Serah Naik Jajah Turun sebagai Dasar Hub

Teks penuh

(1)

Serah Naik Jajah Turun

Sebagai Dasar Hubungan Orang Rimba dan

Orang Melayu di Jambi

1

Oleh : Adi Prasetijo M.Si2

Pengantar

Dalam paper ini penulis akan mencoba untuk menganalisa dan menjelaskan hubungan antara kebudayaan Orang Rimba dan Orang Melayu di Jambi. Penulis melihat hubungan antar etnik antara kelompok etnik Orang Rimba dan kebudayaan Melayu dalam konteks hubungan yang bersifat patron-klien. Hubungan patron – klien ini mempengaruhi kehidupan Orang Rimba sehingga menurut penulis seperti bagaimana Orang Rimba hidup dalam bayang-bayang kebudayaan Orang Melayu yang ada di Jambi.

Hubungan antar etnik dalam hal ini dalam paper ini dipahami sebagai sebuah gejala budaya mempertemukan 2 orang atau lebih yang berbeda etnik. Interaksi sosial terwujud dalam struktur dimana dalam struktur tersebut terdapat sistem yang mengatur hubungan antar status individu berdasarkan peranan yang dipunyainya. Status seseorang sebagai ciri etnik ini mampu mengatur konstelasi status yang dapat diakui sebagai kepribadian sosial yang ditemukan dalam diri seseorang dengan identitasnya dimana ciri etnik ini berlaku mirip identitas kepangkatan yang ada dalam struktur (Barth,1980,18). Di dalam interaksi antar etnik yang berlaku secara stabil atau mapan, sebab berlaku terus menerus, tetap dan dipelihara keberadaannya, hubungan antar etnik menjadi hubungan antar status dan peranan yang bersifat simbiosis. Peranan pelaku dalam struktur interaksi selalu berbeda tergantung dari corak interaksinya dimana dalam corak interaksi tersebut ia dapat menonjolkan peranannya sehingga yang kemudian terjadi dalam interaksi adalah perjuangan antar individu untuk memperebutkan peranannya. Seseorang akan mendapatkan perannya apabila ia

       

1 Jurnal SELOKO, VOL. 1, NO. 1, 2012:27-49, Dewan Kesenian Jambi, Jambi

2 Kandidat doktor, Antropologi, Universiti Sains Malaysia. Alumnus Arkeologi, UGM (1997), Pasca Sarjana Antropologi, UI (2005), dan MPI (Mindanao Peacebuilding Institute) Philipine (2004). Pernah bekerja di WARSI & NRF (Norwegian Rainforest Foundation) dalam program “Resource Management for Orang Rimba” selama beberapa tahun di Jambi. Juga pernah bekerja sebagai Peacebuilding project Coordinator di CRS (Catholic Relief Services) Indonesia Office, dan UNESCO Office, Jakarta sebagai project coordinator for culture, dan sekarang bekerja sebagai peneliti di ICSD (Indonesia Center for Sustainable Development). E-mail: prasetijo@gmail.com

(2)

mempunyai kekuatan dan otoritas yang terwujud didalam hubungan sosial yang aktif (Jenkins,1987,53). Sebagai hubungan antar kekuatan, interaksi sosial dapat kita lihat demikian karena dalam berinteraksi seorang aktor akan selalu berusaha untuk mempengaruhi aktor yang lain. Konteks hubungan patron – klien menurut penulis adalah hubungan yang bersifat tatanan struktur yang mencoba untuk saling mendominasi.

Hubungan patron klien antara Orang Melayu dan Orang Rimba dapat kita pahami sebagai suatu hubungan antar etnik yang terwujud secara setempat atau lokal. Penulis melihat hubungan patron klien antara Orang Rimba dan Orang Melayu tercermin dari pola hubungan waris jenang yang memberikan gambaran hubungan yang eksploitatif. Peran waris dan jenang mempunyai posisi yang sangat penting dalam kehidupan Orang Rimba. Meskipun hubungan waris dan jenang sudah mulai menurun namun tetap saja pola hubungan ini dengan dunia luar. Misalnya bagaimana mereka berhubungan dengan pihak perusahaan atau orang luar, diluar Orang Melayu.

Orang Rimba: Potret Marjinilitas Suatu Kelompok Etnik

Orang Rimba atau Orang Kubu ataupun dikenal sebagai Suku Anak Dalam adalah sebuah istilah yang digunakan untuk mengidentifikasi suatu kelompok etnik yang ada di Jambi, Sumatra. Mayoritas Orang Rimba hidup di propinsi Jambi dan beberap wilayah yang ada di Sumatra Selatan dan Riau. Secara ekologis, Orang Rimba hidup di dataran rendah propinsi Jambi yang tersebar di 3 lingkup wilayah geografis yang berbeda, yaitu di daerah bagian barat Propinsi Jambi (sekitar jalan lintas timur Sumatra), Taman Nasional Bukit 12, dan Taman Nasional Bukit 30 (berada di perbatasan antara Riau – Jambi)(Sandbukt & Warsi,1998,16).

Istilah Orang Kubu pertama kali disebutkan oleh Van Dongen untuk menyebut orang-orang primitif yang ditemuinya, ketika berkunjung ke Palembang. Ia menyebutnya sebagai Rimba Ridan, atau orang Rimba yang ada di Sungai Ridan di daerah Palembang. Kubu atau Ngubu oleh orang Melayu diartikan sebagai benteng pertahanan dimana kemudian istilah Rimba untuk menyebut orang yang bertahan/tinggal di dalam hutan (Van Dongen,1906). Sebutan Orang Kubu kemudian berkembang menjadi istilah baku yang labelkan oleh Orang Melayu kepada mereka.

(3)

Selain itu Orang Rimba juga mengalami proses peminggiran kebudayaan yang dilakukan oleh pemerintah. Beberapa pemukiman kembali Orang Rimba yang dilakukan oleh pemerintah diklaim keberhasilannya jika mereka mau berpindah perilakunya dengan menetap dipemukiman menetap dan merubah semua tatanan hidupnya. Model pembangunan untuk “Kelompok Adat Terpencil” seperti Orang Rimba yang mempunyai ciri-ciri makro, pertumbuhan materi, dan tingkat kemampuan konsumsi yang mengacu kepada kebudayaan mayoritas daerah setempat (Melayu) sehingga dalam pelaksanaannya dapat mengabaikan variasi-variasi lokal dan kepentingan kelompok-kelompok etnik yang minoritas karena tidak sesuai dengan pedoman makro yang digunakan oleh negara. Program-program pembangunan yang diarahkan oleh pemerintah akan mengarah kepada perubahan kebudayaan etnik minoritas tersebut, termasuk Orang Rimba ke dalam kebudayaan yang dominan. Seperti nampak dalam program-program pembangunannya yang populer yaitu pemukiman kembali masyarakat terpencil. Wacana kebijakan pemerintah Orba ini, seakan menjadi legitimasi kontruksi identitas etnik Orang Rimba yang berada dibawah bayang-bayang kebudayaan dominan karena mereka tidak dapat mengikuti pedoman makro yang ditentukan.

Bagi pemerintah (Kementrian Sosial) ciri-ciri golongan masyarakat yang digambarkan seperti Orang Rimba adalah termasuk dalam golongan masyarakat terasing atau sekarang disebur sebagai KAT (Kelompok Adat Terpencil). Masyarakat terasing berdasarkan SK Menteri Sosial RI No. 5/1994 adalah kelompok-kelompok masyarakat yang bertempat tinggal atau berkelana ditempat-tempat yang secara geografik terpencil, terisolir, dan secara sosial budaya terasing dan atau masih terkebelakang dibandingkan dengan masyarakat bangsa Indonesia pada umumnya (Direktorat Bina Masyarakat Terasing-Depsos RI.1996:2).3

Kelompok masyarakat terasing dengan ciri-ciri demikian diatas seperti Orang Rimba ini oleh Depsos juga dianggap sebagai suatu masyarakat yang rentan terhadap berbagai permasalahan sosial atau disebut sebagai rawan sosial dimana keadaan mereka dipandang labil atau tidak mempunyai ketidakmantapan sosial politik yang akan menimbulkan permasalahan sosial karena kebudayaan mereka yang dianggap tidak lagi sesuai dengan masanya karena terisolir, baik secara geografis maupun budaya. Bahkan dalam beberapa pernyataan tentang permasalahan yang ditimbulkan dari permasalahan kelompok sukubangsa minoritas ini terlihat jelas bahwa mereka oleh Depsos dianggap sebagai pembawa masalah sosial dimana masalah-masalah sosial tersebut akan mengganggu citra dan jalannya pembangunan. Seperti tercantum dalam buku panduan teknis mereka yang mengatakan bahwa kelompok sukubangsa minoritas ini belum sepenuhnya terjadi integrasi nasional dalam kemasyarakatan kita, belum dapat secara penuh dilaksanakan pemerataan pembangunan bagi seluruh rakyat, mengurangi citra keberhasilan pembangunan bangsa, dapat menimbulkan mata rantai yang mengganggu ketahanan nasional, dan meskipun dalam skala yang

       

(4)

kecil serta lambat, tetapi mengganggu kelestarian alam seperti tebas dan bakar (Panduan Teknis Pemberdayaan Lingkungan Sosial KAT 2000: 9).

Jika melihat lebih ke belakang, maka sesungguhnya pemerintah melihat keberadaan mereka terasing karena pola hidupnya yang dinilai terkebelakang, terisolasi dan memandang bahwa masyarakat terasing sebagai suatu masalah sosial “Masyarakat terasing adalah merupakan sebagian dari masalah sosial di Indonesia”. Untuk itu maka mereka perlu dibangun dan dibina, disesuaikan dengan masyarakat yang lain. Dan kebudayaan etnik yang dianggap tidak sama perlu dirubah.

Proses peminggiran kebudayaan etnik yang terjadi seperti yang terjadi pada Orang Rimba diatas tidak lepas dengan kelahiran apa yang disebut dengan proses kelahiran kebudayaan nasional pada masa Orde Baru. Keberadaan kebudayaan nasional adalah suatu konsep yang sifatnya umum dan biasa ada dalam konteks sejarah negara modern dimana ia digunakan oleh negara untuk memperkuat rasa kebersamaan masyarakatnya yang beragam dan berasal dari latar belakang kebudayaan yang berbeda. Dalam perjalanannya, negara malah memperkuat batas-batas kebudayaan nasionalnya dengan menggunakan kekuatan-kekuatan politik, ekonomi, dan militer yang dimilikinya. Keadaan ini berkaitan dengan gagasan yang melihat bahwa usaha-usaha untuk membentuk suatu kebudayaan nasional adalah juga suatu upaya untuk mencari letigimasi ideologi demi memantapkan peran negara dihadapan warganya (Keith Foulcher 1999.301-303). Tidak mengherankan kemudian, jika yang nampak dipermukaan adalah gejala bagaimana negara menggunakan segala daya upaya kekuatan politik dan pendekatan kekuasaannya untuk ”mematikan” kebudayaan-kebudayaan etnik yang ada didaerah, dimana kebudayaan-kebudayaan-kebudayaan-kebudayaan etnik tersebut dianggap tidak sejalan dengan kebudayaan nasional.

Indonesia sendiri, sebagai suatu masyarakat majemuk yang terdiri dari berbagai kelompok etnik yang berbeda, terdapat pranata yang bersifat nasional, kelompok etnik dan pranata lokal. Pranata nasional berfungsi dalam kaitan dengan kebutuhan pelayanan administrasi publik yang dilakukan oleh pemerintah. Sedangkan pranata etnik ada dan berlaku dalam kehidupan kekerabatan dan keluarga. Dan pranata lokal ada dalam tatanan kehidupan masyarakat lokal setempat yang ada di tempat-tempat umum dimana ia berfungsi sebagai sebagai jembatan antar para warga yang mempunyai latar belakang etnik yang berbeda. pranata lokal ini berdasarkan kepada kebudayaan lokal setempat sebagai sistem acuan dalam berhubungan.

(5)

dijadikan acuan oleh anggota etnik yang bersangkutan untuk melakukan penilaian dan penggolongan sosial terhadap gejala-gejala sosial yang dialaminya. Dalam kebudayaan etnik ini juga tersedia jawaban-jawaban atas asal-usul manusia dan mengenai alam semesta beserta isinya tempat kehidupannya, menyajikan formula-formula yang dapat diplih untuk digunakan dalam menghadapi dunia gaib dan ketidakpastian kehidupan yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dari warga etnik tersebut. Intinya adalah patokan nilai-nilai etika dan moral, baik yang tergolong sebagai yang ideal dan seharusnya yang dinamakan world view atau pandangan hidup maupun yang operasional dan aktual didalam kehidupan sehari-hari yang dinamakan ethos atau etos. Secara operasional kebudayaan etnik terwujud dalam pranata-pranata sosial yang ada dalam masyarakat etnik dimana keberadaannya berdasarkan fungsi dan kebutuhan masyarakat yang bersangkutan. Sebagai suatu sistem pengetahuan, kebudayaan etnik ini juga berisi sistem penggolongan atau identifikasi yang digunakan oleh anggota etnik yang bersangkutan untuk melakukan penilaian terhadap kelompok etnik yang lain. seseorang akan melakukan penilain terhadap orang lain berdasarkan ciri-ciri atau atribut yang melekat pada dirinya. Dan dalam melakukan penilaian tersebut, ia menggunakan sistem penggolongan yang ada dalam kebudayaan etniknya (Suparlan 2004: 8-9).

Selain kedua sistem tersebut diatas, terdapat juga sistem sosial yang ada di tempat-tempat umum lokal. Tempat-tempat umum lokal ini tidak hanya diartikan sebagai tempat bertemunya anggota masyarakat dengan berbagai kepentingan yang berbeda namun dapat dimaknai juga sebagai suatu ruang sosial dimana didalamnya terdapat hubungan sosial antar anggota masyarakat. Sebagai suatu ruang sosial, tempat-tempat umum dapat dipahami sebagai suatu pranata sosial dimana didalamnya terdapat hubungan antar posisi dan kedudukan antar pelaku. Dalam hal ini ruang sosial tempat-tempat umum ini terdapat suatu kebudayaan yang dijadikan oleh para pelaku untuk bertindak dan saling berhubungan. Didalam ruang sosial tersebut juga berlaku situasi sosial dimana diartikan sebagai serangkaian norma yang mengatur penggolongan para pelaku menurut status dan perannya dan yang membatasi macam tindakan-tindakan yang boleh dan yang tidak boleh serta yang seharusnya diwujudkan oleh para pelakunya. Sebuah situasi sosial biasanya menempati suatu ruang atau wilayah tertentu yang khususnya untuk situasi sosial tertentu, walaupun tidak selamanya demikian keadaannya sebab ada ruang atau wilayah yang mempunyai fungsi majemuk.

(6)

Didalam sistem tempat umum seperti dicontohkan diatas biasanya hubungan antar-etnik terjadi karena tempat-tempat umum menjadi titik pertemuan antar warga atau anggota masyarakat berbeda etnik namun dipertemukan oleh kebutuhan dan kepentingan yang sama. Ciri utama dari sistem sosial yang ada dalam tempat-tempat umum ini adalah sifatnya yang lokal setempat karena berlaku secara terbatas pada areal tertentu dan mempunyai corak atau sifat yang berbeda antara yang satu dengan yang lain dimana corak atau sifat tersebut berdasarkan jenis kekuatan yang digunakan dalam proses tawar-menawar. Seperti misalnya kekuatan sosial, kekuatan uang, atau kekuatan fisik. Namun terdapat juga tempat-tempat umum yang dalam melakukan tawar-menawarnya berdasarkan pola-pola kebudayaan masyarakat setempat yang dominan.

Dalam konteks hubungan antara Orang Rimba dengan kelompok etnik lainnya, hubungan antar-etnik lazim terjadi didalam ruang-ruang sosial yang ada ditempat umum karena sistem sosial tempat-tempat umum ini berfungsi sebagai wadah untuk mengakomodasi perbedaan dan menjadi perantara yang menjembatani antara keduanya. Didalam hubungan antar-etnik tersebut masing-masing etnik menciptakan dan memantapkan batas-batas sosialnya. Batas-batas sosial etnik tersebut berfungsi sebagai batas yang membedakan antara kelompok etnik yang satu dengan kelompok etnik yang lain dimana mereka mengacu kepada kebudayaan etnik masing-masing. Batas-batas sosial etnik tersebut berupa atribut-atribut etnik yang dapat menjadi ciri identitas etnik yang bersangkutan. Mereka juga akan menunjukkan identitas etniknya dengan cara mengaktifkan unsur-unsur yang ada dalam kebudayaan etniknya sehingga nampak jelas perbedaan masing-masing kelompok etnik.

Hubungan Masyarakat Ulu dan Masyarakat Ilir

Hubungan antara Orang Rimba dan orang Melayu sesungguhnya diatur oleh suatu tatanan struktur yang didasarkan atas hubungan ekonomi antara keduanya. Hubungan itu didasarkan atas aturan serah naik jajah turun dimana tujuan utamanya adalah menjamin kelancaran alur distribusi pajak (jajah ) dari Orang Rimba kepada pihak kesultanan Jambi. Waris dan jenang diangkat oleh pihak kesultanan yang berfungsi sebagai penarik jajah sekaligus sebagai orang yang mengurusi mereka. Waris

dan jenang inilah yang kemudian juga berfungsi sebagai penghubung antara Orang Rimba dengan dunia luar.

Pola hubungan antara Orang Melayu dan Orang Rimba menurut penulis terbangun dari suatu latar belakang hubungan antara masyarakat ulu dan ilir yang ada di Jambi pada masa kesultanan Jambi yang sifatnya struktural hirarkis. Masyarakat ulu

(7)

komoditi jual sumber daya alam (jernang, getah balam, dan lain-lain) ke pasar internasional di Selat Malaka. Upaya ini dilakukan dengan cara tindakan fisik seperti penguasaan lahan, perbudakan, penculikan anak gadis, dan penghancuran desa, juga dilakukan dengan cara membangun suatu tatanan struktur yang sedemikian rupa mengikat masyarakat ulu kepada masyarakat ilir. Konsep pajak “serah naik jajah turun” dan pembagian masyarakat menjadi dalam kalbu-kalbu berdasarkan kedekatan dan pekerjaannya kepada kesultanan, serta peran waris dan jenang yang dominan adalah bukti dari upaya masyarakat ilir dengan dukungan Kesultanan Melayu Jambi untuk menguasai masyarakat ilir.

Dalam catatan harian yang ditulis oleh Winter (Winter 1901:2) misalnya dapat kita lihat bagaimana orang-orang Rimba ketakutan setengah mati karena anak-anak gadis mereka diculik oleh Orang Melayu untuk dibawa ke daerah hilir dan dijadikan

budak. Tanpa mereka dapat berbuat apa-apa. Dan ia menuliskan bahwa pada masa Hindia Belanda bagaimana dengan mudah dan biasanya orang-orang Melayu menangkap Orang Rimba di hutan hanya untuk dijadikan sekedar budak dan diperdagangkan diantara mereka. Dan Orang Rimba menurut Winter tidak berani untuk melawan. Mereka hanya lari dan lari lebih masuk ke dalam hutan. Pola perbudakan seperti ini ini menurut penulis begitu dominan dalam konteks hubungan perdagangan antara Orang Rimba dan Orang Melayu di masa kesultanan Melayu Jambi. Konteks hubungan yang demikian menurut penulis telah memberikan dampak terhadap bagaimana Orang Rimba membangun interpretasinya terhadap Orang Melayu4. Dalam kosmologi Orang Rimba misalnya, Orang Melayu digambarkan sebagai orang-orang yang membawa penyakit dari daerah hilir, daerah asal penyakit, pun demikian dengan wanita-wanita Orang Rimba yang harus dilindungi dari kontak langsung dengan orang-orang Melayu, ataupun dewo-dewo jahat mereka yang kebanyakan berasal dari wilayah-wilayah yang identik dengan daerah Orang Melayu seperti rawa dan daerah terbuka lainnya. Namun disisi yang lain mereka juga menggambarkan dewa dan halom dewo mereka seperti dunia Orang Melayu. Hal ini menunjukkan bahwa ada dibalik ketakutan-ketakutan yang disebarkan oleh Orang Melayu ada kebutuhan Orang Rimba untuk selalu berhubungan dengan Orang Melayu. Selain mereka membutuhkan Orang Melayu sebagai pembeli barang-barang yang mereka ambil didalam hutan juga sebagai pengayom dan pelindung mereka.

Dari paparan Andaya diatas, dapat kita lihat bahwa perbedaan sejarah antara masyarakat ulu-ilir tidak saja mencerminkan perbedaan kewilayahan, ulu dengan daerah pegunungannya dan hutannya dengan daerah ilir yang identik dengan daerah

       

4 Orang Rimba melihat dunianya dalam 2 dunia yang bersifat kontras, yaitu Dunia Orang Melayu dan orang Rimba. Keberadaan dan posisi Orang Melayu didukung pula oleh posisi mereka didalam struktur dunia kosmologi Orang Rimba yang membagi alamnya dalam 3 macam tempat, yaitu halom nio (alam dunia sekarang ini tempat mereka berada, yaitu hutan), halom dewo (alam dunia tempat dewa-dewa berada) dan orang kapir (alam dunia tempat orang-orang kafir yang ada didalam tanah). Orang Rimba menerima dunia dewa (halom dewo) sebagai dunia yang senyata-nyatanya ada atau mereka sebutkan sebagai dunia aluy (halus), yang lebih nyata dari pada dunia yang mereka huni saat ini, yaitu halom nio,

dunia yang mereka nyatakan sebagai dunia yang kasar. Mereka melihat dunia saat ini yaitu halom nio

merupakan dunia tiruon atau dunia imitasi dari dunia nyata yang sesungguhnya, yaitu halom dewo

(8)

pesisir, tetapi hal ini berhubungan erat dengan identitas sosial budaya yang melibatkan perbedaan aktivitas ekonomi, pola kehidupan, dan budaya. Perbedaan sejarah ini juga berdampak pada ciri-ciri masing budaya dimana Orang Ulu dengan pertanian dan hasil hutannya, dan Orang Ilir dengan perdagangan dan birokrasi kerajaanya. Dalam bukunya Andaya juga mengungkapkan bahwa Orang Ilir sangat rendah memandang

Orang Ulu. Tidak menjadi sesuatu hal yang aneh ketika itu, orang-orang ilir mengambil paksa para wanita yang telah bersuami dan gadis-gadis Orang Ulu sebagai selir atau budaknya. Dan Orang Ilir juga memperlakukan pajak yang tinggi kepada masyarakat

ulu. Tidak mengherankan kemudian jika orang-orang ulu lebih dekat hubungannya dengan orang-orang Minangkabau. Namun disisi yang lain Orang Ilir sangat membutuhkan Orang Ulu sebagai penyuplai utama komoditi perdagangan yang akan diperjualbelikan ditingkat antar wilayah, bahkan antar negara. Bahkan pemerintah Hindia Belanda pada abad 17 melihat Orang Ulu sebagai “orang yang kaya” dibandingkan orang hilir, sesuai dengan kepentingan Belanda akan kebutuhan wilayah perkebunan. Demikian pula halnya dengan Orang Ulu. Mereka masih membutuhkan

Orang Ilir sebagai orang yang mampu memberikan perlindungan dan pengayoman. Terlebih dengan simbol-simbol kerajaan yang dimilikinya. Selalu ada ketegangan dalam hubungan antar 2 kelompok masyarakat, ulu dan ilir ini. Dan ketegangan ini yang mempengaruhi proses perjalanan sejarah masyarakat Melayu yang ada di Jambi.

Serah Naik Jajah Turun : Dasar Hubungan Orang Rimba dan Orang Melayu Jambi

Interaksi sosial akan mewujudkan dirinya dalam suatu struktur sosial dimana didalamnya terdapat hubungan antar posisi atau status berdasarkan peran dan fungsinya dalam masyarakat. Interaksi sosial antara Orang Rimba dan Orang Melayu terwujud dalam suatu struktur hubungan yang mengatur status sosial masing-masing berdasarkan peran dan fungsinya dimana mengacu kepada konsep serah naik jajah turun. Serah naik jajah turun adalah suatu aturan yang bertumpu pada penguasaan jalur-jalur distribusi ekonomi dan pajak (jajah ) oleh masyarakat ilir kepada masyarakat

ulu pada masa kesultanan Jambi. Dalam struktur hubungan serah naik jajah turun

tersebut, dikenal adanya peran waris dan jenang dimana tugasnya adalah menarik pajak dari masyarakat, termasuk didalamnya Orang Rimba dan mendistribusikannya kepada pihak kesultanan. Keberadaan Orang Rimba di daerah Bukit 12 memang mempunyai posisi berbeda dibandingkan dengan Orang Rimba lainnya yang ada di Jambi. Orang Rimba Bukit 12 oleh pihak Kesultanan Melayu Jambi dianggap sebagai bagian dari masyarakat marga Air Hitam (Tideman, 1938) dimana secara otomatis berlaku pula hukum-hukum dan prinsip-prinsip adat di kesultanan Jambi.

Bentuk pengakuan Orang Melayu terhadap keberadaan Orang Rimba di Air Hitam adalah dengan pengakuan wilayah pengembaraan mereka di Air Hitam dengan

seloka adat yang menyatakan ”Pangkal waris Tanah Garo, Ujung waris tanah Serengam, Air Hitam tanah bejenang”. Dengan adanya seloka adat ini Orang Rimba mengakui bahwa mereka mempunyai waris yang ada di Tanah Garo dan Tanah Serengam, serta Jenang

(9)

Orang Rimba dan ujung waris sebagai daerah perantauan bagi Orang Rimba terutama pada saat mereka melangun ke daerah Sungai Serengam, serta Air Hitam sebagai tempat mereka harus ber-jenang. Selain itu wilayah ini diyakini juga oleh mereka sebagai suatu batas-batas pengembaraan, jelajah, dan melangun mereka. Tana Garo disebelah utara dan barat Bukit 12, Air Hitam disebelah selatan, dan daerah Serengam disebelah timur Bukit 12.

Keberadaan seloka adat ini memberikan legitimasi kekuasaan dan pengesahan terhadap posisi dan status waris-jenang terhadap Orang Rimba. Waris menurut Orang Rimba adalah orang-orang Melayu yang dianggap masih memiliki hubungan keturunan dengan Orang Rimba atau keluarga mereka. Menurut Sandbukt makna waris

ini adalah orang yang mempunyai hal atas sumber daya alam dan tenaga Orang Rimba yang ada dipedalaman (Sandbukt 2000:11). Keberadaan waris ini ditunjuk dan diperlukan oleh pihak kesultanan Melayu Jambi sebagai orang yang bertanggungjawab atas Orang Rimba. Oleh karena itu posisi mereka di kawasan Bukit 12 ada dimuara Sungai Makekal di Tabir dan Muara Sungai Serenggam yang ada di Tembesi (Sandbukt 2000:11).

Berbeda dengan waris, posisi jenang lebih kepada posisi yang diperoleh seseorang atas pengangkatan dan pengakuan oleh raja sehingga sifatnya lebih struktural hirarkis. Namun meskipun demikian posisi jenang ini sekarangpun dipahami oleh masyarakat Jambi sebagai posisi atau status yang didapatkan sejak lahir atau diturunkan secara turun-temurun. Tidak mesti seorang jenang mempunyai hubungan kekerabatan dengan Orang Rimba. Fungsi jenang ini lebih kepada orang yang bertugas untuk mengumpulkan jajah (pajak) dari Orang Rimba kepada kesultanan Jambi. Dalam hal ini jenang mempunyai peran penghubung antara Orang Rimba dan dunia luar, yaitu pihak kesultanan Jambi. Ia dianggap sebagai seseorang yang mewakili kepentingan raja atau sultan. Orang Melayu atau Orang Terang yang akan masuk ke wilayah Orang Rimba harus mendapatkan izin dari waris dan jenang mereka. Orang Rimba yang ada didalam akan menanyakan kepada orang-orang tersebut, apakah mereka telah mendapatkan izin dari waris dan jenang. Apabila orang Melayu atau

Orang Terang tersebut tidak mendapatkan izin dari waris dan jenang maka Orang Rimba mempunyai hak untuk mengusir orang tersebut. Demikian halnya Orang rimba juga harus menuruti perintah waris dan jenang jika mereka mengatakan bahwa orang luar tersebut telah mendapatkan izin dari waris dan jenang. Dan mereka harus membantu orang luar tersebut. Mereka akan kena marah dari waris dan jenang jika mendengar orang luar tersebut tidak mendapatkan perlakuan yang baik dari Orang Rimba.

Peran waris dan jenang begitu dominan dalam masyarakat Rimba. Peran waris

(10)

berkaitan dengan hubungan ekonomi. Dilain sisi bersamaan dengan berakhirnya masa kesultanan Jambi dan penjajahan di Indonesia, peran kesultanan Melayu Jambi sebagai pengumpul pajak dari rakyatnya telah berakhir pula. Namun peran waris dan jenang

sebagai pengumpul pajak Orang Rimba tetap berlangsung. Waris dan jenang tetap mengumpulkan upeti dan pajak yang mana pajak dan upeti itu bukan lagi disetor ke pihak yang lebih tinggi lagi tetapi digunakan untuk mereka sendiri. Demikian Orang Rimba bekerja kepada waris dan jenangnya dengan imbalan yang sangat minim demi alasan bahwa mereka masih diikat oleh adat. Orang Rimba juga sendiri masih memandang waris dan jenang masih sama sesuai dengan perannya sewaktu masa kesultanan Melayu Jambi masih ada yaitu sebagai penghubung dan pengayom mereka ketika ada permasalahan dengan orang luar. Mereka memandang bahwa waris dan

jenang adalah orang-orang yang baik dan selalu ada untuk mereka ketika permasalahan muncul. Waris dan jenang akan menyelesaikan permasalahan dan membujuk mereka untuk kembali sewaktu dilanda kesedihan karena melangun.

Dasar status kedua kelompok etnik ini kemudian menjadi suatu ciri askriptif yang membedakan kedua belah pihak secara frontal. Berkaitan dengan itu, maka dalam pengelompokan antara kedua etnik adalah merupakan suatu proses penggolongan sosial yang memberikan dasar status asal keduanya sehingga hubungan antar etnik diantara keduanya sesuai dengan status asalnya masing-masing, dimana menurut penulis konteks hubungan patron klien5 sangat kuat terindikasi. Hal ini kuat tampak bagaimana pada saat ini misalnya sekarang Orang Rimba memandang setiap Orang Melayu yang berinteraksi dengan mereka adalah orang-orang yang berduit dan mereka sebut sebagai rajo (raja) yang mana dapat diartikan bahwa mereka adalah orang-orang yang mempunyai kuasa dan materi sebagai imbalan atas pelayanan yang mereka berikan. Dalam hal ini bagaimana Orang Rimba merasa bahwa sudah menjadi kewajiban bagi Orang Melayu untuk memberi kepada mereka yang mereka nilai sendiri sebagai orang yang miskin dan rendah. Dan bukanlah suatu yang aneh jika mereka meminta kepada Orang Melayu karena memang itu adalah kewajiban mereka. Tidak mengherankan apabila mereka kemudian bepinta (meminta) kepada Orang Melayu sebagai orang yang dianggap lebih kaya dan lebih pintar daripada mereka.

Dengan status sebagai penghubung antara Orang Rimba dan Orang Melayu dimana hal tersebut juga berarti bagaimana menghubungkan 2 dunia yang berbeda, memang waris dan jenang mempunyai kuasa yang sangat dominan atas akses Orang Rimba terhadap dunia luar. Orang Terang atau Orang Melayu lain yang akan memasuki dunia Orang Rimba harus mendapatkan izin waris dan jenang. Waris dan jenang berhak menentukan seseorang atau sebuah institusi berhak masuk ke dalam hutan yang

       

(11)

menjadi wilayah Orang Rimba di Bukit 12. Kata-kata waris dan jenang merupakan perintah yang tidak terbantahkan oleh Orang Rimba. Hal ini yang sering digunakan oleh orang luar, baik secara personal maupun institusional (perusahaan dan pemerintah) untuk masuk dan melakukan aktivitas didalam hutan yang menjadi wilayah Orang Rimba. Dengan menggunakan legitimasi waris dan jenang, mereka dapat secara leluasa melakukan berbagai kegiatan. Seperti misalnya yang terjadi dalam pengambilalihan wilayah Air Hitam untuk lokasi transmigrasi dan perkebunan di tahun 1980’an. Orang Rimba Air Hitam merasa tidak diberitahu sebelumnya oleh

jenang mereka di yang ada didesa. Mereka merasa jenang telah berbuat lalim terhadap mereka. Mereka hanya tahu tiba-tiba banyak orang-orang luar berdatangan disekitar hutan mereka. Dan secara tiba-tiba pula hutan mereka dalam sekejab hilang dalam hitungan tahun. Namun mereka menyadari bahwa semua itu adalah hak dari jenang

untuk menentukannya. Mereka yakin apapun yang dilakukan oleh jenang adalah untuk kebaikan mereka. Apalagi disaat yang sama mereka juga mendapatkan uang dan gaji dari perusahaan sebagai ganti rugi atas tanaman yang mereka miliki.

Dalam kenyataannya kemudian peran waris dan jenang banyak digantikan oleh peran toke, pemerintah, pihak perusahaan, ataupun pihak NGO yang banyak berinteraksi dengan mereka. Dalam konteks ini sesungguhnya pola hubungan seperti sangat rawan akan kasus eksploitatif orang lura terhadap Orang Rimba. Seperti terjadi bagaimana mereka dapat dengan mudah dimanfaatkan oleh beberapa pihak perusahaan logging untuk menjaga wilayah perusahaan dimana kemudian mereka mengambil hutan dan wilayah Orang Rimba. Demikian pula dengan peran toke-toke rotan atau karet yang banyak bertebaran di Jambi. Dengan iming-iming dana dan supply bahan logistic, mereka kemudian dianggap sebagai jenang Orang Rimba.

Penutup

Hubungan antara Orang Kubu dan orang Melayu sesungguhnya diatur oleh suatu tatanan struktur yang didasarkan atas hubungan ekonomi antara keduanya. Hubungan itu didasarkan atas aturan serah naik jajah turun dimana tujuan utamanya adalah menjamin kelancaran alur distribusi pajak (jajah ) dari Orang Kubu kepada pihak kesultanan Jambi. Waris dan jenang diangkat oleh pihak kesultanan yang berfungsi sebagai penarik jajah sekaligus sebagai orang yang mengurusi mereka. Waris

dan jenang inilah yang kemudian juga berfungsi sebagai penghubung antara Orang Kubu dengan dunia luar. Pola hubungan antara Orang Melayu dan Orang Kubu terbangun dari suatu latar belakang hubungan antara masyarakar ulu dan ilir yang ada di Jambi pada masa kesultanan Jambi yang sifatnya struktural hirarkis. Masyarakat ulu

(12)

kehidupan masyarakat ulu ini karena mereka membutuhkan supply bahan-bahan komoditi jual sumber daya alam (jernang, getah balam, dan lain-lain) ke pasar internasional di Selat Malaka. Upaya ini dilakukan dengan cara tindakan fisik seperti penguasaan lahan, perbudakan, penculikan anak gadis, dan penghancuran desa, juga dilakukan dengan cara membangun suatu tatanan struktur yang sedemikian rupa mengikat masyarakat ulu kepada masyarakat ilir. Konsep pajak “serah naik jajah turun” dan pembagian masyarakat menjadi dalam kalbu-kalbu berdasarkan kedekatan dan pekerjaannya kepada kesultanan, serta peran waris dan jenang yang dominan adalah bukti dari upaya masyarakat ilir dengan dukungan Kesultanan Melayu Jambi untuk menguasai masyarakat ilir.

Dalam konteks kasus hubungan antara Orang Kubu dan Orang Melayu di Air Hitam, penguasaan masyarakat ilir kepada masyarakat ulu seperti diceritakan diatas menjadi latar belakang sejarah hubungan antara Orang Melayu dan Orang Kubu yang mendalam. Hubungan pelayanan dan kebutuhan atas dasar ekonomi tersebut kemudian berlaku mantap secara perlahan sehingga menimbulkan suatu pemahaman atas status masing-masing sukubangsa secara baku dan mendalam. Bahkan bisa dikatakan bahwa struktur hubungan yang tidak seimbang tersebut menurut hemat penulis mempengaruhi jika tidak boleh dikatakan memproduksi suatu tataran struktur kosmologi tersendiri bagi Orang Kubu. Memang, hubungan tersebut diterima oleh kedua belah pihak meskipun pada kenyataannya bukanlah suatu hubungan yang benar-benar saling menguntungkan bagi Orang Kubu. Status Orang Kubu sebagai sumber tenaga dan penyedia sumber hutan bagi Orang Melayu dan status Orang Melayu sebagai penguasa, adalah suatu hubungan antar status yang lebih menguntungkan Orang Melayu. Dengan didukung oleh tatanan struktur yang dominan Orang Melayu mempunyai kuasa untuk menekan kehidupan Orang Kubu sedemikian rupa dalamnya sehingga menimbulkan interpretasi Orang Kubu terhadap Melayu yang berisi ketakutan namun juga sekaligus kekaguman mereka.

Hubungan ini bisa kita sebut sebagai hubungan yang bersifat patron klien antara Orang Melayu dan Orang Rimba dapat kita pahami sebagai suatu hubungan antar-etnik yang terwujud secara setempat atau lokal. Hal tersebut dapat terjadi karena didalam masyarakat setempat terwujud suatu struktur sosial yang mencerminkan hubungan antar kekuatan sosial dan berisikan pedoman-pedoman dalam bertindak bagi masyarakat setempat tersebut. Hubungan kedua kelompok etnik ini, yang awalnya dibangun atas dasar hubungan ekonomi dan menitiberatkan pada hubungan pelayanan kebutuhan bersama kemudian berkembang menjadi pola hubungan yang tidak seimbang dan bersifat saling memanfaatkan. Kemudian hubungan patron-klien antara Orang Melayu dan Orang rimba tersebut bersifat begitu mendalam sehingga mampu memberikan dasar tatanan nilai dan aturan acuan bagi masing-masing kedua kelompok etnik.

(13)

Respon-respon tersebut tercermin dalam tataran nilai dan perilaku budaya mereka. Salah satu respon mereka yang menjadi perhatian utama penulis adalah proses pengaktifan identitas etnik yang dimiliki oleh mereka dalam konteks hubungan antar-etnik yang ada di tingkat lokal setempat dan tingkat umum. Pengaktifan identitas antar-etnik seperti ini adalah suatu upaya yang menurut penulis lazim untuk dilakukan jika suatu kelompok etnik merasa terancam atau terdesak oleh kelompok etnik yang lain. Dengan mengacu kepada pilihan respon yang berbeda seperti dijelaskan diatas, maka wujud dan corak identitas etnik yang dimunculkan oleh Orang Rimba akan selalu menyesuaikan dengan konteks hubungan sosialnya dengan kelompok etnik lain.

References

Andaya, Barbara Warson, To Live As Brothers, Southeast Sumatra in The 17’th and 18’th Centuries, University of Hawaii Press, Honolulu, 1993.

Barth, Fredrik, “Pendahuluan” dalam Kelompok Suku bangsa dan Batasannya, UI-Press, 1980, terjemahan dari Ethnic Groups and Boundaries, Little, Brown, and Company, 1969.

Dongen,Van, Orang Kubu di Onderafdeling Palembang . Naskah alih bahasa oleh Museum Negeri Jambi dari judul asli “De Koeboes in de Onderafdeeling Koeboestreken der Residentie Palembang”.Bijdragen tot de Taal,-Land-en Volkenkunde van Nederlandsch-Indie (Tidak diterbitkan)(1910)

Jenkins, Robert, Rethinking Ethnicity, Sage Publications, London, 1997.

Muntholib, Orang Rimbo: Kajian Struktural-Fungsional, Masyarakat Terasing di Makekal, Propinsi Jambi, Disertasi S-3 Unpad, Bandung, 1995.

Sandbukt, Oyvind. dan Warsi, Orang Rimba: “Penilaian Kebutuhan Bagi pembangunan dan Keselamatan Sumberdaya”, Laporan untuk Bank Dunia, disampaikan pada Lokakarya JRDP, Jambi,17-30 Oktober 1998.

Sandbukt, Oyvind., “Tributary tradition and Relation of affinity and gender among the Sumatran Kubu” dalam Hunter and Gatherers, Volume 1. History, Evolution and Social Change, St. Martin’s Press, New York, 1991.

Sandbukt, Oyvind.,”Kubu Conception of Reality” dalam Asian Foklore Studies, Kenkyusha Printing Tokyo, 1984.

Sandbukt, Oyvind.,The Orang Kubu of Sumatra, Deforestration and the People of The Forest: The Orang Rimba or Kubu of Sumatra, dalam Indigenous Affairs No. 2/2000.

Scott, James, Perlawanan Kaum Tani, (terjemahan) Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1993.

Suparlan, Parsudi, “Kata Pengantar” dalam Ghee & Gomes (ed.) Suku Asli dan Pembangunan di Asia Tenggara. Jakarta:Yayasan Obor Indonesia,1993.

(14)

Tideman, Jambi. Naskah alih bahasa oleh Museum Nasional dari Djambi Bewerkt Door I – Amsterdam: Kon Verenigeng Kolonial Instituut, 1938. (Tidak diterbitkan) Winter, Warga Negara ratu Kita Juga (Kunjungan Pada Suku Kubu Jinak). Naskah alih

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : Bisa Naik Bisa Turun