• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Pengerahan Kerja pada Jenis Kepem

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Konsep Pengerahan Kerja pada Jenis Kepem"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

KONSEP PENGERAHAN KERJA PADA JENIS

KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL DAN

TRANSFORMASIONAL

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Sumberdaya Manusia dan Kepemimpinan Pendidikan

Dosen Pengampu: Drs. Misbah Ulmunir, M.Si.

Oleh Kelompok 4: Hairul Anwar – 13490001 – 01 Ahmad Fathur Rosyadi – 13490029 – 08

A. Ziyad Zubaidi – 13490054 – 13 Moh. Masum Yusron – 13490074 – 15

Naskah diserahkan tanggal: didiskusikan tanggal:

MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Manajemen Sumberdaya Manusia dan Kepemimpinan Pendidikan.

Setiap organisasi pasti memerlukan pemimpin yang dapat mengarahkan bawahannya untuk mencapai tujuan. Pemimpin merupakan orang yang memiliki kewenangan untuk memberi tugas, mempunyai kemampuan untuk membujuk atau mempengaruhi orang lain (bawahan) melalui pola hubungan yang baik guna mencapai tujuan yang telah ditentukan. Jika diumpamakan sebuah kapal, maka pemimpin adalah nahkoda

Sekumpulan manusia yang ada di dalam organisasi merupakan sumber daya penggerak organisasi ke arah yang diinginkan pemimpin tersebut. Pemimpin memiliki peranan yang sangat vital bagi sebuah organisasi. Diperlukan

kepemimpinan efektif dan efisien untuk dapat membuat organisasi menjadi lebih maju dan dapat tercapai tujuan-tujuannya.

Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kami dalam penulisan makalah ini. Ucapan terima kasih khususnya kami ucapkan kepada Bapak Drs. Misbah Ulmunir, M.Si., selaku dosen pembimbing mata kuliah Manajemen Sumberdaya Manusia dan Kepemimpinan Pendidikan.

Kami sangat mengharap kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi kesempurnaan makalah ini. Dengan adanya masukan dan kritik dari dosen dan teman-teman, makalah ini menjadi lebih lengkap dan lebih layak sebagai sumber pengetahuan.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita, khususnya kami, penulis, untuk lebih mengenal dunia manajemen.

Yogyakarta, 7 Nopember 2014

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB I: PENDAHULUAN A. Latar belakang ... 1

B. Rumusan masalah ... 1

C. Tujuan penulisan ... 2

BAB II: PEMBAHASAN A. Fungsi Pengerahan Kerja (Actuating) dalam Manajemen ... 3

B. Pengertian Kepemimpinan ... 3

C. Konsep Actuating pada Jenis Kepemimpinan Transaksional ... 6

D. Konsep Actuating pada Jenis Kepemimpinan Transformasional ... 9

BAB III: PENUTUP Kesimpulan ... 13

(4)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia adalah makhluk sosial, artinya manusia tidak dapat hidup sendiri untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Perlu adanya manusia lain untuk membantu dalam mencapai atau memperoleh kebutuhannya. Setiap manusia mempunyai tujuan hidup yang berbeda-beda, namun ada beberapa manusia yang tujuan hidupnya sama dengan yang lain. Untuk mempermudah dalam pencapaian tujuan-tujuan tersebut, maka manusia yang memiliki tujuan yang sama tersebut membentuk sebuah organisasi. Keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuan, memerlukan peranan pemimpin.

Dalam dunia manajemen, pemimpin adalah simbol dari organisasi karena ia lah orang yang paling bertanggung jawab atas segala kebijakan dan yang terjadi di organisasi. Ia juga merupakan sosok yang mendorong bawahannya bekerja agar tujuan dari organisasi tercapai.

Dewasa ini, banyak pemimpin yang mempekerjakan bawahan sebatas bagaimana agar bawahan itu mau menyelesaikan tugasnya, bukan

mengembangkan rasa percaya diri dan bahkan menumbuhkan kecintaan pada diri bawahan agar ia merasa memiliki organisasinya sehingga mampu mencapai hasil melebihi target.

Kepemimpinan model ini kelihatannya aktif, tapi sebenarnya hanya berputar dalam lingkaran dan tidak banyak berkembang.

B. Rumusan Masalah

1. Apa dan bagaimana fungsi pengerahan kerja (actuating) dalam manajemen? 2. Apa yang dimaksud kepemimpinan?

(5)

4. Bagaimana konsep actuating pada jenis kepemimpinan transformasional?

C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui apa dan bagaimana fungsi actuating dalam manajemen 2. Mengetahui apa yang dimaksud dengan kepemimpinan

(6)

BAB II PEMBAHASAN

A. Fungsi Pengerahan Kerja (Actuating) dalam Manajemen

Fungsi manajemen adalah perencanaan, pengorganisasian, pengerahan kerja, dan pengawasan atau pengendalian (G.R. Terry). Pengerahan kerja yang merupakan kelanjutan dari pengorganisasian adalah suatu tindakan dari manajer untuk menjalankan organisasi. Teknis tindakan tersebut tidak dilakukan sendiri oleh manajer, namun ia harus bekerja melalui orang lain. Manajer hanya berfungsi sebagai pengelola. Oleh karenanya, ia harus mampu mempengaruhi orang lain agar mereka mematuhi perintahnya sehingga tujuan organisasi tercapai.

Keberhasilan manajer dalam mengelola orang lain didasarkan pada kemampuannya untuk memotivasi (motivasi: penyebab, penyalur, penjaga perilaku) mereka. Motivasi dapat dilakukan dengan berkomunikasi dengan bawahan. Manajer melihat atau menganalisis apa yang menjadi kebutuhan bawahan. Sehingga ketika kebutuhan mereka tercapai, maka mereka akan mudah untuk mengerahkan karena terjadi proses timbal balik yang saling

menguntungkan.

B. Pengertian Kepemimpinan

Kepemimpinan atau ladership termasuk kelompok ilmu terapan atau applied sciences dari ilmu-ilmu sosial, sebab prinsip-prinsip dan rumusan-rumusannya bermanfaat dalam meningkatkan kesejahteraan manusia.

(7)

Berdasarkan penjelasan tentang definisi kepemimpinan tersebut dapatlah ditarik beberapa simpulan, yaitu bahwa:

1. Kepemimpinan meliputi penggunaan pengaruh dan bahwa semua hubungan dapat melibatkan pimpinan.

2. Kepemimpinan mencangkup pentingnya peroses komunikasi. Kejelasan dan keakuratan dari komunikasi mempengaruhi perilaku dan kinerja pengikutnya. 3. Kepemimpinan memfokuskan pada tujuan yang dicapai. Pimpinan yang

efektif harus berhubungan dengan tujuan-tujuan individu, kelompok, dan organisasi1.

Kepemimpinan dalam Praktik

Kepemimpinan adalah sikap dan perilaku untuk mempengaruhi para bawahan agar mereka mampu bekerja sama, sehingga membentuk jalinan kerja sama yang harmonis dengan perimbangan aspek efisiensi dan efektivitas untuk mencapai angka produktivitas kerja sesuai dengan yang telah ditetapkan2.

Sehingga seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimimpinannya harus secara efektif dan efisien.

Pemimpin dikatakan efektif apabila bawahan merespon karena ingin melakukan tugas dan menemukan kompensasinya, lalu bawahan menghormati, patuh, dan taat kepada pemimpin, dan dengan senang hati bekerja sama

dengannya. Selain itu, pemimpin juga dapat memberi motivasi agar para

bawahannya bekerja dengan seluruh kemampuan dan potensi yang mereka punya untuk suatu organisasi/kelompok yang ia pimpin, sehingga tercipta suasana dan budaya kerja yang positif.

Rahasia dalam kepemimpinan efektif adalah kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan dari kekuasaanya saja, bukan juga dari kecerdasannya, namun dari kekuatan dalam dirinya/personality. Seorang pemimpin yang efektif selalu berusaha memperbaiki dirinya sendiri sebelum memperbaiki orang lain.

1 Suwatno dan Donni Juni Priansa, Manajemen Sumber Daya Manusia dalam Organisasi Publik dan Bisnis, (Bandung: Alfabeta, 2011), hlm. 140-141

(8)

Sedangkan hal terpenting dalam keefektivan pemimpin adalah bahwa pemimpin yang efektif memiliki ciri “action oriented” (lebih banyak bertindak daripada berpikir).

Dalam kepemimpinan, ada berbagai macam teori, yang secara garis besar terbagi menjadi teori klasik dan teori kontemporer. Teori klasik tentang

kepemimpinan adalah teori bakat atau hereditas, teori perilaku, dan teori situasi. Teori-teori tersebut berusaha menjelaskan bagaimana seseorang menjadi

pemimpin dan apa yang menjadi prioritas mereka dalam mengerjakan tugas kepemimpinannya. Model kepemimpinan ini cenderung bersifat transaksional karena hanya didasarkan pada tugas dan hubungan kerja bawahan yang memiliki timbal balik dengan kebutuhan dasar mereka, bukan tentang bagaimana seorang pemimpin mengembangkan bawahan agar ia termotivasi untuk

mengaktualisasikan dirinya (Mamduh M Hanafi: 2003).

Kepemimpinan ini berfokus pada transaksi antar pribadi, antara manajemen dan karyawan, dua karakteristik yang melandasi kepemimpinan transaksional, yaitu:

1. Para pemimpin menggunakan penghargaan kontigensi untuk memotivasi para karyawan

2. Para pemimpin melaksanakan tindakan korektif hanya ketika para bawahan gagal mencapai tujuan kinerja

Sedangkan di antara teori kontemporer adalah kepemimpinan

(9)

Kepemimpinan kontemporer lainnya adalah kepemimpinan kharismatik, kepemimpinan visioner, dan kepemimpinan tim. Kepemimpinan kharismatik memiliki daya tarik yang sangat kuat karena pemimpin adalah orang yang menginspirasi yang membuat bawahan bekerja melampaui panggilan tugas. Kepemimpinan visioner mampu mengartikulasikan suatu visi yang realistis dan atraktif dengan masa depan bagi suatu organisasi atau unit organisasi yang terus tumbuh dan meningkat. Sedangkan kepemimpinan tim mengharuskan pemimpin efektif harus mempelajari keterampilan seperti kesabaran untuk membagi

informasi, percaya kepada orang lain, menghentikan otoritas dan memahami kapan harus melakukan intervensi

C. Konsep Actuating pada Jenis Kepemimpinan Transaksional

Seperti yang dikatakan sebelumnya, bahwa jenis kepemimpinan ada halnya yang bersifat transaksional dan ada yang bersifat transformasional. Keduanya merupakan jenis kepemimpinan yang bisa saja dimiliki oleh setiap pemimpin baik itu dalam organisasi publik, kesehatan, maupun birokrasi. Kepemimpinan dalam birokrasi dianggap sesuai dengan lembaga yang penuh dengan peraturan baik normatif maupun teknis. Pedoman administratif, kontrak kerja, keputusan dan petunjuk teknis semuanya rapi didokumentasikan secara tertulis. Begitu halnya pada lembaga pendidikan. Pegawai dididik untuk menaati aturan, loyal pada atasan, dan patuh terhadap segala instruksi yang diberikan atasan kepadanya dalam kapasitasnya sebagai pegawai.

(10)

adalah suatu hukum alam yang lazim terjadi3. Cara kerja yang terdapat pada

organisasi ataupun perusahaan yang di dalamnya model kepemimpinan

transasksional bertengger, lebih menekankan kelompok kerja yang mendasarkan pada sistem pembagian kerja atas elemen-elemen yang ada di dalamnya.

Misalnya, seorang bendahara hanya mengurusi hal-hal yang terkait dengan keuangan organisasi. Ordonator atau eksekutor dari kebutuhan organisasi, hanya melaksanakan pemenuhan apa yang menjadi kebutuhan organisasi. Akibatnya, sikap individualisme tumbuh di dalam setiap elemen organisasi yang tidak melihat kerja-kerja elemen lainnya dan tidak ada pertukaran potensi yang dapat

dikembangkan.

Model kepemimpinan transaksional mempunyai dampak positif maupun negatif. Dampak positif dari model kepemimpinan transaksional adalah adanya efisiensi di dalam pelaksanaan kerja, karena kejelasan pembagian kerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing staf dalam organisasi,

standardisasi pedoman dan aturan kerja dan konsistensi terhadap tata aturan yang telah ditetapkan. Di samping itu, kepemimpinan transaksional juga menjamin pencapaian tujuan dalam jangka panjang, menengah, dan pendek serta adanya kemudahan dalam pengawasan dan pengelolaan pegawai.

Di sisi lain, model kepemimpinan seperti ini memiliki dampak negatif, yakni kepemimpinan berorientasi pada hierarkhis, tidak adanya pemberdayaan pegawai dan pembagian kewenangan dalam pengambilan keputusan, kondisi yang kurang kondusif karena penerapan komunikasi top-down dan formalitas hubungan atasan bawahan serta loyalitas yang berlebihan pada pimpinan4.

Kepemimpinan transaksional bercirikan: (1). Berdasarkan transaksi, artinya kepemimpinan bertindak berdasarkan transaksi atau pertukaran jabatan dan kinerja, gaji, pekerjaan, kerja keras, bonus dan sebagainya; (2). Kejelasan aturan, pedoman dan aturan pelaksanaan tugas, dan pekerjaan disusun secara jelas

3 Beni Ahmad Syaebani, Ilmu Pendidikan Islam,Paham Pendidikan Konservatif (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm. 36.

(11)

dan ditetapkan untuk ditaati oleh setiap pegawai; (3). Orientasi pada pengawasan yang ketat. Mengawasi dan memantau tugas dan pekerjaan secara ketat dalam rangka mencapai tujuan pendek; (4). Anti perubahan, menolak setiap perubahan yang berasal dari luar sistem organisasi karena khawatir akan merusak tatanan kelembagaan yang telah ditetapkan; (5). Orientasi pada jabatan dan kekuasaan, mengembangkan budaya kekuasaan, loyalitas pada atasan, hierarki hubungan antara atasan dan bawahan; (6). Fokus pada pekerjaan. Mengarahkan pegawai untuk fokus pada penyelsaian tugas dan pekerjaan, sehingga mereka tidak mampu menyempatkan diri untuk mengambangkan potensi, kreatifitas dan inovasinya; (7). Kewenangan atasan mutlak. Tidak ada pemberdayaan pegawai karena kewenangannya untuk mengambil keputusan mutlak pada pimpinan; (8). Pemasungan kreatifitas pegawai, pegawai diatur dalam pelaksanaan tugas dan pekerjaan sehingga kreatifitasnya terpasung baik dalam keadaan sadar maupun tidak; (9). Individualitas kerja. Kerjasama antar pegawai tidak dianjurkan, sehingga muncul persaingan tidak sehat dan saling curiga mencurigai diantara mereka, dan; (10). Ketidak harmonisa n organisasi, hierarki kekuasaan, formalitas hubungan kerja, komunikasi bottom-up, dan tidak adanya kerjasama antar pegawai mengakibatkan tidak kondusifnya organisasi5.

Kepemimpinan yang sedemikian rupa tidak jauh berbeda dengan model kepemimpinan konservatif yang cenderung otoriter dan sewenang-wenang terhadap bawahannya. Model kepemimpinan ini akan melahirkan raja-raja kecil atau raja-raja baru yang akan menjadi penindas bawahannya atau generasinya. Dalam artian, sikap yang dirasakannya saat menjadi pegawai akan

diimplementasikan pula saat ia menjadi pemimpin, karena konstruk model

kepemimpinan yang dipahami serta yang diketahuinya adalah hanya seperti model kepemimpinan yang dirasakannya saat ia dipimpin atau menjadi bawahan6. Boje

dan Donnely (2005) menambahkan, kalau sudah demikian perilaku pun berubah menjadi raja kecil yang menuntut loyalitas total dari anah buahnya,

5Ibid, hal 128

(12)

mengembangkan sistem nepotisme dan orientasi lebih ditekankan pada politik kekuasaan7.

Namun maraknya isu disfungsi kepemimpinan dalam organisasi, tidak terlepas dari pemahaman umum kita tentang konsep kepemimpinan menurut teori manajemen klasik seiring dengan perkembangan ilmu administrasi dan

manajemen. Dalam teori klasik, tugas seorang pemimpin hanya ditekankan pada pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen G.R. Terry (1977), yaitu fungsi POAC dalam manajemen, tanpa memikirkan bagaimana cara mempengaruhi,

memotivasi, dan membimbing pegawai untuk bersama-sama mencapai tujuan organisasi8.

D. Konsep Actuating pada Jenis Kepemimpinan Transformasional

Ketika seseorang menjadi pimpinan sebuah organisasi, maka ia harus berpikir tentang tanggungjawabnya bagaimana organisasi tersebut berhasil dan berkembang. Pemimpin adalah orang-orang yang sudah memahami fungsi manajemen. Namun demikian, tidak semua dari mereka berhasil

(mengembangkan organisasinya). Ada yang tampak kesulitan dalam mengelola karena organisasi adalah sekumpulan orang dengan macam-macam keinginan yang sulit diajak untuk mencapai tujuan yang sama. Namun ada juga yang tampak mudah, hal ini dikarenakan dalam diri masing-masing orang, tanpa campur tangan dari pihak luar, sudah mempunyai kemampuan untuk menata diri sendiri.

Kemampuan inilah yang nantinya dikembangkan oleh pemimpin transformasional.

Kunci utama yang harus dimiliki oleh setiap anggota organisasi agar mampu berkembang tidak sekedar kemampuan profesional individu adalah cinta, atau bisa disebut integritas tinggi dalam berdedikasi. Perasaan tersebut mendorong mereka untuk melakukan kinerja maksimal bahkan melebihi sasaran.

(13)

Hal pertama adalah bagaimana cara untuk menumbuhkan kecintaan terhadap organisasi dalam diri pemimpin. Proses tersebut bisa dilakukan melalui9:

(a) pengenalan (ta’aruf) yang berkelanjutan kepada pemahaman atas organisasi. Pengenalan atau pengetahuan atas organisasi akan membawa organisasi ke arah perkembangan melalui daur perubahan partisipasif. Daur ini dimulai dengan proses mengubah pola pikir atau mengubah tingkat pengetahuan individu maupun kelompok untuk selanjutnya secara bertahap mengubah sikap dan pola individu hingga akhirnya kelompok organisasi10. (b) penghormatan (tadhammun) atau

penghargaan yang berkelanjutan kepada perasaan cinta.

Permasalahan selanjutnya adalah bagaimana pemimpin tersebut membagi-bagikan perasaannya kepada seluruh staf demi kemajuan dan perkembangan organisasi. Untuk tujuan itu, hal yang harus dimiliki seorang pemimpin transformatif adalah:

a. Keikhlasan. Pemimpin harus memiliki mental ikhlas dalam menjalankan organisasinya. Pengelolaan organisasi didudukkan dalam ranah ibadah kepada Allah. Konsep ini dalam bahasa Islam disebut lillah. Jika suatu perbuatan sudah didasarkan pada konsep ini, maka pelakunya akan berusaha untuk mencapai tujuan dengan seoptimal mungkin. Sikap pemimpin yang demikian akan menciptakan nuansa ruuhul jihad dalam lingkungan organisasi yang akan mempengaruhi anggota organisasi lainnya. Jika suasana ini mampu ditumbuhkembangkan, maka organisasi akan memiliki kekuatan yang kukuh. b. Kesadaran bertanggungjawab. Sikap ini harus dibangun bersama, bahwa

semua perbuatan – baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang – akan dipertanggungjawaban. Sikap ini semestinya akan membangun kejujuran yang harus disandang oleh semua anggota organisasi, khususnya pemimpin.

9 Imam Suprayogo, Menjadi Manajer Pendidikan Islam. Dalam: M. Mas’ud Sa’id (ed.),

Kepemimpinan, Pengembangan Organisasi, Team Building, dan Perilaku Inovatif (Malang: UIN Maliki Press, 2010), hlm. ix.

(14)

c. Keyakinan. Dalam mengelola, pemimpin harus memiliki keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya dzat yang memiliki otoritas tertinggi, yang menjadi pusat perhatian atas segala aktivitas organisasi. Dengan pemahaman konsep ini, mental kebebasan dari hegemoni kekuasaan apapun akan terwujud. Oleh karenanya, pemimpin akan memiliki pikiran yang bebas dalam mengarahkan organisasi ke arah yang ia tuju. Selanjutnya, jati diri organisasi akan terlihat sebagai bentuk nyata bahwa organisasi memasuki proses perkembangan. Selain itu, pemimpin harus memiliki keyakinan bahwa organisasi adalah sarana untuk menggapai ridho Allah – bukan tujuan akhir hidupnya – begitu pula dengan kemajuan organisasi11.

Bernard M. Bass menjelaskan bahwa pemimpin transformasional memotivasi bawahan untuk mengerjakan lebih dari yang diharapkan semula dengan meningkatkan rasa pentingnya bawahan dan nilai pentingnya pekerjaan. Pemimpin ini mampu membuat bawahan menyadari perspektif yang lebih luas, sehingga kebutuhannya meningkat menuju kebutuhan tertinggi; kebutuhan aktualisasi diri12.

Seluruh elemen anggota organisasi terlibat dalam kepemimpinan ini. Oleh karena itu, kepimimpinan bukan hanya terdiri dari orang yang memimpin saja, akan tetapi juga melibatkan anggota dalam proses kepemimpinannya. Hal ini berdasarkan asumsi bahwa pada kondisi masyarakat yang sudah sangat berdaya; batas kapasitas pribadi antara yang dipimpin dengan pemimpin sudah sangat tipis (artinya sudah sama-sama pintar). Masyarakat tidak lagi membutuhkan sosok pimpinan yang serba bisa dan instruksionis, melainkan pemimpin yang bisa menampung aspirasi bersama untuk bersama-sama diwujudkan dalam tindakan kelembagaan yang sistematis.

11 Imam Suprayogo, op.cit., hlm. x.

(15)
(16)

BAB III PENUTUP

Kesimpulan

 Pengerahan kerja (actuating) tindakan dari manajer untuk menjalankan

organisasi.

 Kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi kelompok untuk mencapai

sasaran.

 Jenis kepemimpinan transaksional merupakan kepemimpinan yang lebih

menjunjung tinggi formalitas kepegawaian antara atasan dan bawahan.

 Jenis kepemimpinan transformasional merupakan kepemimpinan yang

(17)

BIBLIOGRAFI

Beni Ahmad Syaebani, Ilmu Pendidikan Islam, Paham Pendidikan Konservatif Bandung: Pustaka Setia, 2009.

Harbani pasalong, Kepemimpinan Birokrasi, Bandung: Alfabeta, 2010.

M. Mas’ud Sa’id (ed.), Kepemimpinan, Pengembangan Organisasi, Team Building, dan Perilaku Inovatif, Malang: UIN Maliki Press, 2010.

Makin, dkk., Penindasan, Yogyakarta: KMPD Pustaka, 2012.

Mamduh M. Hanafi, Manajemen, Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, 2003.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

mengetahui tingkat kesadaran mahasiswa FPIPS angkatan 2011 terhadap etika penampilan yang sesuai dengan pedoman perilaku mahasiswa, 2.. mengetahui sejauh mana

Latar Belakang: Perasaan cemas ibu hamil saat memikirkan kondisi bayi yang akan dilahirkan serta proses melahirkan, tidak hanya berlangsung pada kehamilan pertama, tetapi juga pada

Berganti pakaian perawatan wajah Dilakukan tindakan perawatan wajah Membayar Pulang Area parkir Lobby Loker pelanggan Ruang perawatan wajah Kamar mandi Kasir Fasilitas

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kegunaan dan kemudahan pembayaran pajak terhadap penerapan e -billing di Kota Palembang.Dimana penelitian

selaku Koordinator Tugas Akhir atas waktu, bimbingan, dan masukan yang diberikan dalam penyelesaian tugas sarjana ini.. Seluruh Dosen Departemen Teknik Industri USU, yang

Manajemen berbasis sekolah (MBS) adalah suatu cara untuk memajukan mutu pendidikan dengan pelimpahan kebijakan pengambilan keputusan yang seyogyanya berasal dari pemerintah

Ombudsman perwakilan Maluku Utara tentunya banyak memiliki kelemahan ataupun kekurangan dalam melakukan fungsi pengawasannya, melihat kondisi birokrasi Maluku Utara