f) kawasan komersial, pemukiman, dan lahan produktif, (g) daerah komunitas rentan (komunitas adat terpencil dan fakir miskin). Bila trase jalan yang direncanakan akan melewati daerah tersebut diatas maka aktivitas konstruksi wajib mentaati peraturan daerah setempat. Hal ini perlu dilakukan karena penerima dampak langsung adalah masyarakat dan lingkungan di sekitar proyek. Aktivitas konstruksi dalam pekerjaan jalan dibedakan menjadi dua, yaitu : (a) persiapan pelaksanaan pekerjaan jalan, (b) pelaksanaan/proses konstruksi pekerjaan jalan.

a.

Persiapan pelaksanaan pekerjaan

(4)

lebih pasti sehingga durasi pelaksanaan pekerjaan menjadi lebih singkat; (3) Pembangunan jalan masuk dan akses jalan, pada umumnya berupa pembuatan jalan baru atau peningkatan jalan eksisting sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran debu dan kebisingan; dan (4) Pembangunan base camp, berfungsi untuk mendukung pelaksanaan pekerjaan yang mencakup kantor proyek, gudang material, bengkel, stone crusher, batching plant, penyimpanan alat berat, dan barak pekerja. Fasilitas ini hendaknya ditempatkan di sekitar lokasi proyek.

b.

Pelaksanaan pekerjaan

Pengelolaan dalam tahap konstruksi mencakup tiga hal yaitu pengelolaan di lokasi tapak proyek; pengelolaan di lokasi quarry dan jalur pengangkutan material; pengelolaan di lokasi base camp (gambar 2).

Pelaksanaan Pekerjaan Infrastruktur Jalan

Lokasi Tapak Proyek Lokasi Quarry Dan Jalur Lokasi Base Camp Pengangkutan Material

Gambar 2. Pengelolaan di tahap konstruksi

Pengelolaan lokasi tapak proyek

Aktivitas yang dilakukan dalam tahap ini adalah : (a) Pembersihan lahan, yang mencakup pembersihan vegetasi berupa semak belukar dan pepohonan. Dalam prinsip green, wajib menghindari menebang pohon namun apabila sangat terpaksa maka dianjurkan untuk memindahkan pohon ke lokasi lain. Sedangkan pohon yang berada di sekitar tapak proyek perlu dilindungi agar tidak rusak akibat proses konstruksi. (b) Pekerjaan tanah, diawali dengan pengupasan tanah bagian atas (top soil) berupa humus karena lapisan ini dapat mempengaruhi kekuatan bangunan jalan. Kedalaman lapisan humus bervariasi tergantung dari lokasi dan jenis tanah pada lahan tersebut. Mengingat manfaat lapisan humus baik digunakan untuk kegiatan bercocok tanam (pertanian dan perkebunan) maka disarankan untuk dipindahkan ke tempat lain yang membutuhkan. Untuk aktivitas galian dan timbunan, perlu dihitung dan direncanakan sebaik mungkin terutama informasi volume galian dan timbunan serta skema pemindahan tanah dari sumber ke tujuan agar diperoleh jarak terpendek sehingga konsumsi energi yang digunakan minimum. Selain itu perlu perhatian tentang kualitas udara dalam proyek, persoalan kebisingan, pencemaran air permukaan dan air tanah, terganggunya stabilitas lereng, perubahan bentang alam dan terusiknya situs/cagar budaya. (c) Pekerjaan badan jalan meliputi :

1. Pekerjaan pondasi bawah, material yang digunakan adalah pasir dan batu (sirtu) melalui proses penghamparan, pencampuran, penataan, dan pemadatan. Potensi dampak negatif yang ditimbulkan adalah pencemaran udara berupa debu.

2. Pekerjaan pondasi atas, material yang digunakan adalah batu pecah. Potensi dampak negatif yang ditimbulkan oleh aktivitas ini adalah pencemaran udara berupa debu.

3. Lapis perkerasan, terdapat dua jenis lapis perkerasan yaitu perkerasan lentur dan perkerasan kaku. Lapis perkerasan lentur umumnya menggunakan aspal melalui pencampuran panas dalam suhu tinggi, dampak negatif yang ditimbulkan adalah besarnya kebutuhan energi/bahan bakar yang berpotensi menimbulkan emisi dan gas buang.

4. Penghijauan dan pertamanan, aktivitas ini mencakup pemasangan gebalan rumput, penanaman tanaman berupa semak, perdu, pohon di tepi dan median jalan serta pulau jalan. Jenis tanaman yang ditanam harus memenuhi kriteria tertentu agar diperoleh manfaat terbaiknya namun tetap mengutamakan keselamatan pengguna jalan. Tujuan aktivitas ini untuk mengurangi pencemaran udara, mengurangi tingkat kebisingan, mencegah erosi dan longsor serta fungsi estetika dan kenyamanan bagi pengguna jalan.

Pengelolaan lokasi

quarry

dan jalur transportasi material

(5)

misalnya menggunakan penutup terpal di bagian bak truk. Selain proses transportasi material, pendekatan ramah lingkungan juga harus dilakukan terhadap aktivitas proses dalam quarry berupa emisi yang ditimbulkan mulai dari tambang hingga siap untuk ditransportasikan ke lokasi proyek (gambar 4).

Q1

Gambar 3. Optimalisasi transportasi material dari quarry ke lokasi proyek

Tambang Transportasi

Gambar 4. Bagan alir proses penyediaan material pasir dan kerikil dari tambang ke quarry

Pengelolaan

base camp

Base camp merupakan bangunan fasilitas pendukung bersifat sementara yang terdiri dari kantor proyek dan barak pekerja sebagai tempat tinggal bagi pekerja konstruksi yang berasal dari luar daerah. Kedua fasilitas ini diletakan di luar lokasi proyek demi keamanan dan kesehatan. Namun demikian jika sangat terpaksa dengan mempertimbangkan faktor transportasi dan ketersediaan lahan, maka fasilitas ini dimungkinkan diletakan di dalam lokasi proyek akan tetapi secara tegas perlu dipisahkan antara barak pekerja dan area kerja.

(6)

Barak pekerja merupakan fasilitas untuk tinggal bagi pekerja konstruksi, dengan beberapa persyaratan sebagai berikut : (a) Struktur bangunan harus kokoh dan tidak mudah terbakar, (b) Menyediakan fasilitas mandi-cuci-kakus yang memadai dan dilengkapi sistem pembuangan air yang memenuhi persyaratan kesehatan, (c) Menyediakan air bersih yang cukup untuk keperluan mandi, masak, dan keperluan lain, (d) Menyediakan dapur untuk keperluan memasak yang aman dan tidak mudah terbakar, (e) Lingkungan di sekitar barak pekerja perlu dijaga kebersihannya.

5.

KESIMPULAN

Mengintegrasikan “nilai” di setiap tahap dalam daur hidup proyek salah satunya di tahap konstruksi yang dapat dibedakan menjadi tiga bagian penting, yaitu : (a) pengelolaan di lokasi tapak proyek yang terdiri dari pembersihan lahan, pekerjaan tanah, dan pekerjaan badan jalan. (b) pengelolaan di quarry dan jalur pengangkutan material perlu diterapkan pendekatan kuantitatif untuk mendapatkan skenario terbaik yang diukur dalam perspektif biaya dan ramah lingkungan. (c) pengelolaan di base camp mengutamakan kesehatan dan keselamatan bagi seluruh pekerja konstruksi melalui proses edukasi terutama dalam hal perilaku (behaviour) pekerja konstruksi untuk keberlangsungan lingkungan.

Kegiatan selanjutnya perlu ditetapkan indikator konstruksi hijau yang sesuai dengan alam Indonesia dengan mempertimbangkan bahwa infrastruktur jalan berfungsi untuk menghubungkan antar daerah (kota, kabupaten, propinsi). Oleh sebab itu, indikator konstruksi hijau selayaknya mengakomodasi potensi lokal daerah setempat.

6.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. (2015). Statistik Transportasi Darat Indonesia 2014.

Departemen Pekerjaan Umum. (2009). Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Ervianto, W.I. (2015). “Pengembangan Model Assessment Green Construction Pada Proses Konstruksi Untuk

Proyek Gedung di Indonesia”. Institut Teknologi Bandung.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. (2015). Informasi Statistik Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. (2015). Rencana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Tahun 2015-2019.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. (2014). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Gambar

Gambar 1. Manajemen proyek terpisah
Gambar 2. Pengelolaan di tahap konstruksi
Gambar 3. Optimalisasi transportasi material dari quarry ke lokasi proyek

Referensi

Dokumen terkait

etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sebagai standar perilaku pegawai dalam menjalankan tugas sebagian besar dalam kategori baik. Sistem

yang menyatakan bahwa Terdapat perbedaan yang signifikan penerapan pendekatan pembelajaran saintifik dan Ekspositori terhadap nilai pengetahuan dan keterampilan

Berdasarkan aspek penilaian di atas, maka tema khusus yang dipilih sebagai konsep dasar dan makro dalam penentuan kriteria dan konsep penataan adalah “ Experiencing Makassar

Sedangkan desain memiliki pengertian sebagai suatu pemikiran baru atas fundamental seni dengan tidak hanya menitik-beratkan pada nilai estetik, namun juga aspek

Secara umum gejala leptospirosis, antara lain demam (ringan atau tinggi), nyeri kepala yang bisa menyerupai nyeri kepala pada DBD, seringkali disertai tubuh yang menggigil, nyeri

Dapensi Trio Usaha Cabang Surabaya dengan pekerja outsourcing menggunakan perjanjian kerja waktu tertentu ( PKWT ) yang sebagian besar di dalam perjanjian tersebut

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) Aktivitas belajar peserta didik kelas V SDN 1 Saka Lagun Kabupaten Kapuas dalam proses pembelajaran IPA dengan menggunakan model

Bogor Bakery karena perhitungan jumlah produksi dengan sistem activity-based costing yang lebih rendah dari perhitungan biaya dengan menggunakan target costing,