• Tidak ada hasil yang ditemukan

PARADIGMA KEMARITIMAN DAN JEJAK SEJARAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PARADIGMA KEMARITIMAN DAN JEJAK SEJARAH"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

PARADIGMA KEMARITIMAN DAN JEJAK SEJARAH

KEMARITIMAN YANG TERHAPUS

Makalah Kelompok :

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mengikuti Mata Kuliah Pengantar Ilmu Dan Teknologi Maritim ( Kelas 02 ) Program Studi Teknik Informatika FT UMRAH

TANJUNGPINANG-KEPULUAAN RIAU

Oleh :

1. Taufik Ramadhan

( 160155201025 )

2. Sufiandy Elmy

( 160155201043 )

3. Randa Dinatha

( 160155201033 )

4. Efrander H. Nababan ( 160155201046 )

5. Zulfa Aliyah

( 160155201030 )

6. Trisnawati

( 160155201036 )

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya penyusun dapat

menyelesaikan makalah ini. Terima kasih penyusun ucapkan kepada bapak Eko Prayetno, ST., M,Eng selaku dosen pengampu mata kuliah Pengantar Ilmu dan Teknologi Maritim. Penyusun sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai sejarah paradigma kemaritiman dan jejak sejarah kemaritiman yang terhapus. Penyusun juga

menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, penyusun berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah penyusun buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun. Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang

membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi

penyusun sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya penyusun mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan penyusun memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Tanjungpinang, Februari 2017

Penyusun

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI...ii

BAB I...3

PENDAHULUAN...3

1.1 Latar Belakang...3

1.2 Rumusan Masalah...3

1.3 Tujuan penulisan...6

1.4 Manfaat penulisan...6

1.5 Metode penulisan...6

BAB II...7

PARADIGMA KEMARITIMAN DAN JEJAK SEJARAH MARITIM YANG TERHAPUS...7

2.1 Pengertian Sosial Budaya Masyarakat Maritim...7

2.2 Aspek Sosial Budaya Masyarakat Maritim...8

2.3 Masyarakat Pesisir...14

2.4 Karakterirstik Masyarakaat Pesisir...15

2.5 Keadaan Masyarakaat Pesisir...18

2.6 Penyebab Kemiskinan Masyarakaat Pesisir...21

2.7 Penyebab Kegagalan Membangun Budaya Maritim Bangsa...25

2.8 Paradigma Pembangunan SDM dengan Konsep Kebudayaan Maritim...29

2.9 Hal-Hal Mendasar dan mendesak Yang Harus Dikerjakan Indonesia...30

2.10 Kemaritiman Dalam Prespektif Provinsi Kepuluaan Riau...1

BAB III...5

PENUTUP...5

3.1 Kesimpulan...5

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan posisinya yang strategis terletak diantara 2 benua, Asia dan Australia, serta di antara 2 samudera yaitu samudera Hindia dan samudera Pasifik dengan Jumlah pulau lebih dari 17.000 pulau dan wilayahnya secara umum kurang lebih 70% terdiri dari lautan. Indonesia berada di jalur persilangan perdagangan dunia dimana paling tidak 70% angkutan barang melalui laut dari Eropa, Timur Tengah dan Asia Selatan ke wilayah Pasifik, dan sebaliknya, harus melalui perairan Indonesia.

Untuk menjadi negara poros maritim bukanlah hal yang mudah, poros maritim itu sendiri diartikan sebagai suatu visi kemaritiman baru Indonesia yang dilandasi oleh potensi, realitas geografis dan geostrategis Indonesia sebagai negara maritim yang mempengaruhi dan dipengaruhi dua samudera, Hindia dan Pasifik juga dua benua, Asia dan Ausralia.

Selain letak geografis Indonesia yang begitu strategis dengan berada diantara jalur persilangan perdagangan dunia, Indonesia juga negara yang kaya akan sumberdaya laut, Dengan kemaritimannya yang sangat luas, Indonesia memiliki banyak potensi-potensi seperti potensi perairannya yang strategis yaitu ALKI atau Alur Laut Kepulauan Indonesia, potensi sumberdaya kealutan seperti, perikanan tangkap, perikanan budidaya juga

perikanan tambak serta potensi sumberdaya pertambangan dan energi lepas lantai. Hal ini merupakan modal besar bagi Indonesia untuk menuju negara poros maritim.

Namun dengan berbagai potensi-potensi kemaritiman yang dimiliki Indonesia, kemaritiman Indonesia juga tidak luput dari berbagai masalah. Beberapa masalah kemaritiman Indonesia dapat dijabarkan dalam berbagai masalah strategis dalam

pengembangan sektor maritim Indonesia. Isu dan masalah pertama adalah lingkungan dan sumber daya alam. Terkait isu dan masalah ini, dapat dicontohkan pada eksploitasi minyak

(5)

dan tambang lainnya yang berada pada dualisme, yakni peningkatan energi dan ekonomi negara versus masalah lingkungan, pencemaran.

Kedua adalah masalah sosial yang lebih banyak mengarah pada ketidak berdayaan nelayan kita. berbagai persoalan yang dihadapi nelayan, di antaranya nelayan tradisional susah dalam mengakses fishing ground, juga masalah sosial lainnya adalah seperti mindset masyarakat Indonesia yang memandang Indonesia hanya sebagai negara agraris dan melupakan sejarah nenek moyang tentang kekuatan kerajaan-kerajaan maritim Indonesia dalam menguasai dan melindungi perairan Indonesia.

Masalah ketiga adalah ekonomi, khususnya dalam kaitan Indonesia di tengah era ekonomi pasifik. Saat ini kemaritiman Indonesia belum membawa pengaruh signitifan bagi ekonomi Indonesia, ini dikarenakan Indonesia masih belum bisa menguasai kemaritimannya dan lebih banyak bergantung pada daerah daratannnya.

Keempat adalah masalah teknologi di mana kelemahan nasional dalam menguasai dan mengembangkan teknologi di bidang kemaritiman.Dalam kaitan dengan teknologi ini, persoalan lain yang mengemuka adalah aksesibilitas dan konektivitas pulau-pulau kecil dengan mainland dalam membuka keterisolasian. Pada level kebutuhan masyarakat kepulauan sudah banyak persoalan teknologi yang harus dilawan, begitu pula akan lebih banyak bila persoalan di tingkat negara, seperti pertahanan dan keamanan di bidang kemaritiman.

(6)

pertahanan negara, (4) Membangun ekonomi kelautan secara terpadu dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber kekayaan laut secara berkelanjutan, dan (5) Mengurangi dampak bencana pesisir dan pencemaran laut.

1.2 Rumusan Masalah

1. Pengertian Sosial Budaya Masyarakat Maritim

2. Aspek Sosial Budaya Masyarakaat Maritim

a. Fakta Historis

b. Fakta Geografis

c. Sumberdaya Manusia

3. Masyarakaat Pesisir

4. Karakteristik Masyarakat Pesisir

5. Keadaan Masyarakaat Pesisir

6. Penyebab Kemiskinan Masyarakaat Pesisir

7. Penyebab Kegagalan Membangun Budaya Maritim Bangsa

8. Paradigma Pembangunan SDM dengan Konsep Kebudayaan Maritim

9. Hal-Hal Mendasar dan Mendesak Yang Harus Dilakukan Indonesia

10. Kemaritiman Dalam Prespektif Provinsi Kepulauaan Riau

(7)

1.3 Tujuan penulisan

1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah pengantar ilmu dan teknologi maritim.

2. Memberikan informasi kepada pembaca tentang paradigma kemaritiman dan jejak maritim yang terhapus.

1.4 Manfaat penulisan

1. Agar mahasiswa mengetahui tentang paradigma kemaritiman dan jejak sejarah maritim yang terhapus.

2. Menambah wawasan mahasiswa tentang kemaritiman .

1.5 Metode penulisan

1. Penulis mencari sumber melalui buku, pdf , ebook dan jurnal.

(8)

BAB II

PARADIGMA KEMARITIMAN DAN JEJAK SEJARAH MARITIM

YANG TERHAPUS

2.1 Pengertian Sosial Budaya Masyarakat Maritim

Sosial adalah cara tentang bagaimana para individu saling berhubungan (Enda, 2010). Sosial dalam arti masyarakat atau kemasyarakatan berarti segala sesuatu yang bertalian dengan sistem hidup bersama atau atau hidup bermasyarakat dari orang atau sekelompok orang yang didalamnya sudah tercakup struktur, organisasi, nilai-nilai Sosial, dan aspirasi hidup serta cara mencapainya (Ranjabar, 2006) . Namun jika di lihat dari asal katanya, sosial berasal dari kata ”socius” yang berarti segala sesuatu yang lahir, tumbuh dan berkembang dalam kehidupan secara bersama-sama.

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Menurut ilmu antropologi, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar .

(9)

Sosial budaya adalah itu sendiri adalah segala hal yang dicipta oleh manusia dengan pemikiran dan budi nuraninya untuk dan atau dalam kehidupan bermasyarakat. Atau lebih singkatnya manusia membuat sesuatu berdasar budi dan pikirannya yang diperuntukkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Masyarakat maritim, yang terdiri dari dua buah kata yang memiliki makna tersendiri. Maritim yang merupakan segala aktivitas pelayaran dan

perniagaan/perdagangan yang berhubungan dengan kelautan atau disebut pelayaran niaga. Sedangkan masyarakat adalah sekumpulan manusia yang secara relatif mandiri, cukup lama hidup bersama, mendiami suatu wilayah tertentu, memiliki kebudayaan yang sama, dan melakukan sebagian besar kegiatannya di dalam kelompok tersebut (Horton et. Al,1991).

Masyarakat maritim terbagi menjadi :

1. Masyarakat industri maritim (termasuk komunitas nelayan) adalah masyarakat yang bermukim di daerah pesisir dengan jenis pekerjaan yang mengacu pada sumber daya laut dimana kegiatan produksinya sudah berwujud organisasi modern, teknologinya sudah maju, organisasi kerjanya lebih kompleks, motif produksinya lebih komersial, dan struktur sosialnya yang tediferensiasi.

(10)

Secara garis besar, sosial budaya masyarakat maritim berarti sistem hidup masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada aktivitas atau perniagaan yang berhubungan dengan kelautan.

2.2 Aspek Sosial Budaya Masyarakat Maritim 1. Faktor Historis

Negara Indonesia merupakan negara yang banyak memiliki wilayah lautan daripada daratan. Beberapa bukti bahwa laut lebih luas dari darat (2/3 luas Indonesia adalah laut), permukaan planet bumi juga 73 % adalah air dan sisanya darat. Belum lagi dihitung potensi sumberdaya yang terdapat di laut baik permukaan, kolom perairan maupun dasar laut. sejarah mencatat bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa maritim yang memiliki potensi sumberdaya laut yang kaya dan budaya bahari yang unggul di masa lalu, seperti Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit.

Konon penjajahlah yang merubah karakter bangsa menjadi petani. Namanya juga penjajah, selalu mengedepankan ambisinya dengan memperluas perdagangan rempah-rempah dari hasil pertanian ketika itu.

Untuk memastikan negara Indonesia sebagai negara maritim, maka dapat dilihat dari bebrapa peristiwa penting, yaitu:

Pertama; Deklarasi Djoeanda (13-12-1957), dengan tindak lanjut adanya konsep wawasan nusantara, UU No 4/60 tentang Perairan dan UNCLOS 1982. Isi Deklarasi “Bahwa segala perairan di sekitar, di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau yang termasuk dalam daratan Republik Indonesia, dengan tidak memandang luas dan lebarnya, adalah bagian yang wajar dari wilayah daratan Negara Republik Indonesia dan dengan demikian merupakan bagian daripada perairan pedalaman atau perairan nasional yang berada di bawah kedaulatan Negara Republik Indonesia. Penentuan batas laut 12 mil yang diukur dari garis-garis yang menghubungkan titik terluar pada pulau-pulau Negara Republik Indonesia akan ditentukan dengan Undang-Undang”

(11)

Kedua; Deklarasi Benua Maritim Indonesia di Makassar (18-12-1996), dengan tindak lanjut Konsep Pembangunan Benua Maritim Indonesia, Dewan Kelautan Nasional. Substansinya adalah menyebut Negara Kesatuan RI beserta perairan nusantara, laut wilayah, zona tambahan, ZEE, dan landas kontinennya sebagai Benua Maritim Indonesia. Pembangunan Maritim Indonesia (1998–2004) mencakup aspek : Perikanan, Pehubungan laut, Industri Maritim, Pertambangan dan Energi, Wisata Bahari, Pembangunan SDM, IPTEK dan Kelembagaan Maritim

Ketiga; Deklarasi Bunaken (26-9-1998) dengan tidak lanjut The Ocean Charter.Isi Deklarasi: Mulai saat ini visi pembangunan dan persatuan nasional Indonesia harus juga berorientasi laut. Semua jajaran pemerintah dan masyarakat hendaknya juga memberikan perhatian untuk pengembangan, pemanfaatan, dan pemeliharaan potensi kelautan Indonesia.

Keempat; Berdirinya Kabinet Gotong Royong dan Kabinet Persatuan (1999-2004) dengan tindak lanjut Departemen Eksplorasi Laut, Departemen Eksplorasi Laut dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan, Dewan Maritim Indonesia. Visi Departemen Kelautan dan perikanan adalah Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan secara Lestari dan bertanggung jawab bagi kesatuan dan kesejahteraan anak bangsa, sedangkan Misi Pembangunan Kelautan dan Perikanan : Misi Kesejahteraan : Meningkatkan kesejahteraan nelayan, pembudidaya ikan, dan pelaku usaha kelautan dan perikanan lainnya; Misi Pertumbuhan : Meningkatkan peran sektor kelautan dan perikanan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi; Misi Kelestarian : Memelihara daya dukung dan meningkatkan kualitas lingkungan sumber daya kelautan dan perikanan

(12)

Keenam; Undang-Undang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (UU No 27 Tahun 2007), dengan tindak lanjut yang penting antara lain hak pengusahaan pesisir dan pulau-pulau kecil diharuskan adanya kelengkapan dokumen perencanaan (rencana strategis, rencana zonasi, rencana pengelolaan dan rencana aksi.

Dari keenam peristiwa di atas dapat dikatakan bahwa sebenarnya negara Indonesia adalah negara maritim. Hal ini dilihat dari keseriusan pemerintah dalam mencita-citakan kemajuan bangsa di bidang kebaharian. Belum lagi potensi yang besar yang terkandung di dalamnya.

Juga dapat dikatakan bahwa masyarakat maritim adalah masyarakat yang sangat didahulukan kepentingannya. Karena tanpa masyarakat maritim, tidak akan ada yang mengelola laut dan semua usaha pemerintah akan sia-sia.

2. Aspek geografis

Secara geografis, Indonesia terdiri dari beribu pulau yang sebagian besar wiliyahnya (62%) merupakan perairan laut, selat dan teluk; sedangkan 38 % lainnya adalah daratan yang didalamnya juga memuat kandungan air tawar dalam bentuk sungai, danau, rawa, dan waduk.

Demikian luasnya wiliyah laut di Indonesia sehingga mendorong masyarakat yang hidup di sekitar wilayah laut memanfaatkan sumber kelautan sebagai tumpuan hidupnya. Ketergantungan masyarakat terhadap sektor kelautan ini memberikan identitas tersendiri sebagai masyarakat pesisir dengan pola hidup dan karakteristik tersendiri.

(13)

pelaku utama dalam pembangunan kelautan dan perikanan, serta pembentuk suatu budaya dalam kehidupan masyarakat pesisir. Banyak diantaranya faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat pesisir menjadi suatu komunitas yang terbelakang atau bahkan terisolasi sehingga masih jauh untuk menjadikan semua masyarakat setempat sejahtera. Dilihat dari faktor internal masyarakat pesisir kurang terbuka terhadap teknologi dan tidak cocoknya pengelolaan sumberdaya dengan kultur masyarakat setempat.

Masyarakat pesisir itu sendiri merupakan sekumpulan masyarakat yang hidup bersama-sama yang mendiami suatu wilayah pesisir, membentuk dan memiliki kebudayaan yang khas yang terkait dengan ketergantungannya pada pemanfaatan sumber daya pesisir dan laut. Tentu masyarakat pesisir tidak hanya nelayan, melainkan juga pembudidaya ikan, pengolah ikan bahkan pedagang ikan.

3. Sumberdaya manusia

Dalam berbagai literatur temuan hasil penelitian, tingkat pendidikan nelayan sebagai masyarakt maritim umumnya rendah. Penelitian Muflikhati (2010) mencatat bahwa rataan lama nelayan mengikuti pendidikian formal berada pada angka 4,63 tahun yang berarti tidak mencapai kelas 5 Sekolah Dasar. Hal ini berarti nelayan tersebut rata-rata hanya mengecap tingkat pendidikan maksimal hingga kelas 5 Sekolah Dasar. Minimnya tingkat raihan nelayan terhadap akses pendidikan formal ternyata tidak berbeda dengan kondisi nelayan ketika mereka mengakses jenis pendidikan non formal seperti dalam bentuk kursus, magang atau pelatihan. Nelayan artisanal di kabupaten Cirebon misalnya, rata-rata hanya dapat mengakses pendidikan non formal selama 4,9 jam per tahun,

(14)

sejalan dengan kriteria tingkat kemiskinan yang menggunakan indikator pemasukan dan pengeluaran. Penelitian Muflikhati (2010) bahwa jika

kesejahteraan nelayan hanya diukur dengan ukuran ekonomi (pendapatan dan pengeluaran), maka keluarga nelayan dapat dikatakan lebih sejahtera daripada keluarga bukan nelayan. Namun dengan indikator yang memiliki dimensi lebih luas dan lebih menjelaskan kondisi kehidupan dari berbagai aspek seperti akses terhadap pendidikan, terlihat bahwa keluarga nelayan berada dalam kondisi rendah dalam tingkat kesejahteraannya. Rendahnya tingkat pendidikan formal dan non formal yang dapat diakses oleh nelayan artisanal pantau Utara Jawa Barat, tidak menjadikan sulitnya mereka dapat menguasai teknik-teknik dalam kegiatan perikanan tangkap. Proses sosialisasi dan enkulturasi yang dilakukan oleh nelayan secara turun temurun, menjadikan pengetahuan kemampuan melaut dan

menangkap ikan dapat tersampaikan antar generasi. Bagi seorang individu nelayan, proses tersebut tidak berjalan secara singkat, melainkan berlangsung hingga puluhan tahun. Temuan penelitian ini menunjukkan rata-rata lama responden bekerja menjadi nelayan yang mencapai hingga 21,28 tahun. Demikian pula dengan lamanya waktu telah memiliki perahu secara sendiri rata-rata sudah mencapai waktu 17,26 tahun.

Masyarakat maritim juga memiliki sifat keterbukaan dalam menerima unsur-unsur dari luar. Sebagai contoh berkembangnya agama islam pada abad 15 dan 16 di Indonesia atau nusantara adalah melalui daerah-daerah atau kota-kota pelabuhan seperti Samudra Pasai, Aceh, Malakan, Demak, Gresik, dll.

2.3 Masyarakat Pesisir

Masyarakat pesisir adalah sekelompok masyarakat yang dipengaruhi oleh laut baik sebagian besar atau pun seluruh kehidupannya. Mata pencaharian utama di daerah pesisir adalah nelayan, walaupun terdapat mata pencaharian di luar nelayan, seperti :

(15)

pegawai negeri, pemilik warung, kontraktor, jasa potong rambut, dan masih banyak usaha di bidang jasa lainnya.

Definisi lainnya dari masyarakat pesisir adalah kelompok orang atau suatu komunitas yang tinggal di daerah pesisir dan sumber kehidupan perekonomiannya bergantung secara langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir. Mereka terdiri dari nelayan pemilik, buruh nelayan, pembudidaya ikan dan organisme laut lainnya, pedagang ikan, pengolah ikan, supplier factor sarana produksi perikanan. Dalam bidang non-perikanan, masyarakat pesisir bisa terdiri dari penjual jasa transportasi dan lain-lain.

(16)

2.4 Karakterirstik Masyarakaat Pesisir

Karakteristik masyarakat pesisir berbeda dengan karakterisik masyarakat agraris atau petani. Dari segi penghasilan, petani mempunyai pendapatan yang dapat dikontrol karena pola panen yang terkontrol sehingga hasil pangan atau ternak yang mereka miliki dapat ditentukan untuk mencapai hasil pendapatan yang mereka inginkan. Berbeda halnya dengan masyarakat pesisir yang mata pencahariannya didominasi dengan pelayan. nelayan bergelut dengan laut untuk mendapatkan penghasilan, maka pendapatan yang mereka inginkan tidak bisa dikontrol. Nelayan menghadapi sumberdaya yang bersifat open acces dan beresiko tinggi. Hal tersebut menyebabkan masyarakat pesisir sepeti nelayan memiliki karakter yang tegas, keras, dan terbuka”.

Selain itu, karakteristik masyarakat pesisir dapat dilihat dari beberapa aspek diantaranya,

a. Aspek pengetahuan,

b. Kepercayaan (teologis),

c. Posisi nelayan sosial.

(17)

Dilihat dari aspek pengetahuan, masyarakat pesisir mendapat pengetahuan dari warisan nenek moyangnya misalnya untuk melihat kalender dan penunjuk arah maka mereka menggunakan rasi bintang. Sementara, dilihat dari aspek kepercayaan, masyarakat pesisir masih menganggap bahwa laut memilki kekuatan magic sehingga mereka masih sering melakukan adat pesta laut atau sedekah laut.

- Ciri Khas Wilayah Pesisir

Ditinjau dari aspek biofisik wilayah, ruang pesisir dan laut serta sumberdaya yang terkandung di dalamnya bersifat khas sehingga adanya intervensi manusia pada wilayah tersebut dapat mengakibatkan perubahan yang signifikan, seperti bentang alam yang sulit diubah, proses pertemuan air tawar dan air laut yang menghasilkan beberapa ekosistem khas dan lain-lain. Ditinjau dari aspek kepemilikan, wilayah pesisir dan laut serta sumberdaya yang terkandung di dalamnya sering memiliki sifat terbuka (open access).

Kondisi tersebut berbeda dengan sifat kepemilikan bersama (common property) seperti yang terdapat di beberapa wilayah di Indonesia seperti Ambon dengan kelembagaan Sasi, NTB dengan kelembagaan tradisional Awig-Awig dan Sangihe, Talaud dengan kelembagaan Maneeh yang pengelolaan sumberdayanya diatur secara komunal. Dengan karakteristik open access tersebut, kepemilikan tidak diatur, setiap orang bebas memanfaatkan sehingga dalam pembangunan wilayah dan

pemanfaatan sumberdaya sering menimbulkan konflik kepentingan pemanfaatan ruang dan sumberdaya serta peluang terjadinya degradasi lingkungan dan problem

eksternalitas lebih besar karena terbatasnya pengaturan pengelolaan sumberdaya.

- Karakteristik Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir

(18)

seperti nelayan, pembudidaya ikan, penambangan pasir dan transportasi laut. Tingkat pendidikan penduduk wilayah pesisir juga tergolong rendah. Kondisi lingkungan pemukiman masyarakat pesisir, khususnya nelayan masih belum tertata dengan baik dan terkesan kumuh. Dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang relatif berada dalam tingkat kesejahteraan rendah, maka dalam jangka panjang tekanan terhadap sumberdaya pesisir akan semakin besar guna pemenuhan kebutuhan masyarakat.

Sifat dan karakteristik masyarakat pesisir adalah sebagai berikut:

1. Sangat dipengaruhi oleh jenis kegiatan. Contohnya seperti usaha perikanan tangkap, usaha perikanan tambak, dan usaha pengelolaan hasil perikanan yang memang dominan dilakukan.

2. Sangat di pengaruhi oleh faktor lingkungan, musim dan juga pasar.

3. Struktur masyarakat yang masih sederhana dan belum banyak dimasuki oleh pihak luar. Hal ini dikarenakan baik budaya, tatanan hidup, dan kegiatan masyarakat relatif homogen dan maasing-masing individu merasa mempunyai kepentingan yang sama dan tanggung jawab dalam melaksanakan dan mengawasi hukum yang sudah disepakati bersama.

(19)

4. Sebagian besar masyarakan pesisir bekerja sebagai Nelayan. Nelayan adalah perorangan warga negara Indonesia atau korporasi yang mata pencahariannya atau kegiatan usahanya melakukan penangkapan ikan.

2.5 Keadaan Masyarakaat Pesisir

Kehidupan masyarakat pesisir adalah mereka – mereka yang hidup dan menetap di kawasan pesisir dan laut. Realita sosial masyarakat pesisir, menunjukkan gambaran tentang sebuah potret masyarakat yang relatif terbuka dan mudah menerima serta merespon perubahan yang terjadi. Hal ini dapat dimaklumi mengingat kawasan pesisir merupakan kawasan yang sangat terbuka dan memungkinkan bagi

berlangsungnya proses interaksi sosial antara masyarakat setempat dengan masyarakat pendatang.

Wilayah pesisir adalah interaksi antara tujuan – tujuan dan pemanfaatan – pemanfaatan kelautan dan terestrial, wilayah pesisir terdiri dari daratan yang berinteraksi dengan lautan dan ruang lautan yang berinteraksi dengan daratan. Jadi wilayah pesisir adalah :

- Terdiri dari komponen daratan dan komponen lautan.

- Memiliki batas – batas daratan dan lautan yang ditentukan oleh tingkat pengaruh dari daratan terhadap lautan dan lautan terhadap daratan.

- Tidak seragam dalam hal kelebaran, kedalaman atau ketinggian.

Wilayah ini adalah wilayah transisi yang menandai tempat perpindahan antara wilayah daratan dan laut atau sebaliknya . Di wilayah ini, sebahagian besar

(20)

Oleh karena itu, dari perspektif mata pencariannya, masyarakat pesisir tersusun dari kelompok-kelompok masyarakat yang beragam seperti nelayan, petambak, pedagang ikan, pemilik toko, serta pelaku industri kecil dan menengah pengolahan hasil tangkap.

Di kawasan pesisiran yang sebahagian besar penduduknya bekerja menangkap ikan, sekelompok masyarakat nelayan merupakan unsur terpenting bagi eksistensi masyarakat pesisir. Mereka mempunyi peran yang besar dalam mendorong kegiatan ekonomi wilayah dan pembentukan struktur sosial budaya masyarakat pesisir. Sekalipun masyarakat nelayan memiliki peran sosial yang penting, kelompok masyarakat yang lain juga mendukung aktivitas sosial ekonomi masyarakat.

Masyarakat nelayan merupakan kelompok masyarakat yang pekerjaannya adalah menangkap ikan. Sebahagian hasil tangkapan tersebut dikonsumsi untuk keperluan rumah atau dijual seluruhnya. Biasanya isteri nelayan akan mengambil peran dalam urusan jual beli ikan dan yang bertanggung jawab mengurus domestic rumahtangga.

Kegiatan melaut dilakukan setiap hari, kecuali pada musim barat, masa terang bulan, atau malam jumat (libur kerja). Kapan waktu keberangkatan dan kepulangan melaut umumnya ditentukan oleh jenis dan kualitas alat tangkap. Biasanya nelayan akan berangkat kelaut pada sore hari setelah Ashar dan kembali mendarat pada pagi hari.

Tingkat produktivitas perikanan tidak hanya menentukan fluktuasi kegiatan ekonomi perdagangan desa-desa pesisir, tetap juga mempengaruhi pola-pola konsumsi penduduknya. Pada saat tingkat penghasilan besar, gaya hidup nelayan cenderung boros dan sebaliknya ketika musim paceklik tiba mereka akan mengencangkan ikat pinggang, bahkan tidak jarang barang-barang yang dimilikinya akan dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

(21)

Dalam masyarakat nelayan, struktur yang terkonstruksi merupakan aktualisasi dari organisasi kehidupan perahu. Sistem organisasi nelayan memberi ruang yang luas bagi tumbuhnya penghargaan terhadap nilai-nilai prestatif, kompetitif, beorentasi keahlian, tingkatan solidaritas sosial kerana faktor nasib dan tantangan alam, serta loyalitas terhadap pemimpin yang cerdas.

Salah satu karakteristik masyarakat nelayan adalah ketergantungan yang kuat terhadap lingkungan pesisir. Baik dan buruknya lingkungan pesisir akan berdampak secara langsung terhadap kehidupan mereka. Hal ini terkait dengan sumber daya perikanan yang ada seperti ikan tuna, lajang, cumi – cumi dan sebagainya. Hal ini membentuk hubungan atau relasi timbal balik antara manusia dan alam.

Karena itu, posissi sosial seorang nelayan atau pedagang ikan yang sukses secara ekonomis dan memiliki modal kultural, seperti suka menderma dan sudah berhaji, sangat dihormati oleh masyarakat di lingkungannya dan diikuti pendapatnya. Mereka ini merupakan modal sosial berharga yang bisa didayagunakan untuk

mencapai keberhasilan program pemberdayaan masyarakat pesisir.

2.6 Penyebab Kemiskinan Masyarakaat Pesisir

Pengangguran dan kemiskinan merupakan masalah pembangunan di Negara Republik Indonesia tercinta. Kedua permasalahan ini memiliki keterkaitan satu sama lain. Kemiskinan adalah situasi serba kekurangan yang terjadi bukan karena

(22)

pengetahuan dan keterampilan, rendahnya produktivitas, rendahnya pendapatan, lemahnya nilai tukar hasil produksi orang miskin dan terbatasnya kesempatan berperan serta dalam pembangunan

Secara umum, kemiskinan masyarakat pesisir ditengarai disebabkan oleh tidak terpenuhinya hak-hak dasar masyarakat, antara lain kebutuhan akan pangan,

kesehatan, pendidikan, pekerjaan, inftastruktur. Di samping itu, kurangnya kesempatan berusaha, kurangnya akses terhadap informasi, teknologi dan permodalan, budaya dan gaya hidup yang cenderung boros, menyebabkan posisi tawar masyarakat miskin semakin lemah. Pada saat yang sama, kebijakan Pemerintah selama ini kurang

berpihak pada masyarakat pesisir sebagat salah satu pemangku kepentingan di wilayah pesisir.

1. Kondisi Alam

Kompleksnya permasalahan kemiskinan masyarakat pesisir terjadi disebabkan masyarakat pesisir hidup dalam suasana alam yang keras yang selalu diliputi ketidakpastian dalam menjalankan usahanya. Musim paceklik yang selalu datang tiap tahunnya dan lamanya pun tidak dapat dipastikan akan semakin membuat masyarakat nelayan terus berada dalam lingkaran setan kemiskinan setiap tahunnya.

2. Tingkat pendidikan

Masyarakat pesisir yang miskin umumnya belum banyak tersentuh teknologi modern, kualitas sumber daya manusia rendah dan tingkat produktivitas hasil tangkapannya juga sangat rendah. Tingkat pendidikan masyarakat pesisir

berbanding lurus dengan teknologi yang dapat dihasilkan oleh para mereka, dalam hal ini teknologi di bidang penangkapan dan pengawetan ikan. Ikan cepat

(23)

diperlukan teknologi pengawetan ikan yang baik. Selama ini, masyarakat pesisir hanya menggunakan cara yang tradisional untuk mengawetkan ikan. Hal tersebut salah satunya disebabkan karena rendahnya tingkat pendidikan dan pengusaaan masyarakat pesisir terhadap teknologi.

3. Pola kehidupan masyarakat pesisir sendiri

Streotipe semisal boros dan malas oleh berbagai pihak sering dianggap menjadi penyebab kemiskian masyarakat pesisir. Padahal kultur nelayan jika dicermati justru memiliki etos kerja yang handal. Bayangkan mereka pergi subuh pulang siang, kemudian menyempatkan waktunya pada waktu senggang untuk

memperbaiki jaring. Memang ada sebagian masyarakat pesisir yang mempunyai kebiasaan dan budaya boros dan hal tersebut menyebabkan posisi tawar

masyarakat miskin semakin lemah

4. Pemasaran hasil tangkapan

Tidak semua daerah pesisir memiliki Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Hal tersebut membuat para masyarakat pesisir terpaksa untuk menjual hasil tangkapan mereka kepada tengkulak dengan harga yang jauh di bawah harga pasaran.

5. Program pemerintah yang tidak memihak masyarakat pesisir

(24)

tergantung pada tingkatan agen yang bermain di lapangan. Semakin banyak agennya maka semakin panjanglah rantai pasarnya dan semakin tinggilah harga solar sampai ke tangan nelayan. Harga tersebut ‘terpaksa” dibeli, untuk bisa melanjutkan hidup dengan melaut, meskipun dengan kondisi pas-pasan.

Selain itu, proses pemangkasan kekuatan rakyat pada masa orde baru, masih terasakan dengan melemahnya kearifan-kearfian lokal. Dulu, tradisi jamu laut di Sumatera Utara masih efektif terutama dalam hal pelarangan penangkapan ikan pada musim tertentu. Biasanya setelah jamu laut, dilarang pergi melaut selama beberapa hari, dengan demikian ada waktu pemulihan sumber daya ikan . Tak heran kalau sehabis jamu laut, dipercaya ada berkah laut dengan hasil tangkapan yang banyak. Sayangnya, semuanya itu tidak lagi seutuhnya terjadi hari ini, karena jamu lautpun sudah mulai pudar, dan hanya menjadi ritus-ritus belaka. Potret kemiskinan struktural terjadi karena negara sejak lama mengabaikan potensi bahari yang kaya raya ini sehingga hanya dikuasai segelinitir orang termasuk sebagain besar oleh kapal-kapal asing.

Berdasarkan uraian pokok masalah diatas, maka rekomendasi yang harus dilakukan dalam menanggulangi kemiskinan nelayan adalah:

1. Peningkatan kualitas pendidikan masyarakat nelayan.

Dalam hal ini konteksnya adalah nelayan sebagai kepala rumah tangga, dan nelayan sebagai seperangkat keluarga. Nelayan yang buta huruf minimal bisa membaca atau lulus dalam paket A atau B. Anak nelayan diharapkan mampu menyelesaikan pendidikan tingkat menengah. Sehingga kedepan akses perkembangan tekhnologi kebaharian, peningkatan ekonomi lebih mudah dilakukan.

2. Perlunya merubah pola kehidupan nelayan.

(25)

Hal ini terkait dengan pola pikir dan kebiasaan. Pola hidup konsumtif harus dirubah agar nelayan tidak terpuruk ekonominya saat paceklik. Selain itu membiasakan budaya menabung supaya tidak terjerat rentenir. Selain itu perlu membangun diverifikasi mata pekerjaan khusus dipersiapkan menghadapi masa paceklik, seperti pengolahan ikan menjadi makanan, pengelolaan wialyah pantai dengan pariwisata dan bentuk penguatan ekonomi lain, sehingga bisa

meningkatkan harga jual ikan, selain hanya mengandalakan ikan mentah.

3. Peningkatan kualitas perlengkapan nelayan dan fasilitas pemasaran.

Perlunya dukungan kelengkapan tekhnologi perahu maupun alat tangkap, agar kemampuan nelayan Indonesia bisa sepadan dengan nelayan bangsa lain. Begitupula fasilitas pengolahan dan penjualan ikan, sehingga harga jual ikan bisa ditingkatkan.

4. Perlunya sebuah kebijakan sosial dari pemerintah yang berisikan program yang memihak nelayan.

Kebijakan pemerintah terkait penanggulangan kemiskinan harus bersifat bottom up sesuai dengan kondisi, karakteristik dan kebutuhan masyarakat nelayan. Kebijakan yang lahir berdasarkan partisipasi atau keterlibatan masyarakat nelayan, bukan lagi menjadikan nelayan sebagai objek program, melainkan sebagai subjek. Selain itu penguatan dalam hal hukum terkait zona tangkap, penguatan armada patroli laut, dan pengaturan alat tangkap yang tidak mengeksploitasi kekayaan laut dan ramah lingkungan.

2.7 Penyebab Kegagalan Membangun Budaya Maritim Bangsa

(26)

banyak meninggalkan banyak bukti sejarah di nusantara yang salah satunya berupa gua yang dipenuhi lukisan perahu layar dan peninggalan bekas kerajaan Marina yang didirikan oleh perantau dari Nusantara terletak di wilayah Madagaskar. Selain

Kerajaan Sriwijaya dan Majapait, Kerajaan Singosari juga memiliki armade laut yang kuat dan mengadakan hubungan dagang secara intensif dengan wilayah sekitarnya.

Oleh karena itu, Sejarah kejayaan nusantara tidak bisa dilepaskan dari sejarah budaya bahari, karena sejak abad ke-5 jauh sebelum kedatangan orang-orang eropa di perairan nusantara, pelaut-pelaut negeri ini telah menguasai laut internasional dan tampil sebagai penjelajah samudra. Indonesia adalah negara dengan pantai

terpanjang ke dua di dunia. Lebih dari itu, Indonesia terletak pada posisi yang sangat strategis, yaitu pada persilangan dua benua dan dua samudera serta memiliki kekayaan bahari yang begitu melimpah. Akan tetapi, budaya bahari bangsa Indonesia masih memprihatinkan. Budaya bahari bangsa Indonesia belum tumbuh kembali, bukan saja di tengah masyarakat, tetapi juga pada tataran pembuat kebijaksanaan. Sehingga, Indonesia belum mampu memanfaatkan kelautan sebagai sumber kesejahteraannnya. Sungguh sangat disayangkan dengan kekayaan tersebut seharusnya masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang kaya. Namun pada kenyataanya masih banyak masyarakat Indonesia yang barada dibawah garis kemiskinan.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2008, penduduk miskin di indonesia mencapai 34,96 juta jiwa dan 63,47 persen % di antaranya adalah

masyarakat yang hidup di kawasan pesisir dan pedesaan.

Sebagai negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia yang wilayah lautnya termasuk ZEEI (5,8 juta km2) meliputi 75 persen total wilayahnya, teridiri dari 17.504 pulau (baru 13.466 yang telah diberi nama dan didaftarkan ke PBB), dan dikelilingi 95.181 km garis pantai (terpanjang kedua setelah Kanada), pencapaian hasil

pembangunan KP tersebut masih jauh dari potensi kelautan yang Indonesia miliki alias jauh dari optimal.

Selain itu, pembangunan kelautan masih menyisakan begitu banyak pekerjaan rumah.Buktinya, hingga kini kontribusi seluruh sektor kelautan terhadap

(27)

PDB hanya sekitar 20%. Padahal negara-negara dengan potensi kekayaan laut yang lebih kecil ketimbang Indonesia, seperti Islandia, Norwegia, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok, dan Thailand, kontribusi bidang kelautannya rata-rata sudah di atas 30% PDB.Mayoritas nelayan dan masyarakat pesisir masih terlilit derita kemiskinan. Sementara, gejala overfishing, kerusakan ekosistem pesisir (terumbu karang, hutan mangrove, dan estuaria), dan pencemaran melanda sekitar 40% wilayah pesisir dan laut, seperti Pantai Utara Jawa, sebagian Selat Malaka, Pantai Selatan Sulawesi, sebagian Pantai Timur Kalimantan, dan muara Sungai Ajkwa di Papua. Praktik penangkapan ikan ilegal (illegal fishing) oleh nelayan asing, illegal logging, illegal mining, dan kegiatan ekonomi ilegal lainnya serta perampokan dan perompakan di laut masih marak.Yang lebih memprihatinkan, bila sejak 2000 – 2004 kinerja ekspor-impor dan daya saing sektor KP mulai membaik secara signifikan, sejak sepuluh tahun terakhir kita mulai kebanjiran komoditas ikan impor dan garam.Sebagai akibat dari rendahnya kinerja sektor transportasi laut (pelayaran, pelabuhan, dan industri galangan kapal), biaya logistik Indonesia menjadi yang termahal di dunia, mencapai 26% PDB.Padahal, negara-negara lain lebih rendah dari 15% PDB nya. Lebih dari 75% barang yang kita ekspor harus melalui Pelabuhan Singapura, karena hampir semua pelabuhan Indonesia belum jadi hub port yang memenuhi sejumlah persyaratan internasional.Selain itu, dalam sistem rantai suplai dunia, posisi Indonesia belum sebagai produsen dan pemasok barang (produk) yang dibutuhkan masyarakat dunia, melainkan hanya sebagai konsumen (pasar) berbagai barang dan produk dari bangsa-bangsa lain.

(28)

Sementara itu, permasalahan bangsa (nasional) yang krusial dan harus segera diatasi meliptui: tingginya angka pengangguran dan kemiskinan, kesenjangan antara penduduk kaya vs. miskin yang kian melebar, disparitas pembangunan antar wilayah (Jawa vs luar Jawa, KBI vs KTI, dan perkotaan vs perdesaan) yang sangat timpang, rentannya kedaulatan pangan dan energi nasional, daya saing dan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) yang masih rendah, dan kerusakan SDA dan lingkungan.

Tantangan eksternal (global) yang akan dihadapi sektor KP ke depan adalah rezim perdagangan bebas (free trade), khususnya pasar tunggal ASEAN yang akan mulai berlaku Desember tahun depan (2015), dan Perubahan Iklim Global (Global Climate Change) beserta segenap implikasi (dampak) nya seperti pemanasan suhu perairan (laut), peningkatan permukaan laut (sea level rise), pemasaman laut (ocean acidification), cuaca ekstrem, dan lainnya.

Maka dari itu dalam rangka pembangunan nasional berdasarkan Wawasan Nusantara, pengelolaan perikanan perlu dilakukan dengan sebaik-baiknya dengan cara sbb:

a. berdasarkan asas manfaat, keadilan, kemitraan, pemerataan,

keterpaduan, keterbukaan, efisiensi dan kelestarian sumberdaya ikan dan lingkungannya yang berkelanjutan, dengan mengutamakan perluasan kesempatan kerja, peningkatan taraf hidup bagi nelayan dan peningkatan penerimaan dan devisa negara. Untuk menjamin

terselenggaranya pengelolaan sumber daya ikan secara optimal dan berkelanjutan perlu ditingkatkan peranan pengawas perikanan dan peran serta masyarakat dalam upaya pengawasan dibidang perikanan secara berdaya guna dan berhasil guna.

b. pengelolaan perikanan wajib didasarkan pada prinsip perencanaan dan keterpaduan pengendaliannya.

c. Pengelolaan perikanan dilakukan dengan memperhatikan pembagian kewenangan antara Pemenrintah Pusat dan Pemerintah Daerah Pengelolaan perikanan yang memenuhi unsur pembangunan yang

(29)

berkesinambungan , yang didukung dengan penelitian dan pengembangan perikanan seta pengendalian yang terpadu. Pengelolaan perikanan dengan meningkatkan pendidikan dan

pelatihan serta penyuluhan di bidang perikanan. Keadaan alam, flora dan fauna, peninggalan purbakala, peninggalan sejarah serta seni dan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan sumberdaya dan modal yang besar artinya bagi usaha pengembangan dan peningkatan kepariwisataan. Kepariwisataan mempunyai peranan penting untuk memperluas dan meratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja mendorong pembangunan daerah, memperbesar pendapatan nasional, serta memupuk rasa cinta tanah air, memperkaya kebudayaan

nasional. Penyelenggaraan kepariwisataan dilaksanakan berdasarkan asas manfaat,usaha bersama dan kekeluargaan, adil dan merata, perikehidupan dalam keseimbangan dan kepercayaan pada diri sendiri. Penyelenggaraan kepariwisataan bertujuan: memperkenalkan, mendayagunakan, melestarikan dan meningkatkan mutu objek dan daya tarik wisata; memupuk rasa cintatanah air dan meningkatkan persahabatan antar bangsa; memperluas dan memeratakan

kesempatan berusaha dan lapangan kerja; meningkatkan pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat; mendorong pendayabunaan produksi nasional. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar memiliki potensi kekayaan dan keindahan laut yang diminati oleh wisatawan dalam dan luar negeri, serta memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Wisata laut meliputi : menyelam, berselancar, berlayar pesiar, bermain jet ski, berselancar angin, serta mengunjungi resort-resort yang tersedia di pulau-pulau. Pemerintah wajib mengatur pemanfaatan dan pengelolaan

(30)

kelestarian, berkelanjutan, keterpaduan, keterpeliharaan, dan

memperhatikan aspek ekologis kawasan serta melibatkan peran serta masyarakat adat, masyarakat lokal dan masyarakat pesisir sebagai pemangku kepentingan.

2.8 Paradigma Pembangunan SDM dengan Konsep Kebudayaan Maritim

Bicara mengenai laut, tidak lepas dari segala sumber kekayaan alam yang belum dirnanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat Indonesia. sumber alam yang berlimpah ini bisa mem- berikan andil besar bagi kesejahteraan rakyat. Padahal,laut Indonesia dapat menghasilkan ratusan triliun devisa dengan berbagai potensi energi terbarukan. Salah satu faktor paling penting dalam menggerakkan roda ekonomi yang bersumber dari laut adalah ketidak tersediaan sumber daya manusia yang andal dan profesional. Laode Kamalauddin (Pembangunan Ekonomi Maritim di Indonesia, 2002) menyebutkan, SDM yang bekerja di sektor maritim dapat dikelompokkan dalam tujuh kategori, yaitu (1) sebagai pelaut kapal niaga domestik maupun asing; (2) sebagai penangkap ikan di kapal domestik maupun asing; (3) sebagai pelaut pada pelayaran rakyat; dan (4) nelayan; (5) tenaga kerja pada eksplorasi laut lepas pantai; (6) karyawan yang bekerja di ekoturisme; dan (7) karyawan di bidang kepelabuhanan. Ditaksir total pendapatan yang diperoleh dari seluruh kegiatan ini mencapai Rp 12, 7 triliun. Namun, pendapatan yang dihasilkan SDM masih akan meningkat dengan asumsi, pertama, apabila jumlah tenaga kerja profesional bertambah melalui pendidikan kepelautan dan pendidikan kemampuan tenaga ahli dalam negeri pada eksplorasi laut. Kedua, adanya penambahan jumlah kapal penangkapan, kapal penumpang maupun kargo laut. Ketiga, pengurangan tenaga kerja asing. Keempat, peningkatan kemampuan dan modernisasi peralatan nelayan dan pelayaran rakyat. Kelima , pendidikan kepelautan yang profesional seperti penyiapan nakhoda yang andal. Data hasil olahan tahun 2001 dari statistic

(31)

International Seafarers Suppliers. sebagaimana dikutip oleh Laode dari PT. Multi Kreasi Senalaut Services menempatkan Indonesia pada urutan ketiga dalam sepuluh negarapenyedia pelaut dunia. Ditopang oleh asumsi pasar kerja di bidang maritim yang terusberkembang, mengingat sektor maritim memiliki keterkaitan multi sektoral yang sangatkuat maka potensi pengembangan SDM di bidang kemaritiman diharapkan dapatberjalan lebih maksimal.

2.9 Hal-Hal Mendasar dan mendesak Yang Harus Dikerjakan Indonesia

Pelaksanaan pembangunan nasional sampai tahun 2025, termasuk didalamnya pembangunan bidang kelautan, harus berlandaskan pada Undang-undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005– 2025. Dalam UU tersebut juga ditetapkan Visi pembangunan nasional yang ingin dicapai Indonesia pada 2025, yakni: Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur. Kemudian, guna mewujudkan visi pembangunan nasional tersebut, ditempuh melalui 8 (delapan) misi, dan satu diantaranya merupakan misi yang terkait langsung dengan pembangunan kelautan nasional, yakni: “Mewujudkan Indonesia menjadi Negara Kepulauan yang Mandiri, Maju, Kuat, dan Berbasiskan Kepentingan Nasional”. Dengan memperhatikan cakupan misi tersebut,

Pembangunan Kelautan Nasional selanjutnya diarahkan pada 5 pilar kebijakan utama, yaitu: budaya bahari (ocean culture), tata kelola di laut (ocean governance), ekonomi kelautan (ocean economic), keamanan dan keselamatan di laut (maritime security), dan lingkungan laut (marine environment). Secara diagramatik

(32)

Dalam Undang-undang (UU) No. 32 Tahun 2004 menyebutkan bahwa kewenangan pemerintah daerah di wilayah laut adalah 12 mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan untuk provinsi dan 1/3 dari wilayah kewenangan provinsi untuk kabupaten/kota. Kewenangan daerah untuk mengelola wilayah laut meliputi :

1. Eksplorasi, eksploitasi, konservasi, dan pengelolaan kekayaan laut;

2. Pengaturan administratif;

3. Pengaturan tata ruang;

4. Penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh Pemerintah;

5. Ikut serta dalam pemeliharaan keamanan; dan

6. Ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara.

Namun demikian harus dipahami bahwa kewenangan tersebut harus tetap dilandasi falsafah bahwa laut adalah sebagai pemersatu wilayah, ekonomi, politik

(33)

maupun budaya sehingga laut tidak dikelola secara terpisah-pisah namun justru harus dilakukan kerjasama erat antar daerah baik provinsi maupun

kabupaten/kota.

Aktivitas ekonomi dalam bidang kelautan mencakup tujuh sektor, yakni: (i) perhubungan laut, (ii) industri maritim, (iii) perikanan, (iv) wisata bahari, (v) energi dan sumberdaya mineral, (vi) bangunan kelautan, dan (vii) jasa kelautan. Bila ketujuh sektor bidang kelautan tersebut di atas diintegrasikan dengan baik, maka tidak mustahil akan memberikan kontribusi yang jauh lebih besar terhadap pertumbuhan perekonomian nasional dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Sehingga juga akan mempercepat terwujudnya harapan bangsa Indonesia menikmati manfaat penuh dari pembangunan ekonomi kelautannya.

Di bawah menunjukkan model pembangunan ekonomi kelautan nasional dengan pengembangan integrasi antar sektor yang diharapkan mampu

(34)

Keberhasilan Indonesia dalam pentas kelautan dunia dibuktikan dengan keberhasilan menyelenggarakan pertemuan antar kepala negara dari Inisiatif Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle Initiative). Inisiatif ini bermula dari gagasan Presiden Republik Indonesia Bapak Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono mengundang kepala negara Coral Triangle Initiative (CTI) untuk meresmikan gagasan CTI dalam menjaga dan sumberdaya terumbu karang di daerah segitiga ini yang meliputi: Malaysia, Filipina, Indonesia, Papua New

(35)

Guinea, Kepulauan Solomon dan Timor Leste. Seluruh dunia mengakui bahwa daerah segitiga terumbu karang adalah satu-satunya peninggalan dunia dengan keragaman hayati laut yang tertinggi di dunia, yang hanya terbandingkan dengan keragaman hayati Hutan Amazon di Brasil. Oleh sebab itu daerah ini dinamakan juga “Amazon of the Ocean”.

Daerah Implementasi Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle Initiative for Coral Reef, Fisheries and Food Security)

Dalam kesepakatan Regional Plan of Action (RPoA) CTI, disebutkan ada lima tujuan utama dari gagasan CTI yakni:

1. Menetapkan daerah prioritas bentang laut (seascape) yang dikelola secara efektif

2. Penerapan prinsip pengelolaan sumberdaya perikanan dan sumberdaya kelautan kelautan lainnya bernasis ekosistem

(36)

4. Menerapkan langkah-langkah adaptasi perubahan iklim

5. Meningkatkan status species di laut yang terancam

Keseluruhan tujuan CTI ini diarahkan pada aspek konservasi terumbu karang, perikanan dan ketahanan pangan. Dengan dukungan mitra kerja CTI yakni Amerika Serikat, Australia, Bank Pembangunan Asia (ADB), The Nature Conservancy (TNC),

Conservancy International (CI) dan World Wild Fund for Nature (WWF). kelima tujuan utama CTI dapat terlaksana dan sedah memasuki tahap implementasi. Dalam “guiding principles” CTI, disebutkan bahwa pembangunan kelautan dan perikanan harus mengikuti kaidah kehati-hatian yang disebabkan tingginya nilai keragaman hayati dan potensi sumberdaya perikanan terutama ikan pelagis besar dan jenis ikan karang di daerah CTI.

(37)

2.10 Kemaritiman Dalam Prespektif Provinsi Kepuluaan Riau

Menjadikan Indonesia sebagai salah satu poros maritim dunia, adalah

keputusan yang visioner dan strategis, meskipun memerlukan waktu yang panjang, investasi yang besar dan konsistensi kebijakan pembangunan nasional.

Keputusan ini juga harus mengubah paradigma berpikir kita dari Indonesia sebagai negara agraris, menjadi Indonesia sebagai negara maritim.Kebijakan ini juga harus mengubah pendekatan pembangunan nasional kita dari populis sentris ke potensi wilayah sentris. Karena itu, perlu kebijakan pembangunan nasional jangka panjang, minimal 25 tahun, agar tidak ganti pemerintahan berganti pula kebijakan. Visi menjadikan Indonesia sebagai negara maritim ini harus dimasukkan ke dalam RPJP (rencana pembangunan jangka panjang), kalau dulu disebut GBHN (garis-garis besar haluan negara) yang diputuskan oleh MPR-RI.

Indonesia sudah sangat terlambat menyadari kompetensi kemaritimannya, dan sudah 70 tahun merdeka, kemaritiman masih menjadi isu-isu parsial, dan hanya melintas dari satu seminar ke seminar lainnya, tapi belum diimplementasikan dalam kebijakan pembangunan nasional secara total. Syukurlah Pemerintah kini

mencanangkan strategi besar ini di awal pemerintahannya. Tapi perlu jalan pintas untuk mempercepat terwujudnya mimpi besar menjadi poros maritim dunia itu.

Perlu kebijakan dan keputusan yang sungguh-sungguh untuk menjadikan semua infrastruktur kemaritiman yang sudah wujud selama 70 tahun ini, sebagai modal dasar untuk membangun Indonesia sebagai negara maritim.

Perlu lompatan dan kebijakan-kebijakan jangka pendek, perlu percontohan proyek, perlu ditetapkan poros-poros maritim di Indonesia dengan menunjuk daerah-daerah maritim yang infrastruktur kemaritimannya sudah memadai, terutama

infrastruktur keekonomiannya. Perlu kemauan politik yang kuat dengan mengutamakan masa depan Indonesia yang lebih baik melalui potensi kemaritimannya.

Provinsi Kepulauan Riau harus menjadi salah satu poros maritim Indonesia, karena:

(38)

Kalau dalam konteks ekonomi kemaritiman, pertahanan dan ketahanan wilayah, adalah sektor yang sangat strategis dan niscaya, maka potensi kelautan dan pertambangan itu memerlukan benteng pertahanan dan keamanan, dan itu adalah benteng masuk ke Indonesia karena Kepri adalah kawasan perbatasan terdepan dengan luas perairan dan garis pantai yang luar biasa panjangnya.

2. Kepulauan Riau punya Batam, sebuah kawasan ekonomi yang sudah berkembang pesat, sudah menyerap triliunan dana pembangunan nasional, memiliki keistimewaan sebagai kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas atau free trade zone (FTZ).

Serta memiliki infrastruktur ekonomi kemaritiman yang memadai. Batam sudah dianggap Singapura-nya Indonesia. Hongkong-nya Indonesia. Sebuah pelabuhan bebas yang sudah berkembang. Punya pelabuhan laut yang cukup. Punya industri kemaritiman yang terbesar di Indonesia, seperti lebih 100 industri galangan kapal. Punya industri lepas pantai dan sudah memproduksi ratusan buah rig lepas pantai yang kini bertaburan di laut Cina Selatan. Lembaga keuangan dan dunia usaha yang sudah sangat maju, dan lain-lain. Ini kelebihan Batam dibanding pusat-pusat pertumbuhan ekonomi maritim lainnya di Indonesia

3. Kepulauan Riau, meskipun dengan kemampuan dana pembangunan terbatas dan kebijakan kemaritiman yang belum konsisten dan masih parsial, sudah menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi berbasis maritim.

(39)

Kawasan perbatasan di Kepulauan Riau yang akan dikembangkan menjadi model pusat kegiatan kelautan dan perikanan, serta pusat perdagangan yang terintegrasi adalah Kota Batam. Saat ini, aktivitas di dermaga Pelabuhan Batam terdiri atas pelayaran lokal, pelayaran antar pulau, dan pelayaran samudera.

Dermaga pelabuhan Batam merupakan pelabuhan utama di Kepulauan Riau yang disinggahi oleh kapal penumpang dan kapal perintis. Jumlah aktivitas

pelayaran di Kepulauan Riau sebanyak 3.884 unit dengan volume 3.376.668 GRT. Jumlah kunjungan kapal dapat digunakan untuk menganalisis aktivitas suatu pelabuhan karena data jumlah kunjungan kapal di suatu pelabuhan menunjukkan tingkat kesibukan aktivitas pelabuhan. Semakin rendahnya aktivitas pelabuhan, biaya logistik semakin tinggi sehingga biaya operasional kurang efisien.

Transportasi laut bisa mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis maritim dan menekan angka inflasi karena disparitas harga antarwilayah makin rendah. Namun tingginya biaya logistik menyebabkan pengiriman barang di Kepulauan Riau lebih mahal daripada pengiriman barang ke luar negeri. Mahalnya biaya logistik ini menyebabkan transportasi maritim Indonesia tidak masuk dalam peta perdagangan maritim dunia.

Kepulauan Riau memiliki potensi sumber daya besar pada wilayah pesisir dan laut. Hal ini didukung dengan wilayah teritorial perairan yang luas, sekaligus memiliki potensi berbagai jenis biota laut yang bernilai ekonomi tinggi. Provinsi Kepulauan Riau merupakan daerah kepulauan dengan luas lautan yang besar, dengan luas daratan kurang lebih sekitar 5 persen saja. Hal ini yang membuat sektor perikanan menjadi sumber mata pencaharian utama penduduk Provinsi Kepulauan Riau. Sebagian besar produksi perikanan di Provinsi merupakan

(40)

produksi perikanan tangkap laut nasional yang sebesar 5.707.012 ton pada tahun 2013.

Potensi perikanan yang besar di Kepulauan Riau terdapat di Kabupaten Karimun dan Kota Batam didukung dengan perbedaan pasang surut arus laut yang tinggi sehingga potensi perikanan cukup tinggi. Tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan sektor perikanan d i Kepulauan Riau antara lain belum terpadunya usaha penangkapan ikan, tambak ikan, serta budidaya perikanan lainnya, dan penggunaan teknologi penangkapan dan pengolahan hasil ikan yang belum memadai. Strategi yang dapat dilakukan untuk mengembangkan perekonomian berbasis kelautan ini antara lain pemberian kredit mikro kepada nelayan, peningkatan kualitas produk perikanan di pasar lokal dan untuk ekspor, dan pengembangan industri yang berasal dari produk olahan ikan. Pengembangan sektor kelautan ini harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan agar

(41)

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Indonesia sebagai negara kepulauan yang terbesar dilihat dari jumlah pulaunya dan 75% dari keseluruhan daerah Indonesia adalah perairan. Dari setiap pulau di Indonesia memiliki kawasan yang banyak di dominasi oleh perairan (laut). Jadi dari fakta tersebut termuat tulisan yang mengkritisi tentang pemimpin yang bervisi tentang kemaritiman. indonesia merupakan daerah yang sangat strategis, dimana Indonesia merupakan negara kepulauan yang menghubungkan dua benua yaitu Asia dan Australia.

Indonesia memiliki empat dari Sembilan choke point yang ada di dunia, hal ini menyebabkan Indonesia berpeluang menjadi poros maritim dunia.

3.2 Saran

Indonesia berpeluang menjadi poros maritim dunia. Untuk dapat menjadi porors maritim dunia maka sistem pelabuhan di Indonesia harus dimodernisasi sesuai dengan standar internasional sehingga pelayanan dan akses di seluruh pelabuhan harus

(42)

[1] Suriadi, Agus. 2005. Transformasi Industrial pada Komunitas Nelayan: Studi Kasus di Desa Sei Apung Jaya Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan Sumatera Utara. Medan: Universitas Sumatera Utara.

[2] Abdillah, Aditya, dkk. 2014. Masyarakat Maritim. Makassar: Universitas Hasanuddin

[3] Kadir Yudi Firgianti, dkk, 2013. Perkembangan Kehidupan Sosial Ekonomi Masyaraka Pesisir Pantai. Gorontalo: Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo Program Studi Pendidikan Sejarah.

[4] Putra Andika, 2016. Pengertian Masyarakat Nelayan/Pesisir.

[5] Lossin Angkiek, Makalah Pemberdayaan Masyarakat Pesisir.

[6] Bezzeq, 2013. Makalah Tentang Kemiskinan Masyarakat Nelayan di Indonesia.

[7] Rahmatullah, 2010. Menanggulangi Kemiskinan Nelayan.

[8] Arsyad Rosihana, Membangun Budaya Bahari dan Kepentingan Bangsa Indonesia di Laut pada Masa Kini.

[9] Muhammad Mubarak Chadyka Putra, dkk, 2013. Budaya Bahari Dan Penanggulangan Kemiskinan. Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.

[10]Dahuri Okhmin, 2014. Membangun Indonesia Sebagai Negara Maritim Yang Maju, Adil-Makmur, Kuat, dan Berdaulat.

[11] Gazali Imam, 2013. Pembangunan Budaya Maritim Indonesia.

[12] Limbong,Bernhard. 2015, Poros Maritim, Jakarta: Pustaka Margareta

[13] Anthony Septian Pardosi, Potensi Dan Prospek Indonesia Menuju Poros Maritim : Mahasiswa Program S1 Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman. [14] Anonim, “Ayo Batam, Bisa lebih hebat dari singapura” www.mmindustri.co .id diakses pada

tanggal 5 Maret 2017

[15] Anonim “ analisis pembangunan wilayah provinsi kepuluan riau (hal 18 )

http://simreg.bappenas.go.id diakses pada tanggal 5 maret 2017

[16] www.academia.edu/9643252/Tantangan_Pembangunan_Maritim

[17] DEWAN KELAUTAN INDONESIA, Kebijakan Ekonomi Kelautan Dengan Model Ekonomi Biru.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam aspek program, Indonesia akan melanjutkan dan menyelesaikan penegasan batas wilayah darat dan wilayah laut dengan negara tetangga, juga melakukan pendataan

Mengenai kedaulatan atas ruang daratan telah mendapat undang-undang yang mengatur tentang batas wilayah negara RI, sedangkan batas wilayah laut sesuai dengan hukum

Sepanjang yang bersangkutan dengan batas laut, maka batas-batas tersebut, sepanjang ada kaitannya dengan negara-negara tetangga, juga harus ditetapkan berdasarkan

Dalam aspek program, Indonesia akan melanjutkan dan menyelesaikan penegasan batas wilayah darat dan wilayah laut dengan negara tetangga, juga melakukan pendataan

Secara nasional saat ini wilayah perbatasan laut menghadapi sejumlah permasalahan, antara lain, belum selesainya penetapan batas wilayah dengan negara tetangga, kemudian

Perbatasan memiliki arti penting tidak saja dalam konteks wilayah suatu negara dan kedaulatan wilayah, juga memiliki fungsi lain yang tidak kalah pentingnya dari

Secara nasional saat ini wilayah perbatasan laut menghadapi sejumlah permasalahan, antara lain, belum selesainya penetapan batas wilayah dengan negara tetangga, kemudian belum

Kami juga akan membahas peran penting Natuna dalam konteks kedaulatan laut Indonesia serta upaya hukum yang telah dilakukan oleh negara kita untuk menjaga wilayah ini sebagai milik