HAKIKAT FILSAFAT DAN SISTEM FILSAFAT
MAKALAH PENDIDIKAN PANCASILA
Dosen: Dr. Drs. Lamijan, S.H., M.Si
Oleh
Nama: Muhammad Amron Sa’idi
NIM: 201652029
PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO
A. Latar Belakang Masalah
Filsafat sebagai suatu ilmu pengetahuan yang berusaha mencari kebenaran telah memberikan banyak pelajaran, misalnya tentang kesadaran, kemauan, dan kemampuan manusia sesuai dengan posisinya sebagai makhluk Tuhan untuk dipublikasikan dalam kehidupan.Manusia dianugrahi oleh Allah swt berupa akal, daya pikir, yang tidak diberikan kepada makhluk lain, maka sudah sepantasnya akal ini dipergunakan semaksimal mungkin untuk kemampuan berpikir tersebut, dan kemampuan berpikir inilah yang membedakan manusia dengan hewan.
Allah swt sangat menganjurkan hambanya untuk senantiasa berpikir.Ada begitu banyak ayat-ayat yang menyatakan tentang pentingnya berpikir, misalnya dengan kata ‘afala ta’qilun, apala tatafakkarun, la ayatin liulil albab, dan lain sebagainya. Dari perintah-perintah Allah swt yang tersurat tersebut mengisyaratkan agar manusia mengoptimalkan proses berpikirnya, sehingga memungkinkan manusia bias memperoleh banyak pengetahuan yang berguna bagi kehidupannya.
Setelah menyadari betapa pentingnya berpikir, rasanya mempelajari filsafat menjadi sangat perlu adanya. Filsafat merupakan sarana yang baik untuk memahami
bagaimana cara berpikir tersebut. Dalam makalah ini akan difokuskan membahas tentang hakekat filsafat, hakekat filsafat ilmu, dan juga menjelaskan mengenai perbedaan dan persamaan antara filsafat dengan filsafat ilmu.
B. Rumusan Masalah 1. Pengertian Filsafat,
2. Apa yang dimaksud dengan Sistem Filsafat? 3. Manfaat/kegunaan Filsafat
C. Pembahasan Masalah 1. Pengertian Filsafat
philosophia berarti mencintai akan hal-hal yang bersifat bijaksana. Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan.Sedangkan orang yang berusaha mencari kebijaksanaan atau pecinta pengetahuan disebut dengan filsuf atau filosof.Sumber dari filsafat adalah manusia, dalam hal ini akal dan kalbu manusia yang sehat dan berusaha keras dengan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran dan akhirnya memperoleh kebenaran.
Untuk memahami apa sebenarnya filsafat itu, tentu saja tidak cukup hanya dengan mengetahui asal usul dan arti istilah yang digunakan, melainkan juga harus memperhatikan konsep dan devinisi yang diberikan oleh para filsuf menurut pemahaman meraka masing-masing dan konsep beserta divinisi yang diberikan para filsuf tersebut bias dikatakan tidak sama. Bahkan, setiap filsuf memiliki konsep dan membuat definisi yang berbeda dengan filsuf lainnya.
Berikut ini akan dipaparkan beberapa konsep dan definisi yang bisa memberikan gambaran yang lebih jelas tentang apakah filsafat itu.
Pythagoras (572-497 SM).
Dalam tradisi filsafat zaman yunani kuno Pythagoras adalah orang yang pertama-tama memperkenalkan istilah phylosophia, yang kemudian dikenal dengan istilah filsafat.Pythagoras memberikan definisi filsafat sebagai the love of wisdom.Menurutnya, manusia yang paling tinggi nilainya adalah manusia pecinta kebijakan (lover of wisdom), sedangkan yang dimaksud dengan wisdom adalah kegiatan melakukan perenungan tentang Tuhan.Pythagoras sendiri menganggap kebijakan yang sesungguhnya hanya dimiliki Tuhan semata-mata.
Socrates (469-399 SM).Ia adalah seorang filosof dalam bidang moral yang terkemuka setelah Thales pada zaman Yunani Kuno. Socrates memahami bahwa filsafat adalah suatu peninjauan diri yang bersifat reflektif atau perenungan terhadap asas-asas dari kehidupan yang adil dan bahagia (principles of the just and happy life).
kehidupan menjadi pemahaman intelektual. Menurutnya, filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Dalam Republika, Plato menegaskan bahwa para filosof adalah pecinta pandangan tentang kebenaran (vision of the truth). Dalam pencarian terhadap kebenaran tersebut, filosof yang dapat menemukan dan menangkap pengetahuan mengenai ide yang abadi dan tak pernah berubah.Dalam konsepsi Plato, filsafat merupakan pencarian yang bersifat spekulatif atau perekaan terhadap keseluruhan kebenaran. Maka filsafat Plato kemudian dikenal dengan nama Filsafat spekulatif.
Aristoteles (384-332 SM).Aristoteles adalah seorang murid Plato yang terkemuka.Dalam pandangannya, seringkali Aristoteles bersebrangan dengan pendapat gurunya, namun pada prinsipnya, Aristoteles mengembalikan paham-paham yang dikemukakan oleh gurunya tersebut. Berkenaan dengan pengertian filsafat, Aristoteles mengemukakan bahwa sophia (kearifan) merupakan kebajikan intelektual tertinggi. Sedangkan philosophia merupakan padanan kata dari episteme dalam arti suatu kumpulan teratur pengetahuan rasional mengenai sesuatu objek yang sesuai.Adapun pengertian filsafat menurut Aristoteles, adalah ilmupengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika.
Al-Kindi (801-873 M). ia adalah seorang filosof muslim pertama. Menurutnya filsafat adalah pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu dalam batas-batas kemampuan manusia, karena tujuan para filosif dalam berteori adalah mencari kebenaran, maka dalam praktiknya pun harus menyesuaikan dengan kebenaran pula..
Al-Farabi (870-890 M) menurutnya filsafat adalah ilmu yang menyelididki hakikat yang sebenarnya dari segala yang ada (al-maujuda).
hakikat sesuatu yang sebenarnya, mencari prinsip-prinsip kebenaran, serta berpikir secara rasional logis, mendalam dan bebas, sehingga dapat dimanfaatkan untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, filsafat tersebut bukan hanya sebuah kajian sebatas pada ilmu saja (science for science), tetapi filsafat dapat dipergunakan untuk memberikan inspirasi dan aspirasi dalam mencari solusi pemecahan masalah yang dihadapi manusia. Dengan bantuan ilmu filsafat akan ditemukan cara atau solusi yang paling elegan guna dapat memecahkan persoalan yang rumit, yang mungkin tidak bisa diselesaikan dengan bantuan disiplin lain.
Banyak persoalan yang bisa didekati melalui bantuan ilmu filsafat ini, terutama berkaitan dengan hal-hal yang bersifat teoritis, paradigma, dan pandang (view), perkembangan ilmu pengetahuan (knowledge), perkembangan pemikiran (ratio), kajian ilmiah (scientific), masalah-masalah yang berkaitan dengan kebijakan (policy), peraturan (rules), keputusan (judgement), perundang-undangan, dan lain-lain. Kesemuanya sangat membutuhkan pandangan dan bantuan dari ilmu filsafat. Dengan bantuan ilmu filsafat, segala persoalan yang muncul dapat dikaji lebih mendalam, utuh, sistematis, dan fleksibel, karena memang pada dasarnya filsafat ingin menyelesaikan permasalahan secara lebih mendalam, kritis, rasional, logis, dan tuntas sampai ke akar-akarnya (radikal).
2. Kegunaan filsafat
Kegunaan belajar filsafat pada peradaban dunia mutakhir adalah karena dunia sedang dilanda krisis pradaban dan krisis ilmu pengetahuan.Dengan belajar filsafat semakin menjadikan orang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar manusia yang tidak terletak dalam wewenang metode-metode ilmu khusus.Jadi filsafat membantu manusia mendalami pertanyaan asasi manusia tentang makna realitas dan ruang lingkupnya.Kemampuan itu dipelajari melalui dua jalur, yaitu secara sistematik dan secara historis.
seharusnya.Filsafat mengajarkan seseorang agar terlatih untuk berpikir serius, berpikir secara radikal, mengkaji sesuatu sampai ke akar-akarnya.Kedua, filsafat mengajarkan tentang hakikat alam semesta.Pada dasarnya berpikir filsafat ialah berusaha untuk menyusun suatu system pengetahuan yang rasional dalam rangka memahami segala sesuatu, termasuk dari diri manusia itu sendiri.Ketiga, filsafat mengajarkan tentang hakikat Tuhan.Studi filsafat seyogyanya dapat membantu manusia untuk membangun keyakinan keagamaan atas dasar yang matang secara intelektual. Dengan pemahaman yang mendalam dan dengan daya nalar yang tajam, maka akan sampailah pada kekuasaan mutlak, yaitu Yuhan. Maka dengan filsafat, nash atau ajaran-ajaran agama dapat dijadikan sebagai bukti untuk membenarkan akal.
3. Ciri berfikir filsafat
Ciri berpikir filsafat memiliki karakteristik tersendiri yang dapat dibedakan dari bidang ilmu lain. Diantaranya adalah:
1. Radikal, artinya berpikir sampai ke akar-akarnya, hingga sampai pada hakikat atau substansi yang dipikirkan.
2. Universal, artinya pemikiran filsafat menyangkut pengalaman umum manusia. Kekhususan berfikir kefilsafatan menurut Jaspers terletak pada aspek keumumannya.
3. Konseptual, artinya merupakan hasil dari generalisasi dan abstraksi pengalaman manusia. Misalnya: apakah kebebasan itu?
4. Koheren dan konsisten (runtut). Koheren artinya sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir logis. Konsisten artinya tidak mengandung kontradiksi.
5. Sistematik, artinya pendapat yang merupakan uraian kefilsafatan itu harus saling berhubungan secara teratur dan terkandung adanya maksud atau tujuan tertentu. 6. Komprehenshif, artinya mencakup atau menyeluruh. Berpikir secara kefilsafatan
merupakan usaha menjelaskan alam semesta secara keseluruhan.
8. Bertanggung jawab, artinya orang yang berpikir filsafat adalah orang yang berpikir sekaligus bertanggung jawab terhadap hasil pemikirannya, paling tidak terhadap hati nuraninya sendiri.
Kedelapan ciri berpikir tersebut menjadikan filsafat cenderung berbeda dengan ciri berpikir ilmu-ilu lainnya, sekaligus menempatkan kedudukan filsafat sebagai bidang keilmuan yang netral, terutama ciri ketujuh.
4. Sistematika Filsafat
Pemikiran filsafat berasal dari berbagai tokoh subjek manusia, pada berbagai tempat dan zaman. Faktor lingkungan hidup, sosio budaya dan subyektivitas tokoh memberi identitas pada setiap pemikiran itu. Perbedaan-perbedaan latar belakang tata nilai dan alam kehidupan, cita-cita dan keyakinan yang mendasari tokoh filsafat itu melahirkan perbedaan-perbedaan mendasar antar ajaran filsafat. Perbedaan yang memberi identitas ajaran ini melahirkan aliran-aliran filsafat. Meskipun demikian, antar ajaran tokoh-tokoh filsafat yang mempunyai persamaan, dapat digolongkan dalam satu aliran berdasarkan watak dan inti ajarannya. Jadi aliran filsafat terbentuk atas beberapa ajaran filsafat dari berbagai tokoh dan dari berbagai zaman. Tegasnya perbedaan aliran bukan ditentukan oleh tempat dan waktu lahirnya filsafat, melainkan oleh watak, isi dan ajarannya.
Sebagaimana pengetahuan yang lain, filsafat telah mengalami perkembangan yang pesat yang ditandai dengan bermacam-macam aliran dan cabang.
a. Cabang-cabang filsafat.
Filsafat merupakan induk dari segala ilmu pengetahuan, sehingga ilmu-ilmu yang lain merupakan anak dari filsafat itu sendiri. Filsafat merupakan bidang studi yang memiliki cakupan yag sangat luas, sehingga diperlukan pembagian yang kecil lagi. Meskipun demikian dalam hal pembagian lapangan-lapangan atau cabang-cabang filsafat ini masing-masing tokoh memiliki metode yang berbeda dalam melakukan penghimpunan terhadap lapangan-lapangan pembicaraan kefilsafatan.
mengandung atau membicarakan persoalan materi.Sedangkan etika adalah cabang filsafat yang di dalamnya mengandung atau membicarakan persoalan baik dan buruk.
Adapun menurut aristoteles, pembagian filsafat dibagi kedalam empat cabang, yaitu logika, filsafat teorotis, filsafat praktis, dan filsafat poetika.
1. Logika adalah ilmu pendahuluan bagi filsafat, atau ilmu yang mendasari dalam memahami filsafat.
2. Filsafat teoritis atau filsafat nazariah, di dalamnya tercakup ilmu-ilmu lainyang sangat penting seperti ilmu fisika, ilmu matematika, dan ilmu metafisika. Bagi aristotelesilmu matematika inilah yang menjadi inti atau menjadi bagian yang paling utama dalam filsafat.
3. Filsafat praktis atau filsafat alamiah, di dalamnya tercakup tiga macam ilmu yang tidak kalah pentingnya, yaitu ilmu etika yang mengatur kesusilaan dan kebahagiaan dalam perorangan. Ilmu ekonomi yang mengatur kesusilaan dan kemakmuran dalam keluarga (rumah tangga). Ilmu politik, yang mengatur kesusilaan dan kemakmuran dalam Negara.
4. Filsafat poetika, merupakan filsafat kesenian, yakni filsafat yang membicarakan tentang keindahan, pengertian seni, penggolongan seni, nilai seni, aliran dalam seni, dan teori penciptaan dalam seni.
Berbeda dengan Plato dan Aristoteles, Louis O. Kattsoff (1996:73) menggolongkan cabang-cabang filsafat ini secara lebih terperinci, sehingga bagian cabang ini dapat dikategorikan ke dalam urutan-urutan yang umum menjadi semakin menurun kepada yang lebih khusus.Diantaranya adalah 1).Logika. 2). Metodologi. 3). Metafisika. 4). Ontology dan Kosmologi. 5). Epietemologi. 6). Biologi kefilsafatan. 7). Psikologi kefilsafatan. 8). Antropologi kefilsafatan. 9). Sosiologi kefilsafatan. 10). Etika. 11) estetika. 12). Filsafat agama.
logika, metafisika, kosmologi, teologi, antropologi, etika, estetika, filsafat pendidikan, filsafat hukum dan lain-lainnya. Adapun epistemologi adalah cara memperoleh pengetahuan itu, epistemologi hanya mencakup satu bidang saja yaitu epistemologi, ini berlaku bagi setiap cabang filsafat. Sedangkan aksiologi hanya mencakup satu cabang filsafat yaitu aksiologi yang membicarakan guna pengetahuan filsafat dan inipun berlaku bagi semua cabang filsafat.
b. Aliran-aliran dalam filsafat
Menurut pengkajian Juhaya S. Praja (2003), aliran-aliran filsafat yang cukup berpengaruh diantaranya adalah:
1. Rasionalisme, aliran rasional ini sangat mementingkan rasio dalam memutuskan atau menyelesaikan suatu masalah. Dalam aliran rasional ini sangat mendamba-dambakan otak atau rasio sebagai satu-satunya yag menjadi alat untuk menyelesaikan masalah.
2. Empirisme, yaitu aliran yang memberikan tekanan pada empiris atau pengalaman sebagai sumber pengetahuan.
3. Kritisisme, yaitu aliran yang memadukan atau mendamaikan rasionalisme dan empirisme. Menurut aliran ini, baik rasionalisme maupun empirisme keduanya berat sebelah. Pengalaman manusia merupakan paduan antara sintesa unsur-unsur apriori (terlepas dari pengalaman) dengan unsur-unsur aposteriori (berasal dari pengalaman).
4. Materialisme, yaitu aliran yang mengutamakan materi. Di dalam aliran ini dikatakan bahwa materi itu ada sebelum jiwa (self), dan duia materi adalah yang pertama, sedangkan pemikiran tentang dunia ini adalah nomor dua.
5. Idealisme, yaitu aliran yang menekankan pada akal (mind) sebagai hal yang lebih dahulu (primer) daripada materi, bahwa akal itulah yang riil dan materi hanyalah merupakan produk sampingan.
7. Pragmatisme, yaitu aliran yag mengajarkan bahwa yang benar adalah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis.
8. Sekularisme, yaitu system etika plus filsafat yang bertujuan memberi interpretasi atau pengertian terhadap kehidupan mausia tanpa percaya kepada Tuhan, kitab suci, dan hari kemudian.
9. Filsafat Islam, yaitu perkembangan pemikiran umat Islam dalam masalah ketuhanan, kenabian, manusia, dan alam semesta yang disinari ajaran Islam. Filsafat Islam cakupannya sangat luas, bukan hanya masalah alam semesta dan isinya saja, tapi juga yang berkaitan dengan masalah-masalah ketuhanan dan kenabian.
D. Penutup
Kesimpulan Hakekat filsafat
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berupaya mengkaji tentang masalah-masalah yang muncul dan berkenaan dengan segala sesuatu , baik yang sifatnya materi maupun immateri secara sungguh-sungguh guna menemukan hakikat sesuatu yang sebenarnya, mencari prinsip-prinsip kebenaran, serta berpikir secara rasional logis, mendalam dan bebas, sehingga dapat dimanfaatkan untuk
membantu menyelesaikan masalah-masalah dalam kehidupan manusia. Objek filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada
E. Daftar Pustaka