• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah managenem stres dan kecemasa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah managenem stres dan kecemasa"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Disusun oleh

:

MAKALAH

MANAJEMEN STRES DAN KECEMASAN

KOMUNIKAS

I DASAR

1. RINI 2. RISA 3. RISKA

4. SITI 5. SUHERMAN

(2)

DAFTAR ISI

Daftar isi

...

i

BAB I Pendahuluan

...

1

BAB II PEMBAHASAN

...

2

Definisi Stres Dan Kecemasan ...

2

Stresor

...

2

Respon stres

...

3

Respon psikososial

...

3

Mekanisme koping

...

4

Bab III Penutup

...

5

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

Aspek psikososial dari sakit kritis merupakan suatu tantangan yang unik bagi perawat pada keperawatan kritis. Perawat harus secara seimbang dalam memenuhi kebutuhan fisik dan emosional dirinya maupun kliennya dalam suatu lingkungan yang dapat menimbulkan stress dan dehumanis. Untuk mencapai keseimbangan ini perawat harus mempunyai pengetahuan tentang bagaimana keperawatan kritis yang dialami mempengaruhi kesehatan psikososial pasien, keluarga dan petugas kesehatan.

(4)

BAB II PEMBAHASAN Definisi stress dan kecemasan

Stress didefinisikan sebagai respon fisik dan emosional terhadap tuntutan yang dialami individu yang diiterpretasikan sebagai sesuatu yang mengancam keseimbangan (Emanuelsen & Rosenlicht, 1986).

Stres merupakan suatu fenomena komplek, dimana sekumpulan komponen saling berinteraksi dan bekerja serentak. Ketika sesuatu hal mengubah satu komponen subsistem, maka keseluruhan sistem dapat terpengaruh. Jika tuntutan untuk berubah menyebabkan ketidak seimbangan (disequilibrium) pada sistem, maka terjadilah stress. Individu kemudian memobilisasi sumber-sumber koping untuk mengatasi stress dan mengembalikan keseimbangan. Idealnya, stress bergabung dengan perilaku koping yang tepat akan mendorong suatu perubahan positif pada individu. Ketika stress melebihi kemampuan koping seseorang, maka potensi untuk menjadi krisis dapat terjadi.

(5)

Penilaian kecemasan

Stressor

Stressor merupakan faktor internal maupun eksternal yang dapat mengubah individu dan berakibat pada terjadinya fenomena stress (Emanuelsen & Rosenlicht, 1986). Sumber stressor dapat berasal dari subsistem biofisikal, psikososial atau masyarakat. Stressor biofisik antara lain organisme infeksius, proses penyakit atau nutrisi yang buruk. Sedangkan contoh stressor psikososial adalah harga diri yang rendah, masalah hubungan interpersonal, dan krisis perkembangan. Stressor ini berasal dari masyarakat luas seperti fluktuasi ekonomi polusi dan teknologi tinggi.

Bagaimana orang mengalami suatu stressor tergantung pada persepsinya tentang stressor dan sumber kopingnya. Stress juga merupakan tambahan (additive). Jika seseorang mendapat serangan stressor yang multipel, maka respon stress akan lebih hebat.

Respon Stres

Respon stress dapat diinduksi oleh stressor biofisik, psikososial atau stressor social. Hans Selye dalam Emanuelsen & Rosenlicht (1986) mengemukakan temuanya tentang stress kedalam suatu model stress yang disebut general adaptation syndrome (GAS). GAS terdiri atas 3 tahap yaitu (a) alarm respon, (b) stage of resistance dan (c)stage of exhaustion.

1. Alarm respon

Merupakan tahap pertama dan ditandai oleh respon cepat, singkat, melindungi/memelihara kehidupan dimana merupakan aktivitas total dari system saraf simpatis. Tahap ini sering disebut dengan istilah menyerang atau lari (fight-or-flight response).

2. Stage of resistance

(6)

Respon Psikososial

Respon psikososial klien terhadap pengalaman keperawatan kritis mungkin dimediasi oleh fenomena internal seperti keadaan emosional dan mekanisme koping atau oleh fenomena eksternal seperti kuantitas dan kualitas stimulasi lingkungan.

Klien dengan keperawatan kritis memperlihatkan reaksi emosional yang dapat diprediksi dimana mempunyai cirri-ciri yang umum, berkaitan dengan sakitnya.

Takut dan kecemasan secara umum adalah reaksi pertama yang tampak. Klien mungkin mengalami nyeri yang menakutkan, prosedur yang tidak nyaman, mutilasi tubuh, kehilangan kendali, dan/atau meninggal.

Depresi seringkali muncul setelah takut dan kecemasan. Depresi seringkali merupakan respon terhadap berduka dan kehilangan. Pengalaman kehilangan dapat memicu memori dimasa lalu muncul kembali dengan perasaan sedih yang lebih hebat.

Marah dapat terjadi setelah atau selama depresi. Seringkali marah menyembunyikan adanya depresi dan dapat mencegah klien jatuh ke dalam depresi yang lebih dalam. Klien dapat merasa marah atau benci tentang sakitnya dan seringkali mengeluh bahwa hidup tidaklah adil.

Mekanisme Koping

(7)

BAB III PENUTUP

Stress dan kecemasan merupakan bagian dari aspek psikososial yang merupakan salah satu konsep dasar dari keperawatan gawat darurat. Stress didefinisikan sebagai respon fisik dan emosional terhadap tuntutan yang dialami individu yang diiterpretasikan sebagai sesuatu yang mengancam keseimbangan. Sedangkan Takut dan kecemasan adalah reaksi pertama yang tampak. Klien mungkin mengalami nyeri yang menakutkan, prosedur yang tidak nyaman, mutilasi tubuh, kehilangan kendali, dan/atau meninggal.

(8)

DAFTAR PUSTAKA

Emanuelsen, K.L. & Rosenlicht, J.McQ. 1986. Handbook of critical care nursing. New York: A Wiley Medical Publication.

Referensi

Dokumen terkait

HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN MEKANISME KOPING PADA PASIEN TB PARU YANG SEDANG MENJALANI PENGOBATAN. Oleh : Ayu Kurnia

Emosi bukan peristiwa sesaat, tetapi pengalaman yang terjadi selama beberapa saat. Pengalaman emosional dapat ditimbulkan oleh masukan eksternal pada sistem sensoris, kita

Klien dengan resiko perilaku kekerasan mekanisme koping regulator yang digunakan adalah adanya terjadinya reaksi tubuh akibat klien mengalami putus obat atau dalam kondisi

Atas segala kebajikan yang kuperbuat yang mendatangkan berkah sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi dengan judul: Fenomena Stres Dan Koping Stres Pada

Beberapa hal yang diharapkan dalam menejemen depresi melalui komputerisasi yaitu: (1) Klien mampu untuk memahami tentang depresi, tanda gejala, (2) Mekanisme koping yang dilakukan

Tetapi ironisnya, pada tingkat dismenore terbanyak dalam katagori sedang 41,8% justru dialami oleh mahasiswi Jurusan Keperawatan FKIK UNSOED dengan mekanisme koping adaptif 21,8% lebih

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan ilmiah untuk mengetahui hubungan antara stres dan mekanisme koping mahasiswa pada

Berdasarkan hasil Penelitian terdapat fenomena keluarga yang memiliki mekanisme koping maladaptif sebanyak 2 orang, hal ini dipengaruhi oleh strategi yang digunakan keluarga dalam