• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Sistem Moneter dan Finansial Be

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengaruh Sistem Moneter dan Finansial Be"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Pengaruh Sistem Moneter & Finansial Bentukan Pasca PD II Terhadap World Governance Dalam Era Pasca Krisis Global

Abstrak

Ketakutan akan terulangnya kekacauan seperti pada tahun 1930-an mendorong para ekonom yang terkumpul dalam konferensi Bretton Woods berusaha menghindarinya dengan menciptakan suatu sistem internasional yang dapat memberikan dana talangan. Kekacauan tahun 1930-an terjadi kompetisi yang secara mudah digambarkan pada saat itu, tiap negara yang saat itu sedang mengalami ketegangan ekonomi juga politik sehingga tidak mau membantu negara lain yang sedang susah namun justru mengambil keuntungan dari situasi tersebut. Keadaan itu membuat perekonomian tidak bisa berjalan karena akhirnya tidak terdapat daya beli lagi. Saat itu tidak terdapat koordinasi yang seharusnya memberikan keuntungan bagi semua pihak supaya kegiatan perekonomian tetap bisa berputar1. Karenanya kemudian rezim Bretton Woods menciptakan suatu

institusi (IMF dan World Bank) yang diharapkan memberikan dana talangan yang dapat digunakan oleh negara yang kemungkinan akan mengalami kesulitan moneter dan finansial karena beberapa sebab seperti perang, kesulitan ekonomi atau hal-hal yang diperkirakan akan menghalangi kegiatan perekonomian internasional dan menghitung nilai mata uang yang memperlakukan sistem nilai mengambang yang berdasar pada mekanisme pasar. Intitusi ini dibangun dengan harapan keadaan seperti tahun 1930 tersebut tidak terulang lagi. Tulisan ini berisikan tentang bagaimana sistem yang diciptakan oleh institusi tersebut kemudian memberikan pengaruh terhadap pemerintahan dunia dalam era krisis global di kemudian hari.

Tulisan ini akan terbagi dalam tiga bagian sub-bab yang masing-masing berisikan penjelasan dan analisa yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Penjelasan pertama berkaitan dengan sistem moneter dan finansial sebagai dasar untuk mengetahui definisi dari sistem tersebut. Penjelasan tersebut menjadi dasar yang penting untuk mengerti dinamika juga pengaruh kedua sistem dalam perekonomian internasional. Penjelasan berikut mengenai latar belakang institusi bentukan rezim Bretton Woods. Dua institusi yaitu IMF dan World Bank yang memang diciptakan dari hasil konferensi Bretton Woods untuk menjalankan

1 David N. Balaam dan Micahel Veseth, “International to International Political Economy”, Pearson Prentice Hall,

(2)

sistem moneter dan finansial bagi ekonomi internasional. Terakhir adalah penjelasan mengenai bagaimana sistem tersebut sesudah diadaptasi oleh global financial structure yang kemudian memberikan pengaruh pada saat terjadi krisis global. Semua analisa dan kutipan yang terdapat dalam tulisan ini sesuai dengan kaidah-kaidah dalam teknik penulisan akademis.

Sistem Moneter dan Sistem Finansial

Sebelum mengetahui tentang bagaimana pengaruh dari sistem moneter dan finansial internasional adalah hal yang sehari-harinya dibahas dalam International Political Economy

penting juga untuk mengetahui definisi dari keduanya. Hal yang harus dimengerti dari sistem moneter internasional adalah mengenai balance of payment yang berisikan tentang surplus, defisit atau equilibrium pembayaran yang dilakukan oleh antar negara2. Balance of payment

berkaitan dengan nilai tukar asing untuk mengetahui nilai dari hasil pembayaran yang dilakukan apakah surplus, defisit atau equilibrium3. Balance of payment tersebut juga

digunakan untuk mengetahui status sebuah negara apakah kaya, miskin atau lemah. Sistem moneter berkaitan dengan kegiatan yang menggunakan uang sebagai alat tukar yang riil dan nilai tukar mata uang asing. Hal mudah untuk melihat sistem moneter yang sudah berjalan, misalnya mata uang rupiah yang dijadikan alat pembayaran atau nilai rupiah atas nilai dollar sebagai perhitungan nilai tukar mata uang asing. Sistem ini berbeda dengan cara tukar nilai mata uang pada masa sebelumnya yang mengaitkan nilai mata uang dengan emas seperti yang terjadi seperti pada antara tahun 1880 hingga 1900-an4. Namun, sejak Perang Dunia I

hingga menjelang PD II, nilai mata uang negara-negara tidak hanya berdasarkan pada emas melainkan hanya dikaitkan saja5.

Sementara itu, sistem finansial memiliki pengertian yang berbeda. Sistem finansial merupakan sistem yang sangat penting dalam IPE dan biasanya tercampur dengan sistem

2 Surplus berarti uang yang berada didalam lebih banyak dari pada yang di keluar, defisit berarti uang yangdi luar lebih

banyak daripada yang didalam, sementara equilibrum berarti uang yang berada di dalam sama dengan yang ada di luar. David N. Balaam dan Micahel Veseth, “International to International Political Economy”, Pearson Prentice Hall, USA, 2005, hal. 146.

3 Ibid., Balaam, hal. 145

4 Raymond F. Mikesell, The Bretton Woods Debates: A Memoire, “Essays in International Finance”, No. 192, March, 1994,

hal. 11

5 Michael D. Bordo, The Bretton Woods International Monetary System: An Historical Overview, “NBER Working Paper

(3)

moneter. Jika sistem ini berjalan dengan efektif maka keuntungan yang banyak dapat dihasilkan, namun jika tidak efektif, maka sistem tersebut mungkin saja menjadi ancaman terhadap stabilitas ekonomi dan politik6. Para ahli biasanya menghubungkan pentingnya

keteraturan finansial juga moneter dengan situasi kekacauan kedua sistem tersebut pada tahun 1930 saat terjadi depresi ekonomi, proteksi ekonomi dan penurunan nilai uang yang mengantar pada Perang Dunia II7. Sistem finansial tidak melibatkan uang riil seperti dalam

sistem moneter namun lebih sering dikaitkan dengan modal, saham dan investasi.

IMF dan World Bank: Institusi Bentukan Rezim Bretton Woods

Mengacu pada kekacauan ekonomi, para ekonom dari Bretton Woods kemudian menciptakan insitusi yang disebut dengan IMF dan World Bank dengan tujuan mengstabilkan kedua sistem tersebut agar dapat berjalan dengan baik. Konferensi tersebut berusaha menemukan formula untuk membuat sistem nilai tukar atau currency yang dikaitkan dengan nilai emas yang digabungkan dengan sistem nilai mengambang yang berjalan sesuai dengan mekanisme pasar. Keadaan ini seringkali disebut oleh para ahli sebagai Rezim Bretton Woods8.

Sistem moneter dan sistem finansial tersebut dibentuk berdasarkan kebutuhan terhadap keteraturan yang bertujuan untuk mengstabilkan keadaan ekonomi yang berantakan sesudah Perang Dunia II. Ide untuk membuat sistem yang demikian datang dari Henry Morgenthau seorang US Secretary of Treasury dan seorang lainnya yang disebut White, yang memiliki rencana tentang pengaturan moneter dan finansial sebagai bentuk recovery sistem keuangan sesudah perang yang bertujuan mengstabilkan situasi moneter dan finansial. Pada saat itu, kedamaian dihubungkan dengan kemakmuran dunia dan kemakmuran dunia dihubungkan dengan perdagangan bebas, kebebasan perpindahan modal dan nilai tukar mata uang yang stabil9.

6 Ibid., hal. 166-167

7 Milton Friedman, Anna J. Schwartz, “A Monetary History of The United States: 1867 to 1960”, Princeton University Press,

Priceton, 1963, hal. 12-15

8 Op. Cit., Bordo, hal. 4-6

(4)

Ide Morgenthau tentang menstabilkan nilai mata uang atau international currency direspon oleh White dengan ide tentang International Stabilization Fund (ISF) dan (World) Bank. Keduanya adalah pengaturan yang diharapkan dapat jadi jalan keluar bagi permasalahan moneter dan finansial sesudah dunia mengalami perang internasional. Pada saat yang sama Keynes juga memulai rencananya membuat International Clearing Union. Perencanaan finansial internasional sesudah periode perang dilakukan awal tahun 1942. Kedua ide tersebut dituangkan dalam konferensi Bretton Woods, konferensi yang dibentuk oleh para ekonom dari Amerika Serikat, Inggris, Canada dan Perancis di Bretton Woods, New Hampshire pada bulan Juli 1944. Kedua ide yang berkaitan dengan sistem moneter dan finansial tersebut adalah pendorong terbentuknya institusi IMF dan World Bank, yang mengundang banyak kontroversi1011.

IMF sendiri pada saat itu memiliki tugas utama untuk memproteksi sistem moneter internasional dari konflik yang mungkin terjadi dalam hubungan ekonomi antar negara-negara. Tujuan dari pembentukan tersebut adalah untuk menghindari apa yang disebut dengan competitive devaluations yaitu suatu situasi dimana semua negara -yang memang adalah sifat alamiahnya- mengambil keuntungan dari negara kompetitor mereka yang mengalami kekalahan dalam perdagangan dari pada berusaha melakukan koordinasi agar semua pihak mendapat keuntungan. Pada akhirnya, jika hal tersebut benar-benar diteruskan, maka semua akan mengalami kejatuhan bersama dan tidak ada seorangpun yang bisa mendapatkan keuntungan. Hal ini yang mulanya menjadi tugas IMF dan juga World Bank12. Nilai tukar asing ditetapkan untuk menjaga balance of payment dan mencegah competitive devaluation.

Sistem yang diciptakan membuat agar negara yang bergabung dengan IMF berarti menyetujui juga peraturan-peraturan tentang nilai tukar asing dan juga memberikan pinjaman pada negara anggota ketika terjadi permasalahan ekonomi dalam negeri. IMF juga berusaha menyelesaikan masalah ekonomi melalui kebijakan domestik ketimbang kebijakan internasional yang bersifat destructive. Hal yang didorong oleh Bretton Woods adalah usaha negara untuk menggunakan sistem nilai tukar asing yang tetap, dimana tiap negara harus

10 Ibid., hal 8-14

11 John M. Keynes, Proposals For An International Clearing Union, “The International Monetary Fund: 1945-1965”,

Vol. III: Documents. Ed. Kieth Horsefield, Washington D.C., hal 19-36

(5)

membuat nilai tukar asing mereka setara dengan titik nilai tertentu. Sejak tahun 1970-an nilai tukar asing ini kemudian ditentukan oleh pasar dan bukan oleh pemerintah. Jadi kebijakan IMF pada saat ini adalah untuk mengurus pembayaran hutang ketimbang nilai mata uang. Sistem Bretton Woods menghitung nilai mata uang memperlakukan sistem nilai mengambang yang berdasar pada mekanisme pasar dengan perhitungan 1 ounce emas = 35USD. Bretton Woods sendiri kemudian berakhir pada masa Richard Nixon, tahun 19711314.

Global Structure dan Pengaruhnya

Jika bentuk dunia sebelum masa Perang Dunia II lebih bersifat geo-politik maka sesudah Perang Dunia bentuknya lebih geo-ekonomi. Suatu bentuk globalisasi yang dibarengi dengan interdependensi antar negara-negara telah terbentuk secara sistemik dan membuat keadaan yang saling tarkait satu dengan yang lain. Salah satu tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya perang seperti Perang Dunia II. Dalam situasi dengan dorongan globalisasi yang tinggi tersebut krisis sangat mudah terjadi karena globalisasi membuat meluasnya tingkat keterbukaan suatu negara sehingga tinggi juga devisa negara yang dibutuhkan. Baik pasar moneter dan pasar finansial, kesemuanya menunjukkan hasil wujud nyata sebagai produk globalisasi yang penggunaan sistem-sistem tersebut sebagai cara bertransaksinya15.

Sesudah melewati masa 1970-an, dunia memiliki global structure yaitu suatu keadaan internasional yang dalam definisinya memiliki 4 elemen konstitutif yaitu: sistem pengaturan, level dari aktifitas manusia, pengejaran terhadap tujuan dan transnational reaction16. Sistem

struktur internasional ini menciptakan keadaan interdependensi dalam sistem politik internasional karena kemudian tercipta juga institusi pembentuk regulasi.

Dengan sistem keuangan sudah berubah menjadi struktur global dimana negara bangsa tidak memainkan peranan yang terutama maka struktur yang tercipta adalah perekonomian yang berjalan sesuai dengan dorongan globalisasi. Sistem finansial internasional menjadi

13 Michael D. Bordo, “The Bretton Woods International Monetary System: An Historical Overview”, National Bureau

of Economic Research, Working Paper No. 4033, Cambricge, MA. 1991. Hal. 3

14 Op.Cit. Balaam, Introduction To International hal. 160-161

15 Joseph S. Nye, Jr., Understanding International Conflicts: An Introduction to Theory and History, 5th ed.,

Longaman, US, 2005, hal. 192

16 Klaus Dingwerth dan Philipp Pattberg, Global Governance as a Perspective on World Politics, Global

(6)

bentuk transaksi utama yang dilakukan oleh berbagai negara, bukan diatur oleh negara, tidak terbatas oleh batasan nasional, dilakukan dalam 24 jam per hari17. Suatu sistem yang

penulis anggap adalah suatu kesalahan karena akan membuat negara bangsa menjadi terikat dalam keadaan yang saling ketergantungan. Peranan negara harus ditingkatkan agar pemerintah bisa membuat regulasi sebagai pemutus ketika misalnya krisis melanda seperti yang terjadi saat krisis Asia. Penjelasan mengenai hal ini akan dituliskan dalam paragraf berikut.

Dalam masa sekarang ini, jika sistem moneter adalah kegiatan ekonomi dengan uang sebagai wujud riil alat transaksinya, global financial structure juga dengan aktif menggunakan sistem finansial dalam transaksinya. Karena sistem finansial bukan menggunakan uang sebagai alat transaksinya, melainkan surat berharga, saham, real estate, pasar modal, nilai tukar asing atau foreign exchange, maka sistem ini cenderung memiliki sifat ekonomi yang tidak stabil atau disebut dengan economic bubble dimana harga dapat saja menjadi mengglembung karena pengaruh dari faktor psikologis18. Dalam kegiatan sistem finansial semua aktor dalam

kegiatan ekonomi tersebut dianggap sebagai aktor yang rasional karena dianggap akan berjalan sesuai dengan kepentingannya saja. Karenannya, rasionalitas tersebut mengakibatkan pergerakan ekonomi mudah ditebak. Pada saat pergerakan tersebut mudah ditebak maka aktor akan cenderung untuk mengarahkannya dengan misalnya membuat isu-isu yang akan memberikan keuntungan bagi dirinya.

Pasar finansial yang demikian cenderung vulnerable terhadap krisis. Seperti krisis finansial Asia yang terjadi pada tahun 1997 juga merupakan salah satu akibat dari pasar sistem finansial tersebut. Ketika Bank Thai dinyatakan memiliki banyak pinjaman yang tidak mungkin terbayar dan membuat para investor akhirnya menarik uang mereka dari Thailand. Pada saat itu, investor menukarkan uang mereka dari baht ke dollar sehingga kemudian terjadi kelangkaan dollar. Pada saat terjadi kelangkaan, seperti dalam prinsip ekonomi, jika

supply lebih sedikit daripada demand maka harga akan menjadi naik19.

Dengan semua kejadian tersebut, sistem finansial meskipun memberikan banyak keuntungan namun sebenarnya pasar tetap tidak dapat dilepaskan dari sistem moneter. Jika

17 Op. Cit., Balaam, Introduction To International…, hal. 179-181.

18 Op. Cit., Balaam, Introduction To International…, hal. 185.

(7)

sistem moneter memberikan pendapatan dari kegiatan ekonomi dengan basis produksi dengan alat tukar yang riil, sistem finansial lebih berjalan dalam kegiatan transaksi internasional yang cenderung tidak stabil dan bersifat anarkis. Globalisasi yang juga menyentuh bidang keuangan pada akhirnya juga menciptakan krisis karena dunia menjalankan global financial structure yang sudah dibentuk. Regulasi finansial harus dijalankan dengan supervisi dari satu institusi yang bisa memberikan pengawasan bagi semuanya agar bisa menjadi pihak yang mengatur karena, uang tidak akan bisa mengatur dirinya sendiri.

Pada akhirnya, permasalahan terbesar bukan terdapat dalam sistem moneter, melainkan pada sistem finansial yang memang menghubungkan internasional. Sistem finansial menggunakan nilai tukar asing yang bisa berubah setiap saat dan mungkin saja mengakibatkan krisis ketika salah satu negara anggotanya mengalami krisis dalam sistem yang interdependence. Sistem yang diciptakan oleh Bretton Woods yaitu sistem yang membuat adanya nilai tukar asing yang melambung dan berjalan sesuai dengan mekanisme pasar, yang kemudian diawasi oleh IMF dapat dikatakan belum berhasil. Sebab IMF kemudian tidak menjalankan perannya sebagai pengawas, melainkan hanya peranan institusi yang memberikan dana pinjaman bagi negara yang mengalami masalah dana saja.

(8)

Daftar Pustaka

David N. Balaam dan Micahel Veseth. “International to International Political Economy”. Pearson Prentice Hall, USA. 2005

John M. Keynes. Proposals For An International Clearing Union, “The International Monetary Fund: 1945-1965”, Vol. III: Documents. Ed. Kieth Horsefield, Washington D.C. 1971 Joseph S. Nye, Jr. Understanding International Conflicts: An Introduction to Theory and

History, 5th ed., Longaman, US. 2005

Klaus Dingwerth dan Philipp Pattberg. Global Governance as a Perspective on World Politics, Global Governance 12. 2006

Michael D. Bordo. The Bretton Woods International Monetary System: An Historical Overview, “NBER Working Paper Series”, No. 4033, Maret. 1991

Milton Friedman, Anna J. Schwartz. “A Monetary History of The United States: 1867 to 1960”, Princeton University Press, Priceton, 1963, hal. 12-15

Referensi

Dokumen terkait

Dan dari hasil sensitivitas yang dilakukan terhadap 8 kemungkinan perubahan produksi pada tingkat diskonto 15 persen, memperlihatkan bahwa industri pengolahan nanas secara

Penelitian ini akan menganalisis pengaruh instrumen moneter konvensional dan syariah terhadap penyaluran dana pada sektor pertanian dengan menggunakan teori mekanisme

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis apakah terdapat pengaruh kompensasi yang terdiri dari kompensasi finansial dan kompensasi non finansial terhadap kinerja karyawan

Penelitian ini akan menganalisis pengaruh instrumen moneter konvensional dan syariah terhadap penyaluran dana pada sektor pertanian dengan menggunakan teori mekanisme

Sebagai produk pelengkap kepada nasabah yang telah terbukti loyal, yang membutuhkan dana talangan segera untuk jangka pendek, memungkinkan membantu anggota dalam

Penelitian ini akan menganalisis pengaruh instrumen moneter konvensional dan syariah terhadap penyaluran dana pada sektor pertanian dengan menggunakan teori mekanisme

Hasil tersebut mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Purwaningsih dan Noermijati 2016 dengan judul Pengaruh Kompensasi Finansial dan Non Finansial Terhadap Kepuasan Kerja

Kompensasi Non Finansial X2 Yang dimaksud dengan kompensasi non finansial yang diteliti dalam penelitian ini mengacu pada Simamora 2006 adalah kompensasi yang tidak berbentuk/bernilai