TUGAS AKHIR SEMESTER
MATA KULIAH : BAHASA INDONESIA
MAKALAH MENGENAI :
“TEOLOGI, FILSAFAT, AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN”
DOSEN :
CORNELIA TAMPI, M.Pd
Disusun oleh:
Kristania Rachel Palandeng 202341342
KATA PENGANTAR
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas akhir semester dari mata kuliah Bahasa Indonesia. Di dalamnya ada satu bagian pembahasan tentang
“ Teologi, Filsafat, Agama dan Ilmu Pengetahuan”.
Setiap Bab dari makalah ini memuat bahan bacaan dan pernyataan- peryataan melalui sumber yang dipilih dan dapat dipertanggung jawabkan dengan baik. berharap bahwa materi ini dapat memberi pengertian dan pemahaman yang baru bagi kita semua sebagai mahasiswa Fakultas Teologi.
Tomohon , 11 Desember 2023
Kristania Rachel Palandeng
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……… 2
DAFTAR ISI ……… 3
BAB I : PENDAHULUAN
1. Latar Belakang ……… 4
BAB II : PEMBAHASAN
A. Pengertian Teologi, Filsafat, Agama dan Ilmu Pengetahuan ... 6
1. Teologi ………6
2. Filsafat ………7
3. Agama ………8
4. Ilmu Pengetahuan
………9
B. Hubungan Teologi, Filsafat, Agama dan Ilmu Pengetahuan … 10 BAB III : PENUTUP
Kesimpulan ………14
DAFTAR PUSTAKA ………15
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Sebagaimana mahasiswa Teologi, sangatlah baik jika kita mengetahui tentang apa saja yang dimaksud dan dapat dimengerti mengenai pokok bahasan yang akan dibahas.
Teologi adalah ilmu yang mempelajari tentang Allah dan segala sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan beragagama, Filsafat adalah Filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau keinginan yang sungguh-sungguh akan kebenaran yang sejati, sedangkan Agama dapat diartikan sebagai suatu sistem kepercayaan yang memandang adanya kekuasaan atau kekuatan yang lebih tinggi atau ilahi yang mengatur kehidupan manusia dan alam semesta, dan Ilmu Pengetahuan ialah suatu proses pembentukan pengetahuan yang terus-menerus sampai menjelaskan fenomena yang bersumber dari wahyu, hati dan semesta sehingga dapat diperiksa atau dikaji secara kritis dengan tujuan untuk memahami hakikat, landasan dasar dan asal usulnya, sehingga dapat juga memperoleh hasil yang logis.
Pertemuan tidak harus berakhir dengan ucapan “selamat tinggal dan jangan bertemu lagi”. Jika itu terjadi, maka pertemuan itu hanya menyebabkan keterasingan yang satu dengan yang lain dan bahkan mungkin permusuhan. Pertemuan seyogyanya1 dilanjutkan dengan interaksi dan menghasilkan kesepahaman untuk tindak lanjut dalam simbiosis mutualisme bagi tujuan peradaban manusia yang lebih baik dan bermartabat.
Bagaimana jadinya jika pertemuan itu adalah antara teologi, filsafat dan ilmu pengetahuan?
1 sepatutnya; selayaknya; semestinya; sebaiknya; seharusnya.
Tentunya untuk menjawab pertanyaan tersebut akan dimulai dengan penjelasan terlebih dahulu apakah itu teologi, filsafat, agama dan ilmu pengetahuan.
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Teologi, Filsafat, Agama dan Ilmu Pengetahuan 1. Teologi
Teologi berasal bahasa Yunani, yaitu kata theos “Allah, Tuhan”; dan logos “Perkatan,kata-kata”, “Firman”, “ucapan”, atau
“wacana” yang berdasarkan nalar mengenai agama, spiritualitas dan Tuhan. Dalam bahasa Indonesia, Theos diterjemahkan dengan kata Tuhan; kata logos diterjemahkan dengan kata ilmu. Jadi secara asal kata teologi bisa diberikan arti ilmu tentang Tuhan, yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan beragama; Teologi meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan. Belajar Teologi adalah usaha manusia mengenal Allah supaya dapat memuliakan Dia melalui kasih dan Ketaatan.2
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (disingkat KKBI), teologi adalah “pengetahuan ketuhanan (mengenai sifat Allah, dasar kepercayaan kepada Allah dan agama, terutama berdasarkan pada kitab suci).3
Dalam Gereja Kristen, Teologi mula-mula hanya membahas ajaran mengenai Allah. Kemudian artinya menjadi lebih luas, yaitu membahas keseluruhan ajaran dan praktik Kristen. Dalam upaya merumuskan mengenai apa Itu Teologi maka perlu diperhatikan beberapa unsur :
Tidak akan ada Teologi Krsiten tanpa keyakinan bahwa Allah bertindak atau Berfirman secara khusus dalam Yesus Krsitus yang menggenapi perjanjian dengan umatnya.4 Objek ilmu Teologi bukan Allah ! Allah tidak dapat diteliti, seperti manusia meneliti gejala dan gerak alam. Allah adalah SUBJEK yang berfirman. Objek ilmu teologi ialah hubungan dialogis5 antara Firman Allah dengan konteks manusia, isi hubungan yang bercakap-cakap/berbicara ini serta makna dalam konteks/keadaan yang terjadi ditengah manusia, termasuk di dalamnya pengalaman orang percaya.6
2 B.F. Drewes, Julianus Mojau. Apa Itu Teologi. (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2007) hal 16.
3 Kamus Besar Bahasa Indonesia, “teologi,” https://kbbi.web.id/teologi (Diaksesl 25 Oktober 2023)
4 B.F. Drewes, Julianus Mojau, hal 17-18.
5 kalimat yang di dalamnya mengandung unsur percakapan.
6 B.F. Drewes, Julianus Mojau, hal 23.
Melalui berbagai pemahaman serta arti Teologi Maka teologi dapat diartikan sebagai “studi yang berusaha untuk memahami - dengan partispasi dan refleksi iman yang mendalam mengenai – Tuhan, melalui tindakan-Nya, yang menyatakan diri baik melalui pewahyuan-Nya dalam Firman Tuhan maupun melalui ciptaanNya, sehingga manusia mengenal diri dan bertindak untuk mengekspresikan iman tersebut di dalam zaman dan budayanya.
2. Filsafat
Berpikir atau berfilsafat bagian dari hidup yang mengerahkan segenap akal pikiran manusia. Immanuel Kant berkata; ― Dari saya, kalian tidak akan belajar berfilsafat. Saya mengajar kalian berfilsafat. Bukan pemikiran-pemikiran yang ditiru, akan tetapi bagaimana caranya berpikir sendiri.7
Istilah “filsafat” dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata falsafah (bahasa Arab), philosophy (bahasa Inggris).
philosophia (bahasa Latin), philosophie (bahasa Jerman, Belanda, Perancis). Semua istilah itu bersumber pada istilah bahasa Yunani philosophia. Kata itu berasal dari kata philein yang berarti
“mencintai”, sedangkan philos berarti “teman”. Selanjutnya istilah Sophos berarti “bijaksana”, sedangkan sophia berarti
“kebijaksanaan”.8
Ada dua arti secara etimologi dari filsafat yang sedikit berbeda. Pertama, apabila istilah filsafat mengacu pada kata asal kata philein dan sophos, maka berarti mencintai hal-hal yang bersifat bijaksana (bijaksana yang dimaksudkan sebagai kata sifat). Kedua, apabila filsafat mengacu kepada asal kata philos dan sophia, maka artinya adalah teman kebijaksanaan (kebijaksanaan dimaksudkan sebagai kata benda). Oleh karenaya, filsafat dalam hal ini dimengerti sebagai cara berpikir secara reflektif (mendalam), penyelidikan yang menggunakan alasan, berpikir secara hati-hati dan teliti. Filsafat berusaha untuk memikirkan seluruh pengalaman manusia secara mendalam dan jelas.9
Dengan demikian, maka filsafat membantu kita memandang dengan luas, tidak hanya terbatas pada apa yang aku buat dan benar tanpa mempertimbangkan kembali akan pengakuan tersebut bahwa hal itu memang sesungguh-sungguhnya benar.
7 BONAFIDE : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. (www.jurnal.sttissiau.ac.id/Volume 2/Nomor 1/Juni 2021/) hal.83-99
8 Tim Dosen Filsafat Ilmu, Fakultas Filsafat, UGM, Filsafat Ilmu: Sebagai Dasar Pengembangan Imu Pengetahuan (Yogyakarta:Penerbit Liberty, 2010), hal.18.
9 Tim Dosen Filsafat Ilmu, Fakultas Filsafat, UGM, Filsafat Ilmu: Sebagai Dasar Pengembangan Imu Pengetahuan, hal 19.
3. Agama
Ilmu Religi atau Ilmu Agama yang melakukan studi agama- agama secara umum. Agama adalah sikap yang serius dan sosial dari individu-individu atau komunitas kepada satu atau lebih kekuatan yang mereka anggap memiliki kekuasaan tertinggi terhadap kepentingan dan nasib mereka.10
Dalam setiap kebudayaan dan dalam interaksi sosial setiap masyarakat akan ditemukan suatu kepercayaan terhadap sesuatu yang dianggap sebagai “kekuasaan tertinggi”. Realitas ini kemudian membentuk kesadaran agama/religius secara individu (pribadi) dan kolektif (bersama/berkelompok) yang pada giliranya melahirkan konsep “agama” (religi). Religi/agama dapat dipelajari dengan memperhatikan banyak aspek :
Aspek ajaran atau doktrin : setiap agama mengajarkan kebenaran tertentu; yang mengantar individe pada hidup yang lebih baik dan bermakna.
Aspek cerita atau hikayat yang dasariah : agama-agama mengenal cerita atau hikayat dengan makna yang luar biasa, misalnya/contoh bagaimana dunia dijadikan (Dalam Kristen Proses Penciptaan).
Aspek etika : setiap agama memberi memberi petunjuk- petunjuk mengenai perilaku yang dianggap tepat;
maksudnya apa saja yang dilakukan harus sesuai dengan ajaran Agama yang dipercaya dan di imani, contohnya Sopan santun dalam berucap dan berkata.
Aspek upacara : setiap agama memiliki ritual-ritual yang dilakukan secara kolektif atau secara pribadi, misalnya perayaan tertentu seperti acara Pengucapan Syukur yang biasanya dilakukan di Daerah Suku Minahasa.
Aspek pengalaman : agama-agama mengenal pengalaman (supranatural), misalnya kontak langsung dengan
“kekuasaan tertinggi”; seperti Mujizat.
Aspek lembaga : agama-agama biasanya mempunyai bentuk organisasi tertentu. Contohnya Kristen GMIM yang menganut ajaran menganut Ajaran Calvinis, dengan sistem Presbiterial Sinodal.11
10 Rumusan ini berasal dari J.B. Pratt (1920) dan ditemukan dalam Ahmad Norma Permata (ed.), Metodologi Studi Agama (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000). Hal 15. Banyak memberi definisi tentang religi/agama dibahas dan sejarah serta buku-buku perbandingan agama di Indonesia diuraikan; di samping itu, dijelaskan banyaknya istilah yang kami sebut sebagai “studi religi”. Di ambil dari buku : B.F. Drewes, Julianus Mojau. Hal 25.
11 B.F. Drewes, Julianus Mojau, hal 25-26.
Setiap orang mempunyai keyakinan atau agamanya; hal itu mempengaruhi cara hidup, cara pandang dan cara ia melakukan penelitian. Menjadi sesuatu yang bermanfaat jika ilmu religi/agama dapat menolong kita untuk membangun perspektif dan bertindak sbersama-sama dengan penganut agama-agama lain untuk menghadapi berbagai isu-isu kemanusiaan seperti kerusakan lingkungan, hak asasi manusia, keadilan sosial dan kemiskinan.12
4. Ilmu Pengetahuan
Untuk mengerti arti dari ilmu pengetahuan harus melihat kepada dua kata yang sering bersamaan disematkan yaitu kata ilmu dan pengetahuan. Dua kata yang berbeda ini sesungguhnya semuanya merupakan dari satu sumber yaitu akal. Tokoh rasionalis modern Rene Descaters mengatakan pernyataannya sebagai berikut ―Cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada, merupakan pembuktian eksistensi manusia sebagai kesadaran (Descartes 1995, xi).
Dapat disimpulkan bahwa ilmu adalah hasil dari pengetahuan-pengetahuan manusia. ―Ilmu adalah dari suatu pengetahuan yang sudah terorganisir serta tersusun secara sistematik menurut kaidah umum. Pengetahuan merupakan suatu informasi dari refleksi manusia terhadap gejala-gejala alam atau peristiwa-peristiwa kehidupan yang dialami manusia yang dilihat sebagai suatu realita bahwa semua itu di alam sadar pikiran manusia itu sendiri.13
Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi, dengan kata lain ilmu terbentuk dari 3 cabang filsafat yakni ontologi, epistemologi dan aksiologi, jika ketiga cabang tersebut terpenuhi berarti sah dan diakui sebagai sebuah ilmu. Ilmu pengetahuan ialah suatu proses pembentukan pengetahuan yang terus-menerus sampai menjelaskan fenomena yang bersumber dari wahyu, hati dan semesta sehingga dapat diperiksa atau dikaji secara kritis dengan tujuan untuk memahami hakikat, landasan dasar dan asal usulnya, sehingga dapat juga memperoleh hasil yang logis. Ilmu pengetahuan merupakan usaha yang bersifat multidimensional14, sehingga dapat didefinisikan dalam berbagai cara dan tidak baku. Ilmu Pengetahuan dalam arti lainnya adalah suatu sistem dari berbagai pengetahuan yang didapatkan dari hasil pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan secara teliti dengan menggunakan suatu metode tertentu. Jadi, ilmu adalah segala proses kegiatan terhadap suatu keadaan dengan cara
12 B.F. Drewes, Julianus Mojau, hal 27-28.
13 BONAFIDE : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Hal 89-90.
14 pendekatan dengan menggunakan berbagai macam sudut pandang.
menggunakan alat, prosedur, cara, metode, sehingga menghasilkan pengetahuan baru bagi manusia itu sendiri.15
Albert Einstein berkata, ― ilmu tanpa agama buta dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh (Suriasumantri 2015, 3) Kebenaran keilmuan harus didukung oleh sikap kerohanian yang benar dihadapan Tuhan. Harus disadari bahwailmu pengetahuanjuga berperandalam proses pencarian kebenaran dan kebenaran itu adalah Tuhan dan haruslah diakui keberadaan kebenaran itu sebagai dasarilmu pengetahuan.
B. Hubungan Teologi, Filsafat, Agama dan Ilmu Pengetahuan Dalam sejarah manusia sebelum Yunani kuno belum ada istilah Teologi, Filsafat, ataupun Ilmu Pengetahuan sebagaimana yang dipahami saat ini. Yang dominan dan terlihat adalah Praktek keagamaan yang merupakan bagian tidak terlepas dari dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Misalnya bangsa Israel menyembah Allah dalam Perjanjian Lama sebagai bagian dari kehidupan mereka. Dalam hal ini bisa dikatakan bahwa praktek keagamaan dan ilmu pengetahuan tidaklah terpisahkan.
Semua yang berhubungan dengan kehidupan dan pendukungnya dihubungkan dengan tindakan Tuhan. Bahkan, ketika suatu bangsa menang berperang melawan bangsa lain, dilihat bukan semata karena kemampuan pasukan atau strategi berperang, akan tetapi karena ilah mereka lebih kuat dari ilah bangsa yang dikalahkan. Ketika kekristenan menjadi agama resmi bangsa Romawi, maka semakin pudar juga dominasi filsafat dalam kehidupan masyarakat saat itu16 pada masa itu teologi disebut sebagai “The Queen of Science”. Pada saat itu filsafat dan ilmu pengetahuan harus bersumber dan difilter oleh teologi Kristen sebagai standar tunggal.
Teologi adalah suatu sistem kepercayaan tentang Allah, sifat manusia, dunia,gereja, dan topik-topik lainnya yang berhubungan dan dirumuskan untuk memampukan orang-orang Kristen memahami dan menerima iman mereka. Secara klasik, filsafat senantiasa terlibat dalam perkembangan sistem-sistem dalam menafsirkan realitas. Jika kita mengetahui secara ringkas tentang awal mula terjadinya filsafat karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhi manusia mulai berpikir rasional, bahkan dalam ilmu teologi, menurut Jan Hendrik , yaitu:
15 https://raharja.ac.id/2020/11/19/ilmu-pengetahuan/ (Di akses pada 25 Oktober 2023).
16 Masa ini sering disebut juga sebagai masa scholastik, dimana teologi kembali mempergunakan filsafat sebagai dasar berpikir untuk pengembangan teologi dan ada istilah bahwa teologi menjadikan filsafat sebagai abdinya (philosofia ancilla theologiae)
a. Ketakjuban, artinya manusia mulai kagum dengan terjadinya suatu proses alam, yang memiliki subjek dan objek dalam penelitian kekaguman tersebut.
b. Ketidakpuasan, artinya manusia ingin keluar dari setiap mitos-mitos dan mite-mite yang terus menjadi penghalang untuk berkembang. Sehingga ketidak puasan itu membuat manusia terus menerus mencari penjelasan dan keterangan yang lebih pasti dan meyakinkan.
c. Hasrat bertanya, artinya manusia ketika mengalami ketakjuban dan ketidak puasan, maka manusia mulai memiliki pertanyaan yang radikal untuk mencari suatu kebenaran. Pertanyaan tidak boleh dianggap sepele karena pertanyaanlah membuat kehidupan serta pengetahuan manusia berkembang dan maju.
d. Keraguan, artinya manusia sebagai penanya mempertanyakan sesuatu kebenaran dengan maksud untuk memperjelas dan membuktikan suatu kebenaran tersebut, sehingga muncul keraguan tentang sesuatu kebenaran yang ada, dan terus mencari.
Dari pernyataan tersebut jelaslah bahwa ada pengaruh yang diberikan filsafat bagi ilmu pengetahuan manusia yang dipakai hingga sampai hari ini.17
Filsafat sebagai ilmu pengetahuan, dapat memberikan dampak positif juga dalam perkembangan ilmu teologi. Ia menolong membuka pikiran. Filsafat itu sendiri bukan merupakan hal yang buruk, studi sejarah filsafat bagaikan sebuah latihan navigasi.
Dengan mempelajari berbagai gerakan filsafat dan memperbandingkannya dengan iman Kristen, kita dapat menentukan posisi kita di dalam peta intelektual.
Hubungan fleksibel antara filsafat dan teologi, artinya keduanya adalah jalan yang diberikan Tuhan kepada manusia, agar manusia dapat memahami dan mengetahui siapa dirinya dan apa yang berhubungan dengannya. Dari sudut pandang teologi evangelikal, kedua hal ini tidak sepenuhnya bertentangan, jadi keduanya serius. Keduanya dicoba dipelajari secara berdampingan dan diasah dalam kekristenan. Oleh karena itu, filsafat dan teologi dapat dikatakan netral dan bergantung pada orang yang menggunakannya.
Agama menjadi hal penting dalam upaya memahami sesuatu yang tidak dapat dipahaminya tersebut. Hal ketuhanan pada akhirnya
17 Jan Hendrik Rapar. Pengantar Filsafat. 1996. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 16 – 18
memberikan inspirasi pada manusia dalam menjalani kehidupan yang lebih bermartabat. Dengan demikian maka kemampuan dalam memahami agama, telah menempatkan manusia poda posisi yang lebih tinggi dari mahluk lainnya. “Agama merupakan kiprah manusia yang bersumber pada sikap percaya kepada Tuhan. Sikap percaya kepada Tuhan tersebut disertai dengan penyerahan diri secara menyeluruh, yang diwujudkan antara lain dengan kepatuhan terhadap ajaran-ajarannya.” Pernyataan tersebut membenarkan akan adanya konsep ketuhanan dalam diri seseorang, yang mana hal itu diimplementasikan dalam bentuk kepercayaannya dalam beragama.
Tugas pokok dari agama adalah membuat dirinya relevan dengan keadaandan zaman dalam kehidupan umat manusia.18
Pertemuan antara teologi, filsafat, agama dan ilmu pengetahuan mengalami pasang surut dari masa ke masa. Pernah ada yang satu mendominasi yang lain dan bahkan yang satu berusaha menghilangkan yang lain. Walaupun demikian, menatap kepada yang telah terjadi dan mengarahkan pandangan ke depan, pertemuan itu akan indah jika ketiga subyek tersebut dapat berjalan seiring bagai sebuah persahabatan menuju kepada kehidupan manusia dan dunia yang lebih baik.
Metode berteologi dengan mempertemukan teologi dengan filsafat dan ilmu pengetahuan, serta agama yang ternyata dapat memperkaya teologi sebagai ilmu dan ajaran guna memperkuat iman orang Kristen kepada Tuhan. Jadi ada baiknya meninjau semua kesempatan tersebut tanpa menghakimi atau memuliakan salah satunya dan dalam kesetaraan atau kesimbangan yang tepat. Hal yang paling penting adalah bahwa banguan teologi Kristen harus didasarkan kepada Firman Tuhan dalam Alkitab sebagai penyataan- Nya kepada orang-orang yang percaya.19
Ilmu pengetahuan dengan perkembangannya membutuhkan penjelasan dari kita sebagai manusia yang berpikir, sebagai orang Kristen haruslah bertanggung jawab akan hal tersebut. Kepekaan religius dan kepekaan rasional dibutuhkan untuk menjelaskan ilmu pengetahuan itu supaya menjadi jelas dan benar. Di sinilahiman Kristen sangat dibutuhkan. Hal ini membuktikan iman Kristen yang didasari oleh pengetahuan terhadap Kebenaran Firman Allah dalam Alkitab mampu menjelaskan ilmu pengetahuan, keraguan terhadap manusia itu sangat beralasan, karena manusia tanpa diterangi oleh
18 Karen Amstrong, Sejarah Tuhan (Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2012), hal 12, A.M Romly, Fungsi Agama Bagi Manusia : Suatu Pendekatan Filsafat (Jakarta: Bina Rena Pariwara, 1999), hal 1.
19 file:///C:/Users/ADVANCE/Downloads/jurnal-teologi-rahmat-vol.7-no.1-juni-2021-p.1- 17-1.pdf (Diakses Pada 25 Oktober 2023).
pengetahuan Firman Allah, manusia tak akan mampu menjelaskan dengan pasti. Akal dan iman berasal dari sumber yang sama dan sumber itu adalah Tuhan. Tuhan secara asasi tidak mengharapkan pertentangan diantara keduanya. Iman dimampukan untuk percayakepada Tuhan sumber pengetahuan dan menjelaskanilmu pengetahuan yang ditemukan oleh akal manusia.
Dalam Hukum Kasih mempunyai tiga obyek pusat manusia untuk berdamai dengan Tuhan antara lain; hati, jiwa dan akal budi.
Menurut Leon Morris, _ kasih kepada Allah harus dengan sepenuh hati, meliputi seluruh keberadaan (eksistensi) kita dan semua yang kita miliki. Sepenuh hati atau ―segenap‖ merupakan usaha yang maksimal (keilmuan) manusia untuk dipakai dalam memuliakan Tuhan dengan semua potensi yang ada (teknologi) (Leon Morris 2016, 575).
Iman Kristen mempunyai suatu jawaban dan jawaban itu semuanya berasal dari Alkitab, seperti ayat di atas manusia tidak mempunyai alasan untuk menyombongkan suatuilmu pengetahuandan kepandaian karena semua itu berasal dari hikmat Tuhan. Iman harus sejalan dengan pikiran dalam tindakan yang benar dihadapan Tuhan. Iman menuntun akal untuk bertindak secara bijaksana (Amsal 2:6) sehingga apa yang ditemukan akal dengan ilmu pengetahuanyang ada dapat berguna bagi dunia.20
20 https://jurnal.sttissiau.ac.id/index.php/jbs/article/view/46/24 (Diakses Pada 25 Oktober 2023).
BAB III KESIMPULAN
Kebenaran keilmuan harus didukung oleh sikap kerohanian yang benar dihadapan Tuhan. Harus disadari bahwa ilmu pengetahuan juga berperan dalam proses pencarian kebenaran dan kebenaran itu adalah Tuhan dan haruslah diakui keberadaan kebenaran itu sebagai dasarilmu pengetahuan. Iman Kristen yang didasarkan oleh pengetahuan terhadap Alkitab memang harus bisa menjelaskan ilmu pengetahuan yang terus berkembang didunia ini.
Jika kita perhatikan dari pengertian teologi hingga filsafat agama sampai pada Ilmu Pengetahuan, maka akan terbentuk suatu kesatuan yang bermakna positif maupun negatif dalam perkembangan teologi. Dengan pemaparan yang sudah dipaparkan dalam materi maka kami Kelompok mengambil kesimpulan bahwa filsafat memiliki bagian besar dalam dunia teologi namun teologi haruslah menjadi sentral yang memberi nilai dalam kehidupan orang percaya. Walaupun filsafat bertugas memberi nilai terhadap disiplin ilmu yang ada, nilai kebenaran yang hakiki terletak pada teologi yaitu Teologi Alkitabiah yang berdasarkan pada Firman Allah, yang di dukung dengan pemahaman mengenai Agama serta Ilmu Pengetahuan yang memadai sehingga menghentar pembacanya untuk memahami dengan benar tetapi memberlakukan dengan cara dan kerangka yang benar dalam kehidupan setiap individu.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku :
Amstrong Karen, Sejarah Tuhan. Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2012
Drewes B.F., Julianus Mojau. Apa Itu Teologi. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2007.
Rapar, Hendrik. Jan. Pengantar Filsafat. Yogyakarta:
Kanisius. 1996.
Romly, Fungsi Agama Bagi Manusia : Suatu Pendekatan Filsafat. Jakarta : Bina Rena Pariwara, 1999
Kamus Besar Bahasa Indonesia, “teologi,”
https://kbbi.web.id/teologi (Diaksesl 25 Oktober 2023)
Sumber Jurnal :
BONAFIDE : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen.
www.jurnal.sttissiau.ac.id/Volume 2/Nomor 1/Juni 2021/.
Tim Dosen Filsafat Ilmu, Fakultas Filsafat, UGM, Filsafat Ilmu: Sebagai Dasar Pengembangan Imu Pengetahuan : Yogyakarta : Penerbit Liberty, 2010.
Rumusan ini berasal dari J.B. Pratt. 1920 dan ditemukan dalam Ahmad Norma Permata (ed.), Metodologi Studi Agama.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.
Internet :
https://raharja.ac.id/2020/11/19/ilmu-pengetahuan/
file:///C:/Users/ADVANCE/Downloads/jurnal-teologi- rahmat-vol.7-no.1-juni-2021-p.1-17-1.pdf
https://jurnal.sttissiau.ac.id/index.php/jbs/article/view/46/24.